Anda di halaman 1dari 239

Materi Inti Konseling dan Tes HIV

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

MATERI INTI 1
KONSELING HIV DALAM STRATEGI
KOMUNIKASI PERUBAHAN
PERILAKU

I. PENDAHULUAN
Konseling HIV menggunakan strategi komunikasi perubahan perilaku untuk
mendukung klien melakukan perubahan. Dalam komunikasi kita mengenal
pemahaman akan tahap dan proses perubahan perilaku yang membantu
individu untuk berubah. Melalui perubahan perilaku, diharapkan klien
bertanggung jawab untuk melindungi dirinya agar tidak tertular HIV,
menerapkan pencegahan positif dan meningkatkan kualitas hidup. Materi
ini akan mempelajari tentang bagaimana seorang konselor melakukan
konseling, mempertimbangkan aspek tata nilai dalam konseling,
menerapkan strategi komunikasi perubahan perilaku, penularan HIV, model
perubahan perilaku dan pencegahan positif.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu:
1. Menjelaskan dan menerapkan materi orientasi konseling dalam
berkomunikasi dengan klien
2. Menjelaskan dan menerapkan pengelolaan tata nilai dalam konseling
3. Menjelaskan dan menerapkan prinsip komunikasi perubahan perilaku

208
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

4. Menjelaskan dan menerapkan informasi terkait dengan penularan HIV,


model perubahan perilaku dan pemecahan masalah
5. Menjelaskan dan menerapkan informasi terkait dengan perubahan
perilaku pencegahan positif

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Pokok Bahasan 1. Orientasi Konseling
2. Pokok Bahasan 2. Tata Nilai Konseling
3. Pokok Bahasan 3. Prinsip Komunikasi Perubahan Perilaku
4. Pokok Bahasan 4. Penularan HIV
5. Pokok Bahasan 5. Model Perubahan Perilaku
6. Pokok Bahasan 6. Pemecahan Masalah
7. Pokok Bahasan 7. Pencegahan Positif

POKOK BAHASAN 1. ORIENTASI KONSELING

ORIENTASI KONSELING DALAM STRATEGI KOMUNIKASI


PERUBAHAN PERILAKU
Konseling merupakan proses penerapan strategi komunikasi dalam
membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah interpersonal,
emosional, dan memutuskan hal tertentu.
Peran seorang konselor dalam konseling adalah membantu dan
memfasilitasi klien untuk dapat membangun kemampuan diri dalam
pengambilan keputusan bijak dan realistik, menuntun perilaku mereka dan

209
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

mampu mengemban konsekuensi dari pilihannya dan memberikan informasi


yang terkini.

PRINSIP DASAR KONSELING DALAM STRATEGI


KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU :

1. Spesifik atas kebutuhan atau masalah dan lingkungan setiap


klien
2. Proses timbal-balik yang saling kerjasama dan menghargai
3. Memiliki tujuan dan fokus kepada klien
4. Membangun otonomi dan tanggung jawab diri terhadap klien
5. Memperhatikan situasi interpersonal
6. Kesiapan untuk berubah
7. Menyediakan informasi terkini
8. Mengembangkan rencana perubahan perilaku atau rencana
aksi
9. Mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas
informasi, dan mengembangkan rencana aksi.

Konseling BUKAN ....


Membacakan renungan atau membaca puisi, berdoa bersama, memberikan nasihat
dari awal hingga akhir, interogasi nilai pribadi dan diskusi hal tidak terkait

Kegiatan Latihan 1 : Peran Konselor dalam Konseling

210
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PERBEDAAN KONSELING DAN PENYULUHAN DALAM


KEGIATAN KELOMPOK
PENYULUHAN DALAM
KONSELING
KEGIATAN KELOMPOK
Rahasia dan kepercayaan menjadi Tidak bersifat rahasia
syarat kenyamanan
Dilakukan secara bertatap muka Kelompok kecil atau besar
oleh konselor dan klien atau
konselor dengan klien berserta
pasangannya
Memiliki keterlibatan emosi Lebih netral
Mengarah pada tujuan khusus Mengarah pada tujuan umum
Membangkitkan motivasi untuk Meningkatkan pengetahuan dan
perubahan perilaku dan sikap pemahaman
Berorientasi pada masalah Orientasi pada isi
Berbasis kebutuhan klien Berbasis kebutuhan kesehatan
masyarakat

Di dalam proses konseling prates HIV, penyuluhan kelompok yang


beranggotakan 5 -10 dalam menjadi strategi untuk meningkatkan jumlah
klien yang hendak mengikuti prates HIV. Dua kegiatan yang berbeda namun
dapat diterapkan secara harmoni dalam proses prates HIV dalam VCT.

KONSELING HIV AIDS


Konseling HIV AIDS merupakan strategi komunikasi perubahan perilaku
yang bersifat rahasia dan saling percaya antara klien dan konselor dengan
tujuan meningkatkan kemampuan klien menghadapi tekanan dan
pengambilan keputusan terkait dengan HIV AIDS. Proses konseling HIV
AIDS termasuk konseling pra tes HIV, konseling penilaian risiko, konseling
pasca tes HIV dan konseling perubahan perilaku. Konseling ini

211
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

menggunakan teknik keterampilan komunikasi berfokus pada kebutuhan


fisik, psikososial dan spiritual seseorang. Penting untuk diketahui bahwa ada
masalah lain terkait dengan HIV seperti penyesuaian diri klien dengan
masalah klien dimasa lalu yang mungkin belum terselesaikan seperti
masalah orientasi seksual, identitas seksual, perasaan tidak nyaman
sebagai pekerja seks, dan ketergantungan Napza atau masalah keluarga
lainnya.

Konseling HIV/AIDS merupakan proses strategi komunikasi dengan tiga


tujuan umum:
1) Menyediakan dukungan psikologis misalnya: dukungan yang
berkaitan dengan kesejahteraan emosi, psikososial dan spiritual
seseorang yang terinfeksi HIV atau virus lainnya.
2) Pencegahan penularan HIV dengan menyediakan informasi
tentang perilaku yang tidak berisiko dan membantu orang dalam
mengembangkan keterampilan pribadi untuk melindungi diri dari
penularan HIV, reinfeksi HIV dan bagaimana memiliki perilaku yang
berkualitas.
3) Memastikan efektivitas rujukan kesehatan, psikososial dan
ekonomi melalui mekanisme rujukan dan keterkaitan dengan
layanan dukungan, perawatan dan pengobatan HIV AIDS.

212
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PROSES KONSELING DALAM STRATEGI KOMUNIKASI


PERUBAHAN PERILAKU
1.TAHAP SATU
1) Membangun hubungan baik dan meningkatkan kepercayaan klien
2) Meyakinkan kerahasiaan dan mendiskusikan batas kerahasiaan
3) Mengizinkan ventilasi untuk ekspresi perasaan dan pikiran klien
4) Menggali masalah, meminta klien menceritakan kisah mereka
5) Memperjelas harapan klien untuk konseling
6) Menjelaskan apa yang dapat konselor tawarkan dan cara kerjanya
7) Pernyataan dari konselor tentang komitmen mereka untuk
bekerjasama dengan klien
2.TAHAP DUA
1) Definisi dan pemahaman peran, batasan dan kebutuhannya
2) Mengemukakan peran dan batas dari hubungan dalam konseling
3) Memapankan dan mengklarifikasi tujuan dan kebutuhan klien
4) Membantu menetapkan prioritas, tujuan dan kebutuhan klien
5) Melakukan pengambilan riwayat rinci menceritakan riwayat secara
spesifik
6) Mengggali keyakinan, pengetahuan dan perhatian klien
3.TAHAP TIGA
1) Proses konseling dukungan tindak lanjut
2) Melanjutkan ekspresi pikiran dan perasaan
3) Mengenali berbagai alternatif
4) Mengenali keterampilan penyesuaian diri yang sudah ada
5) Mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut
6) Mengevaluasi alternatif pemecahan masalah dan dampaknya

213
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

7) Memungkinkan perubahan perilaku


8) Mendukung dan mempertahankan kerjasama dengan klien terkait
masalahnya
9) Memonitor perkembangan klien
10) Rencana alternatif yang dibutuhkan
11) Rujukan sesuai kebutuhan
4. TAHAP EMPAT
1) Menutup atau mengakhiri relasi
2) Klien bertindak sesuai rencana
3) Klien menatalaksana dan menyesuaikan diri dengan fungsi sehari-hari
4) Ketersediaan sistem dukungan yang dapat diakses
5) Kenali strategi untuk memelihara perubahan yang sudah terjadi
6) Diskusi dan rencanakan pengungkapan status
7) Interval perjanjian diperpanjang
8) Ketersediaan sumber dan rujukan yang diketahui serta dapat diakses
9) Meyakinkan klien tentang pilihan untuk kembali mengikuti konseling
sesuai kebutuhan

POKOK BAHASAN 2. TATA NILAI KONSELING

KRITERIA KONSELOR YANG BERKUALITAS


Konselor yang efektif sangat menghargai klien selama proses konseling.
Kriteria utama seorang konselor yang berkualitas adalah :

214
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Tulus Kesungguhan hati dalam melakukan konseling. Tulus


merupakan dasar keberhasilan konseling dan bagian
penting dari proses konseling.
Empati Merupakan kemampuan dan keterampilan konselor
dalam mencoba memahami perasaan dan pikiran
(merabarasakan) yang dialami klien tanpa terlibat
secara emosional.
Mendengar Aktif Mendengar aktif merupakan cara merespon yang
efektif. Konselor hadir secara fisik, mental dan
emosional menggunakan kemampuan verbal dan
non verbal dalam mendengarkan apa yang diucapkan
dan tidak diucapkan klien. Cara mendengarkan
memiliki peran besar untuk mendorong klien dapat
meneruskan atau menghentikan pembicaraannya.
Merespon positif Memperlihatkan kepekaan, sikap menghargai,
ramah, hangat dan mampu mempertimbangkan
kondisi klien.
Mempercayai Konselor mampu mempercayai apapun yang
klien dikatakan oleh klien sehingga membuat klien nyaman
dengan perasaannya.
Peka akan Menghargai sistem budaya dan kepercayaan klien.
Budaya Seorang konselor perlu membangun kepekaan
terhadap budaya dan tradisi yang dimiliki klien.
Budaya memperlihatkan kapan dan bagaimana
mereka berperilaku. Hargai perbedaan, galilah

215
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

kepercayan, ajukan pertanyaan untuk lebih


memahami dan mengoptimalkan bantuan.
Sabar Menyesuaikan sikap, irama dengan kondisi klien,
jangan mendorong klien terlalu terburu-buru.
Pastikan tersedia cukup waktu untuk proses
konseling. Beberapa isu yang mungkin sangat sensitif
untuk dibicarakan dapat ditunda hingga klien dapat
mempercayai konselor sepenuhnya.
Jujur Jujur dengan mengatakan apa yang sesungguhnya
terjadi merupakan komponen penting dari pihak
konselor dan klien. Hubungan yang dilandasi
kejujuran adalah dasar dari keberhasilan konseling
Membantu klien Menggali potensi klien dalam mencari alternatif.
dengan Mendiskusikan keuntungan dan kerugian dari setiap
memikirkan alternatif. Pengambilan keputusan tetap di tangan
berbagai klien agar tidak menciptakan ketergantungan
alternatif terhadap konselor.
Menyadari Mengakui keterbatasan diri dan merujuk pada
keterbatasan diri sumber yang lebih ahli.
Ekspresi Memfasilitasi klien untuk mengekspresikan perasaan
perasaan dan dan pikirannya.
pikiran
Tidak Menerima klien apa adanya tanpa menilai salah atau
menghakimi benar.

216
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Berpengetahuan Senantiasa bersemangat untuk memperbaharui


pengetahuan dan informasi terkini

KUALITAS KONSELOR :
Yang Harus Dilakukan Yang Tidak Boleh Dilakukan
Kriteria konselor yang membuat Mendesak atau mengancam klien
klien menjadi lebih nyaman dan Memberikan opini pribadi
percaya: Menghakimi klien atau gaya hidupnya
Konselor memiliki Memberikan pernyataan yang
kepercayaan diri terkesan lebih tahu perasaan yang
Konselor menerapkan dialami klien
empati dan dapat menerima Memaksakan kehendak pribadi
apa adanya Mengesampingkan masalah yang
Konselor menerapkan dikemukakan klien
kejujuran Mengecilkan masalah yang
Konselor dapatdipercaya dikemukakan klien
dan menjaga kerahasiaan Memotong pembicaraan tanpa tujuan

Konselor memiliki Mengambil alih tanggung jawab


kompetensi dan mampu masalah dan keputusan klien
meningkatkan kemampuan Memperkeruh situasi yang dialami
diri klien
Menggunakan kata harus dan
seharusnya Menghentikan ekspresi
emosi klien

217
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

SIKAP, TATA NILAI DAN KEYAKINAN


Kita semua dipengaruhi oleh sikap, tata nilai dan keyakinan yang
berkembang di masyarakat dan budaya dimana kita hidup. Masyarakat dan
budaya memberikan kontribusi pada perkembangan sikap, tata nilai dan
keyakinan pribadi. Bingkai sikap,tata nilai dan kepercayaan merupakan
pedoman perilaku kita dari hari ke hari, mempengaruhi interpretasi,
pengungkapan dan respon kita terhadap setiap peristiwa, secara spesifik
terikat budaya setempat dan bervariasi pada setiap wilayah, negara, dan
kelompok.

Kegiatan Latihan 2 : Tata Nilai, Pernyataan Kontrovesial, dan


Daftar Kata-kata

Konselor membutuhkan pengembangan kesadaran diri akan sikap, tata nilai,


dan kepercayaan yang dianut. Konselor perlu mempertimbangkan dan
menilai kembali bagaimana sikap, tatanilai dan keyakinannya berdampak
pada hidupnya dan secara khusus terkait dalam melaksanakan
pekerjaannya sebagai konselor. Konselor membutuhkan pemahaman
bagaimana sebaiknya merespon perbedaan opini ketika berhadapan
dengan klien yang mempunyai perbedaan opini dengan dirinya. Konselor
akan selalu bekerja dengan mereka yang berbeda latar belakang suku,
budaya dan kepercayaan. Konselor membutuhkan pengenalan dan
penerimaan akan setiap perbedaan sikap, tata nilai dan keyakinan yang
berbeda dari klien.

218
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Konseling BUKAN memaksa orang untuk menyetujui dan mengikuti


standar kehidupan tertentu sesuai dengan HARAPAN konselor

Kesulitan dan konflik yang terkait dengan sikap, tata nilai dan keyakinan
antara klien dan konselor perlu didiskusikan atau dikonsultasikan kepada
supervisor atau konselor yang lebih berpengalaman dan teman seprofesi
sebagai konselor.

Pertanyaan tata nilai konselor kepada diri sendiri:

1) Klien telah berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan.


Bagaimana saya sebagai konselor memandang hal tersebut?
2) Klien sudah terinfeksi HIV, apakah saya sebagai konselor punya
rasa takut? Apakah saya memandang penularan sebagai hal yang
manusiawi atau dosa?
3) Dapatkah saya menjaga diri saya agar tidak memasukkan tata nilai
saya kepada klien? Apakah saya memilih bersikap profesional
untuk menghargai pilihan klien?
4) Klien lebih muda dari saya dan memiliki budaya bergaul yang
berbeda dengan saya. Apakah saya bisa membantunya?
5) Seberapa jauh saya bisa mengelola diri saya agar tidak terlibat
dalam permasalahan klien?

219
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Respon emosi dan perilaku seseorang terhadap suatu situasi dipengaruhi


oleh persepsinya terhadap situasi tersebut. Pikiran kita terkondisi dari
keadaan sosial dan perilaku kita. Pikiran dan keyakinan kita dibangun dalam
suatu kurun waktu dan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, budaya,
agama, pola asuh dan kawan sebaya.

Dalam gambar dibawah ini, akan diterapkan bagaimana konsep dan cara
pandang dapat disesuaikan dalam situasi konseling sehingga memunculkan
respon yang sesuai. Konselor dapat menerapkan pada diri sendiri atau
konselor mencoba melihat cara pandang dua orang yang memiliki dua sisi
berbeda. Terlihat dua orang melihat kondom yang sama. Satu orang
memandang kondom sebagai bentuk program pencegahan HIV yang efektif
dan melindungi masyarakat lainnya. Satu orang lagi memandang kondom
sebagai bentuk dukungan kepada perilaku seksual berganti pasangan dan
lambang ketidaksetiaan.Terjadi perbedaan bahwa satu orang memandang
positif dan satu orang memandang negatif terhadap kondom. Kondom yang
dilihat kedua orang itu adalah kondom yang sama, hanya pikiran individu
yang melihatnya berbeda.

Teori ini merupakan cara pikir cognitive behavioural therapy (CBT)

Kita dapat mengubah respon emosi dan perilaku kita terhadap suatu situasi,
orang maupun kejadian, dengan cara mengubah atau menantang pikiran
kita. Pada dasarnya bukan mengubah sistem tata nilai inti tetapi lebih
memodifikasi intensitas respon.

220
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Contoh gambar dibawah ini dapat memodifikasi pikiran negatif terhadap


kondom karena mempunyai pengalaman ketidaksetiaan menjadi alat
pencegahan dalam HIV AIDS.

A B Triad kognisi
Penyebab Apa yang
C
tidak suka? kita katakan,
pikiran
Lensa: Respon
Pengalaman, religi, Emosional dan
dan keyakinan perilaku

A Situasi, peristiwa, B C
Orang, Obyek
Berganti-ganti
Pasangan Tidak peduli, tidak
Lambang setuju, menghakimi
Ketidaksetiaan,
Perasaan berdosa

Peduli, setuju dan


Alat Yang EFEKTIF menjadikan KONDOM
untuk CEGAH HIV Alat Pencegahan
AIDS
KONDOM

POKOK BAHASAN 3. PRINSIP KOMUNIKASI


PERUBAHAN PERILAKU
Apa yang terjadi jika seseorang dengan HIV tetap menggunakan Napza
suntik bergantian tanpa disterilkan terlebih dahulu? Apa yang terjadi jika
seseorang dengan HIV tetap berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan
kondom?

221
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Seorang konselor memiliki peran dalam membantu klien mengenali perilaku


merugikan, mengerti alternatif yang tersedia, dapat berperilaku sesuai
pengetahuan perilaku yang sehat dan menerima dukungan yang diperlukan
untuk mempertahankan perubahan perilaku.

Tantangan sebagai konselor adalah Perubahan Perilaku


karena hal itu sulit tetapi harus dilakukan untuk
memperoleh perilaku yang tidak berisiko

TAHAPAN PERUBAHAN PERILAKU

Tahapan umum perubahan perilaku


1) Perubahan perilaku adalah sebuah proses dan bertahap. Memahami
tahapan membantu penguatan proses konseling dan penting diketahui
bahwa tidak ada perubahan yang mutlak, sesuai perkiraan.
2) Seorang klien dapat berubah-ubah tahapannya naik atau turun sampai
pada suatu saat klien dapat berhasil mengubah perilaku.
3) Tahapan ini adalah alat konselor untuk menilai klien sampai tahapan
dimana ia berubah perilakunya.

Kegiatan Latihan 3 : Tahapan Perubahan Perilaku

Tahapan perubahan perilaku menurut The Centres for Disease Control HIV
Prevention and Couselling Guidelines of 1993 dan dipadukan dengan teori
spiral perubahan perilaku Prochaska, De Clemente, dkk 1994 adalah
sebagai berikut:

222
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Pengetahuan terkait dengan pra kontemplasi


2. Bermakna bagi diri sendiri terkait dengan kontemplasi
3. Menimbang untung rugi terkait dengan persiapan
4. Membangun kapasitas diri terkait dengan persiapan
5. Ujicoba dan percobaan penerapan terkait dengan tindakan
6. Perubahan perilaku terkait dengan rumatan.

Persiapan

Tindakan
Rumatan Kontemplasi

Tindakan
Action

Rumatan RELAPSE Persiapan

Kontemplasi
Prakontemplasi

1. PRA KONTEMPLASI pada tahap ini klien belum memiliki pengetahuan


tentang perilaku berisiko mereka. Konselor menumbuhkan kesadaran diri
klien agar memahami risiko akibat perilakunya sebelum mereka mau
merubah perilakunya.

223
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Pertanyaan terbuka dapat digunakan untuk penilaian. Klien belum


menyadari adanya akibat dari perbuatannya. Belum berkeinginan dan belum
berminat untuk berubah.
Saya tidak perlu berubah karena perilaku saya bukan suatu
kesalahan
Apa untungnya menggunakan kondom?
2. KONTEMPLASI
Pada tahap ini klien menyadari informasi dan makna bagi dirinya berkaitan
dengan perilaku yang rentan pada dirinya. Seringkali klien mengetahui fakta
bagaimana infeksi HIV terjadi tetapi tidak dapat mengetahui bagaimana
mereka melindungi dirinya agar tidak terinfeksi HIV.
Respon klien terhadap risiko terinfeksi HIV adalah sebagai berikut:
a. Mengenali bahwa perilaku mereka berisiko terinfeksi HIV
b. Tidak dapat menerima atau memahami bahwa perilaku mereka dapat
menyebabkan terinfeksi HIV
c. Memahami risiko dan merasa tidak berdaya, putus asa dan tidak
mampu merubah perilaku
3. PERSIAPAN DUA LANGKAH
a. Dalam tahap pertama persiapan, klien akan menimbang untung rugi
dan mendorong perubahan perilaku. Melihat pro dan kontra diatas
perlu menjadi bahan pertimbangan antara masih ingin mendapat
perilaku yang diinginkan dan belum sepenuhnya mengutamakan
perilaku aman. Bantulah klien dalam mengekspresikan rasa
kehilangan ketika perilaku lama ditinggalkan

224
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Klien telah bertekad dan telah berencana untuk membuat


perubahan diri secepat nya, yang akan berguna untuk masa
mendatang.
Klien telah memahami dan mengakui adanya masalah, sudah
dapat mengambil keputusan untuk menetapkan mau berubah,
untuk memulai upaya pencegahan masuknya virus HIV
Klien membuat hubungan awal dengan beberapa orang yang dia
yakini dapat membantunya

Alat Bantu : Keputusan untuk berubah


Mulailah terlebih dahulu dengan menanyakan apa saja keuntungan bila
akan mengubah perilaku saat ini, kemudian dengan menanyakan apa
kerugiannya.
Lanjutkan dengan menanyakan apa keuntungan bila tidak akan
mengubah perilaku saat ini, kemudian lanjutkan dengan menanyakan
apa kerugiannya.

Berubah Tidak Berubah


Alat bantu dibawah ini akan membantu menilai motivasi klien untuk
berubah perilaku. Klien tidak mau berubah perilaku atau klien
bersedia berubah
Keuntungan Kerugian

225
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

b. Dalam tahap persiapan kedua klien Membangun kapasitas diri


(Capacity building) merupakan persiapan untuk perubahan perilaku,
termasuk meningkatkan ketrampilan praktis dan dukungan
manajemen risiko/biaya yang harus ditanggung sebagai akibatnya.
Strategi konseling selama membangun kemampuan termasuk :
Memberikan ketrampilan praktis, spesifik, dan mampu
dikerjakan.
Melakukan permainan peran yang mengacu pada perubahan
perilaku dan penguatan.
Mendemonstrasikan penggunaan kondom dan juga mencari
tahu alasan-alasan mengapa klien tidak bersedia mengenakan
kondom.
Menegosiasikan suatu rencana perubahan dan kontrak perilaku
yang akan dilakukan
Mendiskusikan dengan klien tentang hambatan-hambatan yang
ada dan bagaimana cara untuk mengatasinya
Membantu klien untuk melakukan inventarisasi semua dukungan
sosial yang akan diperolehnya bila ia telah berubah

Alat bantu Konselor VCT : Kesiapan untuk berubah

Alat bantu ini dipergunakaan saat seorang mempunyai risiko penularan HIV
telah mengambil keputusan untuk melakukan perubahan perilaku. Pada

226
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

setiap alat ukur di bawah ini, lingkari angka (dari 0 = paling rendah ke 10 =
paling tinggi) yang paling cocok dengan perasaan Anda saat ini.
1) Seberapa penting perubahan ini bagi Anda? (Masukkan perilaku
target di sini, misalnya perilaku pemakaian kondom atau perilaku
konsumsi alkohol atau obat lain)

2) Seberapa yakin Anda bisa berubah?

3) Seberapa realistis Anda kemungkinan tidak kembali ke kebiasaan


lama dalam jangka panjang?

Beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan:


Mengapa Anda berada di skor Anda sekarang dan tidak berada
di skor 10?
Apa yang Anda perlukan agar dapat meraih skor lebih tinggi?
Apa yang membuat perubahan ini penting bagi Anda atau
mengapa Anda tidak berada di titik nol?
Dukungan apa yang diperlukan untuk perubahan Anda, jika
Anda memilih untuk melakukannya?

227
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

4. TINDAKAN
Dalam tahap ini uji coba adalah saat dimana klien seusai sesi konseling
mencoba menerapkan langkah perubahan perilaku ke depan. Strategi
konseling dalam masa uji coba tersebut antara lain :
Merencanakan bagaimana menghadapi hambatan yang mungkin
akan dihadapi klien.
Membuat kerangka ulang jika terdapat kegagalan yang dialami
klien - konselor.
Klien - konselor harus ingat bahwa model perubahan perilaku ada
kemungkinan berkali-kali untuk mengalami kegagalan.
Meskipun pelaksanaan uji coba tidak selalu berhasil namun sekecil apapun
perubahan perilaku dapat dipertimbangkan sebagai keberhasilan dan yang
harus didukung oleh konselor..

5. RUMATAN, MEMELIHARA DAN MEMPERTAHANKAN PERUBAHAN


PERILAKU
Memelihara mempertahankan perubahan perilaku seksual adalah rumatan
yang aman sepanjang waktu secara alamiah dan berkesinambungan.
Diharapkan perubahan perilaku dapat berubah seiring dengan perubahan
kehidupan seseorang. Dalam tahap rumatan klien mencapai sasaran
misalnya abstinensia/suntikan bersih, sekarang sedang bekerja keras untuk
tetap mempertahankannya, menghindarkan diri dari teman-temab yang
masih menyuntik. Klien melatih diri dengan cara memakai kondom dengan
berbagai variasi dan mempertahankan keberlanjutannya. Bila klien

228
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

mengalami 'slip atau relaps (kembali pada perilaku semula) klien tidak
panik karena klien yakin ia sudah dibekali keterampilan untuk mengatasi
diri. Klien akan segera mengubah diri dengan mengakui kesalahannya dan
mengambil langkah perbaikan.

KEWASPADAAN
Bagaimanapun perubahan lainnya atau kembali (kambuh)pada
perilaku yang kurang aman dapat menyebabkan perilaku aman
sebelumnya tidak berlaku sehingga menyebabkan terinfeksi HIV.
Jumlah perilaku berisiko tinggi dan infeksi-infeksi baru akan
meningkat jika intervensi dihentikan. Berlangsungnya pengurangan
risiko tergantung pada program-program perubahan perilaku yang
berkelanjutan, dorongan dan dukungan konselor.

POKOK BAHASAN 4. PENULARAN HIV

GAMBARAN TENTANG PERILAKU BERISIKO

Perilaku yang berisiko yang menjadi jembatan dari penularan HIV adalah :
Seks vaginal dengan penetrasi, tidak menggunakan kondom dan
berganti-ganti pasangan atau berhubungan seks dengan pasangan
yang HIV tanpa menggunakan kondom.

229
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Seks anal dengan penetrasi dan tidak menggunakan kondom,


ejakulasi di dalam, berganti-ganti pasangan atau berhubungan seks
secara anal dengan pasangan yang HIV tanpa menggunakan kondom
Tertusuk jarum suntik yang mengandung virus HIV
Menggunakan jarum suntik dan semprit bersama pengguna napza
suntik
Air susu ibu dengan kandungan virus HIV yang digunakan untuk
menyusui bayi

MENGGAMBARKAN EMPAT PRINSIP PENULARAN

EMPAT PRINSIP PENULARAN HIV


Exit (Keluar) : Virus harus keluar dari dalam tubuh orang yang
terinfeksi HIV
Survive (Hidup) : Virus harus tetap bertahan hidup
Sufficient (Cukup) : Jumlah kadar virus harus cukup untuk menginfeksi
(infeksius)
Enter (Masuk) : Virus harus masuk ke dalam tubuh orang yang
akan diinfeksi

Bila salah satu prinsip penularan tidak terjadi maka tidak akan
terjadi penularan !!!

KEGIATAN LATIHAN 4 : 4 PRINSIP PENULARAN HIV

230
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

POKOK BAHASAN 5. MODEL PERUBAHAN PERILAKU

MODEL PENGHILANGAN RISIKO: TERBAIK ADALAH


ABSTINENSIA-TIDAK MELAKUKAN

Dengan berpuasa tidak melakukan hubungan seksual berganti-ganti


pasangan maka kemungkinan risiko tidak terjadi. Ketika seseorang tak lagi
menggunakan Napza dengan jarum suntik maka risiko penularan HIV tak
ada. Contoh adalah pesan kepada anak muda: No sex, no drugs

PRO KONTRA
Beberapa individu memerlukan Model ini agak sulit diikuti meski
ultimatum dan model ini sebagai menjamin 100% bebas terinfeksi.
langkah awal untuk kehidupan yang Kebanyakan klien sukar berhenti
lebih baik. Prinsip ini digunakan dan mengubah perilaku dengan
dalam pusat detoksifikasi, klien cepat. Perilaku yang mereka
dihentikan dari NAPZA, kemudian tinggalkan adalah perilaku yang
selama masa itu diajak berdialog menyenangkan mereka. Model ini
tentang perilaku mereka. tidak membiarkan alternatif lain
masuk, dan kita harus menutup
semua akses ketergantungan.

231
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

MODEL PENGURANGAN RISIKO : GUNAKAN KONDOM


ATAU GUNAKAN JARUM BARU PADA PROGRAM HARM
REDUCTION

Model ini tetap menerima bahwa ada orang yang berhubungan seks berganti
pasangan dengan menggunakan kondom agar dapat mengurangi risiko
penularan. Kalau klien memiliki pasangan tetap, terapkan keuntungan
memiliki satu pasangan dan gunakan kondom untuk melindungi diri anda
dan pasangan. Pada program konseling pengurangan dampak buruk
diterapkan kepada para pengguna napza suntik.
Pertimbangan seperti ini muncul mengingat bahwa ada orang yang tidak
mampu mengelola dengan baik atau mengurangi perilaku berisikonya.
Konselor akan menawarkan alternatif dengan penggunaan kondom atau
dengan jarum yang steril pada pengguna napza suntik.
Model ini mengajarkan bahwa risiko adalah bagian hidup seseorang dan
memperioritaskan risiko individu terhadap infeksi HIV, sehubungan dengan
kondisi kesehatan, status pekerjaan, dan penggunaan narkoba. Harm
reduction dirancang untuk memperhatikan risiko yang terdapat pada setiap
pilihan perilaku. Dalam model ini terjadi perubahan perilaku secara bertahap
dengan waktu yang panjang. Setiap perubahan perilaku positif dianggap
baik dan makin mendekatkan diri pada perilaku yang sehat. Konselor
bersama klien bekerjasama untuk mengenali perilaku berisiko, memahami
alasan mengapa klien terus melakukan perilaku berisiko dan
mengembangkan strategi untuk mengenali apa yang dapat klien mulai
lakukan menuju perilaku sehat.

232
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Beberapa konselor merasa ada dilema karena model diatas ini tetap
membuat klien dapat terinfeksi. Model bisa bergantian sesuai dengan
kebutuhan klien dan kurun waktu yang diperlukan. Isu terpenting bagi
konselor HIV AIDS adalah mengetahui model-model ini dan bukan suatu hal
yang mutlak tetapi dapat dijadikan sebagai alat intervensi yang tepat bagi
klien sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya.

UNSUR PENTING KONSELING PERUBAHAN PERILAKU


UNTUK KONDOM DAN MENYUNTIK YANG AMAN

1. Penilaian risiko dan kerentanan


Klien perlu menilai risiko kemungkinan dirinya terinfeksi HIV dan beberapa
hambatan dalam penggunaan kondom atau menyuntik yang aman.

2. Penjelasan kondom, penggunaan kondom dan menyuntik yang


aman
Pencegahan / pesan penggunaan harus ditekankan guna memotivasi
kebutuhan, kepercayaan, kepedulian dan kesiapan klien

3. Keterampilan menggunakan kondom dan menyuntik yang aman


Cara menyuntik yang betul perlu diperhatikan dan diperkuat. Keterampilan
berpikir kritis, mengambil keputusan dan komunikasi dapat ditingkatkan
dengan mengemukakan keuntungan penggunaan kondom dan menyuntik
yang aman dan mampu bernegosiasi dalam penggunaannya.

233
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Cara Menggunakan Kondom Laki-laki


1. Langkah awal adalah diperiksa batas kadaluwarsa yang tertera
pada bungkus kondom.
2. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan
bungkusnya utuh.
3. Buka bungkus pada tempat bertanda untuk merobek. Pastikan
kuku atau jari saudara tidak merusak kondom.
4. JANGAN membuka bungkus dengan benda tajam seperti silet
atau gunting sebab memungkinkan merobek kondom
5. Ketika penis ereksi, pasanglah kondom.
6. Pastikan bagian bergulung atau cincin kondom disisi luar.
Tekan dan pegang puncak kondom dengan ibu jari untuk
menekan udara keluar.
7. Letakkan puncak kondom pada kepala penis dan gunakan
tangan lain. Dorong gulungan kondom menyusuri batang penis
sampai pangkal.
8. Gunakan kondom selama sanggama. Setelah ejakulasi, ketika
penis masih ereksi, pegang dan tarik penis keluar, jaga
kondom tidak menumpahkan ejakulatnya
9. Bungkus kondom dengan kertas toilet, buanglah sesegera
mungkin sehingga tak terjangkau siapapun. JANGAN
masukkan kondom ke dalam lubang toilet.
10. Kondom tidak boleh digunakan ulang. Kondom digunakan
satu kali saja.

234
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Cara Menggunakan Kondom Perempuan


1. Langkah awal gunakan kondom sebelum memulai hubungan
seks dan diawali dengan pemeriksaan kadaluwarsa.
2. Tekan bungkus kondom dengan jari untuk memastikan
bungkusnya utuh. Gunakan 10 menit kondom sebelum hubungan
seksual
3. Buka bungkus pada tempat bertanda untuk merobek. Koyak
bungkusnya,p astikan kuku atau jari saudara tidak merusak
kondom. JANGAN membuka bungkus dengan benda tajam
seperti silet atau gunting sebab memungkinkan merobek kondom
dan Lihat kondom, apakah masih utuh.
4. Seka bagian dalam kondom agar lubrikan terpencar, kalau perlu
tambahkan lubrikan lagi
5. Temukan posisi tepat agar dapat memasang kondom dengan
nyaman
6. Pegang ujung bagian tertutup kondom. Cincin dalam terletak pada
ujung kondom yang tertutup. Pilin cincin kondom antara ibu jari
dan jari tengah .
7. Buka bibir vagina dengan tangan lain, masukkan kondom diantara
kedua bibir.
8. Gunakan telunjuk untuk mendorong kondom kedalam sampai jari
menyentuh tulang kemaluan dari dalam vagina
9. Pastikan cincin luar (bagian terbuka dari kondom) berada
berlawanan dengan cincin dalam

235
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

10. Pegang penis dan masukkan kedalam kondom, pastikan


letaknya benar.
11. Jika selama sanggama terdengar bunyi-bunyian, maka
penis belum betul posisinya dalam kondom, maka hentikan
sanggama, pasang kondom baru.
12. Ketika sanggama selesai dan penis sudah dicabut, pilin
cincin luar agar cairan tak tumpah. Tarik kondom keluar dari
vagina dan bungkus kondom dalam kertas dan buanglah di
tempat sampah. JANGAN masukkan dalam lubang WC.

CARA MENCUCI ALAT SUNTIK JIKA TIDAK MENDAPATKAN


AKSES JARUM BARU

HIV bisa terdapat dalam jarum, alat suntik, wadah, kapas dan air yang
baru dipakai.

Jika seorang penyuntik memakai salah satu/semua dari perlengkapan


itu secara bersama-sama, maka akan terinfeksi HIV, atau virus
berpindah ke orang lain melalui penggunaan jarum bersama. Orang-
orang yang memakai jarum suntik dapat membersihkan jarum suntiknya
dengan bahan pemutih dan air. Pemutih pakaian dapat membunuh
virus. Para pengguna jarum suntik dapat membersihkan peralatannya
dengan air dan pemutih.

236
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Para penyuntik perlu disadarkan bahwa mereka senantiasa harus


menggunakan jarum baru.
Jika itu tak mungkin, gunakan cara pencucian dengan pemutih yang
beredar di pasaran (perbandingan klorin dengan air 1:9), yang dikenal
sebagai metode 2X2X2X atau lebih.
Penjelasan rinci cara terbaik mencucinya dengan 2X2X2X:
1. Sediakan air bersih dengan suhu kamar . Sedot dalam spuit dan
kocok, kemudian semprotkan ke luar ke dalam mangkuk/tempat
lain. Ulangi seperti ini dua kali atau pastikan jernih
2. Kemudian sedot pemutih dalam spuit lalu dikocok selama
minimum 30 detik. Semprotkan pemutihnya keluar dan tampung
dalam mangkuk/wadah lain. Kerjakan seperti ini dua kali.
3. Ulangi pekerjaan pada butir 1. Kerjakan dua kali atau lebih lama
hingga tidak berbau.
Jika membilas tidak bersih, bau pemutih menimbulkan keengganan
penasun menggunakan jarum bersih dan memilih menggunakan jarum
lain yang tidak dicuci terlebih dahulu.

4. Membuat Rencana
Dalam konseling pra tes, klien didorong merencanakan untuk menggunakan
kondom atau menyuntik yang aman dan mempertahankannya.

5. Sumber Daya Manusia


Konselor harus mampu memberi saran sesuai kemampuan dana dan daya
yang tersedia tanpa meninggalkan segi kualitas kondom. Langkah untuk
menggunakan cara menyuntik yang aman dan jika mungkin memberikan

237
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

akses penyediaan bahan habis pakai (kondom, jarum suntik, bahan dan alat
suntik lainnya) sesuai kemampuan.

6. Penguatan Dan Komitmen


Dalam konseling pasca tes, konselor harus meninjau kembali perencanaan
klien untuk menggunakan kondom atau menyuntik yang aman dan secara
berkala klien diminta hadir di klinik.

7. Lingkungan yang Mendukung


Ciptakan lingkungan yang mendukung untuk penggunaan kondom dan
menyuntik yang aman , termasuk pilihan jenis kondom dan suntikan,
sediakan bahan KIE (leaflet, brosur) dan layanan konseling rujukan / hotline.

Tantangan terbesar kesehatan masyarakat dalam menurunkan penyakit HIV


AIDS dan IMS lainnya adalah memotivasi penggunaan kondom pada
mereka yang berisiko. Perempuan dan laki-laki dengan alasan tertentu tidak
menggunakan kondom, termasuk takut pada reaksi pasangan, penolakan
pasangan, kurangnya rasa percaya terhadap kondom, kurangnya akses
terhadap kondom atau menurunnya kenikmatan.

