Anda di halaman 1dari 17

Tinjauan Tentang Alat Pelindung Diri (APD)

,Umur ,Pengetahuan Peraturan Kerja ,Jam


Kerja dan Unit Kerja.
a. Tinjauan Tentang Alat Pelindung Diri

Pengertian Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan

terhadap bahaya-bahaya kecelakaan (Sumamur, 2001). Atau bisa juga disebut alat

kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk

menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya.

APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja

apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan

baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari usaha tersebut, namun sebagai

usaha akhir.

Alat Pelindung Diri harus mampu melindungi pemakainya dari bahaya-bahaya

kecelakaan yang mungkin ditimbulkan, oleh karena itu, APD dipilih secara hati-hati

agar dapat memenuhi beberapa ketentuan yang diperlukan.

Menurut ketentuan Balai Hiperkes, syarat-syarat Alat Pelindung Diri adalah :

1. APD harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang

spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.

2. Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa

ketidaknyamanan yang berlebihan.

3. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.

4. Bentuknya harus cukup menarik.

5. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama.


6. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya yang

dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah dalam

menggunakannya.

7. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada.

8. Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya.

9. Suku cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah pemeliharaannya.

2. Tujuan, Manfaat,Jenis dan Kegunaan dari Alat Pelindung Diri

1. Tujuan

a. Melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan

administratif tidak dapat dilakukan dengan baik.

b. Meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja.

c. Menciptakan lingkungan kerja yang aman.

2. Manfaat

a. Untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya

potensi bahaya/kecelakaan kerja.

b. Mengurangi resiko akibat kecelakaan

3. Jenis

Alat Pelindung Diri di bagi menjadi 3 kelompok yaitu:

1) APD bagian kepala meliputi :

a. Alat Pelindung Kepala : Alat ini adalah kombiansi dari alat pelindung

mata,pernapasan dan mata contohnya Topi Pelindung/Pengaman (Safety

Helmet), Tutup Kepala, Hats/cap, Topi pengaman.

b. Alat Pelindung Kepala Bagian Atas : Topi Pelindung/Pengaman (Safety

Helmet),
c. Alat Pelindung Muka : Safety Glasses, Face Shields, Goggles.

d. Alat Pelindung Pengliahatan : Kaca Mata

e. Alat Pelindung Telinga : Tutup Telinga (Ear muff ), Sumbat Telinga (Ear

plugs).

f. Alat Pelindung Pernafasan : Masker, Respirator.

2) APD bagian badan meliputi :

a. Alat Pelindung Seluruh Badan : jas laboratorium

b. Alat Pelindung Badan Bagian Muka : Apron

c. Alat Pelindung Bagian Dada : Rompi Pelindung

APD bagian anggota badan meliputi :

a) Alat Pelindung Tangan : Sarung Tangan (Safety Gloves).

b) Alat Pelindung Kaki : sepatu bot.

4. Kegunaan

1) Alat Pelindung Kepala

a. Alat Pelindung Kepala Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet) :

Melindungi kepala dari benda keras, pukulan dan benturan, terjatuh dan

terkena arus listrik.

b. Tutup Kepala : Melindungi kepala dari kebakaran, korosif, uap-uap,

panas/dingin.

c. Hats/cap : Melindungi kepala dari kotoran debu atau tangkapan mesin-

mesin berputar.
d. Topi pengaman : untuk penggunaan yang bersifat umum dan pengaman

dari tegangan listrik yang terbatas. Tahan terhadap tegangan listrik.

Biasanya digunakan oleh pemadam kebakaran.

