Anda di halaman 1dari 27

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

I. Fibroadenoma Mammae
Fibroadenoma mammae merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat
pada wanita muda, dan jarang ditemukan setelah menopause. Fibroadenoma
adalah kelainan pada perkembangan payudara normal dimana ada pertumbuhan
berlebih dan tidak normal pada jaringan payudara dan pertumbuhan yang berlebih
dari sel-sel yang melapisi saluran air susu di payudara. Fibroadenoma merupakan
jenis tumor jinak mamma yang paling banyak ditemukan, dan merupakan tumor
primer yang paling banyak ditemukan pada kelompok umur muda.

Etiologi
Penyebab pasti fibroadenoma tidak diketahui. Namun, terdapat beberapa
faktor yang dikaitkan dengan penyakit ini, antara lain peningkatan mutlak
aktivitas estrogen, yang diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Selain itu,
diperkirakan terdapat prekursor embrional yang dorman di kelenjar mammaria
yang dapat memicu pembentukan fibroadenoma yang akan berkembang mengikuti
aktivitas ovarium.

Patofisiologi
Fibroadenoma adalah tumor jinak yang menggambarkan suatu proses
hiperplasia dan proliferasi pada satu duktus terminal, perkembangannya
dihubungkan dengan suatu proses aberasi perkembangan normal. Penyebab
proliferasi duktus tidak diketahui, diperkirakan sel stroma neoplastik
mengeluarkan faktor pertumbuhan yang memengaruhi sel epitel. Peningkatan
mutlak aktivitas estrogen, diperkirakan berperan dalam pembentukannya. Kira-
kira 10% fibroadenoma akan menghilang secara spontan tiap tahunnya dan
kebanyakan perkembangan fibroadenoma berhenti setelah mencapai diameter 2-3
cm. Fibroadenoma hampir tidak pernah menjadi ganas.
Fibroadenoma dapat berkembang cepat selama proses kehamilan, pada terapi
pergantian hormon, dan pada orang-orang yang mengalami penurunan kekebalan
imunitas, bahkan pada beberapa kasus, dapat menyebabkan keganasan.

Klasifikasi Fibroadenoma Mammae


Secara sederhana fibroadenoma dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam:

Common Fibroadenoma
6
Common fibroadenoma memiliki ukuran 1-3 cm, disebut juga dengan simpel
fibroadenoma. Sering ditemukan pada wanita kelompok umur muda antara 21-25
tahun. Ketika fibroadenoma dapat dirasakan sebagai benjolan, benjolan itu
biasanya berbentuk oval atau bulat, halus, tegas, dan bergerak sangat bebas.
Sekitar 80% dari seluruh kasus fibroadenoma yang terjadi adalah fibroadenoma
tunggal.

Giant Fibroadenoma

Giant fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang memiliki ukuran dengan
diameter lebih dari 5 cm. Secara keseluruhan insiden giant fibroadenoma sekitar
4% dari seluruh kasus fibroadenoma. Giant fibroadenoma biasanya ditemui pada
wanita hamil dan menyusui. Giant fibroadenoma ditandai dengan ukuran
yang besar dan pembesaran massa enkapsulasi payudara yang cepat. Giant
fibroadenoma dapat merusak bentuk payudara dan menyebabkan tidak simetris
karena ukurannya yang besar, sehingga perlu dilakukan pemotongan dan
pengangkatan terhadap tumor ini.

Juvenile Fibroadenoma

Juvenile fibroadenoma biasa terjadi pada remaja perempuan, dengan insiden 0,5-
2% dari seluruh kasus fibroadenoma. Sekitar 10-25% pasien dengan juvenile
fibroadenoma memiliki lesi yang multiple atau bilateral.18 Tumor jenis ini lebih
banyak ditemukan pada orang Afrika dan India Barat dibandingkan pada orang
Kaukasia. Fibroadenoma mammae juga dapat dibedakan secara histologi antara
lain:

a. Fibroadenoma Pericanaliculare
Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa
lapis.

b. Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar
berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau
menghilang. Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit
dan pada saat menopause terjadi regresi.

7
Gambar 2.2. Fibroadenoma Gambar 2.3. Common Fibroadenoma (Massa
yang ditunjukkan berbatas tegas )

Gambar 2.4. Giant Fibroadenoma (Massa Gambar 2.5. Juvenile Fibroadenoma


(Massa yang ditunjukkan berbatas tegas dan yang ditunjukkan memiliki
permukaan yang memiliki kapsul yang tebal) berlendir dan multiple celah,
berbatas tegas dan berbentuk bulat)

Gejala Klinis
Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae adalah adanya
bagian yang menonjol pada permukaan payudara, benjolan memiliki batas yang
tegas dengan konsistensi padat dan kenyal. Ukuran diameter benjolan yang sering
terjadi sekitar 1-4 cm, namun kadang dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat
dengan ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5 cm. Benjolan yang tumbuh dapat
diraba dan digerakkan dengan bebas. Umumnya fibroadenoma tidak menimbulkan
rasa nyeri atau tidak sakit.

Penatalaksanaan
Operasi eksisi merupakan satu-satunya pengobatan untuk fibroadenoma.
Operasi dilakukan sejak dini, hal ini bertujuan untuk memelihara fungsi payudara
dan untuk menghindari bekas luka. Pemilihan tipe insisi dilakukan berdasarkan
ukuran dan lokasi dari lesi di payudara, terdapat 3 tipe inisisi yang biasa
digunakan, yaitu :
1. Radical Incision, yaitu dengan menggunakan sinar
2. Circumareolar Incision
3. Curve/Semicircular Incision

8
Tipe insisi yang paling sering digunakan adalah tipe radikal. Tipe
circumareolar hanya meninggalkan sedikit bekas luka dan deformitas, tetapi hanya
memberikan pembukaan yang terbatas. Tipe ini digunakan hanya untuk
fibroadenoma yang tunggal dan kecil dan lokasinya sekitar 2 cm di sekitar batas
areola. Semicircular incision biasanya digunakan untuk mengangkat tumor yang
besar dan berada di daerah lateral payudara.

