Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

REUMATOID ATRITIS

DI SUSUN OLEH :

ROSITA INDRA
023 SYE 14

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG D.III
MATARAM
2016
LAPORAN PENDAHULUAN
REUMATHOID ATRITIS

A. KONSEP TEORI
1. Pengertian
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang
bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta
jaringan ikat sendi secara simetris (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu
Bedah Orthopedi, hal. 165).
Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang
menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 :
1248).
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik
kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan
tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh (Hidayat, 2006).
rematik adalah penyakit sendi degeneratif dimana terjadi kerusakan
tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan
usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang
menanggung beban.

2. Etiologi
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada
beberapa teori yang di kemukakan mengenai penyebab rheumathoid
atritis , yaitu :
a. Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non- hemolitikus
b. Metabolic
c. Endokrin
d. Heat shock protein
Merupakan protein yang di produksi sebagai respon terhadap setres,
protein ini mengandung ( sequence) asam amino homolog. Diduga
terjadi kemiripan molekul dimana antibody dan sel T mengenali
epitop HSP pada agen infeksi dan sel host sehingga bias
menyebabkan terjadinya reaksi silang limfosit dengan sel host
sehingga mencetuskan reaksi imunologis ( suarjana, 2009 )
e. Autoimun
Pada saat ini reumathoid atritis disebabkan oleh factor autoimu an
infeksi, autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II, factor injeksi
mungkin disebabkan oleh virus dan organisme mikroplasma atau
group diferioid yang menghasilkan antigen olagen tipe II dari tulang
rawan sendi penderita.
f. Genetik serta pemicu lingkungan
Factor genetic serta beberapa factor lingkungan telah lama diduga
berperan dalam timbulnya penyakit.

