Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi yang paling banyak digunakan
wanita di negara-negara maju. Para wanita menggunakannya untuk mencegah
kehamilan. Setiap tahun pasangan menikah pada usia subur semakin meningkat.
Kecenderungan peningkatan pasangan menikah usia subur akan berdampak pada
peningkatan angka kelahiran dan kepadatan penduduk yang nantinya bila tidak
diatur akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup suatu
keluarga, sehingga akan bertolak belakang dengan program pemerintah yaitu
mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Tata laksana untuk
mengatasi permasalahan tersebut sangat diperlukan, termasuk dalam penggunaan
kontrasepsi hormonal baik berupa estrogen saja maupun kombinasi estrogen dan
progesterone (Hartanto, 2004).

2. Rumusan Masalah
3. Tujuan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Kontrasepsi Hormonal
Kontrasepsi hormonal berisi 2 hormon steroid yaitu hormon estrogen dan
progesteron. Estrogen sintetik adalah etinil estradiol, mestranol dan progesteron
sintetik adalah progestin, norethindron, noretinodrel, etinodiol, norgestrel. Alasan
utama untuk menggunakan estrogen dan progesteron sintetik adalah bahwa
hormon alami hampir seluruhnya akan dirusak oleh hati dalam waktu singkat
setelah diabsorbsi dari saluran cerna ke dalam sirkulasi porta (Guyton, 2008).
Mekanisme kontrasepsi hormonal antara lain dengan penggunaan estrogen dan
progestin terus menerus terjadi penghambatan sekresi GnRH dan gonadotropin
sedemikian rupa hingga tidak terjadi perkembangan folikel dan tidak terjadi
ovulasi. Progestin akan menyebabkan bertambah kentalnya mukus serviks
sehingga penetrasi sperma terhambat, terjadi gangguan keseimbangan hormonal
dan hambatan progesteron menyebabkan hambatan gangguan pergerakan tuba
Estrogen menginhibisi pelepasan FSH, progesteron menginhibisi pelepasan LH.
Jelas bahwa ovulasi dapat dicegah dengan inhibisi stimulus ovarium, maupun
pencegahan pertumbuhan folikel. Selain itu kontrasepsi oral dapat langsung
bekerja pada saluran kelamin. Endometrium harus berada pada status yang tepat
di bawah pengaruh estrogen dan progesteron untuk terjadinya nidasi dan hampir
tidak mungkin terjadi implantasi pada endometrium. Demikian pula sekret serviks
yang banyak mengandung air, pada saat ovulasi dianggap esensial bagi sperma
dan lendir kental yang dihasilkan karena pengaruh progesteron merupakan
lingkungan yang tidak mendukung bagi sperma.
2. Kontrasepsi oral ( Pil Kontrasepsi )
Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi berupa pil dan diminum oleh wanita, yang
berisi estrogen dan progestin berkhasiat mencegah kehamilan bila diminum secara
teratur (Hartanto, 2004). Kontrasepsi oral yang paling sering dipakai saat ini
merupakan kombinasi esterogen dan progresteron yang diminum setiap hari
selama tiga minggu dan bebas minum selama satu minggu, dan pada saat itulah
terjadi pendarahan uterus-withdrawal. Komponen estrogen dalam pil
menghalangi maturasi folikel dalam ovarium, sedangkan komponen progesteron
memperkuat daya estrogen untuk mencegah ovulasi. Pada keadaan biasa estrogen
dan progesteron dihasilkan oleh ovarium, karena pengaruh folikel stimulating
hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) yang dikeluarkan oleh hipophyse,
akan berpengaruh pada endometrium sehingga terjadi siklus menstruasi. Selain itu
esterogen dan progresteron berpengaruh langsung pada hipotalamus, yaitu
mekanisme feed back, yang akan menghambat pengeluaran FSH dan LH releasing
factor yang akibat selanjutnya adalah dihambatnya pengeluaran FSH dan LH.
Dengan dihambatnya FSH dan LH maka tidak akan terjadi ovulasi.
Pada pemakaian kontrasepsi hormonal, estrogen dan progesteron yang
diberikan akan mengakibatkan kadar estrogen dan progesteron dalam darah tetap
tinggi, sehingga mekanisme feed back akan bekerja. Mekanisme inilah yang
dipakai sebagai dasar bekerjanya kontrasepsi hormonal. Untuk mengetahui contoh
produk dari kontrasepsi oral yang beredar di Indonesia dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Contoh Produk Kontrasepsi Oral dan Suntik yang Beredar di Indonesia
(Hartanto, 2004)

