Anda di halaman 1dari 6

62

BAB V

PEMBAHASAN

Penelitian ini akan membahas mengenai kriteria kriteria yang telah diamati

dalam bab IV sebelumnya berupa kriteria berdasarkan karakteristik responden

(Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, penghasilan per bulan, pekerjaan, serta

variavel pengetahuan keluarga dan variabel penanganan awal pada stroke akut.

5.1 Karakteristik Responden


5.1.1 Usia

Berdasarkan karakteristik responden menurut usia, sebagian besar

responden keluarga pasien stroke akut adalah berumur antara 30 40

tahun dan 41 50 tahun sebanyak 25 responden (37,3%). Hal ini sejalan

dengan teori Notoatmojo (2003) yang menyatakan bahwa semakin matang

usia seseorang maka pengetahuan individu tentang suatu hal akan semakin

bertambah. Hal ini sesuai dengan teori dari Sustrani (2006) bahwa Stroke

dapat menyerang segala usia, tetapi semakin tua usia seseorang maka

semakin besar kemungkinan orang tersebut terserang stroke. Menurut

Lewis (2014) penyakit stroke belakangan ini menyerang bukan hanya

kelompok usia di atas 50 tahun, melainkan juga kelompok usia produktif

yang menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan dalam sejumlah kasus

penderita stroke ada yang berusia di bawah 18 tahun (Suendrawan, 2015).

5.1.2 Jenis kelamin


63

Berdasarkan karakteristik responden menurut jenis kelamin,

diketahui bahwa jumlah responden laki laki lebih banyak dari responden

wanita yaitu sebanyak 39 orang (58,2 %) dan 28 orang (41,8 %) responden

wanita sehingga jumlah keseluruhan responden yaitu 67 responden.

Menurut pengamatan dari peneliti bahwa sebagian besar responden adalah

berjenis kelamin laki laki daripada wanita. Hal ini sejalan dengan

penelitian Kartini et al (2013) bahwa mayoritas responden adalah berjenis

kelamin laki laki yaitu sebanyak 20 responden (66,7%). Hal ini sesuai

dengan teori Sustrani (2006) yang menyatakan laki-laki dua kali lebih

berisiko terkena stroke dari pada perempuan, tetapi jumlah perempuan

yang meninggal akibat stroke lebih banyak. Hasil penelitian sakti oktaria

(2015) menunjukkan bahwa ada perbedaan yang mencolok antara laki-

laki dan perempuan dimana perempuan 40% dan laki-laki 60% . Ada

kecenderungan laki-laki lebih banyak terkena serangan stroke jika

dibandingkan dengan perempuan. Penelitian ini sama dengan penelitian

terbaru tentang stroke dimana responden laki-laki lebih banyak dari

perempuan (Bland, et.al, 2015; Blomberg, 2014; Withlock, et.al, 2014).

Hal ini kemungkinan disebabkan banyak dari responden laki-laki yang

merokok. Rokok diketahui merupakan faktor resiko terjadinya stroke

(Windham, 2015; Kim, 2015).

5.1.3 Status Pendidikan


Berdasarkan karakteristik responden menurut status pendidikan,

diketahui bahwa sebagian besar status pendidikan responden adalah SMA


64

sebanyak 26 responden (38,8%), dan paling sedikit adalah tidak sekolah

yaitu 4 responden (6%). Sehingga penelitian ini mendukung teori

Notoatmojo (2010), bahwa intelegensi merupakan faktor yang dapat

mempengaruhi status kesehatan manusia serta tingkat pengetahuan

seseorang terhadap penyakit. Tingkat pengetahuan dan pendidikan yang

rendah mengenai penyakit dan bagaimana rehabilitasi pasca stroke akan

menghambat proses pemulihan. Selain itu juga, menurut Friedman (2010)

bahwa status pendidikan seorang responden juga mempengaruhi dukungan

keluarga yang diberikan khususnya dukungan informasi terkait rehabilitasi

pasca stroke.

5.1.4 Penghasilan responden


Berdasarkan karakteristik responden menurut penghasilan

responden, diketahui bahwa sebagian responden memiliki penghasilan

Rp.1.250.000,00 yaitu sebanyak 42 responden (62,7%). Ini sejalan

dengan teori Notoatmodjo (2010), bahwa penghasilan responden

mempengaruhi pengetahuan keluarga dan tingkat pendidikan seseorang

yang diberikan terhadap keluarga.

