Anda di halaman 1dari 38

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Pelaksanaan
Pekerjaan Lapis Perkerasan Lentur.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki
makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya
untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Malang, Februari 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

2
PELAKSANAAN PEKERJAAN PERKERASAN LENTUR

Pada umumnya, perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang
tersusun dari bawah ke atas,sebagai berikut :
Lapisan tanah dasar (sub grade)
Lapisan pondasi bawah (subbase course)
Lapisan pondasi atas (base course)
Lapisan permukaan / penutup (surface course)

Terdapat beberapa jenis / tipe perkerasan terdiri :

a. Flexible pavement (perkerasan lentur).


b. Rigid pavement (perkerasan kaku)
c. Composite pavement (gabungan rigid dan flexible pavement).

PERKERASAN LENTUR
Fungsi lapisan perkerasan
Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima beban lalu-lintas dan
menyebarkannya ke lapisan di bawahnya terus ke tanah dasar.
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Lapisan tanah dasar adalah lapisan tanah yang berfungsi sebagai tempat
perletakan lapis perkerasan dan mendukung konstruksi perkerasan jalan diatasnya.
Menurut Spesifikasi, tanah dasar adalah lapisan paling atas dari timbunan badan jalan
setebal 30 cm, yang mempunyai persyaratan tertentu sesuai fungsinya, yaitu yang
berkenaan dengan kepadatan dan daya dukungnya (CBR).
Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik,
atau tanah urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi dan
lain lain.

3
Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :
Lapisan tanah dasar, tanah galian.
Lapisan tanah dasar, tanah urugan.
Lapisan tanah dasar, tanah asli.

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari


sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.
Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut :
Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas.
Sifat mengembang dan menyusutnya tanah akibat perubahan kadar air.
Daya dukung tanah yang tidak merata akibat adanya perbedaan sifat-sifat tanah
pada lokasi yang berdekatan atau akibat kesalahan pelaksanaan misalnya kepadatan
yang kurang baik.

Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)


Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan
tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas.
Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis
pondasi atas.
Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat
lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.

Lapisan pondasi atas (base course)


Lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis
pondasi bawah dan lapis permukaan.
Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan
beban ke lapisan di bawahnya.
Bantalan terhadap lapisan permukaan.

4
Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga
dapat menahan beban-beban roda.
Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal
antara lain, kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut
bahan ke lapangan.
Lapisan Permukaan (Surface Course)
Lapisan permukaan adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban
roda kendaraan.
Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapis aus).
Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan
bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh
lapisan di bawahnya.

Apabila dperlukan, dapat juga dipasang suatu lapis penutup / lapis aus (wearing
course) di atas lapis permukaan tersebut.

Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan untuk
mencegah masuknya air dan untuk memberikankekesatan (skid resistance) permukaan jalan.
Lapis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu lintas.

5
1. PEKERJAAN SUB-GRADE/ TANAH DASAR.

Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan
tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-
bagian perkerasan lainnya.

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat- sifat
dan daya dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah
sebagai berikut:

a. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) dari macam tanah tertentu akibat beban
lalu lintas.

b. Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.

c. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah
dengan macam tanah yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat
pelaksanaan.

A. PEKERJAAN GALIAN
Pekerjaan galian adalah pekerjaan yang dilaksanakan dengan membuat lubang
di tanah membentuk pola tertentu untuk keperluan pondasi bangunan. Galian tanah
yang dibuat harus dilakukan sesuai perencanaan dan mencapai lapisan tanah yang
keras. Jika dibutuhkan, tanah tersebut juga perlu didapatkan agar kondisinya lebih
kokoh serta mampu menahan beban bangunan dengan baik.
Peralatan yang digunakan pada pekerjaan galian :
1. Excavator

6
2. Dump Truck

3. Dozer
4. Compactor/Vibrator
5. Tangki Air
Galian Biasa
Pelaksanaan galian biasa prosedurnya sebagai berikut:
1. Pengukuran dan pemasangan bowplank atau menentukan kedalaman galian.
Pengukuran dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur theodolit dengan
berpedoman hasil rekayasa yang telah ditentukan oleh konsultan dan pihak
proyek. Pemasangan bowplank dilakukan setelah hasil dari pengukuran disetujui
oleh pihak konsultan dan direksi pekerjaan.
2. Penggalian secara manual dilaksanakan setelah pemasangan bowplank. Tanah
yang digali secara manual dikumpulkan di tepi galian dan selanjutnya dimuat ke
dump truk kemudian diangkut keluar lokasi proyek.
3. Penggalian dengan menggunakan alat berat pekerjaan penggalian dilaksanakan
setelah pemasangan bowplank.Tanah yang digali oleh excavator langsung dimuat
ke dump truk kemudian diangkut keluar lokasi proyek

7
Pelaksanaan Galian Menggunakan Alat Berat

Galian Struktur 0 - 2 Meter


Penggalian tanah yang dipotong umumnya berada disisi jalan dilakukan
dengan menggunakan Excavator Selanjutnya Excavator menuangkan material hasil
galian kedalam Dump Truck dan membuang material hasil galian keluar lokasi jalan.

B. PEKERJAAN TIMBUNAN
Timbunan biasa, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk
pencapaian relevasi akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar perencanaan
tanpa maksud khusus lainnya. Timbunan biasa ini juga digunakan untuk pengganti
material existing subgrade yang tidak memenuhi syarat.
Timbunan pilihan, adalah timbunan atau urugan yang digunakan untuk
pencapaian elevasi akhir subgrade yang disyaratkan dalam gambar perencanaan
dengan maksud khusus lainnya, misalnya untuk mengurangi tebal lapisan pondasi
bawah, untuk memperkecil gaya lateral tekanan tanah dibelakang dinding penahan
tanah talud jalan.

Timbunan Pilihan
Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari
bahan tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan di atas level timbunan biasa
dan sebagai tambahan harus memiliki sifat - sifat tertentu yang sesuai dengan yang
ditetapkan.

Pekerjaan Urugan
Pekerjaan urugan pilihan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut:
1. Pengangkutan material pengangkutan material urugan pilihan ke lokasi pekerjaan
menggunakan dump truck dan loadingnya dilakukan dengan menggunakan wheel
loader. Pengecekan dan pencatatan volume material dilakukan pada saat

8
penghamparan agar tidak terjadi kelebihan material di satu tempat dan
kekurangan material di tempat lain.
2. Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan motor grader dalam
tahap penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal berikut: (a) kondisi cuaca; (b)
panjang hamparan, lebar hamparan, dan tebal hamparan; (c) material yang tidak
dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang ditetapkan.
3. Pemadatan dilakukan dengan menggunakan vibro roller, dimulai dari bagian tepi
ke bagian tengah. Pemadatan dilakukan berulang jika dimungkinkan untuk
mendapat hasil yang maksimal dengan dibantu alat water tank untuk membasahi
material timbunan pilihan dan diselingi dengan pemadatan dengan menggunakan
vibro roller. timbunan pilihan dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak
menuju ke arah sumbu jalan dengan sedemikian rupa yang sama. Pekerjaan ini
harus meliputi pemasokan, pengangkuatn, Penghamparan dan pemadatan bahan
untuk pelaksanaan lapis pondasi jalan Tanpa penutup aspal dan suatu lapis
permukaan sementara pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah yang
telah disiapkan.Pemasokan bahan akan mencakup , jika perlu, pemecahan,
pengayakan, pencampuran dan operasi- operasi lainnya yang diperlukan, untuk
memperoleh bahan yang memenuhi ketentuan dari spesifikasi ini.

