Anda di halaman 1dari 9

A.

Dokter Keluarga

Dokter keluarga adalah dokter yang terutama bertanggung jawab untuk


menyediakan pelayanan kesehatan yang komprehensif kepada setiap individu yang
membutuhkan pelayanan kesehatan dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan
lainnya untuk memberikan pelayanan kesehatan jika diperlukan. Dokter keluarga
merawat individu dalam konteks di keluarga, dan keluarga dalam konteks di
masyarakat, tanpa memandang ras, kultur, atau kelas sosial. Dokter keluarga secara
klinis berkompeten untuk menyediakan pelayanan yang lebih, dengan
mempertimbangkan latar belakang budaya, sosial ekonomi dan psikologis. Sebagai
tambahan, dokter keluarga secara personal bertanggung jawab untuk pelayanan yang
komprehensif dan kontinyu kepada pasiennya. Dokter keluarga menjalankan
profesionalitasnya dengan menyediakan perawatan kepada pasien atau melalui
pelayanan yang lain sesuai kebutuhan kesehatan dan sumber yang tersedia.Apabila
pelayanan dokter keluarga dapat diselenggarakan dengan baik, akan banyak manfaat
yang diperoleh
Pelayanan kesehatan tingkat pertama dikenal sebagai primary health care,
yang mencangkup tujuh pelayanan :

1. Promosi kesehatan
2. KIA
3. KB
4. Gizi
5. Kesehatan lingkungan
6. Pengendalian penyakit menular
7. Pengobatan dasar

B. Dokter Keluarga sebagai Penyelenggara Layanan Primer

Dalam tatanan Sistem Kesehatan Nasional dokter keluarga menempati ranah


pelayanan primer sedangkan dokter spesialis menempati ranah pelayanan sekunder.
Pemisahan atau pemeringkatan layanan itu diperlukan agar terjadi mekanisme saling
kontrol dan saling bina antara SDM di pelayanan primer dan sekunder. Dokter
keluarga sebagai penyelenggara layanan primer, harus bekerja keras agar dapat
menyelesaikan semua jenis masalah kesehatan yang dipunyai pasiennya tanpa
memandang jenis kelamin, sistem organ, jenis penyakit, golongan usia, dan status
sosialnya. Dokter keluarga terutama bertugas meningkatkan taraf kesehatan pasien,
mencegah timbulnya penyakit, segera membuat diagnosis dan mengobati penyakit
yang ditemukan, mencegah timbulnya cacat serta mengatasi keterbatasan akibat
penyakit. Jika diperlukan sudah barang tentu harus sesegera mungkin merujuk pasien
ke sejawat dokter spesialis di ranah pelayanan sekunder. Dari tatanan yang tercantum
dalam SKN tersebut jelaslah bahwa kerjasama mutualistis antara dokter keluarga dan
dokter spesialis sangat penting agar pasien merasa dilindungi dan mendapat layanan
yang benar dan baik.

Dalam penerapan SPDK, seorang Dokter Keluarga (DK) yang sejatinya


adalah Dokter Praktik Umum (DPU) yang kewenangan praktiknya sebatas pelayanan
primer harus menggunakan prinsip pelayanan dokter keluarga. Prinsip- prinsip
pelayanan dokter keluarga mengikuti anjuran WHO dan WONCA yang
mencantumkan prinsip-prinsip ini dalam banyak terbitannya. Prinsip-prinsip ini juga
merupakan simpulan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan dokter primer
dalam melaksanakan pelayanan kedokteran. Prinsip pelayanan/pendekatan
kedokteran keluarga adalah memberikan/ mewujudkan :

