Anda di halaman 1dari 37

STATUS PEMERIKSAAN PASIEN

Hasil pemeriksaan pertama saat pasien dalam perawatan hari pertama di RSU UKI
(18 December 2016)

I. Identitas Pasien
No. MR : 00080221
Nama : An. H. A. M
Tanggal Lahir : 26 Desember 2015
Umur : 11 bulan 22 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Cipinang Muara, Jakarta Timur

II. Anamnesis
(Dilakukan allo-anamnesis terhadap orang tua pasien, dokter yang
merawat dan data rekam medis dengan seijin orang tua)
1. Keluhan utama : BAB cair

2. Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang dengan keluhan BAB cair sejak tadi pagi SMRS.
Keluhan dirasakan sebanyak 3 kali dalam waktu 7 jam dengan
konsistensi cair, sebanyak 1/3 aqua gelas tiap kali BAB, berbau biasa,
berwarna kuning, ampas (+), lendir (-), darah (-), tidak menyemprot.
1 hari sebelum masuk RS, pasien mengeluh muntah kurang lebih
sebanyak lebih dari 5 kali, berisi apapun (air dan makanan) yang di
makan pasien. Pasien juga mengeluh demam, yang dirasakan terus-
menerus yang belum diukur dengan thermometer oleh ibu pasien,
tetapi pasien tidak sampai menggigil. Pasien dibawa ke klinik dokter

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 1


24 jam lalu mendapatkan obat penurun panas dan suplemen (menurut
pengakuan ibu pasien), namun keluhan pasien tidak hilang atau
berkurang. Semenjak keluhan muncul, pasien menjadi lebih rewel dan
minum lebih banyak dari biasanya.

Pada saat di RS (18 Desember 2016)


Keluhan-keluhan tersebut yang disebutkan di atas masih dikeluhkan
sehingga anak dirawat inap dengan diagnosis kerja diare akut dengan
dehidrasi ringan-sedang, dimana berdasarkan anamnesis awal
didapatkan BAB cair 2 kali/hari, disertai muntah dan demam serta
ditemukan adanya tanda-tanda dehidrasi yaitu pasien menjadi lebih
haus dari biasanya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum
tampak lemas, kesadaran komposmentis, frekuensi nadi 164 x/ menit,
pernapasan 56 x/menit, suhu 38,8oC dengan kedua mata cekung,
mukosa bibir kering, bising meningkat 8 x/menit, turgor kulit kembali
lambat, dengan pemeriksaan anus tidak tampak kemerahan.
Pasien di diagnosis dengan Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan-
Sedang, diberikan tatalaksana cairan infus (rehidrasi dengan KAEN
3A (Tridex) 10 tetes per menit (tetesan makro) selama 24 jam.
Diberikan terapi obat:
Sanmol (komposisi: paracetamol) 3x125 mg (IV)
L-Bio (komposisi: rice starch, maltodextrin, Lactobacillus
acidophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus salivarius,
Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium lactis, Bifidobacterium
longum, Lactobacillus lactis) 2x1 bungkus (PO)
Zinc Pro (komposisi: Zinc sulphate monohydrate) 1x1 cth (PO)
Rifampisin 1x2 tab (PO)
Pada perawatan hari pertama (19 Desember 2016)
Anak masih BAB cair sebanyak 6 kali selama 24 jam, konsistensi cair,
warna kuning, ampas(-/+), lendir (+), darah (-), volume 1/3 gelas aqua
tiap BAB, bau biasa. Pasien juga mengeluh muntah 5 kali berisi

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 2


apapun (air dan makanan) yang di makan pasien. Pasien juga masih
mengeluh demam. Nafsu makan masih berkurang.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalam keluhan seperti ini sebelumnya
Riwayat alergi obat atau makanan disangkal
Riawayat ganti susu formula disangkal
Riwayat kejang disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Anggota keluarga dan lingkungan rumah pasien tidak ada yang sedang
mengalami keluhan yang sama dengan pasien

5. Riwayat Pribadi
Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Pasca Lahir

Riwayat perawatan antenatal:

Pasien merupakan anak ketiga dari ibu yang berusia 30 tahun saat
haml, dengan usia kehamilan cukup bulan saat melahirkan (ibu lupa
HPHT), riwayat abortus disangkal. Ibu rajin memeriksakan kehamilan
ke klinik bidan tiap bulan sejak usia kehamilan usia 2 bulan. Riwayat
penyakit saat hamil disangkal, riwayat minum obat-obatan atau jamu
disangkal, ibu hanya meminum vitamin untuk ibu hamil yang
diberikan oleh bidan.

Riwayat persalinan:

Bayi lahir secara spontan oleh bidan dengan presentasi kepala, usia
kehamilan cukup bulan (ibu pasien lupa), ketuban pecah dini (-). Bayi
lahir langsung menangis, dengan berat badan 3.155 gram, panjang
lahir 50 cm, lingkar kepala ibu pasien tidak ingat. Riwayat biru setelah
lahir disangkal.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 3


Riwayat pasca lahir:

Sesaat setelah lahir, pasien mendapat suntikan vitamin K dan


imunisasi Hepatitis B 0 hari. ASI ibu banyak (+), bayi langsung
menetek kuat, dan ASI diberikan secara eksklusif. Tidak ada riwayat
kuning. Bayi bergeraak aktif, menangis kuat, sesak napas (-), biru (-).

Kesan: riwayat kehamilan, persalinan dan pasca lahir pasien baik.

Riwayat makan:
0-6 bulan : ASI eksklusif ad libitum +/- 6 kali selama 30 menit
sehari pada payudara kanan dan kiri
6 bulan-sekarang: bubur susu + bubur saring + ASI + buah-buahan
(pisang/ mangga)
Pagi (08.00) : bubur susu 120 cc (piring kecil) + kaldu + ASI ad
libithum
Siang (13.00) : bubur saring 120 cc (piring kecil) + buah diserut+
ASI+ 1 biskuit
Malam (18.00) : bubur susu (+ 200 cc) (piring kecil) + ASI ad
libithum
Kesan: riwayat kualitas dan kuantitas makanan pasien baik, tahapan
makanan pasien baik sesuai dengan usia pasien
Pertumbuhan dan perkembangan
Pertumbuhan gigi pertama :-
Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
Psikomotor:
- Tengkurap : 3 bulan
- Duduk : 7 bulan
- Berdiri : 8 bulan
- Berjalan :-
- Berbicara : 9 bulan
- Membaca/menulis :-

