Anda di halaman 1dari 89

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia saat ini sedang mengalami masa transisi yang dapat membawa

dampak positif dan atau negatif terhadap kualitas lingkunganatau ekosistem yang

akan berpengaruh terhadap risiko kejadian dan penularan penyakit vector-borne

seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Laju pembangunan, pertumbuhan

penduduk dan perubahan ekosistem yang cepat menyebabkan masalah kesehatan

lingkungan menjadi lebih kompleks 1.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI

No.581/MENKES/SK/VII/1992, DBD adalah penyakit menular yang disebabkan

oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang ditandai oleh

demam mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas, lemah, lesu,

nyeri ulu hati, disertai tanda-tanda perdarahan pada kulit2. World Health

Organization (WHO) memperkirakan kasus DBD dapat terjadi, baik di daerah

tropis maupun subtropis terutama pada wilayah perkotaan. WHO mencatat

500.000 kasus DBD terjadi setiap tahun dengan angka kematian sebesar 30.000

kasus, terutama anak anak. Penyakit ini endemis di 100 negara termasuk

Asia.Pemanasan global dan perubahan lingkungan merupakan variabel utama

penyebab meluasnya kasus DBD di berbagai belahan dunia3.

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan

masyarakat Indonesia, karena angka kesakitan semakin meningkat, masih

menimbulkan kematian dan sering terulangnya kejadian luar biasa (KLB). Di

1
Indonesia, jumlah kasus DBD cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Meningkatnya angka demam berdarah diberbagai kota di Indonesia disebabkan

oleh sulitnya pengendalian penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Indonesia merupakan salah satu negara endemik demam dengue yang setiap tahun

selalu terjadi KLB di berbagai kota dan setiap lima tahun sekali terjadi KLB

besar4,5. Demam berdarah dapat menyerang semua kelompok lapisan masyarakat

dan seluruh kelompok umur sehingga masyarakat perlu diinformasikan mengenai

hal tersebut sebagai salah satu bentuk dari pengelolaan dalam mengatasi masalah

DBD.

Puskesmas merupakan ujung tombak dalam rangka meningkatkan status

kesehatan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu strategi,

khususnya dalam menghadapi penyakit DBD. Strategi tersebut harus dilakukan

secara terpadu dengan memperhatikan aspek kesehatan pada suatu sisi dan aspek

lingkungan pada sisi lain.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Masalah apa yang menyebabkan masih tingginya angka kejadian DBD di

wilayah kerja Puskesmas Andalas?

1.2.2 Bagaimana melakukan upaya pencegahan, pemberantasan, dan pengendalian

kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas?

1.2.3 Bagaimana evaluasi dan monitoring terhadap upaya pencegahan,

pemberantasan, dan pengendalian kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas

Andalas?

2
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui upaya pencegahan, pemberantasan, dan pengendalian kasus

DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi masalah yang menyebabkan masih tingginya angka

kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas

1.3.2.2 Mengidentifikasi upaya pencegahan, pemberantasan, dan pengendalian

kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas?

1.3.3.3 Mengidentifikasi evaluasi dan monitoring terhadap upaya pencegahan,

pemberantasan, dan pengendalian kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas

Andalas?

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Masyarakat
Meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam upaya

mencegah, memberantas, dan mengendalikan kejadian DBD.

1.4.2 Puskesmas dan pemegang program DBD di Puskesmas

Memberikan masukan berupa solusi alternatif pemecahan masalah untuk

mengatasi masalah DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

1.4.3 Penulis

Menambah pengetahuan bagi penulis tentang kasus DBD, masalah

pemberantasan, pencegahan, dan pengendaliannya, serta upaya yang dapat

dilakukan untuk mengatasi masalah.

3
1.4.4 Dinas Kesehatan

a. Menambah informasi kesehatan mengenai kasus DBD dan maslahnya

di wilayah kerja Puskesmas Andalas

b. Menambah informasi mengenai upaya pencegahan, pemberantasan dan

pengendalian DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas

1.5 Metode Penulisan

Metode penulisan Plan of Action (POA) ini merujuk pada berbagai

literatur dan laporan tahunan Puskesmas Andalas.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang

disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang

ditandai oleh demam mendadak dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas,

lemah, lesu, nyeri ulu hati, disertai tanda-tanda perdarahan pada kulit2.

2.2 Epidemiologi DBD

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu

masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan

luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya

mobilitas dan kepadatan penduduk. Di Indonesia, kasus demam berdarah pertama

kali ditemukan di kota Surabaya pada tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang

terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia dengan Angka Kematian

(AK): 41,3%)6.

Sejak tahun 1968 telah terjadi peningkatan persebaran jumlah provinsi dan

kabupaten/kota yang endemis DBD, dari 2 provinsi dan 2 kota, menjadi 32 (97%)

dan 382 (77%) kabupaten/kota pada tahun 2009. Provinsi Maluku, dari tahun

2002 sampai tahun 2009 tidak ada laporan kasus DBD. Selain itu terjadi juga

peningkatan jumlah kasus DBD, pada tahun 1968 hanya 58 kasus menjadi

158.912 kasus pada tahun 2009. Peningkatan dan penyebaran kasus DBD tersebut

kemungkinan disebabkan oleh mobilitas penduduk yang tinggi, perkembangan

wilayah perkotaan, perubahan iklim, perubahan kepadatan dan distribusi

5
penduduk serta faktor epidemiologi lainnya yang masih memerlukan penelitian

lebih lanjut6.

2.3 Etiologi DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus dengue yang termasuk

kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai

genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu;

DEN-1, DEN2, DEN-3, dan DEN-4. Keempat serotipe virus dengue dapat

ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Di Indonesia, pengamatan virus

dengue yang dilakukan sejak tahun 1975 di beberapa rumah sakit menunjukkan

bahwa keempat serotipe ditemukan dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe

DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang

menunjukkan manifestasi klinik yang berat7.

2.4 Vektor DBD

Penyakit DBD dapat ditularkan oleh vektor berupa nyamuk yaitu Aedes

aegypti. Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan

dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai dasar hitam dengan bintik-

bintik putih pada bagian badan, kaki, dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti jantan

mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya, sedangkan

yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia

dari pada binatang. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari.

Aktivitas menggigit biasanya pagi (pukul 9.00-10.00) sampai petang hari (16.00-

17.00. Aedes aegypti mempunyai kebiasan mengisap darah berulang kali untuk

memenuhi lambungnya dengan darah.

6
Dengan demikian, nyamuk ini sangat infektif sebagai penular penyakit.

Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau diluar

rumah. Tempat hinggap yang disenangi adalah benda-benda yang tergantung dan

biasanya ditempat yang agak gelap dan lembab. Di tempat tersebut nyamuk

menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya nyamuk betina akan

meletakkan telurnya didinding tempat perkembangbiakan, sedikit diatas

permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu

dua hari setelah terendam air. Jentik kemudian menjadi kepompong dan akhirnya

menjadi nyamuk dewasa8.

2.5 Patogenesis dan Patofisiologi DBD

Respon imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DBD adalah :

a. Respon humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam

proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan

sitotoksisitas yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap virus dengue

berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit atau

makrofag. Hipotesis ini disebut dengan antibodi dependent

enchancement (ADE);

b. Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T sitotoksik (CD8) berperan dalam

respon imun seluler terhadap virus dengue. Diferensiasi T helper yaitu

TH1 akan memproduksi interferon gamma, IL-2 dan limfokin.

Sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-5, IL- 6, dan IL-10;

c. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan

opsonisasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan

peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag;

7
d. Aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan terbentuknya

C3a dan C5a.

Infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang

memfagositosis kompleks virus-antibodi non netralisasi sehingga virus bereplikasi

di makrofag. Terjadinya infeksi makrofag oleh virus dengue menyebabkan

aktivasi T helper dan T sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon

gamma.

Interferon gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai

mediator inflamasi seperti TNF-_, IL-1, PAF (platelet activatingfactor), IL-6, dan

histamin yang mengakibatkan terjadinya disfungsi endotel dan terjadi kebocoran

plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi oleh kompleks virus-

antibodi yang juga mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.

Trombositopenia pada infeksi dengue terjadimelalui mekanisme :

a. Supresi sumsum tulang

b. Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.

Gambaran sumsum tulang pada fase awal infeksi (<5 hari) menunjukkan

keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir tercapai akan

terjadi peningkatan hematopoiesis termasuk megakariopoiesis. Kadar

tromobopoietin dalam darah pada saat terjadi trombositopenia justru menunjukkan

kenaikan. Hal ini menunjukkan terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai

mekanisme kompensasi terhadap keadaan trombositopenia.

Destruksi trombosit terjadi melalui pengikatan fragmenC3g, terdapatnya

antibodi VD, konsumsi trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi di

perifer. Gangguan fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme gangguan

8
pelepasan ADP, peningkatan kadar b-tromboglobulin danPF4 yang merupakan

pertanda degranulasi trombosit.

Koagulopati terjadi sebagai akibat interaksi virus dengan endotel yang

menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya

koagulopati konsumtif pada DBD stadium III dan IV. Aktivasi koagulasi pada

demam berdarah dengue terjadi melalui aktivasi jalur intrinsik (tissue

factorpathway). Jalur intrinsik juga berperan melalui aktivasi faktor XIa namun

tidak melalui aktivasikontak (kalikrein C1-inhibitor complex)9.

2.6 Penegakan Diagnosis

2.6.1 Demam Berdarah Dengue (DBD)10

Diagnosa DBD ditegakkan jika ada 2 kriteria klinis ditambah dengan 2

kriteria laboratoris. Kasus DBD yang menjadi lebih berat dapat menjadi kasus

Dengue Shock Syndrome (DSS).

a. Kriteria Klinis dan Laboratoris DBD

i. Kriteria klinis : Demam tinggi yang mendadak dan terus menerus selama 2-

7 hari; terdapat manifestasi perdarahan yaitu tourniquet positif, petechiae,

echimosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi,

hematemesis melena; pembesaran hati; syok ditandai dengan nadi lemah

dan tekanan darah turun, kulit dingin dan lembab di akral, sianosis di

sekitar mulut, dan gelisah.

ii. Kriteria laboratoris : trombositopenia (<100.000 ul); hemokonsentrasi,

peningkatan hematokrit 20% atau lebih.

9
Tabel 2.1 Klasifikasi Derajat Penyakit Virus Dengue
DD/DBD Derajat Gejala Laboratorium
DD Demam disertai 2 Leukopenia
atau lebih tanda : Trombositopeni
sakit kepala, a, tidak
nyeri ditemukan bukti
retro-orbital, kebocoran
myalgia, plasma.
arthralgia Serologi dengue
positif
DBD I Gejala diatas Trombositopenia,
ditambah uji bukti ada kebocoran
bending positif plasma
DBD II Gejala diatas Trpmbositopenia,
ditambah bukti ada kebocoran
perdarahan plasma
spontan
DBD III Gejala diatas Trombositopenia,
ditambah bukti ada kebocoran
kegagalan plasma
sirkulasi (kulit
dingin dan
lembab serta
gelisah
DBD IV Syok berat Trombositopenia,
disertai tekanan bukti ada kebocoran
darah dan nadi plasma
yang tidak
terukur
Sumber : Suhendro et all, 2006

2.6.2 Dengue Shock Syndrome (DSS)10

Pada DSS, setelah demam berlangsung selama beberapa hari keadaan

umum tiba-tiba memburuk, hal ini terjadi biasanya pada saat atau setelah demam

menurun, yaitu di antara hari sakitke 3-7. Hal ini dapat di terangkan dengan

hipotesis meningkatnya reaksi imunologis (theimmunological enchancement

hypothesis).

Pada sebagian besar kasus ditemukan tanda kegagalan peredaran darah,

kulit teraba lembab dan dingin, sianosis di sekitar mulut, nadi menjadi cepat dan

10
lembut. Anak tampak lesu, gelisah, dan secara cepat masuk dalam fase syok.

Pasien seringkali mengeluh nyeri di daerah perut sesaat sebelum syok.

Nyeri perut hebat seringkali mendahului pendarahan gastrointestinal.

Nyeri di daerah retrosternal tanpa sebab yang jelas dapat memberikan petunjuk

adanya pendarahan gastrointestinal yang hebat. Syok yang terjadi selama periode

demam biasanya mempunyai prognosis buruk.

Disamping kegagalan sirkulasi, syok ditandai oleh nadi lembut, cepat,

kecil sampai tidak dapat diraba. Tekanan nadi menurun menjadi 20mmHg atau

kurang dan tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Syok

harus segera diobati apabila terlambat pasien dapat mengalami syok berat

(profound shock), tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi tidak dapat diraba.

Tatalaksana syok yang tidak adekuat akan menimbulkan komplikasi

asidosis metabolik, hipoksia, pendarahan gastrointestinal hebat dengan prognosis

buruk. Sebaliknya dengan pengobatan yang tepat segera terjadi masa

penyembuhan dengan cepat. Pasien sembuh dalam waktu 2-3 hari. Selera makan

membaik merupakan petunjuk prognosis baik.

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan trombositopenia dan

hemokonsentrasi. Jumlah trombosit < 100.000/l ditemukan di antara hari sakit ke

3-7. Peningkatan kadar hematokrit merupakan bukti adanya kebocoran plasma,

terjadi pula pada kasus derajat ringan walaupun tidak sehebat dalam keadaan

syok. Hasil laboratorium lain yang sering ditemukan ialah hipoproteinemia,

hiponatremia, kadar transaminase serum dan nitrogen darah meningkat. Pada

beberapa kasus ditemukan asidosis metabolik. Jumlah leukosit bervariasi antara

11
leukopenia dan leukositosis. Kadang ditemukan albuminuria ringan yang bersifat

sementara.

2.7 Penanggulangan DBD

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1501/Menkes/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat

Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan, menyebutkan DBD termasuk

salah satu penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Oleh karena itu diperlukan

upaya penanggulangan DBD untuk menurunkan terjadinya Kejadian Luar Biasa

(KLB) pada pernyakit DBD, salah satunya dengan pengendalian vektor.

Pengendalian vektor melalui surveilans vektor diatur dalam Kepmenkes

No. 581 tahun 1992 bahwa kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

dilakukan secara periodik oleh masyarakat yang dikoordinir oleh RT/RW dalam

bentuk PSN dengan pesan inti 3M plus. Keberhasilan kegiatan PSN antara lain

dapat diukur dengan Angka Bebas Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama

dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi6.

Sejak tahun 2004 telah diperkenalkan suatu metode

komunikasi/penyampaian informasi yang berdampak pada perubahan perilaku

dalam pelaksanaan PSN melalui pendekatan sosial budaya setempat yaitu metode

Communication for Behavioral Impact (COMBI). Pada tahun 2007 pelaksanaan

PSN dengan metode COMBI telah dilaksanakan di beberapa kota antara lain

Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Padang, dan Yogyakarta6.

Pendekatan pengendalian DBD pada saat sekarang menitik beratkan pada

pengendalian lingkungan untuk memutus transmisi atau penularan dengan cara

pemberantasan sarang nyamuk (pengendalian tempat perindukan nyamuk),

12
fogging, dan lain-lain. Konsep manajemen DBD yang berbasis pada masyarakat,

yaitu dengan cara menggabungkan pengendalian penyakit pada sumbernya,

pengendalian sarang nyamuk, dan penyuluhan bagi masyarakat untuk

menuntaskan penyakit DBD.

Pengendalian DBD terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan,

yaitu dengan pengendalian vektor yang sudah dilakukan hampir di seluruh negara.