Kerugian pil KB:

a) Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari


b) Mual terutama pada 3 bulan pertama
c) Perdarahan bercak
d) Pusing
e) Nyeri payudara
f) Berat badan naik
g) Meningkatkan tekanan darah, retensi cairan sehingga resiko stroke dan
gangguan pembekuan darah pada vena dalam sedikit meningkat. Pada usia
>35 tahun dan merokok perlu hati-hati (Saifuddin, 2003).
Sampai sekarang dikenal 4 tipe kontrasepsi oral yakni tipe kombinasi, tipe
sekuensial, mini pil dan pil pasca sanggama (morning after pil). Tipe kombinasi
adalah yang mula mula dikenal dan efektifitasnya paling tinggi dan oleh karena
itu tipe inilah yang sampai sekarang paling banyak digunakan (Manuaba, 1998).
i. Tipe kombinasi
Terdiri dari 21-22 pil yang setiap pilnya berisi derivat estrogen dan
progestin dosis kecil, untuk penggunaan satu siklus. Pil pertama mulai
diminum pada hari kelima siklus haid selanjutnya setiap hari 1 pil selama
21-22 hari. Umumnya 2-3 hari sesudah pil terakhir diminum akan timbul
perdarahan haid yang merupakan perdarahan putus obat (withdrawal
bleeding). Penggunaan pada siklus selanjutnya sama seperti siklus
sebelumnya yaitu pil pertama ditelan pada hari kelima siklus siklus haid
(Manuaba, 1998).
a) Monofasik: Pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung
hormon aktif estrogen/progesteron (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7
tablet tanpa hormon aktif.
b) Bifasik: yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
estrogen/progesteron (E/P) dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7
tablet tanpa hormon aktif.
c) Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon
aktif estrogen/progesteron (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda dengan 7
tablet tanpa hormon aktif. 5. Pil trifasik yang lebih alamiah dan diminum
dalam 3 fase siklus haid
6 tablet warna coklat berisi levonorgestrel 50 g dan etinil estradiol 30 g
5 tablet warna putih berisi levonorgestrel 75 g dan etinil estradiol 40 g
5 tablet warna putih berisi levonorgestrel 125 p.g dan etinil estradiol 30 g
ii. Tipe sekuensial
Pil ini mengandung komponen yang disesuaikan dengan sistem hormonal
tubuh, 12 pil pertama hanya mengandung estrogen, pil ke-13 dan
seterusnya merupakan kombinasi (Manuaba, 1998).
iii. Pil normofasik
Pil ini cara kerjanya berada diantara cara kerja pil kombinasi dan cara
kerja pil sekuensial, namun lebih mendekati cara sekuensial. Selama 7 hari
pertama hanya diberi pil yang mengandung estrogen saja, kemudian
disusul dengan kombinasi estrogen dan progesteron selama 15 hari.
iv. Tipe mini pil
Merupakan pil hormon yang hanya mengandung progestrone dalam dosis
mini ( kurang dari 0,5 mg) yang harus diminum setiap hari termasuk pada
saat haid. Hanya berisi derivat progestin, noretindron atau norgestrel, dosis
kecil, terdiri dari 21-22 pil. Cara pemakaiannya sama dengan cara tipe
kombinasi. Min ipil bukan menjadi pengganti dari pil oral kombinasi,
tetapi hanya sebagai suplemen/tambahan, yang digunakan oleh wanita
yang ingin menggunakan kontrasepsi oral tetapi sedang menyusui atau
untuk wanita yang harus menghindari estrogen oleh sebab apapun
(Hartanto, 2004). Jenis Mini Pil terbagi dalam dua jenis yaitu:
a) Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil.
Mini pil dalam kemasan dengan isi 28 pil mengandung 75 mikro gram
desogestrel.
b) Mini pil dalam kemasan dengan isi 35 pil
Mini pil dalam kemasan dengan isi 35 pil mengandung 300 mikro gram
levonogestrel atau 350 mikro gram noretindron.
Contoh mini pil antara lain:
a) Micrinor, NOR-QD, noriday, norod mengandung 0,35 mg noretindron.
b) Microval, noregeston, microlut mengandunng 0,03 mg levonogestrol.
c) Ourette, noegest mengandung 0,5 mg norgeestrel.
d) Exluton mengandung 0,5 mg linestrenol.
e) Femulen mengandung 0,5 mg etinodial diassetat.
Cara Kerja dari kontrasepsi pil progestin atau mini pil dalam mencegah
kehamilan antara lain dengan cara:
a) Menghambat ovulasi.
b) Mencegah implantasi.
c) Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.
d) Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma menjadi terganggu.
Efektifitas Pil progestin atau mini pil sangat efektif (98,5 %). Penggunaan yang
benar dan konsisten sangat mempengaruhi tingkat efektifitasnya. Efektifitas
penggunaan mini pil akan berkurang pada saat mengkonsumsi obat anti konvulsan
(fenitoin), carbenzemide, barbiturat, dan obat anti tuberkulosis (rifampisin).
v. Pil pasca senggama
Berisi dietilstilbestrol 25 mg diminum 2 kali sehari dalam kurang waktu
72 jam pasca senggama selama 5 hari berturut-turut (Hartanto, 2004).
Keefektifan kontrasepsi oral yaitu bagi ibu yang masih menyusui sampai
sembilan bulan pertama postpartum keefektifan pil ini mencapai 98,5%.
Bagi ibu yang tidak menyusui, keefektifan turun menjadi 96%
(Siswosudarmo, 2001).
3. Cara pemakaian Pil KB
a) Untuk mereka yang baru pertama kali menggunakan pil KB, mulai minum
pil saat haid yaitu mulai di hari ke lima haid atau paling baik di hari
pertama haid.
b) Untuk mencegah lupa minum pil, minumlah pil KB secara teratur setiap
harinya pada jam yang sama, disarankan untuk menelan pil pada malam
hari (sebelum tidur atau setelah makan malam).
c) Jika lupa minum satu pil KB ( aktif bukan placebonya ) minum segera saat
teringat dan minum pil dosis hari itu di saat waktu rutin biasanya. Jika lupa
1 hari (24 jam) maka masih dapat diminum 2 tablet langsung pada saatnya
minum pil. Namun jika lupa lebih dari 1 hari, buang pil yang terlupa dan
lanjutkan minum pil sesuai harinya, namun karena efektifitas berkurang,
perlu dikombinasikan dengan kontrasepsi kondom saat berhubungan intim.
d) Untuk pil KB dengan isi 21 pil, setelah pil terakhir dimakan, maka 7 hari
kedepan libur/ tidak makan pil. Saat libur inilah diperkirakan akan terjadi
haid, yang biasanya timbul 2-3 hari setelah pil habis. Jika lupa tidak
berhenti minum pil dan langsung melanjutkan blister yang baru maka haid
tidak akan terjadi. Hal ini karena efek lanjutan hormon estrogen dan
progesteron pada pil KB. Hentikan pil KB maka dalam beberapa hari akan
terjadi haid.
e) Untuk pil KB dengan isi 28 pil, 7 buah pil yang beda ukuran dan warnanya
dari 21 pil lainnya, sebenarnya tidak mengandung hormon melainkan
hanya tepung saja ( plasebo ) sehingga tidak memiliki efek pengobatan.
Saat minum pil plasebo inilah haid diperkirakan akan terjadi.
f) Untuk ibu pasca melahirkan, maka pemakaian pil KB dimulai saat :
3 6 minggu pasca salin untuk ibu yang tidak menyusui
Bila telah lebih dari 42 hari (6 minggu) pasca salin dan tidak
menyusui, yakinkan dulu bahwa tidak hamil, baru mulai minum pil
KB
4. Interaksi Obat

