Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Di Indonesia sampai saat ini ada tiga penyebab utama kematian ibu yaitu perdarahan
dalam kehamilan 40-60%, infeksi 20-30% dan keracunan kehamilan 20-30%, sisanya sekitar
5% disebabkan penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan. 1 Perdarahan
sebagai penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan
postpartum.2
Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3%
dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan
perdarahan yang belum jelas sumbernya.2,3
Definisi perdarahan antepartum menurut WHO adalah perdarahan pervaginam setelah
29 minggu kehamilan atau lebih. Perdarahan yang terjadi umumnya lebih berbahaya
dibandingkan perdarahan pada umur kehamilan kurang dari 28 minggu karena biasanya hebat
dan mengganggu sirkulasi O2, CO2 dan nutrisi dari ibu ke janin. Penyebab tersering
perdarahan pada trimester III, yaitu : Solusio plasenta 30%, Plasenta previa 32%, Vasa previa
0,1%, Inpartu biasa 10%, Kelainan lokal 4%, Tidak diketahui sebabnya 23,9%. Penyebab
utama perdarahan antepartum yaitu plasenta previa dan solusio plasenta, penyebab lainnya
biasanya berasal dari lesi lokasi pada vagina/serviks.3
Di AS plasenta previa ditemukan kira-kira 5 dari 1.000 persalinan dan mempunyai
tingkat kematian 0,03%. Data terbaru merekam dari 1989-1997 plasenta previa tercatat
didapat pada 2,8 kelahiran dari 1.000 kelahiran hidup. 2
Solusio plasenta atau disebut juga abruptio placenta atau ablatio placenta adalah
separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa
kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak
pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu ke janin, jika plasenta
ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan
perdarahan yang hebat. Hebatnya perdarahan tergantung pada luasnya area plasenta yang
terlepas.4,5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Perdarahan antepartum menurut WHO adalah perdarahan pervaginam setelah 29


minggu kehamilan atau lebih. Perdarahan yang terjadi umumnya lebih berbahaya
dibandingkan perdarahan pada umur kehamilan kurang dari 28 minggu karena biasanya
disebabkan faktor plasenta, perdarahan dan plasenta biasanya hebat dan mengganggu
sirkulasi O2, CO2 dan nutrisi dari ibu ke janin.2
Perdarahan antepartum sering terjadi pada kehamilan usia muda. Bloody show
adalah konsekuensi dari awal terbentuknya segmen bawah rahim dan dilatasi serviks yang
menyebabkan robeknya pembuluh darah kecil.6 Perdarahan dalam uterus sering berasal dari
sisi atas serviks. Misalnya pada plasenta previa yang disebabkan abnormalitas lokasi
implantasi plasenta, solusio plasenta yang disebabkan terlepasnya plasenta dari tempat
implantasinya yang normal dalam rahim sebelum waktunya ataupun vasa previa.6
Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan lahir setelah
kehamilan 22 minggu, walaupun patologi yang sama dapat pula terjadi pada kehamilan
sebelum 22 minggu. Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan
lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 22 minggu, oleh karena itu perlu diberikan
penanganan yang berbeda.7
Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta,
sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan
serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan antepartum pertama-tama
harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta.8

Perdarahan antepartum dapat berasal dari :


A. Kelainan Plasenta
1. Plasenta previa
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal,
yaitu segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan
lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak dibagian atas uterus.9
2. Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal di korpus uteri yang
terjadi setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum janin dilahirkan. Yang dapat
termanifestasikan dalam perdarahan pervagina, peningkatan kontraksi uterus dan distres
pada fetus yang dapat berakibat pada kematian ibu dan janin.6
3. Perdarahan antepartum yang belum jelas sumbernya, mungkin disebabkan : ruptura sinus
marginalis, atau vasa previa.
Vasa previa adalah keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan
vilamentosa yakni pada selaput ketuban.6
B. Bukan dari kelaianan plasenta1
Misalnya didapatkan kelainan serviks dan vagina, dapat diketahui bila dilakukan
pemeriksaan dengan spekulum yang seksama.
Kelainan yang tampak ialah :
1. Erosio portionis uteri
2. Carcinoma portionis uteri
3. Polypus cervicis uteri, varices vulvae, dan trauma.