KEGIATAN LATIHAN 5 :
MEMBERSIHKAN ALAT SUNTIK DAN MENGGUNAKAN KONDOM

POKOK BAHASAN 6. PEMECAHAN MASALAH

238
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PERAN KONSELOR
Peran Konselor dalam pemecahan masalah adalah membantu klien
mengenali masalah dengan:
1. Membantu klien mengenali sumber-sumber yang mereka miliki untuk
mengatasi masalahnya
2. Memfasilitasi mereka sebuah metode sistematis untuk menghadapi
atau mengurangi dampak masalahnya sekarang
3. Meningkatkan kemampuan mereka dalam mengendalikan masalah
4. Memberikan mereka cara mengatasi masalah dengan metode
pemecahan masalah

Pemecahan masalah bukanlah:


Mengatakan pada klien apa selera dan pilihan konselor
Mengatakan dari persepsi konselor kebaikan dan keburukan
dari setiap pilihan yang ada
Konselor menetapkan sebuah pilihan klien
Konselor mengambil alih semua masalah
Membuat klien memiliki rasa ketergantungan
Membuat klien merasa rendah diri
Membuat klien dapat menyalahkan konselor jika hasil
pemecahan masalah tidak tercapai

LANGKAH-LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

239
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Gambaran masalah : Konselor membantu menggambarkan masalah


dan tujuan klien. Menentukan gambaran masalah paling prioritas dan
berpikir fokus pada isu yang dihadapi.
2. Pilihan untuk curah pendapat : Curah pendapat adalah sebuah cara
dimana klien mengemukakan sebanyak mungkin pilihan pemecahan
masalah. Klien kemudian memikirkan sejumlah ide dan potensi pilihan
yang dapat dilakukan.
3. Tidak ada pilihan yang diabaikan pada tahap ini. Semua pilihan digali
dari klien dan klien diminta mempertimbangkan keuntungan dan
kerugiannya.
4. Evaluasi kritis terhadap pilihan-pilihan melalui self talk: Salah satu
cara adalah melalui negosiasi penggunaan kondom dengan metode
T.A.L.K

T=Tell Katakan kepada pasangan bahwa Anda


mendengarkan
A=Assert Nyatakan apa yang Anda kehendaki dengan cara
yang positif
L=List Perinci alasan-alasan mengapa Anda
menghendaki penggunaan kondom atau seks
aman
K=Know the Ketahuilah alternatif-alternatif hubungan seks
alternatives yang termasuk aman

Kalau menggunakan T.A.L.K sebaiknya:


Bersikap asertif (dapat menyatakan) dan tidak dengan cara yang
agresif, serta dengarkan apa yang dikatakan pasangan Anda,
hargai apa yang ia rasakan.
Bersikaplah positif. Bila pasangan Anda bersikap yang negatif dan
keras kepala, cari celah yang bisa membuat dia berbalik bersikap

240
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

positif. Misalnya kalau pasangan sangat menguasai, katakan


padanya kalau Anda menghargainya dan peduli padanya dan
jangan sekali-kali menyalahkan orang lain karena mereka tidak
peduli dari penularan HIV.

Evaluasi kritis terhadap pilihan dapat dilanjutkan konselor dengan


memfasilitasi klien untuk fokus pada masalah utama/prioritas terlebih dahulu
untuk diselesaikan. Pilihan terbaik yang diputuskan klien harus melalui
proses pertimbangan untung dan rugi dari setiap pilihan terlebih dahulu.
Setelah klien memutuskan pilihan terbaik yang paling sanggup ia jalani,
maka konselor mengajak klien membuat rencana strategi pelaksanaan (5W:
What, When, Who, Where, Why ;1H: How) sampai klien percaya diri untuk
bertindak.

Bila masih cukup waktu, ajak klien untuk menyelesaikan masalah prioritas
kedua, ketiga dan seterusnya. Bila tidak cukup waktu maka agendakan
pertemuan kedua. Jadwalkan dengan klien kapan akan bertemu lagi dan
minta klien menentukan masalah penting yang mana yang akan
diselesaikan. Prinsip client-centered harus dipakai sepanjang proses.

Contoh kasus
Seorang ibu rumah tanggga, mantan pekerja seks baru saja mengetahui
dirinya terinfeksi HIV setelah melakukan pemeriksaan darah di layanan
konseling dan tes HIV. Dia bingung dan khawatir untuk membuka status
pada pasangannya.
Contoh pemecahan masalah:

241
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Pilihan- Keuntungan Masalah yang Tantangan bagi


pilihan akan muncul konselor
Klien Klien merasa Klien takut Konselor bertanya:
mengatakan pasangan akan pasangan akan Apakah selama ini
sendiri menghargai menceraikannya pernah
kepada kejujurannya mendapatkan
pasangannya ancaman dari
pasangan?
Apa alasan
pasangan
melakukan tindakan
tersebut?

5. Pilihan-pilihan klien: Klien diminta mengulang kembali informasi yang


telah diberikan pada langkah sebelumnya dan menentukan pilihan.
Pengambil keputusan adalah klien, bukan konselor.
6. Membuat rencana tindak lanjut: Rencana tindak lanjut secara rinci
akan memudahkan langkah menghadapi masalah. Walaupun solusi
yang telah disepakati sangat baik, solusi itu tidak akan bermanfaat jika
tidak dilaksanakan. Kebanyakan orang gagal dalam melaksanakan
sebuah solusi karena kurangnya perencanaan. Konselor harus
memastikan klien terbantu mengembangkan rencana tindak yang
dapat dilaksanakan.
7. Fasilitasi pengembangan ketrampilan dan strategi: Konselor perlu
memastikan klien mempunyai ketrampilan yang dibutuhkan, misal
menggunakan ketrampilan komunikasi. Konselor dapat melakukan
permainan peran bersama klien memerankan apa yang harus
dilakukannya pada pasangan, dengan demikian langkah demi langkah

242
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

telah dilatih ketrampilannya, sehingga klien percaya diri melakukan


sesungguhnya. Misal konselor bertindak sebagai pasangan klien, klien
bertindak atas dirinya sendiri, menerapkan pengungkapan diri dan
mengantisipasi respon pasangan.

JADILAH REALISTIK!

Rencana bagus dapat gagal karena :


Respon-respon psikologis/perilaku dari orang lain
Keadaan lingkungan yang tidak dapat diduga sebelumnya

Langkah sukses diawali dari rencana yang baik.Jika perencanaan tidak


dapat terwujud, maka akan ada kesempatan untuk mencari pilihan-pilihan
lain dan kesempatan untuk menganalisa mengapa rencana awal tak dapat
dilaksanakan.

KEGIATAN LATIHAN 6 :
KOMUNIKASI PERUBAHAN PERILAKU PEMECAHAN MASALAH

POKOK BAHASAN 7. PRINSIP PENCEGAHAN POSITIF

243
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PENCEGAHAN POSITIF

Pencegahan positif merupakan bagian dari komunikasi perubahan perilaku


pada Odha dengan tujuan :
1. Mencegah terjadinya penularan HIV dari orang yang terinfeksi HIV
kepada orang lain.
2. Mencegah penularan ulang HIV dan penularan infeksi lainnya di kalangan
orang yang terinfeksi HIV,
3. Menningkatkan kualitas hidup terkait dengan rencana masa depan
(termasuk berkeluarga dan keluarga berencana)

Dampak dari pencegahan positif adalah meningkatnya harga diri,


kepercayaan diri dan kemampuan serta dapat mengimplementasikan di
dalam suatu kerangka etis yang menghargai hak dan kebutuhan orang yang
terinfeksi HIV. Pencegahan positif atau Positive Prevention dikembangkan
untuk orang dengan HIV agar memahami hak dan kewajibannya,
meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan kemampuan diri dalam
penyesuaian diri, dan mengetahui kebutuhan yang tepat bagi orang yang
terinfeksi HIV.

Tiga Kunci Pencegahan Positif

244
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Mencegah menularkan HIV kepada orang lain


2. Mencegah terjadinya infeksi ulang HIV dan infeksi lainnya
3. Meningkatkan kualitas hidup sehat (fisik dan mental) dan terkait
dengan rencana masa depan (termasuk berkeluarga dan keluarga
berencana)

PERAN KONSELOR DALAM PENCEGAHAN POSITIF


Peran konselor dalam pencegahan positif secara umum sama dengan peran
konselor dalam memfasilitasi perubahan perilaku klien dengan status negatif
atau non reaktif. Komponen yang membedakan lebih pada peran bagaimana
konselor memahami perjalanan seseorang yang sudah terinfeksi HIV
menuju AIDS. Konselor akan membantu dan memfasilitasi klien untuk dapat
membangun kemampuan diri dalam pengambilan keputusan bijak dan
realistik, menuntun perilaku mereka dan mampu mengemban konsekuensi
dari pilihannya dan memberikan informasi yang terkini.

Pencegahan positif lebih dimaksudkan/ditekankan pada orang yang


terinfeksi HIV (HIV positif)

Pentingnya Pencegahan Positif dalam kegiatan komunikasi


perubahan perilaku:
1. Pencegah infeksi HIV baru
Semua penularan HIV berawal dari satu orang yang terinfeksi.
Perawatan saja kurang berdampak pada penularan akan tetapi
lebih berdampak bila terjadi perubahan perilaku dari program
pencegahan

245
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Orang yang terinfeksi masih aktif secara seksual


2. Meningkatkan kesehatan dan mengurangi sakit serta perawatan di RS
Mencegah terjadinya infeksi ulang HIV
Mencegah penularan HIV terkait kondisi yang membutuhkan
perawatan seperti misalnya IMS
Mencegah penularan HIV yang resisten ARV
3. Penularan dikalangan pemakai ARV dapat membawa penularan HIV
yang resisten ARV
4. Persediaan jenis ARV tertentu terbatas
5. Penularan ARV yang resisten membawa perubahan lini ARV yang
lebih mahal

Pilihan Pencegahan Positif


Terdapat empat pilihan utama yang HARUS dilakukan untuk pencegahan
HIV bagi orang dengan HIV:

1) Abstinen. Tidak Melakukan Hubungan Seksual dan atau Berhenti


Menggunakan Napza Suntik Bergantian
Ini merupakan cara efektif mencegah tertular ulang HIV
Bila anda tidak melakukan hubungan seksual, tidak bergantian
menggunakan Napza Suntik dan anda tidak berperilaku berisiko
lainnya. Anda dapat secara efektif melindungi diri Anda dan orang lain
dari penularan HIV.

246
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

2) Setia Pada Satu Pasangan dan atau Selalu Menggunakan Jarum


Suntik Baru
Ini merupakan salah satu cara efektif juga mencegah HIV jika setia
pada satu pasangan ini dilakukan oleh masing-masing pasangan.
Pilihan ini menjadi sulit bila salah satu pasangan atau keduanya
terinfeksi HIV, sehubungan denga terjadinya infeksi ulang.

3) Selalu Memakai Kondom dan atau Menggunakan Jarum Suntik yang


sudah Didekontaminasi (bleaching)
Sediakan kondom setiap kali anda akan berhubungan seksual. Ini
merupakan cara efektif mencegah HIV pada orang yang sudah
terinfeksi HIV.
Jika tidak memungkinkan menggunakan jarum baru setiap kali
menyuntik, maka menggunakan jarum yang sudah didekontaminasi
(bleaching) merupakan salah satu pilihan.

4) Melakukan Aktivitas Seksual Tanpa Penetrasi.


Pada saat persediaan kondom tidak ada, aktivitas seksual masih dapat
dilakukan tanpa penetrasi. Ini merupakan salah satu cara efektif
mencegah HIV pada orang yang sudah terinfeksi HIV.

MATERI INTI 2

247
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PENATALAKSANAAN KONSELING
DALAM TES HIV

I. PENDAHULUAN
Penerapan penatalaksanaan konseling dalam tes HIV memuat sejumlah
prinsip yang harus dimiliki oleh seorang konselor. Konseling pra tes HIV
akan menjelaskan bagaimana seorang konselor perlu membuat
keseimbangan antara pemberian informasi, penilaian risiko, dan merespon
kebutuhan emosi klien. Agar jumlah klien meningkat, konselor perlu
melakukan modifikasi pra tes dengan penyuluhan kelompok.
Penatalaksanaan ini merupakan komponen penting seorang konselor dalam
membangun kepercayaan dengan klien. Sebagai komponen pokok
konseling, konselor penting memahami penatalaksanaan konseling dalam
tes HIV. Pada pelaksanaan pokok konseling seorang konselor HIV terlatih
harus menguasai keterampilan dasar konseling, tata nilai, dan orientasi
konseling. Tata nilai akan mempermudah konselor memahami situasi dan
kondisi klien. Keterampilan dasar konseling mempermudah proses
komunikasi dengan klien dan orientasi konseling menjadi model pendekatan
kepada klien. Dalam VCT (Voluntary Counseling and Testing) seorang
konselor harus bersikap profesional. Tata nilai dalam pedoman etik
konseling menjadi dasar pelaksanaan konseling.
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu:

248
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Melakukan konseling pra tes HIV


2. Melakukan modifikasi penyuluhan kelompok pada konseling pra tes
3. Menjelaskan peran pemberian Informasi HIV dalam PITC
4. Melakukan konseling pasca tes HIV

III. POKOK BAHASAN


1. Pokok Bahasan 1. Mikro Konseling dan Etika Konseling
2. Pokok Bahasan 2. Pencatatan dan Pelaporan
3. Pokok Bahasan 3. Konseling Pra Tes HIV dan Penilaian Risiko
4. Pokok Bahasan 3. Penyuluhan Kelompok dalam Konseling Pra Tes
HIV
5. Pokok Bahasan 4. Pemberian Informasi dalam PITC
6. Pokok Bahasan 6. Pajanan Okupasional
7. Pokok Bahasan 5. Konseling Pasca tes HIV

POKOK BAHASAN 1. MIKRO KONSELING DAN ETIKA


KONSELING

MIKRO KONSELING
Keterampilan dasar konseling sering dikenal dengan istilah keterampilan
mikro dalam konseling. Keterampilan mikro adalah komponen komunikasi
efektif yang penting dalam rangka mengembangkan relasi saling
mendukung antara klien-konselor. Setiap konselor perlu memiliki dan
mengembangkan keterampilan mikro dalam konseling.

249
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Kegiatan Latihah 1 : Konselor Klien

Keterampilan dasar konseling terdiri dari:

Mendengar aktif Menciptakan suasana hening dan


nyaman
Mengajukan pertanyaan
Perilaku non-verbal

1) Mendengar Aktif
Faktor penting yang menjadi dasar dari keterampilan mendengar aktif
adalah : Empati.

Empati adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang


konselor yang memungkinkan memahami klien. Sikap empati
dikembangkan dalam rangka membina hubungan baik dengan klien,
memfasilitasi rasa aman, dan rasa percaya kepada konselor serta
lingkungannya. Empati disampaikan dengan menggunakan keterampilan
mendengar.

Mendengar Aktif terdiri dari :


a. Bagaimana konselor melakukan kontak mata dengan klien untuk
menunjukkan sikap menghargai kepada klien, termasuk
pertimbangan budaya.

250
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

b. Bagaimana konselor memberikan perhatian, dengan anggukan


kepala
c. Bagaimana konselor menanggapi proses dengan satu-dua kata
yang menunjukkan penerimaan lanjutan.
Misalnya dengan, Hmm....Baik.....Oke
d. Bagaimana konselor fokus dengan klien selama proses konseling.
Konselor tidak perlu melakukan kegiatan lain seperti, menerima
telepon, memainkan ballpoint, atau merapikan rambut terus
menerus.
e. Bagaimana konselor mengatur proses konseling tanpa melakukan
interupsi.
f. Bagaimana konselor tidak mengambil alih pembicaraan dan
menceritakan tentang dirinya sendiri.
g. Bagaimana konselor menerapkan teknik bertanya, parafrasing,
refleksi perasaan, klarifikasi ataupun merangkum dengan tepat
tanpa menyudutkan klien.

251
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Beberapa contoh teknik konseling:


Teknik bertanya: Apakah anda sudah jujur pada diri anda sendiri?
Refleksi Pikiran : Menurut pendapat anda, kondom adalah alat yang
ampuh untuk pencegahan HIV
Refleksi Perasaan: Anda sangat kecewa pada pacar anda karena dia
yang menularkan HIV pada anda.
Paraphasing : Anda sudah menggunakan kondom setiap kali
berhubungan seks karena anda menyadari bahwa perilaku seks anda
termasuk dalam perilaku berisiko.

2) Mengajukan pertanyaan
Keterampilan mengajukan pertanyaan adalah bagian penting dalam
konseling. Hal ini dapat membantu konselor mengerti situasi klien dan
menilai kondisi klinis terkait.
Ketika bertanya :
I. Tanyakan hanya satu pertanyaan pada satu waktu
II. Pandanglah klien
III. Singkat dan jelas
IV. Gunakan pertanyaan yang bertujuan
V. Gunakan pertanyaan untuk membantu klien berbicara tentang
perasaan dan perilakunya
Terdapat tiga pertanyaan utama :
a. Pertanyaan tertutup
Jenis pertanyaan dengan jawaban yang terbatas. Sebagian besar klien
memberikan respon dengan jawaban satu kata. Sudah tahu bagaimana

252
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

mendapatkan jarum baru, agar tidak tertular dari HIV?


b. Pertanyaan terbuka
Jenis pertanyaan dengan jawaban yang berkembang dan membuka
kesempatan klien mendiskusikan dengan lebih banyak. Pertanyaan
terbuka umumnya dimulai dengan pertanyaan Apa, Dimana,
Bagaimana, Kapan. Apa yang anda ketahui tentang HIV AIDS?
c. Pertanyaan mengarahkan
Pertanyaan mengarahkan adalah pertanyaan dalam proses konseling
yang menuntun klien untuk memberikan jawaban yang konselor harapkan
agar mencapai tujuan konseling.
Kondom itu penting. Anda akan menggunakannya, bukan?

Kegiatan Latihan 2: Mengembangkan Pertanyaan

3) Menciptakan suasana Hening dan Nyaman


a. Memberi waktu pada klien untuk berpikir tentang apa yang akan
dikatakan
b. Memberi kesempatan kepada klien untuk dapat merasakan
perasaannya sendiri
c. Memberi waktu pada klien untuk mengatasi kebimbangan atas pilihan
d. Memberi kebebasan pada klien untuk memilih melanjutkan atau
menghentikan proses konseling

253
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

4) Perilaku Non Verbal

Sebagian besar komunikasi dilakukan secara non verbal. Konselor perlu


sadar akan apa yang dikomunikasikannya kepada klien melalui perilaku
non verbal.
Cara mengatakan lebih penting dari pada apa yang dikatakan !

PERILAKU NON VERBAL

BAHASA TUBUH PARALINGUISTIK


Postur tubuh
Gerakan tubuh Hembusan nafas
Ekspresi wajah Bersungut-sungut
Orientasi tubuh Perubahan tinggi nada
Kedekatan tubuh/jarak Perubahan keras suara
Kontak mata Kelancaran suara
Menjadi cermin Senyum Terpaksa
Menghilangkan jarak/pembatas

ETIKA KONSELING

Etika konseling merupakan kerangka dasar tata nilai dalam konseling.


Konselor perlu memahami hal ini agar dapat bekerja secara profesional.
Standar ini harus diikuti oleh konselor. Seorang konselor bertanggung jawab
melayani klien dan memelihara hal-hal yang berkaitan dengan

254
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

konfidensialitas, masalah dan kebijakan hukum. Dilema terhadap etika akan


muncul ketika terjadi konflik antara kepentingan klien dan masyarakat.
Contohnya, klien yang tak pernah mau mengubah perilaku berisiko tinggi
atau klien yang menolak menerima hasil tes HIV.

1. Prinsip Konseling :
a. Konselor memastikan bahwa klien tidak mengalami tekanan fisik
dan psikologik selama konseling.
b. Konselor tetap mempertahankan hubungan kerjasama dengan
klien untuk kepentingan klien, bukan atas besarnya imbalan.
Pelecehan seksual, ketidakadilan, diskriminasi, stigmatisasi dan
keterangan yang bersifat menghina tidak boleh dilakukan.
c. Konselor bertanggung jawab atas keamanan dirinya, efektivitas,
kompetensi dan harus profesional.
d. Konselor bertanggung jawab kepada masyarakat dan harus
menyadari aturan perundangan dalam masyarakat dan pastikan
tetap bekerja dalam jalur sesuai hukum yang berlaku.
e. Konselor perlu memastikan bahwa dirinya telah menerima
pelatihan keterampilan dan teknik konseling yang memadai.
f. Konselor bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan
dirinya dan merujuk klien ke tempat yang tepat ketika persoalan
berada diluar keterbatasannya.
g. Konselor secara teratur meningkatkan keterampilan konseling dan
memelihara kompetensinya.
h. Klien tidak mengambil alih tanggung jawab klien atas tindakan dan
akibat yang dilakukan klien.

255
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

2. Konseling Supervisi
a. Setiap konselor perlu mengenali batas kompetensi dan hanya
bekerja atas dasar keterampilan dan wewenang yang ada
padanya sesuai pelatihan dan praktek yang telah diperolehnya.
b. Konselor perlu memonitor kompetensi dan keterbatasan melalui
konseling supervisi atau dukungan melalui pandangan konselor
lainnya.
c. Konselor membantu konselor lainnya dan perlu memberikan
perhatian perbaikan ketika terjadi kesalahan.
d. Konselor bertanggung jawab kepada klien dan institusi tempat
pelayanan konseling sesuai standar profesi.
e. Konselor mendorong klien untuk mengendalikan hidupnya dan
menghargai kemampuan klien mengambil keputusan serta
perubahan sesuai keyakinan dan tata nilai.

3. Situasi Khusus dalam dilema etik konseling


a. Pemberitahuan pada pasangan: Dalam situasi dimana orang yang
terinfeksi HIV tidak mau mengubah perilaku dan terus berisiko
sehingga dapat mengancam kehidupan orang lain konselor dapat
merujuk ke dukungan sebaya. Menurut kebijakan UNAIDS dan WHOi
ketika orang terinfeksi HIV menolak memberitahu pasangannya maka
petugas kesehatan mempunyai otoritas memutuskan berdasarkan
kasus per kasus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
b. Keputusan untuk mengungkapkan berdasarkan kriteria : orang yang
terinfeksi HIV sudah beberapa kali dikonseling. Setelah konseling,
ODHA tidak menunjukkan perbaikan perilaku atau ODHA menolak

256
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

memberitahu atau memberikan persetujuan pemberitahuan kepada


pasangannya. Penularan jelas terjadi kepada pasangan misalnya
melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersama.
Identitas orang yang terinfeksi disembunyikan dari pasangan.Tindak
lanjut dimaksud untuk memastikan dukungan yang diperlukan
c. Pengungkapan kepada staf medik: dipandang perlu jika petugas
kesehatan hanya akan menggunakan informasi tersebut untuk
memberikan pelayanan sebaik-baiknya.
d. Keselamatan publik: diperlukan jika keselamatan fisik diri klien dan
orang lain serius terancam.
e. Dipersyaratkan oleh hukum: Ketika pengadilan membutuhkan
pengungkapan status. Misalnya, pada saat klien melakukan
pemerkosaan.
f. Jika konselor yakin bahwa klien tidak lagi mampu bertanggung jawab
akan keputusan dan tindakannya, maka ada alasan kuat bagi konselor
untuk mengungkapkan.

POKOK BAHASAN 2. KONSELING PRA TES HIV DAN


PENILAIAN RISIKO

257
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

KONSELING PRA TES HIV

1. Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang konselor dalam


pelaksanaan konseling HIV
a. Keterampilan komunikasi dapat digunakan dalam teknik konseling
dimana konselor harus dapat membuat keseimbangan antara
pemberian informasi, penilaian risiko dan merespon kebutuhan
emosi klien.
b. Layanan VCT harus melindungi klien dengan menjaga
konfidensialitas. Konselor harus membangun kepercayaan klien
sebagai dasar utama bagi terjaganya konfidensialitas.
c. Penggunaan keterampilan konseling dasar sangat penting untuk
membina hubungan baik (rapport) dan menunjukkan adanya
layanan yang berfokus pada klien.
d. Konselor perlu memiliki SOP proses konseling yang dapat
digunakan ketika diperlukan. Panduan ini termasuk didalamnya
lembar periksa sesuai prosedur.
2. Panduan Konseling Pra tes HIV
a. Pengkondisian: Sambut klien dengan ramah dan profesional.
b. Periksa ulang nomor kode klien dalam formulir.
c. Perkenalan dan berilah arahan dengan jelas tentang kita.
Selamat siang, nama saya Susan, konselor di klinik ini. Senang
berkenalan dengan anda. Nama anda atau ingin dipanggil dengan
nama.....? Silahkan duduk!
d. Jelaskan makna dan arti konfidensialitas

258
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

e. Kerangka proses VCT - sesi, waktu yang dibutuhkan dan prosedur


tes.
Contoh: Proses ini akan kita laksanakan selama 25-35 menit.
Setelah konseling ini akan ada prosedur pengambilan darah dan
hasilnya akan diketahui melalui proses konseling setelah
pemeriksaan darah.

f. Catat data yang penting dan diperlukan dalam form yang tersedia
pada konseling pra tes HIV.
Katakan kepada klien bahwa konselor perlu melakukan pencatatan.
Contoh: Pada akhir sesi konseling saya akan menuliskan
catatan penting tentang percakapan yang terjadi dan data
diperlukan untuk kepentingan kita.
Contoh data terkait:
Data demografi dan Informasi layanan
Latar belakang kunjungan
Fakta dasar tentang HIV dan AIDS
Pengetahuan dan pemahaman klien tentang HIV
AIDS, IMS, TB dan penyakit terkait HIV
Kombinasikan informasi tentang risiko dan penilaian risiko
diri sendiri.

g. Percakapan tentang faktor risiko yang menjadi komponen utama


dalam konseling pra tes.

259
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Konselor melakukan penilaian faktor risiko klien seperti perilaku


seksual, penggunaan napza suntik, aktivitas okupasional dan
penerimaan produk darah dan organ.

3 KUNCI dalam Konseling Pra Tes


1) Informasi yang tepat
2) Penilaian Risiko dan Perubahan Perilaku
3) Menggunakan Pertanyaan sebagai teknik memperoleh data
Elemen penting dalam penilaian risiko:
1) Dialog tentang fakta dasar HIV AIDS
2) Dialog faktor risiko dan masa jendela
3) Dialog keuntungan dan kerugian melakukan tes HIV
4) Dialog tentang kondom dan penggunaannya
5) Dialog tentang pengurangan dampak buruk pada penasun
6) Dialog Pengurangan risiko dan Upaya pengurangan risiko
7) Dialog tentang pasangan
8) Diskusikan tentang pengurangan risiko dan tes bagi pasangan
dan bermain peran terkait dengan pengurangan risiko dan tes
bagi pasangan.
9) Dampak hasil tes pada diri sendiri, pasangan dan keluarga
10) Dialog untuk mengetahui bagaimana perasaan klien dalam
menerima hasil tes
11) Motivasi klien untuk tes saat itu juga dan perolehan hasil pada
hari yang sama
12) Jika klien TIDAK bersedia menerima hasil tesnya buatlah
suatu kesimpulan.
13) Penjajagan keinginan bunuh diri

260
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

14) Menyimpulkan rencana pengurangan risiko yang telah


disepakati.

h. Penjelasan Tes HIV dalam proses konseling Pra tes HIV

Isi dari Tes HIV: jelaskan manfaat, prosedur dan waktu yang
diperlukan untuk tes HIV serta terangkan Hasil Tes
utamakan pada penawaran Rapid Tes atau tes Cepat

i. Informasi penting lainnya:


1) Ketersediaan terapi antiretroviral
2) Dukungan Layanan manajemen kasus
3) Dukungan kelompok sebaya
4) Terjamin Informasi hasil tes (konfidensialitas)
5) Informasikan bahwa pasien mempunyai hak untuk menolak
menjalani tes-HIV.
6) Informasikan bahwa penolakan untuk menjalani tes-HIV tidak
akan mempengaruhi akses pasien terhadap layanan
kesehatan lainnya
7) Menilai sistem dukungan

MENILAI SISTIM DUKUNGAN

261
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Mencari tahu siapa saja yang mengetahui bahwa klien


datang ke layanan VCT
Mencari tahu apakah pasangan juga mengetahui
Mencari tahu kepada siapa klien biasa mencurahkan isu
pribadinya?
Mencari tahu kepada siapa klien akan menyampaikan hasil
tes HIV (positif ataupun negatif) seperti kepada kerabat
dekat, pasangan dan lainnya. Mencari tahu alasan
menyampaikan hasil, bagaimana, kapan dan dimana hal
itu akan dilakukan.
Menduga reaksi klien dan manajemen reaksi klien
Dialog atau sediakan informasi tentang kualitas hidup
sehat dan pemanfaatan KIE. Diet seimbang, layanan
medik, KB, pemeriksaan IMS dan terapinya; pencegahan
infeksi oportunistik, pencegahan malaria; hindari infeksi
berulang, hindari napza termasuk alkohol dan rokok; olah
raga yang cukup dan istirahat yang teratur; dukungan dan
membangkitkan sikap optimis.
Nilai kesiapan klien untuk tes. Jika siap, lakukan
persetujuan layanan dengan informed-consent.
Tetapkan kontrak sesi konseling pasca tes HIV

j. Persetujuan Klien untuk tes HIV


Persetujuan untuk menjalani tes HIV (informed consent) harus selalu
diberikan secara individual, pribadi antara konselor dengan klien.
Konselor perlu mempersiapkan formulir : informed consent,
permintaan rujukan tes HIV dari dokter ke laboratorium, dan
pengambilan hasil tes.

Contoh
FORMULIR PERSETUJUAN TES HIV
Saya yang bernama dibawah ini telah menerima informasi dan konseling
yang menyangkut hal-hal sebagai berikut:
262
1) Informasi dasar HIV dan AIDS
2) Kegunaan dari tes HIV
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Komponen Penting Yang Harus Dimiliki Konselor Dalam Konseling


Pra Tes HIV dan Pasca Tes HIV

263
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Pelaksanaan Konseling Lanjutan


Terkait dengan Perawatan,
Dukungan, dan Pengobatan HIV

Pelaksanaan Konseling Pasca Tes HIV

Pelaksanaan Konseling Pra Tes HIV


Keterampilan Penilaian Risiko Klinis

Keterampilan Konseling Komunikasi Perubahan Perilaku

Keterampilan Menerapkan Konseling Dasar


Keterampilan Konseling Menggali Latar Belakang
dan Alasan mengikuti VCT
Pengetahuan Dasar HIV AIDS dan Tes HIV

PENILAIAN RISIKO SECARA KLINIS


Komponen utama dalam konseling pre-tes adalah melakukan penilaian
lengkap tentang risiko penularan. Konselor hendaklah melakukan
penilaian risiko penularan yang sesungguhnya terjadi dan bukan hanya
atas persepsi klien maupun asumsi konselor.

Kepentingan penilaian risiko klinis pada proses konseling pra tes HIV
adalah:

264
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1) Mendorong peningkatan kewaspadaan akan infeksi menular seksual


dan HIV karena klien menunjukkan sikap perilaku, keyakinan dan
pengetahuan yang berbeda-beda tentang penularan HIV.
2) Memberi kesempatan untuk konseling dan edukasi atas aktivitas
tidak berisiko.
3) Pemeriksaan kesehatan lain yang diperlukan: Klien yang berisiko
perlu diperiksa lebih lanjut untuk kemungkinan tertular IMS, Hepatitis,
TB, dan yang lainnya. Konselor dalam hal ini akan membantu
merujuk klien ke tempat yang tepat.
4) Umpan balik diberikan kepada klien, agar memahami bahwa
aktivitasnya mempunyai risiko tertentu. Banyak klien yang
mengurangkan atau melebihkan risikonya ketika memberi informasi
kepada konselor. Konselor perlu memberi umpan balik realistik atas
setiap risiko dan menyiapkan mental klien untuk menerima hasil tes
reaktif (positif) maupun non reaktif (negatif).

Prinsip Penilaian Risiko:


a. Menjamin konfidensialitas
b. Kepekaan budaya karena melakukan dialog yang sangat pribadi
dan sensitif terkait dengan perilaku seksual secara eksplisit.
c. Konseling dilakukan individu per individu secara terpisah jangan
mengambil riwayat penyakit bersama orang lain, kecuali
sebelumnya sudah disepakati dan mendapat izin.
d. Pastikan klien memahami istilah yang digunakan
e. Gunakan bahasa sederhana, jelas dan mudah dimengerti
f. Gunakan empat prinsip penularan HIV
g. Mulailah dengan informasi yang kurang menimbulkan
ketidaknyamanan

265
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

h. Berikan informasi secara rinci


i. Penjelasan tentang masa jendela
j. Mendiskusikan semua praktek perilaku dengan semua orang
yang pernah berhubungan dengan klien
k. Gunakan alat peraga atau gambar jika diperlukan

Kegiatan Latihan 3 : Penilaian Risiko

FORM KONSELING DAN TES HIV DAN MERUPAKAN LEMBAR


AKTIVITAS PENILAIAN RISIKO INDIVIDU

Nomor Registrasi RAHASIA

Alamat : _______________________________ Kota/Kab : ______ _


Seksualitas : 1. Laki-laki 2. Perempuan Umur : Tahun
Pendidikan Terakhir : _________________ Jumlah anak kandung : ______ orang
Status Perkawinan : 1. Menikah 2. Belum/Tidak Menikah 3. Cerai
Pekerjaan : 1. Tidak Bekerja 2. Bekerja, Jenis Pekerjaan : __________________
Status kehamilan: 1. Trimester I 2. II 3. III 4. Tidak hamil 9. Tidak tahu
Umur anak terkecil : ______tahun, Kelompok Risiko : 1. PS, [ 1. Langsung 2. Tidak Langsung]
Lamanya ........... Bln/Thn 2. Waria 3. Penasun, Lamanya ..........Bln/Thn 4. Gay
5. Pelanggan PS 6. Pasien TB 7. Pasangan Risti
8. WBP. Lainnya .................... (boleh diisi lebih dari satu)

Tanggal Konseling Pre Tes HIV __ __ /__ __ /__ __


Status Pasien 1. Baru 2. Lama
1. Ingin tahu saja 2. Mumpung gratis 3. Untuk bekerja 4.
Ada gejala tertentu 5. Akan menikah
6. Merasa berisiko 7. Rujukan ...............................
Alasan Testing HIV
8.Tes ulang (window period) 9. dirujuk dari LSM
10. Lainnya : ............................

1. Brosur 2. koran 3. TV 4. Dokter 5. Teman


Mengetahui Adanya Tes Dari 6. Petugas Outreach 7. Poster 8. Lay Konselor
9. Lainnya

266
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Tanggal Konseling Pre Tes HIV __ __ /__ __ /__ __

1. Ya, Dimana ...........................


Kapan : ................. hr/Bln/Thn
Pernah tes HIV sebelumnya
Hasil 1. Negatif 2. Positif 9. tidak tahu
2. Tidak
Kesediaan Untuk Test 1. Ya 2. Tidak
Kajian Tingkat Risiko
Hubungan seks vaginal berisiko 1. Ya, kapan ................. hr/Bln/Thn 2. Tidak
Anal seks berisiko 1. Ya, kapan ................. hr/Bln/Thn 2. Tidak
Bergantian peralatan suntik 1. Ya, kapan ................. hr/Bln/Thn 2. Tidak
Transfusi darah 1. Ya, kapan ................. hr/Bln/Thn 2. Tidak
Transmisi Ibu ke Anak 1. Ya, kapan ................. hr/Bln/Thn 2. Tidak
Lainnya

Tes Antibodi HIV


Tanggal Tes HIV __ __ /__ __ /__ __
Jenis Tes HIV 1. Rapid Tes 2. ElA 3. Kombinasi
Hasil Tes R1 1. Non Reaktif 2. Reaktif Nama Reagen :
Hasil Tes R2 1. Non Reaktif 2. Reaktif Nama Reagen :
Hasil Tes R3 1. Non Reaktif 2. Reaktif Nama Reagen :
Kesimpulan Hasil Tes HIV 1. Negatif 2. Positif 3. Indeterminate

Konseling Pasca Tes


Tanggal Konseling Pasca Tes __ __ /__ __ /__ __
Terima hasil 1. Ya 2. Tidak
Skrining Gejala TB 1. Ya 2. Tidak
1. Rujuk ke MK 2. Rujuk ke RS 3. Rujuk ke Rehab
4. Rujuk ke LSM 5. Datang kembali karena masa jendela
Tindak Lanjut
6. Rujuk ke dokter 7. Rujuk ke klinik IMS
(boleh diisi lebih dari satu)
8. Rujuk ke klinik TB 9. Rujuk ke klinik Metadon
10. Rujuk ke layanan LJSS 11. ODHA rujuk ARV
Nama Konselor
Status Klinik 1. Mobile VCT 2. Klinik Utama 3. Klinik Satelit

267
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

POKOK BAHASAN 3. PENYULUHAN KELOMPOK


DALAM KONSELING PRA TES
PENYULUHAN KELOMPOK DALAM KONSELING PRA TES
HIV
Penyuluhan kelompok dalam pra tes HIV merupakan strategi konseling pra
tes yang paling efektif. Di banyak tempat tuntutan konseIing sangat tinggi
sementara sumber dana dan daya terbatas, sehingga seringkali klien masuk
dalam daftar tunggu untuk jangka waktu panjang atau menunggu lama di
ruang tunggu. Menghadapi hal ini, maka dilakukan pengurangan waktu
untuk konseling individual dengan cara penyuluhan kelompok. Beberapa
informasi kelompok dapat diberikan dengan menggunakan video atau oleh
tim terlatih di tempat layanan ketika jumlah konselor terbatas.

Berikut materi dalam penyuluhan kelompok:


1. Informasi dasar tentang HIV
2. Informasi dasar tentang cara penularan dan mengurangi risiko HIV
3. Demonstrasi dan diskusi tentang penggunaan kondom atau jarum
suntik steril
4. Keuntungan dan isu potensial berkaitan dengan konseling
5. Prosedur tes HIV dan penyampaian hasil tes HIV
6. Informasi rujukan dan dukungan

Peserta yang mengikuti penyuluhan kelompok yang tertarik untuk tes HIV
diarahkan untuk mendapatkan konseling pra tes HIV yang berisi tentang:

268
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Penilaian risiko individual dan umpan balik risiko individual


2. Eksplorasi dan pemecahan masalah untuk mengurangi hambatan
penurunan risiko
3. Eksplorasi akan apa yang klien lakukan jika hasil tes reaktif atau non
reaktif dan cara adaptasi
4. Informed consent

Penyampaian hasil tes apapun tidak boleh diberikan melalui penyuluhan


kelompok. Semua hasil konseling disampaikan secara individu dalam pasca tes
konseling, mengingat sifat konfidensialitas dan status mereka yang berbeda-
beda.

TAHAP PENYULUHAN KELOMPOK


Tahap penyuluhan kelompok diawali dengan pembentukan kelompok.
Kelompok terbentuk ketika orang bergabung dalam satu tempat yang
memiliki kesamaan latar belakang. Misalnya kelompok pecandu di pusat
rehabilitasi, kelompok ibu hamil di puskesmas, kelompok pekerja seks di
lokalisasi atau warga binaan di lapas.

Berikut adalah proses konseling dan tes HIV melalui penyuluhan kelompok:
1. Kelompok yang terbentuk akan mengikuti kegiatan penyuluhan
dengan materi yang sudah distandarkan.
2. Setelah mengikuti penyuluhan maka peserta dapat diarahkan untuk
konseling pra tes HIV.
3. Pelaksanaan konseling pra tes HIV secara cepat untuk lebih
memantapkan peserta mengambil keputusan tes HIV.

