Anda di halaman 1dari 14

Makalah

Forensic Accounting & Investigative Audit

ZONA INTEGRITAS

Oleh:

Kelompok 6
Nelda Pratiwi (1510248349)
Siti Ruri Suhaesti (1510248132)
Sri Wahyuni Zanra (1510248102)
Wiwik Indra Mariana (1510248380)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU
2017
MEMBANGUN ZONA INTEGRITAS

Kondisi korupsi di Indonesia masuk dalam kategori kronis dari waktu ke waktu. Karena

secara umum sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia masih belum berorientasi

sepenuhnya terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good

government governance). Oleh karenanya tidak mengherankan bila Indeks Persepsi Korupsi

(IPK) Indonesia berdasarkan survei Transparansi Internasional, memperoleh indeks pada kisaran

angka 2 dari tahun 2004 hingga tahun 2007.IPK hingga saat ini diyakini sebagai pendekatan

yang sah untuk melihat tingkat korupsi di suatu negara. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia

Tahun 2011 meningkat menjadi 3 (Transparency International, 2011). Namun kenaikan IPK

menjadi 3 tersebut masih tergolong rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara lainnya

baik di Asia maupun Asia Tenggara.

Dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, Presiden Republik Indonesia

(Inpres Nomor 17 Tahun 2011) menginstruksikan kepada para menteri dan kepala lembaga

negara serta Kepala Daerah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas,

fungsi, dan kewenangan masing-masing dalam rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi

Tahun 2012, dengan merujuk pada Prioritas Pembangunan Nasional dalam Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 dan Rencana Kerja Pemerintah

Tahun 2012. Salah satu strateginya adalah Strategi Pencegahan..

Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan

terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga dapat

melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam perjalanannya, banyak kendala

1
yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan wewenang, praktek KKN, dan lemahnya

pengawasan.

Berbagai upaya pencegahan sebenarnya telah dilakukan, antara lain dengan

meningkatkan mutu layanan perizinan, seperti yang dicontohkan beberapa daerah melalui

pembentukan one stop service (layanan satu atap). Namun, dalam implementasinya, persepsi

masyarakat masih mencerminkan adanya kelemahan, terutama menyangkut regulasi perizinan di

daerah yang meninggalkan sekian celah bagi korupsi.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81

Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan

program reformasi birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga sasaran hasil

utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi, pemerintah yang bersih dan

bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik.

Dalam rangka memberikan apresiasi kepada top manajemen yang memiliki komitmen

terhadap pencegahan korupsi, Menteri PAN dan RB menerbitkan Permenpan dan RB Nomor 60

Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Dari

Korupsi. Peraturan tersebut sebagai pedoman umum yang merupakan acuan bagi pejabat di

lingkungan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah (K/L/Pemda) dalam rangka

Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi. K/L/Pemda yang telah

mencanangkan kesiapan/kesanggupan menjadi K/L/Pemda yang berpredikat ZI mewujudkan

komitmen pencegahan korupsi melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan pencegahan korupsi

dalam bentuk yang lebih nyata secara terpadu dan disesuaikan dengan kebutuhan K/L/Pemda

yang bersangkutan.

2
Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka instansi

pemerintah (pusat dan daerah) perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi

birokrasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja lainnya. Untuk itu,

perlu secara konkret dilaksanakan program reformasi birokrasi pada unit kerja melalui upaya

pembangunan Zona Integritas.

Zona Integritas (ZI) adalah predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang

pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi

(WBK)/Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) melalui reformasi birokrasi,

khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

(Permenpan 52 Tahun 2014)

Zona Integritas (ZI) merupakan sebutan atau predikat yang diberikan kepada K/L dan

Pemda yang pimpinan dan jajarannya mempunyai niat (komitmen) untuk mewujudkan WBK dan

WBBM melalui upaya pencegahan korupsi, reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas

pelayanan publik. K/L dan Pemda yang telah mencanangkan sebagai ZI mengusulkan salah satu

unit kerjanya untuk menjadi Wilayah Bebas dari Korupsi.

Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit

kerja yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan

sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, dan penguatan akuntabilitas kinerja.

