Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN STROKE NON HEMORAGIK (SNH)

1. Defenisi
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
disebabkan oleh terhentinya suplai darah kebagian otak.(Smeltzer, S.C & B.G,
2002 : 2131)
Stroke adalah gangguan fungsi dari susunan saraf pusat yang
disebabkan adanya gangguan proses suplai darah ke otak. (Taufan nugroho,
2011 : 320)
Stroke adalah gangguan didalam otak yang ditandai dengan hilangnya
fungsi dari bagian tubuh tertentu (paralisis), yang disebabkan oleh gangguan
aliran darah pada bagian otak yang mengelola bagian tubuh yang kehilangan
fungsi tersebut. (J.B. Suharjan B.Cahyono, 2008 : 39)
Stroke atau penyakit serebrovaskuler adalah gangguan neurologik
mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah
melalui sistem suplai arteri otak.( Sylvia, A.P & Lorraine, M.W, 2012 : 1110).
Stroke non hemoragik dapat berupa iskemik, emboli, spasme ataupun
thrombus pembuluh darah otak. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup
lama atau gangguan tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik
dan terjadi proses udema oleh karena hipoksia jaringan otak (Price, 2006)
Berdasarkan pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa stroke adalah
kehilangan fungsi otak yang disebabkan oleh adanya gangguan proses aliran
darah ke otak yang ditandai dengan hilangnya fungsi dari bagian tubuh
tertentu (paralisis).
2. Klasifikasi
Menurut Tarwoto, dkk (2007) Stroke non hemoragik dapat diklasifikasikan
berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaitu:
a. TIA (Trans Ischemic Attack)
Yaitu gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa
jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24
jam.
b. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defisit)
Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna
dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu.
c. Stroke in Volution (progresif)
Perkembangan stroke terjadi perlahan lahan sampai akut,
munculnya gejala makin memburuk, proses progresif berjalan dalam
beberapa jam atau beberapa hari.
d. Stroke Komplit
Neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent, dari
sejak awal serangan dan sedikit tidak ada perbaikan.
Sedangkan Menurut Corwin (2009) Stroke dapat dibagi dalam beberapa
ketegori sebagai berikut
a. Stroke non hemoragik
1. Trombosis cerebri, terjadi penyempitan lumen pembuluh darah otak
perlahan karna proses arterosklerosis cerebral dan perlambatan
sirkulasi serebral.
2. Embolisme cerebral, penyempitan pembuluh darah terjadi mendadak
akibat abnormalitas patologik pada jantung. Embolus biasanya
menyumbat arteri cerebral tengah atau cabang-cabangnya,yang
merusak sirkulasi cerebral.
b. Stroke Haemorhagik
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan
subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau
saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien
umumnya menurun (Corwin, 2009)
3. Etiologi
Stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian:
a. Trombosis (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak / leher)
b. Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak
dari bagian tubuh lain).
c. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak)
d. Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan pendarahan
ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).
Ada berepa faktor resiko pada stroke yaitu
a. Non reversible yaitu faktor yang tidak dapat diubah, faktor tersebut adalah:
1) Jenis kelamin
2) Usia
3) Ras dan keturunan
b. Reversible yaitu faktor resiko yang dapat dicegah yaitu:
1) Hipertensi
2) Penyakit jantung
3) Kebiasaan merokok
4) Konsumsi Alokohol
5) Obesitas
6) Penyalahgunaan obat (khususnya kokain)
7) Diabetes mellitus
4. Patofisiologi
Stroke diakibatkan dari salah satu dari empat kejadian yaitu:
Trombosit serebral (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher),
embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari
bagian tubuh yang lain), iskemi (penurunan aliran darah ke area otak),
hemorragic serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke
dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak). Akibatnya penghentian suplai
darah ke otak.
Stroke diakibatkan dari salah satu tempat kejadian yaitu trombosis
serebral (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher), embolisme
serebral (bekuan darah yang dibawa ke otak dan bagian tubuh yang lain),
iskemia (penurunan aliran darah ke area otak), dan hemorragic serebral
(pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak
atau ruang sekitar otak). Akibatnya adalah penghentian suplai darah ke otak
yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir,
memori, bicara atau sensasi. Otak merupakan organ yang sensitif, otak
tergantung pada ada tidaknya suplai darah, oksigen, dan glukosa. Bila otak
tidak mendapatkan suplai darah dan kekurangan oksigen seperti halnya yang
terjadi pada serebra vaskuler otak akan segera mengalami perubahan,
kematian dan kerusakan permanen akan terjadi. Hipoksia ini dapat
menyebabkan iskemi otak dalam waktu singkat menyebabkan defisit
sementara, sedangkan iskemi dalam waktu selama 15 sampai 20 menit
menyebabkan sel mati permanen dan berakibat terjadi infark otak yang
disertai edema otak. Gejala yang ditimbulkan karena stroke tergantung pada
pada daerah otak yang terkena, dengan hal tersebut dapat menimbulkan
komplikasi yang meliputi hipoksia serebral, penurunan aliran darah serebral
dan luasnya area cedera. Dan jika stroke tidak tertangani akan mengakibatkan
kematian.
Menurut Brunner & Suddarth dalam buku Keperawatan Medikal
Bedah mengatakan stroke menyebabkan berbagai defisit neurologis,
tergantung pada lokasi lesi (pembuluh mana yang tersumbat, ukuran area yang
perfusinya tidak adekuat dan jumlah darah aliran darah kolesterol) yaitu:
Kehilangan motorik yang menyebabkan kontrol volunter terhadap gerakan
hemiparesis (kelemahan salah satu tubuh), kehilangan komunikasi yang
berupa: disantria (kesulitan berbicara), afasia (kehilangan bisara), apraksia
(ketidakmampuan untuk melakukan yang dipelajari sebelumnya), gangguan
persepsi dalam menginterpretasikan dalam sensasi (kesulitan dalam
pemahaman, lupa, dan kurang motivasi, disfungsi kandung kemih karena
ketidakmampuannya dalam menggunakan urinal karena karena kerusakan
kontrol motorik.
5. Pathway Faktor Resiko Stroke (alcohol, hiperkolesteroid, merokok,
stress, HT, depresi, kegemukan)