C. PROSEDUR DAN METODE PELAKSANAAN PERSIAPAN TANAH DASAR


(SUBGRADE PREPARATION)
(1) UraianPekerjaan

Persiapan Tanah Dasar

Tanah dasar (subgrade) merupakan bagian dari pekerjaan yang dipersiapkan


untuk dasar lapis pondasi agregat bawah (sub-base) atau jika tidak terdapat sub-base,
untuk dasardari lapis pondasi atas (base) dari perkerasan. Subgrade harus mencakup

9
sepenuh lebar badan jalan termasuk bahu jalan dan pelebaran setempat atau daerah-
daerah terbatas semacam itu seperti tampak pada gambar atau sesuai dengan instruksi
Konsultan Pengawas.

Untuk tujuan pembayaran tidak ada perbedaan yang dilakukan antara tanah
dasar (subgrade) di daerah galian atau di daerah timbunan. Pekerjaan penyiapan tanah
dasar dilaksanakan bila pekerjaan lapis pondasi agregat atau perkerasan sudah akan
segera dilaksanakan.

(2) Pelaksanaan Pekerjaan

(a) Mal Lengkung dan Mal Datar (Template and Straightedge)


Kontraktor harus menyediakan dan menggunakan straightedge untuk memeriksa
ketepatan pekerjaan dan untuk menjamin kesesuaiannya dengan ketentuan-ketentuan
Spesifikasi.

(b) Persiapan Tempat Pekerjaan

Pekerjaan gorong-gorong, pipa saluran air, dan struktur-struktur minor lainnya


yang berada di bawah posisi tanah dasar, termasuk urugan yang dipadatkan, harus
sudah selesai sebelum pekerjaan penyiapan tanah dasar dimulai. Parit-parit, saluran,
outlet drainase, dan headwall untuk gorong-gorong harus sudah berada dalam kondisi
siap berfungsi agar drainase bekerja efektif dan untuk mencegah kerusakan terhadap
subgrade karena air permukaan. Daerah-daerah subgrade yang tidak tepat/sesuai
dengan elevasi yang ditentukan, karena penurunan atau sebab-sebab lain, atau sudah
rusak sejak selesainya pekerjaan tanah, harus dibongkar, materialnya diganti atau
ditambah, dipadatkan dan diselesaikan sampai kegaris, ketinggian dan penampang
melintang sebagaimana petunjuk Konsultan Pengawas.

(c) Derajat Kepadatan

Seluruh material sampai kedalaman 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus


dipadatkan sekurang-kurangnya 100 % dari kepadatan kering maksimum
sebagaimana ditentukan sesuai dengan AASHTO T 99 pada rentang kadar air - 3%
sampai dengan +1% dari kadar air optimum di laboratorium. Apabila tidak ditentukan
lain dalam gambar, nilai CBR minimum yang diharuskan untuk subgrade pada
pekerjaan perkerasan jalan dalam kontrak ini adalah sebesar 6 %.

10
(d) Tanah Dasar di Daerah Galian

Bila tanah dasar berada pada daerah galian, maka subgrade ini harus dibentuk
sesuai penampang melintang dan memanjang jalan,tetapi dengan ketinggian yang
lebih tinggi dari pada elevasi akhir, setelah memperhitungkan adanya penurunan
elevasi akibat pemadatan. Tanah harus dipadatkan dengan alat pemadat (compactor)
yang telah disetujui, dan sebelum pemadatan kadar airnya harus disesuaikan dengan
cara disiram air melalui truk sprinkler yang telah disetujui. Sebelum suatu
sumbertanah akan digunakan sebagai material subgrade, harus mendapat persetujuan
dari Konsultan Pengawas. Untuk penambahan kadar air atau pengeringan tanah
subgrade harus digaru beberapa kali untuk menghasilkan kadar air yang seragam
(homogen). Bila karakteristik alamiah tanah sedemikian rupa sehingga tidak
memungkinkan tercapainya CBR minimum sebesar 6 % dengan dipadatkan sesuai
ketentuan dalam Spesifikasi. Tanah bongkaran yang memenuhi syarat sebagai tanah
timbunan dapat digunakan sebagai tanah timbunan, sedangkan tanah bongkaran yang
tidak memenuhi syarat sebagai tanah galian biasa maka tanah tersebut harus dibuang.

(e) Tanah Dasar pada Timbunan

Bila tanah dasar akan dibuat pada timbunan, material yang diletakkan lebih
dari satu lapis pada bagian atas timbunan sampai kedalaman 30 cm di bawah elevasi
tanah dasar harus memenuhi ketentuan pemadatan.Ukuran dan jenis alat pemadat
yang diterima oleh Konsultan Pengawas harus digunakan untuk pemadatan dan kadar
air harus disesuaikan sebagaimana mestinya agar diperoleh kepadatan kering
maksimum.

(f) Perlindungan untuk Pekerjaan yang Telah Diselesaikan

Setiap bagian tanah dasar yang telah diselesaikan harus terlindung dari
kemungkinan mengering dan retak, harus diperbaiki tanpa ada pembayaran tambahan.

(g) Lalu Lintas dan Perbaikan

Kontraktor harus bertanggung jawab atas segala akibat dari lalu lintas yang
memasuki lapisan tanah dasar, dan Kontraktor dapat melarang/menutup jalan bila

11
sudah membuat jalan sementara (detour) atau tengah mengerjakan setengah lebar
jalan. Kontraktor harus memperbaiki bekas roda kendaraannya sendiri atau orang lain
dengan membentuk dan memadatkan lagi dengan memakai alat pemadat dengan
ukuran dan tipe yang diperlukan untukperbaikan itu. Kontraktor harus menyusun
penyiapan tanah dasar dan penghamparan lapis pondasiagregat (sub-base) secara
berurutan.

D. PENGUJIAN

Metode Pengujian Subgrade

a. Mal Lengkungdan Mal Datar(Template and Straightedge) Kontraktor harus


menyediakan dan menggunakan straight edge untuk memeriksa ketepatan
pekerjaan dan untuk menjamin kesesuaiannya dengan ketentuan-ketentuan
Spesifikasi.
b. Persiapan Tempat Pekerjaan Pekerjaan gorong-gorong, pipasaluran air, dan
struktur-struktur minor lainnya yang berada di bawah posisi tanah dasar, termasuk
urugan yang dipadatkan, harus sudah selesai sebelum pekerjaan penyiapan tanah
dasar dimulai.Parit-parit, saluran, outlet drainase, dan headwall untuk gorong-
gorong harus sudah berada dalam kondisi siap berfungsi agar drainase bekerj
aefektif dan untuk mencegah kerusakan terhadap subgrade karena air permukaan.
Daerah-daerah subgrade yang tidak tepat/sesuai dengan elevasi yang ditentukan,
karena penurunan atau sebab-sebab lain, atau sudah rusak sejak selesainya
pekerjaan tanah, harus dibongkar, materialnya diganti atau ditambah, dipadatkan
dan diselesaikan sampai kegaris, ketinggian dan penampang melintang
sebagaimana petunjuk Konsultan Pengawas.
c. Derajat Kepadatan
Seluruh material sampai kedalaman 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus
dipadatkan sekurang-kurangnya 100 % dari kepadatan kering maksimum
sebagaimana ditentukan sesuai dengan AASHTO T 99 pada rentang kadar air -
3% sampai dengan +1% dari kadar air optimum di laboratorium. Apabila tidak