2) Alat Pelindung Muka Dan Mata

Melindungi muka dan mata dari:

a. Lemparan benda-benda kecil.

b. Lemparan benda-benda panas

c. Pengaruh cahaya

3) Alat Pelindung Telinga

a. Sumbat Telinga (Ear plugs ) yang baik adalah menahan frekuensi Daya

atenuasi (daya lindung) : 25-30 dB, sedangkan frekuensi untuk bicara

biasanya (komunikasi) tak terganggu.

b. Tutup Telinga (Ear muff ) frekuensi 28004000 Hz sampai 42 dB (3545 dB)

Untuk frekuensi biasa 25-30 dB. Untuk keadaan khusus dapat

dikombinasikan antara tutup telinga dan sumbat telinga sehingga dapat

atenuasi yang lebih tinggi; tapi tak lebih dari 50 dB,karena hantaran suara

melalui tulang masih ada.

4) Alat Pelindung Pernafasan

a. Memberikan perlindungan terhadap sumber-sumber bahaya seperti:

b. Kekurangan oksigen

c. Pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap dan uap logam)

d. Pencemaran oleh gas atau uap

5) Alat Pelindung Tangan

Sarung Tangan (Gloves) Jenis pekerjaan yang membutuhkan sarung tangan :


a) Pengelasan/ pemotongan (bahan kulit)

b) Bekerja dengan bahan kimia (bahan karet)

c) Beberapa pekerjaan mekanikal di workshop dimana ada potensi cedera bila

tidak menggunakan sarung tangan (seperti benda yang masih panas, benda

yang sisinya tajam dlsb.).

d) Beberapa pekerjaan perawatan.

6) Alat Pelindung Kaki

a. Untuk mencegah tusukan

b. Untuk mencegah tergelincir

c. Tahan terhadap bahaya listrik

7) Alat Pelindung Badan

Pakaian Pelindung: digunakan untuk melindungi tubuh dari benda berbahaya,

misal api, asap, bakteri, zat-zat kimia, dsb.

8) Safety Belt

Berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya

digunakan pada pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup

atau boiler.

9) Alat pelindung diri untuk tugas khusus

a. Apron untuk bekerja dengan bahan kimia ataupun pekerjaan pengelasan.

b. Full body harness untuk bekerja di ketinggian melebihi 1,24 meter.

c. Tutup telinga (ear plugs) untuk bekerja di tempat dengan kebisingan

melebihi 85 dB.

d. Sepatu boot karet (rubber boot) untuk semua pekerjaan di kebun yang

dimulai dari survey lahan, pembibitan, penanaman hingga panen.


3. Kekurangan dan Kelebihan Alat Pelindung Diri

1. Kekurangan

a. Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena memakai Alat

pelindung diri yang kurang tepat

b. Fungsi dari Alat Pelindung Diri ini hanya untuk menguragi akibat dari

kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya.

c. Tidak menjamin pemakainya bebas kecelakaan

d. Cara pemakaian Alat Pelindung Diri yang salah,

e. Alat Pelindung Diri tak memenuhi persyaratan standar)

f. Alat Pelindung Diri yang sangat sensitive terhadap perubahan tertentu.

g. Alat Pelindung Diri yang mempunyai masa kerja tertentu seperti

kanister, filter dan penyerap (cartridge).

h. Alat Pelindung Diri dapat menularkan penyakit,bila dipakai berganti-

ganti.

2. Kelebihan

a. Mengurangi resiko akibat kecelakan

b. Melindungi seluruh/sebagian tubuhnya pada kecelakaan

c. Sebagai usaha terakhir apabila sistem pengendalian teknik dan

administrasi tidak berfungsi dengan baik.

4. Cara Memilih dan Merawat Alat Pelindung Diri

1. Cara memilih

a) Sesuai dengan jenis pekerjaan dan dalam jumlah yang memadai.

b) Alat Pelindung Diri yang sesuai standar serta sesuai dengan jenis

pekerjaannya harus selalu digunakan selama mengerjakan tugas


tersebut atau selama berada di areal pekerjaan tersebut

dilaksanakan.

c) Alat Pelindung Diri tidak dibutuhkan apabila sedang berada dalam

kantor, ruang istirahat, atau tempat-tempat yang tidak

berhubungan dengan pekerjaannya.

d) Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang

dipakai.

