Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

TEKNOLOGI DAN FORMULASI SEDIAAN SEMISOLID


SEDIAAN GEL KETOPROFEN

Oleh :
Muhajir Kurniawan (14670043)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik,
serta hidayah Nya sehingga kami dapat menyusun Makalah Teknologi Formulasi Sediaan
Semisolid ini dengan baik dan tepat waktu.
Tugas makalah teknologi formulasi sediaan semisolid yang berjudul Sediaan Gel
Ketoprofen ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme kerja gel ketoprofen itu
sendiri dalam penggunaaannya sebagai obat topical (non steril) yang aman digunakan pada tubuh
manusia.
Semoga dengan disusunnya makalh ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami menyadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.Kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Pengampu mata kuliah yang telah memberikan bimbingan
terbaik.
Atas perhatian dan waktunya, kami sampaikan banyak terima kasih.

Malang, Maret 2017

Penyusun
1. DASAR TEORI
A. Definisi Gel
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, gel kadang-kadang disebut jeli, merupakan
sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil
atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Menurut Formularium
Nasional, gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah
kecil senyawa anorganik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing
terbungkus dan saling terserap oleh cairan. Menurut Ansel, gel didefinisikan sebagai
suatu system setengah padat yang terdiri dari suatu disperse yang tersusun baik dari
partikel anorganik yang terkecil atau molekul organic yang besar dan saling diresapi
cairan.
Gel merupakan sistem semipadat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel
anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan
(Departemen Kesehatan RI, 1995). Gel pada umumnya memiliki karakteristik yaitu
strukturnya yang kaku. Gel dapat berupa sediaan yang jernih atau buram, polar, atau
non polar, dan hidroalkoholik tergantung konstituennya. Gel biasanya terdiri dari gom
alami (tragacanth, guar, atau xanthan), bahan semisintetis (misal : methylcellulose,
carboxymethylcellulose, atau hydroxyethylcellulose), bahan sintetis (misal :
carbomer), atau clay (misal : silikat). Viskositas gel pada umumnya sebanding dengan
jumlah dan berat molekul bahan pengental yang ditambahkan.

B. Keuntungan Dan Kerugian Gel


Keuntungan dan kerugian menurut Lachman, 1994 :
1. Keuntungan sediaan gel
Untuk hidrogel: efek pendinginan pada kulit saat digunakan, penampilan
sediaan yang jernih dan elegan, pada pemakaian di kulit setelah kering
meninggalkan film tembus pandang, elastis, mudah dicuci dengan air, pelepasan
obatnya baik, kemampuan penyebarannya pada kulit baik.
1. Kekurangan sediaan gel
Untuk hidrogel: harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga
diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih
pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau
hilang ketika berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan
iritasi dan harga lebih mahal.

C. Kegunaan Gel
Kegunaan sediaan gel secara garis besar di bagi menjadi empat seperti:
1. Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk
sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk
sediaan obat longacting yang diinjeksikan secara intramuskular.
2. Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan
pelindung koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan oral, dan basis
suppositoria.
3. Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk
pada shampo, parfum, pasta gigi, kulit dan sediaan perawatan rambut.
4. Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril).

D. Golongan Gel
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV penggolongan sediaan gel dibagi menjadi
dua yaitu:
1. Gel sistem dua fase
Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar , massa
gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma misalnya magma bentonit. Baik gel
maupun magma dapat berupa tiksotropik, membentuk semipadat jika dibiarkan dan
menjadi cair pada pengocokan.Sediaan harus dikocok dahulu sebelum digunakan untuk
menjamin homogenitas.
2. Gel sistem fase tunggal
Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar sama dalam suatu
cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang
terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik
misalnya karboner atau dari gom alam misanya tragakan.
Gel dapat dikelompokkan menjadi : lipophilic gels dan hydrophilic gels. Lipophilic
gels (oleogel) merupakan gel dengan basis yang terdiri dari parafin cair, polietilen atau
minyak lemak yang ditambah dengan silika koloid atau sabunsabun aluminium atau
seng. Sedangkan hydrophylic gels, basisnya terbuat dari air, gliserol atau propilen
glikol, yang ditambah gelling agent seperti amilum, turunan selulosa, carbomer dan
magnesium-aluminum silikat (Gaur et al, 2008).

