Anda di halaman 1dari 121

SAMBUTAN

Sesuai amanat Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangaan


Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, BKKBN mengalami pengayaan muatan
program, selain menangani program Keluarga Berencana, juga program Pengendalian
Penduduk.

Terkait tugas fungsi tentang Pengendalian Penduduk tersebut, diharapkan BKKBN menjadi
rujukan data terutama yang berkaitan erat dengan isu kependudukan, seperti: kesehatan,
pendidikan, ketenagakerjaan, pertanian dan pangan.

Buku Profil Kependudukan dan Pembangunan di Indonesia ini diterbitkan dengan


berorientasi kepada 5 bidang atau isu yang terkait erat dengan isu kependudukan tersebut.
Diuraikan pengertian dan ilustrasi data dari variabel-variabel yang merepresentasikan
bidang kesehatan, pendidikan, ketengakerjaan, pertanian dan pangan.

Saya menyambut gembira dengan diterbitkannya Buku Profil Kependudukan dan


Pembangunan di Indonesia ini. Diharapkan melalui Buku Profil ini, dapat diidentifikasi
permasalahan kependudukan di Indonesia. Selanjutnya dengan diketahuinya besaran
masalah kependudukan, diharapkan seluruh sektor pembangunan dapat merumuskan
alternatif solusi pemecahannya.

Semoga penyusunan buku Profil Kependudukan dan Pembangunan di tingkat Nasional


Indonesia ini memberikan manfaat bagi pengembangan program pembangunan nasional
yang berwawasan kependudukan.

Jakarta, September 2013

Kepala BKKBN,

Prof. dr. H. Fasli Jalal, PhD, SpGK.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA ii ii


KATA PENGANTAR

Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), diharapkan Indonesia mencapai
kondisi Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) , yang ditandai dengan TFR sebesar 2,1 dan
NRR=1.

Untuk mencapai kondisi PTS tersebut, program pembangunan nasional perlu diarahkan
agar selaras dengan kebijakan pembangunan yang berwawasan kependudukan. Untuk
menyusun program yang berwawasan kependudukan, maka diperlukan data dasar
(baseline) yang berisi profil kependudukan pada tingkat nasional. Untuk itulah disusun buku
Profil Kependudukan dan Pembangunan di tingkat Nasional Indonesia.

BKKBN sebagai institusi pemerintah yang menangani bidang Pengendalian Penduduk serta
Keluarga Berencana, berkewajiban menyediakan data dasar berupa Profil Kependudukan
tersebut. Profil Kependudukan dan Pembangunan pada jangka panjang, hendaknya tidak
saja memotret situasi kependudukan di tingkat nasional, namun juga mengerucut semakin
detil pada tingkat provinsi, kabupaten/kota,kecamatan, bahkan bila memungkinkan sampai
tingkat desa/ kelurahan. Tujuannya, agar secara spesifik dapat dipetakan permasalahan
kependudukan terjadi pada wilayah yang mana. Dengan demikian, akan lebih memudahkan
penentu kebijakan terkait dalam mengidentifikasi sekaligus menangani wilayah manakah
yang memiliki permasalahan kependudukan.

Buku Profil Kependudukan dan Pembangunan di tingkat Nasional Indonesia ini disusun atas
kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kependudukan (PUSDU) dengan
Direktorat Perencanaan Pengendalian Penduduk (DITRENDUK). Penyajian Profil dengan
menggabungkan variabel-variabel secara lintas sektor atau bidang. Untuk itu, diperlukan
kesepakatan tidak saja antar komponen BKKBN, namun yang lebih penting antar sektor.
Dengan demikian, dokumen buku Profil ini disepakati dan disetujui oleh seluruh pihak, dan
menjadi sumber referensi atau rujukan utama dalam bidang Pengendalian Penduduk di
Indonesia.

Akhir kata, kami mengharapkan masukan secara konstruktif terhadap dokumen ini, terutama
menyangkut variabel-variabel yang dibahas dalam buku Profil Kependudukan dan
Pembangunan tingkat Nasional Indonesia ini. Terima kasih.

Jakarta, Agustus 2013

Deputi Pengendalian Penduduk BKKBN

Dr. Wendy Hartanto, MA.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii iii
DAFTAR ISI

SAMBUTAN ... ii
KATA PENGANTAR........................................................................................................ iii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR....... vi
DAFTAR TABEL .............................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL LAMPIRAN............................................................................................ x

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang.... 1


1.2 Tujuan... 2
1.3 Kerangka Pikir..... 2
1.4 Sumber Data .. 3

BAB 2. DINAMIKA PENDUDUK...... 4

2.1 Kuantitas Penduduk................................................................................ 4


2.1.1 Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk ..... 4
2.1.2 Perubahan struktur umur menurut jenis kelamin penduduk... 5
2.1.3 Persebaran penduduk..... 8

2.2 Fertilitas dan Faktor yang Mempengaruhi.... 10


2.2.1 Kecenderungan dan pola fertilitas..... 10
2.2.2 Pola perkawinan 13
2.2.3 Kesertaan ber KB. 14
2.2.3.1 Pasangan usia subur....................................................... 14
2.2.3.2 Contraceptive prevalence rate dan mix kontrasepsi........ 15
2.2.3.3 Kebutuhan Pelayanan Kontrasepsi yang tidak
Terpenuhi......................................................................... 19
2.2.3.4 Alasan tidak memakai kontrasepsi................................... 20
2.2.3.5 Median lama dan frekuensi menyusui secara eksklusif.. 20

2.3 Mortalitas dan Faktor yang Mempengaruhi... 21


2.3.1 Kecenderungan dan pola mortalitas... 21
2.3.2 Penyebab Kematian.. 23

2.4 Migrasi. 24
2.4.1 Kecenderungan dan pola migrasi risen .... 24
2.4.2 Kecenderungan dan pola migrasi seumur hidup .... 24

BAB 3. PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN ... 26

3.1 Pencapaian Pembangunan Manusia........................................ 26


3.2 Pembangunan Gender............ 27
3.3 Penduduk Rentan ..................................................................................... 29
3.4 Ketersedian Pelayanan . 30
3.4.1 Kesehatan. 30

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii iv
3.4.2 Pendidikan 32
3.4.3 Sanitasi dan Air Bersih... 34
3.4.4 Listrik 35

3.5 Kesehatan.. 36
3.5.1 Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja.... 36
3.5.1.1 Pubertas 36
3.5.1.2 Kespro PraNikah. 38
3.5.1.3 Pengetahuan tentang HIV/AIDS dan IMS.. 39

3.5.2 Kesehatan Anak.. 40


3.5.2.1 Cakupan Imunisasi.... 40
3.5.2.2 Pemberian makan pada anak.. 41

3.5.3 Kesehatan Ibu.. 41


3.5.3.1 Jumlah Bumil... 41
3.5.3.2 Pemeriksaan Kehamilan (Antenatal Care/ANC) ... 41
3.5.3.3 Penolong Persalinan...... 44

3.5.4 Insiden HIV/AIDS.... 47

3.6 Pendidikan.. 47
3.6.1 Literasi (AMH). 47
3.6.2 Pendidikan yang ditamatkan penduduk 15 tahun ke atas. 48
3.6.3 Partisipasi Sekolah.... 48
3.6.4 Rata-rata lama sekolah. 51

3.7 Ekonomi dan Ketenagakerjaan. 51


3.7.1 Ekonomi . . 51
3.7.2 Ketenagakerjaan..... 54

3.8 Pertanian Pangan ......................................... 55


3.8.1 Pangan Nasional . 55
3.8.2 Produktivitas Pertanian .. 56
3.8.3 Produksi Perikanan.. .. 58
3.8.4 Produksi Perkebunan.. 58
3.8.5 Produksi Peternakan.. 59

BAB 4. PENUTUP......................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA.... 62
LAMPIRAN.... 62

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Hubungan antara Dinamika Kependudukan


dan Pembangunan Berkelanjutan ........................................................ 2
Gambar 2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010................. 5
Gambar 2.2 Piramida Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010................................ 5
Gambar 2.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan 3 Kelompok Umur Besar
Tahun 2010 ............................................................................................. 6
Gambar 2.4 Rasio Ketergantungan Tahun 1971-2010............................................. 7
Gambar 2.5 Proyeksi Rasio Ketergantungan Tahun 2015-2035.... 7
Gambar 2.6 Tren Rasio Jenis Kelamin Tahun 1971-2010........................................ 8
Gambar 2.7 Persebaran Penduduk di Indonesia Tahun 1971-2010....................... 9
Gambar 2.8 Urbanisasi di Indonesia Tahun 1990-2010.......................................... 9
Gambar 2.9 Kepadatan Penduduk di Indonesia Tahun 1971-2010........................ 10
Gambar 2.10 Angka Kelahiran Kasar di Indonesia..................................................... 11
Gambar 2.11 TFR Indonesia Tahun 1991-2012........................................................... 11
Gambar 2.12 Rasio Anak Terhadap Wanita Tahun 1971-2010................................... 13
Gambar 2.13 Rata-rata Umur Kawin Pertama Perempuan Tahun 1980-2010 ......... 13
Gambar 2.14 Median Usia Kawin Pertama Wanita Tahun 1991-2007....................... 14
Gambar 2.15 Pemakaian Alat/Cara KB (CPR) .............................................................. 17
Gambar 2.16 Pemakaian Alat/Cara KB Menurut Metode Kontrasepsi Modern......... 18
Gambar 2.17 Sumber Pelayanan Kontrasepsi di Indonesia Tahun 2012.................. 19
Gambar 2.18 Unmet Need di Indonesia Tahun 1991-2012......................................... 19
Gambar 2.19 Alasan Tidak Ingin Memakai Kontrasepsi............................................. 20
Gambar 2.20 Rata-rata Pemberian ASI Eksklusif Untuk Semua Anak (Bulan).......... 21
Gambar 2.21 Estimasi Kematian Kasar......................................................................... 21
Gambar 2.22 Angka Kematian Bayi dan AnakTahun 1991-2012................................ 22
Gambar 2.23 Angka Kematian Ibu Tahun 2002-2012................................................... 23
Gambar 2.24 Angka Harapan Hidup Indonesia Tahun 1971-2010............................. 23
Gambar 3.1 Perbandingan IPM Negara-negara ASEAN Tahun 1990-2012............. 27
Gambar 3.2 Indeks Ketimpangan Gender di Negara ASEAN 1995-2011................. 28
Gambar 3.3 Perkembangan IPG Periode Tahun 2004-2011..................................... 28
Gambar 3.4 Banyaknya SDM Kesehatan Tahun 2008-2011...................................... 31
Gambar 3.5 Banyaknya Sarana Puskesmas Tahun 2007-2011............................... 31
Gambar 3.6 Banyaknya Sarana Rumah Sakit Tahun 2007-2011.............................. 32
Gambar 3.7 Banyaknya Klinik Pelayanan KB di Indonesia Tahun 2013.................. 32
Gambar 3.8 Jumlah Sekolah di Indonesia Tahun 2008-2011.................................... 33
Gambar 3.9 Banyaknya Tenaga Guru di Indonesia Tahun 2008-2011 ................... 34
Gambar 3.10 Persentase Fasilitas Buang Air Besar dalam Rumah Tangga............. 35

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


Gambar 3.11 Persentase Fasilitas Air Minum dalam Rumah Tangga........................ 35
Gambar 3.12 Persentase Sumber Penerangan dalam Rumah Tangga..................... 36
Gambar 3.13 Persentase Pria dan Wanita Umur 15-49 yang Pernah Mendengar
vi ii

AIDS Menurut Pendidikan, Indonesia Tahun 2012................................. 40


Gambar 3.14 Kasus HIV/AIDS dan Kematian................................................................. 47
Gambar 3.15 Angka Melek Huruf Tahun 2007-2011...................................................... 48
Gambar 3.16 Pendidikan yang Ditamatkan Penduduk 15 Tahun ke Atas................. 48
Gambar 3.17 Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2007-2011......................................... 49
Gambar 3.18 Angka Partisipasi Murni SD/MI/Paket A Tahun 2007-2011................... 49
Gambar 3.19 Angka Partisipasi Murni SMP/MTs/Paket B Tahun 2007-2011............. 50
Gambar 3.20 Angka Partisipasi Murni SMA/MA/Paket C Tahun 2007-2011.............. 50
Gambar 3.21 Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas
Tahun 2007-2011, Indonesia.................................................................... 51
Gambar 3.22 Persentase Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2007-2012......................... 52
Gambar 3.23 Persentase Penduduk Miskin Tahun 2009-2013.................................... 53
Gambar 3.24 Tingkat Partisipasi Angkatan kerja Indonesia (persen)
Tahun 2007-2010...................................................................................... 54
Gambar 3.25 Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia (persen)
Tahun 2007-2011...................................................................................... 55

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


DAFTAR TABEL
ii vii

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2010............................................................................................... 4
Tabel 2.2 Fertilitas Menurut Kelompok Umur Tahun 1991-2012.............................. 12
Tabel 2.3 Fertilitas Menurut Kelompok Umur dan Tempat Tinggal
Tahun 1997-2012...................................................................................... 12
Tabel 2.4 Pasangan Usia Subur Tahun 2000-2012................................................. 15
Tabel 2.5 Pengetahuan Tentang Alat/Cara KB......................................................... 15
Tabel 2.6 Pemakaian Kontrasepsi Masa Kini pada Wanita...................................... 16
Tabel 2.7 Pemakaian Kontrasepsi Masa Kini Menurut Karakteristik Latar
Belakang Wanita Berstatus Kawin ........................................................... 17
Tabel 2.8 Sumber Pembiayaan Kontrasepsi............................................................. 18
Tabel 2.9 Jenis Penyakit dan penyebab Kematian Tahun 2011............................... 24
Tabel 2.10 Tren Data Parameter Kependudukan yang Terkait dengan Migrasi
Risen Indonesia, Tahun 2000-2010.......................................................... 24
Tabel 2.11 Tren Data Parameter Kependudukan yang Terkait dengan Migrasi
Seumur Hidup Indonesia, 2000-2010........................................................ 25
Tabel 3.1 Tren HDI Indonesia Tahun 1980-2012...................................................... 26
Tabel 3.2 Tren Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan
Gender (IPG), dan Rasio (IPG/IPM), Tahun 2004-2011........................... 29
Tabel 3.3 Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Mengalami
Kesulitan.................................................................................................... 29
Tabel 3.4 Rasio Jumlah Penduduk Usia Sekolah per Jumlah Sekolah di
Indonesia Tahun 2009/2010...................................................................... 33
Tabel 3.5 Persentase pengetahuan remaja tentang perubahan fisik masa
pubertas..................................................................................................... 36
Tabel 3.6 Persentase sumber pengetahuan tentang perubahan fisik saat
pubertas.................................................................................................... 37
Tabel 3.7 Persentase umur remaja wanita pertama kali mendapat haid ................ 38
Tabel 3.8 Persentase Pengetahuan Remaja tentang Anemia.................................. 39
Tabel 3.9 Tren Cakupan Imunisasi Lengkap Tanpa Hepatitis B di Indonesia
Tahun 2003-2012...................................................................................... 40
Tabel 3.10 Persentase Pemberian ASI dan Makanan Pendamping ASI Menurut
Kelompok Umur, Indonesia Tahun 2007-2012.......................................... 41
Tabel 3.11 Persentase wanita hamil yang melakukan kunjungan pemeriksaan
kehamilan.................................................................................................. 42
Tabel 3.12 Persentase Pemeriksaan Kehamilan........................................................ 43
Tabel 3.13 Komponen Pemeriksaan Kehamilan......................................................... 44
Tabel 3.14 Persentase wanita yang melahirkan di fasilitas kesehatan ...................... 45
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA
ii viii
Tabel 3.15 Persentase Penolong Persalinan Kualifikasi Tertinggi.............................. 46
Tabel 3.16 Jumlah Pendapatan per Kapita Indonesia Tahun 2007-2010.................. 52
Tabel 3.17 Jumlah Pendapatan Domestik Regional Bruto Indonesia (juta rupiah)
Tahun 2007-2011...................................................................................... 53
Tabel 3.18 Tren Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja................................................... 54
Tabel 3.19 Tingkat Pengangguran Terbuka................................................................ 55
Tabel 3.20 Perkembangan Konsumsi Pangan Nasional Secara Kuantitas pada
Tahun 2011-2012...................................................................................... 56
Tabel 3.21 Produktivitas Padi Tahun 2011-2012........................................................ 56
Tabel 3.22 Produktivitas Jagung Tahun 2011-2012................................................... 57
Tabel 3.23 Produktivitas Kedelai Tahun 2011-2012................................................... 57
Tabel 3.24 Produktivitas Ubi Kayu Tahun 2011-2012................................................. 57
Tabel 3.25 Volume Produksi Perikanan (ton) Tahun 2007-2012................................ 58
Tabel 3.26 Produktivitas Tanaman Perkebunan Tahun 2008-2013............................ 59
Tabel 3.27 Produktivitas Peternakan Tahun 2008-2011............................................. 59

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii ix
DAFTAR TABEL LAMPIRAN

Tabel 2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk di Indonesia menurut Provinsi Tahun


1971-2010................................................................................................. 66
Tabel 2.2 Rasio ketergantungan di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2000 -2010................................................................................................ 67
Tabel 2.3 Rasio Jenis Kelamin di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2000 - 2010.............................................................................................. 68
Tabel 2.4 Tingkat Urbanisasi di Indonesia menurut Provinsi Tahun 1990-2010... 69
Tabel 2.5 Kepadatan Penduduk di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2000 - 2010............................................................................................... 70
Tabel 2.6 Estimasi Angka Kelahiran Kasar (CBR) di Indonesia Menurut Provinsi
Tahun 1990-2010...................................................................................... 71
Tabel 2.7 Angka Fertilitas Total di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2002 - 2012............................................................................................... 72
Tabel 2.8 Rasio Anak Wanita di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2010.............. 73
Tabel 2.9 Rata-Rata Usia Kawin Pertama di Indonesia menurut Provinsi
Tahun 2010............................................................................................... 74
Tabel 2.10 Median Umur Kawin Pertama Wanita Umur 25-49 tahun Menurut
Provinsi, Indonesia 2012.......................................................................... 75
Tabel 2.11 Kebutuhan Ber-KB yang tidak Terpenuhi di Indonesia Tahun 2012...... 76
Tabel 2.12 Median lamanya pemberian ASI secara eksklusif di Indonesia
menurut Provinsi Tahun 2002-2012......................................................... 77
Tabel 2.13 Angka Kematian Bayi dan Anak di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2012......................................................................................................... 78
Tabel 2.14 Estimasi Angka Harapan Hidup (Tahun) di Indonesia Menurut Provinsi
dan Jenis Kelamin Tahun 2010................................................................ 79
Tabel 2.15 Penyebab Kematian di Indonesia Menurut Provinsi Tahun 2012........... 80
Tabel 2.16 Penduduk Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Status Migrasi
Risen Tahun 2010.................................................................................... 81
Tabel 2.17 Penduduk Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Status Migrasi
Seumur Hidup Tahun 2010...................................................................... 82
Tabel 3.1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Provinsi Tahun 2005
dan 2011................................................................................................... 83
Tabel 3.2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) Menurut Provinsi Tahun 2005
dan 2011................................................................................................... 84
Tabel 3.3 Penduduk Rentan Karena Kesulitan Fungsional di Indonesia menurut
Provinsi Tahun 2010 ................................................................................ 85

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii x
Tabel 3.4 Rasio Sumberdaya Manusia Kesehatan (Dokter dan Bidan)
Per 100.000 penduduk menurut Provinsi Tahun 2011............................. 86
Tabel 3.5 Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit) di
Indonesia menurut Provinsi Tahun 2011.................................................. 87
Tabel 3.6 Klinik pelayanan KB di Indonesia menurut Provinsi, tahun 2013............ 88
Tabel 3.7 Sarana Pendidikan (sekolah) di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2008 - 2010............................................................................................... 89
Tabel 3.8 Rasio jumlah penduduk usia sekolah terhadap jumlah sekolah di
Indonesia tahun 2010............................................................................... 90
Tabel 3.9 Jumlah Tenaga Guru di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2008 s/d
2010.......................................................................................................... 91
Tabel 3.10 Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Fasilitas Buang
Air Besar Tahun 2011............................................................................... 92
Tabel 3.11 Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Fasilitas Air Minum
Tahun 2011............................................................................................... 93
Tabel 3.12 Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Sumber Penerangan,
2012 .......................................................................................................... 94
Tabel 3.13 Persentase dan Cakupan Imunisasi pada Balita di Indonesia menurut
Provinsi Tahun 2012................................................................................ 95
Tabel 3.14 Persentase Wanita Umur 15-49 tahun yang sedang Hamil di Indonesia
menurut Provinsi Tahun 1997-2012.......................................................... 96
Tabel 3.15 Persentase yang dilahirkan di Fasilitas Kesehatan di Indonesia menurut
Provinsi Tahun 2012.................................................................................. 97
Tabel 3.16 Persentase penolong persalinan di Indonesia menurut Provinsi Tahun
2012........................................................................................................... 98
Tabel 3.17 Jumlah Kumulatif Kasus HIV dan AIDS Berdasarkan Provinsi Tahun
2013 (sd Juni)............................................................................................ 99
Tabel 3.18 Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi,
Jenis Kelamin, dan Kepandaian Membaca dan Menulis Tahun 2006
dan 2011................................................................................................... 100
Tabel 3.19 Angka Partisipasi Sekolah ( A P S ) Menurut Provinsi, 2012................... 101
Tabel 3.20 Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan
Jenjang Pendidikan Formal dan Non Formal Tahun 2011....................... 102
Tabel 3.21 Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun ke atas Menurut
Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2011................................................... 103
Tabel 3.22 Jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia menurut
Provinsi Tahun 2009-2012........................................................................ 104
Tabel 3.23 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut
Provinsi, 2007 - 2011 (Juta Rupiah) ......................................................... 105
Tabel 3.24 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000
Menurut Provinsi, 2007 - 2011 (Juta Rupiah)........................................... 106

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii xi
Tabel 3.25 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin
Tahun 2010............................................................................................... 107
Tabel 3.26 Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin
Tahun 2010............................................................................................... 108

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA


ii xii
PENDAHULUAN 1
1.1 LATAR BELAKANG
Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga mengamanatkan bahwa penduduk harus menjadi titik sentral
dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Pembangunan berkelanjutan adalah
pembangunan terencana di segala bidang untuk menciptakan perbandingan ideal antara
perkembangan kependudukan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta
memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengurangi kemampuan dan
kebutuhan generasi mendatang, sehingga menunjang kehidupan bangsa.

Undang-undang no. 52 tahun 2009 memberi tanggungjawab pengendalian penduduk di


Indonesia kepada BKKBN, yang dirubah namanya menjadi Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Nasional. Pada tahun 2012, BKKBN menetapkan visi Penduduk
Tumbuh Seimbang Tahun 2015. Visi tersebut mengacu pada Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025. Kondisi penduduk tumbuh seimbang
ditandai dengan angka fertilitas total (TFR) sebesar 2,1 anak per wanita atau angka
reproduksi neto (NRR) sebesar 1. Misi dari BKKBN adalah mewujudkan pembangunan
berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera. Visi dan
misi tersebut akan diwujudkan melalui pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka
kematian, pengarahan mobilitas penduduk, serta pengembangan kualitas penduduk pada
seluruh dimensinya. Upaya ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan pembangunan
berkelanjutan. Dalam UU No. 52 Tahun 2009 diatur pula kewenangan dan tanggungjawab
pemerintah kabupaten/kota untuk mewujudkan pertumbuhan penduduk yang seimbang dan
keluarga berkualitas.

Sejalan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan, perencanaan pembangunan harus


disusun berdasarkan data dan informasi kependudukan. Perencanaan pembangunan
berbasis data kependudukan merupakan strategi yang penting dalam rangka meningkatkan
relevansi, efektivitas serta efisiensi kebijakan dan program pembangunan di Indonesia.

Penggunaan data yang akurat dalam proses perencanaan telah diatur dalam peraturan
perundangan. Pada Pasal 31 UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional diatur bahwa Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi
yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketentuan tersebut ditekankan kembali
pada Pasal 152 UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah yang menyebutkan
Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat
dan dapat dipertanggungjawabkan. Secara rinci, pada Pasal 49 UU No. 52/2009 diatur
bahwa: 1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengumpulkan, mengolah, dan
menyajikan data dan informasi mengenai kependudukan dan keluarga; 2) Upaya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui sensus, survei, dan pendataan
keluarga; dan 3) Data dan informasi kependudukan dan keluarga wajib digunakan oleh
Pemerintah dan pemerintah daerah sebagai dasar penetapan kebijakan, penyelenggaraan,
dan pembangunan.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 1


1.2 TUJUAN
Publikasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan informasi tentang kondisi
kependudukan Indonesia yang diamati dari berbagai aspek: kesehatan, pendidikan,
pertanian, ketenagakerjaan dan Keluarga Berencana.

1.3 KERANGKA PIKIR


Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu proses pembangunan yang mengoptimalkan
manfaat sumber daya alam dan sumber daya manusia secara berkelanjutan, dengan cara
menyerasikan aktivitas manusia sesuai dengan kemampuan sumber alam yang
menopangnya dalam suatu ruang wilayah daratan, lautan, dan udara sebagai satu
kesatuan. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dengan
pemanfaatan ruang wilayah beserta potensi sumber daya yang ada bagi tujuan
pembangunan manusia atau masyarakatnya itu sendiri. Agenda utama pembangunan
berkelanjutan adalah upaya untuk memadukan, mengintegrasikan, dan memberi bobot yang
sama bagi tiga pilar utama pembangunan, yaitu ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan
hidup. Penduduk merupakan titik sentral dalam proses pembangunan berkelanjutan karena
penduduk merupakan pelaku sekaligus penerima manfaat pembangunan. Konsep ini
diterjemahkan lebih lanjut dalam konsep pembangunan berwawasan kependudukan.

Gambar 1.1
Kerangka Pikir Hubungan antara Dinamika Kependudukan
dan Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berwawasan kependudukan, yaitu pembangunan yang berpusat pada


penduduk (people-centered development), adalah pembangunan yang direncanakan
dengan memperhatikan kondisi dan dinamika penduduk. Semua perencanaan
pembangunan harus population responsive, yaitu memperhatikan dan mempertimbangkan
data dan informasi kependudukan secara lengkap, mulai dari jumlah, pertumbuhan, struktur
umur, persebaran, maupun kualitas penduduk. Di sisi lain, pemerintah juga harus mampu
merumuskan kebijakan pengelolaan kependudukan agar tercapai kondisi kependudukan
yang kita harapkan (population-influencing policies).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 2


1.4 SUMBER DATA

Data yang digunakan untuk menyusun Profil Kependudukan dan Pembangunan di


Indonesia dikumpulkan dari berbagai sumber yang telah dipublikasikan, seperti: Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia, Sensus Penduduk, Sakernas, Profil Kesehatan
Indonesia, Profil Anak Indonesia, Statistik Kesejahteraan Rakyat, Human Development
Report, Statistik Indonesia, Pelayanan Kontrasepsi. Disamping itu beberapa data yang
disajikan juga merupakan data proyeksi sementara yang dihitung oleh Direktorat
Perencanaan Pengendalian Penduduk pada tahun 2013.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 3


DINAMIKA PENDUDUK 2
2.1 Kuantitas Penduduk

2.1.1 Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk

Jumlah Penduduk
Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) tahun 1971-2010, jumlah penduduk Indonesia
mengalami kenaikan menjadi dua kali lipat selama hampir 40 tahun dari sekitar 118
juta pada tahun 1971 menjadi 237 juta pada tahun 2010 (Lihat Tabel 2.1).

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok


Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2010
Jenis Kelamin
Kelompok
Jumlah %
Umur Laki-Laki Perempuan
0-4 11.662.369 11.016.333 22.678.702 9,5
5-9 11.974.094 11.279.386 23.253.480 9,8
10-14 11.662.417 11.008.664 22.671.081 9,5
15-19 10.614.306 10.266.428 20.880.734 8,8
20-24 9.887.713 10.003.920 19.891.633 8,4
25-29 10.631.311 10.679.132 21.310.443 9,0
30-34 9.949.357 9.881.328 19.830.685 8,3
35-39 9.337.517 9.167.614 18.505.131 7,8
40-44 8.322.712 8.202.140 16.524.852 7,0
45-49 7.032.740 7.008.242 14.040.982 5,9
50-54 5.865.997 5.695.324 11.561.321 4,9
55-59 4.400.316 4.048.254 8.448.570 3,6
60-64 2.927.191 3.131.570 6.058.761 2,5
65-69 2.225.133 2.468.898 4.694.031 2,0
70-74 1.531.459 1.924.872 3.456.331 1,5
75-79 842.344 1.135.561 1.977.905 0,8
80-84 481.462 661.708 1.143.170 0,5
85+ 282.475 431.039 713.514 0,3
Total 119.630.913 118.010.413 237.641.326 100,0
Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 2010

Berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk laki-laki tercatat sebanyak 119.630.913


jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 118.010.413 jiwa. Menurut
kelompok umur, jumlah penduduk usia 0-4 tahun sebanyak 22.678.702 jiwa (9,54
persen), sedangkan penduduk usia 15-64 tahun sebanyak 156.982.218 jiwa (66
persen), dan kelompok penduduk usia 65 tahun keatas sebanyak 12.062.388 jiwa
(5,1 persen).

Laju Pertumbuhan Penduduk

Laju pertumbuhan penduduk Indonesia dari periode 1971-1980 menurun dari 2,33
persen menjadi 1,44 persen pada periode 1990-2000. Penurunan sampai dengan
1,44 persen tersebut masih memperhitungkan Provinsi Timor-Timur sebagai bagian
dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), apabila provinsi Timor-Timur

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 4


dikeluarkan maka LPP Indonesia diperkirakan berada pada angka 1,40 persen
(Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Indonesia, BPS, 2011 Hal. 26). Pada
periode 2000-2010 Laju pertumbuhan penduduk mengalami kenaikan menjadi 1,49
persen.

Gambar 2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

Berdasarkan wilayah, LPP tertinggi menurut SP tahun 2010 berada pada provinsi
Papua (5,39 persen) dan terendah di provinsi Jawa Tengah (0,37 persen). LPP
menurut provinsi dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.1.

2.1.2 Perubahan Struktur Umur menurut Jenis Kelamin Penduduk

Piramida Penduduk
Tren Piramida penduduk Indonesia tahun 1971 sampai dengan 2010
menggambarkan perubahan struktur umur penduduk Indonesia. Bentuk Piramida
Penduduk berubah menjadi tipe expansive pada tahun 2010 dimana jumlah
penduduk usia muda lebih banyak daripada usia dewasa maupun tua.

Gambar 2.2 Piramida Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 5


Pada piramida penduduk tahun 2010, kelompok umur 20-24 tahun menunjukkan
keberhasilan Program Keluarga Berencana (KB) pada tahun 1990. Apabila
dibandingkan dengan kelompok umur di bawahnya (0-19 tahun) terlihat adanya
peningkatan kelahiran pada periode setelah tahun 1990. Selain itu, bagian puncak
piramida menunjukkan peningkatan pada jumlah penduduk lanjut usia (lihat Gambar
2.2).

Distribusi Penduduk Menurut 3 Kelompok Umur Besar


Meskipun secara absolut jumlah penduduk usia muda (umur 0-14 tahun) mengalami
kenaikan, akan tetapi persentasenya terus mengalami penurunan yakni dari 30,44
persen pada SP tahun 2000, menjadi 28,87 persen pada SP tahun 2010. Disisi lain,
penduduk usia produktif (umur 15-64 tahun) persentasenya mengalami peningkatan,
yakni dari 65,03 persen pada tahun 2000 menjadi 66,09 persen pada tahun 2010.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap turunnya rasio ketergantungan (bonus
demografi) dan membuka jendela peluang dalam bidang ekonomi sebagai akibat
melonjaknya penduduk usia produktif serta menurunnya penduduk usia tidak
produktif.

Gambar 2.3 Distribusi Penduduk


Berdasarkan 3 Kelompok Umur Besar Tahun 2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 2010

Penduduk usia lanjut (umur 65+) juga mengalami peningkatan dari 4,53 persen pada
tahun 2000 menjadi 5,04 persen pada tahun 2010. Persentase ini diproyeksikan
akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup, sehingga
akan berdampak pada peningkatan rasio ketergantungan.

Rasio Ketergantungan
Tren rasio ketergantungan secara nasional mengalami penurunan dari data SP 1971
yaitu 86,86 per 100 orang usia produktif menjadi 51,31 per 100 orang usia produktif
pada tahun 2010. Kondisi ini menggambarkan banyaknya jumlah penduduk yang
harus ditanggung oleh penduduk usia kerja telah mengalami penurunan.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 6


Gambar 2.4 Rasio Ketergantungan Tahun 1971- 2010

BONUS
DEMOGRAFI

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

Tingkat rasio ketergantungan di wilayah provinsi pada saat ini berbeda-beda,


provinsi DKI Jakarta dengan tingkat rasio ketergantungan terendah pada tahun 2010
yakni 36,94 per 100 orang. Sebaliknya pada Provinsi NTT dengan rasio
ketergantungan 73,21 per 100 orang usia produktif masih belum memasuki peluang
dimaksud. Disparitas tingkat rasio ketergantungan pada provinsi ini dipengaruhi oleh
tingkat kelahiran dan kematian pada masing-masing provinsi. Lihat lampiran Tabel
2.2 untuk rasio ketergantungan menurut Provinsi.

Banyaknya jumlah penduduk pada kelompok usia produktif dibandingkan kelompok


usia non-produktif dapat memberikan manfaat bagi pembangunan nasional terutama
pada sektor ekonomi. Akan tetapi untuk memanfaatkan kondisi tersebut, kualitas
SDM harus ditingkatkan secara maksimal antara lain melalui pendidikan, pelayanan
kesehatan dan penyediaan lapangan pekerjaan.

Hasil perhitungan sementara Direktorat Perencanaan Pengendalian Penduduk


BKKBN pada tahun 2013 menunjukkan bahwa window of opportunity di Indonesia
diperkirakan terjadi pada rentang waktu tahun 2020 sampai tahun 2035, dengan nilai
rasio ketergantungan terendah berada pada tahun 2020 sampai dengan tahun 2030
yakni 46,28 serta 46,29 per 100 orang usia produktif (lihat pada fokus Gambar 2.4).