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 4


Status Imunisasi
Vaksin Usia Pemberian Tempat vaksinasi
BCG 1 bulan Puskesmas
DPT/DT 2,3,4 bulan Puskesmas
Polio 0,2,3,4 bulan Puskesmas
Campak 9 bulan Puskesmas
Hepatitis B 0,2,3,4 bulan Puskesmas
Hib 2,3,4 bulan Puskesmas
Kesan: riwayat imunisasi dasar pasien lengkap sesuai dengan usia
pasien berdasarkan Jadwal Imunisasi Depkes tahun 2014
Sosial Ekonomi dan Lingkungan
Ayah bekerja sebagai supir taksi online. Penghasilan kira-kira Rp.
2.000.000,- per bulan, sedangkan istri bekerja sebagai ibu rumah
tangga.
Lingkungan
Pasien tinggal di rumah kontrakan bersama ibu, ayah dan 2 saudara
pasien. Rumah pasien berada di perkampungan padat dengan
penduduk. Ayah pasien bekerja setiap hari, sedangkan ibu bekerja di
rumah untuk mengurus anak-anak. Ibu pasien mengaku persiapan
makanan serta alat-alat makan dan minum pasien selalu dibersihkan
sebelum dipakai. Air yang dipakai pasien berasal dari sumber air
sumur yang dipakai bersama. Tempat pembuangan sampah akhir
pasien berada di sekitar lingkungan perumahan tersebut yang dipakai
untuk bersama.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 5


III. Pemeriksaan Fisik
(Dilakukan pada tanggal 19 Desember 2016, perawatan hari ke-1)

A. Pemeriksaan Umum
1. Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : kompos mentis
3. Tanda Utama
Frekuensi nadi : 120 kali/ menit, teratur, isi cukup dan kuat
angkat
Frekuensi nafas : 52 kali/ menit, regular, adekuat
Suhu (aksila) : 39,2oC
4. Pengukuran Antropometri
- Berat badan : 10 kg
- Tinggi badan : 74 cm
- Lingkar kepala : 45 cm
Penilaian antropometri berdasar kurva pertumbuhan
Indikator WHO 2006 Nellhaus
BB/U 0 sd 2
TB/U 0 sd 2
BB/PB 0 sd 1
BB/TB 1 sd 2
LK/U 0 SD
Kesan: Gizi cukup , perawakan normal, normocephali

B. Pemeriksaan Sistem
1. Kepala
Bentuk : normosefali (LK=45 cm)
Ubun-Ubun : Teraba datar
Rambut dan kulit kepala : warna hitam, pertumbuhan rambut
merata, tidak mudah rontok atau dicabut

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 6


Mata : konjuntiva pucat -/-, sklera ikterik -
/-, mata cekung +/+, air mata +/+, pupil iskokor, diameter
3mm/3mm, reflex cahaya +/+
Hidung : Cavum nasi lapang/lapang, secret -
/-
Telinga : Liang telinga lapang/lapang, secret
-/-
Mulut
- Bibir : mukosa bibir kering (+)
- Gigi :-
- Lidah : tidak didapatkan oral thrush
Tenggorokan
- Faring : hiperemis (-)
- Tonsil : T1-T1, hiperemis (-)
2. Leher : GErakan aktif (+)
3. Thoraks
Dinding dada : Bentuk dada normal (normochest),
laterolateral>anteroposterior, simetris, tidak ada yang tertinggal
Jantung
- Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
- Palpasi : Iktus kordis teraba di IC V
garis midclavicular sinsitra
- Perkusi : Sulit dinilai
- Auskultasi : Bunyi jantung I dan II regular,
murmur (-), gallop (-)

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 7


Paru
Kanan Kiri
Inspeksi Simetris, tidak ada Simetris, tidak ada
yang tertinggal yang tertinggal
Palpasi Stem fremitus Stem fremitus
simetris simetris
Perkusi Sonor Sonor
Auskultasi BND BND
bronkovesikuler, bronkovesikuler,
wheezing -, rhonki - wheezing -, rhonki -
4. Abdomen
Inspeksi : perut tampak datar
Auskultasi : bising usus 8 kali per menit
meningkat
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, turgor kulit sedikit melambat,
hait & limpa tidak teraba membesar
5. Anogenital
Anus : eritema natum (-)
Genitalia : OUE hiperemis (-)
6. Anggota Gerak : tonus otot kedua kaki baik, eutrofi,
deformitas -/-, gerakan bebas, akral hangat
7. Tulang Belakang : scoliosis (-), lordosis (-), kifosis (-)
8. Kulit : warna kulit sawo matang, tidak
terdapat efloresensi
9. KGB : teraba membesar di region colli
posterior sinistra diameter 1 cm, mobile, kenyal.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 8


10. Status Neurologis
Ekstremitas Gerak Tonus Trofi Refleks Refleks
Fisiologis Patologis
Superior:
-Bebas
k Normal Eutrofi ++/++ -/-
Bebas
a Normal Eutrofi ++/++ -/-
n
a
n
- k
i
r
i

Inferior:
-Bebas
k Normal Eutrofi ++/++ -/-
Bebas
a Normal Eutrofi ++/++ -/-
n
a
n
- k
i
r
i

Klonus kaki (-), klonus lutut (-)


Rangsang meningeal: kaku kuduk (-)
Nervi cranialis : kesan tidak terdapat kelainan

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 9


IV. Pemeriksaan Laboratorium
Darah
18/12/2016 Nilai Rujukan
Hb (g/dL) 12 12,0-16,0
Hematokrit (%) 36,5 37,0-47,4
Leukosit (/uL) 6.400 5.000-10.800
Trombosit (/uL) 238.000 150.000-450.000

18/12/2016 Nilai Rujukan


Natrium (mmol/L) 140 135-145
Kalium (mmol/L) 4,3 3,5-5,5
Klorida (mmol/L) 106 98-109

V. Diagnosis Kerja
Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan Sedang e.c Virus

VI. Rencana Penatalaksanaan


Rawat Inap
Diet: lunak = RDAx BBI = 110 kkal/KgBB x 9,5 = 1.045 kkal
Kebutuhan cairan = 1000 cc = infus KAEN 3B 500 cc = 10 tpm
MM /
- Oralit : 75 ml/kgBB = 75 x 10 kg= 750 cc
(1-2sdt per menit) terutama 3 jam pertama
Jika muntah tunggu 10 menit dan berikan lebih lambat
- Zinc tab : 20 mg = 1 x 20 mg diberikan
selama 10 hari

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 10


- Parasetamol : 10-15 mg/kgBBx10 kg = 100 mg-150 mg= 3
x 120 mg
(parasetamol sirup 1 sdt) selagi demam

Edukasi:
makanan bergizi tetap diteruskan (tinggi serat) minimal 6 kali
sehari dan berikan makanan tambahan selama 2 minggu
ASI dilanjutkan
Penggunaan air bersih
* Apabila pasien tidak dapat minum baru dianjurkan untuk rawat
inap dan berikan 70 ml/kG BB cairan RL

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 11


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI1

Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali
perhari, disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir
dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu.1

