Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, tercantum bahwa kesehatan
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.Untuk
mencapai tingkat kesehatan jiwa secara optimal, pemerintah Indonesia menegaskan
perlunya upaya peningkatan kesehatan jiwa, seperti yang dituangkan dalam Undang-
undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan Bab IX pasal 144 yang menyatakan bahwa
upaya kesehatan jiwa ditujukan untuk menjamin setiap orang dapat menikmati kehidupan
kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat
mengganggu kesehatan jiwa.
Data WHO (2006) mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk Indonesia mengalami
gangguan jiwa, dimana panik dan cemas adalah gejala paling ringan.Gambaran gangguan
jiwa berat di Indonesia pada tahun 2007 memiliki prevalensi sebesar 4.6 permil, artinya
bahwa dari 1000 penduduk Indonesia terdapat empat sampai lima diantaranya menderita
gangguan jiwa berat (Puslitbang Depkes RI, 2008). Penduduk Indonesiapada tahun 2007
(Pusat Data dan Informasi Depkes RI, 2009) sebanyak 225.642.124 sehingga klien
gangguan jiwa di Indonesia pada tahun 2007 diperkirakan 1.037.454 orang. Provinsi Jawa
Barat didapatkan data individu yang mengalami gangguan jiwa sebesar 0,22 %
(Riskesdas, 2007).
Skizofrenia adalah gangguan, multifaktorial perkembangan saraf dipengaruhi oleh
faktor genetik dan lingkungan serta ditandai dengan gejala positif, negatif dan kognitif
(Andreasen 1995; Nuechterlein et al 2004;. Muda et al. 2009 dalam Jones et al, 2011).
Gejala kognitif sering mendahului terjadinya psikosis, dan pengobatan yang segera
dilakukan diyakini sebagai prediktor yang lebih baik dari hasil terapi (Green, 2006; Mintz
dan Kopelowicz, 2007 dalam Jones et al, 2011). Gejala posit if meliputi waham,
halusinasi, gaduh gelisah, perilaku aneh, sikap bermusuhan dan gangguan berpikir
formal. Gejala negatif meliputi sulit memulai pembicaraan, afek tumpul atau datar,
berkurangnya motivasi, berkurangnya atensi, pasif, apatis dan penarikan dirisecara sosial
dan rasa tidak nyaman (Videbeck, 2008).

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 1


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan
diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu
mencapai keinginan sesuai ideal diri (Damaiyanti & Iskandar, 2012). Sedangkan,
gangguan harga diri adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri yang
berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri, Keliat
dalam Kusuma & Nuratif (2016).
Pada pelaksanaan praktik klinik profesi Ners yang dilaksanakan di Rumah Sakit
Daerah Madani selama 3 minggu, kelompok kami menemukan masalah keperawatan
Harga Diri Rendah pada salah satu pasien yang sedang dirawat. Kasus Harga Diri Rendah
ini kami temukan diruangan Salak yang merupakan salah satu tempat perawatan rawat
inap pada pasien dengan gangguan jiwa. Sehingga, dari hasil temuan ini, kami mahasiswa
profesi Ners Kelompok I ingin menjadikan masalah ini sebagai salah satu bahan studi
kasus dalam seminar akhir stase keperawatan jiwa.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada laporan ini yaitu Bagaimana Penerapan Asuhan
Keperawatan jiwa pada pasien dengan Harga Diri Rendah di ruangan Salak Rumah Sakit
Daerah Madani Provinsi Sulawesi Tengah?
C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan khusus
Tujuan utama dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas individu mata
kuliah Keperawatan jiwa
b. Tujuan umum
1. Menerapkan teori dan lebih menekankan dalam mempraktekan proses keperawatan
yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, tindakan dan evaluasi
2. Dapat mengetahui cara merawat klien dengan isolasi sosial

D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah
1. Wawancara : Dilakukan pada pada klien, keluarga klien dan perawat ruangan
2. Observasi : Pengamatan pasien selama proses keperawatan
3. Perpustakaan : Catatan medis dan mata kuliah keperawatan jiwa

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 2


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
BAB II
KONSEP TEORITIS

A. KONSEP TEORITIS
1. Pengertian
Harga diri rendah (HDR) merupakan perasaan negatif terhadap diri sendiri
termasuk kehilangan rasa percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya,
pesimis , tidak ada harapan dan putus asa (Depkes RI, 2000).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan
diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu
mencapai keinginan sesuai ideal diri (Damaiyanti & Iskandar, 2012).
Gangguan harga diri adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri
yang berkepanjangan akibat evaluasi negative terhadap diri sendiri dan kemampuan diri,
Keliat dalam Kusuma & Nuratif (2016).
Gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi secara:
a. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi,
kecelakaan, dicerai, putus sekolah, PHK, dll.
Pada klien dapat mengalami HDR karena:
- Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya pemeriksaan fisik yang
sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan.
- Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena
dirawat/ sakit/ penyakit.
- Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai
pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, tanpa persetujuan. Kondisi ini
banyak ditemukan pada klien gangguan fisik.
b. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu
sebelum sakit atau dirawat. Klien mempunyai cara berfikir yang negatif.
Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.
Kondisi menyebabkan respon yang maladaptif. Kondisi ini dapat ditemukan
pada klien dengan gangguan fisik kronis atau pada klien gangguan jiwa.
(Nuratif & Kusuma, 2016).

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 3


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
2. Etiologi
Menurut Stuart dalam Damaiyanti & Iskandar (2012), faktor-faktor yang mengakibatkan
harga diri rendah adalah sebagai berikut:
a. Faktor Predisposisi
- Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orangtua, harapan
orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai
tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang
tidak realistis.
- Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah sterotipe peran gender,
tuntutan peran kerja, dan harapn budaya.
- Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidakpercayaan orangtua,
tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial.
b. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi atau stresor pencetus dari munculnya harga dirirendah mungkin
ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti:
- Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga keluarga merasa
malu dan rendah diri
- Pengalaman traumatik berulang seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau
menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, aniaya fisik, kecelakaan,
bencana alam, dan perampokan. Respon terhadap trauma pada umumnya akan
mengubah arti trauma tersebut dan kopingnya adalah represi dan denial.
c. Perilaku
Pengumpulan data yang dilakukan oleh perawat meliputi perilaku yang objektif dan
dapat diamati serta perasaan subjektif dan dunia diri klien sendiri. Perilaku yang
berhubungan dengan harga diri rendah salah satunya mengkritik diri sendiri,
sedangkan kerancuan identitas seperti sifat kepribadian yang bertentangan serta
depersonalisasi.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 4


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
3. Menifestasi
Tanda dan gejala yang muncul pada klien dengan gangguan harga diri rendah sebagai
berikut:
- Mengejek dan mengkritik diri
- Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri
- Mengalami gejala fisik, misalnya: tekanan darah tinggi, gangguan penggunaan zat.
- Menunda keputusan
- Sulit bergaul
- Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas
- Menarik diri dari realitas, cemas, panik, cemburu, curiga, halusinasi
- Merusak diri: harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri hidup
- Merusak/ melukai orang lain.
- Perasaan tidak mampu
- Pandangan hidup yang pesimistis
- Tidak menerima pujian
- Penurunan produktivitas
- Penolakan terhadap kemampuan diri
- Kurang memperhatikan perawatan diri
- Berpakaian tidak rapih
- Berkurang selera makan
- Tidak berani menatap lawan bicara
- Lebih banyak menunduk
- Bicara lambat dengan nada suara lemah
4. Rentang Respons

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi
diri positif rendah identitas

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 5


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
5. Pohon Masalah

Isolasi Sosial
Effect

Harga Diri Rendah kronik


Core Problem

Koping Individu Tidak Efektif


Causa

Gambar
Pohon Masalah Harga Diri Rendah
(Damaiyanti & Iskandar, 2012)

6. Penatalaksanaan
1. Psikoterapi
Terapi kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain,
penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri
lagi karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik.
Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama.
2. Therapy Aktivitas Kelompok
Therapy aktivitas kelompok yang paling relevan dilakukan pada klien dengan
gangguan konsep diri harga diri rendah adalah therapy aktivitas kelompok stimulasi
persepsi. Therapy aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah therapy yang
menggunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman atau
kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok, hasil diskusi kelompok dapat berupa
kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 6


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi terjadi harga diri rendah adalah penolakan orangtua yang
tidak realistis, kegagalan berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi meliputi:
- Konflik peran terjadi apabila peran yang diinginkan individu, sedang
diduduki individu lain.
- Peran yang tidak jelas terjadi apabila individu diberikan peran yang kabur,
sesuai perilaku yang diharapkan.
- Peran yang tidak sesuai terjadi apabila individu dalam proses peralihan
mengubah nilai dan sikap
c. Perilaku
Menurut Stuart (Damaiyanti & Iskandar, 2012), perilaku yang berhubungan
dengan harga diri rendah kronik sebagai berikut:
- Mengkritik diri sendiri dan orang lain
- Penurunan produktivitas
- Destruktif yang diarahkan pada orang lain
- Gangguan dalam berhubungan
- Rasa diri penting yang berlebihan
- Perasaan tidak mampu
- Rasa bersalah
- Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan
- Perasaan negatif tantang tubuhnya sendiri
- Ketegangan peran yang dirasakan
- Pandangan hidup yang pesimis
- Keluhan fisik
- Pandangan hidup yang bertentangan
- Penolakan terhadap kemampuan personal
- Destruktif terhadap diri sendiri

