Anda di halaman 1dari 7

KITAB JINAYAT

(PEMBUNUHAN ATAU PENCEDARAAN ANGGOTA TUBUH)

Pembunuhan itu ada tiga kategori: amdun mahdlun (benar-benar


dengan sengaja), khotho-un mahdlun (salah semata-mata), dan amdun
khothok (sengaja tapi salah).
Pembunuhan amdun mahdlun adalah: memukul dengan sengaja
menggunakan alat yang menurut kebiasaan dapat mematikan, dan yang
demikian itu sengaja untuk membunuhnya,(1) maka wajib atasnya
diqoshsos (hukuman mati),(2) apabila dimaafkan oleh keluarganya, maka
dia wajib membayar diyat mugholladhoh (denda diperberat) dan wajib
dibayar secara tunai dari harta si pembunuh. (3)

)1(
Pembunuhan ini termasuk dosa besar, dan dosa yang sangat mengerikan, Allah Taalaa
berfirman: Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka
balasannya ialah neraka Jahannam, ia kekal di dalamnya, dan Allah amat murka kepadanya,
dan melaknatnya, dan menyediakannya siksa yang berat. (an Niasak: 93). Rasulullah saw.
bersabda: Jauhilah olehmu tujuh dosa yang merusak, yakni yang menghancurkan yang
dapat memasukkan pelakunya ke dalam neraka. Salah satunya: Pembunuhan terhadap jiwa
yang diharamkan oleh Allah, kecuali dengan hak, riwayat Muslim (89), dari Abi Hurairoh ra.
Dan riwayat Ibnu Majah dengan sanad shohih (2619), dari al Barrok bin Azib ra. bahwasanya
Rasulullah saw. bersabda: Hilangnya dunia ini lebih ringan menurut Allah dibandingkan
dengan pembunuhan terhadap mukmin tanpa hak, riwayat at Tirmidzy (1395) dan lainnya,
dari Ibnu Amru ra.
)2(
Atau qishos: yakni hukuman mati kepada si pembunuh, Allah Taalaa berfirman: Hai
orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishos berkenaan dengan orang yang dibunuh;
orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka
barang siapa mendapatkansuatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah mengikuti dengan cara
yang baik. Yang demikian itu adalah suatu keringan dari Tuhanmu, dan suatu rahmat. Barang
siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (al
Baqoroh:178). Dan hadits riwayat al Bukhary (4228), dan lainnya, dari Ibnu Abbas ra. ia
berkata: Pemaafan itu suatu kesediaan untuk menerima diyat (tebusan) sebab pembunuhan
secara sengaja. Sedang yang dimaksud mengikuti dengan baik: Pemberi maaf selaku peminta
diyat harus mengikuti dengan baik, dan bagi si pembunuh membayar diyat dengan baik pula.
Tidak ada perbedaan dalam hal wajibnya qishos antara laki-laki dan wanita, berdasarkan
firman Allah Taalaa: Dan akmi telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (at Taurat)
bahwasanya: jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata ... (al Maidah:45). Diriwayatkan
oleh at Thobrony, dari Ibnu Amru bin Hazem al Anshory ra., bahwasanya Rasulullah saw.
bersabda: Pembunuhan sengaja hukumannya qishos.
)3(
Hadits riwayat al bukahry (112), dan Muslim (1355), dari Abi Hurairoh ra., bahwasanya
Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang keluarganya dibunuh oleh pembunuh, maka dia
berhak memilih salah satu dari dua: boleh memilih hukuman bunuh, atau minta diyat
(tebusan), diyat itu wajib dibayar tunai dari harta pembunuh, sebagai hukuman berat atasnya.
Hadits riwayat al Baihaqy (V/104), dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Tidak boleh diyat atas
pembunuhan dengan sengaja secara langsung, dan tidak ada perdamaian, dan tidak diyat
pidana atas dasar pengkuan tanpa saksi, dan tidak dianggap perbuatan jinayat perbuatan
budak. Malik menjelaskan di dalam al Muwathok (II/865), dari Ibnu Syihab, bahwa dia
berkata: Telah berlaku sunnah Rasul, bahwa pemebayaran diyat secara langsung tidak
mempengeruhi sedikitpun diyat pembunuhan dengan sengaja, kecuali bila mereka
menghendaki yang demikian itu. Al Aqilah adalah: pihak keluarga siterbunuh, aqilah juga
diartikan sebagai tebusan yang diterima oleh keluarga siterbunuh,.

