Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Mubiyarto (1994) membagi tipologi desa tertinggal di Propinsi Jawa
Tengah ke dalam sembilan tipologi berdasarkan komoditas basis pertanian dan
kegiatan mayoritas petani pada desa tersebut. Kesembilan karakteristik desa
adalah desa persawahan, desa lahan kering, desa perkebunan, desa peternakan,
desa nelayan, desa hutan, desa industri kecil, desa buruh industri, serta desa jasa
dan perdagangan. Pembangunan desa akan semakin menantang di masa depan
dengan kondisi perekonomian daerah yang semakin terbuka dan kehidupan
berpolitik yang lebih demokratis. Akan tetapi desa sampai kini, masih belum
beranjak dari profil lama, yakni terbelakang dan miskin. Meskipun banyak pihak
mengakui bahwa desa mempunyai peranan yang besar bagi kota, namun tetap saja
desa masih dipandang rendah dalam hal ekonomi ataupun yang lainnya. Oleh
karena itu, sudah sewajarnya bila pembangunan pedesaan harus menjadi prioritas
utama dalam segenap rencana strategi dan kebijakan pembangunan di Indonesia.
Jika tidak, maka jurang pemisah antara kota dan desan akan semakin tinggi
terutama dalam hal perekonomian.
Adapun sasaran pokok pembangunan pedesaan adalah tercipanya kondisi
ekonomi rakyat di pedesaan yang kukuh, dan mampu tumbuh secara mandiri dan
berkelanjutan. Sasaran pembangunan pedesaan tersebut diupayakan secara
bertahap dengan langkah: pertama, peningkatan kualitas tenaga kerja di pedesaan;
kedua, peningkatan kemampuan aparatur pemerintah desa; ketiga, penguatan
lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat desa; keempat, pengembangan
kemampuan sosial ekonomi masyarakat desa; kelima, pengembangan sarana dan
prasarana pedesaan; dan keenam, pemantapan keterpaduan pembangunan desa
berwawasan lingkungan. Pembangunan Masyarakat Desa pada dasarnya adalah
bertujuan untuk mencapai suatu keadaan pertumbuhan dan peningkatan untuk
jangka panjang dan sifat peningkatan akan lebih bersifat kualitatif terhadap pola
hidup warga masyarakat, yaitu pola yang dapat mempengaruhi perkembangan
aspek mental (jiwa), fisik (raga), intelegensia (kecerdasan) dan kesadaran

1
bermasyarakat dan bernegara. Akan tetapi pencapaian objektif dan target
pembangunan desa pada dasarnya banyak ditentukan oleh mekanisme dan struktur
yang dipakai sebagai sistem pembangunan desa. Salah satu misi yang diusung
oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistim Perencanaan
Pembangunan Nasional adalah membangun harmonisasi antara berbagai kutub
perencanaan yang ada, yaitu perencanaan teknokratis, perencanaan politis,
perencanaan partisipatif. Muara akhir dari upaya tersebut adalah terakomodirnya
aspirasi dan kebutuhan berbagai stakeholders dalam penyusunan perencanaan dan
penganggaran pembangunan.

1.2 Tujuan
Adapun sasaran pokok pembangunan pedesaan adalah tercipanya kondisi
ekonomi rakyat di pedesaan yang kukuh, dan mampu tumbuh secara mandiri dan
berkelanjutan. Sasaran pembangunan pedesaan tersebut diupayakan secara
bertahap dengan langkah: pertama, peningkatan kualitas tenaga kerja di pedesaan;
kedua, peningkatan kemampuan aparatur pemerintah desa; ketiga, penguatan
lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat desa; keempat, pengembangan
kemampuan sosial ekonomi masyarakat desa; kelima, pengembangan sarana dan
prasarana pedesaan;

