Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN ICU

BRONCHOPNEUMONIA
(BRPN)

Disusun oleh :
Guntur Irawan
G3A 016 143

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
SEMARANG
2017
A. KONSEP DASAR PENYAKIT BRONCHOPNEUMONIA
1. PENGERTIAN
Istilah bronchopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia
yang mempunyai penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di
sekitarnya. (Brunner & Suddarth, 2001). Bronchopneu monia disebut juga
pneumonia lobularis, yaitu radang paru- paru yang di sebabkan oleh bakteri, virus,
jamur dan lain- lain.
Bronchopneumonia/ pneumonia lobaris merupakan radang paru yang
menyebabkana bronkhioli terminal. Bronkhioli terminal tersumbat oleh eksudat
yang berbentuk bercak- bercak., kemudian menjadi bagian yang terkonsulidasi
atau membentuk gabungan dan meluas ke parenkim paru.
Penyakit ini sering bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan
atas, demam, infeksi yang spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan
tubuh.

2. ETIOLOGI
Broncopneumonia dapat disebabkan oleh:
Bakteri= streptococcus, straphylococcus, influenmza
Virus= legionella pneumonia, virus influenza
Jamur= aspergilus, candida albicons
Aspirasi makanan, sekresi oropharing/isi lambung ke dalam paru
Kongesti paru kronik
Flora normal, hidrokarbon.
3. PATOFISIOLOGI
Sebagian besar penyebab bronkopneumonia adalah mikroorganisme (jamur,
bakter, virus) dan sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak
tanah, bensin dan sejenisnya). Serta aspirasi ( masuknya isi lambung ke dalam
saluran napas). Awalnmya mikroorganisme akan masuk melalui percikan ludah (
droplet) infasi ini akan masuk ke saluran pernapasan atas dan menimbulkan reaksi
imunologis dari tubuh. Reaksi ini menyebabkan peradangan, dimana saat terjadi
peradangan ini tubuh akan menyesuaikan diri sehingga timbulah gejala demam
pada penderita.
Reaksi peradangan ini akan menimbulkan secret. Semakin lama secret
semakin menumpuk di bronkus sehingga aliran bronkus menjadi semakin sempit
dan pasien akan merasa sesak. Selain terkumpul di bronkus, lama kelamaan secret
akan sampai ke alveolus paru dan mengganggu system pertukaran gas di paru.
Selain menginfeksi saluran napas, bakteri ini juga dapat menginfeksi saluran
cerna saat ia terbawa oleh darah. Bakteri ini akan membuat flora normal dalam
usus menjadi agen pathogen sehingga timbul masalah GI tract.
PATHWAY
4. GEJALA KLINIS
A. Pnemonia bakteri
Gejala :
- Rinitis ringan
- Anoreksia
- Gelisah
Berlanjut sampai:
- Demam
- Malaise (tidak nyaman)
- Nafas cepat dan dangkal.
- Ekspirasi berbunyi.
- Lebih dari 5 tahun, sakit kepala dan kedinginan
- Kurang dari 2 tahun vomitus dan diare ringan
- Leukositosis
- Foto thorak pneumonia lebar
B. Pnemonia Virus
Gejala awal
- Batuk
- Rhinitis
Berkembang sampai
- Demam ringan, batuk ringan dan malaise sampai demam tinggi batuk hebat dan
lesu.
- Emfisema obstruktif
- Ronkhi basah.
C. Pneumonia mikroplasma
- Demam
- Sakit kepala
- Menggigil
- Anoreksia
Berkembang sampai
- Rhinitis alergi
- Sakit tenggorokan batuk kering berdarah
- Area konsolidasi pada pemeriksa thorak.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Laboratorium
- Leukosit meningkat 15.000-40.000/mm3
- Laju endap darah meningkat 100mm
- ASTO meningkat pada infeksi streptococcus.
- GDA menunjukkan hipoksemia tanpa hiperkapnea atau retensi CO2
- Urin biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat albumin urin ringan karena
peningkatan suhu tubuh.
B. Pemeriksaan Radiologi
- Terlihat bercak- bercak pada bronkus hingga lobus.

6. PENATALAKSANAAN
a. Antibiotic seperti ; penisilin, eritromicin, kindomisin, dan sefalosforin.
b. Terapi oksigen (O2)
c. Nebulizer, untuk mengencerkandahak yang kental dan pemberian bronkodilator.
d. Istirahat yang cukup
e. Kemoterafi untuk mikoplasma pneumonia dapat diberikan eritromicin 4x 500 mg/
hari atau tetrasiklin 3-4 x 500mg/ hari.

