Anda di halaman 1dari 7

ANALISA PERMODELAN BANGKITAN DAN TARIKAN PERGERAKAN LALU LINTAS

PADA TATA GUNA LAHAN SD NEGERI KOTA MAKASSAR

S.H. Aly1, S. Rauf1, M.Riady2

Abstrak: Sekolah Dasar merupakan salah satu lokasi yang biasa mengalami masalah kemacetan lalu lintas.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain terjadinya peningkatan jumlah kendaraan, buruknya
pelayanan angkutan umum serta kondisi sistem jaringan jalan yang tidak memadai. Oleh karena itu, pemilihan
lokasi sekolah seharusnya dilakukan dengan mempertimbangkan perkiraan tarikan dan bangkitan pergerakan
lalu lintas yang akan terjadi dengan mempertimbangkan kendaraan pengantar dan penjemput siswa. Tujuan
penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi bangkitan dan tarikan pergerakan
(Trip Generation) mobil penjemput dan mobil pengantar yang berbasis zona di SD Negeri pusat Kota
Makassar. Data primer didapatkan melalui survei langsung, yaitu dengan membagikan questioner kepada
siswa/i yang berada di Sekolah Dasar yang dijadikan sampel. Sedangkan data sekunder berasal data sekolah
tersebut dan didapatkan dari pegawai yang bekerja di sekolah tersebut. Survey dilakukan pada tujuh SD
Negeri yang berada di pusat Kota Makassar dan terletak pada ruas jalan-jalan utama. Data hasil survey
dianalisis dengan metode regresi untuk mendapatkan model yang terbaik berdasarkan nilai Determinasi (R 2).

Kata kunci: SD Negeri, Kota Makassar, Trip Generation.

PENDAHULUAN Bangkitan dan tarikan lalu lintas pada


Sekolah Dasar (SD), umumnya tidak tata guna lahan khususnya pada kawasan
memiliki tempat / jalur khusus untuk pendidikan di Kota Makassar merupakan
menurunkan dan menaikkan penumpang. salah satu permasalahan yang sering
Hal ini menyebabkan kendaraan pengantar menyebabkan terjadinya kemacetan lalu
dan penjemput siswa berhenti atau parkir lintas pada waktu sibuk pada pagi dan
di daerah badan jalan, sehingga terjadi siang hari. Untuk mengatasi permasalahan
pengurangan kapasitas jalan. Akibatnya tersebut diperlukan suatu analisa
pada saat volume lalu lintas tinggi pada bangkitan dan tarikan lalu lintas pada tata
saat masuk sekolah dan pulang guna lahan pendidikan khususnya pada
sekolahakan terjadi kemacetan lalu lintas. Sekolah Dasar Negeri, maka dapat
Kemacetan lalu lintas yang terjadi di dilakukan manajemen lalu lintas untuk
lokasi Sekolah Dasar Negeri pada jam mengatasi kemacetan lalu lintas tersebut.
masuk sekolah dan jam pulang sekolah PENGERTIAN SEKOLAH DASAR
dapat dicegah apabila sebelum Sekolah Dasar adalah jenjang paling
menentukan lokasi sebuah sekolah, dasar pada pendidikan formal
pemilik sekolah terlebih dahulu di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh
memperkirakan bangkitan dan tarikan dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1
pergerakan lalu lintas pada tata guna lahan sampai kelas 6. Pelajar sekolah dasar
Dengan mengetahui besarnya umumnya berusia 7-12 tahun. Sekolah
bangkitan dan tarikan pergerakan arus lalu dasar diselenggarakan oleh pemerintah
lintas, maka dapat dipersiapkan dan maupun swasta. Sejak diberlakukannya
direncanakan geometri dari ruas jalan pada otonomi daerah pada tahun 2001,
kawasan Sekolah Dasar. Hal tersebut pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di
harus dilakukan untuk mencegah Indonesia yang sebelumnya berada di
terjadinya kemacetan arus lalu lintas pada bawah Departemen Pendidikan Nasional,
kawasan tersebut. kini menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah kabupaten / kota.
1
Dosen, Universitas Hasanuddin, Makassar 90245, INDONESIA 1
2
Mahasiswa, Universitas Hasanuddin, muhammadriady99@yahoo.co.id, INDONESIA
KONSEP TRIP GENERATION lahan adalah mubazir karena perencanaan
Bangkitan Pergerakan ( Trip transportasi pada dasarnya adalah usaha
Generation ) adalah tahapan pemodelan untuk mengantisipasi kebutuhan akan
yang memperkirakan jumlah pergerakan pergerakan di masa mendatang dan faktor
yang berasal dari suatu zona atau tata guna aktifitas yang direncanakan merupakan
lahan atau jumlah pergerakan yang tertarik dasar analisisnya.
ke suatu tata guna lahan atau zona (Tamin, Skema interaksi hubungan
1997). transportasi dan penggunaan lahan dapat
dilihat pada Gambar 2 :

