Anda di halaman 1dari 3

Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah turunnya kandungan

annulus fibrosus dari diskus intervertebralis lumbal pada spinal


canal atau rupture annulus fibrosus dengan tekanan dari nucleus
pulposus yang menyebabkan kompresi pada element saraf.

Hernia Nukleus Pulposus


(HNP) merupakan suatu gangguan yang melibatkan ruptur annulus
fibrosus sehingga nukleus pulposis menonjol (bulging) dan
menekan kearah kanalis spinalis.
Usia yang paling sering adalah usia 30 50 tahun.

Pada penderita dewasa tua, nyeri punggung bawah mengganggu


aktivitas sehari-hari pada 40% penderita dan menyebabkan
gangguan tidur pada 20%.

Grade HNP

1.Protrusi diskus intervertebralis : nukleus terlihat menonjol ke satu


arah tanpa kerusakan annulus fibrosus.
2.Prolaps diskus intervertebral: nukleus berpindah, tetapi masih
dalam lingkaran anulus fibrosus.
3.Extrusi diskus intervertebral : nukleus keluar dan anulus fibrosus
dan berada di bawah ligamentum,longitudinalis posterior.
4.Sequestrasi diskus intervertebral: nukleus telah menembus
ligamentum longitudinalis posterior

hal ini dapat menyebabkan nyeri, rasa tebal, rasa keram, atau
kelemahan. Rasa nyeri dari herniasi ini dapat berupa
-nyeri mekanik, yang berasal dari diskus dan ligamen; inflamasi
-nyeri yang berasal dari nucleus pulposus yang ekstrusi menembus
annulus dan kontak dengan suplai darah
-nyeri neurogenik, yang berasal dari penekanan pada nervus.

Faktor resiko:
a.Usia
Usia merupakan faktor utama terjadinya HNP karena annulus
fibrosus lama kelamaan akan hilang elastisitasnya sehingga
menjadi kering dan keras, menyebabkan annulus fibrosus mudah
berubah bentuk dan ruptur.
b.Trauma
Terutama trauma yang memberikan stress terhadap columna
vertebralis, seperti jatuh.
c.Pekerjaan
Pekerjaan terutama yang sering mengangkat barang berat dan cara
mengangkat barang yang salah, meningkatkan risiko
terjadinyaHNP
d.Gender
Pria lebih sering terkena HNP dibandingkan wanita (2:1), hal ini
terkait pekerjaan dan aktivitas yang dilakukan pada pria
cenderungke aktifitas fisik yang melibatkan columna vertebralis.

Nyeri biasanya bersifat tajam, seperti terbakar dan berdenyut


menjalar sampai bawah lutut. Bila saraf sensoris kena maka akan
memberikan gejala kesemutan atau rasa baal sesuai dermatomnya.
Nyeri yang timbul sesuai dengan distribusi dermatom (nyeri
radikuler) dan kelemahan otot sesuai dengan miotom yang terkena.

Adapun tes yang dapat dilakukan untuk diagnosis HNP adalah:


1.Pemeriksaan range of movement (ROM)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara aktif oleh penderita sendiri
maupun secara pasif oleh pemeriksa. Pemeriksaan ROM ini
memperkirakan derajat nyeri, function laesa, atau untuk memeriksa
ada/ tidaknya penyebaran rasa nyeri.
3.Straight Leg Raise (Laseque) Test:
Tes untuk mengetaui adanya jebakan nervus ischiadicus. Pa
sien tidur dalam posisi supinasi dan pemeriksa memfleksikan
panggulsecara pasif, dengan lutut dari tungkai terekstensi
maksimal. Tes ini positif bila timbul rasa nyeri pada saat
mengangkat kaki dengan lurus,menandakan ada kompresi dari
akar saraf lumbar.
4.Lasegue Menyilang
Caranya sama dengan percobaan lasegue, tetapi disini secara
otomatis timbul pula rasa nyeri ditungkai yang tidak diangkat. Hal ini
menunjukkan bahwa radiks yang kontralateral juga turut tersangkut.
5.Tanda Kerning
Pada pemeriksaan ini penderita yang sedang berbaring difleksikan
pahanya pada persendian panggung sampai membuat sudut 90
derajat. Selain itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian
lutut. Biasanya kita dapat melakukan ekstensi ini sampai sudut 135
derajat, antara tungkai bawah dan tungkai atas, bila terdapat
tahanan dan rasa nyeri sebelum tercapai sudut ini, maka dikatakan
tanda kerning positif.
6.Ankle Jerk Reflex
Dilakukan pengetukan pada tendon Achilles. Jika tidak terjadi
dorsofleksi pada kaki, hal ini mengindikasikan adanya jebakan
nervus di tingkat kolumna vertebra L5-S1.
7.Knee-Jerk Reflex
Dilakukan pengetukan pada tendon lutut. Jika tidak terjadi ekstensi
pada lutut, hal ini mengindikasikan adanya jebakan nervus ditingkat
kolumna vertebra L2-L3-L4.

Nyeri yang terjadi dapat disebabkan pelepasan asam arakidonat yang merangsang jaringan atau
melalui mekanisme neuropatic pain, yakni nyeri yang terjadi disebabkan kerusakan langsung pada
saraf.

HNP juga dapat terjadi akibat cedera / trauma. Pada discus yang sehar, bila mendapat tekanan maka
nukleus pulposus menyalurkan gaya tekan kesegala arah dengan sama besar. Penurunan kadar air
nukleus mengurangi fungsinya sebagai bantalan, sehingga bila ada gaya tekan maka akan disalurkan
ke annulus secara asimetris akibatnya bila terjadi cedera atau robekan pada annulus. Kehilangan
protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus.

Efek terapeutik dari Short Weve Diathermy antara lain :

penyembuhan luka/trauma pada jaringan lunak, yaitu dengan meningkatkan proses


reparasi jaringan secara fisiologis,
mengurangi nyeri,
pembuangan sisa metabolisme,
peningkatan elastisitas jaringan lunak, sehingga mengurangi proses kontraktur
jaringan sebagai persiapan terapi latihan,
pembuangan sisa metabolisme,
meningkatkan sirkulasi darah.