116
Pembunuhan khotho-un mahdlun: misalnya seorang melempar kepada
sesuatu, ternyata mengenai seorang tertentu kemudian orang tersebut
mati, maka dia (pelempar) tidak dikenai hukuman qishos, tetapi dia wajib
membayar diyat mukhoffafah (denda diperingan), kepada keluarganya
dengan cara mengangsur selama tiga tahun lamanya. (4)
Pembunuhan amdun khothok: bila seorang dengan sengaja memukul
orang lain dengan alat pukul yang pada kebiasaanya tidak mematikan,
ternyata dia (yang dipukul) mati, maka orang yang memukul tidak
dihukum qishos, tetapi dihukum dengan diyat mugholladhoh (denda
berat) yang diserahkan kepada keluarganya, dan pembayarannya diangsur
selama tiga tahun.(5)
Syarat wajibnya qishos ada empat macam: pembunuhnya sudah baligh,
berakal sehat,(6) bukan orang tua yang terbunuh,(7) yang terbunuh tidak

)4(
Allah Taalaa berfirman: Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang
mukmin lainnya, kecuali karena salah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh orang
mukimin dengan tidak sengaja, hendaklah dia memerdekakan seorang hamba sahaya yang
beriman atau membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya, kecuali jika mereka
bersedekah. (an Nisak: 92). Keberadaan pembayaran diyat, berdasarkan hadits riwayat al
Bukahry (6512), dan Muslim (1681), dari Abi Hurairoh ra. ia berkata: Dua orang wanita dari
suku Hudzail saling bertengkar, maka yang satu melempar yang lain dengan batu, lalu yang
dilempar mati dan mati pula janin yang ada di dalam rahimnya, mereka meminta keadilan
kepada Rasulullah saw., maka beliau memutuskan, bahwa diyat untuk janinnya adalah
ghurroh seorang budak laki-laki, atau wanita, dan diyat atas kematian wanita kepada keluarga
siterbunuh. Ghurroh ialah: tanda putih pada dahi budak, yang menunjukkan bahwa dia adalah
budak penuh. Mereka menyatakan: Pembunuhan ini menyerupai disengaja (syibhu amdin),
maka diputuskan dalam hal ini hukumannya diyat yang diserahkan kepada keluarganya, dan
kalau hal itu ditetapkan terhadap pembunuh karena salah (tidak sengaja) adalah lebih tetapat.
Hadits riwayat Ibnu Majah (2633), dari al Mughiroh bin Syubah, ia berkata: Rasulullah saw.
memutuskan untuk membayar diyat kepada keluarganya bagi pembunuhnya. Dengan cara
mengangsur selama tiag tahun, berdasarkan riwayat dari Umar, Ali, Ibnu Umar dan Ibnu
Abbas ra., bahwasanya mereka memutuskan demikian, dan tidak ada yang mengingkarinya,
sehingga dianggap sebagai ijmak, mereka tidak akan memutuskan demikian kecuali
berdasarkan ilmu dari Rasulullah saw. (tauqif), bahkan as Syafiie menyatakan: Saya tidak
tahu adanya perbedaan, bahwa Rasulullah saw. memutuskan dengan diyat atas si pelaku,
diangsur selama tiga tahun. At Tirmidzy menyatakan (1386): Ahli ilmu telah sepakat bahwa
diyat ditarik selama tiga tahun, perhatikan kitab Nailul Author: VII/90. (VII: 142 keatas)
)5(
Hadits riwayat Ibnu Majah (2627), dan Abu Dawud (4547), dan lainnya, dari Abdullah
ibnu Umar ra., dari Nabi saw. beliau bersabda; Pembunuhan yang salah serupa dengan
disengaja, pemukulan dengan cambuk atau tongkat, seratus dalam satu riwayat: di dalamnya
seratus ekor onta: 40 ekor onta kholifah yang sudah hamil. Perhatikan CK. No: 14. Hadits
riwayat Abu Dawud (4565), bahwasnya Nabi saw. bersabda: Diyat pembunuhan seperti
sengaja (syibihu amdin) adalah diperberat, seperti diyat pembunuhan pembunuhan yang
disengaja, pembunuhnya tidak dibunuh. " " " Diyat yang diperberat
keberadaanya ada tiga macam sebagaimana akan dijelaskan nati. Perhatikan CK. No: 4.
)6(
Oleh karena qishos adalah hukuman badaniyah, dan hukuman tidak bisa diberlakukan
kecuali karena kejahatan pidana, pelaku yang masih anak-anak, atau gila tidak disebut
penggaran pidana, oleh karena tidak tidak adanya kesengajaan untuk membunuh, dan tidak
bisa dianggap orang yang bertanggung jawab terhadap hukum, dan tidak ada qishos untuk
keduanya dalam pembunuhan yang mereka lakukan, sekalipun tampaknya disengaja.

