Anda di halaman 1dari 12

BUPATI LUWU

PERATURAN BUPATI KABUPATEN LUWU


NOMOR . TAHUN 2015

TENTANG

PEDOMAN PENYERAHAN PRASARANA, SARANA DAN


UTILITAS (PSU) PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI LUWU,

Menimbang : a. bahwa sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun


2007 tentang Penataan Ruang yang
mengamanatkan bahwa paling lama 2 (dua) tahun
setelah berlakunya, maka harus dilakukan
penyesuaian rencana tata ruang wilayah;
b. bahwa rencana tata ruang wilayah Kabupaten
Luwusebagaimana ditetapkan dalam Peraturan
Daerah Kabupaten Luwu, tidak sesuai lagi dengan
tuntutan perkembangan Daerah Kabupaten Luwu
berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun
2007;
c. bahwa dalam rangka memberikan jaminan
ketersediaan prasarana, sarana dan utilitas
perumahan dan permukiman perlu dilakukan
pengelolaan prasarana, sarana dan utilitas.
d. bahwa dalam rangka keterlanjutan pengelolaan
prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman perlu dilakukan penyerahan
prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman dari pengembang kepada pemerintah
daerah.
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksudkan pada huruf a sampai huruf d, perlu
membentukPeraturanBupati tentang Pedoman
Penyerahan Prasarana, Sarana dan Utilitas
Perumahan dan Permukiman.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang


Perumahan dan Permukiman (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3469);
2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Luwu
Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia
1
Tahun 1999 Nomor 47, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3826);
3. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebgaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 4844, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4725);
6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
7. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5234);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005
tentang Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 4532, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4532);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4609) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun
2008 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4855);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007
tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
2
Nomor 4737);
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun
2009 tentang Pedoman Penyerahan Prasarana,
Sarana dan Utilitas Perumahan dan Permukiman
di Daerah;
12. Peraturan Daerah Kabupeten LuwuNomor 6 Tahun
2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Luwu (Lembaran Daerah Kabupaten
LuwuTahun 2011 Nomor 2, Tambahan Lembaran
Daerah Kabupaten LuwuNomor 213).

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN


PENYERAHAN PRASARANA, SARANA DAN
UTILITAS PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:


1. Daerah adalah Kabupaten Luwu.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai
unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah.
3. Bupati adalah Kepada Daerah Kabupaten Luwu.
4. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD
adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna
anggaran/pengguna barang.
5. Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang
memungkinkan lingkungan perumahan dan permukiman dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.
6. Sarana adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk
penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial, dan
budaya.
7. Utilitas adalah sarana penunjang untuk pelayanan lingkungan.
8. Penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas adalah penyerahan
berupa tanah dengan bangunan dan/atau tanah tanpa bangunan
dalam bentuk asset dan tanggung jawab pengelolaan dari
pengembang kepada pemerintah daerah.
9. Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi
dengan prasarana, sarana, dan utilitas.
10. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan
lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan
yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan
penghidupan.
11. Pengembang adalah institusi atau lembaga penyelenggara
pembangunan perumahan dan permukiman.
12. Masyarakat adalah Rukun Tetangga dan Rukun Warga penghuni
perumahan dan permukiman atau asosiasi penghuni untuk rumah
susun.

3
13. Barang Milik Daerah adalah senua barang yang dibeli atau diperoleh
atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau berasal
dari perolehan lain yang sah.
14. Pengelola barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung
jawab melakukan koordinasi pengelolaan barang milik daerah.
15. Pengguna barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan
barang milik daerah.
16. Jaringan jalan adalah ..
17. Saluran limbah adalah ..
18. Saluran drainase adalah
19. Tempat pembuangan sampahadalah ..
20. Sarana perniagaan dan perbelanjaan adalah
21. Sarana pelayanan umum dan pemerintahan adalah ..
22. Sarana pendidikan adalah
23. Sarana kesehatan adalah
24. Sarana peribadatan adalah .
25. Sarana rekreasi dan olahraga adalah .
26. Sarana pemakaman adalah .
27. Sarana pertamanan dan ruang terbuka hijau dan adalah
.
28. Sarana parkir adalah .
29. Jaringan air minum adalah ..
30. Jaringan listrik adalah ..
31. Jaringan telepon adalah ..
32. Jaringan gas adalah ..
33. Jaringan transportasi adalah ..
34. Jaringan kebakaran adalah ..
35. Sarana penerangan jasa umum adalah ..
36. Tim Verifikasi adalah tim yang dibentuk dengan keputusan Bupati
untuk memproses penyerahan perasarana, sarana, dan utilitas
perumahan dan permukiman.