2.2 Klasifikasi
2.2.1 Plasenta Previa2,6
Didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu
tertentu :
a) Plasenta previa totalis, bila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.
b) Plasenta previa lateralis, bila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.
c) Plasenta previa marginalis, bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan.
d) Plasenta letak rendah bila plasenta yang letaknya abnormal di segmen bawah uterus,
akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir. Pinggir plasenta kira-kira 3
atau 4 cm diatas pinggir pembukaan, sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan
lahir.
2.2.2 Solusio Plasenta
Ada 3 tipe perdarahan pada solusio plasenta, yaitu :6,9
1. Perdarahan keluar (External hemorrhage)
Diakibatkan terlepasnya plasenta bagian perifer (tepian) dan membran di antara plasenta
dan kanalis servikalis terlepas dari desidua yang di bawahnya. Sehingga perdarahan yang
terjadi dapat tampak pervaginam. Gejala klinis sesuai dengan jumlah kehilangan darah,
tidak terdapat ketegangan uterus, atau hanya ringan.
2. Perdarahan tersembunyi (Concealed hemorrhage)
Diakibatkan terlepasnya plasenta bagian sentral, sedangkan perdarahan yang terjadi
sifatnya retroplasenta. Gejala yang terjadi, tidak terdapat perdarahan pervaginam, uterus
tegang dan hipertonus, sering terjadi fetal distress berat.
3. Perdarahan kombinasi (Combined hemorrhage)
Terjadi perdarahan baik retroplasental atau pervaginam dan uterus tetanik.

Sedangkan berdasarkan luas terlepasnya plasenta dari uterus, solusio plasenta dapat dibagi
atas :10,11
1. Solusio plasenta totalis
2. Solusio plasenta partialis

2.3 Etiologi12
2.3.1 Plasenta Previa
Beberapa faktor dan etiologi dari plsenta previa tidak diketahui. Tetapi diduga hal
tersebut berhubungan dengan abnormalitas dari vaskularisasi endometrium yang mungkin
disebabkan oleh timbulnya parut akibat trauma operasi/infeksi. Perdarahan berhubungan
dengan adanya perkembangan segmen bawah uterus pada trimester ketiga. Plasenta yang
melekat pada area ini akan rusak akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim. Kemudian
perdarahan akan terjadi akibat ketidakmampuan segmen bawah rahim untuk berkonstruksi
secara adekuat.

2.3.2. Solusio Plasenta


Penyebab primer solusio plasenta belum diketahui secara pasti.

2.4 Faktor Risiko


2.4.1 Plasenta Previa
Faktor risiko plasenta previa termasuk :12
1. Riwayat plasenta previa sebelumnya
2. Riwayat seksio cesarea
3. Riwayat aborsi
4. Kehamilan ganda
5. Umur ibu yang telah lanjut, wanita lebih dari 35 tahun
6. Multiparitas
7. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim, sehingga mempersempit permukaan bagi
penempatan plasenta
8. Adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya. Misalnya dari indung telur
setelah kehamilan sebelumnya atau endometriosis.
9. Adanya trauma selama kehamilan
10. Sosial ekonomi rendah/gizi buruk, patofisologi dimulai dari usia kehamilan 30 minggu
segmen bawah uterus akan terbentuk dan mulai melebar serta menipis
11. Mendapat tindakan kuretase.

2.4.2 Solusio Plasenta

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya solusio plasenta, antara lain :
a) Usia ibu saat hamil f) Merokok
b) Paritas g) Kokain
c) Ras dan faktor keturunan h) Leiomyomas
d) Hipertensi kronis dan preeklampsia i) Thrombofilia
e) Riwayat trauma j) Riwayat solusio plasenta sebelumnya

