Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

BENIGNA PROSTATE HIPERPLASIA (BPH)

A. KONSEP DASAR TEORI


1. Pengertian
Benigna prostatic hyperplasia (BPH) merupakakan pertumbuhan nodul-nodul
fibroadenomatosa majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian
periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar
normal yang tersisa, prostat tersebut mengelilingi uretra dan, dan pembesaran bagian
periuretral menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra parsprostatika
yang menyebabkan aliran kemih dari kandung kemih (Price dan Wilson, 2006).
BPH (Benigna Prostat Hyperplasi) adalah pembesaran progresif dari kelenjar
prostat yang dapat menyebabkan obstruksi dan ristriksi jalan urine (urethra). (M.
Clevo Rendi, 2012)
Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna.
Keadaan ini di alami oleh 50% yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria
yang berusia 80 tahun. Pembesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya
aliran urine sehingga menimbulkan gangguan miksi. (Basuki B. Purnomo,2011).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Benigna Prostat
Hiperplasi (BPH) merupakan penyakit pembesaran prostat yang disebabkan oleh
proses penuaan, yang biasa dialami oleh pria berusia 50 tahun keatas, yang
mengakibatkan obstruksi leher kandung kemih, dapat menghambat pengosongan
kandung kemih dan menyebabkan gangguan perkemihan.
2. Patofisiologi
Menurut (Toto Suharyanto & Abdul Madjid,2009) umumnya gangguan ini
terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan normal. Bagian paling dalam
prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar. Pembesaran ini
mendesak jaringan prostat yang normal ke arah tepi dan juga menyempitkan uretra.
Pembesaran tersebut dapat menimbulkan dorongan sampai di bawah basis vasika
urinaria (Kandung Kemih) sehingga mengakibatkan kesulitan buang air kemih.
Kandung kemih mengatasi tahanan tersebut dengan berkontraksi lebih kuat. Namun
keadaan ini menyebabkan buang air kemih yang tidak efisien karena air kemih yang
di keluarkan hanya sedikit dan menimbulkan urin sisa yang tertinggal di dalam
kandung kemih.
3. Anatomi dan Fisiologi Prostat
a. Anatomi
Menurut Wibowo dan Paryana (2009). Kelenjar prostat terletak dibawah
kandung kemih, mengelilingi uretra posterior dan disebelah proksimalnya
berhubungan dengan buli-buli, sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini
menempel pada diafragma urogenital yang sering disebut sebagai otot dasar
panggul. Gambar letak prostat terlihat di gambar 2.1
Gambar 2. 1 : Letak anatomi prostat
( Hidayat, 2009 )

Prostat terdiri atas kelenjar majemuk, saluran-saluran, dan otot polos Prostat
dibentuk oleh jaringan kelenjar dan jaringan fibromuskular. Prostat dibungkus
oleh capsula fibrosa dan bagian lebih luar oleh fascia prostatica yang tebal.
Diantara fascia prostatica dan capsula fibrosa terdapat bagian yang berisi
anyaman vena yang disebut plexus prostaticus. Fascia prostatica berasal dari
fascia pelvic yang melanjutkan diri ke fascia superior diaphragmatic urogenital,
dan melekat pada os pubis dengan diperkuat oleh ligamentum puboprostaticum.
Bagian posterior fascia prostatica membentuk lapisan lebar dan tebal yang
disebut fascia Denonvilliers. Fascia ini sudah dilepas dari fascia rectalis
dibelakangnya. Hal ini penting bagi tindakan operasi prostat ( Purnomo, 2011).
Kelenjar prostat merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30- 50 kelenjar
yang terbagi atas empat lobus, lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior, dan
lobus medial. Lobus posterior yang terletak di belakang uretra dan dibawah
duktus ejakulatorius, lobus lateral yang terletak dikanan uretra, lobus anterior
atau isthmus yang terletak di depan uretra dan menghubungkan lobus dekstra dan
lobus sinistra, bagian ini tidak mengandung kelenjar dan hanya berisi otot polos,
selanjutnya lobus medial yang terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius,
banyak mengandung kelenjar dan merupakan bagian yang menyebabkan
terbentuknya uvula vesicae yang menonjol kedalam vesica urinaria bila lobus
medial ini membesar. Sebagai akibatnya dapat terjadi bendungan aliran urin pada
waktu berkemih (Wibowo dan Paryana, 2009).
Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih sebesar buah walnut atau
buah kenari besar. Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm, dan
tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat sekitar 20 gram. Bagian- bagian
prostat terdiri dari 50 70 % jaringan kelenjar, 30 50 % adalah jaringan stroma
(penyangga) dan kapsul/muskuler. Bagian prostat terlihat di gambar 2.2.

