Anda di halaman 1dari 63

56

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permukaan bumi tertutup oleh laut sekitar 70,8 %. Negara Indonesia

khususnya di kawasan bagian tengah dan timur memiliki luas wilayah yang

sebagian besar adalah lautan dan merupakan salah satu negara kepulauan yang

terluas di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.499 pulau, luas seluruh wilayah

daratan 2.012.402 km2, luas wilayah perairan 5.877.879 km2 dan panjang

garis pantai 81.290 km (Dishidros, 2006 dalam Pariwono, 2007).

Kota Kendari mencakup luas wilayah 28.170 km2 yang berada di sekitar

pesisir pantai dan diapit beberapa pegunungan. Luas wilayah daratan 8.532,88

km2, sedangkan wilayah perairan 21.200 km2. Kota Kendari terdiri dari 64

kelurahan, 43,75 % diantaranya merupakan desa pesisir dan sebanyak 56,25 %

bukan desa pesisir (BMKG Stasiun Maritim Kendari, 2011 dalam Alamsyah,

2013).

Kota Kendari merupakan salah satu daerah yang memiliki wilayah perairan

sebagai pembatasnya dengan pulau lain. Perairan yang dimaksud dalam hal ini

adalah perairan Teluk Kendari. Perairan ini memiliki sumbangan yang cukup

besar dalam perkembangan perekonomian Kota Kendari. Hal ini disebabkan

karena Teluk Kendari memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan

bagi masyarakat Kota Kendari.

Saat ini sejumlah kegiatan manusia berlangsung di sepanjang garis pantai

Teluk Kendari, seperti kawasan pengembangan industri perikanan, pelabuhan


2

niaga, pariwisata, area pemukiman penduduk, perdagangan lokal dan antar pulau

serta perkantoran. Selain itu pemanfaatan badan perairan teluk ini sebagai jalur

transportasi laut, juga semakin menambah deretan panjang aktivitas pemanfaatan

teluk tersebut oleh masyarakat Kendari dan sekitarnya.

Fakta luasnya wilayah perairan di Indonesia terkhusus di Kota Kendari,

menjadikan pemanfaatan sumber daya kelautan sudah sewajarnya dikembangkan

dan dijadikan sebagai salah satu sektor andalan untuk pendapatan daerah.

Pengelolaan sumber daya laut memerlukan informasi yang lengkap dan akurat

mengenai kondisi dan sifat fisika suatu wilayah perairan. Salah satu cara yang

dapat dilakukan untuk memperoleh informasi tersebut adalah dengan mengadakan

suatu survei dan penelitian.

Semakin beragamnya pemanfaatan kawasan perairan Teluk Kendari saat ini

maka pengetahuan mengenai pasang surut penting untuk berbagai kegiatan baik di

lautan maupun di pantai seperti pelayaran antar pulau, perikanan, pariwisata,

pengelolaan sumber daya hayati dan sebagainya (Gunawan, 2005).

Berdasarkan pemaparan di atas, maka peneliti menganggap perlu untuk

mengkaji lebih dalam tentang komponen dan tipe pasang surut di perairan Teluk

Kendari dengan judul, Studi Pasang Surut di Perairan Teluk Kendari

Menggunakan MIDAS Wave Recorder.


57

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana menentukan komponen utama pasang surut di perairan Teluk

Kendari?

2. Bagaimana menentukan tipe pasang surut di perairan Teluk Kendari?

C. Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Komponen utama pasang surut di perairan Teluk Kendari ditentukan

menggunakan metode Admiralty dan tipe pasang surut ditentukan

menggunakan formula Formzhal.

2. Penentuan komponen utama dan tipe pasang surut menggunakan data

pengukuran yang direkam menggunakan MIDAS Wave Recorder selama 15

hari.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa dan menentukan tipe pasang

surut di perairan Teluk Kendari berdasarkan komponen pasang surut yang

diperoleh.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai bahan informasi baik bagi instansi pemerintah, swasta, maupun

masyarakat dalam rangka mengembangkan potensi sumber daya di perairan

Teluk Kendari.
4

2. Sebagai bahan informasi bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang akan

melakukan survei dan penelitian yang relevan di perairan Teluk Kendari..


56

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum Kota Kendari

Wilayah Kota Kendari secara geografis terletak di bagian Selatan garis

khatulistiwa memanjang dari Utara ke Selatan 35440 4505 Lintang

Selatan dan membentang dari Barat ke Timur antara 1222633 12203914

Bujur Timur. Letak wilayah Kota Kendari sebelah Utara berbatasan dengan

Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe, sebelah Timur berbatasan dengan Laut

Kendari, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan

Konda Kabupaten Konawe Selatan, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan

Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan dan Kecamatan Sampara Kabupaten

Konawe (Alamsyah, 2013).

Kota Kendari memiliki luas wilayah 28.170 km2 yang berada di sekitar

pesisir pantai dan diapit beberapa pegunungan. Luas wilayah daratan 8.532,88

km2, sedangkan wilayah perairan 21.200 km2. Wilayah Kota Kendari terletak di

bagian Tenggara Pulau Sulawesi yang daratannya sebagian besar terdapat di

daratan Pulau Sulawesi yang mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau

yaitu Pulau Bungkutoko (BMKG Stasiun Maritim Kendari, 2011 dalam

Alamsyah, 2013).

Wilayah Kota Kendari hanya memiliki dua musim yakni musim kemarau

dan musim hujan. Keadaan musim ini sangat dipengaruhi oleh arus angin yang

bertiup di atas wilayahnya. Suhu udara mengalami perubahan yang dipengaruhi

oleh berbagai faktor, antara lain perbedaan ketinggian dari permukaan laut,
6

adanya daerah pengunungan dan daerah pesisir dan laut. Secara keseluruhan,

wilayah Kota Kendari merupakan daerah bersuhu tropis.

Topografi wilayah Kota Kendari pada dasarnya bervariasi antara datar dan

berbukit. Daerah datar terdapat di bagian Barat dan Selatan Teluk Kendari.

Kecamatan Kendari yang terletak di sebelah Utara Teluk sebagian besar terdiri

dari perbukitan (pegunungan Nipa-Nipa) dengan ketinggian 459 m. Sedangkan

ke arah Selatan tingkat kemiringan antara 4%-30%. Bagian Barat (Kecamatan

Mandonga) dan Selatan (Kecamatan Poasia) terdiri dari perbukitan bergelombang

rendah dengan kemiringan ke arah Teluk Kendari.

Kota Kendari merupakan salah satu daerah yang memiliki wilayah perairan

sebagai pembatas dengan pulau lain. Perairan yang dimaksud adalah perairan

Teluk Kendari. Perairan ini memiliki sumbangan yang cukup besar dalam

perkembangan perekonomian Kota Kendari. Hal ini disebabkan karena Teluk

Kendari memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan bagi masyarakat

Kota Kendari.

Perairan Teluk Kendari merupakan perairan teluk semi tertutup yang mulut

teluknya menyempit dan menghadap ke perairan Laut Banda. Secara horizontal

perairan Teluk Kendari terdiri atas 3 bagian yaitu muara, tengah teluk dan mulut

teluk. Muara sungai memiliki kedalaman berkisar antara 0-5 m yang berbatasan

langsung dengan Sungai Wanggu, yang memberi masukan air tawar. Tengah teluk

memiliki kedalaman berkisar antara 5-10 m yang tergolong potensial bagi

pengembangan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Mulut teluk memiliki

kedalaman lebih dari 10 m yang berhubungan langsung dengan Laut Banda dan
57

terdapat satu pulau kecil yaitu Bungkutoko, sehingga bentuk perairan Teluk

Kendari menjadi relatif tertutup.

Perairan Teluk Kendari yang terletak di tengah Kota Kendari diperkirakan

memiliki luas 10,84 km2 dan memiliki panjang garis pantai 35,85 km. Secara

geografis wilayah Teluk Kendari sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan

Kendari dan Kendari Barat, sebelah Timur berbatasan dengan Pulau Bungkutoko,

sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Poasia dan Kecamatan Abeli,

sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Mandonga dan Kecamatan Kambu.

Perairan Teluk Kendari memiliki tipe iklim tropis. Musim barat biasanya

berlangsung dari bulan Oktober-Februari dengan curah hujan relatif tinggi jika

dibandingkan dengan musim timur yang terjadi antara bulan Maret - September.

Musim peralihan atau musim pancaroba terjadi pada bulan Februari - Maret dan

September - Oktober (Alamsah,2013).

B. Pengertian Pasang Surut

Pasang surut merupakan salah satu gejala alam yang tampak di laut, yakni

suatu gerakan partikel massa air laut dari permukaan sampai dasar laut. Gerakan

tersebut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal, yakni

dorongan ke arah luar pusat rotasi. Hukum gravitasi Newton menyatakan, semua

massa benda tarik menarik satu sama lain dan gaya ini tergantung pada besar

massanya, serta jarak diantara massa tersebut. Gravitasi bervariasi secara langsung

dengan massa, tetapi berbanding terbalik dengan jarak. Massa matahari lebih

besar dari massa bulan tetapi jarak bulan ke bumi jauh lebih kecil, sehingga gaya
8

tarik bulan terhadap bumi memiliki pengaruh yang lebih besar dibanding gaya

tarik matahari terhadap bumi (Wijaya, 2011).

Secara aktual, gejala pasang surut merupakan suatu gelombang panjang dan

mencirikan siklus berkala. Harga periode pasang surut bermacam-macam

bergantung pada faktor-faktor astronomi maupun non astronomi. Faktor

astronomi seperti deklinasi bulan, deklinasi matahari, revolusi bulan dan matahari,

jarak bumi bulan, dan lain-lain. Sedangkan faktor non astronomi seperti

kedalaman perairan, topografi dasar laut, konfigurasi garis pantai, angin serta

faktor hidrografis dan meteorologi lainnya (Anda, 1993 dalam Gunawan, 2005).

Pasang surut laut dapat didefinisikan pula sebagai gelombang yang

dibangkitkan oleh adanya interaksi antara bumi, matahari dan bulan. Puncak

gelombang disebut pasang tinggi (High Water/HW) dan lembah gelombang

disebut surut/pasang rendah (Low Water/LW). Perbedaan vertikal antara pasang

tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang surut atau tunggang pasut (tidal

range) yang bisa mencapai beberapa meter hingga puluhan meter (Ariningsih,

2014).

