Anda di halaman 1dari 43

TUGAS

BENCANA ALAM KEBUMIAN

BENCANA ALAM BANJIR DI PULAU BALI DAN NUSA TENGGARA

Disusun oleh:

Kelompok 2 / Geofisika VIII

Emelda Meva Elsera (13.12.2762)

Fakhry Dwi Sulistio (13.12.2765)

Indri Ifantyana (13.12. 2771)

Irfa Destrayanti (13.12.2772)

Komang Gede Pramana S. S. (13.12.2774)

Roby Hidayat (13.12.2784)

Zulham S. (34.16.0005)

Dosen:

Drs. Hendri Subakti, M.Si

PROGRAM SARJANA TERAPAN GEOFISIKA


SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
TANGERANG SELATAN
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara yang luas dan memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Penduduk Indonesia pun hidup nyaman selama bertahun-tahun. Hal ini didukung dengan
iklim di Indonesia yang sangat bersahabat. Indonesia beriklim tropis dengan curah hujan
yang tinggi. Di Indonesia juga terjadi berbagai peristiwa alam yang diakibatkan oleh
pengaruh alam.
Peristiwa alam adalah peristiwa yang terjadi karena pengaruh yang ditimbulkan oleh
alam itu sendiri. Salah satu peristiwa alam yang merugikan manusia dan sering terjadi di
Indonesia adalah banjir. Banjir merupakan bencana yang sudah menjadi langganan bagi
beberapa wilayah di Indonesia dan berdasarkan kuantitasnya, bencana banjir merupakan
bencana rangking pertama di Indonesia.
Banjir adalah peristiwa alam yang bisa dikategorikan sebagai sebuah bencana. Bencana
adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Banjir besar yang berkepanjangan
dapat menjadi bencana alam apabila banjir menganggu kehidupan/aktivitas normal sehari-
hari manusia secara signifikan dan bahkan terhenti.
Banjir atau flood adalah suatu fenomena alam yang didahului oleh hujan dengan
intensitas yang tinggi dengan durasi yang cukup lama di suatu daerah aliran. Apabila daya
serap air oleh tanah setempat terbatas maka sisa air akan mengalir dipermukaan tanah. Aliran
air di permukaan tanah akan mengalir dari seluruh daerah aliran kesuatu tempat yang lebih
rendah dan akhirnya mengumpul pada tempat akhir aliran yaitu srurgai. Apabila kapasitas
aliran sungai tidak mencukupi maka air akan meluap, bahkan tertahan di kanan kiri sungai
dan terjadinya genangan air banjir
Gambar dibawah ini merupakan peta sebaran kejadian bencana yang terjadi di
berbagai provinsi di Indonesia beserta jumlah kejadiannya selama periode tahun 1815-2017.
Selama periode tersebut, provinsi yang paling sering dilanda bencana adalah Jawa Tengah,
kemudian disusul dengan provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.
Wilayah Bali dan Nusa Tenggara merupakan salah satu wilayah yang cukup banyak
terkena bencana. Selama periode tersebut, setidaknya telah terjadi 1.474 kejadian bencana di

2
wilayah ini dengan rincian sebanyak 332 kejadian terjadi wilayah Bali, 429 kejadian di
wilayah Nusa Tenggara Barat, dan 713 kejadian di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Gambar1. Peta sebaran bencana dan kuantitasnya masing-masing provinsi (Sumber: BNPB)

Gambar 2. Peta sebaran bencana provinsi Bali dan Nusa Tenggara (Sumber: BNPB)

3
Kemudian kejadian-kejadian bencana tersebut diplot dan ditampilkan pada diagram
dibawah ini. Berdasarkan diagram tersebut, data menunjukkan bahwa bencana banjir
merupakan bencana yang paling sering terjadi di wilayah Indonesia dengan presentase
sebesar 31,6%.

Gambar 3. Diagram presentase bencana di Indonesia (Sumber: BNPB)

Gambar 4. Sebaran kejadian bencana dan korban meninggal periode 1815-2017

Diagram diatas menyajikan data sebaran bencana dan korban meninggal per jenis
bencana selama periode tahun 1815-2017. Diagram batang menggambarkan jumlah kejadian,
sedangkan diagram garis menggambarkan jumlah korban meninggal akibat bencana tersebut.
Berdasarkan gambar tersebut, terdapat dua diagram yang mencolok yaitu jumlah kejadian
bencana yang sering terjadi adalah bencana banjir, sedangkan bencana yang menimbulkan
korban terbanyak disebabkan oleh gempa dan tsunami.
4
A. Pengertian Banjir
Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam
daratan. Menurut KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian banjir adalah berair
banyak dan juga deras, kadang-kadang meluap. Uni Eropa mengartikan banjir sebagai
perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air. Banjir
diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau
menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya. Sedangkan berdasarkan SK
SNI M-18-1989-F (1989) dalam Suparta (2004), banjir adalah aliran air yang relatif tinggi,
dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran.
B. Penyebab Banjir
1. Penebangan atau penggundulan hutan
Penggundulan hutan adalah suatu kegiatan penebangan hutan dengan tujuan untul
memanfaatkan lahan bekas hutan tersebut. Pemanfaatan lahan tersebut digunakan untuk
pertanian, peternakan, hingga pembukaan lahan untuk pemukiman atau perkotaan. Kegiatan
tersebut menyebabkan gundulnya hutan yang berarti jumlah pohon berkurang padahal akar
pohon berfungsi sebagai penyerap air. Hilangnya pohon berarti penyerap air juga
berkurang. Akibatnya tidak ada pohon untuk menyerap air, sehingga air mengalir tanpa
terkendali dan banjir akan lebih mudah terjadi.

Gambar 5. Penggundulan Hutan


2. Sampah yang sembarangan dibuang di sungai membuat alirannya mampet
Sampah yang dibuang sembarangan di sungai akan menyebabkan aliran sungai
tersumbat. Sampah- sampah yang dibuang ke sungai dalam jangka waktu yang tidak terlalu
lama akan tertimbun di dasar sungai dan menyeban sungai mengalami pendangkalan. Sungai
yang mengalami pendangkalan ini akan menyebabkan berkurangnya debit air yang berada di

5
sungai. Akibatnya ketika air laut pasang dan air dari laut mengisi sungai- sungai yang ada di
sekitarnya dan sungai tersebut tidak cukup untuk menampungnya, hal ini akan menyebabkan
air tersebut meluap dan akan mengaliri daerah di sekitar sungai tersebut. Hal ini dapat
merugikan masyarakat karena memberikan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat.

Gambar 6. Membuang sampah di sungai

3. Pemukiman di bantaran sungai


Masyarakat yang mendirikan rumah di pinggir sungai biasanya mengurangi lebar
sungai. Berkurangnya lebar sungai dapat menyebabkan sirkulasi air menjadi tidak
optimal. Pemukiman di bantaran sungai juga menyebabkan terjadinya pendangkalan sungai.
Pendangkalan sungai atau kali terjadi karena kebiasaan para warganya membuang sampah
langsung ke sungai. Sampah-sampah tersebut akan mengendap dan memperpendek
kedalaman sungai. Selain itu, keadaan tanah yang ada di kiri kanan bangunan bisa saja
ambles lalu menutup sisi-sisi sungai, sehingga kali atau sungai jadi sempit dan rawan bencana
banjir.