2. Cara merawat

a) Meletakkan Alat pelindung diri pada tempatnya setelah selesai

digunakan.

b) Melakukan pembersihan secara berkala.

c) Memeriksa Alat pelindung diri sebelum dipakai untuk mengetahui

adanya kerusakan atau tidak layak pakai.

d) Memastikan Alat pelindung diri yang digunakan aman untuk

keselamatan jika tidak sesuai maka perlu diganti dengan yang baru.

e) Dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara

penyimpanan, kebersihan serta kondisinya.

f) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang

kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta

tidak dibenarkan untuk dipergunakan

g) Secara spesifik sebagai berikut :

1) Helm Safety/ Helm Kerja (Hard hat)

a) Helm kerja dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut

cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh manajemen lini.


b) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang

kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak

dibenarkan untuk dipergunakan (retak-retak, bolong atau tanpa system

suspensinya).

c) Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang

memiliki helm kerja dan telah mengikuti training.

2) Kacamata Safety (Safety Glasses)

a) Kacamata safety dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang

menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh

manajemen lini.

b) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan kacamata safety yang

kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak

dibenarkan untuk dipergunakan.

c) Penyimpanan masker harus terjamin sehingga terhindar dari debu, kondisi

yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), kelembaban atau

kemungkinan tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.

d) Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang

memiliki kacamata safety dan telah mengikuti training.

3) Sepatu Safety (Safety Shoes)

a) Sepatu safety dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang

menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh

manajemen lini.

b) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan sepatu safety yang

kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak

dibenarkan untuk dipergunakan.


c) Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang

memiliki sepatu safety dan telah mengikuti training.

4) Masker/ Perlindungan Pernafasan (Mask/ Respiratory Protection)

a) Pelindung pernafasan dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang

menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya.

b) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat pelindung pernafasan

yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta

tidak dibenarkan untuk dipergunakan.

c) Kondisi dan kebersihan alat pelindung pernafasan menjadi tanggung jawab

karyawan yang bersangkutan,

d) Kontrol terhadap kebersihan alat tersebut akan selalu dilakukan oleh

managemen lini.

5) Sarung tangan

a) Sarung tangan dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang

menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh

manajemen lini.

b) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan sarung tangan yang

kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak

dibenarkan untuk dipergunakan.

Penyimpanan sarung tangan harus terjamin sehingga terhindar dari debu,

kondisi yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), kelembaban atau

kemungkinan tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.

A. Tinjauan Tentang Umur Pekerja

Umur mempunyai pengaruh yang penting terhadap kejadian kecelakaan akibat

kerja.umur muda karena Golongan umur tua mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi

untuk mengalami kecelakaan akibat kerja dibangdinkan dengan golongan umur muda karena
umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi ( Hunter, 1975 ). Namun umur

muda pun sering pula mengalami kasus kecelakaan akibat kerja, hal ini mungkin karena

kecerobohan dansikap suka tergesa- gesa ( Tresnaningsih, 1991 ).

New Jersey tahun 1991 sampai dengan tahun 2000 didapatkan 20% kematian dari

1.174 kecelakaan. Dari 234 kecelakaan kerja di New jersey lebih banyak terjadi pada pekerja

usia lanjut ( > 55 tahun ) dari pada usia muda, antara lain kecelakaan transportasi perbandingan

antara usia lanjut dengan usia muda 42% : 34%, terjatuh 18% : 14%, ledakan 6% : 3% ( Dina,

2007 ).

Dari hasil penelitian di Amerika Serikat diungkapkan bahwa pekerja usia muda lebih

banyak mengalami kecelakaan dibangdinkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja muda usia

biasanya kurang berpengalaman dalam pekerjaannya ( ILO, 1989 )

Banyak alasan mengapa tenaga kerja golongan umur muda mempunyai

kecenderungan untuk menderita kecelkaan akibat kerja lebih tinggi dibandingkan

dengan golongan umur yang lebih tua. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya kejadin

kecelakaan akibat kerja pada golongan umur muda antara lain karena kurang perhatian, kurang

disiplin, cenderun menuruti kata hati, ceroboh, dan tergesa- gesa ( Oborne, 1982 ).

