Anda di halaman 1dari 66

TUGAS AKHIR - SF 141501

PEMANFAATAN BAHAN MAGNETIK (Fe3O4)


BERBAHAN DASAR KARAT BESI HASIL
KOROSI ATMOSFERIK SEBAGAI RADAR
ABSORBER MATERIAL

MUHAMMAD FAISOL ALWI


NRP 1112 100 052

Dosen Pembimbing
Dr. MASHURI, M.Si

Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2017
TUGAS AKHIR - SF 141501

PEMANFAATAN BAHAN MAGNETIK (Fe3O4)


BERBAHAN DASAR KARAT BESI HASIL
KOROSI ATMOSFERIK SEBAGAI RADAR
ABSORBER MATERIAL.
MUHAMMAD FAISOL ALWI
NRP 1112 100 052

Dosen Pembimbing
Dr.Mashuri, M.Si

Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2017

i
FINAL PROJECT - SF 141501

THE UTILIZATION OF MAGNETIC MATERIAL


(Fe3O4) BASED ON IRON RUST FROM
ATMOSPHERIC CORROSION MECHANISM AS
RADAR ABSORBER MATERIAL

MUHAMMAD FAISOL ALWI


NRP 1112 100 052

Dosen Pembimbing
Dr.Mashuri, M.Si

Physics Departement
Faculty Matematics and Natural Science
Sepuluh Nopember Institute of Technology
Surabaya 2017

ii
PEMANFAATAN BAHAN MAGNETIK (Fe3O4)
BERBAHAN DASAR KARAT BESI HASIL KOROSI
ATMOSFERIK SEBAGAI RADAR ABSORBER
MATERIAL.

Nama : Muhammad Faisol Alwi


NRP : 1112100052
Jurusan : Fisika, FMIPA ITS
Pembimbing : Dr.Mashuri, M.Si

Abstrak
Karat besi merupakan produk oksida yang dihasilkan dari
logam besi. Fenomena terbentuknya karat pada mekanisme
korosi tidak bisa dihindari sehingga membuat bahan logam
cepat rusak dan mudah terdegradasi. Karat besi mengandung
beberepa senyawa diantaranya FeO, Fe2O3 dan Fe3O4 yang
terbentuk karena interaksi pertukarsn ini oleh Base Metal
dengan lingkungan disekitarnya. Oleh karena itu, dilakukan
penelitian dengan judul pemanfaatan bahan magnetik (Fe3O4)
berbahan dasar karat besi hasil korosi atmosferik sebagai
radar absorber material. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan karat besi di wilayah surabaya,
malang, dan bangkalan dalam menyerap gelombang serta
mengetahui tipe magnetisasi serbuk karat besi. Penelitian
dilakukan dengan metode sparasi menggunakan magnet
permanen sebesar 0,02 T dengan variasi lingkungan
surabaya, malang dan Bangkalan. Berdasarkan karakterisasi
XRD didapatkan bentuk fasa pada semua daerah adalah fasa
Fe3O4 dengan tipe amorphus. Pada karakterisasi XRF
diketahui bahwa unsur yang paling banyak ditemukan adalah
Fe. Sedangkan berdasarkan hasil uji VNA didapatkan bahwa
pada frekuensi yang sama, besar reflection loss pada produk
korosi yang didapat di daerah malang sebesar -12 dB, di
bangkalan sebesar -7,8 dB, sedangkan di daerah surabaya
sebesar -20,8 dB.

iv
Kata Kunci :Karat besi, Fe3O4, Material Penyerap Radar,
VNA

v
THE UTILIZATION OF MAGNETIC MATERIAL
(Fe3O4) BASED ON IRON RUST FROM
ATMOSPHERIC CORROSION MECHANISM AS
RADAR ABSORBER MATERIAL

Name : Muhammad Faisol Alwi


NRP : 1112100052
Major : Physics, FMIPA ITS
Advisor : Dr. Mashuri, M.Si.

Abstract
Iron rust is an oxide product from iron metal. The
phenomenon of rust formation on corrosion mechanism cant
be avoided so makes metal material corrupting and degraded
easily. Iron rust contains of several compound which is able to
be used as radar wave absorber material, including FeO,
Fe2O3 and Fe3O4 which was determined by evironmental
condition around of base metal. Hence, the research with tittle
the utilization of magnetic material (Fe3O4) based on iron rust
from atmospheric corrosion mechanism as radar absorber
material was done. This research aims to understand the
ability of rust iron in Surabaya, Malang and Bangkalan in
absorb waves and to know the magnetization type of rust iron.
The experiment was done by separation method using
permanent magnet 0,02 T from different region: Surabaya
,Malang, and Bangkalan. Based on the result of XRD test, the
phase form of whole region is Fe3O4 phase with amorphous
tipes. Fe is the most elements found in metal based on XRF
test. And based on VNA test at the same frequency, the amount
of reflection loss on corrosion product from Malang, Madura,
and Surabaya are -12 dB, -7,8 dB, -20.8 dB.

Key Word- Iron rust, Fe3O4, Radar Absorber Material, VNA..

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah yang


Maha Esa atas limpahan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Tugas Akhir sebagai syarat wajib
untuk memperoleh gelar sarjana jurusan Fisika FMIPA ITS
dengan judul :

Pemanfaatan Bahan Magnetik (Fe3o4) Berbahan Dasar


Karat Besi Hasil Korosi Atmosferik Sebagai Radar Absorber
Material

Penulis menyadari dengan selesainya penyusunan tugas akhir


ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai
pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Ibu Nur Laila tercinta yang senantiasa memberikan
doa dan kasih sayangnya kepada penulis, sehingga
penulis bisa menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan
lancar.
2. Dr. Mashuri, M.Si selaku orang tua kedua penulis
sekaligus dosen pembimbing Tugas Akhir yang selalu
membekali anak-anak dengan berbagai macam
pendidikan, baik dalam penelitian, spiritual, attitude,
dan karakter, sehingga anak-anak mampu menjadi
mahasiswa yang berkarakter.
3. Keluarga tercita, nenek Hj Khodijah, paman H Syihab
serta adik tercinta azza, alfan atas dukungan dan
motivasi yang selalu diberikan.
4. Dr. Yono Hadi Pramono, M.Eng., selaku Ketua
Jurusan Fisika FMIPA ITS.
5. Seluruh Staf Pengajar di Jurusan Fisika ITS.
6. Seluruh karyawan Laboratorium Fisika Material
Jurusan Fisika ITS.

vii
7. Tim penelitian RAM Fera, luthfi, okta, dan shofi yang
turut membantu dalam penelitian dan diskusi di
laboratorium.
8. Teman-teman Aqor, Allif, Habib, Adi, Dewa, Dhea dll
yang tak henti-hentinya menyemangati dan sabar
membantu penulis dalam penelitian
9. Teman-teman FBI 2012, Himasika ITS, JMMI,
Mahad Darul Arqam, Mahad UI, SDM IPTEK
Fantastic 4, teman-teman satu LKTI Safril, Susmita,
Fera, Niko, Ikha, Aning, dan teman-teman Grup
menulis GPP Atas Kekeluargaan Dan Kebersamaan
Selama Perkuliahan Ini.

Penulis menyadari atas keterbatasan wawasan dan


keterampilan yang dimiliki, oleh karena itu penulis akan
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penulisan Tugas Akhir ini. Semoga Tugas
Akhir ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu
pengetahuan serta memberikan inspirasi bagi pembaca
untuk perkembangan lebih lanjut.

Surabaya, Januari
2017

Penulis

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................. i


COVER ...................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ...................................................... iii
ABSTRAK ................................................................................. iv
ABSTRACT ............................................................................... vi
KATA PENGANTAR ............................................................... vii
DAFTAR ISI.............................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ................................................................. xi
DAFTAR TABEL ..................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................. xiii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................... 1


1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................ 2
1.4 Batasan Masalah ................................................................. 3
1.5 Manfaat Penulisan .............................................................. 3
1.6 Sistematika Penelitian ......................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................... 5


2.1 Korosi Atmosfer ................................................................. 7
2.2 Pengertian Magnetite (Fe3O4) ............................................. 8
2.3 Kurva Histeresis dan Sifat Magnetite Bahan ...................... 8
2.4 Radar Absorber Materials ................................................... 10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................... 13


3.1 Alat dan Bahan ................................................................... 13
3.2 Prosedur Kerja .................................................................... 13
3.2.1 Pencarian Sampel Karat Besi .................................... 13
3.2.2 Sparasi Sampel Karat Besi ........................................ 14
3.3 Metode Karakterisasi .......................................................... 14
3.3.1 Karakterisasi Komposisi Unsur Logam dengan Uji
XRF ........................................................................... 14

ix
3.3.2 Karakterisasi Fasa dengan XRD .............................. 15
3.3.3 Karakterisasi Unsur Serbuk magnetik dengan XRF . 15
3.3.4 Karakterisasi Sifat Magnetik Serbuk Karat dengan
Uji VSV..................................................................... 15
3.3.5 Penyerapan Gelombang Mikro Pada Serbuk
magnetik dengan Uji VNA........................................ 16
3.4 Diagram Alir Penelitian ...................................................... 17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................. 23


4.1 Analisis Logam Terkorosi .................................................. 23
4.2 Analisis Sifat Serbuk Karat................................................. 26
4.2.1 Hasil XRD Serbuk Karat........................................... 26
4.2.2 Hasil XRF Serbuk Karat ........................................... 28
4.2.3 Hasil VSM Serbuk Karat Surabaya .......................... 30
4.3 Analisis Sifat Penyerapan Radar Serbuk Magnetik Karat
Besi Menggunakan Uji VNA .............................................. 33

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................... 41


5.1 Kesimpulan ......................................................................... 41
5.2 Saran ................................................................................... 41

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 43


LAMPIRAN............................................................................... 47
BIODATA .................................................................................. 49