Gambar 7. Pemukiman di bantaran sungai

6
4. Daerah yang datarannya rendah
Tentu saja wilayah yang datarannya rendah rawan banjir, karena luapan air akan
mengalir dari tempat yang datarannya tinggi ke tempat yang datarannya rendah. Hal tersebut
sesuai dengan sifat air, yaitu air mengalir dari tempat tinggi menuju tempat yang rendah.

Gambar 8. Pembagian ruang kawasan potensi rawan bencana banjir dan longsor (Sumber:
Ditjen Penataan Ruang Dept. PU)
5. Curah hujan yang tinggi
Negara dengan iklim tropis memiliki intensitas curah hujan yang tinggi, sehingga
ketika musim penghujan datang debit pada penampungan air seperti waduk, kali, sungai
menjadi tinggi dan meluap. Ketika hal tersebut terjadi, membawa masalah lingkungan yang
dikhawatirkan akan terus datang disetiap musim hujan yaitu, bencana banjir. Suatu daerah
yang curah hujannya tinggi, jika terjadi berlarut-larut atau hujan lebat dalam kurun waktu
lama, sangat berpotensi terjadinya banjir

Gambar 9. Hujan di suatu daerah

7
6. Drainase yang diubah tanpa mengindahkan Amdal
Sistem drainase juga menjadi tonggak yang penting bagi pertahanan daratan dari
banjir. Drainase adalah kekuatan tanah untuk dapat menyerap air, ketika sistem penyerapan
tersebut terganggu, maka upaya untuk menyerap air agar masuk ke dalam tanah juga
terganggu. Hal ini akan menyebabkan mudahnya banjir menyerang suatu daerah.
Drainase yang diubah tanpa mengindahkan amdal yang terutama di lingkungan
perkotaan. Daerah hutan atau rawa yang seharusnya bisa membantu mengurangi banjir,
dipakai untuk mambangun mall atau lainnya yang menyebabkan merusak lapisan
atmosfer sehingga akan mudah terjadinya banjir.

Gambar 10. Sistem drainase di jalan raya

7. Bendungan yang jebol


Bendungan yang jebol merupakan penyebab yang sering terjadi di sekitar lingkungan
yang kurang terawat dan mudah dirusak kelestariannya, memanfaatkan sesuatu tidak pada
tempatnya dan hasilnya akan berakibat banjir bandang.

Gambar 11. Bendungan jebol

8
8. Salah sistem kelola tata ruang
Pengelolaan lingkungan semakin berpengaruh terhadap kehadiran bencana banjir,
seiring dengan kecenderungan semakin meningkatnya wilayah perkotaan. Pertambahan
jumlah penduduk, terutama di wilayah perkotaan, berdampak pada peningkatan kebutuhan
akan tempat tinggal dan daya dukung perkotaan. Meluasnya wilayah pemukiman memiliki
pengaruh langsung terhadap berkurangnya daerah resapan air, karena hampir seluruh
permukaan tanah berganti dengan aspal atau beton. Kondisi tersebut diperparah dengan
penataan bangunan dan wilayah yang kurang memperhatikan sistem pembuangan air.
Kesalahan sistem kelola tata ruang yang mengakibatkan air sulit untuk menyerap dan
alirannya lambat. Sementara air yang datang ke daerah tersebut jumlahnya lebih banyak dari
yang biasa dialirkan sehingga mudah cepat terjadinya banjir.

Gambar 12. Contoh rencana penataan suatu kota

9. Terjadinya tsunami

Gambar 13. Banjir akibat tsunami

9
Tsunami merupakan salah satu jenis banjir air laut yang besar. Tsunami biasanya
terjadi akibat dari pergeseran lapisan atmosfer lempeng-lempeng bumi. Tingginya gelombang
tsunami ini dapat menyapu daerah-daerah di sekitarnya hingga menimbulkan banyak korban
jiwa.

10. Tanah tidak mampu menyerap air


Kejadian ini biasanya banyak terjadi ke kawasan perkotaan yang hampir semua dasar
tanahnya sudah memakai aspal dan beton. Pemukiman modern ala perkotaan yang alas
tanahnya sudah disulap menjadi paving-paving cantik dengan berbagai macam motif
sehingga menyisakan kawasan pertanahan yang sangat sedikit sekali.
Ketidakmampuan tanah dalam menyerap air tersebut dikarenakan sudah jarang
ditemukan lahan hijau atau lahan kosong. Sehingga air langsung masuk ke salurannya,
sungai, danau, selokan. Air dalam jumlah yang banyak dan deras yang tidak bisa tertampung
lagi oleh saluran-saluran tersebut pun menggenang dan mengakibatkan banjir.
C. Jenis-jenis banjir
Peristiwa banjir yang terjadi tentunya bermacam-macam tergantung pada
penyebabnya. Oleh karena itu, terjadinya banjir dilihat dari penyebabnya terbagi menjadi
beberapa jenis, antara lain:
1. Banjir Air
Banjir air merupakan banjir yang sering sekali terjadi saat ini. Penyebab dari banjir ini
adalah kondisi air yang meluap di beberapa tempat, seperti sungai, danau maupun selokan.
Meluapnya air dari tempat-tempat tersebut yang biasanya menjadi tempat penampungan dan
sirkulasinya membuat daratan yang ada di sekitarnya akan tergenang air. Banjir ini biasanya
terjadi karena hujan yang begitu lama sehingga sungai, danau maupun selokan tidak lagi
cukup untuk menampung semua air hujan tersebut.

Gambar 14. Banjir air

10
2. Banjir Cileuncang
Banjir ini sebenarnya hampir sama dengan banjir air. Tetapi banjir cileuncang ini
terjadi karena hujan yang derat dengan debit/aliran air yang begitu besar. Sedemikian
sehingga air hujan yang sangat banyak ini tidak mampu mengalir melalu saluran air
(drainase) sehingga air pun meluap dan menggenangi daratan.

Gambar 15. Banjir Cileuncang


3. Banjir Laut Pasang (Rob)
Banjir laut pasang atau dikenal dengan sebutan banjir rob merupakan jenis banjir yang
disebabkan oleh naiknya atau pasangnya air laut sehingga menuju ke daratan sekitarnya.
Banjir jenis ini biasanya sering menimpa pemukiman bahkan kota-kota yang berada di
pinggir laut, seperti daerah Muara Baru di ibukota Jakarta. Terjadinya air pasang ini di laut
akan menahan aliran air sungai yang seharusnya menuju ke laut. Karena tumpukan air sungai
tersebutlah yang menyebabkan tanggul jebol dan air menggenangi daratan.

Gambar 16. Banjir rob


11
4. Banjir Bandang
Banjir bandang merupakan banjir yang tidak hanya membawa air saja tapi material-
material lainnya seperti sampah dan lumpur. Biasanya banjir ini disebabkan karena
bendungan air yang jebol. Sehingga banjir ini memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi
daripada banjir air. Bukan hanya karena mengangkut material-material lain di dalamnya yang
tidak memungkinkan manusia berenang dengan mudah, tetapi juga arus air yang terdakang
sangat deras.

Gambar 17. Banjir bandang


5. Banjir Lahar
Banjir lahar merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh lahar gunung berapi yang
masih aktif saat mengalami erupsi atau meletus. Dari proses erupsi inilah nantinya gunung
akan mengeluarkan lahar dingin yang akan menyebar ke lingkungan sekitarnya. Air dalam
sungai akan mengalami pendangkalan sehingga juga akan ikut meluap merendam daratan.