Areteroskleorosis ( elastisitas Kepekatan darah Pembentukan Thrombus


pembulu darah menurun meningkat

Obstruksi Thrombus
di Otak

Penurunan darah ke Otak

Kerusakan pusat gerak motorik di lobus Hipoksia Cerebri Kelemahan pada nervus
frontalis hemisphare / hemiplagia sistem V, VII, IX, X
Infark jaringan Otak Perubahan
Persepsi Semsori
Gangguan Mobilitas Fisik
Mobilitas Fisik Menurun
Perubahan perfusi Penurunan Kemampuan Otot
jaringan cerebral Mengunyash / Menelan
Tirah Baring

Resiko Kerusakan Defisit Perawatan Gangguan Reflek Keseimbangan Nutrisi Kurang


Integritas Kulit Diri Menelan Dari Kebutuhan Tubuh
6. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari stroke adalah (Baughman, C Diane.dkk,2000):
a. Kehilangan motorik
Disfungsi motorik paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah
satu sisi) dan hemiparesis (kelemahan salah satu sisi) dan disfagia
b. Kehilangan komunikasi
Disfungsi bahasa dan komunikasi adalah disatria (kesulitan berbicara)
atau afasia (kehilangan berbicara).
c. Gangguan persepsi
Meliputi disfungsi persepsi visual humanus, heminapsia atau kehilangan
penglihatan perifer dan diplopia, gangguan hubungan visual, spesial dan
kehilangan sensori.
d. Kerusakan fungsi kognitif parestesia (terjadi pada sisi yang berlawanan).
e. Disfungsi kandung kemih meliputi: inkontinensiaurinarius transier,
inkontinensia urinarius peristen atau retensi urin (mungkin simtomatik
dari kerusakan otak bilateral), Inkontinensia urinarius dan defekasiyang
berlanjut (dapat mencerminkan kerusakan neurologi ekstensif).
Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung dengan daerah otak yang
terkena:
a. Penngaruh terhadap status mental: tidak sadar, konfus, lupa tubuh sebelah
b. Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan sensasi,
gangguan penglihatan
c. Pengaruh terhadap komunikasi, bicara tidak jelas, kehilangan bahasa.
Dilihat dari bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa:
a. Hemisfer Kiri
1) Mengalami hemiparese kanan
2) Perilaku lambat dan hati-hati
3) Kelainan lapan pandang kanan
4) Disfagia global
5) Afasia
6) Mudah frustasi
b. Hemisfer Kanan
1) Hemiparese sebelah kiri tubuh
2) Penilaian buruk
3) Mempunyai kerentanan terhadap sisi kontralateral sehingga
memungkinkan terjatuh ke sisi yang berlawanan tersebut
7. Penatalaksanaan Medis
a. Perawatan umum
1) Jalan nafas dibebaskan dari lendir dan lidah
2) Koreksi kelainan gas darah
3) Tensi dipertahankan pada tingkat optimal
4) Masukan kalori dan keseimbangan cairan elektrolit dipertahankan
5) Posisi berbaring diubah tiap 2 jam
b. Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi:
1) Diuretik untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat
maksimum 3- 5 hari setelah infrak serebral.
2) Antikoagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau
memberat trombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem
kardiovaskuler.
3) Medikasi anti trombosit dapat diresepkan karena trombosit memainkan
peran sangat penting dalam pembentukan trombus dan embolisasi.
8. Komplikasi
a. Hipoksia serebral
Diminimalkan dengan memberikan oksigenasi darah adekuat di otak.
b. Penurunan aliran darah serebral
Tergantung pada tekanan darah curah jantung, dan integritas pembuluh
darah.
c. Embolisme serebral
Dapat terjadi setelah infrak miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal
dari katup jantung prostetik.
9. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
1) CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel,
atau menyebar ke permukaan otak
2) MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik
3) Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti
aneurisma atau malformasi vaskuler
4) Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung,
apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah
satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke
b. Pemeriksaan laboratorium
1) Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai
pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil
biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari
pertama
2) Pemeriksaan darah rutin
3) Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi
hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan
kemudian berangsur-angsur turun kembali
4) Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu
sendiri.
Proses Keperawatan Stroke Non Hemoragik (SNH)