Pada penelitian kasus kecelakaan yang terjadi di Propinsi DKI Jakarta dan Kaltim dari

data tahun 2004 sampai dengan 2006 oleh Jamsostek Tbk ternyata kecelakaan yang terjadi

paling banyak menimpa kelompok umur 21- 25 tahun, diikuti kelompok umur 26-30 tahun

dan 31- 35 tahun yang merupakan kelompok usia paling produktif. Banyaknya kasus kecelakaan

pada usia muda ini cenderung untuk berprilaku sembrono, kurang pengalaman, senang

mencoba- coba dan mengakibatkan perilaku tidak aman dan atau membuat kondisi kerja yang

tidak aman ( Depnakertrans RI, 2007 )

Pada penelitian sukamto pada pekerjaan seismic survey di PT. Elnusa Geosains tahun

2004 dari hasil analisis statistik menggunakan chi square menunjukkan bahwa ada hubungan

yang bermakana antara umur dengan kecelakaan kerja dengan Pvalue = 0,040, terlihat bahwa

pkerja paling bayak mengalami kecelakaan akibat kerja adalah pekerja yang berumur 20 30
tahun yang terjadi pada tahun 2001 sejumlah 33 pekerja ( 66% ), tahun 2002 sejumlah 26 pekerja

( 60,5% ) dan tahun 2003 48 pekerja ( 66,7% ).

Hasil penelitian Angreni ( 1993 ) di PT. Intirub bahwa terjadinya kecelakaan kerja

paling tinggi terdapat pada kelompok umur 20- 29 tahun ( 25 % ) kemudian menyusul kelompok

umur 30- 39 tahun ( 10,4% ). Setelah dilakukan uji chi square untuk melihat hubungan statistik

antara umur pekerja dengan kejadian kecelakaan kerja diperoleh hasil tidak ada hubungan

diantara keduanya ( P value= 0,16 0

Hasil penelitian sugihsetiaraharja ( 1997 ) di PT. Goodyear Indonesia bahwa dari

seluruh pekerja yang mengalami kecelakaan selama tahun1994 1996 kejadian kecelakaan

kerja yang sering terjadi pada kelompok umur 41 tahun. Pada tahun 1994 sebayak 22 kasus (

52,4% ), tahun 1995 sebayak 33 kasus ( 53,4% ) dan pada tahun 1996 sebayak 24 kasus ( 57,2%

) dari hasil uji statistik chi square tidak didapat hubungan bermakna antara umur dengan

kejadian kecelakaan ( Pvalue = 0,005 )

B. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan

1. Pengertian pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

panca indera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo,2004).

Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek

positif dan aspek negatif. Kedua aspek inilah yang akan menentukan sikap seseorang

terhadap obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dari obyek yang diketahui maka

menimbulkan sikap makin positif terhadap aspek tersebut.

Rogers (2001) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru

(berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :

a. Awareness (kesadaran)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap

stimulus (objek).

b. Interest (merasa tertarik)

Subyek sudah mulai tertarik terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap
subjek sudah mulai timbul.

c. Evaluation (menimbang-nimbang)

Pada tahap ini klien sudah mulai menimbang-nimbang baik dan tidak baiknya
stimulus tersebut pada dirinya. Hal ini berarti responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial

Dimana subjek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang

dikehendaki oleh stimulus.

e. Adoption

Dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan

sikapnya terhadap stimulus.