Gambar 2.2 : Bagian prostat


(Hidayat, 2009)

Prostat merupakan inervasi otonomik simpatik dan parasimpatik dari


pleksus prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan serabut
parasimpatik dari korda spinalis dan simpatik dari nervus hipogastrikus.
Rangsangan parasimpatik meningkatkan sekresi kelenjar pada epitel prostat,
sedangkan rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat
kedalam uretra posterior, seperti pada saat ejakulasi. System simpatik
memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat, dan leher buli-buli.
Ditempat itu terdapat banyak reseptor adrenergic. Rangsangan simpatik
menyebabkan dipertahankan tonus otot tersebut. Pada usia lanjut sebagian pria
akan mengalami pembesaran kelenjar prostat akibat hiperplasi jinak sehingga
dapat menyumbat uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi
saluran kemih (Purnomo, 2011).
b. Fisiologi
Menurut Purnomo (2011) fisiologi prostat adalah suatu alat tubuh yang
tergantung kepada pengaruh endokrin. Pengetahuan mengenai sifat endokrin ini
masih belum pasti. Bagian yang peka terhadap estrogen adalah bagian tengah,
sedangkan bagian tepi peka terhadap androgen. Oleh karena itu pada orang tua
bagian tengahlah yang mengalami hiperplasi karena sekresi androgen berkurang
sehingga kadar estrogen relatif bertambah. Sel-sel kelenjar prostat dapat
membentuk enzim asam fosfatase yang paling aktif bekerja pada pH 5. Kelenjar
prostat mensekresi sedikit cairan yang berwarna putih susu dan bersifat alkalis.
Cairan ini mengandung asam sitrat, asam fosfatase, kalsium dan koagulase serta
fibrinolisis. Selama pengeluaran cairan prostat, kapsul kelenjar prostat akan
berkontraksi bersamaan dengan kontraksi vas deferen dan cairan prostat keluar
bercampur dengan semen yang lainnya. Cairan prostat merupakan 70% volume
cairan ejakulat dan berfungsi memberikan makanan spermatozon dan menjaga
agar spermatozon tidak cepat mati di dalam tubuh wanita, dimana sekret vagina
sangat asam (pH: 3,5-4). Cairan ini dialirkan melalui duktus skretorius dan
bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen
yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat kurang lebih 25% dari
seluruh volume ejakulat. Dengan demikian sperma dapat hidup lebih lama dan
dapat melanjutkan perjalanan menuju tuba uterina dan melakukan pembuahan,
sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH cairan sekitarnya meningkat 6
sampai 6,5 akibatnya mungkin bahwa cairan prostat menetralkan keasaman cairan
dan lain tersebut setelah ejakulasi dan sangat meningkatkan pergerakan dan
fertilitas sperma ( Wibowo dan Paryana, 2009 ).
4. Etiologi
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti.
Prostat merupakan alat tubuh yang bergantung kepada endokrin dan dapat pula
dianggap undangan (counter part). Oleh karena itu yang dianggap etiologi adalah
karena tidak adanya keseimbangan endokrin. Namun menurut Syamsu Hidayat dan
Wim De Jong tahun 2004 etiologi dari Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) antara
lain:
a. Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan
testosteron dan estrogen. Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi
peningkatan hormon Estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol
tetap yang dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.
b. Ketidakseimbangan endokrin.
c. Faktor umur / usia lanjut.
Biasanya terjadi pada usia diatas 50 tahun.
d. Unknown / tidak diketahui secara pasti.
Penyebab BPH tidak diketahui secara pasti (idiopatik), tetapi biasanya
disebabkan oleh keadaan testis dan usia lanjut.
5. Manifestasi klinik
Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan diluar saluran kemih. Menurut Purnomo (2011) dan tanda dan gejala dari
BPH yaitu : keluhan pada saluran kemih bagian bawah, gejala pada saluran kemih
bagian atas, dan gejala di luar saluran kemih.
a. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
1) Gejala obstruksi meliputi : Retensi urin (urin tertahan dikandung kemih
sehingga urin tidak bisa keluar), hesitansi (sulit memulai miksi), pancaran
miksi lemah, Intermiten (kencing terputus-putus), dan miksi tidak puas
(menetes setelah miksi)
2) Gejala iritasi meliputi : Frekuensi, nokturia, urgensi (perasaan ingin miksi
yang sangat mendesak) dan disuria (nyeri pada saat miksi).
b. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat hiperplasi prostat pada sluran kemih bagian atas berupa adanya
gejala obstruksi, seperti nyeri pinggang, benjolan dipinggang (merupakan tanda
dari hidronefrosis), atau demam yang merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
c. Gejala diluar saluran kemih
Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit hernia inguinalis atau hemoroid.
Timbulnya penyakit ini dikarenakan sering mengejan pada saan miksi sehingga
mengakibatkan tekanan intraabdominal. Adapun gejala dan tanda lain yang
tampak pada pasien BPH, pada pemeriksaan prostat didapati membesar,
kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan, anoreksia, mual dan muntah, ras
tidak nyaman pada epigastrik, dan gagal ginjal dapat terjadi dengan retensi kronis
dan volume residual yang besar.
6. Komplikasi
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) komplikasi BPH adalah :
a. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
b. Infeksi saluran kemih
c. Involusi kontraksi kandung kemih
d. Refluk kandung kemih
e. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika meningkat.
f. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi
g. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat terbentuk batu
endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah keluhan iritasi. Batu tersebut
dapat pula menibulkan sistitis, dan bila terjadi refluks dapat mengakibatkan
pielonefritis.
h. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan pada waktu miksi
pasien harus mengedan.