II. ANESTESI UMUM


2.2 Definisi
Anestesi berasal dari Bahasa Yunani an yang berarti "tidak, tanpa" dan
aesthtos yang berarti "persepsi, kemampuan untuk merasa". Secarea umum,
anestesi merupakan suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan
pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada
tubuh. 1,7
Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada
tahun 1846. Obat yang digunakan dalam menimbulkan anesthesia disebut sebagai
anestetik, dan kelompok ini dibedakan dalam anestetik umum dan anestetik lokal.
Bergantung pada dalamnya pembiusan, anestetik umum dapat memberikan efek
analgesia yaitu hilangnya sensasi nyeri atau efek anesthesia yaitu analgesia yang
disertai hilangnya kesadaran, sedangkan anestetik lokal hanya menimbulkan efek
analgesia. Anestesi umum bekerja di Susunan Saraf Pusat, sedangkan anestetik
lokal bekerja langsung pada Serabut Saraf di Perifer. 4
Anestesi umum (General Anesthesia) disebut juga Narkose Umum (NU).
Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum yang sempurna
menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko
yang tidak diinginkan dari pasien. Dengan anestesi umum akan diperoleh trias
anestesia, yaitu: 5
Hipnotik (tidur)
Analgesia (bebas dari nyeri)
Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot)
Untuk mecapai trias tersebut, dapat digunakan satu jenis obat, misalnya eter
atau dengan memberikan beberapa kombinasi obat yang mempunyai efek khusus
seperti tersebut di atas yaitu obat yang khusus sebagai hipnotik, analgetik, dan
obat pelumpuh otot. Agar anastesi umum dapat berjalan dengan baik,

9
pertimbangan utamanya adalah memiliki anestetika ideal. Pemilihan ini
didasarkan pada beberapa pertimbangan yaitu keadaan penderita, sifat anastetika,
jenis operasi yang dilakukan, dan peralatan serta obat yang tersedia. Sifat
anastetika yang ideal antara lain mudah didapat, murah, tidak mudah terbakar,
stabil, cepat dieliminasi, menghasilkan relaksasi otot yang baik, kesadaran cepat
kembali.1,7
2.2 Metode anestesi umum
I. Parenteral
Anestesia umum yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun
intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat atau untuk
induksi anestesia.
II. Perektal
Metode ini sering digunakan pada anak, terutama untuk induksi anestesia
maupun tindakan singkat.
III. Perinhalasi
Yaitu menggunakan gas atau cairan anestetika yang mudah menguap
(volatile agent) dan diberikan dengan O2. Konsentrasi zat anestetika
tersebut tergantung dari tekanan parsialnya; zat anestetika disebut kuat
apabila dengan tekanan parsial yang rendah sudah mampu memberikan
anestesia yang adekuat.6

3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi anestesi umum


A. Faktor Respirasi
Hal-hal yang mempengaruhi tekanan parsial zat anestetika dalam
alveolus adalah:6
1. Konsentrasi zat anestetika yang diinhalasi; semakin tinggi konsentrasi,
semakin cepat kenaikan tekanan parsial
2. Ventilasi alveolus; semakin tinggi ventilasi, semakin cepat kenaikan
tekanan parsial
B. Faktor Sirkulasi
Saat induksi, konsentrasi zat anestetika dalam darah arterial lebih besar
daripada darah vena. Faktor yang mempengaruhinya adalah:6

10
Perubahan tekanan parsial zat anestetika yang jenuh dalam alveolus dan
darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestetika diserap jaringan dan
sebagian kembali melalui vena.
Koefisien partisi darah/gas yaitu rasio konsentrasi zat anestetika dalam
darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan
seimbang.
Aliran darah, yaitu aliran darah paru dan curah jantung.
C. Faktor Jaringan
Perbedaan tekanan parsial obat anestetika antara darah arteri dan jaringan
Koefisien partisi jaringan/darah
Aliran darah dalam masing-masing 4 kelompok jaringan (jaringan kaya
pembuluh darah/JKPD, kelompok intermediate, lemak, dan jaringan
sedikit pembuluh darah/JSPD)
D. Faktor Zat Anestetika
Potensi dari berbagai macam obat anestetika ditentukan oleh MAC
(Minimal Alveolus Concentration), yaitu konsentrasi terendah zat anestetika
dalam udara alveolus yang mampu mencegah terjadinya tanggapan (respon)
terhadap rangsang rasa sakit. Semakin rendah nilai MAC, semakin poten zat
anestetika tersebut.6
E. Faktor Lain

Ventilasi, semakin besar ventilasi, semakin cepat pendalaman anestesi

Curah jantung, semakin tinggi curah jantung, semakin lambat induksi dan
pendalaman anestesia

Suhu, semakin turun suhu, semakin larut zat anestesia sehingga
pendalaman anestesia semakin cepat.6

4.2 Stadium Anestesi


Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium yaitu: 6
a. Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai
hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti
perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). Tindakan
pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar dapat
dilakukan pada stadium ini

11
b. Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya
kesadaran dan refleks bulu mata sampai pernapasan kembali teratur.
c. Stadium III
Stadium III (pembedahan) dimulai dengan tcraturnya pernapasan sampai
pernapasan spontan hilang. Stadium III dibagi menjadi 4 plana yaitu:
Plana 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang,
terjadi gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil
midriasis, refleks cahaya ada, lakrimasi meningkat, refleks faring
dan muntah tidak ada, dan belum tercapai relaksasi otot lurik yang
sempurna. (tonus otot mulai menurun).
Plana 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume tidak
menurun, frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak, terfiksasi
di tengah, pupil midriasis, refleks cahaya mulai menurun, relaksasi
otot sedang, dan refleks laring hilang sehingga dikerjakan intubasi.
Plana 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal
mulai paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral,
refleks laring dan peritoneum tidak ada, relaksasi otot lurik hampir
sempuma (tonus otot semakin menurun).
Plana 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal
paralisis total, pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks
sfmgter ani dan kelenjar air mata tidak ada, relaksasi otot lurik
sempuma (tonus otot sangat menurun).
d. Stadium IV
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya
pernapasan perut dibanding stadium III plana 4. pada stadium ini tekanan
darah tak dapat diukur, denyut jantung berhenti, dan akhirnya terjadi
kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi
dengan pernapasan buatan.