C. Gaya Pembangkit Pasang Surut

Pasang surut ditimbulkan oleh gaya tarik menarik bumi, bulan dan matahari.

Semua benda di alam semesta memiliki massa, sehingga juga memiliki gravitasi.

Selain memiliki gravitasi, juga memiliki medan gravitasi yang saling

mempengaruhi satu sama lain. Gravitasi merupakan gaya tarik-menarik yang

terjadi antara semua partikel yang mempunyai massa di alam semesta. Gaya

gravitasi bumi disebabkan karena bumi yang berukuran besar memiliki massa
57

yang juga besar sehingga dapat menarik semua benda yang berada di atasnya.

Gravitasi bumi menarik bulan ke pusat bumi, sedang gaya gravitasi bulan tetap

mempertahankan posisi bulan, sehingga menghasilkan gaya sentrifugal yang

membuat bulan berputar pada porosnya dan mengelilingi bumi agar tidak tertarik

ke pusat gravitasi bumi atau tetap berada pada orbitnya. Pengaruh gaya gravitasi

bumi dan bulan menghasilkan pasang-surut air laut. Gaya gravitasi bulan menarik

air laut ke arah bulan sehingga mempengaruhi ketinggian permukaan laut. Karena

bulan mengintari bumi, maka akan ada saat dimana satu sisi dari bumi lebih dekat

dengan bulan. Bagian yang dekat dengan bulan inilah yang akan mengalami air

laut pasang, sedangkan bagian yang tidak dekat dengan bulan mengalami air laut

surut (Triatmodjo, 1997 dalam Desiana, 2013).

Pasang surut air laut juga berkaitan dengan fase bulan. Satu kali berotasi,

bulan memerlukan waktu yang sama dengan satu kali revolusinya mengelilingi

bumi. Waktu yang diperlukan bulan untuk berevolusi adalah 27 hari 7 jam 43,2

menit. Saat berevolusi, luas bagian bulan yang terkena sinar matahari berubah-

ubah. Perubahan bentuk bulan itu disebut fase bulan. Bulan mengalami 8 fase

dalam sekali revolusi yang apabila dirata-ratakan, setiap fase bulan berlangsung

selama 3-4 hari. Berikut pembagian 8 fase revolusi bulan (Softilmu, 2015) :

1. Fase 1 (Bulan Baru/New Moon): Sisi bulan yang menghadap bumi tidak

menerima cahaya dari matahari sehingga bulan tidak terlihat. Fase ini terjadi di

hari pertama dimana bulan berada pada posisi 00.


10

Gambar 1. Fase Bulan (Softilmu, 2015)

2. Fase 2 (Sabit Muda/Waxing Crescent); Selama fase ini, kurang dari setengah

bulan yang menyala dan sebagai fase berlangsung. Bagian yang menyala

secara bertahap akan lebih besar. Fase ini terjadi pada hari ke empat dimana

bulan berada pada posisi 450. Jika dilihat dari bumi, bulan tampak melengkung

seperti sabit.

3. Fase 3 (Kuartal III/Third Quarter); Bulan tampak setengah lingkaran. Fase ini

terjadi pada hari ke delapan dimana bulan berada pada posisi 900.

4. Fase 4 (Waxing Gibous); Awal fase ini ditandai saat bulan setengah, bagian

yang tampak akan lebih besar. Pada hari ke sebelas, bulan berada pada posisi

1350 dan terlihat seperti cakram (bulan cembung)


57

5. Fase 5 (Full Moon); Pada fase ini, bulan berada pada sisi berlawanan dengan

bumi dan cahaya matahari sepenuhnya terkirim ke bulan. Fase ini terjadi pada

hari ke empat belas, bulan berada pada posisi 1800. Pada posisi ini, bulan

terbentuk sempurna (lingkaran penuh) disebut juga bulan purnama.

6. Fase 6 (Wanning Gibous); Pada fase ini, bagian yang tampak akan semakin

kecil secara bertahap. Fase ini terjadi pada hari ke tujuh belas, bulan berada

pada posisi 2250 yang penampakannya kembali seperti cakram.

7. Fase 7 (Kuartal I/ First Quarter); Setengah dari bulan terlihat. Fase ini terjadi

pada hari ke dua puluh satu, bulan berada tepat pada posisi 2700 yang

penampakannya sama seperti bulan pada fase 3 atau kuartal III.

8. Fase 8 (Sabit Tua/ Waning Crescent); Sebagian kecil dari bulan terlihat. Fase

ini terjadi pada hari ke dua puluh lima. Bulan berada pada posisi 3150.

Penampakannya sama seperti pada posisi 45 derajat yaitu bulan tampak seperti

sabit.

Besar naik turunnya permukaan laut tergantung pada kedudukan bumi

terhadap bulan dan matahari. Ketika bumi, bulan dan matahari sejajar, terjadi

pasang surut purnama (spring tides). Pada kondisi ini, besar gaya tarik bulan dan

matahari terhadap bumi maksimum (saling menguatkan) sehingga permukaan laut

mencapai pasang tertinggi. Pasang surut purnama ini terjadi dua kali sebulan,

yakni pada saat bulan baru dan bulan purnama. Sedangkan ketika bumi, bulan dan

matahari membentuk sudut tegak lurus, terjadi pasang surut perbani (neap tides).

Pada kondisi ini, besar gaya tarik bulan dan matahari terhadap bumi saling

melemahkan sehingga permukaan laut akan turun mencapai titik terendah. Pasang
12

surut perbani ini terjadi dua kali, yaitu pada saat bulan 1/4 dan 3/4 (Widiantoro,

2014).

Gambar 2. Skema Pasang Surut Purnama (Spring Tides)


dan Pasang Surut Perbani (Neap Tides)

Pembentukan pasang surut air laut sangat dipengaruhi oleh gerakan utama

matahari dan bulan, yaitu (Ongkosongo, 1989 dalam Gunawan, 2005) :

1. Revolusi bulan terhadap bumi, dimana orbitnya berbentuk elips dan

memerlukan periode untuk menyelesaikan revolusi itu selama 29,5 hari.

2. Revolusi bumi terhadap matahari dengan orbitnya berbentuk elips, periode

yang diperlukan adalah 365,25 hari.

3. Perputaran bumi terhadap sumbunya sendiri (rotasi bumi), periode yang

diperlukan untuk gerakan ini adalah 24 jam.

Proses pembangkitan gaya-gaya penyebab gelombang panjang, sistem

konfigurasi bumi-bulan yang ideal ditunjukkan pada gambar 3 berikut :


57

Utara

Sumbu putar bumi bulan

Q
F Fm
c r
Fg

Bumi R Bulan

4669 km
Air Laut
Fg = Gaya gravitasi bumi
Fc = Gaya sentrifugal
Selatan
Fm = Gaya gravitasi bulan
Fc >Fg Fg >Fc

Gambar 3. Konfigurasi Bumi - Bulan

Kedua benda langit tersebut bergerak dengan pusat putar yang terletak

sekitar 4669 km dari pusat bumi dengan gaya grafitasi bulan Fm dan gaya

sentrifugal Fc yang seimbang dan terletak pada masing-masing pusat massa. Air

yang terletak pada sisi terjauh dari bulan akan memiliki Fc > Fg dan

menghasilkan gaya keluar. Sebaliknya, pada bagian bumi yang dekat bulan, Fg>

Fc, juga menyebabkan terjadinya gaya keluar.

Selanjutnya, tinjau satu satuan massa air di bumi pada titik P pada gambar 4

berikut: P
Fm
Fc
r
Re Fg

Me R Mm

Bulan

Bumi
Gambar 4. Gaya Pembangkit Pasut di Titik P
14

Besarnya gaya tarik menarik antara satu satuan massa air di titik P dengan bulan

adalah sebagai berikut :


= (1)
2

Sedangkan besarnya gaya sentrifugal yang parallel dengan bumi bulan adalah


= (2)
2

Besarnnya gaya gravitasi bumi adalah :


= (3)
2

Keterangan:

= massa bulan

= massa bumi

= jari-jari bumi

R = jarak bumi- bulan

r = jarak bulan terhadap massa air bumi

G = konstanta gravitasi (6,675 0,03 x 108 cm3 gr 1 det 2 )

= sudut yang dibentuk oleh massa air di bumi yang ditinjau terhadap

khatulistiwa (deklinasi 00)

Selanjutnya gaya tarik menarik antara satu satuan massa air di titik P dengan

bulan (Fm) dan gaya sentrifugalnya (Fc) ditinjau komponen vertikal dan

komponen horizontalnya. Kedua komponen tersebut menghasilkan persamaan

berikut:

Komponen vertikal : = (4)

Komponen horizontal : = (5)


57

Kedua komponen ini jika dijabarkan lebih lanjut diperoleh:

cos
= [ ] (6)
2 2

sin sin
= [ ] (7)
2 2

Atau

3 1
=
2
( ) 2 3 (8)

3
= sin 2 (9)
2 3

Kedua persamaan ini adalah gaya-gaya yang dibangkitkan oleh bulan.

Komponen vertikal tidak mengangkat massa air, hanya bertindak sebagai

gangguan pada medan gravitasi. Sedangkan komponen horizontal dapat

menghasilkan percepatan pasang surut yang dapat menyebabkan pergerakan air.

Komponen ini juga sering disebut sebagai gaya penggerak. Dengan cara yang

sama, gaya-gaya pembangkit pasang surut pada sistem bumi-matahari, dapat

ditulis sebagai berikut :

3 1
=
2
( ) 2 3 (10)

3
= sin 2 (11)
23

Dimana, M adalah massa matahari dan D adalah jarak antara pusat bumi

matahari.

