Anda di halaman 1dari 15

PORTOFOLIO KASUS

Nama Peserta : dr. Rizki Novrildawati Khairil


Nama Wahana: RSUD Mardi Waluyo
Topik: Supra Ventikular Takikardi (SVT)
Tanggal (kasus) : 28 Maret 2017
Tanggal Presentasi : - Pendamping : dr. Herya Putra Darma
Tempat Persentasi : RSUD Mardi Waluyo
Obyek presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Perempuan, 43 tahun
Tujuan: Menegakkan diagnosis SVT dan melakukan terapi yang tepat
Bahan Bahasan: Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara Membahas: Diskusi Presentasi dan diskusi E-mail Pos
Data Pasien: Nama: Ibu. SM No.Registrasi: 1500471XXX
Nama klinik RSUD Mardi Waluyo
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Gambaran Klinis
Pasien datang dengan keluhan berdebar- debar yang dirasakan sejak 7 jam SMRS. Berdebar-
debar pertama kali dirasakan pasien pada pukul 3 pagi saat pasien terbangun. Selain dada
berdebar pasien juga mengeluhkan berkeringat dingin dan lemas. Pasien mengeluhkan sesak
jika berjalan. Namun pasien tidak mengeluhkan adanya nyeri dada, mual dan muntah. Pasien
sudah berobat untuk keluhan berdebar ini ke mantri namun tidak berkurang. Riwayat dada
berdebar sebelumnya di sangkal. Riwayat adanya penyakit jantung sebelumnya disangkal.

2. Riwayat pengobatan: Tidak ada

3. Riwayat kesehatan/penyakit: Riwayat HT (-) DM (-)

4. Riwayat keluarga: Tidak ada


5. Riwayat pekerjaan: Ibu rumah tangga
6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik: Pasien seorang ibu rumah tangga.

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Nadi : 215 x/menit Suhu : 36,4 0C
Tekanan darah : 120/90 mmhg Respirasi : 26 x/menit

STATUS GENERALIS
Kulit : perabaan hangat, kelainan kulit (-)
Kepala : normocephal,
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sekret (-/-)
Telinga : Sekret (-) presbyacusis (-/-),tinitus (-/-),
Hidung : paten, rhinorea (-/-), nafas cuping hidung (-/-)
Mulut : sianosis (-), mukosa basah (+/+), lidah kotor (-)
Tenggorok : tonsil tidak membesar (T1-T1), mukosa faring hiperemis (-/-) ,
Wajah : dalam batas normal
Leher : Kaku kuduk (-), meningeal sign (-), pembesaran KGB (-) , bruit carotis (-)
Dada :
1. Paru
I: Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri, retraksi (-), tertinggal (-),
sikatriks (-).
P: Krepitasi (-), massa (-), Vokal fremitus lapang paru kanan normal.
P: Sonor pada seluruh lapang paru.
A: Ves +/+, Rh-/-, Wh-/-
2. Jantung:
I: Ictus cordis tidak terlihat
P: Ictus cordis teraba di SIC 5 2 jari medial linea midklavikula kiri
P: Batas atas jantung di SIC 3 linea parasternalis kiri, batas jantung kanan di SIC
4 linea sternalis kanan, batas jantung kiri di SIC 5 medial linea
midklavikula kiri,
A: S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-).

Abdomen :

I : Abdomen datar, sikatriks (-), massa (-)