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kebijakan


Kebijakan adalah pedoman-pedoman dan ketentuan-ketentuan yang
dianut atau dipilih dalam melaksanakan (memanage) suatu program untuk
mencapai tujuan tertentu. Perencanaan adalah semua kegiatan (planning) yang
dilakukan sebelum melakukan suatu kegiatan, dari suatu program proyek, yakni
menentukan tujuan objective, tujuan antara, kebijakan, prosedur dan program.
Sukirno (1985) mengemukakan pendapatnya tentang konsep pembangunan,
mempunyai 3 sifat penting, yaitu : proses terjadinya perubahan secara terus
menerus, adanya usaha untuk menaikkan pendapatan perkapita masyarakat dan
kenaikan pendapatan masyarakat yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
Menurut Todaro (1998) pembangunan bukan hanya fenomena semata, namun
pada akhirnya pembangunan tersebut harus melampaui sisi materi dan keuangan
dari kehidupan manusia. Dengan demikian pembangunan idealnya dipahami
sebagai suatu proses yang berdimensi jamak, yang melibatkan masalah
pengorganisasian dan peninjauan kembali keseluruhan sistem ekonomi dan sosial.
Berdimensi jamak dalam hal ini artinya membahas komponen-komponen
ekonomi maupun non ekonomi.
Menurut Hanafiah (1892) pengertian pembangunan mengalami
perubahan karena pengalaman pada tahun 1950-an sampai tahun 1960-an
menunjukkan bahwa pembangunan yang berorientasi pada kenaikan pendapatan
nasional tidak bisa memecahkan masalah pembangunan. Hal ini terlihat dari taraf
hidup sebagian besar masyarakat tidak mengalami perbaikan kendatipun target
kenaikan pendapatan nasional per tahun meningkat. Dengan kata lain, ada tanda-
tanda kesalahan besar dalam mengartikan istilah pembangunan secara sempit.
Akhirnya disadari bahwa pengertian pembangunan itu sangat luas bukan hanya
sekedar bagaimana menaikkan pendapatan nasional saja. Pembangunan ekonomi

3
itu tidak bisa diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan negara untuk
mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.
Berbagai sudut pandang dapat digunakan untuk menelaah pembangunan
pedesaan. Menurut Haeruman (1997), ada dua sisi pandang untuk menelaah
pedesaan, yaitu:
1. Pembangunan pedesaan dipandang sebagai suatu proses alamiah yang
bertumpu pada potensi yang dimiliki dan kemampuan masyarakat desa itu
sendiri. Pendekatan ini meminimalkan campur tangan dari luar sehingga
perubahan yang diharapkan berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.
2. isi yang lain memandang bahwa pembangunan pedesaan sebagai suatu
interaksi antar potensi yang dimiliki oleh masyarakt desa dan dorongan dari
luar untuk mempercepat pemabangunan pedesaan.
3. Pembangunan desa adalah proses kegiatan pembangunan yang berlangsung
didesa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan
masyarakat. Menurut peraturan Pemerintah Republik Indonesia no : 72 tahun
2005 tentang desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bahwa perencanaan
pembangunan desa disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai
dengan kewenangannya dan menurut ayat (3) bahwa dalam menyusun
perencanaan pembangunan desa wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan
desa.
Tujuan Perencanaan Pembangunan sebagai berikut:
1. Mengkoordinasikan antar pelaku pembangunan.
2. Menjamin sinkronisasi dan sinergi dengan pelaksanaan Pembangunan Daerah.
3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara Perencanaan, Penganggaran,
Pelaksanaan dan Pengawasan.
4. Mengoptimalkan Partisipasi Masyarakat
5. Menjamin tercapainya penggunaan Sumber Daya Desa secara efisien, efektif,
berkeadilan dan berkelanjutan.
Kebijakan perencanaan pembangunan desa merupakan suatu pedoman-pedoman
dan ketentuan-ketentuan yang dianut atau dipilih dalam perencanaan
pelaksanakan (memanage) pembangunan di desa yang mencakup seluruh aspek

4
kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga dapat mencapai kesejahteraan
bagi masyarakat.