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 7


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
- Pengurangan diri
- Menarik diri secara sosial
- Penyalahgunaan zat
- Menarik diri dan realitas
- Khawatir
d. Sumber Koping
- Aktivitas olahraga dan aktivitas diluar rumah
- Hobi dan kerajianan tangan
- Seni dan ekspresif
- Kesehatan dan perawatan diri
- Pendidikan atau pelatihan
- Pekerjaan, vokasi, atau posisi
- Bakat tertentu
- Kecerdasan
- Imajinasi dan kreativitas
- Hubungan intrapersonal
e. Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek atau jangka
panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri
sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul:
a. Harga diri rendah kronik
b. Koping individu tidak efektif
c. Isolasi sosial

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 8


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
3. Intervensi Keperawatan
Nama Klien : Diagnosa Medis :
Ruang : No. CM :
Perencanaan
Diagnosa Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Gangguan persepsi sensori: 1. Klien dapat membina 1.1 Ekspresi wajah bersahabat, 1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan
halusinasi hubungan saling percaya. menunjukkan rasa senang, mengungkapkan prinsip komunikasi
ada kontak mata, mau terapeutik:
berjabat tangan, mau a. Sapa klien dengan ramah baik verbal
menyebutkan nama, mau maupun non verbal
menjawab salam, klien mau b. Perkenalkan diri dengan sopan
duduk berdampingan dengan c. Tanyakan nama lengkap klien dan
perawat, mau mengutarakan nama panggilan yang disukai klien.
masalah yang dihadapi. d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menempati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan
menerima klien apa adanya
g. Beri perhatian dan perhatikan
kebutuhan dasar klien.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 9


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
2. Klien dapat mengenali 2.1 Klien dapat menyebutkan 2.1.1 Adakah kontak sering dan singkat secara
halusinasi. waktu, isi, frekuensi timbulnya bertahap.
halusinasi 2.1.2 Observasi tingkah laku klien terkait
2.2 Klien dapat mengungkapkan dengan halusinasinya; bicara dan tertawa
perasaan terhadap halusinasi tanpa stimulus, memandang ke kiri atau ke
kanan atau ke depan seolah-olah ada
teman bicara
2.1.3 Bantu klien menggenal halusinasinya
a. Jika menemukan yang sedang
halusinasi, tanyakan apakah ada suara
yang didengar
b. Jika klien menjawab ada, lanjutkan:
apa yang dikatakannya
c. Katakan bahwa perawat percaya klien
mendengar suara itu, namun perawat
sendiri tidak mendengarnya (dengan
nada bersahabat tanpa menuduh atau
menghakimi)
d. Katakan bahwa klien ada juga yang
seperti klien
2.1.4 Diskusikan dengan klien
a. Situsi yang menimbulkan atau tidak
menimbulkan halusinasi
b. Waktu dan frekuensi terjadinya
halusinasi (pagi, siang, sore dan
malam atau jika sendiri, jengkel, atau
sedih)

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 10


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
2.1.5 Diskusikan dengan klien apa yang
dirasakan jika terjadi halusinasi ( marah
atau takut, sedih, senang) beri kesempatan
mengungkapkan perasaannya.

3. Klien dapat mengontrol 3.1 Klien dapat menyebutkan 3.3.1 Mengidentifikasi bersama klien cara
halusinasi tindakan yang biasa dilakukan tindakan yang dilakukan jika terjadi
untuk mengendalikan halusinasi ( tidur, marah, menyibukan
halusinasinya diri, dll)
3.2 Klien dapat menyebutkan kata 3.3.2 Diskusikan manfaat cara yang dilakukan
baru klien, jika bermanfaat beri pujian.
3.3 Klien dapat memilih cara 3.3.3 Diskusikan cara baru untuk memutus atau
mengatasi halusinansi seperti mengontrol halusinasi:
yang telah didiskusikan a. Katakan saya say tidak mau
dengan klien mendengar kamu (pada saat
halusinasi terjadi)
b. Menemui orang lain ( perawata/
teman/ anggota keluarga) untuk
bercakap-cakap atau mengatakan
halusinasi yang terdengar.
c. Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
agar halusinasi tidak muncul.
d. Minta keluarga/teman/perawat jika
nampak bicara sendiri
3.3.4 Bantu klien memilih dan melatih cara
memutus halusinasi secara bertahap

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 11


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
4. Klien dapat dukungan dari 4.1 Klien dapat membina hubungan 4.1.1 Anjurkan klien untuk memberi tahu
keluarga dalam mengontrol saling percaya dengan perawat. keluarga jika mengalami halusinasi
halusinasi 4.2 Keluarga dapat menyebutkan 4.1.2 Diskusikan dengan keluarga (pada saat
pengertian, tanda, dan kegiatan berkunjung/ pada saat kunjungan rumah):
untuk mengendalikan halusinasi a. Gejala halusinasi yang dialami klien.
b. Cara yang dapat dilakukan klien
dengan keluarga untuk memutus
halusinasi.
c. Cara merawat anggota keluarga untuk
memutus halusinasi dirumah, beri
kegiatan, jangan biarkan sendiri,
makan bersama, berpergian bersama.
d. Beri informasi waktu follow up untuk
kapan perlu mendapat bantuan:
halusinasi dan resiko mencederai
orang lain terkontrol.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 12


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
5. Klien dapat memanfaatkan 5.1 Klien dan keluarga dapat 5.1.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga
obat dengan baik menyebutkan manfaat, dosis tentang dosis, frekuensi, manfaat obat
dan efek samping obat. 5.1.2 Anjurkan klien minta sendiri obat pada
5.2 Klien dapat perawat dan merasakan manfaatnya
mendemonstrasikan 5.1.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter
penggunaan obat secara benar tentang manfaat dan efek samping obat
5.3 Klien mendapat informasi yang dirasakan
tentang efek samping obat 5.1.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat
5.4 Klien dapat memahami akibat tanpa konsultasi
berhenti minum obat 5.1.5 Bantu klien menggunakan obat dengan
5.5 Klien dapat menyebutkan prinsip benar.
prinsip 5 benar penggunaan
obat

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 13


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
Strategi Pelaksanaan
SP1P SP1K
1. Mengidentifikasi jenis halusinasi klien 1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan
2. Mengidentifikasi isi halusinasi klien keluarga dalam merawat klien
3. Mengidentifikasi waktu halusinasi klien 2. Memberikan pendidikan kesehatan
4. Mengidentifikasi frekuensi halusinasi tentang pengertian halusinasi, jenis,
klien tanda dan gejala, serta proses halusinasi
5. Mengidentifikasi situasi yang dapat 3. Menjelaskan cara merawat klien dengan
menimbulkan halusinasi klien halusinasi
6. Mengidentifikasi respon halusinasi klien
7. Mengajarkan klien menghardik halusinasi
8. Menganjurkan klien memasukkan cara
menghardik kedalam kegiatan harian
SP2P SP2K
1. Mengevalusia jadwal kegiatan harian 1. Melatih keluarga mempraktikkan cara
klien merawat klien dengan halusinasi
2. Melatih klien mengendalikan halusinasi 2. Melatih keluarga melakukan cara
dengan cara bercakap-cakap dengan orang merawat langsung kepada klien
lain halusinasi
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegiatan harian
SP3P SP3K
1. Mengevalusia jadwal kegiatan harian 1. Membantu keluarga membuat jadwal
klien aktivitas dirumah termasuk minum obat
2. Melatih klien mengendalikan halusinasi 2. Menjelaskan follow up klien setelah
dengan cara melakukan kegiatan pulang
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegiatan harian
SP4P
1. Mengevalusia jadwal kegiatan harian
klien
2. Memberikan penkes tentang penggunaan
obat secara teratur
3. Menganjurkan klien memasukkan
kedalam jadwal kegiatan harian

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 14


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN
DIAGNOSA HARGA DIRI RENDAH

STRATEGI PELAKSANAAN SP1P BHSP


(Bina Hubungan Saling Percaya)

Nama : Tn. S
Pertemuan : Pertama
Tanggal : 05 juni 2017
Jam : 09:30 Wita

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Ds:
Do:
2. Diagnosa Keperawatan :
3. Tujuan Khusus : Klien Mampu Membina Hubungan Saling Percaya
4. Tindakan Keperawatan :
a. Mengucapkan salam terapeutik
b. Memperkenalkan diri
c. Menjelaskan tujuan interaksi
d. Menciptakan lingkungan yang tenang
e. Membuat kontrak yang jelas
f. Menyakinkan bahwa kerahasiaan pasien senantiasa terjaga
g. Meyakinkan harapan terhadap pertemuan
B. Strategi Pelaksanaan
1. Orientasi
Assalamualaikum pak, perkenalkan nama saya suster Novita Sari,dan senang
dipanggil Novi. Nama bapak siapa? Dan senang di panggil apa? Bagaimana
perasaan bapak pagi ini? Pagi ini saya ingin berkenalan dengan bapak, bapak mau
berbincang-bincang dimana? Bagaimana kalau disini saja? Berapa lama kita bisa
berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit? Bapak jangan khawatir tentang
informasi yang bapak berikan,saya akan menjaga kerahasiaannya,dan saya tidak
bilang ke orang lain tanpa seizin bapak.
2. Kerja.
Apa yang bapak harapkan setelah kita berkenalan tadi?
3. Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berkenalan tadi? Bisa bapak ceritakan
kembali pertemuan kita tadi? Bagus sekali pak. Besok kita berbincang-bincang
tentang apa yang bapak rasakan dan keluhkan bapak ya? Tempatnya bapak mau
dimana? Berapa lama? Kalau 15 menit bagaiamana? Baik sampai ketemu besok ya
pak!!