1. Menyelenggarakan pelayanan komprehensif dengan pendekatan holistik


2. Menyelengarakan pelayanan yang bersinambung kontinu)
3. Menyelenggarakan pelayanan yang mengutamakan pencegahan
4. Menyelenggarakan pelayanan yang bersifat koordinatif dan kolaboratif
5. Menyelenggarakan pelayanan personal (individual) sebagai bagian integral
dari keluarganya
6. Mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan
7. Menjunjung tinggi etika, moral dan hukum
8. Menyelenggarakan pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu
9. Menyelenggarakan pelayanan yang dapat diaudit dan dipertangung jawabkan
Secara logis dokter praktik umum (DPU) yang telah menyelenggarakan
prinsip di atas patut mendapat sebutan DK walaupun sebutan itu mungkin hanya
datang dari komunitas pasien yang dilayaninya. Kenyataannya sebagian besar DPU
di Indonesia terutama yang sukses dalam praktiknya sehari-hari sebenarnya telah
menjalankan prinsip tersebut secara naluriah. Dapatlah disimpulkan bahwa
sebenarnya penerapan kesembilan butir prinsip pelayanan DK bukanlah upaya baru
melainkan sebuah upaya mengembalikan krida DPU ke khitahnya sebagai
penyelenggara pelayanan primer yang paripurna dan handal. Penerapan prinsip itu
menghendaki agar DK menyadari bahwa dalam melaksanakan tugasnya di ranah
layanan primer harus bekerjasama dengan semua pihak termasuk paramedis, petugas
laboratorium klinik, asuransi kesehatan, dokter spesialis, pasien dan keluarganya,
serta pihak lain yang terkait termasuk pihak pendana misalnya perusahaan asuransi
kesehatan. Jadi, penerapan SPDK, yang memerlukan kerjasama profesional
mutualistis di antara para dokter yang terlibat di dalamnya, mustahil dapat
diwujudkan jika tidak didasari oleh: 1. keelokan perilaku, 2. penguasaan ilmu, 3.
kemahiran bernalar dan keterampilan menjalankan prosedurklinis, serta 4. kinerja
yang prima. Keempat butir tersebut merupakan 4 pilar profesionalisme. Jadi tidaklah
mengherankan jika DPU yang sukses dalam praktik, yang secara naluriah telah
menerapkan SPDK sebenarnya seorang profesional sejati yang juga terbentuk secara
alami melalui penerapan SPDK.
Dalam praktik sehari-hari seorang DPU atau DK tidak mungkin lepas dari
kebutuhan akan konsultasi dan rujukan, baik yang bersifat horizontal dengan sesama
dokter layanan primer maupun vertikal dengan dokter di layanan sekunder.
Konsultasi dan rujukan juga akan menjadi sarana pengikat yang mampu
meningkatkan kadar kesejawatan jika terlaksana secara baik. Bersamaan dengan
peningkatan kesejawatan sebenarnya terjadi juga peningkatan kadar keilmuan dan
keterampilan berpikir serta bertindak. Oleh karena itu prinsip kolaborasi dan
koordinasi dalam praktik DK dengan sendirinya akan memfasilitasi peningkatan
kadar profesionalisme dan kesejawatan.
C. Dokter keluarga sadar hukum, etika moral dan biaya
1. Dokter keluarga sadar hukum