Sedangkan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) adalah predikat yang diberikan

kepada suatu unit kerja yang memenuhi sebagian besar manajemen perubahan, penataan

tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas

kinerja, dan penguatan kualitas pelayanan publik.

3
Diharapkan melalui pembangunan zona integritas ini unit kerja yang telah menjadi

WBK/WBBM dapat menjadi pilot project dan benchmark untuk unit kerja lainnya sehingga

seluruh unit kerja tersebut diberikan kebebasan untuk bekerja dengan benar sesuai dengan

ketentuan perundangan-undangan. Selain itu Unit kerja berpredikat WBK/WBBM merupakan

outcome dari upaya pencegahan korupsi yang dilaksanakan secara konkrit di dalam lingkup Zona

Integritas.

Konsep Zona integritas sebenarnya berasal dari konsep island of integrity.Island of

integrity atau pulau integritas biasa digunakan oleh pemerintah maupun NGO untuk

menunjukkan semangatnya dalam pemberantasan dan pencegahan tindak pidana korupsi.

Transparansi Internasional Indonesia (TII) mendefinisikan Island of integrity sebagai konsep

"kepulauan" yang bisa bermakna institusi pemerintah/badan pemerintahan yang memiliki dan

menerapkan konsepsi Sistem Integritas Nasional (National Integrity System/NIS) sehingga

kewibawaan dan integritas institusi tersebut mampu mewujudkan transparansi, akuntabilitas dan

membuka ruang partisipasi masyarakat secara luas sehingga senantiasa terjaga dari praktek KKN

dan praktek tercela lainnya.

Terdapat dua kata kunci dalam zona integritas, yaitu integrity ataupun integritas

dan island/zone atau pulau/kepualauan. Integrityatau integritas diartikan sebagai sikap ataupun

budaya yang menunjukkan konsistensi antara perkataan dan perbuatan serta sikap untuk menolak

segala tindakan tercela yang dapat merugikan diri dan instansinya. Adapun Zona

atau Island digambarkan dengan unit-unit instansi pemerintah yang telah menanamkan nilai

integritas di dalamnya.

Salah satu hal yang juga menjadi penekanan pada zona integritas adalah bahwa sangat

memungkinkan lahirnya zona-zona/island-island baru yang juga ikut menerapkan sistem

4
integritas di dalamnya. Munculnya island baru ini dimungkinkan melalui proses replikasi oleh

unit instansi pemerintah lainnya kepada unit instansi pemerintah yang telah menanamkan sistem

integritas terlebih dahulu.

Data Kementerian PANRB menyebutkan bahwa terjadi peningkatan yang sangat

signifikan atas usulan unit kerja menuju WBK/WBBM sebesar 272%, di mana pada tahun 2016

usulan unit kerja mencapai 223 dibanding tahun 2015 yang hanya 60 unit kerja. Presentase

peningkatan terbesar paengusulan unit kerja menuju WBK/WBBM disumbangkan oleh instansi

pusat, yaitu Kementerian dan Lembaga, yang pada tahun 2016 mengusulkan 175 unit kerja

sementara tahun 2015 hanya 45 unit kerja dengan presentase sebsar 289%.

Untuk pemerintah provinsi, juga terjadi peningkatan pengusulan unit kerja menuju

WBK/WBBM. Tahun 2016 tercatat pengusulan unit kerja pemerintah provinsi mencapai 18 unit

kerja dibandingkan dengan tahun 2015 yang hanya 4 unit kerja dengan presentase kenaikan

sebesar 350%. Sementara untuk pemerintah kabupaten kota terjadi peningkatan dengan total

presentase 173%, di mana tahun 2016 mengusulkan 30 unit kerja dan tahun 2015 mengusulkan

11 unit kerja.

Namun, besarnya presentase kenaikan jumlah pengusulan unit kerja menuju

WBK/WBBM tersebut tidak diikuti dengan peningkatan yang signifikan terhadap jumlah unit

kerja yang lulus untuk mendapatkan predikat WBK/WBBM. Tercatat, dari total 223 unit kerja

yang diajukan pada tahun 2016, hanya 19 unit kerja yang lolos. Sedangkan pada tahun 2015, dari

total unit kerja yang mengajukan pembangunan unit kerja menuju WBK/WBBM sebanyak 60

unit kerja, 13 diantaranya berhasil lulus mendapatkan predikat WBK/WBBM. Dengan demikian,

perbandingan jumlah unit kerja yang lolos antara tahun 2016 dan 2015 hanya mencapai 46%.