Gambar 2. Skema interaksi hubungan transportasi


dan penggunaan lahan
ANALISA REGRESI
Gambar 1. Bangkitan dan Tarikan Pergerakan Untuk mengetahui apakah suatu
variable dapat dipergunakan untuk
Konsep paling mendasar yang memprediksi atau meramalkan variable-
menjelaskan terjadinya pergerakan atau variabel lain, maka digunakan analisa
perjalanan selalu dikaitkan dengan pola regresi. Jika suatu variable tak bebas
hubungan antara distribusi spasial (dependent variable) tergantung pada satu
perjalanan dengan distribusi spasial tata variable bebas (independent variable),
guna lahan yang terdapat dalam suatu hubungan antara kedua variable disebut
wilayah, yaitu bahwa suatu perjalanan analisa regresi sederhana. Bentuk
dilakukan untuk melakukan kegiatan matematis dari analisa regresi sederhana
tertentu di lokasi yang dituju, dan lokasi adalah:
tersebut ditentukan oleh pola tata guna Y = a + bX ...................................(1)
lahan kawasan tersebut. Dimana :
Bangkitan perjalanan (trip Y = variabel dependen (tidak bebas)
generation) berhubungan dengan X = variabel independen (bebas)
penentuan jumlah perjalanan keseluruhan a = intercept (konstanta)
yang dibangkitkan oleh suatu kawasan. b = koefisien regresi
Dalam kaitan antara aktifitas manusia dan Persamaan regresi berganda
antar wilayah ruang sangat berperan dalam merupakan persamaan matematis yang
menciptakan perjalanan. Perencanaan menyatakan hubungan antara sebuah
transportasi tanpa pengendalian tata guna variabel tak bebas (Y) dengan beberapa

2
variabel bebas (X). Bentuk umum Kerangka metodologi penelitian
persamaan regresi berganda adalah : dimulai dengan melakukan studi
Y = a + b1X1 + b2X2 + bn Xn...(2) pendahuluan dimana pada saat itu kita
Dimana: menyusun studi pustaka, latar belakang,
Y= variabel dependen (tidak bebas) tujuan studi dan ruang lingkup studi,
a = konstanta intersep setelah itu dilakukanlah survei
b1,b2bn = koefisien regresi pendahuluan dimana dalam survei
X1, X2 Xn = variabel independen tersebut, kita mendatangi langsung lokasi
(bebas) survei. Di saat survei pendahuluan sudah
Metode regresi digunakan untuk selesai, maka dilanjutkan dengan
menentukan model persamaan matematis mengidentifikasi variabel bebas dan tak
yang terbaik dengan mengacuh pada bebas serta melakukan pengumpulan data,
kriteria statistik. Untuk mendapatkan hasil baik data primer maupun data sekunder.
regresi terbaik, maka harus memenuhi Setelah data primer dan sekunder
kriteria statistik sebagai berikut : didapat, maka dilakukan rekapitulasi data
Uji R2 (Koefisien Determinasi) dan melakukan analisa regresi berganda
Nilai koefisien determinasi yang terbaik metode enter dan metode stepwise dengan
mempunyai nilai antara 0 s/d 1 atau (0 < menggunakan bantuan applikasi SPSS 16.
R2 < 1). Semakin besar nilai R2 Pada saat penggunaan SPSS 16, maka
(mendekati satu) maka semakin baik dicarilah persamaan regresi yang
hasil regresi, dan semakin mendekati 0, optimum, dengan melakukan uji korelasi
maka variabel bebas secara keseluruhan antara variabel yang masih mempunyai
tidak bisa menjelaskan variabel tak nilai signifikan >0,05. Setelah melakukan
bebas. uji korelasi, maka didapatlah hasil
Koefisien Korelasi persamaan regresi yang optimum.
Koefisien korelasi ini digunakan untuk Penelitian ini dilakukan pada Sekolah
menentukan korelasi antara variabel tak Dasar Negeri (SD) Negeri di Kota
bebas dengan variabel bebas atau Makassar dengan mengambil 7 lokasi
sesama variabel bebas. survei terpilih berdasarkan kriteria
METODE PENELITIAN tertentu, yaitu :
Suatu penelitian harus melalui SD Negeri Daya
beberapa tahapan yang memiliki SD Negeri Panaikang
keterkaitan yang sangat erat mulai dari SD Negeri Lariangbangi
tahapan yang paling awal sampai pada SD Negeri Bawakaraeng
tahapan yang paling akhir. Setiap tahapan SD Negeri Mangkura
harus dilalui sesuai dengan tata urutannya, SD Negeri Sudirman
karena hasil dari tahapan yang paling awal SD Negeri Monginsidi
merupakan awal dimulainya tahapan Data primer pada penelitian ini adalah
berikutnya. Untuk dapat melaksanakan data kendaraan pengantar dan penjemput
penelitian secara efektif dan efisien, maka berupa kendaraan roda empat (mobil
kita perlu mengetahui dan membuat penumpang) dan roda dua (sepeda motor)
sebuah bagan atau alur dari tahapan yang menggunakan badan jalan untuk
penelitian dalam hal ini kita sebut dengan menaikkan dan menurunkan penumpang.
kerangka metodologi penelitian. Pelaksanaan dilakukan selama 3 hari