269
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

4. Pemeriksaan tes HIV


5. Konseling pasca tes HIV secara individu dan bukan kelompok untuk
semua hasil

Dalam proses ini fasilitator akan mencontohkan model penyuluhan


kelompok dalam konseling pra tes HIV dengan melibatkan peserta
untuk berproses bersama

270
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

POKOK BAHASAN 4. PEMBERIAN INFORMASI DALAM


PITC
ALUR PROVIDER INITIATED HIV TESTING AND COUNSELING
(Konseling dan Tes HIV atas Inisiasi Petugas Kesehatan)

Kontak awal antara petugas dan pasien


Petugas menginformasikan pentingnya tes HIV: Diagnosis HIV
untuk kepentingan perawatan medis

Pasien setuju Tes HIV Pasien menolak Tes HIV


(dengan informed consent)
Tes Cepat HIV
Petugas menyampaikan
hasil tes kepada pasien
Pasien dengan hasil Tes HIV Positif
o Petugas menginformasikan hasil tes HIV
reaktif
o Berikan dukungan kepada pasien dalam
menanggapi hasil tes
Pasien dengan hasil tes HIV
o Informasikan perlunya perawatan dan
negatif
pengobatan terkait HIV
o Petugas memberikan hasil tes non
o Rujuk ke layanan konseling lanjutan oleh
reaktif
konselor terkait dan Informasikan cara
o Berikan pesan tentang
pencegahan penularan kepada
pencegahan secara singkat
pasangan
o Sarankan untuk ke klinik VCT
o Hasil tes tercatat di klinik layanan VCT

271
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PEMBERIAN INFORMASI DALAM PITC


Provider-initiated HIV testing and counselling (PITC) adalah suatu tes
HIV dan konseling atau tepatnya pemberian informasi selama 5- 10 menit
yang diinisiasi oleh petugas kesehatan kepada pengunjung sarana layanan
kesehatan sebagai bagian dari standar pelayanan medis. Tujuan utamanya
adalah untuk membuat keputusan klinis dan/atau menentukan pelayanan
medis khusus yang tidak mungkin dilaksanakan tanpa mengetahui status
HIV seseorang seperti misalnya ART.

Seperti halnya VCT, PITC pun harus mengedepankan three C informed


consent, counselling and confidentiality atau sukarela, konseling dan
konfidensial. PITC dikenal sebagai pelayanan konseling dan test HIV yang
diinisiasi oleh petugas kesehatan secara aktif kepada klien atau pasien.
PITC akan memperkuat konseling dan tes yang merupakan pintu masuk
semua layanan tersebut di atas. Di Indonesia, PITC adalah bagian dari
pendekatan konseling dan tes HIV serta diperuntukkan bagi pasien rawat
inap atau rawat jalan di rumah sakit, puskesmas dan klinik kesehatan. PITC
akan melakukan identifikasi kepada pasien yang memiliki gejala TB, IMS,
atau IO yang lain. Petugas kesehatan terdiri dari dokter, perawat, bidan dan
harus bekerjasama dengan konselor untuk layanan konseling lanjutan bila
di butuhkan. Konselor VCT harus berkoordinasi dengan petugas kesehatan
untuk peningkatan kualitas konseling untuk memenuhi kebutuhan pasien.

272
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Kegiatan Latihan 4 : Konseling Pra tes HIV


Daftar Cek Minimal Konseling Pra Tes HIV YA TIDAK
Membangun rapport dan kepercayaan klien
Menjelaskan kerangka proses layanan VCT: sesi konseling,
waktu yang dibutuhkan, prosedur tes dan konfidensialitas -
KONTRAK
Latar belakang mengikuti konseling pra tes HIV
Diskusi tentang HIV AIDS, penularan, penilaian risiko,
pengurangan risiko, kondom, jarum suntik jika penasun, dan
informasi tes HIV
Diskusi tentang keuntungan dan kerugian melakukan tes HIV
Penggalian sistim dukungan dan rujukan
Pelaksanaan tes HIV : informed consent (persetujuan setelah
mendapat informasi), administrasi lainnya dan pemeriksaan darah
untuk tes HIV
Membahas rencana lebih lanjut

POKOK BAHASAN 5. KONSELING PASCA TES HIV

GAMBARAN UMUM KONSELING PASCA TES HIV


Konseling pasca tes HIV membantu klien memahami dan menyesuaikan diri dengan hasil
tes. Konselor mempersiapkan klien untuk menerima hasil tes, memberikan hasil tesnya,
dan menyediakan informasi selanjutnya, jika perlu merujuk klien ke fasilitas layanan
lainnya.
Kemudian konselor mengajak klien mendiskusikan strategi untuk menurunkan penularan
HIV. Dasar keberhasilan konseling pasca tes HIV dibangun pada saat konseling pra-tes.
Bila konseling pra tes berjalan baik, akan memudahkan proses berikutnya karena
hubungan baik sudah berjalan antara konselor-klien. Hubungan profesional akan

273
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

memudahkan terjadinya perubahan perilaku dimasa datang dan memungkinkan


pendalaman akan masalah klien. Klien yang menghadapi hasil tes biasanya sangat
tegang dan mereka yang menerima hasil tes HIV yang reaktif seringkali mengalami
ketidakseimbangan emosi.

PENTING :
konselor yang memberikan konseling pra tes dan konseling pasca tes HIV
sebaiknya orang yang sama

KUNCI UTAMA DALAM MENYAMPAIKAN HASIL TES HIV

1. Periksa ulang hasil tes klien dan lakukan hal ini sebelum bertemu klien,
untuk memastikan kebenarannya.
2. Sampaikan hasil secara langsung secara tatap muka. Hasil harus
disampaikan langsung kepada klien, pastikan klien adalah pemilik
hasil tersebut.
3. Wajar dan profesional ketika memanggil klien kembali dari ruang
tunggu.
4. Hasil tes tertulis dan bertandatangan dokter penanggungjawab
layanan.
5. Jika ada permintaan hasil tes dari klien sendiri dan/atau pihak ketiga,
semua hasil tes hendaknya dijaga dari berbagai kepentingan.
6. Ketika klien akan memberitahu hasil tes pada pasangan, hendaknya
dibuatkan janji untuk dapat disampaikan dalam pertemuan bersama
klien.

274
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PENYAMPAIAN HASIL TES NEGATIF

Ingat akan semua kunci tersebut diatas.


1. Informasikan tentang masa jendela
2. Tekankan informasi tentang penularan dan rencana penurunan risiko.
3. Buatlah ikhtisar dan gali lebih lanjut berbagai hambatan untuk perilaku
seks aman dan penggunaan jarum suntik yang aman.
4. Amati kembali reaksi klien.

PENYAMPAIAN HASIL TES REAKTIF

Seorang konselor seharusnya menciptakan konseling yang nyaman, empati


dan menerima untuk memberikan kesempatan pada klien mendiskusikan
perasaan dan pikiran mereka. Waktu yang cukup perlu diberikan pada klien
untuk memfokuskan diri dan mengeluarkan reaksi emosionalnya dan
menerapkan mekanisme manajemen emosi. Besarnya dukungan yang
tersedia bagi klien merupakan sesuatu yang penting untuk dipelajari. Jika
tidak ada dukungan yang dimiliki klien, maka harus ada upaya rujukan pada
layanan konseling lanjutan, layanan manajemen kasus atau kelompok
pendukung dan penjelasan tentang hal yang dapat difasilitasi oleh layanan
VCT di tempat konselor bekerja. Konselor berkewajiban membantu klien
menyusun rencana selanjutnya yang realistis dan memastikan klien dapat
mengatasasi masalahnya dalam periode krisis ini. Klien dengan hasil reaktif
memerlukan informasi terkait dengan pencegahan positif.
Tawarkan konseling lanjutan atau konseling tindak lanjut agar

275
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

mempermudah klien menyesuaikan diri dengan status positifnya, serta


bagaimana mereka memelihara diri dan meningkatkan kualitas hidup.

PENYAMPAIAN HASIL TES REAKTIF

1. Periksa data secara rinci dan perhatikan komunikasi non verbal saat
memanggil klien memasuki ruang konseling. Pastikan klien siap
menerima hasil dan tekankan kerahasiaan
2. Lakukan secara jelas dan langsung. Misal Kita perlu mendiskusikan
hasil tes anda. Hasil pemeriksaan tes HIV anda adalah reaktif. Artinya
anda terinfeksi virus HIV
3. Sediakan waktu hening yang cukup untuk menyerap informasi tentang
hasil.
4. Periksa pengetahuan dan pemahaman klien tentang hasil tes. Dengan
tenang bicarakan arti hasil tes.
5. Galilah ekspresi dan ventilasikan emosi atau membutuhkan
penanganan khusus. Bagaimana risiko bunuh diri? Lengkapi
penilaian bunuh diri dan manajemennya.
6. Rencana nyata: Adanya dukungan dan orang dekat (siapa, apa,
bagaimana, kapan, mengapa), Keluar dari klinik, pulang ke rumah,
Apa yang akan dilakukan klien dalam 48 jam, Strategi mekanisme
penyesuaian diri, orang terdekat dan etiknya, tanyakan apakah klien
masih ingin bertanya.
7. Beri kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan dikemudian hari.
8. Rencanakan tindak lanjut atau rujukan, jika diperlukan.

276
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Periksa apa yang diketahui klien tentang hasil tes dan artinya
bagi klien
Galilah ekspresi dan ventilasikan emosi.
Rencana nyata setelah selesai sesi konseling
Memberi tahu (membuka status) kepada siapa
. Pencegahan infeksi pada diri sendiri dan orang lain
Rencanakan tindak lanjut atau rujukan, jika diperlukan

TATALAKSANA RESPON EMOSIONAL KLIEN

Menangis Biarkan klien menangis dan beri kesempatan


menumpahkan kesedihannya. Sediakan tisu. Konselor
memberikan respon atau komentar sesuai dengan
kebutuhan.
Melihat situasi sulit ini, saya bisa memahaminya. Apakah
anda ingin berbagi tentang perasaan itu?
Marah Biarkan dahulu klien menunjukkan kemarahannya.
Setelah reda kita mulai proses berikutnya.
Tak Berespon Pelajari reaksi apakah ada penyangkalan dan waspadai
kecenderungan bunuh diri
Menyangkal Konselor harus memberi kesempatan klien memahami
kesulitan penerimaannya akan informasi hasil. Biarkan
klien berbicara tentang perasaannya.

Kegiatan Latihan 5. Konseling Pasca Tes HIV


Daftar Cek Konseling Pasca Tes HIV YA TIDAK

277
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Menyampaikan hasil tes dengan singkat dan jelas


Memberikan waktu hening yang cukup untuk memahami arti hasil
tes
Menangani reaksi emosi klien dari hasil tes
Membahas kemungkinan memberitahu status HIV kepada pihak
lain
Membahas rencana penurunan risiko
Membahas tindak lanjut dukungan, perawatan dan pengobatan
Membahas sumber dukungan yang tersedia
Merangkum rencana tindak lanjut jangka pendek dan jangka
panjang

Model Standar Emas Konseling dan Tes HIV

Gejala fisik, gejala psikologis atau aspek


lainnya yang membawa seseorang
memutuskan untuk tes

278
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Konseling pra tes dalam konteks VCT atau


pemberian informasi faktual HIV dalam konteks PITC

Beri waktu untuk pengambilan keputusan melakukan tes

Menolak tes, tidak dilanjutkan Menerima tes dan dilanjutkan


pemeriksaan darah pemeriksaan darah

Sampaikan hasil tes dengan hati-hati, nilai kemampuan


mengelola perasaan terhadap hasil tes, sediakan waktu
untuk diskusi, bantu agar adaptasi dengan situasi dan
buat rencana tepat dan rasional

HIV Negatif HIV Positif


Konseling perubahan perilaku Konseling penerimaan status
Berikan materi KIE Informasi pemeriksaan kesehatan terkait IO,
Sarankan pemeriksaan ulang setelah 12 ART, dukungan pelayanan manajemen
minggu kasus dan informasi kelompok dukungan
sebaya
Konseling peningkatan kualitas hidup
termasuk pencegahan positif, konseling
pasangan
Konseling lanjutan

MATERI INTI 3

279
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PAJANAN OKUPASIONAL

I. PENDAHULUAN
Tenaga kesehatan, petugas sosial, penjangkau dalam program harm
reduction dan petugas lainnya mungkin dalam risiko pajanan okupasional
terhadap HIV dan infeksi lainnya. Mereka penting memperoleh pengetahuan
tentang pajanan okupasional dan proses yang harus dijalani ketika terpajan.
Mereka yang secara nyata terpajan risiko harus dinilai untuk mendapat
profilaksis pasca pajanan (post exposure prophylaxis=PEP) pada kasus
pajanan HIV. PPP harus dilakukan dalam waktu 2-4 jam pertama
dimungkinkan sampai 36 jam kemudian. Semakin cepat profilaksis
diberikan, efektifitasnya semakin baik.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu
1. Menjelaskan kaitan antara pajanan okupasional dan penularan HIV
2. Melakukan proses konseling dan tes HIV ke dalam penatalaksanaan
pajanan okupasional
3. Menjelaskan pentingnya konseling dan dukungan untuk petugas
terpajan

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Kaitan antara pajanan okupasional dan penularan HIV

280
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

2. Konseling dan tes HIV dalam penatalaksanaan pajanan okupasional


3. Konseling dan dukungan untuk petugas terpajan

POKOK BAHASAN 1. PAJANAN OKUPASIONAL DAN


PENULARAN HIV

BEBERAPA PERTIMBANGAN KETIKA PETUGAS TERPAJAN


DALAM MELAKUKAN PEKERJAAN

1) Tenaga kesehatan, petugas sosial, penjangkau dalam program


harm reduction dan petugas lainnya mungkin dalam risiko pajanan
okupasional terhadap HIV dan infeksi lainnya
2) Mereka penting memperoleh pengetahuan tentang pajanan
okupasional dan proses yang harus dijalani ketika terpajan.
3) Mereka yang secara nyata terpajan risiko harus dinilai untuk
mendapat profilaksis pasca pajanan (post exposure
prophylaxis=PEP) pada kasus pajanan HIV. PPP harus dilakukan
dalam waktu 2-4 jam pertama dimungkinkan sampai 36 jam
kemudian. Semakin cepat profilaksis diberikan, efektifitasnya
semakin baik.
4) Seringkali mereka juga mengalami krisis untuk tes, dan
menganggap tes lebih prioritas daripada konseling.
5) Mereka juga sering tes tanpa konseling atau informed consent,
banyak yang menerima informasi tidak tepat dan berbagai

281
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

kesulitan potensial yang mereka hadapi ketika menerima PPP dan


konfidensialitas tidak terjaga.
6) Perkiraan umum risiko infeksi HIV pada mereka sesudah pajanan
melalui kulit atau mukosa kurang dari 0.3% dalam insidensi
beberapa studi, meski studi dengan kontrol menunjukkan risiko
lebih tinggi, dan tertinggi lewat pajanan percutan.
7) Sebagian besar pajanan terjadi pada tenaga kesehatan dan
petugas penjangkau HR sesudah kontak dengan darah orang
terinfeksi HIV.
8) Sebagai tambahan pada penilaian risiko pajanan, mereka yang
terpajan harus melakukan pemeriksaan untuk HBV, HCV dan VDRL
(pemeriksaan untuk sifilis).

TES HIV DAN PERTIMBANGAN KHUSUS

1) Tes awal HIV yang dilakukan setelah seseorang terpajan


merupakan data dasar untuk memonitor serokonversi setelah
mengalami pajanan.
2) Tes awal ini hanya dapat memberikan gambaran mengenai kasus
pajanan dan status HIV sebelumnya.
3) Data dasar diatas penting dimana mereka perlu mendapatkan
informasi dan penilaian risiko individu. Pelaksanaan tes dasar dapat
dilakukan di tempat lain selain di tempat kerja.

282
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

POKOK BAHASAN 2. KONSELING DAN TES HIV


DALAM PENATALAKSANAAN PAJANAN
OKUPASIONAL

PROSEDUR DALAM PENATALAKSANAAN PAJANAN


OKUPASIONAL

283
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

POKOK BAHASAN 3. KONSELING DAN DUKUNGAN


UNTUK PETUGAS TERPAJAN

Banyak pengalaman yang sama dialami oleh mereka, tak berbeda dengan
pengalaman klien lainnya di masyarakat seperti pengalaman harus patuh
berobat . Pengalaman lainnya termasuk:

1) Ketakutan mereka bahwa rekan kerja akan melihat mereka minum


obat dan berasumsi bahwa mereka mempunyai status HIV
2) Efek samping obat membuat orang sulit bekerja banyak petugas
kesehatan bekerja untuk waktu yang lama dan padat.
3) Tenaga kesehatan yang berhadapan dengan pasien AIDS
menyebabkan perhatian berlebihan pada dirinya sendiri.
4) Jika petugas kesehatan tersebut hamil, sangat mungkin menjadi
cemas akan dampak resimen obat pada janinnya.

Pendidikan pengurangan risiko pajanan. Konselor harus memberikan intisari


tahapan pajanan dengan penuh kepekaan dan tidak menghakimi. Ini akan
membantu petugas kesehatan untuk melindungi diri dari pajanan
dikemudian hari.

284
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Gunakan protokol manajemen pajanan okupasional.

MANAJEMEN KONSELING DAN TES HIV DALAM


PENATALAKSANAAN PAJANAN OKUPASIONAL

1. Pertolongan Pertama. Apa yang dilakukan? Jika tidak tertulis pada


Pertolongan Pertama, maka lakukan segera sesudah pajanan.
Misalnya untuk tusukan jarum. Darah yang menetes atas luka
dicuci dengan air bersabun lembut (sabun mandi)
Misal Semburan darah ke dalam mata, cuci mata dengan air steril
segera.

2. Penilaian Risiko Pajanan dan umpan balik atas risiko (ESSE)


Gunakan empat prinsip penularan (Exit, Survive, Sufficient, Enter)
Misal jelaskan apakah itu sebuah bor berongga atau semburan
darah dari luka, kedalaman luka, durasi pajanan dan sebagainya.

3. Konseling profilaksis termasuk informed consent untuk ARV


Bukti intervensi
Diskusikan efek samping yang mungkin
Masa jendela yang terlambat
Kepatuhan berobat

4. Konseling Pra tes semua konseling pra tes secara umum dan:
Pendidikan pengurangan risiko pajanan okupasional dikemudian
hari
Prosedur tes untuk menggambarkan masa jendela
Formalitas untuk kompensasi , asuransi dsb.
Ketika dilakukan tes lanjutan.

5. Gambaran pemeriksaan untuk tes dasar-Rapid tes HIV yang


digunakan berikut Konseling Pasca tes

6. Dokumentasi formal yang memperhatikan konfidensialitas

285
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

MATERI INTI 4
KONSELING LANJUTAN DAN
BERKESINAMBUNGAN

I. PENDAHULUAN
Salah satu peran Konselor VCT adalah melakukan konseling lanjutan dan
berkesinambungan yang membantu klien positif untuk memperoleh hidup
yang berkualitas.Dalam materi ini akan dipelajari tentang bagaimana
konselor dapat membantu dan mengenali masalah psikososial yang biasa
dialami klien positif terkait dengan penerimaan diri, pasangan, keluarga,
nutrisi dan terapi perawatan serta mendeskripsikan kelanjutan perawatan.
Konselor juga perlu mengenali hubungan antara pengungkapan status,
stigma dan diskriminasi dan rujukkan yang tepat dan hidup sehat bagi
orang yang terinfeksi HIV.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu:


1. Melakukan konseling bagi klien dengan status reaktif untuk menerima
status
2. Melakukan konseling bagi klien dengan pasangan dan keluarga
3. Melakukan konseling bagi klien dengan pendekatan manajemen
kasus dan kelompok
4. dukungan sebaya

286
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

5. Menerapkan fungi pencegahan positif dalam konseling lanjutan


6. Memberikan informasi dan dukungan terkait dengan konseling
Adherence
7. Memberikan informasi dan dukungan terkait dengan konseling nutrisi
8. Melakukan konseling dukungan menjelang kematian, dukcita dan

berkabung

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Pokok Bahasan 1: Konseling Penerimaan Status, Konseling Pasangan
dan Konseling Keluarga
2. Pokok Bahasan 2 : Informasi Pelayanan dan Dukungan Manajemen
Kasus
3. Pokok Bahasan 3 : Informasi Dukungan Sebaya dan Kelompok
Dukungan Sebaya
4. Pokok Bahasan 4 : Pencegahan Positif
5. Pokok Bahasan 5 : Konseling Adherence
6. Pokok Bahasan 6 : Nutrisi
7. Pokok Bahasan 7 : Konseling Dukungan Menjelang Kematian, Duka
cita dan Berkabung

287
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

POKOK BAHASAN 1. PENERIMAAN STATUS,


KONSELING PASANGAN DAN KONSELING
KELUARGA

Mempertimbangkan masalah psikososial terkait dengan penerimaan status


diri, penerimaan status pasangan, dan konseling keluarga manjadi salah
satu dari konseling dan perawatan HIV AIDS. Konselor perlu memandang
klien secara holistik dalam konteks lingkungan sosialnya. Klien mempunyai
berbagai pengalaman dan bervariasi luas, tidak seorangpun mempunyai
pengalaman sama. Masalah dapat berubah sesuai dengan perjalanan waktu
dan penyakitnya.

PENERIMAAN STATUS
Ketika penyakit terus berlanjut, klien dengan HIV atau kita lebih
mengenalnya sebagai orang dengan HIV harus menyadari bahwa virus HIV
akan berada dalam tubuhnya untuk selamanya. Progresivitas HIV menjadi
AIDS, membangkitkan reaksi psikologik dan berdampak pada gaya hidup
mereka sampai suatu saat dapat mencetuskan krisis. Salah satu titik krisis
pada individu dengan HIV positif adalah progresivitas penyakit menjadi
AIDS.
Penerimaan status HIV sangat penting agar klien dapat merencanakan
kualitas hidupnya dimasa datang dengan baik.
Konselor akan membantu klien untuk:
1. Menerima status HIV agar dapat meneruskan kehidupan dan
merencanakan peningkatan kualitas hidup.

288
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

2. Klien terhubung dengan Odha


3. Klien dapat memulai dukungan, perawatan dan pengobatan
4. Mengurangi perasaan terisolasi
5. Penerimaan diri sendiri (Self-acceptance) secara bertahap dan
akhirnya kembali pada kehidupan yang wajar termasuk mendapatkan
kehidupan seksual yang sehat dan aman

Dengan menerima status diri makan klien lebih mudah masuk pada
peningkatan kapasitas diri untuk membuka status kepada sesorang atau
lembaga yang diyakini tepat, memotong mata rantai penularan melalui
komitmen diri dan mendapatkan kenyamanan dalam situasi dan kehidupan
yang dijalani, Dipastikan dengan menerima diri, klien akan lebih mudah
mendapatkan akses kesehatan, psikososial lanjutan dan dukungan ekonomi
melalui program pemberdayaan.

MEMBUKA STATUS HIV


Membuka status kepada orang dan layanan yang tepat merupakan bagian
penting dari pemberdayaan diri. Banyak alasan orang dengan HIV
memberitahu orang lain dan pelayanan yang tersedia bahwa klien terinfeksi
HIV. Beberapa latar belakang orang membuka status HIV:
1. Untuk mengurangi rasa terisolir
2. Untuk meningkatkan penerimaan diri (self-acceptance)
3. Untuk mendapatkan kehidupan seks yang aman dan sehat
4. Untuk merencanakan mempunyai anak dengan aman
5. Untuk merencanakan masa depan dan keluarga

289
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

6. Mendapatkan pengobatan ARV, pelayanan manajemen kasus,


rujukkan kepada kelompok dukungan dan layangan lanjutan
lainnya.

Walaupun seorang dengan HIV memutuskan untuk tidak membuka


statusnya, sangatlah penting bagi klien yang positif hidup dengan cara yang
bisa melindungi kesehatannya dan pasangan seksnya atau teman
menyuntik bersama. Membuka status HIV harus dilakukan berdasarkan
kesadaran dan pilihan atas keputusan sendiri, Lingkungan yang aman dan
konfidensial dan penyadaran terkait dengan stigma dan diskriminasi dari
masyarakat dan pelayanan kesehatan sosial yang ada. Membuka status
merupakan bahagian penting dalam membantu suatu komunitas dalam
bertindak untuk HIV. Membuka status dapat membantu orang lain untuk
mulai menerima HIV sebagai bagian dari kehidupan komunitas dan menilai
pikirannya masing-masing serta perbuatannya. Membuka status dapat
membantu mereka dengan HIV untuk merencanakan masa depannya.
Membuka status adalah kegiatan penting untuk mengenali siapa-siapa saja
yang akan diberitahu dan siapa yang tidak perlu mendapatkan informasi.
Ada berbagai tipe orang yang mungkin akan mendapatkan informasi bahwa
tentang status HIV:
Lingkaran dalam Orang yang kita percayai dan akan membantu kita
dalam kondisi apapun.
Lingkaran Menengah Orang yang tidak terlalu dekat tetapi
kepentingan membuka status agar kita mendapatkan layanan dan
dukungan yang diperlukan.

290
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Mungkin saja sangat penting, penting, atau tidak penting bagi Anda
untuk membuka status HIV kepada orang-orang tersebut.

Lingkaran dalam :
Keluarga, sahabat,
ataupun orang
yang diykini Odha
Lingkaran
Menengah : Odha
Konselor, Petugas
Kesehatan dan
Atasan
Lingkaran Pendukung:
Karena status HIV, Odha
menjadi mengenal
dukungan yang luas dan
memiliki keterkaitan isue
HIV dan
penanggulangannya

Lingkaran Pendukung Pendukung ini dapat diberikan oleh orang


dan layanan pendukung yang klien dengan HIV rasakan bahwa
dukungan yang diberikan mampu meningkatkan kapasitas dirinya.
Misalnya, organisasi Orang dengan HIV atau organisasi pendukung
orang dengan HIV lainnya.

Membangun penerimaan diri adalah hal vital bagi kesejahteraan dan


kesehatan seksual dan reproduksi orang yang terinfeksi HIV. Karena hal
tersebut membantu membangun lebih banyak dukungan dan gambaran

291
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

komunitas yang nyata. Setiap orang mengetahui situasi yang


sesungguhnya berkaitan dengan HIV, memahami perilaku yang
mempunyai risiko dan yang tidak, dan dapat mengambil tindakan untuk
melindungi diri dari infeksi-infeksi lainnya

KONSELING PASANGAN DAN KONSELING KELUARGA

Konseling Pasangan pada perempuan dan laki-laki dari orang yang


terinfeksi HIV adalah bagian paling kritis dari sebuah hubungan atau relasi.
Konseling pasangan dapat ditawarkan kepada pasangan untuk menerima
status pasangan atau mengikuti pelayanan VCT. Selain pasangan,
konseling juga perlu diberikan kepada keluarga sebagai penentu keputusan
dalam keluarga. Menyertakan pasangan dalam konseling berkaitan dengan
HIV dapat memberi gambaran akan adanya dilemma dukungan bagi klien
dalam berbagai pilihan yang berkaitan dengan HIV, pemberian makanan
pada bayi, KB. Klien yang datang untuk konseling HIV AIDS harus didorong,
tetapi tidak dipaksa, untuk datang dengan pasangan. Konselor memerlukan
pengetahuan tentang bagaimana bekerja dengan pasangan.
Latar belakang pentingnya konseling pada pasangan dan keluarga

Beberapa orang yang datang dengan pasangan menyadari bahwa


persoalan ini merupakan persoalan bersama, lebih dari hanya
masalah individu

292
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Suatu perubahan perilaku seseorang akan mempengaruhi


pasangannya
Ketika klien dapat bekerja bersama dengan pasangan dan saling
mendukung, maka keberhasilan akan lebih mudah dicapai
Pengungkapan hasil tes pada pasangan, yang biasanya merupakan
hal paling sulit, akan lebih baik jika ditangani dalam konseling
pasangan
Pasangan akan lebih mampu mengatasi diri mereka, misalnya terkait
dengan kehamilan, cara memberi makan bayi, dan sebagainya

Pedoman untuk bekerja sama dengan pasangan

1. Membina relasi
Ciptakan kemitraan yang kondusif dan saling mempercayai dengan
pasangan. Ikuti petunjuk konseling membangun relasi
Buat mereka tahu bahwa mereka mempunyai kesempatan yang sama
Buat mereka tahu bahwa pendapat setiap orang sama pentingnya
Beri kesempatan mereka yang dominan untuk memulai, terutama jika
itu suami, karena ini menggambarkan pengaruh tindakan dirumah
Perhatikan komunikasi verbal dan non verbal mereka
Ketika ditanya apakah anda menikah, katakan yang sesungguhnya.
Jika anda tak menikah, tambahkan bahwa anda terlatih dalam
konseling pasangan
Minta pasangan yang diam, untuk mengutarakan perasaan dan pilihan
nya.

293
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Jangan menghakimi atau menyingkirkannya


Jangan keluarkan tata nilai, kecurigaan maupun keyakinan anda ,
lakukan kerja dengan pasangan

2. Periksa pemahaman HIV/AIDS. Hindari diskusi yang didominasi hanya


oleh satu orang.

3. Sampaikan proses tes dan arti hasil tes non reaktif atau reaktif

Diskusikan cara menghadapi hasil tes: Hasil yang didapatkan,


disampaikan langsung kepada yang bersangkutan, baik sendiri atau
bersama dengan pasangan. Sebaiknya dihadapan
pasangan.Sampaikan :
Kemungkinan mendapatkan hasil yang berbeda (diskordan)
misalnya suami positif-isteri negatif atau sebaliknya dan
kemungkinan masa jendela.
Apa artinya bagi mereka kalau hasil yang mereka peroleh itu
sama ?
Tanyakan apa arti hasil tes bagi mereka masing-masing dan
bagaimana cara menghadapi ?.
Bagaimana mereka mencegahnya ?
Apa keuntungan mereka dapat mengetahui status pasangan?
Apa kerugiannya ?
Siapa lagi yang akan kena dampak dari hasil tes mereka?
Jika klien sedang hamil, perlu didiskusikan bersama pasangan

294
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

perlindungan terhadap anak dan ketersediaan intervensi


PMTCT.

4. Periksa niat untuk melaksanakan tes

POKOK BAHASAN 2. INFORMASI DUKUNGAN


MANAJEMEN KASUS
Manajemen kasus dilakukan oleh seseorang yang terlatih program
manajemen kasus HIV AIDS. Manajemen kasus bekerja dari program
rujukan pelayanan VCT, outreach, petugas medis dan jejaring lainnya, baik
yang hasil testnya positif maupun negatif. Konselor VCT akan
memperkenalkan tugas dan kegiatan manajemen kasus serta keterbatasan
layananan.

PROSES DUKUNGAN MANAJEMEN KASUS


1. Manajemen kasus terdiri dari membuat dan melaksanakan
perencanaan, memberi informasi yang benar terkait HIV AIDS,
kesediaan mematuhi perjanjian yang dibuat untuk kontrol ke tim
medis, konseling, dan mengikuti sesi-sesi edukasi.
2. Melakukan asesmen yang dilakukan meliputi : Asesmen
Kesehatan, Asesmen Sosial, Asesmen Psikologis, Pemahaman
Dasar Klien Tentang HIV AIDS, Rencana Klien untuk Penurunan
Resiko

295
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

3. Membuat dokumentasi hasil asesmen pada Formulir Manajemen


Kasus
4. Seorang Manajer Kasus bersama klien membuat perencanaan
spesifik, berpedoman pada sasaran realistik untuk memprioritaskan
kegiatan yang dilaksanakan dan cara pencapaiannya. Manajer
Kasus bersama klien melakukan pembagian tugas dan
tanggungjawab masing-masing pihak, siapa melakukan apa, kapan
dan bagaimana itu dilaksanakan
5. Manajer Kasus melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga
penyedia layanan termasuk tugas dan tanggungjawabnya
6. Manajer memberi informasi tentang lembaga penyedia layanan
kepada klien termasuk cara mengakses bantuan dari lembaga
layanan
7. Melaksanakan rencana yang disusun melalui kegiatan yang relevan
dalam batas waktu realistik
8. Manajer Kasus mengantisipasi masalah baru yang mungkin akan
terjadi dan menentukan sumber-sumber lain yang akan dilibatkan
9. Rencana pelayanan diperbaiki sesering mungkin tetapi minimal
sekali dalam 6 bulan. Bagi klien yang hanya memerlukan informasi
saja, perbaikan bisa dilakukan melalui telepon.
10. Manajer Kasus harus mendokumentasikan berkas klien
termasuk salinan korespondensi tertulis

RENCANA TINDAK LANJUT PELAKSANAAN MANAJEMEN

296
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Kasus
1. Sesuai dengan Perencanaan Pelayanan, Manajer Kasus dan Klien
melakukan langkah-langkah yang sudah disusun bersama.
2. Bila ada masalah/kendala dalam pelaksanaan Perencanaan
Pelayanan, Manajer Kasus berkewajiban mencari penyebabnya
dan menyelesaikan secara bersama. Jika diperlukan Manajer
Kasus akan melakukan Asesmen atau Perencanaan ulang.
3. Bila ditemukan permasalahan yang sulit diselesaikan, Manajer
Kasus mengkonsultasikannya kepada supervisor atau
mengadakan Case Conference dengan melibatkan Profesional lain
yang dibutuhkan.

RUJUKKAN, PEMINDAHAN DAN TERMINASI


1. Rujukan
Bila pelayanan yang dibutuhkan klien tidak tersedia di lembaga
atau Manajer Kasus tidak mempunyai kompetensi untuk
melakukannya rujuk ke lembaga/sumber bantuan yang tepat.
Manajer Kasus memberi informasi kepada klien tentang
kemungkinan memerlukan rujukan ke lembaga yang lain bila
dibutuhkan.
Dalam hal merencanakan rujukan, Manajer Kasus perlu
memperhatikan, apakah klien tertarik memperoleh rujukan,
apakah ada persyaratan yang harus dipenuhi dan apakah klien
menginginkan dukungan manajer kasus selanjutnya .

297
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Jika Klien menyetujui rencana rujukan, Manajer Kasus


mempersiapkan klien untuk proses yang akan dihadapinya yang
meliputi, bantuan yang akan diberikan, persyaratan dan
kebijakan lembaga rujukan, kemampuan klien memenuhi
persyaratan yang diminta dan bagaimana cara klien
menghubungi lembaga rujukan.
2. Pemindahan
Jika klien membutuhkan pemindahan ke manajer kasus lain,
baik atas anjuran manajer maupun atas permintaan klien, maka
proses ini harus diselesaikan dalam waktu satu minggu dan
melibatkan Manajer Kasus Pertama, Klien serta Manajer Kasus
yang baru
Manajer Kasus pertama harus mengkomunikasikan kepada klien
perihal pemindahannya ke Manajer Kasus yang baru
Manajer Kasus pertama harus mengkomunikasikan kasus yang
akan di pindahkan kepada Manajer Kasus yang baru.
Pada saat dilakukan pemindahan, Manajer Kasus yang lama
perlu membuat surat pengalihan kepada Manajer Kasus yang
baru kepada supervisor.
3. Terminasi
Manajer kasus akan melakukan terminasi jika :
Klien meninggal dunia,
Atas permintaan klien
POKOK BAHASAN 3. INFORMASI DUKUNGAN
SEBAYA DAN KELOMPOK SEBAYA

298
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

DUKUNGAN
Seorang yang hidup dengan HIV akan memperoleh dukungan dari konselor,
layanan rujukan atau keluarga serta dari siapa saja. Dukungan dan
semangat untuk tetap memiliki hidup yang berarti dan berkualitas diberikan
pada saat orang memperoleh hasil tes reaktif dan membutuhkan dukungan.
Dalam situasi khusus yang membutuhkan peran yang lain, konselor dapat
merujuk pada petugas manajemen kasus, petugas medis dan petugas sosial
lainnya untuk mendapatkan dukungan yang diperlukan. Layanan lain yang
juga dapat diintregasikan adalah dukungan dari kelompok orang yang
terinfeksi HIV.

DUKUNGAN KELOMPOK SEBAYA


Kelompok sebaya adalah mereka yang memberikan dukungan kepada
orang dengan HIV untuk belajar tentang dirinya sendiri dalam lingkungan
dan situasi yang nyaman, aman dan mendukung; dimana mereka dapat
berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan dan merasa nyaman dengan
informasi baru yang diperoleh. Narasumber dalam kelompok itu adalah
seseorang yang telah berhasil dalam perubahan perilaku terkait peningkatan
kualitas hidup dengan HIV. Kelompok sebaya memperhatikan masalah dan
pertanyaan yang diajukan anggota kelompoknya dan mengajak peserta lain
untuk bersama-sama membahas dan mencari solusi tanpa menghakimi.

Kelompok dukungan sebaya bekerja dengan kelompok sebaya. Fasilitator


sebaya adalah bagian dari kelompok sebaya yang berperan mendorong
peserta berbagi ide, pendapat dan kepedulian, serta membahas masalah

299
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

secara lebih rinci dan menemukan solusi. Kelompok sebaya bukan saja
mereka yang sama-sama terinfeksi HIV akan tetapi mungkin juga dari
kelompok seperti pekerja seks, penasun atau LSL. Hal ini penting terutama
bila akan membagi peserta dalam kelompok-kelompok kerja. Dalam setiap
kegiatan mereka menggunakan istilah KITA, hal ini membuat peserta
merasa dirinya sama dengan yang lain dan mendorong dia untuk berbicara
tentang hal yang mempengaruhi kehidupannya dalam suasana yang tidak
terancam, serta mereka dapat melihat permasalahan mereka dan bercermin
pada masalah mereka sendiri tanpa perlu memberi informasi pribadi atau
lainnya. Kelompok sebaya terdapat di masing-masing propinsi dan terbuka
untuk anggota baru.

POKOK BAHASAN 4. PENCEGAHAN POSITIF

PENCEGAHAN POSITIF
Konseling Pencegahan Positif adalah upaya untuk mencegah terjadinya
penularan HIV dari orang yang terinfeksi HIV kepada orang tidak atau belum
tes, penularan ulang HIV dan penularan infeksi lainnya di kalangan orang
yang terinfeksi HIV, mengambil keputusan-keputusan tentang kesehatan
termasuk kesehatan seksual, penentuan akan kehamilan dan pilihan
keluarga berencana. Bertujuan untuk meningkatkan harga diri, kepercayaan
diri dan kemampuan serta diimplementasikan di dalam suatu kerangka etis
yang menghargai hak dan kebutuhan orang yang terinfeksi HIV.

300
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Isi dari Pencegahan Positif HIV


1. Bagaimana menerapkan Pencegahan Positif bagi orang yang
terinfeksi HIV terkait dengan upaya pencegahan bagi orang
yang terinfeksi HIV
2. Perjalanan infeksi HIV dan infeksi oportunistik
3. Pengenalan IO dan terapi ARV
4. Pilihan Pencegahan bagi orang yang terinfeksi HIV
5. Perilaku berisiko dan penurunan risiko: perubahan perilaku
6. Fakta dan informasi berkaitan dengan infeksi HIV
7. Infeksi ulang HIV
8. IMS dan infeksi HIV
9. TB dan HIV
10. Positif dengan orang yang terinfeksi HIV
11. Kerjasama dengan layanan rujukan
12. Membuka status HIV
13. Penerimaan diri dan penolakan lingkungan
14. Hidup Sehat

KUNCI PENCEGAHAN POSITIF


Berikut adalah tema pencegahan positif :
1. Hak Orang yang terinfeksi HIV
2. Rasa percaya diri Orang yang terinfeksi HIV
3. Kemampuan diri Orang yang terinfeksi HIV

301
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

4. Kebutuhan Orang yang terinfeksi HIV

3 Kunci Utama dalam Pencegahan Positif : Mencegah penularan HIV,


Mencegah Infeksi ulang HIV dan Peningkatan kualitas hidup
Prinsip panduan umum Pencegahan Positif
Pencegahan seharusnya merupakan tanggung jawab bersama
Kebutuhan dan kekhawatiran unik dari orang-orang dengan HIV
positif yang memerlukan pendekatan bertarget untuk mencapai
KITA
Kelompok yang berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda
Tak ada satupun pencegahan HIV yang 100% efektif
Pencegahan dan perawatan HIV saling terkait dan tidak boleh
saling bertentangan
Melibatkan orang yang positif pada tiap tahap pengembangan
dan implementasi program
Program pencegahan HIV seharusnya dikembangkan tanpa
menstigmatisasi lebih jauh mereka yang sudah termarginalisasi
Pengetahuan mengenai serostatus merupakan suatu langkah
yang penting tetapi bukan satu-satunya yang dibutuhkan
Ilmu pengetahuan seharusnya lebih dapat mengarahkan strategi
pencegahan HIV dibandingkan dengan politik atau ideologi

PENTINGNYA PENCEGAHAN POSITIF


1. Mencegah infeksi HIV baru

302
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Semua penularan HIV berawal dari satu orang yang terinfeksi.