Beberapa metode pengendalian vektor telah banyak diketahui dan digunakan oleh

program pengendalian DBD di tingkat pusat dan daerah yaitu :6,11,12

1. Manajemen lingkungan

Manajemen lingkungan lebih dititik beratkan pada upaya pengelolaan

lingkungan untuk mengurangi bahkan menghilangkan habitat perkembang

biakan nyamuk vektor sehingga akan mengurangi kepadatan populasi.

Manajemen lingkungan akan berhasil jika dilakukan oleh masyarakat, lintas

sektor, para pemegang kebijakan dan lembaga swadaya masyarakat melalui

program kemitraan.

2. Pengendalian biologis

Pengendalian biologis yaitu upaya pemanfaatan agen biologi untuk

pengendalian vektor DBD, yaitu untuk mengendalikan populasi larva vektor

DBD seperti kelompok bakteri, predator seperti ikan pemakan jentik, dan

Copopeda sp.

3. Pengendalian kimiawi

Pengendalian kimiawi yaitu dengan penggunaan insektisida dalam

pengendalian vektor DBD. Penggunaan insektisida biasanya hanya dapat

membunuh nyamuk vektor dewasa. Penggunaan insektisida juga memiliki

13
keuntungan dan kerugian dari segi efektivitas maupun dampaknya terhadap

lingkungan.

4. Partisipasi masyarakat

Program yang melibatkan masyarakat yaitu dengan melakukan 3M

plus atau PSN di lingkungan sekitar mereka. Penyuluhan terhadap masyarakat

mengenai vektor dan metode pengendaliannya harus dilakukan secara

berkesinambungan.

5. Perlindungan individu

Perlindungan individu dapat diberikan dengan menggunakan repellent

seperti lotion anti nyamuk atau semprotan anti nyamuk, menggunakan pakaian

yang mengurangi gigitan nyamuk. Baju lengan panjang dan celana panjang

dapat mengurangi kontak dengan nyamuk meskipun sementara. Untuk

mengurangi gigitan nyamuk di dalam keluarga dapat digunakan kelambu dan

kasa anti nyamuk.

14
BAB III
ANALISIS SITUASI

3.1 Gambaran Umum

3.1.1. Keadaan Geografis

Puskesmas Andalas terletak di kelurahan Andalas dengan wilayah kerja

meliputi 10 kelurahan dengan luas 8.15 Km2dengan batas-batas sebagai berikut:

Sebelah Utara : Kecamatan Padang Utara,Kuranji

Sebelah Selatan : Kecamatan Padang Selatan

Sebelah Barat : Kecamatan Padang Barat

Sebelah Timur : Kecamatan Lubuk Begalung, Pauh

3.1.2. Keadaan Demografis

a. Jumlah Penduduk

Tabel 3.1. Distribusi Penduduk Menurut Kelurahan


No Kelurahan Jumlah
1 Sawahan 5081
2 Jati Baru 6670
3 Jati 10048
4 Sawahan Timur 6430
5 Kubu Marapalam 6100
6 Andalas 9649
7 Kubu Dalam Parak Karakah 11198
8 Parak Gadang Timur 7841
9 Simpang Haru 4145
10 Ganting Parak Gadang 13091
Jumlah 80253

15
Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Andalas

3.1.3 Sarana Kesehatan

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk lebih meningkatkan kualitas dan

pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan. Dalam upaya mencapai tujuan

tersebut penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu merupakan hal

yang penting.

Wilayah kerja Puskesmas Andalas sangat luas, oleh karena itu untuk

melayani masyarakat, Puskesmas Andalas memiliki 1 puskesmas induk, 8

puskesmas pembantu dan 3 Poskeskel yang tersebar di wilayah kerja Puskesmas

Andalas, yaitu :

1. Puskesmas Pembantu Andalas Barat

2. Puskesmas Pembantu Parak Karakah

3. Puskesmas Pembantu Tarandam

4. Puskesmas Pembantu Ganting Selatan

5. Puskesmas Pembantu Jati Gaung

16
6. Puskesmas Pembantu Sarang Gagak

7. Puskesmas Pembantu Kubu Dalam

8. Puskesmas Pembantu Kampung Durian

9. Poskeskel Kubu Marapalam

10. Poskeskel Sawahan Timur

11. Poskeskel Kubu Dalam Parak Karakah

Untuk kelancaran tugas pelayanan terhadap masyarakat, Puskesmas Andalas

mempunyai sarana yaitu:

1 buah kendaraan roda empat ( Puskel )

5 buah kendaraan roda dua

Sarana kesehatan lain yang ada di wilayah kerja Puskesmas Andalas yaitu :

Rumah Sakit Pemerintah : 3

Rumah Sakit Swasta : 6

Klinik Swasta : 6

Dokter Praktek Umum : 51 Orang

Dokter Praktek Spesialis : 15 Orang

Bidan Praktek Swasta : 30 Orang

Kader aktif : 356 Orang

Pos KB : 12 Pos

Posbindu : 1 pos

Posyandu Balita : 89

Posyandu Lansia : 13

17
3.1.4. Sarana dan Prasarana Umum

a) Sarana pendidikan

Table 3.2 Sarana Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas


No Kelurahan TK SD/MIN SMP/ SMA/ PT
MTS MA
1 Sawahan 3 7 2 4 1
2 Jati baru 6 6 1 2
3 Jati 3 2 1 2 3
4 Sawahan timur 3 4 1 -
5 Simpang haru 3 8 4 5 3
6 Kubu marapalam 3 2 1 - -
7 Andalas 8 3 1 2 -
8 Kb dlm parak karakah 4 3 1 1 1
9 Parak gadang timur 6 7 1 - -
10 Ganting parak gadang 3 6 - - -
Jumlah 42 48 13 16 8

b) Tempat Ibadah : 112

c) Salon/Pangkas Rambut : 34

d) Pasar : 2

3.1.5. Ketenagaan

Tabel 3.3 Ketenagaan di Puskesmas Andalas


No. Jenis Ketenagaan PNS PTT Honor/Sukarela Ket
1. Dokter Umum 4
2. Dokter Gigi 4
3. Sarjana Kesehatan
Masyarakat
4. Rekam Medis
5. Pengatur Gizi / AKZI 2 1
6. Perawat 15 1 1 Titipan
7. Bidan 14 6
8. Perawat Gigi 1
9. Sanitarian 2 1

18
10. Asisten Apoteker 3
11. Analis 2 1
12. SMU/pekarya 4 2
Jumlah 51 6 6 63

3.1.6 Sasaran Pelayanan Kesehatan Lingkungan

A. Dalam gedung Puskesmas Andalas Kota Padang

B. Luar gedung Puskesmas Andalas

a. Perumahan masyarakat di wilayah Puskesmas Andalas

b. Lingkungan rumah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas

Andalas

c. Restoran/ RM/ warung makanan di wilayah kerja Puskesmas

Andalas

d. Tempat-Tempat umum di wilayah kerja Puskesmas Andalas

e. Tempat bangunan kesehatan dan perkantoran di wilayah kerja

Puskesmas Andalas

f. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara di kelurahan di

wilayah kerja Puskesmas Andalas

g. Tempat depot air minum di wilayah kerja Puskesmas Andalas

h. Tempat-tempat industri rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas

Andalas

i. Tempat-tempat pendidikan (SD, SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi)

di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

j. Pasar pabukoan di wilayah kerja Puskesmas Andalas

19
3.2 Pencapaian Program Kesehatan Lingkungan

Kegiatan program pembinaan kesehatan lingkungan yang dilaksanakan di

Puskesmas Andalas adalah :

a. Klinik Sanitasi

b. Pengawasan TTU

c. Pengawasan TPM

d. Survei Perumahan lingkungan sekaligus sanitasi sarana air bersih.

e. Pengawasan TPS

f. Pembinaan dan Pengawasan Depot Air Minum Isi Ulang

g. Pengawasan Pasar Pabukoan pada saat bulan puasa.

h. Program integrasi :Posyandu (penyuluhan dan pencatatan) dan UKS

(penyuluhan + pemeriksaan TTU)

Sarana yang diawasi oleh program kesehatan lingkungan :

a) Jumlah TPM :119 lokasi

b) Jumlah TTU : 270 lokasi

c) Jumlah TPS : 45 lokasi

d) Jumlah PDAM :1422 lokasi

e) Jumlah sumur gali : 632 unit

f) Jumlah depot air minum : 53 depot

g) Jumlah penduduk :80.253 jiwa

20
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Masalah

Proses identifikasi masalah dilakukan melalui analisis data sekunder dan

wawancara dengan penanggung jawab program di Puskesmas Andalas. Dari enam

program pokok yang dijalankan Puskesmas Andalas, yaitu lima program bersifat

promotif dan preventif, dan satu program kuratif (pengobatan), perlu dilakukan

identifikasi masalah pada masing-masing program. Dari program promosi

kesehatan, kesehatan lingkungan, gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan

Keluarga Berencana (KB), serta Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) masih

terdapat beberapa kesenjangan antara pencapaian dengan target yang ditetapkan.

Pada bidang pengobatan masih terdapat beberapa penyakit yang angka

kejadiannya cukup tinggi. Target dan pencapaian setiap program pokok dapat

dilihat pada Tabel 4.1 sampai Tabel 4.9.

4.1.1. Program Kesehatan Lingkungan

Tabel 4.1 Target dan Pencapaian Program Kesehatan Lingkungan tahun 2013
Target/
No. Program Pencapaian Kesenjangan
Indikator
1. Pengawasan TTU 80 % 81% -
2. Pemeriksaan TPM 100 % 100 % -
3. Survei Perumahan 100 % 96 % 4%
4. Monitoring TPS 100 % 100 % -
5. Pemeriksaan K5 100 % 100 % -
6. Klinik Sanitasi 100 % 100 % -
7. Depot Air Minum
100% 100% -
Umum
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Program kesehatan lingkungan adalah bagian dari tujuh program pokok

puskesmas yang merupakan upaya untuk meningkatkan kesehatan lingkungan dan

21
pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan

tempat umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan

meningkatkan peran serta masyarakat dan keterpaduan pengelolaan lingkungan

melalui analisis dampak lingkungan. Program Kesling mempunyai tujuh program,

yaitu: pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU), pemeriksaan Tempat

Pengolahan Makanan (TPM), survei perumahan, monitor Tempat Pembuangan

Sampah (TPS), pemeriksaan Kaki Lima (K5), klinik sanitasi dan depot air isi

ulang. Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Andalas tahun 2013, dari tujuh

program terdapat satu program Kesling yang belum mencapai target 100% yaitu

kegiatan survei perumahan.

Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa survei perumahan sudah mencapai

angka yang cukup baik yaitu 96% dari target 100%. Akan tetapi, sebenarnya

angka pencapaian ini masih belum sesuai dengan target sebenarnya yang

ditetapkan DKK untuk Puskesmas Andalas, yaitu harus melakukan survei

perumahan untuk 10 kelurahan yang ada dan masing-masing kelurahan 200

rumah. Sementara angka pencapaian diatas adalah hasil pengolahan data dari

survei di tiga kelurahan saja. Penilaian meliputi sarana sanitasi dasar antara lain

jamban keluarga, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL), dan TPS.

22
4.1.2. Program Promosi Kesehatan

Tabel 4.2 Target dan Pencapaian Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM)


Program Promosi Kesehatan tahun 2013
Target Pencapaian
No. Program
(per tahun) (per tahun)
PKM (Penyuluhan Kesehatan Masyarakat)
1. Penyuluhan dalam gedung 96x 51x
2. Penyuluhan luar gedung 960x 1.050 x
3. Penyuluhan keliling 48x 26 x
UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis
Masyarakat)
1. Kelurahan Siaga 100% 100%
2. PHBS 100 % 55,8 %
100 % 100 %
3. Poskestren (Pos kesehatan pesantren)
(2 pesantren) (2 Pesantren)
Pembinaan UKK (Unit Kesehatan 100 % 31%
4.
Kerja) (13 UKK) (4 UKK)
100% 6,2 %
(20.443 KK (1259 KK yang
5. Pemanfaatan Toga
memiliki Memanfaatkan
TOGA) TOGA)
Pembinaan Batra (Pengobatan
6. 100 % 100 %
Tradisional)
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Dari dua program PKM promosi kesehatan yang belum mencapai target

yaitu penyuluhan dalam gedung yang telah dilakukan 51 kali dari 96 kali target

dan penyuluhan keliling yang telah dilakukan 26 kali dari 48 kali target.

Penyuluhan dalam gedung dan penyuluhan keliling merupakan bagian dari

program promosi kesehatan yang bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan

masyarakat mengenai informasi kesehatan, meningkatkan kesadaran masyarakat

dalam bidang kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kendala

yang menyebabkan penyuluhan dalam gedung dan penyuluhan keliling tidak

mencapai target karena masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu sehingga

tidak dapat mengikuti penyuluhan yang diadakan. Terdapat beberapa faktor yang

mempengaruhi yaitu faktor pekerjaan, kurangnya minat dan kepedulian

23
masyarakat terhadap penyuluhan, dan lain sebagainya. Kendala lain dari

penyuluhan dalam gedung yaitu tidak adanya ruangan yang kondusif untuk

dilakukannya penyuluhan.

Dari enam program UKBM promosi kesehatan terdapat tiga program

yang belum mencapai target yaitu PHBS yang dicapai 55,8% dari 100% target ,

pembinaan UKK yang dicapai hanya 31% dari 100% target, dan pemanfaatan

TOGA yang dicapai hanya 6,2% dari 100% target.

PHBS merupakan bagian dari program promosi kesehatan yang bertujuan

untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau dan mampu

melakukan PHBS untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, mencegah

resiko terjadinya penyakit, dan melindungi diri dari ancaman penyakit, serta

berperan aktif dalam gerakan kesehatan. Terdapat 10 indikator dalam pelaksanaan

PHBS, yaitu:

1. Persalinan ditolong tenaga kesehatan

2. Memberi ASI eksklusif

3. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

4. Menggunakan jamban sehat

5. Membrantas jentik dirumah sekali seminggu

6. Makan buah dan sayur setiap hari

7. Melakukan aktivitas fisik setiap harinya

8. Tidak merokok didalam rumah

9. Penimbangan balita tiap bulan

10. Menggunakan air bersih

24
Tabel 4.3 Pencapaian Indikator PHBS di setiap Kelurahan tahun 2013

10 INDIKATOR PHBS
NO KELURAHAN LINAKES ASI MENIM AIR CTPS JAMB MEMBE MAKAN AKTIFITA TDK MEROKOK
EKS BANG BERSIH AN RANTAS BUAH & S FISIK
BALITA JENTIK SAYUR

1 SAWAHAN
100 100 80.1 100 74.2 100 100 95 100 45.1
2 JATI BARU
100 100 76.5 100 86 100 100 98.5 100 72
3 JATI
100 100 82.4 100 70.8 100 100 100 100 61.2
4 S. TIMUR
100 95.7 96 100 75.2 96 99 99.6 100 57.2
5 SP. HARU
100 100 80 100 67.5 100 100 98.4 100 48.6
6 KUBU MARAPALAM
100 100 92 100 86 100 100 100 100 63
7 ANDALAS
100 99 85.7 100 74.6 94 100 96 100 56
8 KUBU DLM PARKER
100 98.5 82.9 100 86.4 87 82 72 100 55.8
9 PARAK GDG TIMUR
100 100 88.5 100 67.2 100 100 99 100 64
10 GANTING PRK GADANG
100 98.3 84.2 100 83 99 100 95 100 35
PUSKESMAS PU
100% 99.1 84.8 100% 79.1 97.6 98.1 95.4 100 55.8

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

25
Survei PHBS di Puskesmas Andalas dilakukan untuk semua kelurahan dan

diambil sampel 210 rumah tangga secara acak. Survei PHBS dilaksanakan satu

kali setahun yaitu biasanya dilakukan di awal tahun. Dari data di atas dapat

disimpulkan bahwa masih ada indikator PHBS yang masih belum mencapai

target nasional (100%) di wilayah kerja Puskesmas Andalas, yakni :

1. Perilaku tidak merokok di dalam rumah (55,8%)

2. Cuci tangan pakai sabun (79,1%)

3. Menimbang balita (84,8%)

4. Makan buah dan sayur (95,4%)

5. Penggunaan Jamban (97,6%)

6. Memberantas Jentik (98,1%)

7. Pemberian ASI Ekslusif (99,1%)

Perilaku masyarakat untuk tidak merokok di dalam rumah masih belum

mencapai target yang ditetapkan, yakni sebesar 55,8%. Semua kelurahan masih

menunjukkan angka yang masih rendah. Hal ini disebabkan masih minimnya

pengetahuan masyarakat mengenai efek rokok terhadap kesehatan anggota

keluarganya. Masyarakat masih beranggapan jika efek buruk rokok hanya berefek

terhadap kesehatan perokok. Dalam survei PHBS ini masih banyak kepala rumah

tangga yang masih merokok di dalam rumah ketika berada bersama anggota

keluarga lainnya.