2.5 Patofisiologi
2.5.1 Plasenta Previa2
Implantasi plasenta diprakarsai (initiate) oleh embrio (embryonic plate) menempel
diuterus (cauda) bagian bawah. Dengan pertumbuhan dan penambahan plasenta,
perkembangan plasenta dapat menutupi mulut rahim (cervical os). Bagaimanapun juga,
diperkirakan bahwa suatu vaskularisasi decidua (jaringan epitel endometrium) defective
terjadi di atas (over) serviks, mungkin ini sekunder terhadap inflamasi atau perubahan atrofik.
Sebagian plasenta yang sedang mengalami perubahan atrofik dapat berlanjut sebagai vasa
previa.
Sebagai penyebab penting perdarahan pada trimester ketiga, plasenta previa
memberikan gambaran sebagai perdarahan tanpa disetai rasa nyeri (painless bleeding).
Perdarahan ini dipercaya memiliki hubungan dengan perkembangan segmen bawah rahim
(the lower uterine segmen) pada trimester ketiga. Tambahan (attachment) plasenta terganggu
(distrupted) karena daerah ini (segmen bawah rahim) menipis secara bertahap dalam rangka
persiapan untuk permulaan kelahiran (the onset of labor). Saat ini berlangsung, maka
perdarahan terjadi pada daerah implantasi/nidasi darah dari pembuluh darah yang terbuka.
Thrombin yang dilepaskan dari area perdarahan memacu (promotes) kontraksi uterus dan
timbulnya lingkaran setan (vicious cycle) : perdarahan-kontraksi-pemisahan plasenta-
perdarahan.
2.5.2 Solusio Plasenta
Solusio plasenta diawali dengan perdarahan dalam desidua basalis. Decidua yang
terobek melepaskan lapisan tipis yang terpisah dari myometrium. Yang sebagai konsekuensi
pada stage awal akan berkembang pada hematoma desidual, terlepasnya plasenta, terjadi
penekanan dan berakhir pada rusaknya plasenta yang beruntun. 10 Nath dan colleageus (2007)
menemukan secara histologis proses inflamasi pada kasus solusio plasenta sehingga diduga
inflamasi dan infeksi berkontribusi pada kasus solusio plasenta.10
Pada stadium awal, mungkin saja tidak ditemukan gejala dan separasi dapat
ditemukan ketika dilakukan pemeriksaan pada plasenta akibat penekanan pada permukaan
maternal plasenta. Yang dapat tergambar sebagai daerah berwarna gelap yang terbentuk dari
darah yang beku dengan diameter beberapa centimeter pada permukaan plasenta.6
Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk
hematoma di desidua sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas. Perdarahan
berlangsung terus-menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan tidak
mampu lebih berkontraksi untuk menghentikan perdarahan.16 Akibatnya, hematoma
retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta
terlepas dari dinding uterus. Sebagian darah akan menyeludup di bawah selaput ketuban
keluar dari vagina, atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban atau
ekstravasasi diantara serabut-serabut otot uterus.10 Apabila ekstravasasinya berlangsung
hebat sehingga menembus lapisan myometrium bahkan serosa uterus maka seluruh
permukaan uterus akan berbecak biru atau ungu fan terasa sangat tegang serta nyeri.
Hal ini disebut uterus couvelaire.10 Yang akhirnya sebagai penyebab terjadinya atonia uteri
dan bukan sebagai indikasi dilakukannya histerektomi.9
Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus. Apabila
sebagian kecil yang terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali atau mengakibatkan
gawat janin.13
Waktu, sangat menentukan beratnya gangguan pembekuan darah, kelainan ginjal, dan
nasib janin. Makin lama selang waktu solusio plasenta sampai persalinan selesai, umumnya
makin hebat komplikasinya.13

2.6 Diagnosis dan Gejala


2.6.1 Plasenta Previa14
1) Anamnesis
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri
terutama pada multigravida, banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis,
melainkan dari pada pemeriksaan hematokrit.
2) Pemeriksaan luar
Bagian bawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul presentasi kepala,
biasanya kepala masih terapung di atas pintu atas panggul mengarah ke samping dan
sukar didorong ke dalam pintu atas panggul.
3) Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri
eksternum atau dari ostium uteri internum, adanya plasenta previa harus dicurigai.
4) Penentuan letak plasenta tidak langsung
Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan radiografi, radioisotope,
dan ultrasonografi. Ultrasonografi penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata
sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya dan tidak
menimbulkan rasa nyeri.15 Pemeriksaan ultrasonografi, dengan pemeriksaan ini dapat
ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta terhadap ostium bila jarak tepi 5
cm disebut plasenta letak rendah.
5) Diagnosis plasenta previa secara definitif
Dilakukan dengan PDMO yaitu melakukan perabaan secara langsung melalui
pembukaan serviks pada perdarahan yang sangat banyak dan pada ibu dengan anemia
berat, tidak dianjurkan melakukan PDMO sebagai upaya menentukan diagnosis.7
2.6.2 Solusio Plasenta
Untuk mendapatkan diagnosis solusio plasenta secara tepat dan akurat maka perlu dilakukan
pemeriksaan yang komprehensif mulai dari anamnesa sampai pemeriksaan penunjang
lainnya. Dari anamnesa perlu ditanyakan beberapa hal seperti :
1. Identitas Ibu10
2. Riwayat obstetri seperti :10,15
a) Usia kehamilan ibu (abortus jika < 20 minggu, perdarahan antepartum > 20 minggu)
b) Perdarahan pervaginam ? (jumlah, intensitas dan frekuensi)
c) Apakah terdapat nyeri suprapubis ?
d) Riwayat obstetri terdahulu ? (jumlah gravida, jenis persalinan dan penyakit lainnya)
e) Tanda-tanda hipovolemia (mual,muntah dan kelemahan)
f) Ada tidaknya gerakan janin dalam kandungan ?
g) Urinaria
h) Riwayat hipertensi dan penggunaan obat-obatan (sebelum dan selama kehamilan)
i) Riwayat merokok
j) Riwayat trauma dan persalinan terdahulu ?