Gambar 2.5 Proyeksi Rasio Ketergantungan Tahun 2015 - 2035


100
90 86,86
79,08
80
67,84 67,09 68,36 68,43 68,35 67,88
70 65,03 66,09

59,58 BO NUS WINDO W O F


60 53,51 55,84
53,78 DEM O GRAFI O P P O RTUNITY
50 43,96
40,91 51,31 49,05
36,65 46,28 46,13 46,29 47,30
40
30,44
28,87 27,44
30 25,46 24,14 22,76 21,72
20
10,39
6,18 7,43 8,88
10 4,53 5,04 5,47
2,52 3,25 3,77

0
1971 1980 1990 2000 2010 2015 2020 2025 2030 2035

< 15 Th 15-64 Th 64+ DR

Sumber data: SP 1971-2010


Perhitungan sementara Ditrenduk, BKKBN Tahun 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 7


Rasio Jenis Kelamin (sex ratio)
Para Demografer menyatakan bahwa perbandingan antara bayi laki-laki dengan bayi
perempuan pada waktu lahir berkisar antara 103-105 bayi laki-laki per 100 bayi
perempuan (LDUI, 2010 Hal. 32).

Berdasarkan hasil sensus penduduk rasio jenis kelamin meningkat dari 97,18 orang
laki-laki berbanding 100 orang perempuan pada tahun 1971 menjadi 101 orang laki-
laki berbanding 100 orang perempuan pada tahun 2010. Kondisi tersebut
menunjukkan bahwa jumlah laki-laki di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan
jumlah perempuan.

Gambar 2.6 Tren Rasio Jenis Kelamin


di Indonesia tahun 1971-2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

Besar kecilnya Rasio Jenis kelamin pada suatu daerah dipengaruhi oleh pola
Mortalitas atau pola Migrasi. Provinsi Papua dengan Rasio Jenis Kelamin tertinggi
tahun 2010 yakni 113 orang laki-laki berbanding 100 orang perempuan, diperkirakan
terjadi karena banyaknya penduduk laki-laki yang masuk untuk bekerja pada sektor
pertambangan. Sedangkan pada Provinsi NTB dengan Rasio Jenis Kelamin
terendah tahun 2010 yakni 94 orang laki-laki per 100 orang perempuan, diperkirakan
terjadi karena banyaknya penduduk laki-laki yang keluar dari wilayah tersebut untuk
bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri. Lebih lanjut tentang
rasio jenis kelamin menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.3

2.1.3 Persebaran Penduduk

Persebaran Penduduk
Secara demografis persebaran penduduk di Indonesia juga tidak merata. Sebagian
besar penduduk Indonesia berdasarkan SP tahun 2010 menghuni pulau Jawa (57,5
persen) serta sebagian kecil berada di pulau Maluku dan Papua (2,6 pesen).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 8


Gambar 2.7 Persebaran Penduduk di Indonesia Tahun 1971-2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

Dalam waktu lima dekade terlihat adanya pengurangan persentase penduduk yang
bertempat tinggal di pulau Jawa yaitu dari 63,9 persen pada tahun 1971 menjadi
57,5 persen tahun 2010. Hal ini diikuti dengan kenaikan persentase penduduk yang
bertempat tinggal di pulau Sumatera dari 17,6 persen pada tahun 1971 menjadi 21,3
persen pada tahun 2010. Dengan demikian, seperti terlihat pada Gambar 2.6,
kecenderungan migrasi keluar sebagian besar menuju pulau Sumatera, sedangkan
di wilayah lainnya relatif tetap.

Urbanisasi
Urbanisasi menunjukkan persentase penduduk suatu wilayah yang tinggal di daerah
perkotaan. Proses urbanisasi bukan hanya proses perpindahan penduduk dari
perdesaan ke perkotaan, namun juga termasuk pertumbuhan alamiah penduduk
perkotaan, perluasan wilayah perkotaan maupun perubahan status wilayah dari
daerah perdesaan ke perkotaan.

Gambar 2.8 Urbanisasi di Indonesia Tahun 1990-2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1990, 2000, 2010

Persentase penduduk di daerah perkotaan meningkat dari 42,1 persen pada tahun
2000, menjadi 49,8 persen pada tahun 2010. Angka ini diproyeksikan akan terus
meningkat terutama untuk beberapa provinsi khususnya Jawa dan Bali.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 9


Provinsi DKI jakarta sebagai Ibu Kota Negara memiliki tingkat urbanisasi tertinggi,
sementara provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan tingkat urbanisasi
terendah tahun 2010 yakni sebesar 19,3 persen. Lebih lanjut tentang Urbanisasi
menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.4.

Kepadatan Penduduk
Data kepadatan penduduk berdasarkan data SP, mengalami peningkatan dari 107
jiwa per km2 pada tahun 2000, menjadi 124 jiwa per km2 pada tahun 2010.

Kepadatan penduduk Indonesia antara provinsi yang satu dengan provinsi yang lain
tidak seimbang. Sebagian besar penduduk Indonesia terkonsentrasi di pulau Jawa.
Padahal, luas wilayah pulau Jawa hanya 6,8 persen dari luas wilayah negara
Indonesia.

Gambar 2.9 Kepadatan Penduduk di Indonesia Tahun 1971-2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibukota Negara yang menjadi pusat pertumbuhan
ekonomi, tampaknya menjadi daya tarik masyarakat untuk mencari kehidupan
ekonomi yang lebih baik sehingga memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi
yaitu 14,469 jiwa per km2. Sedangkan, provinsi dengan tingkat kepadatan terendah
adalah Papua Barat dengan tingkat kepadatan hanya 8 jiwa per km2. Lihat lampiran
Tabel 2.5 untuk kepadatan penduduk menurut Provinsi.

2.2 Fertilitas dan Faktor yang Mempengaruhi

2.2.1 Kecenderungan dan Pola Fertilitas

Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR)


Angka Kelahiran Kasar (CBR) menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun
tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Angka kelahiran
kasar di Indonesia mengalami kenaikan dari 17,4 kelahiran per 1000 penduduk (SP
2000) menjadi 17,9 kelahiran per 1000 penduduk (SP 2010).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 10


Sementara menurut hasil SDKI, Angka Kelahiran Kasar Indonesia terus mengalami
penurunan dari 25,1 pada survey tahun 1991, menjadi 20,4 pada tahun 2012.

Gambar 2.10 Angka Kelahiran Kasar di Indonesia

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1990, 2000 dan 2010


SDKI 1991, 1994, 1997, 2002, 2007, 2012

Berdasarkan wilayah, angka kelahiran Kasar tertinggi menurut SP 2010 berada pada
Provinsi Kepulauan Riau yakni 22,5 kelahiran per 1000 penduduk dan terendah pada
provinsi DI Yogyakarta yakni 14,4 per 1000 penduduk (data Provinsi dapat dilihat
pada lampiran Tabel 2.6).

Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate/TFR)


Berdasarkan data SDKI, TFR nasional mengalami penurunan dari 3,03 anak per
wanita usia subur pada tahun 1991 menjadi 2,60 anak per wanita usia subur pada
tahun 2002/2003. Sejak periode tahun 2002/2003 angka fertilitas total hanya
mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan survey terakhir tahun 2012 yakni
menjadi 2,59 anak per wanita usia subur. Menurut SDKI 2012, TFR tertinggi terdapat
di provinsi Papua Barat (3,70 anak per wanita usia subur) dan TFR terendah di
provinsi DIY Jogjakarta (2,10 anak per wanita usia subur). Lebih lanjut tentang TFR
menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.7.

Gambar 2.11 TFR Indonesia Tahun 1991-2012

Sumber data : SDKI 1991, 1994, 1997, 2002, 2007, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 11


Angka Fertilitas Menurut Kelompok Umur (Age Specific Fertility Rate/ASFR)
ASFR adalah angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran per 1.000 perempuan
pada kelompok umur tertentu antara 15-49 tahun. Data tren Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukan ada pergeseran puncak ASFR dari
kelompok umur 20-24 tahun pada tahun 1991 menjadi 25-29 tahun pada tahun 2012.
Pada tahun 2012, jumlah kelahiran pada kelompok umur 25-29 tahun adalah 143 per
1000 perempuan 25-29 tahun. Sedangkan kelompok umur dengan jumlah kelahiran
terendah adalah kelompok umur 45-49 tahun yakni 4 per 1000 perempuan 45-49
tahun.

Tabel 2.2 Fertilitas Menurut Kelompok Umur Tahun 1991- 2012


Kel. Umur Wanita
1991 1994 1997 2002/03 2007 2012
(Age Group)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
15-19 67 61 62 51 51 48
20-24 162 148 143 131 135 138
25-29 157 150 149 143 134 143
30-34 117 109 108 99 108 103
35-39 73 68 66 66 65 62
40-44 23 31 24 19 19 21
45-49 7 4 6 4 6 4
TFR 3,03 2,85 2,79 2,56 2,59 2,59
Sumber data: SDKI Tahun 1991, 1994, 1997, 2002/2003, 2007 dan 2012

Secara umum, ASFR di daerah perkotaan lebih rendah dari perdesaan, hal ini
terlihat dari adanya perbedaan pada pola kelahiran, dimana puncak kelahiran di
perkotaan terjadi pada kelompok usia 25-29 tahun, sedangkan di perdesaan terjadi
pada kelompok usia 20-24 tahun. Namun demikian yang perlu diperhatikan adalah
ASFR kelompok usia 15-19 tahun di Desa, dimana pada tahun 2012 kondisinya
masih sangat tinggi yakni sebesar 69, angka tersebut lebih dari 2 kali lipat bila
dibandingkan dengan ASFR 15-19 tahun di kota yaitu sebesar 32.

Tabel 2.3 Fertilitas Menurut Kelompok Umur dan


Tempat Tinggal Tahun 1997-2012
Kelompok 1997 2002/03 2007 2012
Umur Wanita
(Age Group) Kota Desa Kota Desa Kota Desa Kota Desa
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
15-19 32 79 41 63 26 74 32 69
20-24 112 158 119 144 116 153 121 156
25-29 143 152 143 144 138 131 145 141
30-34 113 105 103 95 104 110 108 98
35-39 62 67 64 68 59 70 59 64
40-44 17 27 18 21 17 21 22 20
45-49 1 7 2 5 4 7 3 6
Total 480 595 490 540 464 566 490 554
TFR 2,40 2,98 2,45 2,70 2,32 2,83 2,45 2,77

Sumber Data : SDKI Tahun 1997, 2002/03, 2007, dan 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 12


Rasio Anak terhadap Wanita (Child Woman Ratio/CWR)
Rasio anak terhadap wanita menggambarkan perbandingan antara jumlah anak di
bawah lima tahun (0-4 tahun) terhadap 1000 penduduk perempuan usia 15-49 tahun.
Berdasarkan data SP, tren rasio anak terhadap wanita usia subur mengalami
penurunan dari 667 per 1000 wanita usia subur pada tahun 1971 menjadi 348 per
1000 wanita usia subur di tahun 2010.

Gambar 2.12 Rasio Anak terhadap Wanita Tahun 1971 2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010

Berdasarkan wilayah, Provinsi Maluku merupakan Provinsi dengan Rasio Anak


terhadap Wanita tertinggi menurut hasil SP 2010 yakni 484 per 1000 wanita usia
subur, sedangkan DI Yogyakarta menjadi Provinsi dengan Rasio Anak terhadap
Wanita terendah yakni 272 per 1000 wanita usia subur. Lihat lampiran Tabel 2.8
untuk CWR menurut Provinsi.

2.2.2 Pola Perkawinan

Umur Kawin Pertama Perempuan (Singulate Mean Age at First Marriage/SMAM)


SMAM adalah perkiraan/estimasi rata-rata umur kawin pertama berdasarkan jumlah
penduduk yang tetap lajang (belum kawin). SMAM Indonesia berdasarkan SP tahun
2010 adalah 22,3 tahun, angka tersebut menurun dibandingkan hasil SP 2000 yang
hanya 22,5 tahun.

Gambar 2.13 Rata-rata Umur Kawin Pertama Perempuan Tahun 1980 2010

Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 1990, 2000 dan 2010


Sumber SMAM 1980: Indonesia Assessment-Population and Human Resources, Gavin W.
Jones,Terence H. Hull, Hal.2

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 13


SMAM tertinggi untuk wilayah provinsi berdasarkan SP 2010 terdapat pada Provinsi
Kepulauan Riau yakni 24,4 tahun, sedangkan angka terendah berada pada Provinsi
Kalimantan Tengah yakni 21,0 tahun. Lihat lampiran Tabel 2.9 untuk SMAM
menurut Provinsi.

Median Usia Kawin Pertama


Usia kawin pertama adalah usia saat wanita melakukan perkawinan secara hukum
dan biologis yang pertama kali. Usia kawin pertama yang dilakukan oleh setiap
wanita memiliki resiko terhadap persalinannya. Semakin muda usia kawin pertama
seorang wanita, maka semakin besar resiko yang dihadapi bagi keselamatan ibu
maupun anak. Selain itu, usia kawin pertama juga berpengaruh besar pada tingkat
fertilitas wanita maupun jumlah penduduk, sebagai akibat dari lamanya waktu
reproduksi wanita.

Gambar 2.14 Median Usia Kawin Pertama Wanita Tahun 1991-2007

Sumber data: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002-03, 2007, 2012

Hasil SDKI tahun 2007 menunjukkan median usia kawin pertama berada pada usia
20,1 tahun, angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan hasil SDKI 2002-2003
yakni 19,8 tahun (lihat gambar 2.13).

Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SDKI 2007 menempati posisi terendah


usia kawin pertama wanita yakni pada usia 18,7 tahun, sedangkan DKI Jakarta
menempati angka tertinggi yakni 22,5 tahun. Lebih jelas tentang Median Usia Kawin
Pertama menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran Tabel 2.10.

2.2.3 Kesertaan ber KB

2.2.3.1 Pasangan Usia Subur (PUS)


Pasangan Usia Subur adalah pasangan suami-istri yang istrinya berumur
antara 15 49 tahun, dan secara operasional pula pasangan suami-istri yang
istri berumur kurang dari 15 tahun dan telah kawin atau istri berumur lebih dari
49 tahun tapi belum menopause (BKKBN, 2007). Tingkat kesertaan ber-KB
diukur dari angka persentase PUS yang menjadi peserta KB.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 14


Data BKKBN menunjukkan Pasangan Usia Subur di Indonesia berjumlah
37.766.883 pada tahun 2000, angka tersebut terus mengalami peningkatan
dari tahun ke tahun yakni 46.315.818 pada tahun 2010 dan 48.370.542 pada
tahun 2012.

Tabel 2.4 Pasangan Usia Subur (Ribuan) Tahun 2000-2012

Tahun PUS
2000 37.766.883
2010 46.315.818
2011 47.326.142
2012 48.370.542

Sumber data: Biren dan Ditlaptik, BKKBN

2.2.3.2 Contraceptive Prevalence Rate dan Mix Kontrasepsi

Pengetahuan Mengenai Alat/Cara KB


Tabel 2.5 menunjukkan pengetahuan tentang metode kontrasepsi untuk
semua wanita, wanita pernah kawin dan pria berstatus kawin. Hampir semua
wanita dan wanita pernah kawin di Indonesia (98 persen dan 99 persen)
pernah mendengar dan mengetahui paling tidak satu alat/cara KB. Persentase
ini relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan sejak SDKI 2007.

Suntikan dan pil merupakan alat/cara KB yang paling dikenali dan diketahui
oleh wanita di Indonesia 96 persen. Diantara metode kontrasepsi modern,
kontrasepsi darurat yang diketahui adalah diafragma dan metode amenore
laktasi (MAL). Secara umum, pria kurang mengetahui tentang metode
kontrasepsi tertentu daripada wanita, kecuali untuk kontrasepsi kondom
dimana pengetahuan pria lebih tinggi daripada wanita.

Tabel 2.5 Pengetahuan Tentang Alat/Cara KB


Wanita Wanita Umur
Berstatus Subur belum Pria Berstatus
Metode Semua Wanita Menikah Menikah Kawin
Suatu Alat/Cara KB 98.0 99.0 90.7 97.3

Cara KB Modern 98.0 98.9 89.0 97.2


Sterilisasi Wanita 61.4 67.0 44.4 40.3
Sterilisasi Pria 33.7 37.7 25.4 30.6
Pil 95.6 97.3 87.7 93.0
IUD 75.8 82.3 68.2 65.1
Suntikan 95.9 98.0 83.0 92.5
Susuk KB 81.8 89.0 54.1 63.1
Kondom 83.1 84.4 84.9 87.0
Diafragma 10.7 10.5 9.5 7.8
Metode Amenore Laktasi (MAL) 21.6 23.8 22.8 7.7
Kontrasepsi Darurat 11.0 11.3 10.6 6.9

Cara KB tradisional 56.8 62.6 62.9 46.7


Jumlah wanita /pria 45,607 33,465 34 9,306

Sumber data: SDKI 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 15


Pemakaian Kontrasepsi dan Kecenderungannya
Tabel 2.6 menunjukkan bahwa 62 persen wanita berstatus kawin
menggunakan kontrasepsi. Metode tradisional tidak umum digunakan di
Indonesia; 58 persen wanita berstatus kawin umur 15-49 yang menggunakan
metode kontrasepsi modern dan 4 persen wanita berstatus kawin
menggunakan metode tradisional. Suntik KB adalah metode kontrasepsi yang
paling banyak digunakan, diikuti oleh pil (masing-masing sebesar 32 persen
dan 14 persen).

Program yang mendorong partisipasi pria untuk ber-KB telah dilakukan


selama beberapa tahun, namun penggunaan metode kontrasepsi ini masih
rendah. Hanya sedikit wanita berstatus kawin umur 15-49 tahun yang
suaminya menggunakan kondom pria dan sanggama terputus (masing-masing
2 persen), dan 1 persen menggunakan pantang berkala. Selanjutnya, tingkat
penggunaan sterilisasi pria masih kurang dari 1 persen.
Tabel 2.6 Pemakaian Kontrasepsi Masa Kini : Wanita
Tabel 2.6 Pemakaian Kontrasepsi Masa Kini pada Wanita
Cara Modern Cara Tradisional
Suatu Suatu
Suatu cara Sterilisasi Sterilisasi Susuk cara Pantang Sanggama Tidak Jumlah
Umur cara modern wanita Pria Pil IUD Suntik KB Kondom MAL Lainnya tradisional berkala terputus Lainnya pakai Total wanita
Semua wanita
15-19 6.3 6.2 0.0 0.0 1.2 0.1 4.9 0.1 0.0 0.0 0.0 0.1 0.0 0.1 0.0 93.7 100.0 6,927
20-24 36.2 35.4 0.0 0.0 6.5 1.2 25.5 1.6 0.6 0.0 0.0 0.8 0.1 0.6 0.1 63.8 100.0 6,305
25-29 55.0 52.2 0.2 0.0 11.2 2.1 34.2 2.8 1.7 0.0 0.0 2.7 0.7 1.9 0.1 45.0 100.0 6,959
30-34 60.2 56.7 1.3 0.1 13.4 3.4 32.7 3.6 2.0 0.1 0.0 3.6 1.1 2.1 0.3 39.8 100.0 6,876
35-39 62.9 57.9 3.8 0.2 14.3 4.2 29.5 3.8 2.0 0.0 0.0 5.0 1.5 3.1 0.4 37.1 100.0 6,882
40-44 58.6 53.5 5.8 0.1 13.7 5.2 23.5 3.6 1.5 0.0 0.0 5.1 2.0 2.4 0.6 41.4 100.0 6,252
45-49 39.8 36.3 7.0 0.5 9.4 5.1 11.6 1.5 1.1 0.0 0.0 3.6 1.3 1.7 0.5 60.2 100.0 5,407
Total 45.7 42.7 2.4 0.1 10.0 3.0 23.5 2.4 1.3 0.0 0.0 3.0 1.0 1.7 0.3 54.3 100.0 45,607
Wanita berstatus kawin
15-19 48.1 47.6 0.0 0.0 8.8 0.9 37.3 0.6 0.0 0.1 0.0 0.4 0.1 0.3 0.1 51.9 100.0 890
20-24 60.5 59.3 0.0 0.0 10.9 2.0 42.7 2.6 0.9 0.1 0.0 1.3 0.2 1.0 0.1 39.5 100.0 3,754
25-29 63.6 60.4 0.3 0.0 12.9 2.4 39.6 3.2 2.0 0.0 0.0 3.1 0.8 2.2 0.1 36.4 100.0 6,000
30-34 65.7 61.8 1.4 0.1 14.7 3.6 35.7 3.9 2.2 0.1 0.0 3.9 1.2 2.3 0.3 34.3 100.0 6,285
35-39 68.1 62.7 4.1 0.2 15.6 4.4 32.0 4.1 2.2 0.0 0.0 5.4 1.7 3.3 0.5 31.9 100.0 6,331
40-44 65.2 59.5 6.3 0.1 15.4 5.5 26.4 4.0 1.7 0.0 0.0 5.7 2.3 2.7 0.7 34.8 100.0 5,572
45-49 45.8 41.6 7.7 0.5 10.9 5.8 13.6 1.7 1.3 0.0 0.0 4.2 1.5 2.0 0.6 54.2 100.0 4,633
Total 61.9 57.9 3.2 0.2 13.6 3.9 31.9 3.3 1.8 0.0 0.0 4.0 1.3 2.3 0.4 38.1 100.0 33,465
Sumber data:
Sumber: SDKI
SDKI 20122012

Pemakaian Kontrasepsi Menurut Karakteristik Latar Belakang


Tabel 2.7 menunjukkan bahwa angka prevalensi kontrasepsi hampir sama di
daerah perkotaan dan pedesaan (62 persen). Suntik KB digunakan oleh
wanita perkotaan dan perdesaan, tetapi wanita di perdesaan memiliki
persentase penggunaan suntik KB yang lebih besar daripada wanita di
perkotaan (masing-masing 35 persen dan 28 persen).

Penggunaan metode kontrasepsi juga bervariasi menurut tingkat pendidikan.


Suntik KB merupakan metode yang paling populer pada semua kategori
pendidikan wanita. IUD, kondom dan sterilisasi wanita lebih banyak
digunakan oleh wanita berstatus kawin dengan tingkat pendidikan lebih tinggi.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 16


Tabel 2.7 Pemakaian kontrasepsi masa kini
menurut karakteristik latar belakang wanita berstatus kawin

Sumber data: SDKI 2012

Gambar 2.14 menunjukkan pemakaian alat/cara KB meningkat hampir 1


persen per tahun selama periode sebelas tahun antara SDKI tahun 1991 dan
SDKI tahun 2002-2003. Selama satu dekade setelah SDKI tahun 2002-2003,
peningkatan pemakaian alat/cara KB kurang dari 2 persen.

Gambar 2.15 Pemakaian Alat/Cara KB (CPR)

Sumber data: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002-03, 2007, 2012

Gambar 2.15 menunjukkan tingkat popularitas beberapa metode kontrasepsi


modern. Penggunaan IUD terus menurun selama 20 tahun terakhir, dari 28,3
persen pada tahun 1991 dan saat ini sebesar 6,7 persen. Di sisi lain,
penggunaan suntikan meningkat dari 24,9 persen pada tahun 1991 menjadi
55,1 persen pada 2012. Sementara pil adalah metode modern yang paling
umum digunakan pada tahun 1991 dan tahun 1994, serta suntik KB

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 17


merupakan metode kontrasepsi modern yang paling populer digunakan sejak
SDKI tahun 1997.

Gambar 2.16 Pemakaian Alat/Cara KB Menurut Metode


Kontrasepsi Modern

Sumber data: SDKI 2012

Biaya Pemakaian Kontrasepsi


Berdasarkan SDKI 2012 sebanyak 23 persen dari seluruh pemakai
kontrasepsi memperoleh cara atau alat kontrasepsi dari tempat pelayanan
pemerintah, dan sebagian besar dari mereka (16 persen) membayar untuk
metode dan jasa pelayanannya.

Tabel 2.8 Sumber Pembiayaan Kontrasepsi

Sumber data: SDKI 2012

Kemandirian pemakaian kontrasepsi menurut SDKI 2012 dua persen lebih


rendah dibandingkan dengan SDKI 2007 (masing-masing 89 persen dan 91
persen). Pemakai kontrasepsi suntik, pil dan kondom cenderung membayar
dalam mendapatkan alat/obat kontrasepsinya (masing-masing 96 persen, 95
persen dan 95 persen) dibandingkan pemakai alat/cara kontrasepsi lain. Dua
per tiga dari pemakai IUD, 62 persen pemakai sterilisasi pada wanita dan 55
persen dari pemakai implan membayar untuk mendapatkan alat/metode
kontrasepsinya.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 18


Tabel 2.8 juga menjelaskan tentang sumber pelayanan kontrasepsi yang
dikategorikan kedalam 3 tempat pelayanan yakni Pemerintah, Swasta, dan
Lainnya. Pelayanan kontrasepsi ini diarahkan pada kemandirian dan
partisipasi sektor swasta.

Gambar 2.17 Sumber Pelayanan Kontrasepsi


di IndonesiaTahun 2012

Sumber data: SDKI 2012

Gambar 2.16 menunjukkan beberapa alat/cara KB masih menjadi domainnya


pemerintah seperti sterilisasi wanita dan pria, selebihnya kebanyakan dilayani
oleh pihak swasta. Sedangkan alat kontrasepsi yang dapat diperoleh di toko
obat adalah pil dan kondom.

2.2.3.3 Kebutuhan Pelayanan Kontrasepsi yang tidak Terpenuhi (Unmet


Need)
Unmet need menggambarkan persentase wanita usia subur yang tidak
menggunakan alat/cara kontrasepsi namun menginginkan penundaan
kehamilan (penjarangan sampai dengan 24 bulan) atau berhenti sama sekali
(pembatasan).

Gambar 2.18 Unmet Need di Indonesia Tahun 1991-2012

Sumber data: SDKI 1991, 1994, 1997, 2002-03, 2007, 2012

Definisi unmet need pada SDKI tahun 2012 mengalami perubahan dari definisi
SDKI tahun 2007. Dalam rangka menyediakan data yang dapat dibandingkan,
maka telah dilakukan perhitungan total unmet need dengan menggunakan
definisi baru. Hasilnya terjadi penurunan unmet need pada wanita berstatus
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 19
kawin umur 15-49 dari 17.0 persen pada tahun 1991, turun menjadi 15,3
persen pada tahun 1994, dan 11,4 persen pada tahun 2012.

Menurut SDKI 2012, kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi (unmet


need) pada wanita berstatus kawin umur 15-49 tahun adalah 11,4 persen; 5
persen untuk penundaan kelahiran, dan 6,9 persen untuk membatasi
kelahiran. Unmet need Provinsi dapat dilihat pada Lampiran Tabel 2.11.

2.2.3.4 Alasan Tidak Memakai Kontrasepsi


Sebagian besar wanita yang tidak menggunakan alat kontrasepsi pada saat
survey berkaitan dengan alasan fertilitas yaitu sebesar 40,2 persen. Diantara
mereka 19,1 persen adalah yang telah memasuki masa menopause, 9,2
persen ingin memiliki anak banyak, 7,4 persen abstinensi, 3 persen tidak
subur dan fatalistic 1,6 persen (lihat Gambar 2.18).

Gambar 2.19 Alasan tidak ingin memakai Kontrasepsi

Sumber data: SDKI 2012

Adapun wanita yang tidak menggunakan kontrasepsi berkaitan dengan alasan


atau cara KB sebesar 23,4 persen, dimana 11,5 persen dari mereka adalah
yang takut dengan efek samping, 7,8 persen berkaitan dengan masalah
kesehatan, 2,3 persen merasa tidak nyaman menggunakan alat kontrasepsi, 1
persen menjadi gemuk atau kurus, dan selebihnya karena alasan kurangnya
akses dan biaya yang terlalu mahal.

2.2.3.5 Median lama dan frekuensi menyusui secara eksklusif


Secara umum median lama menyusui di Indonesia adalah selama 21,4 bulan,
dengan durasi meannya selama 20,5 bulan. Namun demikian median durasi
ASI eksklusif kurang dari 1 bulan dengan durasi meannya 3 bulan. Seperti
dapat dilihat pada Gambar 2.19. Lampiran Tabel 2.12 untuk melihat Median
lama menyusui menurut Provinsi.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 20


Gambar 2.20 Rata-rata pemberian Asi Eksklusif
untuk Semua Anak (bulan)

Sumber data: SDKI 2012

2.3 Mortalitas dan Faktor yang Mempengaruhi

2.3.1 Kecenderungan dan Pola Mortalitas

Kematian Kasar (Crude Death Rate/CDR)

Estimasi angka Kematian Kasar berdasarkan United Nation (UN) Population


Prospect menurun dari 13 per 1000 penduduk pada periode tahun 1970 sampai
dengan 1975, menjadi 6 per 1000 penduduk pada periode tahun 2005 sampai
dengan 2010. Penurunan angka kematian kasar ini memberikan gambaran
peningkatan kesejahteraan penduduk, sebagai dampak dari kemajuan di bidang
kesehatan.

Gambar 2.21 Estimasi Kematian Kasar di Indonesia

Sumber data: World Population Prospects The 2012 Revision, UN

Angka Kematian Bayi (Infant MortaIity Rate/IMR)

Kematian bayi menggambarkan peluang untuk meninggal antara kelahiran dan


sebelum mencapai umur tepat satu tahun. Angka kematian Bayi dapat dibagi
menjadi dua bagian yakni kematian neonatum dan post-neonatum. Kematian
Neonatum menggambarkan peluang untuk meninggal dalam bulan pertama setelah
lahir, sedangkan kematian post-neonatum menggambarkan peluang untuk setelah
bulan pertama tetapi sebelum umur tepat satu tahun.
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 21
Gambar 2.22 Angka Kematian Bayi dan Anak Tahun 1991-2012

Sumber data: SDKI Tahun 1991, 1994, 1997, 2002, 2007 dan 2012

Kematian bayi berusia di bawah satu tahun menurun dari 67,8 per 1000 kelahiran
hidup pada tahun 1991 menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2012.
Berdasarkan data provinsi kasus kematian bayi tertinggi terdapat di Papua Barat (74
per 1000 kelahiran hidup) dan terendah di provinsi Kalimatan Timur (21 per 1000
kelahiran hidup). Lihat Lampiran Tabel 2.13 untuk Angka Kematian Bayi menurut
Provinsi.

Angka Kematian Anak (1-4 Tahun)

Kematian anak menggambarkan peluang untuk meninggal antara umur satu tahun
dan sebelum tepat lima tahun. Gambar 2.21 menunjukan bahwa kematian anak usia
1-4 tahun telah turun sejak tahun 1991, dari 31,7 per 1000 kelahiran anak usia 1-4
tahun menjadi 9 per 1000 kelahiran anak usia 1-4 tahun pada tahun 2012. Provinsi
dengan angka kematian anak usia 1-4 tahun tertinggi adalah Papua (64 per 1000
anak usia 1-4 tahun) dan terendah adalah Jambi (3 per 1000 anak usia 1-4 tahun).
Lihat Lampiran Tabel 2.13 untuk Angka Kematian Anak menurut Provinsi.

Angka Kematian Balita (Under Five Mortality Rate/U5MR)

Kematian balita menggambarkan peluang untuk meninggal antara kelahiran dan


sebelum umur tepat lima tahun. Pada tahun 1991, kasus kematian balita adalah
sebanyak 97,4 per 1000 anak usia dibawah 5 tahun. Angka tersebut terus menurun
mencapai 40 per 1000 anak usia dibawah 5 tahun pada tahun 2012. Provinsi dengan
angka kematian balita tertinggi adalah Papua (115 per 1000 anak usia dibawah 5
tahun) dan terendah adalah Riau (28 per 1000 anak usia dibawah 5 tahun). Lihat
Lampiran Tabel 2.13 untuk Angka Kematian Balita menurut Provinsi.

Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate/MMR)

Kasus Kematian Ibu yang disebabkan karena komplikasi kehamilan dan kelahiran
anak di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan data SDKI, angka kematian ibu
mengalami tren penurunan dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2007 yakni 390
per 100,000 kelahiran hidup pada tahun 1994, kemudian turun menjadi 228 per
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 22
100,000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Jumlah tersebut pada tahun 2012
mengalami peningkatan menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup.

Gambar 2.23 Angka Kematian Ibu Tahun 2002-2012

Sumber data: SDKI Tahun 1994, 1997, 2002, 2007 dan 2012

Angka Harapan Hidup (Life Expectancy)

Angka harapan hidup (AHH) merupakan rata-rata tahun hidup yang akan dijalani
oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu. Berdasarkan tren data SP, AHH
di Indonesia telah meningkat dari tahun 1971 yaitu 45,7 tahun menjadi 70,7 tahun
pada tahun 2010. Berdasarkan jenis kelamin, AHH perempuan lebih tinggi (72,6
tahun) daripada AHH laki-laki (68,7 tahun).

AHH disetiap provinsi pada tahun 2010 (SP2010) berbeda-beda dari yang tertinggi
provinsi DKI Jakarta yaitu 74,7 tahun sampai dengan yang terendah provinsi
Gorontalo yaitu 63,2 tahun (lihat Lampiran Tabel 2.14 untuk AHH menurut Provinsi).

Gambar 2.24 Angka Harapan Hidup Indonesia Tahun 1971-2010

Sumber data: SP Tahun 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010

2.3.2 Penyebab Kematian


Pada tahun 2011, berdasarkan data Kementrian Kesehatan RI, jenis penyakit
dengan jumlah kematian tertinggi di Indonesia disebabkan oleh demam berdarah
dengue (DBD) yaitu sebanyak 816 jiwa. Kasus tertinggi terjadi di provinsi Jawa Barat
dengan 167 jiwa (data provinsi dapat dilihat pada Lampiran Tabel 2.15).
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 23
Tabel 2.9 Jenis Penyakit dan Penyebab Kematian tahun 2011

Jenis Penyakit Jumlah Penderita Jumlah Kematian


(1) (2) (3)
DBD 90.245 816
Pneumonia 549.708 609
Difteri 1.192 76
Tetanus Neonatorum 119 59
Leptospirosis 239 29
Diare 1.585 23
Flu Burung 9 9
Campak 15.987 4
Sumber: Dirjen PP dan PL, Profil Kesehatan Indonesia 2012

2.4 Migrasi

2.4.1 Kecenderungan dan Pola Migrasi Risen


Berdasarkan SP tahun 2010, angka migrasi risen baik keluar maupun masuk
mengalami penurunan. Migrasi risen masuk pada tahun 2000 sebesar 5,536,317
jiwa, menurun menjadi 5,396,419 jiwa pada tahun 2010. Sedangkan data migrasi
risen keluar pada tahun 2000 adalah 5,440,239 jiwa, menurun menjadi 5,235,778
jiwa pada tahun 2010. Sementara berdasarkan jenis kelamin, Jumlah penduduk Laki-
laki Migran masuk risen pada tahun 2010 berjumlah 2.830.114 jiwa, sedangkan
Perempuan berjumlah 2.566.305 jiwa.