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 15


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN
SP1P BHSP (Bina Hubungan Saling Percaya)

Nama : Tn. S
Pertemuan : Pertama
Tanggal : 05 - 06 2017
Jam : 09:30 Wita

Hasil :
S:
- Klien mengatakan waalaikum salam
- Klien mengatakan namanya S
- Klien mengatakan mau berbincang-bincang
- Klien mengatakan di tempat ini saja
- Klien mengatakan perasaannya senang/tenang
O:
- Klien kooperatif
- Perasaan berubah-ubah
- Isi pembicaraan inkoheren
A:
- SP1P BHSP Berhasil
- Klien mampu membina hubungan saling percaya
P:
Perawat:
- Evaluasi SP 1 BHSP
- Lanjutkan SP 2 BHSP
Pasien:
- Anjurkan klien untuk mengingat pertemuan pertama.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 16


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
STRATEGI PELAKSANAAN SP 2 BHSP
(PENGKAJIAN )

Nama : Tn. S
Pertemuan : Kedua
Tanggal : 06 - 06 2017
Jam : 15:00 Wita

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi klien:
Ds:
- Klien mengatakan waalaikum salam
- Klien mengatakan namanya S
- Klien mengatakan mau berbincang-bincang
- Klien mengatakan di tempat ini saja
- Klien mengatakan perasaannya senang/tenang
DO:
- Klien kooperatif
- Perasaan berubah-ubah
- Isi pembicaraan inkoheren
2. Diagnosa Keperawatan :
3. Tujuan Khusus :
Mampu mengungkapkan perasaan dan keluhannya dan pasien mampu membina
hubungan saling percaya
4. Tindakan Keperawatan:
a. Mengevaluasi SP1BHSP
b. Mendorong dan memberi kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
c. Mengdengarkan ungkapan pasien dengan empati
d. Melakukan pengkajian data
e. Mengorientasikan kegiatan sehari-hari
f. Mengidentifikasi masalah pasien

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 17


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
B. Strategi Pelaksanaan
1. Orientasi
Selamat pagi Tn. S ,masih ingat dengan saya? Nama saya siapa? Sesuai dengan
janji saya kemarin kalo saat ini kita akan berbincang-bincang tentang apa yang
bapak rasakan,bapak mau bicara dimana?
2. Kerja
Bagaimana perasaan bapak saat ini? Bisa bapak ceritakan sama saya, apakah
sebelumnya bapak sudah pernah dirawat di rumah sakit ini dan sudah berapa kali
bapak dibawah kemari? Apa yang menyebabkan bapak dibawah ke rumah sakit ini?
Saat dirumah apa yang bapak lakukan, apa mungkin bapak pernah mengamuk dan
memukul? Tapi katanya dirumah Bapak mengamuk? Kalau bapak mengamuk, apa
yang keluarga bapak lakukan saat itu dan saat di rumah bapak pernah dipukul atau
dipasung? Apakah bapak pernah merasa ditolak atau dijauhi oleh orang disekitar
tempat tinggalnya?
Bagaimana hubungan bapak dengan keluarga dan siapa yang paling dekat atau yang
paling berarti bagi Bapak? Bapak berapa bersaudara, berapa perempuan dan laki-
laki? Bapak anak keberapa? Apakah saudaranya masih hidup semua?
Ayah dan ibu bapak berapa bersaudara? Dan apakah ayah dan ibu, bapak masih
hidup? Kalau kakek dan neneknya masih hidup?bagaimana keluarganya, apakah ada
yang pernah dirawat dirumah sakit ini dengan masalah kejiwaan?
Menurut bapak anggota tubuhnya yang mana paling tidak disukai ?
Mengapa Bapak tidak suka dengan kaki dan tangan bagian kanan bapak?
Menurut Bapak, Bapak itu orangnya bagaimana?
Kan, bapak sudah menikah ini, apa peran bapak dirumah?Apa yang bapak inginkan
saat ini? Apakah bapak mempunyai rasa ke khawatiran?
Saat berada ditempat tinggal apakah bapak biasa mengikuti kegiatan kelompok?
Kenapa bapak tidak ikut kegiatan kelompok?
Kalau boleh tahu bapak beragama apa? Bapak biasa sholat?
Apakah bapak pernah mendengar suara-suara yang tidak tahu dari mana asalnya?
3. Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang? Bisa bapak ceritakan
kembali tentang apa yg kita bicarakan tadi? Bagaimana kalau kita mendiskusikan
hal positif yang dapat bapak lakukan,dan kegiatan-kegiatan yang masih dapat bapak
lakukan ditempat ini? Bagaimana kalau kita bertemu besok siang? Dimana
tempatnya? Bagaimana kalau ditempat ini saja?

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 18


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
EVALUASI HASIL PELAKSANAAN
SP2P BHSP (Pengkajian)

Nama : Tn. S
Pertemuan : Kedua
Tanggal : 06-06-2017
Jam :1700

Hasil:
S : Klien mengatakan :
1. Selamat pagi
2. Iya masih ingat dengan suster novi
3. Perasaan saya baik
4. Sudah pernah suster, sudah 3 kali saya dibawah kemari
5. Tidak tahu suster, saya tidak ingat
6. Tidak suster saya tidak mengamuk dan memukul saat dirumah
7. Saya pernah dipasung dirumah suster
8. Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga saya karena saya dianggap gila
9. Saya dengan keluarga saya baik, yang paling berarti bagi saya saudara laki-laki
saya yang ke empat dan adik paling bungsu, adik perempuan saya.
10. Saya 5 bersaudara, 4 laki-laki dan 1 perempuan.
11. Saya anak ke tiga
12. Ia, masih hidup
13. Ayah saya 4 bersaudara, ibu saya 3 bersaudara, ayah dan ibu saya sudah
meninggal suster.
14. Kakek dan nenek saya sudah tidak ada suster.
15. Dalam keluarga saya hanya saya yang dirawat di rumah sakit ini, dan tidak ada
anggota keluarga saya yang mengalami gangguan jiwa.
16. Saya menyukai semua anggota tubuh saya tetapi saya tidak suka dengan
tangan kanan dan kaki kanan saya
17. Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya karena kaki kananku pincang,
dan tangan kananku sulit untuk digerakkan karena kecelakaan motor.
18. Saya seorang laki-laki yang sudah menikah suster
19. Saya seorang kepala keluarga dan seorang ayah bagi anak saya.
20. Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan ingin membiayai
kebutuhan hidup keluarga saya, namun saya sudah tidak berdaya dengan
kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat ini berada dirumah sakit.
Dan saya berharap agar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah
21. Saya merasa khawatir suster, jika istri saya akan meninggalkan saya dengan
keadaan yang seperti ini.
22. Saya tidak pernah ikut kegiatan kelompok suster
Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 19
Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
23. Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya dianggap orang gila
dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
24. Saya beragama islam suster
25. Saat saya dirumah saya biasa sholat tapi saat disini saya tidak pernah sholat
26. Tidak suster saya tidak pernah mendengar suara-suara.
27. Perasaan saya setelah berbincang-bincang merasa nyaman, disini saya seperti
diperhatikan.
28. Saya bersedia berbincang-bincang lagi dengan suster
O:
1. Pada saat ditanya klien mau menjawab pertanyaan (koperatif)
2. Penampilan klien bersih dan rapi,berpakaian seperti biasa
3. Pembicaraan klien inkoheren /tidak nyambung
4. Afek labil
5. Catatan medis: klien putus obat
6. Klien mampu berpakaian sendiri
7. Klien makan dan minum sendiri
8. Klien nampak tidak berhalusinasi
9. Klien tidak tenang dalam ruangan
10.Klien mandi 2 kali sehari, mengganti baju setelah mandi dengan perintah
perawat, klien belum mampu melakukan kegiatan ini atas inisiatif sendiri
11. BAB dan BAK secara mandiri
12. Saat wawancara klien berbicara lancar tetapi pembicaraan tidak terarah dan
selalu berpindah ke pembicaraan yang lain, serta selalu membicarakan sisi
negatif yang ada pada dirinya.
A: SP 2 BHSP Berhasil dengan kriteria :
1. Klien mampu mengungkapkan perasaan dan keluhannya
2. Klien mampu membina hubungan saling percaya

P:
Perawat :
- Evaluasi SP1 BHSP dan SP2 BHP
- Lanjut SP1P Harga Diri Rendah
Pasien :
- Anjurkan pasien untuk mengingat pertemuan 1 dan 2
- Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan dan keluhannya.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 20


