Anda di halaman 1dari 8

Anuria obstruktif

Manifestasi dari sumbatan total aliran urin pada sistem saluran kemih bagian atas

adalah anuria yang berkurangnya produksi urin hingga kurang dari 200 ml dalam

24 jam . Anuria obstruktif ini terjadi jika terdapat sumbatan saluran kemih

bilateral atau sumbatan saluran kemih unilateral pada ginjal tunggal.

Selain disebabkan oleh adanya sumbatan di saluran kemih, anuria juga bisa

disebabkan oleh perfusi darah ke jaringan ginjal yang berkurang (disebut sebagai

anuria pre renal) atau kerusakan pada jaringan ginjal (anuria intrarenal).

Gambaran klinis

Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencing hanya sedikit, yang

kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain, yaitu nyeri di daerah

pinggang atau kolik; dan tidak jarang diikuti dengan demam. Jika didapatkan

riwayat adanya kehilangan cairan, asupan cairan yang berkurang, atau riwayat

menderita penyakit jantung, harus diwaspadai adanya faktor pre renal.

Perlu ditanyakan kemungkinan riwayat penyakit pasien sebelumnya, diantaranya

mungkin mengonsumsi obat yang nefrotoksik, menjalani foto radiologi yang

menggunakan bahan kontras, pernah menjalani radiasi di daerah perut sebelah

atas, riwayat reaksi transfusi hemolitik, atau riwayat penyakit ginjal sebelumnya.

Kesemuanya itu untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intrarenal.

Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah, nadi dan

perfusinya. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena sentral atau

CVP (central venous pressure) sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien

dengan tepat dan mudah. Tidak jarang dijumpai pasien datang dengan tanda-tanda
uremia yaitu pernafasan asidosis, demam karena urosepsis atau dehidrasi, serta

tanda-tanda ileus.

Palpasi bimanual dan perkusi di daerah pinggang bertujuan untuk mengetahui

adanya nyeri atau massa pada pinggang akibat hidro atau pionefrosis. Pada colok

dubur atau colok vagina mungkin teraba adanya karsinoma buli-buli, karsinoma

prostat, atau karsinoma serviks stadium lanjut yang membuntu kedua muara

ureter.

Pemeriksaan laboratorium sedimen urin menunjukkan leukosituria atau hematuria.

Pemeriksaan darah rutin ditemukan leukositosis, terdapat gangguan faal ginjal,

tanda asidosis, atau hiperkalemia.

Foto polos abdomen ditujukan untuk mencari adanya batu opak pada saluran

kemih, atau bayangan pembesaran ginjal. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen

sangat penting untuk mengetahui adanya hidronefrosis atau pionefrosis. Melalui

tuntunan USG dapat dilakukan pemasangan kateter nefrostomi secara perkutan.

1.Urolitiasis

Urolitiasis adalah terbentuknya batu di dalam saluran kemih. Komposisi batu

yang ditemukan pada seseorang perlu ditentukan karena komposisi batu dipakai

sebagai landasan untuk menelusuri etiologi penyakit batu saluran kemih. Analisis

baru dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu cara kualitatif dan kuantitatif dengan

metode kromatografik dan autoanalisis.

Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya, besarnya,

morfologinya. Walaupun demikian, penyakit ini mempunyai tanda umum, yaitu

hematuria, baik hematuria nyata maupun mikroskopik.


Batu ureter

Anatomi ureter mempunyai beberapa tempat penyempitan yang memungkinkan

batu ureter terhenti. Karena peristaltic, akan terjafi gejala kolik, yakni nyeri yang

hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih

khas. Selama batu bertahan di tempat yang menyumbat, selama itu kolik akan

berulang-ulang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan pada air kemih

untuk lewat.

Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar

bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian

berupa nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal

di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan

hidroureter yang mungkin asimtomatik, Tidak jarang terjadi hematuria yang

didahului serangan kronik. Bila keadaan obstruksi terus berlangsung lanjutan dari

kelainan yang terjadi dapat berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis

sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum.

Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya

batu saluran kemih pada seseorang. Faktor itu meliputi faktor intrinsik, yaitu

keadaan yang berasal dari tubuh seseorang, dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh

yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.

Faktor intrinsik itu antara lain adalah:

1. Herediter (keturunan): penyakit ini diduga diturunkan dari orangtuanya

2. Umur: penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun

3. Jenis kelamin: jumlah pasien laki-laku tiga kali lebih banyak dibandingkan

dengan pasien perempuan.


Beberapa faktor ekstrinsik di antaranya adalah:

1. Geografi: pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran

kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai

daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika Selatan

hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.

2. Iklim dan temperature

3. Asupan air: kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium

pada air yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran

kemih.

4. Diet: diet banyak purin, oksalat, dan kalsium mempermudah terjadinya

penyakit batu saluran kemih.

5. Pekerjaan: penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya

banyak duduk atau kurang aktivitas atau sedentary life (Purnomo, 2014).

Batu ginjal terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada di kaliks,

infundibulum, pelvis ginjal, dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh

kaliks ginjal. Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal

memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu

staghorn. Kelainan atau obstruksi pada sistem pelvikalises ginjal

(penyempitan infundibulum dan stenosis ureteropelvik) mempermudah

timbulnya batu saluran kemih.

Batu yang tidak terlalu besar didorong oleh peristaltic otot pelvikaliks dan

turun ke ureter menjadi batu ureter. Tenaga peristaltic ureter mencoba untuk

mengeluarkan batu hingga turun ke buli-buli. Batu yang ukurannya kecil

(<5mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan yang lebih besar
seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi radang

(periureteritis) serta menimbulkan obstruksi kronis berupa hidroureter atau

hidronefrosis.