Tabel 2.10 Tren Data Parameter Kependudukan


yang terkait dengan Migrasi Risen Indonesia, 2000-2010
Parameter 2000 2010
(1) (2) (3)
Migrasi Risen (jiwa):
Masuk 5.536.317 5.396.419
Keluar 5.440.239 5.235.778

Sumber data: BPS, Sensus Penduduk 2000 dan 2010

Provinsi Jawa Barat mendapatkan migran masuk risen terbanyak yaitu 1,048,964
jiwa sedangkan terendah adalah provinsi Maluku Utara (24,462 jiwa). Untuk migran
keluar risen terbanyak terdapat di Provinsi Jawa tengah (979,860 jiwa) dan yang
terendah adalah Maluku Utara (14,887 jiwa). Lihat Lampiran Tabel 2.16 untuk Angka
Migrasi Risen Menurut Provinsi.

2.4.2 Kecenderungan dan Pola Migrasi Seumur Hidup


Angka migrasi seumur hidup mengalami kenaikan baik keluar maupun masuk.
Migrasi seumur hidup masuk pada tahun 2000 adalah 20,260,484 jiwa, meningkat
menjadi 27,975,612 jiwa pada tahun 2010. Sedangkan data migrasi seumur hidup
keluar pada tahun 2000 adalah 20,161,012 jiwa, meningkat menjadi 27,736,130 jiwa

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 24


pada tahun 2010 (Lihat Lampiran Tabel 2.17 untuk Angka Migrasi Seumur Hidup
menurut Provinsi). Sementara berdasarkan jenis kelamin, Jumlah penduduk Laki-
laki Migran masuk seumur hidup pada tahun 2010 berjumlah 14.736.632 jiwa,
sedangkan Perempuan berjumlah 13.238.980 jiwa.

Tabel 2.11 Tren Data Parameter Kependudukan yang terkait dengan Migrasi
Seumur Hidup Indonesia, 2000-2010
Parameter 2000 2010
(1) (2) (3)
Migrasi Seumur Hidup
(jiwa):
Masuk 20.260.484 27.975.612
Keluar 20.161.012 27.736.130

Sumber data: BPS, Sensus Penduduk 2000 dan 2010

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan migran masuk seumur hidup
terbanyak yaitu 5,225,271 jiwa sedangkan terendah adalah provinsi Gorontalo
(64,585 jiwa). Untuk migran keluar seumur hidup terbanyak terdapat di Provinsi Jawa
Tengah (6,829,637 jiwa) dan yang terendah adalah Papua (48,955 jiwa).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 25


PEMBANGUNAN BERWAWASAN KEPENDUDUKAN 3
3.1 Pencapaian Pembangunan Manusia
Persoalan pembangunan manusia di Indonesia sudah mendapat perhatian y a n g
serius. Berbagai masalah mengenai pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan
mulai terlihat bergeser dan berkembang ke arah kondisi yang lebih baik. Sebagai
gambaran tentang perkembangan tersebut, kondisi Indonesia dapat diperbandingkan
dengan negara ASEAN.

Indeks Pembangunan Manusia adalah salah satu indeks yang mengukur tentang
tingkat pembangunan manusia berdasarkan tiga indikator yaitu kesehatan, pendidikan
dan kesejahteraan. Pada tahun 2012 IPM Indonesia berada pada peringkat 121 dari 187
Negara. IPM Indonesia antara tahun 1980 sampai dengan 2012 mengalami peningkatan
sebesar 49 persen yakni dari 0,422 menjadi 0,629, angka tersebut menunjukkan rata-rata
peningkatan sebesar 1,3 persen setiap tahunnya.

Tabel 3.1 Tren IPM Indonesia Tahun 1980 2012


Tahun Life Expected Mean years GNI per HDI value
expectancy years of of schooling capita (2005
at birth schooling PPP$)
1980 57.6 8.3 3.1 1,278 0.422
1985 60 9.3 3.5 1,478 0.456
1990 62.1 9.9 3.3 1,911 0.479
1995 64 9.9 4.2 2,630 0.525
2000 65.7 10.3 4.8 2,390 0.540
2005 67.1 11.2 5.3 2,950 0.575
2010 68.9 12.9 5.8 3,775 0.620
2011 69.4 12.9 5.8 3,973 0.624
2012 69.8 12.9 5.8 4,154 0.629
Sumber data: Human Development Report, UNDP

Tabel 3.1 Menunjukkan tren peningkatan pada masing-masing indikator IPM di


Indonesia. Harapan hidup saat lahir antara tahun 1980 sampai dengan 2012 meningkat
sebesar 12,2 tahun, sedangkan lama waktu bersekolah yang diharapkan meningkat
sebesar 2,7 tahun dan diharapkan akan meningkat sampai dengan 4,6 tahun. Di
Indonesia Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per Kapita juga mengalami peningkatan
sekitar 225 persen antara tahun 1980 sampai dengan tahun 2012.

Perbandingan IPM antar negara ASEAN menunjukkan disparitas yang cukup tinggi
sejak tahun 1990. Peningkatan IPM tidak secara langsung menggambarkan
peringkat kualitas pembangunan manusia. Sebagai contoh, meskipun selama dua
dekade IPM Myanmar telah meningkat secara signifikan, namun Myanmar tetap
menjadi negara dengan IPM terkecil dikawasan ASEAN. Angka IPM Myanmar
merupakan yang terkecil dibandingkan Negara ASEAN lainnya yaitu 0,498 pada tahun
2012. Peringkat terendah berikutnya adalah Laos dan Cambodia dengan nilai IPM di
tahun 2012 yakni 0,543. Di sisi lain, Negara-negara dengan nilai IPM tinggi di
kawasan ASEAN berturut-turut adalah Singapura, Brunei Darussalam dan Malaysia
masing-masing dengan IPM 0,895, 0,855, dan 0,769 untuk tahun 2012. Untuk
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 26
Negara ASEAN, Indonesia berada pada posisi ke 6, dengan nilai capaian sebesar
0,629. Rata-rata IPM dunia tahun 2012 adalah 0,694 (gambar 3.1).

Gambar 3.1 Perbandingan IPM Negara-Negara ASEAN


Tahun 1990-2012

Sumber data: Human Development Report, UNDP

Pada tahun 2011, IPM kawasan Sumatera, Jawa dan Bali pada umumnya berada di
atas rata-rata nasional (72,77). Sedangkan IPM kawasan di luar Jawa, Sumatera dan
Bali (Indonesia Tengah dan Timur) pada umumnya dibawah rata-rata nasional,
kecuali Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara. Sementara itu
daerah tertinggal seperti NTT, NTB dan Papua juga telah mengalami kemajuan
tingkat IPM yang lebih pesat dibanding daerah lainnya. Hal ini seperti yang tersaji
dalam lampiran Indeks Pembangunan Manusia Provinsi dan Indonesia tahun
1996 2011. Untuk lebih jelasnya tentang IPM Provinsi dapat dilihat pada Lampiran
Tabel 3.1.

3.2 Pembangunan Gender


Indeks ketimpangan gender (Gender Inequality Index) mencerminkan ketimpangan
perempuan yang dilihat dalam tiga dimensi yaitu kesehatan reproduksi,
pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja. Indeks yang terbentuk menunjukkan kehilangan
dalam pembangunan manusia yang diakibatkan oleh adanya perbedaan gender.
Nilainya berkisar dari 0, yang menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki
kehilangan kesempatan yang sama, dan 1, yang menunjukkan bahwa perempuan
kehilangan lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Dimensi kesehatan diukur menggunakan dua indikator yaitu tingkat kematian ibu
(maternal mortality rate) dan tingkat kesuburan remaja (adolescent fertility rate).
Dimensi pemberdayaan juga didekati dengan dua indikator yaitu proporsi kursi
parlemen dipegang oleh laki-laki atau perempuan, dan capaian tingkat pendidikan
menengah dan tinggi dari tiap gender. Dimensi tenaga kerja diukur dengan
partisipasi perempuan dalam angkatan kerja. Indeks Ketimpangan Gender (IKG)
dirancang untuk mengungkapkan sejauh mana prestasi nasional dalam aspek
pembangunan manusia yang hilang akibat adanya perlakuan ketidaksetaraan gender,
dan juga untuk menyediakan data empiris untuk analisis kebijakan dan upaya
advokasi.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 27


Gambar 3.2 Indeks Ketimpangan Gender
di Negara-negara ASEAN Tahun 1995-2011

Sumber data: Human Development Report


(Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tahun 2012)

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh HDR (Human Development Report), dalam
kurun waktu 15 tahun telah terjadi penurunan indeks ketimpangan gender di kawasan
Negara-negara ASEAN. Hal ini berarti telah terjadi penurunan ketimpangan akibat
adanya perbedaan gender.

Gambar 3.3 Perkembangan IPG di Indonesia


Periode Tahun 2004-2011

Sumber data: BPS

Secara umum pencapaian pembangunan gender di Indonesia dari waktu ke waktu


memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik. Hal ini dapat diindikasikan
dengan adanya peningkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) selama kurun
waktu 2004-2011 (Gambar 3.3). Pada tahun 2004 IPG secara nasional telah
mencapai 63,94, kemudian naik menjadi 65,81 pada tahun 2007 dan bergerak
naik lagi secara perlahan hingga menjadi 67,80 pada tahun 2011.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 28


Tabel 3.2 Tren Indeks Pembangunan Manusia (IPM),
Indeks Pembangunan Gender (IPG), dan Rasio (IPG/IPM), 2004-2011

Sumber data: BPS

Sedangkan bila dilihat kondisi di Provinsi berdasarkan Rasio IPM dan IPG, maka
Provinsi yang mempunyai Rasio IPG 2011 tertinggi berada pada provinsi NTT dan
yang terendah adalah provinsi Kepulauan Riau (85,37 persen). Data IPG di setiap
Provinsi tersaji dalam Lampiran Tabel 3.2.

3.3 Penduduk Rentan


Informasi berkaitan dengan kesulitan fungsional dapat digunakan sebagai
pendekatan dalam menentukan program kebijakan pembangunan yang berkaitan
dengan penyandang cacat. Seseorang dapat memiliki satu atau lebih jenis kesulitan,
dengan tingkat ringan maupun parah. Jumlah terbanyak dari kesulitan yang dialami
penduduk usia 10 tahun ke atas pada tahun 2010 adalah berjalan atau naik tangga
yakni sebesar 654,600 orang. Sementara tingkat kesulitan terendah yang dialami
penduduk adalah mendengar yakni sebanyak 456,047 orang (data Provinsi dapat
dilihat pada Lampiran Tabel 3.3).

Tabel 3.3 Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang mengalami Kesulitan


Tidak ada Ada kesulitan
Kesulitan Jumlah
Kesulitan Sedikit Parah
(1)= (2)= (3)= (4)= (5)=(2)+(3)+(4)
Melihat 185.019.345 5.312.946 506.878 190.839.169
Mendengar 187.814.898 2.568.224 456.047 190.839.169
Berjalan atau Naik Tangga 187.751.495 2.432.094 654.600 190.838.189
Berkonsentrasi/Berkomunikasi 188.094.775 2.126.192 616.202 190.837.169
karena Kondisi Fisik/Mental
Mengurus Diri Sendiri 188.795.687 1.510.606 532.876 190.839.169
Sumber data: Sensus Penduduk (SP) 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 29


3.4 Ketersediaan Pelayanan

3.4.1 Kesehatan

Tenaga Kesehatan (Dokter dan Bidan)


Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian
Kesehatan, diketahui bahwa jumlah tenaga Dokter yang terdiri dari dokter spesialis,
dokter umum, dan dokter gigi, mengalami peningkatan dari 42.467 Dokter pada
tahun 2010 menjadi 59.492 Dokter pada tahun 2011. Jumlah tersebut sama dengan
dengan 24,7 Dokter per 100.000 Penduduk pada tahun 2011.

Jumlah Bidan juga mengalami peningkatan dalam 3 tahun terakhir yakni 93.889
Bidan pada tahun 2009, kemudian meningkat menjadi 96.551 Bidan pada tahun
2009, dan 124.164 Bidan pada tahun 2011. Jumlah tersebut setara dengan 51,5
Bidan per 100.000 penduduk pada tahun 2011.

Gambar 3.4 Banyaknya SDM Kesehatan tahun 2008 2011

Sumber data: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia


Tahun 2008, 2009, 2010, 2011

Berdasarkan wilayah diketahui bahwa Provinsi Jawa Tengah memiliki tenaga Dokter
terbanyak yakni 7.829 Dokter pada tahun 2011, sedangkan provinsi dengan jumlah
Dokter terendah berada pada Provinsi Papua Barat yakni 243 Dokter. Kondisi yang
sama juga terjadi pada jumlah Bidan, dimana provinsi Jawa Tengah memiliki jumlah
Bidan terbanyak yakni 15.833 Bidan pada tahun 2011, sedangkan Papua Barat
berada pada provinsi dengan kepemilikan Bidan terendah yakni 600 Bidan. Lihat
Lampiran Tabel 3.4 untuk Sumber daya manusia Kesehatan menurut Provinsi.

Sarana Layanan Kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit)


Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai salah satu sumber layanan
kesehatan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah Puskesmas
tercatat sebanyak 8.234 pada tahun 2007, meningkat menjadi 8.548 Puskesmas
pada tahun 2008, dan 9.321 Puskesmas pada tahun 2011.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 30


Gambar 3.5 Banyaknya Sarana Puskesmas tahun 2007-2011

Sumber data: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia


Tahun 2008, 2009, 2011

Berdasarkan wilayah, jumlah Puskesmas terbanyak berada pada Provinsi Jawa


Barat yakni sejumlah 1.046 Puskesmas, sedangkan Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung memiliki jumlah Puskesmas terendah yakni 58 Puskesmas (lihat Lampiran
Tabel 3.5).

Gambar 3.6 Banyaknya Sarana Rumah Sakit tahun 2007-2011

Sumber data: Kemenkes, Profil Kesehatan Indonesia


Tahun 2007, 2008, 2009, 2011

Pada tahun 2011 jumlah Rumah Sakit (RS Umum dan RS Khusus) di Indonesia juga
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (lihat Gambar 3.6). Pada tahun 2007
jumlah Rumah Sakit tercatat sebanyak 1.319 Rumah Sakit, meningkat menjadi
1.371 pada tahun 2008, dan 1.721 pada tahun 2011 (Profil Kesehatan Indonesia).

Sementara berdasarkan wilayah, jumlah RS terendah berada pada Provinsi Sulawesi


Barat yakni 7 Rumah Sakit, sedangkan jumlah RS terbanyak berada pada Provinsi
Jawa Tengah yakni 225 Rumah Sakit. Lihat Lampiran Tabel 3.5 untuk Sarana
Pelayanan Kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit) menurut Provinsi.

Klinik Keluarga Berencana (KB)


Klinik pelayanan KB baik melalui jalur pemerintah maupun swasta terus mengalami
kenaikan. Data BKKBN menunjukkan pada tahun 2010 klinik pelayanan KB melalui
jalur pemerintah berjumlah 20.050 klinik, meningkat menjadi 21.609 klinik pada tahun
2013. Kondisi yang sama juga terjadi pada klinik pelayanan KB jalur swasta, dimana
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 31
terjadi peningkatan yakni dari 3.876 klinik pada tahun 2010, menjadi 4.680 klinik
pada tahun 2013. Lihat Lampiran Tabel 3.6 untuk klinik pelayanan KB menurut
Provinsi.

Gambar 3.7 Banyaknya Klinik Pelayanan KB di Indonesia

25.000
21.037 21.647
20.050 20.480
20.000

15.000

10.000
3.876 3.970 4.344 4.684
5.000

-
2010 2011 2012 2013*)

Klinik Pemerintah Klinik Swasta

Sumber data: Pelayanan Kontrasepsi, BKKBN 2010-2013


*) Data sampai dengan bulan Agustus 2013

3.4.2 Pendidikan

Sarana Pendidikan (Sekolah)


Tren jumlah Sekolah di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemendikbud) maupun pada Kementerian Agama (Kemenag) pada tahun
2008/2009-2010/2011 terus mengalami peningkatan. Sekolah yang dimaksud di sini
adalah tingkatan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Madrasah
Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs),
Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah
Aliyah (MA).

Berdasarkan data statistik indonesia jumlah Sekolah Dasar (SD) di indonesia tercatat
sebanyak 146.804 pada tahun ajaran 2010/2011, jumlah tersebut merupakan yang
terbanyak dari semua jenis sekolah baik pada tingkatan pendidikan dasar maupun
lanjutan. Sedangkan sekolah dengan jumlah sarana terendah adalah Madrasah
Aliyah (MA) yakni sebanyak 6.426 pada tahun ajaran 2010/2011.

Gambar 3.8 Jumlah Sekolah di Indonesia Tahun 2008-2011

Sumber data: Statistik Indonesia 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 32


Provinsi Jawa Timur pada tahun ajaran 2010/2011 memiliki jumlah Sekolah Dasar
tertinggi sebesar 19.923. Sedangkan pada tahun tahun sebelumnya Jawa Barat
yang memiliki jumlah Sekolah Dasar terbanyak. Lebih lanjut tentang Sarana
Pendidikan menurut Provinsi dapat dilihat pada Lampiran Tabel 3.7.

Rasio Penduduk Usia Sekolah Per Sekolah


Rasio penduduk usia sekolah per sekolah yang diolah dari data sensus tahun 2010
(jumlah penduduk) dan statistik indonesia (jumlah sekolah) untuk tingkat sekolah
dasar adalah 168 siswa per sekolah dasar. Jumlah tersebut menjadi lebih tinggi
pada sekolah-sekolah tingkat lanjutan yakni 305 siswa dan 491 siswa per sekolah
untuk tingkat SMP dan SMA. Sementara Rasio tertinggi berada pada tingkat
perguruan tinggi, yakni 7.504 siswa per perguruan tinggi. Selengkapnya untuk rasio
penduduk Usia sekolah per sekolah menurut Provinsi dapat dilihat pada lampiran
Tabel 3.8.

Tabel 3.4 Rasio Jumlah Penduduk Usia Sekolah per Jumlah Sekolah
Di Indonesia tahun 2009/2010
Jumlah Penduduk Jumlah Sekolah
Kelompok Umur Rasio
Usia Sekolah 2009/2010
5-6 (TK) 9.126.057 67.550 135,1
7-12 (SD/MI) 27.804.900 165.491 168,0
13-15 (SMP/MTs) 13.408.650 43.888 305,5
16-18 (SMA/SMK/MA) 12.455.244 25.332 491,7
19-24 (PT) 23.902.077 3.185 7504,6
Jumlah 86.696.928 305.446 283,8

Sumber data: SP 2010, Statistik Indonesia 2012 - BPS RI

Tenaga Pengajar
Jumlah guru menurut Statistik Indonesia 2012, tertinggi yaitu jumlah guru Sekolah
Dasar (SD) sebanyak 1.501.236 pada tahun ajaran 2010/2011 dan jumlah guru
paling sedikit yaitu Madrasah Aliyah (MA) sebesar 112.793 pada tahun ajaran
2008/2009.

Gambar 3.9 Banyaknya Tenaga Guru di Indonesia Tahun 2008-2011

Sumber data: Statistik Indonesia 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 33


Dari Statistik Indonesia 2012, rata-rata tenaga pengajar terbanyak yaitu guru
Sekolah Dasar (SD) dan Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah tenaga pengajar
terbanyak. Pada tahun ajaran 2010/2011 tenaga pengajar Sekolah Dasar (SD)
berjumlah 207.535. Data tentang Tenaga Pengajar (Guru) menurut Provinsi dapat
dilihat pada Lampiran Tabel 3.9.

3.4.3 Sanitasi dan air bersih

Rumah tangga yang memiliki fasilitas buang air besar sendiri terus meningkat
menjadi 65,20 persen pada tahun 2011 dan persentase rumah tangga yang tidak
memiliki fasiltas buang air besar terus menurun menjadi 17,78 persen pada tahun
yang sama (Persentase fasilitas buang air besar dalam rumah tangga menurut
Provinsi dapat dilihat pada Lampiran Tabel 3.10).

Gambar 3.10 Persentase Fasilitas Buang Air Besar


dalam Rumah Tangga

Sumber data: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2011

Sementara itu, rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum sendiri sudah
melebihi 50 persen. Hanya saja dari data statistik kesejahteraan rakyat, persentase
rumah tangga yang memiliki fasiltas air minum sendiri mengalami penurunan dari 60
persen pada tahun 2010 menjadi 58,69 persen tahun 2011. Sedangkan, rumah
tangga yang menggunakan fasilitas air minum bersama dan tidak memiliki fasilitas
sama sekali mengalami peningkatan dari survey sebelumnya (Persentase fasilitas
buang air besar dalam rumah tangga menurut Provinsi dapat dilihat pada Lampiran
Tabel 3.11).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 34


Gambar 3.11 Persentase Fasilitas Air Minum dalam Rumah Tangga

Sumber data: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2011

3.4.5 Listrik

Rumah tangga yang menggunakan Listrik PLN sebagai sumber penerangan


mengalami peningkatan menjadi 92.08 persen pada tahun 2012. Pada tahun yang
sama, dari hasil survey Sosial Ekonomi Nasional sebanyak 3,84 persen rumah
tangga menggunakan Listrik Non PLN, dan sebanyak 4,08 persen memakai
penerangan lainnya.

Gambar 3.12 Persentase Sumber Penerangan


dalam Rumah Tangga

100% 7,27 6,45 5,85 5,17 4,08


3,27 4,25 4,68 4,32 3,84
90%
80%
70%
60%
50% 89,46 89,29 89,47 90,51 92,08
40%
30%
20%
10%
0%
2008 2009 2010 2011 2012

Listrik PLN Listrik Non-PLN Lainnya

Sumber data: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2011

Lebih lanjut tentang Persentase sumber penerangan dalam rumah tangga dapat
dilihat pada Lampiran Tabel 3.12.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 35


3.5 Kesehatan

3.5.1 Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja

3.5.1.1 Pubertas

Pengetahuan dan Pengalaman Pubertas


Menurut data SKRRI 2012, hanya satu dari sepuluh remaja pria dan wanita
tidak dapat menyebutkan perubahan fisik pada seorang anak pria dan wanita
pada saat pubertas. Pria kurang mengetahui tanda-tanda pubertas pada
seorang wanita dibandingkan dengan wanita. Dua puluh persen remaja pria
dan 5 persen remaja wanita tidak mampu menyebutkan tanda-tanda pubertas
pada seorang wanita. Sebagian pria mengetahui perubahan fisik sebagai
tanda pubertas seorang pria adalah pertumbuhan rambut di bagian wajah,
kemaluan, dan ketiak. Sedangkan wanita yang mengetahui tanda-tanda
pubertas pada pria adalah perubahan suara 69 persen, pertumbuhan buah
jakun 53 persen, dan pertumbuhan rambut di bagian tubuh 43 persen.
Sebagian besar wanita 83 persen lebih sering menyebutkan menstruasi dan
pertumbuhan buah dada sebagai tanda-tanda pubertas pada seorang anak
wanita dari pada pria 73 persen. Sebagian besar pria mengetahui tanda-tanda
pubertas pada wanita adalah pertumbuhan buah dada 58 persen dan
menstruasi 43 persen.

Tabel 3.5 Persentase Pengetahuan remaja


tentang perubahan fisik masa pubertas
Wanita belum kawin Pria belum kawin
15 19 20 24 15 19 20 24
Indikator perubahan fisik tahun tahun Jumlah tahun tahun Jumlah
Remaja pria
Pertumbuhan otot 22,4 29,3 24,4 18,4 22,7 20,0
Perubahan suara 69,3 66,7 68,6 50,3 45,5 48,5
Pertumbuhan rambut di 43,4 42,5 43,1 50,2 49,7 50,0
muka, sekitar kemaluan,
dada, kaki, lengan
Meningkatnya gairah
seksual 3,1 6,0 3,9 4,8 8,1 6,1
Mimpi basah 28,8 32,0 29,7 34,6 32,9 34,0
Tumbuh jakun 55,4 46,5 52,9 35,3 23,2 30,7
Pengerasan putting susu 0,4 0,9 0,5 0,4 0,6 0,5
Lainnya 8,3 13,8 9,9 20,5 25,0 22,2
Tidak tahu tanda apapun 10,1 9,6 10,0 11,1 10,2 10,8
Remaja wanita
Pertumbuhan rambut
pada sekitar kemaluan,
ketiak 31,7 31,7 31,7 22,0 21,8 21,9
Pertumbuhan buah dada 72,4 73,9 72,8 57,3 58,9 57,9
Pertumbuhan paha 28,8 21,8 26,8 19,4 15,7 18,0
Meningkatnya gairah
seksual 3,0 6,3 3,9 2,8 3,9 3,2
Haid 81,9 85,1 82,8 42,4 44,5 43,2
Lainnya 11,9 14,5 12,6 12,4 14,8 13,3
Tidak tahu tanda apapun 4,7 4,8 4,7 21,2 19,2 20,4
Jumlah 6.018 2.401 8.419 6.835 4.145 10.980

Sumber data: SKRRI 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 36


Pengetahuan tentang Perubahan Fisik Pada Pubertas
Data SKRRI 2012, menunjukkan bahwa wanita umur 15-24 cenderung
menyebutkan guru sebagai sumber pengetahuan tentang perubahan fisik 61
persen. Sumber informasi dari guru ini lebih dominan dijumpai pada remaja
wanita pada kelompok umur 15-19 tahun 66 persen. Sumber informasi
perubahan fisik yang lain bagi remaja wanita diperoleh dari teman dan media
bacaan masing-masing 29 persen dan 25 persen. Bagi remaja pria cenderung
lebih menyebutkan teman dan guru sebagai sumber informasi perubahan fisik
remaja masing-masing 48 persen dan 46 persen. Pada kelompok umur 20-24
tahun mereka lebih dominan 54 persen menyebutkan teman sebagai sumber
informasi, sedangkan pada kelompok umur 15-19 tahun cenderung lebih
menyebutkan guru sebagai sumber informasi perubahan fisik remaja. Dari
SKRRI 2012 ini nampak ada perubahan pola sumber informasi perubahan fisik
yang diterima remaja wanita dibandingkan dengan survei SKRRI tahun 2007.
Pada survei SKRRI 2012, sumber informasi tentang perubahan fisik yang
dominan adalah guru diikuti oleh teman, sedangkan dari survei sebelumnya
sumber informasi perubahan fisik yang dominan adalah guru.

Tabel 3.6 PersentaseSumber pengetahuan


tentang perubahan fisik saat pubertas
Wanita belum kawin Pria belum kawin
15 19 20 24 15 19 20 24
Sumber informasi tahun tahun Jumlah tahun tahun Jumlah
Teman 27,3 34,3 29,3 43,7 53,8 47,5
Ibu 16,1 21,3 17,6 3,4 3,9 3,6
Ayah 1,4 3,4 2,0 2,4 2,5 2,5
Saudara kandung 4,2 5,4 4,6 1,3 1,8 1,5
Kerabat 3,9 6,1 4,5 2,0 2,4 2,1
Guru 65,7 48,9 60,9 53,0 33,1 45,5
Petugas kesehatan 2,1 3,3 2,5 0,9 2,2 1,4
Pemimpin agama 1,8 1,9 1,8 3,0 3,5 3,2
Televisi 6,7 11,1 8,0 10,0 13,9 11,5
Radio 1,4 2,8 1,8 1,8 3,1 2,3
Buku/majalah/surat
kabar 23,5 27,6 24,7 13,3 14,9 13,9
Internet 4,5 7,6 5,4 4,5 6,2 5,1
Lainnya 12,5 19,7 14,5 13,8 23,5 17,5
Tidak satupun 1,2 1,9 1,4 2,1 2,9 2,4
Jumlah 6.018 2.401 8.419 6.835 4.145 10.980
Sumber data: SKRRI 2012

Menstruasi
Berdasarkan hasil SKRRI 2012, menstruasi pertama kali dialami oleh 29
persen pada umur 13 tahun, 24 persen pada umur 14 tahun, dan 23 persen
pada umur 12 tahun. Ada fenomena yang menarik, 7 persen wanita
mengalami haid pertamanya pada umur 10-11 tahun. Hanya sedikit sekali (0,5
persen) remaja wanita yang belum mendapat menstruasi. Secara
keseluruhan, 89 persen wanita mengalami haid pertama pada umur 12-15
tahun. Temuan ini serupa dengan studi yang dilaksanakan oleh Lembaga
Demografi Universitas Indonesia yang menunjukkan bahwa 84 persen wanita
mengalami haid pertama pada umur 12-15 tahun (Lembaga Demografi
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 37
Universitas Indonesia, et al. 2002). Sebagian besar wanita 53 persen
membicarakan pengalaman haid pertama mereka dengan teman dan 41
persen dengan ibunya.

Tabel 3.7 Persentase Umur remaja wanita


pertama kali mendapat haid
Umur saat mendapat haid pertama (tahun) Tidak
Umur saat
Tidak pernah
survei (tahun)
< 10 11 12 13 14 15 16 17+ menjawab haid
15 2,3 8,1 26,2 39,1 19,9 3,0 0,1 0,2 0,0 0,9
16 1,7 6,8 23,7 30,7 25,2 10,3 0,7 0,0 0,4 0,4
17 2,1 4,3 22,2 24,8 28,9 14,8 2,5 0,3 0,0 0,2
18 1,2 4,4 22,6 29,0 22,3 15,8 3,1 1,4 0,0 0,1
19 1,2 2,7 22,5 24,1 27,2 16,8 4,7 0,7 0,1 0,0
20 0,7 4,1 21,6 28,7 22,6 14,4 5,6 2,1 0,0 0,2
21 1,8 3,8 16,8 27,9 25,3 15,2 6,0 3,3 0,0 0,0
22 0,3 6,4 19,7 25,0 24,5 15,6 5,3 2,6 0,2 0,3
23 3,7 2,0 22,9 25,8 22,1 15,5 3,8 3,3 0,8 0,0
24 1,9 4,5 21,4 25,6 19,7 15,9 6,5 3,5 1,0 0,0
Jumlah 1,7 5,2 22,7 29,3 24,1 12,4 3,0 1,1 0,2 0,3

Sumber data: SDKI 2012

3.5.1.2 Kespro Pra Nikah

Pengetahuan tentang Anemia


Pada SKRRI 2007 tiga kategori pengetahuan anemia yaitu hemoglobin (Hb)
rendah, kekurangan zat besi, dan kekurangan sel darah merah yang
dilaporkan remaja wanita dan pria tidak lebih dari 25 persen. Rendahnya
pengetahuan wanita tentang anemia jelas akan berdampak pada risiko
pengalaman kesehatan reproduksi mereka kelak. Risiko anemia pada remaja
lebih tinggi terjadi pada waktu seorang wanita hamil. Anemia memungkinkan
terjadinya peningkatan risiko kematian pada wanita penderita anemia yang
mengalami pendarahan berat, juga risiko memiliki berat bayi lahir rendah
(BBLR) dan bayi dengan kelainan bawaan lahir. Risiko anemia tidak hanya
terjadi pada wanita, tetapi juga pria.

Menurut data SDKI tahun 20012, sebagian besar wanita dan pria memiliki
persepsi yang kurang benar tentang anemia. Baik wanita maupun pria
memiliki persepsi bahwa anemia adalah kekurangan darah. Persepsi tidak
benar bahwa anemia adalah kurang darah terjadi pada 69 persen wanita dan
56 persen pria. Hanya 25 persen wanita dan 11 persen pria yang dapat
menjawab dengan benar pertanyaan tentang arti anemia. Kondisi
pengetahuan remaja tentang anemia tahun 2012 masih tidak lebih baik
dibandingkan dengan kondisi mereka pada tahun 2007.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 38


Tabel 3.8 Persentase pengetahuan remaja tentang anemia
Wanita belum kawin (umur) Pria belum kawin (umur)
Persepsi tentang anemia 15 19 20 24 Jumlah 15 19 20 24 Jumlah
Hemoglobin rendah
(Hb) 3,5 5,8 4,2 1,6 2,2 1,8
Kurang zat besi 4,6 9,5 6,2 1,7 3,3 2,3
Kurang sel darah
merah 13,7 16,0 14,5 6,5 6,9 6,7
Kurang darah 65,3 75,4 68,5 49,0 66,5 56,2
Kurang vitamin 2,2 1,8 2,1 1,0 1,1 1,1
Tekanan darah rendah 2,4 3,0 2,6 0,8 1,9 1,3
Lainnya 4,5 4,0 4,3 8,5 7,3 8,0
Tidak tahu 17,1 5,9 13,5 37,5 20,5 30,5
Tidak menjawab 0,0 0,0 0,0 0,1 0,1 0,1
Jumlah 4.401 2.074 6.475 3.759 2.630 6.389

Sumber data: SKRRI 2012

3.5.1.3 Pengetahuan HIV/AIDS dan IMS


Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan penyakit yang
disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV). Jenis virus ini merusak
sistem kekebalan tubuh seseorang membuat tubuh lebih rentan, sulit sembuh
dari berbagai penyakit opurtunistik yang dapat mengalami kematian.