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
PENGKAJIAN KEPERAWATAN JIWA
Ruang rawat : R. Salak
No.RM : 04 773
Tgl.masuk : 20 Juni 2017
Tgl.pengkajian : 05 Juni 2017
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn.S
Umur : 42 tahun
Jenis kelamin : Laki laki
Agama : Islam
Suku : Bugis
Alamat : Ds. Parilangke, Morowali
2. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn. S
Umur : 48 tahun
Jenis kelamin : Laki laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Bungku
Hubungan dengan klien : Saudara kandung
3. Alasan Masuk Rumah Sakit
a. Keluhan Utama
Saat dilakukan pengkajian didapatkan data bahwa klien mengatakan tidak
mengamuk dirumah, namun dalam catatan medis didapatkan data bahwa Klien
mengamuk di rumah.
b. Riwayat Keluhan Utama
Klien masuk RS Madani pada tanggal 20 Mei 2017 karena di rumah klien
mengamuk dan memukul orang, 5 hari sebelum klien masuk rumah sakit. Karena
klien memukul orang, keluarganya memasung klien sehari sebelum masuk rumah
sakit, dan kemudian keluarganya memutuskan untuk membawa klien ke rumah
sakit Madani.
c. Keluhan Saat Dikaji
Klien mengatakan:
1) Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya karena kaki kananku pincang,
dan tangan kananku sulit untuk digerakkan karena kecelakaan motor
2) Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga saya karena saya dianggap gila
3) Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya dianggap orang
gila dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 21


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
4) Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan ingin membiayai
kebutuhan hidup keluarga saya, namun saya sudah tidak berdaya dengan
kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat ini berada dirumah sakit.
Dan saya berharap agar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah
Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah
4. Faktor Predisposisi
a. Dimasa lalu klien pernah mengalami gangguan jiwa dan sudah 3 kali dirawat di
rumah sakit Madani, berdasarkan catatan medis: klien terakhir dirawat pada bulan
Oktober 2016, dan masuk lagi pada tanggal 20 Mei 2017, dengan menunjukan
gejala gangguan jiwa seperti; gelisah, mengamuk, bahkan sampai memukul
orang.
Masalah Keperawatan : Mekanisme Koping Tidak Efektif
b. Riwayat Pengobatan
Dalam catatan medis: Sebelumnya klien sudah pernah mendapatkan pengobatan
tapi kurang berhasil, disebabkan karena klien putus obat. Klien terakhir kontrol
pada bulan Oktober 2016, dan setelah itu sudah tidak pernah kontrol lagi.
Masalah Keperawatan : Regiment Terapeutik In Efektif
c. Trauma
1) Aniaya fisik
Klien mengatakan ia pernah dipasung di rumah sebelum dibawa ke rumah
sakit Madani.
Masalah Keperawatan: Respon Pasca Trauma
2) Penolakan
Klien mengatakan Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena
saya dianggap orang gila dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
Masalah Keperawatan: Harga Diri Rendah
3) Kekerasan dalam rumah tangga
Klien mengatakan: Tidak suster saya tidak mengamuk dan memukul saat
dirumah
4) Tindakan kriminal
Berdasarkan catatan medis : Klien pernah melakukan pemukulan
Masalah Keperawatan : Resiko Prilaku Kekerasan
5) Dalam anggota keluarga klien, tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.
6) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Klien mengatakan ia pernah dipasung sebelum dibawa masuk ke rumah sakit
Madani.
Masalah Keperawatan : Respon Pasca Trauma
5. Pemeriksaan Fisik
Tanda tanda vital : Tekanan darah : 120 / 80 MmHg
Nadi : 84x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu badan : 36,50c
Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 22
Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
6. Psikososial
a) Konsep diri
1) Citra tubuh
Klien mengatakan Saya menyukai semua anggota tubuh saya tetapi saya
tidak suka dengan tangan kanan dan kaki kanan saya
2) Identitas diri
Klien mengatakan ia anak ke 3 dari 5 bersaudara, yang terdiri dari 4 laki
laki, dan 1 perempuan.
3) Peran
Klien mengatakan
Saya seorang laki-laki yang sudah menikah suster
Saya seorang kepala keluarga dan seorang ayah bagi anak saya.
4) Ideal diri
Klien mengatakan Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan
ingin membiayai kebutuhan hidup keluarga saya, namun saya sudah tidak
berdaya dengan kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat ini
berada dirumah sakit. Dan saya berharap agar cepat sembuh dan bisa pulang
ke rumah
5) Harga diri
Klien mengatakan:
Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya karena kaki kananku
pincang, dan tangan kananku sulit untuk digerakkan karena
kecelakaan motor.
Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya dianggap
orang gila dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
b) Hubungan sosial
1) Orang yang berarti
Klien mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah adiknya laki
laki yang ke 4 dan adik perempuannya yang ke- 5.
2) Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat
Klien tidak pernah mengikuti kegiatan kelompok.
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan: Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena
saya dianggap orang gila dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
Masalah keperawatan : Kerusakan Interaksi Sosial
c) Spiritual
1) Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan ia beragama Islam, dan penyakitnya ini tidak ada
hubungan dengan keyakinan yang dianutnya.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 23


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
2) Kegiatan ibadah
Klien mengatakan: Saat saya dirumah saya biasa sholat tapi saat disini saya
tidak pernah sholat
7. Status Mental
a) Penampilan
Penampilan klien bersih dan rapi, berpakaian seperti biasa. klien mandi 2 kali
sehari, dan mengganti baju setelah mandi dengan perintah perawat, klien belum
mampu melakukan atas inisiatif sendiri
Masalah keperawatan: Defisit Perawatan Diri (Mandi)
b) Pembicaraan
Pembicaraan klien inkoheren
Inkoheren adalah: Pembicaraan dimana satu kalimat sulit dipahami maksudnya,
isi pembicaraan tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang sedang dibicarakan,
dibuktikan dengan hasil:
Klien biasanya bercakap-cakap dengan baik namun tiba-tiba pembicaraan lain
yang dijawab
Masalah keperawatan: Kerusakan Komunitas Verbal
c) Akifitas motorik
Klien tidak tenang dalam ruangan
d) Alam perasaan
Klien mengatakan: Saya merasa khawatir suster, jika istri saya akan
meninggalkan saya dengan keadaan yang seperti ini.
Masalah keperawatan: Ansietas
e) Afek
Afek klien labil, labil adalah emosi yang sangat cepat berubah-ubah tanpa suatu
pengendalian yang baik dibuktikan dengan:
mood klien berubah-ubah, klien mau mendengarkan nasihat perawat namun tiba-
tiba tidak peduli.
Masalah keperawatan: Resiko Perilaku Kekerasan.
f) Interaksi sesama wawancara
Klien kooperatif saat wawancara tapi pembicaraan kadang tidak terarah, klien
kadang beralih ke pembicaraan yang lain (pembicaraan klien inkoheren)
Masalah keperawatan: Kerusakan Komunikasi Verbal
g) Persepsi
Pada saat dikaji klien tidak mendengar suara suara bisikan dan klien nampak
tidak berhalusinasi
Masalah keperawatan: -
h) Isi pikir
Klien mengatakan: Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya
dianggap orang gila dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
Masalah keperawatan: Perubahan Proses Pikir