5
Berkaca pada data tersebut, ada optimisme yang tinggi terhadap peningkatan

pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM. Pertama, unit kerja yang berpredikat

WBK/WBBM semakin variatif dan menyebar keberadaanya, baik di level Kementerian dan

Lembaga, maupun Pemerintah Daerah. Hal tersebut akan membuka peluang replikasi

keberhasilan unit kerja dan menyebarkan sistem tata keola pemerintahan yang bersih, melayani,

serta inovatif oleh unit-unit kerja lainnya.

Kedua, upaya dan semangat dalam membangun perubahan yang membawa perbaikan

internal untuk menegakkan integritas demi peningkatan kualitas pelayanan semakin masif

dilakukan, walaupun belum banyak unit kerja yang berhasil mendapatkan predikat

WBK/WBBM.

Membangun Zona Integritas menuju WBK/WBBM

Sebelum masuk dalam proses pembangunan zona integritas, definisi mengenai Wilayah

Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani harus dipahami dengan baik. Hal ini

dikarenakan dalam pembangunan zona integritas, terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui

oleh setiap unit kerja yang diajukan secara berjenjang.

Gambar 1: Tiga pilar pembangunan ZI WBK/WBBM

6
Wilayah Bebas Korupsi adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja yang

memenuhi sebagian besar kriteria dalam mengimplementasikan 6 area perubahan program

reformasi birokrasi, yaitu manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem

manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan peningkatan

kualitas pelayanan publik. Hal tersebut juga harus didukung dengan hasil survei eksternal Indeks

Persepsi Korupsi (IPK) dan Indeks Persepsi Kualitas Pelayanan yang menyatakan baik, di mana

nilai IPK minimal 13,5 dari maksimal 15, serta telah menyelesaikan tindak lanjut hasil

pemeriksaan oleh pemeriksa internal dan eksternal.

Wilayah Birokrasi Bersih Melayani, sama seperti WBK, predikat ini hanya diberikan

kepada unit kerja yang memenuhi sebagian besar kriteria 6 area perubahan dan didukung hasil

survei eksternal IPK dan Indek Persepsi Kualitas Pelayanan yang baik, minimal 13,5 dari nilai

maksimal 15. Namun yang membedakan adalah adanya nilai persepsi kualitas pelayanan publik

dengan perolehan minimal 16 dari nilai maksimal sebesar 20, serta telah menyelesaikan tindak

lanjut hasil pemeriksaan oleh pemeriksa internal dan eksternal.

Proses pembangunan zona integritas itu sendiri sebanrnya sudah diatur dalam Peraturan

Menteri PANRB No. 52 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas di

Lingkungan Instansi Pemerintah. Permen tersebut menyebutkan bahwa proses pembangunan

zona integritas memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui, yaitu pencanangan, pembangunan,

pengusulan, penilaian, dan penetapan.

Pencanangan yang disertai dengan deklarasi atau pernyataan secara terbuka dari pimpinan

instansi serta penandatanganan Dokumen Pakta Integritas, menjad awalan sebuah instansi

pemerintah untuk menuju proses pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM.

7
Selanjutnya pencanangan tersebut ditindaklanjuti dengan pembangunan melalui berbagai

perbaikan dengan mengimplementasikan program reformasi birokrasi secara konkrit.

Kemudian dilakukan pemilihan unit-unit kerja untuk dijadikan percontohan sebagai unit

kerja menuju WBK/WBBM dengan memperhatikan beberapa hal, yang antara lain dianggap

sebagai unit yang penting/strategis dalam melakukan pelayanan publik, mengelola sumber daya

yang cukup besar, serta memiliki tingkat keberhasilan reformasi birokrasi yang cukup tinggi.

Unit kerja yang telah dipilih sebagai percontohan kemudian harus melakukan langkah

konkrit dengan menyusun rencana aksi pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM

yang mengacu pada pemenuhan indikator WBK/WBBM, melaksanakan rencana aksi

pembangunan yang telah ditetapkan, dan melakukan monitoring dan evaluasi berkala atas

capaian pelaksanaan rencana aksi pembangunan.