Gambar 3.13 Persentase Pria dan Wanita Umur 15-49


yang Pernah Mendengar AIDS Menurut Pendidikan, Indonesia 2012
96 99 98 99
90
85
75
62
52

38 29
16

wanita 15-49 tahun pria kawin 15-54 tahun

Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD


Tidak Tamat SMA Tamat SMA Tamat SMA+

Sumber data: SDKI 2012

Gambar 3.13 menunjukkan rendahnya pendidikan berpengaruh pada


pengetahuan seseorang terhadap AIDS. Semakin tinggi pendidikannya
semakin luas pengetahuan terhadap informasi tentang AIDS. Perilaku seks
bebas dan penyalahgunaan narkotika jenis suntik dapat menyebabkan
seseorang terkena penyakit tersebut. Segmentasi penyebaran penyakit ini
terjadi pada mereka yang berpendidikan rendah dan berperilaku negatif,
meskipun ada beberapa kasus seseorang kena AIDS karena kelalaian medis
(pengggunaan jarum suntik).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 39


3.5.2 Kesehatan Anak

3.5.2.1 Cakupan Imunisasi


Menurut WHO, anak dinyatakan telah diimunisasi lengkap apabila telah
mendapatkan satu kali imunisasi mencegah tuberkulosis (BCG), tiga kali
imunisasi DPT, tiga kali imunisasi polio, dan satu kali imunisasi campak.
Secara nasional, persentase cakupan imunisasi lengkap tanpa pemberian
hepatitis B anak umur 12 - 23 bulan meningkat dalam tiga periode SDKI yaitu
2002/2003, 2007 dan 2012.

Tabel 3.9 Tren Cakupan Imunisasi Lengkap


Tanpa Hepatitis B di Indonesia tahun 2003-2012

Imunisasi SDKI 2003 SDKI 2007 SDKI 2012

BCG 82,5 85,4 89,3


DPT 3 58,3 66,7 72
Polio 3 66,1 73,5 75,9
Campak 71,6 76,4 80,1
Total 51,5 58,6 65,6

Sumber data: SDKI 2002/2003, SDKI 2007 dan SDKI 2012

Terjadi perubahan definisi cakupan imunisasi dalam SDKI 2012. Dalam SDKI
2012, seorang anak dikategorikan menerima imunisasi lengkap jika telah
menerima 1 kali imunisasi mencegah tuberkulosis (BCG), 3 kali imunisasi
DPT, 3 kali imunisasi polio, 1 kali imunisasi campak serta 4 kali vaksin
Hepatitis B. Persentase anak umur 12 - 23 bulan yang mendapatkan imunisasi
lengkap termasuk hepatitis B sebesar 40,3 persen. Sedangkan persentase
anak yang telah hepatitis 3 sebesar 42,4 persen (Lihat Lampiran Tabel 3.13
untuk Cakupan Imunisasi pada Balita menurut Provinsi).

3.5.2.2 Pemberian Makan Pada Anak (ASI dan Makanan pendamping


ASI)
Pemberian makanan yang benar sangat penting bagi kelangsungan hidup,
pertumbuhan, perkembangan serta kesehatan bayi dan anak balita. Air susu
ibu (ASI) mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dalam enam bulan
pertama setelah dilahirkan. Setelah anak berusia enam bulan sesuai dengan
proses pertumbuhan dan perkembangan bayi, maka ASI harus ditambahkan
dengan cairan lain dan makan padat yang memberikan gizi yang memadai.
Cairan dan makan padat tersebut biasanya disebut makanan pendamping ASI
(MPASI), yang diberikan sampai anak berumur dua tahun.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 40


Tabel 3.10 Persentase Pemberian ASI dan Makanan pendamping ASI
menurut kelompok umur, Indonesia tahun 2007-2012
Makanan tambahan
Umur Asi Ekslusif
lainnya
(bulan)
SDKI 2007 SDKI 2012 SDKI 2007 SDKI 2012
0-1 48,3 50,8 12,2 9,6
2-3 34,4 48,9 27,2 16,7
4-5 17,8 27,1 48,1 43,9
6-8 5,5 3,4 73,2 78,8
9-11 0,8 1,1 79,1 76,8
12-17 0,5 1,0 76,4 72,8
18-23 0,7 0,7 55,5 58,4
Sumber data: SDKI 2007, 2012

Tabel 3.11 menunjukkan persentase bayi yang menerima ASI ekslusif terus
menurun setelah 2 bulan pertama. Sedangkan persentase bayi yang
menerima makanan tambahan lainnya terus meningkat setelah enam bulan
pertama. Secara nasional terjadi peningkatan persentase pemberian ASI
ekslusif kepada bayi sampai dengan umur 4-5 bulan dalam SDKI 2012
dibandingkan SDKI 2007. Peningkatan yang sama juga terjadi pada
pemberian makanan tambahan kepada bayi setelah enam bulan pertama.

3.5.3 Kesehatan Ibu


Kesehatan ibu yang dalam hal ini adalah ibu hamil dipengaruhi oleh pemeriksaan
kehamilan, komplikasi kehamilan dan persalinan, perawatan masa nifas, serta
masalah akses pelayanan kesehatan yang meliputi tempat layanan dan tenaga
medis. Selain itu, kesehatan ibu hamil berkaitan erat dengan jumlah ibu hamil.

3.5.3.1 Jumlah Ibu Hamil


Sarana layanan kesehatan dan jumlah tenaga medis sebaiknya
memperhatikan jumlah ibu hamil, karena semakin tinggi jumlah ibu hamil
maka akan semakin besar pula resiko komplikasi kehamilan dan persalinan,
sarana layanan kesehatan, serta jumlah tenaga medis yang dibutuhkan.
Jumlah persentase ibu hamil Indonesia sebesar 4,3 persen berdasarkan
jumlah total dari WUS yang berhasil diwawancarai, yaitu 45.607 wanita.
Sedangkan persentase wanita hamil menurut provinsi dapat dilihat pada
Lampiran Tabel 3.14.

3.5.3.2 Antenatal Care (Pemeriksaan Kehamilan)


Di Indonesia, pemeriksaan kehamilan didefinisikan sebagai pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis profesional (dokter umum,
dokter ahli kebidanan dan kandungan, perawat, bidan, atau bidan di desa).
Program kesehatan ibu di Indonesia menganjurkan agar ibu hamil melakukan
paling sedikit empat kali kunjungan untuk pemeriksaan selama kehamilan,
menurut jadwal 1-1-2 yaitu: paling sedikit sekali kunjungan dalam trisemester
pertama, paling sedikit sekali kunjungan dalam trisemester kedua, dan paling
sedikit dua kali kunjungan dalam trisemester ketiga. Pemeriksaan kehamilan
meliputi; tenaga pemeriksa kehamilan, jumlah kunjungan pemeriksaan
PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 41
kehamilan dan saat kunjungan pertama, serta komponen pemeriksaan
kehamilan.

Tabel 3.11 Persentase wanita hamil


yang melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan
Daerah tempat tinggal
Jumlah dan waktu kunjungan pemeriksaan Jumlah
Perkotaan Perdesaan
Jumlah kunjungan pemeriksaan kehamilan
Tidak pernah 1,3 4,8 3,1
1 0,9 2,2 1,6
2-3 4,6 9,1 6,9
4+ 92,7 82,9 87,8
Tidak tahu/tidak terjawab 0,6 0,9 0,7
Jumlah 100 100 100
Paling sedikit sekali kunjungan selama trimester I, 79,6 67,5 73,5
atau trimester II, dan paling sedikit 2 kali
kunjungan selama trimester III
Umur kandungan dalam bulan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan
kehamilan
Tidak diperiksa 1,3 4,8 3,1
<4 84,8 76,2 80,4
4-5 10,7 12,7 11,7
6-7 2,6 4,3 3,5
8+ 0,4 1,3 0,9
Tidak tahu/tidak terjawab 0,2 0,6 0,4
Jumlah 100 100 100
Jumlah wanita 7,358 7,424 14,782
Median bulan umur kandungan pada kunjungan 2,1 2,6 2,4
pertama (untuk ibu yang melakukan pemeriksaan
kehamilan)
Jumlah wanita melakukan pemeriksaan
7,26 7,066 14,327
kehamilan
Sumber data: SDKI 2012

Tabel 3.12 di atas memperlihatkan bahwa 93 persen ibu hamil yang tinggal di
perkotaan dan 83 persen ibu hamil yang tinggal di perdesaan melakukan
kunjungan pemeriksaan kehamilan lebih dari empat kali. Mayoritas dari ibu
hamil yang tinggal di perkotaan (85 persen) dan perdesaan (76 persen)
melakukan kunjungan pertama untuk pemeriksaan pada usia kehamilan
kurang dari empat bulan.

Pada Tabel 3.13 dapat dilihat bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan


mencapai 90 persen atau lebih tinggi dalam semua kelompok. Namun
terkecuali ibu yang urutan kehamilan ke enam atau lebih (83 persen), dan ibu
yang tidak sekolah dan tidak tamat SD (masing-masing 64 persen dan 89
persen), dan ibu dengan indeks kekayaan kuintil terbawah (87 persen).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 42


Tabel 3.12 Persentase pemeriksaan kehamilan
Karakteristik Tenaga Pemeriksa Kehamilan Persentase Jumlah
Latar Dokter Dokter Perawat Dukun Lainnya/ Tidak Tidak Jumlah yang Ibu
Belakang Umum Kandung /Bidan/ Tidak Terjawab Periksa Periksa
an Bidan di Tahu Hamil dari
Desa Tenaga
Medis
Umur Saat Melahirkan Profesional
<20 1,0 8,3 85,4 1,5 0,6 0,1 3,0 100 94,7 1,33
20-34 1,5 20,3 74,4 0,7 0,4 0,4 2,4 100 96,1 11,05
35-49 1,5 19,1 73,7 0,7 0,2 0,9 4,0 100 94,3 2,41
Urutan Kelahiran
1,00 1,5 20,0 76,3 0,4 0,3 0,1 1,4 100 97,7 5,54
2-3 1,4 20,7 73,9 0,7 0,5 0,5 2,3 100 96,0 7,12
4-5 1,6 13,0 77,0 1,6 0,5 1,2 5,1 100 91,6 1,59
6+ 1,4 4,4 76,8 2,6 0,3 0,4 14,3 100 82,5 536,00
Daerah tempat tinggal
Perkotaan 1,2 27,9 69,1 0,1 0,3 0,5 0,9 100 98,2 7,36
Perdesaan 1,7 10,2 81,3 1,4 0,5 0,4 4,5 100 93,3 7,42
Pendidikan ibu
Sekolah
Tidak tamat 1,2 3,2 59,6 4,9 0,5 0,8 29,8 100 64,0 274,00
SD 1,1 4,9 82,5 2,1 0,7 0,3 8,3 100 88,5 1,24
TamatTamat
Tidak SD 1,2 5,5 87,4 1,3 0,7 0,8 3,1 100 94,0 3,52
SMTA 1,6 9,6 86,2 0,5 0,3 0,3 1,6 100 97,4 3,97
Perguruan
Tamat SMTA 1,8 26,8 69,7 0,2 0,3 0,3 0,9 100 98,4 4,02
Tinggi2 1,1 61,7 36,3 0,1 0,0 0,5 0,3 100 99,1 1,77
Indeks Kuintil Kekayaan
Terbawah
Menengah 1,6 3,3 82,1 2,8 0,8 0,7 8,8 100 86,9 3,04
bawah 1,7 8,5 85,6 0,6 0,7 0,5 2,5 100 95,8 2,88
Menengah 1,5 13,4 82,8 0,2 0,2 0,4 1,5 100 97,7 2,94
Atas 1,5 23,7 73,8 0,1 0,2 0,4 0,3 100 99,0 3,11
Teratas 1,1 47,2 51,1 0,0 0,2 0,2 0,2 100 99,4 2,82
Jumlah 1,40 19,00 75,30 0,80 0,40 0,40 2,70 100 95,7 14,78

Catatan :
Jika lebih dari satu tenaga pemeriksa yang disebutkan. Hanya tenaga pemeriksa dengan kualifikasi tertinggi yang
dicantumkan dalam tabel ini.
Sumber data : SDKI 2012
Sumber data: SDKI 2012

Komponen pemeriksaan kehamilan meliputi: informasi tentang tanda-tanda


komplikasi kehamilan, pemeriksaan urine, pemeriksaan darah. Tabel berikut
ini menyajikan tentang komponen pemeriksaan kehamilan.

Tabel 3.14 memperlihatkan bahwa jumlah ibu hamil yang tinggal di perkotaan
cenderung lebih tinggi dalam hal mencari informasi tentang tanda-tanda
komplikasi kehamilan, pemeriksaan urine, serta pemeriksaan darah.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 43


Tabel 3.13 Komponen Pemeriksaan Kehamilan
Jenis pelayanan kesehatan yang didapatkan ibu yang
mempunyai anak lahir hidup terakhir dalam lima tahun
sebelum survei
Karakteristik Latar Informasi
belakang tentang tanda-
Pemeriksaan Pemeriksaan
tanda Jumlah ibu
urine darah
komplikasi
kehamilan
Umur saat melahirkan
<20 49,8 43,9 38,6 1,286
20-34 54,3 47,9 40,7 10,748
35-49 48,8 48,7 43,8 2,293
Urutan kelahiran
1 56,8 49,8 42,1 5,458
2-3 52,9 48,1 41,0 6,923
4-5 42,8 43,2 39,2 1,489
6+ 41,0 31,3 33,8 457
Daerah tempat tinggal
Perkotaan 57,1 52,3 45,4 7,26
Perdesaan 48,7 42,9 36,5 7,066
Pendidikan
Tidak sekolah 27,8 30,2 39,8 190
Tidak tamat SD 35,4 36,9 36,6 1,136
Tamat SD 48,1 43,3 41,7 3,38
Tidak tamat SMTA 51,3 48,9 39,0 3,897
Tamat SMTA 60,3 52,1 41,2 3,974
Perguruan tinggi 63,6 52,6 46,9 1,751
Indeks kuintil kekayaan
Terbawah 42,1 35,7 35,0 2,746
Menengah bawah 49,9 45,2 41,2 2,797
Menengah 53,7 47,7 41,1 2,884
Menengah atas 57,5 53,2 42,1 3,089
Teratas 61,0 55,9 45,4 2,809
Jumlah 53,0 47,7 41,0 14,327
Sumber data: SDKI 2012

3.5.3.3 Penolong Persalinan


Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya kematian ibu
adalah terbatasnya tempat persalinan yang memadai.

Sumber Tempat Persalinan

Tabel 3.15 di bawah menyajikan tentang tempat persalinan yang


dimanfaatkan oleh wanita yang melahirkan dalam lima tahun sebelum survei.

Dapat dilihat bahwa ibu umur di bawah 20 tahun yang melahirkan di fasilitas
kesehatan cenderung lebih kecil dibandingkan dengan ibu yang lebih tua.
Terjadi kenaikan persentase melahirkan di fasilitas kesehatan dari 46 persen
(SDKI 2007) menjadi 63 persen (SDKI 2012). Persentase yang dilahirkan di
fasilitas kesehatan menurut provinsi dapat dilihat pada Lampiran Tabel 3.15.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 44


Tabel 3.14 Persentase wanita yang melahirkan di fasilitas kesehatan
Fasilitas kesehatan Persentase
Karakteristik Latar persalinan Jumlah
Tidak
belakang Pemerintah Swasta Rumah Lainnya Jumlah di fasilitas kelahiran
terjawab
kesehatan
Umur saat melahirkan
<20 16,8 36,6 46,0 0,2 0,5 100,0 53,4 1,526
20-34 16,4 48,0 34,9 0,1 0,6 100,0 64,4 12,757
35-49 21,9 41,1 35,8 0,2 1,0 100,0 63,0 2,665
Urutan kelahiran
1 18,4 50,9 30,2 0,1 0,4 100,0 69,3 6,557
2-3 17,0 47,2 34,9 0,2 0,7 100,0 64,2 7,892
4-5 16,0 32,4 50,1 0,1 1,4 100,0 48,4 1,827
6+ 13,1 19,1 67,1 0,0 0,6 100,0 32,3 672
Jumlah kunjungan periksa kehamilan
Tidak pernah 4,7 5,8 77,3 0,4 11,6 100,0 10,6 456
1-3 10,6 22,9 66,3 0,1 0,0 100,0 33,5 1,243
4+ 18,7 50,7 30,5 0,1 0,0 100,0 69,4 12,974
Tidak tahu/tidak
13,5 33,1 53,3 0,0 0,2 100,0 46,6 109
terjawab
Daerah tempat tinggal
Perkotaan 20,4 59,5 19,3 0,0 0,6 100,0 80,0 8,405
Perdesaan 14,2 32,5 52,4 0,3 0,6 100,0 46,7 8,543
Pendidikan ibu
Tidak Sekolah 10,7 10,4 76,1 1,2 1,6 100,0 21,1 365
Tidak tamat SD 15,4 22,6 61,3 0,2 0,5 100,0 38,0 1,457
Tamat SD 14,4 32,8 51,5 0,2 1,1 100,0 47,1 3,976
Tidak Tamat SMTA 15,6 45,4 38,5 0,1 0,4 100,0 61,0 4,438
Tamat SMTA 20,8 59,0 19,7 0,1 0,3 100,0 79,8 4,594
Perguruan Tinggi2 20,9 65,5 12,8 0,0 0,8 100,0 86,4 2,119
Indeks kuintil kekayaan
Terbawah 14,0 15,6 68,9 0,3 1,1 100,0 29,7 3,727
Menengah bawah 20,5 36,7 41,8 0,3 0,7 100,0 57,2 3,255
Menengah 18,5 47,7 33,2 0,1 0,5 100,0 66,2 3,311
Menengah Atas 17,7 61,4 20,5 0,1 0,3 100,0 79,1 3,437
Teratas 16,1 72,0 11,5 0,0 0,4 100,0 88,1 3,218
Jumlah 17,3 45,9 36,0 0,2 0,6 100,0 63,2 16,948
1
Hanya untuk anak yang dilahirkan lima tahun sebelum survei
2
Perguruan Tinggi adalah: Diploma, S1/S2/S3
Sumber data: SDKI 2012
Sumber data: SDKI 2012

Tenaga Kesehatan yang Menolong Persalinan


Upaya mengurangi resiko kesehatan ibu dengan cara meningkatkan
persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan professional. Kementrian
Kesehatan menetapkan target bahwa 90 persen persalinan ditolong oleh
tenaga medis pada tahun 2015 (MOH, 2008).

Peningkatan proporsi bayi yang dilahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan


yang professional adalah langkah yang sangat penting untuk mengurangi
resiko kesehatan ibu dan anak. Penanganan medis yang tepat dan memadai
selama melahirkan dapat menurunkan resiko komplikasi yang menyebabkan
kesakitan serius pada ibu dan bayinya. Tabel berikut ini menyajikan tentang
penolong persalinan berkualifikasi tinggi, yaitu orang yang dirujuk ibu jika
mendapat masalah kesehatan selama persalinan.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 45


Persentase kelahiran yang dibantu oleh tenaga medis lebih rendah diantara
ibu yang berumur dibawah 20 tahun dibandingkan dengan ibu yang berumur
lebih tua, dan menurun dengan meningkatnya urutan kelahiran. Persalinan
yang dibantu oleh tenaga medis meningkat sejalan dengan meningkatnya
pendidikan ibu dan status kekayaan. Begitu pula trennya mengalami kenaikan
dari data SDKI 2007 sebesar 73 persen menjadi 83 persen dalam SDKI 2012.
Lihat Lampiran Tabel 3.16 untuk persentase wanita yang persalinannya
dibantu oleh tenaga kesehatan menurut Provinsi.

Tabel. 3.15 Persentase Penolong Persalinan Kualifikasi Tertinggi


Penolong Persalinan Persentase Persentase
Karakteristik Dokter Perawat/ Dukun Saudara Lainnya Tidak Tidak Jumlah Persalinan dengan
Jumlah
Latar Dokter Ahli Bidan/Bi Bayi /Teman Ada Terjawab oleh Bedah
Kelahiran
Belakang Umum Kandun dan di Penolong Caesar
gan Desa Profesional
Umur Saat Melahirkan
<20 0,8 11,4 63,0 21,5 2,4 0,1 0,3 0,4 100,0 75,3 5,8 1.526
20-34 0,9 20,4 62,9 12,7 2,0 0,3 0,3 0,6 100,0 84,2 12,6 12.757
35-49 1,4 23,0 58,0 13,0 2,8 0,2 0,4 1,0 100,0 82,5 14,9 2.665
Urutan Kelahiran
1 1,1 23,1 63,3 10,6 1,2 0,2 0,2 0,3 100,0 87,5 14,4 6.557
2-3 1,0 20,0 63,0 12,9 1,9 0,3 0,1 0,8 100,0 84,0 12,2 7.892
4-5 1,0 12,6 59,3 20,4 3,9 0,5 0,9 1,4 100,0 73,0 8,3 1.827
6+ 0,4 8,5 48,6 30,3 9,9 0,5 1,2 0,7 100,0 57,5 4,5 672
Tempat Persalinan
Fasilitas
1,5 31,5 66,6 0,2 0,1 0,1 0,0 0,1 100,0 99,5 19,5 10.71
kesehatan
Lainnya 0,1 0,3 55,5 37,0 5,8 0,5 0,8 0,0 100,0 55,9 0,0 6.132
Tidak terjawab 0,0 1,8 0,5 0,0 0,0 0,8 0,0 96,9 100,0 2,3 2,0 106

Daerah Tempat Tinggal


Perkotaan 1,3 27,7 62,8 6,7 0,6 0,2 0,1 0,7 100,0 91,8 16,8 8.405
Perdesaan 0,7 12,4 61,5 20,2 3,7 0,4 0,5 0,6 100,0 74,6 7,9 8.543
Pendidikan Ibu

Tidak Sekolah 0,2 5,1 26,5 33,9 28,6 2,1 1,8 1,8 100,0 31,8 2,7 365
Tidak tamat
0,7 8,7 51,7 33,3 4,5 0,2 0,4 0,6 100,0 61,1 6,1 1.457
SD
Tamat SD 0,6 10,8 61,4 22,6 2,6 0,3 0,6 1,1 100,0 72,8 6,8 3.976
Tidak Tamat
0,7 13,9 71,1 12,0 1,4 0,1 0,2 0,5 100,0 85,7 7,6 4.438
SMTA
Tamat SMTA 1,2 26,6 66,5 4,6 0,5 0,2 0,0 0,3 100,0 94,3 18,5 4.594
Perguruan
2,3 45,8 48,7 1,8 0,4 0,3 0,0 0,7 100,0 96,8 24,9 2.119
Tinggi2
Indeks Kuintil Kekayaan
Terbawah 0,9 6,2 50,3 32,4 7,6 0,6 0,8 1,1 100,0 57,5 3,7 3.727
Menengah
0,7 14,6 66,6 15,5 1,5 0,1 0,3 0,7 100,0 81,8 9,0 3.255
bawah
Menengah 0,7 15,9 73,1 8,7 0,7 0,2 0,2 0,5 100,0 89,7 11,4 3.311
Menengah
1,5 24,4 67,3 5,9 0,1 0,3 0,0 0,5 100,0 93,2 15,5 3.437
Atas
Teratas 1,1 40,9 54,6 2,5 0,3 0,1 0,0 0,4 100,0 96,6 23,1 3.218
Jumlah 1,0 20,0 62,2 13,5 2,2 0,3 0,3 0,7 100,0 83,1 12,3 16.948

Catatan : Jika responden menjawab lebih dari satu penolong persalinan, yang ditabulasi adalah penolong persalinan berkualifikasi tertinggi dalam tabel ini.
1
Penolong profesional termasuk dokter, perawat, bidan, bidan di desa..
2
Perguruan Tinggi adalah: Diploma, S1/S2/S3
Sumber data: SDKI 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 46


3.5.4 Insiden HIV/AIDS
Meskipun pada tahun 2009 kasus HIV sempat mengalami penurunan, akan tetapi
secara umum Pengidap HIV terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2007 penderita
HIV tercatat sejumlah 6.048 penderita, angka tersebut naik pada tahun 2008
menjadi10.362 penderita, dan pada tahun 2012 jumlahnya sudah mencapai 21.511
penderita.

Data Kemenkes juga mencatat kasus AIDS pada tahun 2012 mengalami penurunan,
yakni dari 7.004 penderita pada tahun 2011 menjadi 5.686 penderita pada tahun
2012.

Gambar 3.14 Kasus HIV/AIDS dan Kematian

Sumber data: Ditjen PP dan PL Kemenkes

Sementara itu, jumlah meninggal karena kasus HIV/AIDS terus mengalami


peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 jumlah meninggal karena virus
HIV/AIDS sejumlah 825 orang, angka tersebut mengalami kenaikan pada tahun 2008
yakni 917 orang meninggal, dan sampai dengan tahun 2012 jumlah meninggal
karena kasus ini sudah mencapai 1.146 orang (Lihat Lampiran Tabel 3.17 untuk
melihat kumulatif Kasus HIV dan AIDS menurut Provinsi)

3.6 Pendidikan

3.6.1 Literasi (Angka Melek Huruf/AMH)


Persentase penduduk laki-laki usia 15 tahun ke atas yang bisa membaca dan
menulis dari data tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 masih berkisar di angka 95
persen. Sementara itu, persentase penduduk perempuan yang melek huruf
mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai 2010 sebelum akhirnya mengalami
sedikit penurunan pada tahun 2011. AMH perempuan tahun 2007 adalah 88,62
persen meningkat menjadi 90,52 persen tahun 2010 dan kemudian menurun menjadi
90,07 persen pada tahun 2011.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 47


Gambar 3.15 Angka Melek Huruf Tahun 2007-2011

Sumber data: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011

Provinsi dengan angka melek huruf tertinggi terdapat di Sulawesi Utara yaitu laki-laki
99,01 persen dan perempuan sebesar 98,69 persen. Sedangkan provinsi dengan
AMH terendah terdapat pada provinsi Papua dimana laki-laki sebanyak 70,72 persen
dan AMH perempuan sebanyak 56,74 persen. Lihat Lampiran Tabel 3.18 untuk
Angka Melek Huruf menurut Provinsi.

3.6.2 Pendidikan yang ditamatkan penduduk 15 tahun ke atas


Tingkat pendidikan penduduk Indonesia mengalami peningkatan ke arah yang lebih
baik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya tren persentase penduduk yang tamat
SMP dan SM+ atau sederajat dan menurunnya tren persentase penduduk yang tidak
sekolah.

Gambar 3.16 Pendidikan yang Ditamatkan


Penduduk 15 Tahun ke Atas

Sumber data: BPS, Susenas 1994-2012

3.6.3 Partisipasi Sekolah


Jumlah penduduk yang bersekolah cenderung menurun dengan meningkatnya usia.
Hal ini mengindikasikan bahwa banyak penduduk di kelompok usia produktif yang
tidak melanjutkan pendidikannya yang diperkirakan mereka segera bekerja atau
menikah (Lihat lampiran 3.19 untuk Angka Partisipasi sekolah menurut provinsi).

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 48


Gambar 3.17 Angka Partisipasi Sekolah Tahun 2007-2011

Sumber data: BPS, Susenas 1994-2012

Partisipasi Murni Sekolah Dasar

Angka partisipasi murni (APM) sekolah dasar (SD) formal di Indonesia baik laki-laki
maupun perempuan mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai tahun 2010.
Akan tetapi data tahun 2011 menunjukan angka partisipasi murni SD mengalami
penurunan. Angka partisipasi murni SD Laki-laki pada tahun 2007 sebanyak 93,88
persen menjadi 91,48 persen tahun 2011. Sedangkan angka partisipasi murni SD
perempuan pada tahun 2007 sebesar 93,62 persen menjadi 90,37 persen pada
tahun 2011.

Gambar 3.18 Angka Partisipasi Murni


SD/MI/Paket A Tahun 2007-2011

Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011

Provinsi dengan angka partisipasi murni SD formal dan non formal tertinggi adalah
Provinsi Sumatera Barat. Angka partisipasi laki-laki SD di Sumatera Barat pada
tahun 2011 adalah 94,25 persen dan perempuan 92,58 persen. Sedangkan, provinsi
dengan angka partsipasi murni SD formal dan non formal terendah adalah Papua.
Pada tahun 2011, angka partisipasi murni SD laki-laki 70,56 persen dan perempuan
69,63 persen.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 49


Partisipasi Murni Sekolah Menengah Pertama

APM Sekolah Menengah Pertama (SMP) formal perempuan di Indonesia lebih tinggi
dibandingkan laki-laki. Pada tahun 2007, APM SMP laki-laki dari 66,01 persen
meningkat menjadi 66,86 pada tahun 2011. Sedangkan, APM SMP perempuan pada
tahun 2007, 67,3 persen meningkat menjadi 69,19 persen tahun 2011.

Gambar 3.19 Angka Partisipasi Murni SMP/MTs/Paket B Tahun 2007-2011

Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011

Provinsi dengan angka partisipasi murni SMP formal dan non formal tertinggi adalah
Provinsi Aceh. Angka partisipasi laki-laki SMP di Aceh pada tahun 2011 adalah 72,58
persen dan perempuan 77,09 persen. Sedangkan, provinsi dengan angka partsipasi
murni SMP formal dan non formal terendah adalah Papua. Pada tahun 2011, angka
partisipasi murni SMP laki-laki 45,34 persen dan perempuan 46,85 persen.

Partisipasi Murni Sekolah Menengah Atas

APM Sekolah Menengah Atas (SMA) formal laki-laki di Indonesia meningkat dari
data tahun 2007 (44,82 persen) sampai dengan data tahun 2011 (47,47 persen).
Akan tetapi, data APM SMA formal perempuan di Indonesia mengalami fluktuatif dari
tahun 2007 sampai tahun 2010 (antara 44,29 persen sampai 44,53 persen). Setelah
itu, APM SMA formal perempuan meningkat menjadi 48,19 persen pada tahun 2011.

Gambar 3.20 Angka Partisipasi Murni SMA/MA/Paket C Tahun 2007-2011

Sumber data: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 50


Provinsi dengan angka partisipasi murni SMA formal dan non formal tertinggi adalah
Provinsi Aceh. Angka partisipasi laki-laki SMA di Aceh pada tahun 2011 adalah 61,82
persen dan perempuan 61,02 persen. Sedangkan, provinsi dengan angka partsipasi
murni SMA formal dan non formal terendah adalah Papua. Pada tahun 2011, angka
partisipasi murni SMA laki-laki 32,54 persen dan perempuan 32,34 persen. Lihat
lampiran table 3.20 untuk Angka partisipasi murni SD, SMP, dan SMA baik formal
maupun non formal menurut provinsi.

3.6.4 Rata-Rata Lama Sekolah


Rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas dalam jenjang pendidikan
formal sejak tahun 2007-2011 mengalami sedikit peningkatan. Berdasarkan data
statistik kesejahteraan rakyat rata-rata lama sekolah laki-laki lebih tinggi
dibandingkan perempuan. Pada tahun 2007, rata-rata lama sekolah laki-laki adalah 8
tahun dan meningkat menjadi 8,3 tahun pada tahun 2010 sampai dengan 2011.
Sedangkan, rata-rata lama sekolah perempuan pada tahun 2007 adalah 7 tahun dan
mengalami peningkatan menjadi 7,5 tahun pada tahun 2010 sampai dengan 2011.

Gambar 3.21 Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Penduduk


Usia 15 tahun ke AtasTahun 2007-2011, Indonesia

Sumber data: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat


Tahun 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011

Provinsi dengan rata-rata lama sekolah tertinggi adalah provinsi DKI Jakarta. Rata-
rata lama sekolah laki-laki di DKI Jakarta pada tahun 2011 adalah 10,9 tahun dan
perempuan 9,9 tahun. Sedangkan, provinsi dengan rata-rata lama sekolah terendah
adalah Papua. Pada tahun 2011, rata-rata lama sekolah laki-laki 6,6 tahun dan
perempuan 5 tahun. Rata-rata Lama sekolah menurut provinsi dapat dilihat pada
Lampiran Tabel 3.21.

3.7 Ekonomi dan Ketenagakerjaan

3.7.1 Ekonomi

Laju Pertumbuhan Ekonomi

Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan


ekonomi. Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi cukup signifikan

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 51


pada tahun 2009 dari 6.01 persen pada tahun 2008 menjadi 4.58 persen. Pada
tahun 2010, pertumbuhan ekonomi kembali menguat, menjadi 6,20 persen dan terus
meningkat mencapai 6,46 persen pada tahun 2011 kemudian menurun kembali di
tahun 2012 sebesar 6,23.

Gambar 3.22 Persentase Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2007 - 2012

Sumber data: BPS, Pendapatan Nasional Indonesia


tahun 2007, 2008, 2009, 2010*, 2011** dan 2012***
*) Angka Sementara
**) Angka sangat sementara
***) Angka sangat sangat sementara

Pendapatan Perkapita

Pendapatan perkapita terdiri atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan
2000. Pendapatan perkapita atas dasar harga berlaku terus meningkat dari
15.125.923,58 rupiah tahun 2007 menjadi 30.516.670,73 pada tahun 2012. Demikian
pula dengan pendapatan perkapita atas dasar harga konstan 2000, meningkat dari
7.344.733,98 rupiah menjadi 9.490.533,09 rupiah pada tahun 2012.

Tabel 3.16 Jumlah Pendapatan per Kapita Indonesia Tahun 2007-2010


Jumlah
Pendapatan per 2007 2008 2009 2010 2011*) 2012**)
kapita per tahun
Atas dasar harga
15,125,923.58 18,774,282.37 20,731,425.57 23,759,818.77 27,298,811.57 30,516,670.73
berlaku
Atas dasar harga
7,344,733.98 7,797,691.36 7,916,021.37 8,412,617.54 9,025,532.92 9,490,533.09
konstan 2000
Sumber data: BPS 2007, 2008, 2009, 2010
*) Angka Sementara
**) Angka sangat sementara

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB)

Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) terdiri atas dasar harga berlaku dan
atas dasar harga konstan 2000. PDRB atas dasar harga berlaku terus meningkat dari
3.556.333.628 juta rupiah tahun 2007 menjadi 6.020.994.080 juta rupiah pada tahun
2010. Begitu pula dengan PDRB atas dasar harga konstan 2000, meningkat dari
1.890.607.083 juta rupiah menjadi 2.363.341.719 juta rupiah pada tahun 2010.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 52


Tabel 3.17 Jumlah Pendapatan Domestik Regional Bruto
Indonesia (juta rupiah) Tahun 2007 - 2011
Jumlah Pendapatan
Domestik Regional Bruto 2007 2008 2009 2010 2011
per tahun (juta rupiah)
Atas dasar harga berlaku 3,556,333,628 4,271,044,592 4,653,539,247 5,293,856,970 6,020,994,080
Atas dasar harga konstan
1,890,607,083 1,999,046,591 2,094,358,009 2,222,763,051 2,363,341,719
2000
Sumber data: BPS 2007, 2008, 2009, 2010, 2011

Berdasarkan harga berlaku, Provinsi dengan PDRB terendah pada tahun 2011
adalah Provinsi Maluku Utara dengan pendapatan bruto 6.056.973,74 juta rupiah.
Sementara Provinsi Gorontala memiliki pendapatan bruto terendah berdasarkan
harga konstan yakni 3.141.458,12 juta rupiah.

