Anda di halaman 1dari 17

CSR, Kepedulian yang Salah Peduli

3. CORPORATE Social Responsibility (CSR) sejak tahun 2007 sampai hari ini

terus menjadi pembicaraan. Banyak yang pro, banyak kontra dan banyak juga

yang netral atau tidak mau tahu. Bagi yang kontra melihat pasal dalam UU

Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) pada pasal 74 berisi

tentang pewajiban tanggungjawab sosial dan lingkungan.

Kata pewajiban itu memunculkan tanggapan negatif dari para pengusaha

Indonesia seperti Kamar Dagang Indonesia (Kadin), IWAPI dan HIMPI yang

mengadukan UU itu ke Mahkamah Konstitusi (MK) dengan argumentasi

program CSR harus bersifat sukarela, tergantung kepada ukuran perusahaan

dan sektor-sektor dimana perusahaan itu beroperasi.

Para pengusaha yang tergabung dalam Kadin, IWAPI dan HIMPI meminta

judicial review terhadap pasal dalam UU No 40 tahun 2007 itu kepada MK.

Namun, akhirnya pada 15 April 2009, MK memutuskan CSR tetap bersifat

wajib dilaksanakan bagi para perusahaan di Indonesia.

Para perusahaan Indonesia yang kontra untuk melaksanakan CSR karena pada

pasal 74 yakni pertama UU No 40 tahun 2007 itu harus jelas dengan Peraturan

Pemerintah (PP) untuk mengaturnya. Kedua, pewajiban CSR bagi perusahaan

di Indonesia belum jelas tentang penentuannya kepada siapa dan kepada

kelompok mana sasaran CSR itu.

Hal itu karena pada pasal 74 itu disebutkan untuk masyarakat setempat yang
memunculkan pertanyaan, masyarakat setempat yang mana. Ketiga kontra

dengan pasal 74 UU Nomor 40 tahun 2007 tentang PT itu karena perusahaan

sudah diwajibkan sejumlah pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah.

Tidak Jelas Sasaran

Tiga alasan kontra dengan pasal 74 itu bisa dipahami. Sebab perusahaan di

Indonesia diwajibkan membayar sejumlah pajak. Beda dengan di Amerika

Serikat, perusahaan yang melakukan program CSR diatur dalam peraturan

pemerintah yang mengatur pemotongan pajak (tax deduction). Pengaturan

seperti itu belum ada di Indonesia sehingga eksistensi CSR kurang jelas dan

cenderung tumpang tindih dengan kewajiban lain seperti kewajiban membayar

sejumlah pajak, restribusi dan yang lainnya.

Dasar hukum keberadaan CSR karena adanya pasal 74 UU No 40/2007

tentang PT yang memunculkan kontra, pro dan netral (tidak mau tahu) dengan

munculnya CSR di perusahaan. Namun, kini CSR telah bergaung, menjadi

pembicaraan serius pada perusahan di Indonesia.

Sementara CSR bukan barang baru bagi perusahaan di berbagai belahan dunia

seperti Eropa, Inggeris, Prancis dan lainnya. Namun, konsep CSR dan bentuk

CSR itu tidak sama dengan yang ada di Indonesia. Cara pendekatan dan

menerapan CSR perusahaan di Indonesia masih menyimpan banyak masalah.

Karena sesungguhnya CSR Indonesia bukan fokus kepada kepedulian

terhadap lingkungan hidup yang ada di sekitar perusahaan.


Konsep masyarakat setempat belum jelas dan tegas. Beda dengan

perusahaan di luar Indonesia melaksanakan CSR. Perusahaan mampu

meningkatkan daya saing karena melaksanakan CSR yang sesungguhnya

untuk lingkungan hidup. Hasilnya perusahaan itu memperoleh dukungan

penuh dari masyarakat. Dukungan masyarakat menjadi penting karena dengan

adanya dukungan masyarakat maka perusahaan dapat meningkatkan citra

perusahaan.

Bila citra perusahaan meningkat maka harga di pasar saham meningkat,

perusahaan akan lebih mudah memeroleh tambahan modal apabila diperlukan.

Perusahaan juga mudah memeroleh sumber daya manusia yang berkualitas

karena citra perusahaan sangat baik di mata publik.

Berdasarkan data, perusahaan di negara maju melaksanakan CSR bukan

semata-mata mengamankan masyarakat agar tidak mendemo perusahaan

karena dinilai tidak ramah lingkungan. Keberhasilan CSR pada perusahaan di

luar negeri umumnya karena melekatkan CSR itu pada strategi berbisnis,

strategi bersaing, strategi kemajuan perusahaan. Artinya, melekat dengan

aktivitas bisnis perusahaan itu sendiri. Misalnya, General Electrics menjadi

sangat kuat posisinya dalam pasar mesin pesawat terbang karena berhasil

membuat mesin pesawat jauh lebih hemat dalam konsumsi bahan bakar.

Konsep CSR yang memiliki nilai inovasi merupakan hasil kolaborasi dari

komitmen untuk membuat berbagai produk yang lebih ramah lingkungan dan

bersaing sehat dengan kompetitornya. (Herz, S, Vina, and Sohn, J.2007.


Development withhout Conflict. The Business Case for Community Consent.