5.2 Keuntungan anestesi umum :


Mengurangi kesadaran pasien intraoperative
Memungkinkan relaksasi otot yang tepat untuk jangka waktu yang lama
Memfasilitasi kontrol penuh terhadap jalan napas, pernapasan, dan
sirkulasi
Dapat digunakan dalam kasus sensitivitas terhadap agen anestesi lokal
Dapat disesuaikan dengan mudah untuk prosedur durasi tak terduga
Dapat diberikan dengan cepa
Dapat diberikan pada pasien dalam posisi terlentang

12
6.2 Kekurangan anestesi umum :
Memerlukan beberapa derajat persiapan pra operasi pasien
Terkait dengan komplikasi yang kurang serius seperti mual atau muntah,
sakit tenggorokan, sakit kepala, menggigil, dan memerlukan masa untuk
fungsi mental yang normal
Terkait dengan hipertermia di mana paparan beberapa (tetapi tidak semua)
agen anestesi umum menyebabkan kenaikan suhu akut dan berpotensi
mematikan, hiperkarbia, asidosis metabolik, dan hiperkalemia.

7.2 Indikasi anestesi umum :


Infant dan anak usia muda
Dewasa yang memilih anestesi umum
Pembedahan luas
Penderita sakit mental
Pembedahan lama
Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
Riwayat penderita toksik/alergi obat anestesi lokal
Penderita dengan pengobatan antikoagulan

1.8 Komplikasi Anestesi Umum


a. Komplikasi Kardiovaskular
Hipotensi : tekanan sistol kurang dari 70 mmHg atau turun 25% dari
sebelumnya.
Hipertensi : umumnya tekanan darah dapat meningkat pada periode
induksi dan pemulihan anestesia. Komplikasi ini dapat membahayakan
khususnya pada penyakit jantung, karena jantung akan bekerja keras
dengan kebutuhan O2 miokard yang meningkat, bila tak tercukupi dapat
timbul iskemia atau infark miokard. Namun bila hipertensi karena tidak
adekuat dapat dihilangkan dengan menambah dosis anestetika.
Aritmia Jantung : anestesi ringan yang disertai maniplasi operasi dapat
merangsang saraf simpatiks, dapat menyebabkan aritmia. Bradikardia
yang terjadi dapat diobati dengan atropin
Gagal Jantung : mungkin terjadi bila pasien mendapat cairan IV
berlebihan.

b. Komplikasi Respirasi
Obstruksi jalan nafas
Batuk
Cekukan (hiccup)
Intubasi endobronkial
Apnoe

13
Atelektasis
Pneumotoraks
Muntah dan regurgitas
c. Komplikasi Mata
Laserasi kornea, menekan bola mata terlalu kuat
d. Komplikasi Neurologi
Konvulsi, terlambat sadar, cedera saraf tepi (perifer)
e. Perubahan Cairan Tubuh
Hipovolemia, Hipervolemia
f. Komplikasi Lain-Lain
Menggigil, gelisah setelah anestesi, mimpi buruk, sadar selama operasi,
kenaikan suhu tubuh.7

III.PROSEDUR ANESTESI UMUM


2.1 Persiapan pra anestesi umum
Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan baik elektif maupun
darurat harus dipersiapkan dengan baik karena keberhasilan anestesi dan
pembedahan sangat dipengaruhi oleh persiapan pra anestesi. Kunjungan pra
anestesi pada bedah elektif umumnya dilakukan 1-2 hari sebelumnya, sedangkan
pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat.6
Tujuan kunjungan pra anestesi:
Mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal dengan melakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lain.
Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai
keadaan fisik dan kehendak pasien. Dengan demikian, komplikasi yang
mungkin terjadi dapat ditekan seminimal mungkin.
Menentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik, dalam
hal ini dipakai klasifikasi ASA (American Society of Anesthesiology)
sebagai gambaran prognosis pasien secara umum.
2.2 Persiapan pasien
a. Anamnesis
Anamnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri (autoanamnesis) atau
melalui keluarga pasien (alloanamnesis). Dengan cara ini kita dapat
mengadakan pendekatan psikologis serta berkenalan dengan pasien.
Yang harus diperhatikan pada anamnesis:

14

Identifikasi pasien, missal: nama, umur, alamat, pekerjaan, dll.

Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin
dapat menjadi penyulit dalam anestesi, antara lain: penyakit alergi,
diabetes mellitus, penyakit paru-paru kronik (asma bronchial,
pneumonia, bronchitis), penyakit jantung dan hipertensi (infark
miokard, angina pectoris, dekompensasi kordis), penyakit hati, dan
penyakit ginjal.

Riwayat obat-obat yang sedang atau telah digunakan dan mungkin
menimbulkan interaksi dengan obat-obat anestetik. Misalnya
kortikosteroid, obat antihipertensi, obat-obat antidiabetik, antibiotika
golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung seperti digitalis,
diuretika, obat anti alergi, tranquilizer, monoamino oxidase inhibitor,
bronkodilator.

Riwayat operasi dan anestesi yang pernah dialami diwaktu yang lalu,
berapa kali, dan selang waktunya. Apakah pasien mengalami
komplikasi saat itu seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif
pasca bedah.