5.1.5 Pekerjaan responden


Berdasarkan pekerjaan responden diketahui bahwa sebagian besar

responden adalah wiraswasta sebanyak 26 responden (38,8%). Hal ini

sejalan dengan teori Notoatmojo bahwa pekerjaan dapat mempengaruhi

tinkat pengetahuan seseorang. Karena seseorang yang bekerja dan

memiliki lingkungan sosial yang baik seperti berteman dengan orang yang
65

berpendidikan tinggi maka secara tidak langsung seseorang tersebut dapat

bertambah pengetahuannya.
5.2 Gambaran pengetahuan keluarga

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti didapatkan hasil

bahwa pengetahuan keluarga pasien stroke akut menunjukkan bahwa

sebagian besar responden pengetahuan keluarganya cukup sebanyak 43

responden (64,2 %). Hal ini sejalan dengan penelitian Abu Syairi yang

berjudul Tingkat pengetahuan keluarga tentang self care pada anggota

keluarga yang mengalami stroke di RSU Tanggerang (2013) tentang

pengetahuan keluarga tentang self care diperoleh hasil bahwa pengetahuan

responden tentang self care dalam kategori kurang baik sebanyak 26 orang

(36,1%), kategori cukup sebanyak 24 orang (33,3%), dan baik sebanyak 22

responden (30,6%). Menurut Notoatmojo (2003), pengetahuan diperlukan

sebagai dukungan sikap dan perilaku, sehingga dapat dikatakan bahwa

pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan.

Menurut penelitian Herawati (2014), mengenai pengalaman perubahan

citra tubuh terhadap pasien pasca stroke menyatakan bahwa Tingkat

ketergantungan yang tinggi terhadap keluarga dalam melakukan kegiatan

sehari-hari membuat partisipan menganggap dukungan keluarga

merupakan hal yang sangat dibutuhkan menuju kesembuhan. Perawatan

yang telaten dan sikap positif keluarga berdampak besar bagi klien

5.3 Gambaran penanganan awal stroke akut


66

Berdasarkan gambaran pengetahuan awal pra hospital didapatkan

data bahwa sebagian besar penanganan awal pra hospital pasien stroke

adalah cukup yaitu 34 responden (50,7%). Hal ini senada dengan

penelitian Sakti Oktaria (2015) yang berjudul Hubungan penanganan awal

dan kerusakan Neurologis pasien Stroke di RSUD Kupang diperoleh hasil

bahwa penanganan awal di rumah yang kurang baik sebanyak 19

responden (63,3%), dan penanganan awal yang baik ada 11 orang (36,7%).

Stroke adalah sindroma klinis yang awal timbulnya mendadak, progresif

cepat berupa deficit neurologis fokal dan atau global yang berlangsung 24

jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian (Mansjoer, 2009).

Stroke yang disebabkan oleh thrombosis otak biasanya datang secara

bertahap, stroke yang disebabkan karena perdarahan biasanya datang

secara cepat. Jika didahului oleh sakit kepala yang hebat, mual dan

pingsan si penderita harus segera di bawa ke rumah sakit untuk pelayanan

darurat (Leila Henderson, 2007). Luasnya kerusakan neurologis atau

komplikasi penyakit sangat di tentukan juga oleh penanganan awal di

rumah. Upaya pencegahan dan menurunkan insiden penyakit. Pengenalan

lebih awal tanda dan gejala stroke akan memudahkan pencegahan penyakit

atau komplikasi. Tanda dan gejala awal serangan juga menentukan jenis

stroke dan luasnya gangguan neurologis (Mansjoer, 2009).

5.4 Hubungan pengetahuan keluarga dengan penanganan awal stroke akut

di rumah

Berdasarkan hasil uji korelasi Rank Spearman pada tabel 4.9


diperoleh koefisien korelasi (r) adalah 0,785 yang berarti bahwa kekuatan
67

hubungan antara dua variabel adalah Kuat (Sugiyono, 2010). Arah


hubungan adalah Positif karena semakin meningkat pengetahuan keluarga
yang diberikan maka semakin positif (searah) penanganan awal pada pasien
stroke akut. Sedangkan nilai p-value = 0,000, syarat Ha diterima dan Ho
ditolak bila nilai p< (0,05). Hal ini berarti terdapat hubungan yang
signifikan antara pengetahuan keluarga dengan penanganan awal pada
stroke akut di Instalasi Rawat Inap RSU Aisyiyah Ponorogo Tahun 2017.
Hal ini sejalan dengan penelitian penanganan awal dan kerusakan
Neurologis pasien Stroke di RSUD Kupang Hasil penelitian menunjukan
bahwa variabel penanganan di rumah dengan kerusakan neurologis
sebagian besar tidak menunjukan adanya hubungan ditunjukkan dengan
nilai p value test chi-square lebih besar dari 0,05, kecuali pada variabel
kekakuan (p= 0,042). Hal ini sesuai teori konsep time is brain berarti
engobatan stroke merupakan gawat darurat. Jadi, keterlambatan pertolongan
pada fase prahospital harus dihindari dengan pengenalan keluhan dan gejala
stroke bagi pasien dan orang terdekat. Pada setiap kesempatan, pengetahuan
mengenai keluhan stroke, terutama pada kelompok resiko tinggi (hipertensi,
atrial fibrilasi, kejadian vaskuler lain dan diabetes) perlu disebarluaskan.
Keterlambatan manajemen stroke akut dapat terjadi pada beberapa tingkat.
Pada tingkat populasi, hal ini dapat terjadi karena ketidaktahuan keluhan
stroke dan kontak pelayanan gawat darurat (Wirawan Narakusuma & Ida
Bagus. 2012).