E. Sifat dan Kriteria gel yang baik


Menurut Lachman, dkk. 1994 sediaan gel memiliki sifat sebagai berikut:
1. Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert,
aman dan tidak bereaksi dengan komponen lain.
2. Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang
baik selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan
kekuatan atau daya yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan
tube, atau selama penggunaan topical.
3. Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang
diharapkan.
4. Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM
besar dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan.
5. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga
pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh
polimer seperti MC, HPMC dapat terlarut hanya pada air yang dingin yang akan
membentuk larutan yang kental dan pada peningkatan suhu larutan tersebut
akan membentuk gel.
6. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh
pemanasan disebut thermogelation.

Sediaan gel umumnya memiliki karakteristik tertentu, yakni (disperse system,


vol 2 hal 497):
1. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat
mengabsorbsi larutan sehingga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan
berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi antara pelarut dengan gel.
Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar polimer di
dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang.
2. Sineresis
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel.
Cairan yang terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu
pembentukan gel terjadi tekanan yang elastis, sehingga terbentuk massa gel
yang tegar. Mekanisme terjadinya kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi
akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel. Adanya perubahan
pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah, sehingga
memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Sineresis dapat terjadi
pada hidrogel maupun organogel.
3. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui
penurunan temperatur tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah
pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer seperti MC, HPMC, terlarut hanya
pada air yang dingin membentuk larutan yang kental. Pada peningkatan suhu
larutan tersebut membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan
fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation.
4. Efek elektrolit
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel
hidrofilik dimana ion berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap
pelarut yang ada dan koloid digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu
hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan meningkatkan rigiditas gel
dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian tekanan geser.
Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi ion
kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat
sebagai kalsium alginat yang tidak larut.
5. Elastisitas dan rigiditas
Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa,
selama transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas
dengan peningkatan konsentrasi pembentuk gel. Bentuk struktur gel resisten
terhadap perubahan atau deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik.
Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk
gel.
6. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang
terflokulasi memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan
jalan aliran nonnewton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan
peningkatan laju aliran

F. Komponen Gel
1. Basis
Ada 2 macam basis gel yaitu gel hidrofobik dan gel hidrofilik :
a. Gel hidrofobik (oleogel) adalah sediaan dengan basis yang biasanya
mengadung parafin cair dengan polietilen atau minyak lemak membentuk
gel dan silika koloidal atau aluminium atau sabung seng.
b. Gel hidrofilik (hydrogel) adalah sediaan dengan basis yang biasanya
mengandung air, gliserol atau propilen glikol membentuk gel dengan gelling
agent (pembentuk gel) yang sesuai seperti tragakan, pati, derivat selulosa,
polimer karboksivinil, dan magnesium-aluminium silikat.

2. Gelling agent
Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk
jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel. Termasuk dalam
kelompok ini adalah gom alam, turunan selulosa, dan karbomer. Kebanyakan
dari sistem tersebut berfungsi dalam media air, selain itu ada yang membentuk
gel dalam cairan non-polar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku
sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang
tinggi dari beberapa surfaktan non-ionik dapat digunakan untuk menghasilkan
gel yang jernih di dalam sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral.

2. GEL KETOPROFEN
a. Formulasi Gel Ketoprofen
Ketoprofen merupakan derivat asam propional yang memiliki sifat analgesik seperti aspirin
dengan anti inflamasi sedang. Ketoprofen bekerja dengan cara menghambat cyclooxygenase
(secara nonselektif) dan lipoxygenerasi. Ketoprofen digunakan pada terapi penyakit rheumatoid
arthritis, osteoarthritis, gangguan peri-articular seperto bursitis. Obat ini juga digunakan untuk
mengatasi nyeri ringan sampai sedang. (Mc. Evoy, 2002, Ganiswara.1995)
Ketoprofen bekerja pada dosis 2.5% untuk sediaan gel (martindale, p.74).
Ketoprofen merupakan analgesik perifer yang digunakan secara luas untuk mengatasi keadaan
nyeri. Bentuk sediaan transdermal dipilih karena ketoprofen memiliki kelarutan yang rendah di
dalam air, kecepatan disolusi dan bioavailabilitasnya rendah, serta waktu eliminasinya cepat.
Tahap awal untuk menentukan bioavailabilitas dari sediaan transdermal adalah pengujian in-vitro,
meliputi uji pelepasan dan uji permeasi.
b. Mekanisme Transport
Mekanisme transport terjadinya lipolisis oleh golongan xantin melalui mekanisme inhibisi
fosfodiesterase sehingga bahan tersebut dapat menginduksi terjadinya lipolysis (Baumann,2002).
Sediaan antiselulit yang banyak digunakan adalah topical transdermal, karena sediaan ini lebih
aman dan efektif. Kendala pada pemberian obat secara topical adalah lapisan kulit terluar, stratum
corneum yang merupakan barrier utama penetrasi obat masuk melewati kulit.

