Anda di halaman 1dari 24

REFERAT

SKIZOFRENIA HEBEFRENIK

Disusun oleh :
Jares Clinton
NIM : 1161050127

Dokter Pembimbing :
dr. Gerald Mario Semen, Sp.KJ,SH
dr. Imelda Wijaya, Sp.KJ
dr.Herny Taruli Tambunan, M.Ked(KJ), Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia
Periode 14 Desember 2015 23 Januari 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmatNya,penulis dapat menyelesaikan referat ini pada waktunya.Referat berjudul
SKIZOFRENIA HEBEFRENIK ini dibuat untuk menambah wawasan tentang salah
satu contoh gangguan jiwa, melengkapi tugas serta merupakan salah satu syarat untuk
dapat mengikuti ujian akhir kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Jiwa di Rumah Sakit
Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta.
Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dokter
pembimbing Ilmu Kesehatan Jiwa di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO)
Jakarta, yaitu dr. Gerald Mario Semen, Sp.KJ, dr. Imelda Wijaya, Sp.KJ, dr. Herny
Taruli Tambunan, M.Ked(KJ), Sp.KJ, yang telah membimbing penulis selama
kepaniteraan ini dan dalam penyusunan referat ini serta teman-teman Co-Ass yang turut
membantu dan memberikan semangat serta dukungan selama kepaniteraan ini. Tak lupa
juga saya mengucapkan terima kasih kepada orang tua, abang dan kakak saya yang
selalu mendukung selama ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan referat
ini.Oleh karena itu, penulis menerima kritikan dan saran yang membangun guna
penyempurnaan referat ini.Akhir kata, penulis berharap semoga referat ini dapat
bermanfaat dan menambah wawasan pembaca.Terimakasih.

Jakarta, 28 Desember 2015

Jares Clinton

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................................... 1
2.1 PENGERTIAN ............................................................................................. 3
2.2 ETIOLOGI.................................................................................................... 4
2.3 TANDA DAN GEJALA .............................................................................. 6
2.4 PSIKOFISOLOGI ........................................................................................ 8
2.5 DIAGNOSIS ................................................................................................. 9
2.6 PENATALAKSANAAN ............................................................................. 10
2.7 PROGNOSIS ................................................................................................ 17
BAB III. KESIMPULAN .................................................................................................... 20
3.1 KESIMPULAN .............................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu gangguan jiwa yang merupakan permasalahan kesehatan
diseluruh dunia adalah skizofrenia. Para pakar kesehatan jiwa menyatakan
bahwa semakin modern dan industrial suatu masyarakat, semakin besar
pula stressor psikososialnya, yang pada gilirannya menyebabkan orang
jatuh sakit karena tidak mampu mengatasinya. Salah satu penyakit itu
adalah gangguan jiwa skizofrenia.1
Istilah skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler
(1857-1939), untuk menggambarkan munculnya perpecahan
antara pikiran, emosi dan perilaku pada pasien yang mengalami gangguan
ini. Bleuler mengindentifikasi simptom dasar dari skizofrenia yang dikenal
dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan Ambivalensi.2
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering,
hampir 1% penduduk dunia menderita psikotik selama hidup mereka di
Amerika. Skizofrenia lebih sering terjadi pada negara industri terdapat
lebih banyak populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah.
Walaupun insidennya hanya 1 per 1000 orang di Amerika Serikat,
skizofrenia sering kali ditemukan di gawat darurat karena beratnya gejala,
ketidakmampuan untuk merawat diri, hilangnya tilikan dan pemburukan
sosial yang bertahap. Kedatangan di ruang gawat darurat atau tempat
praktek disebabkan oleh halusinasi yang menimbulkan ketegangan yang
mungkin dapat mengancam jiwa baik dirinya maupun orang lain, perilaku
kacau, inkoherensi, agitasi dan penelantaran. Diagnosis skizofrenia lebih
banyak ditemukan dikalangan sosial ekonomi rendah. Beberapa pola
interaksi keluarga dan faktor genetik diduga merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya skizofrenia.3

