Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENGENDALIAN APLIKASI (APPLICATION CONTROLS)

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah Audit Sistem Informasi

Kelompok 1
1. HASBY
2. SURYATIN
3. WINDA HARTATI
4. WIWIK INDRA MARIANA

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapakan kehadirat Allah Swt karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pengendalian Aplikasi
(Application Control). Kami berterima kasih pada Bapak Dr.Emrinaldi Nur DP, SE. M.Si,
Ak, CA selaku Dosen mata kuliah Audit Sistem Informasi yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Pengendalian Aplikasi (Application Control). Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di
masa depan.

Pekanbaru, Mei 2017

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi membuat sejumlah entitas mulai
mengandalkan teknologi komputer ke dalam aktifitasnya. Hal ini disebabkan dengan semakin
banyak dan kompleksnya aktivitas-aktivitas dalam organisasi sehingga manajemen dalam
organisasi harus dapat memiliki informasi yang cepat, tepat dan akurat untuk mengambil
sebuah keputusan. Dalam kaitannya dengan transaksi keuangan, perkembangan teknologi
komputer telah mengakibatkan perubahan pencatatan, pengolahan dan pelaporan data dari
sistem manual menjadi sistem informasi berbasis komputer.
Meskipun sistem informasi sudah terkomputerisasi, penggunaan sistem informasi yang
terkomputerisasi ini tidak menyebabkan organisasi terlepas dari kecurangan (fraud) dan
resiko yang akan dihadapi. Kecurangan dan resiko tersebut dapat berupa kesalahan proses
dari program aplikasi, pencurian data, kerusakan data, dll. Terlebih lagi sistem berbasis
teknologi akan mempunyai potensi resiko yang semakin besar
Sebuah aplikasi yang dibuat oleh pengembang sistem tentunya perlu memperhatikan
aspek-aspek pengendalian internal yang diterapkan sehingga tetap dapat menjaga keandalan
sistem yang berjalan pada sebuah organisasi tertentu. Bagaimanakah kriteria suatu aplikasi
yang telah memenuhi aspek pengendalian internal tersebut perlu dipahami sebelum
melakukan sebuah desain aplikasi.
Secara umum, fungsi dari kontrol adalah untuk menekan kerugian yang mungkin timbul
akibat kejadian yang tidak diharapkan yang mungkin terjadi pada sebuah sistem. Jadi tugas
auditor adalah untuk menetapkan apakah kontrol sudah berjalan sesuai dengan yang
diharapkan untuk mencegah terjadinya situasi yang tidak diharapkan. Auditor harus dapat
memastikan bahwa setidaknya ada satu buah kontrol yang dapat menangani resiko bila resiko
tersebut benar-benar terjadi.
Dalam pengendalian internal menurut Committee of Sponsoring Organizations(COSO)
terdapat dua aktivitas pengendalian yang ditunjukan untuk mendorong kehandalan proses
informasi yaitu pengendalian umum dan pengendalian aplikasi (Hall, 2011:21). Pengendalian

3
umum berfokus pada semua pengendalian yang tidak terkait langsung terhadap aplikasi
komputer. Sedangkan pengendalian aplikasi berfokus pada pengendalian aplikasi tertentu.
Pengendalian aplikasi atau application control merupakan pengendalian dalam hal
pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam suatu proses pengolahan data sehingga akan
berhubungan dengan ketelitian dan kelengkapan data yang diproses melalui aplikasi tertentu.
Pengendalian aplikasi ini merupakan lingkup dari Pengendalian umum (general contro)l,
sehingga apabila terjadi kelemahan dalam general control maka dapat berdampak terhadap
berbagai jenis aplikasi yang telah dirancang dalam sebuah perusahaan. Pengendalian aplikasi
dirancang khusus untuk memenuhi persyaratan pengendalian yang harus diterapkan pada
aplikasi tertentu sehingga data hasil pemrosesan aplikasi tersebut mampu diyakini
keandalannya. Apabila sistem akuntansi organisasi yang diaudit merupakan sistem akuntansi
berbasis komputer, maka dilakukan audit terhadap sistem informasi akuntansi apakah
proses/mekanisme sistem dan program komputer telah sesuai, pengendalian umum sistem
memadai dan data telah substantif.
Dalam mengaudit sistem komputerisasi yang ada, audit ini dilakukan dengan
mengevaluasi pengendalian umum dari sistem-sistem komputerisasi yang sudah
diimplementasikan pada perusahaan tersebut secara keseluruhan. Saat melakuan pengujian-
pengujian digunakan bukti untuk menarik kesimpulan dan memberikan rekomendasi kepada
manajemen tentang hal-hal yang berhubungan dengan efektifitas, efisiensi, dan ekonomisnya
sistem.

B. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai pelaksanan tugas kelompok yang
diberikan oleh dosen pembimbing mata kuliah Audit Sistem Imformasi dan juga untuk :
1. Mengetahui definisi pengendalian aplikasi (appllication control)
2. Mengetahui tujuan pengendalian aplikasi (appllication control)

4
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Definisi Pengendalian Aplikasi


Pengendalian aplikasi (application control) merupakan pengendalian dalam hal
pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam suatu proses pengolahan data sehingga akan
berhubungan dengan ketelitian dan kelengkapan data yang diproses melalui aplikasi tertentu.
(Mulyadi 2010).
Menurut Ruppel (2008), Pengendalian aplikasi (application controls) adalah sistem
pengendalian intern (internal control) pada sistem informasi berbasis teknologi informasi
yang berkaitan dengan pekerjaan/kegiatan/aplikasi tertentu (setiap aplikasi memiliki
karakteristik dan kebutuhan pengendalian yang berbeda).
Pengendalian aplikasi merupakan salah satu pengendalian internal yang cukup penting
bagi entitas yang mengandalkan teknologi informasi ke dalam aktivitas utamanya.
Pengendalian aplikasi tidak terlepas dari resiko-resiko yang ada. Salah satu resiko yang
paling fatal adalah resiko kesalahan input data. Jika terjadi kesalahan input data maka
organisasi akan sangat dirugikan karena informasi yang dihasilkan menjadi tidak dapat
diandalkan dan malah menyesatkan bagi organisasi. Pengendalian aplikasi disebut juga
pengendalian transaksi, karena didesain berkaitan dengan transaksi pada aplikasi tertentu.
Terdapat dua aktivitas pengendalian yang ditunjukan untuk mendorong kehandalan
proses informasi yaitu pengendalian umum dan pengendalian aplikasi (Hall, 2011).
1. Pengendalian Umum
pengendalian umum adalah sistem pengendalian internal komputer yang berlaku
umum meliputi seluruh kegiatan komputerisasi sebuah organisasi secara menyeluruh,
dan ketentuan ketentuan dalam pengendalian tersebut berlaku untuk seluruh kegiatan
komputerisasi yang digunakan di perusahaan tersebut. Ruang lingkup yang termasuk
dalam pengendalian umum adalah sebagai berikut:
a. Pengendalian top manajemen (top management controls)
dalam lingkup ini termasuk pengendalian manajemen sistem informasi
(information system management controls).