Hubungan hukum antara dokter dengan pasien telah terjadi sejak dahulu
(jaman Yunani kuno), dokter sebagai seorang yang memberikan pengobatan terhadap
orang yang membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan yang sangat
pribadi karena didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap dokter yang disebut
dengan transaksi terapeutik. Hubungan yang sangat pribadi itu oleh Wilson
digambarkan seperti halnya hubungan antara pendeta dengan jemaah yang sedang
mengutarakan perasaannya. Pengakuan pribadi itu sangat penting bagi eksplorasi diri,
membutuhkan kondisi yang terlindung dalam ruang konsultasi.
Hubungan hukum kontraktual yang terjadi antara pasien dan dokter tidak
dimulai dari saat pasien memasuki tempat praktek dokter sebagaimana yang diduga
banyak orang7, tetapi justru sejak dokter menyatakan kesediaannya yang dinyatakan
secara lisan (oral statement) atau yang tersirat (implied statement) dengan
menunjukkan sikap atau tindakan yang menyimpulkan kesediaan; seperti misalnya
menerima pendaftaran, memberikan nomor urut, menyediakan serta mencatat rekam
medisnya dan sebagainya. Dengan kata lain hubungan terapeutik juga memerlukan
kesediaan dokter.
Pada hakekatnya, hubungan antar manusia tidak dapat terjadi tanpa melalui
komunikasi, termasuk juga hubungan antara dokter dan pasien dalam pelayanan
medis. Oleh karena hubungan antara dokter dan pasien merupakan hubungan
interpersonal, maka adanya komunikasi atau yang lebih dikenal dengan istilah
wawancara pengobatan itu sangat penting. Hasil penelitian King9 membuktikan
bahwa essensi dari hubungan antara dokter dan pasien terletak dalam wawancara
pengobatan. Pada wawancara tersebut para dokter diharapkan untuk secara lengkap
memberikan informasi kepada pasien mengenai bentuk tindakan yang akan atau perlu
dilaksanakan dan juga risikonya.
Bahasa kedokteran banyak menggunakan istilah asing yang tidak dapat
dimengerti oleh orang yang awam dalam bidang kedokteran. Pemberian informasi
dengan menggunakan bahasa kedokteran, tidak akan membawa hasil apa-apa, malah
akan membingungkan pasien. Oleh karena itu seyogyanya informasi yang diberikan
oleh dokter terhadap pasiennya disampaikan dalam bahasa yang sederhana dan
mudah dimengerti oleh pasien.
Setelah informasi diberikan, maka diharapkan adanya persetujuan dari pasien,
dalam arti ijin dari pasien untuk dilaksanakan tindakan medis. Pasien mempunyai hak
penuh untuk menerima atau menolak pengobatan untuk dirinya, ini merupakan hak
asasi pasien yang meliputi hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak atas
informasi.
Oleh karena itu sebelum pasien memberikan persetujuannya diperlukan
beberapa masukan sebagai berikut: 1) Penjelasan lengkap mengenai prosedur yang
akan digunakan dalam tindakan medis tertentu (yang masih berupa upaya, percobaan)
yang diusulkan oleh dokter serta tujuan yang ingin dicapai (hasil dari upaya,
percobaan), 2) Deskripsi mengenai efek-efek sampingan serta akibat-akibat yang tak
dinginkan yang mungkin timbul, 3) Diskripsi mengenai keuntungan-keuntungan yang
dapat diperoleh pasien, 4) Penjelasan mengenai perkiraan lamanya prosedur
berlangsung, 5) Penjelasan mengenai hak pasien untuk menarik kembali persetujuan
tanpa adanya prasangka (jelek) mengenai hubungannya dengan dokter dan
lembaganya. 6) Prognosis mengenai kondisi medis pasien bila ia menolak tindakan
medis tertentu (percobaan) tersebut.
Dokter keluarga yang sadar hukum, sangat dekat dengan
perilaku dokter untuk tetap bekerja dalam batas-batas kewenanangan dan selalau
mentaati kewajiban yang digariskan oleh hukum yang berolaku di daerah tempat
praktiknya.

2. Sadar Biaya

Dokter keluarga yang sadar biaya adalah perilaku dokter keluarga dalam
pertimbangkan cost effectiveness dari biaya yang dikeluarkan oleh pasien. Dengan
kata lain biaya harus menjadi pertimbangan akan tetapi tidak boleh menurunkan mutu
pelayanan.
Yang dimaksud dengan biaya disini adalah biaya yang digunakan dalam
pelayanan kesehatan dimana terdapat 5 elemen yang mungkin berhubungan dengan
biaya yang terjadi pada pelayanan kesehatan yaitu:
i. Penggunaan sumber daya untuk dapat melakukan pengobatan. Sebagai contoh:
pada terapi yang menggunakan obat, maka aspek-aspek yang terlibat adalah
produksi obat, distribusi obat, waktu yang digunakan untuk memproduksi obat
tersebut, proses manajemen dan monitoring
ii. Sumber daya kesehatan yang digunakan untuk mengobati efek samping yang
terjadi akibat pengobatan yang dilakukan.
iii. Bila sakit yang akan timbul berhasil dicegah, sumber daya dalam hal ini biaya
yang berhasil disimpan atau dihemat haruslah dihitung.
iv. Biaya untuk proses diagnostik ataupun rujukan yang harus dilakukan termasuk
rekomendasi yang diberikan oleh farmasis termasuk hal yang harus
diperhitungkan
v. Hidup yang berhasil diperpanjang karena adanya terapi, biaya untuk pelayanan
kesehatan yang dikonsumsi selama perpanjangan hidup tersebut termasuk yang
juga harus diperhitungkan. Hidup yang berhasil diperpanjang ini
dikuantifikasikan dalam bentuk uang merupakan hal yang masih diperdebatkan.
Keseluruhan biaya yang terjadi tersebut dihitung dan dijumlahkan dan hal ini
merupakan biaya yang terjadi dalam pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Dalam prakteknya dokter keluarga dapat menerapkan Cost effectiveness
analysis (CEA) merupakan salah satu cara untuk menilai dan memilih program
terbaik bila terdapat beberapa program berbeda dengan tujuan yang sama untuk
dipilih. Kriteria penilaian program mana yang akan dipilih adalah berdasarkan total
biaya dari masing-masing alternatif program sehingga program yang mempunyai total
biaya terendahlah yang akan dipilih oleh para analis/pengambil keputusan.
CEA membantu memberikan alternatif yang optimal yang tidak selalu berarti
biayanya lebih murah. CEA membantu mengidentifikasi dan mempromosikan terapi
pengobatan yang paling efisien. CEA sangat berguna bila membandingkan alternatif
program atau alternatif intervensi dimana aspek yang berbeda tidak hanya program
atau intervensinya tetapi juga outcome klinisnya ataupun terapinya.