1
75% penderita skizofrenia terjadi pada usia 16-25 tahun. Usia
remaja dan dewasa muda memang beresiko tinggi karena tahap kehidupan
ini penuh stressor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga
dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian
diri. Salah satu pembagian skizofrenia adalah skizofrenia hebefrenik.
Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau balau
yang ditandai dengan inkoherensi, afek datar, perilaku dan tertawa
kekanak-kanakan, yang terpecah-pecah, dan perilaku aneh seperti
menyeringai sendiri, menujukkan gerakan-gerakan aneh, mengucap
berulang-ulang dan kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari
hubungan sosial.3
Gangguan jiwa skizofrenia gangguan jiwa yang berat dan gawat
yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi
kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena
menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis dan sosial-budaya.
Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok
lanjut usia (lansia).4
Tujuan penulisan refrat ini adalah untuk memberikan gambaran
ringkas mengenai Skizofrenia Hebefrenik terutama dalam hal gejala klinis,
diagnosis serta penanganan yang tepat pada pasien dan keluarga pasien.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian
Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang
ditandai dengan kekacauan kepribadian, distorsi terhadap realitas,
ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, perasaan
dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham/delusi, gangguan
persepsi.4
Gangguan skizofrenia ini terdapat pada semua kebudayaan dan
mengganggu di sepanjang sejarah, bahkan pada kebudayaan-kebudayaan
yang jauh dari tekanan modern sekalipun. Umunya gangguan ini muncul
pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara 25-35 tahun.
Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-
tiba pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami
stress.5
Salah satu pembagian skizofrenia adalah skizofrenia hebefrenik.
Beberapa pendapat yang menyebutkan tentang pengertian Skizofrenia,
antara lain : Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk Skizofrenia yang
ditandai dengan perilaku klien regresi dan primitif, afek yang tidak sesuai,
wajah dungu, tertawa-tawa aneh, meringis dan menarik diri secara
ekstrim.1
Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan
perubahan afektif yang tampak jelas dan secara umum juga dijumpai waham
dan halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus-putus
(fragmentary), perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat
diramalkan, serta umumnya manerisme.6
Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau
balau yang ditandai dengan inkoherensi, afek datar, perilaku dan tertawa
kekanak-kanakan, yang terpecah-pecah, dan perilaku aneh seperti

3
menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh, mengucap
berulang-ulang dan kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari
hubungan sosial.7
Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan
perubahan perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,
ada kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan prilaku menunjukkan
hampa prilaku dan hampa perasaan, senang menyendiri,dan ungkapan kata
yang di ulang ulang, proses pikir mengalami disorganisasi dan
pembicaraan tak menentu serta adanya penurunan perawatan diri pada
individu.8

2.2 Etiologi
Etiologi Skizofrenia Hebefrenik pada umumnya sama seperti
etiologi skizofrenia lainnya. Dibawah ini beberapa etiologi yang sering
ditemukan.2
1. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya
respon neurobiologi seperti pada harga diri rendah antara lain :
a. Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genetis skizofrenia
diturunkan melalui kromosom-kromosom tertentu. Tetapi
kromosom yang ke berapa menjadi faktor penentu gangguan ini
sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen
skizofrenia ada dikromosom no. 6 dengan kontribusi genetik
tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar identik memiliki
kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah
satunya mengalami skizofrenia, sementara jika dizigot
peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah satu orang
tuanya mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya
skizofrenia maka peluangnya menjadi 35%.

4
b. Faktor Neurologis
Ditemukan bahwa korteks prefrotal dan korteks limbik pada
klien skizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga
pada klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otak
yang abnormal. Neurotransmiter yang ditemukan tidak normal
khususnya dopamin, serotonin, dan glutamat.
c. Studi Neurotransmiter
Skizofrenia diduga juga disebabkan oleh adanya
ketidakseimbangan neurotransmiter dopamine yang berlebihan.
d. Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat
menjadi faktor predisposisi skizofrenia.
e. Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor
predisposisi skizofrenia antara lain anak yang diperlakukan oleh
ibu pencemas, terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan,
sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.

2. Faktor Prespitasi
Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a. Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima
dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
b. Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu.
c. Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkungan, sikap
dan perilaku.

5
2.3. Tanda dan Gejala
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase
yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual.
Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang
lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset
psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan,
fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri.
Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah
keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang
dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya.
Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah
laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek.
Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat
pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami
eksaserbasi atau terus bertahan.
Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya
sama dengan fase prodormal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah
berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas,
penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan
berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif
(atensi, konsentrasi, hubungan sosial).
Pada Skizofrenia Hebefrenik kita dapat melihat tanda dan gejala
yang khas, antara lain;
1. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa
maksudnya.
2. Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidak serasi atau ketolol-
tololan.
3. Perilaku dan tertawa kekanak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa
puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
4. Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai
suatu kesatuan.