5
b. Pengendalian manajemen pengembangan sistem (system development
management controls), termasuk manajemen program (programing management
controls).
c. Pengendalian manajemen sumber data (data resource management controls).
d. Pengendalian manajemen operasi (operation management controls).
e. Pengendalian manajemen keamanan (security administration management
controls).
f. Pengendalian manajemen jaminan kualitas (quality assurance management
controls).
2. Pengendalian Aplikasi
Pengendalian aplikasi adalah kontrol internal komputer yang berlaku khusus untuk
aplikasi komputerisasi tertentu pada suatu organisasi. Pengendalian aplikasi terdiri
dari 6 (enam) pengendalian yaitu:
a. Pengendalian Batasan (Boundary Control)
Pengendalian batasan merupakan jenis pengendalian yang didesain untuk
mengenal identitas dan otentik tidaknya user sistem dan untuk menjaga agar
sumberdaya sistem informasi digunakan oleh user dengan cara yang ditetapkan.
Yang dimaksud dengan batasan (boundary) adalah interface antara para pengguna
(users) dengan sistem berbasis teknologi informasi. Terdapat beberapa kontrol
yang diimplementasikan dalam pengendalian batasan yaitu : chryptograpic contol,
acces control, audit trail, dan existance control.
b. Pengendalian Masukan (Input)
Input merupakan salah satu tahap dalam sistem komputerisasi yang paling penting
dan mengandung resiko. Pengendalian masukan (input control) dirancang dengan
tujuan untuk mendapat keyakinan bahwa data transaksi input adalah valid,
lengkap, serta bebas dari kesalahan dan penyalahgunaan.
c. Pengendalian Proses Pengolahan Data
Pengendalian proses (processing controls) adalah pengendalian internal untuk
mendeteksi jangan sampai data menjadi error karena adanya kesalahan proses.
Tujuan pengendalian pengolahan adalah untuk mencegah agar tidak terjadi
kesalahan-kesalahan selama proses pengolahan data (Gondodiyoto, 2007: 401).
6
d. Pengendalian Keluaran (Output)
Pengendalian keluaran merupakan pengendalian yang dilakukan untuk menjaga
Output sistem agar akurat lengkap dan digunakan sebagaimana mestinya.
Pengendalian keluaran (output controls) ini didesain agar output/informasi
disajikan secara akurat, lengkap, mutakhir, dan didistribusikan kepada orang-
orang yang berhak secara cepat waktu dan tepat waktu. Jenis-jenis pengendalian
keluaran meliputi pengendalian rekonsiliasi keluaran, penelaahan dan pengujian
hasil pengolahan, pengendalian distribusi keluaran dan pengendalian terhadap
catatan (record retention).
e. Pengendalian Database
Pengendalian database merupakan jenis pengendalian intern yang didesain untuk
menjaga akses ke dalam database dan menjaga integritas dari data tersebut.
f. Pengendalian Komunikasi Aplikasi
Pengendalian komunikasi aplikasi merupakan jenis pengendalian intern yang
didesain untuk menangani kesalahan selama proses trasmisi data dan untuk
menjaga keamanan dari data selama pengiriman informasi tersebut.

Menurut Arens (2012) terdapat enam kategori dari efisiensi biaya audit melalui
peningkatan pengendalian umum, yaitu :
1. Administrasi IT
bagaimana sikap dewan direksi dan manajemen senior terhadap penggunaan IT dan
seberapa penting IT tersebut dalam organisasi. Jika penyelesaian permasalahan IT
diserahkan kepada manajemen tingkat bawah atau menggunakan konsultan IT, maka
ini menandakan bahwa IT bukan prioritas.
2. Pemisahan fungsi IT.
Keterbatasan sumber daya, mengakibatkan perusahaan tidak mampu menerapkan
segregation of IT duties. Namun, beberapa fungsi penting tetap mesti dipisahkan
seperti :
a. Operator komputer dengan fungsi programming jika tidak operator dapat
mengakses system logs, sehingga dapat membuat perubahan yang tidak diotorisasi
dan tidak terdeteksi pada program atau data.

