Anda di halaman 1dari 41

BAB III

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIS PUSKESMAS

3.1 Manajemen Program Puskesmas

Puskesmas sebagai tulang punggung penyelenggaraan upaya pelayanan

kesehatan dasar bagi masyarakat di wilayah kerjanya berperan menyelenggarakan

upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup

sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan yang optimal; bahwa

untuk melaksanakan upaya kesehatan baik upaya kesehatan masyarakat tingkat

pertama dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dibutuhkan manajemen

Puskesmas yang dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan agar menghasilkan

kinerja Puskesmas yang efektif dan efisien. (PMK, 2016)

Manajemen adalah serangkaian proses yang terdiri atas perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan dan kontrol (Planning, Organizing, Actuating,

Controling) untuk mencapai sasaran/tujuan secara efektif dan efesien. Siklus

manajemen Puskesmas yang berkualitas merupakan rangkaian kegiatan rutin

berkesinambungan, yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan berbagai upaya

kesehatan secara bermutu, yang harus selalu dipantau secara berkala dan teratur,

diawasi dan dikendalikan sepanjang waktu, agar kinerjanya dapat diperbaiki dan

ditingkatkan dalam satu siklus Plan-Do-Check-Action (P-D-C-A).

Untuk menjamin bahwa siklus manajemen berjalan secara efektif dan efisien,

ditetapkan Tim Manajemen Puskesmas yang juga dapat berfungsi sebagai

penanggungjawab manajemen mutu di Puskesmas. Tim terdiri atas penanggung

jawab upaya kesehatan di Puskesmas dan didukung sepenuhnya oleh jajaran


pelaksananya masing-masing. Tim ini bertanggung jawab terhadap tercapainya target

kinerja Puskesmas, melalui pelaksanaan upaya kesehatan yang bermutu.(PMK, 2016)

Manajemen kesehatan terangkum dalam subsistem di dalam Sistem Kesehatan

Nasional (SKN) yaitu subsistem manajemen, informasi dan regulasi kesehatan.

Subsistem ini meliputi kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, hukum kesehatan

dan informasi kesehatan. Peranan dari subsistem manajemen kesehatan adalah

koordinasi, integrasi, regulasi, sinkronisasi, dan harmonisasi berbagai subsistem SKN

agar efektif, efisien, dan transparansi dalam penyelenggaraan SKN tersebut

(PERPRES NOMOR 72 TAHUN 2012).

Manajemen puskesmas sendiri merupakan bagian dari subsistem SKN yang

terdiri dari rangkaian kegiatan yang bekerja secara sinergik antara komponen -

komponen dalam sistem yankes puskesmas, sehingga menghasilkan keluaran yang

efektif dan efisien dengan menggunakan fungsi-fungsi atau instrumen manajemen.

Manajemen puskesmas berfungsi untuk menyelenggarakan upaya kesehatan

perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Pelaksanaan Manajemen Puskesmas:

Meliputi Perencanaan (P1) yaknipenyusunan Rencana Strategik dan Rencana

Operasional Puskesmas,Penggerakan Pelaksanaan (P2) yakni pelaksanaan Lokakarya

MiniPuskesmas baik bulanan maupun triwulanan, dan Pelaksanaan P3Puskesmas

yakni Stratifikasi Puskesmas atau Penilaian KinerjaPuskesmas;

3.1.1 Perencanaan (P1)

Perencanaan adalah tahap menyusun rencana usulan kegiatan (RUK) dan

rencana pelaksanaan kegiatan (RPK) yang didasari oleh fakta dan data. (PMK No 44,

2016)
Perencanaan dilakukan setiap tahun sekali setiap awal tahun, yang didasarkan

permasalahan yang ada dan sumber daya pendukung yang ada. Berupa Rencana

Usulan Kegiatan (RUK) tahun yang akan datang dan Rencana Pelaksanaan Kegiatan

(RPK) tahun berjalan selama tahun berjalan setelah dana alokasi kegiatan Puskesmas

turun dari Dinas Kabupaten atau Kota. RUK atau rencana kerja yang biasanya

disusun menjelang pergantian tahun anggaran kegiatan baru kemudian dikembangkan

menjadi Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). RKA merupakan pengembangan dari

RUK seteah ada perbaikan tata cara pembuatan anggaran kegiatan dalam setiap unit

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Setelah disusun rencana kegiatan itu,

kemudian dibuatkan strategi pelaksanaan secara terpadu RPK. Dokumen Pelaksana

Anggaran (DPA) merupakan kelanjutan dari RKA yang telah disetujui sebagai

pedoman pelaksanaan penggunaan anggaran kegiatan. Perencanaan Puskesmas

disusun oleh tim Puskesmas dengan memperhatikan masukan dari lintas sektoral dan

Badan Penyantun Puskesmas (BPP) atau badan sejenis sebagai perwakilan

masyarakat (PMK No 44,2016).

Perencanaan (P1) tidak lepas dari kegiatan penyusunan rencana yang

berupa Planning of Action (POA). Sistem POA mencakup:

Analisis situasi

Identifikasi masalah

Prioritas masalah

Identifikasi penyebab masalah (Fish Bone)

Menentukan penyebab masalah yang paling mungkin


Alternatif pemecahan masalah

Keputusan pemecahan masalah terpilih.

Rencana penerapan (Gant Chart)

Monitoring dan evaluasi

Kesimpulan

Penutup

POA di Puskesmas Sukorame dibuat satu tahun sekali, yaitu pada awal tahun oleh

Kepala Puskesmas bersama staf. Setelah itu dilakukan penentuan target bulanan yang

selanjutnya dievaluasi.