6
5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi
sebagai satu kesatuan.
6. Gangguan proses berfikir
7. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-
gerakan aneh, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung
untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.7

Gejala-gejala pencetus respon biologis :


Kesehatan : nutrisi kurang, kurang tidur, ketidakseimbangan irama
sirkadian, kelelahan, infeksi, obat-obatan sistem saraf pusat, kurangnya
latihan dan hambatan untuk menjangkau layanan kesehatan.
Lingkungan : lingkungan yang memusuhi, masalah rumah tangga,
kehilangan kebebasan hidup, perubahan kebiasaan hidup, pola aktivitas
sehari-hari, kesukaran berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial,
kurangnya dukungan sosial, tekanan kerja, stigmasisasi, kemiskinan,
kurangnya alat transportasi dan ketidakmampuan mendapatkan
pekerjaan.
Sikap/perilaku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal,
kehilangan kendali diri(demoralisasi), merasa punya kekuatan
berlebihan dengan gejala tersebut, merasa malang, bertindak tidak
seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya
kemampuan sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan,
ketidakadekuatan pengobatan dan ketidakadekuatan penanganan gejala.

Beberapa tanda dan gejala yang paling sering ditemukan pada


pasien-pasien Skizofrenia Hebefrenik adalah,
Waham; yaitu suatu keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan latar
belakang sosial budaya serta pendidikan pasien, namun dipertahankan
oleh pasien dan tidak dapat ditangguhkan.
Halusinasi; gangguan persepsi ini membuat pasien skizofrenia dapat
melihat sesuatu atau mendengar suara yang tidak ada sumbernya.

7
Halusinasi yang sering terdapat pada pasien adalah halusinasi auditorik
(pendengaran). Terkadang juga terdapat halusinasi penglihatan dan
halusinasi perabaan.
Siar pikiran, yaitu pasien merasa bahwa pikirannya dapat disiarkan
melalui alat-alat bantu elektronik atau merasa pikirannya dapat dibaca
oleh orang lain. Terkadang pasien dapat mengatakan bahwa dirinya
dapat berbincang-bincang dengan penyiar televisi maupun radio.
Beberapa pasien juga mengatakan pikirannya dimasuki oleh pikiran atau
kekuatan lain atau ditarik/diambil oleh kekuatan lain.

2.4. Psikofisiologi
1. Tahapan halusinasi dan delusi yang biasa menyertai gangguan jiwa.
a. Tahap Comforting
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan
berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stresornya dengan
koping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman.
b. Tahap Condeming
Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi
selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut
apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan
sehingga timbul perilaku menarik diri ( withdrawl ).
c. Tahap Controling
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang
timbul tetapi suara tersebut terus menerus mengikuti, sehingga
menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila
suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian atau sedih.
d. Tahap Conquering
Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam
apabila tidak diikuti perilaku klien dapat bersifat merusak atau dapat
timbul perilaku suicide.

8
2. Waham
Perubahan afektif tampak jelas, dangkal dan tak wajar. Waham dan
halusinasi mengambang dan terputus-putus (fragmentary). Sering disertai
cekikikan (giggling), rasa puas diri, senyum sendiri, sikap angkuh,
tertawa menyeringai, hipokondrik, dan sifat kekanak-kanakan. Perilaku
tak betanggung jawab dan sulit diramalkan, menyendiri tanpa tujuan.
Proses pikir mengalami disorganisasi, pembicaraan tak menentu dan
inkoherensia.

2.5 Diagnosis2,4,8
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia ;
1. Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia
remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun).
2. Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang
menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan
diagnosis. Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya
diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk
memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar
bertahan : Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat
diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu
menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan
hampa perasaan;
3. Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering
disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied),
senyum sendirir (self-absorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati
(lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli
secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan ungkapan
kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
4. Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu
(rambling) serta inkoheren. Gangguan afektif dan dorongan kehendak,
serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham

9
mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary
delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga
perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan
(aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu
preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama,
filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami
jalan pikiran pasien. Menurut DSM-IV skizofrenia hebefrenik disebut
sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.