Pada bayi yang minum ASI sering dapat mengalami frekuensi buang air
besar lebih dari 3-4 kali per hari, namun keadaan ini tidak dapat disebut sebagai
diare. Keadaan ini disebut intoleransi laktosa sebagai akibat dari belum
sempurnanya pekembangan saluran cerna dan masih bersifat fisiologis. Pada bayi
yang minum ASI eksklusif definisi diare yaitu meningkatnya frekuensi buang air
besar atau konsistensinya menjadi cair yang menurut ibunya abnormal. Pada
anak-anak yang mengalami buang air besar kurang dari 3 kali per hari, tetapi
konsistensinya cair keadaan itu sudah dapat disebut diare.1

B. EPIDEMIOLOGI1

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di negara


berkembang termasuk di Indonesia. Diare dapat juga menyebabkan kematian dan
kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun. Terdapat sebanyak
6 juta anak meninggal setiap tahun karena diare di dunia dan sebagian besar
terjadi di negara berkembang. Di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 12


(Riskesdas) tahun 2007 diperoleh bahwa diare masih menjadi penyebab kematian
bayi terbanyak yaitu 42% dan pada anak usia 1-4 tahun sebanyak 25,2%. Hasil
tersebut juga menyatakan angka kejadian diare lebih tinggi dari penyebab
kematian lainnya yaitu pneumonia.1

C. FAKTOR RISIKO1

Cara penularan diare umumnya melalui faecal-oral yaitu melalui makanan


atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, kontak langsung tangan dengan
penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak
langsung melalui lalat. Cara penularan tersebut biasa dikenal dengan 4F yaitu
finger, flies, fluid, field.1

Faktor risiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara


lain, yaitu: tidak memberikan ASI secara penuh untuk 4-6 bulan pertama
kehidupan bayi, penyediaan air bersih tidak memadai, pencemaran air oleh tinja,
kurangnya sarana kebersihan (MCK), cara penyapihan tidak baik dan kurangnya
menjaga higienitas. Selain faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa faktor lain
yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk mengalami diare yaitu gizi buruk,
imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambung, menurunnya motilitas usus,
menderita campak dalam 4 minggu terakhir, serta adanya faktor genetik.1

Terdapat 4 faktor risiko yang mendasari terjadinya diare, yaitu:1

1. Umur
Sebagian besar kejadian diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan dan
insiden tertinggi terjadi pada kelompok umur 6-11 bulan pada saat diberikan
makanan pendamping ASI. Keadaan ini menggambarkan adanya efek
penurunan kadar antibodi ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan
makanan yang mungkin terkontaminasi bakteri dan kontak langsung dengan
tinja manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak.
2. Infeksi Asimtomatik

Sebagian besar infeksi usus bersifat asimtomatik dan proporsi asimtomatik


meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 13


Pada infeksi asimtomatik yang dapat berlangsung beberapa hari atau minggu,
tinja penderita dapat mengandung virus, bakteri atau kista protozoa. Keadaan
ini berperan penting dalam penyebaran enteropatogen terutama bila penderita
tidak menyadari adanya infeksi, tidak menjaga kebersihan, dan berpindah-
pindah dari satu tempat ke tempat lain.

3. Musim

Pola musim pada kejadian diare bervariasi menurut letak geografis. Di


daerah sub tropis, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas
sedangkan diare karena virus terutama rotavirus puncaknya terjadi pada
musim dingin. Di daerah tropis termasuk Indonesia, diare yang disebakan oleh
rotavirus dapat terjadi di sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang
musim kemarau, sedangkan diare karena bakteri biasanya meningkat pada
musim hujan.

4. Epidemi dan Pandemi

Terdapat kuman Vibrio cholera 0.1 dan Shigella dysentriae 1 dapat


menyebabkan epidemi dan pandemi. Kejadian ini yang mengakibatkan
tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua golongan usia. Penyebab
penyakit kolera yang disebabkan kuman V. cholera 0.1 biotipe Eltor telah
menyebar ke negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Asia, Timur Tengah dan
di beberapa daerah di Amerika Utara dan Eropa sejak tahun 1961. Pada waktu
yang sama, Shigella dysentriae tipe 1 menjadi penyebab wabah yang besar di
Amerika Tengah dan terakhir di Afrika Tengah dan Asia Selatan. Sampai pada
tahun akhir 1992, dikenal Vibrio cholera 0139 yang menyebabkan epidemi di
Asia dan lebih dari 11 negara mengalami wabah.

D. ETIOLOGI1

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 14


Penyebab infeksi utama timbulnya diare umumnya adaah golongan virus,
bakteri, dan parasit. Tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non-
inflammatory dan inflammatory.1

Yang dapat menimbulkan diare non-inflamatorik adalah enteropatogen


melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan vili oleh
virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan atau translokasi dari bakteri.
Sebaliknya diare inflamatorik biasanya disebabkan oleh bakteri yang
menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.1

Gambar 1. Etiologi diare akibat infeksi2

Di negara berkembang kuman patogen penyebab penting diare akut pada


anak yaitu Rotavirus, Escherichia coli enterotoksigenik, Shigella,
Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium.1

Patogenesis diare yang disebabkan oleh virus yaitu virus yang secara
selektif menginfeksi dan menghancurkan sel-sel ujung villi pada usus halus.
Virus akan menginfeksi lapisan epitelium di usus halus dan menyerang vilus
di usus halus. Hal ini menyebabkan fungsi absorpsi terganggu. Sel-sel epitel
usus halus yang rusak diganti oleh enterosit yang baru, berbentuk kuboid yang
belum matang sehingga belum baik. Villus akan mengalami atrofi dan tidak
dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik. Selanjutnya, cairan dan
makanan yang tidak terserap terdorong keluar usus melalui anus dan

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 15


menimbulkan diare osmotik dari penyerapan air dan nutrien yang tidak
sempurna.1

Dapat disimpulkan infeksi diare akibat virus yang merusak villi-villi usus

akan menyebabkan: (1) ketidakseimbangan rasio penyerapan cairan usus

terhadap sekresi, (2) malabsorpsi karbohidrat kompleks, terutama laktosa.1

Berbeda dengan bakteri, diare akibat bakteri terjadi melalui salah satu

mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transpor ion dalam sel-sel

usus cAMP, cGMP, dan Ca dependen. Perbedaan diare akibat infeksi virus

dan bakteri adalah pada bakteri terjadi invasi sel bakteri menembus mukosa

usus halus sehingga dapat menimbulkan reaksi sistemik.1

Selain penyebab infeksi, diare dapat disebabkan oleh non-infeksi antara lain:1

- Kesulitan makan
- Defek anatomis
o Malrotasi
o Penyakit Hirchsprung
o Short Bowel Syndrome
o Atrofi mikrovilli
o Stricture
- Malabsorpsi
o Defisiensi disakarida
o Malabsorpsi glukosa-galaktosa
o Cystic fibrosis
o Cholestosis
o Penyakit Celiac
- Endokrinopati
o Thyrotoksikosis
o Penyakit Addison