3.1.2 Penggerakan dan pelaksanaan (P2)

Penggerakan dan pelaksanaan adalah tahap melaksanakan hal-hal yang sudah

tercantum dalam RPK dan mendorong tercapainya melalui lokakarya Mini (lokmin)

secara berkala. Penggerakan dan pelaksanaan diperkuat karena puskesmas dapat

melaksanakan pelayanan yang benar-benar sesuai dengan masalah kesehatan yang

dihadapi masyarakat. Pelayanan tersebut bukan hanya terintegrasi untuk setiap

golongan umur, melainkan juga mengikuti siklus hidup manusia, karena fokus

perhatiannya adalah pada keluarga, selain individu-individu anggota keluarga.

Lokakarya mini dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan kegiatan-kegiatan yang

lebih efektif dan efisien, serta meningkatkan koordinasi lintas program dan kerjasama

lintas sektor. Lokakarya Mini dapat juga dimanfaatkan untuk melakukan pengawasan

dan pengendalian pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang lebih efektif dan efisien, serta

penilaian secara lebih tepat. (PMK No 44, 2016)


Lintas program dilaksanakan setiap sebulan sekali, untuk mengevaluasi hasil

kegiatan pelayanan dan Lokakarya Mini, Lintas Sektoral yang dilaksanakan

puskesmas yaitu setiap tiga bulan sekali dengan melibatkan instansi terkait seperti

dinkes, kecamatan, kelurahan, dan lain-lain sesuai porsi kegiatan puskesmas

(Mairizon, 2013).

Lokakarya Mini Puskesmas merupakan suatu pertemuan antar petugas Puskesmas

dan petugas Puskesmas dengan sektor terkait (lintas sektoral) untuk meningkatkan

kerjasama tim, memantau cakupan pelayanan Puskesmas serta membina peran serta

masyarakat secara terpadu agar dapat meningkatkan fungsi Puskesmas. Ditinjau dari

fungsi manajemen puskesmas maka Lokakarya Mini Puskesmas merupakan

penerapan Penggerakan, Pelaksanaan (P2). Adapun tujuan dilakukannya lokakarya

mini adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Umum

Meningkatkan fungsi Puskesmas melalui penggerakan pelaksanaan

Puskesmas, bekerjasama dalam tim dan membia kerja sama lintas program

serta lintas sektoral

2. Tujuan Khusus

a) Tergalangnya kerjasama dalam tim antar tenaga Puskesmas dan

pelaksana

b) Terselenggaranya lokakarya bulanan antar tenaga Puskesmas dalam

rangka pemantauan hasil kerja tenaga Puskesmas dengan cara

membandingkan rencana kerja bulan lalu dari setiap petugas dengan

hasil kegiatannya dan membandingkan cakupan kegiatan dari daerah


binaan dengan targetnya serta teersusunnya rencana kerja bulan

berikutnya.

c) Tergalangnya kerjasama lintas sektoral dalam rangka pembinaan dan

pengembangan peran serta masyarakat secara terpadu.

d) Terselenggaranya lokakarya tribulanan lintas sektoral dalam ranngka

mengkaji kegiatan kerjasama lintas sektoral dan tersusunnya rencana

kerja tribulan berikutnya. Manfaatnya adalah mengevaluasi kegiatan

yang telah dilakuakan pada bulan lalu dan untuk merencanakan kegiatan

yang akan dilakukan.

3.1.3 Pengawasan, pengendalian dan penilaian (P3)

Pengawasan, pengendalian dan penilaian (P3) adalah tahap memantau

perkembangan pencapaian (yang juga dilalukan melalui lokmin berkala), melakukan

koreksi pelaksanaan kegiatan, dan menilai pencapaian kegiatan pada pertengahan dan

akhir tahun. Penguatan manajemen Puskesmas melalui pendekatan keluarga akan

menjadi baik dalam tahap P1, tahap P2, maupun tahap P3. (PMK No 44, 2016)

Pengawasan puskesmas dibedakan menjadi dua, yaitu pengawasan internal dan

eksternal. Pengawasan internal adalah pengawasan yang dilakukan oleh puskesmas

sendiri, baik oleh kepala puskesmas, tim audit internal maupunsetiap jawab dan

pengelola/ pelaksana program. Pengawasaneksternal dilakukan oleh instansi dari luar

Puskesmas antara lain dinas kesehatan kabupaten/ kota, institusi lain selain Dinas

Kesehatan kabupaten/ Kota dan / atau masyarakat. (Petunjuk Teknis Penguatan

Manajemen Puskesmas, 2016)


Pengawasan yang dilakukan mencakup aspek administratif, sumber daya,

pencapaian kinerja program, dan teknis pelayanan. Apabila ditemukan

ketidaksesuaian baik terhadap rencana, standar, peraturan perundangan maupun

berbagai kewajiban yang berlaku. Pengawasan dilakukan melalui kegiatan supervisi

yangdapat dilakukan secara terjadwal atau sewaktu-waktu. (PMK No 44, 2016)

Pengendalian adalah serangkaian aktivitas untuk menjamin kesesuaian

pelaksanaan kegiatan denganrencana yang telah ditetapkan sebelumnya dengancara

membandingkan capaian saat ini dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

Jika terdapat ketidaksesuaian, maka harus dilakukan upaya perbaikan (Corrective

action). Kegiatan pengendalianini harus dilakukan secara terus menerus.