7
b. Computer program librarian dengan fungsi yang lainnya. Akses ke program dan
data harus dibatasi, akses hanya diperbolehkan untuk pengguna dengan tujuan
yang diotorisasi.
c. Database administrative dengan data input function. Database administrator
harus menjaga integritas dari database, sedangkan user bertanggung jawab atas
kelengkapan dan integritas input ke dalam database.
3. Pengembangan sistem.
Aktivitas dalam pengembangan sistem termasuk:
a. Pembelian software atau pengembangan in-house software;
b. Pengujian semua software untuk memastikan bahwa software cocok dengan
hardware dan software yang sudah ada dan menentukan apakah hardware dan
software dapat menangani jumlah transaksi yang dibutuhkan. Perusahaan
menggunakan dua pendekatan pengujian software:
Pilot testing : sistem diimplementasikan pada satu bagian dan bagian
lainnya masih menggunakan sistem yang lama.
Parallel testing : sistem yang lama dan baru bekerja secara sekaligus pada
semua bagian di organisasi.
4. Pengamanan fisik dan online.
Pengendalian fisik dan pembatasan hak akses atas software dan data akan mengurangi
risiko atas perubahan yang tidak terotorisasi, dan penggunaan yang tidak seharusnya
atas program dan data. Pengendalian fisik yang layak atas peralatan komputer dimulai
dengan membatasi akses ke hardware, software, serta backup file data. Contohnya
kamera keamanan, personil keamanan (satpam), atau izin akses fisik dan akses online
setelah sidik jari retina karyawan dicocokan dengan database yang disahkan.
Pengendalian akses online meliputi penggunaan user ID dan password,firewall dan
enkripsi.
5. Backup and Contingency Planning
Diperlukan untuk mencegah risiko kehilangan data saat putusnya sambungan listrik,
digunakan baterai atau generator listrik. Untuk bencana yang lebih serius, harus
dibuat backup dan contingency terkait penyimpanan data dan program, di tempat
tertentu atau menggunakan jasa perusahaan lain.
8
6. Hardware Controls
Hardware controls ditambahkan dalam komputer oleh pabrik pembuatnya untuk
mendeteksi dan melaporkan kegagalan peralatan. Auditor memperhatikan tindakan
klien saat menangani kesalahan yang diidentifikasi oleh hardware controls.

Arens (2012) juga berpendapat bahwa application control dirancang untuk software
application, yang ditujukan untuk membantu dalam memenuhi audit objektif. Application
control dilakukan oleh komputer, disebut dengan automated controls, maupun oleh manusia,
disebut manual controls. Application control dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :
1. Input Controls
untuk memastikan informasi yang dimasukkan ke dalam komputer telah diotorisasi,
akurat, dan lengkap. Kesalahan pada IT systems sebagian dihasilkan dari kesalahan
saat data entry. Tipe pengendalian manual dapat digunakan dalam input controls
adalah:
a. Otorisasi manajemen atas transaksi;
b. Kecukupan dokumen sumber sebagai dasar input data; dan
c. Karyawan yang kompeten.
2. Processing Controls
Processing controls untuk mencegah dan mendeteksi kesalahan pada saat pemrosesan
transaksi. Pengendalian yang dilakukan untuk mempertahankan integritas pemrosesan
data antara lain :
a. Data matching
Dua atau lebih data harus dicocokkan sebelum tindakan lebih lanjut dilakukan
pada kasus tertentu
b. File labels
Label file harus dicek untuk memastikan file sudah benar sudah diperbaharui
c. Recalculation of batch totals
Batch total dihitung kembali pada setiap record transaksi yang diproses
d. Cross-footing and zero balance test

9
Cross-footing balance test digunakan untuk membandingkan hasil yang ada
dengan metode tertentu untuk menilai keakuratan. Sedangkan zero balance test
menerapkan logika yang sama untuk pengendalian suatu akun.
e. Write-protection mechanisms. Perlindungan terhadap penulisan atau penghapusan
arsip data yang tidak sengaja dalam media magnetik
f. Database processing integrity procedures.
Sistem database menggunakan database administrator, data dictionaries, dan
concurrent update controls untuk memastikan integritas proses. Concurrent
update controls melindungi records dari kesalahan yang terjadi ketika terdapat dua
atau lebih user meng-update record yang sama.
3. Output Controls
Output controls berfokus mendeteksi kesalahan setelah pemrosesan data selesai.
Pengendalian penting dalam output controls adalah peninjauan data reasonableness
oleh orang berpengetahuan luas atas output tersebut. Pengendalian output terdiri dari:
a. User review of output
para user harus memeriksa kelogisan, kelengkapan, dan kecocokan sistem output
yang mereka peroleh
b. Reconciliation procedures akun dalam general ledger harus direkonsiliasi secara
berkala dengan total akun subsidiary
c. External data reconciliation total database harus direkonsiliasi secara berkala
dengan data di luar sistem