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses terbentuknya karat pada titik embun .... 5


Gambar 2.2 Kurva Histeresis untuk a) Soft Magnetic. b)
hard Magnetic .................................................. 9
Gambar 3.1 Karat besi yang didapatkan ditiap daerah. a.
Surabaya, b: malang, c:bangkalan ................... 13
Gambar 3.2 Diagram alir penelitian .................................... 17
Gambar 4.1 Sampel Logam yang Akan di Uji XRF: (a)
Surabaya, (b) Malang, (c) Bangkalan .............. 24
Gambar 4.2 Pola XRD pada Sampel Serbuk Magnetik
Karat Besi dengan variasi lingkungan (a)
Surabaya, (b) Malang, (c) Bangkalan .............. 27
Gambar 4.3 Pola VSM pada sampel serbuk magnetik
wilayah Surabaya ............................................. 31
Gambar 4.4 Sampel Serbuk Magnetik yang akan di uji
VNA ................................................................. 33
Gambar 4.5 Hasil Uji VNA pada sampel serbuk
Magnetik dengan variasi lingkungan (a)
surabaya, (b) Malang, (c) Bangkalan ............... 34

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Spesifik perbedaan lingkungan di tiga daerah,


Malang, Surabaya, Bangkalan ............................. 23
Tabel 4.2 Identifikasi unsur menggunakan uji XRF
pada sampel logam ............................................. 25
Tabel 4.3 Unsur besi tipe ASTM AH36 ............................. 26
Tabel 4.4 Hasil uji XRF Serbuk magnetik karat besi ......... 29
Tabel 4.5 Hasil pengujian sifat magnetik serbuk karat
daerah Surabaya ................................................. 32
Tabel 4.6 Hasil penyerapan gelombang radar dari bahan
magnetik beberapa wilayah surabaya malang
dan bangkalan ..................................................... 35

xii
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A .................................................................47

LAMPIRAN B .................................................................49

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penggunaan logam dalam dunia industri memegang
peranan sangat penting. Alat dan mesin serta instalasi dalam
industri hampir 90% berasal dari bahan logam. Selain
memegang peranan penting, logam memiliki kelemahan
mudah terkorosi sehingga mengakibatkan kegagalan produksi
pada komponen industri, selain itu juga menjadi beban bagi
industri karena terhentinya proses produksi yang
menyebabkan tingginya biaya perawatan yang dikeluarkan
dalam proses aktivitas industri (Budianto,2009).
Korosi sangat memboroskan sumber daya alam.
Bahkan, korosi merupakan musuh utama dalam pembuatan
bahan-bahan logam. Sifat korosi yang tidak bisa dihindari
membuat bahan logam yang digunakan menjadi cepat rusak
dan akhirnya banyak menimbulkan kerugian. Hasil riset tahun
2002 di Amerika Serikat memperkirakan, kerugian akibat
korosi yang menyerang permesinan industri, infrastruktur,
sampai perangkat transportasi di negara adidaya itu mencapai
276 miliar dollar AS. artinya 3,1 persen dari Gross Domestic
Product (GDP) negara tersebut habis akibat korosi
(chamberlain,1998).Korosi merupakan produk oksidasi yang
menghasilkan karat berupa Fe3O4 (magnetite), Fe2O3
(hematite), Al2O3, FeO, dll tergantung dari base metal yang
dipakai dan kondisi lingkungan (atmosfer) sekitar
(Trethewey,1991).
Radar Absorbing Material (RAM) merupakan suatu
material yang memiliki kemampuan untuk menyerap
gelombang elektromagnetik dalam orde gelombang
mikro(Mashuri, 2012). Berdasarkan penelitian tentang Radar
Absorber Material (RAM), diketahui terdapat Salah satu
bahan yang dapat dipakai sebagai penyerap gelombang radar,
yakni bahan magnetik Fe3O4 (Mashuri, 2012). Bahan oksida
1
2

yang lain seperti Fe2O3(hematite) dan FeO juga mampu


menyerap gelombang namun dengan penyerapan yang kurang
baik (Umi,2012).
Material penyerap gelombang radar pada dasarnya
terdiri dari material magnetik dan dielektrik (Yuzcelik, 1997).
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menghasilkan
meterial penyerap gelombang radar ini, diantaranya
menggunakan bahan dielektrik berbahan dasar bambu yang
dicampur dengan PaNi (KH Wu et al,. 2008). Bahan
magnetik(Fe3O4) berbahan dasar Pasir Besi Lumajang (Yuni,
2015), Serta Campuran bahan magnetik dan dielektrik
berbahan dasar Pasir Besi dan Kulit Singkong (Yusro, 2016).
Melihat adanya kecocokan antara produk korosi
dengan bahan dasar penyerap gelombang radar, serta
banyaknya kerugian akibat proses korosi, maka dari itu
dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan produk korosi
berbahan magnetik (Fe3O4) dari produk korosi karat besi
sebagai Radar Absorber Material.Dengan adanya penelitian
ini, diharapkan bisa menjadi acuan mengenai pemanfaatan
produk korosi sebagai bahan penyerap gelombang mikro, serta
bisa menjadi dasar pemanfaatan produk korosi yang selama ini
dikenal sebagai limbah yang merugikan.

1.2 Perumusan Masalah


Perumusan masalah yang akan dibahas pada penelitian
ini adalah
1. Bagaimana mendapatkan bahan magnetik (Fe3O4)
berbahan dasar karat besi
2. Berapa besar Reflection Loss penyerapan gelombang
radar yang dihasilkan dari produk korosi dengan variasi
lingkungan (surabaya, malang, bangkalan).

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang akan dibahas pada penelitian ini adalah:
1. Mendapatkan bahan magnetik (Fe3O4) berbahan dasar
karat besi.
3

2. mengetahui besar Reflection Loss penyerapan gelombang


mikro yang dihasilkan dari produk korosi dengan variasi
lingkungan (surabaya, malang, bangkalan).

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah pada penelitian ini yaitu:
1. Produk korosi berasal dari mekanisme korosi atmosfer
dengan lingkungan tak terkendali didapatkan ditiga
wilayah yakni surabaya, malang, bangkalan.
2. Identifikaasi RAM yang diteliti adalah pada bahan
magnetiknya.
3. Kecepatan korosi pada pembentukan karat besi tidak
diperhitungkan

1.5 Manfaat penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan
pemahaman tentang cara penyerapan gelombang mikro dari
produk korosi berbasis karat besi. Serta pengaruh oksida besi
terhadap Reflection Loss penyerapan gelombang radar.

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan tugas akhir ini, tersusun dalam
lima bab yaitu :Bab 1: Pendahuluan berisi latar belakang
masalah, maksud dan tujuan, perumusan masalah dan manfaat
tugas akhir.Bab 2: Tinjauan Pustaka berisi mengenai kajian
pustaka yang digunakan pada tugas akhir.Bab 3: Metodologi
Penelitian berisi tentang metode dan tahap pengambilan
data.Bab 4: Analisa Data dan Pembahasan berupa hasil data
yang diperoleh, serta analisa yang dilakukan. Bab 5:
Kesimpulan, berisi kesimpulan dan saran dari penelitian yang
telah dilakukan.
4

Halaman Ini Sengaja Dikosongkan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Korosi Atmosfer


Korosi atmosfer adalah jenis korosi yang terjadi akibat
proses elektrokimia antara dua bagian benda padat khususnya
metal besi yang berbeda potensialnya dengan udara terbuka.
Atmosfer di Indonesia termasuk daerah tropis yang lembab,
sehingga merupakan daerah yang sangat korosif bila
dibandingkan dengan belahan bumi di bagian utara
(Trethewey,1991). Fakta menunjukan hampir tidak ada benda,
khususnya metal besi yang bebas dari impuritas didalam
materialnya. Impuritas ini dapat berupa oksida dari metal besi
akibat bereaksi dengan zat asam di udara, perbedaan struktur
molekuler dari material, hingga perbedaan tegangan di dalam
bagian-bagian metal besi sendiri (Graedel, 2001).
Korosi atmosfer termasuk korosi yang terjadi pada
temperatur udara antara -18 ampai 700C pada lingkungan
tertutup atau terbuka. Penurunan mutu logam akibat atmosfer
biasanya juga dipengaruhi oleh cuaca. Korosi atrnosfer
memiliki tingkat korosifitas yang berbeda untuk setiap
lingkungan. (www.key-to-metals.com).