Kebiasaan buruk sehari-hari yang mungkin dapat mempengaruhi
jalannya anestesi seperti: merokok dan alkohol.1,7
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan keadaan gigi-geligi,
tindakan buka mulut, lidah relative besar sangat penting untuk diketahui
apakah akan menyulitkan tindakan laringoskopi intubasi. Leher pendek dan
kaku juga akan menyulitkan laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin lain secara sistematik tentang keadaan umum tentu tidak
boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi semua
sistem organ tubuh pasien.1,7
c. Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium hendaknya atas indikasi yang tepat sesuai dengan dugaan
penyakit yang sedang dicurigai. Banyak fasilitas kesehatan yang
mengharuskan uji laboratorium secara rutin walaupun pada pasien sehat untuk
bedah minor, misalnya pemeriksaan darah kecil (Hb, lekosit, masa perdarahan
dan masa pembekuan) dan urinalisis. Pada usia pasien di atas 50 tahun ada
anjuran pemeriksaan EKG dan foto toraks. Praktek-praktek semacam ini harus

15
dikaji ulang mengingat biaya yang harus dikeluarkan dan manfaat minimal uji-
uji semacam ini.
Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
laboratorium, selanjutnya dibuat rencana mengenai obat dan teknik anestesi
yang akan digunakan. Misalnya pada diabetes mellitus, induksi tidak
menggunakan ketamin yang dapat menimbulkan hiperglikemia. Pada penyakit
paru kronik, mungkin operasi lebih baik dilakukan dengan teknik analgesia
regional daripada anestesi umum mengingat kemungkinan komplikasi paru
pasca bedah. Dengan perencanaan anestesi yang tepat, kemungkinan
terjadinya komplikasi sewaktu pembedahan dan pasca bedah dapat dihindari.
1,7

d. Kebugaran untuk anestesi


Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk menyiapkan
agar pasien dalam keadaan bugar, sebaliknya pada operasi cito penundaan
yang tidak perlu harus dihindari.7
e. Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anesthesia. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan risiko utama
pada pasien-pasien yang menjalani anesthesia. Untuk meminimalkan risiko
tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan
anestesia harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode
tertentu sebelum induksi anestesia. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8
jam, anak kecil 4-6 jam dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tak berlemak
diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anesthesia. Minuman bening, air putih,
the manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam
jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anesthesia.7
f. Klasifikasi status fisik
Skor ASA
ASA (American Society of Anaesthesiologist) adalah klasifikasi yang
lazim digunakan untuk menilai status fisik pasien pra-anestesi. Klasifikasi
ini berasal dari The American Society of Anesthesiologist yang terdiri dari:6
Kelas Status fisik Contoh
I Pasien normal yang sehat Pasien bugar dengan
hernia inguinal

16
II Pasien dengan penyakit sistemik Hipertensi esensial,
ringan diabetes ringan
III Pasien dengan penyakit sistemik Angina, insufisiensi
berat yang tidak melemahkan pulmoner sedang
(incapacitating) sampai berat
IV Pasien dengan penyakit sistemik Penyakit paru
yang melemahkan dan merupakan stadium lanjut, gagal
ancaman konstan terhadap jantung
kehidupan
V Pasien sekarat yang diperkirakan Ruptur aneurisma
tidak bertahan selama 24 jam aorta, emboli paru
dengan atau tanpa operasi massif
E Kasus-ksus emergensi diberi
tambahan hurup E ke angka.
Tabel 1. Klasifikasi ASA dari status fisik

Skor Mallampati
Skor Mallampati adalah suatu perkiraan kasar dari ukuran relatif lidah
terhadap rongga mulut yang digunakan untuk memperkirakan tingkat
kesulitan intubasi. Skor Mallampati ditentukan dengan melihat anatomi
dari rongga mulut, khususnya berdasarkan visibilitas dari dasar uvula,
arkus tonsilaris anterior dan posterior, dan palatum mole. Semakin tinggi
skor mallampati, semakin tinggi pula tingkat kesulitan untuk dilakukan
intubasi.1
Kelas 1 tonsil, palatum mole, dan uvula terlihat jelas seluruhnya

Kelas 2 palatum durum dan palatum mole masih terlihat, sedangkan


tonsil dan uvula hanya terlihat bagian atas

Kelas 3 Hanya palatum mole dan palatum durum yang terlihat,


sedangkan dinding posterior faring dan uvula tertutup
seluruhnya oleh lidah
Kelas 4 Hanya palatum durum yang terlihat, sedangkan dinding
posterior faring, uvula, dan palatum mole tertutup
seluruhnya oleh lidah

17
Tabel 2. Klasifikasi skor mallampati

Gambar 1. Penilaian Skor Mallampati


g. Premedikasi
Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anesthesia
diantaranya : 8
Meredakan kecemasan dan ketakutan
Memperlancar induksi anesthesia
Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Meminimalkan jumlah obat anestetik
Mengurangi mual muntah pasca bedah
Menciptakan amnesia
Mengurangi isi cairan lambung
Mengurangi refleks yang membahayakan
Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seorang dihadapkan pada situasi
yang tidak pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat membangun
kepercayaan dan menenteramkan pasien. Obat pereda kecemasan bisa
digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi
18
anestesia. Jika disertai nyeri karena penyakitnya, dapat diberikan opioid
misalnya petidin 50 mg intramuskular.
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis
asam. Untuk meminimalkan kejadian diatas dapat diberikan antagonis reseptor
H2 histamin misalnya oral simetidin 600 mg atau oral ranitidin (zantac) 150
mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi.
Untuk mengurangi mual muntah pasca bedah sering ditambahkan
premedikasi suntikan intramuscular untuk dewasa droperidol 2,5-5 mg atau
ondansentron 2-4 mg (zofran, narfoz).