Pemeriksaan fisik :11


a) Suatu generalis :
Menyangkut tanda-tanda vital seperti; tekanan darah (hipertensi), nadi (takikardi) dan
respirasi juga katerisasi urine (volume dan warna).
b) Status obstetrik :
Pada pemeriksaan luar seperti tinggi fundus uteri (cenderung lebih tinggi daripada
usia kehamilan yang dapat menunjukan adanya perdarahan retroplasenta), konsistensi
dinding perut yang meningkat disertai adanya nyeri, kesulitan melakukan palpasi
untuk menentukan bagian janin akibat kontraksi uterus, bunyi jantung anak (yang
menunjukkan kesajahteraan janin dalam uterus). Sedangkan pada pemeriksaan
pervaginal seperti inspekulo dan pemeriksan dalam bertujuan untuk melihat apakah
perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina
seperti erosi porsio uteri, kanker serviks, varises vulva dan trauma. Apabila terdapat
perdarahan yang berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa dan
solusio plasenta harus dicurigai. Akan tetapi pemeriksaan pervaginal ini harus
dilalukan fasilitas seksio caesarea kamar operasi.
Pemeriksaan penunjang :12
a) Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium secara definitif bukan untuk mendiagnosis kasus solusio
plasenta, akan tetapi berbagai rangkaian pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
dalam rangka manajemen terapi pada kasus solusio plasenta.
1) Pemeriksaan darah rutin (complete blood cell count)
2) Pemeriksaan kadar fibrinogen
3) Prothrombin Time/Activated Partial Thromboplastin Time (PTT/APTT)
4) Blood urea nitrogen/serum kreatinin
5) Golongan darah
6) Rhesus darah
b) Ultrasonografi
Ultrasonosgrafi adalah pemeriksaan khusus yang digunakan dalam mengimaginasikan
perdarahan dalam kehamilan dengan tingkat sensitivitas dan spesifitas yang tinggi.
Solusio plasenta terlihat sebagai perdarahan retroplasenta pada gambaran ultrasound,
akan tetapi tidak semua tipe solusio plasenta dapat terdeteksi. Pada fase akut,
perdarahan akan tampak secara umum sebagai gambaran hiperechoic atau bahkan
isoechoic seperti gambaran plasenta normal. Ultrasonografi dapat membantu
menyingkirkan penyebab lain pada perdarahan retroplasenta trimester ketiga. Pada
perdarahan akut solusio plasenta seperti perdarahan retroplasenta gambaran
hiperechoic akan berubah menjadi isoechoic dan kemudian akan menjadi hipoechoic
dalam 1 minggu.16
Berdasarkan jumlah perdarahan yang terjadi maka solusio plasenta dapat dibedakan
menjadi :17
a) Solusio plasenta ringan
Jika kehilangan darah sekitar 10-15% volume darah atau < 1000 cc darah dan
tekanan darah > 100/60, kesadaran baik akan tetapi mungkin terdapat postural
hipotensi.
b) Solusio plasenta moderat
Jika kehilangan darah sekitar 15-30% volume darah atau sekitar 1000-1500 cc
darah dan tekanan darah pada rentang nilai > 80/40 dan < 100/60, nadi >
120x/menit, pasien akan tampak lemah dan merasa kehausan.
c) Solusio plasenta mayor
Jika kehilangan sekitar 30-40% volume darah atau sekitar 1500-2000 cc darah
dan tekanan darah < 60/0, nadi > 120x/menit, pasien akan tampak pucat, sesak,
penurunan kesadaran bahkan koma, oligouria.
d) Solusio plasenta berat
Jika kehilangan > 40% volume darah atau > 2000 cc darah, tekanan darah dan
nadi tidak dapat terukur, koma dan anuria.
2.7 Diferensiasi Perdarahan Antepartum
Tabel 3. diferensiasi perdarahan antepartum16