2. Tingkatan pengetahuan

Tingkat pengetahuan dalam domain kognitif menurut Notoatmodjo (2002) mempunyai 6

(enam) tingkatan yaitu :

a. Know (tahu)

Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Termasuk

ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu

yang spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukurnya antara lain menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan

dan sebagainya.

b. Comperhension (memahami)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar terhadap

objek atau materi, harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya.

c. Aplikasion (Aplikasi)

Aplikasi diartikan sebagai sutu kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari

pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya)

d. Analysis (analisis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam

komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan

masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Syntesis (sintesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluation (evaluasi)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian

terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan suatu

kriteria yang telah ada.

3. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

a. Umur

Umur individu yang terhitung mulai saat berulang tahun (Nursalam,2001), semakin

cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam

berfikir dan bekerja.

b. Pendidikan

Bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju

ke arah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan informasi


misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga bisa meningkatkan kualitas

hidup.

Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga

makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan

menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru

diperkenalkan (Nursalam, 2006).

c. Pekerjaan

Keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya

dan kehidupan keluarganya. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih

banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang banyak

tantangan. Bekerja umumnya merupakan kegiatan menyita waktu, bekerja bagi ibu-ibu

akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Nursalam 2006).

Menurut Depkes RI, (1996) mengemukakan perhatian wanita di dalam

keluarga masih kurang diperhatikan dibandingkan dengan laki-laki, misalnya wanita

mengeluarkan energi lebih banyak di dalam keluarga. Wanita yang bekerja sesampainya

di rumah tidak bisa langsung istirahat, karena umumnya mempunyai banyak peran di

rumah seperti memasak, menyiapkan makan, membersihkan rumah sehingga waktu

untuk membaca ataupun mendengarkan informasi dari radio dan televisi berkurang.

d. Pendapatan

Pendapatan keluarga biasanya dilihat dari satu bulan, dimana pendapatan ini

digunakan untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan

biaya sehari-hari termasuk untuk pemeliharaan kesehatan. Semakin tinggi tingkat

pendapatan keluarga maka akan semakin terpenuhi kebutuhannya, sebaliknya semakin

rendah pendapatan keluarga maka pemenuhan kebutuhannya akan kurang juga

sehingga terkadang akan lebih mementingkan kebutuhan primernya dibandingkan

kebutuhan akan kesehatan.


e. Letak geografis

Lokasi geografis yang buruk misalnya daerah terpencil akan sulit menerima informasi

dari luar.

4. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menanyakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subyek penelitian/responden.

(Notoadmodjo,S. 2010)

Untuk memudahkan terhadap pemisahan tingkat pengetahuan dalam penelitian, tingkat

pengetahuan dibagi berdasarkan skor yang terdiri dari :

1. Baik bila tingkat pengetahuan 76% sampai dengan 100%

2. Cukup bila tingkat pengetahuan 56% sampai dengan 75%

3. Kurang bila tingkat pengetahuan kurang dari 56%

C. Tinjauan Tentang Jam Kerja

Penelitian di Inggiris menunjukkan bahwa dengan memperpendek jam kerja dapat

meningkatkan produktivitas setiap jam kerja. Sebaliknya dengan memperpanjang jam kerja

mengakibatkan kecepatan kerja menjadi turun dan berkurangnya prestasi setiap jamnya (

Sukanto,2004 )

Pada penelitian Sukamto ( 2004 ) di PT. Elnusa Geosains menyatakan hasil analisis statistik

menunjukkan bahwa pada -5% diperoleh nilai p=0,024. Hal tersebut berarti menunjukkan bahwa

ada hubungan yang bermakna antara waktu kerja dengan pada kecelakaan kerja karena p value

lebih kecil dari ( p value < ) yakni didtribusi kecelakaan akibat kerja banyak terjadi pada > 8 jam

seperti terlihat pada tahun 2001 sejumlah 39 pekerja ( 78% ) tahun 2002 sejumlah 28 pekerja (65,1%

) dan tahun 2003 sejumlah 39 pekerja ( 54,2% )

Di Indonesia peraturan yang mengatur tentang lama kerja dan shift kerja terdapat dalam

peraturan Mentri Tenaga Kerja RI No. Per.06/Men/ 1993 tentang waktu kerja 5 hari selama

seminggu dan 8 jam sehari ( Santoso, 1999 ).