2.2 Tinjauan Konsep dan Implementasi Proses Perencanaan Pembangunan


(P5d)
Konsep dan Proses Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri
(Permendagri) No. 9 tahun 1982, pelaksanaan pembangunan daerah dilaksanakan
melalui suatu proses yang relatif baku yaitu Proses Perencanaan, Pelaksanaan dan
Pengendalian Pembangunan (P5D). Proses P5D dimulai dari tingkat bawah
(masyarakat) dalam bentuk Musyawarah Pembangunan Desa (Musbangdes), yang
kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Unit Daerah Kerja Pembangunan
(UDKP) di tingkat Kecamatan, Rapat Koordinasi Pembangunan (Rakorbang)
Kabupaten, Rakorbang Propinsi, dan berakhir dengan Rakorbang Nasional.
Mekanisme P5D, secara konsepsual telah mencoba melibatkan masyarakat
semaksimal mungkin, dan mencoba memadukan perencanaan dari masyarakat
(Bottom up planing) dengan perencanaan Dinas/Instansi sektoral (Top down
planning).Akan tetapi, dari berbagai literatur dan hasil penelitian (P3P Unram,
2001; Siregar, 2001, Team Work Lapera, 2001; Hadi, Hilyana dan Hayati, 2003)
diperoleh gambaran bahwa implementasi perencanaan pembangunan selama ini
belum partisipatif seperti konsep dan kebijakan yang dikembangkan Pemerintah.
Perencanaan dari atas lebih mendominasi hasil perencanaan. Hasil penelitian
Hadi, Hilyana dan Hayati (2003) di tiga desa di Pulau Lombok, menemukan
bahwa partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Musbangdes dan forum-forum
perencanaan pembangunan di tingkat desa, hanya 10 % yang terlibat aktif, 50 %
kadang-kadang terlibat, sedangkan 40 % tidak pernah dilibatkan. Namun dalam
pelaksanaan program-program pembangunan, sebagian besar anggota masyarakat
terlibat aktif, baik sebagai pelaksana maupun penerima manfaat. Sedangkan dalam
pengawasan hasil-hasil pembangunan desa, keterlibatan masyarakat sangat
kecil.Kenyataan ini menunjukkan bahwa berbagai keputusan umumnya sudah
diambil dari atas, dan sampai ke masyarakat dalam bentuk sosialisasi yang tidak
bisa ditolak. Masyarakat hanya sekedar objek pembangunan yang harus
memenuhi keinginan Pemerintah, belum menjadi subyek pembangunan, atau

5
masyarakat belum ditempatkan pada posisi inisiator (sumber bertindak).
Mekanisme perencanaan P5D cenderung menjadi ritual, menjadi semacam
rutinitas formal, tidak menyentuh substansi dan kehilangan makna hakikinya.
Pelaksanaan Musbangdes terkesan hanya seremonial, sehingga masyarakat
merasakan kejenuhan mengikuti Musbangdes. Hasil penelitian P3P Unram (2001)
menemukan bahwa usulan masyarakat dalam Musbangdes hanya sebagian kecil
yang terakomodir dalam forum perencanaan supra desa. Keterwakilan masyarakat
dalam forum-forum perencanaan yang ada sangat kurang. Hal ini karena peserta
musyawarah dalam forum perencanaan yang dilaksanakan lebih didasarkan pada
keterwakilan yang bersifat formal, sehingga susunan pesertanya didominasi para
birokrat dan unsur lembaga formal.
Dari sisi perencanaan jangka menengah dan jangka panjang, Pemerintah
Kabupaten/Kota telah memiliki berbagai dokumen perencanaan (seperti Program
Pembangunan Lima Tahun Daerah/Propeda, Rencana Strategis/Renstra, dan
Rencana Umum Tata Ruang Wilayah/RUTRW) dan seharusnya menjadi pedoman
dalam penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada). Akan
tetapi dokumen-dokumen perencanaan tersebut tidak tersosialisasikan,sehingga
hal ini mengakibatkan perencanaan dilaksanakan tanpa perspektif yang jelas.
Seringkali terjadi Repetada sebagai pedoman mengenai arah dan kebijaksanaan
penyusunan program dan proyek disusun setelah RAPBD disyahkan sehingga
kehilangan fungsi substansifnya. Sementara itu, menurut Asmara (2001)
komitmen dan orientasi pelanggan (public driven) dalam sistemprogramming
sektoral, belum mantap.
Hal ini karena budaya birokrasi berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan yang
baik seperti akuntabilitas, responsibilitas dan transparansi dalam penyelenggaraan
kepentingan publik belum melembaga dengan baik. Akibatnya jaminan
pengakomodasian usulan dari bawah sangat kurang.