Perawatan saja kurang berdampak pada penularan akan tetapi lebih
berdampak bila dibarengi dengan pencegahan
Orang yang terinfeksi masih aktif secara seksual
Dengan berkeluarga berencana dan menggunakan contrasepsi akan
mengurangi penularan dari ibu ke anak
2. Meningkatkan kesehatan dan mengurangi sakit serta perawatan di
RS
Mencegah terjadinya infeksi ulang HIV
Mencegah penularan HIV terkait kondisi yang membutuhkan
perawatan seperti misalnya IMS
3. Mencegah penularan HIV yang resisten ARV
Penularan dikalangan Odha dan/atau pemakai ARV dapat membawa
penularan HIV yang resisten ARV
Persediaan jenis ARV tertentu terbatas
Penularan ARV yang resisten membawa perubahan lini ARV yang
lebih mahal

POKOK BAHASAN 5. KONSELING ADHERENCE

KEPATUHAN BEROBAT DALAM KONSELING ADHERENCE

303
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Kepatuhan berobat adalah kemampuan klien untuk melakukan pengobatan


sesuai petunjuk medik. Artinya dosis, waktu dan cara pemberian tepat.
Pengobatan yang harus dilakukan untuk jangka panjang, adalah hal yang
biasa pada setiap penyakit kronis, termasuk HIV AIDS. Pengobatan
termasuk pemberian ARV, profilaksi atau pengobatan untuk infeksi
oportunistik. Pengobatan yang bermacam-macam menghasilkan suatu
resimen kompleks, yang harus diikuti oleh klien. Misalnya, pengobatan ARV
diberikan dalam bentuk kombinasi dua atau lebih jenis ARV. Bagi klien,
ketidak patuhan berobat mengakibatkan kegagalan pengobatan yang
menyebabkan resistensi dan terjadi kegagalan imunologik sehingga
keadaan klinis memburuk. Bila terjadi resistensi terhadap pengobatan maka
pengobatan menjadi tidak efektif, atau berhenti bekerja sehingga diperlukan
upaya baru untuk melawan infeksi dengan obat lain atau obat yang sama
dengan dosis berbeda atau kombinasi, sementara persediaan jenis obat
terbatas. Disamping itu mereka yang resisten akan sulit untuk diobati. Dari
sudut pandang ekonomi kesehatan, ketidak patuhan berobat meningkatkan
biaya berobat dengan mahalnya harga obat pengganti dan lamanya
perawatan di rumah sakit . Peningkatan kepatuhan berobat akan memberi
dampak besar bagi kesehatan masyarakat. Laporan WHO mengatakan
akan mudah dan murah melakukan intervensi kepatuhan berobat secara
konsisten dan hasilnya sangat efektif. Dalam terapi antiretroviral, kepatuhan
berobat merupakan kunci suksesnya suatu pengobatan.

WHO merekomendasikan kepatuhan berobat dipromosikan sebagai


penyederhanaan resimen, sesedikit mungkin jumlah obat, diberikan tidak
lebih dari dua kali sehari. Konseling lanjutan dan strategi konseling

304
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

merupakan alat untuk dapat meningkatkan kepatuhan pada resimen


pengobatan.

Faktor keberhasilan bagi kepatuhan berobat meliputi: tindak lanjut,


karakteristik hubungan antara petugas kesehatan dan pasien, pendidikan
dalam manajemen diri sendiri, program manajemen farmasi, perawat,
apoteker/asisten apoteker dan petugas kesehatan profesional non medik
lainnya membuat protokol intervensi, konseling, intervensi perilaku, tindak
lanjut.

Karakteristik hubungan antara petugas kesehatan dan pasien


Bina hubungan secara umum
Kualitas informasi yang disampaikan
Keterampilan bahasa dan komunikasi
Cara mendengarkan
Waktu konsultasi
Setting klinik
Cara bertukar informasi, misalnya tanya jawab
Sikap pasien dan petugas kesehatan, petugas kesehatan sering
membuat pasien merasa rendah diri sehingga pasien merasa
dikendalikan

Pada tempat yang tak memungkinkan dokter-pasien melakukan


konsultasi, konselor dapat membantu mendukung dengan cara
melakukan penilaian pra terapi, memonitor kepatuhan, pendidikan

305
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

pasien dan konseling guna mengatasi kesulitan akan kepatuhan yang


terjadi.

EDUKASI PASIEN
Ketika dokter menulis resep, penting diingat bahwa pasien harus memahami
:
Jenis pengobatan
Manfaat obat
Lamanya pengobatan
Efek samping yang mungkin terjadi banyak pasien berhenti minum
obat karena menderita efek samping yang sebelumnya tidak
diantisipasi
Bagaimana cara minum obat yang benar
Konsultasi rutin
Medikasi yang benar mereka mengambil medikasi yang cocok
untuk penyakitnya. Ketika mereka mencampur obatnya dalam satu
wadah atau kemasan untuk pagi, dan malam misalnya, mereka
harus paham betul nama obat, warna dan bentuk, dosis, agar tak
terjadi kebingungan.

Cara yang benar bahwa obat betul masuk tubuh sesuai anjuran,
yakni dengan cara ditelan, atau dikunyah, dihisap, dioles di kulit,
disuntikkan dan sebagainya . Beberapa medikasi harus masuk

306
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

pada saat lambung kosong, artinya 30 menit sebelum makan atau


1 jam sesudah makan. Ada obat yang harus dimakan bersama
makanan, artinya bersamaan dengan makan atau makanan kecil.

Jumlah yang benar dosis yang ditelan harus tepat, jangan


melebihi aturan, atau kurang dari aturannya. Ada pendapat salah
mengatakan makin banyak diminum cepat sembuh, atau untuk
menghemat obat maka dimakan sedikit kurang dari ketentuan
dosis.

Waktu yang tepat mereka harus minum obat pada jam yang
ditentukan, misalnya setiap empat jam. Lebih baik jika dituliskan
waktu minum obat agar tidak membingungkan misalnya pukul
08.00, 12.00, 16.00 atau 20.00.

STRATEGI PERILAKU
Beberapa saran untuk membantu mengatur pengobatan adalah sebagai
berikut :
Membuat jadual pengobatan. Gunakan kalender atau buku harian
untuk membantu penggunaan obat sesuai aturan, kapan diminum,
bagaimana caranya, misalnya mulai minggu pertama tulis dosis lalu
beri tanda pada kalendar kalau hari itu obat sudah diminum.

307
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Bagi obat dalam jumlah harian, atau mingguan. Dapat juga


dimasukkan dalam wadah kemudian diberi label. Petugas kesehatan
dapat membantu pada awalnya.
Minumlah obat pada jam yang sama setiap hari (sesuaikan dengan
petunjuk)
Minum obat dimasukkan dalam jadual rutin harian klien seperti
sesudah makan atau akan pergi kerja atau pulang kerja.(sesuaikan
dengan petunjuk)
Rencanakan kapan membeli obat lagi, sehingga persediaan tak
sampai kosong dan dosis terlewati
Jika bepergian, jangan lupa bawa obat dan bawa cadangan juga untuk
menjaga bila hilang.
Minum obat dijadikan prioritas setiap hari.
Membangun keterampilan dan mendorongnya untuk minum obat lebih
teratur, menggunakan alat bantu manajemen diri sendiri. Buat klien
merasa senang dan sebagai individu tampil beda. Gunakan
dukungan sosial, konseling, kunjungan rumah dan mintalah bantuan
anggota keluarga

POKOK BAHASAN 6. NUTRISI

FUNGSI MAKANAN

308
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Makanan berfungsi sebagai bahan bakar tubuh, perbaikan sel yang rusak,
pertumbuhan dan fungsi pertahanan diri. Seseorang dengan HIV AIDS
mungkin membutuhkan makanan yang lebih banyak. Tubuh menyimpan
nutrien dan makanan berfungsi sebagai bahan bakar tubuh, perbaikan sel
yang rusak, pertumbuhan dan fungsi pertahanan diri. Seseorang dengan
HIV AIDS mungkin membutuhkan makanan yang lebih banyak. Tubuh
menyimpan nutrien dan tenaga dari makanan dalam bentuk lemak dan otot
tubuh. Tubuh akan menggunakan tenaga untuk tubuh tetap berfungsi dan
mengatasi infeksi serta perbaikan tubuh setelah sakit. Bila persediaan ini
tidak diganti dengan makan lebih banyak, berat badan akan turun dan otot
melemah sehingga tubuh kurang dapat mengatasi infeksi.

Seseorang dengan HIV AIDS dalam keadaan tertentu mengurangi asupan


makanan, yakni bila :
jamur merata di mulut, sakit pada mulut atau tenggorokan
sulit menelan
mual, muntah, diare
tidak nafsu makan
gangguan pada lidah sehingga cita rasa makanan yang berbeda
lelah, depresi, apatis dan faktor psikologis lainnya
tidak cukup uang atau kemampuan untuk mendapatkan
makanan
kesulitan membeli, menyiapkan makanan dan memakannya
kurangnya kesadaran mengenai pentingnya gizi, khususnya
pada saat baru sembuh

309
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Gangguan Penyerapan makanan


Makanan yang masuk sistem pencernaan akan mengalami proses,
dihancurkan , dilumatkan dan diolah oleh enzym menjadi nutrien yang akan
diserap melalui usus dan masuk kepembuluh darah yang selanjutnya
dipakai tubuh. Bila ada kerusakan mukosa usus akibat infeksi yang merusak
sel usus, maka penyerapan akan berkurang.
Odha mungkin tidak dapat menyerap makanan dengan baik dan tubuh
mereka tidak dapat menggunakan nutrien dalam makanan secara optimal.
Hal tersebut mengakibatkan kurangnya penyerapan nutrien dari makanan
yang mereka makan.
Diare merupakan cerminan tingginya gerak peristaltik usus, yang tidak
memberi kesempatan cukup untuk proses absorbsi makanan. Bila tubuh
tidak dapat menyerap nutrien dengan baik, maka tidak akan didapat nutrien
yang dibutuhkan dan mengakibatkan gangguan fungsi tubuh.

Beberapa perubahan yang terjadi sebagai berikut:


- Tubuh memproses makanan secara salah, dalam hal metabolisme
karbohidrat akan dapat berakibat meningginya kadar gula darah.
- Pemecahan dan pengambilan tenaga dari otot secara berlebihan akan
merusak otot tubuh yang mengakibatkan bengkak pada kaki dan
tubuh.
- Penggunaan lemak yang berbeda dari biasanya akan meningkatkan
kadar lemak dalam darah.

310
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

- Tubuh tidak dapat memproduksi cairan tubuh seperti air liur dan cairan
pencernaan untuk memecah makanan menjadi nutrien sehingga
penyerapan makanan berkurang.

Makanan dan Obat


Obat ARV dan anti tuberkulosis seringkali membuat sistem cerna terganggu,
sehingga gizi dan asupan makanan mengalami hambatan, selain infeksinya
sendiri mengganggu fungsi pencernaan. Secara umum, obat-obatan akan
bekerja lebih efektif pada orang dengan gizi baik. Beberapa obat mungkin
perlu dimakan bersama dengan makanan atau cairan atau saat lambung
kosong. Oleh karena itu makanan menjadi penting dalam pengobatan.

GIZI MEMPENGARUHI KUALITAS HIDUP

Kebutuhan gizi dan dampaknya bervariasi tergantung pada stadium dari


infeksi HIV. Pada stadium manapun, gizi merupakan faktor penting dalam
perawatan Odha. Bila asupan gizi baik, maka dimungkinkan :
kualitas hidup lebih baik
tetap aktif dan mampu memelihara kesehatannya sendiri
mengurangi seringnya jatuh sakit dan sembuh lebih cepat akibat
infeksi
mempertahankan selera makan dan berat badan

311
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Makanan juga merupakan sumber energi, dengan asupan yang memadai


maka setiap Odha akan dapat beraktivitas baik untuk mencari nafkah
maupun tugas sehari-hari
Anak dengan HIV yang mempunyai gizi baik akan :
tidak terhambat untuk sekolah, sehingga mendapat pendidikan
dan pengetahuan lebih baik
mempunyai cukup tenaga untuk bermain dan tumbuh-kembang
lebih baik

Status gizi yang buruk akan memperburuk sistem kekebalan tubuh


sehingga berakibat makin banyaknya infeksi oportunistik yang menguasai
tubuh.

PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI


Risiko penularan HIV AIDS pada bayi didapat dari ibu dengan HIV AIDS
dapat terjadi pada saat dikandung, dilahirkan ataupun dari pemberian ASI.
ASI merupakan makanan utama bayi. Kebijakan yang mendasari perlunya
ASI diberikan adalah : Sebagai prinsip dasar, di semua lapisan masyarakat,
tanpa memandang tingkat infeksi HIV, pemberian ASI harus dilindungi,
dipromosikan dan didukung terus menerus. (HIV dan pemberian makanan
bayi: kebijakan, hasil kolaborasi UNAIDS/WHO/UNICEF, 1997)
Beberapa butir pertimbangan akan perlunya ASI diberikan atau tidak, maka:
Semua perempuan hamil dan yang baru melahirkan yang terinfeksi
HIV perlu mendapat konseling tentang risiko dan keuntungan dari
pilihan pemberian makanan bayi yang tersedia.

312
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Bila seorang perempuan tidak mengetahui status HIVnya, maka


disarankan menyusui bayinya.
Tingkat penularan HIV dengan menyusui adalah 5-20%. Artinya:
diantara 10 ibu HIV positif dan semua menyusui, 1-2 bayi bisa
terinfeksi HIV.
Bila bayi tidak menyusu, maka diperlukan makanan pengganti ASI.

Makanan pengganti ASI adalah suatu proses pemberian makanan pada


bayi yang tidak mendapat ASI dengan memberikan suatu makanan yang
mengandung semua sumber gizi yang diperlukan seorang anak sampai
waktunya anak tersebut dapat mengkonsumsi makanan keluarga.

Dalam memberikan makanan pengganti ASI (PASI) tersebut,


pertimbangkan apakah :
dapat diterima,
layak dimakan/diberikan,
terjangkau
dapat terjaga kesinambungannya
aman.
Termasuk kemudahan untuk mendapat air bersih untuk membersihkan
peralatan, pengetahuan tentang cara mempersiapkan makanan pengganti
ASI dengan benar, tenaga dan waktu untuk mendapatkan susu pengganti,
bahan bakar dan air untuk mempersiapkan makanan tersebut.
Ibu yang terinfeksi HIV dapat dianjurkan untuk tidak menyusui sama sekali
bila pertimbangan diatas tidak terpenuhi.

313
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Di daerah dimana tingkat kematian bayi akibat infeksi tinggi, menggunakan


makanan pengganti ASI mungkin tidak cukup aman. Bila tidak
menggunakan makanan pengganti ASI, dianjurkan
memberikan ASI eksklusif selama bulan-bulan pertama.

Pemberian ASI eksklusif berarti hanya memberikan ASI (termasuk ASI


perah) tanpa memberikan makanan atau minuman lainnya, termasuk air,
dengan perkecualian

Pemberian ASI eksklusif adalah hanya memberikan ASI (termasuk


ASI perah) tanpa memberikan makanan atau minuman lainnya,
termasuk air, dengan perkecualian pemberian vitamin, suplemen dan
obat-obatan dalam bentuk sirup.

Pengurangan Risiko Penularan HIV AIDS


Untuk mengurangi risiko penularan HIV, begitu keadaan memungkinkan
pemberian ASI harus segera dihentikan, dengan mempertimbangkan:
o Sosial budaya
o Kondisi ibu
o Risiko yang bisa timbul akibat pemberian makanan pengganti,
termasuk risiko infeksi selain HIV, serta kemungkinan kurang gizi

Bila ibu yang terinfeksi HIV memilih untuk tidak menyusui bayinya atau
berhenti menyusui setelah beberapa bulan, ia perlu dibimbing dan dberi
dukungan secara khusus hingga, paling tidak, melewati dua tahun pertama
kehidupan anaknya untuk meyakinkan makanan pengganti cukup tersedia.

314
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Ibu menyusui dengan HIV positif perlu diajarkan teknik menyusui yang
benar, demi mencegah puting dan payudara lecet. Bila sampai terjadi hal ini,
harus segera diobati.

Rangkuman pemberian makanan pada bayi


Pemberian ASI eksklusif terus dianjurkan pada semua lapisan
masyarakat. Bila seorang perempuan HIV negatif atau tidak tahu status
HIV-nya, dianjurkan pemberian ASI eksklusif.
Perempuan yang HIV positif perlu informasi dan konseling untuk
pengambilan keputusan yang tepat sesuai keadaannya.
Dalam menentukan pemilihan makanan pengganti ASI harus
dipertimbangkan bahwa makanan pengganti tersebut cukup
aman/bersih, terjangkau, tersedia, dan dapat diterima.
Para ibu perlu dukungan terus menerus dan informasi agar dapat
mengambil keputusan dalam menentukan pemberian makanan bagi
bayinya.

KONSELING GIZI

Konseling gizi memberikan pengetahuan pada Odha tentang fungsi


makanan untuk melawan penyakit dan meningkatkan kekebalan tubuh. Isi
konseling meliputi.
Memperbaiki kebiasaan makan
Menggunakan bahan makanan dengan memperhatikan gizi

315
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Mencegah turunnya berat badan atau malnutrisi


Mempercepat kesembuhan dari infeksi yang berkaitan dengan
HIV
Memberikan perawatan yang lebih baik untuk kebutuhan gizi
tertentu seperti pada anak-anak, ibu dan orang dengan penyakit
lainnya

Kata kunci konseling gizi adalah


Makan sehat dan seimbang membantu anda hidup sehat lebih lama
Makanan membantu untuk pertumbuhan, produktivitas
dan tetap sehat

KEAMANAN MAKANAN
Makan makanan yang bersih dan aman adalah penting bagi setiap orang.
Infeksi dari air dan makanan dapat mengakibatkan seseorang menderita
sakit. Karena itu, pencegahan infeksi melalui makanan dan air sangat
penting.
Lebih baik mencegah infeksi daripada mengobatinya.
Diskusikan dengan klien anda tentang cara-cara menjaga kebersihan dan
keamanan makanan di rumah tangga mereka, seperti :
Jagalah kebersihan tangan, peralatan makan dan tempat
penyiapan/pengolahan makanan
Pisahkan makanan mentah dan makanan yang telah dimasak
Masak makanan sampai matang
Jaga makanan pada temperatur yang aman

316
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Pergunakan air dan makanan yang bersih


Sering membersihkan mulut, kumur-kumur dengan air garam yang
hangat, gunakan air masak yang bersih
Pergunakan teh kayumanis sebagai obat kumur/pencuci mulut (
sendok teh kayumanis untuk secangkir air masak, tutup dan biarkan
dingin )
Tambahkan kuah daging, saus atau puding kedalam makanan untuk
membuat lebih lunak, tetapi tidak kental atau terlalu berkuah.
Minum dengan menggunakan sedotan plastik.
Makanan lunak atau dihaluskan
Hindari makanan mentah, seperti panggangan atau sayur lalapan.
Hindari makanan yang terlalu kental, seperti selai kacang
Hindari makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin
Hindari minuman ber-alkohol
Hindari makanan pedas, asin atau makanan asam yang dapat
merangsang pencernaan anda.
Minumlah susu fermentasi/susu asam atau yoghurt

Tenaga dari makanan dalam bentuk lemak dan otot tubuh. Tubuh akan
menggunakan tenaga agar tetap berfungsi dan mengatasi infeksi serta
perbaikan sel setelah sakit. Bila persediaan ini tidak diganti dengan makan
lebih banyak, berat badan akan turun dan otot melemah sehingga tubuh
kurang dapat mengatasi infeksi.

317
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Bayi , anak-anak membutuhkan makanan untuk tumbuh dan berkembang.


Bila anak dengan HIV AIDS tidak mendapatkan gizi yang baik, terjadi
pertumbuhan yang terganggu dan dampak lainnya.

POKOK BAHASAN 7 : KONSELING DUKUNGAN


MENJELANG KEMATIAN, DUKA CITA DAN
BERKABUNG

ARTI KEMATIAN

Dalam fase akhir dari siklus kehidupan, mungkin terjadi konflik antara
integritas diri dan rasa putus asa, terutama pada kondisi menjelang kematian
pada kasus - kasus penyakit menahun termasuk kasus HIV AIDS.

Dalam menghadapi kematian dapat terjadi konflik yang tidak dapat


dihindarkan, seperti : rasa kegagalan, ketakutan, putus asa. Namun dapat
juga terjadi tanpa konflik dan timbul perasaan damai dan sukacita

Kematian mungkin memiliki berbagai arti psikologis, baik untuk orang yang
hampir meninggal maupun bagi masyarakat, sebagai contoh, beberapa
orang memandang kematian sebagai hukuman yang sepantasnya diterima
untuk apa yang dianggap sebagai gaya hidup tidak bermoral atau
memalukan.

318
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Perubahan perilaku yang harus diperhatikan dalam kasus-kasus terminal


adalah reaksi terhadap kematian. Teori yang terkenal dibuat oleh Elizabeth
Kubler-Roos yaitu : shock denial anger bargaining depression
acceptance.

1. Stadium 1 Goncangan dan Penyangkalan ( Shock Denial). Saat


dikatakan bahwa mereka akan meninggal, klien mengalami reaksi awal
goncangan emosi. Klien mungkin tampak bingung pada awalnya dan
selanjutnya menolak untuk mempercayai diagnosis atau menyangkal bahwa
semuanya itu adalah salah. Dalam kasus seperti ini konselor harus
berkomunikasi dengan klien dan keluarga klien tentang informasi dasar
mengenai penyakit, prognosisnya (ramalan kondisi perjalanan penyakit) dan
pilihan pengobatan. Konseling dilakukan secara langsung dengan tetap
menghormati klien atau keluarganya.

2.Stadium 2 Kemarahan ( Anger ). Klien menjadi frustrasi, mudah


tersinggung, dan marah karena mereka sakit. Suatu respon yang sering
adalah, "Mengapa saya?" Mereka mungkin menjadi marah kepada Tuhan,
nasibnya, teman, atau anggota keluarga; mereka mungkin bahkan
menyalahkan dirinya sendiri. Kemarahan dapat dialihkan kepada keluarga
dan konselor, yang disalahkan atas penyakitnya. Klien dalam stadium
kemarahan sulit untuk diobati. Mungkin seorang konselor mempunyai
kesulitan untuk memahami bahwa kemarahan tersebut merupakan reaksi
emosional yang dapat diperkirakan. Konselor yang benar-benar menjadi
sasaran kemarahan dapat menarik diri dari klien atau memindahkan klien
ke konselor lain.

319
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Respon yang empatik dapat membantu menghilangkan kemarahan klien


dan dapat membantu memusatkan kembali pada perasaan yang ada
(sebagai contohnya, duka cita, ketakutan, kesepian) yang mendasari
kemarahan tersebut. Konselor harus mengenali bahwa kemarahan dapat
mencerminkan keinginan klien untuk dikendalikan karena mereka merasa
benar-benar di luar kendali.

3.Stadium 3 Perundingan ( Bargaining ). Klien mungkin berusaha untuk


berunding dengan keluarga, teman, atau bahkan dengan Tuhan. Sebagai
balasan kesembuhan, mereka akan memenuhi satu atau banyak janji yang
dibuatnya, seperti memberikan derma dan beribadah dengan teratur.
Aspek lain dari perundingan adalah klien percaya bahwa dengan ia menjadi
baik (patuh, tidak bertanya-tanya, bergembira), maka konselor, keluarga
akan menjadi lebih baik terhadapnya.

4.Stadium 4Depresi ( Depression). Di dalam stadium keempat, klien


menunjukkan tanda klinis depresipenarikan diri, gerakan melambat,
gangguan tidur, putus asa dan kemungkinan ide bunuh diri. Depresi mungkin
merupakan reaksi terhadap efek penyakit pada kehidupan mereka (sebagai
contohnya, kehilangan pekerjaan, kesulitan ekonomi, tidak berdaya, tidak
mempunyai harapan, dan isolasi dari teman dan keluarga). Jika gangguan
depresi berat dan ide bunuh diri timbul, pengobatan dengan obat
antidepresan perlu diberikan atau dirujuk ke ahlinya.

320
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Semua orang merasakan suatu derajat kesedihan saat menunggu


kematiannya sendiri, dan kesedihan yang normal tidak memerlukan
intervensi obat.

Tetapi, gangguan depresi berat dan ide bunuh diri yang aktif dapat
diturunkan derajatnya dan tidak boleh dianggap sebagai suatu reaksi normal
terhadap ancaman kematian. Seseorang yang menderita akibat gangguan
depresi berat mungkin tidak mampu mempertahankan harapan. Harapan
dapat mempertinggi martabat dan kualitas hidup pasien.

5.Stadium 5Penerimaan ( Acceptance ) Klien menyadari bahwa


kematian tidak dapat dihindari, dan mereka menerima bahwa kematian
dialami semua orang. Perasaan mereka dapat terentang dari suatu suasana
hati yang netral sampai suasana hati gembira. Di dalam situasi yang ideal,
pasien menguasai perasaan mereka mengenai kematian yang tidak dapat
dihindari dan mampu untuk berbicara tentang kematian pada orang yang
tidak mengetahuinya. Orang yang mempunyai kepercayaan agama yang
kuat dan yakin akan kehidupan setelah kematian dapat menemukan
ketenangan dalam kepercayaan rohani mereka, tidak merasa takut pada
kematian.

INTERVENSI KELUARGA
Langkah pertama bekerja di dalam keluarga klien yang hampir meninggal
adalah mengembangkan suatu ikatan dengan mereka. Hal tersebut dapat
dicapai dengan mengizinkan anggota keluarga berbicara mengenai

321
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

kehidupan mereka sendiri dan tekanan-tekanan perasaan. Konselor harus


mencoba menilai sampai derajat mana anggota keluarga menginginkan
pengarahan atau bantuan dan sampai derajat mana mereka lebih menyukai
rasa mandiri. Pada saat stres yang berat, seperti ancaman kematian pada
anggota keluarga, konflik keluarga dapat membesar. Konselor dapat
membantu keluarga memfokuskan kembali perhatian dalam menghadapi
stres, ketimbang mereka saling menyalahkan dan berdebat.
Membuka saluran komunikasi di antara anggota keluarga, dapat membantu
anggota keluarga untuk berbicara dengan klien yang hampir meninggal
tentang ancaman kematian. Ketakutan mungkin terjadi karena merasa
terlalu takut. Hal ini akan mengacaukan diri mereka sendiri atau
mengacaukan klien. Sebaliknya, klien yang hampir meninggal mungkin
enggan untuk membicarakan ancaman kematian pada dirinya sendiri,
karena merasa takut membebani keluarga. Di dalam situasi tersebut
konselor dapat membiarkan masing-masing pihak mengetahui apa
perasaan pihak lain dan dapat mendorong diskusi atau bahkan
mengungkapkan topik ini jika semua pihak menginginkannya.

REAKSI TERHADAP KEMATIAN


Reaksi terhadap kematian tidak sama, kemampuan anak untuk mengerti
kematian mencerminkan kemampuan mereka untuk mengerti tiap konsep
yang abstrak. Anak-anak prasekolah di bawah usia 5 tahun, percaya bahwa
segala sesuatu, bahkan suatu benda mati, adalah hidup dan menurut
mereka kematian adalah perpisahan yang mirip dengan tidur. Antara usia

322
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

5 dan 10 tahun, anak-anak mempunyai perasaan yang berkembang


mengenai kematian , yaitu kematian itu tidak dapat dihindari; mereka takut
bahwa orangtuanya akan meninggal dan dengan demikian mereka akan
ditelantarkan. Pada usia kira-kira 9 atau 10 tahun, anak-anak
mengkonseptualisasikan kematian sebagai sesuatu yang dapat terjadi pada
seorang anak, seperti juga pada orangtua. Pada pubertas, anak mampu
untuk mengkonseptualisasikan kematian sebagai hal yang tidak dapat di-
hindari, seperti hal menjadi dewasa. Pada orang dewasa, reaksi bisa
berbeda-beda dan tidak selalu khas.

DUKA CITA DAN BERKABUNG


Istilah dukacita berkabung dan kehilangan digunakan pada reaksi
psikologis dari seorang yang mengalami kehilangan yang bermakna.
Dukacita/ Grief adalah perasaan subjektif yang dicetuskan atas kematian
seseorang yang dicintai. Kehilangan / bereavement; suasana duka pada
orang yang ditinggalkan.Berkabung / Mourning; proses meredanya dukacita
yang nampak dalam prilaku dan kebiasaan yang berbeda pada masyarakat.
Ekspresi dukacita memiliki rentang emosi yang luas, tergantung pada norma
dan kultural (sebagai contohnya, beberapa kultur mendorong atau
membutuhkan pengungkapan emosi yang kuat, sedangkan kultur lain
mengharapkan yang berlawanan)

KARAKTERISTIK DUKACITA
Dukacita awal seringkali dimanifestasikan sebagai keadaan terguncang
yang mungkin diekspresikan sebagai perasaan mati rasa dan suatu

323
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

perasaan kebingungan. Ketidak mampuan untuk mengerti apa yang terjadi,


mungkin terjadi dalam waktu singkat. Keadaan tersebut diikuti oleh ekspresi
penderitaan dan ketegangan seperti : berkeluh kesah dan menangis .
Perasaan kelemahan, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan,
dan kesulitan berkonsentrasi, kesulitan bernafas dan berbicara , gangguan
tidur termasuk kesulitan tertidur, terbangun saat malam hari, dan terbangun
lebih awal. Sikap menyalahkan diri sendiri juga sering ditemukan . Pikiran
yang menyalahkan diri sendiri biasanya berpusat pada suatu kelalaian atau
perbuatan/ sikap yang telah dilakukan terhadap orang yang telah
meninggal.
Lama Dukacita Karena orang sangat bervariasi dalam ekspresinya tentang
dukacita, kemungkinan tanda, gejala, dan fase berkabung dan kehilangan
adalah tidak sama dan lamanya bervariasi
Dukacita yang Ditunda, Ditekan, atau Disangkal Dukacita yang ditunda,
ditekan, atau disangkal adalah tidak adanya ekspresi duka pada saat
menghadapi kematian. Pengaruh keluarga dan kultural mempengaruhi
bagaimana orang yang berkabung menunjuk reaksinya di dalam
masyarakat. Terdiam membisu yang dilakukan oleh satu kelompok sangat
berbeda secara dramatis dengan tangisan, ratap dan pingsan yang diterima
oleh kelompok lain bagai suatu norma. Karena itu, mengukur besar dukacita
orang lain dari penampilan luar mungkin sulit kecuali telah mengerti latar
belakang orang tersebut.
Dukacita pada anak-anak Menghadapi anak yang berdukacita, konselor
harus mengenali kebutuhan anak-anak untuk menemukan seseorang yang
akan menggantikan orangtuanya. Anak mungkin mengalihkan
kebutuhannya akan orangtua kepada beberapa orang dewasa lainnya,

324
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

ketimbang pada satu orang dewasa. Jika tidak ada orang yang konsisten,
kerusakan psikologis yang berat pada anak dapat terjadi, sehingga mereka
tidak lagi mencari atau mengharapkan keintiman di dalam semua hubungan.
Kepentingan menangani reaksi dukacita pada anak-anak meningkat karena
meningkatnya insidensi bahwa gangguan depresi dan usaha bunuh diri lebih
sering terjadi pada orang dewasa yang di dalam masa anak-anak awalnya
mengalami kematian orangtua. Pertanyaan apakah anak harus menghadiri
pemakaman adalah pertanyaan yang sering, dan tidak ada jawaban yang
pasti . Sebagian besar ahli anak setuju jika anak menunjukkan keinginan
untuk pergi kepemakaman, keinginannya harus dihormati; jika anak menolak
atau enggan untuk pergi, hal itu juga harus dihormati. Pada sebagian besar
keadaan kemungkinan lebih baik mendorong anak untuk menghadiri
pemakaman sehingga ritual tidak dilapisi fantasi atau misteri yang
menakutkan dan menyimpang.
Dukacita pada Orangtua Reaksi orangtua terhadap kematian anak atau
bayi, stadiumnya mirip dengan yang digambarkan oleh Kubler Ross dalam
penyakit terminal goncangan, penyangkalan, kemarahan, tawar menawar,
depresi, dan penerimaan. Kematian seorang anak seringkali merupakan
pengalaman emosional yang lebih kuat dibandingkan dengan kematian
seorang dewasa . Manifestasi dukacita mungkin juga dirasakan sepanjang
hidupnya. Ketegangan dalam menghadapi kematian anak dapat
menyebabkan suatu perkawinan yang sebelumnya telah memiliki konflik
mengalami kehancuran, .orangtua mungkin saling menyalahkan satu sama
yang lainnya atas penyakit anaknya, khususnya jika penyakit anak
disebabkan oleh orangtua. Konselor harus sadar akan pola pertikaian

325
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

tersebut. Beberapa penelitian menyatakan bahwa sampai 50 persen


perkawinan dengan anak yang meninggal berakhir dalam perceraian.

MATERI INTI 5
ADAPTASI DAN MODEL LAYANAN
KONSELING DAN TES HIV

326
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

I. PENDAHULUAN
Berdasarkan kebutuhan klien dalam berbagai situasi, maka layanan
konseling dan tes HIV perlu diadaptasi ke model yang sesuai dengan
kelompok tertentu dalam masyarakat dan karakteristik lokasi layanan (misal
tempat jauh atau sulit dijangkau).

Konseling dan tes HIV mempunyai dua pendekatan yaitu inisiasi klien dan
inisiasi petugas kesehatan. Terdapat dua model layanan yakni mandiri dan
terintegrasi di layanan kesehatan (pemerintah dan swasta). Dalam
pelaksanaannya kegiatan layanan dilakukan secara menetap dan bergerak
(mobile).

Kegiatan layanan bergerak dilakukan dengan maksud mendekatkan akses


layanan kepada mereka yang membutuhkan sehingga jangkauan layanan
diperluas dengan menyertakan dokter, petugas laboratorium, petugas
administrasi dengan bekal surat tugas dari institusi kesehatan yang
menugaskannya. Hasil tes sebaiknya dilakukan pada hari yang sama.

Layanan konseling dan tes HIV dilakukan di berbagai tatanan seperti Lapas
dan Rutan, institusi TNI, institusi Polri, klinik TKI dan tempat-tempat kerja
atau perusahaan.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu
1. Melakukan adaptasi model konseling dan tes HIV

327
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

2. Melakukan model Layanan konseling dan tes HIV pada berbagai


tatanan

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Adaptasi model layanan konseling dan tes HIV
2. Model layanan konseling dan tes HIV pada berbagai tatanan

POKOK BAHASAN I. ADAPTASI MODEL LAYANAN


KONSELING DAN TES HIV

PENGEMBANGAN LAYANAN KONSELING DAN TES HIV


Didalam membuat layanan Konseling dan tes HIV, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan:
1) Promosi layanan konseling dan tes HIV
Promosi layanan konseling dan tes HIV disesuaikan berdasarkan
sasaran, tempat, waktu, dan metode yang digunakan dengan tujuan
mengubah perilaku masyarakat agar mau memanfaatkan pusat
pelayanan konseling dan tes HIV tersebut.
Untuk dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan pelayanan
konseling dan tes HIV perlu dibangun, dikembangkan dan
dimantapkan dengan cara :

328
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

a. Mempertimbangkan kebutuhan dan daya beli dalam berbagai


lapisan masyarakat antara lain dengan pengembangan sistem
pendanaan subsidi silang.
b. Dibuat layanan yang bersahabat untuk berbagai usia, jenis
kelamin dan orientasi seks dan kelompok berisiko.
c. Tempat Layanan konseling dan tes HIV hendaknya mudah
dijangkau namun tetap terjaga konfidensialitasnya.
d. Promosi pemanfaatan Konseling dan tes HIV hendaknya dapat
dilakukan secara edukatif dan peka budaya melalui berbagai
media.
2) Layanan konseling dan tes HIV mempunyai
a. Dua pendekatan yaitu : Pendekatan inisiasi klien dan inisiasi
petugas kesehatan.
b. Dua Model yakni mandiri dan terintegrasi. Model mandiri
dilakukan oleh klinik-klinik yang dikelola oleh LSM atau Yayasan
sedangkan model terintegrasi berada dalam tatanan RS,
Puskesmas, Balai Kesehatan Masyarakat.
c. Dua kegiatan yaitu menetap dan bergerak. Kegiatan layanan
menetap dilakukan oleh sarana kesehatan dalam gedung,
kegiatan layanan diluar gedung disebut layanan yang bergerak.
Kegiatan di luar gedung dilakukan oleh layanan kesehatan
dengan maksud mendekatkan akses layanan kepada mereka
yang membutuhkan sehingga jangkauan layanan diperluas.
Layanan bergerak menyertakan dokter, petugas laboratorium,
petugas administrasi dengan bekal surat tugas dari institusi

329
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

kesehatan yang menugaskannya. Hasil tes sebaiknya dilakukan


pada hari yang sama.
d. Dua prinsip pelaksanaan tes yakni wajib (mandatori) dan
sukarela. Tes wajib tidak dipersyaratkan pada layanan konseling
dan tes HIV di semua layanan kesehatan dibawah arahan
Kementerian Kesehatan.

MODEL LAYANAN MANDIRI

Layanan mandiri menawarkan konseling dan tes HIV bagi kelompok berisiko
dan masyarakat umum yang jauh dari fasilitas kesehatan. Banyak pelayanan
mandiri dikelola oleh LSM lokal atau internasional dan menjadikan konseling
dan tes HIV sebagai kegiatan utamanya. Keberhasilan pelayanan didukung
oleh publikasi, pemahaman masyarakat akan konseling dan tes HIV dan
upaya untuk mengurangi stigma berkaitan dengan HIV. Pelayanan konseling
dan tes HIV yang berhasil, didukung oleh kampanye informasi, edukasi dan
komunikasi, mobilisasi masyarakat dan iklan.

1. Kekuatan Layanan Mandiri


a. Tersedianya konselor berdedikasi konselor bekerja purna
waktu
b. Keleluasaan jam kerja Pelayanan mandiri tidak bergabung
dengan pelayanan lain, maka ia dapat melakukan jam
operasional yang leluasa sesuai dengan kebutuhan klien
jangkauannya, misalnya malam hari atau hari libur

330
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

c. Mandiri Layanannya mandiri sehingga membuat klien tanpa


gejala lebih nyaman mendatangi layananan tersebut.
d. Berhubungan dengan masyarakat Pelayanan mandiri
berada di tengah masyarakat dengan struktur manajemen
luwes. Melalui cara ini hubungan ke dan dari masyarakat serta
kemitraan dapat ditindak lanjuti dengan baik.
e. Memiliki jaringan dan rujukan - Pelayanan mandiri biasanya
memiliki jejaring dan rujukan biopsikososial seperti kelompok
dukungan sebaya, jejaring pengobatan dan perawatan.

2. Kelemahan Layanan Mandiri


a. Pendanaan Kebanyakan pelayanan dilakukan oleh swasta
yang tergantung pada dukungan dana donor sehingga sulit
untuk menjaga kesinambungan layanan.
b. Berpotensi memunculkan stigma Pelayanan mandiri hanya
menyediakan layanan terkait HIV AIDS sehingga berpotensi
memunculkan stigma. Orang enggan datang karena takut
dikenali sebagai orang terinfeksi HIV.
c. Petugas yang jenuh (burn-out) Pada pusat pelayanan yang
staf purna waktu, kejenuhan dan depresi tak terhindarkan,
sehingga menimbulkan stres dengan merasa lelah secara
emosional.

MODEL LAYANAN YANG TERINTEGRASI PADA PELAYANAN


KESEHATAN

331
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Layanan konseling dan tes HIV dapat terintegrasi pada layanan kesehatan
yang telah ada. Dalam pendekatan ini pasien yang mengunjungi layanan
KIA, KB, TB, IMS dapat melakukan konseling dan tes HIV. Dengan telah
terjalinnya sistem rujukan Puskesmas dengan fasilitas kesehatan lainnya,
maka rujukan konseling dan tes HIV pun dapat dilakukan. Dukungan staf
konselor yang berdedikasi baik akan memberikan keberhasilan pelayanan
yang terintegrasi. Perlu dilakukan pertemuan teratur dan pertemuan antar
klinik untuk memastikan berjalannya jaringan dan rujukan antar klinik.