Provinsi DKI jakarta dengan PDRB harga berlaku dan harga konstan masing-masing
982.540.043,96 juta rupiah dan 422.162.570,82 menempati perolehan tertinggi
dalam Pendapatan Domestik Regional Bruto di Indonesia untuk tahun 2011. Lihat
Lampiran Tabel 3.22 dan 3.23 untuk Pendapatan Domestik Bruto menurut Provinsi.

Kemiskinan

Kemiskinan adalah sebuah kondisi ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi


kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, dan kesehatan.
Bank Dunia mendefiniskan kemiskinan ini dengan kehidupan dengan pendapatan
$ 1 USD per hari.

Gambar 3.23 Persentase Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2009-2013

Sumber data: Perkembangan Beberapa Indikator Utama


Sosial-Ekonomi Indonesia tahun 2009-2013

Gambar 3.23 menunjukkan persentase penduduk miskin di indonesia berdasarkan


Perkembangan Indikator Utama Sosial Ekonomi Indonesia tahun 2009-2013 terus
mengalami penurunan. Persentase jumlah penduduk miskin di indonesia tahun
2009 adalah 14,15 persen, angka tersebut sampai dengan tahun 2013 turun menjadi
11,37 persen dari total jumlah penduduk di Indonesia.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 53


Provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak adalah Jawa Timur dengan
jumlah penduduk miskin mencapai 5.070.980 juta jiwa. Sedangkan Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung berada pada posisi terendah yakni 71.360 jiwa
penduduk miskin. Lihat Lampiran Tabel 3.24 untuk melihat jumlah dan persentase
penduduk miskin menurut Provinsi.

3.7.2 Ketenagakerjaan

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)

TPAK adalah persentase penduduk yang bekerja terhadap jumlah seluruh penduduk
usia kerja (15-64 tahun).

Gambar 3.24 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja


Indonesia (persen) Tahun 2007 - 2010

Sumber data: Sakernas 2007,2008, 2009, 2010

Pada tahun 2011 tingkat partisipasi angkatan kerja belum berdasarkan jenis kelamin,
hasil sakernas pada tahun 2011 dan 2012 data pada bulan februari tahun 2011
sebesar 69.96 persen kemudian tingkat partisipasi angkatan kerja menurun sampai
dengan bulan Agustus tahun 2011 sebesar 68.34 persen. Pada tahun 2012 bulan
Februari naik kembali sebesar 69.66 persen kemudian kembali menurun pada bulan
agustus sebesar 67.88. Pada tahun 2013 tingkat partisipasi angkatan kerja hanya
tersedia sampai bulan Februari yaitu sebesar 69,21 persen (TPAK menurut Provinsi
dapat dilihat pada Lampiran Tabel 3.25).

Tabel 3.18 Tren Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)


Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
2011 2012 2013
(persen)
Februari 69,96 69,66 69,21
Agustus 68,34 67,88 -
Sumber data: Sakernas 2011, 2012, 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 54


Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

TPT adalah persentase penduduk yang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan


usaha, yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan
pekerjaan, yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja dari jumlah
angkatan kerja yang ada.

Gambar 3.25 Tingkat Pengangguran Terbuka


Indonesia (persen) Tahun 2007 2011

Sumber data: Sakernas 2007,2008, 2009, 2010, 2011

Tingkat Pengangguran terbuka Indonesia dari hasil Sakernas pada tahun 2012
sampai dengan bulan Februari sebesar 6.32 dan pada bulan Agustus turun sebesar
6.14. Pada tahun 2013 pada bulan februari tingkat pengangguran terbuka sebesar
5.92, sementara data bulan agustus belum tersedia (Tingkat penganguran terbuka
menurut Provinsi dapat dilihat pada Lampiran Tabel 3.26).

Tabel 3.19 Tingkat Pengangguran Terbuka

Tingkat Pengangguran Terbuka 2012 2013


Februari 6.32 5.92
Agustus 6.14 -
*) Pengangguran Terbuka : Mencari Pekerjaan, Mempersiapkan Usaha, Merasa Tidak Mungkin
Mendapat Pekerjaan, Sudah Punya Pekerjaan tetapi belum dimulai

3.8 Pertanian Pangan

3.8.1 Pangan Nasional


Terdapat penurunan kuantitas konsumsi pangan nasional di tingkat rumah tangga
sekitar 5,05 persen disebabkan menurunnya konsumsi beras dari 281,71
gram/kap/hari di tahun 2011 menjadi 267,49 gram/kap/hari pada tahun 2012.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 55


Tabel 3.20 Perkembangan Konsumsi Pangan Nasional
Secara Kuantitas pada Tahun 2011 -2012
Konsumsi
Kelompok
Gram/kap/hari Kg/kap/thn
Bahan Pangan
2011 2012 2011 2012
Padi-padian
a. Beras 281,71 267,49 102,82 97,63
b. Jagung 4,30 5,19 1,57 1,90
c. Terigu 29,93 27,24 10,92 9,94
Umbi-umbian
a. Singkong 27,59 20,02 10,07 7,31
b. Ubi jalar 8,11 6,59 2,96 2,41
c. Kentang 4,31 4,02 1,57 1,47
d. Sagu 1,33 1,19 0,48 0,44
e. Umbi lainnya 1,84 1,22 0,67 0,45
Pangan Hewani
a. Daging ruminansia 5,54 7,63 2,02 2,79
b. Daging unggas 13,03 12,04 4,75 4,40
c. Telur 19,56 19,16 7,14 6,99
d. Susu 5,74 4,63 2,09 1,69
e. Ikan 51,99 48,27 18,98 17,62
Minyak dan Lemak
a. Minyak kelapa 4,11 2,82 1,50 1,03
b. Minyak sawit 18,09 20,51 6,60 7,49
c. Minyak lainnya 0,57 0,33 0,21 0,12
Buah/biji berminyak
a. Kelapa 5,12 4,75 1,87 1,73
b. Kemiri 0,89 0,70 0,32 0,26
Kacang-kacangan
a. Kedelai 20,71 19,41 7,56 7,08
b. Kacang tanah 0,92 0,77 0,34 0,28
c. Kacang hijau 0,78 0,75 0,28 0,27
d. Kacang lain 0,28 0,62 0,10 0,23
Gula
a. Gula pasir 20,23 17,75 7,38 6,48
b. Gula merah 1,98 1,45 0,72 0,53
Sayuran dan Buah
a. Sayur 133,70 129,98 48,80 47,44
b. Buah 63,61 69,14 23,22 25,24
Lain-lain
a. Minuman 49,89 49,64 18,21 18,12
b. Bumbu-bumbuan 11,33 10,73 4,13 3,92

Sumber : Susenas 2011 2012 Triwulan I, BKPS diolah BKP

3.8.2 Produktivitas Pertanian

Berdasarkan angka sementara (Asem) BPS, produksi padi nasional tahun 2013
mencapai 70.87 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Artinya mengalami kenaikan
sebesar 1,81 juta ton atau 2,62 persen dibanding 2012.

Tabel 3.21 Produktivitas Padi Tahun 2011 -2013


Jenis Luas Panen Produktivitas Produksi
Tahun
Tanaman (Ha) (ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5)
Padi 2011 13.203.643 49,80 65.75.6904
Padi 2012 13.445.524 51,36 69.056.126
Padi 2013*) 13.769.913 51,46 70.866.571
Sumber data : BPS Tahun 2013
*) Data Tahun 2013 adalah angka Sementara

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 56


Kenaikan produksi padi nasional tersebut berasal dari kenaikan produksi di Jawa
sebesar 871.34 ribu ton dan di luar Jawa sebesar 939.11 ribu ton. Produksi
komoditas padi meningkat seiring peningkatan luas panen 324,29 ribu hektare (2,41
persen) dan kenaikan produktivitas sebesar 0,1 kuintal per hektare.

Tabel 3.22 Produktivitas Jagung Tahun 2011 -2013


Luas Panen Produktivitas Produksi
Jenis Tanaman Tahun
(Ha) (ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5)
Jagung 2011 3.864.692 45,65 17.643.250
Jagung 2012 3.957.595 48,99 19.387.022
Jagung 2013*) 3.857.359 47,99 18.510.435
Sumber data: BPS Tahun 2013
*) Data Tahun 2013 adalah angka Sementara

Produktivitas jagung mengalami penurunan dari 48.99 (ku/ha) tahun 2012 menjadi
47.99 (ku/ha) pada tahun 2013, kondisi tersebut seiring dengan turunnya Luas
Panen dari 3.957.595 (Ha) tahun 2012 menjadi 3.857.359 (Ha) pada tahun 2013.

Tabel 3.23 Produktivitas Kedelai Tahun 2011 -2013


Luas Panen Produktivitas Produksi
Jenis Tanaman Tahun
(ha) (ku/Ha) (Ton)
(1) (2) (3) (4) (5)
Kedelai 2011 622.254 13,68 851.286
Kedelai 2012 567.624 14,85 843.153
Kedelai 2013*) 554.132 14,57 807.568
Sumber data: BPS Tahun 2013
*) Data Tahun 2013 adalah angka Sementara

Penurunan luas panen juga terjadi pada komoditas kedelai yakni dari 567,624 (Ha)
tahun 2012 menjadi 554,132 (Ha) pada tahun 2013. Kondisi tersebut berakibat pada
turunnya produktivitas kedelai tahun 2013 sebesar 0,28 (ku/Ha) bila dibandingkan
tahun 2012.

Tabel 3.24 Produktivitas Ubi Kayu tahun 2011 -2013


Luas Panen Produktivitas Produksi
Jenis Tanaman Tahun
(ha) (ku/Ha) (Ton)
(2) (3) (4) (5) (6)
Ubi Kayu 2011 1.184.696 202,96 24.044.025
Ubi Kayu 2012 1.129.688 214,02 24.177.372
Ubi Kayu 2013*) 1.137.210 224,18 25.494.507
Sumber data: BPS Tahun 2013
*) Data Tahun 2013 adalah angka Sementara

Produksi Ubi kayu pada tahun 2013 mengalami peningkatan sebesar 1,32 juta ton
dibandingkan dengan tahun 2012. Peningkatan tersebut seiring dengan
meningkatnya produktivitas dari 214,02 (ku/Ha) pada tahun 2012 menjadi 224,18
pada tahun 2013.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 57


3.8.3 Produkivitas Perikanan

Perikanan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan


pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi,
pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem
bisnis.

Peningkatan produktivitas perikanan hasil tangkapan baik perikanan tangkap


maupun perikanan budidaya dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir sebagai
berikut :
Tabel 3.25
Tabel 3.23 Volume
Volume Produksi
Produksi Perikanan
Perikanan (ton)
(ton)
No. Uraian 2007 2008 2009 2010 2011
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1 Perikanan Perikanan
4.734.280 4.701.933 4.812.235 5.039.446 5.061.680
Tangkap Laut
Perairan
310.457 301.182 295.736 344.972 347.420
Umum
2 Perikanan Budidaya
1.509.528 1.966.002 2.820.083 3.514.702 3.735.585
Budidaya Laut
Tambak 933.832 959.509 907.123 1.416.938 1.734.260
Kolam 410.373 479.167 554.067 819.809 955.511
Keramba 63.928 75.769 101.771 121.271 120.654
Jaring
190.893 263.169 238.606 309.499 331.936
Apung
Sawah 85.009 111.584 86.913 96.605 98.804
TOTAL 8.238.300 8.858.315 9.816.534 11.663.242 12.385.850

Sumber data: Perikanan dan Kelautan dalam Angka,


Kementerian Kelautan dan Perikanan 2012

Produktivitas nelayan dan pembudidaya ikan perikanan Indonesia menunjukkan


peningkatan. Tahun 2011 perikanan tangkap meningkat 0,49 persen dan perikanan
budidaya meningkat 4,4 persen. Peningkatan produktifitas perikanan tersebut
dikarenakan adanya peningkatan produktivitas tambak dan peningkatan produktivitas
alat tangkap perairan umum, serta meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan
pembudidayaan ikan. Namun, tingkat konsumsi ikan nasional pada 2010 mencapai
30,48 kg/kapita/tahun sedangkan pada 2011 rata-rata konsumsi ikan per kapita
nasional sebesar 31,64 kg/kapita atau dapat dikatakan mengalami peningkatan rata-
rata 3,81 persen dibandingkan konsumsi tahun 2010.

3.8.4 Produktivitas Perkebunan

Perkebunan merupakan usaha pertanian dengan lahan luas untuk menghasilkan


komoditas perdagangan berbasis pertanian. Tabel 3.27 menyajikan berbagai
komoditas perkebunan dalam 6 (enam) tahun terakhir.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 58


Tabel 3.26 Produktivitas Tanaman Perkebunan Tahun 2008-2013

Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan 2013, Kementerian Pertanian

3.8.5 Produktivitas Peternakan

Peternakan merupakan kegiatan mengembang biakkan dan membudidayakan


hewan ternak untuk mendapatkan keuntungan dari kegiatan tersebut. Berikut ini
gambaran produktivitas peternakan selama 3 tahun terakhir:

Tabel 3.27 Produktivitas Peternakan Tahun 2008-2011


No. Kegiatan Utama 2009 2010 2011*

1. Sapi Potong 12.76 13.582 14.824**


2. Sapi Perah 475 488 597**
3. Kerbau 1.933 2 1.305**
4. Kuda 399 419 416
5. Kambing 15.815 16.62 17.483
6. Domba 10.199 10.725 11.372
7. Babi 6.975 7.477 7.758
8. Ayam Buras 249.964 257.544 274.893
9. Ayam Ras Petelur 99.768 105.21 110.3
10. Ayam Ras Pedaging 991.281 986.872 1.041.968
11. Itik 42.318 44.302 49.392
Sumber : Direktorat jenderal Peternakan
*Angka Sementara
**Berdasarkan hasil pendataan lengkap sapi potong, sapi perah, dan kerbau tahun 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 59


Populasi sapi di Indonesia mencapai 15,4 juta ekor berdasarkan hasil akhir
Pendataan Sapi Perah, Sapi Potong dan Kerbau (PSPK 2011) oleh BPS bersama
Kementan. Riciannya adalah jumlah sapi potong mencapai 14,8 juta ekor, sapi perah
sebanyak 597.200 ekor dan kerbau 1,3 juta ekor. Produktivitas peternakan seperti
sapi saat ini setiap masyarakat Indonesia baru mampu mengkonsumsi daging sapi
kurang lebih 1,7 kg/orang/tahun, yang disupply dari sapi lokal sekitar 15 juta ekor
sapi setara dengan 350.000 ton daging. Sehingga masih kekurangan sapi potong
untuk memenuhi kebutuhan nasional. Rendahnya konsumsi daging disebabkan
supply sapi yang belum mencukupi permintaan dan biaya produksi (pemeliharaan)
yang relatif mahal, sehingga harga sapi potong melambung tinggi dan akhirnya daya
beli masyarakat tidak mampu menjangkau. Tingginya tingkat permintaan terhadap
produk unggas akan meningkatkan kontribusi daging unggas dalam memenuhi
kebutuhan daging nasional.

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 60


PENUTUP 4

Profil Kependudukan tingkat Nasional Indonesia ini diharapkan dapat memberikan


gambaran situasi kependudukan di Indonesia. Telaah lebih mendalam dari Profil ini
bermanfaat dalam memotret lebih tajam dan detil situasi kependudukan di Indonesia.

Tujuan dari penyusunan buku Profil Kependudukan ini, agar dapat memberikan masukan
kepada komponen maupun bidang teknis tentang permasalahan kependudukan di
Indonesia berdasarkan tren kecenderungan data yang ditampilkan.

Akhir kata, kritik dan saran membangun terhadap penyusunan buku Profil Kependudukan
Tingkat Nasional Indonesia ini sangat diperlukan, demi menyempurnakan isi dan relevansi
data profil ini terhadap situasi kependudukan di Indonesia, dalam upaya mengidentifikasi
masalah kependudukan, serta merumuskan alternatif solusi pemecahannya.

Jakarta, Oktober 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 61


DAFTAR PUSTAKA

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2013. Pelayanan Kontrasepsi


Agustus 2013, Jakarta
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik,
Kementerian Kesehatan dan Macro International, 1992. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 1991. Calverton, Maryland, USA.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik,
Kementerian Kesehatan dan Macro International, 1995. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 1994. Calverton, Maryland, USA.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik,
Kementerian Kesehatan dan Macro International, 1998. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 1997. Calverton, Maryland, USA.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik,
Kementerian Kesehatan dan Macro International, 2002-2003. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2002-2003. Calverton, Maryland, USA.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik,
Kementerian Kesehatan dan Macro International, 2008. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2007. Calverton, Maryland, USA
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Badan Pusat Statistik,
Kementerian Kesehatan dan Macro International, 2013. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2012. Jakarta, Indonesia.
Badan Pusat Statistik, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
2012. Profil Anak Indonesia 2012. Jakarta, Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2008. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2007. Survei Sosial Ekonomi
Nasional. Jakarta Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2009. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi
Indonesia 2009. Jakarta, Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2009. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2008. Survei Sosial Ekonomi
Nasional. Jakarta Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi
Indonesia 2010. Jakarta, Indonesia

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 62


Badan Pusat Statistik, 2010. Sensus Penduduk 2010. diakses melalui
http://sp2010.bps.go.id/
Badan Pusat Statistik, 2010. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2009. Survei Sosial Ekonomi
Nasional. Jakarta Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2011. Fertilitas Penduduk Indonesia, Hasil Sensus Penduduk 2010.
Jakarta, Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2011. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi
Indonesia 2011. Jakarta, Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2011. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2010. Survei Sosial Ekonomi
Nasional. Jakarta Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2012. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi
Indonesia 2012. Jakarta, Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2012. Statistik Indonesia 2012. Jakarta, Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2012. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2011. Survei Sosial Ekonomi
Nasional. Jakarta Indonesia
Badan Pusat Statistik, 2013. Survei Angkatan Kerja Nasional (Susenas). Jakarta, Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008,
Jakarta, Indonesia
Gavin W. Jones,Terence H. Hull, 1997. Indonesia Assessment-Population and Human
Resources p.2, Institute of Southeast Asian Studies, Singapore diakses melalui
http://books.google.co.id pada September 2013
Indonesia, International Human Development Indicators, diakses melalui
www.hdrstats.undp.org/en/countries/profiles/IDN.html pada Agustus 2013.
Kementerian kelautan dan perikanan 2011. Perikanan dan Kelautan dalam Angka 2011,
Jakarta, Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009,
Jakarta, Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Profil Kesehatan Indonesia 2010,
Jakarta, Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2012. Profil Kesehatan Indonesia 2011,
Jakarta, Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan (PP & PL), Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Juni 2013,
diakses melalui http://www.spiritia.or.id pada September 2013
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Pusat Statistik,
tahun 2012. Pembangunan Manusia Berbasis Gender 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 63


Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D, Pengelolaan Kependudukan Dalam Meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia Di Indonesia, 2012. Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana
United Nations, Departement of Economic and Social Affairs, Population Division (2013).
World Population Prospect: The 2012 Revision, DVD Edition diakses melalui
http://esa.un.org/wpp/Excel-Data/mortality.htm pada September 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 64


TABEL LAMPIRAN

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 65


Tabel 2.1

Laju Pertumbuhan Penduduk di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 1971 - 2010

No Provinsi 1971-1980 1980-1990 1990-2000 2000-2010

1 Aceh 2,93 2,72 1,46 2,23


2 Sumatera Utara 2,6 2,06 1,32 1,10
3 Sumatera Barat 2,21 1,62 0,62 1,34
4 Riau 3,11 4,3 4,27 3,58
5 Jambi 4,07 3,4 1,83 2,56
6 Sumatera Selatan 3,32 3,15 1,24 1,85
7 Bengkulu 4,4 4,38 2,2 1,67
8 Lampung 5,78 2,67 1,17 1,24
9 Bangka Belitung - - - 3,14
10 Kep. Riau - - - 4,95
11 DKI Jakarta 3,94 2,42 0,13 1,41
12 Jawa Barat 2,66 2,57 2,24 1,90
13 Jawa Tengah 1,65 1,18 0,94 0,37
14 DIY 1,11 0,57 0,72 1,04
15 Jawa Timur 1,49 1,08 0,70 0,76
16 Banten - - - 2,78
17 Bali 1,69 1,18 1,31 2,15
18 Nisa Tenggara Barat 2,36 2,15 1,81 1,17
19 Nusa Tenggara Timur 1,96 1,79 1,63 2,07
20 Kalimantan Barat 2,31 2,65 2,28 0,91
21 Kalimantan Tengah 3,44 3,88 2,98 1,79
22 Kalimantan Selatan 2,17 2,32 1,45 1,99
23 Kalimantan Timur 5,74 4,42 2,80 3,81
24 Sulawesi Utara 2,31 1,6 1,40 1,28
25 Sulawesi Tengah 3,87 2,87 2,52 1,95
26 Sulawesi Selatan 1,75 1,42 1,48 1,17
27 Sulawesi Tenggara 3,1 3,66 3,14 2,08
28 Gorontalo - - - 2,26
29 Sulawesi Barat - - - 2,68
30 Maluku 2,89 2,79 0,67 2,80
31 Maluku Utara - - - 2,47
32 Papua Barat - - - 3,71
33 Papua 2,68 3,46 3,10 5,39
INDONESIA 2,33 1,97 1,44 1,49
* khusus Aceh LPP dihitung berdasarkan SUPAS 2005 dan SP2010.
*LPP 1990-2000 tanpa Timor-Timur
Sumber data: SP 1971, 1980, 1990, 2000, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 66


Tabel
Tabel 2.2
2.3

Rasio ketergantungan di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2000-2010

No Provinsi 2000 2010

1 Aceh 58.33 55.76


2 Sumatera Utara 63.48 59.05
3 Sumatera Barat 68.47 60.22
4 Riau 54.18 55.46
5 Jambi 55.70 51.68
6 Sumatera Selatan 61.82 52.24
7 Bengkulu 58.82 52.48
8 Lampung 57.45 49.53
9 Kep. Bangka Belitung 55.90 45.70
10 Kepulauan Riau - 45.70
11 DKI Jakarta 35.14 36.94
12 Jawa Barat 54.51 51.20
13 Jawa Tengah 53.44 50.31
14 DI Yogyakarta 44.73 45.93
15 Jawa Timur 45.93 46.33
16 Banten 61.87 48.66
17 Bali 45.57 48.12
18 NTB 63.09 55.52
19 NTT 70.32 73.21
20 Kalimantan Barat 59.44 54.85
21 Kalimantan Tengah 55.58 51.14
22 Kalimantan Selatan 55.86 48.62
23 Kalimantan Timur 50.09 49.13
24 Sulawesi Utara 48.35 50.24
25 Sulawesi Tengah 57.68 58.28
26 Sulawesi selatan 59.37 57.21
27 Sulawesi Tenggara 68.20 63.47
28 Gorontalo 55.66 55.29
29 Sulawesi Barat - 66.99
30 Maluku 70.54 67.17
31 Maluku Utara 67.97 62.49
32 Papua 61.53 56.34
33 Papua Barat - 55.72
Sumber data: Sensus Penduduk Tahun 2000, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 67


Tabel
Tabel 2.3
2.4

Rasio Jenis Kelamin di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2000-2010

No Provinsi 2000 2010

1 Aceh 101,1 100,0


2 Sumatera Utara 99,8 100,0
3 Sumatera Barat 96,1 98,0
4 Riau 104,4 106,0
5 Jambi 104,2 105,0
6 Sumatera Selatan 101,0 104,0
7 Bengkulu 103,2 105,0
8 Lampung 106,2 106,0
9 Kep.Bangka Belitung 104,0 108,0
10 Kep. Riau - 106,0
11 DKI Jakarta 102,5 103,0
12 Jawa Barat 102,1 104,0
13 Jawa Tengah 99,2 99,0
14 DIY 98,3 98,0
15 Jawa Timur 97,9 98,0
16 Banten 101,5 105,0
17 Bali 101,0 102,0
18 Nisa Tenggara Barat 94,2 94,0
19 Nusa Tenggara Timur 98,6 99,0
20 Kalimantan Barat 104,7 105,0
21 Kalimantan Tengah 106,8 109,0
22 Kalimantan Selatan 100,5 103,0
23 Kalimantan Timur 109,7 111,0
24 Sulawesi Utara 104,9 104,0
25 Sulawesi Tengah 104,7 105,0
26 Sulawesi Selatan 95,1 95,0
27 Sulawesi Tenggara 100,7 101,0
28 Gorontalo 101,0 101,0
29 Sulawesi Barat - 101,0
30 Maluku 102,8 102,0
31 Maluku Utara 104,7 105,0
32 Papua Barat - 112,0
33 Papua 110,4 113,0
INDONESIA 100,6 101,0
Sumber data: Sensus Penduduk Tahun 2000, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 68


Tabel 2.4

Tingkat Urbanisasi di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2000-2010

No Provinsi 2000 2010

1 Aceh 23,1 28,1


2 Sumatera Utara 42,9 49,2
3 Sumatera Barart 28,9 38,7
4 Riau 34,0 39,2
5 Jambi 29,7 30,7
6 Sumatera Selatan 33,4 35,8
7 Bengkulu 28,3 31,0
8 Lampung 21,6 25,7
9 Kepulauan Bangka Belitung 43,0 49,2
10 Kepulauan Riau 76,5 82,8
11 DKI Jakarta 100,0 100,0
12 Jawa Barat 50,4 65,7
13 Jawa Tengah 40,2 45,7
14 Yogyakarta 57,6 66,4
15 Jawa Timur 40,9 47,6
16 Banten 54,7 67,0
17 Bali 49,7 60,2
18 Nusa Tenggara Barat 34,3 41,7
19 Nusa Tenggara Timur 14,5 19,3
20 Kalimantan Barat - 30,2
21 Kalimantan Tengah 28,1 33,5
22 Kalimantan Selatan 36,2 42,1
23 Kalimantan Timur 57,7 62,1
24 Sulawesi Utara 37,7 45,2
25 Sulawesi Tengah 20,2 24,3
26 Sulawesi Selatan 31,2 36,7
27 Sulawesi Tenggara 20,8 27,4
28 Gorontalo 24,0 34,0
29 Sulawesi Barat 18,0 22,9
30 Maluku 25,3 37,1
31 Maluku Utara 27,8 27,1
32 Papua barat 32,1 30,0
33 Papua 20,4 26,0
Total Rata-Rata 42,1 49,8
Sumber data: buku Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk Indonesia, 2010 (website BPS)

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 69


Tabel
Tabel2.5
2.6

Kepadatan Penduduk di Indonesia menurut Provinsi


Tahun 2000-2010

Kepadatan Penduduk
No Provinsi (jiwa/km persegi)
2000 2010
1 Aceh 68 78
2 Sumatera Utara 160 178
3 Sumatera Barat 101 115
4 Riau 45 64
5 Jambi 48 62
6 Sumatera Selatan 68 81
7 Bengkulu 73 86
8 Lampung 194 220
9 Bangka Belitung 55 74
10 Kep. Riau 127 205
11 DKI Jakarta 12592 14469
12 Jawa Barat 1010 1217
13 Jawa Tengah 952 987
14 DIY 996 1104
15 Jawa Timur 727 784
16 Banten 838 1100
17 Bali 545 673
18 Nisa Tenggara Barat 216 242
19 Nusa Tenggara Timur 78 96
20 Kalimantan Barat 27 30
21 Kalimantan Tengah 12 14
22 Kalimantan Selatan 77 94
23 Kalimantan Timur 12 17
24 Sulawesi Utara 144 164
25 Sulawesi Tengah 35 43
26 Sulawesi Selatan 153 172
27 Sulawesi Tenggara 48 59
28 Gorontalo 74 92
29 Sulawesi Barat 53 69
30 Maluku 25 33
31 Maluku Utara 25 32
32 Papua Barat 5 8
33 Papua 5 9
INDONESIA 107 124
Sumber data: Sensus Penduduk Tahun 2000, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 70


Tabel 2.6
Tabel 2.7

Estimasi Angka Kelahiran Kasar (CBR) di Indonesia


menurut Provinsi tahun 1990-2010

Rasio Angka Kelahiran Kasar (CBR)


No Provinsi
1990 2000 2010
1 Aceh 21.7 14.1 21.2
2 Sumatera Utara 25.0 19.5 20.9
3 Sumatera Barat 22.8 20.6 19.8
4 Riau 24.1 20.2 21.9
5 Jambi 21.8 18.1 20.1
6 Sumatera Selatan 22.7 15.6 19.8
7 Bengkulu 24.4 18.6 20.1
8 Lampung 22.9 16.7 19.3
9 Bangka Belitung - 17.3 20.4
10 Kep. Riau - - 22.5
11 DKI Jakarta 19.3 16.5 16.8
12 Jawa Barat 22.5 19 17.4
13 Jawa Tengah 19.9 16.4 16.3
14 DIY 14.9 14 14.4
15 Jawa Timur 16.6 13.6 14.5
16 Banten - 18.6 18.6
17 Bali 15.9 15.7 15.9
18 Nisa Tenggara Barat 25.4 17.3 21.3
19 Nusa Tenggara Timur 27.2 25.4 22.3
20 Kalimantan Barat 21.5 17.5 19.1
21 Kalimantan Tengah 22.1 15.9 19.5
22 Kalimantan Selatan 20.2 18.1 19.2
23 Kalimantan Timur 22.2 21.1 21
24 Sulawesi Utara 21.1 17.9 15.9
25 Sulawesi Tengah 25 24.1 19.8
26 Sulawesi Selatan 20.1 18.1 18.6
27 Sulawesi Tenggara 27.3 22.9 23.1
28 Gorontalo - 22.3 18.4
29 Sulawesi Barat - - 21.8
30 Maluku 27.8 23.8 21.8
31 Maluku Utara - 19.9 20.8
32 Papua Barat - - 22.1
33 Papua 23.4 16 17
INDONESIA 20.9 17.4 17.9
Sumber data: Sensus Penduduk Tahun 1990, 2000, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 71


Tabel 2.7

Angka Fertilitas Total di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2002 - 2012

TFR
No Provinsi
2002/'03 2007 2012
1 DI Aceh - 3,10 2,80
2 Sumatera Utara 3,00 3,84 3,00
3 Sumatera Barat 3,20 3,38 2,80
4 Riau 3,20 2,69 2,90
5 Jambi 2,70 2,77 2,30
6 Sumatera Selatan 2,30 2,73 2,80
7 Bengkulu 3,00 2,43 2,20
8 Lampung 2,70 2,47 2,70
9 Bangka Belitung 2,40 2,49 2,60
10 Kepulauan Riau - 3,10 2,60
11 DKI Jakarta 2,20 2,10 2,30
12 Jawa Barat 2,80 2,55 2,50
13 Jawa Tengah 2,10 2,06 2,50
14 DI Yogyakarta 1,90 1,82 2,10
15 Jawa Timur 2,10 2,14 2,30
16 Banten 2,60 2,64 2,50
17 Bali 2,10 2,06 2,30
18 Nusa Tenggara Barat 2,40 2,82 2,80
19 Nusa Tenggara Timur 4,10 4,22 3,30
20 Kalimantan Barat 2,90 2,77 3,10
21 Kalimantan Tengah 3,20 2,99 2,80
22 Kalimantan Selatan 3,00 2,65 2,50
23 Kalimantan Timur 2,80 2,70 2,80
24 Sulawesi Utara 2,60 2,76 2,60
25 Sulawesi Tengah 3,20 3,27 3,20
26 Sulawesi Selatan 2,60 2,85 2,60
27 Sulawesi Tenggara 3,60 3,28 3,00
28 Gorontalo 2,80 2,61 2,60
29 Sulawesi Barat - 3,49 3,60
30 Maluku - 3,90 3,20
31 Maluku Utara - 3,18 3,10
32 Papua Barat - 3,45 3,70
33 Papua - 2,90 3,50
INDONESIA 2,60 2,59 2,59
Sumber data: SDKI 2002/'03, 2007, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 72


Tabel
Tabel 2.8
2.9

Rasio Anak Wanita di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2010

Rasio Anak
No Provinsi
Wanita
1 Aceh 395
2 Sumatera Utara 420
3 Sumatera Barat 404
4 Riau 424
5 Jambi 374
6 Sumatera Selatan 375
7 Bengkulu 370
8 Lampung 360
9 Kep.Bangka Belitung 388
10 Kep. Riau 394
11 DKI Jakarta 278
12 Jawa Barat 351
13 Jawa Tengah 312
14 DIY 272
15 Jawa Timur 282
16 Banten 342
17 Bali 315
18 Nisa Tenggara Barat 369
19 Nusa Tenggara Timur 515
20 Kalimantan Barat 383
21 Kalimantan Tengah 381
22 Kalimantan Selatan 346
23 Kalimantan Timur 398
24 Sulawesi Utara 341
25 Sulawesi Tengah 417
26 Sulawesi Selatan 360
27 Sulawesi Tenggara 454
28 Gorontalo 378
29 Sulawesi Barat 462
30 Maluku 484
31 Maluku Utara 471
32 Papua Barat 462
33 Papua 396
INDONESIA 348
Sumber data : Sensus Penduduk Tahun 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 73


Tabel 2.9

Rata-Rata Usia Kawin Pertama di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2010

Rata-rata Usia
No Provinsi
Kawin Pertama
1 Aceh 23,1
2 Sumatera Utara 21,8
3 Sumatera Barat 22,9
4 Riau 22,5
5 Jambi 21,2
6 Sumatera Selatan 22,2
7 Bengkulu 22,2
8 Lampung 22,0
9 Kep.Bangka Belitung 21,2
10 Kep. Riau 24,4
11 DKI Jakarta 23,5
12 Jawa Barat 22,2
13 Jawa Tengah 22,1
14 DIY 24,3
15 Jawa Timur 22,0
16 Banten 21,5
17 Bali 22,4
18 Nisa Tenggara Barat 22,1
19 Nusa Tenggara Timur 23,5
20 Kalimantan Barat 22,1
21 Kalimantan Tengah 21,0
22 Kalimantan Selatan 21,2
23 Kalimantan Timur 22,2
24 Sulawesi Utara 22,5
25 Sulawesi Tengah 21,8
26 Sulawesi Selatan 23,2
27 Sulawesi Tenggara 22,3
28 Gorontalo 21,6
29 Sulawesi Barat 22,0
30 Maluku 23,6
31 Maluku Utara 22,8
32 Papua Barat 23,0
33 Papua 22,3
INDONESIA 22,3
Sumber data : Sensus Penduduk Tahun 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 74