BAB II
TUJUAN DAN PRINSIP

Pasal 2

Penyerahan prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan permukiman


dari pengembang kepada pemerintah daerah bertujuan untuk menjamin
keberlanjutan pemeliharaan dan pengelolaan prasarana, sarana, dan
utilitas di lingkungan perumahan dan permukiman.

Pasal 3

Penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan permukiman


berdasarkan prinsip;
1. keterbukaan, yaitu masyarakat mengetahui telah diserahkan dan atau
kemudahan untuk mengakses informasi terkait dengan penyerahan
prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan permukiman;
2. akuntabilitas, yaitu proses penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas
perumahan dan permukiman yang dapat dipertanggungjawabkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang
berlaku;
3. kepastian hukum, yaitu menjamin kepastian ketersediaan prasarana,
sarana, dan utilitas di lingkungan perumahan dan permukiman sesuai

4
dengan standar, rencana tapak yang disetujui oleh pemerintah daerah,
serta kondisi dan kebutuhan masyarakat;
4. keberpihakan, yaitu pemerintah daerah menjamin ketersediaan
prasarana, sarana, dan utilitas bagi kepentingan masyarakat di
lingkungan perumahan dan permukiman;
5. keberlanjutan, yaitu pemerintah daerah menjamin keberadaan
prasarana, sarana, dan utilitas sesuai dengan fungsi dan
peruntukkannya.

BAB III
PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN

Pasal 4

(1) Perumahan dan permukiman adalah perumahan berlantai 1 (satu)


dan tidak bersusun.

(2) Perumahan berlantai 1 (satu) dan tidak bersusun sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), berupa kelompok rumah yang berfungsi
sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian.

Pasal 5

(1) Perumahan berlantai 1 (satu) dan tidak bersusun sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), berupa bangunan berlantai 1 (satu)
dalam suatu lingkungan.

(2) Bangunan berlantai 1 (satu) dan tidak bersusun sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), terbagi dalam bagian-bagian yang
distrukturkan secara fungsional baik arah horizontal maupun
vertikal dan merupakan satuan-satuan.

(3) Bangunan yang merupakan satuan-satuan sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama
untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda
bersama, dan tanah bersama.

Pasal 6

Perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat


(1), dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas.

BAB IV
PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS

Pasal 7

Prasarana perumahan dan permukiman terdiri dari:


a. jaringan jalan;
b. jaringan saluran pembuangan air limbah;
c. jaringan saluran pembuangan air hujan (drainase); dan

5
d. tempat pembuangan sampah.

Pasal 8

Sarana perumahan dan permukiman terdiri dari:


a. sarana perniagaan dan perbelanjaan;
b. sarana pelayanan umum dan pemerintahan;
c. sarana pendidikan;
d. sarana kesehatan;
e. sarana peribadatan;
f. sarana rekreasi dan olahraga;
g. sarana pemakaman;
h. sarana pertamanan dan ruang terbuka hijau; dan
i. sarana parkir.

Pasal 9

Utilitas perumahan dan permukiman terdiri dari:


a. jaringan air minum;
b. jaringan listrik;
c. jaringan telpon;
d. jaringan gas;
e. jaringan transportasi;
f. jaringan kebakaran; dan
g. sarana penerangan jasa umum.

BAB V
PENYERAHAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS

Pasal 10

(1) Pemerintah Daerah meminta kepada pengembang untuk


menyerahkan prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan
permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 8, dan
Pasal 9 yang dibangun oleh pengembang.

(2) Penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan


permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan;
a. paling lambat 1 (satu) tahun setelah masa pemeliharaan; dan
b. sesuai dengan rencana tapak yang telah disetujui oleh
pemerintah daerah.

(3) Penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas perumahan dan


permukiman sesuai rencana tapak sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b, dilakukan:
a. secara bertahap, apabila rencana pembangunan dilakukan
bertahap; atau
6
b. sekaligus, apabila rencana pembangunan dilakukan tidak
bertahap.