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 16


o Sindroma Andrenogenital

- Keracunan makanan
o Logam berat
o Mushrooms
- Neoplasma
o Neuroblastoma
o Phaeochromocytoma
o Sindroma Zollinger-Ellison
- Lain-lain
o Infeksi non gastrointestinal
o Alergi susu sapi
o Penyakit Crohn
o Defisiensi imun
o Colitis ulserosa
o Gangguan motilitas usus
o Pellagra

E. PATOFISIOLOGI

Secara umum, diare dapat dibedakan menjadi 2 hal yaitu gangguan pada
proses absorbsi atau sekresi. Diare dapat diklasifikasikan menjadi beberapa
pembagian, yaitu:1

1. Menurut etiologi
2. Menurut mekanisme gangguan
a. Absorpsi
b. Gangguan sekresi
3. Lamanya diare
a. Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari
b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non-
infeksi

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 17


c. Diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi infeksi

Kejadian diare secara umum terdiri dari satu atau beberapa mekanisme yang
dikenali dengan: 1

1. Gangguan absorpsi atau diare osmotik


Diare akibat gangguan absorpsi terjadi akibat perbedaan volume cairan
yang berada di kolon lebih besar dari kapasitas absorpsi. Diare osmotik juga
dapat terjadi akibat kelainan di usus halus yang menyebabkan absorpsi
menurun atau sekresi yang bertambah. Apabila fungsi usus halus normal, diare
dapat terjadi akibat absorpsi di kolon menurun atau sekresi di kolon yang
meningkat.1
Penurunan fungsi absorpsi dapat disebabkan oleh berbagai sebab seperti:1
a. Mengkonsumsi magnesium hidroksida
b. Defisiensi sukrase-isomaltase, adanya laktase defisien pada anak yang
lebih besar
c. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan intraluminal pada
usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan
hiperosmolaritas.

Akibat perbedaan tekanan osmosis antara lumen usus dan darah


menyebabkan pada segmen jejunum yang lebih permeabel, air banyak
mengalir ke arah lumen jejunum yang menyebabkan berkumpulnya air di
lumen usus. Natrium akan masuk mengikuti ke dalam lumen usus, sehingga
akan terkumpul cairan intraluminal dengan kadar Na yang normal. Sebagian
kecil cairan tersebut akan diabsorpsikan kembali, tetapi yang lainnya akan
tetap tinggal di lumen usus oleh karena bahan yang tidak dapat diserap seperti
magnesium, glukosa, sukrosa, laktosa, maltosa di segmen ileum dan melebihi
kemampuan absorpsi kolon sehingga terjadi diare.1

2. Malabsorpsi Umum

Keadaan seperti short bowel syndrome, celiac, protein peptida, tepung,


asam amino dan monosakarida mempunyai peran pada gerakan osmotik pada

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 18


lumen usus. Kerusakan sel dapat disebabkan virus atau kuman seperti
Salmonella, Shigella, atau Campylobacter. Gambaran karakteristik penyakit
yang menyebabkan malabsorpsi usus halus adalah atrofi villi, mikroorganisme
tertentu (bakteri tumbuh lampau, giardiasis, dan Enteroadheren E. Coli)
menyebabkan malabsorpsi nutrien dengan mengubah faal membran brush
border tanpa merusak susunan anatomi mukosa.1

Maldigesti protein lengkap, karbohidrat, dan triglierida diakibatkan


insufisiensi eksokrin pankreas menyebabkan malabsorpsi yang signifikan dan
menyebakan diare osmotik. Gangguan atau kegagalan eksresi pankreas
menyebabkan kegagalan pemecahan kompleks protein, karbohidrat,
trigliserida, maldigesti, malabsorpsi dan akhirnya menyebabkan diare
osmotik.1

Gangguan atau kegaglan ekskresi pankreas menyebabkan kegagalan


pemecahan kompleks protein, karbohidrat, trigliserida yang selanjutnya
menyebabkan maldigesti, malabsorpsi dan akhirnya menyebabkan diare
osmotik. Steatorrhe berbeda dengan malabsorpsi protein dan karbohidrat
dengan asam lemak rantai panjang intraluminal, tidak hanya menyebabkan
diare osmotik tetapi juga menyebabkan pacuan Cl- sehingga diare tersebut
disebabkan malabsorpsi karbohidrat. Mendapat cairan hipertonis dalam
jumlah besar dan cepat, menyebabkan kekambuhan diare. Pemberian
makan/minum yang tinggi karbohidrat setelah mengalami diare dapat
menyebabkan kekambuhan diare.1

3. Gangguan Sekresi atau Diare Sekretorik


a. Hiperplasi kripta
Teori adanya hiperplasi krpta akibat penyakit apapun dapat
menyebabkan sekresi intestinal dan diare disertai adanya atrofi villi.1
b. Luminal Secretagogues
Terdapat 2 bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu
enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang dapat menstimulasi seperti

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 19


laksansia, garam empedu berbentuk dihydroxy, serta asam lemak rantai
panjang.1
Toksin penyebab diare ini bekerja meningkatkan konsentrasi
intrasel cAMP, cGMP atau Ca2+ yang selanjutnya akan mengaktifkan
protein kinase, perubahan saluran ion, dan keluarnya Cl- di kripta. Di
sisi lain terjadi peningkatan pompa natrium dimana natrium masuk ke
dalm lumen bersama Cl-.1
Bahan laksatif dapat menyebabkan efek yang bervariasi pada
aktivitas NaK-ATPase diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP
intraseluler, permeabilitas intestinal meningkat dan sebagian
menyebabkan kerusakan sel mukosa.1
c. Blood-Borne Secretagogues
Diare sekretorik pada anak-anak di negara berkembang, umumnya
disebabkan enterotoksin E. Coli atau Cholera. Di negara maju, diare
sekretorik jarang ditemukan, apabila ada kemugkinan disebabkan obat
atau tumor seperti ganglioneuroma, neuroblastoma. Pada orang dewasa,
diare sekretorik berat disebabkan oleh neoplasma pankreas, polipeptida
pankreas, hormon sekretorik lainnya (sindrom Wattery Diarrhea
Hypokalemia Achlohydria (WDHA).1
4. Gangguan Peristaltik
Perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorpsi baik
peningkatan atau penurunan motilitas dapat menyebabkan diare.
Penurunan motilitas dapat mengakibatkan bakteri tumbuh lampau yang
menyebabkan diare. Perlambatan transit obat-obatan atau nutrisi akan
meningkatkan absorpsi. Kegagalan motilitas usus yang berat menyebabkan
stasis intestinal yang berakibat inflamasi, dekonjugasi garam empedu dan
malabsorpsi.1
5. Diare Inflamasi
Proses inflamasi di usus halus dan kolon menyebabkan diare pada
beberapa keadaan. Adanya kehilangan sel epitel dan kerusakan tight
junction, maka tekanan hidrostatik dalam pembuluh darah dan limfatik