2.3 Upaya Meningkatkan Kualitas Perencanaan Pembangunan di Tingkat


Desa
Paradigma lama pembangunan perdesaan pada masa sebelum era otonomi
adalah bagaimana melaksanakan program-program pemerintah yang datang dari
atas. Program pembangunan desa lebih banyak dalam bentuk proyek dari atas, dan

6
sangat kurang memperhatikan aspek keberlanjutan pembangunan desa dan
partisipasi masyarakat. Sebagian besar kebijakan Pemerintah bernuansa top-
down, dominasi Pemerintah sangat tinggi, akibatnya antara lain banyak terjadi
pembangunan yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat, tidak sesuai dengan
potensi dan keunggulan desa, dan tidak banyak mempertimbangkan keunggulan
dan kebutuhan lokal.
Kurang terakomodirnya perencanaan dari bawah dan masih dominannya
perencanaan dari atas, menurut Asmara, H., (2001) adalah karena kualitas dan
hasil perencanaan dari bawah lemah, yang disebabkan beberapa faktor antara lain:
1. Lemahnya kapasitas lembaga-lembaga yang secara fungsional menangani
perencanaan;
2. Kelemahan identifikasi masalah pembangunan;
3. Dukungan data dan informasi perencanaan yang lemah;
4. Kualitas sumberdaya manusia khususnya di desa yang lemah;
5. Lemahnya dukungan pendampingan dalam kegiatan perencanaan, dan
6. Lemahnya dukungan pendanaan dalam pelaksanaan kegiatan perencanaan
khususnya di tingkat desa dan kecamatan.

2.4 Sasaran Pembangunan Desa


Pembangunan desa hendaknya mempunyai sasaran yang tepat, sehingga
sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
Beberapa sasaran yang dapat dikembangkan atau dicapai dalam suatu
pembangunan desa adalah sebagai berikut:
a. Pengembangan Ekonomi Kerakyatan. Pembangunan ekonomi kerakyatan
pada intinya adalah mengelola seluruh potensi ekonomi yang menguasi hajat
hidup orang banyak dengan menerapkan prinsip atau asas ekonomi
kerakyatan.
Program-program pembangunan ekonomi kerakyatan yang dapat dikembangkan
di desa adalah:
1. Program Pemberdayaan Usaha Kecil Perdesaan dengan kegiatan berupa
penyediaan kredit tanpa bunga.

7
2. Pembangunan pertanian dalam arti luas dalam rangka meningkatkan
ketersediaan pangan dan meningkatkan pendapatan petani, nelayan dan
peternak
3. Pengembangan dan pemberdayaan koperasi serta pengusaha mikro kecil dan
menengah melalui pembinaan pengusaha kecil, pengembangan industri kecil
dan pembangunan prasarana dan sarana ekonomi desa.
4. Pengembangan potensi dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam rangka
menunjang industri kecil perdesaan.

b. Pengembangan Sumberdaya Manusia yang handal


Sumber Daya Manusia memegang peranan penting dalam proses pembangunan
desa. Semakin tinggi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) maka semakin
mendorong kemajuan suatu desa. Program-program yang dapat dikembangkan
diantaranya:
1. Program pengembangan pendidikan
2. Program peningkatan pelayanan kesehatan
3. Pembinaan generasi muda, seni budaya, pemuda dan olah raga
4. Program perluasan lapangan kerja dan kesempatan kerja.
5. Pembinaan kehidupan beragama
6. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan masyarakat

c. Pembangunan Infrastruktur Pedesaan


Pembangunan infrastruktur diharapkan mampu mendukung prioritas
pembangunan lainnya, khususnya pengembangan ekonomi kerakayatan dan
peningkatan kualitas SDM. Program pembangunan infrastruktur pada dasarnya
adalah pembangunan sarana dan prasarana yang mampu memberikan pelayanan
guna mendukung kegiatan ekonomi produktif, pelayanan sosial, kegiatan sosial
kemasyarakatan dan meningkatkan aksesibilitas untuk menciptakan keterkaitan
ekonomi antar wilayah.
Beberapa program yang dapat dikembangkan dalam membangun infrastruktur
pedesaan adalah:
Membuka isolasi daerah-daerah yang terisolasi dengan pembangunan jalan-
jalan perdesaan.