117
lebih rendah derajatnya dibanding si pembunuh, karena kafir atau
budak.(8)
Dihukum bunuh sejumlah orang karena membunuh seorang bersama-
sama.(9)
Semua kejahatan antara dua orang yang diberlakukan hukum qishos
dalam kaitannya dengan hilangnya jiwa seseorang, maka berlaku pula
antar manusia terhadap anggota tubuh.(10)
Dan syarat wajibnya qishos terhadap anggota tubuh, selain syarat-syarat
sebagaimana yang telah dijelaskan di muka, maka ada dua: harus sama
dalam hala nama anggota tubuh secara spesifik: kanan dengan kanan, kiri
dengan kiri, dan tidak antara dua anggota (yang hilang dan penggantinya)
tidak lumpuh (invalid).(11) Dan setiap anggota tubuh yang terambil dari
ruas-ruasnya, maka hukumanya juga qishos,(12) dan tidak diqishos karena
melukia tubuh, kecuali luka yang menulang (sampai kalihatan tulang).(13)

(Fasal): Diyat itu ada dua kategori: mugholladhoh (diperberat) dan


mukhoffafah (diperingan). Diyat mugholladhoh adalah sebanyak 100

)7(
Apabila pembunuh dengan sengaja adalah ayah dari yang terbunuh, maka pembunuh tidak
dihukum bunuh, berdasarkan hadits riwayat ad Daroquthny (III/141), dari sabda Rasulullah
saw.: Tidak dihukum bunuh karena terbunuhnya anak oleh ayahnya, termasuk ayah adalah
kakek atau ayahnya kakek.
)8(
Berdasarkan hadits riwayat al Bukhary (6507), dari Ali ra., dariRasulullah saw.: Tidak
dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir. Dan berdasarkan firman Allah
taalaa: dalam ayat qishos: Merdeka dengan merdeka. Dan dari Ali ra. ia berkata: menurut
sunnah: Tidak dibunuh orang merdeka karena membunuh budak. Menurut hadits Abu Dawud
(4517): Tidak dibunuh orang merdeka karena membunuh budak.
)9(
Hadits riwayat Malik dalam al Muwathok (II/871), dari Said ibnu Musayyab, bahwasanya
Umar ibnu Khothob ra. menghukum bunuh sejumlah orang lima atau tujuh karena
membunuh seorang dengan cara melakukan tipu daya. Umar berkata: Kalau seandainya
sepakat penduduk Shonak, niscaya saya bunuh semuanya. Dan diriwayatkan seperti hadits itu
dari sahabat yang lain dan mereka tidak mengingkari perbuatan Umar tersebut, dan menjadi
ijmak.
)11(
Yakni anggota tubuh manusia, berdasarkan firman Allah Taalaa: Dan telah Kami
tetapkan terhadap mereka di dalam Taurot, bahwasanya jiwa dibalas dengan jiwa, mata
dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan pada
lukapun ada qishosnya. (al Maidah:45).
)11(
Oleh karena yang dinamakan qishos itu serupa (sama), dan tidak sama antara kanan
dengan kiri, dalam hal manfaat, dan tidak sama pula antara anggota tubuh sehat dengan
invalid.
)12(
Untuk memungkinkan bisanya ditetapkan bahwa itu sama, berbeda dengan bila luka itu
tidak seperti itu.
)13(
Yakni luka ayng merobek daging sampai ke tulang dan tampak tulangnya, berdasarkan
firman Allah Taalaa: Dan untuk luka ada qishos, dan qishos itu asalnya berarti persesuaian,
sebagaimana yang telah anda ketahui, dan tidak dapat dipastikan terhadap luka yang tidak
menulang.