12
ditentukan lain dalam Gambar, nilai CBR minimum yang diharuskan untuk
subgrade pada pekerjaan perkerasan jalan dalam kontrak ini adalah sebesar 6 %.
d. Tanah Dasar di Daerah Galian
Bila tanah dasar berada pada daerah galian, maka subgrade ini harus dibentuk
sesuai penampang melintang dan memanjang jalan, tetapi dengan ketinggian yang
lebih tinggi dari pada elevasi akhir, setelah memperhitungkan adanya penurunan
elevasi akibat pemadatan. Tanah harus dipadatkan dengan alat pemadat
(compactor) yang telah disetujui, dan sebelum pemadatan kadar airnya harus
disesuaikan dengan cara disiram air melalui truk sprinkler yang telah disetujui.
Sebelum suatu sumber tanah akan digunakan sebagai material subgrade, harus
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas. Untuk penambahan kadar air
atau pengeringan tanah subgrade harus digaru beberapa kali untuk menghasilkan
kadar air yang seragam (homogen).
Bila karakteristik alamiah tanah sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan
tercapainya CBR minimum sebesar 6 % dengan dipadatkan sesuai ketentuan
dalam Spesifikasi.
Tanah bongkaran yang memenuhi syarat sebagai tanah timbunan dapat digunakan
sebagai tanah timbunan, sedangkan tanah bongkaran yang tidak memenuhi syarat
sebagai tanah galian biasa maka tanah tersebut harus dibuang.
e. Tanah Dasar pada Timbunan
Bila tanah dasar akan dibuat pada timbunan, material yang diletakkan lebih dari
satu lapis pada bagian atas timbunan sampai kedalaman 30 cm di bawah elevasi
tanah dasar harus memenuhi ketentuan pemadatan. Ukuran dan jenis alat pemadat
yang diterima oleh Konsultan Pengawas harus digunakan untuk pemadatan dan
kadar air harus disesuaikan sebagaimana mestinya agar diperoleh kepadatan
kering maksimum.
f. Perlindungan untuk Pekerjaan yang Telah Diselesaikan Setiap bagian tanah dasar
yang telah diselesaikan harus terlindung dari kemungkinan mongering dan retak,
harus diperbaiki tanpa ada pembayaran tambahan.
g. Lalu Lintas dan Perbaikan Kontraktor harus bertanggung jawab atas segala akibat
dari lalu lintas yang memasuki lapisan tanah dasar, dan Kontraktor dapat
melarang/menutup jalan bila sudah membuat jalan sementara (detour) atau tengah
mengerjakan setengah lebar jalan. Kontraktor harus memperbaiki bekas roda
kendaraannya sendiri atau orang lain dengan membentuk dan memadatkan lagi

13
dengan memakai alat pemadat dengan ukuran dan tipe yang diperlukan untuk
perbaikan itu. Kontraktor harus menyusun penyiapan tanah dasar dan
penghamparan lapis pondasi agregat (sub-base) secara berurutan.

2. PEKERJAAN LAPIS PONDASI BAWAH (LPB)


Lapis perkerasan yang terletak antara lapis pondasi atas dan tanah dasar dinamakan
lapis pondasi bawah (sub-base course) yang berfungsi sebagai :
1. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
Lapisan ini harus cukup kuat, mempunyai CBR < 20% dan Plastisitas Indeks (PI) >
10%.
2. Efisiensi penggunaan material. Material pondasi bawah relatif murah dibandingkan
dengan lapisan perkerasan di atasnya.
3. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
4. Lapisan peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
5. Lapisan pertama, agar pekerjaan dapat berjalan lancer. Hal ini sehubungan dengan
kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh
cuaca, atau lemahnya daya dukung tanah dasar menahan roda-roda alat berat.
6. Lapisan untuk mencegah partikel-parikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi
atas. Untuk itu lapisan pondasi bawah haruslah memenuhi syarat filter yaitu :

Jenis lapisan pondasi bawah yang umum digunakan di Indonesia adalah :


a) Agregat bergradasi baik, dibedakan atas sirtu/pitrun yang terbagi dalam kelas A,
kelas B dan kelas C. sirtu kelas A bergradasi lebih kasar dari sirtukelas B, yang
masing-masing dapat dilihat pada spesifikasi yang diberikan.
b) Stabilisasi, yang terdiri dari :
Stabilisasi agregat dengan semen (Cement Trreated Subbase)
Stabilisasi agregat dengan kapur (Lime Treated Subbase)
14
Stabilitas tanah dengan semen (Soil Cement Stabilization)
Stabilisasi tanah dengan kapur (Soil Lime Stabilization)

A. BAHAN-BAHAN YANG DIGUNAKAN


Contoh bahan yang akan digunakan harus disertakan kepada direksi untuk
mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai beserta hasil
test laboratorium.

Bahan yang dipilih dan digunakan untuk pembangunan lapis pondasi bawah
terdiri dari bahan-bahan berbutir dan memenuhi persyaratan.

a. Untuk Klas B Syarat Gradasi :


- Ukuran Saringan 52.5 mm lolos atas berat : 100 %
- Ukuran Saringan 37.5 mm lolos atas berat : 57 - 100 %
- Ukuran Saringan 25 mm lolos atas berat :-
- Ukuran Saringan 19 mm lolos atas berat : 40 - 100 %
- Ukuran Saringan 9.5 mm lolos atas berat : 25 - 80 %
- Ukuran Saringan 4.75 mm lolos atas berat : 16 - 66 %
- Ukuran Saringan 2.36 mm lolos atas berat : 10 - 55 %
- Ukuran Saringan 1.18 mm lolos atas berat : 6 - 45 %
- Ukuran Saringan 0.6 mm lolos atas berat :-
- Ukuran Saringan 0.425 mm lolos atas berat : 3 - 33 %
- Ukuran Saringan 0.075 mm lolos atas berat : 0 - 20 %

b. Untuk Klas C Syarat Gradasi :


- Ukuran Saringan 37.5 mm lolos atas berat : 100 %
- Ukuran Saringan 2.36 mm lolos atas berat : 80 %
- Ukuran Saringan 0.075 mm lolos atas berat : 15 %

Syarat Kualitas :
- batas cair --------------------------------- maksimum 35 %
- indeks plastisitas------------------------- maksimum 4 - 12 %
- bahan halus plastisitas------------------- maksimum 25 %
- CBR (direndam) ------------------------- maksimum 35 %
15
- kekurangan berat karena abrasi-------- maksimum 40 %

B. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM PEKERJAAN LAPIS PONDASI


BAWAH (SUB BASE COURSE) :
Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah
dasar dan di bawah lapis pondasi atas. Alat-alat yang digunakan dalam proses
pekerjaannya yaitu:
1. Dump Truk
2. Motor Grader

Beberapa pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh Grader antara lain adalah:
Perataan tanah (Spreading).
Pekerjaan tahap akhir (finishing) pada pekerjaan tanah.
Pencampuran tanah maupun pencampuran material (Side cast/mixing).
Pembuatan parit (Crowning Ditching)
Pemberaian butiran tanah (scarifying)
Pada umumnya Grader digunakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan
pembangunan dan pemeliharaan jalan, diantaranya :
Grading, Spreading, Ditching
Scarifying
Side Sloping
Dozing
Ripping
3. Vibratory roller