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 24


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
i) Arus pikir
Saat wawancara klien berbicara lancar tetapi pembicaraan tidak terarah dan selalu
berpindah ke pembicaraan yang lain. Serta selalu membicarakan sisi negatif yang
ada pada dirinya (arus pikir sirkumtansial)
Masalah keperawatan: Perubahan Proses Pikir
j) Tingkat kesadaran
Kesadaran composmentis, klien dapat mengenal orang, tempat dan waktu
dibuktikan dengan:
Klien tahu ia berada di RS jiwa,klien tahu saat ini adalah pagi hari dan klien
dapat mengenal perawat diruangan
Masalah keperawatan :-
k) Memori
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat baik jangka panjang maupun jangka
pendek dibuktikan dengan:
- Klien masih ingat masa lalunya
- Klien masih ingat berapa ia bersaudara
- Kilen masih ingat nama suster yang diruangan
Masalah keperawatan: -
l) Tingkat kosentrasi dan berhitung
Tingakat kosentrasi adalah kemampuan klien untuk memperhatikan selama
wawancara, kosentrasi klien cukup baik dibuktikan dengan:
Klien mampu berhitung dari satu sampai seterusnya
Masalah kepererawatan: -
m) Kemampuan penilaian
Klien mampu mengambil keputusan yang sederhana dan perlu motivasi, misalnya
diberikan kesempatan untuk memilih cuci tangan atau makan dulu atau berdoa
dulu.
Masalah keperawatan : -
n) Daya tilik diri
Daya tilik diri merupakan pemahaman klien tentang suatu penyakit atau
gangguan, dibuktikan dengan :
Klien tidak mengingkari penyakit yang saat ini dideritanya dan ia tahu bahwa
dirinya sedang dirawat di RS Madani ruang Salak.
Masalah keperawatan : -
8. Kebutuhan Persiapan Pulang
a) Makanan
Bantuan minimal klien mampu makan sendiri, makan 3 kali sehari
b) BAB/BAK
Klien mampu BAB/BAK secara mandiri dan dilakukan di kamar mandi
c) Mandi
Klien mampu mandi secara mandiri dan memakai sabun, sikat gigi dan cuci
rambut jika di suruh perawat.
Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 25
Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
d) Berpakaian / berhias
Klien mampu memakai pakaian secara mandiri dan menyisir rambut dengan baik
e) Istrahat dan tidur
Tidur siang klien tidak menentu, tidur malam setelah selesai minum obat
f) Penggunaan Obat.
Dalam penggunaan obat klien masih di awasi.
g) Pemeliharaan kesehatan
Klien memerlukan perawatan lanjut yaitu klien harus rutin minum obat dan
kontrol ke dokter jiwa
h) Kegiatan dalam rumah
Dalam melakukan aktivitas dalam rumah klien memerlukan bantuan minmal dan
klien dapat melakukan pekerjaan yaitu mengatur kursi, membersihkan meja
makan dan mengatur tempat makan setelah selesai makan.
i) Kegiatan diluar rumah dalam melakukan aktivitas diluar rumah klien
memerlukan bantuan minimal, klien suka kerja
9. Mekanisme Koping
Saat klien menghadapi masalah ia tidak mampu menghadapinya dan ia bercerita
dengan adik laki-lakinya, jika tidak ada jalan keluar klien marah-marah dan
mengamuk.
Masalah keperawatan : Koping Individu Inefektif.
10. Masalah Psikososial dan Lingkungan
a. Masalah dengan lingkungan kelompok
Sebelum sakit klien tidak mengikuti kegiatan kelompok
b. Masalah berhubungan dengan lingkunganya
Saat dilingkungan rumah,klien merasa tidak diperdulikan dan orang-orang
menjauhinya, tetapi pada saat berada dilingkungan RS klien justru merasa
diperhatikan.
c. Masalah dengan pendidikan
Klien tamatan SMP
d. Masalah dengan pekerjaan
Saat ini klien tidak dapat bekerja karena keadaan tangan kanannya yang sulit
digerakan dan kedaan klien yang sakit
e. Masalah ekonomi
Saat ini klien merasa bermasalah dengan keadaan ekonomi karena tidak bisa
bekerja lagi.
f. Masalah dengan perumahan
Klien tinggal serumah dengan istri dan anaknya, tidak ada masalah soal tempat
tinggal.
g. Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien sulit untuk kontrol di poli jiwa oleh karena jarak yang jauh dan klien jarang
memeriksakan dirinya ke puskesmas

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 26


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
11. Pengetahuan Kurang tentang
a) Pengetahuan kurang tentang sakit jiwa
Klien tahu bahwa saat ini dirawat di rumah sakit jiwa
b) Pengetahuan kurang tentang sistem pendukung
Sistem pendukung terdiri dari keluarga, teman,fasilitas puskesmas,terapi dan
kelompok sosial
c) Pengetahuan kurang tentang mekanisme koping
Mekanisme koping merupakan suatu pola untuk menahan ketegangan yang
mengancam dirinya (pertahanan diri) untuk menyelesaikan masalah yang
dibuktikan dengan klien bertanya apa itu mekanisme koping.
d) Pengetahuan kurang tentang faktor presipitasi
Faktor presipitasi merupakan faktor yang memberatkan atau memperarah dimana
individu dianggap tantangan, ancaman,tuntutan dan memerlukan energi ekstra
untuk mengatasi.
e) Pengetahuan kurang tentang obat-obatan
Klien tidak mengetahui nama-nama obat yang di konsumsi.
Masalah keperawatan : Kurang Pengetahuan.
12. Aspek Medik
a. Diagnosa medis : Skizofrenia Tak Terinci
b. Therapy medis :
clohropromazine 100 mg / 0-0-1/2
Tanggal 20/5/2017 :Hallopendol 2,5 mg/ 1-0-1
Thd1mg/1-0-1
Therapy tgl 31/5/17 :Trifiueperazine 5 mg
Trihesipenidil 2 mg Capsul 1-0-1
Diazepam 5 mg /0-01

13. Daftar masalah :


a) Harga diri rendah
b) Mekanisme koping tidak efektif
c) Regiment terapeutik in efektif
d) Respon pasca trauma
e) Kerusakan interaksi sosial
f) Resiko perilaku kekerasan
g) Kerusakan komunikasi verbal
h) Perubahan proses pikir
i) Devisit perawatan diri
j) Ansietas
k) Kurang pengetahuan

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 27


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
B. Pengumpulan Data
1) Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya karena kaki kananku pincang,
dan tangan kananku sulit untuk digerakkan karena kecelakaan motor
2) Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga saya karena saya dianggap gila
3) Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya dianggap orang gila
dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
4) Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan ingin membiayai
kebutuhan hidup keluarga saya, namun saya sudah tidak berdaya dengan
kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat ini berada dirumah sakit.
Dan saya berharap agar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah
5) klien pernah mengalami gangguan jiwa dan sudah 3 kali dirawat di rumah sakit
Madani
6) klien sudah pernah mendapatkan pengobatan tapi kurang berhasil, disebabkan
karena klien putus obat.
7) Klien mengatakan ia pernah dipasung di rumah sebelum dibawa ke rumah sakit
Madani.
8) Penampilan klien bersih dan rapi, berpakaian seperti biasa. klien mandi 2 kali
sehari, dan mengganti baju setelah mandi dengan perintah perawat, klien belum
mampu melakukan atas inisiatif sendiri
9) Pembicaraan klien inkoheren
10) Afek labil
11) Klien tidak tenang didalam ruangan
12) Saya merasa khawatir suster, jika istri saya akan meninggalkan saya dengan
keadaan yang seperti ini.
13) Klien mengamuk dirumah
14) Klien pernah melakukan pemukulan
15) Klien tidak pernah mengikuti kegiatan kelompok
16) Arus pikir sirkumstansial
17) Sikat gigi dan cuci rambut bila disuruh perawat
18) Klien pernah melakukan pemukulan
19) saya menyukai semua anggota tubuh saya tetapi saya tidak suka dengan tangan
kanan dan kaki kanan saya
20) Klien sulit untuk kontrol di poli jiwa oleh karena jarak yang jauh dan klien
jarang memeriksakan dirinya ke puskesmas.
21) Penggunaan obat klien masih diawasi

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 28


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
C. Klasifikasi Data
Data Subjektif:
Klien mengatakan:
1) Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya karena kaki kananku pincang,
dan tangan kananku sulit untuk digerakkan karena kecelakaan motor
2) Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga saya karena saya dianggap gila
3) Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya dianggap orang gila
dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
4) Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan ingin membiayai
kebutuhan hidup keluarga saya, namun saya sudah tidak berdaya dengan
kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat ini berada dirumah sakit.
Dan saya berharap agar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah
5) klien pernah mengalami gangguan jiwa dan sudah 3 kali dirawat di rumah sakit
Madani
6) Klien mengatakan ia pernah dipasung di rumah sebelum dibawa ke rumah sakit
Madani.
7) Klien tidak pernah melakukan kegiatan kelompok
8) saya menyukai semua anggota tubuh saya tetapi saya tidak suka dengan tangan
kanan dan kaki kanan saya
9) Klien sulit untuk kontrol di poli jiwa oleh karena jarak yang jauh dan klien
jarang memeriksakan dirinya ke puskesmas.
10) Saya merasa khawatir suster, jika istri saya akan meninggalkan saya dengan
keadaan yang seperti ini.
Data Objekti :
1. Pembicaraan klien inkoheren
2. Afek labil
3. Klien tidak tenang didalam ruangan
4. Arus pikir klien simkumstansial
5. Penampilan klien bersih dan rapi, berpakaian seperti biasa. klien mandi 2 kali
sehari, dan mengganti baju setelah mandi dengan perintah perawat, klien belum
mampu melakukan atas inisiatif sendiri
6. Sikat gigi dan cuci rambut bila disuruh perawat
7. klien sudah pernah mendapatkan pengobatan tapi kurang berhasil, disebabkan
karena klien putus obat.
8. Klien mengamuk dirumah
9. Klien pernah melakukan pemukulan
10. Penggunaan obat klien masih diawasi

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 29


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
D. Analisa Data
No Data Masalah
1 Data subjektif
1. Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya Harga diri rendah
karena kaki kananku pincang, dan tangan
kananku sulit untuk digerakkan karena
kecelakaan motor
2. Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga
saya karena saya dianggap gila
3. Saya merasa malu bertemu dengan orang lain,
karena saya dianggap orang gila dan saya juga
malu dengan kondisi tubuh saya ini.
4. Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang
baik dan ingin membiayai kebutuhan hidup
keluarga saya, namun saya sudah tidak berdaya
dengan kondisi tangan dan kaki saya saat ini.
Serta saya saat ini berada dirumah sakit. Dan
saya berharap agar cepat sembuh dan bisa
pulang ke rumah
5. saya menyukai semua anggota tubuh saya
tetapi saya tidak suka dengan tangan kanan dan
kaki kanan saya

Data subjektif :
1. Efek labil
2. Pembicaraan klien inkoheren
3. Klien tidak tenang didalam ruangan
4. Arus pikir klien sirkumstansial
2. Data subjektif :

klien pernah mengalami gangguan jiwa dan sudah 3 Mekanisme koping tidak efektif
kali dirawat di rumah sakit Madani
Data objektif:
1. afek labil
2. Pembicaraan inkoheren
3. Klien mengamuk dirumah
4. Klien pernah melakukan pemukulan

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 30


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
3. Data subjektif: Regimen terapeutik in efekti
Klien sulit untuk kontrol di poli jiwa oleh karena
jarak yang jauh dan klien jarang memeriksakan
dirinya ke puskesmas.