7. Penatalaksanaan
a. Modalitas terapi BPH adalah :
1) Observasi yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3-6 bulan kemudian
setiap tahun tergantung keadaan klien.
2) Medikamentosa : terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan,
sedang, sedang dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal
dari phitoterapi (misalnya : Hipoxis rosperi, serenoa repens, dll), gelombang
alfa blocker dan golongan supresor androgen.
3) Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
a) Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut
(100 ml).
b) Klien dengan residual urin yaitu urine masih tersisa di kandung kemih
setelah klien buang air kecil > 100 Ml.
c) Klien dengan penyulit yaitu klien dengan gangguan sistem perkemihan
seperti retensi urine atau oliguria.
d) Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e) Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.
b. Pembedahan dapat dilakukan dengan :
1) TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat).
a) Jaringan abnormal diangkat melalui rektroskop yang dimasukan melalui
uretra.
b) Tidak dibutuhkan balutan setelah operasi.
c) Dibutuhkan kateter foley setelah operasi.
2) Prostatektomi Suprapubis
a) Penyayatan perut bagian bawah dibuat melalui leher kandung kemih.
b) Diperlukan perban luka, drainase, kateter foley, dan kateter suprapubis
setelah operasi.
3) Prostatektomi Neuropubis
a) Penyayatan dibuat pada perut bagian bawah.
b) Tidak ada penyayatan pada kandung kemih.
c) Diperlukan balutan luka, kateter foley, dan drainase.
4) Prostatektomi Perineal
a) Penyayatan dilakukan diantara skrotum dan anus.
b) Digunakan jika diperlukan prostatektomi radikal.
c) Vasektomi biasanya dikakukan sebagai pencegahan epididimistis.
d) Persiapan buang hajat diperlukan sebelum operasi (pembersihan perut,
enema, diet rendah sisa dan antibiotik).
e) Setelah operasi balutan perineal dan pengeringan luka (drainase) diletakan
pada tempatnya kemudian dibutuhkan rendam duduk.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERASI
1. Pengkajian
a. Pengkajian Fokus
Pengkajian fokus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita BPH
merujuk pada teori menurut Smeltzer dan Bare (2013), ada berbagai macam,
meliputi :
1) Demografi
Kebanyakan menyerang pada pria berusia diatas 50 tahun. Ras kulit
hitam memiliki resiko lebih besar dibanding dengan ras kulit putih. Status
social ekonomi memili peranan penting dalam terbentuknya fasilitas
kesehatan yang baik. Pekerjaan memiliki pengaruh terserang penyakit ini,
orang yang pekerjaanya mengangkat barang-barang berat memiliki resiko
lebih tinggi..
2) Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien BPH keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi ,
nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak puas sehabis miksi,
hesistensi ( sulit memulai miksi), intermiten (kencing terputus-putus), dan
waktu miksi memanjang dan akhirnya menjadi retensi urine.
3) Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah memilki riwayat infeksi saluran kemih (ISK), adakah
riwayat mengalami kanker prostat. Apakah pasien pernah menjalani
pembedahan prostat / hernia sebelumnya.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji adanya keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita
penyakit BPH.
5) Pola kesehatan fungsional
a) Pola persepsi dan Manajemen kesehatan
Biasanya kasus BPH terjadi pada pasien laki-laki yang sudah tua,
dan pasien biasanya tidak memperdulikan hal ini, karena sering
mengatakan bahwa sakit yang diderita nya pengaruh umur yang sudah
tua. Perawat perlu mengkaji apakah klien mengetahui penyakit apa yang
dideritanya? Dan apa penyebab sakitnya saat ini?
b) Pola nutrisi dan metabolik
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena
efek penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari
anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia, mual,
muntah, penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji adalah awasi
masukan dan pengeluaran baik cairan maupun nutrisinya.