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 20


menyebabkan air, elektrolit, mukus, protein dan dapat disertai sel darah
merah dan sel darah putih yang menumpuk pada lumen. Biasanya diare
inflamasi berhubungan dengan tipe lain seperti diare osmotik dan diare
sekretorik.1
Bakteri akan masuk dan mempengaruhi struktur dan fungsi tight
junction, menginduksi sekresi cairan dan elektrolit serta mengaktifkn
kaskade inflamasi. Efek infeksi bakterial pada tight junction akan
mempengaruhi susunan anatomis dan fungsi absorpsi yaitu cytoskeleton
dan perubahan susunan protein.1
6. Diare Terkait Imunologi
Diare terkait imunologi dihubungkan dengan reaksi
hipersensitivitas I, III, dan IV. Reaksi tipe I terjadi karena reaksi sel mast
dengan IgE dan alergen makanan.1
Pada reaksi tipe I, alergen yang masuk ke tubuh menimbulkan
respon imun dengan dibentuknya IgE yang selanjutnya akan diikat oleh
reseptor spesifik pada permukaan sel mast dan basofil. Bila terjadi aktivasi
akibat pajanan berulang dengan antigen spesifik, sel mast akan
melepaskan mediator seperti histamin, ECF-A, PAF, SRA-A dan
prostaglandin.1
Pada reaksi tipe III, terjadi kompleks antigen-antibodi dalam
jaringan atau pembuluh darah yang mengaktifkan komplemen. Pada reaksi
tipe IV, terjadi respon imun seluler dimana antigen dari luar
dipresentasikan sel APC (Antigen Presenting Cells) ke sel Th1 yang
MHC-II dependen. Terjadi berbagai pelepasan sitokin seperti MIF, MAF,
dan IFN- oleh Th-1. Sitokin tersebut akan mengaktifkan makrofag dan
menimbulkan kerusakan jaringan.1

F. MANIFESTASI KLINIS1

Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala


lainnya termasuk komplikasi ekstra-intestinal dan manifestasi neurologik. Gejala

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 21


gastrointestinal yang biasa ditemukan berupa diare, kram perut dan muntah.
Manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya.1

Penderita dengan diare cair yang mengeluarkan tinja yang mengandung


sejumlah ion natrium, klorida, dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit
bertambah jika ada muntah, kehilangan akibat panas. Keadaan dehidrasi
merupakan tanda bahaya dari diare karena dapat menyebabkan hipovolemia,
kolaps kardiovaskular, dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi
yang terjadi dapat berupa dehidrasi isotonik, dehidrasi hipertonik (hipernatremik)
atau dehidrasi hipotonik.1

Mual dan muntah merupakan gejala yang bersifat non-spesifik namun


muntah dapat disebabkan akibat organisme yang menginfeksi saluran cerna
bagian atas seperti: enterik virus, bakteri, yang memproduksi enterotoksin,
Giardia, dan Cryptosporidium. Muntah dapat terjadi pada diare non-inflamatorik.
Biasanya penderita tidak panas, nyeri perut periumbilikal tidak berat, watery
diarrhea. Gejala tersebut menunjukkan bahwa saluran cerna bagian atas yang
terkena.1

Gambar 2. Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab1

Selain mual dan muntah, dapat terjadi infeksi ekstraintestinal yang


berkaitan dengan bakteri enterik patogen antara lain vulvovaginitis, infeksi
saluran kemih (ISK), endocarditis, osteomielitis, meningitis, pneumonia, hepatitis,

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 22


peritonitis, dan septik thrombophlebitis. Selain itu dapat juga disertai gejala
neurologik dari infeksi usus seperti parestesia, hipotoni, dan kelemahan otot
(akibat C. botulinum). Manifestasi immune mediated ekstraintestinal juga dapat
muncul setelah diarenya sembuh.1

G. DIAGNOSIS

Anamnesis3

1. Berapa lama diare berlangsung (onset diare) sebelum masuk rumah sakit?
2. Frekuensi diare selama sehari dapat berapa kali?
3. Bagaimana warna tinja pasien? Apakah kuning kecokelatan, hijau, hitam, atau
seperti dempul?
4. Berapa banyak tinja yang dibuang setiap kali BAB?
5. Apakah ada lendir dalam tinja
6. Apakah tinja disertai darah? Darah berwarna hitam atau merah segar atau
seperti air cucian beras?
7. Apakah diare disertai dengan muntah
8. Selama diare apakah pasien banyak minum dan memiliki rasa haus lebih
tinggi atau malas minum?
9. Apakah pasien menjadi rewel selama keluhan diare terjadi?
10. Apakah anak tampak lemah?
11. Selama diare berlangsung, apakah pasien sempat tidak sadarkan diri ?
12. Buang air kecil terakhir banyak atau sedikit?
13. Apakah diare disertai demam
14. Apakah pasien ada sesak
15. Apakah pasien mengalami kejang selama diare
16. Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare?
17. Apakah sebelumnya pasien mengkonsumsi makanan yang baru
18. Apakah ada penderita diare lain di sekitar pasien?
19. Apakah sumber air minum?

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 23


Pemeriksaan Fisik3

1. Keadaan Umum
2. Kesadaran
3. Tanda-Tanda Vital
4. Tanda dehidrasi ringan/sedang atau dehidrasi berat
5. Berat Bedan : normal atau menurun
6. Gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
7. Darah dalam tinja4
8. Tanda invaginasi (didapatka masa intra-abdominal, tinja hanya lendir dan
darah)4
9. Perut kembung4

Tabel 1. Klasifikasi penilaian derajat dehidrasi : 4

Klasifikasi Tanda-Tanda atau Gejala Pengobatan


Dehidrasi Terdapat dua atau lebih dari Beri cairan untuk diare
Berat tanda dibawah ini: dengan dehidrasi berat.
Letargis/ tidak sadar (lihat Rencana Terapi C
Mata cekung untuk diare di rumah sakit)
Tidak bisa minum atau
malas minum
Dehidrasi Terdapat dua atau lebih Beri anak cairan dan
Ringan/Sedang tanda dibawah ini: makanan untuk dehidrasi
Rewel, gelisah ringan (lihat Rencana Terapi
Mata cekung B)
Minum dengan lahap, Setelah rehidrasi, nasihati
haus ibu untuk penanganan di
Cubitan kulit kembali rumah dan kapan kembali
lambat segera
Kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari jika tidak

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 24


membaik
Tanpa Tidak terdapat cukup tanda Beri cairan dan makanan
Dehidrasi untuk diklasifikasikan untuk menangani diare di
sebagai dehidrasi ringan rumah (lihat Rencana Terapi
atau berat A)
Nasihati ibu kapan kembali
segera
Kunjungan ulang dalam
waktu 5 hari jika tidak
membaik