2.3 Persiapan peralatan anestesi


Tindakan anestesi yang aman tidak terlepas dari kelengkapan peralatan
anestesi yang baik. Baik tidak berarti harus canggih dan mahal, tetapi lebih berarti
berfungsi, sesuai dengan tujuan kita memberi anestesi yang lancar dan aman. 4, 6
Mesin anestesi
Fungsi mesin anestesi (mesin gas) ialah menyalurkan gas atau campuran gas
anestetik yang aman ke rangkaian sirkuit anestetik yang kemudian dihisap oleh
pasien dan membuang sisa campuran gas dari pasien. Rangkaian mesin anestesi
sangat banyak ragamnya, mulai dari yang sangat sederhana sampai yang diatur
oleh komputer. Mesin yang aman dan ideal ialah mesin yang memenuhi
persyaratan berikut:6
1. Dapat menyalurkan gas anestetik dengan dosis tepat
2. Ruang rugi (dead space) minimal
3. Mengeluarkan CO2 dengan efisien
4. Bertekanan rendah
5. Kelembaban terjaga dengan baik
6. Penggunaannya sangat mudah dan aman
Komponen dasar mesin anestetik terdiri dari:
1. Sumber O2, N2O, dan udara tekan.
Dapat tersedia secara individual menjadi satu kesatuan mesin anestetik atau
dari sentral melalui pipa-pipa. Rumah sakit besar biasanya menyediakan O2,
N2O, dan udara tekan secara sentral untuk disalurkan ke kamar bedah sentral,
kamar bedah rawat jalan, ruang obstetrik, dll.
2. Alat pantau tekanan gas (pressure gauge)
Berfungsi untuk mengetahui tekanan gas pasok. Kalau tekanan gas O2
berkurang, maka akan ada bunyi tanda bahaya (alarm)
3. Katup penurun tekanan gas (pressure reducing valve)

19
Berfungsi untuk menurunkan tekanan gas pasok yang masih tinggi, sesuai
karakteristik mesin anestesi.
4. Meter aliran gas (flowmeter), untuk mengatur aliran gas setiap menitnya.
5. Satu atau lebih penguap cairan anestetik (vaporizers), dapat tersedia satu, dua,
tiga, sampai empat.
6. Lubang keluar campuran gas (common gas outlet)
7. Kendali O2 darurat (oxygen flush control)
Berfungsi untuk keadaan darurat yang dapat mengalirkan O2 murni sampai 35-
37 liter/menit tanpa melalui meter aliran gas.

Tabung gas beserta alat tambahannya dan penguap diberi warna khusus untuk
menghindari kecelakaan yang mungkin timbul. Kode warna internasional yang telah
disepakati ialah:

Oksigen N2O Udara CO2 Halotan Enfluran Isofluran Desfluran Sevofluran


Putih Biru Putih- Abu- Merah Jingga Ungu Biru kuning
hitam abu
kuning
Tabel 3. Kode warna inhalasi

Sirkuit anestesi
Sirkuit anestesi atau sistem penghantar gas atau sistem anestesi ialah alat yang
bukan saja menghantarkan gas atau uap anestetik dan oksigen dari mesin ke jalan
napas atas pasien, tetapi juga harus sanggup membuang CO2 dengan
mendorongnya dengan aliran gas segar atau dengan menghisapnya dengan kapur
soda.
Sirkuit anestesi umumnya terdiri dari:
1. Sungkup muka, sungkup laring, atau pipa trakea
2. Katup ekspirasi dengan per atau pegas (expiratory loaded spring valve,
pop-off valve, APL, adjustable pressure limiting valve)
3. Pipa ombak, pipa cadang (corrugated tube, reservoir tube)
4. Bahan karet hitam (karbon) atau plastik transparent anti statik, anti
tertekuk
5. Kantong cadang (reservoir bag)
6. Tempat masuk campuran gas anestetik dan O2 (fresh gas inlet).
Untuk mencegah terjadinya barotraumas akibat naiknya tekanan gas yang
mendadak tinggi, katup membatasi tekanan sampai 50 cm H2O.
Sirkuit anestesi yang popular sampai saat ini ialah sirkuit lingkar (circle
system), sirkuit Magill, sirkuit Bain, dan system pipa T atau pipa Y dari Ayre.

20
Sungkup muka
Pemakaian sungkup muka berguna untuk menyalurkan oksigen atau gas
anestesi ke pasien. Terdapat beberapa jenis sungkup. Dengan sungkup trasparan
berguna untuk obervasi kelembapan udara yang diekshalasi dan mengetahui jika
pasien muntah. Sungkup karet hitam dapat digunakan untuk mengadaptasi struktur
muka yang tidak biasa.
Ventilasi efektif memerlukan baik sungkup yang kedap udara dan jalan
nafas yang baik. Teknik sungkup muka yang salah dapat berakibat deflasi yang
berkelanjutan pada reservoir bag saat katup tekanan ditutup, biasanya
mengindikasikan adanya kebocoran di sekitar sungkup. Sebaliknya pembentukan
tekanan pernapasan yang tinggi dengan gerakan dada minimal dan suara
pernafasan menandakan obstruksi jalan nafas.
Sungkup dipegang melawan muka dengan tekanan ke bawah pada badan
sungkup dilakukan dengan jempol kiri dan jari telunjuk. Jari tengah dan manis
memegang mandibula untuk membantu ekstensi sendi atlantooksipital. Jari
kelingking diletakkan di bawah sudut rahang dan digunakan untuk menahan dagu
ke depan, maneuver paling penting untuk ventilasi pasien.

21
Gambar 2. Face mask atau sungkup wajah (kiri) dan Jackson-Rees Sirkuit

Endotracheal tube (ETT)


ETT dapat digunakan untuk memberikan gas anestesi secara langsung ke
trakea dan memberikan ventilasi dan oksigenasi terkontrol. Bentuk dan kekerasan
ETT dapat diubah dengan stilet. Resistensi terhadap aliran udara tergantung pada
diameter tabung, tetapi juga dipengaruhi oleh panjang tabung dan kurvatura.
Ukuran ETT yang digunakan pada wanita dewasa diameter internal 7-7.5 mm
dengan panjang 24 cm. pada pria dewasa diameter internal 7.5-9 mm dengan
panjang 24cm.