A : Bising usus (+)
P : timpani,
P : Dinding abdomen soepel, nyeri tekan regio epigastrium (-), nyeri tekan suprapubik
(-), hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas : CRT <2", Tidak ada edema, akral hangat
Neurologis : motorik (5/5/5/5), sensorik dbn. Kelainan nervus II,III, IV, V, VI,
VII,IX,X , XII (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG:
Hematologi
HB 10,9 g/dl
Leukosit 12.300 /cmm
Trombosit 329.000
Hematokrit 37%
EKG
Daftar Pustaka
1. Delacretaz, Etienne. Supraventricular Tachycardia. Website
http://www/nejm.org/doi/full/10/1056/NEJMep051145 Accessed April 12, 2017
2. Gugneja, Monika. Paroxysmal Supraventricular Tachycardia. Website
http://emedicine.medscape.com/article/156670-overview Accessed April 12, 2017
3. Olgin, Jeffrey E., Douglas P. Zipes. Tachyarrhythmias. Braunwalds Heart Disease. A
Texbook of Cardiovascular Medicine Ninth Edition. Page: 863-99.
4. Medi, Carolin. Jonathan M Kalman, dan Saul B Freedman. Supraventricular Tachycardia.
Website http://www.mia.com.au/public/issue/190_05_020309/med107_27_fm.html Accessed
April 12, 2017
5. Wang, Paul J dan N.A. Mark Estes II. Supraventricular Tachycardia. Website
http://circ.ahajournals.org/content/106/25/206 Accessed April 12, 2017
Hasil Pembelajaran
1. Menegakkan diagnosis SVT
2. Memberikan penatalaksanaan yang tepat terhadap kasus SVT
RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

SUBJEKTIVE

Pasien datang dengan keluhan berdebar-debar. Keluhan berdebar dirasakan secara mendadak
dan tidak dipengaruhi oleh aktifitas maupun cuaca. Pasien mengaku keluhan berdebar tidak
berkurang walaupun pasien beristirahat. Pasien mengeluhkan berkeringat dingin dan lemas.

Riwayat penyakit jantung sebelumnya (-), HT (-) DM (-)


OBJEKTIF

Hasil pada pemeriksaan fisik ditemukan nadi >150x/I dan reguler, tidak ditemukan adanya
kelainan pada pemeriksaan fisik lainnya .
Gambaram EKG : Irama sinus, HR 215 x/I, SVT
Hasil laboratorium dalam batas normal
Hasil foto thoraks : cardiomegaly

ASSESMENT
Takikardi supraventrikular (TSV) adalah satu jenis takidisritmia yang ditandai dengan
perubahan laju jantung yang mendadak bertambah cepat menjadi berkisar antara 150
kali/menit sampai 250 kali/menit. Kelainan pada TSV mencakup komponen sistem konduksi
dan terjadi di bagian atas bundel HIS. Pada kebanyakan TSV mempunyai kompleks QRS
normal.Kelainan ini sering terjadi pada demam, emosi, aktivitas fisik dan gagal jantung.
Pasien mengluhkan adanya dada yang berdebar -bebar, keringat dingin, dan
lemas. Individu dengan SVT mungkin hadir d engan gejala ringan atau keluhan
cardiopulmonary yang parah. Gejala yang muncul SVT dan tingkat frekuensi
sebagai berikut :