c) Pola eliminasi
Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali
dialami oleh pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam
memulai aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih
inkomplit, frekuensi berkemih, nokturia, disuria dan hematuria.
Sedangkan pada postoperasi BPH yang terjadi karena tindakan invasif
serta prosedur pembedahan sehingga perlu adanya obervasi drainase
kateter untuk mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi warna
urin. Evaluasi warna urin, contoh : merah terang dengan bekuan darah,
perdarahan dengan tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna
keruh, gelap dengan bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga
ada kemugkinan terjadinya konstipasi. Pada post operasi BPH, karena
perubahan pola makan dan makanan.
d) Pola latihan- aktivitas
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan
terpasang traksi kateter selama 6 24 jam. Pada paha yang dilakukan
perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan, klien
juga merasa nyeri pada prostat dan pinggang. Klien dengan BPH
aktivitasnya sering dibantu oleh keluarga.
e) Pola istirahat dan tidur
Pada pasien dengan BPH biasanya istirahat dan tidurnya terganggu,
disebabkan oleh nyeri pinggang dan BAK yang keluar terus menerus
dimana hal ini dapat mengganngu kenyamanan klien. Jadi perawat perlu
mengkaji berapa lama klien tidur dalam sehari, apakah ada perubahan
lama tidur sebelum dan selama sakit/ selama dirawat?
f) Pola konsep diri dan persepsi diri
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas
egonya karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan
yang dapat dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental,
perubahan perilaku.
g) Pola kognitif- perseptual
Klien BPH umumnya adalah orang tua, maka alat indra klien
biasanya terganggu karena pengaruh usia lanjut. Namun tidak semua
pasien mengalami hal itu, jadi perawat perlu mengkaji bagaimana alat
indra klien, bagaimana status neurologis klien, apakah ada gangguan?
h) Pola peran dan hubungan
Pada pasien dengan BPH merasa rendah diri terhadap penyakit yang
diderita nya. Sehingga hal ini menyebabkan kurangnya sosialisasi klien
dengan lingkungan sekitar. Perawat perlu mengkaji bagaimana hubungan
klien dengan keluarga dan masyarakat sekitar? apakah ada perubahan
peran selama klien sakit?
i) Pola reproduksi- seksual
Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang
mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksualnya, takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim,
penurunan kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau nyeri
tekan pada prostat.
j) Pola pertahanan diri dan toleransi stres
Klien dengan BPH mengalami peningkatan stres karena memikirkan
pengobatan dan penyakit yang dideritanya menyebabkan klien tidak bisa
melakukan aktivitas seksual seperti biasanya, bisa terlihat dari perubahan
tingkah laku dan kegelisahan klien. Perawat perlu mengkaji bagaimana
klien menghadapi masalah yang dialami? Apakah klien menggunakan
obat-obatan untuk mengurangi stresnya?
k) Pola keyakinan dan nilai
Pasien BPH mengalami gangguan dalam hal keyakinan, seperti
gangguan dalam beribadah shalat, klien tidak bisa melaksanakannya,
karena BAK yang sering keluar tanpa disadari. Perawat juga perlu
mengkaji apakah ada pantangan dalam agama klien untuk proses
pengobatan?
b. Pemeriksaan Fisik
Fokus pemerikaan fisiknnya antara lain:
1) Abdomen: defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal
insufisiensi dari obstruksi yang lama.
2) Kandung kemih
a) Inspeksi: Penonjolan pada daerah supra pubik retensi urine
b) Palpasi : Akan terasa danya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien
ini buang air kecil retensi urine
c) Perkusi : Redup residual urine
3) Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya
stenose meatus, strikur uretra, batu uetra/femosis.
4) Pemeriksaan rectal toucher (colok dubur) posisi knee chest, syarat : buli-
buli kosong/dikosongkan. Tujuan : menentukan konsistensi prostat dan besar
prostat.