22
Gambar 3. ETT berbagai ukuran dan Laringoskop

Sungkup laring (Laringeal mask airway = LMA)


LMA digunakan untuk menggantikan sungkup muka atau ETT saat pemberian
anestesi, untuk membantu ventilasi dan jalur untuk ETT pada pasien dengan jalan
nafas sulit dan membantu ventilasi saat bronkoskopi.
Pemakaian LMA memerlukan anestesi lebih kuat dibandingkan dengan insersi
jalan nafas oral. Kontraindikasi LMA pada pasien dengan patologi faring seperti
abses, obstruksi faring, perut penuh seperti hamil atau komplians paru rensah
seperti penyakit jalan nafas restriktif.

23
Gambar 4. LMA dan cara pemasangannya

Nasotracheal tube (NTT)


Intubasi nasotrakeal dapat dilakukan pada pasien yang menjalani bedah
maksilofasial atau prosedur gigi atau ketika intubasi orotracheal tidak layak
(misalnya, pasien dengan pembukaan mulut yang terbatas). Intubasi nasal mirip

24
dengan intubasi oral tetapi memiliki perbedaan di jalur masuk alat yaitu melalui
hidung atau nasofaring kemudian menuju orofaring. Memasukkan NTT dibantu
dengan pemberian lubrikan/lidokain gel, pipa secara berangsur-angsur
dimasukkan hingga ujungnya terlihat di orofaring melalui laringoskop. Jika
terdapat kesulitan dalam memasukkan ujung pipa menuju pita suara dapat dibantu
dengan menggunakan forcep Magil yang dilakukan dengan hati-hati agar tidak
merusak balon. Memasukkan pipa nasal berbahaya pada pasien dengan trauma
wajah yang berat disebabkan adanya resiko masuk ke intracranial.

Pada pemasangan pipa nasotrakeal juga terdapat beberapa kemungkinan


komplikasi diantaranya epistaksis. Epistaksis adalah komplikasi yang paling
umum, akibat abrasi dari mukosa hidung ketika tabung dilewatkan posterior. Jika
terdapat perdarahan tetapi intubasi masih belum tercapai, maka harus diselesaikan.
Selain itu, komplikasi lain dari pemasanga NTT adalah kerusakan rongga hidung
(avulsi dari polip hidung, fraktur turbinates, abses septum), aspirasi, stimulasi
vagal, laringospasme, kerusakan pita suara, bakteremia dari flora hidung dengan
trakea. 13

2.4 Induksi anestesi


Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi
tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan.
Setelah pasien tidur akibat induksi anestesi langsung dilanjutkan dengan
pemeliharaan anestesi sampai tindakan pembedahan selesai.
Sebelum memulai induksi anestesi selayaknya disiapkan peralatan dan obat-
obatan yang diperlukan, sehingga seandainya terjadi keadaan gawat dapat diatasi
dengan lebih cepat dan lebih baik. Untuk persiapan induksi anestesi, sebaiknya
diingat kata STATICS:6
S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.
Laringoskop pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan usia pasien.
Lampu harus cukup terang.
T : Tubes Pipa trakea. Pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed)
dan usia > 5 tahun dengan balon (cuffed).
A : Airway Pipa mulut-faring (Guedel,orotracheal airway) dan pipa hidung-
faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak
sadar untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
T : Tape Plester untuk fiksasi pipa agar tidak terdorong atau tercabut

25
I : Introducer Mandrin atau stillet untuk memandu agar pipa trakea mudah
dimasukkan
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anesthesia
S : Suction Penyedot lender, ludah, dan lain-lainnya
Tabel 4. Persiapan induksi anastesi

2.5 Obat Anestesi umum


Umumnya obat anestesi umum diberikan secara inhalasi atau suntikan intravena.6,8
1. Anestetik inhalasi
Nitrogen aksida yan stabil pada tekanan dan suhu kamar merupakan salah satu
anestetik gas yang banyak dipakai karena dapat digunakan dalam bentuk
kombinasi dengan anestetik lainnya. Halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan
metoksifluran merupakan zat cair yang mudah menguap. Sevofluran merupakan
anestesi in halasi terbaru tetapih belum diizinkan beredar di USA. Anestesi
inhalasi konvensional seperti eter, siklopropan, dan kloroform pemakaiannya
sudah dibatasi karena eter dan siklopropan mudah terbakar sedangkan kloroform
toksik terhadap hati.

2. Anestetik intravena
Beberapa obat anestetik diberikan secara intravena baik tersendiri maupun
dalam bentuk kombinasi dengan anestetik lainnya untuk mempercepat tercapainya
stadium anestesi atau pun sebagai obat penenang pada penderita gawat darurat
yang mendapat pernafasan untuk waktu yang lama, Yang termasuk :
Barbiturat (tiopental, metoheksital)
Benzodiazepine (midazolam, diazepam)
Opioid analgesik dan neuroleptik
Obat-obat lain (profopol, etomidat)
Ketamin, arilsikloheksilamin yang sering disebut disosiatif
anestetik.