- Palpitasi
- Dizziness
- Sesak napas
- Sinkop
- Nyeri dada
- Kelelahan
- Diaforesis
- Mual
Palpitasi dan dizziness adalah gejala yang paling umum dilaporkan oleh
pasien dengan SVT. Sesak nafas mungkin menjadi sekunder untuk detak jantung
yang cepat, dan sering menghilang dengan penghentian takikardia. SVT
Persistent dapat menyebabkan tachycardia-induced cardiomyopathy.
Dalam menganamesis pasien dengan SVT, klinisi harus mengetahui durasi
dan frekuensi episode SVT, onset, penyakit jantung sebelumnya, dan hal -hal
yang dapat memicu terjadinya SVT (alkohol, kafein, pergerakan yang tiba -tiba,
stress emosional, kelelahan, dan pengobatan). Gambaran ini dapat membedakan
SVT dengan takiaritmia lainnya. SVT memiliki onset dan terminasi palpitasi
yang tiba-tiba, sedangkan sinus takikardi memiliki onset yang mengalami
percepatan ataupun perlambatan secara bertahap. Dengan adanya gejala yang
khas pada anamnesis yaitu onset yang tiba -tiba, cepat, palpitasi yang reguler,
dapat ditegakkan diagnosis SVT tanpa dibutuhkannya pemeriksaan EKG
berulang. Adapun pasien yang mengalami onset SVT yang tidak tiba -tiba sering
kali mengalami misdiagnosis dengan g angguan panik.
Karena keparahan gejala SVT tergantung pada adanya gangguan pada
struktur janung atau hemodinamik dari pasien, pasien dengan SVT dapat
memiliki gejala kardiopulmoner ringan atau berat. Palpitasi dengan dizziness
merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada pasien SVT. Nyeri dada
dapat dijumpai sekunder terhadap nadi yang cepat dan biasanya berkurang
setelah terminasi dari takikardi.
Pada pemeriksaan fisik pada pasien ditemukan HR > 150x/mnt dan tidak
ada ditemukan adanya kelainan pada p emeriksaan fisik lainnya. Pemeriksaan
fisik umumnya terbatas pada kardiovaskular dan respirasi. Pasien sering merasa
terganggu dan mungkin takikardi satu -satunya yang dijumpai pada pasien sehat
dan memiliki hemodinamik yang baik. Sedangkan pada pasien yang memiliki
gangguan hemodinamik dapat dijumpai takipneu dan hipotensi, crackles dapat
dijumpai pada auskultasi sekunder terhadap gagal jantung, S3 dapat dijumpai
dan pulsasi vena jugularis dapat terlihat. Pada pemeriksaan fisik pada saat
episode dapat menunjukkan frog sign (penonjolan vena jugularis, gelombang
yang timbul akibat kontraksi atrium terhadap katup trikuspid yang tertutup).

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan SVT


berupa :
a. Pemeriksaan laboratorium
Pada pasien dengan nyeri dada, pasien dengan faktor risiko untuk infark
miokard, dan pasien yang dinyatakan tidak stabil dan hadir dengan gagal
jantung, hipotensi, atau edema paru harus dilakukan evaluasi enzim
jantung. Pasien muda tanpa cacat jantung struktural memiliki risiko ya ng
sangat rendah infark miokard .

Tes laboratorium lainnya adalah sebagai berikut :


- Kadar elektrolit
Harus diperiksa karena kelainan elektrolit dapat berkontribusi SVT(
SVT paroxysmal )
- Hitung darah lengkap
Untuk membantu menilai apakah anemia berkontribusi terhadap
takikardi atau iskemia
- Tingkat Digoxin
Untuk pasien yang mengkonsumsi digoxin, karena SVT adalah salah
satu dari banyak disritmia yang dapat disebabkan oleh tingkat
supratherapeutic obat ini

b. Elektrokardiografi (EKG)
Presentasi EKG pada pasien dengan SVT biasanya terdapat QRS kompleks
yang sempit (QRS interval kurang daru 120msec), tetapi beberapa kasus
dapat dijumpa QRS kompleks yang lebar jika berhubungan dengan pre
existing or rate related bundle branch block . Pada kompleks QRS yang
lebar lebih baik kita mengasumsikan takikardi berasal dari ventrikel
sampai dapat dibuktikan. Setelah kembali keirama sinus rhytm ke 12 lead
EKG harus diperhatikal ada atau tidaknya gelombang delta ( slurred
upstroke at the onset of QRS complex ), yang mengindikasi adanya jalur
tambahan (accessory pathway). Adapun bukti adanya preexcitation dapat
minimal jika jalur tambahan terletak jauh dari nodus sinus atau jika jalur
tambahan concealed. Pada pasien ambulatori dengan SVT sering (dua
atau lebih perbulan), rekaman EKG lanjutan sampai 7 hari dapat berguna
untuk dokumentasi aritmia.
Gambaran EKG sesuai dengan tipe SVT :
- Atrioventricular re-entry tachycardia (AVRT)
Bentuk yang paling sering
Sirkuit reentry melibatkan nodus AV
Gelombang p retrogard dapat meli batkan tertanam (burried
within) atau hanya setelah kompleks QRS pada takikardi
- Atrioventricular nodal re-entry tachycardia (AVRT)
Bentuk kedua yang paling sering
Sirkuit reentry melibatkan jalur tambahan
Beberapa jalur disebut concealed pathway, hanya berkonduksi
dengan arah retrogard.
Jalur yang berkonduksi dengan arah antegrad menunjukkan
preexcitation pada EKG (Wolf-Parkinson White Syndrome).
The P wave of the atrial ectopic beat is visible as a distortion of the T wave of
the preceding beat (solid arrow). Retrograde P waves are visible immediately after the QRScomplex (dotted
arrows). This tachycardia may be due to atrioventricular re-entrant tachycardia with a concealed pathway, or
atrioventricular node re-entry. This patient did not elect to undergo an electrophysiology study and ablation
therapy, and is not on maintenancemedical therapy.
c. Rontgen thorax
Rontgen thorax untuk menilai adanya edema paru dan kardiomegali. Infeksi
seperti pneumonia, yang dalam kasus -kasus tertentu yang terkait dengan SVT,
juga dapat dikonfirmasi dengan temuan dari metode ini pencitraan.