Pengendalian dapat dilakukan secara berjenjang oleh Dinas kesehatan kabupaten/

kota, kepala puskesmas,maupun penanggung jawab program. (PMK No 44, 2016)

Tujuan dari pengawasan dan pengendalian, sebagai berikut (PMK No 44, 2016):

1. Mengetahui sejauh mana pelaksanaan pelayanan kesehatan, apakah sesuai

dengan standar atau rencana kerja, apakah sumber daya dan digunakan sesuai

dengan yang telah ditetapkansecara efektif dan efisien.

2. Mengetahui adanya kendala, hambatan/tantangan dalam melaksanakan

pelayanan kesehatan, sehingga dapat ditetapkan pemecahan masalah sedini

mungkin.

3. Mengetahui adanya penyimpangan pada pelaksanaan pelayanan kesehatan

sehingga dapat segera dilakukan klarifikasi.

4. Memberikan informasi kepada pengambil keputusan tentang adanya

penyimpangan dan penyebabnya, sehingga dapat mengambil keputusan untuk


melakukan koreksi pada pelaksanaan kegiatan atau program terkait, baik yang

sedang berjalan maupun pengembangannya di masa mendatang.

5. Memberikan informasi/laporan kepada pengambil keputusan tentang adanya

perubahan-perubahan lingkungan yang harus ditindaklanjuti dengan

penyesuaian kegiatan.

6. Memberikan informasi tentang akuntabilitas pelaksanaan dan hasil kinerja

program/kegiatan kepada pihak yang berkepentingan, secara kontinyu dan

dari waktu ke waktu.

Penilaian Kinerja Puskesmas adalah suatu proses yang obyektif dan sistimatis

dalam mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan informasi untuk menentukan

seberapa efektif dan efisien pelayanan Puskesmas disediakan, serta sasaran yang

dicapai sebagai penilaian hasil kerja/prestasi Puskesmas. Penilaian Kinerja

Puskesmas dilaksanakan oleh Puskesmas dan kemudian hasil penilaiannya akan

diverifikasi oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. (PMK No 44, 2016)

Tujuan dilaksanakannya penilaian kinerja Puskesmas, sebagai berikut (PMK No

44, 2016) :