Dari data indikator PHBS didapatkan persentase penduduk yang cuci

tangan pakai air bersih dan sabun yaitu 79,1%. Angka ini masih jauh dari target

nasional yaitu sebesar 100%, sehingga disimpulkan terdapat kesenjangan sebesar

20,9%. Hal ini juga disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran

26
masyarakat untuk mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun pada setiap

kegiatan yang kontak dengan tangan.

Survei untuk indikator PHBS lain yang masih belum mencapai target

adalah menimbang balita dengan persentase 84,8% dari 100% target sehingga

terdapat kesenjangan 15,2%. Hal ini disebabkan masih kurangnya kesadaran ibu

untuk membawa anak ke posyandu terdekat untuk menimbang bayi dan balita,

masyarakat yang umumnya memiliki pekerjaan dan aktivitas lain diluar rumah

sehingga ibu-ibu tidak memiliki kesempatan membawa balita ke posyandu.

Selain itu, indikator PHBS lainnya yang memiliki survei terendah adalah

makan buah dan sayur setiap hari, dimana persentasenya masih 95,4%. Hal ini

menandakan bahwa masih banyak anggota keluarga rumah tangga yang masih

belum mengkonsumsi minimal tiga porsi buah dan dua porsi sayuran atau

sebaliknya setiap hari.

Penggunaan jamban juga masih belum mencapai target 100% yaitu hanya

tercapai 97,6%. Penyebabnya secara umum adalah akibat faktor ekonomi yang

rendah sehingga keluarga tidak mampu menyediakan jamban yang layak pakai,

dan faktor kebiasaan masyarakat yang sulit diubah. Indikator PHBS lainnya yang

belum mencapai target adalah pemberantasan jentik dengan pencapaian 98,1%.

Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat untuk melakukan kegiatan 3M

berupa menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air dan mengubur

barang-barang bekas.

Pemberian ASI eksklusif sebagai salah satu indikator PHBS juga masih

belum mencapai target 100%, yaitu 99,1%. Hal ini disebabkan masih rendahnya

pengetahuan masyarakat dan masih banyaknya ibu yang bekerja di luar rumah.

27
Pada dasarnya, belum tercapainya target program PHBS ini dikarenakan

masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat secara

disiplin, sehingga sangat sulit untuk terpenuhinya 10 indikator PHBS setiap

harinya. Puskesmas Andalas memiliki wilayah kerja dengan penduduk yang padat

yang terdiri dari beragam lapisan masyarakat. Perbedaan tingkat ekonomi dan

tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Andalas inilah yang

menyebabkan sulitnya mengubah pola hidup masyarakat. Pencapaian target

PHBS yang rendah juga disebabkan karena masih kurang efektifnya sosialisasi

PHBS ke masyarakat, baik melalui penyuluhan maupun penyebaran informasi

PHBS melalui media seperti media elektronik, poster maupun leaflet.

Program promosi kesehatan lain yang belum mencapai target adalah

pembinaan Usaha Keselamatan Kerja (UKK). UKK yang berada di wilayah kerja

Puskesmas Andalas berjumlah 13 buah, tetapi hanya empat UKK yang sudah

dilakukan pembinaan (31%). Kendala dalam pelaksanaan program ini antara lain

masih adanya UKK yang bekerja sama dengan asuransi Jamsostek dan adanya

kunjungan dokter keluarga setempat untuk melakukan pembinaan pada UKK

tersebut.

Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan salah satu program promosi

kesehatan lainnya yang belum mencapai target. Pengadaan TOGA ini baru

tercapai 1.259 KK (6,2%) dari 20.443 KK (100%) yang ada di wilayah kerja

Puskesmas Andalas. Kendala dalam program ini antara lain kesadaran dan

kepedulian masyarakat yang kurang, lahan rumah masyarakat yang sempit

disebabkan padatnya perumahan penduduk.

28
4.1.3. Program Gizi

Pada program Gizi di Puskesmas Andalas terdapat beberapa kegiatan

dalam program tersebut yang belum memenuhi target. Pencapaian target program

gizi pada tahun 2013 dapat disajikan dalam tabel 4.4.

Tabel 4.4 Rekapan Pencapaian Program Gizi tahun 2013


Target/ Pencapaian
No Program Sasaran Kesenjangan
Indikator ABS %
1. Penimbangan
a. Bayi
- D/S 8218 80 5235 63,7 -16,3 %
- N/D 8218 80 6944 84,5 + 4,5 %
b. BGM/D 8218 <15 99 1,2 + 13,8 %
-
2 Distribusi Vitamin A
- Bayi 1669 83% 1522 91,2 +8,2%
- Balita 6549 83% 5586 85,3 +2,3%
a. Ibu nifas 1669 100% 1617 96,9 -3,1%
3 Distribusi TabletFe
a. Fe 1 1836 93 1836 100 +7%
b. Fe 3 1836 93 1711 93,2 +0,2%
c. Ibu Nifas 1669 90 1617 96,9 +6,9%

4 Kasus Gizi Buruk


a. Indek BB/U
- Buruk 8218 <5 25 0,3 +4,7
- Kurang 8218 <5 764 9,3 -4,3
b. Indek BB/TB
- Kurus 8218 <5 436 5,3 -0,3
- Sangat Kurus 8218 <5 0 0 +5
5 Survei PSG dan
Kadarzi
Kadarzi 300 KK 100 300 100 0
PSG 300 Blt 100 300 100 0
Indikator Kadarzi :
Menimbang BB 36,3
Makan Aneka
Ragam 55,3
Garam Beryodium 86,7
61,7
ASI Ekslusif
79,7
Suplemen Gizi

29
6 Pemeriksaan
GaramBeryodium
- Maret 5 Kel 300 100 0
100
sampel
- September 300 KK 300 100 0
100
sampel
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Dari program gizi yang dilaksanakan di Puskesmas Andalas, kegiatan

penimbangan Bayi dan Balita menunjukkan nilai D/S yang belum mencapai target

yaitu 63,7% dengan target 80%. Berdasarkan diskusi dengan petugas bagian gizi,

dapat disimpulkan bahwa belum mencapai targetnya D/S bayi dan balita di

Puskesmas Andalas antara lain disebabkan oleh :

a) Kesadaran masyarakat yang masih kurang mengenai pentingnya

peningkatan status gizi dan penimbangan tiap bulan bayi dan balita.

b) Kurangnya kinerja kader untuk menginformasikan pentingnya

penimbangan bayi dan balita

c) Kurangnya inovasi-inovasi baru dalam pelaksanaan posyandu

d) Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat terhadap posyandu yang

disebabkan oleh beberapa hal di antaranya:

e) Tidak adanya pemberian makanan tambahan (PMT) posyandu

f) Rendahnya pengetahuan ibu tentang pola asuh yang baik sehingga

menyebabkan terganggunya pertumbuhan balita.

g) Kurangnya kerja sama lintas sektoral dalam menunjang program gizi.

h) Tingginya target yang harus dicapai (D/S)

Selain itu, program gizi lainnya yang belum mencapai target adalah

distribusi vitamin A pada ibu nifas yaitu pencapaian 96,9 % dari target 100%. Hal

ini disebabkan kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya vitamin A bagi ibu

30
pasca melahirkan. Selain itu, tidak lengkapnya dan adanya keterlambatan

pencatatan dan pelaporan dari Bidan Praktek Swasta (BPS), dokter praktek

swasta, Rumah Sakit Bersalin (RSB) dan lain sebagainya juga menjadi salah satu

kendala dalam distribusi vitamin A pada ibu nifas.

Tingginya kasus gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Andalas juga

menjadi salah satu masalah dalam program gizi di Puskesmas Andalas.

Kendalanya antara lain karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu terhadap

gizi anak dan faktor ekonomi masyarakat yang umumnya menengah kebawah.

Hal lainnya yang juga menjadi kendala adalah ibu yang memiliki pekerjaan atau

aktivitas di luar rumah sehingga tidak memberikan perhatian khusus terhadap gizi

pada makanan anak. Adanya keterlambatan dan ketidaklengkapan dalam

pencatatan dan pelaporan mengenai kasus gizi buruk pada wilayah kerja

Puskesmas Andalas dari pelayanan kesehatan lainnya, seperti BPS, DPS ataupun

klinik kesehatan lainnya.

31
4.1.4. Program KIA dan KB

Tabel 4.5 Target dan Pencapaian Program KIA dan KB tahun 2013

NO JENIS KEGIATAN SASARAN TARGET HAS IL ( % )

1 Cakupan Persalinan Oleh Nakes Yang 1753 92 92.2


memiliki kompetensi
2 Cakupan Kunjungan Ibu hamil K1 1836 98 100.1

3 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 1836 93 93.2


4 Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF1 1669 89 96.9
5 Cakupan Pelayanan Ibu Nifas KF3 1669 89 91.6

6 Deteksi Bumil Resti 375 20 33.1


7 Cakupan neonatal dengan komplikasi yang 242 89 2.1
ditangani
8 Cakupan kunjungan neonatal I 1669 89 96.6
9 Cakupan kunjungan neonatal lengkap 1669 89 91.6

10 Cakupan kunjungan bayi 1669 93 90.8

11 Cakupan kunjungan balita 6549 84 66.1

12 Cakupan DDTK bayi 1669 93 93.2

13 Cakupan DDTK balita 6549 84 66.1

14 Cakupan DDTK APRAS 2924 84 84.4

15 Peserta KB aktif 13266 70 15.3

Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Berdasarkan data diatas, cakupan neonatal dengan komplikasi yang

ditangani, kunjungan bayi dan balita di puskesmas, cakupan Deteksi Dini

Tumbuh Kembang (DDTK) serta cakupan peserta KB aktif merupakan program-

program dari KIA-KB Puskesmas Andalas yang masih belum mencapai target

yang seharusnya dicapai.

Pada indikator cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani dapat

dilihat pencapaian hanya 2,1% dari target 89%. Hal ini disebabkan oleh adanya

keterlambatan dan ketidaklengkapan dalam pencatatan dan pelaporan mengenai

32
kasus komplikasi pada neonatus yang berada wilayah kerja Puskesmas Andalas

dari pelayanan kesehatan lainnya, seperti BPS, DPS ataupun klinik kesehatan

lainnya.

Masih rendahnya pencapaian program kunjungan bayi (90,8%) dari 93%

dan balita (66,1%) dari target 84% dikarenakan rendahnya kesadaran ibu untuk

membawa anak balita tersebut ke posyandu, dikarenakan ibu menganggap bahwa

fungsi posyandu hanya sebagai tempat imunisasi bagi anaknya. Faktor

pengetahuan dan aktivitas/pekerjaan ibu juga menjadi penyebab masih rendahnya

kepedulian ibu untuk membawa balita ke posyandu. Hal ini juga menjadi kendala

pada program DDTK balita yang baru tercapai 66,1% dari target 84%.

Cakupan peserta KB aktif dalam program KIA-KB juga masih rendah

yaitu 15,3% dari target 70%. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan

masyarakat untuk menggunakan KB, baik dari pihak suami, istri ataupun

keduanya. Suami biasanya menolak pemasangan KB pada istrinya dengan alasan

ketidaknyamanan saat berhubungan seks. Pola pikir masyarakat tentang efek

buruk dari KB, terutama pemasangan IUD dapat memberikan efek ke sistemik

juga menjadi kendala. Selain itu, kendala lainnya adalah masih adanya pemikiran

masyarakat yang beranggapan bahwa memiliki banyak anak mendatangkan

banyak rezeki, kurang lengkapnya dan keterlambatan dalam pencatatan dan

pelaporan dari BPS, klinik dan rumah sakit bersalin ke Puskesmas Andalas.

33
Tabel 4.6 Cakupan Kunjungan Anak Balita Puskesmas Andalas Bulan Januari-
Desember 2013
CAKUPAN KUN

SASARAN
NO KELURAHAN
ANAK BALITA JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI

L P JML L P JML L P JML L P JML L P JML L P

1 SAWAHAN 194 223 417 13 15 28 12 3 15 5 2 7 6 3 9 16 20

2 JATI BARU 245 312 557 19 16 35 15 13 28 2 10 12 3 10 13 30 36

3 JATI 475 343 818 26 30 56 21 13 34 5 3 8 5 4 9 28 38

4 SAWAHAN TIMUR 260 267 527 18 16 34 13 11 24 7 5 12 10 5 15 22 14

5 KB MARAPALAM 255 242 497 20 12 32 15 18 33 7 10 17 8 9 17 17 19

6 ANDALAS 386 397 783 21 33 54 11 36 47 9 16 25 11 17 28 21 33

7 KB DLM PARKER 462 451 913 26 35 61 16 21 37 18 15 33 19 18 37 27 39

8 PRK GDG TIMUR 323 313 636 18 26 44 14 16 30 12 16 28 12 18 30 31 35

9 SP HARU 153 179 332 11 13 24 8 11 19 2 1 3 4 5 9 8 10

10 GT PRK GADANG 501 568 ## 39 30 69 16 27 43 13 9 22 17 12 29 33 51

JUMLAH ## ## ## 211 226 437 141 169 310 80 87 167 95 101 196 233 295

34
4.1.5. Program P2M

Program Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) mencakup beberapa

program dengan pencapaian dan target seperti yang dilihat dalam tabel 4.7 berikut

ini :

Tabel 4.7 Target dan Pencapaian Program P2M tahun 2013


No Program Target/ Indikator Pencapaian Kesenjangan Ket
1. Imunisasi
- HB<7HR 84,2%
80 %
- BCG 96 % *
95 %
- DPT/HB3 91,1%
90%
- Polio4 91,4 %
90%
- Campak 91,4 %
90%
2. CDR TB 70 % 64 % 6% *
3. Kasus DBD <20 kasus/ 101 kasus/ 81 kasus/
100.000 100.000 100.000 *
penduduk penduduk penduduk
4. Kasus diare 33 % 0,7 % -
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Berdasarkan tabel terdapat program P2M di Puskesmas Andalas yang

belum mencapai target yaitu rendahnya CDR TB (case detection rate TB) yaitu

64% dan insiden kasus DBD yang masih tinggi untuk tahun 2013 sebanyak 101

kasus/ 100.000 penduduk.