C. METODE PELAKSANAAN
Lapis Pondasi Bawah adalah lapisan konstruksi pembagi beban kedua yang
berupa bahan berbutir diletakkan di atas lapisan tanah dasar yang dibentuk dan
dipadatkan, serta langsung di bawah Lapis Pondasi Atas perkerasan.Pekerjaan Lapis
Pondasi Bawah terdiri dari menempatkan, memproses, mengangkut, menebarkan,
mengairi dan memadatkan bahan Lapis Pondasi Bawah berbutir yang disetujui sesuai
dengan gambar-gambar.
a. Pelaksanaan Pekerjaan

16
Bahan Lapis Pondasi Bawah harus ditempatkan dan ditimbun di tempat yang
bebas dari lalu-lintas serta saluran -saluran dan lintasan air di sekitarnya.
Lapis Pondasi Bawah tersebut dicampur dilapangan ruas jalan yang ber
sangkutan dengan menggunakan tenaga kerja atau motor grader. Pengadukan
yang merata diperlukan dan bahan tersebut harus dipasang dalam lapisan-lapisan
melebihi 20 cm tebalnya atau ketebalan lain seperti diperintahkan oleh Direksi
Teknik agar dapat mencapai tingkat pemadatan yang ditetapkan.
ketebalan Lapis Pondasi Bawah terpasang harus sesuai dengan Gambar Rencana
dan seperti dinyatakan dalam Daftar Penawaran, atau seperti yang diperintahkan
oleh Direksi Teknik di lapangan untuk memenuhi kondisi lapis bawah dasar
yang sebenarnya.
b. Penghamparan Material Agregat Lapis Pondasi
Penghamparan material adalah suatu proses meratakan agregat lapis
pondasi setelah proses angkut menggunakan dump truk dari base camp.
Penghamparan material agregat tidak boleh di lakukan apabila cuaca tidak
mendukung seperti pada waktu hujan karena kadar air terlalu tinggi. Pemadatan
harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam rentang 3 % di
bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum, dimana kadar
air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum
(modified) yang ditentukan olehspesifikasi SNI. Alat untuk menghamparkan
material agregat lapis pondasi menggunakan Motor Grader. Setelah material
sudah rata sesuai elevasi dan ketebalan yang di tentukan proses selanjutnya
yaitu di padatkan menggunakan alat pemadat vibratory roller.

c. Proses Pelaksanaan Pemadatan Material Agregat Lapis Pondasi


Pemadatan adalah suatu peristiwa bertambahnya berat volume kering
oleh beban dinamis, akibat beban dinamis butir-butir agregat seperti krikil dan
pasir merapat satu sama lain yang saling mengunci sebagai akibat berkurangnya
rongga udara. Tujuan pemadatan dapat tercapai dengan pemilihan
bahan agregat, cara pemadatan, pemilihan mesin pemadat, dan jumlah
lintasan atau passing yang sesuai. Pada pekerjaan pemadatan lapis pondasi
agregat di pakai alat pemadat vibratory roller merk Hamm dengan berat 20 ton.
Yang perlu di perhatikan dalam pekerjaan pemadatan yaitu penghamparan yang

17
agak berlubang atau kurang rata perlu di tambahkan agregat material secara
manual agar mendapat hasil yang padat dan merata.
Proses pekerjaan pemadatan di lapangan yang pertama kali setelah
material di hamparkan secara merata yaitu di padatkan dengan compactor
setelah agak merata kemudian di siram air secara merata dengan menggunakan
water tank dengan kapasitas 5000 liter. Setelah air merata di permukaan agregat
yang sudah di padatkan kemudian agregat lapis pondasi di padatkan lagi
dengan vibratory roller sampi merata dan padat. Fungsi penyiraman ini untuk
pemadatan, karena dengan adanya penyiraman air ini rongga-rongga antara
agregat akan terpadatkan dengan sendirinya dan saling mengunci sehingga tidak
ada rongga udara di dalamnya.
Untuk Bagian-bagian yang sempit di sekitar Kerb atau dinding yang tidak
dipadatkan dengan mesin gilas, harus dipadatkan dengan pemadat atau mesin
tumbuk yang disetujui.Kandungan kelembaban untuk pemasangan harus dijaga
dalam batas-batas 3% kurang dari kadar air optimum sampai 1% lebih dari
kadar air o ptimum dengan penyemprotan air atau pengeringan seperlunya, dan
bahan Lapis Pondasi Bawah dipadatkan untuk menghasilkan kepadatan yang
ditetapkan, ke seluruh ketebalan penuh masing-masing lapisan, mencapai 100%
kepadatan kering maksimum yang ditetapkan yang sesuai dengan AASHTO
T99 (PB 0111).

D. PENGUJIAN
a. Uji CBR
CBR adalah perbandingan antara beban penetrasi suatu bahan terhadap bahan
standard dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama cara umum.
Perkerasan jalan harus memenuhi 2 syarat, yaitu :
1) Secara keseluruhan perkerasan jalan harus cukup kuat untuk Memikul berat
kendaraan yang akan memakainya.
2) permukaan jalan harus dapat menahan gaya gesekan dan keausan dari roda-
roda kendaraan, juga terhadap air dan hujan.
Bila perkerasan jalan tidak mempunyai kekuatan secukupnya secara
keseluruhan, maka jalan tersebut akan mengalami penurunan dan pergeseran, baik
pada perkerasan jalan maupun pada tanah dasar. Akibatnya jalan tersebut akan
bergelombang besar dan berlobang-lobang, sampai pada akhirnya rusak sama sekali.

18
Sedangkan kalau perkerasan jalan tidak mempunyai lapisan yang kuat, maka
permukaan jalan mengalami kerusakan yaitu berupa lobang-lobang kecil dan pada
akhirnya akan bertambah banyak dan bertambah besar sampai perkerasan jalan
menjadi rusak secara keseluruhan. Jadi untuk menilai kekuatan dasar atau bahan lain
yang hendak dipakai untuk menentukan tebal lapisan perkerasan
dipergunakan percobaan CBR. Nilai CBR ini digunakan untuk menilai kekuatan yang
juga dipakai sebagai dasar untuk penentuan tebal lapisan dari suatu perkerasan.
Kekuatan tanah dasar tentu banyak tergantung pada kadar airnya. Makin tinggi
kadar airnya, makin kecil kekuatan CBR dari tanah tersebut. Walaupun demikian, hal
itu tidak berarti bahwa sebaiknya tanah dasar di padatkan dengan kadar air rendah
untuk mendapatkan nilai CBR yang tinggi, karena kadar air tidak konstan pada nilai
rendah itu. Setelah pembuatan jalan, maka air akan dapat meresap kedalam tanah
dasar sehingga kekuatan CBR turun sampai kadar air mencapai nilai yang constant.
Kadar air yang constant inilah yang disebut kadar air keseimbangan. Batas-batas
kadar air dan berat isi kering dapat ditentukan dari hasil percobaan laboratorium, yaitu
percobaan pemadatan dan CBR.Gambar 6.6 alat uji CBR menggunakan Field cbr test
set (cbr lapangan).

b. Uji Sand Cone


Sand cone test adalah pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan
menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai sifat
kering,bersih,keras,tidak memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir
bebas. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dari suatu tanah di
lapangan dengan berat isi kering laboratorium. Gambar proses tes kepadatan lapangan
menggunakan alat sand sone. Dari proses uji CBR dan Sand Cone apabila di dapat
data tidak sesuai spesifikasi maka akan di lakukan perbaikan lapis agregat pondasi
atau pemadatan ulang.
Dibawah ini urutan gambar proses pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A dan
agregat kelas B sampai terakhir pengujian CBR dan sand cone.