1. Mendapatkan gambaran tingkat kinerja Puskesmas (hasil cakupan kegiatan, mutu


kegiatan, dan manajemen Puskesmas) pada akhir tahun kegiatan.
2. Mendapatkan masukan untuk penyusunan rencana kegiatan di tahun yang akan
datang.
3. Dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari penyebab dan latar
belakang serta hambatan masalah kesehatan di wilayah kerjanya berdasarkan
adanya kesenjangan pencapaian kinerja.
4. Mengetahui dan sekaligus dapat melengkapi dokumen untuk persyaratan akreditasi
Puskesmas.
5. Dapat menetapkan tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada
tahun yang akan datang berdasarkan prioritasnya.
Ruang lingkup dan tahap pelaksanaan penilaian kinerja Puskesmas sebagai
berikut (PMK No 44, 2016):
B.1. Ruang lingkup penilaian kinerja Puskesmas
a. Pencapaian cakupan pelayanan kesehatan meliputi:
1) UKM esensial yang berupa pelayanan promosi kesehatan, pelayanan
kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga
berencana, pelayanan gizi, dan pelayanan pencegahan dan pengendalian
penyakit.
2) UKM pengembangan, dilaksanakan setelah Puskesmas mampu
melaksanakan UKM esensial secara optimal, mengingat keterbatasan
sumber daya dan adanya prioritas masalah kesehatan.
3) UKP, yang berupa rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan satu
hari (one day care), home care; dan/atau rawat inap berdasarkan
pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.
b. Pelaksanaan manajemen Puskesmas dalam penyelenggaraan kegiatan,
meliputi:
1) Proses penyusunan perencanaan, penggerakan pelaksanaan dan
pelaksanaan penilaian kinerja;
2) Manajemen sumber daya termasuk manajemen sarana, prasarana, alat,
obat, sumber daya manusia dan lain-lain;
3) Manajemen keuangan dan Barang Milik Negara/Daerah
4) Manajemen pemberdayaan masyarakat;
5) Manajemen data dan informasi; dan
6) Manajemen program, termasuk Program Indonesia Sehat dengan
Pendekatan Keluarga.
7) Mutu pelayanan Puskesmas, meliputi:
Penilaian input pelayanan berdasarkan standar yang ditetapkan.
Penilaian proses pelayanan dengan menilai tingkat kepatuhannya
terhadap standar pelayanan yang telah ditetapkan.
Penilaian output pelayanan berdasarkan upaya kesehatan yang
diselenggarakan, dimana masing-masing program/kegiatan
mempunyai indikator mutu sendiri yang disebut Standar Mutu
Pelayanan (SMP). Sebagai contoh: Angka Drop Out Pengobatan
pada pengobatan TB Paru.
Penilaian outcome pelayanan antara lain melalui pengukuran tingkat
kepuasan pengguna jasa pelayanan Puskesmas dan pencapaian target
indikator outcome pelayanan.
Selanjutnya dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Puskesmas, Puskesmas
wajib diakreditasi oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang
ditetapkan oleh Menteri, secara berkala paling sedikit 3 (tiga) tahun sekali.
B.2. Pelaksanaan penilaian kinerja Puskesmas
a. Di tingkat Puskesmas:
1) Kepala Puskesmas membentuk tim kecil Puskesmas untuk melakukan
kompilasi hasil pencapaian.
2) Masing-masing penanggung jawab kegiatan melakukan pengumpulan data
pencapaian, dengan memperhitungkan cakupan hasil (output) kegiatan dan
mutu bila hal tersebut memungkinkan.
3) Hasil kegiatan yang diperhitungkan adalah hasil kegiatan pada periode
waktu tertentu. Penetapan periode waktu penilaian ini dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bersama Puskesmas. Sebagai contoh
periode waktu penilaian adalah bulan Januari sampai dengan bulan
Desember.
4) Data untuk menghitung hasil kegiatan diperoleh dari Sistim Informasi
Puskesmas, yang mencakup pencatatan dan pelaporan kegiatan Puskesmas
dan jaringannya; survei lapangan; laporan lintas sektor terkait; dan laporan
jejaring fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya.
5) Penanggung jawab kegiatan melakukan analisis terhadap hasil yang telah
dicapai dibandingkan dengan target yang ditetapkan, identifikasi
kendala/hambatan, mencari penyebab dan latar belakangnya, mengenali
faktor-faktor pendukung dan penghambat.
6) Bersama-sama tim kecil Puskesmas, menyusun rencana pemecahannya
dengan mempertimbangkan kecenderungan timbulnya masalah (ancaman)
ataupun kecenderungan untuk perbaikan (peluang).
7) Dari hasil analisa dan tindak lanjut rencana pemecahannya, dijadikan
dasar dalam penyusunan Rencana Usulan Kegiatan untuk tahun (n+2). n
adalah tahun berjalan.
8) Hasil perhitungan, analisis data dan usulan rencana pemecahannya
disampaikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang selanjutnya akan
diberi umpan balik oleh Dinas Kesehatan.
b. Di tingkat Kabupaten/Kota:
1) Menerima rujukan/konsultasi dari Puskesmas dalam melakukan
perhitungan hasil kegiatan, menganalisis data dan membuat pemecahan
masalah.
2) Memantau dan melakukan pembinaan secara integrasi lintas program
sepanjang tahun pelaksanaan kegiatan Puskesmas berdasarkan urutan
prioritas masalah.
3) Melakukan verifikasi hasil penilaian kinerja Puskesmas dan menetapkan
kelompok peringkat kinerja Puskesmas.
4) Melakukan verifikasi analisis data dan pemecahan masalah yang telah
dibuat Puskesmas dan mendampingi Puskesmas dalam pembuatan rencana
usulan kegiatan.
5) Mengirim umpan balik ke Puskesmas dalam bentuk penetapan kelompok
tingkat kinerja Puskesmas.
6) Penetapan target dan dukungan sumber daya masing-masing Puskesmas
berdasarkan evaluasi hasil kinerja Puskesmas dan rencana usulan kegiatan
tahun depan.
B.3. Penyajian
Pengelompokan Puskesmas berdasarkan hasil penilaian kinerjanya ditetapkan,
setelah ada verifikasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, terhadap hasil
penilaian kinerja Puskesmas yang telah disampaikan.
3.2 Manajemen Upaya Pelayanan Kesehatan

Dalam Kepmenkes RI. No 128 tahun 2004 dinyatakan bahwa Puskesmas

dibagi dalam 3 fungsi utama, yaitu pertama, sebagai penyelenggara Upaya Kesehatan

Masyarakat (primer) tingkat pertama di wilayahnya. Kedua, sebagai pusat penyedia

data dan informasi kesehatan di wilayah kerjanya sekaligus dikaitkan dengan

perannya sebagai penggerak pembangunan berwawasan kesehatan di wilayahnya dan

ketiga, sebagai penyelenggara Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) primer/tingkat

pertama yang berkualitas dan berorientasi pada pengguna layanan. Puskesmas

Perawatan Ngletih telah melaksanakan berbagai upaya kesehatan sesuai dengan

Permenkes 75 tahun 2014, yaitu Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) dan Upaya

Kesehatan Masyarakat baik UKM essensial maupun pengembangan (RUK

Puskesmas Perawatan Ngletih, 2017).

3.2.1 Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)

UKM merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat

serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan

menanggulangi timbulnya masalah kesehatan keluarga, kelompok dan masyarakat.

Dalam menyelenggarakan UKM, puskesmas berwenang untuk (PMK No 39, 2016) :

a. Melaksanakan perencanaanberdasarkan analisis masalahkesehatanmasyarakat

dan analisis kebutuhan pelayanan angdiperlukan;

b. Melaksanakanadvokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan;

c. Melaksanakan KIE dan pemberdayaanmasyarakat dalam bidang kesehatan;


d. Menggerakkan msyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah

kesehatan;

e. Melakssanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya

kesehatan berbasis masyayarakat;

f. Melaksanakan pencatatan, pelaporan,dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan

cakupan pelayanan kesehatan; dan

g. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk

dukungan terhadap system kewaspadaandini dan respon penanggulangan

penyakit .

Puskesmas Perawatan Ngletih sebagai puskesmas yang melakukan upaya

kesehatan di wilayah kerjanya, melaksanakan beberapa upaya kesehatan masyarakat

wajib dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan. Adapun kegiatan UKM

Essensial di Puskesmas Perawatan Ngletih meliputi Promosi Kesehatan, Upaya

Kesehatan Lingkungan, KIA-KB yang bersifat UKM, gizi yang bersifat UKM,

pencegahan dan pengendalian penyakit, keperawatan kesehatan masyarakat.