c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopis urin penting untuk
melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan infeksi. Bila terdapat hematuria,
harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih,
batu, infeksi saluran kemih, walaupun BPH sendiri dapat menyebabkan
hematuria. Elektrolit, kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi
dasar dan fungsi ginjal dan status metabolik. Pemeriksaan Prostat Specific
Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau
sebagai deteksi dini keganasan. Bila nilai SPA < 4mg / ml tidak perlu biopsy.
Sedangkan bila nilai SPA 410 mg / ml, hitunglah Prostat Spesific Antigen
Density (PSAD) yaitu PSA serum dibagi dengan volume prostat. Bila PSAD
> 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsi prostat, demikian pula bila nilai
PSA > 10 mg/ml.
2) Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan yang biasa dilakukan adalah foto polos abdomen,
pielografi intravena, USG dan sitoskopi. Dengan tujuan untuk memperkirakan
volume BPH, menentukan derajat disfungsi bulibuli dan volume residu
urine, mencari kelainan patologi lain, baik yang berhubungan maupun yang
tidak berhubungan dengan BPH.
Dari semua jenis pemeriksaan dapat dilihat :
a) Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada batu traktus urinarius,
pembesaran ginjal atau buli buli.
b) Dari pielografi intravena dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal,
hidronefrosis dan hidroureter, fish hook appearance (gambaran ureter
belok belok di vesika).
c) Dari USG dapat diperkirakan besarnya prostat, memeriksa masa ginjal,
mendeteksi residu urine, batu ginjal, divertikulum atau tumor buli buli.
(Arif Mansjoer, 2000).
3) Pemeriksaan Diagnostik.
a) Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap / terang, penampilan
keruh, Ph: 7 atau lebih besar, bakteria.
b) Kultur Urine : adanya staphylokokus aureus, proteus, klebsiella,
pseudomonas, e.coli.
c) BUN / kreatinin : meningkat.
d) IVP : menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih dan adanya
pembesaran prostat, penebalan otot abnormal kandung kemih.
e) Sistogram : mengukur tekanan darah dan volume dalam kandung kemih.
f) Sistouretrografi berkemih : sebagai ganti IVP untuk menvisualisasi
kandung kemih dan uretra dengan menggunakan bahan kontras lokal.
g) Sistouretroscopy : untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan
kandung kemih.
h) Transrectal ultrasonografi : mengetahui pembesaran prosat, mengukur
sisa urine dan keadaan patologi seperti tumor atau batu (R.Sjamsuhidayat,
2004).
2. Analisa Data
a. Data subyektif :
1) Pasien mengeluh sakit pada luka insisi, karakteristik luka, luka berwarna
merah.
2) Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.
3) Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.
4) Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.
b. Data Obyektif:
1) Terdapat luka insisi, karakteristik luka berwarna merah.
2) Takikardia, normalnya 80-100 kali/menit.
3) Gelisah.
4) Tekanan darah meningkat, normalnya 120/80 mmHg.
5) Ekspresi wajah ketakutan.
6) Terpasang kateter.