19
Gambar Lapis Pondasi Agregat Kelas B

Gambar Proses penghamparan material pondasi

Gambar Pekerjaan Pemadatan

20
Gambar Pekerjaan Penyiraman Air dan Pemadatan.

Gambar Hasil Akhir setelah selesai proses pemadatan

Gambar Uji CBR menggunakan alat Field CBR Test

21
Gambar Uji Sand Cone

3. PEKERJAAN LAPIS PONDASI ATAS (LPA)


Lapis perkerasan yang terletak antara lapis permukaan dan lapis pondasi dinamakan
lapis pondasi atas (base course) yang berfungsi sebagai :
1. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan
kelapisan kebawahnya. Lapisan ini harus kuat dan awet, mempunyai CBR >50% dan
Plastisitas Indeks (PI) 4%.
2. Lapisan peresapan untuk apisan pondasi.
3. Bantalan untuk lapisan permukaan.
Jenis lapisan pondasi bawah yang umum digunakan di Indonesia adalah :
a) Agregat bergradasi baik, dibedakan atas sirtu/pitrun yang terbagi dalam kelas A,
kelas B dan kelas C. sirtu kelas A bergradasi lebih kasar dari sirtukelas B, yang
masing-masing dapat dilihat pada spesifikasi yang diberikan.
b) Stabilisasi, yang terdiri dari :
Stabilisasi agregat dengan semen (Cement Trreated Subbase)
Stabilisasi agregat dengan kapur (Lime Treated Subbase)
Stabilitas tanah dengan semen (Soil Cement Stabilization)
Stabilisasi tanah dengan kapur (Soil Lime Stabilization)

A. BAHAN-BAHAN YANG DIGUNAKAN

1. Sumber bahan

22
Bahan lapis pondasi agregat harus dipilih dari sumber yang telah disetujui.

2. Fraksi agregat kasar

Agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel
atau pecahan batu atau kerikil yang keras dan awet.
o Bilamana digunakan untuk lapis pondasi agregat kelas A maka untuk
agregat kasar yang berasal dari kerikil, tidak kurang dari 100 % berat
agregat kasar ini harus mempunyai paling sedikit satu bidang pecah.

3. Fraksi agregat halus

Agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri dari partikel pasir alami
atau batu pecah halus dan partikel halus lainnya.
o Fraksi agregat yang lolos ayakan No.200 tidak boleh lebih besar 2/3 dari
fraksi agregat lolos ayakan No.40.

Sifat-sifat bahan yang disyaratkan

Seluruh lapis pondasi agregat harus bebas dari bahan organik dan gumpalan
lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki.
Gradasi harus memenuhi ketentuan (menggunakan pengayakan secara basah)
yang diberikan dalam Tabel 2.5.4.(1).

Tabel d(1). : Gradasi lapis pondasi agregat

Ukuran saringan Persen berat yang lolos, % lolos


ASTM (mm) Kelas A Kelas B Kelas C
3" 75 100
2" 50 100 75-100
1" 37,5 100 88 100 60-90
1" 25,0 77 100 70 85 45-78

23
3/8" 9,50 44 60 40 65 25-55
No.4 4,75 27 44 25 52 13-45
No.10 2,0 17 30 15 40 8-36
No.40 0,425 7 17 8 20 7-23
No.200 0,075 28 2-8 5-15

Sifat-sifat agregat harus memenuhi persyaratan seperti dalam Tabel 2.5.4.(2).

Tabel d(2). : Sifat-sifat lapis pondasi agregat

Sifat sifat Kelas A Kelas B Kelas C


mak.
Abrasi dari Agregat Kasar (SNI 03-2417-1990) mak. 40% mak. 40%
40%
Indek Plastis (SNI-03-1966-1990 dan
mak. 6 mak. 6 49
SNI-03-1967-1990).
Hasil kali Indek Plastisitas dengan % Lolos Saringan
mak. 25 -- --
No.200
Batas Cair (SNI 03-1967-1990) mak. 25 mak. 25 mak. 35
Gumpalan Lempung dan Butir-Butir Mudah Pecah dalam mak.
0% mak. 1%
Agregat (SNI- 03-4141-1996) 1%
min. 65
CBR (SNI 03-1744-1989) min. 90% min. 35%
%
mak.
Perbandingan persen lolos #200 dan #40 mak. 2/3 mak. 2/3
2/3

B. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN DALAM PEKERJAAN LAPIS PONDASI


ATAS:

24
Peralatan dan mesin-mesin yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan
sebelum pekerjaan dimulai harus layak pakai dan selama pelaksanaan harus dirawat
agar supaya selalu dalam keadaan yang memuaskan. Peralatan processing harus
direncanakan,dipasang,dioperasikan dan dengan kapasitas sedemikian sehingga dapat
mencampur agregat air secara merata sehingga menghasilkan campuran yang
homogen seragam yang diperlukan untuk pemadatan. Bilamana instalasi pencampur
digunakan maka instalasi pencampur tersebut harus dikalibrasi terlebih dahulu untuk
memperoleh aliran yang menerus dari komponen-komponen campuran dengan
proporsi yang benar.
1. Alat Penghampar
Alat penghampar agregat harus menggunakan peralatan mekanis yang
mampu menyebarkan bahan lapis pondasi agregat dengan lebar dan toleransi
permukaan yang diinginkan serta tidak menimbulkan gregasi.

2. Alat Pemadat
Alat pemadat roda besi dengan penggetar, pemadat roda besi tanpa
penggetar atau pemadat roda karet, harus digunakan untuk pemadatan pondasi
agregat yang sudah dalam keadaan kadar air optimum untuk pemadatan Alat
pemadat roda besi dengan penggetar hanya boleh digunakan pada awal
pemadatan.
3. Alat Pengangkut
Dump truk dengan penutup terpal harus pekerjaan Bahan harus digelar
dalam penggilas. Digunakan untuk pengangkutan bahan ke lokasi keadaan air
optimum
4. Perkakas-perkakas lain
Perkakas-perkakasn lain yang termasuk dalam daftar berikut ini harus
disediakand alam jumlah yang cukup dan ditambah dengan perkakaslainnya
yang diperlukan.
. Mistar pengecek kerataan permukaan.
. Alat perata dengan manual.

C. METODE PELAKSANAAN
1. Persiapan Pelaksanaan

25
a) Memobilisasi dan setting peralatan dilapangan yang diperlukan untuk
penghamparan dan pemadatan lapis pondasi aggregate sub base.
b) Pembersihan lokasi permukaan yang akan dihampar aggregate sub base.
Lokasi tersebut harus sudah mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
c) Lokasi pekerjaan merupakan daerah pelebaran yang sebelumnya telah
digali dan dihampari bunan pilihan dan sudah berada pada elevasi sesuai
gambar kerja serta telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
d) Pencampuran untuk aggregat Klas A, dilakukan di base camp dan setelah
disetujui direksi, lalu material tersebut di angkut kelokasi pekerjaan
dengan menggunakan dump truck.
e) Melakukan trial compaction untuk mengetahui jumlah lintasan alat
pemadat yang digunakan dandisetujui oleh Direksi Pekerjaan.

2. Proses Pelaksanaan
a) Pemasangan rambu-rambu pengaman lalu lintas
b) Material pondasi agregat diproduksi di base camp sesuai JMF yang
disetujui diangkut ke lokasi penghamparan dengan menggunakan Dump
Truck.
c) Material dihampar sesuai tebal dan elevasi rencana yang terlihat didalam
shop drawing.
d) Material dihampar dengan menggunakan Motor grader kemudian
dipadatkan dengan menggunakan vibro roller dengan berat alat dan
jumlah lintasan sesuai dengan trial compaction yang telah disetujuioleh
pihak Direksi pekerjaan.
e) Water tanker disediakan untuk menjaga kadar air agar pemadatan
dilakukan pada kadar air optimum.