7. KOMPLIKASI
a. Atelektasis :Pengembangan paru yang tidak sempurna.
b. Emfisema : Terdapatnya pus pada rongga pleura.
c. Abses paru :pengumpulan pus pada jaringan paru yang meradang.
d. Infeksi sistomik
e. Endokarditis :peradangan pada endokardium.
f. Meningitis : Peradangan pada selaput otak.
8. PENCEGAHAN PADA ANAK
a. Hindari anak dari paparan asap rokok, polusi dan tempat keramaian yang
berpotensi penularan.
b. Hindari kontak anak dengan penderita ISPA
c. Membiasakan pemberian ASI
d. Segera berobat jika terjadi demam, batuk, dan pilek, terlebih disertai suara sesak
dan sesak pada anak.
e. Imunisasi Hb untuk kekebalan terhadapa hameophilus influenza.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN.
1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN.
1) Identitas.
2) Riwayat Keperawatan.
a. Keluhan utama.
Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal, diserai pernapasan
cuping hidupng, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai muntah
dan diare.atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan
muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas
selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39-40oC
dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan dapat
menularkan kepada anggota keluarga yang lainnya.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut Wilson dan Thompson, 1990 pneumonia sering terjadi pada musim
hujan dan awal musim semi. Selain itu pemeliharaan ksehatan dan kebersihan
lingkungan yang kurang juga bisa menyebabkan anak menderita sakit.
Lingkungan pabrik atau banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan
anggota keluarga perokok.
f. Imunisasi.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit
infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena system pertahanan tubuh yang
tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder.
g. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
h. Nutrisi.
Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein = MEP).
3) Pemeriksaan persistem.
a. Sistem kardiovaskuler.
Takikardi, iritability.
b. Sistem pernapasan.
Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas, pernapasan cuping
hdidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif atau non produktif,
pergerakan dada asimetris, pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan friction
rub, perkusi redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret. Orang
tua cemas dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan pilek.
c. Sistem pencernaan.
Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan menurun, lemah. Pada orang
tua yang dengan tipe keluarga anak pertama, mungkin belum memahami tentang
tujuan dan cara pemberian makanan/cairan personde.
d. Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin belum
memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi (ringan sampai
berat).
e. Sistem saraf.
Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus pada anak-
anak atau malas minum, ubun-ubun cekung.
f. Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum,
g. Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan.
h. Sistem integumen.
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat, akral hangat,
kulit kering, .
i. Sistem penginderaan.
Tidak ada kelainan.
4) Pemeriksaan diagnostik dan hasil.
Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m dengan
pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan
fungsi paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat
menentukan/mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena
sukar. Pada punksi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman
dari luar. Foto roentgen (chest x ray) dilakukan untuk melihat :
Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
Luas daerah paru yang terkena.
Evaluasi pengobatan
Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau
beberapa lobur.
Pada pemeriksaan ABGs ditemukan PaO2< 0 mmHg.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan
produksi sputum ditandai dengan adanya ronchi, dan ketidakefektifan batuk.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan proses infeksi pada jaringan
paru (perubahan membrane alveoli) ditandai dengan sianosis, PaO2 menurun,
sesak nafas.
3. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi terhadap infeksi saluran nafas
ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, mengigil, akral teraba panas.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme sekunder terhadap demam dan proses infeksi ditandai