Gambar 2.1 Proses terbentuknya karat pada titik embun

5
6

Pada gambar 2.1 menunjukkan proses korosi tmosfer


pada suatu logam. Pada waktu bintik-bintik embun atau air
hujan mengenai suatu logam, kemudian mengering akibat
terkena panas matahari, maka proses pengkaratan terhenti dan
akan berlanjut lagi ketika permukaan yang berkarat tadi
menjadi basah kembali oleh hujan atau embun. Proses ini akan
terjadi melalui mekanisme diatas secara berulang-ulang hingga
karat bertambah dalam dan produk korosi menutupi
permukaan logam (Trethewey,1991).
Zat pencemar yang ada dilingkungan bermacam-
macam bergantung pada lokasi ditempat terjadinya
pengkaratan, misalnya di tepi pantai zat pencemar yang paling
dominan adalah NaCl yang berasal dari partikel air laut,
disekitar kawasan industri adalah zat H2S, NH3 dan NO2
sedangkan didaerah pedesaan yang paling dominan adalah
Carbonyl Sulfida COS. Walaupun suatu jenis metal tahan
karat di suatu lokasi, belum tentu bersifat sama di tempat lain,
misalnya baja berlapis galvanis tahan karat di daerah
pedesaan, namun kurang tahan karat di daerah industri. Dari
perbedaan-perbedaan pengaruh yang mencolok atas tingkat
pengkaratan di daerah-daerah tertentu, maka daerah-daerah
tersebut dibagi dalam beberapa jenis yakni: Marine, Industrial,
Tropical, Arctic, Urban (pelosok), Rural (pedesaan)
(Trethewey,1991).
Berdasarkan pada kondisi lingkungannya, berikut
faktor-faktor yang mempengaruhi korosi atmosfer
1. Jumlah Zat Pencemar di Udara (Debu dan Gas)
Rata-rata kandungan debu di udara kota-kota besar adalah
2 mg/m3, dan kandungan tersebut akan menjadi lebih pekat di
kawasan industri hingga 1000 mg/m3 atau bahkan lebih.
Debu tersebut terdiri antara lain butir-butir arang, paduan
arang (Carbon Compound), oksida metal, H2SO4, (NH4)2SO4,
dan NaCl. Gas hidrogen sulfida yang terkandung di udara
yang tercemar dapat menyebabkan karat tarnish pada perak
atau tembaga. (Trethewey,1991).
7

2. Suhu dan Kelembaban Kritis


Di daerah yang udaranya bersih dari pencemaran, dengan
suhu yang tetap, apabila tingkat kelembaban relatifnya
dibawah 100% maka tidak akan terjadi pengkaratan yang
berarti pada bahan baja murni. Karena kelembaban relatif
biasanya berfluktuasi sesuai dengan berfluktuasinya suhu dan
karena sampah/kotoran di udara maupun di dalam baja bersifat
higroskopis maka untuk mencegah terjadinya kondensasi di
permukaan baja, kelembaban relatif harus diperkecil hingga
jauh dibawah 100%. Tingkat kelembaban dimana dibawah
harganya tingkat pengkaratan tidak berarti disebut
Kelembaban Relatif Kritis (KRK). KRK untuk baja, tembaga,
nikel dan seng berkisar 50 hingga 70%. Di daerah yang sangat
berat polusi udaranya, kelembaban relatif kritis tidak ada lagi,
karena kelembaban berapapun akan menimbulkan karat
atmosfer.
Faktor yang sangat menentukan kepekaan suatu metal
baja terhadap serangan karat adalah faktor kondisi lingkungan,
dimana untuk didaerah tropis yang tingkat kelembaban
relatifnya cukup tinggi, bahaya atmosfer cukup besar, apalagi
di daerah tepi pantai dan di kawasan industri.
Berikut adalah tahapan-tahapan terbentuknya sel karat:
a) Elektron mengalir dari daerah anodik ke katodik,
meninggalkan ion-ion positif yang tidak stabil. Hal ini
dinyatakan dalam persamaan:
Fe Fe2+ + 2e- (reaksi oksidasi)
b) Di dalam air banyak terdapat ion hidroksil yang
bermuatan negatif. Ion hidroksil berasal dari
H2O (OH)- + H+ atau
-
4e + O2 + 2H2O 4(OH)-
c) Di daerah katodik terjadi reaksi sebagai berikut
2H+ + 2e- H2 berupa gas (reaksi reduksi)
d) Di dalam air terjadi reaksi antara ion besi yang sangat
tidak stabil dengan ion hidroksil yang bermuatan negatif
menjadi garam fero hidroksida yang tidak larut.
Fe2+ + 2(OH)- Fe(OH)2 Fero hidroksida
atau 4Fe + 6H2O + 3O2 4Fe(OH)3
8

dan 2Fe(OH)3 Fe2O3 + 3H2O (I) Feri oksida


Selanjutnya
2Fe(OH)3 + Fe++ + 2H2O Fe3O4+6H+(II) magnetik
Fe(OH)2 + (OH)- FeO (OH) + H2O (III) karat

2.2 Pengertian Magnetite (Fe3O4)


Magnetik (Fe3O4) atau yang biasa dikenal sebagai
oksida besi (iron oxide) atau ferous ferrite merupakan oksida
logam yang paling kuat sifat magnetisnya (Silvia Trisa Putri,
2011). Salah satu kelebihan magnetit absorben, dimana sifat
ferromagnetiknya yang mampu mengabsorbsi gelombang
elektromagnetik melalui mekanisme kemagnetan khususnya
terhadap atom-atom atau ion-ion logam yang bersifat
paramagnetik (Laksmita, 2012).
Dijelaskan pula oleh Grace Tj. Sulungbudi,
Mujamilah dan Ridwan (2006) bahwasanya fasa magnetite
(Fe3O4) yang terdapat pada besi oksida memiliki sifat
magnetik yang baik dan tertinggi dari pada fasa lainnya
sehingga dapat digunakan dalam berbagai aplikasi penyerap
bahan logam maupun gelombang mikro. Optimalisasi sifat
magnetik bahan oksida besi dilakukan dengan mengupayakan
pembuatan bahan dengan fasa Fe3O4 semurni mungkin.

2.3 Kurva Histerisis dan Sifat Magnetik Bahan


Karakterisasi kemagnetan suatu bahan dapat dilihat
pada kurva histerisis nya. Berdasarkan kurva histeresis, sifat
magnet dapat dibedakan menjadi soft magnetic dan hard
magnetic material. Hal ini ditunjukkan oleh gambar 2.4. Soft
magnetic material mempunyai kurva histeresis berbentuk
pipih karena energi yang hilang saat proses magnetisasi rendah
sehingga koersivitasnya kecil. Sedangkan hard magnetic
material mempunyai kurva histeresis dengan bentuk cembung
karena energi yang hilang saat proses magnetisasi tinggi
sehingga koersivitasnya besar. Bentuk kurva histeresis soft
magnetic material yang pipih menunjukkan bahwa energi
yang hilang saat proses magnetisasi rendah. Hal ini membuat
soft magnetic material mudah untuk dimagnetkan namun juga
9

mudah kehilangan sifat magnetiknya. Sedangkan bentuk kurva


hard magnetic material sukar untuk dimagnetkan namun
apabila sudah dimagnetkan tidak mudah kehilangan sifat
magnetnya (Rosler, et.al, 2003)

Gambar 2.2 Kurva Histereresis untuk a) Soft Magnetic. b) hard


Magnetic (Rosler, et.al, 2003)
Berdasarkan nilai koersivitasnya, material magnetik
diklasifikasikan menjadi magnet keras (Hc>1k kA/m) dan
magnet lunak (Hc<1 kA/m). Sedangkan cara untuk
menghilangkan remanen magnet secara total adalah dengan
membalikkan arah magnetisasi medan magnet eksternal.
Bahan yang mencapai saturasi untuk harga H rendah disebut
magnet lunak seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.2 (a).
Sedangkan bahan yang saturasinya terjadi pada harga H tinggi
disebut magnet keras seperti yang ditunjukkan pada gambar
2.2 (b) (Khasanah, 2012).
2.4 Radar Absorber Materials
Teknologi RAM (Radar Absorbing Material) sekarang
ini menjadi fokusan di banyak riset dan penelitian. Hal ini
tidak lepas dari kegunaan RAM yang sangat penting dalam
berbagai aplikasi teknologi, khususnya pada bidang militer.
Lebih dari itu, penggunaan RAM secara luas digunakan untuk
10

menghalangi atau meminimalisir pemantulan gelombang


elektromagnet dari suatu peralatan yang cukup besar.
Contohnya, pesawat terbang, kapal, tank dan suatu ruangan
(Yusro, 2016).
Material anti radar atau yang sering dikenal sebagai
bahan absorber material (RAM) pada intinya merupakan
material yang mempunyai sifat bahan magnetik, dielektrik dan
konduktif. Dimana sifat-sifat tersebut mampu mereduksi
gelombang elektromagnetik melalui mekanisme polarisasi
dipol magnetik. Gelombang elektromagnetik yang
dipancarkan memiliki energi sebesar h terbentuk oleh medan
magnet dan medan listrik. Mekanisme penyerapan gelombang
elektromagnetik pada material RAM yaitu dengan penyerapan
energi listrik oleh bahan dielektrik dan penyerapan energi
magnet oleh bahan magnetik. Adanya tambahan energi yang
didapat dari pancaran gelombang elektromagnetik
menyebabkan dipol-dipol magnet mengalami proses polarisasi
akibat muatan terinduksi. Proses polarisasi menimbulkan
pergerakan muatan sehingga timbul energi kinetik yang
berlangsung secara terus menerus sehingga timbul panas
dalam satuan joule atau dapat disebut sebagai efek joule. Pada
dasarnya, prinsip penyerapan energi gelombang
elektromagnetik oleh material RAM adalah dengan
mentransformasikan energi gelombang elektromagnetik dalam
bentuk disipasi panas melalui mekanisme polarisasi dipol-
dipol magnetik sehingga tidak ada gelombang yang
direfleksikan (Saville, 2005).
RAM (Radar Absorbing Material) berbasis bahan
magnetik seperti ferit memiliki keunggulan yang berbeda dari
bahan dielectrik, karena RAM berbahan magnetik hanya
membutuhkan ketebalan sepersepuluh dari ketebalan dielektrik
untuk mencapai pengurangan RCSR (Radar cross section
reduction). Bahan magnetik memiliki permeabilites relatif
yang berbeda dengan ruang bebas. Terdapat beberapa tipe
material yang digunakan sebagai bahan penyerap gelombang
radar yang mencakup material dielektrik dan magnetik.
11