Sedangkan UKM pengembangan meliputi upaya kesehatan sekolah, kesehatan jiwa,

kesehatan gigi masyarakat, kesehatan tradisional komplementer, kesehatan olahraga,

kesehatan indera, kesehatan lansia, kesehatan kerja dan kesehatan remaja, kesehatan

haji. (RUK Puskesmas Perawatan Ngletih, 2017)

3.2.2 Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)

Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh

pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan

kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan


perorangan. UKP mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit,

pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan

yang ditujukan terhadap perorangan. UKP pada Puskesmas Perawatan Ngletih terdiri

dari Poli Umum, Kesehatan Gigi dan Mulut, KIA KB yang bersifat UKP, Gawat

Darurat, Gizi yang bersifat UKP, Persalinan, Rawat Inap, Kefarmasian,

Laboratorium, Radiologi. (Laporan Tahunan Puskesmas Perawatan Ngletih, 2017)

Unit Rawat Jalan

Petugas loket bertugas meliputi mendaftar pasien yang datang berobat, mencatat

pasien baru ke buku dan ke komputer setiap hari, mengisi identitas pasien di kartu

rawat jalan dan kartu resep, mengisi kartu tanda pengenal pasien, mencatat hasil

penerimaan retribusi di buku bantu, dan menyusun Kartu Rawat Jalan pasien pada rak

status sesuai urutan nomor kode.

Perawat bertugas meliputi mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan pada

unit gawat darurat, melaksanakan asuhan keperawatan, membantu dokter umum

dalam melaksanakan anamnesa, melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital (tensi

darah, nadi, respirasi, temperatur), melakukan tindakan medis sesuai advis dokter,

melakukan penyuluhan atau KIE dan promosi kesehatan terhadap individu, keluarga,

kelompok, masyarakat, melaksanakan pelayanan di unit gawat darurat, safari

kesehatan dan P3K, melaksanakan pencatatan, pelaporan, pengolahan dan analisa

data hasil kegiatannya serta merencanakan dan melaksanakan upaya tindak lanjut,

menjaga, memelihara dan bertanggung jawab atas sarana dan prasarana di unit gawat

darurat, melaksanakan tugas dinas lainnya yang diberikan oleh atasan.


Tugas pokok dokter meliputi melaksanakan pelayanan medik sesuai SOP, Standar

Pelayanan Minimal (SPM), tata kerja dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh

Kepala Puskesmas, mengidentifikasi, merencanakan, memecahkan masalah,

mengevaluasi program kesehatan, memberikan penyuluhan kesehatan dengan

pendekatan promotif dan edukatif, menyusun laporan dan rekam medik yang baik,

lengkap serta dapat dipertanggung jawabkan termasuk memberi kode diagnosa

menurut ICD X, melaksanakan dan meningkatkan mutu pelayanan Puskesmas. Tugas

integrasi menjadi Tim Dokter Pelatihan TIWISADA di sekolah dasar di wilayah kerja

Puskesmas, menjadi Tim Dokter dalam program Imunisasi di sekolah dasar di

wilayah kerja puskesmas, menjadi Tim Dokter dalam kegiatan Skrining Siswa

Sekolah di wilayah kerja puskesmas.

Unit Rawat Inap

Puskesmas rawat inap dikembangkan dalam rangka meningkatkan jangkauan

masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu dan untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat pada pelayanan rawat inap. Puskesmas rawat inap adalah

puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong pasien gawat

darurat, baik berupa tindakan operatif terbatas maupun asuhan keperawatan

sementara dengan kapasitas kurang lebih 10 tempat tidur. Rawat inap itu sendiri

berfungsi sebagai rujukan antara yang melayani pasien sebelum dirujuk ke institusi

rujukan yang lebih mampu, atau dipulangkan kembali ke rumah. Kemudian

mendapat asuhan perawatan tindak lanjut oleh petugas perawat kesehatan

masyarakat dari puskesmas yang bersangkutan di rumah pasien (Depkes RI, 2009).
Kriteria pengembangan puskesmas rawat jalan menjadi puskesmas rawat inap yaitu

(Depkes RI, 2009) :

1. Puskesmas terletak kurang lebih 20 km dari Rumah Sakit

2. Puskesmas mudah dicapai dengan kendaraan bermotor

3. Puskesmas dipimpin oleh dokter dan telah mempunyai tenaga yang

memadai

4. Jumlah kunjungan Puskesmas minimal 100 orang per hari

5. Penduduk wilayah kerja puskesmas dan penduduk wilayah 3

Puskesmas di sekitarnya minimal 20.000 jiwa per Puskesmas

6. Pemerintah Daerah bersedia menyediakan dana rutin yang memadai.

Tujuan puskesmas rawat inap sama dengan tujuan puskesmas rawat jalan

ditambah dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

rawat inap yang murah dan bermutu. Struktur organisasi rawat inap sama dengan

struktur organisasi rawat jalan dengan menambah upaya kesehatan perorangan

terdiri dari UKP rawat jalan dan UKP rawat inap.