2.6 Penatalaksanaan 11
a. Terapi Somatik (Medikamentosa)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut
antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan
perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin
dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat
atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien.
Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan
terapi obat-obatan pertama yang efektif untuk mengobati Skizofrenia.
Terdapat 2 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu :
antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics.

b. Antipsikotik Konvensional
Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut
antipsikotik konvensional.Walaupun sangat efektif, antipsikotik
konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh
obat antipsikotik konvensional antara lain :
1. Haldol (haloperidol)
2. Stelazine ( trifluoperazine)
3. Mellaril (thioridazine)
4. Thorazine ( chlorpromazine)

10
5. Navane (thiothixene)
6. Trilafon (perphenazine)
7. Prolixin (fluphenazine)12

Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh


antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan
penggunaan newer atypical antipsycotic.
Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional).
Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan)
yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping
yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan
pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami
kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol dapat diberikan
dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4
minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation,
obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan
secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak dapat
digunakan pada newer atypic antipsycotic.

a. Newer Atypcal Antipsycotic


Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena
prinsip kerjanya berbeda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila
dibandingkan dengan antipsikotik konvensional.
Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :
Risperdal (risperidone)
Seroquel (quetiapine)
Zyprexa (olanzopine)
Para ahli banyak merekomendasikan obat-obat ini untuk menangani
pasien-pasien dengan Skizofrenia.

11
Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama
Newer atypical antipsycotic merupakan terapi pilihan untuk
penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang
ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih
rendah.
Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat
untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat
gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba
memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)

Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)


Biasanya timbul bila penderita berhenti minum obat, untuk itu,
sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti
minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek
samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi,
dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek
sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya
lebih rendah.
Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter
dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting,
diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel
dalam penerapannya.
Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi
obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk
menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik
konvensional dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic atau
newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya.
Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi
dengan obat-obatan diatas gagal.

12
Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan
walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5
pasien yang berhenti minum obat setelah episode pertama Skizofrenia
dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia
episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan
sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang menderita
Skizofrenia lebih dari satu episode, atau belum sembuh total pada
episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu
diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering
kekambuhan dan makin beratnya penyakit.

Efek Samping Obat-obat Antipsikotik


Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu
yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek
samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi
penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan
(kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra
Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan
kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan)
setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek
samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki.
Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya
benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau
mengobati efek samping ini.12
Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia
dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding
tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini
dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat
antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik

13
konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan
mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.
Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan
fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri
pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter
akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer
atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit.
Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita
Sikzofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita
yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat
membantu mengatasi masalah ini.
Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic
malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang
sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam,
penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan
yang segera.

b. Terapi Psikososial
Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan
ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan
memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal.
Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat
ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa dan pas
jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif
atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di
masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.

14
Terapi berorintasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali
dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, dimana pasien skizofrenia
kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang
singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan
segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah
proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali,
anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak
saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur
terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari
ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang
keparahan penyakitnya.-Ahli terapi harus membantu keluarga dan
pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati.
Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah
efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian terkontrol,
penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa
terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga.

Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada
rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok
mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika
atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan
isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes
realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan
cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling
membantu bagi pasien skizofrenia.

15
Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual
dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi
akan membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep
penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah
perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien.
Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi,
jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi
seperti yang diinterpretasikan oleh pasien.
Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang
ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan
hubungan seringkali sulit dilakukan, pasien skizofrenia seringkali
kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan
kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika
seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia,
perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap
kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur
dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan
atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan
kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau
eksploitasi.

Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)


Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan
diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan
bunuh diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk
ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan
adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat.
Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumah

16
sakit harus direncanakan. Dokter harus juga mengajarkan pasien dan
pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia.
Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan
membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya
perawatan rumah sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan
tersedianya fasilitas pengobatan rawat jalan. Rencana pengobatan di
rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah
kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan
sosial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat
pasien dengan fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat
perawatan dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien
dalam memperbaiki kualitas hidup.

2.7. Prognosis10
Prognosis untuk skizofrenia hebefrenik sama dengan skizofrenia tipe
lainnya, prognosisnya pada umumnya kurang begitu menggembirakan.
Sekitar 25% pasien dapat kembali pulih dari episode awal dan fungsinya
dapat kembali pada tingkat prodromal (sebelum munculnya gangguan
tersebut). Sekitar 25% tidak akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya
cenderung memburuk. Sekitar 50% berada diantaranya, ditandai dengan
kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali
untuk waktu yang singkat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis skizofrenia :
1. Keluarga
Pasien membutuhkan perhatian dari masyarakat, terutama dari
keluarganya. jangan membeda-bedakan antara orang yang mengalami
Skizofrenia dengan orang yang normal, karena orang yang mengalami
gangguan Skizofrenia mudah tersinggung.