1. Pengkajian
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,
pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS,
nomor register, diagnose medis.
b. Keluhan utama
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo,
dan tidak dapat berkomunikasi.
c. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien
sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah
bahkan kejang sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh
badan atau gangguan fungsi otak yang lain.
d. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia,
riwayat trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat
anti koagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
e. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes
militus.
f. Pengkajian Fokus:
1) Aktivitas/istirahat:
Klien akan mengalami kesulitan aktivitas akibat kelemahan, hilangnya
rasa, paralisis, hemiplegi, mudah lelah, dan susah tidur.
2) Sirkulasi
Adanya riwayat penyakit jantung, katup jantung, disritmia, CHF,
polisitemia. Dan hipertensi arterial.
3) Integritas Ego.
Emosi labil, respon yang tak tepat, mudah marah, kesulitan untuk
mengekspresikan diri.
4) Eliminasi
Perubahan kebiasaan Bab. dan Bak. Misalnya inkoontinentia urine,
anuria, distensi kandung kemih, distensi abdomen, suara usus
menghilang.
5) Makanan/caitan :
Nausea, vomiting, daya sensori hilang, di lidah, pipi, tenggorokan,
dysfagia
6) Neuro Sensori
Pusing, sinkope, sakit kepala, perdarahan sub arachnoid, dan
intrakranial. Kelemahan dengan berbagai tingkatan, gangguan
penglihatan, kabur, dyspalopia, lapang pandang menyempit. Hilangnya
daya sensori pada bagian yang berlawanan dibagian ekstremitas dan
kadang-kadang pada sisi yang sama di muka.
7) Nyaman/nyeri
Sakit kepala, perubahan tingkah laku kelemahan, tegang pada
otak/muka
8) Respirasi
Ketidakmampuan menelan, batuk, melindungi jalan nafas. Suara nafas,
whezing, ronchi.
9) Keamanan
Sensorik motorik menurun atau hilang mudah terjadi injury. Perubahan
persepsi dan orientasi Tidak mampu menelan sampai ketidakmampuan
mengatur kebutuhan nutrisi. Tidak mampu mengambil keputusan.
10) Interaksi social
Gangguan dalam bicara, Ketidakmampuan berkomunikasi
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan penurunan aliran darah :
obstruksi arteri, peningkatan TIK, hipoksia.
b. Resiko tinggi/aktual ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
ganguan kerusakan pusat pernafasan, peningkatan TIK.
c. Keterbatsaan aktivitas dan merawat diri berhubungan dengan kelemahan
neuromuskuler
d. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
asupan makanan in adekuat penurunan penyerapan nutrisi
e. Gangguan komunikasi vebral berhubungan dengan kerusakan serebral
f. Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, perawatan, rehabilitasi,
tanda dan gejala, komplikasi
3. Perencanaan Keparawatan
Perencanaan keperawatan, hal ini dilakukan untuk menanggulangi masalah
dengan cara mencegah, mengurangi, dan menghilangkan masalah. Selain itu,
untuk memberikan kesempatan pada perawat, klien, keluarga, serta orang
terdekat dalam merumuskan rencana tindakan. Perencanaan keperawatan
adalah dilaksanakan setelah menentukan tujuan apa yang akan dilakukan.
a. Perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan penurunan aliran darah :
obstruksi arteri, peningkatan TIK, hipoksia.
Tujuan : perfusi jaringan cerebral adekuat
Kriteria hasil :
1) Kesadaran composmentis (E6V5M6)
2) Tanda vital dalam batas normal
3) Penglihatan normal
4) Fungsi sensorik dan motorik meningkat.
Rencana Keperawatan :