Case Detection Rate (CDR) TB adalah presentase jumlah pasien baru

BTA positif yang ditemukan dan diobati dibanding jumlah pasien baru BTA

positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. CDR menggambarkan

cakupan penemuan pasien baru BTA positif pada wilayah tersebut. CDR TB

Puskesmas Andalas yaitu 64% masih rendah dari CDR Program Penanggulangan

Tuberkulosis Nasional (>70%). Hal ini dikarenakan :

35
a) Beban kerja petugas kesehatan yang masih tinggi dikarenakan keterbatasan

dana dan sumber daya manusia di Puskesmas Andalas

b) Kurangnya koordinasi dengan pelayanan kesehatan swasta (kerjasama lintas

sektor)

c) Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB Paru

d) Kurangnya pemanfaatan media informasi dalam penyampaian program P2TB

Sementara itu, untuk kasus DBD yang masih tinggi di Puskesmas Andalas

disebabkan oleh :

a) Kurang intensifnya sosialisasi petugas kesehatan mengenai penularan,

pencegahan, dan bahaya penyakit DBD.

Pada dasarnya, penyuluhan mengenai DBD seharusnya rutin dilakukan di

sekolah-sekolah melalui integrasi dengan program UKS, Bulan Imunisasi

Anak Sekolah (BIAS), posyandu, dan ditempat-tempat umum seperti mesjid

dan lain sebagainya. Pelaksanaannya sudah dilakukan seperti itu sebelumnya,

namun sejak tahun 2009, program penyuluhan tentang DBD ini menjadi

berkurang karena keterbatasan sumber daya manusia dan dana yang ada di

Puskesmas Andalas. Petugas kesehatan di Puskesmas Andalas masih berusaha

untuk melakukan penyuluhan tentang DBD ke masyarakat dengan pembagian

leaflet-leaflet ke masyarakat meskipun dengan keterbatasan yang ada, namun

pelaksanaanya masih kurang intensif dan efektif.

b) Kurangnya peran serta masyarakat dalam menyukseskan program kebersihan

lingkungan seperti gotong royong dan terhentinya program Jumat bersih.

c) Masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam melaksanakan program 3M

plus.

36
d) Masih sulit mengubah perilaku masyarakat seperti kebiasaan masyarakat yang

menggantung pakaian, membiarkan genangan air lama pada tempat-tempat

disekitar rumah, yang dapat menjadi tempat peristirahatan nyamuk.

e) Terhentinya program penyuluhan intensif di seluruh sekolah SD dan SLTP se-

Kecamatan Padang Timur

f) Tidak terlaksananya lagi program Jumantik berkala sejak 3 tahun ini

g) Masih banyaknya barang-barang bekas dengan air yang tergenang yang

menjadi sumber perindukan nyamuk.

h) Masih banyaknya selokan (saluran air) yang airnya tidak mengalir dan

tertutup.

4.1.6. Program Balai Pengobatan

10,598

2,097 2,258
1,431 1,368 1,171 1,097 1,154 1,082 695

Gambar 4.1 Penyakit terbanyak pada kunjungan di Puskesmas Andalas


tahun 2013
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Terlihat bahwa angka kejadian ISPA jauh lebih tinggi dibandingkan

sembilan penyakit lainnya dari gambar 4.1. ISPA merupakan salah satu penyakit

37
berbasis lingkungan, sehingga angka kejadian kasus ISPA sangat dipengaruhi oleh

keadaan sanitasi lingkungan dan tingkat pengetahuan masyarakat. Keadaan

wilayah kerja di Puskesmas Andalas memiliki penduduk yang padat dengan

keadaan sanitasi lingkungan yang masih buruk. Selain itu, tingkat polusi udara

yang cukup tinggi menyebabkan cepatnya penyebaran ISPA. Masih rendahnya

pengetahuan masyarakat mengenai ISPA dan penyebarannya juga berpengaruh

terhadap angka kejadian ISPA di wilayah Puskesmas Andalas yang masih tinggi

Tabel 4.8 Penyakit Tidak Menular Kasus Baru Puskesmas Andalas Tahun 2013

BULAN
No PENYAKIT JUM
JAN FEB MART APRL MEI JUN JUL AGUS SEP OKT NOV DES
1 Hipertensi 8 29 38 45 38 36 36 69 58 58 68 88 571
2 DM 2 8 9 10 3 10 11 10 10 11 26 18 128
Pny. Jantung
3
koroner
5 2 4 1 5 5 0 0 2 3 4 14 45
133
4 Rematik 57 95 136 99 104 71 131 105 110 116 164 146
4
5 PPOK 7 2 2 0 0 0 0 0 5 0 0 4 20
Asma
6
bronchial
5 13 17 7 4 5 2 12 11 11 9 17 113
Sumber : Laporan Tahunan Program P2M Puskesmas Andalas Tahun 2013

Tabel 4.9 Penyakit Tidak Menular Kasus Lama Puskesmas Andalas Tahun 2013
BULAN
NO PENYAKIT JUM
JAN FEB MART APRL MEI JUN JUL AGUS SEP OKT NOV DES

1 Hipertensi 457 374 424 494 405 351 361 309 485 391 470 464
4,985
2 DM 79 104 83 113 121 129 84 110 143 137 153 175
1,431
Pnk. Jantung
3 49 51 48 36 18 47 35 33 45 32 56 56
koroner 506
4 Rematik 59 127 103 119 66 61 88 120 114 70 82 70
1,079
5 PPOK 4 6 5 7 6 8 1 14 13 10 12 13 99
Asma
6 84 36 62 60 57 47 35 34 28 31 14 17
bronchial 505
Sumber : Laporan Tahunan Program P2M Puskesmas Andalas Tahun 2013

38
Berdasarkan data penyakit tidak menular yang didapatkan di balai

pengobatan Puskesmas Andalas baik kasus baru maupun kasus lama, hipertensi

merupakan penyakit terbanyak selama tahun 2013 pada kunjungan ke balai

pengobatan Puskesmas Andalas.

Gambar 4.2 Penyakit Terbanyak Posyandu Lansia Puskesmas Andalas Tahun


2013
Sumber: Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Pada program Posyandu Lansia di Puskesmas Andalas, hipertensi juga

merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan, yaitu dengan 417 kasus

selama tahun 2013.

4.2 Penentuan Prioritas Masalah

Banyaknya masalah yang ditemukan dalam program Puskesmas tidak

memungkinkan untuk diselesaikan sekaligus atau seluruhnya, sehingga perlu

dilakukan penentuan prioritas masalah. Dalam hal ini metode yang kami gunakan

39
adalah teknik scoring. Dari masalah tersebut, maka disusun suatu Plan of Action

untuk meningkatkan dan memperbaiki mutu pelayanan.

Kriteria skoring yang digunakan adalah sebagai berikut:

a) Urgensi (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan)

Nilai 1 : tidak penting

Nilai 2 : kurang penting

Nilai 3 : cukup penting

Nilai 4 : penting

Nilai 5 : sangat penting

b) Kemungkinan Intervensi

Nilai 1 : sangat sulit

Nilai 2 : sulit

Nilai 3 : cukup mudah

Nilai 4 : mudah

Nilai 5 : sangat mudah

c) Biaya

Nilai 1 : sangat mahal

Nilai 2 : mahal

Nilai 3 : cukup mahal

Nilai 4 : murah

Nilai 5 : sangat murah

d) Kemungkinan meningkatkan mutu

Nilai 1 : sangat rendah

Nilai 2 : rendah

40
Nilai 3 : sedang

Nilai 4 : tinggi

Nilai 5 : sangat tinggi

Tabel 4.10 Penilaian Prioritas Masalah Berdasarkan Sistem Skoring


No Identifikasi Masalah Urgensi Kemungkinan Biaya Mutu Skor Prioritas
Intervensi Total
1 Rendahnya 4 2 4 3 13 II
pencapaian survei
perumahan
2 Belum tercapainya 3 3 4 3 13 II
frekuensi penyuluhan
yang ditargetkan
dalam gedung dan
penyuluhan keliling
3 Belum tercapainya 4 2 2 4 12
indikator penerapan III
PHBS
4. Rendahnya D/S 4 3 2 4 13 II
dalam kegiatan
penimbangan bayi di
posyandu
Tingginya kasus gizi 4 2 3 3 12 III
5. buruk pada bayi dan
balita
6 Rendahnya 3 3 4 3 13 II
kunjungan bayi dan
balita
7 Rendahnya cakupan 3 2 4 4 13 II
neonatal dengan
komplikasi yang
ditangani
8 Rendahnya cakupan 3 3 3 4 13 II
peserta KB Aktif
9 Belum tercapainya 4 2 2 4 12 III
CDR-TB
10 Tingginya kasus DBD 4 3 4 5 16 I
di wilayah kerja
Puskesmas

41
4.2.1 Rendahnya pencapaian survei perumahan

a) Urgensi: 4 (penting)

Survei perumahan merupakan salah satu aspek penting yang bertujuan

untuk mencapai masyarakat sehat. Kegiatan ini bertujuan untuk

menciptakan lingkungan rumah sebagai lingkungan yang akan berkontak

sangat dekat dan lama dengan manusia. Lingkungan rumah yang bersih

akan berdampak pada menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular

dan juga penyakit tidak menular, sedangkan lingkungan rumah yang tidak

bersih akan meningkatkan angka kesakitan.

b) Kemungkinan intervensi: 2 (sulit)

Dalam kegiatan ini sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara

petugas kesehatan dari puskesmas dan pemilik rumah. Pada kenyataannya,

sebagian besar masyarakat masih banyak yang sulit menerima intervensi

dari pihak luar mengenai bagaimana keadaan lingkungan sekitarnya.

Selain itu, pemilik rumah yang bekerja seperti pegawai, pedagang dan

lainnya cukup sulit menyesuaikan jadwal dengan petugas, sehingga sulit

dilakukan intervensi ke masing-masing rumah. Sumber daya manusia

Puskesmas Andalas yang masih kurang, sehingga menyulitkan pencapaian

target kegiatan .

c) Biaya: 4 (murah)

Peningkatan pencapaian target pada survei perumahan ini

membutuhkan biaya yang tidak mahal, hanya diperlukan sarana yang

sudah ada di puskesmas andalas sendiri seperti mobil dan motoruntuk

memudahkan pencapaian target itu sendiri.

42
d) Mutu: 3 (sedang)

Survei perumahan diperlukan untuk mencapai keluarga yang sehat dan

mandiri memahami tentang perlunya pencegahan penyakit mulai dari

lingkungan perumahan sebagai lingkungan yang paling dekat.

4.2.2 Belum tercapainya frekuensi penyuluhan yang ditargetkan dalam


gedung dan penyuluhan keliling

a) Urgensi: 3 (cukup penting)

Puskesmas sebagai pusat layanan kesehatan primer diutamakan dalam

bidang preventif dan promotif dalam kesehatan. Hal ini tidak terlepas dari

kegiatan penyuluhan baik yang dilaksanakan di dalam gedung puskesmas,

diluar gedung, maupun yang dilakukan secara berkeliling.

b) Kemungkinan intervensi: 3 (cukup mudah)

Dalam pencapaian hal ini, dibutuhkan intervensi kepada masing-masing

pemegang program, terutama pemegang program promosi kesehatan. Hal

tersebut tidak mudah karena masih sedikitnya SDM di Puskesmas Andalas jika

dibandingkan dengan kegiatan yang dilaksanakan

c) Biaya: 4 (murah)

Sarana yang ada di Puskesmas Andalas sudah cukup memadai untuk

kegiatan penyuluhan seperti sudah tersedianya laptop dan in focus sebagai

media promosi kesehatan. Selain itu, diperlukan tambahan beberapa media lain

seperti poster atau leaflet dalam pelaksanaan program promosi kesehatan.

43
d) Mutu: 3 (sedang)

Kegiatan penyuluhan menjadi salah satu hal yang menunjang dan

membantu dalam pencapaian program-program lainnya yang dilakukan di

Puskesmas Andalas.

4.2.3 Belum tercapainya indikator penerapan PHBS

a) Urgensi: 4 (penting)

Tidak diterapkannya Pola Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) pada

masyarakat merupakan media penyebaran penyakit menular dan faktor risiko

terjadinya penyakit tidak menular, misalnya indikator cuci tangan pakai sabun

(CTPS) dan tidak merokok di dalam rumah. Berdasarkan data laporan tahunan

capaian kedua indikator tersebut masih dibawah target sasaran.

b) Kemungkinan intervensi: 2 (sulit)

Sasaran intervensi dalam masalah ini adalah pola perilaku. Mengubah pola

perilaku individu terutama sekelompok masyarakat dengan latar belakang

sosial, ekonomi, pendidikan dan budaya yang berbeda bukan menjadi suatu hal

yang mudah.

Pelaksanaan kegiatan sebaiknya dilakukan secara berkala mulai dari awal

pelaksanaan intervensi hingga evaluasi hasil. Dengan wilayah kerja Puskesmas

Andalas yang luas, usaha ini akan membutuhkan tenaga yang besar dan waktu

yang cukup lama.

c) Biaya: 2 (mahal)

Peningkatan pencapaian PHBS dilakukan berupa edukasi dan penyuluhan

kepada masyarakat banyak dengan wilayah kerja yang luas. Hal ini

44
mengakibatkan kebutuhan biaya cukup besar untuk pengadaan media

penyuluhandalam dan luar gedung

d) Mutu: 4 (tinggi)

PHBS termasuk salah satu diantara delapan indikator MDGs yang harus

dicapai.

4.2.4 Rendahnya D/S dalam kegiatan penimbangan bayi di Posyandu

a) Urgensi: 4 (penting)

Kasus gizi buruk mengalami peningkatan dari enam orang balita pada

tahun 2012 menjadi 14 orang balita pada tahun 2013. Dua diantara enam orang

balita kasus gizi buruk di tahun 2012 meninggal. Hal ini menunjukkan

pentingnya penimbangan bayi secara teratur ke Posyandu yang diharapkan

dapat mendeteksi status gizi balita agar dapat dilakukan intervensi lebih dini.

Dengan ditemukannya kasus balita gizi buruk menyebabkan pencapaian

D/S yang masih jauh dari sasaran target.Hal ini menyebabkan tingginya kasus

gizi buruk dibandingkan dengan jumlah kasus yang ada dalam pencatatan dan

pelaporan pada wilayah kerja Puskesmas Andalas.

b) Kemungkinan intervensi: 3(cukup mudah)

Intervensi yang dapat dilakukan adalah kerja sama lintas program antara

program gizi, KIA ibu dan anak dan Promkes untuk memberikan penyuluhan

mengenai pentingnya deteksi dini tumbuh kembang bayi dan balita sehingga

diharapkan ibu yang memiliki bayi dan balita memiliki kesadaran tinggi untuk

menimbang anaknya ke posyandu secara teratur.

45
Selain itu, perlu ditingkatkan kinerja kader dengan melakukan pelatihan

kader sehingga kader dapat lebih aktif memotivasi masyarakat untuk membawa

anak mereka ke Posyandu.

c) Biaya: 2 (mahal)

Distribusi timbangan dacin dan tripod bagi setiap Posyandu membutuhkan

biaya yang tidak sedikit. Butuh dana insentif bagi kader sehingga diharapkan

dapat meningkatkan kinerja serta dana tambahan untuk pengadaan PMT

(Pemberian Makanan Tambahan) yang dapat meningkatkan minat masyarakat

membawa anak mereka ke posyandu.

Posyandu yang diadakan masih belum memiliki tempat yang memadai

sehingga butuh biaya untuk pengadaan tempat yang nyaman dan layak agar

dapat meningkatkan kunjungan ibu dan balita ke Posyandu.

d) Mutu: 4 (tinggi)

Dari capaian D/S di Posyandu dapat dilihat gambaran cakupan imunisasi.