Setelah dipastikan bahwa rencana aksi pembangunan dilaksanakan oleh unit kerja, maka

tahapan selanjutnya adalah dengan melakukan penilaian mandiri (self assessment) oleh Tim

Penilai Internal (TPI). Hasil tersebut dilaporkan kepada pimpinan instansi, dan unit kerja yang

menurut TPI berhasil memenuhi kriteria di usulkan kepada Kementerian PANRB sela Tim

Penilai Nasional (TPN) sebagai unit kerja menuju WBK/WBBM. Apabila unit kerja yang

diusulkan tersebut telah memenuhi syarat oleh TPN, maka langkah selanjutnya adalah penetapan

unit kerja dengan predikat WBK/WBBM.

Penetapan suatu unit kerja untuk berpredikat WBK/WBBM

Penetapan suatu unit kerja untuk berpredikat WBK/WBBM dilakukan melalui berbagai

mekanisme penilaian yang dilakukan beberapa pihak. TPI instansi pemerintah yang melakukan

penilaian mandiri terhadap unit kerja menuju WBK/WBBM, kemudian harus mengusulkan

8
kepada Kementerian PANRB untuk dilakukan evaluasi oleh TPN yang anggotanya terdiri dari

Kementerian PANRB, KPK, dan ORI.

Apabila hasil evaluasi memenuhi syarat untuk mendapatkan predikat WBK/WBBM,

makan Kementerian PANRB akan memberikan rekomendasi kepada instansi pengusul agar unit

kerja tersebut ditetapkan sebagai unit kerja menuju WBK/WBBM. Namun bila sebaliknya, maka

Kementerian PANRB akan merekomendasikan kepada instansi pengusul agar unit kerja tersebut

dibina kembali.

Namun ada juga unit kerja pelayanan yang sudah mengimplementasikan 6 area

perubahan percepatan reformasi birokrasi tetapi belum bisa mendapatkan predikat

WBK/WBBM. Hal tersebut biasanya dipengaruhi oleh hasil survei atas Indeks Persepsi Kualitas

Pelayanan atau Indeks Persepsi Korupsi yang masih rendah.

Oleh karena itu, sangat disarankan kepada setiap instansi pemerintah yang akan

mengusulkan unit kerja pelayannya dalam pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM,

untuk memperbaiki survei tersebut dengan berbagai inovasi yang bisa mengembalikan tingkat

kepercayaan publik terhadap unit pelayanan. Dengan demikian, peran masyarakat tidak bisa

dikesampingkan dalam pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM.

Analisis Dan Kritisisasi Zona Integritas

Diantara berbagai kinerja pemerintah yang dianggap pencitraan, Zona integritas

termasuk salah satu di dalamnya. Zona integritas masih dianggap sebagaian kalangan, bahkan

beberapa kalangan pemerintah, sebagai politik pencitraan Kabinet Kerja.

Nada sumbang sebagian kalangan tentang zona integritas tersebut wajar terdengar jika

zona integritas hanya dimaknai oleh instansi pemerintah sebagai proses pencanangan sebatas

9
seremonial belaka tanpa adanya langkah konkret dalam membangun sistem integritas. Apalagi

publik menyaksikan, bahwa maraknya pencanangan zona integritas oleh instansi pemerintah

belum diiringi oleh penurunan tindak pidana korupsi oleh pemerintah, dalam hal ini lembaga

eksekutif, mengingat dengan unit kerja yang banyak mendapatkan WBK/WBBM seharusnya

tindak pidana korupsi semakin berkurang tapi nyatanya tidak.

Data dari KPK menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2016, kementerian/lembaga

/pemerintah daerah menjadi salah satu lokus utama penyumbang koruptor.

Dari 485 kasus tindak pidana korupsi, 391 (80,62%) kasus terjadi di kementerian

/lembaga/pemerintah daerah dengan rincian 212 kasus terjadi pada kementerian/lembaga, 72

kasus terjadi pada pemerintah provinsi, dan 107 kasus terjadi pada pemerintah kabupaten/kota.