8
Pembangunan prasarana perekonomian dan pertanian
Pembangunan prasarana pemerintahan desa/kelurahan

2.5 Masalah-masalah Dalam Pembangunan


Masalah yang dikemukakan oleh Chayanov dan boeke, terutama
didasarkan atas sistem sosial atau kebudayaan yang berakar dalam yang membuat
Teori Ekonomi Modern seolah-olah tidak dapat diterapkan di desa-desa atau
masyarakat seperti ini. Tetapi selain masalah yang berasal dari sistem sosial atau
kebudayaan, sebenarnya banyk masalah lain yang menyebabkan timbulnya
masalah pembangunan desa pada desa-desa tradisional, masalah-masalah tersebut
terutama adalah:
1. Masalah pertumbuhan penduduk penduduk yang berat, sehingga pemilikan
tanah semakin berkurang, terutama pada wilayah yang terbatas lahannya
(Sumber Daya Alam)
2. Tingkat Pendidikan rendah yang menyebabkan adopsi tegnologi rendah dan
stagnansi produk juga masalah lain yang bisa timbul dengan serius seperti
masalah kesehatan, rendahnya produktivitas kerja dan masalah kepemimpinan
desa.
3. Keterisolasian desa yang membuat hubungan dengan dunia luar sulit dan
lambat dan tidak dapat memanfaatkan keuntungan dengan dunia luar
Masalah-masalah yang terjadi di desa Transisional adalah:
1. Masalah pertumbuhan penduduk yang cepat (sama dengan desa Tradisional)
2. Masalah pertanahan timbul, karena hubungan dengan dunia luar
3. Tingkat pendidikan rendah (Sama dengan desa tradisional)
4. Tingkat adopsi tegnologi yang mudah dan tidak tersedianya tegnologi spesifik
local
5. Keterisolasian desa dan lambatnya pembangunan prasarana jalan
6. Masalah pembangunan prasarana lain seperti irigasi, drainase
7. Masalah pemasaran hasil-hasil pertanian
8. Masalah pengadaan modal untuk pembaharuan usaha-usaha pertanian
(perkreditan dan akumulasi modal)

9
Masalah ini perlu dimengerti keadaannya, baik pada desa tradisional maupun pada
desa transisional agar kebijakan dan perencanaan pembangunan desa dapat dibuat
dengan cukup lebih baik. Pemerintahan Desa dalam menyelenggarakan
kewenangannya dibidang pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan untuk
mewujudkan kemandirian serta kesejahteraan masyarakat belum dapat optimal
karena terdapat berbagai permasalahan, seperti;
1. Terlalu cepatnya perubahan berbagai peraturan perundang-undangan sehingga
menimbulkan kebingungan ditingkat pelaksana dan terkadang peraturan
perundang-undangan yang dibutuhkan kurang lengkap dan memadai;
2. Fasilitasi oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah masih sering terlambat;
3. Terbatasnya tingkat kesejahteraan para penyelenggaran pemerintahan desa;
4. Sebagian kualitas aparat pemerintahan desa masih terbatas dalam menggalang
partisipasi masyarakat, menumbuhkan keswadayaan dan kemandirian dalam
membangun, memanfaatkan, memelihara serta mengembangkan hasil-hasil
pembangunan;
5. Sangat terbatasnya sarana dan prasarana pemerintahan desa
6. Belum terdapat kepastian mengenai kewenangan dan sumber pendapatan