Pemeriksaan Penunjang3,4

Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada anak dengan diare akut
kecuali apabila ada tanda-tanda intoleransi laktosa dan adanya kecurigaan
amubiasis.3

Pada pemeriksaan tinja yang dinilai adalah:3

- Makroskopis : konsistensi tinja, warna, lendir darah, bau

- Mikroskopis : leukosit, eritrosit, parasit, bakteri

- Kimia : pH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)

Berikut adalah pemeriksaan laboratorium tinja:5

a. Pemeriksaan ova dan parasit


b. Hitung leukosit
c. Pemeriksaan pH : tingkat pH 5,5 atau kurang atau reduksi substansi
menunjukkan intoeransi karbohidrat
d. Pemeriksaan eksudat untuk mengetahui ada tidaknya leukosit
e. Kultur : selalu melakukan kultur pada infeksi Shigella dan Campylobacter sp.
dan Y.enterocolitica yang memiliki gejala klinis pada colitis atau jika
menunjukkan leukosit pada feses, mencari Clostridium difficile pada mereka

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 25


diare yang ditandai dengan radang usus dan/atau tinja berdarah, mencari
Escherichia coli, terutama O157; H7, dengan diare berdarah dan riwayat
makan daging sapi; skrining untuk Vibrio dan Plesiomonas sp. dengan riwayat
makan makanan laut yang mentah atau berpergian ke luar negeri
f. Pemeriksaan enzim immunoassay untuk antigen rotavirus atau antigen
adenovirus
g. Lateks aglutinasi assay untuk rotavirus

Pemeriksaan laboratorium lain termasuk:5

a. Level serum albumin : rendah pada kehilangan protein enteropathies dari


infeksi intestinal enteroinvasif (missal: Salmonella sp., enteroinvasif E coli)
b. Pemeriksaan level Alpha 1 antitrypsin meningkat pada infeksi intestinal
enteroinvasif
c. Anion gap : untuk menentukan sifat diare (osmolar atau
sekretorik)
d. Biopsi usus : dapat diindikasikan pada diare kronis atau diare
yang terus menerus, serta dalam kasus dimana pencarian untuk penyebab yang
wajib (misal: pasien dengan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)
atau pasien yang masalah immunocompromised yang berat)
e. Analisis gas darah dan elektrolit jika dicurigai secara klinis didapatkan
gangguan keseimbangan asam basa serta elektrolit3

Tabel 2. Diagnosis Banding Berdasarkan Gejala Klinis4

Diagnosa Didasarkan Pada Keadaan


Diare cair akut - Diare > 3 kali sehari berlangsung < 14 hari

- Darah (-)

Kolera - Diare air cucian berasyang sering, banyak dan cepat


yang mengakibatkan dehidrasi berat

- Diare dengan dehidrasi berat selama terjadi KLB

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 26


penyakit kolera atau

- Diare dengan kultur tinja (+) V. cholera O1 atau O139

Disentri - Diare berdarah

Diare Persisten - Diare berlangsung 14 hari

Diare dengan gizi - Diare jenis apapun disertai tanda gizi buruk
buruk
Diare terkait - Mendapat pengobatan antibiotik oral spectrum luas
antibiotic
Invaginasi - Dominan darah dan lendir pada tinja

- Masa intra abdominal

- Tangisan keras disertai kepucatan pada bayi

PENATALAKSANAAN

Rencana Terapi A (Diare Tanpa Dehidrasi)4

1. Pemberian Tablet Zinc


Memberitahukan kepada ibu berapa banyak tablet zinc yang harus diberikan
kepada anak :
Anak dibawah usia 6 bulan diberikan : tablet (10 mg) per hari selama 10
hari
Anak diatas usia 6 bulan diberikan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10
hari
2. Pemberian Makan

Melanjutkan pemberian makan yang bergizi sebagai suatu elemen yang


penting pada penatalaksanaan diare pada anak:

- Lanjutkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) atau memberikan susu formula yang
biasa diberikan

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 27


- Pemberian makan tetap diusahakan pada anak diare yang berusia 6 bulan atau
lebih walaupun nafsu makan anak belum membaik

Berikanlah makanan yang segar dan dimasak hingga benar-benar matang,


ditumbuk atau digiling pada anak usia 6 bulan ke atas atau lebih atau anak yang
sudah mendapatkan makanan padat. Berikut merupakan makanan yang
direkomendasikan:

- Sereal atau makanan yang memiliki kandungan zat tepung dan dicampur
dengan kacang-kacangan, sayuran dan daging/ ikan, serta tambahkan 1 hingga
2 sendok the minyak sayur yang ditambahkan dalam setiap sajian.
- Berikan makanan Pendamping ASI local yang sudah direkomendasikan dalam
pedoman Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada daerah tersebut.
- Berikanlah sari buah-buah segar seperti apel, jeruk manis dan pisang sebagai
tambahan kalium

Berikan makanan paling tidak 6 kali sehari dan berikan makanan yang sama
setelah diare berhenti serta berikan makanan tambahan selama 2 minggu setiap
hari.

Pada anak yang menderita diare namun tidak mengalami tanda-tanda dehidrasi
harus diberikan cairan tambahan di rumah dengan tujuan untuk mencegah
terjadinya dehidrasi. Anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi tetap diteruskan
pemberian ASI serta diet sesuai dengan usia pasien.

Pasien dengan keadaan ini dapat dirawat jalan dan memberikan informasi
kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah yang terdiri atas :

1. Pemberian cairan tambahan


- Pada anak usia kurang dari 6 bulan dan mendapatkan ASI, berikan nasihat
kepada ibu untuk memberikan ASI lebih sering dan lebih lama. Apabila
anak mendapatkan ASI eksklusif, tetap diberikan larutan oralit ataupun air
matang sebagai tambahan ASI dan diberikan menggunakan sendok. Jika
diare sudah berhenti, pemberian ASI tetap dilanjutkan.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 28


- Apabila anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif, dapat diberikan salah
satu atau lebih larutan oralit, cairan rumah tangga seperti sup, air tajin, dan
kuah sayuran, air matang.

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada anak, nasihati ibu agar selalu
memberikan cairan tambahan sebanyak yang anak inginkan dan sebanyak yang
dapat diminum:

- Pada anak usia kurang dari 2 tahun, dapat diberikan 50-100 mL setiap kali
anak buang air besar
- Sedangkan pada anak usia 2 tahun atau lebih, dapat diberikan 100-200 mL
setiap kali anak buang air besar
2. Pemberian tablet zinc
Memberikan tablet zinc kepada anak selama 10 hari penuh
- Usia < 6 bulan : tablet (10 mg) per hari
- Usia > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari
3. Pemberian makan tetap dilanjutkan, dapat berupa ASI atau susu formula pada
anak usia kurang dari 6 bulan atau makanan padat pada anak usia lebih dari 6
bulan
4. Edukasi kapan harus kembali kepada ibu
Memberikan nasihat kepada ibu agar membawa kembali anaknya apabila anak
bertambah parah, tidak mau atau tidak bisa minum atau menyusu, atau malas
untuk minum, atau timbul keluhan demam, atau ada darah dalam tinja anak.
Apabila didapatkan satu tanda namun tidak menunjukkan perbaikan, berikan
nasihat kepada ibu untuk kunjungan ulang pada hari kelima.