3. TINJAUAN BAHAN
1. Bahan aktif

Zat Aktif Ketoprofen


Struktur

(JP15, p.796)
Rumus C16H4O3
molekul
(JP15, p.796)
Titik lebur 94-97oC
(JP15,p796)
Pemerian Serbuk kristal berwarna putih

(JP15, p.796)
Kelarutan Sangat larut dalam metanol, mudah larut dalam etanol (95%)
dan aseton, dan praktis tidak larut dalam air.

(JP15, p.796)

Stabilitas Ketoprofen tidak stabil terhadap cahaya dan lembab udara,


stabil pada suhu kamar dan dalam larutan etil asetat yang
disimpan selama beberapa minggu pada suhu 4oC, ketoprofen
tidak menunjukkan peruraian. Dalam larutan asam (pH 1).
Ketoprofenn yang dipanaskan dalam suhu 98oC selama 30
menit tidak terurai
(Reynold, 1996)
Inkompabilitas Probenesid menghambat ekskresi ketoprofen dan menurunkan
perpanjangan ikatan protein yang mengakibatkan peningkatan
konsentrasi plasma ketoprofen

(martindale, p.73)

Penyimpanan Pada wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya dan sejuk.

(JP15, p.796)

Kadar 2.5%
penggunaan
(martindale, p.74)

2. Gelling agent

Zat Karboksimetil selulosa


Sinonim Akucell; Aqualon CMC; Aquasorb; Blanose; Carbose D;
carmellosum
natricum; Cel-O-Brandt; cellulose gum; Cethylose; CMC
sodium; E466; Finnfix; Glykocellan; Nymcel ZSB; SCMC;
sodium
carboxymethylcellulose; sodium cellulose glycolate; Sunrose;
Tylose
CB; Tylose MGA; Walocel C; Xylo-Mucine.
(HOPE 6th ed 2009, p.118)
Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.118)


Rumus -
molekul
Titik lebur Berwarna coklat mendekati suhu 227oC dan gosong di suhu
225oC
Pemerian CMC-Na berwarna putih, tidak berbau, tidak berwarna, serbuk
hablur. Dan bersifat higroskopis .

(HOPE 6th ed 2009, p.119)

Kelarutan Praktis tidak larut dalam alkohol (95%), aseton, eter dan
toluena. Mudah terdispersi dalam air di semua suhu.

(HOPE 6th ed 2009, p.119)

Stabilitas CMC Na stabil, meskipun bersifat higroskopis. Pada


kelembaban yang tinggi CMC-Na dapat mengabsorbsi air yang
banyak (>50%). Larutan stabil di pH 2-10; pengendapan dapat
terjadi di bawah pH 2. Dan kekentalan larutan meningkat drastis
pada pH 10.
CMC Na harus disterilisasi dalam keadaan kering dengan
menyimpannya di suhu 160oC selama 1 jam.
(HOPE 6th ed 2009, p.120)
Inkompabilitas CMC-Na inkompatibel dengan larutan asam yang sangat kuat
dan dengan garam yang larut di zat besi serta beberapa logam
yaitu alumunium, merkuri, dan zinc. Xanthan gum juga tidak
kompatibel dengan CMC Na. Pengendapan dapat terjadi pada
pH <2 dan ketika dicampur dengan etanol 95%. CMC Na
membuat senyawa kompleks dengan gelatin dan pektin, serta
protein.

(HOPE 6th ed 2009, p.120)

Keterangan Selain sebagai suspending agent, CMC-Na juga bisa menjadi


lain coating agent, stabilizing agent, disintegrant dalam kapsul dan
tablet, pengental, dan water absorbant agent. CMC-Na dapat
mengiritasi mata.

(HOPE 6th ed 2009, p.119-120)

Cara pengembangan CMC-Na yaitu dengan mencampur CMC-


Na dengan air panas sebanyak 20 kali-nya.

Penyimpanan Harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.

(HOPE 6th ed 2009, p.120)

Kadar
penggunaan

Digunakan 3% sebagai gelling agent

(HOPE 6th ed 2009, p.119)

3. Pengawet

Zat Metil paraben


Sinonim Aseptoform M; CoSept M; E218; 4-hydroxybenzoic acid
methyl
ester; metagin; Methyl Chemosept; methylis
parahydroxybenzoas;
methyl p-hydroxybenzoate; Methyl Parasept; Nipagin M;
Solbrol
M; Tegosept M; Uniphen P-23.
(HOPE 6th ed 2009, p.441)
Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.441)


Rumus C8H8O3
molekul
(HOPE 6th ed 2009, p.441)
Titik lebur 125-128oC
(HOPE 6th ed 2009, p.443)
Pemerian Serbuk tidak berwarna dan tidak berbau. Tidak berbau dan akan
ada rasa terbakar ketika dicicipi.