Permenpan Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas di

Lingkungan Instansi Pemerintah sendiri telah menjelaskan bahwa proses pembangunan zona

integritas memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui, yaitu pencanangan, pembangunan,

pengusulan, penilaian, dan penetapan.

Tahapan yang paling penting dalam zona integritas adalah pembangunan itu sendiri.

Pembangunan berarti membangun integritas pada unit instansi pemerintah melalui berbagai

perubahan dan perbaikan yang terrencana, massif, komprehensif, dan sistematis. Membangun

integritas berarti membangun 10egara, membangun manusia, dan membangun budaya.

Membangun 10egara berarti membangun berbagai 10egara10ent, SOP, dan peraturan

untuk mencegah terjadinya tindak pidana korupsi/perbuatan tercela lainnya. Sebagai contoh,

membangun system pengendalian gratifikasi, membangun whistle blowing system, membangun

system pengendalian intern, dan lainnya. Utamakan berbagai langkah pencegahan pada berbagai

lini.

10
Membangun Manusia berarti membangun mindset aparatur pemerintah untuk enggan,

malu, dan merasa bersalah melakukan tindak pidana korupsi/tindakan tercela lainnya. Proses

membangun mindset tidak mudah, karena akan ditemukan keengganan bahkan penolakan. Selain

itu pula diperlukan waktu yang tidak singkat dengan pembiasaan yang terus menerus.

Di berbagai 11egara, khususnya 11egara Eropa (diantaranya 11egara Skandinavia) dan

Amerika (diantaranya Ecuador, Argentina, dan Panama), zona integritas terbukti berhasil

diterapkan untuk mengurangi praktik tindak pidana korupsi. Yang dilakukan oleh Pemerintah

11egara tersebut antara lain memprioritaskan pencegahan pada berbagai 11egara yang potensial

terjadi korupsi. Kampanye terus menerus tentang pencegahan korupsi secara popular, mengubah

persepsi masyarakat mengenai korupsi yang awalnya dianggap tabu menjadi wajar, dan lain

sebagainya.

Di Indonesia, Zona integritas telah melahirkan beberapa unit kerja pelayanan yang bersih

dari tindak pidana korupsi dan memuaskan masyarakat yang kemudian ditetapkan sebagai

Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah birokrasi Bersih Melayani. Unit-unit kerja pelayanan ini telah

menunjukkan, bahwa apabilia 11egara integritas diterapkan secara konsisten, persepsi

masyarakat atas praktek korupsi yang terjadi di instansi pemeirntah akan menurun. Hal ini

ditunjukkan oleh nilai survey persepsi anti korupsi seluruh unit kerja yang berpredikat Wilayah

Bebas Korupsi/Wilayah birokrasi Bersih Melayani di atas 3,6 dari skala 4. Dengan kata lain,

11egara integritas secara perlahan akan mengubah persepsi masyarakat dan mengembalikan trust

masyarakat kepada pemerintah ke tempat yang semestinya.

Pada akhirnya,efektivitas zona integritas sangat ditentukan oleh komitmen pimpinan dan

seluruh jajaran pegawai di dalamnya. Berbagai success story pembangunan zona integritas di

Indonesia dan di 11egara lainnya menunjukkan bahwa komitmen menjadi prasyarat

11
(prerequisite) sebuah instansi yang berintegritas. Jika komitmen kuat, maka mewujudkan

pemerintahan yang bersih dan melayani melalui zona integritas akan menjadi sebuah

keniscayaan. Namun jika komitmen lemah, pencanangan hanya akan menjadi sebuah kenangan

dan pencitraan.

REFERENSI

http://pemerintah.net/pembangunan-zona-integritas/

https://rbkunwas.menpan.go.id/artikel/artikel-rbkunwas/119-zona-integritas-sebuah-diskursus-

tentang-pencitraan-dan-upaya-penegakkan-integritas

12
https://rbkunwas.menpan.go.id/artikel/artikel-rbkunwas/284-zona-integritas-janjikan-unit-kerja-

anti-korupsi

http://bprd.jakarta.go.id/zona-integritas-menuju-wilayah-bebas-dari-korupsi-dan-wilayah-

birokrasi-bersih-dan-melayani-wbkwbbm/

13