Induksi anestesi dapat dikerjakan dengan secara intravena, inhalasi,


intramuskular, atau rectal.
1.1 Induksi intravena
Induksi intravena paling banyak dikerjakan dan digemari, apalagi sudah
terpasang jalur vena, karena cepat dan menyenangkan. Induksi intravena
hendaknya dikerjakan dengan hati-hati, perlahan-lahan, lembut, dan terkendali.
Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama

26
induksi anestesi, pernapasan pasien, nadi, dan tekanan darah harus diawasi dan
selalu diberikan oksigen. Induksi cara ini dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
Tiopental (tiopenton, pentotal) diberikan secara intravena dengan kepekatan
2,5% dan dosis antara 3-7 mg/kgBB. Keluar vena menyebabkan nyeri. Pada anak
dan manula digunakan dosis rendah dan dewasa muda sehat dosis tinggi.
Propofol (recofol, diprivan) intravena dengan kepekatan 1% menggunakan
dosis 2-3 mg/kgBB. Suntikan propofol intravena sering menyebabkan nyeri,
sehingga satu menit sebelumnya sering diberikan lidokain 1 mg/kgBB secara
intravena.
Ketamin (ketalar) intravena dengan dosis 1-2 mg/kgBB. Pasca anestesi dengan
ketamin sering menimbulkan halusinasi, karena itu sebelumnya dianjurkan
menggunakan sedativa seperti midasolam (dormikum). Ketamin tidak dianjurkan
pada pasien dengan tekanan darah tinggi (tekanan darah > 160 mmHg). Ketamin
menyebabkan pasien tidak sadar, tetapi dengan mata terbuka.

2.1 Induksi intramuscular


Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuscular dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.

3.1 Induksi inhalasi


Obat yang digunakan adalah obat-obat yang memiliki sifat-sifat :
tidak berbau menyengat / merangsang
baunya enak
cepat membuat pasien tertidur.
Sifat-sifat tadi ditemukan pada halotan dan sevofluran.
Induksi inhalasi hanya dikerjakan dengan halotan (fluotan) atau sevofluran.
Cara induksi ini dikerjakan pada bayi atau anak yang belum terpasang jalur vena
atau pada dewasa yang takut disuntik.
Induksi halotan memerlukan gas pendorong O 2 atau campuran N2O dan O2.
Induksi dimulai dengan aliran O2 > 4 liter/menit atau campuran N2O:O2=3:1 aliran
> 4 liter/menit, dimulai dengan halotan 0,5 vol% sampai konsentrasi yang
dibutuhkan. Kalau pasien batuk konsentrasi halotan diturunkan untuk kemudian
kalau sudah tenang dinaikkan lagi sampai konsentrasi yang diperlukan.
Induksi dengan sevofluran lebih disenangi karena pasien jarang batuk,
walaupun langsung diberikan dengan konsentrasi tinggi sampai 8 vol%. seperti
dengan halotan konsentrasi dipertahankan sesuai kebutuhan.

27
Induksi dengan enfluran (etran), isofluran (foran, aeran), atau desfluran jarang
dilakukan, karena pasien sering batuk dan waktu induksi menjadi lama.
4.1 Induksi per rektal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan thiopental atau midazolam.
Tanda-tanda induksi berhasil adalah hilangnya refleks bulu mata. Jika bulu mata
disentuh, tidak ada gerakan pada kelopak mata.

2.6 Tanda dan stadium anestesi umum


Secara tradisional, efek anestetik dapat dibagi 4 (emapat) stadium peningkatan
dalamnya depresi susunan saraf pusat, yaitu :6
I. Stadium analgesi
Pada stadium awal ini, penderita mengalami analgesi tanpa disertai kehilangan
kesadaran. Pada akhir stadium 1, baru didapatkan amnesia dan analgesi
II. Stadium terangsang
Pada stadium ini, penderita tampak delirium dan gelisah, tetapih kehilangan k
esadaran. Volume dan kecepatan pernafasan tidak teratur, dapat terjadi
mual. Inkontinensia urin dan defekasi sering terjadi. Karena itu, harus
diusahakan untuk membatasi lama dan berat stadium ini, yang ditandai dengan
kembalinya pernafasan secara teratur.
III. Stadium operasi
Stadium ini ditandai dengan pernafasan yang teratur. Dan berlanjut sampai
berhentinya pernafasan secara total. Ada empat tujuan pada stadium III
digambarkan dengan perubahan pergerakkan mata, dan ukuran pupil, yang
dalam keadaan tertentu dapat merupakan tanda peningktan dalamnya anestesi.
IV. Stadium depresi medula oblongata
Bila pernafasan spontan berhenti, maka akan masuk kedalam stadium IV. Pada
stadium ini akan terjadi depresi berat pusat pernafasan dimedula oblongata dan
pusat vasomotor. Tampa bantuan respirator dan sirkulasi, penderita akan cepat
meninggal.

Pada praktek anestesi modern, perbedaan tanda pada masing-masing stadium


sering tidak jelas. Hal ini karena mula kerja obat anestetik modern relatife lebih
cepat dibandingkan dengan dietil eter disamping peratan penunjang yang dapat
mengontrol ventilasi paru secara mekanis cukup tersedia. Selain itu, adanya obat
yang diberikan sebelum dan selama operasi dapat juga berpengaruh pada tanda-
tanda anestesi. Atropin, digunakan untuk mengurangi skresi, sekaligus mendilatasi
pupil; obat-obatnya seperti tubokurarin suksinilkolin yang dapat mempengaruhi

28
tonus otot; serta obat analgetik narkotik yang dapat menyebabkan efek depresan
pada pernafasan.tanda yang paling dapat diandalkan untuk mencapai stadium
operasi adalah hilangnya refleks kelopak mata dan adanya pernapasan yang dalam
dan teratur.