118
ekor onta terdiri: 30 ekor onta hiqoh, 30 ekor onta jadzaah, dan 40 ekor
onta kholifah yang sedang mengandung anaknya. (14)
Diyat mukhoffafah adalah dengan 100 ekor onta terdiri dari: 20 ekor onta
hiqqoh, 20 ekor onta jadzaah, 20 ekor onta binta labun, 20 ekor onta ibna
labun, dan 20 ekor onta binta makhodl.(15)
Apabila tidak mendapatkan onta-onta dimaksud, maka pembayarannya
diganti dalam bentuk uang seharga ont-onta dimaksud, ada yang
berpendapat dengan uang sebesar 1.000 dinar, atau 12.000 dirham.
Apabila diyat mugholladhoh maka ditambah dengan sepertiganya. (16)
Diyat pembunuhan khothok mhadlun bisa diperberat dalam tiga tempat:
apabila pembunuhan itu terjadi di tanah Haram, atau terjadi pada bulam
haram, atau yang terbunuh adalah memiliki hubungan rahim dan sebagai
mahrom.(17)
Diyat wanita separoh dari diyat laki-laki,(18) dan diyat orang Yahudi dan
Nasrani sepertiga diyat orang Islam,(19) adapun diyat orang Majusi adalah
dua pertiga puluh diyat orang Islam.(20)
)14(
Hadits riwayat at tirmidzy (1387), dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya,
bahwasanay Rasulullah saw.bersabda: Barang siapa yang membunuh seorang mukmin
dengan sengaja, maka diserahkan kepada wali orang yang terbunuh untuk memilih: bila
mereka mau bisa meminta dihukum qishos, dan bila mereka mau juga bisa dengan meminta
diyat, yakni berupa 30 ekor onta hiqoh, dan 30 ekor onta jadzaah, dan 40 ekor onta kholifah,
dan memeprhatikan mana yang dianaggap baik oleh kedua belah pihak, demikian untuk
memperberat diyat, sebagai perberatan diyat, maka ditentukan 30 an, sebagaimana dijelaskan.
Hiqqoh adalah onta masuk umur empat tahun, jadzaah adalah onta masuk umur lima tahun,
sedangkan kholifah adalah onta onta yang sedang hamil. Perhatikan CK. No: 5.
)15(
Sebagai wujud keringanan adalah dengan lima macam tingkatan umur onta, berdasarkan
hadits riwayat ad Daroquthny (III/172), dari Ibnu Masud ra. hadits mauquf, bahwa dia
berkata: Untuk diyat pembunuhan yang salah (amdun khothok) adalah (100 ekor onta terdiri
dari): 20 ekor onta jadzaah, 20 ekor onta hiqqoh, 20 ekor onta binta labun, 20 ekor onta ibna
labun, dan 20 ekor onta binta makhodl. Seperti hadits mauquf ini ada hadist marfu sampai
kepada Nabi saw., oleh akrena dalam hal perhitungan, tidak mungkin berbicara berdasarkan
penalaran.
)16(
Ini adalah madzhab Syafiie qaul qodim, sedangkan menurut qaul jadid: tetap
memindahkan harga onta sesuai dengan jenis onta dalam diyat mugholladhoh, ini yang ebnar
dan kuat, oleh karena pada dasarnya diyat itu berupa onta, maka dikembalikan kepada harga
onta apabila tidak mendapatkannya.
)17(
Tanah Haram adalah Makkah, bulan haram adalah: Dzulqodah, Dzulhijjah, Muharrom,
dan Rojab. Dalil atas diperberatnya diyat pada tempat-tempat ini adalah perbuatan sahabat ra.
dan sudah termasyhur di kalangan mereka. Diriwayatkan dari Umar ra. ia berkata: Barang
siapa yang membunuh di tanah Haram, atau mahrom, atau di dalam bulan haram, maka dia
wajib membayar diyat ditambah sepertiganya. Diriwayatkan seperti ini dari Utsman dan Ibnu
Abbas ra., yang diriwayatkan oleh al Baihaqy, perhatikan Kitab Takmilatul al Majmuk:
XVII/378, (Dlam kitab al Majmuk milik penerjemah: XX : 453 dan berikutnya) dan
sesudahnya.
)18(
Dasarnya adalah apa yang diriwayatkan oleh Utsman, Ali, Ibnu Masud dan lain-lain ra.
bahwa mereka berpendapat: Diyat wanita seperdua dari diyat laki-laki, tidak da perbedaan di
kalangan sahabat, dan hal itu menajdi ijmak. Dan terhadap hal ini bukanlah pendapat dari
pemikiran, tetapi hukum ini berasal dari Rasulullah saw. (perhatikan: Takmilatul Majmuk:
XVII/378 (Dalam kitab al Majmuk milik penerjemah: XX : 460), dan Nailul Author: VII: 70