Hal ini dilakukan karena banyak ibu yang memiliki bayi dan balita melakukan

imunisasi pada saat jadwal posyandu. Cakupan imunisasi bagi bayi dan balita

yang lengkap dan sesuai diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan

bayi dan balita.

Penurunan angka gizi buruk dengan pendeteksian dini tumbuh kembang

bayi dan balita melalui penimbangan berat badan di posyandu membantu

pencapaian target MDGs

46
4.2.5 Tingginya kasus gizi buruk pada bayi dan balita

a) Urgensi: 4 (penting)

Terjadinya peningkatan kasus gizi buruk dari enam orang balita pada tahun

2012 menjadi 14 orang balita pada tahun 2013. Dua diantara enam orang balita

kasus gizi buruk di tahun 2012 meninggal. Dari data Puskesmas Andalas,

sampai dengan bulan Mei 2014 sudah ditemukan sebanyak 12 kasus gizi buruk

pada bayi dan balita.

b) Kemungkinan intervensi: 2 (sulit)

Gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang rumit, sehingga dalam

melakukan intervensi diperlukan kerjasama dari berbagai pihak dan kesadaran

dari keluarga untuk mengubah pola hidup, meliputi kebiasaan, pola makan, dan

perhatian penuh terhadap keadaan anak.

c) Biaya: 3 (cukup mahal)

Terbatasnya dana di puskesmas menyebabkan formula F75 atau F100

tidak dapat disediakan terus-menerus dari puskesmas sehingga keluarga harus

mengerti cara membuat formula dan mengetahui komposisi bahan-bahan

secara mandiri.

Pihak puskesmas harus melakukan kunjungan rumah secara rutin dalam

jangka waktu yang tidak bisa ditentukan untuk membina masyarakat dalam

pemantauan status gizi

d) Mutu: 3 (sedang)

Satu angka kejadian dari kasus gizi buruk di wilayah kerja puskesmas

merupakan kejadian luar biasa (KLB).

47
4.2.6 Rendahnya kunjungan bayi dan balita

a) Urgensi: 3 (cukup penting)

Kunjungan bayi dan balita yang dilakukan secara rutin dan teratur dapat

mendeteksi gangguan gizi sehingga dapat dilakukan intervensi dini. Gangguan

gizi sejak dini dapat meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas pada bayi

dan balita.

Selain itu, untuk mengatasi masalah gizi buruk diperlukan pemantauan

terhadap status gizi dengan meningkatkan peran aktif petugas atau kader pada

wilayah kerja Puskesmas Andalas.

b) Kemungkinan intervensi: 3 (cukup mudah)

Penyuluhan dan pemberian makanan tambahan (PMT) menjadi alasan

masyarakat untuk datang ke Posyandu. Hal ini sekaligus menjadi intervensi

terhadap balita gizi buruk dan kurang

c) Biaya: 4 (murah)

Kegiatan Posyandu pada dasarnya tidak membutuhkan biaya yang besar

karena sarana dan prasarana dalam pelaksanaan kegiatan biasanya disediakan

oleh posyandu dan para kader. Untuk penyediaan PMT bisa didapatkan dari

DKK, tetapi masih dalam jumlah yang terbatas.

d) Mutu: 3 (sedang)

Kunjungan bayi dan balita dapat membantu pihak Puskesmas dalam

memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita setiap bulan. Jika

ditemukan adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan bisa dideteksi

lebih dini dan mendapatkan intervensi segera.

48
4.2.7 Rendahnya cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani

a. Urgensi: 3 (cukup penting)

Cakupan neonatus komplikasi yang ditangani berkontribusi terhadap

angka kematian bayi, dimana target AKB adalah 32/1000 kelahiran hidup.

Terdapat sembilan kematian neonatal dengan komplikasi di wilayah kerja

Puskesmas Andalas pada Januari-Desember 2013. Hal ini merupakan hal yang

harus mendapat perhatian khusus terutama dari puskesmas terutama program

KIA.

b. Intervensi: 2 (mudah)

Untuk mengatasi hal ini, dibutuhkan sistem pendataan dan pelaporan yang

baik sehingga penemuan kasus lebih cepat. Dalam hal ini butuh kerjasama

lintas sektoral dengan BPS, klinik swasta, RS dan Dinas Kesehatan Kota

Padang.

c. Biaya: 4 (murah)

Dibutuhkan dana untuk mendidik tenaga kesehatan terlatih yang bertujuan

untuk mendeteksi dini neonatus dengan komplikasi, sehingga penemuan kasus

di lapangan lebih cepat dan dapat ditangani segera.

d. Mutu: 4 (tinggi)

Menurunkan angka kematian bayi (AKB) termasuk salah satu indikator

target MDGs.

49
4.2.8 Rendahnya cakupan peserta KB Aktif

a) Urgensi: 3 (cukup penting)

Piramida penduduk Indonesia mengindikasikan bahwa Indonesia akan

menghadapi triple burden, yaitu meningkatnya jumlah penduduk balita,

remaja, dan lansia. Dari total penduduk, sebesar 28% atau 64 juta jiwa adalah

remaja, dengan jumlah penduduk lanjut usia atau lansia sebesar 18 juta jiwa.

Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya peledakan penduduk akibat

angka kesuburan yang stagnan.

Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk

Indonesia adalah 237,6 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen

masih lebih tinggi dari target yang harus dicapai pada tahun 2010 yaitu 1,27

persen. Jumlah kelahiran bayi di Puskesmas Andalas cukup tinggi yakni lebih

dari 1000 kelahiran pada tahun 2013. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi

ledakan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

b) Kemungkinan intervensi: 3 (cukup mudah)

Suami menolak pemasangan KB pada istrinya dengan alasan

ketidaknyamanan saat berhubungan seks. Adanya pola pikir masyarakat

tentang efek buruk dari KB, terutama IUD. Mereka menganggap bahwa

pemasangan IUD dapat memberikan efek ke sistemik.

Membutuhkan sistem pelaporan yang baik. Dalam hal ini butuh kerjasama

lintas sektoral dengan BPS, klinik swasta, RS dan dinas kesehatan kota Padang.

50
c) Biaya: 3 (cukup mahal)

Peningkatan penggunaan KB berfokus kepada penyuluhan dan edukasi

kepada masyarakat sehingga perlu biaya yang cukup besar untuk pengadaan

media penyuluhan yang akan dilakukan di dalam maupun luar gedung.

d) Mutu: 4 (tinggi)

Dengan terlaksananya program KB, maka ledakan penduduk dapat

dihindari dan MDGs 4 (menurunkan angka kematian bayi dan balita), 5

(menurunkan angka kematian ibu), dan 6 (mencegah penularan HIV AIDs)

dapat tercapai.

4.2.9 Belum tercapainya angka CDRTB

a) Urgensi : 4 (penting)

Masih belum tercapainya target penemuan kasus, ditakutkan adanya

pasien TB yang tidak terdeteksi dan dapat menularkan ke orang lain sehingga

meningkatkan angka kejadian TB Paru.

Masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan

penularan penyakit TB, sehingga tidak sedikit penderita TB yang diasingkan

bahkan diberhentikan dari pekerjaannya.

b) Intervensi : 2 (sulit)

Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB menyebabkan

kurangnya keinginan dan kesadaran masyarakat untuk berobat.

Penemuan kasus TB masih dilakukan secara pasif karena kurangnya

tenaga kesehatan dan kader untuk dapat terjen langsung ke rumah-rumah warga

yang dicurigai suspek TB.

51
c) Biaya : 2 (mahal)

Belum tercapainya angka CDR TB membutuhkan biaya operasional

tambahan untuk petugas yang akan langsung turun ke lapangan.

d) Mutu : 4 (tinggi)

Penurunan prevalensi dan angka kematian akibat TB termasuk dalam

target MDGS yang ke-6. Penyakit TB dapat menurunkan produktivitas dan

kinerja penderitanya, maka dengan penemuan penderita TB diharapkan mereka

dapat segera diobati dan dapat kembali beraktivitas dan kembali produktif.

Peningkatan penemuan penderita TB dapat meningkatkan jumlah pasien TB

yang diobati, hal ini akan menurunkan risiko penularan dalam masyarakat.

Peningkatan penemuan penderita TB akan menurunkan angka kesakitan dan

kematian akibat TB.

4.2.10 Tingginya kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas

a) Urgensi: 4 (penting)

Kasus DBD merupakan penyakit berbasis lingkungan yang harus

ditanggulangi secara cepat agar tidak menyebabkan terjadinya Kejadian Luar

Biasa (KLB) yaitu yang ditandai oleh kematian satu atau lebih pasien penderita

DBD. Berdasarkan data laporan tahunan Puskesmas Andalas angka kejadian

kasus DBD masih tinggi dan tingkat endemisitas DBD di wilayah kerja

Puskesmas Andalas hampir 100%.

b) Kemungkinan Intervensi: 3 (cukup mudah)

Sasaran intervensi adalah kebersihan lingkungan dan pola perilaku

masyarakat. Dalam hal ini dirasakan cukup muda untuk merubah pola perilaku

52
individu dan sekelompok masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan,

baik lingkungan dalam rumah, luar rumah, dan sekitar rumah.

Perlu penilaian secara berkala mulai dari awal pelaksanaan intervensi

hingga evaluasi hasil. Dengan wilayah kerja Puskesmas Andalas yang luas,

usaha ini membutuhkan tenaga yang tidak begitu besar dan waktu singkat

sehingga bisa dintervensi secara maksimal.

c) Biaya: 4 (murah)

Peningkatan capaian upaya kebersihan lingkungan untuk mengatasi DBD

berfokus kepada edukasi kepada masyarakat dan pejabat lintas sektoral yang

terkait. Edukasi bertujuan untuk memberikan informasi mengenai bahaya DBD

dan cara mengatasinya dengan membersihkan lingkungan dan penyuluhannya

tidak memakan waktu lama karena bisa diaplikasikan langsung pada setiap

individu.

d) Mutu: 5 (sangat tinggi)

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) DBD memiliki tingkat keberhasilan

yang tinggi jika dilakukan oleh seluruh pihak yang terkait. Program yang

berhasil akan menyebabkan menurunnya angka kejadian DBD di wilayah kerja

Puskesmas Andalas dan berkurangnya daerah endemis DBD di wilayah kerja

Puskesmas Andalas.

Berdasarkan penilaian prioritas di atas, kami mengambil prioritas yang

pertama untuk Plan of Action yaitu pengendalian kasus DBD ( Demam Berdarag

Dengue ) yang masih tinggi di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Penulis

53
menganggap perlu untuk menganalisis tingginya kasus DBD ini guna mencari

solusi dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan tersebut.

4.3 Hasil Pengamatan

4.3.1 Gambaranpenyakit DBD di Puskesmas Andalas

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit

berbasis lingkungan yang terjadi dari tahun ke tahun di wilayah kerja Puskesmas

Andalas. Berikut ini merupakan distribusi kejadian demam berdarah dengue di

setiap kelurahan wilayah kerja Puskesmas Andalas tahun 2011 sampai 2013

Tabel 4.11 Distribusi Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja


Puskesmas Andalas tahun 2011-2013
Tahun Total per
Kelurahan kelurahan Keterangan
2011 2012 2013
Sawahan 12 9 4 25 Endemis
Jati Baru 9 20 25 54 Endemis
Jati 23 12 13 48 Endemis
Sawahan Timur 12 6 1 19 Endemis
Simpang Haru 4 3 0 7 Berisiko
Kubu Marapalam 15 4 5 24 Endemis
Andalas 21 22 6 49 Endemis
Kubu Dalam Parak Karakah 20 26 12 58 Endemis
Ganting Parak Gadang 12 8 4 24 Endemis
Parak Gadang Timur 12 11 11 34 Endemis
Puskesmas 140 121 71
Sumber : Laporan Tahunan Sub Program Kesling DBD Puskesmas Andalas

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa angka kejadian kasus

DBD dari tahun ke tahun masih ada. Akan tetapi, angka kejadian kasus DBD

tersebut sudah mengalami penurunan pada beberapa tahun terakhir ini, yaitu pada

tahun 2011 dengan 140 kasus, kemudian tahun 2012 dengan 121 kasus dan

54
disusul tahun 2013 dengan 71 kasus. Hal ini menunjukkan terdapatnya penurunan

angka kejadian dari kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas.

Berdasarkan data laporan tahunan Puskesmas Andalas, kejadian demam

berdarah dengue terjadi hampir di seluruh kelurahan setiap tahunnya. Kecamatan

Padang Timur yang terdiri dari 10 kelurahan sebagai wilayah kerja Puskesmas

Andalas telah ditetapkan sebagai daerah endemik dengue DBD oleh pemerintah

daerah. Dilihat dari ada tidaknya kejadian setiap tahun berturut-turut, diantara

sepuluh kelurahan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas, sembilan

diantaranya adalah daerah endemis DBD. Suatu daerah dapat dikatakan endemis

jika kejadian yang serupa terjadi setiap tahun berturur-turut. Data di atas

menunjukkan bahwa hanya satu kelurahan yang dapat dianggap berisiko karena

pada tahun 2013 tidak terjadi kasus DBD yaitu di kelurahan Simpang Haru.

Angka kejadian penyakit DBD bervariasi setiap bulannya dari tahun ke

tahun. Kasus DBD setiap bulan yang terjadi dari tahun 2011 sampai 2013 di

wilayah kerja Puskesmas Andalas dapat dilihat pada grafik berikut ini:

55
35
30
25
20
15
10
5
0 janua febru mare agust septe oktob nove dese
april mei juni juli
ri ari t us mber er mber mber
2011 3 5 5 3 8 13 9 11 16 13 31 23
2012 18 16 13 16 14 20 3 3 8 7 3 5
2013 5 6 9 19 5 15 6 4 3 4 3 2

Gambar 4.3 Grafik Kejadian Kasus DBD per tahun di Wilayah Kerja Puskesmas
Andalas pada tahun 2011-2013
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Andalas Tahun 2013

Dari gambar 4.3 diatas dapat dijelaskan bahwa angka kejadian kasus DBD

yang terjadi pada tahun 2011-2013 mengalami peningkatan tertinggi pada bulan

Juni dan mengalami penurunan pada bulan-bulan berikutnya. Pengamatan yang

dilakukan sejak tiga tahun terakhir ini, tingginya angka kejadian kasus DBD pada

bulan Juni disebabkan oleh adanya perubahan iklim yang cukup ekstrem pada

pertengahan tahun di mana sedang terjadi perubahan antara musim kemarau ke

musim hujan.

56
Tabel 4.12 Target Pencapaian Program P2M (Penanggulanggan Penyakit
Menular)tahun 2013

No Program Target/ Indikator Pencapaian Kesenjangan Ket


1. Imunisasi
- HB<7HR 84,2%
80 %
- BCG 96 % *
95 %
- DPT/HB3 91,1%
90%
- Polio4 91,4 %
90%
- Campak 91,4 %
90%
2. CDR TB 70 % 64 % 6% *
3. Kasus DBD <20 kasus/ 101 kasus/ 81 kasus/
100.000 100.000 100.000 *
penduduk penduduk penduduk
4. Kasus diare 33 % 0,7 % -
Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Andalas tahun 2013

Dari tabel diatas dapat dilihat kasus DBD mencapai 101 kasus/100.000

penduduk. Hal ini menunjukkan tingginya angka kejadian kasus DBD di wilayah

kerja Puskesmas Andalas, karena insiden ratenya jauh diatas target kejadian DBD

yang telah ditetapkan.