World Resource Institute. Washington D.C)

Konsep CSR yang melestarikan lingkungan hidup merupakan tujuan ideal dari

CSR itu. Contoh sederhana, bila ada aktivitas perusahaan di satu daerah maka

daerah itu akan berkembang seiring dengan munculnya perusahaan. Misalnya,

ada perusahaan pabrik kelapa sawit (PKS) pada satu daerah, maka masyarakat

sekitar di daerah itu akan maju dan berkembang. CSR dari PKS itu adalah

para petani memiliki lahan pertanian maka akan menjadi petani kepala sawit

yang tangguh.

Masyarakat sekitar yang memiliki modal akan menjadi pengusaha angkutan

CPO, menjadi pengusaha rumah makan. Bagi masyarakat yang tidak memiliki

pekerjaan (pengangguran) akan bekerja sesuai keahliannya.

Tidak Ada Paksaan

Kepedulian sosial dari perusahaan sangat tepat karena adanya masyarakat

maka adanya perusahaan. Masyarakat dan perusahaan harus bersinergi untuk

meraih keberhasilan. Kepedulian bebas dari unsur paksaan atau keterpaksaan

maka apa bila UU tentang PT pada pasal 74 menjadi kewajiban jelas tumpang

tindih dengan kewajiban perusahaan kepada pemerintah dalam bentuk pajak.

Pelaksanaan CSR perusahaan idealnya tidak harus adanya regulasi.

Pemerintah dapat melakukan banyak aktivitas nonregulatori untuk mendorong

CSR seperti koordinasi kebijakan mengenai CSR antardepartemen,

meningkatkan profil CSR, membiayai penelitian-penelitian tentang CSR,


memberikan insentif buat perusahaan yang memiliki kinerja CSR. Artinya,

pemerintah memotivasi perusahaan agar melaksanakan CSR yang nantinya

untuk kebaikan perusahaan itu sendiri, sesuai prinsip dari CSR untuk

meningkatkan citra perusahaan.

Ini telah dibuktikan di Eropa, pemerintahnya mendorong perusahaan untuk

melaksanakan CSR yang tidak dimulai dari regulasi (atau tidak membuat

regulasi) atas CSR, tetapi mendorong perusahaan dengan nonregulasi. Hal itu

tepat karena regulasi berpotensi untuk memindahkah apa yang menjadi beban

pemerintah kepada perusahaan (swasta). Artinya, pemerintah tidak boleh

meminta perusahaan menyisihkan dana untuk pendidikan, karena pemerintah

mempunyai kewajiban konstitusi untuk menyediakan dana pendidikan dari

APBN dan APBD. Dapat dibayangkan bila yang demikian dilakukan maka

ketika projek selesai maka pemerintah atau oknum yang ada di pemerintahan

bisa saja mengklaim projek itu dibiayai APBD atau APBN.

Kondisi ini berpeluang besar untuk korupsi, maka hakekat CSR menjadi

kabur, pada hal CSR merupakan bagian dari perusahaan untuk tumbuh,

berkembang bersama masyarakat sekitar karena citra perusahaan merupakan

pintu gerbang untuk kesuksesan perusahaan pada semua sektor. (Oleh:Ir

Fadmin P
Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social
Responsibility (CSR)

Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah


suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan
adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang
saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

CSR berhubungan erat dengan "pembangunan berkelanjutan", di mana ada


argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya harus
mendasarkan keputusannya tidak semata berdasarkan faktor keuangan, misalnya
keuntungan atau deviden melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial
dan lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.

Istilah CSR yang mulai dikenal sejak tahun 1970-an, saat ini menjadi salah satu
bentuk inovasi bagi hubungan perusahaan dengan masyarakat dan konsumen.
CSR kini banyak diterapkan baik oleh perusahaan multi-nasional maupun
perusahaan nasional atau lokal. CSR adalah tentang nilai dan standar yang
berkaitan dengan beroperasinya sebuah perusahaan dalam suatu masyarakat. CSR
diartikan sebagai komitmen usaha untuk beroperasi secara legal dan etis yang
berkonstribusi pada peningkatan kualitas kehidupan karyawan dan keluarganya,
komunitas lokal dan masyarakat luas dalam kerangka mewujudkan pembangunan
berkelanjutan.

CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan dan
dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya (corporate
culture); dan etika yang dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya
masyarakata. Prisnsip-prinsip atau azas yang berlaku di masyarakat juga termasuk
berbagai peraturan dan regulasi pemerintah sebagai bagian dari sistem
ketatanegaraan.

Analisis dan pengembangan


Hal yang menjadi perhatian terbesar saat ini dari peran perusahaan dalam
masyarakat telah ditingkatkan yaitu dengan peningkatan kepekaan dan kepedulian
terhadap lingkungan dan masalah etika. Masalah seperti perusakan lingkungan,
perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan
ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen adalah menjadi berita utama
surat kabar. Peraturan pemerintah pada beberapa negara mengenai lingkungan
hidup dan permasalahan sosial semakin tegas, juga standar dan hukum seringkali
dibuat hingga melampaui batas kewenangan negara pembuat peraturan (misalnya
peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa. Beberapa investor dan perusahaam
manajemen investasi telah mulai memperhatikan kebijakan CSR dari Surat
perusahaan dalam membuat keputusan investasi mereka, sebuah praktek yang
dikenal sebagai "Investasi bertanggung jawab sosial" (socially responsible
investing).

