Anda di halaman 1dari 3

Ikutilah Bulan Sejarah Indonesia dan dapatkan hadiah menarik dari Wikimedia

Indonesia!

Terakota
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa
Inggris.
Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia.

Artikel atau bagian dari artikel ini diterjemahkan dari Terracotta di


en.wikipedia.org. Isinya mungkin memiliki ketidakakuratan. Selain itu
beberapa bagian yang diterjemahkan kemungkinan masih memerlukan
penyempurnaan. Pengguna yang mahir dengan bahasa yang
bersangkutan dipersilakan untuk menelusuri referensinya dan
menyempurnakan terjemahan ini.
(Pesan ini dapat dihapus jika terjemahan dirasa sudah cukup tepat)

Kepala dari terakota, diperkirakan dari masa Majapahit

Arca terakota Hanuman dari India. Warna kemerahan tercipta karena adanya besi dioksida yang terdapat
di tanah liat. Tanah liat dengan kandungan besi yang rendah dapat mengakibatkan munculnya warna
pucat pada saat pembakaran, mulai dari putih hingga kuning.
Terakota, terracotta, terra cotta atau terra-cotta (dari bahasa Itali berarti "tanah bakar",[1] yang
berasal dari bahasa Latin terra cocta) adalah tembikar yang terbuat dari tanah liat,[2] walaupun
kata tersebut dapat mengacu terhadap keramik glasir yang memiliki badan berpori dan berwarna
merah[3][4][5][6]. Penggunaannya termasuk diantaranya untuk kendi, pipa air dan hiasan
permukaan pada konstruksibangunan, dan termasuk diantaranya patung seperti Pasukan
Terakota dan arca terakota Yunani. Istilah ini juga dipergunakan untuk benda yang terbuat dari
materi tersebut dan untuk warna naturalnya, coklat dengan sedikit oranye, yang sangat
bervariasi. Pada bidang arkeologidan sejarah seni, terakota sering dipergunakan untuk benda
yang dibuat oleh roda pengrajin tembikar, seperti patung, di mana benda tersebut dibuat dari
bahan yang sama, dan bahkan oleh orang yang sama, disebut sebagai tembikar.

Pembuatan dan sifat[sunting | sunting sumber]


Tanah liat yang halus, dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah dikeringkan,
karya tersebut diletakkan di dalam tungku, atau diatas api terbuka (api unggun), lalu dibakar.
Temperatur pembakaran sekitar 1000 C. Kandungan besi yang terdapat pada tanah liat,
membuat karya tersebut berwarna kuning, oranye, merah, "terakota", merah jambu, abu-abu,
atau cokelat. Terakota yang dibakar tidak menjadikannya tahan air. Tetapi penggosokan pada
permukaan sebelum dibakar dapat mengurangi tingkat penyerapannya dan terakota tersebut
dapat ditambah dengan glasir untuk membuatnya menjadi kedap air. Hasilnya cocok digunakan
untuk membawa air (biasanya pada masa dahulu), untuk peralatan perkebunan atau dekorasi
bangunan di lingkungan tropis, dan untuk wadah penyimpan minyak, lampu minyak, atau oven.
Kebanyakan penggunaan lainnya adalah untuk peralatan makan dan minum, pipa saluran air,
atau dekorasi bangunan di lingkungan dingin yang membutuhkan bahan-bahan yang diglasir.
Terakota jika tidak retak, akan berdenging jika dipukul perlahan. Beberapa terakota dibentuk dari
dasar yang ditambahkan terakota yang didaur ulang ("grog").

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Desain terakota di luar Kuil Kantaji.


Terakota digunakan di sepanjang masa untuk memahat dan membuat wadah, dan juga untuk
membuat bata dan genteng. Pada zaman dahulu, patung tanah liat yang pertama dikeringkan di
bawah sinar matahari setelah dibentuk. Kemudian, patung tersebut diletakkan di abu dari api
unggun untuk memperkeras, dan akhirnya mempergunakan tungku, seperti yang digunaan
pada tembikar pada saat ini. Namun, hanya setelah pembakaran menggunakan suhu yang
tinggi, bahan ini dapat digolongkan menjadi materi keramik.

Dalam Sejarah Seni[sunting | sunting sumber]


Dekorasi bangunan yang diglasir pada Kota Terlarang, Beijing, Cina.
Arca terakota kasar ditemukan oleh para arkeolog pada ekskavasi Mohenjo-daro dan Harappa,
yang merupakan dua situs perkotaan besar pada periode Lembah Sungai Indus (3.000 - 1.500
SM), di daerah yang sekarang merupakan bagian dari Pakistan. Termasuk dalam benda yang
ditemukan, diantaranya adalah batu berbentuk phallus, yang memberi kesan bahwa terdapat
pemujaan terhadap dewa atau dewi kesuburan dan kepercayaan terhadap Dewi Ibu.[7]
Patung masa pre-kolonial Afrika Barat juga terbuat dari terakota.[8] Daerah ini merupakan daerah
yang paling terkenal di dunia untuk produksi seni terakota termasuk diantaranya budaya Nok
dari Nigeria tengah dan utara, kebudayaan Benin di bagian barat dan selatan Nigeria, dan
kebudayaan Igbo di daerah timur Nigeria yang terkenal akan tembikar terakota.

Dalam ilmu kimia[sunting | sunting sumber]


Dalam ilmu kimia, keping-keping/lembaran terakota digunakan sebagai katalis heterogen untuk
memutus alkana rantai-panjang. Proses ini berguna untuk mendapatkan produk-produk yang
lebih berguna, seperti bensin atau petrol dari bahan yang kurang berguna semisal alkana rantai
panjang berkekentalan tinggi.

Kelebihan dalam pemahatan[sunting | sunting sumber]


Dibandingkan dengan pemahatan dalam perunggu, terakota memakai cara yang jauh lebih
sederhana untuk menghasilkan karya dengan biaya yang jauh lebih rendah. Teknik penggunaan
cetakan yang dipakai kembali dapat dipergunakan untuk rangkaian kegiatan produksi. Jika
dibandingkan dengan patung marmer dan hasil karya batu lainnya, hasil karya yang telah
selesai, jauh lebih ringan dan dapat diglasir untuk menghasilkan produk dengan warna atau
ketahanan yag lebih baik.

Warna[sunting | sunting sumber]


Warna terakota adalah antara jingga dan coklat.