1) Kaji dan evaluasi perubahan perfusi jaringan : tingkat kesadaran, tensi,
pernafasan.
2) Observasi dan minta klien melaporkan sensasi yang tidak biasa/baru
dirasakan berbeda misalnya kesemutan, kebas, penurunan kemampuan
mengerakkan jari, nyeri yang tidak hilang.
3) Observasi dan minta klien melaporkan akibat penurunan perfusi
serebral : gangguan mental (cemas, binggung), pingsan, reaksi pupil
terhadap cahaya, penglihatan kabur, nyeri kepala, gerakan bola mata).
4) Hindari tindakan valsava manuver
5) Cegah peningkatan suhu tubuh
6) Untuk gangguan fungsi serebral : pertahankan jalan nafas yang
adekuat, beri posisi head up 35 45 derajat (leher lurus dengan tulang
belakangan), monitor status neurology dan tanda tanda TIK.
7) Kurangi edema dan efek efek pada fungsi : lepaskan perhiasan dari
anggota gerak yang sakit, anjurkan untuk menggerakan anggota gerak
yang sakit 2 4 x/jam, jika tidak ada kontraksi indikasi.
8) Anjurkan untuk bed rest
9) Kolaborasi dengan dokter untuk penanganan medis dan pemeriksaan
b. Resiko tinggi/aktual ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
ganguam kerusakan pusat pernafasan, peningkatan TIK.
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria hasil :
1) Pernapasan 16 20 x/mnt
2) Retraksi otot pernapasan negatif
3) Pola nafas normal, bunyi nafas bersih/vesikuler
4) Saturasi O2 95%
Rencana keperawatan :
1) Kaji status pernafasaan klien
2) Kaji penyebab ketidak efektifan pernafasaan
3) Auskultasi bidang paru dan observasi pernafasaan klien
4) Monitor hal yang berhubungan dengan pernafasan seperti : saturasi
O2, AGD, pemberian O2.
5) Beri posisi kepala 15 45
6) Monitor perubahan tingkat kesadaran dan status mental
7) Monitor perubahan warna kulit, membrane mukosa, kuku (adanya
sianosis)
8) Kurangi pengaruh negative seperti kecemasan dan keletihan
9) Latih nafas perlahan dan lebih efektif dan batuk efektif
10) Rubah posisi tidur tiap 2 4 jam
11) Pasang gudel dan suction bila perlu
12) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi, tindakan dan pemeriksaan.
c. Keterbatsaan aktivitas dan merawat diri berhubungan dengan kelemahan
neuromuskuler
Tujuan : peningkatan mobilitas sampai dengan maksimal
Kriteria hasil :
1) Tampak peningkatan mobilitas
2) Kekuatan otot meningkat
Rencana keperawatan :
1) Kaji keterbatasan aktivitas yang di alamai
2) Cegah komplikasi imobilitas: ganti posisi, latih pernafasaan, jaga
kebersihan kulit.
3) Ajarkan untuk melakukan latihan rentang gerak aktif/pasif pada
anggota yang sehat bila tidak ad kontra indikasi.
4) Melakukan mobilisasi progresif
5) Ajarkan klien tindakan kewaspadaan keamanan: lindungi daerah yang
mengalami penurunan sensasi dari panas/dingin yang berlebihan, latih
jatuh dan bagaimana bangun dari jatuh, meletakkan anggota gera
dengan tepat, memeriksa alat bantu yang digunakan.
6) Beri dorongan penggunaan anggota gerak yang sakit / lemah jika
memungkinkan. Gunakan lengan yang tidak sakit untuk melatih lengan
yang sakit/lemah
7) Observasi status penyebab kerusakan mobilitas fisik: tingkat kerusakan
neuromuskuler, kondisi klien akibat peningkatan TIK
8) Bantu pemenuhan kebutuhan klien, libatkan keluarga jika perlu
9) Minimalkan perlukaan dan penekanan pada anggota tubuh yang
sakit/lemah.
10) Kolaborasi dengan medis untuk penangan medis dan fisioterapi
d. Resiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
asupan makanan inadekuat penurunan penyerapan nutrisi
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
1) Porsi makan habis
2) BB dalam batas IMT(Indeks Massa Tubuh)
Rencana keperawatan :