Rencana Terapi B (Dehidrasi Ringan/Sedang)4

1. Pemberian cairan tambahan


Umur Sampai 4 4-12 bulan 12-24 bulan 2-5 tahun
bulan
Berat badan <6 kg 6-10 kg 10-12 kg 12-19 kg
Jumlah cairan 200-400 400-700 700-900 900-1400

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 29


Jumlah oralit yang diperlukan = 75 mL/kgBB
Jika anak muntuah, berikan waktu 10 menit kemudian lanjukan dengan lebih
lambat.
2. Pemberian tablet Zinc selama 10 hari penuh
3. Melanjutkan pemberian minum/makan
4. Kunjungan ulang anak apabila didapatkan tanda berikut ini:
- Anak tidak bisa atau tidak mau atau malas minum atau menyusu
- Kondisi anak memburuk
- Anak dengan demam
- Didapatkan darah dalam tinja anak

Apabila anak masih menunjukkan tanda-tanda dehidrasi sedang/ringan,


pengobatan dapat diulangi untuk 3 jam berikutnya dengan pemberian cairan oralit
dan mulai berikan anak makanan, susu atau jus dan berikan ASI sesering mungkin

Jika timbul tanda-tanda dehidrasi berat, berikan pengobatan sesuai Rencana


Terapi C. meskipun belum terjadi dehidrasi berat akan tetapi anak sama sekali
tidak bisa minum oralit yang dapat diakibatkan anak muntah profus, maka anak
dapat diberikan cairan intravena secepatnya. Berikan cairan Ringer Laktat atau
Ringer Asetat atau jika tidak tersedia dapat juga diberikan larutan NaCl yang
dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut:

Umur Pemberian 70 mL/kgBB selama


Bayi (dibawah usia 12 bulan) 5 jam
Anak (12 bulan sampai 5 tahun) 2 jam
Setelah diberikan terapi cairan infus, periksa kembali anak setiap 1-2 jam
dan berikan larutan oralit 5 mL/kgBB/ jam segera setelah anak mau minum.

Periksalah kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam, setelah itu
klasifikasikan dehidrasi dan kemudian pilih rencana terapi yang sesuai untuk
melanjutkan terapi.

Rencana Terapi C (Diare dengan Dehidrasi Berat)4

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 30


Anak dengan dehidrasi berat harus diberikan rehidrasi intravena secara
cepat dengan pengawasan yang ketat dan dilanjutkan dengan rehidrasi oral segera
setelah anak mulai membaik. Larutan intravena yang terbaik dapat berupa larutan
Ringer Laktat (larutan Hartman), atau Ringer Asetat atau larutan garam normal
(NaCl 0,9%) dapat digunakan Pada daerah dengan Kejadian Luar Biasa Kolera
dapat diberikan pengobatan antibiotik yang efektif terhadap kolera.

Pada saat infus sedang disiapkan, berikan larutan oralit apabila anak bisa
minum kira-kira 5 mL/kgBB/jam segera jika anak mau minum, sedikit demi
sedikit, biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) dan 1-2 jam (anak) berikan anak tablet
Zinc sesuai dosis dan jadwal yang sudah dianjurkan. Berikut adalah jumlah cairan
yang diberikan:

Pertama, berikan 30 Selanjutnya, berikan 70


mL/kgBB dalam mL/kgBB dalam
Usia < 12 bulan 1 jam* 5 jam
Usia 12 bulan 30 menit* 2 jam
*ulangi kembali jika denyut nadi masih lemah atau tidak teraba

Periksalah kembali anak setiap 15-30 menit dan apabila tanda hidrasi belum
membaik, berikan tetesan infus intravena lebih cepat. Periksa kembali bayi
sesudah 6 jam dan 3 jam pada anak, kemudian tentukan terapi.

Pemberian oralit sebagai rehidrasi dengan oralit melalui pipa nasogastric


atau mulut 20 mL/kgBB/jam selama 6 jam dengan total 120 mL/kgBB. Setelah itu
periksa kembali anak setiap 1-2 jam, jika anak muntah terus menerus atau perut
menjadi tambah kembung, rujuk anak untuk pengobatan intravena, sesudah 6 jam
periksa kembali anak dan klasifikasikan dehidrasi sehingga dapat menentukan
rencana terapi yang sesuai dengan anak.

Berikan pengobatan antibiotik oral yang sensitif untuk strain Vibrio cholera
pada di daerah tersebut atau pilihan lainnya seperti tetrasiklin, doksisiklin,
kotrimoksazol, eritromisin dan kloramfenikol.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 31


Amatilah anak paling sedikit 6 jam setelah rehidrasi untuk memastikan
bahwa ibu dapat mempertahankan hidrasi dengan memberikan cairan oralit per
oral.

ANALISIS KASUS

Berdasarkan gejala yang dikeluhkan oleh ibu pasien pada saat datang ke RSU
UKI adalah pasien mengeluh BAB cair sejak tadi pagi sebanyak 3x dalam 7 jam
dengan konsistensi cair, volume 1/3 gelas aqua tiap kali BAB, berbau biasa,
warna kuning, ampas (+), lendir (-), darah (-), dan tidak menyemprot. Pasien
didiagnosa diare akut. Hal tersebut diatas sesuai dengan teori definisi diare akut
yang disampaikan oleh IDAI pada tahun 2011 yaitu buang air besar lebih dari 3
kali dalam 24 jam pada bayi dan anak dengan perubahan konsistensi menjadi cair,
dengan atau tanpa lendir dan darah. Yang berlangsung selama 3 hari.1

Pasien juga didiagnosis dengan dehidrasi ringan-sedang dikarenakan ada tanda


pasien menjadi hebih haus dari sebelumnya, mata cekung, dan turgor kulit
kembali lambat. Diagnosa tersebut berdasarkan teori derajat dehidrasi menurut
WHO dimana ditemukan dua atau lebih dari gejala berikut, yaitu:4

1. Gelisah
2. Letargi
3. Mata cekung
4. Pasien lebih banyak minum
5. Turgor kulit kembali lambat

Penatalaksanaan diare akut berdasarkan 5 pilar yang terdiri atas rehidrasi, nutrisi,
antibiotik bila ada indikasi, zinc dan edukasi. Pada pasien dengan dehidrasi