Klinis Solusio plasenta Plasenta previa Ruptura uteri


Onset kejadian Sewaktu hamil dan Sewaktu hamil Inpartu
inpartu
Cara mulainya Tiba-tiba Perlahan Tiba-tiba
Tipe perdarahan Non recurren Recurren Bergantung pada
pembuluh darah yang
pecah
Warna darah Darah beku+segar Darah segar Darah segar
Anemia Tak sebanding dengan Sesuai dengan darah Perdarahan keluar dan di
darah yang keluar yang keluar dalam
Toxemia gravidarum Bisa ada - -
Nyeri perut Ada Tidak ada (+) di segmen bawah
rahim
Palpasi Uterus in-bois bagian Biasa dan floating Defans muskular,
anak sulit ditentukan meteoritis
His Kuat Biasa Hilang
Bunyi jantung anak - + -
Periksa dalam Ketuban tegang, menonjol Jaringan plasenta Robekan
Plasenta Tipis, cekung Selaput robek pada Biasa
pinggiran

2.8 Penatalaksanaan

2.8.1 Plasenta Previa6,14


1. Terapi Ekspektatif
a) Tujuan supaya janin tidak lahir premature, penderita dirawat tanpa melakukan
pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Syarat-syarat terapi ekspektatif :
- Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti
- Belum ada tanda-tanda inpartu
- Keadaan umum ibu cukup baik
- Janin masih hidup
b) Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotik profilaksis.
c) Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta
d) Berikan tokolitik bila ada kontraksi :
- MgSO4 i.v dosis awal tunggal dilanjutkan 4 gram setiap 6 jam
- Nifedipin 3 x 20 mg perhari
- Dexamethason 24 mg i.v dosis tunggal untuk pematangan paru janin.
e) Pada terapi ekspektatif kita rawat pasien di Rumah Sakit sampai berat anak 2500
gram atau kehamilan sudah sampai 37 minggu. Kalau kehamilan 37 minggu telah
tercapai kehamilan diakhiri.
2. Terapi Aktif (Tindakan segera)
Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervagina yang aktif dan banyak,
harus segera ditatalaksanakan secara aktif tanpa memandang maturitas janin.
Lakukan PDMO jika :
- Infus I transfusi telah terpasang
- Kehamilan > 37 minggu (berat badan > 2500 gram) dan inpartu
- Janin telah meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor, seperti anesefali.
- Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul
(2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).
3. Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa seksio caesarea
- Prinsip utama adalah menyelamatkan ibu, walaupun janin meninggal atau tidak
punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan.
- Tujuan seksio caesarea : persalinan dengan segera sehingga uterus segera
berkontraksi dan menghentikan pendarahan, menghindarkan kemungkinan terjadi
robekan pada serviks, jika janin dilahirkan pervagina.
- Siapkan darah pengganti untuk stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu.7
4. Perawatan post operasi seksio caesarea
- Analgesia
Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin
(intramuskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau
dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.
Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan adalah 50
mg.
Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg Meperidin
Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan bersama-
sama dengan pemberian preparat narkotik
- Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah, nadi
jumlah urin serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.
- Terapi cairan dan diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL dalam 24 jam pertama
kemudian dievaluasi.
- Vesika urinarius dan usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan paginya
setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama setelah
pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan usus baru aktif
kembali pada hari ketiga.
- Ambulasi
- Perawatan luka
- Laboratorium (hematokrit)
- Perawatan payudara
- Memulangkan pasien dari Rumah Sakit
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila diperbolehkan
pulang dari rumah sakit pada hari keempat dan kelima post operasi, aktivitas ibu
seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan bayinya dengan bantuan orang
lain.6

2.8.2 Solusio Plasenta


Penatalaksanaan pengelolaan solusio plasenta harus didasarkan pada kondisi ibu (keparahan
perdarahan) dan kondisi janin (hidup, mati, umur kehamilan).
Penanganan solusio plasenta secara umum :6
1. Pemberian darah yang cukup
2. Pemberian O2
3. Pemberian antibiotik
4. Pada syok yang berat diberikan kortikosteroid dosis tinggi untuk mencegah terjadinya
perdarahan yang semakin hebat. Mekanisme kerjanya yaitu dengan cara memperbaiki
perfusi jaringan, memperkuat dinding sel, memperkuat integritas sel endotel, stabilitas
membran lisosom dan menurunkan resistensi perifer.

