Anda di halaman 1dari 2

TAJUK RENCANA diubah, diubah menjadi apa dan bagaimana.

Ini
harus jelas dulu, katanya. Secara prosedural,
NEGARA TANPA HALUAN UUD 1945 bisa diamendemen sesuai dengen
ketentuan pasal 37. Namun, apa benar krisis
INDONESIA akhir-akhir ini didera banyak
nasional yang melanda bangsa Indonesia saat
permasalahan mencakup semua sektor
itu karena salahnya UUD 1945? Apa kesalahan
kehidupan, yang kalau tidak cepat-cepat
itu bukan karena adanya Ketetapan MPR dan
diselesaikan dengan penuh kebijakan bisa
undang-undang yang cacat dan tidak relevan,
berakibat fatal bagi kita semua, bagi NKRI, dan
atau akibat kebijakan dan perilaku para
bagi bangsa kita. Benar, pandangan Adnyana
penyelenggara pemerintahan yang tidak
Manuaba dalam tulisannya di koran kita hari ini.
konsisten pada konstitusi?
Negara dan pemerintahan kita sekarang ini
Kini hasil amendemen UUD 1945 sudah menjadi
boleh digambarkan berjalan tanpa haluan. Dulu,
acuan bangsa Indonesia termasuk dalam
kita memiliki GBHN (Garis-garis Besar Haluan
menetapkan undang-undang. Dulu, anggota
Negara) yang ditetapkan MPR (Majelis
MPR terdiri atas anggota DPR, utusan daerah
Permusyawaratan Rakyat). Dalam konstitusi
dan golongan. Muncul Dewan Perwakilan
yang telah mengalami amendemen sampai
Daerah yang hingga kini belum terbukti efisien,
empat kali hingga sekarang ini, tidak lagi
efektif, dan produktivitasnya. Dulu, ada Dewan
disebutkan MPR bertugas menetapkan GBHN.
Pertimbangan Agung. Sekarang Dewan
Dulu, GBHN ditetapkan untuk memberikan
Pertimbangan dibentuk Presiden yang tentu
gambaran mengenai wujud masa depan yang
lebih terbatas dan lebih terkendali nasihat dan
diinginkan, dan menugaskan presiden untuk
pertimbangannya mengingat statusnya terkesan
mengemban dan melaksanakannya. GBHN
sebagai aparat kepresidenan. Jangan
kemudian menjadi acuan tiap kementerian,
mengharapkan tampilnya calon presiden dari
pemerintah daerah, semua komponen dan
kalangan independen sebagai alternatif lain
warga bangsa. Arah pembangunan dan
untuk menghasilkan figur presiden yang mau
pemerintahan secara bersinambungan jelas,
melepaskan baju parpolnya dan yang mampu
paling tidak arah yang ingin dicapai bersama-
menjadi negarawan. Sebab, konstitusi
sama dalam kurun waktu lima tahun.
menyatakan pasangan presiden dan wakil
Tiadanya GBHN hasil rumusan wakil rakyat di presiden diusulkan parpol dan gabungan parpol
MPR itu merupakan sebagian akibat peserta pemilu. Ironis, justru hal ini terjadi di
serangkaian amendemen UUD 1945 yang tengah sorotan tajam terhadap kinerja dan
diwarnai sikap pro dan kontra. Namun, saat itu produktivitas parpol dan lembaga legislatif yang
yang menolak amendemen UUD 1945 selalu sering dituding sebagai biang terjadinya KKN
terpojokkan sebagai pihak yang tidak reformis. dan santernya desakan perlunya parpol
melakukan reformasi. Apa boleh buat, konstitusi
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati, mengatur, peserta pemilu untuk memilih
sebagai salah seorang tokoh reformasi tahun anggota DPR dan DPRD adalah parpol.
1998 dalam pidato politiknya 29 Juli 1999 hanya
bisa mempertanyakan, jika UUD 1945 harus Persoalan bangsa sekarang ini terkait pula faktor
diubah, materi mana yang diubah, mengapa yang mendasar. Tanpa mengabaikan pemikiran
visioner para tokoh reformasi tahun 1998
diperlukan pembenahan faktor mendasar. Jika
tidak, tiap saat, entah sampai kapan, kita akan
tetap menyaksikan tontonan yang tidak menarik
yang digelar para penyelenggara pemerintahan:
KKN yang makin menggurita, pemilu diracuni
money politics dan tidak mampu menghasilkan
pemimpin yang negarawan, jual-beli perkara
makin subur, makin meluasnya sistem
kapitalisme melanda dunia pendidikan, kian
lunturnya budaya malu, program nasional dan
program daerah, program antardaerah, program
antarkementerian dan antardinas yang tidak
saling melengkapi, pelaksanaan fungsi lembaga
legislatif yang penuh persengkongkolan,
sebagian besar APBN dan APBD untuk sektor
belanja pegawai dan barang.