Data Objektif:
1. Klien sudah pernah mendapatkan
pengobatan tapi kurang berhasil, disebabkan
karena klien putus obat.
2. Penggunaan obat klien masih diawasi
4 Data subjektif Respon pasca trauma
Klien mengatakan ia pernah dipasung dirumah
sebelum dibawah ke rumah sakit madani

Data objektif
1. Afek labil
2. Klien tidak tenang didalam ruangan

5 Data subjektif Kerusakan interaksi sosial


1. saya merasa malu bertemu dengan orang lain,
karena saya dianggap orang gila dan saya
malu dengan kondisi tubuh saya
2. Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga
saya karena saya dianggap gila
3. Klien tidak pernah mengikuti kegiatan
kelompok
Data Objektif:
1. Pembicaraan inkoheren
2. Afek labil
3. Arus pikir klien sirkumstansial

6. Data subjektif Kerusakan komunikasi verbal


Saya merasa malu bertemu dengan orang lain,
karena saya dianggap orang gila dan saya malu
dengan kondisi tubuh saya

Data objektif:
1. Afek labil
2. Pembicaraan klien inkoheren
3. Arus pikir klien sirkumstansial

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 31


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
7 Data Subjektif: Resiko perilaku kekerasan
1. Klien pernah mengalami gangguan jiwa dan
sudah 3 kali dirawat dirumah sakit madani
2. Klien mengatakan ia pernah dipasung
dirumah sebelum dibawah kerumah sakit
madani
Data Objektif:
1. Afek labil
2. Klien tidak tenang didalam ruangan
3. Klien mengamuk dirumah
4. Klien pernah melakukan pemukulan

8 Data subjektif: Perubahan proses pikir


Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik
dan ingin membiayai kebutuhan hidup keluarga
saya, namun saya sudah tidak berdaya dengan
kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat
ini berada dirumah sakit. Dan saya berharap agar
cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah

Data objektif:
1. Afek labil
2. Arus pikir klien sirkumstansial

9 Data subjektif: - Defisit perawat diri


Data objektif:
1. Penampilan klien bersih dan rapi,
berpakaian seperti biasa. klien mandi 2 kali
sehari, dan mengganti baju setelah mandi
dengan perintah perawat, klien belum
mampu melakukan atas inisiatif sendiri
2. Sikat gigi dan cuci rambut bila disuruh

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 32


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
E. Pohon Masalah
Efek ............................... Resiko Perilaku Kekerasan

Core Problem................ Harga Diri Rendah

Defisit Perawatan Diri Kerusakan Interaksi Sosial

Cause................................ Ganguan Proses Pikir

Kerusakan Komunikasi Verbal


Koping Individu In Efektif

Respon Pasca Trauma Regiment Terapeutik In Efektif

Kurang Pengetahuan

F. Prioritas Masalah
1. Harga Diri Rendah

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 33


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATAN
Harga diri rendah 1) Mengidentifikasi Setelah pertemuan klien mampu: SP1P:
kemampuan dan aspek 1) Mengidentifikasi aspek 1. Identifikasi kemampuan positif yang dimiliki
positif yang dimiliki positif yang dimiliki. 1.1 diskusikan bahwa pasien masih memiliki
2) Menilai kemampuan 2) Memiliki kemampuan yang sejumlah kemampuan dan aspek positif
yang dapat digunakan dapat digunakan seperti kegiatan pasien dirumah adanya
3) Menetapkan/memilih 3) Memilih kegiatan sesuai keluarga dan lingkungan terdekat pasien.
kegiatan yang sesuai kemampuan 1.2 Beri pujian yang realistis dan hindarkan
dengan kemampuan 4) Melakukan kegiatan yang setiap kali bertemu dengan pasien penilaian
4) Melatih kegiatan yang sudah dipilih yang negatif.
sudah dipilih sesuai 5) Merencanakan kegiatan yang 2. Nilai kemampuan yang dapat dilakukan saat ini
kemampuan sudah dipilih 2.1 diskusikan dengan pasien kemampuan yang
5) Merencanakan kegiatan masih digunakan saat ini.
yang sudah dilatihnya. 2.2 Bantu pasien menyebutkan dan memberi
penguatan terhadap kemampuan diri yang
diungkapkan pasien
2.3 Perlihatkan respon yang kondusif dan
menjadi pendengar yang aktif.
3. Pilih kemampuan yang akan dilatih.
3.1 diskusikan dengan pasien beberapa aktivitas
yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai
kegiatan yang akan pasien lakukan sehari-
hari.
3.2 Bantu pasien menetapkan aktivitas mandi
yang dapat pasien lakukan secara mandiri.
3.3 Aktivitas yang memerlukan bantuan
minimal dari keluarga.
3.4 Aktivitas apa saja yang perlu bantuan penuh

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 34


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
dari keluarga atau lingkungan terdekat
pasien.
3.5 Beri contoh cara pelaksanaan aktivitas yang
dapat dilakukan pasien.
3.6 Susun, bersama pasien aktivitas atau
kegiatan sehari-hari.
4. Nilai kemampuan pertama yang telah di pilih.
4.1 diskusikan dengan pasien untuk menetapkan
untuk kegiatan (yang sudah dipilih pasien)
yang akan dilatih.
4.2 Bersama pasien dan keluarga
memperagakan beberapa kegiatan yang
akan dilakukan pasien.
4.3 Beri dukungan atau pujian yang nyata
sesuai kemajuan yang diperlihatkan pasien.
5. Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien
5.1 beri kesempatan pada pasien untuk mencoba
kegiatan.
5.2 Beri pujian atas aktivitas/ kegiatan yang
daapat dilakukan pasien setiap hari.
5.3 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi
dan perubahan sikap.
5.4 Susun daftar aktivitas yang sudah dilatih
bersama pasien dan keluarga.
5.5 Beri kesempatan mengungkapkan
perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan,
yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap
aktivitas yang dilakukan pasien.
SP 2 P :
1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 35


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
2. Pilih kemampuan kedua yang dapat
dilakukan.
3. Latih kemampuan yyang dipilih.
4. Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien.

SP 3 P :
1. Evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan SP2)
2. Memilih kemampuan ketiga yang dapat
dilakukan.
3. Masukkan dalam jadwal kegiatan pasien.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 36


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
STRATEGI PELAKSANAAN
SPIP HARGA DIRI RENDAH

Nama : Tn. S
Pertemuan : III
Tanggal : 07/06/2017
Waktu : 1000

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Pasien
Ds:
Klien mengatakan :
1. Saya merasa malu dengan keadaan tubuh saya karena kaki kananku pincang,
dan tangan kananku sulit untuk digerakkan karena kecelakaan motor
2. Ia suster, saya merasa dijauhi oleh tetangga saya karena saya dianggap gila
3. Saya merasa malu bertemu dengan orang lain, karena saya dianggap orang gila
dan saya juga malu dengan kondisi tubuh saya ini.
4. Saya ingin menjadi kepala rumah tangga yang baik dan ingin membiayai
kebutuhan hidup keluarga saya, namun saya sudah tidak berdaya dengan
kondisi tangan dan kaki saya saat ini. Serta saya saat ini berada dirumah sakit.
Dan saya berharap agar cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah
5. saya menyukai semua anggota tubuh saya tetapi saya tidak suka dengan tangan
kanan dan kaki kanan saya
Do:
1. Efek labil
2. Pembicaraan klien inkoheren
3. Klien tidak tenang didalam ruangan
4. Arus pikir klien sirkumstansial
2. Diagnosa Keperawatan : Harga Diri Rendah
3. Tujuan
a) Klien dapat mengidentifikasi dan mendiskusikan askep positif dan
kemampuan yang dimiliki
b) Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan
c) Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki.
Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 37
Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
4. Tindakan Keperawatan
a) Klien mampu mendiskusikan aspek positif dan kemampuan yang dimiliki
b) Menilai kemampuan yang dimiliki
c) Merencanakan kegiatan sesuai kemampuan

B. Strategi Pelaksanaan
Fase Orientasi :
Selamat pagi pak S, masih ingat dengan saya? Nama saya siapa? Bagaimana
keadaan Bapak saat ini? Sesuai dengan janji kita kemarin, saat ini kita akan bercakap-
cakap tentang kemampuan dari kegiatan yang dapat Bapak lakukan, setelah itu kita
akan nilai kegiatan apa lagiyang masih bapak dapat lakukan, setelah kita nilai, kita
akan pilih satu kegiatan untuk kita latih.
Dimana kita duduk? Bagaimana kalau dikursi panjang itu? Bereapa lama?
Bagaimana kalau 15 menit?.