3. Pengendalian Kualitas
a) Pengujian kepadatan lapisan dengan metode sand cone dilakukan untuk
mengetahui nilaikepadatanlapangan, dimana nilai kepadatan lapangan
harus >100% dari nilai kepadatan hasil pengujiandi lab.
b) Proof rolling test akan dilakukan terlebih dahulu terhadap lapisan agregat
B sebelum pengujian densitytest.

26
E. PENGUJIAN
c. Uji CBR
CBR adalah perbandingan antara beban penetrasi suatu bahan terhadap bahan
standard dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama cara umum.
Perkerasan jalan harus memenuhi 2 syarat, yaitu :
3) Secara keseluruhan perkerasan jalan harus cukup kuat untuk Memikul berat
kendaraan yang akan memakainya.
4) permukaan jalan harus dapat menahan gaya gesekan dan keausan dari roda-
roda kendaraan, juga terhadap air dan hujan.
Bila perkerasan jalan tidak mempunyai kekuatan secukupnya secara
keseluruhan, maka jalan tersebut akan mengalami penurunan dan pergeseran, baik
pada perkerasan jalan maupun pada tanah dasar. Akibatnya jalan tersebut akan
bergelombang besar dan berlobang-lobang, sampai pada akhirnya rusak sama sekali.
Sedangkan kalau perkerasan jalan tidak mempunyai lapisan yang kuat, maka
permukaan jalan mengalami kerusakan yaitu berupa lobang-lobang kecil dan pada
akhirnya akan bertambah banyak dan bertambah besar sampai perkerasan jalan
menjadi rusak secara keseluruhan. Jadi untuk menilai kekuatan dasar atau bahan lain
yang hendak dipakai untuk menentukan tebal lapisan perkerasan
dipergunakan percobaan CBR. Nilai CBR ini digunakan untuk menilai kekuatan yang
juga dipakai sebagai dasar untuk penentuan tebal lapisan dari suatu perkerasan.
Kekuatan tanah dasar tentu banyak tergantung pada kadar airnya. Makin tinggi
kadar airnya, makin kecil kekuatan CBR dari tanah tersebut. Walaupun demikian, hal
itu tidak berarti bahwa sebaiknya tanah dasar di padatkan dengan kadar air rendah
untuk mendapatkan nilai CBR yang tinggi, karena kadar air tidak konstan pada nilai
rendah itu. Setelah pembuatan jalan, maka air akan dapat meresap kedalam tanah
dasar sehingga kekuatan CBR turun sampai kadar air mencapai nilai yang constant.
Kadar air yang constant inilah yang disebut kadar air keseimbangan. Batas-batas
kadar air dan berat isi kering dapat ditentukan dari hasil percobaan laboratorium, yaitu
percobaan pemadatan dan CBR.Gambar 6.6 alat uji CBR menggunakan Field cbr test
set (cbr lapangan).

d. Uji Sand Cone


Sand cone test adalah pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan
menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai sifat

27
kering,bersih,keras,tidak memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir
bebas. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dari suatu tanah di
lapangan dengan berat isi kering laboratorium. Gambar proses tes kepadatan lapangan
menggunakan alat sand sone. Dari proses uji CBR dan Sand Cone apabila di dapat
data tidak sesuai spesifikasi maka akan di lakukan perbaikan lapis agregat pondasi
atau pemadatan ulang.
Dibawah ini urutan gambar proses pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A dan
agregat kelas B sampai terakhir pengujian CBR dan sand cone.

4. PEKERJAAN PERKERASAN (LAPIS PERMUKAAN)

Pekerjaan ini mencakup pengadaan lapis permukaan aspal beton yang tersusun dari
agregat dan material aspal yang dicampur di pusat pencampuran serta menghampar dan
memadatkan campuran tersebut di atas suatu dasar (pondasi) yang telah disiapkan dan
sesuai dengan persyaratan ini yang memenuhi bentuk sesuai dalam Gambar dalam hal
elevasi (ketinggian), penampang memanjang dan melintangnya atau sesuai dengan yang

28
diperintahkan Konsultan Pengawas. Pekerjaan ini juga akan mencakup peningkatan dan
perbaikan perkerasan aspal jalan lama, beserta penyediaan dan penghamparan konstruksi
perkerasan baru untuk membuat perkerasan yang sempurna, sesuai dengan Gambar dan
instruksi Konsultan Pengawas.

A. BAHAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

1. Agregat
Agregat terdiri dari batu pecah berupa agregat kunci dan agregat penutup yang
bersih, keras dengan kualitas seragam dan bebas dari kotoran lempung, bahan-
bahan tumbuh-tumbuhan atau bahan lainnya yang harus dibuang.
Batas perbedaan agregat
Agregat kasar berupa lapisan utama yang berada dalam batas-batas agregat
ukuran nominal 2,5 cm 6,25 cm yang tergantung kepada ketebalan lapisan
dengan ukuran lebih /3 cm tebal rencana.
Agregat kunci untuk lapisan utama harus lolos saringan 25 mm tetap tidak boleh
lebih dari 5% akan lolos dari saringan 9,5 mm.

2. Gradasi agregat
% Berat Yang Lolos
Ukuran Ayakan
Tebal Lapisan (cm)
ASTM (mm) 7-10 5-8 4-5
Agegat Pokok :
3 75 100
2 63 90 100 100
2 50 35 70 95 100 100
1 38 0 15 35 70 95 100
1 25 05 0 15 -
19 - 05 05

Agregat Pengunci :
1 25 100 100 05
19 95 100 95 100 95 100
3/8 9,5 05 05 100

29
3. Bahan Pengikat (Aspal)
Aspal semen Pen.80/100 atau Pen.60/70 yang memenuhi AASHTO M20.
Aspal emulsi CRS1 atau CRS2 yang memenuhi ketentuan Pd S-01-1995-03
(AASHTO M208) atau RS1 atau RS2 yang memenuhi ketentuan AASHTO M140.
Aspal cair penguapan cepat (rapid curing) jenis RC250 atau RC800 yang memenuhi
ketentuan Pd S-03-1995-03, atau aspal cair penguapan sedang (medium curing) jenis
MC250 atau MC800 yang memenuhi ketentuan Pd S-02-1995-03.