Gambar 18. Banjir lahar

12
6. Banjir Lumpur
Banjir ini merupakan jenis banjir yang disebabkan oleh lumpur. Salah satu contoh
identic yang masih terjadi sampai saat ini adalah banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa
Timur. Banjir lumpur ini hampir menyerupai banjir bandang, tetapi lebih disebabkan karena
keluarnya lumpur dari dalam bumi yang kemudian menggenangi daratan. Tentu lumpur yang
keluar dari dalam bumi tersebut berbeda dengan lumpur-lumpur yang ada di permukaan. Hal
ini bisa dianalisa dari kandungan yang dimilikinya, seperti gas-gas kimia yang berbahaya.

Gambar 19. Banjir lumpur

D. Daerah Rawan Banjir


Menurut Isnugroho dalam Pratomo (2008), wilayah rawan banjir merupakan wilayah
yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana banjir sesuai karakteristik penyebab
banjir, wilayah tersebut dapat dikategorikan menjadi empat tipologi sebagai berikut:
1. Daerah Pantai.
Daerah pantai merupakan daerah yang rawan banjir karena daerah tersebut merupakan
dataran rendah yang elevasi permukaan tanahnya lebih rendah atau sama dengan elevasi air
laut pasang rata-rata (mean sea level) dan tempat bermuaranya sungai yang biasanya
mempunyai permasalahan penyumbatan muara.

13
Gambar 20. Pembagian ruang kawasan potensi rawan bencana banjir dan longsor (Sumber:
Ditjen Penataan Ruang Dept. PU)

2. Daerah Dataran Banjir (Floodplain Area)


Daerah dataran banjir (Floodplain Area) adalah daerah di kanan-kiri sungai yang muka
tanahnya sangat landai dan relatif datar, sehingga aliran air menuju sungai sangat lambat
yang mengakibatkan daerah tersebut rawan terhadap banjir baik oleh luapan air sungai
maupun karena hujan lokal. Wilayah ini umumnya terbentuk dari endapan lumpur yang
sangat subur sehingga merupakan daerah pengembangan (pembudidayaan) seperti perkotaan,
pertanian, permukiman dan pusat kegiatan perekonomian, perdagangan, industri, dan lain-
lain.

Gambar 21. Daerah dataran banjir


3. Daerah Sempadan Sungai
Daerah ini merupakan wilayah rawan banjir, akan tetapi, di daerah perkotaan yang
padat penduduk daerah sempadan sungai sering dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat
hunian dan kegiatan usaha sehingga apabila terjadi banjir akan menimbulkan dampak
bencana yang membahayakan jiwa dan harta benda.

14
Gambar 22. Daerah sempadan banjir
4. Daerah Cekungan
Daerah cekungan merupakan daerah yang relatif cukup luas baik di dataran rendah
maupun di dataran tinggi. Apabila penatan wilayah tidak terkendali dan sistem drainase yang
kurang memadai, dapat menjadi daerah rawan banjir. Pada daerah cekungan terjadi
perubahan kecepatan, sehingga saat banjir maka air cenderung akan keluar dari lintasan dan
menyebabkan banjir.

Gambar 23. Daerah cekungan

E. Dampak Banjir
Bencana banjir tidak dapat dihindari bila musim hujan berkepanjangan telah melanda.
Banyak dampak yang menyebabkan kerusakan dan dapat merugikan banyak orang bila
terkena musibah banjir, yaitu:
1. Menimbulkan korban jiwa
Hal ini disebabkan dari arus air yang terlalu deras sehingga banyak penduduk yang hanyut
terbawa arus
2. Rusaknya areal pertanian
Banjir mampu menenggelamkan areal sawah yang merugikan bagi para petani dan kondisi
perekonomian negara menjadi terganggu.

15
3. Rusaknya sarana dan prasarana
Air yang menggenang memasuki partikel pada dinding bangunan, jika dinding tidak
mampu menahan kandungtan air maka dinding akan mengalami retak dan akhirnya jebol.
4. Hilangnya harta benda
Banjir dengan aliran yang berskala besar dapat menyeret apapun baik itu meja, pakaian,
kursi, kasur, mobil, motor dan lain-lain.
5. Sebagai bibit penyakit
Penyakit yang dapat ditimbulkan adanya banjir adalah gatal-gatal, demam berdarah, dan
banjir membawa kuman sehingga penyebaran penyakit sangat besar.
6. Lumpuhnya Jalur Transportasi
Banjir dapat melumpuhkan jalur transportasi. Bila bencana banjir datang banyak jalanan
yang lumpuh dan tidak bisa dilewati oleh semua jenis kendaraan, baik itu mobil maupun
motor. Karena genangan air yang cukup tinggi sehingga membuat motor atau mobil tidak
mampu melewati daerah tersebut dan menyebabkan jalanan tersebut lumpuh dan macet total.
Selain mobil dan motor, lalu lintas kereta api pun jadi terhambat akibat banjir.

Gambar 24. Transportasi terhambat karena banjir


7. Memicu Erosi dan Tanah Longsor
Banjir dapat menyebabkan erosi dan tanah longsor. Semakin deras hujan turun maka
semakin tinggi air banjir yang menyebabkan tanah dan jalana terkikis dan dapat menjadi
longsor.
8. Mengganggu Aktivitas
Banjir menghentikan aktivitas sehari-hari, seperti kegiatan bekerja dan sekolah. Bencana
banjir membuat semua orang kehilangan kegiatan karena banyak sekolah yang terkena banjir
dan jalur transportasi lumpuh yang menyebabkan banyak orang tidak dapat berangkat
kekantor. Selain itu banjir juga dapat menyebabkan pemadaman listrik. Jika bencana banjir

16
melanda suatu tempat, maka tempat tersebut akan terkena pemadaman listrik untuk mencegah
terjadinya musibah lain seperti listrik kornslet. Dengan tidak adanya listrik akan membuat
aktivitas terhenti

Gambar 25. Aktivitas pendidikan terhambat.

F. Mengantisipasi dan Mengatasi Banjir


Peristiwa banjir yang identik dengan sebutan bencana tentunya memerlukan perhatian
serius untuk bisa diantisipasi dan diatasi apabila telah terjadi. Beberapa langkah yang dapat
dilakukan untuk mengantisipasi dan mengatasi terjadinya banjir sehingga mampu
meminimalisir kejadian ataupun dampak yang ditimbulkan, antara lain:
1. Penanaman dan pengubahan mindset atau pola pikir, sikap atau tingkah laku serta
aspek spiritual manusia untuk lebih menghargai alam
Manusia sudah sepatutnya untuk sadar dan lebih menghargai alam dengan cara
merawat dan menjaganya dengan baik, bukan malah merusak alam itu sejadi-jadinya. Seperti
saat ini, di mana illegal logging (penebangan hutan secara liar) maupun pembakaran hutan
semaunya sendiri sedang merajalela.
Jadi, apabila tidak ingin mengalami bencana banjir, janganlah membuang sampah
sembarangan, membabat dan membakar hujan semaunya. Namun cobalah untuk mulai
merawat alam itu sendiri dengan cara, seperti reboisasi sehingga alam yang kita tinggali ini
memiliki kemampuan untuk melakukan resapan air dan menyimpan cadangan ketersediannya
sebagai kebutuhan hidup.
2. Pembuatan lubang biopori
Lubang biopori merupakan lubang yang dibuat di sekitar tempat tinggal kita. Dengan
kata lain, lubang ini merupakan lubang resapan air yang berada di lingkungan sekitar. Lubang
resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir

17
dengan cara meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos dan
mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), memanfaatkan peran aktivitas fauna
tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti
penyakit demam berdarah dan malaria.