Uraian tugas puskesmas rawat inap sama dengan uraian tugas puskesmas

rawat jalan dengan menambah uraian tugas koordinator upaya rawat inap. Jenis

pelayanan puskesmas rawat inap sama dengan jenis pelayanan puskesmas rawat

jalan dengan menambah:

Pelayanan UGD 24 jam dan 7 hari dalam seminggu

Pelayanan rawat inap

Pelayanan penunjang klinik (pelayanan laboratorium)


Jam pelayanan puskesmas Ngletih yaitu pukul 07.30-11.30 WIB,

pengecualian untuk pelayanan UGD, rawat inap, dan laboratorium yaitu selama 24

jam (on call). Rekam medis puskesmas rawat inap berbeda dengan rekam medis

puskesmas rawat jalan. Laporan pasien rawat jalan akan dimasukkan ke data

komputer sesuai identitas pasien berdasarkan KTP dan wilayah kerja berdasarkan

kelurahan (Ngletih, Bawang, Tempurejo, Ketami), luar kota (dalam satu kotamadya)

dan kabupaten, akantetapi kedua rekam medis menggunakan kode register yang

sama.

Pencatatan pada upaya rawat inap terdiri sembilan pencatatan yang terdiri

rekam medis rawat inap, register pasien rawat inap, catatan medis rawat inap,

formulir asuhan keperawatan rawat inap, resume rawat inap, surat rujukan, informed

consent, resep, pemeriksaan laboratorium (Hidayati, Nur, Chatarina, U, dan Windhu,

Purnomo, 2015).

Penilaian standar Puskesmas rawat inap adalah adanya pencatatan, pelaporan

dan visualisasi data, pelaporan dilakukan setiap bulannya ke Dinas Kesehatan.

Pelaporan pada upaya rawat inap terdiri dari pelaporan yaitu laporan harian, laporan

bulanan, BOR, LOS dan laporan 10 penyakit terbanyak (Dinkes Provinsi Jatim,

2013).

Pencatatan pelaporan dan visualisasi data puskesmas rawat inap sama dengan

pencatatan pelaporan dan visualisasi data puskesmas rawat jalan dengan menambah

(Perencanaan Tingkat Puskesmas, 2016).:

Manajemen dan administrasi: Terdiri dari manajemen operasional dan

manajemen mutu.
Sumber daya: Terdiri dari ketenagaan, keuangan, peralatan (pengelolaan barang

dan aset), upaya pelayanan kefarmasian dan obat-obatan

1. Mengambil nomer antrian warna hijau (lansia> 60


Pasien
tahun, bumil, balita, penyakit khusus (TB, HIV, DM)),
wana putih (selain warna hijau), warna merah muda
(pasien baru dan atau pasien lama yang lupa membawa
Loket (Pendaftaran) kartu)
2. Petugas meminta no antrian + dan menanyakan pasien
baru atau pasien lama, untuk pasien lama diminta
Menentukan apakah kartu kuning
pasien periksi ke BP, 3. Pasien baru : ditanyakan punya kartu berobat apa
KIA, Poli Gigi (JKD, BPJS yang PPK di pkm ngletih ) atau umum (
fotokopi KTP, KK) dibuatkan RM berbentuk family
folder
Ruang Periksa Dokter 4. Pasien lama : dicari RM yang sebelumnya
5. Pasien baru dicatat di entry data komputer dan dibuku
bantu per kelurahan wil. Puskesmas ngletih, kota luar
Poli wilayah, kabupaten, luar kota
penunjang: 6. Seluruh pasien dicatat di buku register (Nama, umur,
Laboratorium alamat,KK, Px baru/lama, sistem pembayaran)
7. Px mendapat kartu periksa (Nama, Umur, Pekerjaan,
Alamat, No.RM)
8. Px mendapat less + kertas resep untuk di bawa ke poli
Rujukan resep Inap (umum, gigi, KIA)
Internal
(Lab,gizi,u
nit Loket (Apotek) 1. Petugas RM memberikan kertas resep+ less (Nama,
IMS/HIV, alamat, sex, umur,tgl, pemeriksaan, pengobatan ) pada
sanitasi, pegawai poli (ditumpuk dan dipanggil sesuai urutan)
unit Pengambilan 2. Pemeriksaan TTV
TB/Kusta)
atau obat
1.Pegawai poli mengambil RM pasien yang sudah di TTV
rujukan
dan memanggil sesuai urutan
eksternal
Pasien Pulang 2.Dokter periksa pxtulis di less (tgl, pemeriksaan,
pengobatan),

Px. Umum kasir

Gambar Alur Pelayanan Medik


(Sumber:Puskesmas PerawatanNgletih 2016)
UGD POLI UMUM

PEMERIKSAAN DOKTER
(ANAMNESA & LABORATORIUM)

Tidak
SESUAI
KRITERIA PULANG/RAWAT JALAN

Ya

ADMINISTRASI RAWAT INAP

PASIEN BPJS/JKD PASIEN UMUM

FC BPJS/JKD, KK, KTP FC KK, KTP

MASUK RUANG RAWAT INAP

RAWAT DENGAN TINDAKAN AWAL

PERAWATAN DAN MONITORING PASIEN

KEADAAN KLINIK MEMBAIK/SEMBUH KEADAAN KLINIK TIDAK MEMBAIK MENINGGAL

ADMNISTRASI RAWAT INAP ADMINISTRASI RAWAT INAP ADMINISTRASI RAWAT INAP

PULANG RUJUK PULANG

Gambar Alur Pelayanan Pasien Rawat Inap


( Sumber: Puskesmas Perawatan Ngletih 2016)
Pasien

Loket

BP UGD

Triase

Merah Kuning Hijau


Pasien Gawat dan Darurat Pasien tidak Gawat tapi Pasien tidak Gawat tidak
Pelayanan Pertama Darurat Darurat
Pelayanan Kedua Pelayanan Ketiga