B. Tujuan Pengendalian Aplikasi


Tujuan pengendalian aplikasi menurut Anies S.M. Basalamah (2011) adalah untuk
memperoleh keyakinan bahwa:
a. setiap transaksi telah diproses dengan lengkap dan hanya diproses satu kali
b. setiap data transaksi berisi informasi yang lengkap dan akurat
c. setiap pemrosesan transaksi dilakukan dengan benar dan tepat
d. hasil-hasil pemrosesan digunakan sesuai dengan maksudnya
e. aplikasi-aplikasi yang ada dapat berfungsi secara berkesinambungan.

10
Menurut Arens (2008), auditor bertanggung jawab untuk memahami pengendalian
internal, mereka harus mengetahui tentang pengendalian umum dan aplikasi. Pengetahuan
tentang pengandalian umum akan meningkatkan kemampuan auditor dalam menilai dan
mengandalkan pengendalian aplikasi yang efektif untuk mengurangi resiko pengendalian
bagi tujuan audit terkait. Bagi auditor perusahaan publik yang harus menerbitkan pendapat
mengenai pengendalian internal atas pelaporan keuangan, pengetahuan tentang pengendalian
umum dan apikasi sangatlah penting.
Pengendalian umum dalam lingkungan sistem informasi dapat memiliki dampak yang
sangat luas atas pengolahan transaksi dalam sistem aplikasi. Jika pengendalian ini tidak
efektif, maka akan terdapat resiko bahwa akan muncul kesalahan data dan informasi yang
dihasilkan, dan semuanya dapat terjadi tanpa dapat terdeteksi sejak awal. Dengan demikian
kelemahan dalam pengendalian umum pada lingkungan sistem informasi dapat menghalangi
atau menghambat pengujian pengendalian aplikasi yang digunakan oleh perusahaan tersebut.
Penggunaan pengendalian umum dan aplikasi yang efektif dapat menghasilkan efisiensi audit
yang baik untuk mendukung mekanisme proses bisnisnya.

C. Batch Processing
Batch processing adalah suatu model pengolahan data, dengan menghimpun data terlebih
dahulu, dan diatur pengelompokkan datanya dalam kelompok-kelompok yang disebut batch.
Tiap batch ditandai dengan identitas tertentu, serta informasi mengenai data-data yang
terdapat dalam batch tersebut.

11
Batch Processing

input diautorisasi dan dikumpulkan menjadi sebuah batch,


Batch kontrol otomatis dihitung dan dikaitkan dengan batch file.

Validasi transaksi terjadi. Jika Transaksi gagal:


Apakah diperbaiki dan diselubungi atau jika tidak ditangani.

Processing terjadi (misalnya, pesanan, pembayaran, Penyimpanan untuk


DB)

Processing selesai. Batch balancing terjadi melalui


rekonsiliasi kontrol batch manual atau otomatis.

12

D. Batch Control
Sebagai contoh, misalkan sebuah perusahaan tidak menggunakan sistem penjualan online.
Jadi, faktur penjualan akan dientry setiap akhir hari. Dalam kasus seperti ini, maka
pencatatan transaksi perusahaan disebut sistem batch (bukan sistem online). Jadi, setiap akhir
hari, sekelompok faktur akan diinputkan sekaligus.
Misalkan, pada suatu hari ada 5 buah faktur, yaitu faktur 11010, 11011, 11012, 11013,
dan 11014. Sebelum petugas menginputkan data, petugas akan menjumlahkan nilai penjualan
dalam kelima faktur tersebut dan menjumlahkan kelima nomor seri faktur (55060). Jumlah
lima nomor urut faktur ini memang bukan jumlah yang memiliki makna. Nanti kita akan lihat
apa gunanya jumlah nomor urut ini. Berikutnya, petuigas akan mulai menginputkan kelima
faktur tersebut. Sebelum proses simpan, aplikasi akan dibuat otomatis menghitung total
penjualan dan total nomor urut faktur yang diinputkan. Hasil hitungan komputer tidak
ditampilkan dil layar. User akan diminta menginputkan hasil hitungan user. Komputer akan
membandingkan hasil hitungan user dengan hasil hitungan komputer. Jika berbeda, komputer
memberi informasi bahwa hasil hitungan aplikasi dan hitungan manual berbeda. Perbedaan
ini bisa mengindikasikan ada faktur terlewat diinput atau user melakukan kesalahan
penjumlahan. Jadi, pengendalian batch control total ini berguna untuk memastikan bahwa
faktur diinputkan lengkap dan benar.
Contoh batch control