Komitmen pihak manajemen, perencanaan dan pengembangan layanan


konseling dan tes HIV, akan membuat layanan dapat berkembang.
Konseling disini dilakukan kapan saja, sangat fleksibel, dan para klien dapat
memilih konselor masing-masing maupun konselor pengganti, kepada siapa
mereka merasa nyaman mengemukakan persoalannya.

1. Kekuatan Layanan Terintegrasi


a. Biaya rendah Pelayanan konseling dan tes HIV yang
terintegrasi pada fasilitas kesehatan yang ada, tidak
membutuhkan ekstra dana guna menyiapkan tempat dan
perlengkapannya. Pelayanan terintegrasi membutuhkan
pelatihan bagi staf pelayanan kesehatan tersebut tanpa harus
merekrut staf baru.
b. Mudah direplikasi/ditingkatkan Di banyak tempat, jejaring
kerja yang baik antar Puskesmas telah mapan. Jika layanan

332
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

berhasil diintegrasikan, maka akan mudah direplikasi atau


ditingkatkan karena infrastruktur dasarnya telah ada disana.
c. Stigma lebih kecil Puskesmas melakukan beberapa jenis
pelayanan kesehatan, karenanya akan mudah orang datang
untuk konseling dan tes HIV tanpa merasa malu.
d. Hubungan dengan intervensi medik Diagnosis infeksi yang
berkaitan dengan HIV, akses dan monitoring terapi , intervensi
pencegahan dapat difasilitasi melalui jalur klinik yang telah ada.
e. Akses untuk perempuan Konseling dan tes HIV yang
terintegrasi mudah dikunjungi perempuan dibandingkan layanan
konseling dan tes HIV mandiri. Kunjungan perempuan ke
Puskesmas merupakan hal yang biasa, bahkan mungkin rutin
untuk KB, KIA, pemeriksaan anaknya, karena itu lebih mudah
menawarkan konseling dan tes HIV kepada mereka.
f. Akses untuk kaum muda Konseling dan tes HIV dapat
dimasukkan dalam layanan yang bersahabat bagi kaum muda
dan dapat dimulai di Puskesmas yang telah melakukan layanan
kesehatan reproduksi dan klinik remaja.
2. Kelemahan Layanan Terintegrasi
a. Peningkatan beban kerja Mereka yang bekerja di fasilitas
kesehatan telah mempunyai tugas pokok dan fungsi masing-
masing. Sebagian besar petugas kesehatan di Puskesmas
sangat sibuk melayani pasien, sehingga hanya sedikit waktu dan
tenaga yang tersisa untuk konseling. Diperlukan kesediaan
waktu ekstra untuk konseling lebih dalam. Keterbatasan waktu

333
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

dan banyaknya pasien merupakan kendala untuk


mempertahankan layanan konseling.
b. Keterbatasan ruangan Konseling dan tes HIV membutuhkan
ruang bersifat pribadi yang orang lain tak dapat ikut mendengar
dialog dalam konseling. Bila Puskesmas terlalu kecil, maka sulit
untuk menyediakan ruang yang nyaman untuk konseling.
c. Laki-laki kurang mengakses Laki-laki biasanya tidak secara
rutin datang ke Puskesmas dan perempuan juga jarang
didampingi pasangannya ketika mengunjungi Puskesmas.
d. Keterbatasan waktu Keterbatasan waktu layanan membuat
klien yang dapat dilayani oleh konselor menjadi sedikit.
e. Kualitas konselor terbatas Dalam prakteknya dijumpai
konselor dengan ketrampilan konseling yang masih terbatas
sehingga dibutuhkan peningkatan kompetensi.

KEGIATAN LAYANAN MENETAP


Kegiatan layanan menetap dilakukan oleh sarana kesehatan dalam gedung
karena adanya kebutuhan masyarakat untuk mencari tempat layanan yang
tidak berpindah-pindah sehingga masyarakat dapat datang kapanpun sesuai
jadwal buka layanan.

Konseling dan tes HIV menetap terintegrasi dalam sarana kesehatan atau
sarana lainnya. Menetap artinya bertempat dan menjadi bagian dari
layanan kesehatan yang telah ada. Sarana kesehatan dan sarana lainnya
harus memiliki kemampuan atau terhubung dengan layanan pencegahan,
perawatan, dukungan dan pengobatan terkait dengan HIV AIDS.

334
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Contoh pengembangan pelayanan konseling dan tes HIV di sarana


kesehatan dan sarana lain yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta:
1. Rumah Sakit.
2. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
3. Klinik Keluarga Berencana (KB)
4. Klinik KIA untuk mendukung program pencegahan penularan ibu-anak
(PMTCT)
5. Klinik Infeksi Menular Seksual (IMS)
6. Klinik Tuberkulosa (TB)
7. Poliklinik/balai pengobatan lainnya

1. Kekuatan Layanan Menetap


Selain memudahkan koordinasi karena semua sarana, prasarana,
petugas dan fasilitas berada di satu tempat yang sama, layanan ini juga
menyediakan jadwal yang tetap dan berkelanjutan sehingga masyarakat
sewaktu-waktu dengan mudah dapat datang mencari layanan.

2. Kelemahan Layanan Menetap


Masyarakat yang berada jauh dari tempat layanan menetap akan sulit
mengakses secara rutin karena beberapa kendala seperti alat
transportasi, keterbatasan waktu, dan biaya. Kombinasi antara layanan
menetap dengan jadwal rutin setiap hari dan melakukan kegiatan layanan
bergerak pada waktu-waktu tertentu merupakan strategi yang sering

335
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

digunakan oleh klinik konseling dan tes HIV untuk menjangkau


masyarakat lebih luas lagi.

KEGIATAN LAYANAN BERGERAK (Mobile)


Bagi mereka yang tidak secara rutin mengunjungi fasilitas kesehatan, maka
pelayanan konseling dan tes HIV bergerak atau penjangkauan masyarakat
dapat dikembangkan. Unit konseling dan tes HIV keliling, dapat
menggunakan mobil atau in situ pada tempat dan waktu yang ditetapkan dan
disosialisasikan. Pendekatan ini digunakan untuk menjangkau masyarakat
yang sulit dijangkau dan tidak akan datang di pelayanan kesehatan formal.
Juga dapat untuk meningkatkan akses ke daerah terpencil. Salah satu
variasi model ini adalah tim konseling dan tes HIV yang dapat melayani klien
dalam waktu yang ditentukan secara tetap di Puskesmas, sekolah,
pesantren atau kelompok lainnya. Diperlukan pemberitahuan yang luas
kepada masyarakat, agar mereka dapat mengakses, kalau perlu disediakan
peta, informasi dan jadwal. Menggunakan tes cepat akan sangat membantu
karena hasil diperoleh pada hari yang sama.

1. Kekuatan Layanan Bergerak


a. Memperbaiki akses Unit Keliling mempunyai akses besar
kepada mereka yang rentan, di wilayah yang cukup luas,
kelompok berisiko, dapat dijangkau oleh petugas penjangkauan
b. Berhubungan dengan pelayanan permanen Begitu
hubungan terbangun, Unit Keliling dapat berjalan reguler
kemudian pelayanan dapat dialihkan ke fasilitas pelayanan yang
lebih komprehensif dan permanen.

336
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

2. Kelemahan Layanan Bergerak


a. Pasca tes lanjutan dan dukungan Unit Keliling hanya
memberi pelayanan konseling dan tes HIV yang terbatas jumlah
kliennya, sulit melakukan konseling dan dukungan lanjutan
kepada mereka yang membutuhkan.
b. Keberlangsungan Unit Keliling mengalami hambatan terkait
sarana dan prasarana terutama daerah terpencil
c. Rahasia Mereka yang datang ke layanan konseling dan tes
HIV biasanya mempunyai kebutuhan khusus dan sering dapat
dikenali oleh masyarakat sekitar.
d. Keterbatasan orang yang dilayani konseling dan tes HIV
Jika layanan diIakukan berpindah-pindah maka setiap kali orang
mengakses layanan maka konfidensialitas tidak terjaga

POKOK BAHASAN 2. MODEL LAYANAN KONSELING


DAN TES HIV PADA BERBAGAI TATANAN

Indonesia telah sepakat berkontribusi dalam pencapaian target universal


access, karena itu diperlukan perluasan pelayanan konseling dan tes HIV di
berbagai tatanan yang merupakan salah satu pintu masuk ke berbagai
layanan dengan mendeteksi status infeksi HIV seseorang secara dini.

337
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Layanan konseling dan tes HIV dapat dilakukan di berbagai tatanan seperti
di bawah ini :
1. Layanan konseling dan tes HIV untuk Pengungsi
2. Layanan konseling dan tes HIV untuk Pekerja Migran (TKI)
3. Layanan konseling dan tes HIV untuk Militer
4. Layanan konseling dan tes HIV untuk Anak dan Remaja Korban
Kekerasan Seksual
5. Layanan konseling dan tes HIV untuk Mereka yang Tidak Dapat
Memberikan Persetujuan karena keterbatasan Fisik dan Mental
6. Layanan konseling dan tes HIV di dalam Pengembangan Pelayanan
Klinik TB
7. Layanan konseling dan tes HIV di dalam Pengembangan Pelayanan
Klinik IMS
8. Layanan konseling dan tes HIV di Tempat Kerja (Perusahaan Swasta
atau BUMN)

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV UNTUK PENGUNGSI


Pengungsi di tempat pengungsian mempunyai risiko tertular karena transfusi
darah, perilaku seksual yang tidak aman, dan prostitusi. Konseling dan tes
HIV diberikan sesuai dengan bahasa dan budaya kelompok sasaran. Orang
yang tinggal dan beraktivitas di daerah pengungsian dapat berisiko tertular
HIV.

Sepuluh (10) butir kunci United Nations High Commission on Refugees


(UNHCR) tentang HIV AIDS :

338
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Pengungsi (internasional maupun domestik) dan orang lainnya yang


menjadi keprihatinan UNHCR yang terinfeksi HIV berhak hidup
bermartabat, bebas dari segala stigma dan diskriminasi.
2. Pengungsi (internasional maupun domestik) dan orang lainnya yang
menjadi keprihatinan UNHCR mempunyai hak untuk mengakses
pelayanan HIV AIDS.
3. Terinfeksi HIV tidak akan menghambat akses untuk mengikuti
prosedur pencarian suaka bagi pengungsi dan tidak bisa dijadikan
dasar pengusiran warga negara keluar dari negaranya maupun
penolakan pengungsi yang memutuskan kembali ke negara asalnya.
4. Penahanan dan pencekalan orang yang terinfeksi HIV adalah
pelanggaran hak atas kebebasan bergerak/berpindah dan keamanan
individu.
5. UNHCR dan juga negara-negara di dunia bisa menghargai privasi dan
menjamin konfidensialitas orang terinfeksi HIV dan juga yang tidak
terinfeksi.
6. UNHCR mendukung pengadaan layanan konseling dan tes HIV
berkualitas bagi semua orang, termasuk pengungsi di negara atau
tempat mereka berada atau ditempatkan.
7. UNHCR menentang tes HIV mandatori bagi pencari suaka, pengungsi
dan orang yang menjadi keprihatinan UNHCR karena tes HIV
mandatori tidak mencegah terjadinya penularan HIV.
8. Upaya mencapai jalan keluar atas permasalahan yang berlarut-larut,
jangan terancam oleh karena status HIV pengungsi atau keluarganya
walaupun ada beberapa negara ketiga yang mempunyai persyaratan
tertentu terkait status HIV dalam penempatan pengungsi

339
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

9. UNHCR menghimbau agar adanya perlindugan atas kebutuhan


perempuan dan anak terkait HIV karena mempunyai dampak atas
kesejahteraan mereka mengingat masih kuatnya ketidak seimbangan
dan kesetaraan jender, kekerasan dan eksploitasi terhadap mereka
10. Negara-negara di dunia dan UNHCR menjamin tersedia dan
tersebarnya informasi yang benar tentang HIV, termasuk kesehatan
reproduksi yang dapat diakses oleh pengungsi

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV UNTUK PEKERJA MIGRAN


Kelompok migran, khususnya TKI (Tenaga Kerja Indonesia), mempunyai
risiko besar untuk tertular HIV dan IMS karena menjadi pekerja seks, tidak
mengerti pesan seks yang aman karena perbedaan bahasa, kurangnya
pelayanan kesehatan yang menyentuh mereka, dan status hukum yang
tidak legal sehingga mereka menjadi obyek pemerasan. Layanan konseling
dan tes diberikan sesuai dengan budaya kelompok migran yang disasar,
dalam bahasa yang mereka mengerti dan sesuai dengan kebutuhan
mereka. Sebaiknya dilatih seorang di antara kaum migran untuk
memberikan konseling dan testing sukarela karena orang itu akan lebih
dipercaya oleh kelompok migran itu, terutama karena kaum migran sering
dianggap sebagai orang asing.

Hampir di semua negara penempatan TKI mensyaratkan bahwa calon TKI


yang akan bekerja harus bebas dari HIV. Sarana kesehatan yang melakukan
skrining wajib menjalankan pemeriksaan medical check up kepada calon
TKI. Untuk melaksanakan pemeriksaan kesehatan calon TKI, sarana

340
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

kesehatan harus mendapatkan ijin penetapan sebagai Sarana Pelayanan


Pemeriksa Kesehatan Calon TKI dari Menteri Kesehatan.

Belum semua sarana pelayanan kesehatan TKI memiliki Layanan konseling


dan testing HIV bagi Calon TKI. Ketika mendapati calon TKI dengan hasil
tes reaktif maka yang bersangkutan perlu mendapatkan rujukan ke sarana
kesehatan yang telah memiliki Layanan konseling dan testing HIV dan akses
pada penanganan berkelanjutan. Calon TKI yang diketahui terinfeksi HIV
pada saat medical check up dinyatakan unfit.

Jika ditemukan TKI purna penempatan yang menunjukkan tanda atau gejala
terkait infeksi HIV di poliklinik bandara dan kantor kesehatan pelabuhan
maka poliklinik bandara (BNP2TKI-Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) bersama dengan Kantor Kesehatan
Pelabuhan wajib melakukan rujukan ke Layanan konseling dan testing HIV.
Rujukkan disertai surat tembusan ke Dinas Kesehatan dan BP3TKI (Balai
Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) di 21
Propinsi di daerah tinggal TKI tersebut untuk dilakukan penanganan sesuai
program.

Model Layanan konseling dan tes HIV untuk TKI mengikuti Pedoman
pelayanan konseling dan tes HIV berdasarkan keputusan SK MENKES RI
No 029/ MENKES/SK/I/2008, yaitu:

1) Mekanisme/Alur Pelayanan Terpadu Pelayanan Poliklinik Dan


Pelayanan Pendampingan Psikologis:

341
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Setiap Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri yang kembali ke
Indonesia dengan menggunakan pesawat, akan diarahkan menuju
Gedung Pendataan Kedatangan (GPK) Selapajang BNP2TKI untuk
dilakukan pendataan. Data yang diambil meliputi identitas TKI : Nama,
Usia, Asal daerah, Negara tempat bekerja, Nomor Paspor dan Nama PT
yang mengirimnya.

Dalam proses pendataan TKI akan dikelompokkan menjadi TKI sehat dan
atau tidak bermasalah dan TKI sakit dan atau bermasalah. TKI yang
sehat dan atau tidak bermasalah, selanjutnya menjalani alur pelayanan
kepulangan ke daerah masing-masing.

Bagi TKI yang sakit langsung dibawa ke Kantor Kesehatan Pelabuhan


(KKP). Petugas KKP akan menghubungi pihak poliklinik Gedung
Pendataan Kepulangan (GPK) Selapajang untuk datang ke KKP agar
menangani TKI tersebut dan segera merujuk pasien tersebut ke
pelayanan poliklinik.

2) Pelayanan Poliklinik

Disediakan fasilitas pelayanan kesehatan pemeriksaan fisik, psikologis


dan bila membutuhkan rawatan lebih lanjut dirujuk ke RS Bhayangkara
tingkat I RS Soekanto.

3) TKI bermasalah

342
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

TKI bermasalah dikategorikan berdasarkan kebutuhan akan


pendampingan psikologis. TKI yang tidak memerlukan pendampingan
psikologis dapat langsung datang ke bagian pengaduan.

TKI yang memerlukan pendampingan psikologis akan diarahkan oleh


petugas bagian pengaduan atau mendatangi Poli Pendampingan
Psikologis. Petugas Poli Pendampingan Psikologis akan mencatat data-
data TKI seperti Nama, Usia, Asal daerah, Negara tempat bekerja, Nomor
Paspor dan Nama PT yang mengirim. Setelah itu, petugas akan
melakukan tugas pendampingan dan mempertimbangkan perlu atau
tidak dirujuk ke Poliklinik, kemudian melanjutkan proses ke bagian
pengaduan untuk melaporkan permasalahan yang ada

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV UNTUK MILITER

Militer mempunyai risiko tinggi tertular IMS karena bidang pekerjaannya


yang menuntut mobilitas tinggi, jauh dari pasangan, dan melakukan seks
yang tidak aman. konseling dan tes HIV untuk militer dapat ditawarkan di
sarana kesehatan yang dikembangkan oleh militer maupun sarana
kesehatan lainnya. Konseling dan tes HIV dapat ditawarkan sebelum dan
sesudah militer bertugas di medan perang, daerah konflik, ataupun daerah
rawan terkait. Strategi yang penting untuk mendukung konseling dan tes HIV
di militer adalah kebijakan negara dalam hal pencegahan, perawatan, dan
dukungan setelah pelayanan konseling dan tes HIV. Konselor untuk militer
dapat berasal dari luar militer atau konselor terlatih dari kalangan militer.

343
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

TNI dalam kehidupan sehari-hari dituntut untuk selalu siap ditugaskan setiap
saat di setiap tempat. Untuk itu dibutuhkan status kesehatan anggota TNI
yang prima untuk mendukung pencapaian tugas pokoknya. Adanya IMS
(infeksi menular seksual) termasuk HIV dapat menurunkan status
kesehatannya dan lebih jauh dapat mempengaruhi kesiapannya dalam
menjaga tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

TNI tergolong dalam kelompok yang rawan tertular IMS termasuk HIV. Hal
tersebut karena mobilitasnya yang tinggi, sering jauh dari pasangan,
umumnya muda usia dan tergolong dalam kelompok yang aktif secara
seksual. Untuk membatasi penularan HIV di lingkungan TNI, dilakukan
berbagai upaya penanggulangan, salah satunya melalui Layanan konseling
dan tes HIV yang tersebar di beberapa fasilitas kesehatan TNI di seluruh
Indonesia.

Layanan konseling dan tes HIV di lingkungan TNI dilaksanakan dengan


berbagai sasaran, mulai dari pemeriksaan untuk calon anggota, anggota
aktif, dan keluarganya. Tujuan pemeriksaan juga bermacam-macam, seperti
untuk kepentingan pengadaan anggota TNI, pra dan pasca penugasan,
persyaratan pendidikan, persyaratan nikah, dan lain-lain.
Model Layanan konseling dan tes HIV di institusi TNI menggunakan
beberapa pendekatan, meliputi KTS, Tes Wajib/ Mandatory Testing and
Counseling (MTC), PITC dan PMTCT
1. Konseling dan Tes HIV Sukarela, KTS (VCT)

344
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

KTS/VCT di TNI tetap mengacu pada pedoman KTS nasional.


Konseling dilakukan oleh konselor terlatih bersertifikat di ruangan
yang telah dipersiapkan sesuai dengan pedoman KTS berdasarkan
keputusan SK MENKES RI No 1507 tahun 2005. Model layanan ini
dilaksanakan bagi seluruh anggota TNI dan keluarganya yang ingin
mengetahui status HIVnya. Disertai konseling pra tes dan post tes
dengan tetap berprinsip pada 3C: counseling, informed consent,
confidensial.
Bagi anggota TNI yang diperiksa dengan hasil non reaktif tapi
disertai dengan faktor risiko maka perlu diulangi 3 bulan kemudian,
bila tidak ada faktor risiko maka konseling tersebut dilakukan untuk
mempertahankan statusnya tetap HIV (-), apabila hasilnya reaktif,
maka segera dilakukan tindakan selanjutnya, sesuai dengan
ketentuan atau merujuk ke tingkat yang lebih tinggi.
2. Tes Wajib/ Mandatori

Tes ini diberlakukan pada anggota TNI yang melaksanakan:


a. Pra Tugas Operasi

Pelaksanaan pemeriksaan HIV dilakukan bersamaan dengan


pemeriksaan kesehatan yang lain dengan didahului edukasi
kelompok. Apabila hasil test non reaktif, proses selanjutnya
sesuai dengan program keberangkatan. Namun, apabila
menunjukkan hasil reaktif, anggota yang bersangkutan
dinyatakan unfit dan tidak diijinkan melaksanakan tugas operasi.
Segera dilakukan tindak lebih lanjut dan merujuk ke fasilitas
kesehatan yang ditunjuk.

345
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

b. Purna Tugas Operasi

Pemeriksaan terpusat dilakukan saat anggota TNI tersebut baru


datang/ kembali dari penugasan. Bila hasilnya reaktif, maka
segera dilakukan tindakan selanjutnya, sesuai dengan ketentuan
atau merujuk ke tingkat yang lebih tinggi. Bila hasilnya non
reaktif, pemeriksaan akan diulang setelah 3 bulan. Bila hasilnya
berubah menjadi reaktif, maka segera dilakukan tindakan
selanjutnya, sesuai dengan ketentuan atau merujuk ke tingkat
yang lebih tinggi. Bila hasilnya tetap non reaktif, maka diulang 3
bulan lagi (atau 6 bulan pasca kedatangan dari Purna Tugas
Operasi). Pemeriksaan ulang tersebut dilakukan di fasilitas
kesehatan setempat (satuan asal anggota TNI tersebut) oleh
petugas kesehatan yang kompeten
c. Seleksi Pendidikan Pengembangan Umum (Dikbangum) TNI

Pelaksanaan pemeriksaan HIV dilakukan bersamaan dengan


pemeriksaan kesehatan yang lain sesuai prosedur seleksi
pendidikan. Jika hasil test reaktif, maka yang bersangkutan
dinyatakan unfit serta segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang
ditunjuk. Jika hasil test non reaktif, maka prosedur selanjutnya
akan sesuai dengan program Dikbangum.
d. Pranikah bagi anggota TNI dan calon pasangannya

Pemeriksaan kesehatan pra nikah pada anggota TNI dan calon


pasangannya telah biasa dilakukan dan merupakan syarat
pengajuan permohonan menikah. Pelaksanaan pemeriksaan

346
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

HIV ini dilaksanakan bersamaan dengan pemeriksaan


kesehatan yang lainnya. Jika salah satu ternyata menunjukkan
hasil reaktif akan dilakukan konseling pranikah pasangan.
Keputusan untuk tetap menikah atau tidak diserahkan kepada
pasangan tersebut. Surat ijin menikah dari atasan atau
komandan baru dikeluarkan setelah pasangan tersebut
menjalani konseling pranikah pasangan
e. Seleksi calon anggota TNI

Prosedur tes wajib/ mandatori dengan menggunakan strategi


satu (satu kali tes) bagi calon anggota TNI berdasar sebagai
berikut:
1). Pemeriksaan kesehatan dilakukan bersama dengan
pemeriksaan kesehatan lainnya. Jika terdeteksi adanya HIV
reaktif secara laboratorium maka yang bersangkutan dinyatakan
unfit dan tidak memenuhi syarat sebagai calon anggota TNI.
2). Hasil tidak diinformasikan kepada yang bersangkutan dan
keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat
f. Pemeriksaan HIV atas dasar kepentingan dinas

Demi kesiapan anggota untuk dapat bertugas dengan baik,


maka atas perintah dinas dapat mengadakan skrining dengan
menggunakan strategi satu. Pemeriksaan dilakukan dengan
cara pemberian informasi secara bersamaan terlebih dahulu,
dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah. Bila ditemukan
hasil reaktif, yang bersangkutan dirujuk ke klinik KTS dan
mengikuti prosedur sesuai yang berlaku di klinik KTS tersebut

347
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV UNTUK ANAK DAN REMAJA


KORBAN KEKERASAN SEKSUAL

Pada setiap tahap konseling, hak anak perlu diamati . Konselor melakukan
konseling berfokus pada anak dan remaja korban kekerasan. Kadang-
kadang anak dan remaja perlu mendapat pendampingan pihak hukum.
Dalam hal ini para petugas kesehatan perlu mendapatkan ketrampilan
konseling anak dan remaja. Dalam melaksanakan pelatihan konseling untuk
anak dan remaja, ajaklah juga mendiskusikan sisi hukum dan hak anak dan
remaja. Jika anak menjadi korban kekerasan, konselor perlu merujuk
kepada ahlinya. Konselor harus tetap memberikan dukungan pada anak,
remaja, dan keluarga atau pengampunya.

Sebagian besar peraturan hukum dibanyak negara mengatakan bahwa


setiap anak memerlukan persetujuan orang tua dalam melakukan tindakan
medik, atau pernyataan persetujuan hanya dilakukan dengan
pendampingan orangtua. Pernyataan hukum ini juga berlaku bagi tes HIV
yang ditawarkan kepada remaja. Dalam melaksanakan tes HIV, pastikan
kerahasiaan medik merupakan hal amat penting dan hak untuk tetap
menjaga kerahasiaan sesuai dengan UN Convention on the Rights of the
Child. Pertimbangan hukum lainnya untuk konseling dan tes HIV bagi anak
dan remaja termasuk wajib pada kejadian kekerasan seksual (status
perkosaan) dan mereka yang dipekerjakan sebagai pekerja seks.

348
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Masalah psikososial pada anak dan remaja yang dapat mempengaruhi


pelayanan konseling dan Tes HIV, antara lain:
1. Keyakinan akan persepsi bahwa mereka tidak akan tertular atau
tidak akan berisiko
2. Minimnya kemampuan negosiasi seks aman
3. Kesulitan mengungkapkan status pada orangtua, pasangan,
teman dan lain-lain
4. Disalahgunakan oleh petugas kesehatan
5. Tugas normal dari masa anak-anak dan masa remaja
6. Besarnya pengaruh kawan sebaya
7. Kesadaran akan citra diri

Beberapa pertimbangan untuk menyampaikannya:


1. Kematangan dan kesehatan anak dan remaja.
2. Jika anak dan remaja masih sangat muda, mereka tak tahu akan
arti stigma dan diskriminasi yang disebabkan oleh HIV AIDS.
3. Keadaan sebenarnya akan tidak terlalu menakutkan dari pada jika
tidak tahu sama sekali. Kadang-kadang jika anak tidak diberitahu,
dia akan senantiasa menduga-duga ketika orang diseputarnya
membicarakan dirinya atau memperlakukannya dengan cara
yang berbeda dari pada anak lain di rumah. Anak akan
mempunyai mekanisme diri untuk menghadapi kabar yang rumit
dan pemberitahuan yang tidak benar. Menghindar dari
pemberitahuan status HIV anak dalam keluarga akan mudah bagi
orangtua untuk menghadapi, tetapi akan membangkitkan

349
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

pelbagai perasaan seperti cemas, bersalah, dan marah pada


anak. Jika anak tidak dapat membicarakan ketakutannya, akan
berakibat lebih menimbulkan masalah.
4. Jika anak telah remaja atau berumur sekitar 13-18 tahun, ketika
ia secara seksual sudah aktif, mereka memerlukan pengetahuan
dan keterampilan untuk bertanggung jawab akan seks aman.

Ketika menyampaikan informasi kepada anak dan remaja:


1. Gunakan bahasa dan konsep yang sesuai dengan pemahaman
sesuai usia.
2. Pertama tanyakan apa yang mereka pikirkan dan diskusikan apa
yang mereka ketahui tentang HIV AIDS.
3. Gunakan kata-kata dan gambar untuk menjelaskannya
4. Bicarakan langsung dan gunakan bahasa yang mereka pahami.
5. Tanyakan apakah masih ada hal-hal yang belum jelas atau
belum dimengerti, atau mereka ingin mengajukan pertanyaan
6. Minta mereka menggambarkan tentang diri dan perasaannya,
melalui kegiatan menggambar. Gambar akan membantu terapis
untuk memperoleh kerangka pikir dan reaksi mereka. Bicarakan
perasaan anak kepada keluarga, sehingga keluarga dapat
mendukung dan memahami apa yang terjadi. Banyak yang dapat
kita pelajari dari anak dan remaja dengan mendengarkan
ceritanya dan melihat hasil gambar mereka.

350
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV UNTUK MEREKA YANG


TIDAK DAPAT MEMBERIKAN PERSETUJUAN KARENA
KETERBATASAN FISIK DAN MENTAL

Orang yang mempunyai keterbatasan kemampuan dalam menerima


informasi, seperti mereka yang buta, bisu, tuli, dan retardasi mental tidak
dapat memberikan persetujuan untuk dilakukan tes. Gangguan penglihatan,
pendengaran, bicara dan kognisi akan sulit dikonseling oleh konselor atau
sulit untuk sepenuhnya membaca tulisan tentang persetujuan pemeriksaan.
Mereka yang retardasi mental dan gangguan jiwa berat memerlukan
persetujuan orangtua atau pengampu.

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV DI DALAM


PENGEMBANGAN LAYANAN KLINIK TB
TB merupakan infeksi oportunistik pada Odha, diperkirakan sekitar 50-75%
Odha di Indonesia menderita TB dalam hidupnya.
Dampak TB pada HIV:
1. Infeksi TB dengan HIV mempercepat kondisi buruk pada diri
seseorang dan menurunkan angka harapan hidup pasien dengan
infeksi HIV.
2. TB penyebab kematian 1 dari 3 orang AIDS di dunia.

DOTS (Directly Observed Treatment, Short Course ) merupakan inti


program pengendalian TB. DOTS merupakan strategi yang
direkomendasikan oleh WHO dan mencapai angka kesembuhan 85% dan

351
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

70% deteksi kasus infeksi baru TB. Pengalama secara langsung


memastikan klien mendapatkan obat tepat, tepat interval, dan tepat dosis.

Elemen DOTS:
1. Komitmen politik
2. Pemeriksaan mikroskopik sputum berkualitas baik
3. Kualitas obat yang baik dapat terus dijangkau secara
berkesinambungan.
4. Terapi diawasi langsung
5. Monitor dan akuntabilitas DOTS
6. Pengobatan untuk TB.

DOTS dikelola pemerintah dan terdapat di fasilitas kesehatan pemerintah


dan beberapa fasilitas kesehatan swasta. TB dapat diobati sama efektifnya
untuk orang dengan HIV dan dengan mereka yang tidak dengan HIV.
Memberikan terapi TB pada ODHA akan memperbaiki kualitas hidup dan
mencegah penularan TB lebih luas kepada orang di sekitarnya termasuk
keluarga. Hubungan antara konseling dan tes dan tempat pemeriksaan TB
mikroskopik, harus mempunyai hubungan rujukan dengan pemeriksaan TB
atau pusat DOTS. Jaga kerahasiaan catatan medik klien yang dirujuk oleh
Layanan konseling dan testing untuk keperluan diagnosis TB dan hasilnya.
LAYANAN KONSELING DAN TES HIV DI DALAM
PENGEMBANGAN LAYANAN KLINIK IMS
Infeksi Menular Seksual (IMS) berhubungan secara epidemiologik maupun
perilaku dengan HIV. Perilaku seksual berisiko akan menyebarkan kedua

352
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

macam infeksi ini. IMS dalam sebagian besar kasus terutama yang
membuat ulkus pada genital dan discharge, dilaporkan meningkatkan HIV.
Sexually transmitted infections (STI) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan
sebagai Infeksi Menular Seksual (IMS) di negara berkembang merupakan
masalah besar dalam bidang kesehatan masyarakat. Di Asia Tenggara
terdapat hampir 50 juta IMS setiap tahun. Insiden IMS yang dapat diobati di
kawasan ini bervariasi antara 7 - 9 kasus per 100 perempuan usia produktif.
Penanganan secara kesehatan masyarakat telah dilakukan sejak belum
adanya penularan HIV.

IMS dapat menyebabkan individu menjadi rentan terhadap infeksi HIV. IMS
dalam populasi merupakan faktor utama pendorong terjadinya pandemi HIV
di negara berkembang. Proporsi infeksi baru HIV dalam populasi IMS, lebih
tinggi pada awal dan pertengahan epidemi HIV. Pengendalian dan
pencegahan IMS merupakan prioritas strategi untuk menurunkan penularan
HIV. IMS dapat diobati di semua fasilitas kesehatan sampai tingkat
kecamatan, bahkan di beberapa kelurahan dan di wilayah aktivitas pekerja
seks terdapat klinik IMS. Terapi IMS dapat dijadikan sarana untuk
memberikan edukasi secara individual akan risiko HIV. Akan sangat terbantu
jika pada klinik IMS tersebut para petugas kesehatannya mampu
menjalankan konseling dan tes HIV, atau setidaknya mampu merujuk ke
klinik konseling dan tes HIV bagi pasien IMS. Idealnya kedua hal itu dapat
dijalankan secara seiring pada lokasi yang sama dengan sistim opt-out
service (layanan yang menawarkan konseling dan tes HIV secara rutin
namun tidak dilakukan testing HIV jika menolak atau tidak menyetujui).

353
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Sebalik jika klien konseling dan tes HIV memiliki gejala IMS dapat dirujuk ke
pelayanan IMS untuk mendapatkan pengobatan.

LAYANAN KONSELING DAN TES HIV DI TEMPAT KERJA


(Perusahaan Swasta dan BUMN)
Model Layanan konseling dan tes HIV di tempat kerja diselaraskan dengan
ketentuan sebagaimana diatur dalam Kepmennakertrans No. Kep.
68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di
tempat kerja. Pedoman pelayanan konseling dan tes HIV AIDS yang
digunakan dalam layanan konseling dan testing di tempat kerja mengacu
kepada pedoman yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan
berdasarkan SK MENKES RI No 1507 tahun 2005.
Pelaksanaan layanan konseling dan tes di tempat kerja sangat dipengaruhi
oleh fasilitas dan sumber daya yang tersedia di masing-masing tempat kerja.
Terdapat 24 tempat kerja telah mempunyai layanan konseling untuk tes.
Pada tempat kerja yang telah memiliki fasilitas Layanan konseling dan
konselor terlatih, Layanan konseling dilakukan di fasilitas tersebut.
Pelayanan bersifat sukarela dan menggunakan prinsip 3C: Counseling,
Informed Consent, dan Confidensial. Tes HIV tidak boleh dilakukan sebagai
syarat rekrutmen dan promosi pekerja.

1. Konseling dan tes HIV secara sukarela (KTS)


Pelayanan konseling dan testing yang dilakukan di tempat kerja masih
bersifat Layanan konseling pra test. Sedangkan testing dilakukan pada
layanan kesehatan rujukan.

354
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Pendekatan kepada pekerja/buruh (terutama jika tempat kerja tersebut


memiliki risiko penularan HIV yang tinggi) dilakukan melalui KIE yang
disampaikan dengan berbagai cara dan media, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Petugas penyuluh baik konselor maupun
petugas terlatih HIV AIDS lainnya akan menginformasikan hal-hal terkait
dengan manfaat tes HIV sejak dini. Pekerja/buruh yang berminat untuk
melakukan konseling akan mendatangi klinik KTS di tempat kerja.

Konseling dilakukan oleh konselor terlatih di ruangan yang telah


dipersiapkan sesuai dengan pedoman KTS. Setelah menjalani konseling
pra tes, pekerja buruh dirujuk ke layanan konseling dan tes HIV rujukan
untuk melakukan testing HIV, sedangkan konseling pasca tes dapat
dilakukan di tempat kerja atau pada layanan konseling dan tes HIV
rujukan, apabila pekerja menghendakinya dengan sepengetahuan
konselor di tempat kerja.

2. PITC (Konseling dan Tes HIV atas inisiatif petugas kesehatan)


Tempat kerja yang telah memiliki Pelayanan Kesehatan Kerja berupa
Rumah Sakit, Layanan konseling dan tes HIV dapat disesuaikan dengan
model layanan konseling dan tes di sarana kesehatan. Pendekatan
kepada pasien/klien dapat dilakukan melalui KTS maupun PITC.

355
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

MATERI INTI 6

356
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PENGEMBANGAN SISTEM RUJUKAN


DAN JEJARING

I. PENDAHULUAN
Rujukan merupakan proses ketika petugas kesehatan atau pekerja
masyarakat melakukan penilaian bahwa klien mereka memerlukan
pelayanan tambahan lainnya. Rujukan merupakan alat penting guna
memastikan terpenuhinya pelayanan berkelanjutan yang dibutuhkan klien
untuk mengatasi keluhan fisik, psikologik dan sosial. Konsep pelayanan
berkelanjutan menekankan perlunya pemenuhan kebutuhan pada setiap
tahap penyakit infeksi, yang seharusnya dapat diakses disetiap tingkat dari
pelayanan konseling dan tes HIV guna memenuhi kebutuhan yang
perawatan kesehatan berkelanjutan (Puskesmas, pelayanan kesehatan
sekunder dan tersier) dan pelayanan sosial berbasis masyarakat dan rumah.
Layanan konseling dan tes HIV bekerja dengan membangun hubungan
antara masyarakat dan rujukan yang sesuai dengan kebutuhannya, serta
memastikan rujukan dari masyarakat ke pusat konseling dan tes HIV,
sehingga terdapat dua basis pelayanan. Contoh, ketika klien didiagnosis dan
berada dalam stadium dini, mereka akan beruntung jika dirujuk pada
kelompok sebaya dan sosial untuk mendapat dukungan. Ketika mereka
berada dalam stadium lanjut dengan infeksi dan infeksi oportunistik, maka
mereka perlu dirujuk pada pelayanan rujukan medik tersier. Rujukan yang
tepat dimaksud untuk memastikan penggunaan pelayanan kesehatan yang
efisien dan untuk meminimalisasi biaya.

357
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu:
1. Mengembangkan sistem jejaring di wilayah
2. Melakukan rujukan di wilayah

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Pokok Bahasan I Pembangunan Sistim Rujukan dan Jejaring di
Wilayah
2. Pokok Bahasan II Pengembangan Sistim rujukkan dan Jejaring di

Wilayah

POKOK BAHASAN 1 : PEMBANGUNAN SISTIM


RUJUKKAN DAN JEJARING DI WILAYAH

SISTEM RUJUKAN
Melakukan rujukan dalam konseling dan tes HIV adalah penting mengingat
uniknya setiap klien dengan berbagai permasalahan dan kebutuhan yang
berbeda-beda dan tidak tersedianya berbagai layanan pada pusat konseling
dan tes HIV. Melakukan rujukan dalam sistem pelayanan kesehatan
bukanlah hal yang luar biasa. Rujukan merupakan proses ketika petugas
kesehatan atau staf klinik melakukan penilaian bahwa klien mereka
memerlukan layanan tambahan lainnya. Rujukan merupakan alat penting

358
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

guna memastikan terpenuhinya layanan berkelanjutan yang dibutuhkan


klien untuk mengatasi keluhan fisik, psikologik dan sosial.
Konsep layanan berkelanjutan menekankan perlunya pemenuhan
kebutuhan pada setiap tahap penyakit infeksi, yang seharusnya dapat
diakses di setiap tingkat dari layanan konseling dan tes HIV guna memenuhi
kebutuhan terkait perawatan kesehatan berkelanjutan (Puskesmas, layanan
kesehatan sekunder dan tersier) dan layanan sosial berbasis masyarakat
dan rumah. Klien yang menerima hasil tes HIV Reaktif perlu dirujuk untuk
memperoleh berbagai layanan, misalnya berikut ini:
1) Dukungan sosial,
2) Layanan spesialis,
3) Layanan berbasis rumah (home care)
4) Dukungan pendampingan untuk Pencegahan Positif
5) Dukungan akses terkait dengan bantuan ekonomi

RUJUKKAN BERDASARKAN KEBUTUHAN KLIEN


Melakukan rujukan yang efektif tidak saja merujuk orang akan tetapi
mencakup isu sebagai berikut:
1. Apakah rujukan tersebut sesuai dengan kebutuhan orang yang
dirujuk?
2. Apakah petugas yang memberi rujukan yakin bahwa orang yang
dirujuk sungguh memanfaatkan layanan rujukan yang ditawarkan?
3. Apakah pembuat rujukan terlebih dahulu menjelaskan kepada pasien
atau klien mengapa harus dirujuk?
4. apakah ada permohonan persetujuan dari pasie untuk dirujuk?