(HOPE 6th ed 2009, p.442)

Kelarutan

(HOPE 6th ed 2009, p.443)

Stabilitas Stabil pada pH 3-6.


(HOPE 6th ed 2009, p.443)
Inkompabilitas Dapat menurunkan efektifitas surfaktan. Berubah warna ketika
dicampur zat yang mengandung besi.

(HOPE 6th ed 2009, p.443)

Keterangan -
lain
Penyimpanan Disimpan dalam suhu ruangan.

(HOPE 6th ed 2009, p.443)

Kadar
penggunaan

Pada pembuatan sediaan ini digunakan metilparaben sebanyak


0,1%

(HOPE 6th ed 2009, p.442)

4. Pengawet

Zat Propil paraben


Sinonim Aseptoform P; CoSept P; E216; 4-hydroxybenzoic acid propyl
ester; Nipagin P; Nipasol M; propagin; Propyl Aseptoform;
propyl
butex; Propyl Chemosept; propylis parahydroxybenzoas; propyl
phydroxybenzoate;
Propyl Parasept; Solbrol P; Tegosept P; Uniphen P-23.

(HOPE 6th ed 2009, p.596)


Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.596)


Rumus C10H12O3
molekul
(HOPE 6th ed 2009, p.596)
Titik lebur 96-99oC
(HOPE 6th ed 2009, p.596)
Pemerian Serbuk putih, kristal tidak berwarna tidak berbau dan tidak
berasa.

(HOPE 6th ed 2009, p.506)

Kelarutan

(HOPE 6th ed 2009, p.597)

Stabilitas Stabil pada pH 3-6.


(HOPE 6th ed 2009, p.597)
Inkompabilitas Dapat menurunkan efektifitas surfaktan. Berubah warna ketika
dicampur zat yang mengandung besi.

(HOPE 6th ed 2009, p.597)

Penyimpanan Disimpan dalam suhu ruangan.


(HOPE 6th ed 2009, p.597)

Kadar
penggunaan

Pada pembuatan sediaan ini digunakan metilparaben sebanyak


0,2%

(HOPE 6th ed 2009, p.596)

5. Penetrant Enhancer

Zat Propilen Glikol


Sinonim 1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol; methyl
ethylene
glycol; methyl glycol; propane-1,2-diol; propylenglycolum.
(HOPE 6th ed 2009, p.592)
Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.592)


Rumus C3H8O2
molekul
(HOPE 6th ed 2009, p.592)
Titik lebur -59oC
(HOPE 6th ed 2009, p.592)
Pemerian Cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau, rasa agak
manis, higroskopik.

(FI III, p.534)


Kelarutan Dapat dicampur dengan air, etanol 95% dan dengan kloroform,
larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat dicampur dengan eter
minyaktanah dan dengan minyak lemak).

(FI III, p.534)

Stabilitas Dalam suhu sejuk dan wadah tertutup rapat propilen glikol
stabil, namun dalam suhu tinggi dan wadah terbuka maka PPG
bisa teroksidasi. PPG juga stabil ketika dicampur dengan etanol
95% atau air.
(HOPE 6th ed 2009, p.592)
Inkompabilitas Inkompatibel dengan reagen oksidasi seperti kalium
permanganat.

(HOPE 6th ed 2009, p.593)

Keterangan Digunakan pada sediaan agar zat aktif dapat menembus lapisan
lain epidermis

Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, sejuk dan
kering.

(HOPE 6th ed 2009, p.593)

Kadar
penggunaan

(HOPE 6th ed 2009, p.592)

Digunakan 15% sebagai penetrant enhancer

6. Aquadest

Zat Aqua destilata


Sinonim Aqua; aqua purificata; hydrogen oxide.
(HOPE 6th ed 2009, p.766)
Struktur H---O---H
Rumus H2O
molekul
(HOPE 6th ed 2009, p.766)
Titik lebur 0o C
(HOPE 6th ed 2009, p.766)
Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berrasa.