Fase Kerja:
Bapak, apa saja kemampuan yang bapak miliki? Bagus apa lagi? Saya buat daftar
yah... Bagaimana dengan mengatur kursi sebelum dan sesudah makan? Merapikan
tempat makan dan membersihkan meja sesudah makan? Wah bagus sekali ada berapa
kemampuan dan kegiatan yang dapat milik?
Bapak, dari kedua kegiatan ini mana yang dapat dilakukan di rumah sakit? Coba kita
lihat, yang pertama bisakah bapak lakukan dan yang kedua. Bagus sekali ada dua
kegiatan yang masih bisah dilakukan dirumah sakit ini.
Sekarang coba Bapak pilih kegiatan yang masih bisah dikerjakan di rumah sakit saat
ini oh... yang kedua membersihkan meja makan, kalau begitu bagaimana kalau
sebentar siang setelah selesai makan bapak membersihkan meja makan?
Nah ... sekarang semua orang sudah habis makan kita kumpul dulu piring makan, ya
bagus! Setelah itu ambil lap meja kemudian bapak lap meja dari sebelah kiri ke kanan
dengan satu arah, ya bagus...!

Fase Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak stelah kita bercakap-cakap dan latihan mengumpul
piring makan dan membersihkan meja? Ya, ternyata bapak memiliki kemampuan yang
dapat dilakukan dirumah sakit ini dan bapak telah melakukannya dengan baik.
kegiatan ini dapat bapak lakukan dirumah setelah pulang.
sekarang mari kita masukkan ke dalam daftar harian. Besok siang kita latihan lagi
kemampuan yang kedua bapak masih ingat? Ya, bagus. Kalau begitu besok siang kita
latihan mengatur kursi makan. Besok bapak mau latihan berapa lama? Dimana bapak
ingin latihan? Baiklah kalau begitu sekarang bapak beristirahan dulu...

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 38


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
EVALUASI SPIP HARGA DIRI RENDAH

Nama : Tn. S
Pertemuan : III
Tanggal : 07/06/2017
Waktu : 12:00 WITA

Hasil :
S:
- Klien mengatakan ia Ztr. Novi
- Klien mengatakan keadaannya baik
- Klien mengatakan ingin bercakap-cakap dikursi panjang
- Klien mengatakan 15 menit
- Merapikan tempat tidur
- Mandi
- Mengatur kursi
- Membersihkan meja
O:
- Klien bersemangat
- Klien merasa senang
- Klien sering tersenyum
- Kontak mata baik

A : SPIP Harga Diri Rendah Berhasil


P:
- Perawat:
a) Evaluasi SPIP Harga Diri Rendah yaitu mengidentifikasi kemampuan
klien dan mengajarkan cara membersihkan meja makan
b) Lanjutkan SP2P Harga Diri rendah yaitu mengatur kursi setelah makan
- Pasien :
Anjurkan klien untuk menginggat cara membersihkan meja makan.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 39


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
STRATEGI PELAKSANAAN
SP2P HARGA DIRI RENDAH

Nama : Tn. S
Pertemuan : IV
Tanggal : 08/06/2017
Waktu : 1500

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Pasien
Ds:
- Klien mengatakan ia Ztr. Novi
- Klien mengatakan keadaannya baik
- Klien mengatakan ingin bercakap-cakap dikursi panjang
- Klien mengatakan 15 menit
- Merapikan tempat tidur
- Mandi
- Mengatur kursi
- Membersihkan meja
Do:
- Klien bersemangat
- Klien merasa senang
- Klien sering tersenyum
- Kontak mata baik

2. Diagnosa Keperawatan : Harga Diri Rendah


3. Tujuan
a. Klien dapat mengidentifikasi dan mendiskusikan askep positif dan kemampuan
yang dimiliki
b. Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksanakan
c. Klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
4. Tindakan Keperawatan
a. Klien mampu mendiskusikan aspek positif dan kemampuan yang dimiliki
b. Menilai kemampuan yang dimiliki
c. Merencanakan kegiatan sesuai kemampuan

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 40


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
B. Strategi Pelaksanaan
Fase Orientasi :
Selamat pagi pak S, masih ingat dengan saya? Nama saya siapa? Bagaimana
keadaan Bapak saat ini? Sesuai dengan janji kita kemarin, saat ini kita akan bercakap-
cakap tentang kemampuan dan kegiatan Bapak yang kedua. Setelah itu kita akan nilai,
dan kita latihan kemampuan yang kedua.
Dimana kita duduk? Bagaimana kalau disini saja? Berapa lama? Bagaimana kalau
10 menit?.

Fase Kerja:
Bapak, kemarin sudah bisa melakukan kegiatan pertama yaitu mengumpul piring
makan dan membersihkan meja makan, bagaimana kalau saat ini kita lakukan lagi
kegiatan atau kemampuan bapak yang kedua yaitu mengatur kursi makan sebelum dan
sesudah makan? Wah, bagus...
Berarti saat ini bapak bisa melakukan dua kegiatan yang akan kita lakukan saat ini,
oh yang kedua yaitu mengatur kursi makan sebelum dan sesudah makan. Nah sekarang
sudah jam makan, silahkan bapak mengatur kursi makan, ya bagus? Sebentar setelah
teman-teman selesai makan kursinya diatur kembali ya pak?Bapak, semua orang sudah
selesai makan kursinya diatur kembali supaya ruangan ini kelihatan, yah.. bagus!

Fase Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak stelah kita bercakap-cakap dan latihan mengatur kursi
sebelum dan sesudah makan? Ya, ternyata bapak memiliki dua kemampuan yang dapat
dilakukan dirumah sakit ini dan bapak telah melakukannya dengan baik. kegiatan ini
dapat bapak lakukan dirumah setelah pulang.
sekarang mari kita masukkan ke dalam daftar harian. Besok siang kita latihan lagi
kemampuan yang kedua bapak masih ingat? Ya, bagus. Kalau begitu besok siang kita
latihan mengatur kursi makan. Besok bapak mau latihan berapa lama? Dimana bapak
ingin latihan? Baiklah kalau begitu sekarang bapak beristirahan dulu...

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 41


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
EVALUASI SP2P HARGA DIRI RENDAH

Nama : Tn. S
Pertemuan : IV
Tanggal : 08/06/2017
Waktu : 17:00 WITA

Hasil :
S:
- Klien mengatakan ia Ztr. Novi
- Klien mengatakan keadaannya baik
- Klien mengatakan ingin bercakap-cakap
- Klien mengatakan 10 menit
O:
- Keadaan umum baik
- Interaksi baik
- Kontak mata baik
A : SP2P Harga Diri Rendah Berhasil
P:
- Perawat:
a) Evaluasi SPIP dan SP2P Harga Diri Rendah yaitu cara membersihkan
meja makan dan mengatur kursi setelah makan
b) Lanjutkan SP2P Harga Diri rendah yaitu mengatur kursi setelah makan
- Pasien :
Anjurkan klien untuk menginggat cara membersihkan meja makan dan
mengatur kursi setelah makan.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 42


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah mempelajari konsep teori asuhan keperawatan harga diri rendah secara umum,
maka berdasarkan pengamatan dan asuhan yang telah diberikan, ada beberapa hal yang perlu
menjadi pembahasan yaitu:
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap
pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.
Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, dan spiritual ( Nurjanah,
2005).
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor
predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kumpulan
koping yang dimiliki klien. Cara pengkajian berfokus pada 5 (lima) dimensi yaitu fisik,
emosional, intelektual, sosial dan spiritual (Stuart dan Sundeen dalam Nurjannah, 2005).
Secara teori harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah
diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau
kemampuan diri. Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak
mampu mencapai keinginan sesuai ideal diri (Damaiyanti & Iskandar, 2012).
Dalam pengkajian pasien, penulis melakukan pengkajian meliputi; identitas klien,
identitas penanggung jawab, alasan masuk, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik,
psikososial, status mental, kebuthan rencana pulang, mekanisme kopig, masalah
psikososial dan lingkungan, serta aspek medik.
Dalam pengumpulan data penulis menggunakan metode auto anamnese terhadap
klien dan perawat yang merawatnya, observasi langsung terhadap penampilan dan
perilaku klien. Dalam NANDA 2015 pengkajian individu terdiri atas data subjektif dan
data objektif, data objektif berasal dari laporan lisan pasien mengenai persepsi dan
pemikiran tentang kesehatannya, kehidupan sehari-hari, kenyamanan, hubugan dan
sebaginya. Data objektif adalah hal-hal yang perawat amati tentang pasien, data objektif
berasal dari pemeriksaan fisik dan hasil-hasil tes diagnostk. Adapun data subjektif yang
didapatkan dari Tn. S adalah merasa malu, pernah dipasung, merasa cemas, pernah
mendapatkan pengobatan, sedangkan data objektif yang didapatkan dari Tn. S adalah,
afek labil, pembicaraan inkoheren, berbicara tidak terarah, arus fikir sirkumtansial, klien