119
Dianggap sama dengan diyat pembunuhan dalam hal memotong: dua
belah tangan, dua belah kaki, hidung, dua daun telinga, dua mata, empat
pelupuk/kelopak mata, satu lidah, dua bibir, menghilangkan kemampuan
berbicara, menghilangkan kemampuan melihat, menghilangkan
kemampuan mendengar, menghilangkan kemampuan penciuman,
menghialngkan akal, menghilangkan dzakar, menghilangkan dua buah
peler.(21)
Untuk mudlihah (luka menulang) dan satu gigi, diyatnya lima ekor
onta,(22) dan untuk setiap anggota tubuh yang tidak bermanfaat (invalid)
tetap ada hukumannya.(23)

(Dalam Kitab Nailul Author milik penerjemah:VII: 225). Hikmah dari ini: bahwa diyat itu
manfaatnya pada materi, dan menurut syara telah dijelaskan bahwa untuk manfaat materi
dianggap atau ditentukan untuk wanita seperdua dari laki-laki, seperti dalam hal waris. Hal ini
sudah adil dan serasi dalam setiap keadaan, dan sudah manjadi tabiat laki-laki dan wanita.
)19(
Dasarnya adalah hadits riwyata as Syafiie rohimahullah taalaa di dalam kitab al Um
(VI/92) ia berkata: Umar ibnul Khothob, dan Utsman bin Affan ra. memutuskan dalam hal
diyat orang Yahudi dan Nasarani dengan sepertiga diyat orang Islam, perhatikan hadits
riwayat Abu Dawud (4542).
)21(
As Syafiie rohimahullah Taalaa menyatakan di dalam Kitab al Um: (VI/92): Umar ra.
memutuskan tenatng diyat orang Majusi dengan 800 dirham, ini sama dengan dua pertiga
puluh (2/30) diyat orang Islam, oleh karena ia menyatakan: bahwa diyat orang Islam sama
dengan 12.000 dirham. Diriwayatkan seperti itu oleh Utsman bin Affan dan Ibnu Masud ra.,
dan tersebar di kalangan sahabat, dan tidak ada yang mengingkari seorangapun dari mereka,
maka menjadi ijmak. {al Majmuk: XVII/279 (Dalam Kitab al Majmuk milik penerjemah:XX :
460)}.
)21(
Dua buah peler, hadits riwayat an Nasaie (VIII: 57) dan lainnya, dari Amru bin Hazem
ra., bahwasanya rasulullah saw. menulis surat kepada penduduk Yaman, tentang pembagian
waris, usia, dan diyat, dan sebagai kurirnya adalah Amru bin Hazem .. antara lain: Bahwa
di dalam jiwa ada diyatnya sebanyak 100 ekor onta, untuk hidung apabila terpotong
keseluruhan satu diyat, untuk lidah satu diyat, untuk dua bibir satu diyat, untuk dua buah peler
satu diyat, untuk dzakar satu diyat, untuk tulang belakang (hilangnya kemampuan bersetubuh)
satu diyat, untuk dua buah mata satu diyat, untuk sebelah kaki setengah diyat. Di dalam
riwayat lain: Untuk satu tangan setengah diyat. Dalam riwayat al Baihaqy (VIII/85): Untuk
satu telinga lima puluh ekor onta. Juga riwayat al Baihaqy (VIII/86): Untuk pendengaran
apabila hilang, maka satu diyat sempurna. (100 ekor onta). Untuk anggota tubuh yang tidak
disebutkan di sini diqiyaskan kepada yang sudah disebutkan, demikian pula hilangnya
manfaat dan kemampuan diqiyaskan kepada hilangnya kemampan bersetubuh. Diyat satu jari-
jari tangan atau kaki sepersepuluh diyat, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Amru bin
Hazem ra.: Untuk satu jari-jari dari di antara ajri-jari tangan atau kaki, sepersepuluh diyat.
Tidak ada perbedaan antara jari-jari yang satu dengan yang lainnya, berdasarkan hadits
riwayat al Bukahry (6500) dan lainnya, dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda:
Ini dan ini sama, yakni jari kelingking sama dengan ibu jari. Menurut riwayat Abu Dawud
(4559): Semua ajri-jari itu sama. Apabila yang dihilangkan lebih banyak dari pada anggota
yang termasuk jinayat lebih dari satu, maka wajib membayar diyat secara keseluruhan,
sekalipun melebihi diyat pembunuhan, berdasarkan hadits riwayat Ahmad rohimahullah
taalaa, dari Umar ibnul Khothob ra., bahwa dia memutuskan terhadap seorang lelaki yang
memukul seorang laki-laki, akibatnya menghilangkan pendengarannya, penglihatannya,
kemampuan bersetubuh dan akalnya dengan empat diyat. (400 ekor onta).
)22(
Mudlihah adalah luka yang sampai ke tulang dan membuat tulang tampak jelas, atau
dagingnya terbuka. Terdapat dalam hadits Amru bin Hazem ra. di muka: Untuk satu gigi