Pada diskusi mengenai material, penyerap magnetik


bergantung pada seberapa besar hilangnya magnetik (magnetic
losses). Magnetic losses bergantung pada permeabilitas
magnet dari suatu material. Bahan magnetik yang tersedia
untuk digunakan dalam RAM umumnya memiliki relatif
permitivitas dan relatif permeabilitas yaang tinggi. Oleh
karena itu, secara praktis, bahan murni magnetik (non
dielektrik) sulit didapatkan (Yuzcelik, 2003). Dua bahan yang
paling umum digunakan dalam RAM adalah karbonil besi dan
ferit ditangguhkan dalam dielektrik. Bahan dasar yang sering
digunakan untuk mensintesis partikel magnetik ferrite
umumnya berasal dari senyawa besi murni atau larutan kimia
komersial. Namun pada kebanyakan aplikasi, besi dan
komponen besi dewasa ini telah ditemukan sangat bagus
digunakan sebagai RAM. Seperti halnya senyawa Fe3O4
(Mashuri, 2012). Terdapat juga senyawa lain seperti Fe2O3
yang dapat digunakan sebagai bahan RAM namun
penyerapannya tidak terlalu besar (Umi, 2012). Bahkan
menurut anwar 2007, Ferrit merupakan salah satu contoh
material yang memiliki permeabilitas yang tinggi, sehingga
dapat digunakan sebagai material penyerap gelombang
elektromagnet. Sedangkan untuk produksi dengan skala yang
besar, biaya yang dikeluarkan sangat tinggi, terutama pada
produksi material RAM sehingga diperlukan material yang
murah dan mudah didapatkan untuk menghasilkan material
Magnetik ini.
12

Halaman Ini Sengaja dikosongkan


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam menyiapkan sampel
pada penelitian ini adalah magnet permanen, mash 150, kertas
map, tisu, neraca digital, klip plastik, spatula, gelas ukur, gelas
beker, dan kuas. Untuk karakterisasi sampel sebelum dan
sesudah proses penggilingan dipakai alat uji Difraktometer
Sinar-X (XRD), X-Ray Fluorocencies (XRF), Vibrating
Sample Magnetometer (VSM ) dan Vector Network Analyser
(VNA). Sedangkann bahan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah karat besi yang berasal dari tiga daerah yakni
malang, surabaya dan bangkalan.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Pencarian Sampel karat besi
Pencarian sampel karat besi dilakukan di tiga daerah
berbeda yakni malang, surabaya dan bangkalan. Pencarian
sampel didasarkan pada kondisi lingkungan ditiap daerah.
Dimana masing-masing daerah memiliki spesifikasi suhu,
salinitas air serta kondisi demografi yang berbeda-beda.
Sehingga akan menentukan produk korosi dengan kuantitas
senyawa yang berbeda-beda pula satu sama lain.

a b c
Gambar 3.1 Karat besi yang didapatkan ditiap daerah. a. Surabaya,
b: Malang, c:BBangkalan

13
14

3.2.2 Separasi Sampel karat besi


Karat besi yang telah didapatkan ditiap-tiap daerah
kemdian dibersihkan dengan kuas cat untuk menghilangkan
pengotor dipermukaan besi. Setelah itu, besi yang telah
dibersihkan dengan kuas di sparasi dengan menggunakan
mesh 150 untuk mengambil produk korosi yang terdapat
dipermukaan loga besi. Setelah proses sparasi selesai, serbuk
besi yang telah didapatkan di ekstraksi dengan menggunakan
magnet permanen lemah untuk memisahkan bahan magnetit
(Fe3O4) dan bahan non magnetik yang terkandung dalam
serbuk besi. Mekanisme ekstraksi serbuk besi dilakukan
pengulangan sebanyak 10 kali dengan cara menempelkan
magnet pada satu sisi bagian kertas map setebal 0,1 cm
sedangkan serbuk besi ditempelkan pada bagian sisi lain
kertas map lalu magnet digosok-gosokkan hingga didapatkan
serbuk besi yang memiliki sifat magnet tinggi yang menempel
sangat kuat pada kertas.

3.3 Metode Karakterisasi


3.3.1 Karakterisasi Komposisi Unsur pada Logam dengan
XRF
Karakterisasi dengan X-Ray Fluorocencies (XRF) ini
sangat diperlukan karena sampel berupa karat besi yang
digunakan pada penelitian ini berasal dari korosi akibat
lingkungan, sehingga perlu adanya konfirmasi unsur yang
mungkin terdapat pada sampel besi. Sehingga dapat diketahui
unsur-unsur apa saja penyusun karat besi di tiga daerah yang
berbeda. XRF merupakan pengujian yang tidak merusak dan
berfungsi untuk menganalisa komposisi kimia yang
terkandung dalam sampel dengan menggunakan metode
stoikiometri. XRF pada umumnya digunakan untuk
menganalisis mineral dan bebatuan. Analisis digunakan secara
kualitatif maupun kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan
untuk menganalisis jenis unsur yang terkandung dalam bahan
dan analisis kuantitatif dilakukan untuk menentukan
konsentrasi unsur dalam bahan. XRF (X-Ray Flourocencies)
bertujuan untuk memperoleh data kualitatif unsur-unsur yang
15

terkandung di dalam sampel dan juga persen beratnya.

3.3.2 Karakterisasi Fasa dengan XRD


Untuk mengetahui fase-fase yang menyusun serbuk
karat besi dilakukan pengukuran difraksi sinar-X
menggunakan Philips XPert MPD (Multi Purpose
Diffractometer) di Laboratorium Difraksi Sinar-X Jurusan
Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Sumber radiasi yang digunakan adalah Cu dengan panjang
gelombang 1,54056 dioperasikan pada tegangan 40 kV dan
arus 30 mA.
Pengujian XRD ini dilakukan untuk mengidentifikasi
fasa yang terbentuk dari hasil sintesis (analisa kualitatif) dan
untuk mengetahui derajat kekristalan dari pola difraksi fasa
amorf (analisa kuantitatif). XRD ini bekerja dengan
menggunakan sumber energi berupa sinar-X.

3.3.3 Karakterisasi Uusur Serbuk magnetik dengan XRF


Karakterisasi dengan X-Ray Fluorocencies (XRF) ini
diperlukan untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang terdapat
pada serbuk karat setelah proses ekstraksi. berbeda pada uji
XRF untuk logam besi, uji ini dilakukan pada karat hasil
oksida besi yang telah didapat di tiga daerah.

3.3.4 Karakterisasi Sifat Magnetik pada Serbuk karat


dengan VSM
Pengujian sifat magnetik dari semua serbuk magnetit
sebelum dan sesudah proses penggilingan dilakukan dengan
menggunakan alat uji VSM (Vibrating Sample
Magnetometer). Semua sampel dipreparasi terlebih dahulu
untuk mendapatkan sampel uji yang sesuai hingga mampu
dikarakterisasi oleh alat VSM. Informasi yang didapatkan
berupa besaran-besaran sifat magnetik sebagai akibat
perubahan medan magnet luar yang digambarkan dalam kurva
histerisis.
16

3.3.5 Penyerapan Gelombang Mikro pada Serbuk


magnetik dengan uji VNA
Sifat absorbsi materal merupakan sifat
material dalam menyerap gelombang elektromagnetik yang
dipancarkan oleh pemancar gelombang pada rentang frekuesni
tertentu. Karakterisasi sifat absorpsi ini dilakukan dengan
menggunakan Advantest R-3770 VNA (Vector Network
Analyzer) 300 KHz-20 KHz yang tujuannya untuk mengukur
nilai absorbsi serbuk magnetit dan juga nilai reflection loss.
17

3.4 Diagram Alir Penelitian

Pengambilan karat besi di tiga daerah,


malang, surabaya, bangkalan

Karat besi dari tiap daerah yang telah


didapatkan dibersihkan dengan kuas

Pemisahan serbuk karat


dan logam besi di
masing-masing daerah Logam
dengan mesh 150 besi

Uji
XRF
Serbuk karat

Serbuk karat yang telah didapatkan kemudian di


ekstraksi sebanyak 10 kali dengan menggunakan
magnet permanen

Serbuk karat hasil ekstraksi ditiap daerah


malang, surabaya, bangkalan didapatkan

Uji Uji Uji Uji


XRD XRF VSM VNA

Gambar 3.2 . Diagram alir penelitian


18

Halaman ini sengaja dikosongkan


BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN

4.1 Analisis logam terkorosi


Penggunaan logam dalam suatu industri memegang
peranan sangat penting. Alat dan mesin serta instalasi dalam
industri hampir 90% berasal dari bahan logam. Karat yang
dihasilkan dari produk korosi yang dikenal sebagai oksida
memiliki karakteristik masing-masing tergantung dari base
metal dan kondisi lingkungan. Karakteristik oksida yang
dihasilkan dari akibat lingkungan dan base metal ini
berpengaruh tidak hanya terhadap jenis fasa, namun juga pada
kuantitas berat oksida yang dihasilkan. Lingkungan akan
berpengaruh terhadap kecepatan korosi sehingga juga akan
mempengaruhi banyaknya oksida yang dihasilkan.

Tabel 4.1 Spesifik perbedaan lingkungan di tiga daerah, Malang,


Surabaya, Bangkalan.