dengan nafsu makan menurun, BB turun, mual dan muntah, turgor kulit tidak
elastis.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2
dengan kebutuhan oksigen ditandai dengan tidak mampu berpartisipasi dalam
kegiatan sehari-hari sesuai kemampuan tanpa bantuan.
6. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan suhu
tubuh,kehilangan cairan karena berkeringat banyak, muntah atau diare.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan resiko terpajan bakteri patogen
3. RENCANA KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA NOC NIC
KEPERAWATAN
1 Bersihan Jalan Nafas NOC: Pastikan kebutuhan oral / tracheal
tidak efektif Respiratory status : suctioning.
berhubungan dengan: Ventilation Berikan O2 l/mnt,
Infeksi, disfungsi Respiratory status : Airway metode
neuromuskular, patency Anjurkan pasien untuk istirahat
hiperplasia dinding Aspiration Control dan napas dalam
bronkus, alergi jalan Setelah dilakukan tindakan Posisikan pasien untuk
nafas, asma, trauma keperawatan selama memaksimalkan ventilasi
Obstruksi jalan nafas : ..pasien Lakukan fisioterapi dada jika perlu
spasme jalan nafas, menunjukkan keefektifan Keluarkan sekret dengan batuk
sekresi tertahan, jalan nafas dibuktikan atau suction
banyaknya mukus, dengan kriteria hasil : Auskultasi suara nafas, catat
adanya jalan nafas Mendemonstrasikan batuk adanya suara tambahan
buatan, sekresi bronkus, efektif dan suara nafas yang Berikan bronkodilator :
adanya eksudat di bersih, tidak ada sianosis
alveolus, adanya benda dan dyspneu (mampu .
asing di jalan nafas. mengeluarkan sputum,
DS: bernafas dengan mudah, Monitor status hemodinamik
Dispneu tidak ada pursed lips) Berikan pelembab udara Kassa
DO: Menunjukkan jalan nafas basah NaCl Lembab
Penurunan suara nafas yang paten (klien tidak Berikan antibiotik :
Orthopneu merasa tercekik, irama .
Cyanosis nafas, frekuensi pernafasan .
Kelainan suara nafas dalam rentang normal, tidak Atur intake untuk cairan
(rales, wheezing) ada suara nafas abnormal) mengoptimalkan keseimbangan.
Kesulitan berbicara Mampu Monitor respirasi dan status O2
Batuk, tidak efekotif mengidentifikasikan dan Pertahankan hidrasi yang adekuat
atau tidak ada mencegah faktor yang untuk mengencerkan sekret
Produksi sputum penyebab. Jelaskan pada pasien dan keluarga
Gelisah Saturasi O2 dalam batas tentang penggunaan peralatan :
Perubahan frekuensi normal O2, Suction, Inhalasi.
dan irama nafas Foto thorak dalam batas
norma
2 Gangguan Pertukaran NOC: NIC :
gas Respiratory Status : Gas Posisikan pasien untuk
Berhubungan dengan : exchange memaksimalkan ventilasi
-ketidakseimbangan Keseimbangan asam Basa, Pasang mayo bila perlu
perfusi ventilasi Elektrolit Lakukan fisioterapi dada jika
-perubahan membran Respiratory Status : perlu
kapiler-alveolar ventilation Keluarkan sekret dengan batuk
Vital Sign Status atau suction
DS: Setelah dilakukan tindakan Auskultasi suara nafas, catat
- sakit kepala ketika keperawatan selama . adanya suara tambahan
bangun Gangguan
pertukaran Berikan bronkodilator ;
- Dyspnoe pasien teratasi dengan -.
- Gangguan penglihatan kriteria hasi: -.
DO: Mendemonstrasikan Barikan pelembab udara
- Penurunan CO2 peningkatan ventilasi dan Atur intake untuk cairan
- Takikardi oksigenasi yang adekuat mengoptimalkan keseimbangan.
- Hiperkapnia Memelihara kebersihan Monitor respirasi dan status O2
- Keletihan paru paru dan bebas dari Catat pergerakan dada,amati
- Iritabilitas tanda tanda distress kesimetrisan, penggunaan otot
- Hypoxia pernafasan tambahan, retraksi otot
- kebingungan Mendemonstrasikan batuk supraclavicular dan intercostal
- sianosis
efektif dan suara nafas yang Monitor suara nafas, seperti
-warna kulit abnormal bersih, tidak ada sianosis dengkur
(pucat, kehitaman) dan dyspneu (mampu Monitor pola nafas : bradipena,
- Hipoksemia mengeluarkan sputum, takipenia, kussmaul,
- hiperkarbia mampu bernafas dengan hiperventilasi, cheyne stokes, biot
- AGD abnormal mudah, tidak ada pursed Auskultasi suara nafas, catat area
- pH arteri abnormal lips) penurunan / tidak adanya ventilasi
-frekuensi
dan Tanda tanda vital dalam dan suara tambahan
kedalaman nafas rentang normal Monitor TTV, AGD, elektrolit
abnormal AGD dalam batas normal dan ststus mental
Status neurologis dalam Observasi sianosis khususnya
batas normal membran mukosa
Jelaskan pada pasien dan keluarga
tentang persiapan tindakan dan
tujuan penggunaan alat tambahan
(O2, Suction, Inhalasi)
Auskultasi bunyi jantung, jumlah,
irama dan denyut jantung