12
E. Otorisasi Transaksi (Transaction Autorized)
Tujuan dari otorisasi transaksi adalah untuk memastikan bahwa semua transaksi yang
diproses oleh sistem informasi valid sesuai dengan tujuan pihak manjemen. Otorisasi sering
didokumentasikan sebagai penandatanganan, pemberian paraf, atau memasukkan kode
otorisasi atas dokumen atau catatan trasaksi.
Dalam otorisasi ada dua cara :
1. Cara Manual dengan mendapatkan tanda tangan dari manajemen forms batch atau
dokumen sumber, forms atau dokumen sumber merekam data
2. Cara Automatic dengan control akses online melalui identifikasi sandi atau terminal

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada dasarnya teknologi ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari kita. Terutama dalam kegiatan suatu perusahaan. Dimana pada akhirnya
perusahaan juga akan melakukan proses audit dengan memanfaatkan kemajuan teknologi
yang ada saat ini. Pengaruh teknologi informasi terhadap audit komputerisasi ini sebenarnya
membantu memudahkan perusahaan supaya jauh lebih efisien dan efektif, dibandingkan
dengan cara manual.
Sistem komputer telah menggeser cara manual yang sebelumnya digunakan. Dalam
pengendalian internal juga akan mengalami suatu perkembangan dengan adanya teknologi
informasi yang telah berkembang. Perusahaan pada umumnya melakukan pengendalian
internal terhadap input, proses, dan output dari kegiatan proses bisnisnya, pengendalian
manual yang digunakan antara lain adalah otorisasi transaksi, supervisi, pemisahan tugas,
record akuntansi, kontrol akses, dan verifikasi independen.
Pengendalian komputerisasi dikelompokkan menjadi dua yaitu pengendalian umum dan
pengendalin aplikasi. Pengendalian umum berkaitan dengan keseluruhan entitas, seperti
pengendalian atas pusat data sedangkan pengendalian aplikasi memastikan integritas sistem
spesifik seperti pemrosesan pesanan penjualan, utang dagang, dan aplikasi gaji.
Dibutuhkannya pengendalian internal bagi perusahaan adalah besar biaya yang
dikeluarkan untuk kerugian yang terjadi apabila data-data penting yang terdapat di komputer
hilang, potensi kerugian apabila terjadi kesalahan atau penyalahgunaan komputer terhadap
orang yang tidak berkepentingan, biaya yang tinggi apabila komputer mengalami error
karena virus dan sebagainya.

14
DAFTAR PUSTAKA

A.Hall, James dan T.Singleton, 2011, Information Technology Auditing and Assurance,
Edisi Kedua, Jakarta: Salemba Empat

Arens, A.A., R.JElder, dan M.S.Beasley, 2008, Auditing dan Jasa Assurance, Jilid 1, Edisi
Kedua Belas, Jakarta: Erlangga.

Gondodiyoto, S,2007, Audit Sistem Informasi Pendekatan CoblT, Jakarta: Mitra Wacana
Media.

Mulyadi, 2010. Sistem Akuntansi, Edisi Ketiga, Jakarta: Salemba Empat.

Weber R. (1999). Information System Audit And Control. Pearson Education

15