Tabel 2.10

Median Umur Kawin Pertama Wanita Umur 25-49


tahun Menurut Provinsi, Indonesia 2012

No Provinsi Median UKP

1 Aceh 20,7
2 Sumatera Utara 21,6
3 Sumatera Barat 21,3
4 Riau 20,6
5 Jambi 19,1
6 Sumatera Selatan 20,0
7 Bengkulu 19,6
8 Lampung 19,7
9 Bangka Belitung 19,8
10 Kepulauan Riau 22,3
11 DKI Jakarta 22,3
12 Jawa Barat 19,4
13 Jawa Tengah 20,1
14 DI Yogyakarta 22,5
15 Jawa Timur 19,5
16 Banten 19,3
17 Bali 21,5
18 Nusa Tenggara Barat 19,5
19 Nusa Tenggara Timur 21,6
20 Kalimantan Barat 19,3
21 Kalimantan Tengah 19,0
22 Kalimantan Selatan 19,0
23 Kalimantan Timur 20,2
24 Sulawesi Utara 21,0
25 Sulawesi Tengah 19,5
26 Sulawesi Selatan 20,2
27 Sulawesi Tenggara 19,0
28 Gorontalo 20,0
29 Sulawesi Barat 19,1
30 Maluku 21,2
31 Maluku Utara 20,3
32 Papua 20,7
33 Papua Barat 19,6
INDONESIA 20,1
Sumber data: SDKI 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 75


Tabel 2.11

Kebutuhan Ber-KB yang tidak Terpenuhi


di Indonesia Tahun 2012

Kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi

No Provinsi Untuk
Untuk membatasi
menjarangkan Jumlah
kelahiran
kelahiran
1 Aceh 8,2 5,7 14,0
2 Sumatera Utara 4,1 9,2 13,2
3 Sumatera Barat 5,7 8,0 13,7
4 Riau 4,1 7,7 11,8
5 Jambi 3,1 4,8 7,9
6 Sumatera Selatan 2,6 5,5 8,1
7 Bengkulu 4,0 5,1 9,1
8 Lampung 3,0 4,9 7,9
9 Bangka Belitung 3,5 6,3 9,8
10 Kepulauan Riau 6,3 8,2 14,5
11 DKI Jakarta 5,1 8,1 13,2
12 Jawa Barat 3,5 7,5 11,0
13 Jawa Tengah 3,9 6,4 10,4
14 DI Yogyakarta 3,6 7,9 11,5
15 Jawa Timur 3,5 6,6 10,1
16 Banten 4,5 5,7 10,2
17 Bali 3,2 6,1 9,3
18 Nusa Tenggara Barat 11,1 5,0 16,1
19 Nusa Tenggara Timur 8,6 8,9 17,5
20 Kalimantan Barat 5,2 4,6 9,8
21 Kalimantan Tengah 3,6 4,0 7,6
22 Kalimantan Selatan 3,0 5,4 8,4
23 Kalimantan Timur 5,4 7,6 13,0
24 Sulawesi Utara 3,1 7,7 10,8
25 Sulawesi Tengah 7,0 8,8 15,7
26 Sulawesi Selatan 7,1 7,3 14,3
27 Sulawesi Tenggara 8,4 10,0 18,4
28 Gorontalo 6,4 7,2 13,6
29 Sulawesi Barat 7,4 6,9 14,2
30 Maluku 8,1 11,1 19,2
31 Maluku Utara 5,6 8,3 14,0
32 Papua 10,6 10,0 23,8
33 Papua Barat 16,2 7,6 20,6
INDONESIA 4,5 6,9 11,4
Sumber data: SDKI 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 76


Tabel 2.12

Median lamanya pemberian ASI secara eksklusif di Indonesia menurut


Provinsi Tahun 2002 - 2012

Median Lamanya (bulan) pemberian ASI


No Provinsi secara eksklusif
2002-03 2007 2012
1 Aceh 0,6 2,3
2 Sumatera Utara 2,0 0,6 0,6
3 Sumatera Barat 0,6 1,8 0,7
4 Riau 0,7 0,6 0,6
5 Jambi 3,9 0,7 2,0
6 Sumatera Selatan 2,0 1,7 0,5
7 Bengkulu 2,2 2,8 2,5
8 Lampung 2,5 1,4 0,5
9 Kep.Bangka Belitung 1,4 0,5 0,5
10 Kep. Riau - 0,5 0,6
11 DKI Jakarta 0,6 0,6 0,6
12 Jawa Barat 1,6 1,2 1,1
13 Jawa Tengah 0,7 0,7 2,2
14 DIY 0,8 0,7 3,0
15 Jawa Timur 0,7 0,7 0,7
16 Banten 0,7 0,5 0,6
17 Bali 1,0 0,4 1,0
18 Nisa Tenggara Barat 3,2 1,3 4,2
19 Nusa Tenggara Timur 2,1 2,0 2,8
20 Kalimantan Barat 1,2 0,7 0,5
21 Kalimantan Tengah 1,9 0,7 1,6
22 Kalimantan Selatan 2,3 1,9 0,5
23 Kalimantan Timur 1,8 1,8 0,7
24 Sulawesi Utara 2,2 0,5 0,5
25 Sulawesi Tengah 2,7 0,7 1,7
26 Sulawesi Selatan 3,8 3,2 3,1
27 Sulawesi Tenggara 3,1 0,7 2,8
28 Gorontalo 1,5 0,4 0,6
29 Sulawesi Barat - 3,2 1,7
30 Maluku - 3,2 1,1
31 Maluku Utara - 0,7 1,8
32 Papua Barat - 0,5 1,2
33 Papua - 0,5 0,5
TOTAL 1,6 0,7 0,7
Sumber data : SDKI 2002-03, 2007, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 77


Tabel 2.13

Angka Kematian Bayi dan Anak di Indonesia


menurut Provinsi Tahun 2012

Kematian post- Kematian


Kematian Kematian Kematian
No Provinsi neonatum balita
neonatum(NN) bayi(1q0) anak (4q1)
(PNN) (5q0)
1 Aceh 28 18 47 6 52
2 Sumatera Utara 26 14 40 15 54
3 Sumatera Barat 17 10 27 7 34
4 Riau 15 9 24 4 28
5 Jambi 16 18 34 3 36
6 Sumatera Selatan 20 8 29 9 37
7 Bengkulu 21 8 29 7 35
8 Lampung 20 10 30 8 38
9 Bangka Belitung 20 7 27 6 32
10 Kepulauan Riau 21 13 35 8 42
11 Jakarta 15 7 22 10 31
12 Jawa Barat 17 13 30 9 38
13 Jawa Tengah 22 10 32 7 38
14 Yogyakarta 18 7 25 5 30
15 Jawa Timur 14 15 30 4 34
16 Banten 23 9 32 7 38
17 Bali 18 11 29 4 33
18 Nusa Tenggara Barat 33 24 57 18 75
19 Nusa Tenggara Timur 26 19 45 14 58
20 Kalimantan Barat 18 13 31 6 37
21 Kalimantan Tengah 25 24 49 8 56
22 Kalimantan Selatan 30 14 44 13 57
23 Kalimantan Timur 12 9 21 10 31
24 Sulawesi Utara 23 9 33 4 37
25 Sulawesi Tengah 26 32 58 28 85
26 Sulawesi Selatan 13 12 25 13 37
27 Sulawesi Tenggara 25 20 45 10 55
28 Gorontalo 26 41 67 11 78
29 Sulawesi Barat 26 34 60 11 70
30 Maluku 24 12 36 24 60
31 Maluku Utara 37 24 62 25 85
32 Papua Barat 35 39 74 38 109
33 Papua 27 27 54 64 115
TOTAL 20 14 34 10 43
Sumber data: SDKI 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 78


Tabel 2.14

Estimasi Angka Harapan Hidup (Tahun) di Indonesia Menurut


Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2010

No Provinsi L P L+P

1 Aceh 68,2 72,2 70,2


2 Sumatera Utara 68,8 72,8 70,9
3 Sumatera Barat 67,7 71,7 69,7
4 Riau 69,7 73,6 71,7
5 Jambi 67,8 71,8 69,9
6 Sumatera Selatan 72,8 70,9
7 Bengkulu 68,3 72,2 70,3
8 Lampung 69,7 73,6 71,7
9 Kep.Bangka Belitung 68,7 72,6 70,7
10 Kep. Riau 70,8 74,6 72,7
11 DKI Jakarta 72,8 76,5 74,7
12 Jawa Barat 68,9 72,8 70,9
13 Jawa Tengah 70,4 74,3 72,4
14 DI Yogyakarta 72,1 75,9 74,1
15 Jawa Timur 69,3 73,2 71,3
16 Banten 69,4 73,3 71,4
17 Bali 70,7 74,5 72,7
18 Nusa Tenggara Barat 63,1 67,0 65,1
19 Nusa Tenggara Timur 65,3 69,3 67,4
20 Kalimantan Barat 68,3 72,2 70,3
21 Kalimantan Tengah 69,5 73,4 71,5
22 Kalimantan Selatan 66,4 70,4 68,4
23 Kalimantan Timur 70,3 74,2 72,3
24 Sulawesi Utara 69,1 73,0 71,1
25 Sulawesi Tengah 63,9 67,8 65,9
26 Sulawesi Selatan 67,3 71,3 69,3
27 Sulawesi Tenggara 65,0 68,9 67,0
28 Gorontalo 61,2 65,0 63,2
29 Sulawesi Barat 63,2 67,0 65,1
30 Maluku 63,7 67,0 65,1
31 Maluku Utara 64,9 68,9 67,0
32 Papua Barat 69,8 73,6 71,8
33 Papua 71,1 74,9 73,0
INDONESIA 68,7 72,6 70,7
Sumber : Sensus Penduduk Tahun 2010

Catatan:
1. AHH dihitung dengan Metode Trussell dari kelompok umur ibu 20-24, 25-29, 30-34
2. Angka dalam kurung () menunjukkan tahun rujukan

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 79


Tabel 2.15

Penyebab Kematian di Indonesia Menurut Provinsi Tahun 2012

Pneumonia Diare Tetanus Neonatorum Campak Difteri Flu Burung DBD Leptospirosis
No Prov insi
Penderita Kematian Penderita Kematian Penderita Kematian Penderita Kematian Penderita Kematian Penderita Kematian Penderita Kematian Penderita Kematian

1 Aceh 1.718 6 0 0 6 4 1.262 0 1 1 0 0 2.269 7 0 0


2 Sumatera Utara 17.286 56 241 2 2 2 297 0 0 0 0 0 4.747 36 0 0
3 Sumatera Barat 9.126 21 274 6 1 0 424 0 2 2 0 0 3.158 20 0 0
4 Riau 10.099 0 0 0 2 2 271 0 4 0 1 1 1.114 16 0 0
5 Jambi 5.972 0 0 0 1 1 374 0 0 0 0 0 22 0 0
6 Sumatera Selatan 21.960 64 292 8 6 4 408 0 5 0 0 0 3.243 24 0 0
7 Bengkulu 1.383 6 0 0 0 0 174 0 1 1 1 1 967 7 0 0
8 Lampung 6.498 14 16 0 4 3 619 0 0 0 0 0 5.207 38 0 0
9 Kep. Bangka Belitung 5.104 0 0 0 1 0 74 0 1 1 0 0 1.075 25 0 0
10 Kep. Riau 1.966 23 74 0 0 0 386 0 2 0 0 0 1.076 13 0 0
11 DKI Jakarta 26.811 3 0 0 0 0 1.895 0 0 0 1 1 6.669 4 10 0
12 Jawa Barat 189.233 76 38 0 14 2 2.618 0 31 1 2 2 19.663 167 0 0
13 Jawa Tengah 75.910 18 167 2 0 0 490 0 32 0 0 0 7.088 108 129 20
14 DI Yogjakarta 3.693 0 75 1 0 0 1.093 0 2 0 1 1 971 2 72 7
15 Jawa Timur 61.449 54 81 0 29 15 1.207 0 954 37 0 0 8.177 116 28 2
16 Banten 23.894 115 84 0 32 17 1.846 0 13 4 1 1 3.362 29 0 0
17 Bali 4.937 1 22 0 0 0 31 0 2 0 1 1 2.650 3 0 0
18 Nusa Tenggara Barat 26.775 83 0 0 1 0 23 3 0 0 1 1 961 3 0 0
19 Nusa Tenggara Timur 4.734 3 12 0 0 0 62 0 0 0 0 0 1.135 8 0 0
20 Kalimantan Barat 3.389 0 0 0 8 2 406 0 15 4 0 0 1.664 21 0 0
21 Kalimantan Tengah 390 4 0 0 0 0 93 0 0 0 0 0 1.590 15 0 0
22 Kalimantan Selatan 13.895 6 0 0 1 1 50 0 61 13 0 0 1.547 25 0 0
23 Kalimantan Timur 6.843 1 0 0 2 2 385 0 13 0 0 0 3.267 29 0 0
24 Sulawesi Utara 949 2 0 0 1 1 110 0 0 0 0 0 1.253 16 0 0
25 Sulawesi Tengah 8.318 26 97 1 1 0 323 0 0 0 0 0 2.259 22 0 0
26 Sulawesi Selatan 7.230 9 0 0 3 2 740 1 50 12 0 0 2.333 23 0 0
27 Sulawesi Tenggara 3.788 4 52 0 1 0 91 0 0 0 0 0 373 2 0 0
28 Gorontalo 2.553 1 0 0 0 0 47 0 0 0 0 0 212 5 0 0
29 Sulawesi Barat 1.544 0 0 0 0 0 3 0 3 0 0 0 581 0 0 0
30 Maluku 1.096 5 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 107 6 0 0
31 Maluku Utara 1.165 8 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 65 0 0 0
32 Papua Barat t.a.d t.a.d 0 0 0 0 9 0 0 0 0 0 18 2 0 0
33 Papua t.a.d t.a.d 60 3 3 1 161 0 0 0 0 0 450 2 0 0
INDONESIA 549.708 609 1.585 23 119 59 15.987 4 1.192 76 9 9 89.251 816 239 29
Sumber data: Ditjen PP&PL dalam Profil Kesehatan Indonesia 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 80 80


Tabel 2.16
Penduduk Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Status Migrasi Risen Tahun 2010

Laki-laki Perem puan Total


No Provinsi Tidak Tidak Tidak Jum lah
Non Migran Migran Jum lah Non Migran Migran Jum lah Non Migran Migran
ditanyakan Ditanyakan Ditanyakan
1 Aceh 1.946.787 34.662 13.791 1.995.240 1.970.408 29.325 6.008 2.005.741 3.917.195 63.987 19.799 4.000.981
2 Sumatera Utara 5.647.615 63.609 27.756 5.738.980 5.709.352 60.353 22.826 5.792.531 11.356.967 123.962 50.582 11.531.511
3 Sumatera Barat 2.067.075 69.534 8.579 2.145.188 2.132.870 60.646 4.964 2.198.480 4.199.945 130.180 13.543 4.343.668
4 Riau 2.346.117 157.450 17.284 2.520.851 2.224.232 137.507 9.878 2.371.617 4.570.349 294.957 27.162 4.892.468
5 Jambi 1.342.005 61.143 12.679 1.415.827 1.297.288 48.971 8.280 1.354.539 2.639.293 110.114 20.959 2.770.366
6 Sumatera Selatan 3.323.194 64.588 10.754 3.398.536 3.227.850 52.808 4.357 3.285.015 6.551.044 117.396 15.111 6.683.551
7 Bengkulu 757.926 25.981 2.744 786.651 729.705 21.846 1.509 753.060 1.487.631 47.827 4.253 1.539.711
8 Lampung 3.474.169 47.639 14.545 3.536.353 3.278.157 44.800 10.292 3.333.249 6.752.326 92.439 24.837 6.869.602
9 Kep.Bangka Belitung 531.488 35.208 2.689 569.385 499.579 25.600 884 526.063 1.031.067 60.808 3.573 1.095.448
10 Kepulauan Riau 649.845 104.560 3.876 758.281 614.058 105.496 289 719.843 1.263.903 210.056 4.165 1.478.124
11 DKI Jakarta 4.084.926 307.785 51.178 4.443.889 3.959.062 336.174 38.838 4.334.074 8.043.988 643.959 90.016 8.777.963
12 Jaw a Barat 19.208.112 535.365 43.594 19.787.071 18.612.271 513.599 16.156 19.142.026 37.820.383 1.048.964 59.750 38.929.097
13 Jaw a Tengah 14.486.935 154.718 54.231 14.695.884 14.799.085 146.699 29.707 14.975.491 29.286.020 301.417 83.938 29.671.375
14 DI Yogyakarta 1.457.869 115.671 3.005 1.576.545 1.511.019 111.693 1.311 1.624.023 2.968.888 227.364 4.316 3.200.568
15 Jaw a Timur 16.730.570 126.375 148.332 17.005.277 17.314.127 116.686 116.757 17.547.570 34.044.697 243.061 265.089 34.552.847
16 Banten 4.637.757 239.487 21.286 4.898.530 4.433.103 225.593 24.608 4.683.304 9.070.860 465.080 45.894 9.581.834
17 Bali 1.727.523 56.253 4.050 1.787.826 1.720.971 46.172 1.097 1.768.240 3.448.494 102.425 5.147 3.556.066
18 Nusa Tenggara Barat 1.904.329 29.195 5.852 1.939.376 2.062.591 18.453 4.366 2.085.410 3.966.920 47.648 10.218 4.024.786
19 Nusa Tenggara Timur 1.988.033 26.248 7.052 2.021.333 2.041.130 23.091 2.926 2.067.147 4.029.163 49.339 9.978 4.088.480
20 Kalimantan Barat 1.983.086 24.919 6.507 2.014.512 1.907.744 17.731 3.596 1.929.071 3.890.830 42.650 10.103 3.943.583
21 Kalimantan Tengah 957.581 73.302 3.164 1.034.047 894.751 49.667 826 945.244 1.852.332 122.969 3.990 1.979.291
22 Kalimantan Selatan 1.583.952 60.158 8.312 1.652.422 1.570.478 43.297 4.027 1.617.802 3.154.430 103.455 12.339 3.270.224
23 Kalimantan Timur 1.534.837 122.934 12.171 1.669.942 1.397.922 90.624 3.347 1.491.893 2.932.759 213.558 15.518 3.161.835
24 Sulaw esi Utara 1.024.915 26.106 4.608 1.055.629 988.989 21.936 1.924 1.012.849 2.013.904 48.042 6.532 2.068.478
25 Sulaw esi Tengah 1.160.253 34.252 7.473 1.201.978 1.112.975 27.709 2.854 1.143.538 2.273.228 61.961 10.327 2.345.516
26 Sulaw esi Selatan 3.442.991 63.626 11.034 3.517.651 3.667.031 57.012 2.177 3.726.220 7.110.022 120.638 13.211 7.243.871
27 Sulaw esi Tenggara 944.603 35.732 3.277 983.612 950.906 28.365 1.130 980.401 1.895.509 64.097 4.407 1.964.013
28 Gorontalo 452.398 14.035 606 467.039 453.710 12.660 62 466.432 906.108 26.695 668 933.471
29 Sulaw esi Barat 489.796 19.900 833 510.529 492.528 17.306 224 510.058 982.324 37.206 1.057 1.020.587
30 Maluku 657.588 16.050 5.521 679.159 652.805 13.186 817 666.808 1.310.393 29.236 6.338 1.345.967
31 Maluku Utara 450.384 13.692 2.157 466.233 433.223 10.770 417 444.410 883.607 24.462 2.574 910.643
32 Papua Barat 316.923 31.502 5.644 354.069 289.291 22.403 950 312.644 606.214 53.905 6.594 666.713
33 Papua 1.268.902 38.435 33.362 1.340.699 1.136.941 28.127 14.219 1.179.287 2.405.843 66.562 47.581 2.519.986
Total 104.580.484 2.830.114 557.946 107.968.544 104.086.152 2.566.305 341.623 106.994.080 208.666.636 5.396.419 899.569 214.962.624
Sumber data: Sensus Penduduk, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 81 81


Tabel 2.17

Penduduk Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Status Migrasi Seumur Hidup Tahun 2010

Laki-laki Perem puan Total

No Provinsi Tidak Tidak Tidak Jum lah


Non Migran Migran Jum lah Non Migran Migran Jum lah Non Migran Migran
ditanyakan Ditanyakan Ditanyakan

1 Aceh 2.136.708 112.244 2.248.952 2.144.149 101.309 2.245.458 4.280.857 213.553 4.494.410
2 Sumatera Utara 6.217.406 265.948 6.483.354 6.242.951 255.899 6.498.850 12.982.204 521.847 12.982.204
3 Sumatera Barat 2.220.901 183.476 2.404.377 2.281.754 160.778 2.442.532 4.846.909 344.254 4.846.909
4 Riau 1.838.498 1.014.670 2.853.168 1.788.109 897.090 2.685.199 5.538.367 1.911.760 5.538.367
5 Jambi 1.183.350 397.760 1.581.110 1.169.954 341.201 1.511.155 3.092.265 738.961 3.092.265
6 Sumatera Selatan 3.246.118 546.529 3.792.647 3.186.286 471.461 3.657.747 7.450.394 1.017.990 7.450.394
7 Bengkulu 689.737 187.422 877.159 678.130 160.229 838.359 1.715.518 347.651 1.715.518
8 Lampung 3.144.812 771.810 3.916.622 2.999.664 692.119 3.691.783 7.608.405 1.463.929 7.608.405
9 Kep.Bangka Belitung 515.496 119.598 635.094 501.095 87.107 588.202 1.223.296 206.705 1.223.296
10 Kepulauan Riau 449.076 413.068 862.144 429.014 388.005 817.019 1.679.163 801.073 1.679.163
11 DKI Jakarta 2.805.962 2.063.241 1.735 4.870.938 2.720.852 2.014.274 1.723 4.736.849 9.607.787 4.077.515 3.458 9.607.787
12 Jawa Barat 19.178.515 2.728.525 21.907.040 18.649.946 2.496.746 21.146.692 43.053.732 5.225.271 43.053.732
13 Jawa Tengah 15.625.181 465.931 16.091.112 15.854.765 436.780 16.291.545 32.382.657 902.711 32.382.657
14 DI Yogyakarta 1.427.776 281.134 1.708.910 1.467.331 281.250 1.748.581 3.457.491 562.384 3.457.491
15 Jawa Timur 18.009.709 493.807 18.503.516 18.541.538 431.703 18.973.241 37.476.757 925.510 37.476.757
16 Banten 4.005.953 1.433.195 5.439.148 3.859.463 1.333.555 5.193.018 10.632.166 2.766.750 10.632.166
17 Bali 1.743.359 217.989 1.961.348 1.740.477 188.932 1.929.409 3.890.757 406.921 3.890.757
18 Nusa Tenggara Barat 2.121.924 61.722 2.183.646 2.262.456 54.110 2.316.566 4.500.212 115.832 4.500.212
19 Nusa Tenggara Timur 2.233.804 92.683 2.326.487 2.264.940 92.400 2.357.340 4.683.827 185.083 4.683.827
20 Kalimantan Barat 2.075.657 171.246 2.246.903 2.027.097 121.983 2.149.080 4.395.983 293.229 4.395.983
21 Kalimantan Tengah 855.080 298.663 1.153.743 830.272 228.074 1.058.346 2.212.089 526.737 2.212.089
22 Kalimantan Selatan 1.565.874 270.336 1.836.210 1.573.497 216.909 1.790.406 3.626.616 487.245 3.626.616
23 Kalimantan Timur 1.146.522 725.168 1.871.690 1.098.136 583.317 1.681.453 3.553.143 1.308.485 3.553.143
24 Sulawesi Utara 1.047.126 112.777 1.159.903 1.017.331 93.362 1.110.693 2.270.596 206.139 2.270.596
25 Sulawesi Tengah 1.104.783 246.061 1.350.844 1.077.434 206.731 1.284.165 2.635.009 452.792 2.635.009
26 Sulawesi Selatan 3.736.962 187.469 3.924.431 3.933.526 176.819 4.110.345 8.034.776 364.288 8.034.776
27 Sulawesi Tenggara 883.789 238.037 1.121.826 901.313 209.447 1.110.760 2.232.586 447.484 2.232.586
28 Gorontalo 487.725 34.189 521.914 487.854 30.396 518.250 1.040.164 64.585 1.040.164
29 Sulawesi Barat 489.797 91.729 581.526 496.741 80.384 577.125 1.158.651 172.113 1.158.651
30 Maluku 709.521 65.956 775.477 700.820 57.209 758.029 1.533.506 123.165 1.533.506
31 Maluku Utara 472.908 58.485 531.393 457.498 49.196 506.694 1.038.087 107.681 1.038.087
32 Papua Barat 263.244 139.154 402.398 246.982 111.042 358.024 760.422 188.350 760.422
33 Papua 1.259.273 246.610 1.505.883 1.138.335 189.163 1.327.498 2.833.381 357.652 2.833.381
Total 104.892.546 14.736.632 1.735 119.630.913 104.769.710 13.238.980 1.723 118.010.413 209.662.256 27.975.612 3.458 237.641.326
Sumber data: Sensus Penduduk, 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 82 82


Tabel 3.1

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Provinsi Tahun 2005 dan 2011

Indeks Pembangunan Manusia


No Provinsi
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
1 Aceh 70.35 70.76 71.31 71.70 72.16 69.05 69.41
2 Sumatera Utara 72.78 73.29 73.80 74.19 74.65 72.03 72.46
3 Sumatera Barat 72.23 72.96 73.44 73.78 74.28 71.19 71.65
4 Riau 74.63 75.09 75.60 76.07 76.53 73.63 73.81
5 Jambi 71.46 71.99 72.45 72.74 73.3 70.95 71.29
6 Sumatera Selatan 71.40 72.05 72.61 72.95 73.42 70.23 71.09
7 Bengkulu 71.57 72.14 72.55 72.92 73.4 71.09 71.28
8 Lampung 69.78 70.30 70.93 71.42 71.94 68.85 69.38
9 Bangka Belitung 71.62 72.19 72.55 72.86 73.37 70.68 71.18
10 Kepri 73.68 74.18 74.54 75.07 75.78 72.23 72.79
11 DKI Jakarta 76.59 77.03 77.36 77.60 77.97 76.07 76.33
12 Jawa Barat 70.71 71.12 71.64 72.29 72.73 69.93 70.32
13 Jawa Tengah 70.92 71.60 72.10 72.49 72.94 69.78 70.25
14 DI Yogyakarta 74.15 74.88 75.23 75.77 76.32 73.50 73.70
15 Jawa Timur 69.78 70.38 71.06 71.62 72.18 68.42 69.18
16 Banten 69.29 69.70 70.06 70.48 70.95 68.80 69.11
17 Bali 70.53 70.98 71.52 72.28 72.84 69.78 70.07
18 NTB 63.71 64.12 64.66 65.20 66.23 62.42 63.04
19 NTT 65.36 66.15 66.60 67.26 67.75 63.59 64.83
20 Kalimantan Barat 67.53 68.17 68.79 69.15 69.66 66.20 67.08
21 Kalimantan Tengah 73.49 73.88 74.36 74.64 75.06 73.22 73.40
22 Kalimantan Selatan 68.01 68.72 69.30 69.92 70.44 67.44 67.75
23 Kalimantan Timur 73.77 74.52 75.11 75.56 76.22 72.94 73.26
24 Sulawesi Utara 74.68 75.16 75.68 76.09 76.54 74.21 74.37
25 Sulawesi Tengah 69.34 70.09 70.70 71.14 71.62 68.47 68.85
26 Sulawesi Selatan 69.62 70.22 70.94 71.62 72.14 68.06 68.81
27 Sulawesi Tenggara 68.32 69.00 69.52 70.00 70.55 67.52 67.80
28 Gorontalo 68.83 69.29 69.79 70.28 70.82 67.46 68.01
29 Sulawesi Barat 67.72 68.55 69.18 69.64 70.11 65.72 67.06
30 Maluku 69.96 70.38 70.96 71.42 71.87 69.24 69.69
31 Maluku Utara 67.82 68.18 68.63 69.03 69.47 66.95 67.51
32 Papua Barat 67.28 67.95 68.58 69.15 69.65 64.83 66.08
33 Papua 63.41 64.00 64.53 64.94 65.36 62.08 62.75
INDONESIA 69.57 70.10 70.59 71.17 71.76 72.27 72.77
Sumber data: Data Pusat Statistik, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 83


Tabel 3.2

Indeks Pembangunan Gender (IPG) Menurut Provinsi Tahun 2005 dan 2011

65,81

Sumber data: Data Pusat Statistik, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 84


Tabel 3.3

Penduduk Rentan Karena Kesulitan Fungsional di Indonesia menurut ProvinsiTahun 2010

Kesulitan Mengingat/
Kesulitan Berjalan atau Kesulitan Mengurus
Kesulitan Melihat Kesulitan Mendengar Berkonsentrasi/
No Provinsi Naik Tangga Diri Sendiri
Berkomunikasi

Sedikit Parah Sedikit Parah Sedikit Parah Sedikit Parah Sedikit Parah
1 Aceh 117,338 12,734 54,205 10,306 57,570 16,207 48,435 14,701 35,968 12,279
2 Sumatera Utara 276,391 25,634 123,082 21,426 134,841 36,075 116,524 33,843 82,471 28,807
3 Sumatera Barat 154,096 15,116 62,269 12,250 69,757 18,933 55,380 16,936 34,576 14,419
4 Riau 122,589 9,707 39,959 6,345 38,964 9,725 35,635 9,347 27,114 8,220
5 Jambi 78,137 6,331 30,506 5,573 25,422 6,947 24,368 7,334 16,309 5,794
6 Sumatera Selatan 182,887 17,054 80,477 14,418 64,337 17,519 62,679 18,063 43,359 14,384
7 Bengkulu 46,959 4,396 20,135 3,850 16,625 4,240 15,899 4,485 9,835 3,358
8 Lampung 166,791 15,747 85,780 15,641 72,866 19,169 67,959 19,623 43,747 15,433
9 Kep.Bangka Belitung 25,637 2,397 9,488 2,100 9,152 3,267 8,195 3,110 5,186 2,667
10 Kepulauan Riau 34,508 2,410 8,812 1,383 9,490 2,483 7,669 2,177 5,033 1,931
11 DKI Jakarta 270,390 16,372 57,307 8,607 63,085 15,594 51,385 13,197 44,116 13,887
12 Jawa Barat 975,550 85,438 433,265 74,586 414,283 105,555 337,316 92,978 238,813 79,144
13 Jawa Tengah 509,772 59,894 394,446 63,155 363,567 100,783 333,335 96,429 225,356 84,124
14 DI Yogyakarta 58,927 8,117 53,180 9,866 48,076 15,100 43,974 14,116 27,788 12,539
15 Jawa Timur 759,100 83,736 461,026 78,225 459,497 121,745 393,920 112,108 295,184 101,996
16 Banten 193,519 15,567 73,139 12,581 67,679 16,885 62,750 16,605 49,808 13,859
17 Bali 82,793 7,556 48,113 8,097 48,823 11,875 45,628 11,250 27,169 9,939
18 Nusa Tenggara Barat 103,121 12,100 54,479 11,532 51,836 14,891 43,362 13,701 31,277 11,618
19 Nusa Tenggara Timur 125,339 16,845 63,589 18,544 52,289 18,686 51,808 19,818 37,877 16,555
20 Kalimantan Barat 105,248 10,264 46,160 8,915 40,327 12,398 38,487 12,557 27,277 10,180
21 Kalimatan Tengah 54,865 4,787 21,676 3,604 17,558 4,916 17,547 5,257 13,034 4,131
22 Kalimantan Selatan 88,217 6,864 35,278 5,966 35,072 9,810 28,485 8,759 19,997 7,615
23 Kalimantan Timur 90,256 6,133 24,792 3,998 23,676 5,871 21,484 5,929 17,696 5,236
24 Sulawesi Utara 80,224 7,667 28,115 5,748 28,524 8,643 21,488 6,936 16,128 6,728
25 Sulawesi Tengah 85,648 6,890 30,534 5,929 26,326 7,175 24,146 7,276 14,991 5,694
26 Sulawesi Selatan 286,060 27,118 141,641 26,256 116,362 29,851 99,555 28,908 74,911 25,306
27 Sulawesi Tenggara 66,381 5,666 26,109 4,883 21,887 6,158 20,704 5,980 11,991 4,763
28 Gorontalo 46,399 3,887 16,848 3,446 11,162 3,436 11,565 3,576 5,883 2,667
29 Sulawesi Barat 33,763 2,611 15,268 3,004 12,779 3,286 11,511 3,747 7,403 2,722
30 Maluku 35,554 3,190 11,611 2,389 12,181 3,694 9,052 3,046 5,965 2,844
31 Maluku Utara 23,056 1,939 7,524 1,658 8,814 2,313 6,480 1,941 5,456 1,626
32 Papua Barat 11,935 765 2,823 488 2,676 680 2,458 718 2,000 602
33 Papua 21,496 1,946 6,588 1,278 6,591 1,690 7,009 1,751 6,888 1,809
Jumlah 5,312,946 506,878 2,568,224 456,047 2,432,094 655,600 2,126,192 616,202 1,510,606 532,876
Sumber data: Data Pusat Statistik, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 85


Tabel 3.4

Rasio Sumber Daya Manusia Kesehatan (Dokter dan Bidan) per 100.000 Penduduk
Menurut Provinsi, 2011