A. Perdarahan masif
1. Evakuasi pasien ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan resusitasi.
Jaga agar hemtokrit darah sekitar 30% dan keluaran urin sekitar 60 ml/jam dan cek
kadar hemoglobin tiap 4 jam.
2. Lakukan transfusi fresh frozen plasma atau darah segar.
3. Lakukan terminasi kehamilan baik persalinan pervaginal jika dilatasi serviks sudah
lengkap ataupun dengan seksio caesarea.
4. Jika terjadi perdarahan postpartum pasca terminasi kehamilan yang menyebabkan
atonia uteri dan tidak dapat teratasi, maka histerektomi adalah langkah yang harus
diambil untuk menyelamatkan nyawa ibu.

B. Perdarahan sedikit
Tindakan yang dilakukan sangat dipengaruhi dari status fetus dalam kandungan apakah
prematur, imatur ataupun sudah mati.
1. Penatalaksanaan ekspektatif
Dilakukan jika umur kehamilan < 36 minggu dan janin masih hidup serta tidak
adanya perdarahan yang hebat yang menyebabkan syok hipovolemia pada ibu.9,20
Hal ini dilakukan dengan harapan janin dapat seviable mungkin bila dilahirkan
nantinya. Observasi yang ketat terutama kondisi ibu (tekanan darah, nadi, kadar
hemoglobin dan urinaria) dan kondisi janin menggunakan cardiotocografi
(CTG).6,15
2. Penatalaksanaan aktif
Adakah sebuah tindakan terminasi kehamilan pada kondisi janin yang matur
ataupun terjadi fetal distres.6,15,17

Hal-hal yang dilakukan dalam penatalaksanaan terapi diantaranya adalah :


a. Mengkoreksi keadaan umum pasien dengan tindakan resusitasi untuk mencegah
agar pasien tidak jatuh dalam kondisi syok.
b. Segera lakukan persalinan
1) Persalinan pervaginal
Persalinan pervaginal dengan solusio plasenta pada bayi hidup dapat dilakukan
dengan syarat perdarahan yang terjadi jumlahnya sedikit, multipara, serviks
lunak dan pembukaan telah lengkap, presentasi kepala dan tidak
didapatkannya disproporsi kepala bayi dan panggul ibu.23 Akan tetapi jika
terjadi separasi plasenta yang berat sehingga fetus didalamnya mati, persalinan
pervaginal lebih dipilih. Saat dilakukan persalinan pervaginal, dilakukan
amniotomi dan stimulasi kontraksi myometrium dengan pemberian oksitosin
secara intravena dengan melakukan monitor pada tekanan darah, urinaria dan
status koagulatif darah ibu.6 Akan tetapi persalinan pervaginal tidak dapat
dilakukan jika terjadi perdarahan hebat tanpa diikuti pergantian darah yang
cepat untuk menghindari komplikasi pada ibu sehingga persalinan harus
dilakukan secara seksio caesarea darurat.6,17
2) Seksio caesarea
Seksio caesarea dipilih sebagai teknik persalinan pada pasien dengan solusio
plasenta dan terjadi fetus distres.6,15,17 Kayani (2003) meneliti tentang
kecepatan persalinan dan outcome neonatal pada 33 ibu dengan solusio
plasenta dan kondisi fetal distres, didapatkan 22 bayi yang dilahirkan tidak
memiliki masalah neurologis, 11 bayi akan mati ataupun hidup dengan kondisi
cerebral palsy.6
2.9 Komplikasi

2.9.1 Plasenta Previa12


1. Pada ibu dapat terjadi perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia karena
perdarahan plasentitis, dan endometritis pasca persalinan.
2. Pada janin biasanya terjadi persalinan premature dan komplikasi seperti Asfiksia berat.