17
2. Inteligens.
Pada umumnya pasien Skizofrenia yang mempunyai Inteligensi
yang tinggi akan lebih mudah sembuh dibandingkan dengan orang yang
inteligensinya rendah.
3. Reaksi Pengobatan
Dalam proses penyembuhan skizofrenia, orang yang bereaksi
terhadap obat lebih bagus perkembangan kesembuhan daripada orang
yang tidak bereaksi terhadap pemberian obat.
4. Stressor Psikososial
Apabila stressor dari skizofrenia ini berasal dari luar, maka akan
mempunayi dampak yang positif, karena tekanan dari luar diri individu
dapat diminimalisir atau dihilangkan. Begitu pula sebaliknya apabila
stressor datangnya dari luar individu dan bertubi-tubi atau tidak dapat
diminimalisir maka prosgnosisnya adalah negatif atau akan bertambah
parah.
5. Kekambuhan
Penderita skizofrenia yang sering kambuh prognosisnya lebih
buruk.
6. Gangguan Kepribadian
Prognosis untuk orang yang mempunyai gangguan kepribadian
akan sulit disembuhkan. Besar kecilnya pengalaman akan memiliki
peran yang sangat besar terhadap kesembuhan.
7. Onset
Jenis onset yang mengarah ke prognosis yang baik berupa onset
yang lambat dan akut, sedangkan onset yang tidak jelas memiliki
prognosis yang lebih buruk.
8. Proporsi
Orang yang mempunyai bentuk tubuh normal (proporsional)
mempunyai prognosis yang lebih baik dari pada penderita yang bentuk
tubuhnya tidak proporsional.

18
9. Perjalanan penyakit
Pada penderita skizofrenia yang masih dalam fase prodromal
prognosisnya lebih baik dari pada orang yang sudah pada fase aktif dan
fase residual.
10. Kesadaran
Kesadaran orang yang mengalami gangguan skizofrenia adalah
jernih. Hal inilah yang menunjukkan prognosisnya baik nantinya.

Prognosis Baik Prognosis Buruk


Onset lambat Onset muda
Faktor pencetus Tidak ada factor pencetus
yang jelas Onset tidak jelas
Onset akut Riwayat sosial dan
Riwayat sosial, pekerjaan premorbid yang
seksual dan buruk
pekerjaan Prilaku menarik diri atau
premorbid yang autistic
baik Tidak menikah, bercerai
Gejala gangguan atau janda/ duda
mood (terutama Sistem pendukung yang
gangguan depresif) buruk
Menikah Gejala negatif
Riwayat keluarga Tanda dan gejala neurologist
gangguan mood Riwayat trauma perinatal
Sistem pendukung Tidak ada remisi dalam 3
yang baik tahun
Gejala positif Banyak relaps
Riwayat penyerangan

19
BAB III
KESIMPULAN

Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan


perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,ada
kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan prilaku menunjukkan hampa prilaku
dan hampa perasaan, senang menyendiri,dan ungkapan kata yang di ulang
ulang, proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta
adanya penurunan perawatan diri pada individu dan merupakan suatu gangguan
yang yang ditandai dengan regresi dan primitif, afek yang tidak sesuai, serta
menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial. Gangguan jiwa skizofrenia
merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak
muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada
lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis dan
sosial-budaya. 1,2

20
DAFTAR PUSTAKA

1. www.Scribd. com/mobile/doc/130848941/device_features. Diunduh pada


tanggal 27 Desember 2015.

2. Kaplan, HI, Sadock BJ, Skizofrenia, In :Synopsis of Psychiatry :


Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition,2007.

3. Skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Diunduh dari


http/www.idijakbar.com/prosiding/skizofrenia.http.

4. Departemen Kesehatan R.I. 2006. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis


Gangguan Jiwa di Indonesia III cetakan pertama. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI : Jakarta

5. Atkinson, R.L., dkk. 2000. Hilgards Introduction to Psychology. 13th


edition. Editor : Smith, Carolyn D. Harcourt College Publishers.

6. Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia 2008.


http://www.depkes.go.id Diakses pada tanggal 27 Desember 2015

7. Hawari, Dadang. 2009. Peran Keluarga dalam Gangguan Jiwa. Edisi 21,
Jurnal Psikologi, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, Bandung.

8. Maslim, Rusdi dr. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan


Ringkasan dari PPDGJ III Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa.

9. Maramis. Ilmu Kedokteran Jiwa. Pusat Penerbitan dan Percetakan


Airlangga Universitas. Surabaya. 2009.

10. Prof. Dr. R. Kusumanto. Obat-Obat Yang Dipakai Dibidang Kesehatan


Jiwa Edisi II. Yayasan Dharma Graha. Jakarta. 2007.

11. Setiabudy, rianto. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5.Gaya Baru. Jakarta
2007.

21