Apabila ditinjau titik P yang terletak di permukaan bumi, besarnya gaya

pembangkit pasang surut akan bervariasi sesuai dengan letaknya dan dapat

diilustrasikan dengan gambar di bawah ini (Djaja, 1989 dalam Gunawan, 2005) :
16

Bumi Bulan

Gambar 5. Distribusi Gaya Pembangkit Pasang Surut

D. Gelombang Laut

Gelombang laut merupakan bentuk permukaan laut yang berupa punggung

atau puncak gelombang dan palung atau lembah gelombang oleh gerak ayun

(oscillatory movement) akibat tiupan angin, erupsi gunung api, pelongsoran dasar

laut, atau lalu lintas kapal. Gelombang laut juga didefinisikan sebagai pergerakan

naik turunnya air laut dengan arah tegak lurus permukaan air laut yang

membentuk kurva/grafik sinusoidal. Gelombang laut timbul karena adanya gaya

pembangkit yang bekerja pada laut (Sunarto, 2003 dalam Riadi, 2016).

Gambar 6. Skets Definisi Gelombang


(Sumber: Zakaria, 2009)
57

Pond dan Pickard (1983) dalam Riadi (2016) mengklasifikasikan

gelombang laut berdasarkan periode, ukuran dan penyebabnya seperti pada tabel 1

berikut:

Tabel 1: Klasisfikasi Gelombang Berdasarkan Periode, Ukuran dan Penyebabnya


Periode Panjang Gelombang Jenis Gelombang Penyebab
0 0,2 detik Beberapa centimeter Riak (riplles) Adanya tegangan
permukaan dan
tiupan angin yang
tidak terlalu kuat
pada permukaan
laut
0,2 0,9 Mencapai 130 meter Gelombang angin Dibangkitkan oleh
detik angin
0,9 -15 detik Beberapa ratus meter Alun (Swell) Angin yang bertiup
lama
15 30 detik Ribuan meter Long Swell
0,5 menit Ribuan kilometer Gelombang
1 jam dengan periode
yang panjang
(mis: tsunami)
5, 12, 25 jam Beberapa kilometer Pasang surut Fluktuasi gaya
gravitasi matahari
dan bulan.

E. Analisis Harmonik Komponen Pasang Surut

Gaya pembangkit pasang surut terdiri dari beberapa komponen gaya akibat

sistem konfigurasi bumi, bulan dan matahari. Masing-masing komponen gaya

tersebut akan menimbulkan beberapa gelombang periodik yang dapat ditentukan

besarnya secara teoritik. Superposisi dari beberapa gelombang periodik tersebut

akan membentuk gelombang pasang surut yang cukup kompleks.

Komponen pasang surut dapat dianalisa dengan metode harmonik, dengan

dasar bahwa pasang surut yang terjadi adalah superposisi atau penjumlahan dari

berbagai komponen pasang surut. Pasang surut bersifat periodik, sehingga dapat
18

diramalkan, tetapi memerlukan data amplitudo dan beda fase dari masing-masing

komponen pembangkit pasang surut. Komponen utama pasang surut terdiri dari

komponen tengah harian dan harian, tetapi karena interaksinya dengan morfologi

pantai dan superposisi antar gelombang pasang surut maka akan terbentuk

komponen-komponen pasang surut yang baru.

Masing-masing komponen memiliki periode berdasarkan perhitungan

astronomi dan sudut fase yang bergantung pada kondisi lokal, yang berarti bahwa

konstanta masing-masing komponen tersebut berbeda antara satu dan yang lain.

Pada suatu daerah, ada kemungkinan perbedaan konstanta pasang surut pada data

yang pendek (pengamatan selama 15 hari, 1 bulan atau 1 tahun). Hal ini

disebabkan antara lain oleh data yang dianalisa kurang panjang atau terjadi

pencampuran dengan gelombang panjang jenis surge.

Pada buku peramalan pasang surut yang dikeluarkan oleh Dishidros-TNI

AL (Dinas Hidro-Oseanografi TNI AL) dan National Ocean Service tertulis nilai

komponen pasang surut baik amplitudo maupun fase pada beberapa lokasi di

perairan Indonesia. Dengan mengetahui amplitudo pasang surut suatu daerah,

maka nilai Formzahl dapat dihitung dan tipe pasang surut dapat ditentukan.

Komponen utama pasang surut dapat dilihat pada tabel 3 (Sorensen, 1978 dalam

Wijaya, 2011).
57

Tabel 2. Komponen Pasang Surut

Jenis Nama Komponen Periode Fenomena


Semi M2 (Principal Lunar) 12.24 Gravitasi bulan dengan orbit
diurnal lingkaran dan sejajar ekuator bumi
S2 (Principal Solar) 12.00 Gravitasi matahari dengan orbit
lingkaran dan sejajar ekuator bumi
N2 (Larger Lunar Elluptic) 12.66 Perubahan jarak bulan ke bumi
akibat lintasan yang berbentuk
elips
K2 (Luni-Sloar Semi- 11.97 Perubahan jarak matahari ke bulan
akibat lintasan yang berbentuk
Diurnal)
elips
Diurnal K1 (Luni-Solar Diurnal) 23.93 Deklinasi sistem bulan dan
matahari
O1(Principal Lunar Diurnal 25.82 Deklinasi bulan

P1 (Principal Solar Diurnal) 24.07 Deklinasi matahari


Periode Mf (Lunar Fornightly) 327.86 Variasi setengah bulanan
panjang Variasi bulanan
Mm (Lunar Monthly) 661.30
Ssa 2191.43 Variasi semi tahunan
Perairan 2SM2 11.61 Interaksi bulan dan matahari
dangkal Interaksi bulan dan matahari
MNS2 13.13
dengan perubahan jarak matahari
akibat lintasan berbentuk elips
MK3 8.18 Interaksi bulan dan matahari
dengan perubahan jarak bulan
akibat lintasan berbentuk elips
M4 6.21 Dua kali kecepatan sudut M2
MS4 2.20 Interaksi M2 dan S2

Elevasi pasang surut merupakan penjumlahan dari beberapa konstanta

pasang surut dan faktor meteorologi yang diasumsikan konstan, seperti

ditunjukkan pada persamaan berikut:

() = 0 + 0 +
=1 cos( ) (12)
20

dimana:

(t) = elevasi pasang surut sebagai fungsi waktu

= amplitudo konstanta pasang surut ke - i

= 2 , : periode dari konstanta pasang surut ke - i

= fase dari konstanta i

0 = tinggi muka laut rata-rata (Mean Sea Level)

0 = perubahan tinggi muka laut yang disebabkan oleh faktor meteorologi

= waktu

= jumlah dari konstanta pasang surut pembangun elevasi pasang surut

Analisis harmonik pasang surut dapat dilakukan dengan beberapa metode,

seperti metode Admiralty (Admiralty method) dan metode kuadrat terkecil (Least

Square Method). Metode-metode ini merupakan analisa harmonik untuk

mendapatkan solusi dari persamaan di atas.

Metode least square merupakan metode perhitungan pasang surut yang pada

prinsipnya meminimalkan persamaan elevasi pasang surut, sehingga diperoleh

persamaan simultan. Kemudian, persamaan simultan ini diselesaikan dengan

metode numerik sehingga diperoleh konstanta pasang surut. Analisa dari metode

Least Square menentukan berapa jumlah parameter yang ingin diketahui.

Dengan mengabaikan faktor meteorologi, persamaan di atas dapat dituliskan

menjadi:

( ) = 0 + =1 + =1 (13)

Dimana Ai dan Bi adalah konstanta harmonik dari komponen ke-i, k adalah

bilangan dari komponen yang akan ditentukan, tn adalah waktu pengamatan


57

(dimana n = -n, -n + 1, 0, 1, n-1, n dan n + 0 merupakan tengah waktu

observasi). Solusi metode Least Square, diperoleh melalui solusi persamaan linier

menggunakan program komputer.

a. Tinggi muka laut rata-rata (Mean Sea Level) : 0 = +1 (14)

b. Amplitudo dari tiap-tiap komponen pasang surut : 1 = 2 + 2 (15)


c. Lag fase dari tiap komponen pasang surut : = tan ( ) (16)

Sehingga persamaan di atas dapat ditulis sebagai:

( ) = 0 + =1 cos( ) (17)

Doodson mengembangkan metode sederhana untuk menentukan komponen

utama pasang surut yaitu M2 , S2 , N2 , K2 , K1 , O1 , P1 , M4 , MS2 dengan

meggunakan data pengamatan selama 15 atau 30 hari. Metode ini dikembangkan

secara khusus untuk penggunaan di Departemen Hidrografi Admiralty dan

dikenal dengan metode Admiralty (Ariningsih, 2014).

F. Metode Admiralty

Analisa harmonik metode Admiralty merupakan analisa pasang surut yang

digunakan untuk menghitung dua konstanta harmonik yaitu amplitudo (A) dan

beda fase (g). Proses perhitungan metode Admiralty dihitung dengan bantuan

tabel, dimana waktu pengamatan yang tidak ditabelkan harus dilakukan

pendekatan dan perhitungan interpolasi. Untuk memudahkan proses perhitungan

analisa harmonik metode Admiralty, dilakukan pengembangan perhitungan

dengan bantuan Excel dan akan menghasilkan parameter-parameter yang


22

ditabelkan sehingga perhitungan pada metode ini menjadi lebih efisien dan

memiliki keakuratan yang tinggi serta fleksibel untuk waktu kapanpun.

Metode Admiralty telah lama digunakan dan dikenal luas sejak

dikembangkannya analisa harmonik oleh Doodson pada tahun 1921. Kelebihan

utama metode ini adalah dapat menganalisis data pasang surut jangka waktu

pendek (29 hari, 15 hari, 7 hari dan 1 hari). Sedangkan kelemahan dari metode ini

adalah hanya digunakan untuk pengolahan data berjangka waktu pendek dan hasil

perhitungan yang relatif sedikit hanya menghasilkan 9 komponen pasang surut

yaitu M2, S2, K2, N2, K1, O1, P1, M4 dan MS4.