Banyak pendukung CSR yang memisahkan CSR dari sumbangan sosial dan
"perbuatan baik" (atau kedermawanan seperti misalnya yang dilakukan oleh
Habitat for Humanity atau Ronald McDonald House), namun sesungguhnya
sumbangan sosial merupakan bagian kecil saja dari CSR. Perusahaan di masa
lampau seringkali mengeluarkan uang untuk proyek-proyek komunitas, pemberian
bea siswa dan pendirian yayasan sosial. Mereka juga seringkali menganjurkan dan
mendorong para pekerjanya untuk sukarelawan (volunteer) dalam mengambil
bagian pada proyek komunitas sehingga menciptakan suatu itikad baik dimata
komunitas tersebut yang secara langsung akan meningkatkan reputasi perusahaan
serta memperkuat merek perusahaan. Dengan diterimanya konsep CSR, terutama
triple bottom line, perusahaan mendapatkan kerangka baru dalam menempatkan
berbagai kegiatan sosial di atas.

Kepedulian kepada masyarakat sekitar/relasi komunitas dapat diartikan sangat


luas, namun secara singkat dapat dimengerti sebagai peningkatan partisipasi dan
posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya kemaslahatan
bersama bagi organisasi dan komunitas. CSR adalah bukan hanya sekedar
kegiatan amal, di mana CSR mengharuskan suatu perusahaan dalam pengambilan
keputusannya agar dengan sungguh-sungguh memperhitungkan akibat terhadap
seluruh pemangku kepentingan(stakeholder) perusahaan, termasuk lingkungan
hidup. Hal ini mengharuskan perusahaan untuk membuat keseimbangan antara
kepentingan beragam pemangku kepentingan eksternal dengan kepentingan
pemegang saham, yang merupakan salah satu pemangku kepentingan internal.

"dunia bisnis, selama setengah abad terakhir, telah menjelma menjadi institusi
paling berkuasa diatas planet ini. Institusi yang dominan di masyarakat manapun
harus mengambil tanggung jawab untuk kepentingan bersama.setiap keputusan
yang dibuat, setiap tindakan yang diambil haruslah dilihat dalam kerangka
tanggung jawab tersebut."

Sebuah definisi yang luas oleh World Business Council for Sustainable
Development (WBCSD) yaitu suatu asosiasi global yang terdiri dari sekitar 200
perusahaan yang secara khusus bergerak dibidang "pembangunan berkelanjutan"
(sustainable development) yang menyatakan bahwa:
" CSR adalah merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk
bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari
komunitas setempat ataupun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan
taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya".

Alasan terkait bisnis (business case) untuk CSR


Skala dan sifat keuntungan dari CSR untuk suatu organisasi dapat berbeda-beda
tergantung dari sifat perusahaan tersebut. Banyak pihak berpendapat bahwa amat
sulit untuk mengukur kinerja CSR, walaupun sesungguhnya cukup banyak
literatur yang memuat tentang cara mengukurnya. Literatur tersebut misalnya
metode "Empat belas poin balanced scorecard oleh Deming. Literatur lain
misalnya Orlizty, Schmidt, dan Rynes[3] yang menemukan suatu korelasi positif
walaupun lemah antara kinerja sosial dan lingkungan hidup dengan kinerja
keuangan perusahaan. Kebanyakan penelitian yang mengaitkan antara kinerja
CSR (corporate social performance) dengan kinerja finansial perusahaan
(corporate financial performance) memang menunjukkan kecenderungan positif,
namun kesepakatan mengenai bagaimana CSR diukur belumlah lagi tercapai.
Mungkin, kesepakatan para pemangku kepentingan global yang mendefinisikan
berbagai subjek inti (core subject) dalam ISO 26000 Guidance on Social
Responsibility--direncanakan terbit pada September 2010--akan lebih
memudahkan perusahaan untuk menurunkan isu-isu di setiap subjek inti dalam
standar tersebut menjadi alat ukur keberhasilan CSR.

Hasil Survey "The Millenium Poll on CSR" (1999) yang dilakukan oleh
Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of
Wales Business Leader Forum (London) di antara 25.000 responden dari 23
negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60%
mengatakan bahwa etika bisnis, praktik terhadap karyawan, dampak terhadap
lingkungan, yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR)
akan paling berperan. Sedangkan bagi 40% lainnya, citra perusahaan & brand
image-lah yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang
mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial,
ukuran perusahaan,strategi perusahaan, atau manajemen.

Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan
CSR adalah ingin "menghukum" (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari
perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang
kekurangan perusahaan tersebut.
Secara umum, alasan terkait bisnis untuk melaksanakan biasanya berkisar satu
ataupun lebih dari argumentasi di bawah ini:
Sumberdaya manusia
Manajemen risiko
Membedakan merek
Ijin usaha
Motif perselisihan bisnis

Contoh perusahaan yang sudah menerapkan CSR:


Molson Coors Kanada adalah tempat penyulingan bir tertua di Amerika Utara.
Molson adalah bir terbesar di Kanada dengan volume dan perusahaan bir tertua di
Amerika Utara, dengan perkiraan pangsa pasar 41% di Kanada. Perusahaan ini
selama bertahun-tahun telah menggunakan CSR untuk memajukan merek dan
merupakan salah satu dari beberapa perusahaan besar untuk memanfaatkan media
sosial dalam melakukannya. Molson Coors berinvestasi lebih banyak di minum
bertanggung jawab pendidikan dari pada alkohol-peristiwa berpusat. Molson
menjangkau masyarakat untuk menemukan cara untuk menyebarkan pesan minum
bertanggung jawab, menempatkan uang balik program TaxiGuy (bagi mereka
yang sudah memiliki satu terlalu banyak) dan meliputi biaya dari angkutan umum
gratis di Malam Tahun Baru. Kisah musim liburan tahun 2008 ketika Toronto
Transit Authority dibatalkan perusahaan New Year's Eve transportasi bebas naik
karena pemotongan anggaran. Molson melangkah dan meluncurkan kampanye
untuk menggantikan dana publik dengan sumbangan sektor swasta, dimulai
dengan $ 20.000 sumbangan nya sendiri. Molson memiliki tim sosial media kecil
yang dipimpin oleh Ferg Devins, yang tidak hanya bertanggung jawab untuk
menjual bir tetapi untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Tim ini
menggunakan Twitter dan blogging untuk memulai proyek-proyek komunitas
kedermawanan.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate social