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 43


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
tidak tenang di dalam ruangan, klien pernah melakukan pemukulan, klien mengamuk
dirumah, dikat gigi dan mencuci rambut bila disuruh perawat
Faktor presipitasi menurut Direja (2011), adalah seseorang akan marah jika dirinya
merasa terancam, baik berupa injuri secara fisik, atau ancaman konsep diri. Sedangkan
faktor presipitasi pada Tn. S adalah mengamuk dan memukul saat berada dirumah.
Faktor predisposisi adalah berbagai faktor yang menunjang terjadinya perubahan
konsep diri seseorang (Stuart, 2006). Sedangkan faktor predisposisi klien pernah
menggalami gangguan jiwa dan ini adalah kali ketiga klien dirawat. Pada saat ini klien
dalam pengobatan tidak berhasil karena pernah putus obat.
Kepatuhan dalam pengobatan dapat diartikan sebagai perilaku klien yang mentaati
semua nasehat dan petunjuk yang dianjurkan oleh kalangan tenaga medis, seperti dokter
dan apoteker. Mengenai segala sesuatu yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan
pengobatan, salah satunya adalah kepatuhan dalam minum obat. Hal ini merupakan syarat
utama tercapainya keberhasilan pengobatan yang dilakukan (Sugiyarti, 2012). Menurut
teori (Direja, 2011) sesorang mengalami kekambuhan adalah ketidakmampuan
mengendalikan dorongan marah, stimulus lingkungan, konflik interpersonal, status
mental, putus obat, penyalahgunaan narkoba atau alkohol, ketidaksiapan seorang ibu
dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai orang
yang dewasa. Sedangkan pada kasus Tn. S mengalami putus obat sehingga klien
mengalami kekambuhan. Peran keluarga disini tidak terlaksana dengan baik.
Mekanisme koping adaptif klien bercerita tentang perasaannya pada perawat,
mengatakan jika ada masalah ia bercerita pada adik laki-lakinya, sedangkan mekanisme
koping maladaptif klien mengatakan marah dan mengamuk.
Tanda dan gejala yang muncul pada harga diri rendah adalah mengejek dan
mengkritik diri, merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri,
mengalami gejala fisik, misalnya: tekanan darah tinggi, gangguan penggunaan zat,
menunda keputusan, sulit bergaul, menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa
puas, menarik diri dari realitas, cemas, panik, cemburu, curiga, halusinasi, merusak diri:
harga diri rendah menyokong klien untuk mengakhiri hidup, merusak/ melukai orang lain,
perasaan tidak mampu, pandangan hidup yang pesimistis, tidak menerima pujian,
penurunan produktivitas, penolakan terhadap kemampuan diri, kurang memperhatikan
perawatan diri, berpakaian tidak rapih, berkurang selera makan, tidak berani menatap

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 44


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat dengan nada suara lemah (Yosep,
2011). Ada beberapa tanda dan geja yang ditunjukkan oleh Tn. S yaitu: afek labil, tidak
kooperatif, pembicaraan inkoheren, merasa malu dengan tubuhnya, dan merasa cemas.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah diagnosa yang dibuat oleh perawat profesional yang
menggambarkan tanda dan gejala yang menunjukkan masalah kesehatan yang dirasakan
klien dimana perawat berdasarkan pendidikan dan pengalaman mampu menolong klien
(Ali Z, 2002). Schultz dan Videbeck ( dalam Nurjanah, 2005)menyatakan bahwa
diagnosa keperawatan berbeda dari diagnosa psikiatrik medis dimana diagnosa
keperawatan adalah respon klien terhadap maslah medis atau bagaimana masalah
mempengaruhi fungsi klien sehari-hari yang merupakan perhatian utama diagnosa
keperawatan.
Pernyataan diagnosa terdiri dari masalah atau respon klien dan satu atau lebih faktor
yang berhubungan atau berkontribusi pada masalah atau respon klien. Tanda dan gejala
atau batasan karakteristik adalah pengkajian subjektif dan objektif yang mendukung
diagnosa keperawatan, ini biasanya ditulis sebagai bagian dari pernyataan diagnosis.
Bagian kedua dari statmen diagnosa ditulis untuk mengkomunikasikan perawat mengenai
faktor yang berhubungan atau kontribusi untuk etiologinya (Schultch dan Videbeck
dalam Intansari Nurjanah, 2005).
Data yang diperoleh dari Tn. S yaitu harga diri rendah yang disebabkan oleh koping
individu yang tidak efektif yang didukung oleh data Saat klien menghadapi masalah ia
tidak mampu menghadapinya dan ia bercerita dengan adik laki-lakinya, jika tidak ada
jalan keluar klien marah-marah dan mengamuk, klien mengatakan merasa malu dengan
kondisi tubuhnya, tidak mengikuti kegiatan kelompok,
C. Intervensi
Intervensi dibuat setelah ditetakannya diagnosa keperawatan. Intervensi merupakan
serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus, perencanaan keperawatan
meliputi perumusan tujuan, tindakan dan penialaian rangkaian asuhan keperawatan pada
klien berdasarkan analisis pengkajian agar masalah kesehatan dan keperawatan klien
dapat diatasi (Ali, 2002).
Intervensi keperawatan yang dilakukan pada Tn. S penulis rencanakan pada teori
keperawatan jiwa, dimana tujuan umumnya adalah Mengidentifikasi kemampuan dan

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 45


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
aspek positif yang dimiliki, Menilai kemampuan yang dapat digunakan,
Menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan, Melatih kegiatan yang
sudah dipilih sesuai kemampuan, Merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya.
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi dan evaluasi keperawatan pada Tn, S dilakukan sejak tanggal 05- 08
Juni 2017 di ruangan Salak RSD Madani. Implementasi adalah pengelolahan dan
perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan
(Effendy dalam Nurjanah, 2005).
Implementasi yang dilakukan penulis untuk mengatasi harga diri rendah pada Tn. S
yaitu membina hubungan saling percaya dan melakukan pengkajian. Respon klien adalah
menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh perawat. Dalam implementasi Penulis
juga menerapkan strategi pelaksanaan dalam memberikan intervensi.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah mengevaluasi perkembangan klien dalam mencapai hasil yang
diharapkan asuhan keperawatan adalah proses dinamik yang melibatkan perubahan dalam
status kesehatan klien sepanjang waktu, pemicu terhadap data baru, berbagai diagnosa
keperawatan, dan modifikasi rencana asuhan keperawatan sesuai dengan kondisi klien
(Damaiyanti dan Iskandar, 2012).
Hasil evaluasi yang didapat dari Tn. S adalah data subjektif dan objektif antara lain:
mengamuk, memukul, malu dengan tubuhnya, ingin menjadi kepala keluarga yang baik,
pernah dipasung, merasa cemas, tidak pernah mengikuti kegiatan kelompok, pernah
mendapatkan pengobatan tetapi kurang berhasil, malas untuk berkontrol, sering marah-
marah, afek labil, tidak kooperatif, pembicaraan inkoheren, mood berubah-ubah, berbicaa
tidak terarah, rambut acak-acakan. Kemudian dilakukan perencanaan untuk pasien antara
lain pasien diminta untuk melakukan kegiatan yang akan diajarkan, sedangkan
perencanaan untuk penulus adalah memperthankan tujuan, petama membina hubungan
saling percaya, kedua mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki,
ketiga menilai kemampuan yang dapat digunakan, keempat menetapkan/memilih kegiatan
yang sesuai dengan kemampuan, kelima melatih kegiatan yang sudah dipilih sesuai
kemampuan, keenam merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya.

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 46


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Setelah penulis melakukan pengkajian dan perawatan pada Tn. S dengan gangguan
konsep diri : harga diri rendah di Ruangan Salak RSD Madani selama 1 minggu penulis
dapat menarik kesimpulan bahwa dalam malakukan perawatan jiwa sangat penting sekali
membina hubungan saling percaya dan juga membutuhkan kolaborasi yang baik dengan
tenaga medis (dokter dan perawat), keluarga dan juga lingkungan (tetangga dan masarakat)
terapeutik, agar semua maksud dan tujuan klien dirawat maupun perawat yang merawat
tercapai.
B. SARAN
1. Klien
- Libatkan klien dalam aktivitas positif
- Minum obat secara rutin dengan prinsip 5B
- Memahami aspek positif dan kemampuan yang dimilikinya
- Berlatih untuk berinteraksi dengan orang lain
2. Keluarga
1) Mau dan mampu berperan serta dalam pemusatan kemajuan klien
2) Membantu klien dalam pemenuhan aktivitas positif
3) Menerima klien apa adanya
4) Hindari pemberian penilaian negatif
3. Perawat
1) Lebih mengingatkan terapi theraupetik terhadap klien
2) Menyarankan keluarga untuk menyiapkan lingkungan dirumah
3) Meningkatkan pemenuhan kebutuhan dan perawatan klien
4) Memberi reinforcement

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 47


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, M., & Iskandar. (2012). Asuahan Keperawatan Jiwa . Samarinda: Relika
Aditama.

Herdman, T.H, & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosis Keperawatan NANDA 2015-2017.


EGC. Jakarta

Nuratif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Jilid 1. Jogjakarta:
Mediaction.

Riskesdas, (2007), Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian Kesehatan Nasional,


Jakarta.

Videbeck, S.L. (2008). Psychiatric-Mental HealthNursing. 4th ed. Philadelphia:


Lippincott Williams & Wilkins

WHO. (2006). The world health report: 2006: mental health: new Understanding, new
hope. www.who.int/whr/2001/en/

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah Page 48


Kelompok I
Departemen Keperawatan Jiwa