Beberapa parameter yang digunakan dalam perhitungan metode Admiralty

yaitu:

1. Parameter Tetap

Perhitungan metode Admiralty dimulai dengan serangkaian proses

perhitungan parameter tetap, yaitu perhitungan proses harian, proses bulanan dan

proses polinomial atau matriks.

a. Perhitungan harian: dilakukan untuk menyusun kombinasi dari tinggi muka air

laut per jam dari setiap hari pengamatan, sehingga dari kombinasi ini akan

dikelompokkan besar pasang surut berdasarkan tipenya, dimana n = 1, n = 2

dan n = 4 yang masing-masing mempresentasikan tipe pasang surut yang

terjadi.

b. Proses bulanan: bertujuan untuk mengelompokkan ke dalam beberapa grup

berdasarkan osilasi periode per bulan.


57

c. Proses polinomial atau matriks: dilakukan dengan menyusun kombinasi

sedemikian rupa sehingga pemisahan tiap komponen dapat diperbesar dengan

cara menyusun kombinasi yang tepat dari pengaruh tiap komponen kedua

menjadi sangat kecil terhadap komponen utamanya, sehingga secara numerik

komponen sekunder dapat diabaikan. Perhitungan matriks ini telah

dikembangkan oleh Doodson berdasarkan panjang data pengamatan.

2. Parameter yang Berubah Terhadap Waktu

Parameter yang berubah terhadap waktu dihitung berdasarkan waktu

pengamatan dan besarnya tidak dipengaruhi oleh data pasang surut seperti pada

proses harian dan bulanan. Parameter ini dihitung berdasarkan teori

pengembangan pasang surut setimbang, dimana dalam teori pengembangan

pasang surut parameter tersebut merupakan fungsi dari parameter orbital bulan

dan matahari yaitu s, h, p, p dan N, dimana parameter orbital ini

mempresentasikan posisi bulan dan matahari yang mempengaruhi keadaan pasang

surut. Berbagai komponen yang terpenting dan diperhitungkan yaitu:

s = menyatakan longitude rata-rata dari bulan semu

h = menyatakan longitude rata-rata dari matahari semu

p = menyatakan longitude rata-rata dari titik perigee dari orbital bulan semu

p = menyatakan longitude rata-rata dari titik perigee dari orbital matahari semu

N = menyatakan longitude rata-rata dari titik Ascending Node (titik nodal)

Harga absolut pada masing-masing parameter orbital pada jam 00.00 hari

ke-D pada tahun Y adalah:

s = 2770 ,0248+ 4812760 ,895 T + 00,0011 T2


24

h = 2800 ,1895+ 360000 ,7689 T + 00,0003 T2

p = 3340 ,3853+ 40690 ,0340 T + 00,0103 T2

p = 2810 ,2209+ 10 ,72 T + 00,060 T2

N = 1000 ,8432+ 19340 ,420 T + 00,0021 T2

T merupakan waktu yang dinyatakan dalam satuan abad (36525 hari surya rata-

rata), dihitung dari waktu asal yakni jam 00.00 GMT tanggal 1 Januari 1900. Jadi

untuk jam 00.00 hari ke-D tahun ke-Y dinyatakan dengan :

365 (1900) + (1) +


= (18)
36525

dimana:

i = jumlah tahun kabisat dari tahun 1900 sampai tahun Y, Integral (Y-1901)/4

D = jumlah hari dari tanggal 1 Januari

Tahapan perhitungan metode Admiralty menggunakan 8 kelompok hitungan

dengan bantuan tabel-tabel. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut (Nontji, 1987

dalam Arianingsih, 2014) :

1. Kelompok hitungan 1

Sebelum dilakukan pengolahan data pasang surut dilakukan terlebih dahulu

smoothing pada data lapangan yang diperoleh dari pengukuran alat, hal ini

dilakukan untuk menghilagkan noise, kemudian data tersebut dimasukkan ke

dalam kolom-kolom di skema-1, ke kanan menunjukkan waktu pengamatan

dari pukul 00.00 sampai 23.00, dan dari atas ke bawah menunjukkan tanggal

pengamatan selama 15 hari. Pada hitungan kelompok ini ditentukan

pertengahan pengamatan, bacaan tertinggi dan terendah.


57

2. Kelompok hitungan 2

Ditentukan dahulu bacaan positif (+) dan negatif () untuk kolom X1, Y1, X2,

Y2, X4 dan Y4 dalam tiap pengamatan yang dilakukan.

3. Kelompok hitungan 3

Pengisian kolom X0, X1, Y1, X2, Y2, X4 dan Y4 dalam setiap hari pengamatan.

Kolom X0 berisi perhitungan mendatar dari hitungan X1 pada kelompok

hitungan 2 tanpa memperhatikan tanda (+) dan (). Kolom X1, Y1, X2, Y2, X4

dan Y4 merupakan penjumlahan mendatar dari X1, Y1, X2, Y2, X4 dan Y4

kelompok hitungan 2 dengan memperhatikan tanda (+) dan () harus ditambah

dengan bilangan B (B kelipatan 100).

4. Kelompok hitungan 4

Dihitung nilai X00, Y00, X4d dan Y4d selama hari pengamatan dimana:

Indeks 00 untuk X berarti X00

Indeks 00 untuk Y berarti Y00

Indeks 4d untuk X berarti X4d

Indeks 4d untuk Y berarti Y4d

5. Kelompok hitungan 5 dan 6

Dalam perhitungannya memperhatikan sembilan unsur utama pembangkit

pasang surut yaitu M2, S2, K2, N2, K1, O1, P1, M4 dan MS4. Untuk perhitungan

kelompok hitung 5 mencari X00, X10, selisih X12 dan Y1b, selisih X13 dan Y1c,

X20, selisih X22 dan Y2b, selisih X23 dan Y2c, selisih X42 dan Y4b dan selisih X44

dan Y4d. Untuk perhitungan kelompok hitung 6 mencari Y10, jumlah Y12 dan
26

X1b, jumlah Y13 dan X1c, Y20, jumlah Y22 dan X2b, jumlah Y23 dan X2c,

jumlah Y42 dan X4d, dan jumlah Y44 dan X4d.

6. Kelompok hitungan 7 dan 8

Ditentukan nilai PR cos r, PR sin r, ditentukan nilai r, ditentukan parameter

yang berubah terhadap waktu (parameter f dan u, parameter V dan parameter w

dan 1 + W) untuk setiap unsur utama pembangkit pasang surut yaitu M2, S2,

K2, N2, K1, O1, P1, M4 dan MS4. Akhir dari perhitungan ini akan ditentukan

amplitudo (A) dan beda fase (g).

G. Tipe Pasang Surut

Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Pada suatu daerah

dalam satu hari dapat terjadi satu kali atau dua kali pasang surut. Secara umum

pasang surut di berbagai daerah dapat dibedakan dalam 4 (empat) tipe yaitu

(Triatmodjo,1999 dalam Ariangsih, 2014) :

1) Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide): dalam satu hari terjadi dua kali

pasang dan dua kali surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut

terjadi berurutan dan teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24

menit. Pasang surut jenis ini banyak terdapat di selat Malaka sampai laut

Andaman.

Gambar 7. Tipe Pasang Surut Harian Ganda


57

2) Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing

semidiurnal): dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, tetapi

tinggi dan periodenya berbeda. Pasang surut jenis ini banyak terdapat di

perairan Indonesia Timur.

Gambar 8. Tipe Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Ganda

3) Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing

diurnal): dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut, tetapi

kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali

surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda. Pasang surut jenis ini

terdapat di Selat Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.

Gambar 9. Tipe Pasang Surut Campuran Condong ke Harian Tunggal

4) Pasang surut harian tunggal (diurnal tide): dalam satu hari terjadi satu kali

pasang dan satu kali surut. Periode pasang surut adalah 24 jaam 50 menit dan

terjadi di perairan Selat Karimata.

Gambar 10. Tipe Pasang Surut Harian Tunggal


28

Secara kuantitatif, tipe pasang surut suatu perairan dapat ditentukan oleh

perbandingan amplitudo (tinggi gelombang) unsur-unsur pasang surut tunggal

utama (komponen K1 dan O1) dengan amplitudo unsur-unsur pasang surut ganda

utama (komponen M2 dan S2). Perbandingan ini dikenal sebagai bilangan

Formzahl (F) yang mempunyai formula sebagai berikut :

1 + 1
= (19)
2 + 2

dimana :

F = Nilai Formzahl

AO1 = amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh

gaya tarik bulan (cm)

AK1 = amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh

gaya tarik bulan dan matahari (cm)

AM2 = amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh

gaya tarik bulan (cm)

AS2 = amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh

gaya tarik matahari (cm)

Berdasarkan nilai Formzahl (F) yang diperoleh, ditentukan tipe pasang surut

melalui kriteria yang ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 3. Pengelompokkan Tipe Pasang Surut Berdasarkan Nilai Formzahl


(Survei Hidrografi, 2005 dalam Wijaya, 2011)
Nilai Bentuk Tipe Pasang Surut
0 < F < 0,25 Harian Ganda
0,25 < F < 1,5 Campuran Condong ke Harian Ganda
1,5 < Ff Campuran Condong ke Harian Tunggal
F >3 Harian Tunggal
57

I. MIDAS Wave Recorder

Nama "MIDAS" digunakan untuk menggambarkan semua produk Valeport,

menggunakan komponen dan sensor canggih untuk instrumen oseanografi dan

hidrografi. Kedua instrumen ini menggunakan prinsip teori gelombang linier,

yaitu mengukur variasi tekanan yang disebabkan oleh gelombang dan

mengubahnya menjadi data gelombang real. Selain itu, MIDAS DWR juga

menghitung arah datangnya gelombang dengan mengukur osilasi arus yang

disebabkan oleh gerak gelombang.

Gambar 11. MIDAS Wave Recorder

Prinsip dasar pengukuran gelombang didasarkan pada pemahaman bahwa

gelombang bukanlah satu kejadian tunggal, tetapi hasil dari superposisi

gelombang-gelombang individu pada puncak setiap gelombang dengan panjang

gelombang, frekuensi dan amplitudo yang berbeda-beda. Oleh karena itu,

pengukuran aktivitas gelombang memerlukan pengukuran variasi tekanan dan

arus pada periode waktu tertentu, sebelum menganalisis dan menginterpretasikan

data secara keseluruhan. Sehingga dengan demikian, instrumen dasar secara

fungsional adalah mengukur sejumlah data pada jangka waktu tertentu (biasanya
30

beberapa menit), kemudian melakukan perhitungan dimana seluruh data mentah

dan hasil perhitungan terekam atau ditransmisikan langsung.