1) Tentuakan kebutuah kalori harian yang realistis dan adekuat, k/p
konsultasi pada ahli gizi
2) Timbang BB secara berkala jika mungkin
3) Kaji kemampuan menelan dan mengunyah
4) Pantau hasil pemeriksaan laboratorium : HB , albumin
5) Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat
6) Ciptakan suasana yang membangkitkan selera makan
7) Hindari prosedur yang menyakitkan/ tidak menyenangkan sebelum
makan.
8) Ajarkan dan bantu klien untuk beristirahat sebelum makan.
9) Pertahankan kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan.
10) Anjurkan klien makan dalam porsi kecil tapi sering
11) Motivasi klien mematuhi diet
12) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi dan pemeriksaan
e. Gangguan komunikasi vebral berhubungan dengan kerusakan serebral
Tujuan : klien dapat tetap berkomunikasi
Kriteria :
1) Tampak peningkatan kemampuan berkomunikasi
2) Tidak tampak frustasi
Rencana keperawatan
1) Kaji kemampuan komunikasi klien
2) Gunakan faktor meningkatkan pendengaran dan pengertian : bicara
jelas, terang dan menghadap ke klien, ulangi kemudian persingkat jika
klien tidak mengerti, gunakan sentuhan / gerakan untuk meningkatkan
komunikasi
3) Berikan metode alternative komunikasi : gunakan kertas dan pensil,
isyarat
4) Ungkapkan masalah frustasi terhadap ketidakmampuan
berkomunikasi.
5) Jelaskan pentingnya kesabaran dalam berkomunikasi
6) Gunakan perantara ahli bila perlu.
f. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, perawatan,
rehabilitasi, tanda dan gejala, komplikasi tentang penyakit yang di hadapi
passien
Tujuan : klien dan keluarga tahu dan mengerti tentang informasi yang
diberikan.
Kriteria :
1) Klien dan keluarga dapat tahu penyebab yang terjadi yang sudah
dijelaskan
2) Klien dan keluarga mematuhi aturan pengobatan dan perawatan
Rencana keperawatan
1) Kaji tingkat pengetahuan klien / keluarga
2) Identifikasi factor penyebab / penunjang yang dapat menghalangi
penatalaksanaan efektif (kesadaran / kemauan, pengetahuan,
dukungan, dan sumber).
3) Beri dan fasilitasi kebutuhan informasi yang cukup umtuk klien dan
keluarga
4) Beri kesempatan bertanya dan libatkan dalam perawatan
5) Beri pujian dan dorongan untuk tindakan / kegiatan positif yang
menyangkut kesehatan yang dilakukan klien / keluarga.
4. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah ditetapkan untuk
membantu proses penyembuhan pasien secara cepat

5. Evaluasi
Lakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan untuk
mengetahui perkembangan dan kemajuan pasien dalam proses pengobatan dan
perawatan
DAFTAR PUSTAKA

Corwin Elizabeth J. Buku saku pathofisiologi. Edisis 3, alih bahasa Nike Budi
Subekti, Egi Komara Yuda, Jakarta: EGC, 2009.

Herdman Heather T. 2009. Nanda International Diagnosis Keperawatan: Defenisi


dan klassifikasi, Editor edisi bahasa Indonesia Monica Ester, Jakarata:
EGC

Jurnal, Informasi Tentang Data Stroke, Obat Stroke, Pengobatan Stroke,


Rehabilitasi Stroke. Dalam bentuk Jurnal. Diambil dari http://data-
stroke.blogspot.com/2010_03_01_archive.html. Diakses di internet 26
September 2016

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika

NANDA, 2015, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.

Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4.


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.


Jakarta: Prima Medika

Smeltzer, dkk. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Vol 2. alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono,
Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta: EGC