359
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

5. apakah pusat atau tempat rujukan yang dipakai dapat menjamin


konfidensialitas orang yang akan dirujuk serta mempunyai reputasi
yang baik dalam bidangnya juga tidak dibahas?

Rujukan yang efektif jika Konselor merujuk klien sesuai kebutuhan, perlu
diinformasikan tentang pelayanan rujukan, bahwa klien dalam proses
dirujuk, status klien bergeser dari anonimitas ke konfidensialitas. Ini
disebabkan karena beberapa pelayanan mencatat nama dan setiap
organisasi mempunyai pedomannya sendiri-sendiri. Dengan pemberian
informasi yang jelas, diharapkan klien memahami dengan benar kemana ia
harus datang untuk mendapat konseling dukungan lanjutan.
Guna membantu proses fasilitasi dan membantu klien dalam masa transisi
ke pelayanan perawatan dan dukungan, maka konselor diharapkan
menghubungi lebih dahulu tempat yang akan dituju klien dan memberitahu
bahwa klien akan dirujuk dan jadualkan perjanjian pertemuan klien. Rujukan
formulir harus dilengkapi oleh konselor dan melepaskan informasi rahasia
tercatat dalam catatan medik lengkap yang diisi konselor. Konselor meminta
klien untuk segera mau dirujuk sesuai dengan kenyamanannya dan dapat
menelpon konselor jika ada pertanyaan. Dapatkan persetujuan resmi untuk
hal ini seperti misalnya menandatangani surat Release of information atau
informed consent.
Konselor perlu menekankan bahwa pelayanan rujukan tetap bersifat
rahasia. Kalau pelayanan rujukan tidak menghargai kerahasiaan akan
menimbulkan dampak negatif dalam pelayanan konseling dan tes HIV.
Periksa apakah pasien atau klien sungguh-sungguh memanfaatkan rujukan
yang ditawarkan dan diskusikan apakah layanan tersebut memang cocok

360
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

dan bermanfaat. Bila pasien atau klien tidak meneruskan memanfaatkan


layanan tersebut bahas apa yang membuat dia memutuskan demikian dan
bahas pilihan rujukan lainnya dan lakukan kembali prosedur merujuk.

PRINSIP DASAR DALAM MELAKUKAN RUJUKAN


Tujuan melakukan rujukan adalah untuk membantu pasien atau klien dalam
upaya menuntaskan permasalahan yang dihadapinya

Dalam membuat rujukan ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan.


Prinsip-prinsip tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Client-centered, maksudnya rujukan dibuat berdasarkan situasi dan
kondisi permasalahan dan kebutuhan klien dan bukan kepentingan
pembuat rujukan
2. Informed consent, maksudnya rujukan dibuat setelah ada penjelasan
mengapa pasien atau klien harus dirujuk, apa dampak dari rujukan
tersebut serta konsekuensi bila tidak dilakukan rujukan kemudian
mendapatkan persetujuan dari pasien atau klien baik secara tertulis
maupun lisan.
3. Confidentiality, maksudnya dalam membuat rujukan dibahas bahwa
kemungkinan besar ada sebagian dari data pasien atau klien terpaksa
harus dibuka ke pihak lain demi penanganan selanjutnya. Kepada pasien
atau klien dijelaskan bahwa data pasien yang akan dibuka hanyalah data
yang berhubungan dengan kepentingan dan kebutuhan penanganan
selanjutnya sedangkan data lainnya tidak akan dibuka. Misalnya pada
contoh kasus di atas bagian bedah tidak perlu mengetahui apa yang

361
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

membuat pasien mendapatkan kondiloma (misalnya karena perilaku


seksual yang sering berhubungan seks dengan Pekerja Seks)

MERUJUK DAN MEMBANGUN JEJARING


Sebelum melakukan rujukan alangkah baiknya pembuat rujukan mempunyai
suatu daftar dari tempat-tempat rujukan berikut ini beberapa hal yang perlu
dipersiapkan dalam menyusun daftar rujukan:
a. Mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang layanan-layanan
yang akan menjadi rujukan kita. Informasi yang dibutuhkan meliputi
antara lain:
nama lembaga layanan,
alamat (bila mempunyai lebih dari satu tempat layanan, daftarkan
semuanya)
no telpon, fax atau e-mail,
jenis layanan yang disediakan,
jam layanan,
biaya untuk memperoleh layanan (apakah ada rentangan biaya dari
yang paling murah sampai paling mahal, atau apakah ada layanan
yang cuma-cuma, apakah bersedia menerima kartu \sehat, dsb)
tenaga profesional yang tersedia seperti misalnya pekerja sosial,
perawat, dokter, psikolog dan lainnya.
Reputasi para pemberi pelayanan rujukan tersebut,
prosedur untuk mendapatkan layanan tersebut.
Kredibilitas dan kompetensi layanan tersebut

362
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

b. Pengelompokan layanan berdasarkan wilayah, jenis, biaya pelayanan


dan sebagainya
c. Daftar rujukan perlu rutin diperbaharui dengan menghubungi tempat-
tempat rujukan untuk mendapatkan informasi terkini dari rujukan
tersebut.
d. Menilai Keberadaan Layanan Rujukan
Sebelum memasukkan suatu layanan rujukan ke dalam daftar rujukan
alangkah baiknya bila dilakukan suatu survey kecil tentang
keberadaan layanan tersebut seperti misalnya memeriksa apakah
layanan tersebut masih tersedia, alamat, nomor telpon atau e-mail
masih sama, jenis layanan dan lainnya.
e. Melakukan kunjungan langsung ke tempat layanan. Mengunjungi
tempat layanan dan mewawancarai pihak-pihak yang memberi
layanan akan memperkaya informasi kita, terutama informasi yang
tidak tercetak atau diumumkan ke publik seperti misalnya keramahan
para pemberi layanan, ciri-ciri fisik pemberi layanan, kenyamanan dan
suasana tempat layanan dan sebagainya. Informasi tidak tertulis ini
sangat bermanfaat saat menggambarkan kondisi yang lebih lengkap
tentang layanan kepada orang lain.
f. Pada saat kunjungan tanyakan kepada pemberi layanan apakah
tersedia sejumlah materi promosi layanan, seperti brosur. Poster, kartu
nama dan sebagainya yang dapat diperoleh secara cuma-cuma untuk
diperlihatkan kepada orang yang akan memanfaatkan rujukan.
g. Menyediakan Kartu Rujukan
Lembaga-lembaga tertentu membutuhkan surat rujukan atau surat
keterangan (misalnya bisa berupa kartu rujukan). Bahas dengan

363
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

pasien atau klien informasi apa saja yang tercantum dalam surat
rujukan tersebut. Beberapa rekam medis kemungkinan dibutuhkan
untuk memudahkan lanjutan pelayanan berikutnya.

Contoh buku rujukan (directory)


Buku rujukan yang dimiliki oleh tiap-tiap organisasi dapat mengikuti format
berikut ini :

Jenis lembaga:
Nama Lembaga:
Nara-hubung :
Layanan-Layanan yang 1. Gratis :
tersedia :
2. Bayar :

Alamat:
Jam Buka:
Nomor Telepon:
Email:
Prosedur dan Alur Layanan : Mendaftar terlebih dahulu ke
Loket/Meja Registrasi

POKOK BAHASAN 2. MENGEMBANGKAN SISTEM


RUJUKAN DAN JEJARING

PERLUNYA MEMASARKAN LAYANAN

364
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Berbagai jenis layanan HIV AIDS saat ini seperti misalnya konseling dan tes
HIV, dukungan Odha, perubahan perilaku pengguna NAPZA, pengobatan
ARV dan lainnya tentu tidak akan berfungsi bila kelompok-kelompok khusus
dan masyarakat luas tidak memanfaatkan layanan-layanan tersebut. Namun
yang paling penting adalah apakah masyarakat tahu keberadaan layanan
HIV AIDS, termasuk konseling dan tes HIV, terdekat di daerah mereka?
Begitu tersedia tempat layanan konseling dan tes HIV, maka selayaknya
masyarakat tahu apa peran dan fungsinya. Para koordinator layanan
bersama tim kerjanya perlu melakukan pemasaran sosial (untuk sosialisasi
dan promosi layanan) dan membuat masyarakat terdorong untuk
memanfaatkan jenis-jenis layanan yang tersedia. Pemasaran sosial ini dapat
dilakukan secara edukatif melalui berbagai media. Kebutuhan dan daya beli
masyarakat juga sebaiknya menjadi pertimbangan dalam pemasaran
layanan ini.

KERJASAMA
Mencari dan menawarkan kerja sama
Tawarkan kerjasama apa yang bisa disepakati sehubungan dengan
pemanfaatan layanan rujukan tersebut. Bentuk promo barter adalah salah
satu pilihan, misalnya untuk mendapatkan layanan dengan cuma-cuma
pihak yang merujuk mempunyai kewajiban untuk turut mempromosikan
layanan tersebut. Bentuk paket layanan yang mencakup sejumlah layanan
sekaligus atau pemanfaatan layanan dalam jumlah yang besar dengan
potongan biaya layanan dan sebagainya. Melakukan tawar-menawar hingga
mendapatkan layanan gratis untuk orang-orang yang dirujuk.
Memutuskan layanan-layanan yang akan menjadi rujukan

365
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Setelah melakukan identifikasi layanan menurut klasifikasi tertentu dan


penilaian masing-masing layanan tentukan mana yang sebaiknya masuk
dalam daftar rujukan layanan (bisa didasarkan pada layanan yang paling
diutamakan dengan membubuhi bintang). Setiap layanan yang telah di
masukkan dalam daftar rujukan sebaiknya secara teratur ditinjau
keberadaannya apakah masih laik untuk dipertahankan sebagai layanan
rujukan. Termasuk dalam hal ini segala kesepakatan dan kerjasama yang
pernah diputuskan. Apakah perlu dilakukan pembaharuan bentuk kerja
sama dengan kesepakatan-kesepakatannya.

MATERI INTI 7

366
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

PENILAIAN RISIKO DAN STRATEGI


MANAJEMEN PENCEGAHAN BUNUH
DIRI
ENDAHULUAN
I. PENDAHULUAN
Materi bunuh diri adalah bagian dari Konseling lanjutan dan
berkesinambungan yang penting untuk diketahui oleh konselor. Konselor
dalam penanganan klien terkait dengan penerimaan status HIV perlu
mengetahui situasi psikologis klien (misalnya bunuh diri) agar dapat
membantu klien. Bunuh diri adalah tindakan membunuh diri sendiri.
Beberapa istilah bunuh diri yang kita kenal seperti, para suicide, ide bunuh
diri atau percobaan bunuh diri. Bunuh diri berhubungan dengan kebutuhan
yang tidak terpenuhi, perasaan keputusasaan, ketidak berdayaan, konflik
ambivalen antara keinginan hidup dan tekanan yang tidak dapat ditanggung,
menyempitnya pilihan yang dirasakan, dan kebutuhan untuk meloloskan diri,
orang yang bunuh diri menunjukkan penderitaan. Terdapat alat bantu yang
dapat digunakan konselor untuk menilai tindakan bunuh diri. Tema utama
pada klien terinfeksi HIV adalah belum bisa menerima status diri,
menyalahkan diri sendiri, masalah harga diri, dan masalah kematian.
Konseling bunuh diri yang adekuat akan membantu klien keluar dari
masalahnya dan bunuh diri bukan pilihannya.
II. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan mampu:

367
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

1. Menjelaskan beberapa alasan bunuh diri, metode, dan klasifikasi cara


bunuh diri
2. Menilai risiko bunuh diri
3. Mengetahui indikasi rujukan bagi klien yang mau bunuh diri
4. Melakukan strategi konseling bunuh diri

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Pembahasan risiko bunuh diri
2. Penilaian risiko bunuh diri
3. Strategi manajemen bunuh diri
.

POKOK BAHASAN 1. RISIKO BUNUH DIRI TERKAIT


HIV AIDS

Ada dua periode krisis dimana seseorang memiliki kecenderungan


melakukan usaha bunuh diri dalam perjalanan hidupnya dengan HIV.
Periode pertama waktu mengetahui status HIV dan periode kedua pada saat
penyakit berkembang lanjut dan menyerang sistim saraf pusat dalam
komplikasi HIV. Tindakan bunuh diri merupakan tanggapan yang impulsif
berkaitan dengan kekacauan emosionalnya. Impulsif adalah reaksi emosi
langsung yang muncul akibat ketidakseimbangan emosi. Faktor ekonomi
seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan kemampuan mendapatkan
penghasilan dan merasa menjadi beban bagi keluarga atau mereka yang

368
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

merawatnya menjadi pelengkap dari situasi impulsif. Dalam stadium lanjut,


orang akan mengalami isu-isu penyesuaian diri yang berkaitan dengan
tahap penyakit, adanya kerusakan dalam fungi pikiran, dan kemungkinan
komplikasi yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam struktur otak.

1. Faktor lain yang berkontribusi atas risiko bunuh diri adalah :


a. Konseling Pra dan Pasca yang tidak memadai
b. Rasa tidak nyaman akibat stigma dan diskriminasi
c. Rasa tidak percaya diri karena belum menerima status HIV
d. Memiliki gangguan perasaan yang telah ada sebelumnya (depresi,
kecemasan atau mania)
e. Ketidakberdayaan atau putus asa
f. Penyakit yang muncul pada masa perkembangan HIV menuju AIDS
g. Memiliki gangguan psikiatrik masa sekarang seperti gangguan jiwa
berat/ Skizofrenia, gangguan Mood/ gangguan ketidakstabilan emosi
h. Pencetus psikososial yang mengancam ketidakstabilan emosi misal,
putusnya hubungan dengan relasi.

Kecenderungan bunuh diri dapat dikatakan sebagai krisis emosi karena


klien merasa sangat terancam, terperangkap pada situasi yang tidak
terduga, tidak memiliki kendali diri dan tidak ada penyelesaian dan semua
usaha terasa tidak memiliki arti.

2. Dalam situasi fase krisis bunuh diri terdapat tahapan sebagai berikut:
a. Terpukul (reaksi).
b. Tersingkir atau mundur.

369
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

c. Menarik diri.
d. Penyesuaian untuk belajar menerima dan beradaptasi.
Gambaran krisis karena seseorang tidak dapat menerima realitas yang
terjadi pada diri sendiri akan reda dalam kisaran masa antara 1-4 minggu.
Seseorang dengan situasi ini ingin orang lain menolongnya dan lebih
menerima intervensi orang dari luar lingkungannya.

3. Klasifikasi Bunuh Diri


a. Kekerasan: Kekerasan merupakan cara yang dipilih klien untuk
mempersingkat hidup dengan melukai tubuhnya. Cara yang
digunakan seperti: membakar diri, menembak, memotong bagian
tubuh, mengantung diri, terjun dari ketinggian, atau merencanakan
kecelakaan.
b. Tanpa Kekerasan: Tindakan bunuh diri ini dilakukan klien tanpa perlu
melukasi tubuhnya. Cara yang digunakan seperti minum obat sampai
over dosis, meracuni diri, menghisap gas dalam ruang tertutup, dan
menyumbat hidung hingga mati lemas.
c. Pasif: Cara ini dipilih klien karena sifat bunuh diri terlihat lebih tenang
sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari orang lain. Contoh
bunuh diri pasif adalah menolak terapi atau menolak perawatan.

4. Dalam strategi manajemen bunuh diri, konselor akan menemukan


beberapa masalah awal komunikasi dengan klien seperti :
a. Klien yang menolak berbicara

370
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Seorang klien mungkin akan menolak untuk mendiskusikan usaha


bunuh diri mereka maupun pikiran bunuh diri atau rencana bunuh diri
karena :

1) Ketakutan jika rencana bunuh diri dihalangi karena


mendapatkan perlindungan atau tindak lanjut dari intervensi
konselor, keluarga atau teman.
2) Malu karena mempunyai pikiran atau pernah berusaha untuk
bunuh diri
3) Takut akan kemungkinan dicap sebagai sakit jiwa karena
dirujuk ke psikiater atau RS. Jiwa dan mendapatkan obat atau
dibeberapa kasus perlu mendapatkan rehabilitasi medik.
4) Tidak yakin dengan proses jaminan kerahasiaan dalam
konseling. Jika sungguh-sungguh melakukan bunuh diri, maka
konselor akan berupaya melakukan pencegahan yang berarti
rencana bunuh diri tidak bisa dipertahankan.
5) Mereka mungkin bersifat menentang dan manipulatif
Dengan mempertimbangkan klien menolak bicara, seorang konselor
dapat memberikan dukungan kepada klien untuk kesediaan
membantu dan menjaga konfidensialitas konseling. Pendekatan
dengan cara tidak menghakimi sangatlah diperlukan. Jika klien tetap
menolak untuk bicara, pastikan klien mendapatkan rujukkan layanan
yang tepat.
b. Klien yang berulangkali berusaha bunuh diri
Klien ini merasa kesepian, terasing dan berusaha menarik perhatian
setelah mengetahui status HIV. Atau mungkin klien merasa terancam

371
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

dan usaha bunuh diri dimaksud untuk memanipulasi. Disatu sisi, klien
tidak mampu menyesuaikan diri dengan status kesehatan yang dimiliki
karena ancaman atas stigma dan diskriminasi kepada orang positif
HIV AIDS. Meski demikian setiap ancaman bunuh diri harus ditanggapi
secara serius. Konselor perlu memahami bahwa klien berada dalam
suasana tertekan dan tak mampu mengatasi krisis emosinya.
c. Klien pengguna Alkohol
Banyak pengguna alkohol mempunyai kecenderungan membunuh
dirinya. Konselor seringkali sulit memberikan bantuan kepada klien
pengguna alkohol karena perilaku ini membuat mereka menolak
semua bentuk bantuan atau intervensi dari orang lain. Klien pengguna
alkohol biasanya menyangkal bahwa dirinya adalah pengguna alkohol.
Penyalahguna alkohol meningkatkan keberanian klien untuk
melakukan bunuh diri.

POKOK BAHASAN 2. PENILAIAN RISIKO BUNUH DIRI

Ketika klien marah atau depresi, konselor harus mengali informasi adakah
pikiran bunuh diri dalam pikiran klien. Jangan takut untuk menganjukan
beberapa pertanyaan dalam konseling kepada klien karena kegiatan ini
bertujuan membantu klien berhadapan dengan situasi.

Setiap Ancaman atau Usaha Bunuh Diri adalah kegiatan yang mengancam
hidup manusia sehingga harus diselamatkan dan diitangani serius

372
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Banyak ancaman bunuh diri karena masalah dalam keluarga. Keluarga tidak
dapat mendukung klien dengan status HIV AIDS sehingga menimbulkan
perasaan tidak berdaya dan itu bisa menjadi lebih buruk dari depresi. Klien
yang marah harus diberi kesempatan menyalurkan kemarahannya. Ketika
klien mengatakan tidak pernah marah, maka berarti kemarahannya sangat
berbahaya karena disangkal, tidak realistik mengakui kemarahan dan suatu
saat kemarahan terpendam dapat terjadi dengan berbagai macam reaksi.
Kemarahan adalah hal yang wajar dan semua orang didunia pernah memiliki
rasa marah.

Panduan Penilaian Risiko Bunuh Diri


Penilaian ini menggunakan pendekatan konseling dan dilakukan sebelum
terjadi tindakan bunuh diri dan sesudah tindakan bunuh diri digagalkan
karena proses intervensi yang tepat. Konseling yang baik adalah bagian dari
terapi. Intervensi konseling ini seringkali dapat mengubah pikiran-pikiran
untuk tidak melakukan bunuh diri. Pada kebanyakan kasus klien, sebagian
besar kasus menimbulkan krisis dan membutuhkan perhatian sangat serius
sehingga perlu ditemani oleh kerabat atau seseorang yang dipercayai.
Konselor harus berdialog dengan klien terlebih dahulu untuk mendapatkan
gambaran penyebab rencana bunuh diri. Perasaan tidak berdaya, tidak
bersedia bersikap jujur dan tidak terbuka tentang dirinya menjadi
penghambat konselor melakukan konseling dengan klien. Kadangkala klien
ditemukan dalam kondisi pingsan sehingga konselor perlu menunda sesi
konseling penilaian risiko bunuh diri. Pastikan sebelum memulai konseling
klien dapat diajak untuk berdialog sehingga konselor dapat melakukan
intervensi secara maksimal.

373
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Panduan risiko bunuh diri terdiri dari panduan klasifikasi penentuan risiko
bunuh diri dan panduan penilaian risiko bunuh diri .

1. Penentuan Tingkat Risiko


Konselor perlu mempelajari penentuan tingkat risiko berikut agar dapat
mengukur secara rinci tingkat risiko klien dengan melengkapi panduan
penilaian risiko bunuh diri. Menilai tingkat risiko merupakan hal penting untuk
menentukan langkah selanjutnya

Indikator Penilaian Risiko Bunuh Diri


Risiko Tinggi Risiko Rendah
Memiliki pemikiran bunuh diri saat ini Memiliki pemikiran bunuh diri
dengan cara yang mematikan dengan menggunakan cara yang
kurang mematikan
Klien menyampaikan rasa putus asa Masih dapat mengungkapkan
perasaan dan harapan
Tidak memiliki kemampuan Klien dapat mengembangkan
menerapkan pemecahan masalah respon penyesuaian diri dari krisis di
dan penyesuaian diri masa lalu
Beberapakali memiliki usaha yang Tidak memiliki cara yang mematikan
mematikan dan ragu untuk memulai
Usaha dilakukan ketika tidak ada Masih ada oranglain tidak jauh dari
orang didekatnya tempat bunuh diri

374
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Klien menyatakan akan mengulangi Klien menunjukkan perasaan


kembali dengan usaha yang lebih menyesal dan tidak mempunyai
mematikan alasan kuat melakukan bunuh diri
lagi
Kondisi Kesehatan menurun dan Kondisi kesehatan membaik dan
tidak memiliki pilihan memulihkan memiliki pilihan dan harapan untuk
kehidupannya hidup
Klien Tertekan Klien lebih mampu mengungkapkan
perasaannya

2. Panduan pertama
Berikan tanda pada kolom ya atau tidak sesuai jawaban klien dan tanyakan
lebih dalam. Setiap Jawaban Ya memiliki arti risiko bunuh diri makin besar.

Panduan Penilaian Risiko Ya Tidak


1. Apakah saudara berfikir untuk bunuh diri?
2. Apakah saudara sudah mempunyai rencana bunuh
diri?
3. Apakah saudara mempunyai alat yang akan
digunakan untuk bunuh diri?
4. Sudahkah saudara memutuskan waktu untuk bunuh
diri?
5. Apakah saudara pernah mencoba bunuh diri
sebelumnya?

375
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

a. Direncanakan?
b. Tidak direncanakan?
c.Menggunakan alkohol/NAPZA sebelum melakukan
tindakan bunuh diri?
6. Jika saudara pernah melakukan usaha bunuh diri
sebelumnya, Apakah ada pengaruhnya terhadap
usaha bunuh diri sekarang?
7. Besarkah pengaruh bunuh diri sebelumnya dengan
usaha bunuh diri sekarang?
Gejala Depresi Jika Ada
1. Gejala-gejala neuro-vegetatif
a. Perubahan Pola Tidur
b. Perubahan Selera Makan
c. Kelelahan/kurang energi
d. Seksualitas
2. Perubahan Suasana Hati dan Motivasi
a. Ketidak bahagiaan yang berkepanjangan
b. Sulit menyelesaiakan pekerjaan
c. Sulit menyelesaikan kegiatan rutin
d. Menarik diri dari teman-teman dan kegiatan sosial
3. Panduan Kedua
Berisi daftar pertanyaan dan membutuhkan penggalian lebih lanjut sehingga
dapat mengungkapkan realitas subjektif yang dihadapi setiap orang yang
berisiko.

376
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Catatan Konselor
Daftar Pertanyaan Panduan Penilaian Risiko

1. Mengapa saudara berpikir untuk bunuh diri


sekarang ?
2. Apa yang dirasakan sulit saat ini?
3. Apa yang akan saudara lakukan untuk
mengatasi kesulitan?
4. Bagaimana kesulitan ini mempengaruhi
saudara?
5. Bagaimana saudara menyelesaikan
kesulitan seperti ini di masa lalu?
6. Apa yang membuat saudara berfikir bahwa
usaha bunuh diri yang akan anda lakukan
dapat berhasil?
7. Kapan kesulitan ini mulai terasa?
8. Siapa saja yang terpengaruh oleh masalah
saudara?
9. Kondisi Untuk Bertahan Hidup
10. Pertolongan seperti apa yang anda
butuhkan?
11. Siapa yang ingin anda beritahu/tidak ingin
anda beritahu tentang kesulitan anda?
12. Bagaimana cara saudara menjaga diri
saudara sendiri?
13. Apa saja yang dapat mengubah pikiran
saudara?
14. Bagaimana jika anda dapat terus
meneruskan hidup?

Hasil dari pengisian kedua panduan penilaian risiko ini dapat


digunakan konselor melihat secara cepat tingkat risiko bunuh diri dan
membantu melengkapi penentuan penilaian bunuh diri

377
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

Jika ditemukan adanya gangguan somatik (nyeri, sakit, rasa badan


tidak nyaman secara fisik tanpa sebab organik) konsultasikan ke
dokter atau paramedis)

378
Materi Inti Konseling dan Tes HIV
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011

MATRIKS PENILAIAN RISIKO BUNUH DIRI Nama:__________________________Tanggal :_______________


Rincian Risiko rendah Risiko menengah Risiko Tinggi
Skor 1 Memiliki rencana yang matang
1. Rencana bunuh diri Ada rencana tetapi tidak jelas Rencana ada namun tidak khusus Alat ditangan
a. Rinci Tidak memiliki alat Memiliki alat Segera dalam 24jam
b. Ketersediaan Alat Tidak punya rencana waktu Memiliki rencana waktu Senjata, terjun dari ketinggian atau
c. Waktu Menggunakan obat sakit dasar Meramu obat keras, pasang badan di mengantungkan diri di tiang atau
d. Cara atau melukai kulit jalan ramai, atau memotong nadi pohon
e. Terdapat Intervensi Ada orang lain dan diketahui Ada Tidak ada siapapun

2. Usaha bunuh diri pada Tidak pernah Pernah dilakukan namun bisa Lebih dari dua kali
masa sebelumnya diselamatkan dan riwayat ancaman Kondisi bunuh diri cukup bervariasi
bunuh diri berulang dengan intensitas sering
3. Stres Tidak terlalu bereaksi Reaksi sedang Reaksi berat akan kehilangan
Banyak krisis sosial/personal
belakangan ini
4. Gejala Sesekali pikiran bunuh diri muncul Lebih dari satu kali pikiran bunuh Menolak bantuan
a. Perilaku Aktivitas harian berjalan terus muncul Pikiran bunuh diri menetap
b. Depresi tanpa perubahan Aktivitas harian mulai tergantu Gangguan berat pada fungsi
Mood terganggu sehari-hari
5. Sumber-sumber Terdapat bantuan dan bersedia Keluarga dan teman bersedia, namun Terabaikan
menerima bantuan orang lain tidak bersedia membantu secara
konsisten
6. Aspek-aspek komunikasi Dapat mengekpresikan emosi Dapat mengekpresikan emosi dan Ekspresi Bunuh Diri dan tidak
mengacam akan melakukan kembali bersedia dikendalikan
7. Gaya hidup Rutin seperti sediakala Tidak stabil dan mulai menganggu Berubah ekstim
keseharian
8. Status medik Tergolong Sehat Kesehatan Menurun Penyakit kronis dan BB turun
Jumlah

379
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

POKOK BAHASAN 3. STRATEGI MANAJEMEN


BUNUH DIRI

Tujuan strategi menajemen bunuh diri adalah perilaku-perilaku bunuh


diri yang erat kaitannya dengan ketidakstabilan emosi, hubungan
interpersonal, depresi, dan penyalahgunaan obat. Cara yang paling
aman adalah memberikan rasa aman dengan tujuan mengganti bunuh
diri dengan penyelesaian masalah yang lebih adaptif atau dapat
disesuaikan oleh klien. Pada kebanyakan perilaku bunuh diri, jika
konselor melakukan pendekatan pemecahan masalah terstruktur dan
tepat maka bunuh diri tidak akan terjadi. Klien akan selamat karena
terbukti konselor sangat membantu.

1. Prioritas strategi manajemen bunuh diri yang menguntungkan


untuk menjawab perilaku bunuh diri :
a. Pertama, lakukan manajemen prioritas mengurangi perilaku
bunuh diri sehingga mengurangi usaha bunuh diri dimasa depan.
b. Kedua, konselor bekerjasama dengan para medis, pekerja
sosial dan keluarga untuk memberikan situasi yang nayaman
sehingga tidak terjadi risiko besar dimasa depan.
c. Ketiga, indivu bersangkutan kemudian belajar bahwa ketika
muncul perilaku tertentu, mereka akan membicarakannya
dengan konselor atau orang yang dipercaya yang dapat
membantu mereka menerapkan pemecahan masalah lebih tepat
sehingga usaha bunuh diri ini menjadi semakin berkurang
sejalan dengan pertambahan usia.

53
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

2. Prinsip Manajemen Krisis Bunuh Diri


a. Bertindak dengan tenang Membantu klien menenangkan
emosi dengan hangat, teguh, dan cara terstruktur agar merasa
terlindungi oleh konselor..
b. Dengarkan dan amati Membuat klien merasa didengar,
diterima dan dengan demikian dapat lebih mudah mengatasi
keputus asaannya.
c. Ukur tingkat keparahan gangguan dan risiko kerusakan kepada
diri dan orang lain. Saat yang tepat menggunakan pedoman
penilaian risiko bunuh diri.
d. Nilai kekuatan dan kemampuan penyesuaian diri klien
e. Bantu menggali dan mengklarifikasi masalah yang membebani
klien.
f. Bantu penyelesaian masalah dengan perencanaan yang tepat.
g. Spesifik pada ketersediaan diri anda tawarkan perjanjian lebih
lanjut sesuai kebutuhan dan mapankan rencana kedaruratan
bersama klien jika ia membutuhkan bantuan lanjutan.

3. Langkah Konseling Manajemen Bunuh Diri


a. Tetap bersumber pada tahapan konseling pemecahanan masalah
secara rinci sebagai berikut:
1) Tetapkanlah masalah
2) Curah pendapat untuk berbagai pilihan
3) Analisis pilihan
4) Tetapkanlah satu pilihan dan bagilah atau uraikan dalam
langkah-langkah pelaksanaan yang dapat diikuti.

54
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

b. Tahap Pra Usaha Bunuh Diri


1) Tentukan kegawatan masalah dari hasil analisi penilaian
risiko dan periksalah apakah klien perlu dirujuk.
2) Kerjasama dengan petugas manajemen kasus HIV AIDS atau
petugas sosial yang membantu penyiapan rujukan.
3) Libatkan keluarga, teman atau tim yang mempermudah
mobilisasi sistem dukungan bagi klien
4) Siapkan kontrak untuk tidak membunuh diri (lisan atau
tertulis) untuk memastikan bahwa dalam jangka pendek klien
tidak melakukannya lagi.

c.Langkah selanjutnya untuk individu berisiko tinggi bunuh diri adalah:


1) Pastikan pengawasan yang ketat dan tepat kepada klien,
Jangan tinggalkan klien sendiri walaupun sesaat. Rujuk pada
psikiater atau spesialis kesehatan jiwa guna perawatan
terpadu rehabilitasi mental.
2) Keluarga dan teman mungkin dapat mengawasi dengan baik
dan memadai.

d. Langkah selanjutnya untuk individu berisiko rendah:


1) Pastikan individu mempunyai akses 24 jam ke pelayanan
perawatan klinis yang baik.
2) Jauhkan semua alat yang dapat dipakai untuk bunuh diri,
Misalnya gergaji, tombak tradisional yang runcing, pedang,
tablet, bahan kimia, mobil (ambil kuncinya), pisau, tali, dan
senjata tajam lainnya. Jika individu membutuhkan obat,

55
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

pastikan ia bahwa aksesnya hanya pada jumlah terbatas.


Mintalah keluarga atau teman untuk mengawasinya .
3) Memperbaiki kembali harapan. Sampaikan pandangan
bahwa semua masalah dapat diselesaikan dan dorong agar
motivasi hidup kembali muncul. Gunakan metode pemecahan
masalah berstruktur sebagai ketrampilan penting bagi
individu untuk dipelajari.
4) Intervensi lingkungan. Dorong klien berpartisipasi aktif dalam
situasi sekarang. Bantu yang bersangkutan untuk
menyelesaikan setiap konflik-konflik dengan orang lain
dengan memberikan kontribusi kepada masalah klien. Bantu
yang bersangkutan untuk kemudian mengatur waktu antara
sesi terapi dan memastikan sesi sesering mungkin, teratur,
dan terencana .
5) Selalu lakukan penilaian lanjutan
e. Tahap Pasca Usaha Bunuh Diri
1) Tangani masalah fisik klien
2) Periksa besarnya risiko dan tingkat risiko
3) Penrapan rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk
masa depan
f. Konseling lanjutan jangka panjang untuk menyelesaikan situasi krisis
dalam bunuh diri.
Prinsip konseling krisis lanjutan:
1) Singkat
2) Terarah dan membutuhkan terapis yang aktif dan berproses
bersama klien
3) Berhadapan dengan jejaring klien, keluarga, dan sosial

56
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

4) Berfokus pada masalah klien sekarang


5) Berorientasi realitas- memungkinkan klien mempunyai
persepsi kognitif jelas akan situasinya.
6) Membantu klien lebih mengembangkan mekanisme adaptif
untuk penyesuaian diri ke problem dan krisis masa depan.
g. Penanganan medik sesudah usaha bunuh diri gagal
Setelah melakukan usaha bunuh diri kesehatan fisik individu
harus dimonitor secara ketat oleh seorang dokter. Paramedis
harus mendapatkan informasi terkait dengan riwayat bunuh diri
klien agar mengetahui terapi pengobatan yang akan diberikan
lebih lanjut kepada klien.

Kegiatan Latihan 7 : Penilaian Risiko dan Strategi Manajemen


Pencegahan Bunuh Diri

MATERI INTI 8

57
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

PENGEMBANGAN PROGRAM
LAYANAN KONSELING DAN TES
HIV PADA KELOMPOK BERISIKO
I. PENDAHULUAN
Pengembangan program pelayanan konseling dan tes HIV pada
materi ini akan menekankan pada materi : PMTC atau Program
PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission of HIV), Pekerja
Seks, pengguna NAPZA melalui alat suntik, remaja dan anak, GWL
singkatan dari Gay, Waria dan Laki-laki berhubungan seks dengan
laki-laki, kelompok masyarakat yang perpindahannya cepat, dan
lembaga pemasyarakatan. Intervensi konseling dan tes HIV efektif
menekankan pada dimensi kehidupan mempengaruhinya,
pasangannya, orang tuanya dan keluarganya.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu
1. Melakukan konseling dalam layanan pencegahan penularan HIV
dari ibu ke anak (PMTCT)
2. Melakukan konseling kepada Pekerja Seks
3. Melakukan konseling kepada pengguna NAPZA suntik
(Penasun)
4. Melakukan konseling kepada kelompok GWL
5. Melakukan konseling kepada Warga Binaan Lapas dan Rutan

58
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Pokok Bahasan 1 : Konseling dan tes HIV dalam layanan
pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT)
2. Pokok Bahasan 2 : Konseling dan tes HIV untuk Pekerja Seks
3. Pokok Bahasan 3 : Konseling dan tes HIV untuk pengguna
NAPZA suntik (Penasun)
4. Pokok Bahasan 4 : Konseling dan tes HIV untuk kelompok
GWL
5. Pokok Bahasan 5: Konseling dan tes HIV untuk Warga Binaan
Lapas dan Rutan

POKOK BAHASAN 1. KONSELING DAN TES HIV


DALAM PELAYANAN PENCEGAHAN PENULARAN
HIV DARI IBU KE ANAK (PMTCT)

PENULARAN HIV PADA PEREMPUAN USIA SUBUR

59
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Sejak tahun 2000 Indonesia telah dikategorikan sebagai negara


dengan tingkat epidemi terkonsentrasi karena terdapat kantung-
kantung prevalensi HIV lebih dari 5% pada beberapa populasi tertentu
(contohnya pengguna NAPZA suntik/penasun)

Kecenderungan infeksi HIV pada perempuan dan anak terus


meningkat sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif tidak
hanya untuk mencegah penularan HIV pada perempuan tetapi juga
pencegahan penularan dari ibu ke anak. Sebagian besar (90%) infeksi
HIV pada anak disebabkan penularan dari ibu yang terinfeksi HIV
(MTCT/Mother to Child Transmission).

Pendekatan yang komprehensif berarti bukan hanya memfokuskan


pada ARV profilaksis, namun secara lebih dini program harus
menekankan pengurangan jumlah perempuan yang terinfeksi HIV.
Empat elemen atau Prong dalam pendekatan komprehensif PMTCT
(Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak) adalah sebagai berikut :

Elemen 1 atau Prong 1 Pencegahan infeksi HIV yang utama


Mengurangi jumlah perempuan/ibu yang mengidap HIV adalah cara
yang paling efektif untuk mengurangi MTCT. Infeksi HIV tidak akan
ditularkan pada anak-anak bila calon orang tuanya tidak mengidap
HIV. Strategi pencegahan yang utama mencakup komponen-
komponen berikut ini:

a. Perilaku yang aman dan bertanggung-jawab

60
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Perubahan perilaku menjadi perilaku aman (seks dan penggunaan


NAPZA) serta tersedianya dukungan (Kondom, alat suntik steril)
dapat membantu mencegah penularan HIV bila digunakan secara
tepat dan konsisten, Program-program yang mempromosikan
pemakaian kondom untuk mencegah HIV juga perlu difokuskan
pada pemakaian kondom untuk PMTCT.

b. Menyediakan diagnosa dini dan pengobatan IMS


1) Diagnosa dini dan perawatan IMS dapat mengurangi sekitar
40% insiden HIV dalam masyarakat umum. Layanan
perawatan IMS memberi peluang untuk menyediakan
informasi tentang infeksi HIV, MTCT dan rekomendasi untuk
melakukan tes dan konseling.
2) Layanan konseling dan tes HIV perlu disediakan untuk semua
perempuan usia subur karena intervensi PMTCT tergantung
pada perempuan yang mengetahui status HIVnya.
3) Konseling memberi kesempatan untuk perempuan yang tidak
terinfeksi HIV untuk mempelajari cara melindungi diri sendiri
dan bayinya dari infeksi HIV. Ini juga dapat dijadikan motivasi
yang kuat untuk menerapkan praktek-praktek seks yang
aman, mendorong pasangan melakukan tes, serta
membahas perencanaan keluarga.