MIDAS DWR dilengkapi dengan sensor tekanan (quartz resonan atau strain

gauge) untuk mengukur variasi tekanan. MIDAS DWR juga dilengkapi dengan

sensor arus elektromagnetik Valeport untuk mengukur osilasi arus dengan arah

mengacu pada kompas internal. Selain itu, instrumen dilengkapi dengan sensor

suhu, konduktivitas dan turbiditas. Instrumen dilengkapi dengan software

WaveLog 400 Valeport PC untuk mengeset instrumen, mengambil data (ekstraksi

data), dan menampilkan data. Spesifikasi MIDAS Wave Recorder adalah sebagai

berikut (Valeport Limited, 2008) :

a. Sensor Standar
Tekanan (Tipe Strain Gauge)
Jangkauan Standar 50 dBar standard (kedalaman sekitar 40 m)
Akurasi 0,04 % ( 2 cm pada sensor 50 dBar)
Resolusi 0,0025 % (1,25 mm pada sensor 50 dBar)

Tekanan (Tipe Resonant Quartz)


Jangkauan Standar 65 psi (kedalaman sekitar 35 m)
Akurasi 0,01 % ( 0,5 cm pada sensor 65 psi)
Resolusi Bergantung pada kecepatan sampling, 0,001 % tiap 1
Hz (0,5 mm pada sensor 65 psi)

Suhu
Tipe PRT
Jangkauan - 50C sampai + 350C
Akurasi 0,0050C
Resolusi 0,0020C

Arus
Tipe 11 cm Valeport Sensor Arus Elektromagnetik
Jangkauan 5 m/s pada tiap sumbu
Akurasi (membaca 1 % + 5 mm/s)
Resolusi 0,001 m/s
57

Kompas
Tipe Flux gate
Jangkauan 0 - 3600
Akurasi 10
Resolusi 0,10

b. Sensor Cadangan
Kondukvitas
Tipe Valeport Inductive Cell
Jangkauan 0 80 mS/cm
Akurasi 0,01 Ms/cm
Resolusi 0,002 Ms/cm

Turbiditas
Tipe Seapoint STM (bulkhead)
Jangkauan 0 2000 FTU (maks), 0 20 FTU (min) Software gain
control
Akurasi 2%
Resolusi 1:40.000 (jangkauan maksimal 0,05 FTU)

Kecepatan Angin
Tipe Rotating Cup Ultrasonik
Jangkauan 0 150 kts (0 75 m/s) 0 116 kts (0 60 m/s)
Akurasi 0,2 kts (0,1 m/s) 0,02 kts (0,01 m/s)
Resolusi Pembacaan 1 % Pembacaan 2 %

Arah Angin
Tipe Vane Potentiometer Ultrasonik
Jangkauan 0 - 3600 0 3590
Akurasi 0,10 10
Resolusi 10 30

Tekanan Udara
Tipe Sealed strain gauge sensor
Jangkauan 600 1100 mBar
Akurasi 0,01 mBar
Resolusi 0,5 mBar

c. Kondisi Fisik
Material
Pelindung Acetal
Sensor Arus Elektromagnetik (DWR) Titanium & Polyurethane
Rangka Pengaman 316 Baja stainless
32

Ukuran
MIDAS WTR Tinggi 30 cm x 28 cm, Berat 12 kg
MIDAS DWR Tinggi 30 cm x 40 cm, Berat 13 kg
Rangka Pengaman 94 cm x 94 cm x 42 cm, 35 kg

d. Electronik
Ukuran
Memori 64 Mbyte
Batterai 32 x D sel (1,5 v alkalin atau 3,6v Litium)
Daya External 12 30 v DC
Power Drain WTR 0,4 W (maksimal ketika running)
DWR 2 W (maksimal ketika running)
Communications RS32, RS485 and RS422 fitted as standard, 2
wire FSK optional.
RS232 / USB converter supplied as standard.
Baud Rate 2400 460800 (user selectable)

(Valeport Limited, 2008)


56

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 15 hari, mulai tanggal 25 November sampai

09 Desember 2015 penanggalan Masehi bertepatan dengan tanggal 13 Shafar

sampai 27 Shafar 1437 penanggalan Hijriyah, bertempat di perairan Teluk

Kendari, Kelurahan Kasilampe, Kecamatan Kendari yang secara geografis terletak

pada 030 58 23,72 LS dan 1220 36 39,75 BT pada kedalaman 25 m. Lokasi

tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 12. Peta Lokasi Penelitian


34

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu pengumpulan data

untuk mamemberikan gambaran atau penegasan tentang gejala alam. Data yang

telah dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode-metode matematis

yang sesuai.

C. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini diperlihatkan pada Tabel 4

berikut ini:

Tabel 4. Instrumen Penelitian


No. Nama Alat/Bahan Kegunaan
1. Global Positioning System (GPS) Untuk menentukan posisi lokasi
penelitian

2. 1 (Satu) set alat MIDAS Wave Sebagai alat perekam pasang surut
Recorder
3. Hardware (Note Book) Sebagai media pengolahan data
4. Software Microsoft Excel 2007 Untuk proses analisis harmonik
pasang surut laut metode admiralty
dan perhitungan statistic
5. Software Microsoft Word 2007 Sebagai sistem operasi

D. Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data pasang surut dari

pengamatan langsung di perairan Teluk Kendari tahun 2015 dan data prediksi

pasang surut Perairan Teluk Kendari oleh Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL

tahun 2015.
57

E. Prosedur Penelitian

Secara garis besar tahapan dari penelitian ini tertuang dalam diagram alir

berikut:

Identifikasi Awal

Pengenalan Alat

Proses Perekaman Data

Pemasangan Baterai

Pengaturan Sampling

Menghubungkan Komputer ke Alat

Menjalankan Software WaveLog Ekspress

Memilih Parameter Sampling

Pemasangan MIDAS Wave Recorder

Pengambilan Data

Download File

Translasi Data

Post Processing

Pengolahan Data

Metode Admiralty

Komponen dan Tipe Pasang Surut

Gambar 13. Diagram Alir Prosedur Penelitian


36

Identifikasi Awal

Tahap ini terdiri dari perumusan masalah penelitian, penetapan tujuan

penelitian, dan studi literatur mengenai pasang surut laut, metode analisa

harmonik pasut serta penentuan tipe pasang surut.

Pengenalan Alat

Tahap ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami prinsip kerja alat

yang digunakan dalam penelitian ini.

Proses Perekaman Data

a. Pemasangan Baterai

MIDAS Wave Recorder mengandung 32 x sel D satuan baterai internal yang

disusun pada 4 bank paralel (masing-masing terdiri dari 8 sel), pada satu

draimolen silindris yang dapat dipindahkan. Satuan baterai tersebut didesain untuk

baterai litium atau alkalin (tidak bisa menerima gabungan dari keduanya).

b. Pengaturan Sampling

1) Menghubungkan MIDAS Wave Recorder ke Komputer

Langkah-langkah menghubungkan MIDAS Wave Recorder ke PC utama

adalah sebagai berikut:

a) Membuka software dengan mengklik dua kali ikon WaveLog Express pada

desktop.

b) Menghubungkan ke PC utama (USB), dengan menghubungkan kabel ke

konektor instrument (instrumen akan hidup/on jika baterai telah terpasang).


57

c) Untuk menghemat daya baterai, lebih menguntungkan jika menggunakan

DC eksternal dengan cara menghubungkan warna merah (+ve) dan hitam (-

ve / ground) 4 mm

d) Suplai tegangan 12 v , dengan besar arus tidak lebih dari 0,8 A

e) Untuk berhubungan dengan instrumen, klik tombol communicate atau klik

Comms Wizard pada menu bar jika Communicate window tidak terlihat

f) Memilih correct comm port, communication type dan baud rate. Pilihan

pertama, pilih 19200 pada baud rate jika tipe USB RS232, akan langsung

terhubung ke PC melalui RS232

g) Sering terjadi kegagalan karena kurangnya koreksi pada baud rate; keadaan

ini terjadi pada alat jika menggunakan PCs yang berbeda. Oleh karena itu,

agar alat pada auto-baud tetap stabil, 15 detik pertama boleh memilih baud

rate yang lain dari set itu. Jika tidak dapat ditetapkan, atur software ke baut

rate 19200, hentikan hubungan dari alat selama 15 detik, kemudian

hubungkan kembali dan coba lagi.

h) Hasil dapat dilihat pada layar. Layar menyediakan change setup, upload

data, run the instrument atau change the baud rate.

2) Menjalankan Software WaveLog Ekspress

MIDAS Wave Recorder dilengkapi dengan Valeports WaveLog Express.

Langkah-langkah untuk menjalankan software WaveLog Ekspress adalah

sebagai berikut:
38

a) Software yang tersedia dalam CD-ROM harus dijalankan ketika telah masuk

ke dalam drive PC CD-ROM. Jika gagal lakukan kembali, proses instal akan

dimulai dengan menjalankan setup program Exe melalui Windows Explorer.

b) WaveLog Express akan bekerja bertahap. Data yang ada sulit terbuka karena

berada dalam Virtual Store, untuk membuka dan mengaplikasikannya dapat

mencari C: Program Files/ WaveLog Express/Data/.

c) WaveLog Express akan secara otomatis terinstal dalam

C: Program Files/ WaveLog Express

d) Program WaveLog Express dapat dijalankan dengan mengklik 2 kali pada

icon yang telah tampil.