Pasal 11

(1) Penyerahan prasarana dan utilitas sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 7 dan Pasal 9 pada perumahan tidak bersusun berupa tanah
dan bangunan.

(2) Penyerahan sarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 pada


perumahan tidak bersusun berupa tanah siap bangun.

Pasal 12

(1) Penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas rumah berlantai 1 (satu)


berupa tanah siap bangun.

(2) Tanah siap bangun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di
lantai 1 (satu) lokasi dan di luar hak milik atas satuan rumah
berlantai 1 (satu).

BAB VI
PERSYARATAN PENYERAHAN PRASARANA, SARANA, DAN UTILITAS

Pasal 13

Pemerintah Daerah menerima penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas


dari pengembangan dengan persyaratan:
a. umum;
b. teknis; dan
c. administrasi.

Pasal 14

(1) Persyaratan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a,


meliputi;
a. lokasi prasarana, sarana, dan utilitas;
b. sesuai dokumen perizinan.

(2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b,


sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Persyaratan administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13


angka 3, wajib memiliki:
a. dokumen rencana tapak;
b. izin mendirikan bangunan; dan
c. surat pelepasan hak atas tanah dari pengembang kepada
pemerintah daerah.

7
BAB VII
PEMBENTUKAN TIM VERIFIKASI

Pasal 15

(1) Bupati dapat membentuk Tim Verifikasi.

(2) Tim verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas
unsur:
a. Sekretaris Daerah;
b. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah;
c. Badan Pertanahan Nasional;
d. Satuan Kerja Perangkat Daerah teknis terkait;
e. Camat; dan
f. Lurah/Desa.

(3) Tim verifikasi di ketuai oleh Sekretaris Daerah.

Pasal 16

(1) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugas dan penilaian, dibantu oleh
Sekretariat Tim Verifikasi.

(2) Sekretariat Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


berada pada SKPD yang membidangi penataan ruang atau
perumahan dan permukiman.

Pasal 17

(1) Tim verifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1)


mempunyai tugas;
a. melakukan inventarisasi prasarana, sarana dan utilitas yang
dibangun oleh pengembang di wilayah kerjanya secara berkala;
b. melakukan inventarisasi prasarana, sarana dan utilitas sesuai
permohonan penyerahan prasarana, sarana dan utilitas oleh
pengembang;
c. menyusun jadwal kerja;
d. melakukan verifikasi permohonan penyerahan prasarana, sarana
dan utilitas oleh pengembang;
e. menyusun berita acara pemeriksaan;
f. menyusun berita acara serahterima;
g. merumuskan bahan untuk kebijakan pengelolaan pemanfaatan
prasarana, sarana dan utilitas; dan
h. menyusun dan menyampaikan laporan lengkap hasil
inventarisasi dan penilaian prasaranan, sarana dan utilitas
secara berkala kepada Bupati.

(2) Tim verifikasi melakukan penilaian sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 16 ayat (1), terhadap:

8
a. kebenaran atau penyimpangan antara prasarana, sarana dan
utilitas yang telah ditetapkan dalam rencana tapak dengan
kenyataan dilapangan;
b. kesesuaian persyaratan teknis prasarasana, sarana dan utilitas
yang akan diserahkan atau diserahkan dengan persyaratan yang
ditetapkan.

BAB VIII
TATA CARA PENYERAHAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS

Pasal 18

(1) Tata cara penyerahan prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman dilakukan melalui tahapan:
a. persiapan;
b. pelaksanaan penyerahan; dan
c. pasca penyerahan.

(2) Tahapan persiapan penyerahan prasarana, sarana dan utilitas


perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a, meliputi:
a. Bupati menerima permohonan penyerahan prasarana, sarana dan
utilitas perumahan dan permukiman dari pengembang;
b. Bupati menugaskan Tim Verifikasi memproses penyerahan
prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan permukiman
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a;
c. Tim Verifikasi mengundang pengembang untuk melakukan
pemaparan prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman yang akan diserahkan;
d. Tim Verifikasi melakukan inventarisasi mengenai;
1. rencana tapak yang telah disetujui oleh Bupati;
2. tata letak bangunan serta lahan; dan
3. besaran prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman.
e. Tim Verifikasi menyusun jadwal kegiatan tim dan instrumen
penilaian.