Elemen 2 atau Prong 2 : Mencegah kehamilan yang tidak


direncanakan di antara perempuan yang mengidap HIV

61
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

a. Dengan bantuan yang tepat, perempuan yang mengetahui


mereka terinfeksi HIV dapat menghindari kehamilan yang tidak
direncanakan sehingga dapat mengurangi jumlah bayi yang
berisiko tertular HIV.
b. Penyebaran HIV yang cepat membuat akses ke layanan
kontrasepsi dan keluarga berencana yang efektif menjadi lebih
penting di seluruh dunia. Kebanyakan perempuan di negara-
negara yang terbatas sumber dayanya tidak mengetahui status
HIV mereka. Akses ke konseling keluarga berencana dan
rekomendasi untuk para perempuan yang diketahui atau diduga
terinfeksi HIV dan pasangan mereka adalah hal yang penting
untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
c. Konseling ini juga memberi kesempatan untuk membahas risiko-
risiko terkait, baik di masa sekarang maupun di masa
mendatang, dan merupakan komponen yang sangat penting
untuk mengurangi kecacatan dan kematian ibu dan anak.
d. Keluarga berencana yang efektif dapat membantu mencegah
kehamilan yang tidak diinginkan dan membantu perempuan HIV
melindungi kesehatan mereka sendiri sewaktu mengurus
keluarga mereka.
e. Menyediakan kontrasepsi yang aman dan efektif serta konseling
kesehatan reproduksi yang bermutu tinggi dapat membantu
mengambil keputusan untuk hamil.
f. Kontrasepsi mantap melalui Metode Operasi Wanita
(MOW/Steril) dilakukan setelah sebelumnya perempuan HIV
mendapat informasi lengkap, memahami pilihannya dan
memberikan persetujuan lewat informed consent
62
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

g. Proteksi ganda dalam berhubungan seksual selain ditujukan


untuk pencegahan penularan dan re-infeksi, juga untuk
pencegahan kehamilan. Perempuan HIV difasilitasi agar
konsisten terlindungi oleh kondom bila berhubungan seksual,
meskipun telah menggunakan alat kontrasepsi lain (misal pil
KB). Kondom dalam hal ini menjadi prioritas ketika perempuan
berhubungan seks karena fungsi utamanya sebagai
pencegahan infeksi, bukan hanya sebagai alat KB.
h. Jika perempuan HIV mengetahui dirinya sudah hamil dan sulit
mengambil keputusan apakah akan meneruskan atau
menghentikan kehamilannya, maka sangat penting tersedia
dukungan bagi perempuan HIV untuk mampu memilih
berdasarkan hak reproduksinya.
i. Perempuan HIV yang memutuskan untuk menghentikan
kehamilannya perlu mendapatkan informasi lengkap dengan
merujuk ke layanan medis yang tepat dan dukungan yang
sesuai. Perempuan HIV membutuhkan informasi mengenai
risiko-risiko (untung-rugi) apa saja yang akan terjadi bila
menghentikan kehamilan (aborsi). Hak perempuan untuk
memilih dan memutuskan harus didukung dengan informasi
yang lengkap.

Elemen 3 atau Prong 3: Pencegahan Penularan dari Ibu HIV Positif


ke Anak
Penularan kepada anak paling cepat terjadi pada waktu janin dalam
rahim, saat persalinan, atau setelah lahir melalui ASI. Jika tidak

63
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dilakukan intervensi, sekitar sepertiga ibu HIV akan menularkan virus


ke janinnya melalui ketiga jalan ini.

Elemen 4 atau Prong 4: Memberikan dukungan psikologis, sosial,


dan perawatan kepada Ibu HIV Positif beserta anak dan
keluarganya
Upaya PMTCT tidak berhenti setelah ibu melahirkan. Karena ibu
tersebut terus menjalani hidup sebagai ODHA dan membutuhkan
berbagai dukungan psikologis, sosial, dan perawatan sepanjang
waktu. Bayi dan pasangan ibu juga perlu dilibatkan dalam konseling
dan tes HIV, bahkan ada kemungkinan seluruh anggota keluarga
(bapak, ibu, dan anak-anak) telah terinfeksi HIV.

PENULARAN HIV DARI IBU KE ANAK (Mother to Child


Transmission, MTCT)

Tabel berikut di bawah ini menjelaskan faktor-faktor yang


menyebabkan bayi memiliki risiko tertular HIV dari ibunya.
FAKTOR RISIKO MTCT
Bukti kuat Bukti terbatas
Maternal Status Gizi ibu
Tingginya muatan virus Defisiensi Vitamin A
Karakteristik virus Anemia
Penyakit lanjut IMS
Chorio-amnionitis
Menurunnya kekebalan tubuh Seks tak aman
Banyak pasangan seks
64
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

HIV yang diperoleh selama Merokok


kehamilan Injecting drug use (IDU)
Pemberian ASI

Obstetrik Invasive Obstetrical


Kelahiran per vaginam versus Procedures
Seksio Sesar Monitoring
Robeknya selaput ketuban Episiotomi
dalam jangka panjang Persalinan dengan alat
Perdarahan Intrapartum (vacum/forceps dll)
Cara dan lama persalinan

Bayi Lesi kulit dan/atau lapisan


Prematur mucosa (sariawan mulut)
ASI termasuk saluran cerna
Infeksi neonatal

Ibu dapat menularkan HIV kepada bayinya melalui :


a. Penularan HIV selama Kehamilan
HIV tidak menular melalui plasenta ke janin. Plasenta melindungi bayi
dari HIV, tetapi perlindungan menjadi tidak efektif bila ibu :
1) Mengalami infeksi viral yang lain, bakterial, dan parasit (terutama
malaria) pada plasenta selama kehamilan
2) Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya
muatan virus pada saat itu
3) Mempunyai daya tahan tubuh yang sangat menurun berkaitan
dengan AIDS
4) Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tak
langsung berkontribusi untuk penularan dari ibu kepada anak.

b. Penularan HIV selama Proses Kelahiran

65
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Bayi yang terinfeksi dari ibu, mempunyai risiko lebih tinggi pada saat
dilahirkan. Kebanyakan bayi mendapat HIV pada proses kelahiran,
didapat melalui proses menelan atau mengaspirasi darah ibu atau
sekresi vagina. Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan
dari ibu ke anak selama proses melahirkan adalah:
1) Lama robeknya selaput ketuban seringkali dalam bentuk
Ketuban Pecah Dini (KPD),
2) Chorioamnionitis akut (disebabkan tak diterapinya IMS atau
infeksi lainnya),
3) Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi
dengan darah ibu misalnya, episiotomi, EF (Ekstraksi Forceps),
EV (Ekstrasi Vacum).
4) Anak pertama dalam kelahiran kembar

c. Penularan HIV setelah persalinan (saat pemberian ASI)


HIV berada dalam ASI, tetapi konsentrasi virus lebih rendah dari pada
dalam darah. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
1) Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara
eksklusif akan kurang berisiko dibanding dengan pemberian
campuran
2) Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan
puting susu dan infeksi payudara lainnya
3) Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan
infeksi
4) Status kekebalan tubuh ibu, AIDS stadium lanjut
5) Status gizi ibu yang buruk

66
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Waktu penularan HIV selama pemberian ASI :


1) Penularan dapat terjadi selama masa menyusui
2) Sekitar 70% penularan pasca kelahiran terjadi pada 4-6 bulan
pertama
3) HIV dideteksi di kolostrum dan susu ibu, tetapi risiko relatif dari
penularan tak pernah pasti
4) Risiko bersifat kumulatif (makin panjang masa pemberian ASI,
makin besar risiko). Risiko keseluruhan dari penularan melalui
ASI adalah sebesar 10% diatas 24-36 bulan pemberian ASI.

STRATEGI WHO DALAM PENCEGAHAN PENULARAN


HIV DARI IBU KE ANAK (Prevention Mother to Child
Transminssion, PMTCT)

Tabel Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke anak


MODEL WHO - 4 PRONG UNTUK PENCEGAHAN PENULARAN
HIV DARI IBU KE ANAK

Strategi Kegiatan Utama


Prong I: Intervensi perubahan perilaku pada populasi
Pencegahan umum dan pasangannya
primer Infeksi HIV Pemberian informasi, pendidikan, konseling
pada perempuan dan tes HIV, pelayanan pencegahan HIV
usia subur Penatalaksanaan IMS yang baik
Menurunkan risiko transfusi darah yang
tidak aman

67
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Merespon faktor kontekstual yang


meningkatkan kerentanan perempuan,
misalnya stigma dan diskriminasi
Promosi kondom: Praktek seksual aman
Meningkatkan keikutsertaan pasangan
dalam diskusi seks aman pada konseling
dan tes HIV

(* Melaksanakan konseling pada pasangan


baik HIV non reaktif maupun reaktif atau
serodiskordan menunjukkan strategi intervensi
primer yang sangat efektif )

Prong II: Meningkatkan jumlah perempuan yang tahu


Pencegahan status serologinya
Kehamilan yang - Informasi-edukasi-konseling pencegahan
tidak diinginkan HIV dan pendekatan pencegahan penularan
pada perempuan dari ibu kepada anak
terinfeksi HIV Konseling perempuan dan pasangannya
guna memungkinkan mereka memilih
kehamilan di masa datang
Promosi kondom sebagai alat untuk menarik
KB
Rujukan pelayanan konseling keluarga
berencana dan lainnya yang diperlukan
(pengetahuan tentang berbagai pelayanan
konseling di sekitar mereka, kecuali KB
hormonal)
Berikan penekanan untuk menggunakan
alat KB lainnya di samping kondom
Informasi lengkap dan rujukan yang tepat
bagi perempuan HIV yang ingin
menghentikan kehamilannya

68
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Prong III: Pastikan perempuan HIV mempunyai akses


Pencegahan ke sistem pelayanan antenatal dan PMTCT
penularan HIV Sediakan pelayanan antiretroviral pada
dari perempuan perempuan hamil terinfeksi HIV dan
terinfeksi HIV ke bayinya, disertai konseling kepatuhan
bayi berobat dan dukungan
Pertolongan persalinan yang aman
Konseling dan dukungan bagi pemberian
makanan bayi aman
Prong IV: MTCT Pelayanan medik dan keperawatan:
Plus konseling dan tes HIV, Infeksi oportunistik ,
Menyelenggaraka terapi pencegahan, HAART dan pelayanan
n Perawatan dan paliatif Dukungan psikososial: konseling,
Dukungan untuk dukungan spiritual, konseling lanjutan, dan
perempuan dukungan masyarakat Hak Azasi dan
terinfeksi HIV dan Bantuan Hukum: Partisipasi ODHA,
keluarganya pengurangan stigma dan diskriminasi
Dukungan Sosioekonomi: dukungan materi,
kredit usaha kecil;, dan makanan

PELAKSANAAN PRONG 3 DALAM PMTCT

a. Penggunaan ARV Profilaksis


ARV dapat mengurangi konsentrasi virus dalam jaringan, cairan dan
air susu ibu sehingga memperkecil kemungkinan penularan virus
selama dalam rahim, saat persalinan, dan pasca
melahirkan/menyusui. Pada tahun 1984 didapatkan hasil yang baik
pada penggunaan ARV untuk Prevention of Mother To Child dalam hal
mengurangi penularan HIV . Berdasarkan hal tersebut kemudian
diadopsi standar pelayanan bagi perempuan terinfeksi HIV di hampir
semua negara.
69
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

b. Persalinan yang aman


Pilihan bagi ibu mengacu pada persalinan yang aman dan terjangkau.
konseling dan dukungan medis membantu ibu memilih persalinan
normal atau persalinan dengan seksio sesaria (elektif, terencana).

c. Pemberian makanan untuk bayi


1) Kebanyakan perempuan HIV hidup dalam kondisi terabaikan
dan sulit mendapatkan akses air bersih dan sanitasi. Juga ada
keterbatasan kemampuan untuk memberikan subsitusi ASI yang
aman. Penelitian untuk pemberian ASI yang aman merupakan
prioritas tinggi. Hasil sebuah penelitian menunjukkan anak
dengan ASI eksklusif, akan berkurang risiko tertular HIV dari
pada mereka yang diberi ASI dan makanan lainnya. Tetapi hasil
ini harus dikonfirmasikan dengan hasil penelitian lain. Penelitian
lainnya dengan ARV sedang dilakukan, untuk mengetahui
apakah anak dapat disusui namun tidak tertular HIV.

2) Pilihan pemberian ASI pada bayi dari ibu HIV harus


didokumentasikan secara tertulis. Secara umum, kesimpulan
dari pedoman UN/WHO tentang pemberian makanan pada bayi
adalah sebagai berikut:

a. Untuk ibu dengan HIV Negatif atau status tak diketahui


Pemberian ASI eksklusif tetap dipromosikan serta
tersedia dukungan selama 6 bulan
b. Untuk ibu dengan HIV Positif

70
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Subsitusi ASI (susu formula atau susu sapi diencerkan


steril) jika tersedia makanan pengganti, terjangkau,
terus menerus ada, dan aman,
Jika tidak, maka pemberian ASI eksklusif
direkomendasikan sampai 6 bulan pertama kehidupan
bayi dengan catatan ibu dan bayi dalam terapi ARV
sesuai pedoman nasional
Budaya setempat senantiasa diperhatikan, juga situasi
perempuan secara individual, adanya risiko makanan
pengganti (yang dapat meningkatkan risiko infeksi lain
dan malnutrisi )

DAMPAK KONSELING DAN TES HIV BAGI PEREMPUAN

Ketika seseorang tahu bahwa konseling dan tes HIV akan memberikan
mereka gambaran tentang status dirinya, maka beberapa orang tidak
akan datang menjangkau pelayanan tersebut karena tidak mau
mengetahui statusnya. Kebanyakan perempuan hamil yang terinfeksi
dari pasangannya tidak menyadari dirinya telah terinfeksi ketika
menjalani tes. Mereka akan sangat terkejut, dan tidak dapat
menguasai diri. Kebanyakan orang yang tak mau diperiksa selalu
menekankan takut terbuka rahasia, juga merasa takut jika hasil tes
Reaktif sehingga mereka menunda pemeriksaan atau menjadi korban
kekerasan

Untuk perempuan yang teridentifikasi HIV positif sebelum atau selama


hamil, konseling yang berkaitan dengan tes akan membantu mereka
71
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dapat membuat keputusan akan perlunya intervensi lanjutan seperti


profilaksi ARV dan pemilihan pemberian makanan pada bayinya.
Konseling dan tes HIV membantu perempuan tersebut merencanakan
masa depannya dan keluarganya, juga membantu untuk mengambil
langkah selanjutnya dalam memelihara kesehatannya, tidak
menularkan HIV, berhubungan dengan kelompok dukungan
pelayanan dan membuat keputusan akan hubungan seksualnya serta
cara membesarkan anak. (UNAIDS, 1999).

Program konseling dan tes HIV untuk orang hamil akan


menguntungkan jika menyertakan pasangan perempuan tersebut.
Konflik dan kekerasan diantara pasangan sesudah pengungkapan
status HIV terbukti ada dalam beberapa studi. Konseling dan tes HIV
dan dukungan konseling lanjutan dapat meminimalisasi konflik,
masalah kekerasan dan penundaan.

Jika pelayanan konseling dan tes HIV tidak ada, maka kebanyakan
perempuan tak mempunyai jalan untuk menolong dirinya, mengetahui
status, sampai mereka terjatuh dalam kondisi AIDS, atau sampai
mereka melahirkan bayi yang terinfeksi HIV. Dengan demikian mereka
mempunyai keterbatasan kesempatan menentukan masa depan diri
dan keluarganya.

Manfaat Tes HIV Bagi Perempuan Hamil :


Memahami hasil tes akan menurunkan stres
Jika perempuan HIV Positif, menginginkan anak, maka
dilakukan perencanaan kehamilan sampai kelahiran anak
72
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dengan pemberian ARV selama kehamilan-proses kelahiran,


memilih cara melahirkan, dan cara pemberian makanan
Hidup Positif
a. Gejala dapat segera diidentifikasi dan terapi segera
b. Klien dapat juga dililindungi dari infeksi selanjutnya
c. Klien dapat memperbaiki status kesehatan dengan
sanitasi yang baik, diet sehat, dll.
Rencana kedepan dalam keluarga dapat disusun dengan lebih
mudah
Membuat pilihan tentang perilaku seksual dan mengasuh anak
di masa datang

Namun semua kemungkinan implikasi dari hasil tes Reaktif harus


didiskusikan,termasuk tantangan-tantangan berikut ini :
Stres dan perasaan ketidak pastin: Klien HIV Positif mungkin
tidak berhasil mengatasi hasil tes HIV Reaktif misalnya klien
menjadi cemas, menunggu perkembangan tanda dan gejala HIV
AIDS, menjaga rahasia.
Klien mungkin menghadapi stigma jika informasi diungkapkan
kepada keluarga dan teman
Membangun dan membina relasi, terutama hubungan
perkawinan
Pembatasan akses untuk perumahan, asuransi jiwa dan
kesempatan bekerja

73
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

ISU GENDER, HAM, STIGMA DAN DISKRIMINASI PADA


PEREMPUAN TERINFEKSI HIV

a. Perempuan sering mendapatkan status HIV melalui kejadian


tak terduga, sesudah suami/pasangan/anak menunjukkan
gejala, sehingga perempuan mengalami beban krisis ganda. Di
beberapa kasus, perempuan HIV Positif selain dirnya terinfeksi
HIV juga dicap sebagai perempuan amoral (juga menjadi
sumber wabah)
b. Perempuan selalu disalahkan dalam hal penularan infeksi di
dalam keluarga sehingga menimbulkan konflik dengan suami.
Hal ini dapat menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga.
c. Infeksi pada perempuan dapat merupakan indikasi bahwa ia
atau pasangannya mempunyai mitra seks lain, dan membuka
hal ini merupakan aib dalam keluarga.
d. Ketakutan terhadap stigma sosial, tersingkir dan perasaan
terisolasi, kesepian sehingga status tetap dirahasiakan
e. Ketakutan akan tindak kekerasan membuat perempuan sulit
membuka diri pada pasangannya
f. Kesejahteraan perempuan terinfeksi HIV sangat
memprihatinkan. Perempuan biasanya lebih mendahulukan
kebutuhan anaknya dan menganggap rendah kepentingan
dirinya sendiri.
g. Perempuan terinfeksi mungkin akan tabah dalam mengambil
keputusan tentang hidupnya, meski menyakitkan. Keputusan
itu termasuk:

74
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

1) Apa perlu mencegah kehamilan dan memilih


kontrasepsi?
2) Apa hubungan seksual perlu diteruskan dan apakah
kondom perlu digunakan ?
3) Bagaimana jika ingin memiliki keturunan?
4) Apa perlu meminum profilaksis antiretroviral atau tidak?
5) Apa perlu memberikan ASI atau tidak?
6) Apa perlu membuka status HIV pada pasangannya?
7) Siapa yang akan merawat anaknya setelah ia
meninggal?
h. Ada beberapa laporan bahwa insiden depresi pasca
melahirkan meningkat pada perempuan HIV positif.

DUKUNGAN KONSELOR DALAM MENANGANI REAKSI


PSIKOLOGIS PEREMPUAN TERINFEKSI HIV

a. Perempuan memerlukan bantuan konseling


Konselor dan pendampingan dibutuhkan bagi perempuan yang
baru saja mengetahui status HIV mereka untuk menyesuaikan
diri dengan reaksi emosional berikut :
1) Marah kepada orang yang menulari dirinya
2) Sedih akan kehilangan status dan kesehatan,
mengubah citra diri dan seksualitas.
3) Adanya kemungkinan tidak memperoleh anak dan/atau
meninggalkan anak hidup sendirian.
4) Rasa bersalah berkaitan dengan kesakitan anaknya
dan beban keluarga untuk merawat orang sakit.
75
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

5) Depresi pasca melahirkan

b. Keprihatinan perempuan terkait faktor budaya daN


sosio-ekonomi
Tuntutan pasangan, budaya dan sosio-ekonomi membuat
perempuan:
1) Meminta izin pasangan laki-lakinya untuk menjalani tes
2) Kurangnya perlindungan terhadap HIV (penggunaan
kondom)
3) Kurangnya pengendalian atas keputusan pemberian
makanan pada bayi
4) Kurangnya kontrol berkaitan dengan Keluarga Berencana

Terbukti perempuan terinfeksi HIV mempunyai banyak


keprihatinan dan karena itu membutuhkan banyak dukungan
dari anggota keluarga, teman-teman, profesional dan
masyarakat. Mereka perlu dibantu untuk dapat melindungi diri
dari HIV dan oleh karena itu perlu dibahas masalah dampak
yang menyakitkan, misalnya penularan kepada anaknya.
Konseling untuk memberikan informasi dengan pemahaman
dalam masalah sosial, kepedulian, pengetahuan akan situasi
rumah tangga, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan
dukungan emosional terhadap pilihan yang berkaitan dengan
anak, suami dan seluruh keluarga.

c. Peran konselor dalam membantu ibu HIV terkait


PMTCT
76
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

1) Diskusikan dukungan terhadap kehidupan bagi


perempuan HIV untuk melakukan hidup sehat sebagai
berikut :
Menghindari risiko lebih lanjut terinfeksi jenis
virus lainnya. Perlindungan diri sendiri
merupakan motivator kuat untuk melakukan seks
aman. Motivator kuat lainnya adalah rasa
tanggung jawab untuk tidak menularkan virus.
Kedua hal ini memberikan kontribusi untuk
pencegahan infeksi HIV.
Memeriksakan IMS untuk mendapatkan terapi
Memperoleh dukungan gizi , manajemen stres
dan olahraga
Mendapatkan layanan medis sesegera mungkin
untuk terapi infeksi oportunistik
Mendapatkan rujukan untuk pelayanan medik
dan sosial
2) Pertimbangkan apakah pasangan seksual atau ayah
bayi perlu ditawarkan Konseling dan Tes HIV
3) Konseling untuk mengungkapkan status dan
memperoleh dukungan. Perempuan HIV positif juga
memerlukan kesempatan untuk mempertahankan
pasangan agar tidak tertular.
4) Diskusikan perencanaan masa depan, memutuskan
keberlangsungan perkawinan dan pengasuhan anak,

77
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

serta menyiapkan anak dan keluarga menghadapi hari-


hari akhir kehidupan.

MENGEMBANGKAN LAYANAN KONSELING DAN TES


HIV DI KLINIK IBU DAN ANAN (KIA)

a. Strategi yang efektif

1) Memperkenalkan layanan konseling dan tes HIV dan manfaat


dari tes HIV pada populasi perempuan berusia subur.
2) Konseling dan tes HIV dapat diperkenalkan pada klinik
keluarga berencana untuk perempuan yang
mempertimbangkan kehamilan
3) Memperbaiki kualitas pelayanan konseling dan tes HIV di KIA
4) Mengadopsi pelayanan konseling dan tes HIV dengan
strategi bisa berhenti kapan klien mau berhenti (option out),
konseling dan tes HIV ditawarkan sebagai bagian dari paket
rutin perempuan hamil di klinik KIA. Jika perempuan tersebut
ingin berhenti sewaktu-waktu diperkenankan. Ketika
perempuan butuh masuk dalam layanan kembali (option in)
tanyakan pelayanan apa yang ia perlukan dalam kesempatan
ini .

b. Keuntungan pelayanan konseling dan tes HIV di Klinik


Ibu Anak (KIA):
1) Membuat konseling dan tes HIV sebagai pelayanan rutin di
KIA (ditawarkan pada semua klien KIA) dapat membantu

78
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

mengurangi stigma berkaitan dengan konseling dan tes HIV


dan infeksi HIV.
2) Konseling dan tes HIV ditawarkan di setiap KIA lebih dapat
diterima oleh kebanyakan perempuan dari pada di pusat
rawat jalan untuk laki-laki dan perempuan
3) Pelayanan konseling dan tes HIV berbasis klinik KIA dapat
mencapai persentasi tinggi perempuan hamil , terutama jika
rutin ditawarkan
4) Perempuan hamil yang tidak menyadari risiko diri dan
pasangannya mempunyai kesempatan mendapatkan
penilaian risiko dalam proses konseling dan tes HIV
5) Melanjutkan pelayanan dalam sistem kesehatan Ibu-Anak
dapat menunjang integrasi program HIV AIDS seperti
PMTCT, terapi IMS dan infeksi lainnya, KB, dukungan gizi,
dan rujukan ke
6) hukum mengizinkan dan konseling untuk memastikan
persetujuan perempuan, harus merupakan bagian dari
pelayanan lain jika diperlukan.
7) Akses untuk aborsi aman ketika pelayanan

c. Pengurangan Waktu dan Biaya dalam Konseling Pra Tes


di Pusat Pelayanan yang Jumlah Kliennya Banyak
Pra-tes individual sangat menyita waktu dan tak dapat dijalankan
pada tempat pelayanan yang kliennya banyak. Alternatif yang
dapat dipikirkan adalah, mengawali dengan pendidikan
kesehatan pada kelompok besar sebelum dilakukan konseling
pra-tes. Pada sesi ini disampaikan informasi dasar tentang HIV
79
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dan penularannya, strategi pengurangan penularan, prosedur


tes, dan keuntungan/kerugian umum melaksanakan tes.
Pemberian informasi dalam kelompok akan mengurangi waktu
konseling individual., karena pembicaraan tentang hal yang
disebut diatas telah diberikan saat pemberian informasi,
sehingga konseling dapat langsung menuju pada penilaian risiko
individu, kesiapan individu untuk tes serta isu tentang dampak
penularan terhadap individu dan pengurangan risikonya.

d. Sistem Option-In dan Option-Out


Option -In Services =
Layanan dimana perempuan memilih dan menyetujui
pelaksanaan tes
Option -Out Services =
Perempuan yang datang untuk pelayanan antenatal
ditawari konseling dan tes HIV secara rutin dan ia tidak di
tes bila menolak atau tidak menyetujui

POKOK BAHASAN 2. KONSELING DAN TES HIV


UNTUK PEREMPUAN PEKERJA SEKS

PENULARAN HIV PADA PEKERJA SEKS DAN


PENCEGAHANNYA

a. Siapakah Pekerja Seks?

80
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Pekerja seks merupakan kelompok luas bermacam-macam


orang sehingga sulit membuat suatu generalisasi tentang
perilaku dan sikap mereka terhadap pencegahan hiv dan
pelayanannya. Misalnya, selain pekerja seks mungkin mereka
juga menggunakan napza melalui alat suntik, seorang isteri,
pekerja sambilan (misalnya mereka mempunyai pekerjaan tetap
dan melakukan pekerjaan seks sambilan atau bekerja ke negara
lain), pelajar/mahasiswa, kelompok minoritas dari semua jenis
kelamin (laki-laki, waria, perempuan). Mereka bisa pekerja
secara paruh waktu atau purna waktu. Intervensi konseling dan
tes hiv efektif membutuhkan pemahaman bahwa pekerja seks
bukan hanya melakukan pekerjaan seks, tetapi berbagai dimensi
kehidupan mempengaruhinya, pasangannya, orang tuanya dan
keluarganya.

b. Pekerja seks dan risiko tertular HIV

Pekerja seks rentan terhadap penularan hiv mengingat


banyaknya orang yang berhubungan seks dengannya dan
biasanya mereka juga mempunyai kemungkinan tinggi
menularkan ims. Pekerja seks merasa dirinya tak berdaya untuk
bernegosiasi dalam hal praktek seks aman karena berkaitan
dengan pendapatan yang mereka peroleh. Pada beberapa
kasus, pekerja seks menerima penghasilan lebih tinggi ketika ia
melakukan hubungan seks dengan laki-laki tanpa kondom.

Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara hubungan


yang bermuatan emosional dengan negosiasi seks aman.

81
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Ketika mereka berhadapan dengan pelanggan baru, mereka


lebih mudah dapat bernegosiasi menggunakan kondom dalam
hubungan seks. Tetapi ketika pelanggan tersebut telah menjadi
pelanggan tetap bahkan menjadi kekasih, dimana muatan
emosi telah mewarnai hubungan keduanya, maka mereka
seringkali mengabaikan penggunaan kondom.

Pada beberapa situasi, ada tumpang tindih risiko pada pekerja


seks yang juga pengguna napza suntik (penasun). Ini
membutuhkan penerapan simultan strategi prevensi dua disiplin
pengurangan dampak buruk untuk penasun dan pengurangan
penularan infeksi melalui hubungan seksual, mengingat ada dua
sumber risiko.

Pekerja seks mempunyai kebutuhan konseling dan tes hiv dan


intervensi psikososial tertentu yang sesuai dengan kebutuhan
spesifik mereka satu per satu agar dampaknya menjadi efektif.
Bermacam kepentingan harus dipikirkan yakni melindungi
pekerja seks dari penularan hiv dan ims serta melindungi
pelanggannya dan pasangannya dari penularan yang sama.
Terdapat peningkatan bukti bahwa target program menurunkan
penularan infeksi hiv dalam kelompok ini dimungkinkan, efektif
dan berhasil menurunkan risiko serta menurunkan tingkat
infeksi.

Hanya sedikit penelitian tentang konseling dan tes hiv khusus


untuk pekerja seks. Kebanyakan dari penelitian ini menunjukkan
bahwa konseling dan tes hiv dapat diterima dan perubahan
perilaku seksual ternyata mengurangi penularan. Namun, pada

82
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

beberapa setting dimana faktor sosial dan ekonomi sangat


menekan, maka pekerja seks sulit melaksanakan praktek seks
aman. Perlu diketahui bahwa melalui konseling dan tes HIV
terjadi peningkatan edukasi tentang penggunaan kondom.
Program pendidikan sebaya sangat efektif untuk pekerja seks
laki-laki dan perempuan.

c. Pelayanan Menjangkau Klien


Bermacam-macam jenis pelayanan konseling dan tes hiv dan
psikososial dilakukan pada pekerja seks, tergantung pada
lingkungannya. Semua cara pencegahan dan pemberian
pelayanan haruslah disesuaikan dengan situasi yang berbeda-
beda mengingat tidak ada satu jenis pendekatan pelayanan
sesuai dengan semua keadaan pekerja seks, pasangannya, dan
pelanggannya.

Mengingat anonimitas pelayanan kepada pekerja seks, dimana


mereka tak ingin dikenali pekerjaannya (di beberapa negara
pekerjaan ini dianggap melanggar hukum) maka kepada
mereka didorong untuk mengakses pelayanan yang mereka pikir
lingkungannya dapat memberikan rasa aman. Bagi pekerja seks
yang menjalankan aktivitas dari jalanan, fasilitas penjangkauan
lebih dapat diakses, sementara pekerja seks dengan pelayanan
tempat-tempat tertentu seperti klab malam, bar, karaoke,
diperlukan pelayanan yang sesuai.

Pada beberapa situasi akan sangat membantu jika dilakukan


pengintegrasian pelayanan ke dalam fasilitas kesehatan yang

83
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

ada dan pelayanan masyarakat lainnya. Penting bagi pekerja


seks mengakses pelayanan kesehatan seksual, namun masih
banyak pertanyaan dan pendapat yang belum terselesaikan
apakah pelayanan akan diintegrasikan dalam pelayanan ims di
fasilitas kesehatan atau khusus tersendiri untuk kelompok
rentan ini.

Tantangan tertentu termasuk pelayanan dan program yang


dirancang khusus kepada mereka yang sulit dijangkau, pekerja
seks terselubung, seperti pekerja seks dengan status
isteri/suami, pengungsi, migran tanpa kartu pengenal atau
rumah bordil beroperasi tanpa izin. Di kota-kota yang tidak
memiliki program lokalisasi khusus untuk pekerja seks, seperti di
jakarta, kebanyakan pekerja seks tidak bekerja di bordil,
akibatnya sulit dijangkau sebagai sasaran pencegahan karena
keberadaan mereka tersebar di masyarakat. Pekerja seks tak
selalu tidak menikah, dan sering tak dapat dikenali.

Pilihan pelayanan menjemput bola termasuk :


Penjangkauan, misalnya pelayanan dilakukan mendekati
tempat pekerja seks atau kliennya.
Konseling dan tes hiv tak terkait dengan institusi manapun
Klinik ims
Lembaga pemasyarakatan
Pengungsi/ migran di tempat penampungan
Konseling dan tes hiv terintegrasi pada pelayanan
kesehatan umum
Pelayanan penanggulangan napza dan alkohol

84
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Pelayanan kesehatan terhadap gay & lesbian


Klinik perempuan
Pencegahan HIV akan efektif bila dilakukan dalam pelayanan
kepada pekerja seks, klien mereka dan para pasangannya, dan
bukan sekedar pemberian informasi namun meliputi tiga elemen
penting dibawah ini :
1. Informasi dengan pesan perubahan perilaku
2. Penggunaan kondom dan alat pelindung lainnya
3. Pelayanan kesehatan seksual.

d. Konseling Pencegahan
Konseling memainkan peran penting dalam mengembangkan
keterampilan komunikasi dan negosiasi, guna keberhasilan
praktek seks aman dengan:
Klien
Pasangan atau mereka yang mempunyai hubungan
pribadi dengannya
Pemilik bordil agar, menekankan dan mengizinkan
penggunaan kondom

Dalam beberapa hal khusus, pesan perubahan perilaku penting


dalam mengantarkan pesan penggunaan kondom secara
konsisten, dan tidak menghakimi Pekerja Seks dan
pelanggannya. Aktivitas seks aman seringkali sukar dijalankan
oleh Pekerja Seks ketika mereka berhadapan dengan orang
yang telah dekat dengannya seperti pasangannya dan

85
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

pelanggan dekatnya, sehingga dengan mereka ini risiko IMS dan


HIV nya tinggi. Ketika muatan emosi mewarnai relasi antara
Pekerja Seks dan pasangan/pelanggan dekatnya, maka nilai
komersial tersingkirkan dan demikian juga kemampuan
negosiasi seks aman.
Konseling dimaksud sebagai sarana pendekatan kepada
Pekerja Seks secara holistik bukan semata menggarap sisi
aktivitas kerja profesional Pekerja Seks misalnya strategi
bagaimana mempengaruhi pelanggan agar setuju penggunaan
kondom kepada semua orang yang berhubungan seksual
dengannya sekarang dan dalam jangka waktu panjang.
Beberapa Pekerja Seksual dapat melakukannya secara efektif
kepada pelanggannya, tetapi tidak dapat melakukannya kepada
mereka yang telah menjalin hubungan dekat dengannya.

e. Pekerja Seks Terinfeksi HIV


Konseling pada Pekerja Seks terinfeksi HIV akan membantu
mereka untuk:
1) Memutuskan untuk mengungkapkan status atau tidak
2) Strategi untuk mengungkapkan statusnya kepada pasangan
3) Melakukan dukungan dan perencanaan untuk masa depan
4) Rujukan ke program dukungan
5) Memilih kegiatan alternatif peningkatan pendapatan

86
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

POKOK BAHASAN 3. KONSELING DAN TES HIV


UNTUK PENGGUNA NAPZA SUNTIK (PENASUN)

PENASUN DAN PENULARAN HIV

Pengguna NAPZA suntik (Penasun) melakukan suntikan di vena, sub


kutan, intramuskular atau dimanapun mereka menyuntikkan,
seringkali dengan pemompaan berulang dari semprit suntik (pumping).
Perilaku menyuntik ini seringkali mereka lakukan secara bergantian,
baik bergantian alat suntik maupun bergantian menyuntik, artinya satu
alat suntik dapat digunakan oleh banyak pengguna. Berkaitan dengan
perilaku demikian, maka hampir dapat dipastikan terjadi penularan HIV
dari satu ODHA ke banyak pengguna napza. Penularan lewat alat
suntik seperti ini lebih cepat dari pada penularan melalui seksual. Oleh
karena itu sekali terjadi penyebaran lewat Penasun, akan sangat cepat
penularan dalam masyarakat

Konfirmasi data kasus HIV AIDS di antara pengguna NAPZA suntik


terus meningkat di seluruh wilayah. Beberapa negara sekarang
menghadapi epidemi yang serius. Negara dengan prevalensi tinggi
infeksi HIV pada pengguna NAPZA suntik adalah: Myanmar, Vietnam,
China, Thailand, Malaysia, Indonesia, Nepal, India dan Iran.
Prevalensi HIV dikalangan pengguna NAPZA melalui alat suntik
mencapai 60-90% di beberapa negara dalam enam bulan sampai
setahun terakhir ini. Pada beberapa tempat, 60% Penasun terinfeksi
pada dua tahun pertama sejak menggunakan suntikan.

87
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Hasil survei yang diadakan di Indonesia (FHI/ASA 2009) :


Lebih dari 40% penasun pernah ditahan/dipenjara, dan lebih
dari 35% diantaranya pernah menyuntik di Lapas/Rutan
Rata-rata Penasun telah menggunakan NAPZA lebih dari 8
tahun, sedangkan untuk cara suntik 6 tahun
Heroin, Ganja dan Buprenorphin paling sering
disalahgunakan. Heroin dan Buprenorphin adalah zat yang
paling sering disuntikkan
Lebih dari 80% penasun mengakses layanan jarum suntik
steril dari petugas lapangan LSM
Banyak intervensi yang dapat digunakan untuk menurunkan
risiko penularan HIV diantara Penasun. Intervensi yang kini
banyak digunakan adalah pertukaran jarum dan semprit
suntik, penjangkauan; konseling dan tes HIV dan pendidikan
sebaya; terapi subsitusi opioid. Terdapat bukti bahwa
perilaku berisiko mereka dapat dialihkan atau dikurangi
kepada perilaku berisiko lebih rendah. Hal ini mendorong para
profesi dalam bidang ini untuk melakukan pencegahan.

PERAN KONSELING DAN TES HIV

a. Akses ke fasilitas tes HIV dan konseling


Program konseling dan tes HIV bertujuan mengubah perilaku
berisiko berkaitan dengan HIV/AIDS pada Penasun. KIE
merupakan kunci utama membangun kesadaran dan akses ke
klinik dan tempat tes dimana pelayanan konseling dan tes HIV
88
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dapat diperoleh. Juga dapat digunakan untuk membantu


memfasilitasi proses belajar dalam melaksanakan konseling dan
tes HIV, termasuk langkah-langkah yang dibutuhkan untuk
mencegah penularan melalui jarum suntik dan menyebarkannya
ke pasangan seksual.
b. Konseling pengurangan risiko
Konseling untuk pengurangan perilaku risiko bertujuan
membangun komunikasi interpersonal yang membantu Penasun
memahami perasaan dan pikiran mereka, sehingga dapat
mengambil tindakan melindungi diri sendiri dan pasangannya
dari penularan. Konseling berbasis individu atau kelompok untuk
mengurangi risiko , disertai dengan edukasi serta komunikasi,
dapat juga membantu Penasun dengan HIV positif untuk
bernegosiasi dengan pasangannya sehingga menurunkan risiko
penularan melalui hubungan seksual.