4. Syarat-Syarat Kualitas Agregat


Agregat yang digunakan untuk lapis permukaan penetrasi macadam adalah sebagai
berikut.
URAIAN BATANG BESI
1. Kehilangan berat karena abrasi 500 Maksimum 40%
2. Indeks serpihan (brithish standart) Maksimum 25%
3. Penahanan aspal setelah pelapisan dan Minimum 95%
Pengelupasan

B. PERALATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PEKERJAAN LAPIS


PERKERASAN
Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a) Distributor Aspal
Distributor Aspal ini harus mempunyai tenaga penggerak sendiri; memakai
ban angin yang lebar dan jumlahnya memungkinkan beban pada permukaan jalan
tidak melebihi 100 kg per sentimeter lebar ban.Alat ini harus mampu menghamparkan
material bitumen secara merata, bahkan dalam keadaan panas pada berbagai lebar
jalan sampai 5 meter; dapat mengontrol kecepatan sehingga hamparan yang terjadi

30
terkendali antara 0,2 sampai dengan 9,0 liter per meter persegi dengan tekanan
merata, dan toleransi tidak lebih dari 0,1 liter per meter persegi.
Distributor Aspal harus mempunyai peralatan untuk mengukur kecepatan
secara tepat pada kecepatan rendah, kecepatan aliran aspal melalui pipa penyemprot,
suhu dalam tank dan tekanannya.Alat-alat ini harus ditempatkan sedemikian rupa
sehingga operator dapatdengan mudah membacanya ketika distributor dioperasikan.
Distributor Aspal harus dilengkapi dengan Generator tersendiri untuk pompa,
batang penyemprot yang bisa diatur posisi vertikal dan mendatar.Batang penyemprot
harus dikontrol oleh pekerja yang duduk di bagian belakang distributor, sehingga
operasi penyemprotan sepenuhnya berada dalam pengawasannya.Distributor ini harus
dilengkapi penyemprot tangan, yang hanya digunakan pada daerah yang tak
terjangkau batang penyemprot.

b) Pemanas Aspal
Jenis alat ini harus tipe oil jacket atau tipe lain yang memakai pengaduk
otomatis untuk mencegah overheating lokal pada material. Alat ini juga harus
dilengkapi dengan termometer.

c) Instalasi Pencampur Aspal (Asphalt Mixing Plant)


Instalasi Pencampur Aspal harus :
Mempunyai sertifikat laik operasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan
sertifikat kalibrasi dari Direktorat Metrologi Kementerian Perdagangan untuk
timbangan aspal, agregat dan bahan pengisi (filler) tambahan, yang masih berlaku.
Jika menurut pendapat Konsultan Pengawas, Instalasi Pencampur Aspal atau
timbangannya dalam kondisi tidak baik maka Instalasi Pencampur Aspal atau
timbangan tersebut harus dikalibrasi ulang meskipun sertifikatnya masih berlaku.
Pusat pencampuran dengan sistem penakaran (batching) dan mampu memasok
mesin penghampar secara terus menerus bilamana menghampar campuran pada
kecepatan normal dan ketebalan yang dikehendaki;
Dirancang dan dioperasikan sedemikian hingga dapat menghasilkan campuran
dalam rentang toleransi dari JMF (Job Mix Formula);

31
Untuk instalasi baru harus dipasang di lokasi yang jauh dari pemukiman dan
disetujui oleh Konsultan Pengawas sehingga tidak mengganggu ataupun mengundang
protes dari penduduk di sekitarnya;
Dilengkapi dengan alat pengumpul debu (dust collector) yang lengkap yaitu
sistem pusaran kering (dry cyclone) dan pusaran basah (wet cyclone) atau kantung
penampungan (bag house) sehingga tidak menimbulkan pencemaran debu. Bilamana
salah satu sistem di atas rusak atau tidak berfungsi maka AMP tersebut tidak boleh
dioperasikan;
Mempunyai pengaduk (pug mill) dengan kapasitas minimum 800 kg
(sebagaimana asli dari pabrik) dan dilengkapi dengan sistem penimbangan secara
komputerisasi.
Jika digunakan untuk pembuatan campuran aspal yang dimodifikasi harus
dilengkapi dengan pengendali temperatur termostatik otomatis yang mampu
mempertahankan temperatur campuran sebesar 175oC.Jika digunakan bahan bakar
gas maka pemanas (dryer) harus dilengkapi dengan alat pengendali temperatur
(regulator) untuk mempertahankan panas dengan konstan.
Jika digunakan untuk pembuatan AC-Base, mempunyai pemasok dingin (cold
bin) yang jumlahnya tidak kurang dari lima buah dan untuk jenis campuran beraspal
lainnya minimal tersedia 4 pemasok dingin..
Bahan bakar yang digunakan untuk memanaskan agregat dan aspalharuslah
minyak atau gas. Agregat yang diambil dari pemasok panas (hot bin) atau pengering
(dryer) tidak boleh mengandung jelaga dan atau sisa minyak yang tidak habis
terbakar.

d) Tangki Penyimpan Bitumen


Tangki penyimpan bahan aspal harus dilengkapi dengan pemanas yang dapat
dikendalikan dengan efektif dan handal sampai suatu temperature dalam rentang yang
disyaratkan. Pemanasan harus dilakukan melalui kumparan uap (steam coils), listrik,
atau cara lainnya sehingga api tidak langsung memanasi tangki pemanas. Setiap
tangki harus dilengkapi dengan sebuah termometer yang terletak sedemikian hingga
temperatur tangki dapat dengan mudah dilihat.Sebuah keran harus dipasang pada pipa
keluar dari setiap tangki untuk pengambilan benda uji.
Sistem sirkulasi untuk bahan aspal harus mempunyai ukuran yang sesuai agar
dapat memastikan sirkulasi yang lancar dan terus menerus selama periode

32
pengoperasian.Perlengkapan yang sesuai harus disediakan, baik dengan selimut uap
(steam jacket) atau perlengkapan isolasi lainnya, untuk mempertahankan temperatur
yang disyaratkan dari seluruh bahan pengikat aspal dalam sistem sirkulasi.
Daya tampung tangki paling sedikit untuk memenuhi kuantitas dua hari
produksi. Jumlah tangki yang disediakan paling sedikit dua buah tangki dengan
kapasitas yang sama.
Tangki-tangki tersebut harus dihubungkan ke sistem sirkulasi sedemikian rupa
agar masing-masing tangki dapat diisolasi secara terpisah tanpa mengganggu sirkulasi
aspal ke alat pencampur.

e) Ayakan Penampung Panas (Hot Bin Screen)


Ukuran ayakan hot bin harus disediakan sesuai dengan yang cocok untuk jenis
campuran aspal yang diperlukan untuk pekerjaan.

f) Pengendali Waktu Pencampuran

Instalasi harus dilengkapi dengan perlengkapan yang handal untuk


mengendalikan waktu pencampuran dan menjaga waktu pencampuran tetap konstan
kecuali kalau diubah atas perintah Konsultan Pengawas.

g) Jembatan Timbang dan Rumah Timbang


Jembatan Timbang harus disediakan untuk menimbang agregat, aspal dan
bahan pengisi yang ditambahkan.Rumah timbang harus disediakan untuk menimbang
truk bermuatan yang siap dikirim ke tempat penghamparan. Timbangan tersebut harus
memenuhi ketentuan seperti yang dijelaskan diatas.

h) Penyimpanan dan Pemasukan Bahan Pengisi


Silo atau tempat penyimpanan harus disediakan yang tahan cuaca untuk
menyimpan dan memasok bahan pengisi dengan sistem penakaran berat.