Batu yang terletak pada ureter maupun sistem pelvikalises mampu

menimbulkan obstruksi saluran kemih dan menimbulkan kelainan struktur

saluran kemih sebelah atas. Obstruksi di ureter menyebabkan hidroureter dan

hidronefrosis, batu di pielum dapat menimbulkan hidronefrosis, dan batu di

kaliks mayor dapat menimbulkan kaliektasis pada kaliks yang bersangkutan.

Jika disertai infeksi sekunder dapat menimbulkan pionefrosis, urosepsis, abses

ginjal, abses perinefrik, abses paranefrik, ataupun pielonefritis. Pada keadaan

yang lanjut dapat terjadi kerusakan ginjal, dan jika mengenai kedua sisi

mengakibatkan gagal ginjal permanen (Purnomo, 2014)

Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok pada daerah

kostovertebra, terab ginjal pada sisi yang sakit akibat hidronefrosis, terlihat

tanda-tanda gagal ginjal, retensi urin, dan jika disertai infeksi didapatkan

demam/menggigil.

Pemeriksaan sedimen urin menunjukkan adanya leukosituria, hematuria, dan

dijumpai berbagai kristal pembentuk batu, Pemeriksaan kultur urine mungkin

menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea. Pemeriksaan faal

ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya penurunan fungsi

ginjal dan untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan foto IVU.

Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai factor penyebab

timbulnya batu saluran kemih (antara lain kadar kalsium, oksalat, fosfat,

maupun urat di dalam darah maupun di dalam urin).


Pembuatan foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya

batu radio-opak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium

fosfat bersifat radio-opak dan paling sering dijumpai di antara batu jenis lain,

sedangkan batu asam urat bersifat non opak (radio-lusen).

Pemeriksaan pielografi intravena bertujuan menilai keadaan anatomi dan fungsi

ginjal. Selain itu, IVU dapat mendeteksi adanya batu semi opak ataupun batu non

opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos perut. Jika IVU belum dapat

menjelaskan keadaan sistem saluran kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal,

sebagai penggantinya adalah pemeriksaan pielografi retrograde.

Ultrasonografi dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVU,

yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang

menurun, dan pada wanita yang sedang hamil. Pemeriksaan USG dapat menilai

adanya batu di ginjal atau di buli-buli (yang ditunjukkan sebagai echoic shadow),

hidronefrosis, pionefrosis, atau pengerutan ginjal.

2.Striktur uretra

Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra karena fibrosis pada dindingnya.

Penyempitan lumen ini disebabkan karena dindingnya mengalami fibrosis dan

pada tingkat yang lebih parah terjadi fibrosis korpus spongiosum.

Striktur uretra dapat disebabkan karena suatu infeksi, trauma pada uretra, dan

kelainan bawaan. Infeksi paling sering menimbulkan struktura uretra adalah

infeksi oleh kuman gonokokus yang telah menginfeksi uretra beberapa tahun

sebelumnya. Keadaan ini sekarang jarang dijumpai karena banyak pemakaian

antibiotika untuk memberantas uretritis.


Trauma yang menyebabkan striktura uretra adalah trauma tumpul pada

selangkangan (straddle injury), fraktur tulang pelvis, dan instrumentasi atau

tindakan transuretra yang kurang hati-hati. Tindakan yang kurang hati-hati pada

pemasangan kateter dapat menimbulkan salah jalan (false route) yang

menimbulkan kerusakan uretra dan menyisakan striktura di kemudian hari;

demikian pula fiksasi kateter yang tidak benar pada pemakaian kateter menetap

menyebabkan penekanan kateter pada perbatasan uretra bulbo-pendulare yang

mengakibatkan penekanan uretra terus-menerus, menimbulkan hipoksia uretra

daerah itu, yang pada akhirnya menimbulkan fistula atau striktura uretra.

Proses radang akibat trauma atau infeksi pada uretra akan menyebabkan

terbentuknya jaringan sikatrik pada uretra. Jaringan sikatriks pada lumen uretra

menimbulkan hambatan aliran urin hingga retensi urin. Aliran urin yang

terhambat mencari jalan keluar di tempat lain (di sebelah proksimal striktura) dan

akhirnya mengumpul di rongga periuretra. Jika terinfeksi menimbulkan abses

periuretra yang kemudian pecah membentuk fistula uretrokutan. Pada keadaan

tertentu dijumpai banyak sekali fistula sehingga disebut sebagai fistula seruling.

Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktura uretra dibagi menjadi tiga

tingkatan, seperti berikut:

1. Ringan: jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra

2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen uretra

3. Berat: jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra.

Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus

spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.


3.Benign Prostat Hypertrophy

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah

inferior buli-buli dan melingkari uretra posterior. Bila mengalami pembesaran,

organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya

aliran urin keluar dari buli-buli.

Pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormone testosteron, yang aktif

di dalam sel kelenjar prostat, hormone ini akan dirubah menjadi metabolit aktif

dihdrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5-reduktase. DHT inilah yang

secara langsung memacu m-RNA di dalam sel kelenjar prostat untuk mensintesis

protein growth factor yang memacu pertumbuhan dan proliferasi sel kelenjar

prostat.

Batu Saluran BPH Striktur Uretra

Kemih
Pemeriksaan

Penunjang

Terapi

Prognosis