Jumlah Rasio Rasio


No Provinsi Dokter Bidan
Penduduk*) dokter*) bidan*)
1 Aceh 1.693 8.920 4.553.215 37,2 195,9
2 Sumatera Utara 4.816 12.956 13.118.327 36,7 98,8
3 Sumatera Barat 1.848 4.418 4.909.358 37,6 90,0
4 Riau 1.449 3.644 5.773.721 25,1 63,1
5 Jambi 1.012 2.775 3.169.813 31,9 87,5
6 Sumatera Selatan 1.080 3.798 7.584.363 14,2 50,1
7 Bengkulu 610 2.334 1.743.279 35,0 133,9
8 Lampung 1.393 3.398 7.698.828 18,1 44,1
9 Kep. Bangka Belitung 293 667 1.261.065 23,2 52,9
10 Kep. Riau 691 1.084 1.761.385 39,2 61,5
11 DKI Jakarta 7.783 2.121 9.738.297 79,9 21,8
12 Jawa Barat 5.449 10.496 43.849.420 12,4 23,9
13 Jawa Tengah 7.829 15.833 32.485.926 24,1 48,7
14 DI Yogyakarta 2.543 1.588 3.491.671 72,8 45,5
15 Jawa Timur 4.726 12.718 37.742.356 12,5 33,7
16 Banten 1.624 5.744 10.922.177 14,9 52,6
17 Bali 2.064 2.386 3.972.385 52,0 60,1
18 Nusa Tenggara Barat 855 2.051 4.550.546 18,8 45,1
19 Nusa Tenggara Timur 760 2.696 4.778.348 15,9 56,4
20 Kalimantan Barat 804 2.204 4.433.728 18,1 49,7
21 Kalimantan Tengah 600 1.772 2.250.539 26,7 78,7
22 Kalimantan Selatan 1.127 2.541 3.696.903 30,5 68,7
23 Kalimantan Timur 1.354 1.851 3.686.640 36,7 50,2
24 Sulawesi Utara 1.389 1.373 2.298.489 60,4 59,7
25 Sulawesi Tengah 559 2.112 2.685.024 20,8 78,7
26 Sulawesi Selatan 2.132 4.652 8.124.645 26,2 57,3
27 Sulawesi Tenggara 539 1.667 2.277.864 23,7 73,2
28 Gorontalo 311 645 1.063.131 29,3 60,7
29 Sulawesi Barat 341 902 1.189.097 28,7 75,9
30 Maluku 484 1.137 1.575.642 30,7 72,2
31 Maluku Utara 283 1.029 1.063.187 26,6 96,8
32 Papua Barat 243 600 788.233 30,8 76,1
33 Papua 808 2.052 2.984.580 27,1 68,8
INDONESIA 59.492 124.164 241.222.182 24,7 51,5
Sumber data: Profil Kesehatan Indonesia, 2011
Keterangan: *) Data merupakan estimasi yang diperoleh dari Profil Kesehatan Indonesia, 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 86


Tabel 3.5

Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas dan Rumah Sakit)


di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2011

No Provinsi Puskesmas Rumah Sakit

1 Aceh 325 45
2 Sumatera Utara 542 153
3 Sumatera Barat 254 45
4 Riau 203 42
5 Jambi 174 22
6 Sumatera Selatan 304 41
7 Bengkulu 178 18
8 Lampung 269 36
9 Kep. Bangka Belitung 58 11
10 Kep. Riau 67 22
11 DKI Jakarta 340 132
12 Jawa Barat 1,046 200
13 Jawa Tengah 867 225
14 DI Yogyakarta 121 51
15 Jawa Timur 956 187
16 Banten 226 46
17 Bali 114 43
18 Nusa Tenggara Barat 152 17
19 Nusa Tenggara Timur 342 34
20 Kalimantan Barat 235 33
21 Kalimantan Tengah 179 15
22 Kalimantan Selatan 224 29
23 Kalimantan Timur 215 36
24 Sulawesi Utara 170 32
25 Sulawesi Tengah 173 23
26 Sulawesi Selatan 421 67
27 Sulawesi Tenggara 249 22
28 Gorontalo 86 9
29 Sulawesi Barat 86 7
30 Maluku 170 24
31 Maluku Utara 115 15
32 Papua Barat 126 11
33 Papua 334 28
INDONESIA 9,321 1,721
Sumber data: Profil Kesehatan Indonesia, 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 87


Tabel 3.6

Klinik pelayanan KB di Indonesia menurut Provinsi, tahun 2013*)

Klinik KB Klinik KB
No Provinsi Jumlah
Pemerintah Swasta

1 Aceh 705 127 832


2 Sumatera Utara 1224 305 1529
3 Sumatera Barat 774 18 792
4 Riau 388 79 467
5 Kepulauan Riau 163 43 206
6 Jambi 780 33 813
7 Sumatera Selatan 1012 229 1241
8 Bangka Belitung 237 10 247
9 Bengkulu 347 17 364
10 Lampung 946 46 992
11 DKI Jakarta 417 99 516
12 Jawa Barat 2209 1330 3539
13 Banten 412 339 751
14 Jawa Tengah 1235 549 1784
15 DI Yogyakarta 165 142 307
16 Jawa Timur 3477 424 3901
17 Bali 540 49 589
18 Nusa Tenggara Barat 1027 64 1091
19 Nusa Tenggara Timur 528 37 565
20 Kalimantan Barat 297 112 409
21 Kalimantan Tengah 624 84 708
22 Kalimantan Selatan 367 27 394
23 Kalimantan Timur 419 118 537
24 Sulawesi Utara 231 128 359
25 Gorontalo 125 26 151
26 Sulawesi Tengah 893 48 941
27 Sulawesi Selatan 733 72 805
28 Sulawesi Barat 148 15 163
29 Sulawesi Tenggara 365 8 373
30 Maluku 283 44 327
31 Maluku Utara 96 12 108
32 Papua 327 36 363
33 Papua Barat 153 14 167
INDONESIA 21.647 4.684 26.331

Sumber Data: Laporan Pelayanan Kontrasepsi, BKKBN


Keterangan: *) Data sampai dengan bulan Agustus 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 88


Tabel 3.7

Sarana Pendidikan (Sekolah) di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2008 s/d 2010

Jenis Sekolah 2008/2009 Jenis Sekolah 2009/2010 Jenis Sekolah 2009/2010

No Provinsi Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah


Sekolah Sekolah Sekolah
TK Menengah Menengah TK Menengah Menengah TK Menengah Menengah
Dasar Dasar Dasar
Pertama Atas Pertama Atas Pertama Atas
1 Aceh 1.111 3.691 1.114 660 1.318 3.855 1.200 708 1.498 3.904 1.222 743
2 Sumatera Utara 1.067 9.610 2.966 2.033 1.149 9.213 3.061 2.088 1.245 10.076 3.080 2.179
3 Sumatera Barat 1.943 4.176 1.016 596 1.865 4.149 1.051 618 1.950 4.268 1.068 611
4 Riau 1.345 3.704 1.344 650 1.389 3.496 1.383 708 1.472 3.768 1.418 762
5 Kep. Riau 362 692 275 161 397 753 317 163 455 866 329 188
6 Jambi 785 2.550 827 453 961 2.519 867 477 1.002 2.608 887 504
7 Sumatera Selatan 1.059 4.967 1.471 843 1.007 4.704 1.537 869 1.189 5.000 1.558 908
8 Kep. Bangka Belitung 198 810 211 128 222 815 215 129 226 820 217 130
9 Bengkulu 422 1.422 406 218 425 1.352 426 227 467 1.447 442 234
10 Lampung 1.710 5.296 1.706 852 1.856 5.601 1.797 886 2.049 5.297 1.846 962
11 DKI Jakarta 1.845 3.467 1.236 1.156 1.955 3.468 1.250 1.178 1.857 3.420 1.260 1.189
12 Jawa Barat 5.891 23.086 5.359 3.094 6.195 23.045 5.537 3.416 5.955 23.203 5.877 3.752
13 Banten 1.415 5.212 1.618 956 1.366 5.589 1.784 988 1.599 5.353 1.790 1.150
14 Jawa Tengah 12.690 23.474 4.344 2.369 13.036 23.402 4.464 2.500 12.862 23.484 4.540 2.592
15 DI Yogyakarta 2.098 2.411 505 397 2.030 1.910 516 405 2.112 2.080 539 395
16 Jawa Timur 15.769 25.601 6.088 3.380 15.976 26.015 6.349 3.590 16.413 26.636 6.507 3.737
17 Bali 1.176 2.485 370 297 1.164 2.496 387 306 1.239 2.482 395 317
18 Nusa Tenggara Barat 1.227 3.602 1.134 641 1.177 3.487 1.191 680 1.236 3.733 1.236 773
19 Nusa Tenggara Timur 1.142 4.688 872 414 1.087 4.503 946 415 1.147 4.700 967 444
20 Kalimantan Barat 517 4.365 1.174 519 565 4.162 1.229 557 605 4.434 1.258 580
21 Kalimantan Tengah 721 2.766 596 294 882 2.834 667 309 884 2.764 679 333
22 Kalimantan Selatan 1.620 3.455 809 346 1.793 3.460 827 362 1.799 3.414 853 386
23 Kalimantan Timur 987 2.260 749 460 1.005 2.286 765 478 1.016 2.338 771 482
24 Sulawesi Utara 1.144 2.338 641 312 1.228 2.441 660 338 1.228 2.276 694 363
25 Gorontalo 551 930 290 107 472 960 298 114 627 948 310 122
26 Sulawesi Tengah 1.076 2.808 712 367 1.198 2.882 721 362 1.149 2.926 737 379
27 Sulawesi Selatan 2.793 6.570 1.732 978 3.115 6.785 1.802 1.043 3.214 6.927 1.838 1.101
28 Sulawesi Barat 367 1.256 312 152 507 1.353 330 168 513 1.412 362 190
29 Sulawesi Tenggara 994 2.110 650 334 1.077 2.308 704 372 1.129 2.349 721 617
30 Maluku 317 1.686 566 285 310 1.703 596 297 351 1.827 614 315
31 Maluku Utara 236 1.419 361 220 259 1.208 373 234 266 1.336 385 267
32 Papua 342 2.022 432 238 377 1.920 461 246 378 2.271 473 261
33 Papua Barat 181 823 183 92 187 817 177 101 194 964 204 130
INDONESIA 65.101 165.752 42.069 24.002 67.550 165.491 43.888 25.332 69.326 169.331 45.077 27.096
Sumber data: Statistik Indonesia, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 89


Tabel 3.8

Rasio Jumlah Penduduk Usia Sekolah terhadap Jumlah Sekolah di


Indonesia Tahun 2010

Jumlah
Jumlah Sekolah
No Provinsi Penduduk Usia Rasio
2009/2010
Sekolah
1 Aceh 1.825.374 7.184 254,1
2 Sumatera Utara 11.531.511 15.761 731,6
3 Sumatera Barat 1.862.879 7.797 238,9
4 Riau 2.201.848 7.055 312,1
5 Kepulauan Riau 597.511 1.659 360,2
6 Jambi 1.177.657 4.863 242,2
7 Sumatera Selatan 2.883.439 8.239 350,0
8 Bangka Belitung 454.114 1.390 326,7
9 Bengkulu 665.201 2.449 271,6
10 Lampung 2.841.459 10.214 278,2
11 DKI Jakarta 3.294.135 8.179 402,8
12 Jawa Barat 15.937.519 38.593 413,0
13 Banten 4.180.540 9.822 425,6
14 Jawa Tengah 10.863.030 43.649 248,9
15 DI Yogyakarta 1.084.769 4.986 217,6
16 Jawa Timur 12.073.536 46.238 261,1
17 Bali 1.240.384 2.215 560,0
18 Nusa Tenggara Barat 1.741.144 6.585 264,4
19 Nusa Tenggara Timur 1.927.129 6.989 275,7
20 Kalimantan Barat 1.742.064 6.559 265,6
21 Kalimantan Tengah 857.411 4.717 181,8
22 Kalimantan Selatan 1.351.891 6.490 208,3
23 Kalimantan Timur 1.317.066 4.601 286,3
24 Sulawesi Utara 789.245 4.720 167,2
25 Gorontalo 407.940 1.857 219,7
26 Sulawesi Tengah 1.030.819 5.187 198,7
27 Sulawesi Selatan 3.108.016 12.966 239,7
28 Sulawesi Barat 480.236 2.371 202,5
29 Sulawesi Tenggara 925.455 4.501 205,6
30 Maluku 638.891 2.932 217,9
31 Maluku Utara 428.811 2.091 205,1
32 Papua 1.215.643 3.049 398,7
33 Papua Barat 312.282 1.298 240,6

Sumber Data: SP 2010, Statistik Indonesia 2012 - BPS RI

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 90


Tabel 3.9

Jumlah Tenaga Guru di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2008 s/d 2010

Jenis Sekolah 2008/2009 Jenis Sekolah 2009/2010 Jenis Sekolah 2009/2010

No Provinsi Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah Sekolah


Sekolah Sekolah Sekolah
TK Menengah Menengah TK Menengah Menengah TK Menengah Menengah
Dasar Dasar Dasar
Pertama Atas Pertama Atas Pertama Atas
1 Aceh 3.777 46.561 24.957 19.439 5.639 55.778 26.740 20.958 6.079 55.575 24.401 19.259
2 Sumatera Utara 3.710 90.474 57.133 52.093 4.922 99.245 58.405 54.259 5.013 111.644 53.577 40.621
3 Sumatera Barat 5.797 45.078 25.449 21.579 5.901 44.470 25.955 22.683 4.927 42.851 24.567 19.209
4 Riau 4.739 41.903 20.944 15.008 4.845 42.999 22.128 16.419 5.201 47.923 21.325 15.012
5 Kep. Riau 1.344 8.286 4.322 3.733 1.385 10.040 4.464 4.048 1.546 10.623 4.021 3.241
6 Jambi 2.255 28.113 13.622 10.589 3.237 26.967 13.477 11.005 2.407 28.520 13.054 8.831
7 Sumatera Selatan 3.902 58.272 28.676 23.573 4.023 58.661 30.589 24.087 4.091 60.838 25.219 17.469
8 Kep. Bangka Belitung 603 7.940 3.078 3.034 958 8.627 3.189 3.071 768 8.306 2.989 2.512
9 Bengkulu 1.269 14.791 7.297 6.115 2.022 14.245 7.118 6.488 1.156 16.439 7.605 5.779
10 Lampung 5.399 59.241 30.559 22.819 6.439 60.688 27.438 23.453 6.975 63.764 28.232 17.396
11 DKI Jakarta 7.739 35.389 26.749 36.394 7.885 41.247 26.488 36.336 10.303 42.671 24.686 25.056
12 Jawa Barat 16.440 215.667 120.508 79.726 21.698 232.364 126.571 89.304 21.008 233.824 113.932 66.186
13 Banten 4.856 57.368 32.256 23.086 5.167 63.111 36.473 24.336 5.962 63.624 31.094 20.292
14 Jawa Tengah 29.414 224.532 109.462 75.182 32.628 229.615 104.126 77.935 24.978 205.574 90.140 59.883
15 DI Yogyakarta 4.128 29.449 13.178 14.654 6.846 22.778 14.304 15.201 5.965 21.686 11.900 12.672
16 Jawa Timur 41.139 276.557 133.960 95.391 46.528 284.267 141.501 105.390 42.049 290.866 128.096 80.758
17 Bali 3.135 23.534 13.026 12.227 4.402 24.863 12.740 13.148 4.548 25.296 10.996 8.959
18 Nusa Tenggara Barat 3.154 42.494 24.268 18.060 4.381 40.929 25.003 19.131 3.197 41.039 21.808 15.423
19 Nusa Tenggara Timur 2.307 41.354 14.426 10.216 2.705 42.241 15.504 12.107 1.970 43.943 14.751 10.098
20 Kalimantan Barat 1.517 36.247 13.631 10.734 1.996 41.818 15.628 12.278 2.130 40.725 13.178 8.741
21 Kalimantan Tengah 2.093 17.676 6.714 5.810 2.550 21.808 7.983 6.500 3.697 25.395 8.978 6.272
22 Kalimantan Selatan 4.540 35.961 13.733 9.213 6.460 35.976 13.013 9.627 5.752 36.951 13.115 8.216
23 Kalimantan Timur 3.246 24.652 12.019 10.448 3.397 24.846 11.328 11.102 4.353 30.612 11.781 9.207
24 Sulawesi Utara 3.877 18.832 8.886 7.370 2.512 19.407 9.170 7.976 2.694 19.485 8.909 6.301
25 Gorontalo 1.654 9.036 4.494 2.989 1.475 9.373 4.354 3.244 1.748 9.789 4.469 2.654
26 Sulawesi Tengah 3.496 20.436 10.341 8.062 3.904 24.466 11.549 8.429 2.706 23.930 10.267 6.938
27 Sulawesi Selatan 6.836 67.728 34.002 25.711 10.157 75.918 36.049 28.254 8.778 74.411 34.474 22.540
28 Sulawesi Barat 639 13.073 5.405 3.732 1.741 13.209 5.079 3.869 1.185 12.370 4.385 2.622
29 Sulawesi Tenggara 2.414 23.903 12.098 8.921 3.106 23.942 12.121 9.824 3.762 27.836 11.092 8.243
30 Maluku 601 15.997 7.247 6.402 746 15.580 7.450 6.500 938 17.698 7.345 6.355
31 Maluku Utara 571 7.751 4.676 4.496 784 9.036 5.110 4.725 805 9.433 4.706 3.293
32 Papua 1.076 13.678 6.150 5.627 1.355 12.648 6.329 5.816 1.147 11.596 4.893 4.546
33 Papua Barat 284 5.424 2.884 2.438 499 5.763 2.688 2.712 412 4.736 2.205 1.735
INDONESIA 177.951 1.657.397 846.150 654.871 212.293 1.736.925 870.064 700.215 198.250 1.759.973 792.190 546.319
Sumber data: Statistik Indonesia, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 91


Tabel 3.10

Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Fasilitas Buang


Air Besar Tahun 2011

No Provinsi Sendiri Bersama Umum Tidak Ada

1 Aceh 60,35 7,18 7,20 25,27


2 Sumatera Utara 74,89 7,39 3,60 14,12
3 Sumatera Barat 54,66 9,56 5,78 30,00
4 Riau 83,82 6,03 1,24 8,91
5 Kep. Riau 82,04 12,24 1,63 4,09
6 Jambi 68,13 8,84 3,50 19,53
7 Sumatera Selatan 64,59 10,77 4,17 20,47
8 Kep. Bangka Belitung 71,75 4,41 1,52 22,32
9 Bengkulu 66,57 8,24 1,65 23,54
10 Lampung 76,97 11,66 1,32 10,05
11 DKI Jakarta 76,30 18,41 4,84 0,45
12 Jawa Barat 67,60 14,02 6,40 11,98
13 Banten 62,92 11,72 2,52 22,84
14 Jawa Tengah 64,52 13,80 2,47 19,21
15 DI Yogyakarta 69,82 24,89 0,71 4,58
16 Jawa Timur 61,62 15,09 1,55 21,74
17 Bali 65,49 20,72 0,67 13,12
18 Nusa Tenggara Barat 41,85 16,35 2,89 38,91
19 Nusa Tenggara Timur 62,35 13,78 2,43 21,44
20 Kalimantan Barat 64,67 6,70 2,22 26,41
21 Kalimantan Tengah 53,60 24,94 8,84 12,62
22 Kalimantan Selatan 63,80 14,94 7,80 13,46
23 Kalimantan Timur 80,96 9,90 3,59 5,55
24 Sulawesi Utara 63,42 18,53 2,84 15,21
25 Gorontalo 33,06 17,40 10,97 38,57
26 Sulawesi Tengah 50,88 9,21 5,61 34,30
27 Sulawesi Selatan 62,30 13,29 2,42 21,99
28 Sulawesi Barat 44,86 10,42 2,79 41,93
29 Sulawesi Tenggara 58,63 10,45 2,80 28,12
30 Maluku 49,53 13,28 8,45 28,74
31 Maluku Utara 49,88 12,95 15,04 22,13
32 Papua 46,55 10,13 4,31 39,01
33 Papua Barat 54,83 18,55 13,24 13,38
Indonesia 65,20 13,37 3,65 17,78
Sumber data: Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 92


Tabel 3.11

Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Fasilitas Air


Minum Tahun 2011

No Provinsi Sendiri Bersama Umum Tidak Ada

1 Aceh 71,92 15,20 10,46 2,42


2 Sumatera Utara 64,87 14,58 16,09 4,46
3 Sumatera Barat 60,69 22,22 12,96 4,13
4 Riau 72,22 12,71 4,27 10,80
5 Kep. Riau 63,30 19,53 16,50 0,67
6 Jambi 63,97 17,75 6,88 11,40
7 Sumatera Selatan 58,64 24,93 9,38 7,05
8 Kep. Bangka Belitung 43,39 37,57 16,81 2,23
9 Bengkulu 71,58 20,80 6,56 1,06
10 Lampung 69,29 23,77 5,01 1,93
11 DKI Jakarta 79,64 18,55 1,32 0,49
12 Jawa Barat 61,56 24,90 12,39 1,15
13 Banten 63,04 22,97 12,24 1,75
14 Jawa Tengah 64,55 25,97 7,95 1,53
15 DI Yogyakarta 62,57 34,19 1,97 1,27
16 Jawa Timur 60,76 29,71 8,33 1,20
17 Bali 55,02 29,66 12,41 2,91
18 Nusa Tenggara Barat 30,10 49,57 18,34 1,99
19 Nusa Tenggara Timur 18,89 33,99 44,30 2,82
20 Kalimantan Barat 39,68 10,77 9,60 39,95
21 Kalimantan Tengah 46,95 19,43 17,12 16,50
22 Kalimantan Selatan 52,79 20,93 13,16 13,12
23 Kalimantan Timur 68,53 18,06 7,90 5,51
24 Sulawesi Utara 47,54 29,86 18,41 4,19
25 Gorontalo 36,66 41,31 17,13 4,90
26 Sulawesi Tengah 50,91 25,11 18,08 5,90
27 Sulawesi Selatan 46,02 38,20 13,55 2,23
28 Sulawesi Barat 40,59 30,68 22,37 6,36
29 Sulawesi Tenggara 41,72 37,48 19,63 1,17
30 Maluku 24,79 29,89 43,31 2,01
31 Maluku Utara 40,33 30,60 26,54 2,53
32 Papua 31,16 22,36 30,52 15,96
33 Papua Barat 41,62 27,46 23,12 7,80
Indonesia 58,69 25,92 11,74 3,65
Sumber data: Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 93


Tabel 3.12

Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Sumber Penerangan, 2012

Listrik Non- Petromak/ Pelita/Sentir/


No Provinsi Listrik PLN Lainnya* Lainnya
PLN Aladin Obor
1 Aceh 95,44 1,05 1,41 2,06 0,04 3,51
2 Sumatera Utara 92,5 2,31 1,21 3,88 0,1 5,19
3 Sumatera Barat 90,37 3,07 1,35 4,6 0,61 6,56
4 Riau 66,78 25,85 0,51 6,56 0,3 7,37
5 Kep. Riau 84,02 11,6 1,08 3,21 0,09 4,38
6 Jambi 84,73 10,77 0,54 3,76 0,2 4,5
7 Sumatera Selatan 86,21 6,66 0,11 6,96 0,07 7,14
8 Kep. Bangka Belitung 84,52 11,74 0,1 3,21 0,43 3,74
9 Bengkulu 89,61 7,53 0,25 2,48 0,12 2,85
10 Lampung 87,5 10,37 0,19 1,3 0,64 2,13
11 DKI Jakarta 99,97 0 0 0,03 0 0,03
12 Jawa Barat 98,45 0,82 0,02 0,48 0,23 0,73
13 Banten 99,33 0,34 0,01 0,3 0,03 0,34
14 Jawa Tengah 99,47 0,13 0 0,41 0 0,41
15 DI Yogyakarta 98,6 1,08 0,11 0,21 0 0,32
16 Jawa Timur 98,71 0,24 0,15 0,85 0,05 1,05
17 Bali 98,96 0,24 0 0,75 0,05 0,8
18 Nusa Tenggara Barat 92,68 3,1 0,24 3,94 0,05 4,23
19 Nusa Tenggara Timur 52,07 14,8 0,13 32,13 0,87 33,13
20 Kalimantan Barat 74,2 11,54 0,24 13,57 0,46 14,27
21 Kalimantan Tengah 67,42 13,79 1,93 15,06 1,8 18,79
22 Kalimantan Selatan 88,58 6,22 1,36 3,6 0,23 5,19
23 Kalimantan Timur 80,12 14,73 0,89 2,65 1,62 5,16
24 Sulawesi Utara 96,05 2,73 0,15 1,04 0,04 1,23
25 Gorontalo 79,99 6,56 0,15 13,07 0,24 13,46
26 Sulawesi Tengah 87,99 4,89 0,45 6,09 0,57 7,11
27 Sulawesi Selatan 81,89 7,02 0,02 10,95 0,12 11,09
28 Sulawesi Barat 74,35 7,35 4,26 14,03 0 18,29
29 Sulawesi Tenggara 59,13 25,18 0 15,6 0,09 15,69
30 Maluku 74,63 5,89 0,47 18,72 0,29 19,48
31 Maluku Utara 67,49 17,08 0,47 14,96 0 15,43
32 Papua 61,44 19,22 0,31 17,37 1,65 19,33
33 Papua Barat 33,7 8,16 0,67 24,34 33,13 58,14
Indonesia 92,08 3,84 0,3 3,16 0,62 4,08
Sumber data: Diolah dari Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), BPS
Data Susenas Triwulan III-2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 94


Tabel 3.13

Persentase dan Cakupan Imunisasi pada Balita di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2012

Semua
vaksinasi
Hepatitis Hepatitis Hepatitis Hepatitis dasar
No Provinsi BCG DPT 1 DPT 2 DPT 3 Polio 1 Polio 2 Polio 3 Campak
0 1 2 3 tanpa
Hepatitis
B
1 Aceh 77.6 76.8 67.6 57.6 83.6 75.5 64.5 67.5 59.6 56.1 31.4 59.8 49.7
2 Sum atera Utara 80.4 76.7 68.4 61.1 87.0 81.5 65.3 67.6 57.3 47.0 18.1 64.2 50.8
3 Sum atera Barat 89.0 81.8 74.7 62.9 92.2 79.4 73.8 78.8 67.8 62.3 36.8 69.5 59.4
4 Riau 82.4 84.2 78.2 67.0 86.6 81.6 69.0 80.4 71.9 60.4 35.1 70.8 57.6
5 Jam bi 79.1 80.7 76.3 69.3 82.3 80.7 69.6 77.5 73.6 68.4 49.6 76.7 65.7
6 Sum atera Selatan 90.1 88.3 77.9 69.5 90.6 79.4 68.6 84.6 71.2 63.2 32.6 80.1 63.3
7 Bengkulu 88.9 92.9 84.8 71.9 91.1 89.7 77.9 87.8 78.2 69.6 18.7 82.1 66.7
8 Lam pung 95.3 95.8 86.0 74.1 95.8 91.9 79.4 95.9 86.2 65.6 38.8 89.3 68.9
9 Bangka Belitung 84.7 81.4 78.6 72.8 87.8 79.4 76.4 87.8 77.6 64.2 56.0 74.9 70.2
10 Kepulauan Riau 85.2 85.0 78.3 74.2 87.8 84.8 76.2 79.3 77.1 72.1 36.0 75.7 65.3
11 DKI Jakarta 93.3 92.3 84.2 77.5 95.3 88.7 82.8 87.7 78.8 68.3 39.1 86.5 73.2
12 Jawa Barat 94.1 91.8 81.8 73.8 95.2 88.7 77.0 89.2 78.0 69.5 41.8 81.1 65.6
13 Jawa Tengah 91.8 94.2 89.7 82.7 95.6 92.6 87.3 92.6 85.0 78.9 64.7 92.6 78.7
14 DI Yogyakarta 100.0 100.0 100.0 96.4 100.0 100.0 97.5 98.8 96.1 93.7 77.5 97.1 93.5
15 Jawa Tim ur 96.8 95.7 90.7 83.6 96.5 92.3 86.7 93.1 80.7 75.8 54.4 87.8 77.2
16 Banten 82.0 78.7 68.7 49.1 83.5 73.6 54.9 74.5 53.8 43.1 23.3 61.4 37.9
17 Bali 98.7 96.3 93.6 89.2 98.7 94.8 89.2 97.2 85.7 80.0 60.3 93.1 87.0
18 Nus a Tenggara Barat 92.2 92.9 85.1 70.7 92.9 91.8 75.5 90.9 75.7 58.5 33.7 89.9 66.0
19 Nus a Tenggara Tim ur 87.6 91.7 83.8 76.4 93.3 89.5 81.6 90.9 81.7 77.6 47.0 82.7 73.1
20 Kalim antan Barat 79.5 77.4 71.8 62.8 80.2 74.4 66.9 79.8 71.8 62.6 35.8 71.6 57.5
21 Kalim antan Tengah 72.3 67.2 57.3 52.5 79.7 69.2 57.5 67.6 54.7 49.9 27.5 64.2 45.9
22 Kalim antan Selatan 83.1 79.2 69.1 62.1 84.4 78.1 72.1 74.2 68.1 63.3 36.5 73.6 61.4
23 Kalim antan Tim ur 91.6 94.1 86.4 80.4 95.3 90.2 83.0 92.8 81.9 67.5 51.4 89.0 76.6
24 Sulawes i Utara 97.3 94.0 89.4 84.2 94.1 88.5 84.2 89.8 82.4 74.8 49.6 87.5 77.1
25 Sulawes i Tengah 86.3 86.0 77.7 71.5 85.3 78.3 76.1 84.0 71.0 61.7 31.2 82.9 67.2
26 Sulawes i Selatan 82.2 79.6 69.4 60.3 85.0 74.7 61.1 76.4 60.7 53.5 39.0 71.9 48.7
27 Sulawes i Tenggara 87.8 87.2 84.6 75.7 89.5 86.6 78.3 83.2 76.6 71.0 32.5 81.4 70.5
28 Gorontalo 94.5 90.3 81.1 71.5 93.1 79.8 72.3 93.0 74.7 64.9 47.8 91.6 67.4
29 Sulawes i Barat 71.7 70.5 58.3 49.8 74.9 68.2 56.4 71.3 52.1 47.0 32.5 60.9 43.4
30 Maluku 76.6 71.1 59.9 46.9 78.4 66.5 53.6 69.3 60.3 50.4 20.6 65.1 44.2
31 Maluku Utara 91.1 92.0 83.4 62.2 91.0 84.4 68.0 85.9 78.7 54.7 21.1 83.4 55.1
32 Papua Barat 72.3 74.5 69.5 58.1 75.9 69.5 59.6 70.4 66.6 58.2 29.9 62.9 50.7
33 Papua 59.4 51.9 48.0 35.3 51.6 49.0 43.4 50.3 45.4 36.2 14.1 49.0 34.0
Jum lah 89.3 88.1 80.7 72.0 91.2 85.5 75.9 85.3 74.5 66.3 42.4 80.1 65.6
1
Imunisasi BCG, Campak, 4 dosis Hepatitis B, 3 dosis DPT dan polio kecuali polio 4

Sumber da ta : SDKI, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 95


95
Tabel 3.14

Persentase Wanita Umur 15-49 tahun yang sedang Hamil di Indonesia menurut
Provinsi Tahun 1997 - 2012

Wanita Umur 15-49 tahun yang sedang Hamil


No Provinsi
1997 2002-03 2007 2012
1 Aceh 3,9 - 6,1 5,2
2 Sumatera Utara 3,7 4,0 3,6 5,8
3 Sumatera Barat 5,5 5,7 3,8 5,7
4 Riau 6,0 5,0 4,6 6,1
5 Jambi 4,1 6,7 5,3 5,3
6 Sumatera Selatan 5,7 2,5 3,1 4,6
7 Bengkulu 3,5 4,2 3,9 6,1
8 Lampung 4,4 4,4 4,0 4,8
9 Bangka Belitung - 2,9 5,5 4,3
10 Kepulauan Riau - - 4,7 4,7
11 DKI Jakarta 3,7 3,8 3,8 4,1
12 Jawa Barat 5,2 4,4 4,1 4,4
13 Jawa Tengah 3,5 3,4 3,5 4,0
14 DI. Yogyakarta 2,8 3,3 4,4 3,4
15 Jawa Timur 3,6 3,5 2,6 2,9
16 Banten - 4,3 3,4 3,7
17 Bali 4,7 3,8 3,5 3,1
18 Nusa Tenggara Barat 5,4 5,9 4,9 4,8
19 Nusa Tenggara Timur 5,2 6,0 6,2 6,2
20 Kalimantan Barat 4,3 3,9 5,1 5,3
21 Kalimantan Tengah 4,2 5,5 7,1 5,5
22 Kalimantan Selatan 4,3 4,3 5,7 3,8
23 Kalimantan Timur 4,1 6,1 5,7 5,2
24 Sulawesi Utara 4,6 3,9 4,1 3,6
25 Sulawesi Tengah 6,0 6,0 4,0 5,3
26 Sulawesi Selatan 4,7 3,8 4,1 3,9
27 Sulawesi Tenggara 4,4 6,7 5,6 5,7
28 Gorontalo - 6,8 3,8 4,1
29 Sulawesi Barat - - 6,3 4,6
30 Maluku 5,0 - 5,1 4,5
31 Maluku Utara - - 6,5 5,3
32 Papua Barat - - 4,7 5,2
33 Papua 5,9 - 4,2 2,5
Jumlah 4,4 4,1 3,9 4,3
Sumber data: SDKI 1997, 2002-03, 2007, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 96


Tabel 3.15

Persentase yang dilahirkan di Fasilitas Kesehatan di


Indonesia menurut Provinsi Tahun 2012

Kelahiran di Fasilitas
No Provinsi
Kesehatan

1 Aceh 52,9
2 Sumatera Utara 47,8
3 Sumatera Barat 74,5
4 Riau 50,8
5 Jambi 41,1
6 Sumatera Selatan 55,7
7 Bengkulu 34,7
8 Lampung 61,4
9 Bangka Belitung 64,3
10 Kepulauan Riau 81,8
11 DKI Jakarta 96
12 Jawa Barat 63,3
13 Jawa Tengah 75,2
14 DI. Yogyakarta 93,6
15 Jawa Timur 84,6
16 Banten 60,6
17 Bali 97,6
18 Nusa Tenggara Barat 74,3
19 Nusa Tenggara Timur 41
20 Kalimantan Barat 40,8
21 Kalimantan Tengah 22,3
22 Kalimantan Selatan 35,5
23 Kalimantan Timur 63,1
24 Sulawesi Utara 59,4
25 Sulawesi Tengah 30,5
26 Sulawesi Selatan 47,7
27 Sulawesi Tenggara 21,7
28 Gorontalo 40,5
29 Sulawesi Barat 16,2
30 Maluku 21,6
31 Maluku Utara 20,6
32 Papua Barat 38,3
33 Papua 26,8
Jumlah 63
Sumber data: SDKI, 2012