Rujuk RS Rujuk RS Rujuk RS Rujuk RS Rujuk RS

Gambar Alur Pelayanan Pasien UGD


( Sumber: Puskesmas Perawatan Ngletih 2016)

3.3 Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)

Penyelenggaraan layanan kesehatan masyarakat melalui puskesmas merupakan

kegiatan yang membutuhkan proses pencatatan dan pengolahan data yang cukup

kompleks. Dibutuhkan suatu sistem informasi yang dapat menangani berbagai macam

kegiatan operasional puskesmas mulai dari pengolahan data registrasi pasien, data

rekam medis pasien, farmasi, keuangan, hingga berbagai laporan bulanan, tribulan,

dan tahunan. Sebagai bahan evaluasi tentunya sistem yang berjalan perlu adanya

perubahan sistem yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah tersebut, salah

satunya membangun Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) secara

terpadu dan handal. SIMPUS adalah program sistem informasi kesehatan daerah yang
memberikan informasi tentang segala keadaan kesehatan masyarakat di tingkat

puskesmas mulai dari data diri orang sakit, ketersediaan obat sampai data penyuluhan

kesehatan masyarakat (Cahyaningrum, Nopita, 2013).

Tujuan umum

Meningkatkan kualitas manajemen puskesmas secara lebih berhasil

guna dan berdaya guna, melalui pemanfaatan secara optimal data sistem

pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP) maupun informasi

lainnya yang menunjang kegiatan pelayanan (Wibisono, Setyawan dan Siti,

Munawaroh, 2012).

Tujuan khusus

a. Sebagai pedoman penyusunan perencanaan tingkat puskesmas (PTP)

dan pelaksanaan kegiatan pokok puskesmas melalui mini lokakarya

(minlok).

b. Sebagai dasar pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pokok

Puskesmas (PWS dan Stratifikasi Puskesmas).

c. Untuk mengatasi berbagai hambatan pelaksanaan program pokok

puskesmas (Wibisono, Setyawan dan Siti, Munawaroh, 2012).

3.3.1 Pencatatan Pasien

Pencatatan pasien dilakukan dalam suatu rekam medik. Rekam medis

adalah keterangan baik yang tertulis maupun terekam tentang identitas,

anamnesa, penentuan fisik, laboratorium, diagnosa segala pelayanan dan

tindakan medik yang diberikan kepada pasien dan pengobatan baik yang
dirawat inap, rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat.

(PMK No 36, 2012).

Pencatatan pasien rawat jalan saat jam pelayanan di puskesmas

perawatan Ngletih menggunakan sistem manual pada buku register dengan

format nomor register, identitas (meliputi nama, usia, jenis kelamin, alamat),

diagnosis sesuai dengan ICD 10 dan terapi yang diberikan. Pencatatan pasien

rawat inap atau pasien rawat jalan di luar jam pelayanan juga menggunakan

sistem manual dimana setiap pasien dicatat dalam buku register UGD dan rawat

inap. Register rawat jalan UGD memiliki format nomer urut, tanggal, nama

penderita, umur, alamat, anamnesa, keterangan pulang, MRI atau rujuk, terapi,

retribusi, tindakan dan total pembayaran. Sedangkan format register rawat inap

meliputi tanggal, nomer urut, nomer register, nama penderita, nama KK, umur,

jenis kelamin, alamat, anamnesa, asal penderita, diagnosis awal dan akhir,

keterangan rawat inap/ rawat jalan/ dirujuk, dan keterangan. Format pencatatan

pasien di puskesmas perawatan ngletih dalam hal keluhan utama, anamnesis,

hasil pemeriksaan fisik, diagnosis, dan terapi sudah cukup bagus karena

dipisahkan dalam bentuk tabel berdasarkan format SOAP (Subjective, Objective,

Assesment, Planning).

Dokumen rekam medis (RM) rawat jalan disimpan di loket rawat jalan

di ruang pendaftaran, sedangkan rekam medis rawat inap disimpan di ruang

rekam medis rawat inap. RM rawat jalan disimpan di lemari rekam medik yang

terletak di dalam ruangan pendaftaran (di dekat ruang tunggu pasien rawat jalan)
dengan sistem jajar sesuai urutan nomor indeks pasien dan kode wilayah.

Adapun kode wilayah pada RM disusun berdasarkan warna, yaitu:

01 Hijau : Wilayah Ketami

02 Kuning : Wilayah Tempurejo

03 Ungu : Wilayah Ngletih

04 Biru : Wilayah Bawang

05 Pink : luar wilayah Ngletih, tetapi dalam kota

06 -09 Hitam/Merah : Kabupaten


o Alur Pencatatan Pasien Rawat Jalan

Pasien 1. Mengambil nomer antrian warna hijau (lansia> 60 tahun, bumil, balita,
penyakit khusus (TB, HIV, DM)), wana putih (selain warna hijau), warna
merah muda (pasien baru dan atau pasien lama yang lupa membawa kartu)
2. Petugas meminta no antrian + dan menanyakan pasien baru atau pasien
lama, untuk pasien lama diminta kartu kuning
3. Pasien baru : ditanyakan punya kartu berobat apa (JKD, BPJS yang PPK di
Loket (Pendaftaran) pkm ngletih ) atau umum ( fotokopi KTP, KK) dibuatkan RM berbentuk
family folder
4. Pasien lama : dicari RM yang sebelumnya
5. Pasien baru dicatat di entry data komputer dan dibuku bantu per kelurahan
wil. Puskesmas ngletih, kota luar wilayah, kabupaten, luar kota
6. Seluruh pasien dicatat di buku register (Nama, umur, alamat,KK, Px
Menentukan apakah baru/lama, sistem pembayaran)
pasien periksi ke BP, 7. Px mendapat kartu periksa (Nama, Umur, Pekerjaan, Alamat, No.RM)
8. Px mendapat less + kertas resep untuk di bawa ke poli (umum, gigi, KIA)
KIA/ UGD