INFEKSI HIV PADA PENASUN DAN PENANGANANNYA

Penasun yang terinfeksi HIV dapat menunjukkan kondisi-kondisi :


a. Gangguan kognitif global lebih buruk
b. Gangguan mood lebih buruk
c. Depresi berat (berkaitan dengan penggunaan opioid)
d. Ancaman dan tindak bunuh diri lebih buruk
e. Interaksi kompleks NAPZA dengan ARV, penggunaan
NAPZA rekreasional dan medikasi psikiatrik

89
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Sesudah konseling dan tes HIV, diperlukan layanan-layanan untuk


menghadapi berbagai isu, seperti :
a. Kebutuhan pemuasan segera
b. Kelompok dukungan dan klien yang intoksikasi (obat resep
maupun non resep)
c. Risiko bunuh diri
d. Kacau dengan gangguan mood dan diagnosis bandingnya
e. Gangguan kognitif berkaitan dengan HIV dan penggunaan zat
f. Kepatuhan berobat, rencana perawatan sesudah keluar
rumah sakit, buruknya sosial-ekonomi

Penasun yang didiagnosis pada stadium lanjut menunjukkan keadaan:


a. Gangguan kognitif
b. Kemampuan perencanaan yang buruk
c. Short term memory terganggu
d. Gangguan pengendalian impuls (lobus frontalis) dan Dis-
inhibition (lobus frontalis)
e. Buruknya toleransi terhadap frustasi

POKOK BAHASAN 4. KONSELING DAN TES HIV


UNTUK KELOMPOK GWL

GWL DAN PENULARAN HIV


Istilah GWL singkatan dari Gay, Waria dan Laki-laki berhubungan seks
dengan laki-laki merupakan perpaduan dari kelompok yang

90
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

berperilaku seksual dengan berbagai identitas seksual mulai


diperkenalkan di Indonesia semenjak pertemuan nasional HIV AIDS di
Surabaya, Februari 2007. Pengkategorisasian laki-laki yang
berhubungan seks dengan laki-laki dari berbagai identitas seksual
dirasakan tidak pernah tuntas karena setiap saat ada kategori baru,
namun untuk kepentingan upaya penanggulangan HIV, maka
disepakati istilah GWL di mana penekanan utamanya adalah pada
aktivitas nyata orang yang berkelamin laki-laki melakukan hubungan
seks tanpa menilai orientasi seksualnya. Secara resmi GWL telah
diterima oleh pemerintah dengan dibentunya kelompok kerja (POKJA)
GWL dalam Komisi Penanggulangan AIDS Nasional di bawa
Kementrian Koordinasi Kesejahteraan Sosial (MENKO KESRA)

LAKI-LAKI YANG BERHUBUNGAN SEKS DENGAN LAKI-


LAKI
Laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
a. Laki-laki yang senantiasa berhubungan seks dengan laki-laki
b. Laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki, tetapi sebagian
besar hidupnya ia berhubungan seks dengan perempuan
c. Laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki juga dengan
perempuan, tanpa suatu preferensi khusus
d. Laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki dengan tujuan
mendapatkan uang, atau karena tak ada perempuan yang
dapat ditemui, misalnya di Lapas, kamp peperangan

91
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Menurut laporan Komisi AIDS Asia ke Sekjen PBB Ban Ki-moon


penularan HIV di Asia terutama disebabkan oleh 3 faktor risiko yaitu
hubungan seks tanpa pelindung dengan pekerja seks, penggunaan
jarum suntik bersama di kalangan penasun, dan hubungan seks tanpa
pelindung di kalangan lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki. Di
Indonesia sub populasi GWL tidak berbeda jauh dengan di negara
Asia lainnya dan dinilai mempunyai risiko yang cukup serius dalam
penularan HIV. Keterbatasan dalam mendapatkan data tentang
perilaku seks sesama jenis ini masih ada terutama karena masih
kuatnya diskriminasi terhadap mereka yang berhubungan seks
sesama jenis.

WARIA DAN PERILAKU BERISIKO TERTULAR HIV

Di kalangan Waria ada beberapa kebiasaan yang berpotensi


penularan HIV antara lain:
a. Mencukur bulu dada, bulu ketiak, bulu kelamin dan bulu kaki
bisa menimbulkan abrasi (luka gores) dan berpotensi
penularan HIV karena luka terbuka bila terkena cairan darah
atau cairan sperma
b. Penggunaan jarum suntik tidak steril pada saat penyuntikan
hormone atau silikon
c. Taping (menempelkan lakban), strapping (mengikatkan
dengan kain) atau tucking (melipat alat kelamin),
menyebabkan kondisi yang hangat dan bisa menimbulkan
penyakit kulit, kulit merekah, dan dermatitis. Mengangkat

92
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

selotip (tape) dengan kasar dapat menyebabkan luka pada


kulit sehingga memudahkan virus masuk
d. Pembedahan terutama bila baru saja menjalani opersi
sehingga luka belum sepenuhnya pulih membuka peluang
masuknya virus
e. Pembilasan anus akan melemahkan alur dari saluran anus
dan menghilangkan bakteri serta lendir yang bermanfaat,
sehingga memaparkan permukaan pori-pori (permukaan
kulit) dan meningkatkan risiko penularan HIV dan risiko untuk
mendapat infeksi secara umum.
PELAYANAN KONSELING DAN TES HIV UNTUK GWL

a. Pelayanan berdasarkan kebutuhan khusus GWL


Pada awalnya, VCT digunakan sebagai sarana untuk
memahami adanya aktivitas GWL dan membuat protokol yang
sesuai. Protokol ini akan dapat sejalan dengan aspek lain dari
pelayanan VCT yang baik. Pelayanan VCT untuk GWL
seharusnya dapat:
1) Memahami berbagai perilaku seksual GWL dan kompleksitas
relasi dengan pasangan umum dan pasangan khususnya.
(terutama jika terdapat kedua jenis pasangan laki-laki dan
perempuan)
2) Melaksanakan penilaian risiko seksual untuk HIV dan IMS
dengan daftar cek yang sesuai termasuk perilaku seksual
yang mungkin dilakukan.

93
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

3) Mengembangkan strategi agar klien mau mengungkapkan


status HIV nya baik kepada pasangan laki-laki dan
perempuannya.
4) Menjawab masalah disfungsi seksual yang mungkin muncul
dari identitas dan/atau status HIV Positif. Ini akan membuat
kesulitan untuk masuk dalam aktivitas seks aman.
5) Menjawab masalah yang berkaitan dengan keterbukaan
mereka akan preferensi seksualnya sebagai GWL kepada
keluarga atau kawan (di beberapa tempat hal ini bukan
merupakan masalah, karena sesuai dengan budaya, nilai
individu dan keluarga)
6) Mempromosikan penggunaan kondom dan lubrikan untuk
seks aman
7) Mempromosikan aktivitas seksual non penetratif ketika
kondom tidak dalam jangkauan atau sebagai alternatif seks
penetratif.
8) Mengutarakan dan menyediakan informasi tentang penularan
HIV dengan faktor risiko yang terkait dengan GWL dan seks
anal.

b. Hambatan konseling dan tes HIV pada GWL


1) Konselor kurang peka dan seringkali tak menyadari masalah
psikososial berkaitan dengan GWL
2) Petugas kesehatan dan konselor juga sering menyangkal
keberadaan GWL atau memegang keyakinan bahwa GWL
adalah hanya mereka yang tergolong waria saja

94
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

3) Sikap sungkan dan malu dari konselor untuk membicarakan


aktivitas seksual GWL atau aktivitas seksual pada umumnya
4) Kurangnya pengetahuan tentang praktek seksual GWL
5) Masih ada konselor yang tak setuju dengan aktivitas GWL
dan merefleksikan penolakan dalam moralitas dan religi.
6) Pada kasus-kasus tertentu konselor menginternalisasi
homophobia yang mungkin ia sendiri termasuk anggota GWL
7) Kurangnya materi komunikasi-informasi-edukasi mengenai
HIV dan GWL bagi konselor untuk diberikan kepada klien.
8) Merasa asing dengan istilah gaul atau bahasa informal yang
digunakan kalangan GWL

FAKTOR PENTING DALAM PELAYANAN KONSELING


DAN TES HIV UNTUK GWL
1) Anonimus
2) Menjaga kerahasiaan
3) Petugas (terutama petugas penerima, perawat, konselor
dan dokter) tidak melakukan pendekatan menghakimi atas
perilaku klien.
4) Menyediakan materi edukasi yang sesuai di ruang tunggu,
ruang konseling dan ruang/meja dokter
5) Jam buka pelayanan disesuaikan dengan waktu mereka
dapat menjangkau, lewat tengah malam atau hari libur
6) Berlokasi di area yang mudah terjangkau seperti dekat
dengan tempat mereka saling bertemu atau tempat
mereka melaksanakan hubungan seks.

95
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

7) Menyediakan pelayanan HIV dan IMS yang terjangkau


8) Menyediakan kondom dan lubrikan berbasis air yang
terjangkau

POKOK BAHASAN 5. KONSELING DAN TES HIV


UNTUK WARGA BINAAN LAPAS DAN RUTAN

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan)


merupakan salah satu tempat yang sulit untuk menjalankan program
pencegahan dan perawatan efektif bagi Warga Binaan terkait HIV
AIDS. Hampir diseluruh dunia, pemerintah memberikan prioritas
rendah terhadap masalah kesehatan masyarakat di Rutan / Lapas.
Penyebaran penyakit infeksi menular melalui darah dan hubungan
seks seperti HIV AIDS sangat mudah terjadi di Rutan / Lapas. Jika
warga binaan terinfeksi selama dalam penahanan maka akan sangat
mudah terjadi peyebaran ke masyarakat luas, karena kebanyakan
mereka ditahan dalam waktu tertentu dan kemudian kembali ke
masyarakat.

Tahanan atau Warga Binaan mungkin telah melakukan praktek risiko


tinggi atau rentan HIV sebelum proses hukum berjalan. Penasun,
Pekerja Seks, migran/pengungsi dan laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki lebih rentan mendapatkan infeksi HIV dari pada

96
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

kelompok lain dan juga lebih rentan pada Tahanan atau Warga
Binaan. Contoh, Penasun sering masuk Lapas karena penggunaan
ilegal dan tindak kriminal akibat penggunaan NAPZA.

PENULARAN HIV DI LAPAS DAN RUTAN

Transmisi HIV dapat terjadi melalui:


a. Bertukar alat suntik
b. Penularan seksual melalui :
1) Warga Binaan ke Warga Binaan, suka sama suka
2) Warga Binaan ke petugas Lapas, baik sukarela atau
secara paksa
3) Warga Binaan ke Warga Binaan, perkosaan
c. Tato dengan alat tumpul
d. Pengendalian infeksi yang tidak berjalan baik pada pelayanan
medik Rutan/Lapas

a. Penggunaan bersama alat suntik


Sama halnya dengan di masyarakat umum, di Lapas/Rutan juga
terjadi penggunaan NAPZA dengan alat suntik. Sulitnya
mendapat peralatan suntik, ketatnya peraturan dan
pengawasan, membuat mereka sering menggunakan alat suntik
bersama, dan sedikit sekali yang mensterilkan alat suntiknya.
Alat suntik di Lapas/Rutan masuk melalui jalur gelap, atau
mereka menciptakan sendiri alat untuk memasukkan NAPZA ke
dalam tubuhnya, dari peralatan seadanya
c. Seks tidak aman
97
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Beberapa penelitian menyatakan bahwa terjadi hubungan


seksual di Lapas/Rutan, baik antara para Warga Binaan atau
antara Warga Binaan dengan Petugas. Sebagian besar pejabat
Lapas di banyak negara menghindar atau menolak
membicarakan tingginya kegiatan seksual di Lapas, termasuk
penelitian HIV di Lapas juga ditolak bila membicarakan kegiatan
seks di Lapas, biasanya informasi masalah seks di Lapas
didapat melalui mereka yang telah bebas atau sebelum masuk.
b. Tato dan praktek ritual
Tato terjadi dimana-mana, juga di Lapas/Rutan. Kurangnya
akses mendapatkan alat steril dapat menyebarkan infeksi yang
ditularkan melalui darah pada mereka yang mengukir tatoo atau
ritual dengan darah lainnya.
d. Buruknya pengendalian infeksi
Fasilitas pelayanan medik di Lapas dan Rutan sangat minim
dengan petugas kesehatan dan pendanaan termasuk obat-
obatan. Di Indonesia dana pengobatan seorang Warga Binaan
sangat kecil, sehingga bila mereka sakit sebagian besar menjadi
tanggungan keluarga. Akibatnya infeksi sukar dikendalikan dan
mudah terjadi penyebaran, termasuk penyakit menular melalui
darah seperti HIV.

STRATEGI UTAMA UNTUK PERAWATAN DAN


PENCEGAHAN

WHO telah membuat suatu pedoman praktis untuk HIV dan AIDS di
Lapas yang memuat strategi komprehensif untuk tes, pencegahan dan
98
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

perawatan di Lapas. Pedoman ini memperhatikan hak asasi manusia


dan pemahaman akan prinsip perubahan perilaku dan intervensi
perawatan yang telah diterapkan di banyak negara dan menunjukkan
keberhasilan. Berikut ini strategi utama yang diambil dari pedoman
WHO yang dapat diterapkan untuk memperbaiki perawatan dan
menurunkan penularan HIV di Lapas.
a. Konseling dan tes HIV ditawarkan pada saat masuk
dan sebelum bebas
Idealnya Warga Binaan di tes HIV secara sukarela.
Mereka masuk kedalam program dengan persetujuan
tertulis. Meski demikian, informed consent di Lapas amat
jarang dilakukan dan banyak petugas Lapas menganggap
bahwa para Warga Binaan telah kehilangan hak
mengambil keputusan sendiri untuk tes HIV. Konselor
perlu meninjau kembali kebijakan dan praktek yang ada di
fasilitas Lapas yang berkaitan dengan tes HIV dan bekerja
dengan manajemen Lapas guna membangun kebijakan
tes yang memasukkan berbagai unsur praktek yang
mungkin dilakukan.
b) Program pendidikan sebaya
Prinsip pendidikan sebaya adalah untuk meningkatkan
efektivitas intervensi, seperti meningkatkan pengetahuan
dan menggali perubahan perilaku terutama untuk
kelompok tertentu. Bila informasi atau pendidikan
diberikan oleh petugas Lapas, biasanya Warga Binaan
menyikapi dengan ketidak percayaan dan kecurigaan yang
tinggi. Program edukasi sebaya menunjukkan efektivitas
99
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dalam menyampaikan informasi akurat tentang HIV AIDS.


Program ini juga mengkhawatirkan petugas Lapas karena
akan memberdayakan Warga Binaan. Oleh karena itu
perlu menanamkan rasa percaya dalam hubungan dengan
semua tingkat petugas dan manajemen lapas, terutama
petugas penjaga karena mereka paling bertanggung jawab
akan terlaksananya program edukasi sebaya.
c. Program hidup sehat bagi Warga Binaan
Warga Binaan atau tahanan memerlukan akses informasi
hidup sehat untuk mempertahankan kualitas hidup.
Didalamnya termasuk informasi dan saran akan makanan
sehat , program berhenti merokok, dampak penggunaan
NAPZA illegal dan medikasi lainnya, perawatan kesehatan
dasar, kelompok dukungan, program detoksifikasi,
olahraga, kesempatan pendidikan dan berbagai pilihan
dukungan kesejahteraan Warga Binaan.
d. Akses Kondom
Manajemen dan petugas Lapas seringkali takut
menyediakan kondom, karena perilaku seks dengan
sesama jenis merupakan pelanggaran hukum di
Indonesia. Seks seringkali dilakukan Warga Binaan
dengan sesama Warga Binaan atau petugas penjaga.

KONSELING DAN TES HIV DI LAPAS DAN RUTAN


Pelaksanaan layanan konseling dan testing HIV di Lapas dan Rutan
untuk penghuni Lapas dan Rutan dilakukan dengan beberapa model
pendekatan yang berbeda tergantung pada sumber daya dan
100
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

fasilitasnya. Di beberapa Lapas dan Rutan yang telah memiliki


Konselor dan petugas laboratorium terlatih serta sarana pemeriksaan
HIV maka pemeriksaan dilakukan di dalam Lapas dan Rutan. Namun
bagi Lapas dan Rutan yang belum memiliki sarana pemeriksaan atau
petugas belum terlatih, maka pemeriksaan darah dirujuk ke sarana
kesehatan terdekat.

Sebagian besar Lapas dan Rutan yang ada di Indonesia telah memiliki
konselor terlatih yang bersertifikat, jumlah konselor yang ada di Lapas
dan Rutan juga bervariasi tergantung pada jumlah SDM yang ada
namun kebanyakan Lapas hanya memiliki rata-rata 1-2 orang
konselor. Konselor di Lapas dan Rutan biasanya merangkap sebagai
tenaga klinis yang tergabung dalam TIM AIDS di Lapas dan Rutan.

Model layanan konseling dan testing HIV di lingkungan Lapas dan


Rutan menggunakan pendekatan, KTS dan PITC.

Layanan KTS di Lapas dan Rutan ditawarkan melalui beberapa proses


:

a. Pada saat pemeriksaan kesehatan pada Warga Binaan


pemasyarakatan (WBP) baru dan lama. Petugas kesehatan
akan melakukan pemeriksaan kesehatan secara umum dan
akan melakukan rujukan kepada konselor KTS yang berada
di Lapas dan Rutan bagi WBP dan tahanan yang dinilai
memiliki risiko tinggi.

b. Saat edukasi HIV/AIDS kelompok, petugas penyuluh akan


menginformasikan hal-hal terkait dengan manfaat testing HIV

101
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

sejak dini. Kegiatan ini dilakukan secara rutin di dalam Lapas


dan Rutan. WBP yang berniat untuk KTS akan mendatangi
klinik kesehatan untuk mendapatkan konseling dari konselor.

c. Konseling dan testing untuk HIV juga selalu ditawarkan


kepada seluruh WBP yang datang langsung ke klinik di lapas/
rutan. Petugas kesehatan akan melakukan penilaian risiko
dan harus mendapatkan persetujuan dari klien WBP untuk
melakukan pra konseling dan testing HIV.

d. Pada saat 1-3 bulan sebelum WBP bebas. Pada tahap ini
konseling untuk WBP adalah prosedur yang wajib dilakukan,
petugas akan melakukan dan penilaian risiko kembali, proses
ini sebagai upaya untuk mengetahui tingkat penularan HIV
yang terjadi di dalam Lapas dan Rutan. Keputusan testing
tetap menjadi tanggung jawab WBP dan tahanan yang
bersangkutan.

Bagi klien dengan hasil non reaktif namun dengan faktor risiko
tinggi dari seluruh proses di atas, maka testing dilakukan kembali
setelah 3 bulan sedangkan bagi klien dengan hasil reaktif dirujuk
ke dokter klinik, dan pada kasus tertentu dapat dirujuk ke rumah
sakit rujukan terdekat

Apabila ada kasus pemindahan WBP, maka dokter dapat


meminta penundaan pemindahan akan tetapi bagi klien yg wajib
dipindahkan maka akan disertakan berkas kesehatan klien
Penerapan konseling dan tes HIV yang efektif mencakup :
1. Konseling pra dan pasca tes HIV

102
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

2. Pelatihan dan supervisi pendidik sebaya


3. Pendidikan dan pelatihan petugas lapas tentang
pencegahan HIV
4. Pengurangan risiko bunuh diri dan rujukan psikologik
5. Konseling dan tes HIV untuk petugas yang mengalami
pajanan okupasional
6. Konseling sebelum bebas hukuman: pengurangan
risiko, pengungkapan status kepada pasangan, rujukan
terapi
7. Demonstrasi pemakaian kondom dan cara menyuntik
yang aman

Hal-hal yang penting diperhatikan dalam melakukan konseling dan tes


HIV untuk Warga Binaan
1. Menggunakan konselor atau petugas terlatih dari organisasi
luar Lapas. Petugas Lapas, terutama mereka yang
berhubungan langsung dengan Warga Binaan tidak tepat
untuk menjalankan konseling dan tes HIV di Lapas
tempatnya bekerja
2. Konselor membutuhkan kemitraan dengan semua
stakeholders sebelum memulai kegiatan. Tanpa dukungan
dari petugas dan manajemen Lapas, intervensi tidak akan
dapat dijalankan.
3. Melakukan penilaian risiko HIV dan IMS dengan
menggunakan checklist yang tepat termasuk semua perilaku
seksual yang dijalani dan kemungkinan pajanan non seksual
seperti penggunaan jarum suntik bersama, tato dan lain-lain.
103
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

4. Menyediakan materi KIE tentang penularan HIV dan teknik


pencegahannya. Konselor harus memberikan pemahaman
akan materi yang diberikan pada klien.
5. Pelayanan konseling melalui telpon perlu dipertimbangkan

MATERI INTI 9
MANAJEMEN LAYANAN VCT

I. PENDAHULUAN
Manajemen layanan VCT bagian yang penting untu pelaksanaan dan
pengembangan program VCT. Manajemen layanan menurut
Kementerian Kesehatan RI terdiri dari aspek sumber daya manusia

104
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

yang terlatih, aspek struktur layanan, aspek kualitas layanan konseling


dan tes HIV dan aspek data dari layanan VCT. Salah satu prinsip yang
menggaris bawahi implementasi layanan VCT adalah layanan
berkualitas guna memastikan klien mendapatkan layanan tepat dan
menarik orang untuk menggunaan layanan. Manajemen layanan VCT
adalah penjabaran dari pedoman VCT yang dikeluarkan oleh
Kementerian Kesehatan RI. Pada pembahasan materi inti 9 seluruh
peserta wajib membahas pedoman VCT secara bersamaan sebagai
arahan dalam proses pelaksanaan VCT setelah pelatihan. Dengan
kata lain manajemen VCT menekankan pada proses pelaksanaan
program.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu :
1. Memahami manajemen VCT dan menerapkan dalam layanan
VCT
2. Memiliki sistim manajemen VCT yang tepat bagi model layanan
VCT yang dikembangkan

III. POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan sebagai berikut :
1. Pokok Bahasan I Manajemen dan Sumber Daya
2. Pokok Bahasan II Implementasi Teknis dan Progam
3. Pokok Bahasan III Monitoring dan Evaluasi

105
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

POKOK BAHASAN 1. MANAJEMEN DATA DAN


SUMBER DAYA MANUSIA

MANAJEMEN DAN SUMBER DAYA MANUSIA


Digunakan untuk menilai aspek managerial dan SDM dalam
pemberian pelayanan VCT. Tujuan Instrumen ini adalah untuk
mengetahui apakah sistim sumber daya manusia sesuai dengan
standar dan dukungan manajemen yang diberikan kepada staf telah
memadai. Instrumen ini diberikan dengan melakukan wawancara
kepada manager/kepala pelayanan VCT dan konselor serta
berdasarkan observasi dan pelaporan. Manajemen tempat layanan
mengatur bagaimana manajemen VCT diterapkan yang tertediri dari:

1. Manajer/ staf
a. Kumpulkan salinan bukti pembayaran klien dan biayanya VCT
pada setiap akhir hari
b. Catat dan atur pembiayaan sesuai kebijakan VCT
c. Lakukan supervisi mingguan baik sesi individu maupun
kelompok staf VCT.
d. Ciptakan hubungan dengan masyarakat untuk kepentingan
rujukan, perawatan dan dukungan kepada klien Pastikan
pemasukan data dilakukan setiap hari.

2.Manajer dan konselor perlu memastikan:


a. Catatan kasus, wawancara awal dan formulir persetujuan
(informed consent).
b. Nama tak pernah dituliskan dalam map berkas klien
106
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

c. Hasil tes HIV hanya tercatat dan dipertahankan pada formulir


pasca tes dan register laboratorium

3.Manajemen Medik Klien

Dokter/perawat
a. Jumpai klien untuk konseling atau layanan medik, kumpulkan
pembiayaan dan bukti pembiayaan.
b. Jika klien berkunjung pertama kalinya, isi formulir Wawancara
Awal (CIR =Clients Intake Result ) dan Formulir Konsultasi
Medik
c. Uji saring klien untuk risiko IMS/HIV.
d. Tulis kode klien dan nomor berkas, berikan kepada klien kartu
klien dengan nomor kode dan nomor berkasnya (kartu VCT/IMS)
Buat perjanjian untuk kunjungan tindak lanjut dokter/ konselor.
e. Catat kode/nomor berkas klien pada buku register identifikasi
klien
f. Lengkapi catatan dan berkas.

MANAJEMEN DATA KUALITATIF


Data kualitatif yang diperlukan untuk kebutuhan monev dilakukan
melalui metode wawancara dengan kepala klinik.Instrumen ini
digunakan untuk memperoleh penjelasan mengenai sistem jejaring,
ketersediaan layanan dan dana penunjang, kegiatan konseling
kelompok, kesulitan dan kemudahan berkaitan dengan pelayanan
yang diberikan dan promosi yang dilakukan.

107
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Tujuan instrumen ini adalah untuk menilai apakah klinik VCT telah
melakukan pelayanan sesuai dengan standar layanan VCT. Data
merupakan informasi tentang klien atau pelayanan yang dikumpulkan.
Sebuah data merujuk kepada informasi khusus, misalnya nama
lengkap klien, jenis kelamin, kunjungan keberapa kali ke tempat
layanan, jenis pelayanan, kapan pelayanan diberikan, sudah berapa
lama pelayanan diberikan.

C. MANFAAT PENGUMPULAN DATA


Data dapat menjawab pertanyaan khusus yang mungkin berkaitan
dengan penelitian atau untuk memantau dan mengevaluasi
pelayanan.

1. Pengumpulan Data berhubungan dengan Penelitian


intervensi VCT
Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan implementasi VCT
dinegara dengan keterbatasan SDM dan sumber lain, misalnya
apa keuntungan melakukan tes secara paralel dibandingkan tes
secara serial ? Jawaban akan didapat jika intervensi dirancang
dengan baik berhubungan dengan penelitian, juga untuk
membantu memperbaiki pelayanan dan implementasinya
Ketika VCT mengumpulkan data seroprevalensi dari
masyarakat, kita akan dapat mengalokasikan pemenuhan
kebutuhan di masyarakat misalnya: perlu dilakukan pelayanan
bersasaran kelompok rentan di daerah prevalensi rendah

108
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

2. Monitoring dan evaluasi


Perencanaan dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang
baik, dapat membantu mengenali dan menjelaskan masalah
penting serta melakukan umpan balik dalam proses
perencanaan, rancangan dan penerapan program VCT.
Beberapa pertanyaan untuk dapat mengukur pelayanan adalah
sebagai berikut :
a. Pertanyaan proses: membantu mencerminkan bagaimana
berjalannya sebuah pelayanan dan bagaimana perasaan
pelanggan atau klien atas pelayanan tersebut.
b. Pertanyaan efektivitas: membantu mencerminkan adakah
pelayanan yang diberikan membuat perubahan bagi
kehidupan klien, misal mengubah perilaku berisiko .
c. Hasil dari penelitian dan evaluasi hanya akan berarti bila
data yang dikumpulkan benar adanya dan dikumpulkan
secara benar.

3. Data VCT
Tergantung dari pertanyaan yang akan dijawab dalam suatu
penelitian. Apa yang diharapkan sebagai hasil intervensi dan
bagaimana mengukurnya? Jawabannya akan membantu
mengidentifikasi data dasar dan tindak lanjut data yang perlu
dikumpulkan.
a.Pengukuran outcome
Kementerian Kesehatan RI sejalan dengan UNAIDS dan WHO
mengembangkan sejumlah indikator untuk mengukur outcome
pelayanan VCT.Indikator yang dipilih adalah yang mudah

109
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

diamati atau diukur (misal tidak menyita banyak dana atau


tambahan alat maupun SDM) dan relevan bagi praktek klinis.
Indikator hendaklah bersifat obyektif , tidak subyektif. Cara
mengukur indikator misalnya melalui: kuesioner, formulir catatan
atau pengukuran kuantitatif, frekuensi pengukuran, semua ini
harus didefinisikan secara jelas.

b. Data dasar dalam Form VCT dan PITC


Informasi ini membantu mendefinisikan data dasar klien atau
populasi ditempat mana hasil penelitian akan diterapkan. Data
ini termasuk informasi demografik, kelompok umur, gender,
seksualitas, tempat/tanggal lahir, agama, juga data spesifik
tentang populasi sebelum intervensi dilakukan. Informasi ini
memungkinkan kita mendapat gambaran tentang apakah
pelayanan telah menjangkau target kelompok yang dimaksud,
misalnya populasi berisiko. Contoh data dasar yang
dikumpulkan :
Riwayat klinis
Karakteristik individu
Faktor risiko
Data kuantitatif misalnya kuesioner, terutama jika diulang
sebagai bagian dari penilaian hasil .

c. Data intervensi
Mendefinisikan intervensi secara rinci, misalnya VCT, dalam
catatan klien dapat membantu memastikan apakah proses
berjalan sesuai protokol dalam studi perbandingan. Informasi

110
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

yang didokumentasikan termasuk: apa yang didiskusikan,


konseling apa yang diperoleh, apa respon klien, pertanyaan
yang diajukan dan sebagainya. Pada beberapa studi efektivitas
dari bermacam-macam intervensi dibandingkan, karena itu
dengan mendokumentasikan akan terlihat perbedaannya.

d. Data tindak lanjut


Informasi dari kunjungan tindak lanjut perlu direkam. Seberapa
sering klien kembali berkunjung? Apakah mereka melengkapi
formulir survei atau kuesioner ? Jika klien tak kembali atau jika
mereka menarik diri dari survei, apa alasannya, dan kapan?
Hasil yang baik akan diperoleh jika formulirnya, pengisiannya
dan pengumpulan datanya berjalan baik. Pengumpulan yang
baik artinya : Pertanyaannya tepat, misalnya pengumpulan
informasi relevan dengan yang ditanyakan oleh studi, Data yang
hilang sesedikit mungkin, misalnya semua pertanyaan terjawab,
Data akurat, dan Data konsisten bagi setiap subyek, misalnya
data yang sama ditanyakan pada semua klien.

e. Formulir dalam pelayanan VCT


Ada beberapa formulir yang secara khusus dikembangkan untuk
membantu pengumpulan data klien dan pelayanan VCT . Cara
terbaik adalah memastikan bahwa data penting dikumpulkan
dengan cara yang sama . Manfaat pengumpulan data yang
dirancang baik memastikan:
Kemudahan pengumpulan data: pertanyaan jelas
maksudnya, formulir teratur susunannya dan mudah

111
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

diikuti. Ada arah petunjuk misalnya pertanyaan diberi


nomor, petunjuk dan menggunakan definisi.
Waktu pengumpulan data teratur
Mudah dianalisa
Hasilnya mudah diinterpretasi: formulir menggunakan
definisi untuk memastikan klien mempunyai pemahaman
yang sama atas pertanyaan yang diajukan.
Penggunaan data lapangan konsisten
Akurasi, semua alternatif jawaban spesifik: misalnya ya,
tidak, tak tersedia
Kelengkapan, semua data dikumpulkan, semua staf
menanyakan pertanyaan yang sama.

POKOK BAHASAN 2. IMPLEMENTASI TEKNIS


PROGRAM

Digunakan untuk menilai aspek sarana, prasarana, peralatan,


pelayanan VCT, sistem jejaring, kepuasan konselor dan kepuasan
klien.Tujuan instrumen ini untuk mengetahui apakah sistem sarana,
prasarana, peralatan dan pelayanan VCT telah sesuai dengan
standar, sistim jejaring pelayanan rujukan berfungsi dan berkualitas,
kepuasan konselor terhadap pekerjaan dan kepuasan klien terhadap
fasilitas dan pelayanan.Instrumen ini digunakan dengan metode
observasi, pelaporan dan wawancara dengan klien serta konselor.
Pewawancara harus bersikap netral. Konselor dan klien yang
diwawancara harus yakin bahwa namanya tidak akan dimasukkan
112
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

dalam wawancara ini (anonimus).Pelaksanaan program VCT Sistem


digunakan untuk menelusuri dan memastikan apakah pelaksnaan
VCT telah dilakukan secara benar dan dimasukkan kedalam program
untuk dianalisis.

Beberapa sistim penting yang harus dikembangkan:


A.Standard Operating Procedure Manual atau SOP Manual.
SOP dibuat dengan petunjuk jelas dan rinci pada setiap prosedur yang
dijalani untuk memastikan konsistensi kualitas dari suatu prosedur ,
meskipun petugas berganti. SOP dapat memperbaiki reliabilitas data
melalui penurunan tingkat kesalahan dalam pengumpulan data. SOP
berdasarkan pada pedoman nasional dan lokal dikembangkan melalui
protokol untuk pelayanan.

Setiap SOP mencantumkan informasi tentang:


1. Protokol dan prosedur
2. Daftar kontak
3. Protokol rujukan
4. Informasi umum untuk melakukan pelayanan misalnya: teknik
penanganan spesimen
5. Instruksi tentang bagaimana cara melengkapi data secara benar
serta mengumpulkannya
6. Alur pelayanan
7. Instruksi penanganan data misalnya: bagaimana memberikan
kode yang benar dan memasukkan data
113
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

8. Pedoman Pelaporan Statistik


9. Sekali manual SOP dibentuk semua petugas harus
memahaminya, petugas harus mengetahui dimana SOP
disimpan dan mampu mengakses dokumen untuk rujukan
dengan mudah. Semua petugas baru perlu dilatih menggunakan
manual SOP sebagai pedoman untuk melakukan tugas dan
tanggung jawabnya.
10. Jangkauan pelayanan VCT (Tingkat Nasional):%
Kabupaten / Kota yang mempunyai setidaknya satu pusat VCT
yang dilaksanakan oleh konselor terlatih atau yang mempunyai
keahlian dan keterampilan dalam konseling.
11. Keterampilan konseling, indikator kualitas.Sampel diambil
secara acak dari rekam data konseling pra-tes HIV yang
memenuhi standar minimal
12. Sampel juga diambil secara acak dari konseling pasca tes,
apakah sudah memenuhi kriteria standar minimal

Contoh SOP VCT dengan kondisi minimum untuk melakukan


pelayanan konseling dan tes berkualitas .
a) Konseling Pra-tes: Ucapkan kata sapa, kenalkan diri konselor,
tekankan kerahasiaan, ia dapat tidak memberikan namanya pada
konselor. Berikan kepastian pada klien bahwa semua bentuk
percakapan, konseling dan pencatatan serta penyimpanan berkas
dilakukan dengan jaminan kerahasiaan Jelaskan pada klien tentang
pemberian kode dalam catatan medik. Berikan kartu kunjungan
IMS/VCT pada klien.Informasikan tentang prosedur VCT dan
konseling sukarela serta tes. Buatlah persetujuan lisan.
114
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

Lengkapi berkas Wawancara klien-Hasil Pencatatan atau Formulir


Konseling Pra Tes untuk semua klien yang datang konseling.Lakukan
Konseling Pre Tes termasuk Penilaian Risiko Individu dan
Pengurangan Risiko.Berikan demonstrasi penggunaan kondom dan
latih klien menggunakannya. Berikan kondom kepada klien.Tanyakan
pada klien apakah mereka akan melaksanakan tes sukarela HIV . Jika
ya, jelaskan tentang prosedur dan metoda tes .
b) Tes HIV :Pastikan semua prosedur mengikuti protokol,Sediakan
lembar persetujuan, isi yang termuat, bacakan pada klien, pastikan
klien mengerti, klien membubuhkan tandatangan/cap jempol
persetujuan, saksi dari pihak konselor. Terima pembayaran konseling,
beri tanda terima dan Temani klien ke laboratorium dan tetaplah
bersama klien sampai pengambilan darah selesai.
c) Konseling pasca tes :Lakukan konseling pasca tes, termasuk diskusi
pengurangan risiko, Tawarkan perjanjian untuk konseling lanjutan dan
pemeriksaan dokter, Jika klien datang tanpa pasangan, dorong agar
ia dapat menyertakan pasangannya dan bicarakan mengenai
pengungkapan status kepada pasangan, Jika dibutuhkan rujukan,
berikan surat pengantar, Temani klien keluar dari tempat pelayanan,
Lengkapi catatan kasus segera setelah selesai konseling, catatan
kasus klien beserta tanda kode nomor pengenalnya dicatat dalam
buku register,Pada akhir hari pastikan semua formulir dan catatan
kasus telah dilengkapi dan diisi tepat sebagimana seharusnya dan
disimpan dalam lemari arsip terkunci. Pada akhir hari serahkan buku
penerimaan biaya konsultasi dan bukti pembayaran kepada manajer
tempat layanan.

115
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

B. PENGEMBANGAN SISTEM PELAPORAN


Sekali pelayanan VCT mengumpulkan data dan memasukkannya,
maka data perlu dianalisis dan kemudian melaporkannya. Pertanyaan
khusus yang perlu dijawab mengenai laporan termasuk :
1. Siapa yang bertanggung jawab menganalisis data dan menulis
laporan?
2. Jika pengumpulan data sedang dilakukan, seberapa sering
laporan perlu dilakukan ?
3. Siapa yang perlu mendapatkan salinan pelaporan ?
4. Siapa stakeholders utama, siapa yang berminat akan hasilnya?
5. Bagaimana menggunakan data ? misalnya laporan kepada
manajemen, umpan balik kepada institusi rujukan, bahan
diskusi, bahan tulisan ke majalah ilmiah atau
seminar/konferensi. 7

Analisis data dan pelaporan membutuhkan ketepatan waktu. Laporan


kepada stakeholders yang menggambarkan situasi saat ini adalah
penting agar dapat diambil keputusan yang tepat guna mendapatkan
efektivitas dan efikasi pelayanan. 7

Pengumpulan data, manajemen dan pelaporan pelayanan yang


tersedia akan dapat dilaksanakan jika tersedia anggaran untuk
keseluruhan proses pengumpulan data, manajemen dan pelaporan,
misalnya ongkos cetak, pengadaan barang-barang yang dibutuhkan,
pelatihan petugas, ketersediaan waktu dari petugas, ada petugas yang
memasukkan dan menganalisis data, ongkos cetak, untuk pelaporan
dan formulir dan sebagainya. Sebuah pelayanan harus dapat
116
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

memastikan pos-pos anggaran untuk rencana yang akan diambil , bila


tidak maka monitoring dan evaluasi tak dapat diselenggarakan.
Hasil dari studi harus dibicarakan dengan seluruh stakeholders
pelayanan sehingga keputusan dapat diambil guna perbaikan
pelayanan pada target populasi.

POKOK BAHASAN 3. MONITORING DAN


EVALUASI

Kementerian Kesehatan RI memandang penting monitoring dan


evaluasi pada program VCT. Monitoring dan Evaluasi adalah bagian
integral dari pengembangan program, pemberian layanan,
penggunaan optimal sediaan layanan dan jaminan kualitas.
Monitoring dilakukan untuk tujuan supervisi, yaitu untuk mengetahui
apakah program pelayanan VCT berjalan sebagaimana yang
direncanakan, apa hambatan yang terjadi dan bagaimana
cara mengatasi masalah tersebut. Dengan kata lain monitoring
menekankan pada pemantauan proses pelaksanaan program dan
sedapat mungkin tim memberikan saran untuk mengatasi masalah
yang terjadi. Hasil monitoring digunakan sebagai umpan balik untuk
penyempurnaan pelaksanaan program pelayanan VCT.

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program VCT


mencapai sasaran yang diharapkan. Evaluasi menekankan pada
aspek hasil (output). Konsekuensinya, evaluasi baru dapat dilakukan
jika program VCT sudah berjalan dalam satu periode, sesuai dengan

117
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

tahapan sasaran yang dirancang. Misalnya untuk satu tahun, jika


memang programnya dirancang dengan tahapan satu tahun. Karena
itu untuk kepentingan layanan VCT maka kegiatan monitoring dan
evaluasi dapat dilakukan baik internal maupun eksternal. Kementerian
Kesehatan telah mengembangkan instrumen monitoring dan evaluasi
pelayanan VCT. Aspek-aspek yang dimonitoring dan evaluasi yaitu
meliputi:

1. Sumberdaya Manusia dan Sarana Prasarana termasuk


Peningkatan Kapasitas Konselor
Konselor perlu meningkatkan kapasitas diri dengan
berhubungan dan mengembangkan jejaring sesama kelompok
konselor, teman, keluarga, supervisor dan sebagainya untuk
melihat apakah kebutuhannya sudah terpenuhi
Berbagi masalah pekerjaan dan tetap menjaga kerahasiaan
Menyediakan umpan balik/ pedoman
Mengembangkan keterampilan, ide, informasi profesional
Menyalurkan emosi ketika timbul rasa marah, putus asa,
kecewa
Mengenali perasaan tertekan, senang, gagal
Merasa dihargai dan dianggap sebagai kolega
Meningkatkan kesejahteraan fisik, emosional dan spiritual

Beberapa orang yang dapat menjadi pendukung antara lain:


atasan, petugas kesehatan lainnya, pasangan, teman,
suami/isteri, paman, bibi, kakek, nenek, liburan, seminar akhir
minggu, universitas, kelompok dukungan, konseling, pijat, tim

118
Materi Inti Voluntary Counseling and Testing HIV

kerja, konsultan, tokoh agama, pertemuan staff, rehat kopi,


belajar jarak jauh, hewan piaraan, klien, murid, pelatihan,
televisi, radio, olahraga, berdoa, meditasi, musik, menari,
membaca dan sebagainya.
2. Aspek kualitas layanan konseling dan tes HIV
3. Aspek kemampuan pemberi layanan konseling
4. Aspek konseling kelompok
5. Aspek kepuasan klien sebagai salah satu prinsip yang
menggaris bawahi implementasi layanan VCT adalah layanan
berkualitas guna memastikan klien mendapatkan layanan tepat
dan menarik orang untuk menggunaan layanan.

119