Responsibility) dan Iklim Penanaman Modal

Ditulis oleh Dr. Sukarmi, S.H.,M.H.Senin, 04 Januari 2010 08:07

Abstrak
CSR harus dimaknai bukan lagi hanya sekedar responsibility karena bersifat
voluntary, tetapi harus dilakukan sebagai mandatory dalam makna liability
karena disertai dengan sanksi. Penanam modal baik dalam maupun asing tidak
dibenarkan hanya mencapai keuntungan dengan mengorbankan kepentingan-
kepentngan pihak lain yang terkai dan harus tunduk dan mentaati ketentuan
CSR sebagai kewajiban hukum jika ingin menanamkan modalnya di Indonesia.
Komitmen bersama untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan
menciptakan iklim investasi bagi penanam modal untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat dapat tercapai melalui pelaksanaan CSR. CSR
dalam konteks penanaman modal harus dimaknai sebagai instrumen untuk
mengurangi praktek bisnis yang tidak etis.

A. Latar Belakang Masalah

Tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (untuk


selanjutnya disebut CSR) mungkin masih kurang popular dikalangan pelaku
usaha nasional. Namun, tidak berlaku bagi pelaku usaha asing. Kegiatan sosial
kemasyarakatan yang dilakukan secara sukarela itu, sudah biasa dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan multinasional ratusan tahun lalu.

Berbeda dengan kondisi Indonesia, di sini kegiatan CSR baru dimulai beberapa
tahun belakangan. Tuntutan masyarakat dan perkembangan demokrasi serta
derasnya arus globalisasi dan pasar bebas, sehingga memunculkan kesadaran
dari dunia industri tentang pentingnya melaksanakan tanggung jawab sosial
perusahaan (CSR). Walaupun sudah lama prinsip-prinsip CSR diatur dalam
peraturan perundang-undangan dalam lingkup hukum perusahaan. Namun amat
disesalkan dari hasil survey yang dilakukan oleh Suprapto pada tahun 2005
terhadap 375 perusahaan di Jakarta menunjukkan bahwa 166 atau 44,27 %
perusahaan menyatakan tidak melakukan kegiatan CSR dan 209 atau 55,75 %
perusahaan melakukan kegiatan CSR. Sedangkan bentuk CSR yang dijalankan
meliputi; pertama, kegiatan kekeluargaan (116 perusahaan), kedua, sumbangan
pada lembaga agama (50 perusahaan), ketiga, sumbangan pada yayasan social
(39) perusahaan) keempat, pengembangan komunitas (4 perusahaan). [1]Survei
ini juga mengemukakan bahwa CSR yang dilakukan oleh perusahaan amat
tergantung pada keinginan dari pihak manajemen perusahaan sendiri.

Hasil Program Penilaian Peringkat Perusahaan (PROPER) 2004-2005


Kementerian Negara Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa dari 466
perusahaan dipantau ada 72 perusahaan mendapat rapor hitam, 150 merah, 221
biru, 23 hijau, dan tidak ada yang berperingkat emas. Dengan begitu banyaknya
perusahaan yang mendapat rapor hitam dan merah, menunjukkan bahwa
mereka tidak menerapkan tanggung jawab lingkungan. Disamping itu dalam
prakteknya tidak semua perusahaan menerapkan CSR. Bagi kebanyakan
perusahaan, CSR dianggap sebagai parasit yang dapat membebani biaya
capital maintenance. Kalaupun ada yang melakukan CSR, itupun dilakukan
untuk adu gengsi. Jarang ada CSR yang memberikan kontribusi langsung
kepada masyarakat.

Kondisi tersebut makin populer tatkala DPR mengetuk palu tanda disetujuinya
klausul CSR masuk ke dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
(UU PT) dan UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM). Pasal 74
UU PT yang menyebutkan bahwa setiap perseroan yang menjalankan kegiatan
usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Jika tidak dilakukan,
maka perseroan tersebut bakal dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.

Aturan lebih tegas sebenarnya juga sudah ada di UU PM Dalam pasal 15 huruf b
disebutkan, setiap penanam modal berkewajiban melaksankan tanggung jawab
sosial perusahaan. Jika tidak, maka dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan
tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau
fasilitas penanaman modal, atau pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas
penanaman modal (pasal 34 ayat (1) UU PM).