3
untuk setiap lokasi SD Negeri. Data Metode Stepwise yaitu metode
Sekunder diperoleh dengan melakukan yang hanya menggunakan satu
pengambilan data di setiap SD Negeri langkah dalam menentukan hasil
terpilih. Adapun data sekunder berupa : persamaan regresi
X1 = Jumlah Siswa (orang) Persamaan model regresi (untuk
X2 = Jumlah Pengajar (orang) model bangkitan tarikan pergerakan) yang
X3 = Luas Sekolah (m2) optimum dari hasil uji model adalah:
X4 = Total Kelas Persamaan regresi yang tidak
X5 = Kapasitas Sekolah (orang) memiliki nilai koefesien korelasi
X6 = Luas Kelas (m2) tinggi antar variabel bebasnya.
Untuk memperoleh hasil yang akurat, Tanda aljabar semua koefesien
maka data sekunder dapat diturunkan regresinya sesuai dengan logika
untuk memperoleh variabel yang lebih Niali koefesisen determinasi (R2)
banyak. Adapun kandidat variabel tersebut yang paling tinggi mendekati 1,000
adalah : Nilai konstanta regresi (A) yang
X7 = perbandingan jumlah siswa minimum, 0,000
dan jumlah guru Nilai Standard Error of Estimated
X8 = perbandingan jumlah siswa mendekati 0,000
dengan luas sekolah HASIL DAN PEMBAHASAN
X9 = perbandingan jumlah siswa Dari hasil survei selama tiga hari pada
dengan jumlah kelas tujuh sekolah yang menjadi sampel
X10 = perbandingan jumlah siswa penelitian diperoleh data jumlah mobil dan
dengan kapasitas kelas sepeda motor pengantar serta jumlah
X11 = perbandingan jumlah siswa mobil dan sepeda motor penjemput siswa,
dengan luas kelas disajikan pada Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3
X12 = perbandingan jumlah guru dan Tabel 4 berikut :
Tabel 1. Jumlah Kendaraan Pengantar dan
dengan luas sekolah Penjemput Hari 1 (Jumat)
X13 = perbandingan jumlah guru
dengan jumlah kelas
X14 = perbandingan jumlah guru
dengan kapasitas kelas
X15 = perbandingan jumlah guru
dengan luas kelas
X16 = perbandingan luas kelas
dengan luas sekolah
Dalam mencari hasil regresi pada
percobaan ini menggunakan dua jenis
metode yaitu :
Metode Enter yaitu metode yang
memakai beberapa langkah dalam
menentukan hasil persaamaan
regresi