No Region Topography S M B
& Environment
Ketinggian permukaan
1 38 700 -1700 2-5
tanah (m)
Rainfall per year
2 1751 2471 1838
(mm)
3 Temperatur udara (C) 27,75 21,5 27.5
Rata-rata hujan perhari
4 147 134 130
pertahun (days)
Keterangan: S= Surabaya, M=Malang, B=Bangkalan
Sumber: www.pusdaling.jatimprov.go.id

Dari dari data diatas, Faktor lingkungan sangat


menentukan kepekaan suatu metal baja terhadap serangan
karat atmosfer dalam suatu lingkungan. Faktor yang dimaksud
adalah pada persentase waktu, dimana angka kelembaban
relatif kritis pada proses korosi dilampaui. Waktu ini disebut
Waktu Kebasahan (time of wetness). Hal ini dapat ditentukan
dengan menghitung tegangan antara metal yang berkarat
23
24

dengan elektroda platina. Khusus didaerah tropis dimana


tingkat kelembaban relatifnya cukup tinggi, bahaya atmosfer
cukup besar, apalagi di daerah tepi pantai dan di kawasan
industri. Berdasarkan analisis kondisi lingkungan tersebut,
logam yang telah terkorosi diambil di tiga daerah berbeda,
yakni surabaya, malang dan bangkalan.
Dari Tabel 4.1 yang didapatkan, diketahui bahwa masing-
masing wilayah memiliki ciri khusus yang akan memengaruhi
produk korosi yang terbentuk. Korosi atmosferik sangat
dipengaruhi oleh kondisi topografi dan iklim atau lingkungan.
Faktor-faktor seperti temperatur, kelembaban dan kandungan
bahan kimia dalam udara sangat menentukan laju korosi ini
(Fontana, 1987; Agung, 2004). Selain berdasarkan lingkungan,
base metal atau jenis logam juga mempengaruhi produk korosi
yang dihasilkan. pembuatan logam juga mempercepat
timbulnya korosi. (American Galvanizers Association, 2000).

komposisi logam, struktur metalurgi, dan proses

(a) (b) (c)

Gambar 4.1 Sampel logam yang Akan di Uji XRF: (a) Surabaya,
(b) Malang, (c) Bangkalan

Maka dari itu, dilakukan uji XRF untuk mengetahui jenis


dan kuantitas unsur logam yang didapat ditiga daerah. Logam
yang telah diambil dari lingkungan dan dibersihkan, dipotong
kecil untuk kemudian diuji kandungan unsur yang ada
didalamnya.
25

Tabel 4.2 Identifikasi Unsur Menggunakan Uji XRF Pada Sampel


Logam

Nama Kandungan unsur (%)


Unsur Surabaya Malang Bangkalan
K 0,064 - 0,09
Ca 0,48 0,21 0,45
Cr 0,10 0,10 0,12
Mn 0,32 0,26 0,20
Fe 97,51 97,66 97,57
Ni 0,74 0,72 0,74
Cu 0,10 0,11 0,10
Rg 0,67 0,57 0,68
La 0,02 0,04 0,04
Br - 0,49 -

Berdasarkan pada tabel tersebut, diketahui unsur besi


(Fe) yang terkadung di tiga sampel adalah unsur yang sangat
dominan dari unsur lain dengan komposisi sekitar 97%.
Dengan kata lain, tipe besi di tiga daerah yang didapatkan
identik atau hampir sama. Senyawa Fe yang ada di alam bebas
akan membentuk senyawa oksida utama diantaranya Fe3O4
(magnetit), Fe2O3 (hematit), dan FeO. Namun, dari hasil XRF
ini masih terdapat impuritas (pengotor) seperti K, Cr,Mn, Ca,
Ni, dsb. Hal ini masih bersifat normal dikarenakan sampel
yang digunakan berasal dari besi yang sudah terkorosi oleh
lingkungan yang dibersihkan dengan menggunakan mesh dan
tidak diberi perlakuan khusus. Jumlah impuritas yang cukup
sedikit dibandingkan dengan kandungan Fe tersebut bisa
dikatakan bahwa sampel besi yang digunakan memiliki
kemurnian kadar Fe yang cukup tinggi. Sehingga dengan
indikasi ini, besi akan mudah terkorosi dan membentuk
macam-macam oksida dipermukaannya. Seperti misal Fe3O4,
FeO dan Fe2O3.
26

Kandungan unsur Fe yang sangat tinggi sebesar 97%


ini sangat mirip dengan besi tipe great ASTM AH36. Besi tipe
ini adalah besi yang sangat sering dijumpai di dunia industri
maupun rumah tangga. Berikut adalah tabel kesesuaian tipe
besi industri great AH36 dengan besi yang telah didapatkan
dari lingkungan.

Tabel 4.3 Unsur besi tipe ASTM AH36

Element Prosentase (%)


Fe 97,631,08
C 0,27 0,40
Cu 0,23 0,03
Mg 1,50 0,04

4.2 Analisis sifat Serbuk Karat


4.2.1 Hasil XRD serbuk karat
Setelah dilakukan uji XRF pada sampel logam,
diketahui bahwa unsur Fe merupakan unsur yang paling
dominan pada sampel, dimana ketiga sampel logam besi
memiliki kuantitas unsur yang hampir sama. Kemudian
Pengujian berikutnya adalah pengujian fasa yang dilakukan
menggunakan difraktometer sinar-X (XRD) dengan sudut
pendek 15-80 derajad. Pengujian ini dilakukan untuk
mengetahui fasa pada ketiga serbuk karat besi. Untuk sampel
yang akan di uji adalah serbuk karat yang sudah di ekstraksi
dengan magnet lemah yang diambil dari logam besi yang
terkorosi. Pengujian dilakukan setelah ketiga sampel serbuk
besi di ekstraksi dengan magnet permanen lemah dengan
variasi daerah/ lingkungan terbentuknya karat. yakni malang,
bangkalan dan surabaya. Dari pengujian tersebut, didapatkan
hasil berupa pola-pola difraksi seperti ditunjukkan pada
Gambar 4.1, dimana terlihat puncak difraksi pada sudut
difraksi (2), dan menunjukkan adanya fasa pada sampel karat
besi, sedangkan tinggi dan lebar puncak difraksi
mengindikasikan adanya ikatan antara besi dengan unsur lain.
27

(a)

(b)

(c)

Gambar 4.2 Pola XRD pada Sampel Serbuk Magnetik Karat Besi
dengan variasi lingkungan (a) Surabaya, (b) Malang,
(c) Bangkalan

Untuk mengetahui fasa yang terdeteksi pada puncak-


puncak tersebut, dilakukan analisa kualitatif data XRD
menggunakan software Match!. Berdasarkan analisa kualitatif
hasil data XRD menggunakan software Match!, diketahui
bahwasanya data puncak difraksi hasil pengujian XRD untuk
semua sampel memiliki kecocokan dengan fasa Magnetite
(Fe3O4) dengan kode PDF #96-901-3530 pada sampel serbuk
karat surabaya, PDF #96-901-3530 pada sampel serbuk karat
malang, dan PDF #96-900-5814. Secara umum, Ciri khas dari
sampel yang mempunyai fasa magnetit adalah mempunyai
intensitas tertinggi berada pada sudut difraksi 2 adalah 350
(Sun dkk, 2006 dalam Riska, 2013). Pada pola XRD juga
ditemukan fasa yang lain selain Fe3O4, yakni fasa -Fe2O3
yang didapatkan menumpuk di dengan fasa Fe3O4.
28

Dari gambar 4.1 terlihat struktur dari ketiga sampel


serbuk karat merupakan fasa amorf dan memiliki besar
intensias yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa
partikel magnetik serbuk karat dari ketiga sampel cenderung
tidak beraturan. Perbedaan besar kuantitas di masing-masing
sampel mengindikasikan adanya perbedaan kandungan fasa
magnetik di masing-masing sampel. Untuk mengetahui
kandungan fasa secara kuantitatif maka seharusnya dilakukan
analisa lebih lanjut dengan metode Rietvield menggunakan
software rietica. Akan tetapi pengguanaan software rietica
tidak bisa dilakukan pada ketiga sampel ini karena fasa amorf
pada sampel tidak cocok untuk dilakukannya perhitungan
kuantitatif dengan software rietica. Ciri khas material yang
memiliki sifat amorf salah satunya adalah memiliki struktur
yang acak, selain itu memiliki densitas yang rendah dan
porositas yang tinggi. Magnetik amorphus mengindikasikan
bahwa Hasil analisa mikrostruktur pada permukaan serbuk
karat menunjukkan partikel memiliki phorus atau pori. Salah
satu bahan penerap radar yang baik adalah memiliki porositas
yang tinggi dan densitas yang rendah. Material penyerap
gelombang mikro idealnya memiliki nilai rugi refleksi
maksimum <-20 dB, rentang frekuensi penyerapan yang cukup
lebar, densitas rendah, ringan, mudah didesain, murah dan
stabil terhadap pengaruh lingkungan (Mashuri, 2012).

4.2.2 Hasil XRF Serbuk Karat.


Setelah dilakukan uji XRD dan didapatkan kesimpulan
bahwa fasa yang terkandung pada ketiga sampel adalah fasa
magnetite Fe3O4 dan -Fe2O3 dengan bentuk sifat material
yakni amorphus. Sedangkan untuk mengetahui kuantitas fasa
ditiga sampel dilakukan dengan software rietica. Akan tetapi
karena didapatkan sampel berupa fasa amourphus, penggunaan
software ini belum bisa dilakukan, karena software rietica
hanya bisa dilakukan pada fasa kristalin. Maka dari itu,
dilakukan uji lanjutan dengan menggunakan uji XRF untuk
mengehaui unsur apa saja yang terkandung dalam sampel
magnetik karat besi. Pengujian ini dilakukan untuk
29

mengetahui perbedaan dari ketiga sampel melalui tipe unsur


terutama unsur besi dan kuantitas unsur unsur lain yang akan
berpengaruh pada sampel.
Pada penelitian yang dilakukan, identifikasi unsur
melalui pengujian XRF pada sampel magnetit karat besi yang
telah di ekstraksi dengan magnet lemah. Adapun hasil XRF
sampel tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.4. Berdasarkan
pada tabel dapat diketahui bahwa terdapat banyak sekali unsur
yang terkandung dalam serbuk magnetik karat besi, salah
satunya yang paling dominan adalah unsur besi (Fe) sebesar
95,63% di wilayah surabaya, 94,37% di wilayah malang, dan
89,32% di wilayah bangkalan.