Tentu saja kedua ketentuan undang-undang tersebut membuat fobia sejumlah


kalangan terutama pelaku usaha lokal. Apalagi munculnya Pasal 74 UU PT yang
terdiri dari 4 ayat itu sempat mengundnag polemik. Pro dan kontra terhadap
ketentuan tersebut masih tetap berlanjut sampai sekarang. Kalangan pelaku
bisnis yang tergabung dalam Kadin dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
yang sangat keras menentang kehadiran dari pasal tersebut. Pertanyaan yang
selalu muncul adalah kenapa CSR harus diatur dan menjadi sebuah kewajiban ?
Alasan mereka adalah CSR kegiatan di luar kewajiban perusahaan yang umum
dan sudah ditetapkan dalam perundang-undangan formal, seperti : ketertiban
usaha, pajak atas keuntungan dan standar lingkungan hidup. Jika diatur
sambungnya selain bertentangan dengan prinsip kerelaan, CSR juga akan
memberi beban baru kepada dunia usaha. Apalagi kalau bukan menggerus
keuangan suatu perusahaan.

Pikiran-pikiran yang menyatakan kontra terhadap pengaturan CSR menjadi


sebuah kewajiban, disinyalir dapat menghambat iklim investasi baik bagi
perseroan yang sudah ada maupun yang akan masuk ke Indonesia. Atas dasar
berbagai pro dan kontra itulah tulisan ini diangkat untuk memberikan urun
rembug terhadap pemahaman CSR dalam perspektif kewajiban hukum.
B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan problematika yang muncul tersebut di atas maka
permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimanakah esensi
pengaturan hukum CSR dan implikasinya dalam meningkatkan iklim investasi di
Indonesia ?

C. Pembahasan

1. Esensi Pengaturan CSR sebagai Kewajiban Hukum

Sebelum membahas lebih jauh mengenai hubungan antara CSR dan


implikasinya terhadap iklim penanaman modal perlu kiranya mengetahui apa
yang dimaksud dengan CSR. Sampai saat ini belum ada kesamaan pandang
mengenai konsep dan penerapan CSR, meskipun kalangan dunia usaha
menyadari bahwa CSR ini amat penting bagi keberlanjutan usaha suatu
perusahaan. Gurvy Kavei mengatakan, bahwa praktek CSR dipercaya menjadi
landasan fundamental bagi pembangunan berkelanjutan ( sustainability
development), bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga
bagi stakeholders dalam arti keseluruhan. [2] Hal tersebut terlihat dari
berbagai rumusan CSR yaitu sebagai berikut :

1. The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD)


menyebutkan CSR sebagai continuing commitment by business to
behave ethically and contribute to economic development while
improving the quality of life of the workforce and their families as wol as
of the local community and society at large.
1. John Elkingstons menegaskan Corporate Social Responsibility
is a concept that organisation especially (but not only)
corporations, have an obligation to consider the interestts of
costomers, employees, shareholders, communities, and
ecological considerations in all aspectr of theiroperations. This
obligation is been to extend beyond their statutory obligation to
comply with legislation.[3]

1. Penjelasan pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal menyebutkan bahwa


yang dimaksud dengan tanggung jawab sosial perusahaan adalah
tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman
modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan
sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat
setempat . [4]
2. Pasal 1 angka 3 UUPT , tangung jawab sosial dan lingkungan adalah
komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi
berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan
yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat
maupun masyarakat pada umumnya.

Dari pengertian-pengertian CSR tampak belum adanya keseragaman ataupun


persamaan persepsi dan pandangan mengenai CSR. Terlihat dari ketentuan
dalam UUPM dan UUPT, melihat tanggung jawab sosial pada titik pandang yang
berbeda. UUPM lebih menekankan CSR sebagai upaya perusahaan untuk
menciptakan harmonisasi dengan lingkungan di mana ia beroperasi. Sedangkan
UUPT justru mencoba memisahkan antara tanggung jawab sosial dengan
tanggung jawab lingkungan. UUPM bertolak dari konsep tanggung jawab
perusahaan pada aspek ekonomi, sosial dan lingkungan ( triple bottom line).
Namun demikian keduanya mempunyai tujuan yang sama mengarah pada CSR
sebagai sebuah komitmen perusahaan terhadap pembangunan ekonomi
berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan.

Jika ditarik pada berbagai pengertian di atas maka CSR merupakan komitmen
perusahaan terhadap kepentingan pada stakeholders dalam arti luas dari
sekedar kepentingan perusahaan belaka. Dengan kata lain, meskipun secara
moral adalah baik bahwa perusahaan maupun penanam modal mengejar
keuntungan, bukan berarti perusahaan ataupun penanam modal dibenarkan
mencapai keuntungan dengan mengorbankan kepentingan-kepentngan pihak
lain yang terkait.

Dengan adanya ketentuan CSR sebagai sebuah kewajiban dapat merubah


pandangan maupun perilaku dari pelaku usaha, sehingga CSR tidak lagi
dimaknai sekedar tuntutan moral an-sich, tetapi diyakinkan sebagai kewajiban
perusahaan yang harus dilaksanakan.

Kesadaran ini memberikan makna bahwa perusahaan bukan lagi sebagai entitas
yang mementingkan diri sendiri, alienasi dan atau eksklusifitas dari lingkungan
masyarakat, melainkan sebuah entitas usaha yang wajib melakukan adaptasi
kultural dengan lingkungan sosial. Sehingga tidak berkelebihan jika ke depan
CSR harus dimaknai bukan lagi hanya sekedar responsibility karena bersifat
voluntary, tetapi harus dilakukan sebagai mandatory dalam makna liability
karena disertai dengan sanksi.[5]