4.4 Analisis Sebab Masalah

4.4.1. Manusia

a) Masyarakat

Masih rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap

penyakit DBD dan pencegahan serta pemberantasannya menyebabkan

masih tingginya angka kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas

Andalas.

b)Petugas Kesehatan

Dalam upaya menurunkan angka kejadian DBD diperlukan

peranan petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan promotif dan

57
preventif dalam memberantas DBD. Peran aktif pembina wilayah dan

penanggung jawab Pustu/Poskeskel yang berada di wilayah kerja

Puskesmas Andalas juga dibutuhkan terutama dalam mengetahui adanya

kejadian DBD dan melaporkannya ke pihak Puskesmas, mencegah

penularan DBD dan memberantas penyakit DBD tersebut. Peran serta

kader membantu menjalankan program 3M plus di wilayah kerja

Puskesmas Andalas masih belum optimal, karena masih adanya beberapa

kader yang tidak aktif dalam melaksanakan peranannya.

Tabel 4.13 Sarana Kesehatan yang Berada di Wilayah Kerja Puskesmas


Andalas
No Sarana Kesehatan Jumlah

1 Rumah Sakit Pemerintah 3

2 Rumah Sakit Swasta 6

3 Klinik Swasta 6

4 Dokter Praktek Umum 51

5 Dokter Praktek Spesialis 15

6 Bidan Praktek Swasta 30

7 Dukun Terlatih 2

8 Kader Aktif 352

Dari tabel 4.12 diatas, dapat dilihat bahwa jumlah kader aktif yang

berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas sebanyak 352 orang yang

tersebar dalam sepuluh kelurahan. Dari jumlah tersebut, masih belum

mencakupi semua penduduk di wilayah kerja Puskesmas Andalas

dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang bejrumlah 80.253 orang.

58
Selain itu, belum semua kader tersebut yang berperan aktif dalam

menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat.

c) Pemerintah

Kurangnya peranan lintas sektoral seperti camat, lurah, RT dan

RW setempat dalam pencegahan DBD menjadi salah satu kesulitan dalam

pelaksanaan upaya pencegahan, pemberantasan dan pengendalian DBD di

wilayah kerja Puskesmas Andalas.

Gambar 4.4. Peta wilayah kerja Puskesmas Andalas

Dari peta wilayah kerja Puskesmas Andalas, dapat dilihat terdapat

10 kelurahan yang masing-masing memiliki jajaran pemerintah daerah

setempat meliputi camat, lurah, RW dan RT. Dalam pelaksanaan upaya

pencegahan, pemberantasan dan pengendalaian DBD peranan dari lintas

sektoral tersebut secara aktif terhadap masyarakat masih kurang. Hal ini

dapat dilihat, masih tidak adanya peranan secara langsung dari jajaran

59
pemerintah setempat untuk ikut serta dalam menyukseskan program DBD

yang dirumuskan oleh pihak Puskesmas.

4.4.2 Metode

a. Masih kurangnya penyuluhan kesehatan mengenai penyakit DBD, cara

penularan dan pencegahannya

Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu kegiatan dari

program Promosi Kesehatan di Puskesmas Andalas. Penyuluhan

kesehatan mengenai upaya pencegahan, pemberantasan dan

pengendalian DBD termasuk salah satu tema penyuluhan yang

dilaksanakan. Berikut ini merupakan frekuensi penyuluhan yang

dilakukan baik dalam maupun luar gedung yang dapat dilihat dari

tabel 4.14 berikut ini :

Tabel 4.14 Frekuensi Penyuluhan dalam Gedung pada Program Promosi


Kesehatan Puskesmas Andalas Tahun 2013
Jumlah
Frekuensi
No Judul / Program Puskesmas Masyarakat Yang
Penyuluhan
disuluh
1 Napza 5X 119
2 PHBS 4X 94
3 HIV AIDS 2X 50
4 Bahaya Rokok 4X 134
5 Flu Burung/Flu Babi 0 0
6 DBD 5X 160
7 Rabies 0 0
8 Malaria 0 0
9 TB Paru 4X 108
10 Filariasis 0 0
11 Kusta 0 0
12 Infeksi Menular Seksual (IMS) 1X 24
13 Immunisasi 1X 30
14 Diare 5X 125
15 Gizi Keluarga 0 0
16 Kekurangan Yodium 0 0

60
17 Penyakit Mata/Vitamin A 5X 104
18 Pemanfaatan Toga 0 0
19 Kesehatan Ibu 20 1234
20 Kesehatan Anak dan DDTK 0 0
21 Keluarga Berencana 2 49
22 Diabetes Militus 3X 71
23 Campak 0 0
24 ISPA 2X 52
25 ASI Eksklusif 0 0
26 Penyakit Kulit 0 0
27 Hipertensi 3 71
28 Materi Lainnya / Jantung 3X 87

Tabel 4.15 Frekuensi Penyuluhan Luar Gedung pada Program Promosi Kesehatan
Puskesmas Andalas Tahun 2013
Jumlah
Frekuensi
No Judul / Program Puskesmas Masyarakat Yang
Penyuluhan
disuluh
1 Napza 17 344
2 PHBS 87 1789
3 HIV AIDS 15 542
4 Bahaya Rokok 44 1104
5 Flu Burung/Flu Babi 10 174
6 DBD 106 1914
7 Rabies 15 366
8 Malaria 11 264
9 TB Paru 36 843
10 Filariasis 6 205
11 Kusta 3 66
12 Infeksi Menular Seksual (IMS) 15 198
13 Immunisasi 122 2480
14 Diare 55 1103
15 Gizi Keluarga 71 1217
16 Kekurangan Yodium 26 484
17 Penyakit Mata/Vitamin A 168 4595
18 Pemanfaatan Toga 51 1142
19 Kesehatan Ibu 0 0
20 Kesehatan Anak dan DDTK 18 344
21 Keluarga Berencana 14 370
22 Diabetes Militus 0 0

61
23 Campak 1X 25
24 ISPA 23 523
25 ASI Eksklusif 7 146
26 Penyakit Kulit 0 0
27 Hipertensi 4 68
28 Materi Lainnya / Jantung - -
Sebutkan. - -
29 Kesling 4 89

Dari tabel 4.14 dan tabel 4.15 dapat dilihat bahwa penyuluhan

mengenai DBD masih kurang dari frekuensi penyuluhan yang

dilakukan jika dibandingkan degan jumlah penduduk dan luas wilayah

kerja Puskesmas Andalas. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa

penyuluhan mengenai DBD baik dalam dan luar gedung masih kurang.

b. Penyuluhan yang dilakukan kurang bervariasi, hanya berupa kegiatan

pemberian materi dengan metode lisan disertai sedikit sesi tanya jawab

atau dengan menggunakan media promosi yang terbatas dan monoton,

sehingga masyarakat terkadang menjadi kurang antusias terhadap

penyuluhan yang diberikan.

62
MEDIA PENYULUHAN

2%

14%

29%
LEMBAR BALIK
LEAFLET
STIKER
INFOKUS

3% CD

52%

Gambar 4.5 Gambaran Media Penyuluhan yang Digunakan dalam


Kegiatan Promosi Kesehatan di Puskesmas Andalas
Tahun 2013

Dari gambar 4.5 dapat dilihat bahwa media promosi terbanyak

yang digunakan dalam penyuluhan, termasuk penyuluhan mengenai

DBD adalah menggunakan in focus dengan menampilkan presentasi

materi. Penggunaan lembar balik dan stiker merupakan media promosi

yang paling sedikit digunakan. Dari media promosi yang digunakan

tersebut dapat dilihat adanya penggunaan media promosi yang belum

efektif secara keseluruhan.

Selain itu, pemberian materi masih terbatas pada penyampaian

informasi secara satu arah, tanpa adanya kesempatan peserta

penyuluhan untuk bertanya lebih lengkap. Dengan demikian, dapat

63
disimpulkan bahwa dalam pelaksanaannya, sesi tanya jawab dan

diskusi yang dilakukan dalam penyuluhan masih kurang.

c. Penyuluhan yang dilakukan belum mencakup semua kelompok

masyarakat sehingga penyuluhan tersebut memberikan dampak yang

efektif sesuai dengan sasaran masyarakat yang dituju dalam

memberantas DBD.

d. Masih adanya ketidaklengkapan dan keterlambatan dalam

pengumpulan pencatatan dan pelaporan dari pihak-pihak yang

memberikan pelayanan pasien DBD diluar Puskesmas di wilayah kerja

Puskesmas Andalas, baik dari Pustu/Poskeskel, Bidan Praktek Swasta

(BPS), dan lain sebagainya

4.4.3 Material

Media penyuluhan sebagai media informasi berupa poster, pamflet dan

leaflet mengenai penyakit DBD di Puskesmas Andalas, Pustu, maupun di tempat-

tempat umum yang berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas masih kurang

sehingga pengetahuan dan kesadaran masyarakat masih terbatas.

Tabel 4.16 Pembuatan Media Penyuluhan Kota Padang Tahun 2013


NO JENIS MEDIA JUMLAH LEMBARAN
1 Leaflet 20
2 Poster 0
3 Spanduk 0
4 Dll 0
Jumlah 20

Pada tabel 4.16 dapat dilihat bahwa penyediaan media promosi kesehatan

masih sangat kurang. Media yang disediakan hanya leaflet, itupun dengan jumlah

64
yang sangat terbatas, sedangkan penyediaan poster, spanduk, dan media lainnya

tidak ada.

4.4.4 Lingkungan

a) Lingkungan tempat tinggal yang padat dapat memudahkan penularan

penyakit DBD

b) Kondisi rumah dan tempat-tempat umum yang belum memenuhi syarat

sesuai kriteria lingkungan sehat dapat meningkatkan risiko penyakit

DBD

hotel RS tipe pusk/ klinik sekolah mesjid gereja pasar salon


melati C pustu kesehat
an
jumlah sarana 8 5 11 5 119 112 1 2 9
jumlah diperiksa 7 2 11 2 106 85 1 2 9
memenuhi syarat 6 2 9 2 66 62 1 1 5
tdk memenuhi syarat 1 0 2 0 40 23 0 1 4

Gambar 4.6 Hasil Pengawasan Tempat-tempat Umum (TTU) di Puskesmas


Andalas Tahun 2013

Dari gambar 4.6 dapat dijelaskan bahwa masih adanya Tempat-tempat

Umum (TTU) yang belum memenuhi syarat misalnya sekolah, masjid, hotel dan

perkantoran. Masih adanya tempat-tempat umum yang belum memenuhi syarat

65
sehat ini menjadi salah satu penyebab yang dapat meningkatkan angka kejadian

DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas

Tabel 4.17 Jumlah Sarana Pendidikan di wilayah Kerja Puskesmas Andalas Tahun
2013
SMP/ SMA/
NO KELURAHAN TK SD/MIN PT
MTS MA
1 Sawahan 3 8 2 4 1
2 Jati baru 5 6 1 2
3 Jati 2 2 1 2 3
4 Sawahan timur 3 4 1 -
5 Simpang haru 3 8 4 5 3
6 Kubu marapalam 3 2 1 - -
7 Andalas 6 3 1 2 -
8 Parak kerakah 3 3 1 1 1
9 Parak gadang timur 4 7 1 - -
10 Ganting parak gadang 3 6 - - -
Jumlah 35 49 13 16 8

Pada tabel 4.17 dapat dilihat bahwa di wilayah kerja Puskesmas Andalas

terdapat 121 sarana pendidikan baik SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi.

Dari sebaran sarana pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Andalas ini, dapat

kita lihat banyaknya gedung sekolah dan perguruan tinggi yang berpotensi

menjadi tempat perkembangbiakan dan penularan nyamuk DBD, sehingga pada

sekolah dan perguruan tinggi tersebut perlu dilakukan upaya pencegahan,

pemberantasan dan pengendalian DBD.

66
2500

2000

1500

1000

500

0
permanen semi kayu jumlah
permanen
diperiksa 1626 513 161 2300
memenuhi syarat 1473 384 89 1936
tdk memenuhi syarat 153 128 67 354
Gambar 4.7 Hasil Pengawasan Rumah yang Breada di Wilayah Kerja Puskesmas
Andalas Tahun 2013

Dari gambar 4.7 dapat dilihat bahwa masih adanya perumahan yang

berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas yang tidak memenuhi syarat rumah

sehat. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kejadian DBD

terkait dengan faktor prilaku dan lingkungan masyarakatnya.

67
Gambar 4.1 Diagram Ischikawa

Tingginyaangkakejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Andalas pada tahun


2013 Manusia.
Masyarakat
- Masihrendahnyakesadaran dan
kepedulianmasyarakatterhadappenyakit DBD
danpencegahansertapemberantasannya
Metode
Tenaga Kesehatan
PenyuluhantentangDBDmasihkurang
- Peranaktifpembina wilayah dan penanggung
Penyuluhan yang dilakukankurangva
jawab Pustu/Poskeskelserta kader wilayah masih
Penyuluhanbelum mencakupsemua k
belum optimal
PihakPemerintah Tidaklengkapdanmasihterlambatnyap
- Kurangnyaperananlintassektoralseperticamat, yang memberikanpelayananpasien D
lurah, RT, RW dalampencegahan DBD

Material Lingkungan
Kurangnya media promosikesehatanseperti Lingkungantempattinggal yang p
Poster dan pamflet mengenaiDBD di Kondisi rumah yang belum mem
Puskesmas, Pustu, danTempat-tempatumum sehat

68
4.5 Alternatif Pemecahan Masalah

4.5.1 Manusia

a) Masyarakat

Masih rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penyakit

DBD dan pencegahan serta pemberantasannya

Menambah frekuensi penyuluhan dengan mengutamakan komunikasi

dua arah berupa diskusi sehingga pemahaman masyarakat menjadi

lebih baik.

b) Tenaga Kesehatan

Peran aktif pembina wilayah dan penanggung jawab Pustu/Poskeskel serta

kader wilayah masih belum optimal

Menjelaskan pembagian jobdesk dan koordinasi pelaporan antara

pemegang program dengan tenaga kesehatan di lapangan (pembina

wilayah, penanggung jawab Pustu/Poskeskel, dan kader) dengan

pemberian reward atau punishment terhadap pelaksanaan kegiatan.

Mengadakan pelatihan khusus DBD kepada tenaga kesehatan terkait

terutama pembina wilayah, penanggung jawab Pustu/Poskeskel serta

kader.

Melakukan pembagian bubuk abate gratis ke setiap rumah penduduk,

masjid, sekolah, hotel dan perkantoran di wilayah kerja Puskesmas

Andalas secara berkala

69
c) Pihak Pemerintah

Kurangnya peranan lintas sektoral seperti camat, lurah, RT, RW dalam

pencegahan DBD

Advokasi dari pihak puskesmas kepada pimpinan daerah mengenai

pentingnya peranan lintas sektoral dalam menurunkan angka kejadian

DBD. Advokasi dapat dilakukan melalui rapat yang dikhususkan atau

dalam rapat triwulan yang dihadiri pimpinan-pimpinan daerah.

4.5.2 Metode

a) Penyuluhantentang DBD masihkurang

Meningkatkan frekuensi penyuluhan baik penyuluhan di dalam

gedung, di luar gedung, atau dengan melakukan penyuluhan keliling.

b) Penyuluhan yang dilakukankurangvariatif

Melakukan penyuluhan dengan media yang lebih menarik seperti

pemutaram film tentang DBD yang membahas perilaku yang bisa

menimbulkan DBD serta akibat penyakit tersebut.

Memberikan pelatihan kepada tenaga penyuluh mengenai cara

memberikan penyuluhan yang baik sehingga peserta dapat tertarik

mendengarkan materi yang diberikan.

c) Penyuluhan belum mencakup semua kelompokmasyarakat

Penyuluhan tidak hanya diberikan di posyandu, tetapi juga di sekolah-

sekolah, perkantoran, pasar, dan sarana ibadah yang memiliki potensi

sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk.