1. Faktor Lingkungan

Ada beberapa faktor- faktor dari karakteristik lingkungan kerja sebagai berikut :

a. Faktor Fisik

1. Pencahayaan

Pencahayaan merupakan suatau aspek lingkungan fisik yang penting

bagi keselamatan kerja. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pencahayaan

yang tepat dan sesuai dengan pekerjaan akan menghasilkan produksi yang

maksimal dan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan akibat kerja ( Sukanto,2004

2. Kebisingan

Kebisingan di tempat kerja dapat berpengaruh terhadap pekerja

karena kebisingan dapat menimbulkan gangguan perasaan, gangguan komunikasi

sehingga menyebabakan salah pengertian, tidak mendengar isyarat yang diberikan,

hal ini dapat berakibat terjadinya kecelakaan akibat kerja disamping itu kebisingan

juga dapat menyebabakan hilangnya pendengaran sementara atau menetap. Nilai

Ambang Batas Kebisingan adalah 85 dBA untuk 8 jam kerja sehari atau 40 jam kerja

dalam seminggu ( Sukanto,2004)

3. Suhu

Suhu yang nyaman untuk bekerja berbeda secara subyektif pada setiap

orang. Bagi orang Indonesia suhu yang nyaman untuk bekerja antara 24C -

26C penyimpangan dari batas kenyamanan suhu menyebabkan perasaan

mengantuk dan lelah yang dapat mengurangi ketersediaan untuk berprestasidan

meningkatkan frekwensi kelelahan sehingga resiko pekerja untuk menjalani

kecelakaan meningkat, sebaliknya suhu yang ekstrim dingin dapat menyebabakan

ketidaktenangan dan mengurangi daya atensi dalam bekerja ( Sastro Winoto, 1985

dalam Iswandi, 1998 ).


b. Faktor Kimia

Faktor lingkungan kimia merupakan salah satu faktor lingkungan yang

memungkinkan penyebab kecelakaan kerj. Faktor tersebut dapat berupa bahan baku

suatu produk, hasil suatu produksi dari suatu proses, proses produksi sendiri ataupun

limbah dari suatu produksi.

c. Faktor Biologi

Bahaya Bilogi disebabkan oleh jasad renik,gangguan dari serangga maupun

binatang lain yang ada di tempat kerja. Berbagai macam penyakit dapat timbul seperti

infeksi, allergi, dan sengatan serangga maupun gigitan binatang berbisa berbagai

penyakit serta bisa menyebabkan kematian ( Sukanto,2004 ))

D. Tinjauan Tentang Unit Kerja

Unit kerja ialah pembagian satuan kerja di area proses maupun non proses yang masing-

masing terdiri atas beberapa jenis pekerjaan ( Sukanto,2004 )

Jenis pekerjaan mempunyai pengaruh besar terhadap risiko terjadinya kecelakaan akibat

kerja. Jumlah dan macam kecelakaan akibat kerja berbeda- di berbagai kesatuan operasi dalam

suatu proses ( Sukanto,2004 )

Pada variabel unit kerja menurut penelitian Sukamto ( 2004 ) di PT. Elnusa Geosains bahwa

dari hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara unit kerja dengan

kecelakaan kerja, terlihat bahwa unit kerja paling banyak terjadi pada pekerjaan unit topografi/

surveying yakni pada tahun 2001 sejumlah 33 pekerja ( 66% ) tahun 2002 sejumlah 20 pekerja ( 46%

) dan tahun 2003 sejumlah 56 pekerja ( 77% ) dan paling sedikit terjadi kecelakaan kerja pada

pekerjaan unit recording dengan distribusi pada tahun 2001 sejumlah 4 pekerja (8%) tahun 2002

sejumlah 3 pekerja ( 7% ) dan pada tanun 2003 sejumlah 4 pekerja ( 5,6% ) ( Pvalue= 0,063% )