Menyikapi kondisi yang ada tersebut, bahwa hukum sebagai produk kebijakan
politik tidak selamanya merupakan conditio sine qua non bagi tujuan yang
hendak dicapai. Hal ini menunjukkan hukum mempunyai batas-batas
kemampuan tertentu untuk mengakomodasi nilai-nilai yang tumbuh dan hidup
dalam komunitas masyarakat, oleh karena itu Roscoe Pound menyatakan bahwa
tugas hukum yang utama dalah social engineering. Dalam doktrin ini
dikatakan bahwa hukum harus dikembangkan sesuai dengan perubahan-
perubahan nilai sosial. Untuk itu sebaiknya diadakan rumusan-rumusan
kepentingan yang ada dalam masyarakat yaitu kepentingan pribadi, masyarakat
dan umum. [6]

Dengan demikian hukum bagi Roscoe Pound merupakan alat untuk membangun
masyarakat (law is a tool of social engineering ). Sehingga hokum bukan saja
berdasarkan pada akal, tetapi juga pengalaman. Akal diuji oleh pengalaman dan
pengalaman yang dikembangkan oleh akal.

Konteks tanggung jawab social (CSR) dalam hal ini ada kewajiban bertanggung
jawab atas perintah undang-undang, dan memperbaiki atau sebaliknya memberi
ganti rugi atas kerusakan apa pun yang telah ditimbulkan. Tanggung jawab
social berada pada ranah moral, sehingga posisinya tidak sama dengan hokum.
Moral dalam tanggung ajwab social lebih mengarah pada tindakan lahiriah yang
didasarkan sepenuhnya dari sikap batiniha, sikap inilah yang dikenal dengan
moralitas yaitu sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih.
Sedangkan tanggung jawab hokum lebih menekankan pada ksesuaian sikap
lahiriah dengan aturan, meskipun tindakan tersbeut secara obyektif tidak salah,
barangkali baik dan sesuai dengan pandanan moral, hokum, dan nilai-nilai
budaya masyarakat. Namun demikian kesesuaian saja tidak dapat dijadikan
dasar untuk menarik suatu kesimpulan karena tidak tahu motivasi atau maksud
yang mendasarinya.

Bila dikaitkan dengan teori tanggung jawab sosial dengan aktivitas perusahaan,
maka dapat dikatakan bahwa tanggung jawab sosial lebih menekankan pada
kepedulian perusahaan terhadap kepentingan stakeholders dalam arti luas dari
pada kepedulian perusahaan terhadap kepentingan perusahaan belaka. [7]
Dengan demikian konsep tanggung jawab sosial lebih menekankan pada
tanggung jawab perusahaan atas tindakan dan kegiatan usahanya yang
berdampak pada orang-orang tertentu, masyarakat dan lingkungan di mana
perusahaan- perusahaan melakukan aktivitas usahanya sedemikian rupa,
sehingga tidak berdampak negatif pada pihak-pihak tertentu dalam masyarakat.
Sedangkan secara positif hal ini mengandung makna bahwa perusahaan harus
menjalankan kegiatannya sedemikian rupa, sehingga dapat mewujudkan
masyarakat yang lebih baik dan sejahtera.

Kondisi Indonesia masih menghendaki adanya CSR sebagai suatu kewajiban


hukum. Kesadarna akan adanya CSR masih rendah, kondisinya yang terjadi
adalah belum adanya kesadaran moral yang cukup dan bahkan seringkali terjadi
suatu yang diatur saja masih ditabrak, apalagi kalau tidak diatur. Karena
ketaatan orang terhadap hukum masih sangat rendah. CSR lahir dari desakan
masyarakat atas perilaku perusahaan yang mengabaikan tanggung jawab sosial,
seperti : perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, ngemplang
pajak, dan menindas buruh. Lalu, kebanyakan perusahaan juga cenderung
membuat jarak dengan masyarakat sekitar.

Jika situasi dan kondisi yang terjadi masih seperti tersebut di atas, maka
hukum harus berperan. Tanggung jawab perusahaan yang semula adalah
tanggung jawab non hukum (responsibility) akan berubah menjadi tanggung
jawab hukum (liability). Otomatis perusahaan yang tidak memenuhi perundang-
undangan dapat diberi sanksi.

2. CSR dan Implikasinya pada Iklim Penanaman Modal di Indonesia

Selanjutnya akan dibahas mengenai bagaimana CSR dan implikasinya terhadap


iklim penanaman modal di Indonesia. Penanaman modal dalam UUPM No. 25
Tahun 2007, Pasal 1 angka 1 dinyatakan bahwa Penanaman modal adalah
segala bentuk kegiatan menanam modal, baik oleh penanam modal dalam
negeri maupun penanam modal asing untuk melakukan usaha di wilayah negara
Republik Indonesia.

Kehadiran UUPM NO. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal diharapkan,


mampu memberikan angin segar kepada investor dan memberikan iklim
investasi yang menggairahkan. Kenyamanan dan ketertarikan investor asing
terutama apabila terciptanya sebuah kepastian hukum dan jaminan adanya
keselamatan dan kenyamanan terhadap modal yang ditanamkan. Secara
garis besar tujuan dari dikeluarkannya UU PM tentunya disamping memberikan
kepastian hukum juga adanya transparansi dan tidak membeda-bedakan serta
memberikan perlakuan yang sama kepada investor dalam dan luar negeri.

Dengan adanya kepastian hukum dan jaminan kenyamanan serta keamanan


terhadap investor, tentunya akan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar
global yang merosot sejak terjadinya krisis moneter. Berkaitan dengan hal
tersebut, penanaman modal harus menjadi bagian dari penyelenggaraan
perekonomian nasional dan ditempatkan sebagai upaya untuk menigkatkan
pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan
pembangunan ekonomi berkelanjutan, meningkatkan kapasitas dan kemampuan
teknologi nasional, mendorong pembangunan ekonomi kerakyatan, serta
mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam suatu sistem perekonomian yang
berdaya saing.