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 32


ringan-sedang dapat diberikan terapi B yaitu pemberian cairan per oral yaitu oralit
baru dengan jumlah sebanyak 75 cc/kgBB dalam 4 jam pertama. Jika didapatkan
indikasi seperti intake sulit, muntah setiap kali pasien makan, dapat diberikan
terapi cairan parenteral. Pada kasus ini, pasien langsung diberikan rehidrasi
parenteral karena terdapat indikasi nafsu makan yang berkuran dan pasien muntah
tiap makan. Untuk pemberian cairan pada kasus ini, diberikan KA-EN 3A 10
tetes/menit (makro). Dimana cairan ini bukan merupakan cairan rehidrasi
melainkan cairan RL, Ringer Asetat atau NaCl. Pada kasus ini pasien diberikan
jumlah tetesan yang lebih sedikit dari yang seharusnya. Jumlah tetesan dalam 3
jam pertama = 70 cc x 10 x 20 / 5 x 60 = 47 tetes/ menit.4

Medikamentosa yang dipakai adalah:

1. Zink pro (Komposisi: Zinc) Dosis: 1 x 1cth (PO)

Mengandung zinc 20 mg tiap 5ml. Pasien ini diberikan zinc pro sebanyak 1 x 5
ml yamg setara dengan 20 mg zinc/hari. Zinc harius diberikan 10 hari penuh
walaupun keluhan sudah bertkurang. Zinc diberikan untuk mengurangi durasi
dan tingkat keparahan diare dan untuk kemungkinan infeksi berikutnya selama
2-3 bulan. Zinc merupakan mikronutrein penting untuk sintesis protein,
pertumbuhan sel dan diferensiasi dengan fungsi untuk kekebalan tubuh dan
transportasi air dan elektrolit dalam usus. Zinc juga penting untuk pertumbuhan
dan perkembangan normal anak baik dengan dan atau tanpa diare.4,6,7

2. L-Bio (Komposisi: rice starch, maltodextrin, Lactobacillus acidophilus,


Lactobacillus casei, Lactobacillus salivarius, Bifidobacterium infantis,
Bifidobacterium lactis, Bifidobacterium longum, Lactobacillus lactis) 2x1
bungkus. L-Bio merupakan suatu probiotik yang dapat mengurangi dan
menurunkan risiko AAD (Antibiotic Associated Diare), meningkatkan respon
daya tahan tubuh setelah vaksinasi dan memperbaiki konsistensi tinja selama
pemberian antibiotic. Selain itu probiotik membantu anak dengan intoleransi
laktosa dengan kerja mengkonversi laktosa menjadi asam laktat. Pemberian

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 33


probiotik tidak memberikan efek samping, probiotik mengurangi frekuensi
diare 6,8,9
3. Sanmol (komposisi: paracetamol) 3x125 mg (IV)
Pada kasus ini diberikan paracetamol sebagai ibat antipiretik yang disebabkan
oleh proses inflamasi yang terjadi di dalam usus, dan atau akibat kehilangan
cairan. Dosis terapi paracetamol = 10-15 mg/kgBB/kali yang diberikan selama
4-6 jam. Pada kasus ini dosis paracetamol diberikan sesuai dengan dosis yang
harus didapat yaitu antara 100-150 mg tiap kali minum.6

Pada perawatan hari pertama, telah dilakukan evaluasi ulang dan masih
didapatkan keluhan BAB cair dan muntah dengan gejala dehidrasi sehingga
didiagnosis sebagai diare akut dengan dehidrasi ringan sedang. Sehingga
rehidrasi parenteral perlu diberikan. Cairan intravena yang diberikan adalah
KA-EN 3A diberikan sama seperti pada perawatan masuk di RS.

Pada perawatan hari kedua, dievaluasi kembali dan tidak ditemukan tanda-
tanda dehidrasi walaupun masih BAB cair tetapi tanda-tanda dehidrasi sudah
tidak ada. Cairan yang diberikan adalah KAEN 3A yang merupakan cairan
rumatan dengan tetesan makro 10 tetes per menit. Jumlah tetesan tersebut tidak
sesuai dengan kebutuhan cairan pasien berdasarkan Holliday Segard (100
ml/kg/hari), yakni kebutuhan cairan pasien per hari adalah 10 tetes per menit
{(10x100) x 20/24x60} tetesan makro sehingga jumlah tetesan kurang dari
yang seharusnya diberikan kepada pasien. Pada pasien ini juga diberikan
larutan oralit sebanyak 50-100 mL setiap habis BAB.10

Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan


laboratorium darah dalam batas normal serta pemeriksaan feses lengkap
didapatkan konsistensi feses lembek, berwarna kuning kecokelatan, lendir (-),
bakteri (-), leukosit (-). Sehingga bisa disimpulkan penyebab dari diare akut
pada kasus ini adalah infeksi enteropatogen virus. Sehingga diagnosis kerja
sudah sesuai yaitu diare akut dengan dehidrasi ringan sedang et cause infeksi
virus.

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 34


Pada perawatan hari ketiga, BAB cair (+) walaupun frekuensi sudah berkurang
pemberian cairan rumatan diganti dengan per oral karena nafsu makan dan
minum sudah membaik. Pasien direncanakan pulang pada hari keempat bila
keadaan pasien menjadi lebih baik.

Pada perawatan hari keempat, BAB pasien sudah mulai lembek, muntah (-),
bebas demam 2 hari serta nafsu makan sudah meningkat. Pengobatan diare
dapat dilanjutkan dirumah dengan membawa pulang zinc diminum minimal
sampai 6 hari kemudian dan beberapa bungkus oralit. Memberikan edukasi
kepada ibu mengenai upaya pencegahan diare berulang dan segera kembali ke
rumah sakit apabila terjadi.4

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 35


DAFTAR PUSTAKA

1. Subagyo B, Santoso N B. Diare Akut Dalam: Buku Ajar Gastroenterologi dan


Hepatologi Jilid 1. Jakarta: UKK Gastroenterologi-Hepatologi IDAI; 2011.
87-120.
2. Eppy. Diare Akut. Medicinus 2009 Sep-Nov; 22 (3): 91-8.
3. Pudjiadi Antonius, Hegar B, Handryastuti S, Idris N, Gandaputra E,
Harmoniati E. Pedoman Pelayanan Medis, Jakarta. IDAI. 2009. 58-59

4. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta. WHO. 2009.
131-145

5. Guandalini S, Cuffari C. Diarrhea. www.emedicine.medscape.com. 2016

6. www.MIMS.com

7. Khan Waqas Ullah and Sellen Daniel W. Zinc Supplementation in The


Management of Diarrhoea. Toronto. WHO. 2011

8. Probiotic. www.nhs.uk

9. Guandalini Stefano. Probiotics for Prevention and Treatment of Diarrhea.


www.jcge.com. 2011

10. Holliday Malcolm, Segar William. The Maintenance Need for Water in
Parenteral Fluid Therapy. Indiana. www.AAPPublications.org. 1957. 823-826

Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 36


Case Report Diare Akut Dehidrasi Ringan Sedang 37