Gambar 26. Lubang biopori untuk meningkatkan daya resapan air.


3. Menyediakan rumah siaga banjir
Penyediaan rumah siaga banjir ini dimaksudkan sebagai tempat penampungan atau
pengungsian saat banjir terjadi. Pengadaan rumah siaga banjir ini bisa dilakukan oleh
kelompok masyarakat secara swadaya maupun bekerjasama dengan perangkat pemerintahan
setempat, seperti kelurahan dan bupati. Hal-hal yang bisa dikoordinasi dengan adanya rumah
siaga ini, berupa bahan makanan, pakaian, obat-obatan, komunikasi, evakuasi hingga
ketersedian air bersih.
4. Manajemen (pengaturan) hulu dan hilir sungai
Sungai merupakan salah satu organ vital yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya air
menuju muara hingga berakhir di lautan. Manajemen ini memang memerlukan usaha yang
ekstra karena hasil yang maksimal hanya akan diperoleh apabila masyarakat dan pemerintah
setempat mau bekerjasama, sekaligus mencanangkan antisipasi yang akan dilakukan saat
banjir terjadi. Salah satu yang bisa dilakukan ialah dengan cara menerapkan sistem ramah
lingkungan pada sungai yang ada di tempat tersebut, seperti melakukan konservasi air pada
sungai.
5. Memfungsikan sungai, selokan maupun saluran drainase sebagaimana mestinya
Sungai, selokan maupun saluran drainase tidak dijadikan sebagai tempat pembuangan
sampah yang nantinya akan mengganggu jalannya aliran air yang mengalir atau tersumbat.
Apabila terjadi sumbatan, sudah tentu aliran air akan terhambat sehingga alir yang tidak bisa
mengalir akan meluber ke lingkungan sekitarnya.

18
6. Melarang pembangunan rumah di dekat-dekat sungai
Membangun rumah di dekat-dekat sungai tentunya akan merusak tatanan lingkungan
dan juga bisa merusak struktur tanah yang ada di dekat sungai. Hal ini bisa berakibat proses
resapan air tidak berjalan maksimal.
7. Reboisasi dan anti illegal logging
Reboisasi atau penanaman pohon kembali patut dilakukan bahkan digalakkan,
mengingat hutan-hutan yang ada sudah mulai habis terbabat ulah tangan manusia yang tidak
bertanggungjawab dan bertindak semaunya sendiri. Aksi ini juga harus lebih di-intens-kan
atau lebih digalakkan di kawasan perkotaan, menilik di kota-kota besar sudah jarang sekali
pepohonan yang tumbuh sehingga proses penyerapan airnya kurang baik dan udara juga
terasa lebih panas dan tidak heran apabila pusat kota, seperti ibukota Jakarta selalu
mengalami kebanjiran bahkan sudah menjadi musiman setiap tahunnya.
Di samping itu, larangan terhadap tindakan illegal logging (penebangan liar) harus
sangat ditegakkan dan ditegaskan oleh pihak pemerintah sebagai armada negara.Sanksi atau
hukuman yang diberlakukan harus benar-benar jelas dan berjalan dengan adil sesuai
peraturan hukum yang berlaku.
Oleh karena itu, perlu ditekankan sekali lagi bahwa sejatinya bencana banjir yang
terjadi mayoritas disebabkan olah tangan manusia. Sedemikian sehingga cara yang paling
efektif untuk mencegah maupun mengatasi semua jenis banjir yang ada adalah mulai sadar
dan lebih menghargai alam atau lingkungan sekitar, dimulai dari diri sendiri kemudian orang
lain yang nantinya harus saling mengingatkan satu sama lainnya.
Gotong-royong antara sesama anggota masyarakat terhadap kepekaan atau kepedulian
antar sesama juga harus ditanamkan dan dibuktikan dengan tindakan, seperti saling
menghormarti dan tolong-menolong. Apabila sikap ini sudah berhasil tumbuh dan benar-
benar dilakukan dalam masyarakat, maka kerjasama antar orang/individu dalam masyarakat
akan semakin baik. Dan apabila kerjasama sudah baik, maka masalah seperti banjir pun akan
mudah untuk di atasi secara bersama-sama.

19
BAB II

KEJADIAN BANJIR DI BALI DAN NUSA TENGGARA

2.1 Kejadian Banjir di Bali

Banjir Bali (05 Juni 2016)


No.
Lokasi : Wilayah Karangasem Selatan, Gianyar,
Sanur dan Kuta
1. Lokasi dan Waktu Kejadian
Waktu kejadian : 05 Juni 2016

Banjir rob atau banjir air pasang


2. Jenis Banjir
Beberapa restoran atau cafe pinggir pantai
bahkan jalanan dekat pantai tergenang oleh banjir
3. Akibat yang ditimbulkan
Kondisi pasang air laut juga menyebabkan air
melewati pagar bandara Ngurah Rai.

Daerah pantai
Bentang alam daerah Wasior yang memiliki

4. Kondisi daerah bencana kontras kemiringan lereng antara perbukitan


dengan tebing/lereng curam yang secara tiba-tiba
berubah menjadi dataran rendah.

Kondisi kemarau
Adanya pusat tekanan rendah (L) di Samudra
5. Penyebab banjir
Hindia yang menyebabkan nilai gelombang
konstruktif .

6. Dokumentasi

20
Banjir Denpasar (28 Juni 2013)
No.
Lokasi: Imam Bonjol Gang Tri Sakti Banjar
Margaya Desa Pemecutan Kelod,
1. Lokasi dan Waktu Kejadian Kecamatan Denpasar Barat
Waktu kejadian : 28 Juni 2013 pukul 03:00 WITA

Banjir air
2. Jenis Banjir
250 kamar kos terendam
3. Akibat yang ditimbulkan
Kerugian diperkirakan mencapai 70 juta rupiah

4. Kondisi daerah bencana Wilayah padat penduduk

5. Penyebab banjir Hujan deras

6. Dokumentasi

Banjir Bali (21 Desember 2012)


No.
Lokasi: Banjar Bukit Catu, Desa Candi Kuning
Waktu kejadian: Kejadian sekitar pukul 15:00
1. Lokasi dan Waktu Kejadian
WITA

Banjir air
2. Jenis Banjir
Warga kehilangan sanggah hingga tempat usaha
Kerugian ditaksir mencapai 150 juta

3. Akibat yang ditimbulkan Tanah di pinggir pangkung ambles sekitar pukul


16.00 Wita dan sanggah tergerus
Merajan milik keluarga I Komang Wiarta

21
tergerus air bah
Palinggih Bhatara Hyang guru dan tembok
panyengker merajan sepanjang 10 meter jebol
Rumah milik Haji Karimun terancam ambles
Pura Pura Teratai Bang di Desa Pakraman Bukit
Catu, Desa Candikuning bahkan hancur total
Objek wisata Pura Ulun Danu Beratan terndam
lumpur
Arus lalulintas Denpasar-Singaraja via Bedugul
sempat lumpuh
22 bangunan suci di Pura Teratai Bang yang
luluhlantak diterjang air bah, lumpur, kayu
gelondongan, dan rumpun bamboo

4. Kondisi daerah bencana Wilayah padat penduduk

5. Penyebab banjir Hujan deras


Banjir terjadi akibat hujan lebat yang terjadi
sejak Rabu sore pukul 15.00 Wita. Luapan air dan
lumpur meluber ke mana-mana, hingga ke wilayah
Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng di
sisi utara. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa
maupun terluka dalam bencana banjir di Desa
Candikuning (wilayah Tabanan)-Desa Pancasari
(wilayah Buleleng) dan sekitarnya ini. Namun,

6. Kronologi kejadian bencana banjir kali ini menimbulkan banyak


kerusakan.
Begitu memasuki Kebun Raya, sampah ranting
kayu dan lumpur tebal menutupi jalan aspal. Air
bekas banjir yang menggenang di ketinggian tampak
mengalir ke selokan di pinggir jalan. Bagian pinggir
aspal banyak yang pringping (hancur) terkikis air.
Ada pohon besar berdiameter 80 cm roboh hingga
menutup jalan dan hancurkan pinggir sungai.