Tujuan penyelenggaraan penanaman modal hanya dapat tercapai apabila faktor


penunjang yang menghambat iklim investasi dapat diatasi, antara lain melalui
perbaikan koordinasi antarinstansi Pemerintah Pusat dan Daerah, penciptaan
birokrasi yang efisien, kepastian hukum di bidang penanaman modal, biaya
ekonomi yang berdaya saing tinggi, serta iklim usaha yang kondusif di bidang
ketenagakerjaan dan keamanan berusaha. Dengan perbaikan faktor tersebut,
diharapkan realisasi penanaman modal akan membaik secara signifikan.

Suasana kebatinan yang diharapkan oleh pembentuk UU PM, didasarkan pada


semangat ingin menciptakan iklim penanaman modal yang kondusif yang salah
satu aturannya mengatur tentang kewajiban untuk menjalankan CSR. Bagi
pelaku usaha (pemodal baik dalam maupun asing) memiliki kewajiban untuk
menyelenggarakan CSR baik dalam aspek lingkungan, sosial maupun budaya.

Penerapan kewajiban CSR sebabagaimana diatur dalam UU No. 25 Tahun 2007


tentang Penanaman Modal , Pasal 15 huruf b menyebutkan Setiap penanam
modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Jika
tidak dilakukan maka dapat diberikan sanksi administrasi berupa peringatan
tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan, hingga pencabutan kegiatan
usaha dan/atau fasilitas penanaman modal (Pasal 34 ayat (1) UU No. 25 Tahun
2007). Sedangkan yang dimaksud tanggung jawab sosial perusahaan adalah
tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk
tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan
lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. [8]

Ilustrasi yang menggambarkan keinginan dari berbagai anggota dewan pada


waktu itu adalah kewajiban CSR terpaksa dilakukan lantaran banyak
perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia, lepas dari tanggung
jawabnya dalam mengelola lingkungan. Pengalaman menunjukkan, bahwa
banyak sekali perusahaan yang hanya melakukan kegiatan operasional tetapi
kurang sekali memberikan perhatian terhadap kepentingan sosial. Beberapa
contoh kasus , seperti : lumpur Lapindo di Porong, lalu konflik masyarakat
Papua dengan PT. Freeport Indonesia, konflik masyarakat Aceh dengan Exxon
Mobile yang mengelola gas bumi di Arun, pencemaran oleh Newmont di Teluk
Buyat dan sebagainya.

Alasan lainnya adalah kewajiban CSR juga sudah diterapkan pada perusahaan
BUMN. Perusahaan-perusahaan pelat merah telah lama menerapkan CSR
dengan cara memberikan bantuan kepada pihak ketiga dalam bentuk
pembangunan fisik. Kewajiban itu diatur dalam Keputusan Menteri BUMN
maupun Menteri Keuangan sejak tahun 1997. oleh karena itu, perusahaan yang
ada di Indonesia sudah waktunya turut serta memikirkan hal-hal yang berkaitan
dengan lingkungan dimana perusahaan itu berada. [9]

Tren globalisasi menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan sudah


menjadi hal yang mendesak bagi kepentingan umat manusia secara
keseluruhan. Lingkungan hidup yang sehat merupakan bagian dari hak azasi
manusia. Di Inggris dan Belanda misalnya, CSR menjadi sebuah penilaian hukum
oleh otoritas pasar modal, disamping penilaian dari publik sendiri. Kalau
perusahaan itu tidak pernah melakukan CSR justru kinerja saham di bursa
saham kurang bagus.

CSR dalam konteks penanaman modal harus dimaknai sebagai instrumen untuk
mengurangi praktek bisnis yang tidak etis. Oleh karena itu harus dibantah
pendapat yang menyatakan CSR identik dengan kegiatan sukarela, dan
menghambat iklim investasi. CSR merupakan sarana untuk meminimalisir
dampak negatif dari proses produksi bisnis terhadap publik, khususnya dengan
para stakeholdernya. Maka dari itu, sangat tepat apabila CSR diberlakukan
sebagai kewajiban yang sifatnya mandatory dan harus dijalankan oleh pihak
perseroan selama masih beroperasi. Demikian pula pemerintah sebagai agen
yang mewakili kepentingan publik. Sudah sepatutnya mereka (pemerintah)
memiliki otoritas untuk melakukan penataan atau meregulasi CSR.

Dengan demikian, keberadaan perusahaan akan menjadi sangat bermanfaat,


sehingga dapat menjalankan misinya untuk meraih optimalisasi profit, sekaligus
dapat menjalankan misi sosialnya untuk kepentingan masyarakat. Pengaturan
mengenai tanggung jawab penanam modal diperlukan untuk mendorong iklim
persaingan usaha yang sehat, memperbesar tanggung jawab lingkungan dan
pemenuhan hak dan kewajiban serta upaya mendorong ketaatan penanam
modal terhadap peraturan perundang-undangan.