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 97


Tabel 3.16

Persentase penolong persalinan di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2012

Penolong Persalinan

No Provinsi Tidak
Tenaga Saudara/
Dukun Lainnya Tidak ada tahu/tidak Jumlah
Profesional*) Teman
menjawab
1 Aceh 89,8 9,0 0,2 0,2 0,2 0,6 100,0
2 Sumatera Utara 88,4 7,6 3,3 0,1 0,4 0,3 100,0
3 Sumatera Barat 90,5 8,5 0,2 0,0 0,0 0,7 100,0
4 Riau 86,4 11,7 1,1 0,0 0,0 0,8 100,0
5 Jambi 75,7 22,4 1,9 0,0 0,0 0,0 100,0
6 Sumatera Selatan 85,1 13,6 0,9 0,0 0,0 0,5 100,0
7 Bengkulu 87,2 11,3 0,9 0,0 0,0 0,6 100,0
8 Lampung 84,6 13,3 0,7 0,4 0,6 0,3 100,0
9 Bangka Belitung 89,3 8,3 1,3 0,0 0,5 0,7 100,0
10 Kepulauan Riau 94,7 3,7 0,4 0,0 0,0 1,2 100,0
11 DKI Jakarta 98,7 0,5 0,1 0,0 0,0 0,7 100,0
12 Jawa Barat 80,3 17,3 0,7 0,3 0,4 1,1 100,0
13 Jawa Tengah 93,6 5,2 0,5 0,2 0,2 0,5 100,0
14 DI. Yogyakarta 98,0 1,5 0,0 0,0 0,0 0,4 100,0
15 Jawa Timur 89,8 9,2 0,6 0,4 0,0 0,1 100,0
16 Banten 77,3 21,7 0,5 0,0 0,2 0,3 100,0
17 Bali 98,7 0,6 0,5 0,0 0,0 0,2 100,0
18 Nusa Tenggara Barat 81,7 16,4 0,4 0,2 0,6 0,6 100,0
19 Nusa Tenggara Timur 56,8 29,9 10,7 0,8 0,2 1,7 100,0
20 Kalimantan Barat 72,2 25,7 0,5 0,1 0,0 1,5 100,0
21 Kalimantan Tengah 70,2 27,7 1,2 0,0 0,3 0,6 100,0
22 Kalimantan Selatan 80,1 19,3 0,4 0,0 0,0 0,2 100,0
23 Kalimantan Timur 83,8 14,1 2,2 0,0 0,0 0,0 100,0
24 Sulawesi Utara 85,8 12,4 0,2 0,6 0,2 0,8 100,0
25 Sulawesi Tengah 62,9 25,6 11,2 0,0 0,0 0,3 100,0
26 Sulawesi Selatan 75,8 17,8 3,9 0,1 0,9 1,5 100,0
27 Sulawesi Tenggara 65,9 29,6 3,3 0,0 0,2 1,0 100,0
28 Gorontalo 74,9 23,4 1,2 0,0 0,2 0,3 100,0
29 Sulawesi Barat 43,3 43,5 11,2 0,0 1,2 0,8 100,0
30 Maluku 49,9 46,0 2,9 0,0 0,2 1,1 100,0
31 Maluku Utara 51,5 40,8 4,3 0,4 2,4 0,6 100,0
32 Papua Barat 62,6 12,8 16,0 4,6 1,5 2,5 100,0
33 Papua 39,9 9,3 42,2 4,0 3,2 1,3 100,0
Jumlah 83,1 13,5 2,2 0,3 0,3 0,7 100,0
Sumber data: SDKI, 2012
Keterangan : *) Penolong persalinan termasuk dokter, dokter kandungan, peraw at, bidan, dan bidan desa

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 98


Tabel 3.17

Jumlah Kumulatif Kasus HIV dan AIDS Berdasarkan Provinsi


Tahun 2013 (sd Juni)

No Provinsi HIV AIDS

1 Aceh 106 137


2 Sumatera Utara 7.078 515
3 Sumatera Barat 777 802
4 Riau 1.503 859
5 Jambi 512 384
6 Sumatera Selatan 1.288 322
7 Bengkulu 176 160
8 Lampung 832 242
9 Bangka Belitung 380 270
10 Kepulauan Riau 3.200 382
11 DKI Jakarta 24.807 6.299
12 Jawa Barat 8.161 4.131
13 Jawa Tengah 5.406 2.990
14 DI. Yogyakarta 1.693 782
15 Jawa Timur 14.285 6.900
16 Banten 2.764 916
17 Bali 7.073 3.344
18 Nusa Tenggara Barat 574 379
19 Nusa Tenggara Timur 1.389 496
20 Kalimantan Barat 3.760 1.699
21 Kalimantan Tengah 136 93
22 Kalimantan Selatan 227 134
23 Kalimantan Timur 1.957 332
24 Sulawesi Utara 1.881 715
25 Sulawesi Tengah 226 127
26 Sulawesi Selatan 3.178 1.547
27 Sulawesi Tenggara 139 186
28 Gorontalo 30 60
29 Sulawesi Barat 33 4
30 Maluku 1.032 355
31 Maluku Utara 161 123
32 Papua Barat 1.965 187
33 Papua 11.871 7.795
Jumlah 108.600 43.667
Sumber data: Ditjen PP dan PL, Kemenkes, 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 99


Tabel 3.18

Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan
Kepandaian Membaca dan Menulis Tahun 2006 dan 2011

No Provinsi 2006 2007 2008 2009 2010 2011

1 Aceh 94,85 95,13 96,39 96,87 97,26 95,84


2 Sumatera Utara 97,00 97,04 97,36 97,53 97,60 96,83
3 Sumatera Barat 96,35 96,49 97,00 97,21 97,40 96,20
4 Riau 97,54 97,53 97,98 98,31 98,51 97,61
5 Jambi 95,26 95,39 95,83 96,07 96,33 95,52
6 Sumatera Selatan 96,91 96,97 97,37 97,53 97,66 96,65
7 Bengkulu 94,50 94,56 95,26 95,54 95,85 95,13
8 Lampung 93,70 93,90 94,40 95,05 95,25 95,02
9 Kep. Bangka Belitung 95,33 95,24 95,71 95,87 95,88 95,60
10 Kep. Riau 95,77 96,03 96,29 96,46 97,49 97,67
11 DKI Jakarta 98,34 98,83 98,84 99,01 99,19 98,83
12 Jawa Barat 95,52 95,85 96,07 96,44 96,62 95,96
13 Jawa Tengah 89,56 89,91 90,46 90,64 91,02 90,34
14 DI Yogyakarta 87,53 88,86 90,25 90,98 91,62 91,49
15 Jawa Timur 88,36 88,66 88,60 89,01 89,47 88,52
16 Banten 95,60 95,76 95,78 96,44 96,60 96,25
17 Bali 87,14 87,32 88,22 88,48 89,49 89,17
18 Nusa Tenggara Barat 81,65 82,44 82,49 82,80 83,49 83,24
19 Nusa Tenggara Timur 87,98 88,53 88,99 89,66 90,16 87,63
20 Kalimantan Barat 90,31 90,61 89,84 90,94 91,43 90,03
21 Kalimantan Tengah 96,80 96,98 97,52 97,68 97,78 96,86
22 Kalimantan Selatan 94,60 94,67 95,59 95,90 96,34 95,66
23 Kalimantan Timur 95,96 96,13 96,71 97,18 97,36 96,99
24 Sulawesi Utara 99,00 98,94 99,17 99,27 99,35 98,85
25 Sulawesi Tengah 95,37 95,29 96,01 96,25 96,50 94,51
26 Sulawesi Selatan 87,28 87,72 88,10 88,67 89,16 88,07
27 Sulawesi Tenggara 91,24 91,64 92,21 92,66 92,90 91,29
28 Gorontalo 95,89 95,81 95,72 96,18 96,39 94,69
29 Sulawesi Barat 87,49 87,86 88,81 89,19 89,91 87,61
30 Maluku 96,89 97,16 97,55 97,77 97,79 96,63
31 Maluku Utara 95,04 95,22 95,91 96,22 96,52 96,01
32 Papua Barat 89,23 90,62 92,19 93,60 95,59 92,41
33 Papua 71,58 76,85 74,43 72,23 70,41 64,08
INDONESIA 92,39 92,74 93,05 93,41 93,66 92,81
Sumber: Statistik Kesejahteraan Rakyat 2007, 2008, 2009, 2010, 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 100


Tabel 3.19

Angka Partisipasi Sekolah ( A P S ) Menurut Provinsi, 2012

2012**
No Provinsi
7-12 13-15 16-18 19-24
1 Aceh 99,35 94,41 74,44 28,67
2 Sumatera Utara 98,59 90,85 69,73 17,36
3 Sumatera Barat 98,38 90,79 71,38 27,64
4 Riau 98,14 87,64 65,79 16,00
5 Kepulauan Riau 98,27 94,96 69,72 9,6
6 Jambi 98,65 90,83 59,11 15,23
7 Sumatera Selatan 98,04 88,52 58,31 13,55
8 Kep Bangka Belitung 97,74 83,52 50,89 8,67
9 Bengkulu 98,96 92,63 66,71 19,32
10 Lampung 98,59 90,03 59,8 11,6
11 DKI Jakarta 98,97 93,79 60,81 17,79
12 Jawa Barat 98,34 88,51 55,69 12,09
13 Banten 98,29 90,97 58,58 15,55
14 Jawa Tengah 98,87 89,59 58,56 11,78
15 DI Yogyakarta 99,77 98,32 80,22 44,32
16 Jawa Timur 98,66 91,7 61,68 14,35
17 Bali 99,2 95,15 70,8 18,62
18 Nusa Tenggara Barat 98,19 91,55 60,75 17,59
19 Nusa Tenggara Timur 96,12 88,68 62,15 18,36
20 Kalimantan Barat 96,63 85,22 54,65 14,18
21 Kalimantan Tengah 98,5 85,55 54,06 13,65
22 Kalimantan Selatan 97,9 85,35 57,55 16,68
23 Kalimantan Timur 99,17 96,53 71,16 19,22
24 Sulawesi Utara 98,22 88,5 65,43 16,25
25 Gorontalo 97,52 82,57 57,82 20,07
26 Sulawesi Tengah 96,54 84,42 59,6 16,23
27 Sulawesi Selatan 97,59 87,69 61,6 22,76
28 Sulawesi Barat 95,66 81,13 56,37 14,21
29 Sulawesi Tenggara 97,41 87,85 65,26 23,7
30 Maluku 98,3 94,66 68,4 29,00
31 Maluku Utara 98,24 90,87 68,26 21,7
32 Papua 75,34 68,99 50,66 13,8
33 Papua Barat 95,56 91,65 67,18 19,9
Indonesia 97,95 89,66 61,06 15,84
Sumber data: BPS-RI, Susenas 2012
Note:
** M ulai tahun 2007 dan tahun-tahun berikutnya APS mencakup pendidikan non formal
(paket A setara SD/M I, paket B setara SM P/M Ts dan paket C setara SM /SM K/M A)

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 101


Tabel 3.20

Angka Partisipasi Murni (APM) Menurut Provinsi, Jenis Kelamin, dan Jenjang Pendidikan Formal dan Non Formal
Tahun 2011

SD SMP SMU
No PROVINSI
Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total Laki-laki Perempuan Total
1 Aceh 92,87 92,24 92,57 72,58 77,09 74,76 61,82 61,02 61,43
2 Sum atera Utara 91,61 91,3 91,46 67,05 68,99 67,96 55,34 60,35 57,83
3 Sum atera Barat 94,25 92,58 93,47 63,52 71,36 67,1 48,44 60,33 54,05
4 Riau 90,82 92,57 91,67 61,51 70,38 65,98 50,27 55,89 53,07
5 Kepulauan Riau 92,77 91,3 92,01 74,4 72,27 73,34 52,65 56,2 54,25
6 Jam bi 93,06 92,28 92,69 62,53 71,08 66,54 47,55 49,73 48,55
7 Sum atera Selatan 91,17 88,33 89,79 62,99 65,34 64,12 42,97 48,1 45,34
8 Kep, Bangka Belitung 91,51 90,7 91,12 55,81 65,08 60,19 38,77 43,5 40,91
9 Bengkulu 93,32 92,15 92,75 67,78 69,41 68,55 47,08 53,07 49,91
10 Lam pung 92,83 89,98 91,47 63,61 69,9 66,56 40,45 50,46 45,06
11 DKI Jakarta 91,95 87,57 89,79 71,57 65,94 68,85 52,18 46,7 49,27
12 Jawa Barat 93,04 91,41 92,26 69,58 69,57 69,57 43,53 41,3 42,5
13 Banten 92,71 91,59 92,18 71,13 71,12 71,12 47,12 45,16 46,17
14 Jawa Tengah 91,00 89,3 90,19 67,85 71,89 69,77 47,15 47,54 47,34
15 DI Yogyakarta 91,8 92,19 91,98 67,79 70,5 69,15 60,51 58,9 59,68
16 Jawa Tim ur 92,18 91,55 91,88 71,48 72,09 71,77 51,11 47,43 49,32
17 Bali 91,57 89,06 90,39 65,99 72,94 69,16 63,56 57,47 60,54
18 Nus a Tenggara Barat 92,41 92,97 92,69 76,62 76,78 76,7 53,95 53,91 53,93
19 Nus a Tenggara Tim ur 92,35 91,89 92,13 52,33 61,36 56,74 38,37 43,28 40,84
20 Kalim antan Barat 92,16 92,21 92,18 57,4 60,26 58,75 34,77 37,71 36,28
21 Kalim antan Tengah 92,38 92,11 92,25 65,55 67,24 66,35 42,34 45,8 43,93
22 Kalim antan Selatan 92,67 91,27 92,01 63,83 67,92 65,79 42,22 43,82 43,01
23 Kalim antan Tim ur 92,18 92,27 92,23 71,74 73,15 72,4 52,98 56,38 54,58
24 Sulawes i Utara 86,54 85,21 85,91 59,8 62,74 61,22 43,85 58,02 50,55
25 Gorontalo 87,84 92,46 90,04 60,11 58,2 59,17 38,94 50,24 44,33
26 Sulawes i Tengah 90,14 89,82 89,99 60,56 62,91 61,74 48,18 45,66 46,99
27 Sulawes i Selatan 89,51 89,45 89,48 62,44 68,19 65,29 48,2 47,59 47,89
28 Sulawes i Barat 89,12 89,61 89,35 58,6 62,38 60,34 46,83 46,83 46,83
29 Sulawes i Tenggara 89,16 88,45 88,8 65,27 63,39 64,31 51,83 52,48 52,16
30 Maluku 88,48 87,5 88 62,91 65,85 64,33 50,12 55,21 52,64
31 Maluku Utara 90,59 89,23 89,95 65,49 66,41 65,92 48,86 55,51 51,88
32 Papua 70,56 69,63 70,13 45,34 46,85 46,03 32,54 32,34 32,45
33 Papua Barat 88,44 88,1 88,28 59,03 56,19 57,66 49,09 46,62 47,88
INDONESIA 91,56 90,46 91,03 67,01 69,32 68,12 47,64 48,31 47,97
Sumber data: Stati sti k Kesej ahteraan Rakyat 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 102 102


Tabel 3.21

Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun


ke-atas Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin Tahun 2011

2011
No Provinsi
Laki-laki Perempuan
1 Aceh 9,1 8,6
2 Sumatera Utara 9,1 8,5
3 Sumatera Barat 8,5 8,3
4 Riau 8,8 8,4
5 Jambi 8,4 7,6
6 Sumatera Selatan 8,1 7,5
7 Bengkulu 8,5 8,0
8 Lampung 7,9 7,4
9 Bangka Belitung 7,9 7,2
10 Kep. Riau 9,8 9,5
11 DKI Jakarta 10,9 9,9
12 Jawa Barat 8,3 7,5
13 Jawa Tengah 7,6 6,7
14 DI Yogyakarta 9,7 8,6
15 Jawa Timur 7,8 6,8
16 Banten 8,9 7,9
17 Bali 9,1 7,6
18 Nusa Tenggara Barat 7,5 6,4
19 Nusa Tenggara Timur 7,1 6,6
20 Kalimantan Barat 7,3 6,4
21 Kalimantan Tengah 8,2 7,7
22 Kalimantan Selatan 8,0 7,3
23 Kalimantan Timur 9,5 8,8
24 Sulawesi Utara 8,8 8,9
25 Sulawesi Tengah 8,2 7,8
26 Sulawesi Selatan 8,0 7,5
27 Sulawesi Tenggara 8,6 7,8
28 Gorontalo 7,0 7,6
29 Sulawesi Barat 7,3 6,6
30 Maluku 8,9 8,6
31 Maluku Utara 8,6 7,8
32 Papua Barat 9,3 8,3
33 Papua 6,6 5,0
INDONESIA 8,3 7,5
Sumber data: Statistik Kesejahteraan Rakyat: 2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 103


Tabel 3.22

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Provinsi, 2007 - 2011 (Juta Rupiah)

No Provinsi 2007 2008 2009 2010*) 2011**)

1 Aceh 71,093,359.40 73,547,550.72 71,986,954.00 77,983,775.69 85,537,965.91


2 Sumatera Utara 181,819,737.32 213,931,696.78 236,353,615.83 275,700,207.28 314,156,937.46
3 Sumatera Barat 59,799,045.30 70,954,515.42 76,752,937.71 87,221,254.06 98,917,269.39
4 Riau 210,002,560.30 276,400,129.95 297,173,028.31 345,661,313.79 413,350,122.80
5 Jambi 32,076,677.16 41,056,483.56 44,127,005.65 53,816,693.02 63,268,138.39
6 Sumatera Selatan 109,895,707.00 133,664,987.00 137,331,848.00 157,534,956.00 181,776,073.00
7 Bengkulu 12,874,344.46 14,915,886.85 16,385,364.18 18,649,601.15 21,150,289.62
8 Lampung 60,921,966.22 73,719,258.60 88,934,860.61 108,378,506.78 128,408,894.93
9 Kep. Bangka Belitung 17,895,016.56 21,421,340.26 22,997,898.59 26,565,031.61 30,254,777.26
10 Kep. Riau 51,826,271.88 58,574,996.29 63,892,937.49 71,614,514.31 80,242,793.63
11 DKI Jakarta 566,449,360.08 677,044,743.16 757,696,594.05 862,089,736.64 982,540,043.96
12 Jaw a Barat 526,220,225.16 633,283,483.36 689,841,314.34 771,593,860.47 861,006,347.79
13 Jaw a Tengah 312,428,807.09 367,135,954.90 397,903,943.75 444,692,014.59 498,614,636.36
14 DI. Yogyakarta 32,916,736.41 38,101,684.50 41,407,049.50 45,625,589.50 51,782,092.43
15 Jaw a Timur 536,981,881.91 621,391,674.61 686,847,557.72 778,565,772.46 884,143,574.81
16 Banten 122,843,946.60 139,864,778.32 152,556,215.59 171,690,413.57 192,218,910.27
17 Bali 44,003,379.64 51,916,170.34 60,292,239.32 66,690,598.13 73,478,161.87
18 Kalimantan Barat 43,540,865.48 49,132,965.97 54,281,172.42 60,501,505.09 66,780,221.81
19 Kalimantan Tengah 27,931,949.58 32,760,167.75 37,161,800.06 42,620,950.16 49,072,507.10
20 Kalimantan Selatan 39,438,767.06 45,843,793.53 51,460,175.70 59,821,156.82 68,234,880.54
21 Kalimantan Timur 222,628,920.93 314,813,520.84 285,590,821.55 321,904,879.64 390,638,617.39
22 Sulaw esi Utara 24,081,132.54 28,697,756.23 33,033,609.80 36,911,814.52 41,505,118.26
23 Sulaw esi Tengah 23,218,709.21 28,727,505.31 32,461,331.62 37,319,062.92 44,317,854.52
24 Sulaw esi Selatan 69,271,924.56 85,143,191.27 99,954,589.75 117,862,210.18 137,389,879.40
25 Sulaw esi Tenggara 17,953,074.41 22,202,848.01 25,655,940.66 28,369,031.41 32,032,498.80
26 Gorontalo 4,760,695.43 5,906,736.28 7,069,054.18 8,056,512.92 9,153,669.04
27 Sulaw esi Barat 6,192,785.57 8,296,605.60 9,403,378.61 10,986,624.75 12,895,358.24
28 Nusa Tenggara Barat 33,522,225.01 35,314,731.04 44,014,619.43 49,559,794.14 48,729,106.73
29 Nusa Tenggara Timur 19,136,982.17 21,655,869.37 24,179,412.16 27,738,760.20 31,204,406.40
30 Maluku 5,698,799.37 6,269,957.84 7,069,642.15 8,084,807.44 9,594,886.01
31 Maluku Utara 3,160,041.71 3,862,243.13 4,691,161.48 5,389,831.57 6,056,973.74
32 Papua Barat 10,367,278.69 13,975,126.50 18,144,492.99 26,879,612.63 36,170,455.69
33 Papua 55,380,453.41 61,516,238.47 76,886,679.01 87,776,576.67 76,370,616.08
Jumlah 33 Provinsi 3,556,333,627.61 4,271,044,591.76 4,653,539,246.22 5,293,856,970.11 6,020,994,079.64
Catatan :
Perbedaan antara jumlah PDRB 33 PROVINSI dan PDB Indonesia antara lain disebabkan oleh diskrepansi statistik
*) Angka Sementara
**) Angka Sangat Sementara

Sumber data: Badan Pusat Statistik, 2007-2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 104


Tabel 3.23

Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Provinsi, 2007 - 2011 (Juta Rupiah)

No Provinsi 2007 2008 2009 2010*) 2011**)

1 Aceh 35,983,090.79 34,097,992.47 32,219,086.32 33,118,170.55 34,779,702.73


2 Sumatera Utara 99,792,273.27 106,172,360.10 111,559,224.81 118,640,902.74 126,450,621.90
3 Sumatera Barat 32,912,968.59 35,176,632.43 36,683,238.69 38,860,187.68 41,276,406.36
4 Riau 86,213,259.46 91,085,381.81 93,786,236.58 97,707,498.51 102,605,913.65
5 Jambi 14,275,161.32 15,297,770.57 16,274,907.72 17,470,653.43 18,962,396.90
6 Sumatera Selatan 55,262,114.00 58,065,455.00 60,452,944.00 63,858,153.00 68,011,310.00
7 Bengkulu 7,037,404.03 7,441,873.08 7,859,919.71 8,336,018.75 8,869,250.28
8 Lampung 32,694,889.62 34,443,151.77 36,256,295.04 38,378,425.12 40,829,411.29
9 Kep. Bangka Belitung 9,464,539.15 9,899,925.78 10,270,106.49 10,879,422.58 11,575,263.56
10 Kep. Riau 34,713,813.64 37,014,735.92 38,318,828.63 41,075,858.84 43,816,718.59
11 DKI Jakarta 332,971,254.83 353,723,390.53 371,469,499.10 395,633,574.64 422,162,570.82
12 Jaw a Barat 274,180,307.83 291,205,836.70 303,405,250.51 322,223,816.79 343,111,243.18
13 Jaw a Tengah 159,110,253.77 168,034,483.29 176,673,456.57 186,995,480.65 198,226,349.47
14 DI. Yogyakarta 18,291,511.71 19,212,481.03 20,064,256.65 21,044,041.54 22,129,706.62
15 Jaw a Timur 288,404,312.28 305,538,686.62 320,861,168.91 342,280,765.51 366,984,301.20
16 Banten 75,349,610.92 79,700,684.04 83,453,729.29 88,525,884.79 94,222,355.05
17 Bali 24,449,885.70 25,910,325.54 27,290,945.61 28,880,686.20 30,753,674.05
18 Kalimantan Barat 26,019,737.63 27,438,791.32 28,756,875.70 30,299,808.07 32,100,656.04
19 Kalimantan Tengah 15,754,508.67 16,726,459.02 17,657,791.69 18,803,675.62 20,070,727.71
20 Kalimantan Selatan 25,922,287.52 27,593,092.50 29,051,630.55 30,674,123.86 32,552,849.54
21 Kalimantan Timur 98,386,381.52 103,206,871.34 105,564,937.57 110,886,682.21 115,244,165.43
22 Sulaw esi Utara 14,344,302.07 15,902,073.26 17,149,624.49 18,376,750.93 19,734,270.17
23 Sulaw esi Tengah 13,961,146.12 15,047,428.54 16,207,595.71 17,626,173.79 19,239,945.04
24 Sulaw esi Selatan 41,332,426.29 44,549,824.55 47,326,078.38 51,199,899.85 55,116,919.80
25 Sulaw esi Tenggara 9,331,719.95 10,010,586.35 10,768,577.19 11,650,187.12 12,661,942.71
26 Gorontalo 2,339,217.51 2,520,672.95 2,710,737.05 2,917,491.33 3,141,458.12
27 Sulaw esi Barat 3,567,816.12 3,998,502.00 4,239,460.87 4,744,309.49 5,238,359.96
28 Nusa Tenggara Barat 16,369,220.45 16,831,600.88 18,874,403.52 20,069,888.61 19,432,291.68
29 Nusa Tenggara Timur 10,902,404.44 11,429,772.58 11,920,601.87 12,543,821.97 13,249,720.21
30 Maluku 3,633,475.12 3,787,271.11 3,993,139.25 4,251,356.30 4,507,336.14
31 Maluku Utara 2,501,175.13 2,651,107.75 2,812,039.15 3,035,648.37 3,230,209.77
32 Papua Barat 5,934,315.82 6,399,528.24 7,286,977.24 9,366,407.50 11,916,133.71
33 Papua 19,200,297.42 18,931,841.59 23,138,444.49 22,407,284.20 21,137,537.80
Jumlah 33 Provinsi 1,890,607,082.70 1,999,046,590.66 2,094,358,009.37 2,222,763,050.54 2,363,341,719.46
Catatan :
Perbedaan antara jumlah PDRB 33 PROVINSI dan PDB Indonesia antara lain disebabkan oleh diskrepansi statistik
*) Angka Sementara
**) Angka Sangat Sementara

Sumber data: Badan Pusat Statistik, 2007-2011

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 105


Tabel 3.24

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Provinsi Tahun 2009 - 2012

Jum lah Penduduk Miskin (dalam juta) Persentase Penduduk Miskin


No Provinsi
2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012
1 Aceh 892,80 861,85 894,81 909,04 21,80 20,98 19,57 19,46
2 Sumatera Utara 1.499,70 1.490,89 1.481,31 1.407,25 11,51 11,31 11,33 10,67
3 Sumatera Barat 429,30 430,02 442,09 404,74 9,54 9,50 9,04 8,19
4 Riau 527,50 500,26 482,05 483,07 9,48 8,65 8,47 8,22
5 Kep. Riau 128,20 241,61 129,56 131,22 8,27 8,34 7,4 7,11
6 Jambi 249,70 1.125,73 272,67 271,67 8,77 15,47 8,65 8,42
7 Sumatera Selatan 1.167,90 324,93 1.074,81 1.057,03 16,28 18,30 14,24 13,78
8 Kep. Bangka Belitung 76,60 1.479,93 72,06 71,36 7,46 18,94 5,75 5,53
9 Bengkulu 324,10 67,75 303,60 311,66 18,59 6,51 17,5 17,7
10 Lampung 1.558,30 129,66 1.298,71 1.253,83 20,22 8,05 16,93 16,18
11 DKI Jakarta 323,20 312,18 363,42 363,20 3,62 3,48 3,75 3,69
12 Jaw a Barat 4.983,60 4.773,72 4.648,63 4.477,53 11,96 11,27 10,65 10,09
13 Banten 788,10 5.369,16 690,49 652,80 7,64 16,56 6,32 5,85
14 Jaw a Tengah 5.725,70 577,30 5.107,36 4.977,36 17,72 16,83 15,76 15,34
15 DI Yogyakarta 585,80 5.529,30 560,88 565,32 17,23 15,26 16,08 16,05
16 Jaw a Timur 6.022,60 758,16 5.356,21 5.070,98 16,68 7,16 14,23 13,4
17 Bali 181,70 174,93 166,23 168,78 5,13 4,88 4,2 4,18
18 Nusa Tenggara Barat 1.050,90 1.009,35 894,77 852,64 22,78 21,55 19,73 18,63
19 Nusa Tenggara Timur 1.013,10 1.014,09 1.012,90 1.012,52 23,31 23,03 21,23 20,88
20 Kalimantan Barat 434,80 428,76 380,11 363,31 9,30 9,02 8,6 8,17
21 Kalimantan Tengah 165,90 164,22 146,91 148,05 7,07 6,77 6,56 6,51
22 Kalimantan Selatan 176,00 181,96 194,62 189,88 5,12 5,21 5,29 5,06
23 Kalimantan Timur 239,20 243,00 247,90 253,34 7,73 7,66 6,77 6,68
24 Sulaw esi Utara 219,60 206,72 194,90 189,12 9,79 9,10 8,51 8,18
25 Gorontalo 224,60 474,99 198,27 186,91 25,01 18,07 18,75 17,33
26 Sulaw esi Tengah 489,80 913,43 423,63 418,64 18,98 11,60 15,83 15,4
27 Sulaw esi Selatan 963,60 400,70 832,91 825,79 12,31 17,05 10,29 10,11
28 Sulaw esi Barat 158,20 209,89 164,86 160,46 15,29 23,19 13,89 13,24
29 Sulaw esi Tenggara 434,30 141,33 330,00 316,33 18,93 13,58 14,56 13,71
30 Maluku 380,00 378,63 360,32 350,23 28,23 27,74 23 21,78
31 Maluku Utara 98,00 91,07 97,31 91,79 10,36 9,42 9,18 8,47
32 Papua 760,30 256,25 944,79 966,59 37,53 34,88 31,98 31,11
33 Papua Barat 256,80 761,62 249,84 229,99 35,71 36,80 31,92 28,2
INDONESIA 32.529,90 31.023,39 30.018,93 29.132,40 14,15 13,33 12,49 11,96
Sumber data: Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia tahun, 2013

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 106


Tabel 3.25

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin


Tahun 2010

No Provinsi Laki-laki Perempuan Total

1 Aceh 77,2 44,9 60,8


2 Sumatera Utara 79,5 46,3 62,6
3 Sumatera Barat 78,1 43,9 60,5
4 Riau 82,0 32,8 58,1
5 Jambi 83,9 42,0 63,3
6 Sumatera Selatan 81,6 49,8 65,9
7 Bengkulu 83,1 55,6 69,6
8 Lampung 84,1 50,0 67,6
9 Kep.Bangka Belitung 85,4 34,8 61,2
10 Kep. Riau 86,6 41,5 64,6
11 DKI Jakarta 80,6 42,0 61,5
12 Jawa Barat 80,6 35,8 58,5
13 Jawa Tengah 82,2 55,5 68,6
14 DI Yogyakarta 77,6 59,7 68,4
15 Jawa Timur 82,4 51,3 66,6
16 Banten 78,5 36,8 58,1
17 Bali 83,1 64,5 73,8
18 Nusa Tenggara Barat 77,5 53,2 64,7
19 Nusa Tenggara Timur 81,2 65,7 73,2
20 Kalimantan Barat 83,2 53,2 68,5
21 Kalimantan Tengah 86,1 51,3 69,5
22 Kalimantan Selatan 83,5 48,6 66,1
23 Kalimantan Timur 83,0 34,6 60,2
24 Sulawesi Utara 79,4 34,9 57,5
25 Sulawesi Tengah 84,2 47,3 66,1
26 Sulawesi Selatan 84,2 47,3 66,1
27 Sulawesi Tenggara 81,8 52,0 66,7
28 Gorontalo 80,7 40,0 60,2
29 Sulawesi Barat 85,0 55,3 70,0
30 Maluku 74,3 46,4 62,8
31 Maluku Utara 78,6 46,4 62,8
32 Papua Barat 77,4 44,5 62,0
33 Papua 83,6 68,3 76,3
Indonesia 81,2 46,8 64,0
Sumber data: Sensus Penduduk Tahun 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 107


Tabel 3.26

Tingkat Pengangguran Terbuka Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin


Tahun 2010

No Provinsi Laki-laki Perempuan Total

1 Aceh 1,4 3,1 2,0


2 Sumatera Utara 1,9 3,7 2,6
3 Sumatera Barat 1,5 2,9 2,0
4 Riau 1,6 4,8 2,5
5 Jambi 1,0 2,6 1,5
6 Sumatera Selatan 1,4 2,8 2,0
7 Bengkulu 1,0 2,0 1,4
8 Lampung 1,2 2,5 1,7
9 Kep.Bangka Belitung 1,0 3,6 1,7
10 Kep. Riau 2,5 5,0 3,3
11 DKI Jakarta 3,0 5,3 3,8
12 Jawa Barat 3,0 6,0 3,9
13 Jawa Tengah 2,4 3,5 2,9
14 DI Yogyakarta 2,3 2,7 2,5
15 Jawa Timur 1,7 2,7 2,1
16 Banten 2,8 5,7 3,7
17 Bali 1,0 1,4 1,1
18 Nusa Tenggara Barat 1,5 2,6 2,0
19 Nusa Tenggara Timur 0,8 1,3 1,0
20 Kalimantan Barat 1,3 2,4 1,7
21 Kalimantan Tengah 0,9 2,4 1,4
22 Kalimantan Selatan 1,3 2,1 1,6
23 Kalimantan Timur 2,8 6,1 3,7
24 Sulawesi Utara 2,2 8,9 4,2
25 Sulawesi Tengah 0,9 3,0 1,7
26 Sulawesi Selatan 1,4 3,0 2,0
27 Sulawesi Tenggara 1,1 2,6 1,7
28 Gorontalo 0,8 2,4 1,3
29 Sulawesi Barat 0,7 1,9 1,2
30 Maluku 1,4 3,0 2,0
31 Maluku Utara 0,6 1,6 1,0
32 Papua Barat 2,1 4,0 2,7
33 Papua 0,8 1,2 1,0
Indonesia 2,0 3,6 2,6
Sumber data: Sensus Penduduk Tahun 2010

PROFIL KEPENDUDUKAN DAN PEMBANGUNAN DI INDONESIA 108