3 Hipertermia NOC: NIC :


Berhubungan dengan : Thermoregulasi Monitor suhu sesering mungkin
penyakit/ trauma Monitor warna dan suhu kulit
peningkatan Setelah dilakukan tindakan Monitor tekanan darah, nadi dan
metabolisme keperawatan RR
aktivitas yang berlebih selama..pasien Monitor penurunan tingkat
dehidrasi menunjukkan : kesadaran
Suhu tubuh dalam batas Monitor WBC, Hb, dan Hct
DO/DS: normal dengan kreiteria Monitor intake dan output
kenaikan suhu tubuh hasil: Berikan anti piretik:
diatas rentang normal Suhu 36 37C Kelola
serangan atau konvulsi Nadi dan RR dalam Antibiotik:..
(kejang) rentang normal Selimuti pasien
kulit kemerahan Tidak ada perubahan warna Berikan cairan intravena
pertambahan RR kulit dan tidak ada pusing, Kompres pasien pada lipat paha
takikardi merasa nyaman dan aksila
Kulit teraba panas/ Tingkatkan sirkulasi udara
hangat Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor hidrasi seperti turgor
kulit, kelembaban membran
mukosa)

4 Ketidakseimbangan NOC: Kaji adanya alergi makanan


nutrisi kurang dari a. Nutritional status: Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
kebutuhan tubuh Adequacy of nutrient menentukan jumlah kalori dan
Berhubungan dengan : b. Nutritional Status : food nutrisi yang dibutuhkan pasien
Ketidakmampuan untuk and Fluid Intake Yakinkan diet yang dimakan
memasukkan atau c. Weight Control mengandung tinggi serat untuk
mencerna nutrisi oleh Setelah dilakukan tindakan mencegah konstipasi
karena faktor biologis, keperawatan Ajarkan pasien bagaimana
psikologis atau selama.nutrisi kurang membuat catatan makanan harian.
ekonomi. teratasi dengan indikator: Monitor adanya penurunan BB
DS: Albumin serum dan gula darah
Nyeri abdomen Pre albumin serum Monitor lingkungan selama makan
Muntah Hematokrit Jadwalkan pengobatan dan
Kejang perut Hemoglobin tindakan tidak selama jam makan
Rasa penuh tiba-tiba Total iron binding capacity Monitor turgor kulit
setelah makan Jumlah limfosit Monitor kekeringan, rambut
DO: kusam, total protein, Hb dan kadar
Diare Ht
Rontok rambut yang Monitor mual dan muntah
berlebih Monitor pucat, kemerahan, dan
Kurang nafsu makan kekeringan jaringan konjungtiva
Bising usus berlebih Monitor intake nuntrisi
Konjungtiva pucat Informasikan pada klien dan
Denyut nadi lemah keluarga tentang manfaat nutrisi
Kolaborasi dengan dokter tentang
kebutuhan suplemen makanan
seperti NGT/ TPN sehingga intake
cairan yang adekuat dapat
dipertahankan.
Atur posisi semi fowler atau
fowler tinggi selama makan
Kelola pemberan anti emetik:.....
Anjurkan banyak minum
Pertahankan terapi IV line
Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oval

5 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :


Berhubungan dengan : Self Care : ADLs Observasi adanya pembatasan
Tirah Baring atau Toleransi aktivitas klien dalam melakukan aktivitas
imobilisasi Konservasi eneergi Kaji adanya faktor yang
Kelemahan menyeluruh Setelah dilakukan tindakan menyebabkan kelelahan
Ketidakseimbangan keperawatan selama . Monitor nutrisi dan sumber energi
antara suplei oksigen Pasien bertoleransi terhadap yang adekuat
dengan kebutuhan aktivitas dengan Kriteria Monitor pasien akan adanya
Gaya hidup yang Hasil : kelelahan fisik dan emosi secara
dipertahankan. Berpartisipasi dalam berlebihan
DS: aktivitas fisik tanpa disertai Monitor respon kardivaskuler
Melaporkan secara peningkatan tekanan darah, terhadap aktivitas (takikardi,
verbal adanya kelelahan nadi dan RR disritmia, sesak nafas, diaporesis,
atau kelemahan. Mampu melakukan pucat, perubahan hemodinamik)
Adanya dyspneu atau aktivitas sehari hari (ADLs) Monitor pola tidur dan lamanya
ketidaknyamanan saat secara mandiri tidur/istirahat pasien
beraktivitas. Keseimbangan aktivitas Kolaborasikan dengan Tenaga
DO : dan istirahat Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan progran terapi yang
Respon abnormal dari tepat.
tekanan darah atau nadi Bantu klien untuk
terhadap aktifitas mengidentifikasi aktivitas yang
Perubahan ECG : mampu dilakukan
aritmia, iskemia Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yang sesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
Sediakan penguatan positif bagi
yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon fisik, emosi, sosial
dan spiritual