C. METODE PELAKSANAAN

1. Persiapan Lapangan
Penetrasi macadam akan dipasang diatas pondasi yang telah dibangun diatas
permukaan dengan lapis penutup yang akan meliputi:

33
Diletakkan diatas permukaan lapis penutup yang ada permukaan tersebut harus
dilapisi aspal pelekat pada suatu tingkat pemakaian tidak melebihi 0,51/m2.
Permukaan perkerasan harus kering dan bebas dari batu-batu lepas atau suatu
bahan lain yang harus dibuang.
Sebelum pemasangan agregat kasar dan agregat kunci harus ditumpuk secara
terpisah dilapangan untuk mencegah pencampuran dan harus selalu bersih.
Penghamparan dan Pemadatan
2. Metode mekanis
Penghamparan dan pemadatan agregat pokok
Truk penebar agregat harus dijalankan dengan kecepatan sedemikiansehingga
kuantitas agregatadalah seperti yang disyaratkan dan diperoleh permukaan
yang rata.
Pemadatan awal harus menggunakan alat pemadat6-8 ton yang bergerak
dengan kecepatan kurang dari 3 km/jam. Pemadatan dilakukan dalam arah
memanjang, dimulai dari tepi luar hamparan dan dijalankan menuju ke sumbu
jalan. Lintasan penggilasan harus tumpang tindih(overlap) paling sedikit
setengah lebar alat pemadat. Pemadatan harus dilakukan sampai memperoleh
permukaan yang rata dan stabil (minimum 6 lintasan).
Penyemprotan Aspal
Temperatur aspal dalam distributor harus dijaga pada temperature yang
disyaratkan untuk jenis aspal yang disyaratkan.
Temperatur Penyemprotan Aspal
Jenis Aspal Temperatur Penyemprotan (oC)
60/70 Pen 165-175
80/100 Pen 155-165
Kamar, atau sebagaimana petunjuk
Emulsi
pabrik
Aspal cair
80-90
RC/MC 250
Aspal cair
105-115
RC/MC 800

34
Penebaran dan pemadatan agregat pengunci
Segera setelah penyemprotan aspal, agregat pengunci harus ditebarkan pada
takaran yang disyaratkan dan dengan cara yang sedemikian hingga tidak ada
roda yang melintasi lokasi yang belum tertutup bahan aspal. Takaran
penebaran harus sedemikian hingga, setelah pemadatan, rongga-rongga
permukaan dalam agregat pokok terisi dan agregatpokok masih nampak.
Pemadatan agregat pengunci harus dimulai segera setelah penebaran agregat
pengunci. Dengan cara yang sama seperti yang telah diuraikan diatas. Jika
diperlukan, tambahan agregat pengunci harus ditambahkan dalam jumlah kecil
dan disapu perlahan-lahan diatas permukaan selama pemadatan. Pemadatan
harus dilanjutkan sampai agregat pengunci tertanam dan terkunci penuh dalam
lapisan dibawahnya.

3. Metode Manual
Penghamparan dan pemadatan agregat pokok
Jumlah agregat yang ditebar d atas permukaan yang telah disiapkan harus
sebagaimana yang disyaratkan. Kerataan permukaan dapat diperoleh dengan
ketrampilan penebaran dan menggunakan perkakas tanganseperti penggaru.
Pemadatan dilaksanakan seperti pada metode mekanis.
Penyemprotan aspal dapat dikerjakan dengan menggunakan penyemprot
tangan (hand sprayer) dengan temperatu aspal seperti yang disebutkan diatas.
Takaran penggunaan aspal harus serata mungkin pada takaran yang
direncanakan.
Penebaran dan pemadatan agregat pengunci dilaksanakan dengan cara yang
sama dengan agregat pokok.

D. Kontrol Kualitas dan Pengujian Di Lapangan


1. Penyimpanan tiap fraksi agregat harus terpisah untuk menghindari
tercampurnya agregat, dan harus dijaga kebersihannya dari benda asing.
2. Penyimpanan aspal dalam drum harus dengan cara tertentu agar tidak terjadi
kebocoran atau kemasukan air.
3. Suhu pemanasan aspal harus sesuai dengan yang ditunjukkan pada tabel.

35
Jenis Aspal Temperatur Penyemprotan (oC)
60/70 Pen 165-175
80/100 Pen 155-165
Kamar, atau sebagaimana petunjuk
Emulsi
pabrik
Aspal cair
80-90
RC/MC 250
Aspal cair
105-115
RC/MC 800

Dalam pelaksanaan pekerjaan perkerasan aspal akan dilakukan pengujian pada tahap-
tahap sebagai berikut :
A. Design Mix Formula
Usulan rancangan campuran rencana (DMF) untuk campuran yang akan
digunakan dalam pekerjaan. Untuk mendapatkan rumusan campuran rencana
dilakukan pengujian Marshall (Marshall Test).

B. Job Mix Formula


Percobaan campuran di AMP dan penghamparan percobaan yang memenuhi
ketentuan akan menjadikan rancangan campuran rencana (DMF) dapat disetujui
sebagai rancangan campuran kerja (JMF). Untuk mendapatkan rancangan campuran
kerja dilakuka uji coba penghamparan. Contoh campuran dari hasil uji coba
penghamparan akan dilakukan uji marshall dan pemadataan membal (refusal
density).

C. Pengendalian Mutu dan Pemeriksaan di Lapangan


a. Pengujian permukaan perkerasan
Dengan mistar
b. Ketentuan kepadatan

36
Kepadatan semua jenis campuran beraspal yang telah dipadatkan, seperti
ditentukan pada SNI 03-6757-2002, tidak boleh kurang dari 98% Kepadatan Standar
Kerja.
c. Pengujiann pengendalian mutu campuran beraspal
- Analisa ayak
- Temperatur campuran di instalasi pencampur (AMP) dan di lokasi penghamparan
- Kepadatan Marshall
- Kepadatan hasil lapangan
- Stabilitas kelelehan, Marshall Quetient
- Kadar bitumen aspal
- Rongga dalam campuran
- Kadar bahan anti pengelupasan

DAFTAR PUSTAKA

Aulia.R, Arini. 2013. Prosedur PelaksanaanPekerjaan Jalan Baru Lapis Sub Grade,
(Online) dalam (https://materialproyeku.blogspot.co.id/2016/06/prosedur-dan-metode-
pelaksanaan-subgrade.html diakses tanggal 22 Februari 2017)

Arta, Goen. 2015. Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A dan Agregat Kelas
B (Online) dalam (https://sipiluty11.blogspot.co.id/2015/04/pelaksanaan-pekerjaan-lapis-
pondasi.html diakses tanggal 22 Februari 2017)

Sarkol, Theresia. 2016. Metode Pelaksanaan Lapis Pondasi Atas (Base Couse), (Online)
dalam (https://theresiasarkol.wordpress.com/2016/metode-pelaksanaan-lapis-pondasi-atas.pdf
diakses tanggal 22 Februari 2017)

Agusti, Repi. 2009. Panduan Pelaksanaan Pekerjaan untuk Pengawasan Lapangan Proyek
(Lapisan Pondasi Bawah), (Online) dalam (https://adenkasev.blogspot.co.id/2009/09/iv.html
diakses tanggal 22 Februari 2017)

Agusti, Repi. 2009. Panduan Pelaksanaan Pekerjaan untuk Pengawasan Lapangan Proyek
(Lapisan Pondasi Atas), (Online) dalam

37
(https://adenkasev.blogspot.co.id/2009/09/konstruksi-badan-jalan-1.html diakses tanggal 22
Februari 2017)

Supriadi, Nanang. 2013. Perkerasan Lentur, (Online) dalam (https://nanang-


supriyadi.blogspot.co.id/2013/09/perkerasan-lentur.html diakses tanggal 22 Februari 2017)

Aulia. R, Arin. 2016. Prosedur dan Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perkerasan Aspal
(Online) dalam (https://materialproyeku.blogspot.co.id/2016/06/prosedur-dan-metode-
pelaksanaan-penghamparan-aspal.html diakses tanggal 22 Februari 2017)

Yacob, Muhammad. 2013. Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perkerasan Jalan Raya (Online)
dalam
(https://www.academia.edu/19885532/Metode_Pelaksanaan_Pekerjaan_Perkerasan_Jalan_Ra
ya diakses tanggal 22 Februari 2017)

38