Tabel 4.4 Hasil uji XRF Serbuk magnetik karat besi


Nama Kandungan unsur (%)
Unsur Surabaya Malang Bangkalan
Fe 95,63 94,37 89,32
Ni 0,79 0,79 1,0
Cu 0,01 0,13 0,14
Zn 0,18 0,12 0,1
Br 0,51 - -
La 0,13 0,13 -
Si 1,1 1,3 3,4
P 0,1 0,18 0,2
K 0,066 0,096 0,066
Ca 1,01 0,62 1,48
Mn 0,27 0,27 0,28
Cr 0,12 0,11 0,11
Re - 0,2 -
Rb - - 0,52

Berdasarkan hasil uji XRF, diketahui bahwa unsur


yang terdapat didalam serbuk magnetik karat besi adalah
berupa Senyawa Fe, dimana senyawa ini akan membentuk
30

senyawa oksida utama yakni Fe3O4 (magnetit) sesuai dengan


hasil uji XRD, sehingga bisa dikatakan unsur Fe yang
didapatkan pada uji XRF ini akan membentuk senyawa
magnetite. Berdasarkan hasil uji XRF ini, masih terdapat
impuritas (pengotor) seperti Ti, Si, Al, Ca, Ni, Mn, Ca, Cr,
dsb. Hal ini masih bersifat normal dikarenakan sampel yang
digunakan berasal dari bahan karat yang berinteraksi dengan
lingkungan. Jumlah impuritas yang cukup sedikit
dibandingkan dengan kandungan Fe tersebut bisa dikatakan
bahwa sampel magnetik serbuk karat besi yang digunakan
memiliki kemurnian kadar Fe yang cukup tinggi.

4.2.3 Hasil VSM Serbuk Karat Surabaya


Untuk mengetahui sifat magnet dari Serbuk magnetik
karat, maka dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat
Vibrating Sample Magnetometer (VSM). Sampel yang diuji
adalah sampel serbuk magnetik karat besi daerah surabaya,
karena berdasarkan nilai uji VNA, serbuk magnetik wilayah
surabaya memiliki nilai penyerapan paling tinggi dan lebar
pita frekuensi terbesar. Data yang diperoleh dari pengujian ini
yaitu berupa kurva histeresis. Kurva histeresis terbentuk
melalui mekanisme pemberian medan magnet eksternal pada
bahan sehingga domain-domain magnetik dalam bahan akan
mensejajarkan diri searah dengan medan magnet dari luar.
Dari kurva histerisis dapat diketahui besarnya medan
koersivitas (Hc), magnetisasi remanen (Mr) dan magnetisasi
maksimum (Ms). Medan koersivitas menunjukkan besarnya
medan magnet luar yang dibutuhkan untuk menyearahkan
domain-domain magnetik. Semakin besar nilai medan
koersivitas maka sifat kemagnetannya semakin kuat.
Magnetisasi maksimum merupakan kemampuan partikel untuk
memepertahankan kesearahan domain-domain magnetiknya.
Dalam keadaan ini semua domain berada pada arah yang sama
(saturasi). Sedangkan Magnetisasi remanensi adalah
remanensi magnetik yang tersisa dalam bahan setelah medan
luar dihilangkan. Hasil pengukuran sifat magnet serbuk
magnetik karat ditunjukkan pada gambar 4.4
31

15

10
Momen magnetik, M (emu/gram)

0
-1,5 -1 -0,5 0 0,5 1 1,5

-5

-10

-15
H (T)

Gambar 4.3 Pola VSM pada sampel serbuk magnetik wilayah


Surabaya
Dari gambar kurva hysteresis (Gambar 4.4), dapat
diketahui bahwasanya telah terjadi proses magnetisasi akibat
peningkatan medan luar hingga terjadi saturasi dan
demagnetisasi (medan luar dihilangkan). Proses magnetisasi
akibat medan luar terjadi dimulai dari titik asal, lalu
magnetisasi akan meningkat secara lambat namun menjadi
lebih cepat seiring dengan meningkatnya medan luar hingga
terjadi saturasi (kejenuhan) yang disebut saturasi magnetik
(Ms) pada 7,357 (emu/gr). Terjadinya kejenuhan ini akibat
tidak adanya momen dipol yang berlawanan arah karena
semua sudah mengalami kesearahan akibat medan magnet
luar. Apabila medan luar dikurangi, kurva tidak akan kembali
ke kurva awal namun kembali dengan kurva yang berbeda.
32

Saat medan dikurangi hingga nilainya nol, masih terdapat sisa


magnetitasi yang disebut remanensi magnetik (Mr), dimana
diketahui besar remanensi pada kurva tersebut sebesar 2,535
(emu/gr). Untuk menghilangkan magnetisasi (demagnetisasi)
dibutuhkan medan luar dengan nilai tertentu hingga
magnetisasi hilang (nol). Nilai medan ini adalah medan
koersivitas (Hc) yang berubah secara periodik sehingga kurva
menjadi penuh. Pada kurva loop hysterisis ini, diketahui besar
medan korsivitas sebesar 0,0204 T. Berikut merupakan Tabel
kurva histeresis berdasarkan besar nilai medan koesivitas,
remanensi magnetik dan magnetisasi maksimum

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Sifat Magnetik Daerah Surabaya

Fe3O4 Medan Magnetisasi Magnetisasi


koersivitas Remanensi maksimum
(T) (emu/gr) (emu/gr)
Surabaya 0,0204 2,535 12,918

Dari tabel hasil pengujian VSM diatas, terlihat bahwa


sampel magnetik karat besi daerah surabaya merupakan jenis
magnet lunak, karena lebar dan luas kurva yang relatif kecil
dan sempit, dimana besar Hc<1 kA/m. Hal ini
mengindikasikan bahwa membutuhkan sedikit sekali energi
untuk menghilangkan magnetisasi saturasi pada bahan dimana
dipol-dipol menjadi tak tersearahkan. Luasan kurva yang kecil
tersebut menunjukkan besaran energi yang diperlukan untuk
magnetisasi, sehingga bahan magnetit dengan sifat magnet
lunak ini memerlukan energi yang kecil untuk membuat dipol-
dipol tersearahkan. hingga dapat disimpulkan bahwa tipe
bahan magnetik serbuk karat besi sangat reaktif dan mudah
tersaturasi dengan medan magnet luar yang sedikit (medan
magnet 0,2 T), yang bisa digunakan sebagai bahan penyerap
gelombang radar.
33

4.3 Analisis Sifat Penyerapan Radar Menggunakan Uji


VNA Serbuk Karat
Pengukuran daya serap terhadap gelombang mikro
dilakukan dengan menempelkan serbuk besi yang didapat di
tiga daerah pada suatu cetakan kertas dengan ketebalan 2 mm.
penempelan ini dilakukan untuk mempermudah proses uji
dengan alat VNA. Sampel yang ditempelkan pada kertas
karton dapat dilihat seperti ditunjukkan pada Gambar 4.5

Gambar 4.4 Sampel Serbuk Magnetik yang akan di uji VNA

Identifikasi dan karakterisasi nilai penyerapan (reflection


loss) terhadap gelombang elektromagnetik yang ditembakkan
pada suatu sampel adalah dengan menggunakan alat VNA
yang terdapat di LIPI Bandung. Karakterisasi ini
menghasilkan data keluaran yang biasa disebut scattering
parameter (S parameter) atau parameter hamburan dari
perilaku refleksi dan transmisi yang terjadi pada kedua port
VNA. Hasil dari S parameter ini bisa digunakan untuk
mendapatkan Voltage Standing Wave Ratio (VSWR), gain,
return loss, transmission dan coeficien reflection loss. Pada
penelitian ini, diperlukan nilai Reflection Loss (RL) terhadap
gelombang mikro pada range frekuensi X-band (8-12 GHz)
yang merupakan daerah kerja dari gelombang radar.
Nilai reflection loss yang didapatkan dari hasil pengujian
ini dapat menentukan karakteristik sifat penyerapan
gelombang radar, dimana ketika nilai reflektion loss sangat
34

tinggi, bahan tersebut termasuk bahan penyerap gelombang


yang baik. Salah satu bahan absorber gelombang mikro yang
digunakan pada penelitian ini adalah bahan magnetik berbahan
karat besi. Penggunaan karat besi pada penelitian ini
didasarkan pada pembentukan oksida besi pada mekanisme
korosi. Dimana oksida besi yang terbentuk terkandung fasa
magnetite berupa Fe3O4. Selain itu, pemanfaatan korosi yang
sejauh ini belum ada dan cenderung sangat merugikan dan
dihindari oleh banyak masyarakat menjadikan dorongan
tersendiri untuk mencari manfaat dari karat besi.

(c)
(b)
(a)

Gambar 4.5 Hasil Uji VNA pada sampel serbuk magnetik dengan
variasi lingkungan (a) Surabaya, (b) Malang, (c)
Bangkalan

Berdasarkan grafik penyerapan gelombang mikro pada


sampel serbuk magnetik gambar 4.5, diketahui bahwa grafik
dari ketiga sampel cenderung simetri dan tidak memotong,
35

serta pergerakan grafik pada arah sumbu x yang menandakan


frekuensi dari ketiga sampel hampir sama. Sedangkan untuk
besar penyerapan gelombang radar, pada ketiga sampel serbuk
magnetik berbeda-beda, dimana pada grafik terlihat bahwa
sampel memiliki lebar pita frekuensi sebesar 9,3-12,0 GHz
untuk sampel serbuk karat besi surabaya dan malang, dan 9,3-
11,7 GHz pada sampel serbuk karat besi madura. Perhitungan
lebar pita frekuensi ini berdasarkan pada cara perhitungan di
penelitian bahan penyerap gelmbang radar sebelumnya,
dimana perhitungan dimulai dari mulai menurunnya grafik
dari nilai konstannya. Namun pada penelitian tentang radar
dan mekanisme penyerapnanya, diketahui perhitungan lebar
pita harus dimulai dari treshold -10 dB, sehingga jika semakin
dalam grafik, maka penyerapannya akan semakin besar (Lihat
gambar 4.5). Sedangkan untuk penyerapan terbesar ditiap
sampel terjadi pada frekuensi sekitar 11 GHz. Untuk nilai
penyerapan gelombang tertinggi terdapat pada serbuk karat
besi daerah surabaya dengan besar -20,8 dB pada frekuensi 11
GHz. Sementara untuk sampel karat besi dari wilayah madura
dan malang bertutur-turut sebesar -7,80 dB dan -12,0 dB
dengan frekuensi yang sama.