4
Tabel 2. Jumlah Kendaraan Pengantar dan Berdasarkan hasil analisa regresi
Penjemput Hari 2 (Sabtu) metode enter diperoleh hasil matematis
yang terpilih untuk Trip Generation
kendaraan Pengantar siswa/i SD Negeri
kota Makassar dengan nilai R2 = 0,876 dan
SEE = 412,108 adalah :
Y = -8615,89 + 183,712 X5 + 54,095
X6 538,554 X13
Dimana :
Y = Pergerakan Mobil Pengantar
X5 = Kapasitas Sekolah
X6 = Luas Kelas
X13 = Perbadingan jumlah guru dengan
jumlah kelas
Hasil analisa regresi metode stepwise
Tabel 3. Jumlah Kendaraan Pengantar dan diperoleh hasil matematis yang terpilih
Penjemput Hari 3 (Senin) untuk Trip Generation kendaraan
Pengantar siswa/i SD Negeri kota
Makassar dengan nilai R2 = 0,997 dan
SEE = 48,006 adalah :
Y = -138,466 + 0,808 X1
Dimana :
Y = Pergerakan Mobil Pengantar
X1 = Jumlah Siswa
Adapun juga Hasil analisa regresi
metode enter diperoleh hasil matematis
yang terpilih untuk Trip Generation
kendaraan Penjemput siswa/i SD Negeri
kota Makassar dengan nilai R2 = 0,869 dan
SEE = 418,529 adalah :
Tabel 4. Jumlah Kendaraan Pengantar dan Y = -8400,033 + 178,764 X5 + 53,499
Penjemput Rata-Rata
X6 530,383 X13
Dimana :
Y = Pergerakan Mobil Penjemput
X5 = Kapasitas Sekolah
X6 = Luas Kelas
X13 = Perbadingan jumlah guru dengan
jumlah kelas
Sedangkan hasil analisa regresi
metode stepwise diperoleh hasil matematis
yang terpilih untuk Trip Generation
kendaraan Penjemput siswa/i SD Negeri
kota Makassar dengan nilai R2 = 0,999 dan
SEE = 30,673 adalah :
Y = -85,448 + 0,888 X1 279,352 X8

5
Dimana : Negeri di Kota Makassar yang
Y = Pergerakan Mobil Penjemput berbasis zona kota Makassar secara
X1 = Jumlah Siswa bersamaan dipengaruhi oleh
5
X8 = Perbandingan Jumlah Siswa Dengan Kapasitas Sekolah (X ), Luas Kelas
Luas Sekolah (X6) dan Perbadingan jumlah guru
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI dengan jumlah kelas (X13) namun jika
Model Pergerakan Mobil Pengantar menggunakan metode stepwise, maka
dengan metode Enter yaitu : Y = - Pergerakan Mobil Pengantar pada
8615,89 + 183,712 X5 + 54,095 X6 Sekolah Dasar Negeri di Kota
538,554 X13 dan Model Pergerakan Makassar yang berbasis zona kota
Mobil Pengantar dengan metode Makassar hanya dipengaruhi oleh
Stepwise yaitu Y = -138,466 + 0,808 Jumlah Siswa (X1) sedangkan
X1 Pergerakan Mobil Pengantar pada
Model Pergerakan Mobil Penjemput Sekolah Dasar Negeri di Kota
dengan metode Enter yaitu : Y = - Makassar yang berbasis zona kota
8400,033 + 178,764 X5 + 53,499 X6 Makassar hanya dipengaruhi oleh
530,383 X13 dan Model Pergerakan Jumlah Siswa (X1) dan Perbandingan
Mobil Pengantar dengan metode Jumlah Siswa Dengan Luas Sekolah
Stepwise yaitu Y = -85,448 + 0,888 (X8)
X1 279,352 X8
Pergerakan Mobil Pengantar dan
Mobil Penjemput pada Sekolah Dasar

DAFTAR PUSTAKA
Arafah, M, 2005. Permodelan Bangkitan Santoso, Singgih, 2000. Buku Latihan
dan Tarikan Pergerakan SPSS Statistik Parametrik, PT.
Kabupaten Wajo, Skripsi Elex Media Komputindo,
program studi sistem Jakarta.
transportasi, Program Sarjana,
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Sugiyono, D.R, 2002. Statistika Untuk
Teknik Universitas Penelitian, Penerbit CV
Hasanuddin. Alfabeta, Bandung.

Kontour, Ronny, 2003. Metode


Penelitian untuk Penulisan Sulaiman, Wahid, 2004. Analisis Regresi
Skripsi dan Tesis. Penerbit Menggunakan SPSS, Penerbit
PPM, Jakarta. Andi, Yogyakarta.

Pratisto, Arif, 2004. Cara Mudah Tamin, Ofyar.Z, 1997. Perencanaan dan
Mengatasi Masalah Statistik Permodelan Transportasi,
dan Rancangan Percobaan Penerbit ITB, Bandung.
dengan SPSS 16, PT. Elex
Media Komputindo, Jakarta.

6
7