3. Sadar etika

Sadar etika dalam praktiknya diwujudkan dalam perilaku dokter dalam


menghadapi pasiennya tanda memandang status sosial, jenis kelamin, jenis penyakit,
ataupun sistem oragn ayng sakit. Semua dalah pasiennya dan harus dilayani secara
profesiona.
Etika merupakan kajian mengenai moralitas - refleksi terhadap moral secara
sistematik dan hati-hati dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku baik pada
masa lampau, sekarang atau masa mendatang. Moralitas merupakan dimensi nilai dari
keputusan dan tindakan yang dilakukan manusia. Bahasa moralitas termasuk kata-
kata seperti hak, tanggung jawab, dan kebaikan dan sifat seperti baik dan
buruk (atau jahat), benar dan salah, sesuai dan tidak sesuai. Menurut
dimensi ini, etika terutama adalah bagaimana mengetahuinya (knowing), sedangkan
moralitas adalah bagaimana melakukannya (doing). Hubungan keduanya adalah
bahwa etika mencoba memberikan kriteria rasional bagi orang untuk menentukan
keputusan atau bertindak dengan suatu cara diantara pilihan cara yang lain.
Setiap pembicaraan etika kedokteran maka yang menjadi intinya adalah
pasien. Sebagian besar ikatan dokter menyadari bahwa di dalam kebijakan-kebijakan
pokoknya, secara etis, kepentingan terbaik dari pasienlah yang menjadi pertimbangan
pertama dari setiap keputusan yang diambil dalam perawatan. pembuatan keputusan
dan tindakan dokter bukan hanya dari segi ilmiah ataupun teknis seperti bagaimana
menangani diabetes ataupun bagaimana melakukan operasi double bypass, namun
pertanyaan yang muncul adalah mengenai nilai, hak-hak, dan tanggung jawab. Dokter
akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan ini sesering dia menghadapi pertanyaan
ilmiah maupun teknis
Etika kedokteran juga sangat berhubungan dengan hukum. Hampir di semua
negara ada hukum yang secara khusus mengatur bagaimana dokter harus bertindak
berhubungan dengan masalah etika dalam perawatan pasien dan penelitian. Badan
yang mengatur dan memberikan ijin praktek medis di setiap negara bisa dan memang
menghukum dokter yang melanggar etika. Namun etika dan hukum tidaklah sama.
Sangat sering, bahkan etika membuat standar perilaku yang lebih tinggi dibanding
hukum, dan kadang etika memungkinkan dokter perlu untuk melanggar hukum yang
menyuruh melakukan tindakan yang tidak etis. Hukum juga berbeda untuk tiap-tiap
negara sedangkan etika dapat diterapkan tanpa melihat batas negara.

Akhirnya dapatlah disimpulkan bahwa dalam praktik-hari DK harus:

b. Selalu mengingat bahwa pasien adalah mahluk biopsikososial dan bukan


sekumpulan organ
c. Tetap berkiprah di ranah layanan primer sesuai dengan kewenangannya, karena
itu harus bekerjasama secara mutualistis dengan semua pihak termasuk dokter
penyelenggara layanan sekunder, pasien, dan keluarganya.
d. Sadar bahwa tugasnya memerlukan ilmu yang luas dan dalam serta keterampilan
prosedur klinis layanan primer yang prima, dengan tetap menjunjung tinggi etika,
moral, hukum, dan profesionalisme.
DAFTAR PUSTAKA
1.