d. Ekokardiografi
Dipertimbangkan pada pasien untuk memeriksa adanya gangguan struktural
jantung walaupun hal ini jarang ditemukan. Kebanyakan pasien normal.

e. Electrophysiological testing
Untuk mengidentifikasi mekanisme aritmia, tetapi pemeriksaan ini dilakukan
apabila ablasi kateter dipertimbangkan.

Tatalaksana pada pasien SVT berupa :

Vagal Manuver
Vagal maneuver merupakan tehnik yang dapat dilakukan untuk menurunkan
denyut jantung. Maneuver vagal dilakukan dengan tujuan menstrimulasi reseptor
pada arteri carotis interna. Stimulasi pada reseptir arteri carotis dapat meminus
stimulasi nervus vagal untuk mengeluarkan acetilkolin yang dapat memperlambat
impuls respon AV node.
Tehnik pada vagal maneuver berupa:
- Valsava maneuver (Bearing Down)
- Batuk
- Cold Stimulus to the Face ( dengan cara menutup muka menggunakan kantong plastic
berisi es selama10 detik)
- Gagging ( dengan cara merangsang muntah )
- Carotid Massage ( dengan mengurut arteri carotis selama 10 detik dan seblum
mengurut pastikan tidak ada bruit pada arteri karotis)

Kardioversi listrik
Kardioversi listrik adalah metode yang paling efektif untuk memulihkan
irama sinus. Kardioversi Synchronized mulai 50J dapat digunakan segera pada
pasien yang hipotensi, memiliki edema paru, mengalami nyeri dada dengan
iskemia, atau sebaliknya tidak stabil. Jika fibrilasi atrium ada selama lebih dari
24-48 jam, menunda kardioversi sampai pasien telah cukup antikoagulan untuk
mencegah komplikasi tromboemboli.
Short term pharmacological
Ketika SVT tidak diakhiri oleh manuver vagal, manajemen jangka pendek
melibatkan adenosine dan Ca channel blocker. Adenosine adalah obat short -
acting yang berhasil menterminasi takikardi pada 90 % kasus takikardia karena
AVNRT atau AVRT. Dosis adenosine ya ng diberikan 6-12 mg secara IV. Efek
samping khas adenosin termasuk pembilasan, nyeri dada, dan dizziness. Efek ini
bersifat sementara karena adenosin memiliki waktu paruh yang sangat pendek
10-20 detik . Adenosin hanya digunakan ada kasus irama jantung ya ng regular.
Alternatif lain untuk pengobatan akut SVT adalah Ca channel blocker,
seperti verapamil dan diltiazem, serta beta blocker seperti metoprolol atau
esmolol. Verapamil adalah Ca channel blocker yang juga memiliki sifat
memblokir AV. Ia memiliki wak tu paruh lebih panjang dari adenosin dan dapat
membantu untuk mempertahankan irama sinus setelah penghentian SVT. Hal ini
juga menguntungkan untuk mengendalikan laju ventrikel pada pasien dengan
takiaritmia atrial. Dosis Verapamil yang diberikan 5 -10 mg IV atau diltiazem
0,25 0,35 mg/kgbb IV. Keduanya diberikan saat adenosine dan manufer vagal
gagal.
Long term pharmacological
Pilihan terapi jangka panjang untuk pasien dengan SVT tergantung pada
jenis takiaritmia yang terjadi dan frekuensi dan durasi episode, serta gejala dan
risiko yang terkait dengan aritmia (misalnya, gagal jantung, kematian
mendadak). Mengevaluasi pasien secara individual, dan pengobatan
menyesuaikan terapi terbaik untuk takiaritmia tertentu .
Pasien dengan SVT awalnya mungkin dioba ti dengan Ca channel blocker,
digoxin, serta beta-blocker. Kelas IA, IC, atau agen antiarrhythmic III jarang
digunakan karena keberhasilan Radiofrequency ablation.