(3) Tahapan pelaksanaan penyerahan prasarana, sarana dan utilitas


perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b, meliputi;
a. penelitian persyaratan umum, teknis dan administrasi,
pemeriksaan lapangan dan penilaian fisik oleh tim verifikasi;
b. tim verifikasi menyusun laporan hasil pemeriksaan, serta
merumuskan prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman yang layak dan tidak layak diterima;
c. yang layak diterima, dituangkan dalam berita acara pemeriksaan
hasil verifikasi dan disampaikan kepada bupati untuk ditetapkan;
d. yang tidak layak diterima, diberi kesempatan kepada pengembang
untuk;
1. melakukan perbaikan paling lambat 1 (satu) bulan, setelah
dilakukan pemeriksaan;

9
2. setelah diperbaiki dilakukan pemeriksaan dan penilaian
kembali.
e. Berita Acara Serahterima prasarana, sarana dan utilitas
perumahan dan permukiman dilakukan oleh pengembang dan
Bupati dengan melampirkan daftar prasarana, sarana dan utilitas
perumahan dan permukiman, dokumen teknis dan administrasi.

(4) Tahapan pasca penyerahan prasarana, sarana dan utilitas


perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c, meliputi;
a. Bupati menyerahkan prasarana, sarana dan utilitas perumahan
dan permukiman kepada SKPD paling lambat 3 (tiga) bulan
setelah penyerahan prasarana, sarana dan utilitas perumahan
dan permukiman;
b. SKPD yang membidangi Asset Daerah melakukan pencatatan
asset terhadap prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman ke dalam daftar barang milik daerah;
c. SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a, yang
menerima asset prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan
permukiman melakukan pencatatan ke dalam daftar barang milik
pengguna dan wajib menginformasikan kepada masyarakat.

Pasal 19

(1) Dalam hal prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan


permukiman ditelantarkan dan belum diserahkan, Pemerintah
Daerah membuat Berita Acara Perolehan prasarana, sarana dan
utilitas perumahan dan permukiman.

(2) Pemerintah Daerah membuat pernyataan asset terhadap prasarana,


sarana dan utilitas perumahan dan permukiman merupakan dasar
permohonan pendaftaran hak atas tanah di Kantor Badan
Pertanahan Nasional.

(3) Bupati menyerahkan prasarana, sarana dan utilitas sebagaimana


dimaksud pada ayat (1), kepada SKPDpaling lambat 3 (tiga) bulan
setelah penerbitan hak atas tanah oleh Kantor Badan Pertanahan
Nasional.

(4) SKPD yang membidangi Asset Daerah melakukan pencatatan asset


terhadap prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan permukiman
ke dalam daftar barang milik daerah.

(5) SKPD melakukan pencatatan asset terhadap prasarana, sarana dan


utilitas perumahan dan permukiman ke dalam daftar barang milik
pengguna.

BAB IX
PELAPORAN

Pasal 20

(1) Tim Verifikasi menyampaikan laporan perkembangan penyerahan


prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan permukiman secara
berkala setiap 6 (enam) bulan kepada Bupati.

10
(2) Bupati menyampaikan laporan perkembangan penyerahan
prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan permukiman secara
berkala setiap 6 (enam) bulan kepada Gubernur.

BAB X
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 21

(1) Bupati melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap


penyerahan, pengelolaan dan pemanfaatan prasarana, sarana dan
utilitas perumahan dan permukiman;

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembinaan dan


pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan
Peraturan Bupati.

BAB XI
PEMBIAYAAN

Pasal 22

(1) Pembiayaan pemeliharaan prasarana, sarana dan utilitas perumahan


dan permukiman sebelum penyerahan menjadi tanggungjawab
pengembang.

(2) Pembiyaan pemeliharaan prasarana, sarana dan utilitas perumahan


dan permukiman setelah penyerahan menjadi tanggungjawab
Pemerintah Daerah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Kabupaten.

BAB XIV
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 23

Terhadap prasarana, sarana dan utilitas perumahan dan permukiman


yang pada saat PeraturanBupati ini diberlakukan masih dalam tahap
penyelesaian, tata cara penyerahannya wajib mengikuti PeraturanBupati
ini.

BAB XV
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 24

PeraturanBupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pemngundangan


Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah
Kabupaten Luwu.

11
Ditetapkan di Belopa
Padatanggal, 2015

BUPATI LUWU,

H. A. MUDZAKKAR

Diundangkan di Belopa
padatanggal 2015

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN LUWU,

12