Pelaksanaan CSR secara konsisten oleh perusahaan akan mampu menciptakan


iklim investasi (penanaman modal). Anggapan yang mengatakan bahwa CSR
akan menghambat iklim investasi patut ditolak. Ada kewajiban bagi setiap
penanam modal yang datang ke Indonesia wajib mentaati aturan atau hukum
yang berlaku di Indonesia, apapun bentuknya. Indonesia masih menjanjikan bagi
investor dalam maupun asing. Sumber daya alam masih merupakan daya tarik
tersendiri dibandingkan negara-negara sesama ASEAN dalam posisi Sumber
Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Kondisi tersebut dapat
terwujud apabila diimbangi dengan manfaat dari kesiapan peningkatan mutu
infrastrukturt, manusia, pengetahuan dan fisik.

UU PM memberikan jaminan kepada seluruh investor, baik asing maupun lokal,


berdasarkan asas kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, perlakuan yang
sama dan tidak membedakan asal negara, kebersamaan, efisiensi, berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, dan keseimbangan
kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. [10]

CSR dalam UUPM dapat terlaksana jika dibarengi dengan lembaga yang
kuat dalam menegakkan aturan dan proses yang benar. Sebagaimana dikatakan
oleh Mochtar Kusumaatmadja, pengertian hukum yang memadai harus tidak
hanya memandang hukum itu sebagai suatu perangkat kaidah dan azas-azas
yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tapi harus pula
mencakup lembaga (institutions) dan proses (processes) yang diperlukan untuk
mewujudkan hukum itu dalam kenyataan. [11]

D. Penutup

1. Kesimpulan

Berdasarkan latar belakang dan pembahasan di atas maka kesimpulan


yang dapat diambil dalam tulisan ini adalah sebagai berikut : pelaksanaan CSR
yang baik dan benar sesuai dengan aturan hukum yang berlaku akan
berimplikasi pada iklim penanaman modal yang kondusif. Untuk bisa
mewujudkan CSR setiap pelaku usaha (investor) baik dalam maupun asing yang
melakukan kegiatan di wilayah RI wajib melaksanakan aturan dan tunduk
kepada hukum yang berlaku di Indonesia, sebaliknya pemerintah sebagai
regulator wajib dan secara konsisten menerapkan aturan dan sanksi apabila
ada pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak melaksanakan CSR
sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.

2. Saran-saran

a. Pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi kepada para pelaku usaha


untuk menyamakan persepsi mengenai pentingnya CSR dalam mewujudkan
iklim penanaman modal di Indonesia.

b. Dibutuhkan konsistensi dan komitmen baik dari pemerintah maupun pelaku


usaha (investor) dalam melakssanakan CSR sebagai suatu kewajiban hukum.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku - buku :

Dirjosisworo Soejono, Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman Modal, di


Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1999.

John Elkington, Cannibals with Forks,The Triple Bottom Line of Twentieth


Century Business, dikutip dari Teguh Sri Pembudi, CSR, Sebuah Keharusan
dalam Investasi Sosial, Pusat Penyuluhan Sosial (PUSENSOS) Departemen
Sosial RI, Jakarta, La Tofi Enterprise, 2005.

Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum


Nasional, Binacipta, Bandung

Roscoe Pound dalam Mas Soebagio dan Slamet Supriatna, Dasar-Dasar Filsafat,
Suatu Pengantar ke Filsafat Hukum, Akademika Presindo, Jakarta, 1992

Sonny A . Keraf, Etika BIsnis : Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta, Kanisius,


1998,

B. Jurnal, Tulisan Ilmiah dan Makalah

Gurvy Kavei dalam Teguh , Tanggung Jawab Sosial Harus Dilakukan, Makalah
pada seminar Corporate Social Responsibility: Integrating Social Acpect into
The Business, Yogyajarta, 2006.

Suprapto, Siti Adipringadi Adiwoso, 2006, Pola Tanggung Jawab Sosial


Perusahaan Lokal di Jakarta, Galang vol. 1 No. 2, Januari 2006.

C. Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.


* Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang dan
sekarang sebagai Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

[1] Suprapto, Siti Adipringadi Adiwoso, 2006, Pola Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan Lokal di Jakarta, Galang vol. 1 No. 2, Januari 2006.

[2] Gurvy Kavei dalam Teguh, Tanggung Jawab Sosial Harus Dilakukan, makalah
pada seminar Corporate Social Responsibility: Integrating Social Acpect iinto
The Business, Yogyajarta, 2006.

[3] John Elkington, Cannibals with Forks,The Triple Bottom Line of Twentieth
Century Business, dikutip dari Teguh Sri Pembudi, CSR, Sebuah Keharusan
dalam Investasi Sosial, Pusat Penyuluhan Sosial (PUSENSOS) Departemen
Sosial RI, Jakarta, La Tofi Enterprise, 2005, h. 19.

[4] Penjelasan Pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal.

[5] Pascal 74 ayat (3) UUPT yang menyatakan perseroan yang tidak melaknakan
kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.

[6] Roscoe Pound dalam Mas Soebagio dan Slamet Supriatna, Dasar-Dasar
Filsafat, Suatu Pengantar ke Filsafat Hukum , Akademika Presindo, Jakarta,
1992, h. 68.

[7] Sonny A . Keraf, Etika BIsnis : Tuntutan dan Relevansinya, Yogyakarta,


Kanisius, 1998, h. 122-127.

[8] Penjelasan Pasal 15 huruf b Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang


Penanaman Modal.

[9] Pernyataan Ketua Panitia Khusus UU PT Akil Mochtar .

[10] Pasal 3 UU NO. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

[11] Mochtar Kusumaatmadja, Hukum, Masyarakat dan Pembinaan Hukum


Nasional, Binacipta, Bandung, h. 14.