3) Pemilihan Parameter Sampling

MIDAS Wave Recorder memiliki berbagai pilihan skema sampling guna

memudahkan menentukan pemasangan alat yang tepat untuk memperoleh data

yang diinginkan. Langkah-langkah untuk memilih parameter sampling adalah

sebagai berikut:

a) Mengaktifkan jendela communication, pilih "Change Setup" dan memilih

metode pemasangan alat.

b) Pilih Wave and Tide Only.

c) Ilustrasi yang ditunjukkan dengan kotak merah hanya dapat digunakan untuk

MIDAS DWR (Directional Wave Recorder), tidak untuk MIDAS WTR non-

directional device.
57

d) Menjalankan "Tidal Cycle", mengukur secara berkala parameter dasar seperti

ketinggian air pasang, arah arus rata-rata (DWR only) dan data dari sensor

tambahan seperti konduktivitas atau suhu.

e) Siklus pasang surut membutuhkan durasi dan interval, dimana durasi adalah

waktu dalam detik dan interval adalah waktu dalam menit. Frekuensi sampling

adalah sama dengan siklus gelombang.

f) Singkatnya, menggunakan kotak di sebelah kiri halaman untuk mengatur

model pengambilan sampel, sebagai berikut:

(1) Frekuensi (Rate): Pilih dari menu dropdown 1,2,4 atau 8 Hz.

(2) Pasang Surut (Tide Burst)

(a) Durasi (detik): Waktu dalam detik untuk Tide Cycle (Pasang surut).

Minimal 20 detik, direkomendasikan 40 detik atau 60 detik.

(b)Interval (menit): Tide Cycle dalam menit (baiknya 10 menit)

c. Pemasangan MIDAS Wave Recorder

Memilih tempat pemasangan alat yang baik sangat penting untuk

mendapatkan data gelombang yang baik. Beberapa hal yang harus diperhatikan

dalam menentukan tempat pemasangan alat adalah sebagai berikut:

1) Tekanan dasar Wave Recorder dirancang berada pada kedalaman air kurang

dari 20 m. Jika memungkinan menemukan tempat yang lebih dangkal dari 20

m (lebih baik untuk pengukuran data).

2) Instrumen harus diletakkan di dasar laut (seabed) atau pada struktur yang

padat, sebab dasar yang kuat (firmer bed) lebih baik daripada dasar yang lunak

(soft bed), untuk mencegah perangkat terendam dalam sedimen.


40

3) Instrumen mengukur apa yang terjadi di atasnya secara langsung, sehingga

penempatan instrumen pada daerah terlindung tidak akan mengukur aktivitas

gelombang.

Pengambilan Data

Untuk mengambil data dari alat, harus berhubungan dengan instrumen

seperti yang dijelaskan sebelumnya, kemudian Pilih "File Upload Screen" pada

menu layar / instrumen. Tahapan selanjutnya untuk pengambilan data adalah

sebagai berikut :

a. Download File

1) Setelah file yang diinginkan dipilih, klik tombol Add Files untuk memulai

proses download data.

2) Data akan ditransfer secara otomatis ke sebuah subdirektori WaveLog

Ekspres, ditandai dengan nomor seri instrumen dan data telah terdownload.

3) Akan muncul icon yang menyatakan Upload Complete, klik OK. Data

telah terupload.

b. Translasi Data

Semua data yang tersimpan dalam instrument dalam bentuk biner, untuk

memaksimalkan penggunaan memori yang tersedia. Untuk data yang akan

diproses, harus diubah menjadi ASCII text, dalam proses yang disebut

Translation. Adapun langkah-langkah untuk translasi data adalah sebagai berikut:

1) Pilih "Open File to Translate" dari menu File

2) File yang di-download (File1 bin) ditempatkan di subdirektori berikut:

C: / Program Files / WaveLog Ekspress/ Program / nnnnn / ddmmyyyy


57

Dimana "nnnnn" adalah nomor seri instrumen dan ddmmyyyy adalah tanggal

download.

3) "Open File" pada kotak dialog Windows dan klik "Open".

4) Program ini akan membuat satu folder baru, dimana semua data yang telah

diterjemahkan akan disimpan dalam folder ini. Menyimpan data memerlukan

beberapa menit tergantung pada ukuran file.

5) Setelah file biner ditemukan, software akan membuat folder dengan nama lain,

yang mendefinisikan pengambilan data (darimana data diperoleh).

6) Nama folder ini adalah "nnnnn ddmmyy hhmmss" dimana nnnnn adalah nomor

seri instrumen, dan hhmmss ddmmyy adalah waktu perekaman data.

7) Data disimpan dalam 5 sub-direktori berdasarkan jenis data. Kelima sub-

direktori tersebut adalah Directional Spectra, Non-Directional Spectra, Raw

Data Files, Spreading Files dan Summary Files.

8) File data diberi nama dengan nama yang sesuai, sehingga asal dari semua data

file individu dapat ditentukan hanya dari nama.

9) Ekstensi file bervariasi dengan masing-masing jenis file. Untuk pengukuran

pasang surut dan gelombang, sub-direktori yang digunakan adalah Summary

Files. Tide *.txt untuk pasang surut yang bermakna satu file merinci nilai

tengah sensor yang direkam setiap pasang tertinggi dan Wave *.txt untuk

pengukuran gelombang.

c. Post Processing

WaveLog Express mampu memproses lebih lanjut data gelombang yang

direkam oleh instrumen. Algoritma yang digunakan identik dengan algoritma dari
42

instrumen itu sendiri. Untuk membuatnya menampilkan prosedur post process,

pilih "Post Process" dari menu File. Software ini akan meminta dimana file-file

tersebut diproses; disimpan di folder Raw Data File. Langkah selanjutnya adalah

sebagai berikut:

1) Pilih file sebanyak yang diperlukan menggunakan standar Windows Ctrl dan

kunci Shift, dan klik Open. Prosedur post processing memerlukan waktu hanya

lima detik.

2) Ketika file biner telah ditemukan, software akan membuat folder dengan nama

lain, yang mendefinisikan pengambilan data.

3) Nama folder : "Pnnnnn ddmmyy hhmmss" dimana P berarti bahwa data telah

dilakukan (post processed), nnnnn adalah nomor seri instrumen, dan ddmmyy

hhmmss adalah waktu perekaman data.

4) Data disimpan dalam 5 sub-direktori berdasarkan jenis data. Kelima sub-

direktori tersebut adalah Directional Spectra, Non-Directional Spectra,

Spreading Files, Summary Files dan Surface Recreation.

5) File data diberi nama dengan nama yang sesuai, sehingga asal dari semua data

file individu dapat ditentukan hanya dari nama.

6) Ekstensi file bervariasi dengan masing-masing jenis file. Untuk pengukuran

pasang surut dan gelombang, sub-direktori yang digunakan adalah Summary

Files. Tide *.txt untuk pasang surut yang bermakna satu file merinci nilai

tengah sensor yang direkam setiap pasang tertinggi dan Wave *.txt untuk

pengukuran gelombang.
57

F. Analisis Data

Data pasang surut 15 hari yang diperoleh dari hasil rekaman MIDAS Wave

Recorder diolah menggunakan metode Admiralty untuk mendapatkan nilai

komponen pasut. Komponen pasang surut yang diperoleh kemudian dianalisis

untuk menentukan tipe pasut. Diagram alir pengolahan data dapat dilihat pada

Gambar 3.

Data dari MIDAS Wave Recorder

Perhitungan Data Pasut


Menggunakan Metode Admiralty

Komponen Pasut
(S0, M2, S2, N2, K1, O1, M4, MS4)

Penentuan Tipe Pasut


Menggunakan Formula Formzahl

Tipe Pasut

Gambar 14. Diagram Alir Pengolahan Data

1. Penentuan Komponen Pasang Surut

Penentuan komponen pasang surut dilakukan dengan menggunakan metode

Admiralty dengan bantuan Microsoft Excel. Tahap-tahap penentuan komponen

pasang surut menggunakan metode Admiralty diuraikan pada bagan berikut ini:
44

Data Pengamatan

Data pengamatan
disusun menurut
2
Tabel 5
-Skema 1-

-Skema 2- 3

4
Tabel 6

-Skema 3- 5

-Skema 4-
7
Tabel 7

8
-Skema 5 & 6-
10
9
Keterangan: Tabel nilai f, u, w
: hasil pekerjaan
: tabel
11
: garis kerja
: garis konfirmasi denga tabel -Skema 7 & 8-
: tahap pekerjaan

Gambar 15. Skema Cara Perhitungan Pasang Surut Menggunakan


Metode Admiralty
57

1. Penyusunan Skema 1

Data pengamatan yang akan dihitung disusun menurut Skema 1. Kolom

Skema 1 dari kiri ke kanan horizontal menunjukkan waktu pengamatan dari pukul

00.00 sampai 23.00, dan dari atas ke bawah menunjukkan tanggal pengamatan

selama 15 hari, yaitu mulai tanggal 25 November sampai 9 Desember 2015.

2. Penyusunan Skema 2

Pengisian Skema 2 dengan mengalikan data pasang surut yang telah disusun

berdasarkan skema 1 dengan konstanta pengali pada Tabel 5 pada masing-masing

harinya. Tabel 5 berisi deretan bilangan 1 dan -1, kecuali untuk X4 ada yang berisi

bilangan 0 dan tidak dimasukkan dalam perhitungan. Kemudian dilakukan

perhitungan dengan menjumlahkan bilangan yang dikalikan dengan 1 dan diisikan

dibawah kolom bertanda (+) untuk masing-masing X1, Y1, X2,Y2, X4, Y4. Hal

yang sama juga dilakukan untuk penjumlahan dari perkalian dengan bilangan -1.

3. Penyusunan Skema 3

Skema 3 diisi dengan prosedur sebagai berikut :

a) Kolom X0 (+) diperoleh dengan menjumlahkan X1 (+) dengan X1 (-), tanpa

memperhatikan tanda (+) dan (-).

b) Kolom X1, Y1, X2, Y2, X4 dan Y4 diperoleh dengan menjumlahkan masing-

masing tanda (+) dan (-) dengan memperhatikan tanda. Penjumlahan secara

aljabar dari hitungan skema 2 ditambahkan dengan suatu bilangan B, hingga

nilainya menjadi positif. Besaran B tersebut merupakan kelipatan 100 dan jika

dijumlahkan masih bernilai negatif maka ditambahkan dengan kelipatan 1000.