22
Menurut Kelian Dinas Bukit Catu, Desa
Candikuning, I Wayan Sarma, hujan deras yang
mengguyur Rabu sore hingga malam,
mengakibatkan longsor di hutan lindung Bukit
Lesung dan Gunung Tapak, yang berada di atas (sisi
barat) Kebun Raya Bedudul. Material longsoran,
termasuk kayu gelondongan dan rumpun bambu,
kemudian hanyut ke bawah menerjang apa saja yang
dilewatinya.

7. Dokumentasi

Banjir Bali (10 Desember 2016)


No.
Lokasi: Sejumlah wilayah di Kabupaten Badung
Waktu kejadian: Kejadian banjir sekitar pukul 07:00
1. Lokasi dan Waktu Kejadian
WITA

23
Banjir air
2. Jenis Banjir
Kerugian mencapai 1 Miliar
Akses jalan ke Perumahan Gang Serigala 1 juga
rusak total dan tidak bisa dilintasi kendaraan
Perumahan Abianbase Estate jalan tergerus
luapan air sungai dan merendam 7 unit rumah
serta merobohkan tembok panyengker
Di Tangeb, Mengwi, jembatan menuju
3. Akibat yang ditimbulkan
Perumahan Lumbung Sari tepatnya di Banjar
Kebayan, jebol. Akibatnya mobil tidak bisa
melintas
Banjir juga menggenangi Jalan Raya Kediri,
tepatnya dari simpang empat patung Bung Karno
ke timur hingga menyebabkan kemacetan
panjang.

4. Kondisi daerah bencana Perumahan warga

5. Penyebab banjir Hujan deras


Hujan lebat yang mengguyur wilayah
Kabupaten Badung dan sekitarnya, Sabtu (10/12),
mengakibatkan banjir parah di sejumlah titik.
Daerah paling parah terpantau di Desa Buduk,
Kecamatan Mengwi. Air sungai di daerah tersebut
meluap hingga membuat tempat usaha potong ayam
terendam hingga setinggi lebih dua meter. Tak

6. Kronologi kejadian hanya itu banjir juga memutuskan akses jalan utama
Perumahan Umadewi di Banjar Pasekan, Desa
Buduk.
I Wayan Sukariana mengatakan banjir setinggi
lutut orang dewasa itu juga menggenangi beberapa
rumah warga yang ada di Banjar Dukuh, Desa
Beraban. Hanya saja tidak sampai menimbulkan
kerugian material. Banjir ini pun dikarenakan

24
derasnya hujan yang mengguyur selama tiga jam,
dan tidak pula disebabkan adanya selokan yang
tersumbat.

7. Dokumentasi

Banjir Denpasar (23 November 2016)


No.
Lokasi: Banjir terjadi di sejumlah titik seperti Jalan
Puputan Renon, Jalan Moh Yamin, Jalan
Sudirman, Jalan Waturenggong, Jalan
Tukad Irawadi, Jalan Pulau Saelus, Jalan
1. Lokasi dan Waktu Kejadian Pulau Buton, Jalan Pulau Bali, Jalan
Kartini, Jalan Durian, dan kawasan
Monang-Maning.
Waktu kejadian : 23 November 2016

Banjir air
2. Jenis Banjir
Tingginya air di kawasan ini, membuat arus
3. Akibat yang ditimbulkan
lalin tersendat, dan bahkan ada pengendara sepeda

25
motor yang nekat menerobos banjir, sehingga
kendaraanya mogok.

4. Kondisi daerah bencana Beberapa jalan di Denpasar

5. Penyebab banjir Hujan deras

6. Dokumentasi

Banjir Denpasar (15 Desember 2015)


No.
Lokasi: Jalan Merpati dekat dengan Jalan Batukaru,
Gang Padang, Perumnas Monang Maning,
Banjar Busung Yeh Kauh, Pemecutan
Kelod, Denpasar Barat. Selain di kawasan
Monang-Maning, banjir juga tampak terjadi
di kawasan Jalan Teuku Umar, kawasan
Sanglah, Jalan Mahendradata, dan sejumlah
1. Lokasi dan Waktu Kejadian
wilayah lainnya di Denpasar. Salah satu
yang terparah, yakni di kawasan Jalan
Batukaru, Gang Padang, Monang Maning.
Waktu kejadian: 15 Desember 2015. Hujan
deras terjadi sekitar pukul
09:00 15:00 WITA

Banjir air
2. Jenis Banjir
Sedikitnya 100 rumah warga serta sejumlah
3. Akibat yang ditimbulkan
rumah kos-kosan terendam banjir.

26
Kondisi gang yang buntu membuat luapan air
mencapai setinggi pinggang orang dewasa.

4. Kondisi daerah bencana Beberapa jalan di Denpasar

5. Penyebab banjir Hujan deras


Peristiwa banjir di kawasan ini sudah terjadi
untuk yang ketiga kalinya. Namun banjir di tahun ini
dinilai paling parah. Hujannya sebenarnya tidak
begitu deras. Namun air meluap mulai sekitar pukul
10 pagi.
Pantauan di lapangan, banjir tersebut terjadi
akibat dari gorong-gorong yang mampet hingga
membuat air meluap. Parahnya air yang meluap juga

6. Kronologi Kejadian membawa sampah ke permukaan. Tak hanya


sampah plastik, ranting kayu, sampah kasur, dan
sofa juga ikut terbawa arus air hingga masuk ke
rumah-rumah warga. Bahkan di ujung salah satu
gang terdapat pohon kelapa sepanjang sekitar 2,5
meter yang hambatan arus air. Perilaku masyarakat
yang masih kerap membuang sampah ke sungai
maupun ke got juga memiliki dampak besar
terhadap kejadian banjir ini.

6. Dokumentasi

Banjir Bali (11 Februari 2016)


No.
Lokasi: Wilayah Karangasem (Desa Kubu dan
1. Lokasi dan Waktu Kejadian
Tianyar yang berada di lereng gunung

27
Agung wilayah Timur Pulau Bali)
Waktu kejadian: 11 Februari 2016

Banjir bandang
2. Jenis Banjir
Banjir bandang menutup sepanjang jalan
utama jurusan Singaraja.