3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawata post operasi BPH menurut Reny Yuli Aspiani (2015) adalah:
a. Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi bedah.
b. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan reseksi pembedahan dan irigasi
kandung kemih.
c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
d. Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan pola seksual
e. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang
rutinitas pasca operasi

4. Rencana Tindakan Keperawatan (Intervensi)


Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi
bedah.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan
klien dapat mengontrol nyeri dan menunjukan tingkatan nyeri.
Kriteria Hasil : mengenal faktor penyebab nyeri, tindakan mengunakan analgetik,
melaporkan gejala-gejala kepada tenaga kesehatan, melaporkan nyeri berkurang,
ekspresi wajah tenang kegelisahan berkurang, tidak ada perubahan respirasi.
Tindakan :
a. Mengkaji secara komperhensif tentang nyeri, meliputi lokasi, karakteristik,
durasi frekuensi, kualitas, intensitas, faktor-faktor prespitasi nyeri.
R/ Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau
keefektifan intervensi.
b. Mengunakan komunikasi terupetik agar klien dapat mengekspresikan nyeri
R/ memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan keefektifan
dalam menentukan pilihan atau keefektifan intervensi.
c. Dokumentasikan respon analgetik dan efek-efek yang tidak diinginkan
d. Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasif.
R/ Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan dapat
meningkatkan kemampuan koping.
e. Kolaborasi dengan tim dokter dan kesehatan lain dalam pemberian obat
analgetik.
R/ untuk mengurangi nyeri
f. Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen
tegang).
R/ Untuk menurunkan spasme kandung kemih.

Diagnosa 2 : Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan reseksi pembedahan dan


irigasi kandung kemih.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan: klien menunjukan
kontinensia urine.
Kriteria Hasil :
a. Klien menunjukan eliminasi urine tidak terganggu: bau, jumlah dan warna urine
dalam batas normal.
b. Klien berkemih tanpa retensi
c. Tidak terdapat bekuan darah sehingga urine lancar lewat kateter.
Tindakan :
a. Pantau eliminasi, meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume dan warna jika
perlu.
R/ Menghindari terjadinya gumpalan yang dapat menyumbat kateter,
menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih.
b. Pertahankan irigasi kandung kemih yang konstan selama 24 jam pertama.
R/ Menghindari terjadinya gumpalan yang dapat menyumbat kateter,
menyebabkan peregangan dan perdarahan kandung kemih.
c. Anjurkan intake cairan 2500-3000 ml sesuai toleransi.
R/ Cairan membantu mendistribusikan obat-obatan keseluruh tubuh. Risiko
terjadinya ISK dikurangi bila aliran urine encer konstan dipertahankan melalui
ginjal.
d. Setelah kateter diangkat, pantau jumlah urine dan ukuran aliran.
R/ kateter biasa lepas 2-5 hari setelah bedah, tetapi berkemih dapat berlanjut
sehingga menjadi masalah untuk beberapa waktu karena edema uretral dan
kehilangan tonus.

Diagnosa 3 : Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan:
Infeksi dapat dicegah dan klien dapat meningkatkan pertahanan tubuh.
Kriteria Hasil :
a. Klien tidak menalami infeksi.
b. Klien menunjukan leukosit dalam batas normal.
c. Klien dapat mencapai waktu penyembuhan.
d. Klien tidak menunjukan tanda gejala shock.
Tindakan :
a. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter steril.
R/ Untuk mengurangi resiko infeksi.
b. Monitor tanda-tanda sepsis (nadi lemah, hipotensi, nafas meningkat, dingin).
R/ Deteksi awal terhadap komplikasi dengan intervensi yang tepat dapat
mencegah kerusakan jaringan yang permanen.
c. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotik.
R/ untuk mencegah infeksi