2.7 Teknik anestesi


1. Teknik anestesi nafas spontan dengan sungkup muka
Indikasi : untuk tindakan yang singkat (0,5-1 jam) tanpa membuka rongga
perut, keadaan umum pasien cukup baik, lambung harus kosong.
Selesai dilakukan induksi, sampai pasien tertidur dan reflek bulu mata
hilang, sungkup muka ditempatkan pada muka. Sebaiknya dagu ditahan atau
sedikit ditarik kebelakang (posisi kepala ekstensi) agar jalan napas bebas dan
pernafasan lancer.
N2O mulai diberikan 4 L dengan O2 2 L/menit untuk memperdalam
anestesi, bersamaan dengan ini halotan dibuka sampai 1% dan sedikit demi
sedikit dinaikkan dengan 1% sampai 3 atau 4 % tergantung reaksi dan besar
tubuh penderita
Kedalaman anestesi dinilai dari tanda-tanda mata (bola mata menetap),
nadi tidak cepat, dan terhadap rangsang operasi tidak banyak berubah. Kalau
stadium anesthesia sudah cukup dalam, rahang sudah lemas, masukan pipa
orofaring (guedel). Halotan kemudian dikurangi menjadi 1-1,5% tergantung
respon terhadap rangsang operasi. Halotan dikurangi dan dihentikan beberapa
menit sebelum operasi selesai. Selesai operasi, N 2O dihentikan dan penderita
diberi O2 100% beberapa menit untuk mencegah hipoksi difusi.
2. Teknik anestesi nafas spontan dengan pipa endotrakea
Indikasi: operasi lama, kesulitan mempertahankan jalan nafas bebas pada
anestesi dengan sungkup muka.
Setelah induksi, dapat dilakukan intubasi. Balon pipa endotrakea
dikembangkan sampai tidak ada kebocoran pada waktu melakukan nafas
buatan dengan balon nafas. Harus yakin bahwa pipa endotrakea ada di dalam
trakea dan tidak masuk terlalu dalam yaitu di salah satu bronkus atau di
eosofagus. Pipa endotrakea di fiksasi, lalu pasang guedel di mulut supaya pipa
endotrakea tidak tergigit. Lalu mata ditutup dengan plester supaya tidak
terbuka dan kornea tidak menjadi kering. Lalu pipa endotrakea dihubungkan
dengan konektor pada sirkuit nafas alat anestesi.

29
3. Teknik anestesi dengan pipa endotrakea dan nafas kendali
Teknik induksi anestesi dan intubasi sama seperti diatas.
Nafas dikendalikan secara manual atau dengan respirator. Bila
menggunakan respirator setiap inspirasi (volume tidal) diusahakan + 10
ml/kgBB dengan frekuensi 10/14 per menit. Apabila nafas dikendalikan secara
manual, harus diperhatikan pergerakan dada kanan dan kiri yang simetris.
Menjelang akhir operasi setelah menjahit lapisan otot selesai diusahakan nafas
spontan dengan membantu usaha nafas sendiri secara manual. Halotan dapat
dihentikan sesudah lapisan fasi kulit terjahit. N2O dihentikan kalau lapisan
kulit mulai dijahit.
Ekstubasi dapat dilakukan setelah nafas spontan normal kembali dengan
volume tidal 300 ml. O2 diberi terus 5-6 L selama 2-3 menit untuk mencegah
hipoksia difusi.
4. Ekstubasi
Mengangkat keluar pipa endotrakea (ekstubasi) harus mulus dan tidak
disertai batuk dan kejang otot yang dapat menyebabkan gangguan nafas,
hipoksia sianosis.4,6

2.8 Rumatan anestesi (maintenance)


Rumatan anestesi dapat dikerjakan dengan secara intravena (anesthesia
intravena total) atau dengan inhalasi atau dengan campuran intravena inhalasi.
Rumatan anestesi biasanya mengacu pada trias anestesi yaitu tidur ringan
(hipnosis) sekedar tidak sadar, analgesia cukup, diusahakan agar pasien selama
dibedah tidak menimbulkan nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup.
Rumatan intravena misalnya dengan menggunakan opioid dosis tinggi,
fentanil 10-50 ug/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan
analgesia cukup, sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan
intravena dapat juga menggunakan opioid dosis biasa, tetapi pasien ditidurkan
dengan infuse propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan anestesi total
intravena menggunakan opioid, pelumpuh otot, dan ventilator. Untuk
mengembangkan paru digunakan inhalasi dengan udara + O2 atau N2O + O2.
Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 3:1 ditambah
halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4 vol%, atau isofluran 2-4 vol%, atau

30
sevofluran 2-4 vol% bergantung apakah pasien bernapas spontan, dibantu
(assisted), atau dikendalikan (controlled). 4,6

2.9 Pasca bedah


Pasien harus diobservasi terus (pernafasan, tekanan darah, dan nadi) sesudah
operasi dan anestesi selesai sewaktu masih dikamar bedah dan kamar pulih. Bila
pasien gelisah, harus diteliti apakah karena kesakitan atau karena hipoksia
(tekanan darah menurun, nadi cepat) misalnya karena hipovolemia (perdarahan di
dalam perut atau kekurangan cairan).

Skor Aldrete
Skor aldrete adalah suatu kriteria untuk menilai keadaan pasien selama
observasi di ruang pemulihan (recovery room) yang digunakan untuk menentukan
boleh tidaknya pasien dikeluarkan dari ruang pemulihan. Kriteria yang digunakan
dan umumnya yang dinilai pada saat observasi di ruang pulih adalah warna kulit
atau saturasi O2, kesadaran, sirkulasi, pernafasan, dan aktivitas motorik. Idealnya,
pasien baru boleh dikeluarkan bila jumlah skor total adalah 10 (skor maksimal).
Namun, bila skor total telah di atas 8 , pasien boleh keluar dari ruang pemulihan.
4,6

Kriteria Skor

Kesadaran
Sadar penuh 2
Terangsang oleh stimulus verbal 1
Tidak terangsang oleh stimulus verbal 0
Respirasi
Dapat bernapas dalam dan batuk 2
Dispnea atau hanya dapat bernapas dangkal 1
Tidak dapat bernapas tanpa bantuan (apnea) 0
Tekanan Darah
Berbeda 20% dari tekanan darah sebelum operasi 2
Berbeda 20 50% dari tekanan darah sebelum operasi 1
Berbeda > 50% dari tekanan darah sebelum operasi 0
Oksigenasi

31
SpO2 > 92% pada udara ruangan 2
Memerlukan O2 tambahan untuk mencapai SpO2 > 90% 1
SpO2 < 90% meskipun telah mendapat O2 tambahan 0
Tabel 5. Aldretes Score

32