3. Akibat yang ditimbulkan Jalur transpotasi lumpuh


Puluhan rumah di wilayah kubu terendam air
bercampur lumpur dan bebatuan

4. Kondisi daerah bencana Beberapa jalan dan perumahan warga

5. Penyebab banjir Hujan deras


Hujan lebat mengguyur wilayah Karangasem
sejak Kamis (11/2) pagi, membuat jalur utama
Singaraja-Karangasem terputus. Tidak hanya
menggenangi badan jalan, air juga merendam
puluhan rumah di wilayah Kubu Karangasem.
Berdasarkan informasi yang didapat, banjir
terjadi sekitar pukul 09.00 WITA, dimana luapan

6. Kronologi Kejadian aliran sungai menuju ke pantai datang tiba-tiba


hingga genangan air meninggi mencapai lutut orang
dewasa. Tidak hanya itu, terjangan banjir bandang
ini memang cukup deras sehingga mengakibatkan
jalur nasional tersebut lumpuh total lantaran tidak
ada satupun pengendara sepeda motor maupun
pengemudi kendaraan roda empat yang berani
menerobos banjir yang disertai lumpur tersebut.

6. Dokumentasi

28
2.2 Kejadian Banjir di Nusa Tenggara

Banjir Bima (23 Desember 2014)


No.
Lokasi: Kel. Melayu Kec. Asakota Kota Kota Bima
Prov. NTB
1. Lokasi dan Waktu Kejadian
Waktu kejadian: 23 Desember 2014

Banjir air
2. Jenis Banjir
Pemukiman warga yang dilanda banjir di Kelurahan
Melayu sebanyak 410 rumah, di Sarae 27 rumah,

3. Akibat yang ditimbulkan Kelurahan Jatiwangi 167 rumah, dan di Nae 167
rumah. Selain itu banjir juga menyebabkan 1 korban
jiwa.
Daerah pemukiman penduduk di didekat sungai
4. Kondisi daerah bencana
yang di dalamnya terdapat tanggul

5. Penyebab banjir Hujan deras dan tanggul yang jebol


Banjir terjadi akibat jebolnya tanggul air di
Lingkungan Gindi, kelurahan Jatiwangi. Tanggu
tersebut dua minggu sebelumnya telah diperbaiki

6. Kronologi Kejadian akibat kerusakan. Jebolnya tanggul diduga akibat


kawasan hutan di wilayah pegunungan Kelurahan
Jatiwangi yang gundul yang kemudian diterpa hujan
deras.

6. Dokumentasi

29
Banjir Bima (21 dan 23 Desember 2016)
No.
Lokasi: Banjir melanda sebagian wilayah di Kota
Bima pada hari Rabu 21 Desember dan Jumat 23
Desember 2016. Keduanya terjadi pada siang
1. Lokasi dan Waktu Kejadian hingga sore hari. Banjir kedua menghasilkan
kerusakan yang lebih parah.
Waktu kejadian: 23 Desember 2014

Banjir bandang
2. Jenis Banjir
Kerusakan akibat bencana banjir bandang
mencakup k.l. 439 bangunan, meliputi: rumah,
kantor, sekolah, Puskesmas, tempat usaha/toko/kios,
3. Akibat yang ditimbulkan
jembatan dan dam, serta lahan pertanian seluas
2.247 Ha sawah. Total kerugian ditaksir mencapai
Rp. 984,40 miliar.
Berada di tepi Teluk Bima pada muara sungai
Padolo dan memiliki daerah belakang (hinterhold)
berupa perbukitan. Kawasan hulu berupa perbukitan
4. Kondisi daerah bencana
gundul. Kawasan hilir/perkotaan merupakan dataran
rendah dilalui oleh dua sungai, salah satunya cukup
besar (S.Padolo).
Curah hujan yang sangat tinggi dan
beralangsung cukup lama (k.l. 12 jam) dipicu
oleh siklon tropis Yvette. Bencana banjir terjadi
dua kali, yakni pada hari Rabu 21 Desember
dan hari Jumat 23 Desember 2016.
Kerusakan hutan di kawasan hulu (Kec.
5. Penyebab banjir
Asakota Kota Bima dan Kec. Wawo Kabupaten
Bima) disebabkan karena:
1.Penebangan liar yang marak terjadi,
2.Penetapan status hutan menjadi Hutan
Kemasyarakatan (HKm) tanpa arahan yang jelas
dan pengawasan yang ketat,

30
3.Pembukaan jalan-jalan baru ke areal perbukitan
yang mempercepat penebangan hutan dan
tumbuhnya permukiman, dan
4.batas teritori antara Kota Bima dan Kabupaten
Bima yang tidak jelas/pasti menyebabkan
ketidakjelasan kewenangan pengawasan di area
perbatasan antara kedua daerah tsb.
5.Penyempitan dan pendangkalan sungai di Kota
Bima, karena:
- bangunan melampaui ketentuan garis sempadan
sungai,
- banyaknya pola sungai berbelok tajam (meander)
di kawasan perkotaan,
- perilaku atau kebiasaan masyarakat membuang
sampah ke sungai.
- Sistem saluran drainase belum terbangun dengan
baik, dimana belum ada konektifitas antar
saluran dari hulu ke hilir serta dimensi saluran
drainase yang sebagian besar tidak memadai
(terlalu kecil).
- Kondisi laut pasang tinggi saat terjadinya banjir
pada siang hingga sore hari pada tangal 21 dan
23 Desember 2016.

6. Dokumentasi

31
No. Banjir Maumere (16 Desember 2016)
Lokasi: Banjir terjadi di sejumlah wilayah di
Kecamatan Alok pada 16 Desember 2016
siang hari. Beberapa jalan utama seperti
1. Lokasi dan Waktu Kejadian Jalan Anggrek, Jalan Pelabuhan, Jalan
Ahmad Yani tergenang air.
Waktu kejadian: 16 Desember 2016

Banjir air
2. Jenis Banjir
Banjir menyebabkan genangan air hingga
ketinggian 50 cm. beberapa ruas jalan mengalami

3. Akibat yang ditimbulkan hambatan lalu lintas. Beberapa pasar di Kota


Maumere juga terendam air. Akibatnya aktivitas
warga menjadi terganggu

4. Kondisi daerah bencana Wilayah perkotaan padat penduduk


Hujan lebat dan banjir yang terjadi di Kota
Maumere pada 16 Desember 2016 di sebabkan oleh
adanya tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah

5. Penyebab banjir selatan Indonesia yang mengakibatkan terjadinya


Through dan belokan angin di selatan pulau Flores.
Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan
Cumulunimbus dan memberikan peluang hujan

32
berkelanjutan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Curah hujan yang terjadi pada 16 Desember 2016 di
Maumere tercatat sebesar 59,9 mm yang merupakan
hujan dengan intensitas lebat. Tingginya curah
hujang tidak didujung dengan saluran irigasi serta
tata kota yang baik. Hal ini mengakibatkan
terhambatnya aliran air saat terjadi hujan deras.

6. Dokumentasi

Banjir Kediri, NTB (2 Mei 2015)


No.
Lokasi: Banjir terjadi di sebagian wilayah
Kabupaten Lombok Barat dan Kota
Lokasi dan Waktu Kejadian Mataram yaitu Desa Kediri, Desa Ombe
1.
dan Desa Nyiurlembang
Waktu kejadian: 2 Mei 2015 siang hari.

Jenis Banjir Banjir bandang


2.
Banjir merendam dusun Timur Raya, Timur
3. Akibat yang ditimbulkan
Raya Utara, Batu Tumpeng Satu, Batu Tumpeng

33
Dua, dusun Karang Anyar, desa Jagaraga Indah,
Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat dan
Kota Mataram. Luapan air dari sungai
Nyiurlembang yang datang secara mendadak
menyebabkan masyarakat di beberapa desa tersebut
tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan harta-
benda mereka. Lima dusun terendam dengan tinggi
muka air 1,5 meter, 5 unit rumah roboh di Dusun
Batu Tumpeng, 3 unit rumah roboh di Batu
Tumpeng Raya dan 100 hektar bibit padi hanyut.
dusun-dusun yang terendam banjir terinci dalam
Timur Raya 200 KK, Timur Raya Utara 205 KK,
Batu Tumpeng Satu 267 KK, Batu Tumpeng Dua
257 KK, dan Karang Anyar 300 KK.