(FI III, p.96)

Kelarutan Larut dengan pelarut yang paling polar

(HOPE 6th ed 2009, p.766)

Stabilitas Secara struktur kimia, air stabil di segala kondisi. Penyimpanan


air juga harus di tempat yang cocok agar menghindari
kontaminasi zat lain.
(HOPE 6th ed 2009, p.766)
Inkompabilitas Di dalam formulasi obat-obatan air dapat bereaksi dengan
seluruh obat dan bahan tambahan. Air paling bereaksi dengan
logam alkali dan lebih bereaksi lagi dengan logam alkalin. Air
juga bereaksi dengan garam anhidrat, zat organik, dan kalsium
carbide.

(HOPE 6th ed 2009, p.766)

Keterangan -
lain
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik.

(FI III, p.96)

Kadar Ad 100%
penggunaan
4. BENTUK SEDIAAN TERPILIH
Alasan dipilihnya pembuatan sediaan gel karena penggunaan sediaan kali ini digunakan untuk
pemakaian secara topical. Karena ketoprofen selain cocok untuk pembuatan sediaan oral,
ketoprofen juga dapat digunakan dalam pembuatan sediaan gel yang bisa digunakan untuk
pemakaian secara topical.

5. PERENCANAAN DOSIS
a. Persentase Dosis
No. Nama Bahan Jumlah Kegunaan
1 Ketoprofen 2.5% (b/b) Zat aktif
2 CMC-Na 3% (b/b) Gelling agent
3 Metil Paraben 0.1% (b/b) Pengawet
4 Propil Paraben 0.2% (b/b) Pengawet
5 Propilen glikol 15% (b/b) Penetrant enhancer
6 Aquadest Ad100% Pembawa
(b/b)
b. Penimbangan
Dibuat sediaan 10 tube (@ 10 g) = 110 g

Sediaan dilebihkan sebanyak 10% untuk menghindari kekurangan sediaan saat pembuatan dan
proses pengemasan Tube.

No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang


1 Ketoprofen 2.75 g
2 CMC-Na 3.3 g
3 Metil Paraben 0.11 g
4 Propil Paraben 0.22 g
5 Propilen glikol 16.5 g
6 Aquadest 87.12 g
6. CARA PEMBUATAN
1. Persiapan dan penimbangan bahan
a. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan
b. Ditimbang bahan yang diperlukan, yaitu :
Keptoprofen (zat aktif) = 2.75 g
CMC-Na (gelling agent) = 3.3 g
Metil paraben (pengawet) = 0.11 g
Propil paraben (pengawet) = 0.22 g
Propilen glikol (penetrant enhancer) = 16.5 g
Aquadest (pembawa) = 87.12 g
2. Pengembangan gelling agent CMC-Na
a. Disiapkan aquades panas sebanyak 87.12 g di dalam mortir
b. CMC-Na ditaburkan ke dalam mortir berisi air panas, diaduk sampai CMC-Na
mengembang.
c. Digerus homogen hingga terbentuk basis gel
3. Pembuatan sediaan gel ketoprofen
a. Zat aktif ketoprofen dilarutkan menggunakan propilen glikol sebanyak 2.75 ml.
Diaduk homogen hingga larut
b. Dilarutkan metil propil paraben menggunakan propilen glikol sebanyak 1 ml.
c. Dimasukkan ketoprofen yang sudah larut ke dalam basis gel, gerus adhomogen
d. Dimasukkan metil propil paraben yang sudah larut ke dalam basis gel, gerus
adhomogen
e. Dimasukkan sisa propilen glikol ke dalam sediaan, gerus adhomogen
4. Penimbangan dan memasukkan gel ke dalam tube
a. Ditimbang tube kosong, catat beratnya.
b. Dimasukkan sediaan gel sebanyak 10 g ke dalam tube.
c. Dilakukan berulang kepada 9 botol selanjutnya.
d. Kemas dan beri etiket.
7. CARA EVALUASI

7.1 Macam Evaluasi

a. Organoleptis

b. Homogenitas

c. Evaluasi Ph

d. Evaluasi Daya Sebar

e. Viskositas

7.2 Nama Alat

a. Objek glass

b. pH meter

c. Kaca bersekala

d. Viscometer Ostwald
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat. Terj. Dari Introduction
to Pharmaceutical Dosage Form, oleh Farida Ibrahim. UI Press, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta.

Japanese Pharmacopoeia Committee. 2006. The Japanese Pharmacopoeia. Edisi kelimabelas.


Tokyo: The Ministry of Health, Labour and Welfare (Mc. Evoy, 2002, Ganiswara.1995)

Rowe, Raymond C.2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed. London:


pharmaceutical Press.

Reynol, James EF. 1982. Martindale the Extra Pharmocopeia, Twenty-eight edition. The
Pharmaceutical Press : London.

Syamsuni, H. A. 2005, Ilmu Resep. Jakarta: EGC.