120
Diyat hamba adalah sesuai dengan harganya, diyat untuk janin yang
merdeka adalah ghurroh: yakni budak atau amat,(24) diyat janin dikandung
wanita budak adalah sepersepuluh harga ibunya. (25)

(Fasal): Apabila disamping tuduhan pembunuhan dia dituduh telah


melakukan kejahatan lain,(26) maka kebanaran ada pada penuduh, maka
penuduh diwajibkan bersumpah 50 kali, dan dia berhak menerima diyat,
apabila tidak indikasi kejahatan, maka tertuduh bersumpah. (27)

diyatnya lima ekor onta, dan untuk luka mudlihah diyatnya lima ekor onta. Tidak ada
perbedaan antara gigi yang satu dengan gigi yang lain, berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud
(4559) dan lainnya, dari Ibnu Abbas ra., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: semua gigi
itu sama, gigi tengah dan geraham sama saja, artinya sama dalam hal diyat. Di antara luka
yang mewajibkan diyat adalah: (a). al ja-ifah: yakni luka yang sampai masuk ke dalam
rongga tubuh, misalnya sampai ke bagian dalam leher, dada, atau perut, dan sebagainya,
dengan sepertiga diyat, (b) al makmumah: yakni luka yang sampai mengenai otak, yakni
luka yang merobek tempurung kepala dan mengenai selaput otak, untuk itu sepertiga diyat, (c)
al munaqqolah: yakni luka meubah letak susunan tulang dari tempat semestinya, sesudah
dipecahkannya, untuk itu tiga perduapuluh diyat. Dasar dari tiga macam luka ini adalah
adanya hadits Amru bin Hazem ra.: Untuk luka al makmumah sepertiga diyat, untuk luka al
ja-ifah sepertiga diyat, dan untuk luka al munaqqolah lima belas ekor onta (sama dengan tiga
perduapuluh diyat), (d) al hasyimah: yakni luka yang bisa meremukkan tulang, untuk itu
sepersepuluh diyat, berdasarkan hadits riwayat al Baihaqy (VIII/82), dari Zaid bin Tsabit ra. ia
berkata: Untuk luka al hasyimah sepuluh ekor onta. Perhatikan Takmilatul Majmuk: XVII/392
393 (Dalam Kitab al Majmuk milik penerjemah: XX 470 471).
)23(
Seperti tangan yang lumpuh, jari-jari kelebihan, dan daging yang membebani kaki, dan
sebagainya. Demikian pula setiap luka atau pemecahan tulang, tidak ada diyat tertentu, maka
wajib adanya sangsi hukum, yang berat atau nilainya seimbang dengan diyat. Hakim
menganbil keputusan sesuai dengan diyat, dengan syarat di bawah diyat untuk anggota tubuh
yang sehat yang dihilangkan.
)24(
Perhatikan hadits Abi Hurairoh ra. pada CK. No: 4, halaman: 117.
)25(
Diqiyaskan kepada janin yang dikandung wanita merdeka, oleh karena ghurroh sebanding
dengan sepersepuluh diyat wanita merdeka.
)26(
Pengertian kata " " " adalah tuduhan pembunuhan, sedangkan: " "
adalah indikasi, atau karena adanya saksi. Contoh indikasi: pembunuh berada di suatau kota
tertentu, atau tempat tertentu di mana antara dia dan keluarganya ada permusuhan, dan tidak
ada orang lain lagi, sedangkan saksi: ada seorang yang dapat dieprcaya melihat dia, atau ada
orang yang tidak dapat dijadikan saksi melihatnya, bahwa Fulan membunuh Fulanah.
)27(
Dasar hal ini adalah hadits riwayat al Bukahry (5791), dan Muslim (1669) dan lainnya,
dari Sahal bin Abi Hatsmah ra. ia berkata: Abdulah bin Sahal dan Muhayishoh bin Masud ke
Khoibar, dia pada saat itu melakukan ishlah, kemudian mereka berpisah di Nakhal.
Muhayishoh datang kepada Sahal, dia dalam keadaan berlumuran darah dalam keadaan
terbunuh, maka jenazahnya dikuburkan, dan selanjutnya dia tiba di Madinah. Abdurrahman
bin Sahal, Muhayishoh dan Huwaiyyishoh paman Ibnu Masud berangkat, dan menemui
Nabi saw., lalu Abdurrahman pergi dan berbincang-bincang, dia berpaling, maka Nabi saw.
bersabda: Besarkanlah yang sudah besar, - maksudnya untuk mengambil alih pembicaraan
yang lebih besar saya terdia dari epmbicaraan. Beliau bersabda: Apakah kamu menuntut
orang yang membunuhnya membayar diyat, dengan sumpah 50 orang dari kamu. Mereka
menajwab: wahai Rasulullah, suatu urusan yang tidak pernah kami saksikan. Beliau bersabda:
Orang Yahudi itu bisa bebas dari tuduhanmu, dengan sumpah 50 orang dari mereka.
Mereka berkata: Wahai Rasulullah, mereka orang kafir, maka Rasulullah memberikan diyat
mereka dari sisi beliau (baitul maal).