56

Tabel 5. Konstanta Pengali dalam Penyusunan Skema 2


Indeks Waktu
00.00 01.00 02.00 03.00 04.00 05.00 06.00 07.00 08.00 09.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00
X1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1
Y1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
X2 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 1
Y2 1 1 1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 1 1 1 1 1 1 -1 -1 -1 -1 -1 -1
X4 1 0 -1 -1 0 1 1 0 -1 -1 0 1 1 0 -1 -1 0 1 1 0 -1 -1 0 1
Y4 1 1 1 -1 -1 -1 1 1 1 -1 -1 -1 1 1 1 -1 -1 -1 1 1 1 -1 -1 -1

Tabel 6. Konstanta Pengali dalam Penyusunan Skema 4


Indeks Ke Dua
Waktu
0 2 b 3 c 4 d
25/11/2015 1 -1 0 -1 -1 1 0
26/11/2015 1 -1 1 -1 -1 1 -1
27/11/2015 1 -1 1 -1 -1 -1 -1
28/11/2015 1 -1 1 -1 1 -1 -1
29/11/2015 1 1 1 -1 1 -1 1
30/11/2015 1 1 1 1 1 -1 1
1/12/2015 1 1 1 1 1 1 1
2/12/2015 1 1 0 1 0 1 0
3/12/2015 1 1 -1 1 -1 1 -1
4/12/2015 1 1 -1 1 -1 -1 -1
5/12/2015 1 1 -1 -1 -1 -1 -1
6/12/2015 1 -1 -1 -1 -1 -1 1
7/12/2015 1 -1 -1 -1 1 -1 1
8/12/2015 1 -1 -1 -1 1 1 1
9/12/2015 1 -1 0 -1 1 1 0
Pengali untuk B -15 1 0 5 0 1 0

Sumber: (Universitas Sriwijaya, Modul Pengolahan Data Pasang Surut Metode Admiralty tahun 2012)
57

Tabel 7. Konstanta Pengali Komponen Pasut untuk 15 Piantan


Tabel 7.a Untuk Skema 5 Untuk Skema 6
X00 Y00
X10 Y10
X12 - Y1b Y12 + X1b
X13 - Y1c Y13 + X1c
X20 Y20
X22 - Y2b Y22 + X2b
X23 - Y2c Y23 + X2c
X42 - Y4b Y42 + X4b
X44 - Y4d Y44 + X4d
Tabel 7.b Untuk Skema 5 So M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4
X00 1
X10 0.01 -0.01 0.01 0.03 1 -0.07 0.01
X12 - Y1b -0.02 0.09 -0.01 -0.09 -0.09 1 -0.02 0.02
X13 - Y1c 0.04 -0.07 0.01 0.13 0.2 -0.59 0.03
X20 -0.01 -0.15 1 0.29 0.01 0.02
X22 - Y2b 0.01 1 -0.14 -0.61 -0.02 -0.03 0.03 -0.01
X23 - Y2c -0.02 -0.65 0.25 1 0.03 -0.05 -0.01
X42 - Y4b 0 0.01 0 0.01 0 0 0.01 1
X44 - Y4d 0 -0.01 0.01 0.02 0 0 1.01 -0.05
Jumlah Hasil Perkalian
Untuk Skema 6 So M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4
Y10 -0.01 0.02 1.01 -0.08 0.01 0.01
Y12 + X1b 0.05 0.01 -0.05 -0.12 1.05 -0.03 0.01
Y13 + X1c -0.02 -0.02 0.09 0.24 -0.65 0.04 0.02
Y20 -0.15 1 0.3 -0.01 0.02 -0.03 -0.01
Y22 + X2b 1.04 -0.15 -0.64 0.02 -0.1 0.04 -0.02
Y23 + X2c -0.7 0.26 1.03 -0.03 0.09 -0.07 -0.03
Y42 + X4b 0.02 0.11 1
Y44 + X4d -0.03 0.01 0.05 1 -0.06
Jumlah Hasil Perkalian
Deler P 360 175 214 166 217 177 273 280
Skema 7
Konstanta p 333 345 327 173 160 307 318
56

4. Penyusunan Skema 4

Pengisian kolom-kolom pada Skema 4 dibantu dengan Tabel 6. Nilai X00

yang diisikan pada kolom X (tambahan) merupakan penjumlahan dari nilai X0

dari Skema 3 yang telah dikalikan dengan faktor pengali dari Tabel 6 kolom 0,

dimana perkalian dilakukan baris per baris. Arti indeks pada Skema 4 :

a. Indeks 00 untuk X, artinya X0 pada Skema 3 dan indeks 0 pada Tabel 6

b. Indeks 00 untuk Y, artinya Y0 pada Skema 3 dan indeks 0 pada Tabel 6

5. Penyusunan Skema 5 dan 6

Skema 5 dan 6 diisi dengan bantuan Tabel 7. Pada Tabel 7, tabel 7.a diisi

terlebih dahulu. Untuk memperoleh nilai Skema 5 dan 6, hasil perhitungan pada

tabel 7.a dioperasikan dengan konstanta pengali komponen pasang surut untuk 15

piantan pada tabel 7.b. Kemudian menjumlahkan hasil tersebut sebagai nilai

komponen pasang surut S0, M2, S2, N2, K1, O1, M4 dan MS4 untuk skema 5 dan

skema 6.

6. Penyusunan Skema 7 dan 8

Menentukan nilai PR Cos r, PR Sin r, menentukan nilai r, menentukan

parameter yang berubah terhadap waktu (parameter f dan u, parameter V dan

parameter w dan 1 + W) untuk setiap unsur utama pembangkit pasang surut yaitu

M2, S2, K2, N2, K1, O1, P1, M4 dan MS4. Akhir dari perhitungan ini adalah

menentukan amplitudo (A) dan beda fase (g).


57

Parameter f dan u

Parameter f dan u merupakan besarnya koreksi amplitudo dan beda fase

yang timbul akibat adanya variasi nodal yang memiliki periode 18,61 tahun.

Dalam analisa pasang surut, harga f dan u diambil harga rata-rata pertahun.

Besarnya parameter f dapat dihitung dengan persamaan :

2 = 1 ; 2 = 2

2 = 1.004 0.0373 Cos N + 0.0002 Cos (2N)

2 = 1.0241 + 0.2863 Cos N + 0.0083 Cos (2N) 0.00015 Cos (3N)

1 = 1.006 + 0.115 Cos N 0.0088 Cos (2N) + 0.0006 Cos (3N)

1 = 1.0089 + 0.1871 Cos N 0.0088 Cos (2N) + 0.0006 Cos (3N)

4 = 2 ; 4 = 2 2

Sedangkan untuk parameter u dihitung dengan persamaan :

2 = 0 ; 2 = 2

2 = 2.14

2 = 17.74 Sin N + 0.64 Sin (2N) 0.04 Sin (3N)

1 = 8.86 N + 0.68 Sin (2N) + 0.07 Sin (3N)

1 = 10.80 N 1.34 Sin (2N) + 0.19 Sin (3N)

4 = 2 ; 4 = 2 2

Parameter V

Parameter V merupakan jumlah dari V dan V, dimana V menyatakan

fase komponen pasang surut ke i pada jam 00.00 1 Januari 1900. V

menyatakan perubahan fase dari jam 00.00 1 Januari 1900 sampai saat yang
50

dihitung. Jadi harga V menyatakan besarnya fase equilibrium tide di Greendwich

pada jam 00.00 tanggal tengah pengamatan. Parameter V ini dihitung dari

kombinasi parameter orbital bulan dan matahari. Sehingga persamaan yang

ditimbulkan dari orbital tersebut pada jam 00.00 tanggal tengah pengamatan dari

tiap komponen adalah:

2 = 0 ; 4 = 2

2 = 2 + 2h

2 = 3 + 2 +

1 = + 900

1 = 2 + + 2700

4 = 2 2

Parameter w dan W + 1

Parameter W + 1 dan w merupakan besaran gangguan atau koreksi

amplitudo dan beda fase dari komponen mayor terhadap komponen minornya,

dimana setiap grup terdapat komponen mayor dan minor. Komponen mayor

dianggap sebagai komponen utama dari grup yaitu terdiri dari S2, K1 dan N2 ,

Sehingga untuk menentukan harga w dan W + 1 dihitung terlebih dahulu

komponen mayor dari grup komponen tersebut dengan melihat besarnya koreksi

nodal dan pengaruh parameter orbital.

Komponen S2

Dihitung terlebih dahulu parameter A dan B dari S2 :

A = (1 + W) Cos w = 1 + 0.272 fK2 Cos (2h + uK2 ) + 0.059 Cos (h 2820 )

B = (1 + W) Sin w = 1 + 0.272 fK2 Sin (2h + uK2 ) + 0.059 Sin (h 2820 )


57

Kemudian 1+W dan w dihitung dengan:

1 + 2 = 2 + 2 2 = 1 ()

Komponen K1

= (1 + ) = 1 0.331(11 ) (2 + 1 )

= (1 + ) = 1 0.331(11 ) (2 + 1 )

Kemudian 1+W dan w dihitung dengan:

1 + 1 = 2 + 2 1 = 1 ()

Komponen N2

= (1 + ) = 1 + 0.189 (2 2)

= (1 + ) = 0.189 (2 2)

Kemudian 1+W dan w dihitung dengan:

1 + 2 = 2 + 2 2 = 1 ()

2. Penentuan Tipe Pasang Surut

Penentuan tipe pasang surut menggunakan komponen pasang surut yang

telah diketahui menggunakan persamaan Formzahl (persamaan 19). Berdasarkan

nilai Formzahl, dapat ditentukan tipe pasang surut perairan Teluk Kendari dengan

mengacu pada tabel pengelompokkan tipe pasang surut berdasarkan nilai

Formzahl (Tabel 3).


56

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengambilan data pasang surut dilakukan menggunakan MIDAS Wave

Recorder yang diletakkan pada kedalaman 25 m dari permukaan laut, disetting

untuk merekam perubahan elevasi muka air tiap jam selama 15 hari (15 piantan).

Pengamatan ini dilakukan di perairan Teluk Kendari daerah Kelurahan

Kasilampe, Kecamatan Kendari yang terletak pada koordinat 030 58 23,72 LS

dan 1220 36 39,75BT. Pengamatan pasang surut dilakukan dari tanggal 25

November sampai 9 Desember 2015, hasilnya dapat dilihat pada Lampiran 1.