2.6 Kebijakan Dalam Perencanaan Pembangunan Desa


Bertolak dari permasalahan diatas, Pemerintah menetapkan berbagai
kebijakan untuk memberdayakan, memantapkan, menguatkan Pemerintahan Desa.
Kebijakan dimaksud antara lain:
a. Pemantapan kerangka aturan
b. Penataan kewenangan dan standar pelayanan minimal Desa;
c. Pemantapan kelembagaan;
d. Pemantapan administrasi dan keuangan Desa;
e. Peningkatan sumber daya manusia penyelenggara pemerintahan desa dan
f. Peningkatan kesejahteraan para penyelenggara pemerintahan desa.
Untuk melaksanakan kebijakan sebagaimana diurai diatas, program prioritas yang
akan dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah meliputi:
a. Pemantapan kerangka aturan:
Lingkup kegiatannya yaitu; mempercepat penyelesaian Peraturan Pemerintah,
Peraturan Daerah, Peraturan Desa, Peraturan Kepala Desa dan Tata Tertib

10
Badan Permusyawaratan Desa yang sesuai dengan prinsip keanekaragaman,
demokratisasi, otonomi, partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
b. Penataan organisasi dan kewenangan:
Lingkup kegiatannya yaitu; penataan organisasi Pemerintah Desa, Badan
Permusyawaratan Desa (BPD) dan Lembaga Kemasyarakatan Desa beserta
kewenangan yang harus dimilikinya;
c. Pemantapan sumber pendapatan dan kekayaan desa:
Lingkup kegiatannya yaitu; penataan manajemen perimbangan keuangan
antara Kabupaten/Kota dengan Desa terutama mengenai alokasi dana desa,
upaya peningkatan pendapatan asli desa, upaya penga-daan bantuan dari
pemerintah dan pemerintah provinsi kepada desa, pembentukan badan usaha
milik desa serta peningkatan dayaguna dan hasil guna aset yang dimiliki
maupun yang dikelola oleh desa.
d. Penataan sistem informasi dan administrasi pemerintahan desa yang mudah,
cepat, dan murah terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dasar.
e. Pemantapan dan pengembangan kapasitas:
Lingkup kegiatannya yaitu; meningkatkan kapasitas Kepala Desa, Perangkat
Desa, anggota Badan Permusyawaratan Desa agar lebih mampu
menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat secara demokratis,
transparan dan akuntabel berdasarkan nilai-nilai sosial budaya setempat.
f. Pengadaan sarana dan prasarana:
Lingkup kegiatannya yaitu; penyediaan sarana dan prasarana pemerintahan
desa yang memadai dalam rangka melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai
pelayan masyarakat yang terdepan.
Beberapa program-program pembangunan pedesaan yang pernah dilaksanakan,
misalnya program bidang pangan, program Inpres Desa Tertinggal, dan Program
Pengembangan Terpadu Antar Desa ( PPTAD ) merupakan dalah satu upaya
pemerintah dalam rangka mengembangkan pedesaan dalam mengejar
ketertinggalannya dari perkotaan. Guna mendorong peningkatan pangan,
program-program pembangunan yang pernah dilaksanakan adalah KOGM
(Komando Gerakan Makmur), Bimas (Bimbingan Massal, Innas (Intensifikasi
Massal), Insus (Intensifikasi Khusus), dan Supra Insus. Selain itu guna

11
menyokong program pangan, pemerintah menyediakan bantuan Kredit Usaha
Tani ( KUT ) bagi para petani dalam memberikan permodalan dalam pengelolaan
lahannya.
Akan tetap program-program tersebut belum mampu meningkatkan kesejahteraan
petani karena harga beras lokal masih relative lebih tinggi dibandingkan dengan
harga beras impor. Sedangkan dana penGembalian LUT sampai saat ini banyak
yang menunggak karena petani tidak mampu membayar cicilan tersebut. Adapun
program IDT dan PPTAD lebih cenderung pada pembangunan fisik saja sehingga
penekanan terhadap pembangunan masyarakat umum kurang tersentuh. Padahal
berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan pembangunan masyarakat
desa sesungguhnya sangat mendesak, seperti ketertinggalaan desa dari kota
hampIr di segala bidang, tidak terakomodasinya keinginan dan kebutuhan
masyarakat dalam program-program pemerintah, dan kualiatas pendidikan dan
kesejahteraan masih rendah.
Berdasarkan pengalaman tersebut sudah seharusnya pendekataan pembangunan
pedesaan mulai diarahkan secara integral dengan mempertimbangkan kekhasan
daerah baik dilihat dari sisi kondisi, potensi dan prospek dari masing-masing
daerah.
Namun di dalam penyusunan kebijakan pembangunan pedesaan secara umum
dapat dilihat dalam tiga kelompok (Haeruman, 1997), yaitu :
a. Kebijakan secara tidak langsung diarahkan pada pendiptaan kondisi yang
menjamin kelangsungan setiap upaya pembangunan pedesaan yang
mendukung kegiatan sosial ekonomi, seperti penyediaan sarana dan prasarana
pendukung (pasar, pendidikan, kesehatan, jalan, dan lain sebagainya),
penguatan kelembagaan, dan perlindungan terhadap aktivitas sosial ekonomi
masyarakat melalui undang- undang.
b. Kebijakan yang langsung diarahkan pada peningkatan kegiatan ekonomi
masyarakat pedesaan.
c. Kebijakan khusus menjangkau masyarakat melalui upaya khusus, seperti
penjaminan hukum melalui perundang-undangan dan penjaminan terhadap
keamanan dan kenyamanan masyarakat.