Tabel 4.6 Hasil Penyerapan Gelombang radar dari bahan magnetik


limbah karat besi di wilayah Surabaya, Malang dan
Bangkalan.
Rugi Refleksi
Frekuensi
Sampel Maksimum, Lebar Pita
Pas,
Fe3O4 RLm (dB) (GHz)
fm (GHz)

Surabaya -20, 8 11,00 1,7


Malang -12,0 11,00 0,7
Bangkalan -7,80 10,86 -

Perbedaan besar penyerapan pada ketiga sampel


dikarenakan adanya perbedaan jumlah Fe3O4 yang ditemukan
dalam sampel, dimana jumlah kandungan Fe3O4 terbesar
36

terdapat pada sampel serbuk karat surabaya. Selain itu,


berdasarkan uji XRF, diketahui terdapat unsur-unsur lain yang
jumlahnya cukup besar. Diantaranya unsur Si yang pada
serbuk magnetik wilayah bangkalan ditemukan dalam jumlah
cukup besar yakni 3,4%. Unsur Si memiliki sifat non magnetik
sehingga tidak bagus sebagai bahan penyerap radar (Putri,
2016). Selain itu, jumlah Fe yang didapat diwilayah bangkalan
juga tidak sebanyak jumlah yang didapat di malang dan
surabaya. Dimana Fe yang didapat diwilayah bangkalan
sebesar 89,32%, Sedangkan di wilayah malang dan surabaya
bertuturut-turut 94,37% dan 95,65%. Sementara untuk
surabaya, kandungan Fe yang cukup tinggi membuat daerah
ini sangat mudah membentuk Fe3O4, Sehingga berdasarkan
hasil Uji VNA memiliki besar penyerapan gelombang radar
yang cukup tinggi. Berdasarkan tabel 4.2, wilayah surabaya
memiliki topografi wilayah dengan temperatur dan curah
hujan perhari yang relatif tinggi dan ketinggian dari
permukaan tanah yang relatif rendah. Selain itu diketahui pula
bahwa wilayah surabaya memiliki kandungan polusi yang
paling tinggi dibandingkan dengan wilayah malang dan
bangkalan. Adanya polusi ini mengakibatkan wilayah
surabaya sangat korosif dibanding kedua wilayah yang diuji.
Korosi atmosferik sangat dipengaruhi oleh kondisi topografi
dan iklim atau lingkungan. Faktor-faktor seperti temperatur,
kelembaban dan kandungan bahan kimia dalam udara sangat
menentukan laju korosi ini.(Fontana, 1987; Agung, 2004).
Dari data tersebut, penyerapan maksimal dengan nilai
refleksion loss tertinggi terjadi pada grafik warna hitam yakni
sebesar -20,8 dB. Berdasarkan Return Loss to VSWR
Conversion Table penyerapan gelombang mikro, diketahui
bahwa nilai penyerapan sebesar -20,8 dB pada sampel karat
besi daerah surabaya, menunjukkan through power atau energi
yang terserap oleh material magnetik serbuk karat sangat
besar. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai
bahan penyerap gelombang radar, diketahui penggunaan RAM
berbahan utama karat besi ini merupakan penelitian yang
baru. Pada penelitian sebelumnya, terdapat beberapa bahan
37

lain yang telah dilakukan penelitian, diantaranya


menggunakan bahan magnetik pasir besi lumajang yang
diperkecil ukuran butirnya menggunanakan variasi kecepatan
dan waktu milling (Lestari, 2015). Kemudian pada penelitian
sintesis bahan magnetik pasir besi tanah laut kalimantan yang
dicampur dengan bahan dielektrik karbon aktif kulit singkong
dengan variasi ketebalan layer dan kuantitas doping Zn
(yusro, 2016).
Gelombang radar termasuk dalam kategori gelombang
elektromagnetik yang pada dasarnya dapat diserap oleh
material yang bersifat dielektrik dan magnetik (Yuzcelik,
1997). Pada penelitian yang dilakukan menggunakan bahan
dielektrik arang bambu yang diaktifasi dan dicampur dengan
variasi PaNi, diketahui hasil penyerapan gelombang radar
tertinggi pada penetian ini adalah pada variasi arang bambu
dan PaNi 3:1 dengan frekuensi didaerah X-Band sebesar -6 dB
(KH, Wu et al., 2008). Sedikitnya penerapan pada bahan ini
dikarenakan penggunaan material hanya menggunakan bahan
dielektrik yang pada dasarnya belum mampu menyerap
gelombang radar secara keseluruhan. Selanjutnya pada
penelitian Lestari tahun 2015, dilakukan penelitian
menggunakan bahan magnetik pasir besi lumajang yang
diperkecil ukuran butirnya melalui proses milling dengan
Variasi kecepatan dan waktu penggilingan. Penyerapan
gelombang radar pada penelitian ini sebesar -8,81 dB dengan
frekuensi 7,48 (X-Band), dilakukan pada kecepatan milling
200 rpm dengan waktu milling 2 jam dan ketebalan layer 4
mm. Besarnya penyerapan pada peelitian ini dikarenakan
proses milling berfungsi untuk memperkecil ukuran butir
sehingga memperbesar luas permukaan daerah penyerapan,
selain itu ketebalan 4 mm pada layer merupakan ketebalan
maksimum untuk menyerap gelombang, dimana diketahui
ketebalan tersebut menunjukan amplitudo gelombang tepat
pada range seperempat panjang gelombangnya (Lestari,
2015).
Kemudian Pada penelitian yang lain yakni yusro tahun
2016, dilakukan sintesis bahan magnetik pasir besi tanah laut
38

yang dicampur dengan bahan dielektrik karbon aktif kulit


singkong dengan variasi ketebalan layer dan kuantitas doping
Zn. Pada penelitian ini, penyerapan gelombang radar tertinggi
terjadi pada bahan magnetik dengan doping ion Zn 0,3 g dan
dicampur dengan karbon aktif kulit singkong dengan
perbandingan 1:1 (bahan magnetik pasir besi dan bahan
dielektrik karbon aktif). Dimana besar penyerapan tertinggi
pada penelitian ini sebesar -23,49 dB dengan lebar pita
frekuensi 1,8 GHz. Besarnya penyerapan gelombang radar
pada penelitian ini dikarenakan adanya doping ion Zn yang
berfungsi untuk mengubah material pasir besi dari hard
magnetic menjadi soft magnetic. Selain itu penggunaan bahan
magnetik dan dielekrik yang dicampur membuat penyerapan
radarnya menjadi semakin besar (Yusro, 2016)
Penyerapan gelombang sebesar -20,8 dB pada
penelitian ini termasuk penyerapan yang cukup tinggi pula.
Dimana dengan hanya menggunakan bahan magnetik dengan
tanpa campuran bahan di elektrik, tanpa doping dan tanpa di
proses milling dan dengan menggunakan layer 2 mm,
penyerapan gelombang radarnya sudah mencapai lebih dari
-20 dB, tepatnya -20,8 dB dan lebar pita frekuensi 3 GHz.
Selain itu, tingginya penyerapan gelombang pada ketiga
sampel magnetik serbuk karat ini (khususnya wilayah
surabaya) dikarenakan banyaknya jumlah Fe3O4 yang
didapatkan. Serta material serbuk magnetik karat besi
memiliki sifat amorphus. Ciri khas dari sifat amorphus
memiliki densitas yang rendah dan memiliki porositas yang
tinggi. Dimana densitas yang rendah merupakan salah satu
indikasi bahwa suatu material cukup baik digunakan sebagai
bahan penyerap radar. Material penyerap gelombang mikro
idealnya memiliki nilai rugi refleksi maksimum <-20 dB,
rentang frekuensi penyerapan yang cukup lebar, densitas
rendah, ringan, mudah didesain, murah dan stabil terhadap
pengaruh lingkungan (Mashuri, 2012). Sifat amorphus ini
mengindikasikan adanya pori-pori yang terdapat pada butiran
serbuk karat yang menyebabkan besarnya surface area atau
luas permukaan spesifik yang berperan pada penyerapan
39

gelombang mikro. Selain itu, sifat amorphus juga


menunjukkan banyaknya jumlah atom-atom yang tidak
berikatan dengan baik pada permukaan, sehingga mendorong
timbulnya elektron bebas bergerak dinamis dan membuka
peluang ketidakseragaman arah spin sehingga membentuk
kopling spin. Diantaranya menyebabkan energi gelombang
mikro terserap dan melakukan transisi ke tingkat energi yang
lebih tinggi (Yusro,2016)
Pada dasarnya, bahan magnetik mampu menyerap
gelombang mikro dikarenakan adanya kandungan momen
dipol magnetik yang saling berinteraksi dan berpindah dari
tingkat energi rendah ke energi tinggi, sehingga apabila
gelombang mikro datang dan mengenai surface area bahan
magnetik, maka akan diserap dan dirubah bentuknya menjadi
energi yang dibutuhkan dipol magnet untuk berpindah
keadaan. Interaksi momen dipol magnetik akan menghasilkan
beda energi potensial yang sesuai dengan jarak masing-masing
momen dipol magnetik yang berinteraksi, sehingga frekuensi
gelombang mikro yang dapat diserap bervariasi (Mashuri,
2012).
40

Halaman imi sengaja dikosongkan


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan judul
Pemanfaatan Limbah Magnetik (Fe3O4)Berbahan Dasar Karat
Besi Hasil Korosi Atmosferik Sebagai Radar Absorber
Material maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Telah berhasil mendapatkan fasa magnetite (Fe3O4)


pada karat besi, dimana berdasarkan hasil uji XRD di
semua wilayah surabaya, malang dan bangkalan, fasa
magnetite ditemukan pada sudut 350.
2. Berdasarkan uji VNA, Serbuk magnetik karat besi
mampu menyerap gelombang radar dengan besar
-20,8 dB untuk wilayah Surabaya, -12 dB untuk
wilayah Malang dan -7,8 dB untuk wilayah
Bangkalan.