70
d) Tidak lengkap dan masih terlambatnya pelaporan pihak-pihak yang

memberikan pelayanan pasien DBD diluar puskesmas.

Melakukan pertemuan dengan tenaga kesehatan di wilayah kerja

Puskesmas Andalas untuk menjelaskan sistim pelaporan kasus DBD

yang ditemukan dalam praktek sehari-hari ke Puskesmas Andalas.

Advokasi ke DKK untuk dapat memberikan sanksi yang tegas berupa

teguran sampai pencabutan Surat Izin Praktek (SIP) kepada tenaga

kesehatan diluar puskesmas yang tidak melaporkan kasus DBD ke

puskesmas.

4.5.3Material

Kurangnya media promosi kesehatan, seperti poster dan pamflet mengenai

DBD di puskesmas, pustu, dan tempat-tempatumum.

Menyediakan lebih banyak media promosi berupa pamflet, leaflet dan

poster tentang DBD dan disebarkan secara merata di wilayah kerja

Puskesmas Andalas. Penyebaran media ditargetkan pada satu sarana

umum terdapat satu buah poster.

4.5.4 Lingkungan

Lingkungan tempat tinggal yang padat dan kondisi rumah yang belum

memenuhi syarat rumah sehat

Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kriteria rumah

yang sehat dengan memberikan contoh langsung berupa gambar atau

poster.

Membina satu rumah percontohan di masing-masing RT yang

memenuhi kriteria rumah sehat.

71
BAB V
RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM

5.1 Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan dilakukan rapat internal antara pimpinan puskesmas,

pemegang program DBD dan pemegang program lainnya untuk meningkatkan

kerjasama lintas program. Selain itu, dilakukan juga penyebaran undangan kepada

pimpinan daerah, yaitu kepada camat, lurah, ketua RT dan RW untuk menghadiri

rapat dengan pimpinan puskesmas dalam rangka meningkatkan kerjasama lintas

sektoral. Contoh format undangan dan daftar hadir rapat dapat dilihat dalam

lampiran satu dan lima.

Undangan juga diberikan kepada penyedia layanan kesehatan diluar

puskesmas yaitu kepada bidan-bidan praktek swasta, dokter-dokter praktek

swasta, dan pihak rumah sakit untuk menghadiri pertemuan dengan pimpinan

puskesmas terkait dengan sistem pelaporan kasus DBD ke puskesmas. Contoh

format undangan dan daftar hadir rapat dapat dilihat dalam lampiran dua dan lima

Pada tahap persiapan ini, dilakukan juga pemberian undangan kepada

pembina wilayah, penanggung jawab Pustu/ Poskeskel, dan kader-kader untuk

menghadiri pertemuan dengan pemegang program DBD dalam rangka

penejelasan pembagian jobdesk dan juga untuk pelatihan khusus mengenai DBD.

Contoh format undangan dan daftar hadir rapat dapat dilihat dalam lampiran tiga

dan lima.

Pemegang program selanjutnya mengadakan pertemuan dengan pihak

sekolah-sekolah, pengurus sarana ibadah, pihak hotel dan pihak perkantoran yang

ada di wilayah kerja Puskesmas Andalas untuk meminta izin dan mendiskusikan

72
waktu penyuluhan mengenai pencegahan, pemberantasan dan pengendalian kasus

DBD di tempat-tempat tersebut. Contoh format surat izi kegiatan ini dapat dilihat

dalam lampiran empat.

5.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan difokuskan pada:

1. Pemberian penyuluhan tentang cara mencegah, memberantas dan

mengendalikan DBD kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk

sekolah, perkantoran, hotel dan sarana ibadah di wilayah kerja Puskesmas

Andalas dengan cara yang variatif dan menarik. Leaflet, poster, dan materi

penyuluhan tentang cara mencegah, memberantas dan mengendalikan

DBD dapat dilihat pada lampiran tujuh, delapan, dan sembilan.

2. Pemberian penyuluhan tentang bagaimana menciptakan dan menjaga

lingkungan dan kondisi tempat tinggal yang memenuhi syarat rumah sehat

serta melakukan pembinaan pada satu rumah di setiap RT yang akan

dijadikan percontohan rumah sehat. Materi penyuluhan mengenai syarat

rumah sehat dapat dilihat pada lampiran 10.

3. Melakukan pembinaan pada tenaga penyuluh tentang pemberian

penyuluhan yang baik untuk lebih menarik minat peserta untuk

mendengarkan materi. Materi pelatihan dapat dilihat pada lampiran 13.

4. Melakukan pelatihan khusus DBD kepada tenaga kesehatan terkait

terutama pembina wilayah, penanggung jawab Pustu/Poskeskel serta

kader. Materi pelatihan dapat dilihat pada lampiran 11.

5. Melakukan pembagian bubuk abate gratis ke setiap rumah penduduk,

masjid, sekolah, hotel dan perkantoran di wilayah kerja Puskesmas

73
Andalas secara berkala. Jumlah bubuk abate disesuaikan dengan jumlah

rumah, perkantoran, sekolah, sarana ibadah, dan perhotelan di wilayah

kerja Puskesmas Andalas.

6. Mengadakan pertemuan antara pemegang program dengan tenaga

kesehatan di lapangan (pembina wilayah, penanggung jawab

Pustu/Poskeskel, dan kader) untuk menjelaskan pembagian jobdesk dan

koordinasi pelaporan antara pemegang program dengan tenaga kesehatan

di lapangan (pembina wilayah, penanggung jawab Pustu/Poskeskel, dan

kader).

7. Pemberian reward atau punishment terhadap pelaksanaan kegiatan yang

dilakukan oleh tenaga kesehatan di lapangan. Bentuk reward dan

punishment disesuaikan dengan hasil kesepakatan antara pemegang

program dan pimpinan puskesmas yang diberikan satu kali setahun, yaitu

pada saat laporan akhir tahunan.

8. Advokasi kepada pimpinan daerah meliputi camat, lurah, ketua RT dan

RW untuk meningkatkan kerjasama lintas sektoral yang sangat berperan

dalam penurunan angka kejadian DBD.

9. Mengadakan pertemuan dengan tenaga kesehatan di wilayah kerja

Puskesmas Andalas (bidan praktek swasta, dokter praktek swasta, dan

rumah sakit) untuk menjelaskan sistem pelaporan kasus DBD yang

ditemukan dalam praktek sehari-hari ke Puskesmas Andalas.

10. Advokasi ke DKK untuk memberikan sanksi yang tegas mulai dari teguran

sampai pencaputan SIP kepada tenaga kesehatan diluar puskesmas yang

tidak melaporkan temuan kasus DBD ke puskesmas.

74
11. Menyediakan lebih banyak media promosi kesehatan berupa leaflet,

pamflet, dan poster mengenai pencegahan, pemberantasan dan

pengendalian DBD yang disebarkan pada seluruh wilayah kerja

Puskesmas Andalas dengan target satu buah poster pada satu sarana

umum.

5.3 Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi bertujuan untuk menilai apakah upaya pencegahan,

pemberantasan dan pengendalian DBD telah dilakukan secara efektif dan

maksimal. Kegiatan ini dilakukan melalui rapat internal dan lokakarya mini yang

dilakukan sekali dalam sebulan. Evaluasi program pencegahan, pemberantasan

dan pengendalian DBD dinilai dari angka kejadian kasus DBD yang tercatat di

Puskesmas Andalas. Selain itu, penilaian juga dengan melihat peran aktif

masyarakat dalam usaha menciptakan dan menjaga lingkungan yang sehat,

kondisi tempat tinggal yang memenuhi syarat rumah sehat serta penerapan 3M

Plus. Pengetahuan masyarakat mengenai penyakit DBD, cara penularan,

pencegahan, pemberantasan dan pengendalian DBD juga dapat dinilai dengan

menyebarkan kuesioner evaluasi.

Tabel 5.1.Persiapan dan Pelaksanaan Program


Penanggung Unsur yang Terlibat Tempat /
Kegiatan Tujuan
Jawab Tenaga Sarana Waktu
Tahap Persiapan
Rapat internal - Evaluasi faktor Pemegang - Pemegang - Laporan Ruang rapat
antara: penyebab program program bulanan puskesmas/
- Pemegang tingginya kasus DBD DBD - Laporan waktu
program DBD di - Pimpinan tahunan disesuaikan
- Pimpinan Puskesmas puskesmas - Catatan dengan
puskesmas Andalas. - Pemegang keuangan jadwal
- Pemegang - Evaluasi kinerja program - Daftar puskesmas

75
program lainnya petugas lainnya Hadir
- Bendahara puskesmas dan - Bendahara (format
meningkatkan pada
kerjasama lintas lampiran 5)
program
- Menyusun
anggaran dana
yang dibutuhkan

Pemberian Mengundang Pemegang Tata usaha Undangan Puskesmas


undangan camat, lurah, program (format Andalas /
pertemuan kepada ketua RT dan RW DBD pada waktu
camat, lurah, ketua dalam pertemuan lampiran 1) disesuaikan
RT dan RW di dengan pim
wilayah kerja pinan puskesmas
Puskesmas dan pemegang
Andalas program

Pemberian Mengundang Pemegang Tata usaha Undangan Puskesmas


undangan bidan-bidan program (format Andalas /
pertemuan kepada praktek swasta, DBD pada waktu
bidan-bidan dokter-dokter lampiran 2) disesuaikan
praktek swasta, praktek swasta,
dokter-dokter dan pihak rumah
praktek swasta, sakit dalam
dan pihak rumah pertemuan dengan
sakit di wilayah pimpinan
kerja Puskesmas puskesmas dan
Andalas pemegang
program

Pemberian Mengundang Pemegang Tata usaha Undangan Puskesmas


undangan pembina wilayah, program (format Andalas /
pertemuan dan penanggung jawab DBD pada waktu
pelatihan kepada Pustu/ Poskeskel, lampiran 3) disesuaikan
pembina wilayah, dan kader-kader di
penanggung jawab wilayah kerja
Pustu/ Poskeskel, Puskesmas Andalas
dan kader-kader di untuk mengikuti
wilayah kerja rapat kerja dan
Puskesmas pelatihan khusus
Andalas DBD

76
Pertemuan dengan Izin untuk Pemegang Tata usaha, - Surat izin Turun
pihak sekolah- melakukan program Pemegang kegiatan langsung ke
sekolah, pengurus- penyuluhan program (format tempat
pengurus sarana mengenai DBD dengan pada sasaran
ibadah, hotel dan pencegahan, pihak terkait lampiran 4) dengan
perkantoran yang pemberantasan dan (sekolah, - Laporan waktu yang
ada di wilayah pengendalian DBD sarana kasus DBD disesuaikan
kerja Puskesmas ibadah, hotel dan
Andalas dan dampaknya
perkantoran)

Tahap Pelaksanaan
Pertemuan - Menghimbau Pimpinan - Pimpinan - Laporan Ruang rapat
pihak tokoh masyarakat Puskesmas puskesmas tahunan dan puskesmas /
Puskesmas (lurah, ketua - pemegang bulanan waktu
dengan: RT/RW) untuk program - Daftar disesuaikan
- pimpinan berperan aktif DBD Hadir dengan jadwal
daerah dalam - camat, (format puskesmas
(camat, menggerakkan lurah, pada
lurah, ketua masyarakat RT/RW lampiran 5)
RT dan RW) dalam
pencegahan,
pemberantasan
dan pengendalian
DBD.

Pertemuan - Memberikan Pimpinan - Pimpinan - Laporan Ruang rapat


pihak penjelasan puskesmas puskesmas tahunan dan puskesmas /
puskesmas tentang sistem - Pemegang bulanan waktu
dengan tenaga pencatatan dan program - Daftar disesuaikan
kesehatan di pelaporan kasus DBD Hadir dengan jadwal
wilayah kerja DBD yang - Bidan- (format puskesmas
(bidan praktek ditemukan ke bidan pada
swasta, dokter Puskesmas praktek lampiran 5)
praktek swasta, Andalas swasta
dan pihak dari - Dokter-
rumah sakit) dokter
praktek
swasta
- Pihak dari
rumah
sakit

77
Pertemuan Advokasi ke DKK Pimpinan Pimpinan Laporan Sesuai dengan
dengan Dinas untuk memberikan puskesmas puskesmas, kasus DBD rapat undangan
Kesehatan Kota sanksi yang tegas, pemegang di wilayah dari DKK
Padang mulai dari teguran program kerja
sampai pencabutan DBD, pihak Puskesmas
SIP pada pihak DKK Andalas
pelayanan
kesehatan di luar
Puskesmas yang
terlambat atau
tidak memberikan
laporan kasus
DBD ke
puskesmas

Pelatihan Meningkatkan Pemegang Ahli yang Materi Ruang rapat


kepada minat dan program diundang pelatihan puskesmas /
penyuluh pemahaman DBD (materi pada waktu
mengenai pendengar untuk lampiran 13) disesuaikan
penyuluhan mendengarkan dengan jadwal
yang baik dan materi yang puskesmas
variatif diberikan

Pelatihan Meningkatkan Pemegang - Dokter - Materi Ruang rapat


khusus DBD pengetahuan program yang pelatihan puskesmas /
kepada pembina tentang penyakit DBD kompeten (materi waktu
wilayah, DBD, - Pembina pada disesuaikan
penanggung penyebabnya, wilayah lampiran dengan jadwal
jawab siklus nyamuk / - Penanggu 11) puskesmas
Pustu/Poskeskel penyebab DBD, ngjawab - Laptop
dan kader gejala dan Pustu/ - Infocus
perjalanan Puskeskel
penyakit, - Kader-
pengobatan, kader
hingga pencegahan
penyakit.