1. Komponen Pasang Surut Perairan Teluk Kendari

Berdasarkan analisis harmonik pasang surut dengan metode Admiralty 15

hari, diperoleh komponen utama pasang surut yang terlihat pada tabel 8 berikut :

Tabel 8: Komponen Utama Pasang Surut di Teluk Kendari Berdasarkan Data


Hasil Pengamatan
Komponen M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4
A (cm) 36 28 31 18 39 8 11
0
g 248 299 260 147 180 312 352

Berdasarkan data komponen pasang surut yang ditunjukkan pada tabel 8 di

atas terlihat bahwa komponen pasang surut M2 dan N2 memiliki nilai amplitudo

yang dominan sebab kedua komponen ini merupakan komponen pasang surut

semidiurnal yang ditimbulkan oleh interaksi bulan terhadap bumi. Komponen

pasang surut S2 juga marupakan komponen pasang surut semidiurnal namun

memiliki amplitudo bernilai kecil sebab komponen ini merupakan komponen

yang disebabkan oleh gravitasi matahari terhadap bumi. Komponen K1 dan O1

memiliki nilai amplitudo yang kecil dibandingkan komponen M2 dan N2 sebab


57

komponen ini memerupakan komponen pasang surut diurnal. Komponen O1

memiliki nilai amplitudo yang lebih besar dibandingkan komponen K1 sebab

komponen O1 ditimbulkan oleh deklinasi bulan sedangkan komponen K1

ditimbulkan oleh deklinasi bulan dan matahari.

Hasil yang tidak jauh berbeda dapat dilihat pada hasil analisis yang

diperoleh berdasarkan hasil prediksi pasang surut Dinas Hidro-Oceanografi TNI-

AL Tahun 2015, yang ditunjukkan pada tabel 9 berikut:

Tabel 9: Komponen Utama Pasang Surut di Teluk Kendari Berdasarkan Prediksi


Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL Tahun 2015
Komponen M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4
A (cm) 50 13 7 43 42 2 1
0
g 240 271 237 212 119 223 263

Lebih jelas dapat dilihat perbandingan komponen utama pasang surut Teluk

Kendari berdasarkan hasil pengamatan dan hasil prediksi Dishidros TNI-AL,

ditunjukkan pada tabel 10 berikut :

Tabel 10: Perbandingan Komponen Utama Pasang Surut Teluk Kendari


Berdasarkan Hasil Analisis Tahun 2005, Prediksi Pasut Dinas Hidro-
Oceanografi TNI-AL Tahun 2015 dan Data Hasi Pengamatan Pasut
Tahun 2015
Hasil Prediksi Dinas Hidro-
Hasil Pengamatan Pasut
Oceanografi TNI-AL
Komponen 15 Piantan Tahun 2015
Tahun 2015
A(Cm) g0 A(Cm) g0
M2 50 240 36 248
S2 13 271 28 299
N2 7 237 31 260
K1 43 212 18 147
O1 42 119 39 180
M4 2 223 8 312
MS4 1 263 11 352
54

Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 10 di atas, terlihat perbedaan

nilai komponen utama pasang surut. Perbedaan ini disebabkan karena kedua

pengamatan ini dilakukan di dua titik yang berbeda (perbedaan kondisi lokal),

meskipun berada pada satu perairan yang sama yaitu Perairan Teluk Kendari.

Selain itu, perbedaan konstanta pasang surut juga disebabkan oleh banyak data

yang dianalisa berbeda, data yang diperoleh mengandung noice, serta diprediksi

terjadi karena penggunaan alat perekam pasang surut yang berbeda-beda.

2. Tipe Pasang Surut Perairan Teluk Kendari

Berdasarkan analisis komponen utama pasang surut 15 piantan di perairan

Teluk Kendari menggunakan formula Formzahl diperoleh nilai perbandingan

amplitudo unsur-unsur pasang surut tunggal utama (komponen K1 dan O1) dengan

amplitudo unsur-unsur pasang surut ganda utama (komponen M2 dan S2) sebesar

0,9. Berdasarkan nilai bilangan Formzahl yang dihasilkan, maka tipe pasang surut

di perairan Teluk Kendari dapat diklasifikasikan sebagai tipe campuran condong

ke harian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal) karena nilai bilangan

Formzahl berada antara 0,25 dan 1,5 (mengacu pada tabel 3). Hal ini dapat juga

diamati pada grafik tinggi muka air selama pengamatan (Gambar 16), yang

memberikan informasi bahwa pasang surut pada lokasi penelitian dalam sehari

terjadi dua kali pasang dan dua kali surut, namun tidak beraturan dan terdapat

perbedaan tinggi yang jelas antara dua air tinggi dan dua air rendah yang

berurutan. Hasil yang lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 17 dan Gambar 18

yang masing-masing merupakan hasil plot grafik pasang surut 1 x 24 jam dan 2 x

24 jam.
57

Hasil yang tidak jauh berbeda diperoleh dari hasil analisis data prediksi

pasang surut oleh Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL tahun 2015. Berdasarkan

analisis komponen utama pasang surut diperoleh nilai Formzahl sebesar 1,33 yang

berarti bahwa perairan Teluk Kendari memiliki tipe pasang surut campuran

condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal), sebagaimana teori

yang ada bahwa pada umumnya perairan di wilayah Indonesia Timur bersifat

setengah harian (semidiurnal). Hal ini dapat dilihat pada grafik tinggi muka air

hasil prediksi Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL Tahun 2015 (Gambar 19).

Perbandingan pasang surut hasil pengamatan dengan hasil prediksi Dinas

Hidro-Oceanografi TNI-AL Tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 20. Grafik

pasang surut terlihat mempunyai puncak ganda dan lembah ganda, yang berarti

terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dalam sehari. Pada grafik terlihat

perbedaan fase, namun dari segi pola loop sudah mempunyai kesamaan yaitu

dominan puncak ganda.


56

Grafik Tinggi Muka Air Laut Berdasarkan Data Pengamatan


Tanggal 25 November-9 Desember 2015, Kedalaman 25 Meter
2550

2500
Tinggi Muka Air Laut (Cm)

2450

2400

2350

2300

2250

2200
1 21 41 61 81 101 121 141 161 181 201 221 241 261 281 301 321 341
Waktu (Jam)

Gambar 16. Grafik Tinggi Muka Air Laut Teluk Kendari Berdasarkan Data Hasil Pengamatan
Tanggal 25 November-9 Desember 2015
57

Grafik Tinggi Muka Air Laut Data 1 x 24 Jam


Tanggal 25 November 2016
2550

2500
Tinggi Muka Air Laut (Cm)

2450

2400

2350

2300

2250
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
Waktu (Jam)

Gambar 17. Grafik Tinggi Muka Air Laut Teluk Kendari Data 1 X 24 Jam Tanggal 25 November 2015
58

Grafik Tinggi Muuka Air Laut Data 2 x 24 jam


Tanggal 25-26 November 2015
2550

2500
Tinggi Muka Air Laut (Cm)

2450

2400

2350

2300

2250

2200
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49
Waktu (Jam)

Gambar 18. Grafik Tinggi Muka Air Laut Teluk Kendari Data 2 X 24 Jam Tanggal 25-26 November 2015
57

Grafik Pasang Surut Teluk Kendari Berdasarkan Hasil Prediksi


Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL Tahun 2015
Tanggal 25 November-9 Desember 2015
250

200
Tinggi Muka Air Laut (Cm)

150

100

50

0
1 21 41 61 81 101 121 141 161 181 201 221 241 261 281 301 321 341
Waktu (Jam)

Gambar 19. Grafik Pasang Surut Teluk Kendari Berdasarkan Hasil Prediksi Dinas Hidro-Oceanografi
TNI-AL Tahun 2015 Tanggal 25 November-9 Desember 2015
60

Grafik Pasang Surut Teluk Kendari Perbandingan Hasil Pengamatan


dengan Hasil Prediksi Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL Tahun 2015
100

50
Tinggi Muka Air Laut (Cm)

0
0 50 100 150 200 250 300 350 400

-50

-100

-150
Waktu (Jam) Pengamatan
Prediksi

Gambar 20. Grafik Pasang Surut Teluk Kendari Perbandingan Data Hasil Pengamatan dengan
Hasil Prediksi Dinas Hidro-Oceanografi TNI-AL Tahun 2015
56

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis pasang surut di Perairan Teluk Kendari, dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Konstanta harmonik yang paling berpengaruh di perairan Teluk Kendari adalah

komponen periode setengah harian (konstanta M2 dan N2). Komponen M2

merupakan komponen yang pengaruhnya sangat dominan dan membawa sifat

semidiurnal. Besar amplitudo komponen utama pasang surut di perairan Teluk

Kendari adalah sebagai berikut : M2 = 36 cm; S2 = 28 cm; N2 = 31 cm; K1 = 18

cm; O1 = 39 cm; M4 =8 cm dan MS4 = 11 cm.

2. Nilai Formzahl yang diperoleh sebesar 0,9 yang berarti bahwa tipe pasang

surut di perairan Teluk Kendari adalah tipe pasang surut campuran condong ke

harian ganda (mixed tide prevailing semidiurnal), yaitu terjadi dua kali pasang

dan dua kali surut dalam sehari namun tidak beraturan dan terdapat perbedaan

tinggi yang jelas antara dua air tinggi dan dua air rendah yang berurutan.
56

B. Saran

Penelitian ini merupakan analisis komponen utama dan tipe pasang surut

menggunakan metode Admiralty dengan pengambilan data menggunakan MIDAS

Wave Recorder. Saran yang dapat peneliti sampaikan berkenaan dengan

penelitiaan ini adalah sebagai berikut:

1. Proses analisis menggunakan metode Admiralty yaitu proses perhitungan,

penyusunan skema yang berkesinambungan, sehingga diperlukan ketelitian

yang tinggi.

2. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang analisis pasang surut di Perairan

Teluk Kendari menggunakan metode lain sebagai pembanding (metode Least

Square).

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan MIDAS Wave Recorder

untuk perekaman data lebih dari 15 hari (30 hari) sebagai pembanding,

mengingat penggunaan alat untuk perekaman data 15 hari diperoleh data yang

akurat.
56