Banjir terjadi pada wilayah penduduk yang cukup

4. Kondisi daerah bencana ramai dan lokasinya bedekatan dengan sungai


Nyiurlembang.
Banjir terjadi karena meluapnya permukaan
air sungai akibat hujan deras. Hujan deras yang
terjadi di Kediri tanggal 02 Mei 2015 pada pukul
12.00-14.00 WIB mempunyai intensitas sebesar 157
mm dan puncaknya terjadi pada pukul 12.30 s/d
13.50 WIB.
Curah hujan pada tanggal tersebut merupakan

5. Penyebab banjir curah hujan ekstrim karena lebih besar bila


dibandingkan dengan curah hujan rata-rata pada
bulan Mei yaitu sebesar 83 mm Tingginya curah
hujan tersebut di trigger (dibangkitkan) oleh
pertemuan udara dingin dan udara panas disebelah
selatan di Jawa Timur bagian Tenggara, Bali bagian
selatan, dan NTB bagian selatan bergerak ke arah
utara sehingga keadaan tersebut membentuk pola

34
wind shear di daerah sekitar NTB yang
membangkitkan pertumbuhan awan Cumulonimbus
(Cb) di daerah tersebut.

6. Dokumentasi

35
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Evaluasi Kejadian Banjir di Bali


Hasil pendataan Pusat Pengendalian dan Operasional Penanggulangan Bencana
(Pusdalops PB) Provinsi Bali menunjukkan ada sekitar 56 desa di Bali rawan banjir. Daerah-
daerah itu tersebar di beberapa wilayah, termasuk di kawasan wisata Kuta dan Jimbaran.
Jumlah terbanyak berada di Kabupaten Buleleng yakni, 33 desa dari 8 kecamatan dari 56
desa secara keseluruhan. Kabupaten Jembrana sebanyak 7 desa dan Badung 6 desa.
Sementara itu, Kota Denpasar juga sangat berpotensi dilanda banjir. Ada 10 desa di ibukota
provinsi Bali ini yang rawan terendam air. Bahkan, tempat-tempat wisata juga terancam
banjir. Hal tersebut dikarenakan struktur jalan yang cekung dan drainase yang kurang bagus,
sehingga air akan menggenangi ruas jalan provinsi dan jalan kabupaten.
Penyebab banjir di Kabupaten Buleleng dan Jembrana didominasi oleh dangkalnya
sungai, banyaknya pemukiman di daerah hulu sungai, penyempitan saluran sungai, dan lokasi
sawah yang lebih tinggi dari pemukiman atau jalan raya. Selain itu, penyebab banjir
ditengarai akibat perambahan hutan serta alih fungsi lahan dari lahan hutan menjadi tanaman
umur pendek seperti sayur-sayuran dan bunga serta tanaman palawija lainnya.
Akibatnya, daerah resapan air berkurang sehingga bila hujan tiba seluruh air akan mengaliri
sungai, bahkan ada yang meluap hingga ke rumah-rumah penduduk.
Gambar dibawah ini merupakan peta Sebaran kejadian bencana banjir di wilayah Bali.
Peta tersebut menggambarkan sebaran bencana per kabupaten periode tahun 1815 hingga
2017. Bali terbagi menjadi 7 kabupaten yaitu, Badung, Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana,
Karang Asem, Klungkung, Kota Denpasar, dan Tabanan. Setiap kabupaten memiliki tingkat
kerentanan yang berbeda-beda sesuai dengan kejadian bencana yang terjadi di masing-masing
kabupaten.

Gambar 27. Peta sebaran kejadian bencana provinsi Bali (Sumber: BNPB)

36
Diagram dibawah ini menggambarkan presentase kejadian bencana banjir di masing-
masing kabupaten di Bali. Jumlah kejadian bencana banjir yang terjadi di Bali sebanyak 62
kejadian bencana banjir yang tersebar di seluruh kabupaten di Bali yaitu, Badung, Bangli,
Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karang Asem, Klungkung, Kota Denpasar, dan Tabanan.
Kemudian diperjelas dengan data jumlah kejadian banjir pada Tabel 1.

Jumlah Kejadian Bencana Banjir di Provinsi Bali


2%

5%
13%
39%
10%

3%
3% 14% 11%

Buleleng Kota denpasar Jembrana


Tabanan Klungkung Karang Asem
Badung Gianyar Bangli

Gambar28 . Diagram kejadian bencana banjir provinsi Bali (Sumber: BNPB)


Berdasarkan diagram tersebut, kabupaten Buleleng merupakan yang paling sering
terjadi dengan jumlah kejadian sebanyak 24 kejadian dengan presentase sebesar 39%, kota
Denpasar sebanyak 7 kejadian dengan presentase 11%, kabupaten Jembrana 9 kejadian
dengan 14%, kabupaten Badung sebanyak 8 kejadian dengan presentase 13%, kabupaten
Karang Asem sebanyak 6 kejadian dengan presentase 10%, kabupaten Gianyar sebanyak 3
kejadian dengan presentase 5%, kabupaten Tabanan dan Klungkung masing-masing sebanyak
2 kejadian dengan presentase 3%, dan kabupaten Bangli sebanyak 1 kejadian dengan
presentase 2%.

Tabel 1. Jumlah kejadian bencana banjir di provinsi Bali (Sumber: BNPB)

Buleleng 24
Kota denpasar 7
Jembrana 9
Tabanan 2
Klungkung 2
Karang Asem 6
Badung 8
Gianyar 3
Bangli 1

37
3.2 Evaluasi Kejadian Banjir di Nusa Tenggara
Kejadian banjir di Nusa Tenggara didominasi oleh pengaruh intensitas hujan yang
terjadi di wilayah tersebut. Selain itu, adanya siklon tropis yang berada di dekat wilayah
tersebut juga ikut mempengaruhi intensitas di wilayah ini. Menurut Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), siklon tropis Yvette diprediksi masih berada di
Samudera Hindia sekitar 590 km sebelah selatan Denpasar dengan arah dan kecepatan gerak
Timur Laut dan kekuatan 85 kilometer/jam (45 knot). Siklon itu menyebabkan hujan dengan
intensitas sedang hingga lebat terjadi di wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Selain itu,
banjir di Bima juga disebabkan oleh kondisi wilayah yang berada pada topografi cekungan.
Gambar dibawah ini merupakan peta Sebaran kejadian bencana banjir di wilayah
Nusa Tenggara. Peta tersebut menggambarkan sebaran bencana per kabupaten periode tahun
1815 hingga 2017. NTT terbagi menjadi 22 kabupaten yaitu, Alor, Belu, Ende, Flores Timur,
Kota Kupang, Kupang, Lembata, Malaka, MAnggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur,
Nagekeo, Ngada, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sikka, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba
Timur, Sumba Tengah, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara. Setiap kabupaten
memiliki tingkat kerentanan yang berbeda-beda sesuai dengan kejadian bencana yang terjadi
di masing-masing kabupaten.