PLAN
1. Diagnosis
SVT
Pasien ini memenuhi kriteria infark miokard akut berdasarkan anamnesis,
pemeriskaan fisik serta pemeriksaan penunjang yaitu:
a. Berdebar- debar , keirngat dingin
b. EKG : SVT
c. Foto Thoraks : Kardiomegali
d. Pemeriksaan darah lengkap serta rontgen thorax untuk menyingkirkan
adanya kemungkinan penyakit lain sekaligus skrining komplikasi yang
mungkin terjadi
2. Penatalaksanaan
a. Non Medika Mentosa
- Melakukan komunikasi, pemberian informasi serta edukasi kepada pasien
dan keluarga mengenai kondisi saat ini, diagnosis serta tindakan apa yang
harus dilakukan pada pasien termasuk rawat inap di ICU untuk pemantauan
kondisi pasien, penatalaksanaan yang akan diberikan serta kemungkinan
tindakan awal berdasarkan indikasi.
- Menetapkan diet tinggi kalori, tinggi protein, rendah lemak dan rendah
garam pada pasien
b. Medika Mentosa
- Perbaikan kondisi umum dengan pemberian Oksigen nasal kanul 3-4 L per
menit
- Perbaikan kondisi umum dengan tirah baring semivowler
- Screening menilai gula darah sewaktu dan saturasi oksigen
- Dilakukan Vagal Manuver
- Jika vagal manver tidak berhasil maka dilakukan pemberian anti- aritmia,
pada kasus pasien anti aritamia yang diberikan berupa amiodaron , dengan
cara :
- Guyur Normal salin cairan 500 cc
- Syring Pump amiodaron 150 mg dalam 50 cc NS selama 30 menit
- Syring Pump amiodaron 60 mg/ jam selama 8 jam
- Syrng Pump amiodaron 30 mg/ jam selama 16 jam.
c. Tindakan
- Observasi tanda-tanda vital, tanda syok, dan munculnya komplikasi pada
pasien
- Karena kondisi harus rawat dengan pemantauan, rawat di ruang intensif care
unit (ICU)
3. Konsultasi
Konsultasi dengan bagian jantung untuk tatalaksana lebih lanjut.

Kota Blitar, 15 Mei 2017


RSUD Mardi Waluyo
Mengetahui,

Dokter Pembimbing, Dokter Penanggungjawab Pasien,

dr. Herya Putra Darma dr. Ridza


PORTOFOLIO KASUS MEDIS
BAGIAN INSTALASI GAWAT DARURAT

SUPRAVENTICULAR TAKIKARDI

Disusun Oleh:
dr. Rizki Novrildawati Khairil
Dokter Internsip RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar

Pembimbing:
Dr. Herya Putra Darma

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MARDI WALUYO
KOTA BLITAR JAWA TIMUR
2017

Anda mungkin juga menyukai