Diagnosa 4 : Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan pola seksual


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan:
Fungsi seksual adekuat.
Kriteria hasil :
a. Klien menunjukan adanya keinginan untuk mendiskusikan perubahan pada fungsi
seksual.
b. Klien menyatakan pemahaman situasi individual.
c. Klien mengerti tentang pengaruh TUR-P pada seksual.
Tindakan :
a. Dampingi pasien dan bina hubungan saling percaya
R/ Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu
b. Berikan informasi yang tepat tentang harapan kembalinya fungsi seksual
R/ impotensi fisiologis terjadi bila syaraf perineal dipotong selama prosedur
radikal.
c. Diskusikan ejakulasi retrograde bila pendekatan transurethral/suprapubik
digunakan
R/ cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan disekresikan melalui
urine, hal ini tidak mempengaruhi fungsi seksual tetapi akan menurunkan
kesuburan dan menyebabkan urine keruh
d. Anjurkan pasien untuk latihan perineal dan interupsi/continue aliran urin
R/ meningkatkan peningkatan control otot kontinensia urin dan fungsi seksual.

5. Evaluasi
Menurut Purnomo (2011) evaluasi adalah proses dan dokumentasi
keperawatan konsep dan klinik. Tahap evaluasi diletakan pada akhir proses
keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral (mengenai keseluruhan) pada
setiap proses keperawatan. Tujuan dari evaluasi adalah untuk melihat kemampuan
klien dalam mencapai tujuan.
Ada 2 komponen untuk melakukan evaluasi kualitas dari tindakan
keperawatan yaitu Evaluasi Formatif (proses) adalah hasil kulitas dari pelayanan
tindakan keperawatan dan harus terus menerus dilakukan tindakan keperawatan
sampai tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Evaluasi Sumatif (Hasil) evaluasi yang
pada dasarnya untuk mengetahui apakah tindakan keperawatan sudah tercapai atau
belum tercapai.
Adapun tahap evaluasi mempermudah perawat untuk mengevaluasiatau
memantau perkembangan klien digunakan komponen SOAP adalah
a. Subjektif, perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah
dilakukan tindakan keperawatan.
b. Objektif, data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara
langsung kepada klien dan yang dirasakan klien setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
c. Analisa, intervensi dari data subjektif dan objektif merupakan suatu masalah atau
diagnosa keperawatan yang masih terjadi atau juga dapat dituliskan
masalah/diagnosa baru yang terjadi akibat perubahan status klien yang telah di
identifikasi datanya dalam data subjektif dan objektif.
d. Planning, yaitu perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan,
dimodifikasi, atau ditambah dari rencana tindakan yang telah ditentukan
sebelumnya.

Evaluasi yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan antara lain:


a. Nyeri klien dapat berkurang
b. Klien menunjukan eliminasi urine tidak terganggu: bau, jumlah dan warna urine
dalam batas normal.
c. Klien berkemih tanpa retensi
d. Klien tidak terjadi infeksi.
e. Fungsi seksual klien adekuat
DAFTAR PUSTAKA

Aspiani. Reny. 2015. Buku Ajar Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan ( Aplikasi NANDA, NIC dan NOC). Jakarta: Trans Info Media

Basuki B. Purnomo. 2011. Dasar Dasar Urologi. Perpustakaan Nasional RI Katalog


Dalam Terbitan (KTO). Jakarta

Hidayat, A. A. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Konsep Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika

Jong, Wim de dan Sjamsuhidajat R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi revisi. Jakarta :
EGC

Price, S. A dan Wilson L. M. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit.


Edisi 6, Volume 1. Jakarta: EGC

Rendy, M Clevo Dan Margareth. 2012. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit
Dalam . Yogyakarta: Nuha Medika

Sjamsuhidajat, R dan De Jong W . 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

Smeltzer, S. C. And Bare B. G. 2013. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart
Edisi 12. Alih Bahasa, Devi Yulianti, Amalia Kimi. Jakarta: EGC

Suharyanto, Toto. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Jakarta : Trans Info Media

Wibowo, Daniel S & Paryana, Widjaja. 2009. Anatom Tubuh Manusia. Yogyakarta: Graha
Ilmu