Rapat kerja Menjelaskan Pemegang - Pemegang - Laptop Ruang rapat


dengan pembina pembagian kerja program program - Infocus puskesmas /
wilayah, dan alur koordinasi DBD - Pembina waktu
penanggung dalam mengatasi wilayah disesuaikan
jawab masalah yang - Penanggu dengan jadwal
Pustu/Poskeskel ditemukan di ng jawab puskesmas
dan kader lapangan dan Pustu/
pelaporan kegiatan Puskeskel
yang dilakukan - Kader-
kader

78
Pemberian Meningkatkan Pemegang - Pemegang - Laptop - Dalam gedung
penyuluhan pengetahuan program program - Infocus (Puskesmas)/
tentang masyarakat tentang promkes promkes - Leaflet Waktu
pencegahan, DBD dan cara - Tenaga (pada disesuaikan
pemberantasan pengendaliannya kesehatan lampiran 7) - Luar gedung
dan Puskesmas - Poster (Posyandu,
pengendalian lainnya (pada Pustu,
DBD khususnya - Mahasiswa lampiran 8) poskeskel)
penerapan 3M magang - Materi - TTU: mesjid,
plus kepada Penyuluhan sekolah, kantor/
masyarakat di (materi waktu
wilayah kerja pada disesuaikan
Puskesmas lampiran 9)
Andalas

Pemberian Meningkatkan - Pemegang - Pemegang - Materi - Dalam gedung


penyuluhan pengetahuan program program Penyuluhan (Puskesmas)/
tentang syarat masyarakat tentang promkes promkes (materi Waktu
rumah sehat syarat rumah sehat - Pemegang - Pemegang pada disesuaikan
kepada dan masyarakat program program lampiran - Luar gedung
masyarakat di mampu kesehatan kesehatan 10) (Posyandu,
wilayah kerja menerapkan dalam lingkungan lingkungan Pustu,
Puskesmas kehidupan - Tenaga poskeskel)
Andalas kesehatan -
Puskesmas
lainnya

Melakukan Memberantas Pemegang - Pemegang - Bubuk Wilayah kerja


pembagian jentik nyamuk program program abate Puskesmas
bubuk abate penyebab DBD DBD DBD (jumlah Andalas
gratis ke setiap - Kader- disesuaikan
rumah kader dengan
penduduk, jumlah KK
masjid, sekolah, dan sarana
hotel dan umum
perkantoran di terkait)
wilayah kerja
Puskesmas
Andalas secara
berkala

Pembinaan pada Menjadikan satu Pemegang - Pemegang Sesuai - Pada satu rumah
satu rumah rumah disetiap RT program program kebutuhan di setiap RT
disetiap RT sebagai rumah DBD dalam wilayah
menjadi rumah sehat yang bisa - Pemegang kerja Puskesmas
sehat menjadi program Andalas / waktu
percontohan bagi kesling disesuaikan
masyarakat lainnya (lintas

79
untuk mewujudkan program)
lingkungan rumah - Ketua RT
yang memenuhi - Masyarakat
kriteria rumah
sehat

Penyebaran Meningkatkan - Pemegang - Pemegang Leaflet dan Puskesmas,


media promosi kesadaran dan program program poster (pada posyandu,
berupa leaflet menambah promkes promkes lampiran kantor lurah,
dan poster pengetahuan - Pemegang - Pemegang 7dan 8) sekolah, masjid,
mengenai masyarakat program program jalanan, rumah
penyakit, mengenai DBD DBD makan, dan
penularan, dan penyakit, tempat umum
cara pencegahan penularan, dan cara lainnya/ waktu
DBD. pencegahan DBD. disesuaikan

Pemberian Meningkatkan - Pemegang - Pimpinan Sesuai Puskesmas


reward dan semangat untuk program puskesmas kesepakatan Andalas / 1 kali
punishment berperan secara - Pemegang antara dalam setahun
kepada pembina aktif dalam upaya program pemegang (saat laporan
wilayah, pencegahan, - Pembina program dan akhir tahunan)
penanggung pemberantasan, wilayah pimpinan
jawab dan pengendalian - Penanggun puskesmas
Pustu/Poskeskel kasus DBD di gjawab
dan kader wilayah masing- Pustu/
masing Puskeskel
- Kader-
kader

Tabel 5.2.Monitoringdanevaluasi program


Program Monitoring Evaluasi
Advokasi kepada Memantau kerjasama lintas Pelaporan pemegang program DBD
pimpinan daerah sektoral dalam upaya mengenai hasil pertemuan yang sudah
meliputi camat, pencegahan, pemberantasan, diadakan dan bagaimana peranan
lurah, ketua RT dan pengendalian kasus DBD pimpinan daerah dalam membantu
dan RW untuk pelaksanaan kegiatan
meningkatkan
kerjasama lintas
sektoral

Pertemuan dengan Memantau laporan kasus Pelaporan pemegang program DBD


tenaga kesehatan DBD yang diberikan masing- mengenai hasil pertemuan yang sudah
di wilayah kerja masing tenaga kesehatan ke diadakan dan laporan bulanan kasus
Puskesmas Puskesmas Andalas setiap DBD dari tenaga kesehatan terkait
Andalas (bidan bulannya

80
praktek swasta,
dokter praktek
swasta, dan rumah
sakit) untuk
menjelaskan
sistem pelaporan
kasus DBD ke
Puskesmas
Andalas

Advokasi ke Memantau laporan kasus - Pelaporan pemegang program DBD


DKK untuk DBD yang diberikan masing- mengenai hasil pertemuan yang sudah
memberikan masing tenaga kesehatan ke diadakan
sanksi yang tegas Puskesmas Andalas setiap - Laporan bulanan kasus DBD dari
kepada tenaga bulannya tenaga kesehatan terkait
kesehatan diluar - Laporan tenaga kesehatan yang
puskesmas yang mendapat sanksi
tidak melaporkan
temuan kasus
DBD ke
puskesmas

Melakukan Membagikan kuisioner - Pelaporan oleh pemegang program


pembinaan pada setelah penyuluhan terlaksana DBD setelah dilakukan acara
tenaga penyuluh pelatihan.
tentang pemberian - Pelaporan oleh pemegang program
penyuluhan yang promkes kepada pimpinan puskesmas
baik untuk lebih mengenai hasil penyuluhan
menarik minat
peserta untuk
mendengarkan
materi

Melakukan Mengadakan sesi diskusi Pelaporan oleh pemegang program


pelatihan khusus dalam pelatihan untuk setelah dilakukan kegiatan pelatihan
DBD kepada mengetahui tingkat
tenaga kesehatan pemahaman
terkait terutama
pembina wilayah,
penanggung
jawab
Pustu/Poskeskel
serta kader

Rapat kerja Memantau bagaimana alur Pelaporan pemegang program DBD


dengan pembina koordinasi dalam pemecahan mengenai hasil rapat kerja yang sudah
wilayah, masalah yang ditemukan dan diadakan
penanggung pelaporan kegiatan

81
jawab
Pustu/Poskeskel
dan kader untuk
menjelaskan
pembagian
jobdesk

Pemberian Membagikan kuesioner Pelaporan oleh pemegang program


penyuluhan setelah penyuluhan terlaksana promkes kepada pimpinan puskesmas
tentangcara (format kuisioner dalam mengenai hasil penyuluhan. Laporan
mencegah, lampiran 12) mencakup frekuensi penyuluhan,
memberantas dan lokasi penyuluhan, dan tingkat
mengendalikan pemahaman masyarakat sesuai hasil
DBD khususnya pembagian kuisioner
penerapan 3M
plus kepada
seluruh lapisan
masyarakat,
termasuk sekolah,
perkantoran,hotel
dan sarana ibadah
di wilayah kerja
Puskesmas
Andalas dengan
cara yang variatif
dan menarik

Melakukan Memantau pembagian bubuk Pengecekan kartu tanda terima bubuk


pembagian bubuk abate gratis oleh kader abate gratis oleh pembina wilayah
abate gratis ke masing-masing wilayah yang dilaporkan ke pemegang
setiap rumah dengan menggunakan kartu program DBD
penduduk, masjid, tanda terima bubuk abate.
sekolah, hotel dan Kartu tersebut diserahkan
perkantoran di pada rumah penduduk atau
wilayah kerja sarana-sarana umum yang
Puskesmas telah menerima bubuk abate
Andalas secara yang diisi setiap kali bubuk
berkala diterima

Pembinaan pada Memantau pelaksanaan Pelaporan dari pemegang program


satu rumah pembinaan pada satu rumah DBD bekerjasama dengan program
disetiap RT disetiap RT menjadi rumah Kesehatan Lingkungan mengenai
menjadi rumah sehat penerapan kriteria rumah sehat pada
sehat masing-masing RT

Menyediakan Memantau penyebaran leaflet Pelaporan pemegang program


lebih banyak kepada masyarakat dalam promkes mengenai hasil penyebaran
berupa leaflet, setiap penyuluhan dan media informasi kepada pimpinan

82
pamflet, dan penempelan poster di sarana- puskesmas
poster mengenai sarana umum
pencegahan,
pemberantasan
dan pengendalian
DBD yang
disebarkan pada
seluruh wilayah
kerja Puskesmas
Andalas

Pemberian reward Melakukan pengawasan Pelaporan pemegang program DBD


dan punishment terhadap kinerja dan peran mengenai peran aktif kader dengan
kepada pembina aktif kader pada masing- menilai adanya peningkatan peran
wilayah, masing wilayah kerjanya serta masyarakat terhadap pelaksanaan
penanggung upaya pencegahan, pemberantasan,
jawab dan pengendalian kasus DBD di
Pustu/Poskeskel wilayah kerja Puskesmas Andalas
dan kader

BAB VI

83
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

6.1.1 Masalah yang menyebabkan masih tingginya angka kejadian DBD di

wilayah kerja Puskesmas Andalas

A. Masalah Manusia

a. Masih rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penyakit

DBD dan pencegahan serta pemberantasannya, khususnya dalam

menerapkan 3M plus.

b. Peran aktif pembina wilayah dan penanggungjawab Pustu/Poskeskel yang

berada di wilayah kerja Puskesmas Andalas belum optimal.

c. Kurangnya peranan lintas sektoral seperti camat, lurah, RT dan RW

setempat dalam pencegahan, pemberantasan dan pengendalian DBD di

wilayah kerja Puskesmas Andalas.

B. MasalahMetode

a. Masih kurangnya penyuluhan kesehatan mengenai penyakit DBD, cara

penularan dan pencegahannya

b. Penyuluhan yang dilakukan kurang bervariasi

c. Penyuluhan yang dilakukan belum mencakup semua kelompok

masyarakat sehingga penyuluhan tersebut memberikan dampak yang

efektif sesuai dengan sasaran masyarakat yang dituju dalam memberantas

DBD

d. Masih adanya ketidaklengkapan dan keterlambatan dalam pengumpulan

pencatatn dan pelaporan dari pihak-pihak yang memberikan pelayanan

84
pasien DBD diluar puskesmasdi wilayah kerja Puskesmas Andalas, baik

dari Pustu/Poskeskel, Bidan Praktek Swasta (BPS), dan lain sebagainya

C. Masalah Material

Kurangnya media penyuluhan sebagai media informasi berupa poster,

pamflet dan leaflet mengenai penyakit DBD di Puskesmas Andalas, Pustu,

maupun di tempat-tempat umum yang berada di wilayah kerja Puskesmas

Andalas, sehingga kesadarn dan pengetahuan masih terbatas

D. Masalah Lingkungan

a. Lingkungan tempat tinggal yang padat dapat memudahakan penularan

penyakit DBD

b. Kondisi rumah yang belum memenuhi syarat rumah sehat dapat

meningkatkan risiko penyakit DBD

6.1.2 Upaya pencegahan, pemberantasan, dan pengendalian kasus DBD di

wilayah kerja Puskesmas Andalas

A. Manusia

a. Masyarakat

Menambah frekuensi penyuluhan dengan mengutamakan komunikasi dua

arah berupa diskusi sehingga pemahaman masyarakat menjadi lebih baik.

b. Tenaga Kesehatan

1. Peran aktif pembina wilayah dan penanggung jawab Pustu/Poskeskel

serta kader wilayah masih belum optimal

2. Menjelaskan pembagian jobdesk dan koordinasi pelaporan antara

pemegang program dengan tenaga kesehatan di lapangan (pembina

85
wilayah, penanggung jawab Pustu/Poskeskel, dan kader) dengan

pemberian reward atau punishment terhadap pelaksanaan kegiatan.

3. Mengadakan pelatihan khusus DBD kepada tenaga kesehatan terkait

terutama pembina wilayah, penanggung jawab Pustu/Poskeskel serta

kader.

4. Melakukan pembagian bubuk abate gratis ke setiap rumah penduduk,

masjid, sekolah, hotel dan perkantoran di wilayah kerja Puskesmas

Andalas secara berkala

c. Pihak Pemerintah

1. Kurangnya peranan lintas sektoral seperti camat, lurah, RT, RW dalam

pencegahan DBD

2. Advokasi dari pihak puskesmas kepada pimpinan daerah mengenai

pentingnya peranan lintas sektoral dalam menurunkan angka kejadian

DBD.

B. Metode

a. Meningkatkan frekuensi penyuluhan baik penyuluhan di dalam gedung, di

luar gedung, atau dengan melakukan penyuluhan keliling.

b. Melakukan penyuluhan dengan media yang lebih menarik seperti

pemutaram film tentang DBD yang membahas perilaku yang bisa

menimbulkan DBD serta akibat penyakit tersebut.

c. Memberikan pelatihan kepada tenaga penyuluh mengenai cara

memberikan penyuluhan yang baik sehingga peserta dapat tertarik

mendengarkan materi yang diberikan.

86
d. Penyuluhan tidak hanya diberikan di posyandu, tetapi juga di sekolah-

sekolah, perkantoran, pasar, dan sarana ibadah yang memiliki potensi

sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk.

e. Tidak lengkap dan masih terlambatnya pelaporan pihak-pihak yang

memberikan pelayanan pasien DBD diluar puskesmas.

f. Melakukan pertemuan dengan tenaga kesehatan di wilayah kerja

Puskesmas Andalas untuk menjelaskan sistem pelaporan kasus DBD yang

ditemukan dalam praktek sehari-hari ke Puskesmas Andalas.

g. Advokasi ke DKK untuk dapat memberikan sanksi yang tegas berupa

teguran sampai pencabutan Surat Izin Praktek (SIP) kepada tenaga

kesehatan diluar puskesmas yang tidak melaporkan kasus DBD ke

puskesmas.

C. Material

Menyediakan lebih banyak media promosi berupa pamflet, leaflet dan

poster tentang DBD dan disebarkan secara merata di wilayah kerja Puskesmas

Andalasterutama pada rumah, sarana umum dan lain sebagainya.

D. Lingkungan

a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kriteria rumah yang

sehat dengan memberikan contoh langsung berupa gambar atau poster.

b. Membina satu rumah percontohan di masing-masing RT yang memenuhi

kriteria rumah sehat.

87
6.1.3 Evaluasi dan monitoring terhadap upaya pencegahan, pemberantasan,

dan pengendalian kasus DBD di wilayah kerjaPuskesmas Andalas

a. Memantau kerjasama lintas sektoral dalam upaya pencegahan,

pemberantasan, dan pengendalian kasus DBD

b. Memantau laporan kasus DBD yang diberikan masing-masing tenaga

kesehatan ke Puskesmas Andalas setiap bulannya

c. Memantau laporan kasus DBD yang diberikan masing-masing tenaga

kesehatan ke Puskesmas Andalas setiap bulannya

d. Membagikan kuisioner setelah penyuluhan terlaksana

e. Mengadakan sesi diskusi dalam pelatihan untuk mengetahui tingkat

pemahaman

f. Memantau bagaimana alur koordinasi dalam pemecahan masalah yang

ditemukan dan pelaporan kegiatan

g. Memantau pembagian bubuk abate gratis oleh kader masing-masing

wilayah dengan menggunakan kartu tanda terima bubuk abate. Kartu

tersebut diserahkan pada rumah penduduk atau sarana-sarana umum

yang telah menerima bubuk abate yang diisi setiap kali bubuk diterima

h. Memantau pelaksanaan pembinaan pada satu rumah disetiap RT

menjadi rumah sehat

i. Memantau penyebaran leaflet kepada masyarakat dalam setiap

penyuluhan dan penempelan poster di sarana-sarana umum

j. Melakukan pengawasan terhadap kinerja dan peran aktif kader pada

masing-masing wilayah kerjanya

88
6.2 Saran
6.2.1 Masyarakat

Masyarakat diharapkan berperan aktif dan ikut serta dalam menyukseskan

kegiatan pencegahan, pemberantasan danpengendalian kejadian DBD

6.2.2 Puskesmas dan pemegang program DBD di Puskesmas

Pemegang program yang berada dibawah koordinasi puskesmas dapat

melaksanakan solusi alternatif untuk mengatasi masalah DBD di wilayah

kerja Puskesmas Andalas sesuai dengan peranannya terutama dalam upaya

promotif dan preventif.

6.2.3 Dinas Kesehatan

Dinas Kesehatan diharapkan mengawasi dan mendukung pelaksanaan

upaya pencegahan, pemberantasan dan pengendalian DBD berdasarkan

informasi kesehatan mengenai kasus DBD dan masalahnya di wilayah

kerja Puskesmas Andalas.

6.2.4 Pemerintah daerah setempat

Meningkatkan koordinasi dengan pihak puskesmas dan berperan aktif

dalam menyukseskan pelaksanaan upaya pencegahan, pemberantasan dan

pengendalian DBD.

89