3. Jenis reumathoid atritis


Menurut Adelia, (2011) ada beberapa jenis reumatik yaitu:
a. Reumatik Sendi (Artikuler)
Reumatik yang menyerang sendi dikenal dengan nama reumatik
sendi (reumatik artikuler). Penyakit ini ada beberapa macam yang
paling sering ditemukan yaitu:
1) Artritis Reumatoid
Atriris reumathoid merupakan penyakit autoimun dengan proses
peradangan menahun yang tersebar diseluruh tubuh, mencakup
keterlibatan sendi dan berbagai organ di luar persendian.
Peradangan kronis dipersendian menyebabkan kerusakan struktur
sendi yang terkena. Peradangan sendi biasanya mengenai
beberapa persendian sekaligus. Peradangan terjadi akibat proses
sinovitis (radang selaput sendi) serta pembentukan pannus yang
mengakibatkan kerusakan pada rawan sendi dan tulang di
sekitarnya, terutama di persendian tangan dan kaki yang sifatnya
simetris (terjadi pada kedua sisi). Peradangan kronis membran
sinovial mengalami pembesaran (Hipertrofi) dan menebal
sehingga terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan
kematian (nekrosis) sel dan respon peradanganpun berlanjut.
Sinovial yang menebal kemudian dilapisi oleh jaringan granular
yang disebut panus. Panus dapat menyebar keseluruh sendi
sehingga semakin merangsang peradangan dan pembentukan
jaringan parut. Proses ini secara perlahan akan merusak sendi dan
menimbulkan nyeri hebat serta deformitas (kelainan bentuk).
2) Osteoatritis
Osteoatritis adalah sekelompok penyakit yang tumpang tindih
dengan penyebab yang belum diketahui, namun mengakibatkan
kelainan biologis, morfologis, dan keluaran klinis yang sama.
Proses penyakitnya berawal dari masalah rawan sendi (kartilago),
dan akhirnya mengenai seluruh persendian termasuk tulang
subkondrial, ligamentum, kapsul dan jaringan sinovial, serta
jaringan ikat sekitar persendian (periartikular). Pada stadium
lanjut, rawan sendi mengalami kerusakan yang ditandai dengan
adanya fibrilasi, fisur, dan ulserasi yang dalam pada permukaan
sendi. Etiologi penyakit ini tidak diketahui dengan pasti. Ada
beberapa faktor risiko yang diketahui berhubungan dengan
penyakit ini, yaitu : Usia lebih dari 40 tahun, Jenis kelamin wanita
lebih sering, Suku bangsa, genetik, kegemukan dan penyakit
metabolik, cedera sendi, kurang olah raga, kelainan pertumbuhan,
kepadatan tulang, dan lain-lain.
3) Atritis Gout
Atritis gout penyakit ini berhubungan dengan tingginya asam urat
darah (hiperurisemia) . Reumatik gout merupakan jenis penyakit
yang pengobatannya mudah dan efektif. Namun bila diabaikan,
gout juga dapat menyebabkan kerusakan sendi. Penyakit ini
timbul akibat kristal monosodium urat di persendian meningkat.
Timbunan kristal ini menimbulkan peradangan jaringan yang
memicu timbulnya reumatik gout akut. Pada penyakit gout
primer, 99% penyebabnya belum diketahui (idiopatik). Diduga
berkaitan dengan kombinasi faktor genetic dan faktor hormonal
yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat
mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga
diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam urat dari
tubuh. Penyakit gout sekunder disebabkan antara lain karena
meningkatnya produksi asam urat karena nutrisi, yaitu
mengkonsumsi makanan dengan kadar purin yang tinggi. Purin
adalah salah satu senyawa basa organic yang menyusun asam
nukleat (asam inti dari sel) dan termasuk dalam kelompok asam
amino, unsur pembentuk protein. Produksi asam urat meningkat
juga bisa karena penyakit darah (penyakit sumsum tulang,
polisitemia), obat-obatan (alkohol, obatobat kanker, vitamin
B12). Penyebab lainnya adalah obesitas (kegemukan), penyakit
kulit (psoriasis), kadar trigliserida yang tinggi. Pada penderita
diabetes yang tidak terkontrol dengan baik biasanya terdapat
kadar benda-benda keton (hasil buangan metabolisme lemak)
yang meninggi. Benda-benda keton yang meninggi akan
menyebabkan asam urat juga ikut meninggi.
b. Reumatik Jaringan Lunak (Non-Artikuler)
Penyakit ini merupakan golongan penyakit reumatik yang
mengenai jaringan lunak di luar sendi (soft tissue
rheumatism) sehingga disebut juga reumatik luar sendi (ekstra
artikuler rheumatism).
Jenis jenis reumatik yang sering ditemukan yaitu:
1) Fibrosis
Fibrosis merupakan peradangan di jaringan ikat terutama di
batang tubuh dan anggota gerak. Fibrosis lebih sering ditemukan
di perempuan usia lanjut, penyebabnya adalah faktor kejiwaan.
2) Tendonitis dan tenosivitis
Tendonitis adalah peradangan pada tendon yang menimbulkan
nyeri lokal di tempat perlekatannya. Tenosivitis adalah
peradangan pada sarung pembungkus tendon
3) Entesopati
Entesopati adalah tempat di mana tendon dan ligamen melekat
pada tulang. Entesis ini dapat mengalami peradangan yang
disebut entesopati. Kejadian ini bisa timbul akibat menggunakan
lengannya secara berlebihan, degenerasi, atau radang sendi.
4) Bursitis
bursitis adalah peradangan bursa yang terjadi di tempat perlekatan
tendon atau otot ke tulang. Peradangan bursa juga bisa
disebabkan oleh reumatik gout dan pseudogout.
5) Back Pain
back pain Penyebabnya belum diketahui, tetapi berhubungan
dengan proses degenerarif diskus intervertebralis, bertambahnya
usia dan pekerjaan fisik yang berat, atau sikap postur tubuh yang
salah sewaktu berjalan, berdiri maupun duduk. Penyebab lainnya
bisa akibat proses peradangan sendi, tumor, kelainan metabolik
dan fraktur.
6) Nyeri pinggang
nyeri pinggangKelainan ini merupakan keluhan umum karena
semua orang pernah mengalaminya. Nyeri terdapat kedaerah
pinggang kebawah (lumbosakral dan sakroiliaka) Yang dapat
menjalar ke tungkai dan kaki.

4. Manifestasi kilnis
a. Nyeri sendi Keluhan ini merupakan keluhan utama. Nyeri biasanya
bertambah dengan gerakan dan sedikit berkurang dengan istirahat.
Beberapa gerakan tertentu kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri
yang lebih dibandingkan gerakan yang lain
b. Hambatan gerakan sendi Gangguan ini biasanya semakin bertambah
berat dengan pelan-pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri.
c. Kaku pagi Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah
immobilisasi, seperti duduk dari kursi, atau setelah bangun dari tidur.
d. Krepitasi Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada
sendi yang sakit.
e. Pembesaran sendi (deformitas) Pasien mungkin menunjukkan bahwa
salah satu sendinya (lutut atau tangan yang paling sering) secara
perlahan-lahan membesar.
f. Perubahan gaya berjalan.
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau
panggul berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan
gangguan fungsi sendi yang lain merupakan ancaman yang besar
untuk kemandirian pasien yang umumnya tua (lansia).

5. Patofisologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus,
atau penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub
chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan
gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi
nekrosis.Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat
ketidakmampuan sendi. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka
terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau
tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan
tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau
dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa
menyebkan osteoporosis setempat. Lamanya arthritis rhematoid berbeda
dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya
serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan
selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain. terutama yang mempunyai
faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan
menjadi kronis yang progresif.
6. Pathway

7. Pemeriksaan penunjang
a. Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada
jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan
( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista tulang,
memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang
terjadi secara bersamaan.
b. Scan radionuklida :mengidentifikasi peradangan sinovium
c. Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan
irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
d. Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih
besar dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning (respon
inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan
lekosit, penurunan viskositas dan komplemen (C3 dan C4).
e. Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan
perkembangan panas.
f. Pemeriksaan cairan sendi melalui biopsi, FNA (Fine Needle Aspiration)
atau atroskopi; cairan sendi terlihat keruh karena mengandung banyak
leukosit dan kurang kental dibanding cairan sendi yang normal.
g. Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis
yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki
serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan
nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen

8. Komplikasi
a. Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya
prosesgranulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule.
b. Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot.
c. Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli.
Tromboemboli adalah adanya sumbatan pada pembuluh darah yang
disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
d. Terjadi splenomegali. Slenomegali merupakan pembesaran limfa,jika
limfa membesar kemampuannya untuk menyebabkan berkurangnya
jumlah sel darah putih dan trombosit dalam sirkulasi menangkap dan
menyimpan sel-sel darah akan meningkat.

9. Penatalaksanaan
a. Istirahatkan sendi yang sakit, dihindari aktivitas yang berlebihan pada
sendi yang sakit
b. Mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri
c. Lingkungan yang aman untuk melindungi dari cedera
d. Fisioterapi dengan pemakaian panas dan dingin, serta program latihan
yang tepat
e. Diet untuk menurunkan berat badan dapat mengurangi timbulnya
keluhan
f. Kompres dengan es saat kaki bengkak dan kompres air hangat saat
nyeri
g. Hindari makanan yang mengandung purin karena dapat menyebabkan
penimbunan asam urat di persendian

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Biodata
Nama, umur, jenis kelamin, status, alamat, pekerjaan,
penanggung jawab.Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa
keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya (misalnya mata,
jantung, paru-paru, ginjal), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau
remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
b. Riwayat Kesehatan
Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada
tungkai. Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu
sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada
sendi.
c. Riwayat Psiko Sosial
Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan
yang cukup tinggi apalagi pada pasien yang mengalami deformitas
pada sendi-sendi karena ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan
pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah.
Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien
khususnya aspek body image dan harga diri klien.
d. Pemeriksaan fsik
Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
a) Aktivitas/istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk
dengan stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya
terjadi bilateral dan simetris. Limitasi fungsional yang
berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan,
keletihan. Tanda : Malaise Keterbatasan rentang gerak; atrofi
otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada sendi.
b) Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki (mis: pucat
intermitten, sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum
warna kembali normal).
c) Integritas ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan. Keputusan dan
ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan) Ancaman pada
konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi (misalnya
ketergantungan pada orang lain).
d) Makanan/ cairan
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi
makanan/ cairan adekuat seperti mual, anoreksia Kesulitan untuk
mengunyah
e) Hygiene
Gejala, Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas
perawatan pribadi. Ketergantungan
f) Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi
pada jari tangan.
Gejala : Pembengkakan sendi simetris
g) Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh
pembengkakan jaringan lunak pada sendi).
h) Keamana
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus
kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/
pemeliharaan rumah tangga.Demam ringan menetap Kekeringan
pada mata dan membran mukosa.
i) Interaksi social
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain;
perubahan peran; isolasi.