Gambar29 . Peta sebaran kejadian banjir di Nusa Tenggara Timur

Selama periode tersebut jumlah kejadian bencana banjir yang telah terjadi di Provinsi
Nusa Tenggara Timur sebanyak 185 kejadian bencana banjir yang tersebar di seluruh
kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan pembagian presentase kejadian pada
setiap kabupaten sebagai berikut :

38
Jumlah Kejadian Bencana Banjir Di provinsi Nusa
Tenggara Timur

6% 5%
0% 9%
19%
6%
2%
2%
4%
11%
3%
5%
0%
2% 9%
2% 4%
3%
1% 1% 2%
2%
Alor Belu Ende Flores Timur
Kota Kupang Kupang Lembata Malaka
Manggarai Manggarai Barat Manggarai Timur Nagekeo
Ngada Rote Ndao Sabu Raijua Sikka
Sumba Barat Sumba Barat Daya Sumba Timur Sumba Tengah
Timor Tengah Selatan Timor Tengah Utara

Gambar 30. Diagram sebaran kejadian banjir di provinsi Nusa Tenggara Timur

Berdasarkan diagram tersebut, kabupaten Belu merupakan yang paling sering terjadi
dengan jumlah kejadian sebanyak 36 kejadian dengan presentase sebesar 19%, kabupaten
Sikka sebanyak 20 kejadian dengan presentase 11%, kabupaten Timor Tengah Selatan dan
Kupang masing-masing 17 dan 16 kejadian dengan 9%, kabupaten Timor Tengah Utara dan
Sumba Timur masing-masing sebanyak 12 kejadian dengan presentase 6%, kabupaten Alor
dan Kota Kupang masing-masing sebanyak 10 kejadian dengan presentase 5%, kabupaten
Ende dan Manggarai masing-masing sebanyak 8 dan 7 kejadian dengan presentase 4%,
kabupaten Flores Timur dan Nagekeo masing-masing sebanyak 6 kejadian dengan presentase
3%, kabupaten Ngada, Rote Ndao, dan Sumba Barat masing-masing sebanyak 4 kejadian
dengan presentase 2%, kabupaten Lembata, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur
masing-masing sebanyak 3 kejadian dengan presentase 2%, kabupaten Malaka dan
Manggarai Barat masing-masing sebanyak 2 kejadian dengan presentase 1%, dan kabupaten
Sabu Raijua dan Sumba Tengah tidak mengalami bencana banjir dengan presentase 0%
seperti yang disajikan pada tabel berikut.

39
Tabel 2. Jumlah kejadian banjir di NTT

Alor 10
Belu 36
Ende 8
Flores Timur 6
Kota Kupang 10
Kupang 16
Lembata 3
Malaka 2
Manggarai 7
Manggarai Barat 2
Manggarai Timur 3
Nagekeo 6
Ngada 4
Rote Ndao 4
Sabu Raijua 0
Sikka 20
Sumba Barat 4
Sumba Barat Daya 3
Sumba Timur 12
Sumba Tengah 0
Timor Tengah Selatan 17
Timor Tengah Utara 12
Gambar dibawah ini merupakan peta Sebaran kejadian bencana banjir di wilayah Nusa
Tenggara. Peta tersebut menggambarkan sebaran bencana per kabupaten periode tahun 1815
hingga 2017. NTB terbagi menjadi 10 kabupaten, yaitu dengan Kabupaten, Bima, DOmpu,
Kota BIma, Kota Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara,
Sumbawa, Sumbawa Barat. Setiap kabupaten memiliki tingkat kerentanan yang berbeda-beda
sesuai dengan kejadian bencana yang terjadi di masing-masing kabupaten.

Gambar 31. Peta sebaran kejadian banjir di Nusa Tenggara Timur

40
Selama periode tersebut jumlah kejadian bencana banjir yang telah terjadi di Provinsi
Nusa Tenggara Barat sebanyak 158 kejadian bencana banjir yang tersebar di seluruh
kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan pembagian presentase kejadian pada
setiap kabupaten sebagai berikut:

Jumlah Kejadian Bencana Banjir di Provinsi Nusa


Tenggara Barat
7%
19%

28%
8%

5%

4%
2%

11% 11%
5%

Bima Dompu Kota Bima Kota Mataram Lombok Barat


Lombok Tengah Lombok Timur Lombok Utara Sumbawa Sumbawa Barat

Gambar 32. Diagram sebaran kejadian banjir di provinsi Nusa Tenggara Barat

Berdasarkan diagram tersebut, kabupaten Sumbawa merupakan yang paling sering


terjadi dengan jumlah kejadian sebanyak 48 kejadian dengan presentase sebesar 28%,
kabupaten Bima sebanyak 33 kejadian dengan presentase 19%, kabupaten Lombok Timur
dan Lombok Barat masing-masing sebanyak 18 kejadian dengan 11%, kabupaten Dompu
sebanyak 14 kejadian dengan presentase 8%, kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 12
kejadian dengan presentase 7%, kabupaten Lombok Tengah sebanyak 9 kejadian dengan
presentase 5%, kota Bima sebanyak 8 kejadian dengan presentase 5%, kota Mataram
sebanyak 7 kejadian dengan presentase 4%, dan kabupaten Lombok Utara sebanyak 4
kejadian dengan presentase 2% seperti yang disajikan pada tabel dibawah ini.

Tabel 3. Jumlah kejadian banjir di NTT

Bima 33
Dompu 14
Kota Bima 8
Kota Mataram 7
Lombok Barat 18

41
Lombok Tengah 9
Lombok Timur 18
Lombok Utara 4
Sumbawa 48
Sumbawa Barat 12

42
Referensi

https://zainulmakalah.blogspot.co.id/ diakses tanggal 6 Juni 2017


http://ilmugeografi.com/bencana-alam/penyebab-banjir diakses tanggal 6 Juni 2017
https://kelompoklimahmg09.wordpress.com/page/2/ diakses tanggal 6 Juni 2017
http://agroteknologi.web.id/pengertian-penggundulan-dan-penebangan-hutan/ diakses tanggal
6 Juni 2017
https://bebasbanjir2025.wordpress.com/konsep-pemerintah/ditjen-penataan-ruang-dept-pu/
diakses tanggal 6 Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/9800/diterjang-banjir-bandang-warga-bukit-catu-kehilangan-
sanggah-hingga-tempat-usaha diakses tanggal 6 Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/9675/bedugul-porakporanda-pura-teratai-bang-pun-hancur-
diterjang-banjir diakses tanggal 6 Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/9672/denpasar-diterjang-banjir-bandang-7-rumah-dan-4-
pura-rusak-parah diakses tanggal 6 Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/9460/dampak-bencana-banjir-bpbd-catat-kerugian-mencapai-
rp-1-m diakses tanggal 6 Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/9422/hujan-deras-jalan-menuju-tanah-lot-banjir diakses
tanggal 6 Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/9039/hujan-lebat-denpasar-dikepung-banjir diakses tanggal 6
Juni 2017
http://www.nusabali.com/berita/1232/hujan-sekejap-denpasar-terendam-banjir diakses
tanggal 6 Juni 2017
https://www.merdeka.com/peristiwa/banjir-bandang-terjang-puluhan-rumah-di-karangasem-
bali.html diakses tanggal 6 Juni 2017
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/262734-kuta-dan-jimbaran-bali-terancam-banjir\
diakses tanggal 6 Juni 2017
https://kicknews.today/2016/12/22/%E2%80%8Bini-penyebab-banjir-bandang-bima-dan-
kota-bima/ diakses tanggal 6 Juni 2017
http://dibi.bnpb.go.id/DesInventar/dashboard.jsp diakses tanggal 6 Juni 2017

43