12
Di samping itu kebijakan pembangunan pedesaan harus dilaksanakan
melalui pendekatan sektoral dan regional. Pendekatan sektoral dalam perencanaan
selalu dimulai dengan pernyataan yang mengkut sektor apa yang perlu
dikembangkan untuk mencapai tujuan pembangunan. Berbeda dengan pendekatan
sektoral, pendekatan regional lebih menitik beratkan pada daerah mana yang perlu
mendapat prioritas untuk dikembangkan, baru kemudian sektor apa yang sesuai
untuk dikembangkan di masing-masing daerah. Di dalam kenyataan, pendekatan
regional sering diambil tidak dalam kerangka totalitas, melainkan hanya untuk
beberapa daerah tertentu, seperti daerah terbelakang, daerah perbatasan, atau
daerah yang diharapkan mempunyai posisi trategis dalam arti ekonomi-politis.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kebijakan perencanaan pembangunan desa merupakan suatu pedoman-
pedoman dan ketentuan-ketentuan yang dianut atau dipilih dalam perencanaan
pelaksanakan (memanage) pembangunan di desa yang mencakup seluruh aspek
kehidupan dan penghidupan masyarakat sehingga dapat mencapai kesejahteraan
bagi masyarakat. Pembangunan Masyarakat Desa pada dasarnya adalah bertujuan
untuk mencapai suatu keadaan pertumbuhan dan peningkatan untuk jangka
panjang dan sifat peningkatan akan lebih bersifat kualitatif terhadap pola hidup
warga masyarakat, yaitu pola yang dapat mempengaruhi perkembangan aspek
mental (jiwa), fisik (raga), intelegensia (kecerdasan) dan kesadaran bermasyarakat
dan bernegara. Akan tetapi pencapaian objektif dan target pembangunan desa
pada dasarnya banyak ditentukan oleh mekanisme dan struktur yang dipakai
sebagai sistem pembangunan desa.
Pengertian pembangunan itu sangat luas bukan hanya sekedar bagaimana
menaikkan pendapatan nasional saja. Pembangunan ekonomi itu tidak bisa
diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan negara untuk mengembangkan
kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.

14
DAFTAR PUSTAKA

Arief, Budiman, 1995. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Penerbit Gramedia


Pustaka Utama. Jakarta
Adjid, D.A. 1985. Pola Partisipasi Masyarakat Perdesaan dalam Pembangunan
Pertanian Berencana. Orba Shakti. Bandung
Effendi, tadjudin N dan Chris manning. 1991. Rural Development and Non-Farm
Employment in Java. Resource system Institute. East-West Center.
Fu-Chen Lo. 1981. Rural-Urban Relations and Regional Development. The
United nations Centre for Regional Development. Maruzen Asia Pte. Ltd.
Singapore
Ginanjar Kartasasmita. 1996. Pembangunan untuk Rakyat : Memadukan
Pertumbuhan dan Pemerataan. CIDES. Jakarta
Soekadijo, R., G. 1984. Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan.
Penerbit : PT Gramedia, Jakarta.
Soekanto, S. 1983. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Penerbit : PT Ghalia
Indonesia.

15