5.2 Saran
1. Untuk penelitian selanjutnya agar dilakukan uji
porositas dan uji SEM untuk mengetahui luasan pori
dan bentuk mikrostruktur serbuk magnetik karat besi.
2. Ukuran butir serbuk magnetik diperkecil dengan
dilakukan proses milling.

41
42

Halaman ini sengaja dikosongkan


DAFTAR PUSTAKA

American Galvanizers Association, 2000. Hot-Dip


Galvanizing for Corrosion Protection of steel.
www.galvanizeit.org. 2000.
Budianto dkk, 2001.Pengamatan Struktur Mikro Pada Korosi
Antar Butir Dari Material Baja Tahan Karat Austenitik
Setelah Mengalami Proses Pemanasan. ISSN 1978-
8738. JFN, Vol 3 No. 2.
Fontana, m.g., 1986, corrosion Engineering, Third Edition,
Mcgraw-Hill Book Company, Singapore.
Graedel, K.E., Morales, A.L., Barrero, C.A., Arroyave, C.E.,
Greneche, J.M., 2004. Magnetic and Crystal Structure
Refinement In Akaganeite Nanoparticle. Phys. B
Condens. Matter 354, 187190.
Gaylor, kevin. 1989. Radar absorbing materials mechanms
And materials., Australia: dsto materials research
laborstory
Laksmita, Riska. 2012. Komposit Epoxy- Fe3O4 Sebagai
Bahan Penyerap Gelombang Radar Pada Frekuensi 8-12
Ghz. Tugas Akhir SF141501 Jurusan Fisika FMIPA
ITS.
Lestari, wahyuni. 2015. Analisis Ukuran Kristal, Sifat
Magnetik dan Penyerapan Gelombang Mikro Pada X
Dan Ku-Band Bahan Magnetit (Fe3O4) yang Dibuat
Dengan Metode Penggilingan (Milling). Tugas Akhir
SF141501 Jurusan Fisika FMIPA ITS.
Mashuri, 2012. Partikel Nano Ni0,5Zn0,5Fe2O4 Berbahan
Baku Fe3o4 Dari Pasir Besi Sebagai Bahan Penterap
Gelombang Mikro Pada Frekuensi Tinggi. Disertasi
Program Doktor Jurusan Fisika Fakultas FMIPA
ITS tahun 2012.
Pradhana, IGB. 2001. Sintesis Nano Polianilin-Fe3o4 Dan
Karakterisasi Sifat Listrik Dan Magnetiknya.
Putri, agustin leni. 2016 Identifikasi Produk Korosi Baja
SS304 Coating PaNi/SiO2 Pada Larutan Salinitas

43
44

Tinggi NaCl 3,5 M. Tugas Akhir SF141501 Jurusan


Fisika FMIPA ITS.
Putri, Silvia Trisa. 2011. Pengaruh Temperatur Sintering
terhadap Ukuran Nanopartikel Fe3O4 Menggunakan
Template PEG-4000. Skripsi Program Studi Fisika
Jurusan Fisika Universitas Andalas, Padang.
Sari, Riska Laksmita. 2013. Komposit Epoksi-Fe3O4 Sebagai
Bahan Penyerapa Gelombang Radar pada Frekuensi 8-
12,4 GHz. Tugas Akhir Jurusan Fisika Fakultas
FMIPA ITS tahun 2013.
Rosler S., Wartewig, P., and Langbein, H. 2003. Synthesis
and Characterization of Hexagonal Ferrites BaFe12-
2xZnxTixO19 (0 X 2) by Thermal Decomposition
of Freeze-Dried Precursors. Cryst. Res. Technol. hal.
92734.
Rosyidah, K. C. 2013. Sintesis Dan Karakterisasi Struktur,
Sifat Magnet Dan Sifat Listrik Komposit Barium M-
Heksaferit/Polianilin Berstruktur Core-Shell Berbasis
Pasir Besi Alam. Laporan Tugas Akhir Jurusan Fisika.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Saville, Paul. 2005. Review of Radar Absorbing Materials.
Defence R & D Canada. Canada.
Sulungbudi, Grece Tj dkk. Variasi Komposisi Fe (II)/Fe (III)
pada Proses Sintesis Spion dengan Metode Presipitasi.
Tangerang: Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir
(PTBIN)-BATAN.
Sunaryo, Wira Widyawidura. 2010. Metode Pembelajaran
Bahan Magnet Dan Identifikasi Kandungan Senyawa
Pasir Alam Menggunakan Prinsip Dasar Fisika. Jurnal
Cakrawala Pendidikan FMIPA Universitas Negeri
Jakarta No. 1 Th, XXIX.
Suryanarayana, C., 2001. Mechanical Alloying And Milling.
Prog. Mater. Sci. 46, 1184.
Solihah, Lia Kurnia. 2010. Sintesis dan Karakteristk Partikel
Nano Fe3O4 yang berasal dari Pasir Besi dan
Fe3O4 Bahan Komersial (ALDRICH). Tugas Akhir
Jurusan Fisika Fakultas FMIPA ITS tahun 2010.
45

Trethewey, K.R. and J. Chamberlin. 1991. Korosi. Terj. Alex


Tri Kantjono Widodo.Jakarta: PT Gramedia.
Wang, Y., Li, T., Zhao, L., Hu, Z., Gu, Y., 2011. Research
progress on nanostructured radar absorbing materials.
Energy Power Eng. 3, 580584. doi:10.4236/
epe.2011.34072.
Wu, K.H., Ting, T.H., Wang, G.P., Yang, C.C., Tsai, C.W.,
2008. Synthesis and microwave electromagnetic
characteristics of bamboo charcoal/polyaniline
composites in 240 GHz. Synth. Met. 158, 688694.
Yusro, khoirotul. 2016 Karakterisasi Material Penyerap
Gelombang Radar Berbahan Dasar Karbon Aktif Kulit
Singkong Dan Barium M-Heksaferit Doping Ion Zn
Tugas Akhir SF141501 Jurusan Fisika FMIPA ITS.
Yuzcelik, dkk. 2008.Radar Absorbing Material Design
thesis.california:naval postgraduate school.
http://www.key-to-metals.com diakses tanggal 14 februari
2016 22:15
http://www.pusdaling.jatimprov.go.id diakses tanggal 9
agustus 2016 21:25
46

Halaman ini sengaja dikosongkan


LAMPIRAN A
POLA XRD SERBUK MAGNETIK KARAT BESI

A. Karat madura
Counts
Karat Madura
600

400

200

0
20 30 40 50 60 70
Position [2Theta] (Copper (Cu))

B. Karat malang

Counts
Karat Malang

300

200

100

0
20 30 40 50 60 70
Position [2Theta] (Copper (Cu))

C. Karat surabaya

47
48

Counts
Karat Surabaya

100

20 30 40 50 60 70
Position [2Theta] (Copper (Cu))
LAMPIRAN B
DATA HASIL UJI XRF

A. Uji XRF Logam

1. Karat besi Bangkalan

49
50

2. Karat besi Malang


51

3. Karat besi Surabaya


52

B. Uji XRF Serbuk

1. Serbuk Magnetik Bangkalan


53

2. Serbuk Magnetik Malang


54

3. Serbuk Magnetik Surabaya


BIODATA PENULIS

Penulis berasal dari Desa Slumbung,


Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten
Kediri yang dilahirkan di Blitar pada
tangga 01Maret 1994 dari pasangan
Bapak Ali Abu Ubaidah dan Ibu Nur
Laila. Terlahir sebagai anak pertama
dari tiga bersaudara, penulis
memulai pendidikan formal di SDN
Slumbung 1, kemudian melanjutkan
pendidikan formal yang lebih tinggi
di MTs Mujahidin Slumbung dan
MAN 3 Kediri sampai akhirnya diterima di Jurusan Fisika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya melalui jalur
SNMPTN Tulis dan terdaftar sebagai Mahasiswa angkatan 2012
dengan NRP 1112100052. Penulis telah banyak aktif di berbagai
organisasi dan kegiatan saat masa perkuliahannya, beberapa
organisasi yang sempat ditekuni penulis yaitu sebagai staf Syiar
JMMI ITS (2013-2014), Wakil Ketua Fosif ITS (2013-2014), dan
Ketua Himasika ITS (2014-2015). Selain organisasi, penulis juga
pernah menjadi santri di Mahad Darul Arqam (tahun ke 1 dan ke
4), Mahad Ukhuwah Islamiyah (tahun ke 2) dan Beasiswa
Pesantren Mahasiswa SDM IPTEK angkatan 4 (tahun ke 3).
Selain itu, penulis juga pernah mewakili jurusan fisika ITS Untuk
mengikuti lomba Tingkat Nasional Dan konferensi Internasional.
Diantaranya LKTIN Univ Sriwijaya (Juara 1), LKTIN Univ
Negeri Medan (Juara 1), LKTIN STT PLN Jakarta (Juara 1),
LKTIN Univ Surabaya (Juara 3), Konferensi internasional MRS-
id (Bandung, Indonesia), Konferensi internasional ICAST
(Kumamoto, Jepang). Penulis juga pernah aktif sebagai Asisten
Laboratorium Fisika Dasar (2015) dan juga pernah mendapatkan
dana hibah DIKTI untuk kegiatan ilmiah seperti Program
Kreativitas Mahasiswa tahun 2014 dan 2016. Akhir kata bila ada
kritik dan saran bisa dikirim ke: alwyfaishal@gmail.com.

55
56

Halaman ini sengaja dikosongkan