121
Terhadap pembunuh jiwa yang diharamkan(28), maka ia diwajibkan
membayar kafarat: yakni wajib memerdekakan budak yang mukminah,
selamat dari cacat berat, apabila tidak mendapatkan, maka dia wajib
berpuasa selama dua bulan berturut-turut.(29)

)28(
Yakni setiap jiwa muslim tidak boleh ditumpahkan darahnya, kecuali salah dari tiga sebab
sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dengan sabda beliau: Tidak halal darah
seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya aku
adalahutusan Allah, kecuali salah satu sebab: jiwa dibalas dengan jiwa, orang yang sudah tua
berzina, yang memisahkan diri dari agamanya dan meninggalkan jamaah ummat islam,
diriwayatkan oleh al Bukahry 6484 (yang betul: 6878), dan menurut lafadh Muslim (1676):
" " . Disamakan antara muslim dengan kafir dzimmie
atau yang diharapakan menjadi mukmin, besar atau kecil, atau masih janin (dalam
kandungan).
)29(
Berdasarkan firman Allah Taalaa: Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin
karena khothok (salah) hendaklah ia memeredekakan budak yang beriman dan diserahkan
kepada keluarganya, kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika orang yang
terbunuh dari orang yang memusuhimu, padahal dia mukmin, maka hendaklah pembunuh
memerdekakan budak yang beriman. Dan jika yang terbunuh dari keluarga kafir yang ada
perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaklah si pembunuh membayar diyat
yang diserahkan kepada keluarganya, serta memerdekakan budak yang beriman, Barang siapa
yang tidak memperolehnya, maka hendaklah si pembunuh berpuasa dua bulan berturut-turut,
sebagai permohonan taubat kepada Allah, dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
(an Nisak: 92). Wajib terhadap pembunuhan seperti sengaja, atau seperti salah, dan adapun
yang mewajibkan masuk ke neraka apabila pembunuhan itu disengaja. Berdasarkan hadits
riwayat Abu Dawud (3964) dan lainnya, dari Watsilah bin al Asqok ra. ia berkata: Kami
mendatangi Rasulullah saw.tentang sahabat kami yang wajib masuk neraka sebab
pembunuhan, maka beliau bersabda: Bebaskanlah dia dalam satu riwayat hendaklah dia
memerdekakan budak maka Allah akan memerdekakan setiap anggota tubuhnya dari api
neraka. Mereka berkata: Tidak wajib masuk neraka kecualai sebab pembunuhan yang
disengaja. Dalil disyariatkannya kafarat dalam hal ini, diqiyaskan kepada pembunuhan
khothok, lebih tepat. .

122