2. Diagnose keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi
jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas
skeletal. Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan
kekuatan otot.
c. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan
dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas
umum, peningkatan penggunaan ener
d. Gigi, ketidakseimbangan mobilitas
e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan
muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu
bergerak, depresi.
f. Difisit pengetahuan b.d kurangnya informasi

3. Intervensi keperawatan
a. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan : agen pencedera; distensi
jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol
2) Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam
aktivitas sesuai kemampuan.
3) Mengikuti program farmakologis yang diresepkan,
4) Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke
dalam program kontrol nyeri
Intervensi Rasional
1. Kaji nyeri, catat lokasi 1. Membantu dalam menentukan
dan intensitas (skala 0- kebutuhan manajemen nyeri dan
10). Catat faktor-faktor keefektifan program
yangmempercepat dan
tanda-tanda rasa sakit
non verbal
2. Berikan matras/ kasur 2. Matras yang lembut/ empuk,
keras, bantal kecil,. bantal yang besar akan mencegah
Tinggikan linen tempat pemeliharaan kesejajaran tubuh
tidur sesuai kebutuhan yang tepat, menempatkan stress
pada sendi yang sakit. Peninggian
linen tempat tidur menurunkan
tekanan pada sendi yang
terinflamasi/nyeri
3. Tempatkan/ pantau 3. Mengistirahatkan sendi-sendi
penggunaan bantal, yang sakit dan mempertahankan
karung pasir, gulungan posisi netral. Penggunaan brace
trokhanter, bebat, brace. dapat menurunkan nyeri dan
dapat mengurangi kerusakan pada
sendi
4. Dorong untuk sering 4. Mencegah terjadinya kelelahan
mengubah posisi,. Bantu umum dan kekakuan sendi.
untuk bergerak di tempat Menstabilkan sendi, mengurangi
tidur, sokong sendi yang gerakan/ rasa sakit pada sendi
sakit di atas dan bawah,
hindari gerakan yang
menyentak
5. Anjurkan pasien untuk 5. Panas meningkatkan relaksasi
mandi air hangat atau otot, dan mobilitas, menurunkan
mandi pancuran pada rasa sakit dan melepaskan
waktu bangun dan/atau kekakuan di pagi hari.
pada waktu tidur. Sensitivitas pada panas dapat
Sediakan waslap hangat dihilangkan dan luka dermal
untuk mengompres dapat disembuhkan
sendi-sendi yang sakit
beberapa kali sehari.
suhu air kompres, air
mandi, dan sebagainya.

b. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: Deformitas skeletal


Nyeri, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan
otot.
Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/
pembatasan kontraktur.
2) Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari
dan/ atau konpensasi bagian tubuh.
3) Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku yang memungkinkan
melakukan aktivitas
Intervensi Rasional
1. Evaluasi/ lanjutkan 1. Tingkat aktivitas/ latihan
pemantauan tingkat tergantung dari perkembangan/
inflamasi/ rasa sakit pada resolusi dari peoses inflamasi
sendi
2. Pertahankan istirahat tirah 2. Istirahat sistemik dianjurkan
baring/ duduk jika selama eksaserbasi akut dan
diperlukan jadwal aktivitas seluruh fase penyakit yang
untuk memberikan periode penting untuk mencegah
istirahat yang terus menerus kelelahan mempertahankan
dan tidur malam hari yang kekuatan
tidak terganggu
3. Bantu dengan rentang gerak 3. Mempertahankan/
aktif/pasif, demikiqan juga meningkatkan fungsi sendi,
latihan resistif dan isometris kekuatan otot dan stamina
jika memungkinkan umum. Catatan : latihan tidak
adekuat menimbulkan
kekakuan sendi, karenanya
aktivitas yang berlebihan dapat
merusak send
4. Ubah posisi dengan sering 4. Menghilangkan tekanan pada
dengan jumlah personel jaringan dan meningkatkan
cukup. Demonstrasikan/ sirkulasi. Memepermudah
bantu tehnik pemindahan perawatan diri dan
dan penggunaan bantuan kemandirian pasien. Tehnik
mobilitas, pemindahan yang tepat dapat
mencegah robekan abrasi kulit
5. Posisikan dengan bantal, 5. Meningkatkan stabilitas
kantung pasir, gulungan (mengurangi resiko cidera) dan
trokanter, bebat, brace memerptahankan posisi sendi
yang diperlukan dan
kesejajaran tubuh, mengurangi
kontraktor

c. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan


dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas
umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan
mobilitas.
Kriteria Hasil :
1) Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan
untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan
kemungkinan keterbatasan.
2) Menyusun rencana realistis untuk masa depan.dan kemungkinan
keterbatasan.
3) Menyusun rencana realistis untuk masa depan.
Intervensi Rasional
1. Dorong pengungkapan 1. Berikan kesempatan untuk
mengenai masalah tentang mengidentifikasi rasa takut/
proses penyakit, harapan kesalahan konsep dan
masa depan menghadapinya secara
langsung
2. Diskusikan arti dari 2. Mengidentifikasi
kehilangan/ perubahan pada bagaimana penyakit
pasien/orang terdekat. mempengaruhi persepsi
Memastikan bagaimana diri dan interaksi dengan
pandangaqn pribadi pasien orang lain akan
dalam memfungsikan gaya menentukan kebutuhan
hidup sehari-hari, termasuk terhadap intervensi/
aspek-aspek seksual. konseling lebih lanjut
3. Diskusikan persepsi 3. Isyarat verbal/non verbal
pasienmengenai bagaimana orang terdekat dapat
orang terdekat menerima mempunyai pengaruh
keterbatasan. mayor pada bagaimana
pasien memandang dirinya
sendiri
4. Akui dan terima perasaan 4. Nyeri konstan akan
berduka, bermusuhan, melelahkan, dan perasaan
ketergantungan marah dan bermusuhan
umum terjadi
5. Perhatikan perilaku menarik 5. Dapat menunjukkan
diri, penggunaan emosional ataupun metode
menyangkal atau terlalu koping maladaptive,
memperhatikan perubahan membutuhkan intervensi
lebih lanjut
6. Susun batasan pada perilaku 6. Membantu pasien untuk
mal adaptif. Bantu pasien mempertahankan kontrol
untuk mengidentifikasi diri, yang dapat
perilaku positif yang dapat meningkatkan perasaan
membantu koping. harga diri

d. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan


muskuloskeletal; penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu
bergerak, depresi.
Kriteria Hasil :
1) aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan
kemampuan individual.
2) Mendemonstrasikan
3) perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan
perawatan diri.
4) Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat
memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Intervensi Rasional
1. Diskusikan tingkat fungsi 1. Mungkin dapat melanjutkan
umum (0-4) sebelum timbul aktivitas umum dengan
awitan/ eksaserbasi melakukan adaptasi yang
penyakit dan potensial diperlukan pada keterbatasan
perubahan yang sekarang saat ini
diantisipasi
2. Pertahankan mobilitas, 2. Mendukung kemandirian
kontrol terhadap nyeri dan fisik/emosional
program latihan
3. Kaji hambatan terhadap 3. Menyiapkan untuk
partisipasi dalam perawatan meningkatkan kemandirian,
diri. yang akan meningkatkan harga
diri
4. Identifikasi /rencana untuk 4. Berguna untuk menentukan
modifikasi lingkungan alat bantu untuk memenuhi
kebutuhan individual. Mis;
memasang kancing,
menggunakan alat bantu
memakai sepatu,
menggantungkan pegangan
untuk mandi pancuran
5. Kolaborasi: Atur evaluasi 5. Mengidentifikasi masalah-
kesehatan di rumah sebelum masalah yang mungkin
pemulangan dengan dihadapi karena tingkat
evaluasi setelahnya. kemampuan actual

4. Implemenasi
Implementasi adalah fase ketikan perawata menerapkan/
melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan dengan tujuan
kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal (Nursalam, 2008).

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan
dengan cara melakukan identifikasi sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan evaluasi perawat
seharusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memahami
respon terhadap intervensi keperawatan, kemampuan menggambarkan
kesimpulan tentang tujuan yang dicapai serta kemampuan dalam
menghubungkan tindakan keperawatan pada kriteria hasil. Pada tahap
evaluasi ini terdiri dari dua kegiatan yaitu kegiatan yang dilakukan
dengan mengevaluasi selama proses perawatan berlangsung atau menilai
dari respon klien disebut evaluasi proses, dan kegiatan melakukan
evaluasi dengan target tujuan yang diharapkan disebut sebagai evaluasi
hasil (Hidayat, A.A.A, 2008).
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, Lilik Marifatul .2011. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Garaha Ilmu.
Yogyakarta. EGC: Jakarta.

Kumar, V., Cotran, R. S., Robbins, S. L., 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7.
Jakarta : EGC

Nurarif,amin huda. 2015. Aplik keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan


nanda nic noc jilid 3,yogjakarta

Smeltzer, Suzzanne C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. .Jakarta:


EGC.

Tamher, S. Noorkasiani.2011. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan


Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.