NO Jenis Mekanisme Contoh Obat

1 Antibiotika pil KB mengurangi penyerapan Penisilin,


hormon yang terkandung tetrasiklin,
dalam pil KB, sebagian sulfonamida,
lagi menyebabkan tubuh kloramfenikol,
lebih cepat neomisin,
menghilangkan zat rifampin,
tersebut nitrofurantoin

2 Antikoagulan Antikoagulan Etinilestradiol akan warfarin,


meningkatkan tingkat fenindion,
atau efek warfarin aninsindion
dengan mempengaruhi
metabolisme enzim
Cyp1A2 hati.

3 Antikonvulsan Pil KB Antikonvulsan asam valproat,


menginduksi terjadinya fenitoin, pri-
metabolisme pil KB midon, karba-
mazepin,
trimetadion,
4 Antihistamin

5 Imunosupresan

6 Azole Pil KB

7 Kortikosteroid Pil KB Kortikosteroid akan triamnisolon,


menurunkan tingkat atau betametason,
efek etinilestradiol hidrokortion,
dengan mempengaruhi deksametason,
usus atau metabolisme prednisolon
enzim CYP3A4 hati.

8 Trankuilansia Trankuilansia Librium,


Pil KB kelompok
benzodiazepin

9 Statin Pil KB Meningkatkan level


plasma dari pil KB
kombinasi.

10 Antimalaria

11 Kafein Kafein
12 Asam Folat Asam folat

13 Piridoksin Piridoksin

14 Antasida Pil KB Antasida mengurangi


disolusi dari Pil KB
sehingga mengurangi
ketersediaan Pil KB

15 Vitamin-C Pil KB vitamin C


dosis tinggi,
1000 mg atau
lebih per hari

16 Griseofulvin

5. Studi Kasus
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari Saifuddin, dkk. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepasi.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Guyton, A.C., dan Hall, J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11.
Jakarta: EGC
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Siswosudarmo. 2001. Teknologi Kontrasepsi. Yogyakarta: Gajah Mada University
press.
Stockley, I.H. 2008. Stockleys Drug Interaction, Eighth Edition. London:
Pharmaceutical Press.