6 Defisit Volume Cairan NOC: NIC :


Berhubungan dengan: Fluid balance Pertahankan catatan intake dan
Kehilangan volume Hydration output yang akurat
cairan secara aktif Nutritional Status : Food Monitor status hidrasi (
Kegagalan mekanisme and Fluid Intake kelembaban membran mukosa,
pengaturan Setelah dilakukan tindakan nadi adekuat, tekanan darah
keperawatan selama.. ortostatik ), jika diperlukan
DS : defisit volume cairan Monitor hasil lab yang sesuai
Haus teratasi dengan kriteria dengan retensi cairan (BUN , Hmt
DO: hasil: , osmolalitas urin, albumin, total
Penurunan turgor Mempertahankan urine protein )
kulit/lidah output sesuai dengan usia Monitor vital sign setiap 15menit
Membran mukosa/kulit dan BB, BJ urine normal, 1 jam
kering Tekanan darah, nadi, suhu Kolaborasi pemberian cairan IV
Peningkatan denyut tubuh dalam batas normal Monitor status nutrisi
nadi, penurunan tekanan Tidak ada tanda tanda Berikan cairan oral
darah, penurunan dehidrasi, Elastisitas turgor Berikan penggantian nasogatrik
volume/tekanan nadi kulit baik, membran sesuai output (50 100cc/jam)
Pengisian vena mukosa lembab, tidak ada Dorong keluarga untuk membantu
menurun rasa haus yang berlebihan pasien makan
Perubahan
status Orientasi terhadap waktu Kolaborasi dokter jika tanda
mental dan tempat baik cairan berlebih muncul meburuk
Konsentrasi
urine Jumlah dan irama Atur kemungkinan tranfusi
meningkat pernapasan dalam batas Persiapan untuk tranfusi
Temperatur tubuh normal Pasang kateter jika perlu
meningkat Elektrolit, Hb, Hmt dalam Monitor intake dan urin output
Kehilangan berat badan batas normal setiap 8 jam
secara tiba-tiba pH urin dalam batas
Penurunan urine output normal
HMT meningkat Intake oral dan intravena
Kelemahan adekuat

7 Risiko infeksi NOC : NIC :


Immune Status Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko : Knowledge : Infection Batasi pengunjung bila perlu
Prosedur Infasif control Cuci tangan setiap sebelum dan
Kerusakan jaringan dan Risk control sesudah tindakan keperawatan
peningkatan paparan Setelah dilakukan tindakan Gunakan baju, sarung tangan
lingkungan keperawatan selama sebagai alat pelindung
Malnutrisi pasien tidak mengalami Ganti letak IV perifer dan dressing
Peningkatan paparan infeksi dengan kriteria sesuai dengan petunjuk umum
lingkungan patogen hasil: Gunakan kateter intermiten untuk
Imonusupresi Klien bebas dari tanda dan menurunkan infeksi kandung
Tidak adekuat gejala infeksi kencing
pertahanan sekunder Menunjukkan kemampuan Tingkatkan intake nutrisi
(penurunan Hb, untuk mencegah timbulnya Berikan terapi
Leukopenia, penekanan infeksi antibiotik:.................................
respon inflamasi) Jumlah leukosit dalam Monitor tanda dan gejala infeksi
Penyakit kronik batas normal sistemik dan lokal
Imunosupresi Menunjukkan perilaku Pertahankan teknik isolasi k/p
Malnutrisi hidup sehat Inspeksi kulit dan membran
Pertahan primer tidak Status imun, mukosa terhadap kemerahan,
adekuat (kerusakan gastrointestinal, panas, drainase
kulit, trauma jaringan, genitourinaria dalam batas Monitor adanya luka
gangguan peristaltik) normal Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga tanda
dan gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, Suzanne.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal bedah.Vol 1.Jakarta :


EGC
Zul Dahlan .2000.Ilmu Penyakit Dalam Edisi III. Jakarta : Balai penerbit FK UL
Rcevers,Chalene. J et all.2000.Keperawatan medical Bedah. Jakarta: Salemba
Medika
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan :Pedoman Untuk

Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :EGC

Nettina, Sandra M. (1996). Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta :EGC

Long, B. C.(1996). Perawatan Madikal Bedah. Jilid 2. Bandung :Yayasan Ikatan

Alumni Pendidikan Keperawatan

Soeparma, Sarwono Waspadji. (1991). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta

:Balai Penerbit FKUI

Sylvia A. Price, Lorraine Mc Carty Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Klinis

Proses-Proses Penyakit. Jakarta :EGC