2.9.2 Solusio Plasenta


Komplikasi akibat solusio plasenta dapat terjadi pada ibu dan janin.6,14,15
1. Komplikasi pada ibu, antara lain :
a) Syok
b) Terjadinya gangguan pembekuan darah (koagulopati) akibat turunnya kadar
fibrinogen.
c) Kerusakan jaringan pada organ vital
Seperti : gagal ginjal akut,
d) Atonia uteri post partum
2. Komplikasi pada janin, antara lain :
a) Tingginya angka kematian perinatal
b) Gangguan pertumbuhan pada bayi
c) Tingginya asfiksia neonatal
d) Prematuritas bayi
e) Anemia pada neonatal.
2.10. Prognosis

2.3.1 Plasenta Previa1,2,6,10

Ibu
Dengan adanya fasilitas diagnosa dini (USG), transfusi darah, teknik anestesi dan operasi
yang baik dengan indikasi SC yang lebih liberal, prognosis ibu cukup baik. Prognosis
kurang baik jika penolong melakukan VT di luar Rumah Sakit dan mengirim pasien
sangat terlambat dan tanpa infus.
Janin
Kematian janin umumnya disebabkan prematuritas.
2.3.2 Solusio Plasenta13

Ibu
Tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya
perdarahan, derajat koagulasi, adanya hipertensi menahun atau preeklampsia,
tersembunyi tidaknya perdarahannya, dan jarak waktu antara terjadinya solusio plasenta
sampai pengosongan uterus.
Janin
Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin tergantung dari luas plasenta
yang terlepas dan usia kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chalik TMA. Plasenta Previa. Dalam : Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi, Ed I.
Widya Medika, Jakara,2005:129-43.
2. Rachimhadi T, Wibowa B. Perdarahan Antepartum. Dalam: Ilmu Kebidanan
Prawirohardjo S., Winkjosastro H., Saifudin A B., Rachimhadi T., eds, edisi ketiga.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta,2005:362-76.
3. Yoseph. Perdarahan Selama Masa Kehamilan. Dalam : Cermin Dunia Kedokteran. EGC,
Jakarta,1996:32-5.
4. Pritchard JA, MacDonald PC, Gant NF. Obstetri Williams, edisi 21.
Airlangga,Surabaya,2001:456-70.
5. Prawirohardjo S, Hanifa W. Kebidanan dalam Masa Lampau, Kini dan Kelak. Dalam:
Imu Kebidanan, edisi III. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta,2006:3-
21.
6. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom, Hauth, Rouse, Spong. Obstetrical Hemorrhage. In
Williams Obstetrics, 23rd Ed. New York : Saunders, 2010. (CD rom)
7. Winkjsosastro, Hanifa dkk. Perdarahan Antepartum. Dalam : Sinopsis Obstetri, Edisi 1.
EGC,Jakarta,2005:105-11.
8. Saifuddin AB, Adriaansz G, Wiknjosastro GH Waspodo D. Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. JNPKKR-YBPSP,Jakarta,2001.
9. Gasong MS, Hartono E, Moerniaeni N. Penatalaksanaan Perdarahan Antepartum. Bagian
Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS,1997:3-8.
10. Trijatmo R, Wibowo B. Perdarahan Antepartum. Dalam : Hanifah W, Saifudin AB,
Rachimhadhi T, penyunting. Ilmu Kebidanan, edisi ke-3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo,Jakarta,2010:362-85.
11. Winda. Asuhan Kebidanan Kepada Ibu Hamil dengan Plasenta Letak Rendah. Politeknik
Departemen Kesehatan Tanjung Karang Prodi Kebidanan Metro.2007
12. Suyono, Lulu, Gita, Harum, Endang. Hubungan Antara Umur Ibu Hamil dengan
Frekuensi Solusio Plasenta di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Cermin Dunia Kedokteran
vol.34 no.5/158 Dsep-Okt. 2007 : 233-8.
13. Sastrawinata RS. Perdarahan Antepartum. Dalam : Obstetri Patologi. Bandung : Elstar
Offset,1984:110-27.
14. Abdala MY. Antepartum Hemorrhage. Diakses dari : http://www.hind.cc/5th
%20MBBS/ObGyn/Dr.Mahmood/Antepartum%20hemorrhage. pdf
15. Mochtar R. Perdarahan Antepartum. Dalam : Lutan D, penyunting. Sinopsis Obstetri jilid
I, edisi ke-3. EGC,Jakarta,2012
16. Eastcheshire NHS. Guideline Antepartum Haemorrhage and Abruption Placenta, update
2009. Diakses dari : http://www.eastcheshire.nhs.uk/Pages/About-The-
Trust/policies/A/Antepartum-haemorrhage-guideline.pdf