BP (umum, gigi, Setiap RM yangkeluar diberi penanda / pembatas


KIA)

1. Petugas RM memberikan kertas resep+ less (Nama, alamat, sex,


Ruang Pemeriksaan TTV umur,tgl, pemeriksaan, pengobatan ) pada pegawai poli (ditumpuk
dan dipanggil sesuai urutan) dan jenis kunjungan

1. Pegawai poli mengambil RM pasien yang sudah di TTV dan


memanggil sesuai urutan
Ruang Periksa Dokter
2. Dokter periksa pxtulis di less(tgl, pemeriksaan, pengobatan),
less ditinggal di BP+buku registermemberi resep

Less dikembalikan ke loket oleh pegawai yang


Data bertugas setelah selesai balai pengobatan
Kemudian oleh petugas loket diperiksa kembali
kelengkapan data.

Data direkap oleh perawat yang bertugas di poli dan setiap


tanggal 25 dikumpulkan meliputi tgl, nama, alamat, umur,
jenis kelamin, Dx, Tx, jenis pembayaran dan dilaporkan ke
bagian SP2TP

Gambar Alur Pencatatan Pasien Rawat Jalan


( Sumber: Puskesmas Perawatan Ngletih 2016)
o Alur Pencatatan Pasien Rawat Inap / Jalan di UGD

1. Px datang dicatat di buku register UGD : no


Pasien urut (tanpa ada nomer register), nama, umur,
alamat, Ax, Dx, tindakan, Pembiayaan
(umum, subsidi, jamkesda, BPJS),
Rawat Jalan 2. dilakukan pemeriksaanresepapotek
UGD
KRS

Memakai Register rawat inap dicatat identitas px di buku rawat inap


Rawat inap ( no urut, no RM, nama, umur, jenis kelamin, alamat, Ax, Dx,
tindakan pertolongan, Pembiayaan (umum, subsidi, jamkesda, BPJS)

Observasi Px diobservasi setiap hari dan setiap pemeriksaan ditulis


di lembar status px

Perincian dan pembayaran dilakukan di ruang R. Inap


KRS Untuk retur obat dilakukan di loket 5 (apotek)
Ditulis secara manual Laporan pulangtgl masuk, tanggal keluar,
nama, alamat, dx, jumlah hari perawatan (manual)

Data Px direkap oleh kepala ruang perawatan meliputi (tgl


masuk, tanggal keluar, nama, alamat, dx, jumlah hari
perawatan) secara komputerisasi hardcopy dikumpulkan tgl
25 setiap bulannya ke bagian SP2TP

Less px yang telah KRS ditumpuk diruang RM rawat


inap sudah diurutkan sesuai dengan no RM

Gambar Alur Pencatatan Pasien Rawat Inap


( Sumber:Puskesmas Perawatan Ngletih 2016)

Cara pencatatan nomor register rawat jalan:

01 ketami (hijau), 02 tempurejo (kuning), 03 ngletih (ungu), 04 bawang

(biru), 05 kota dalam wilayah (pink), 06 kabupaten (merah).


8 digit no rekam medis

Cara pencatatan nomor rekam medis:

- Dua digit pertama merupakan kode wilayah

- Nomer selanjutnya merupakan no indeks pasien

Cara pencatatan nomor register rawat inap:

Tiga digit pertama merupakan nomor rekam medis

Dua digit kedua merupakan bulan

Dua digit terakhir merupakan tahun

Untuk pencatatan dan pelaporan di puskesmas dibagi sebagai berikut :

KIA, pasien TB, dan kusta dilakukan oleh perawat yang ditunjuk.

Rawat jalan dilakukan oleh perawat yang ditunjuk.

Rawat inap dilakukan oleh perawat yang ditunjuk.

Farmasi dilakukan oleh petugas di gudang obat.

Kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, gizi, kesehatan keluarga

dilakukan oleh perawat.

Semua laporan tersebut diserahkan kepada petugas SP2TP setiap tanggal 25

setiap bulannya. Petugas SP2TP nantinya akan menyerahkan laporan tersebut

kepada kepala puskesmas untuk di setujui pada tanggal 30 atau tanggal 1. Setelah

itu, petugas SP2TP akan menyimpan dan mencetak, serta melaporkan kepada

Dinas Kesehatan sebelum tanggal 5 pada laporan bulanan.


3.3.2 Pelaporan

Laporan yang terdapat dalam SIMPUS terdiri dari:

LB I : Isi laporan bulanan data kesakitan

LB 2 : Isi laporan pemakaian dan lembar permintaan obat

LB 3 : Isi laporan bulanan gizi, KIA, imunisasi, dan P2M

LB 4 : Isi laporan bulanan kegiatan Puskesmas

Pelaksanaan SP2TP terdiri dari 3 kategori, yaitu :

a. Pencatatan (dengan menggunakan format)

b. Pengiriman laporan (menggunakan format secara periodik)

c. Pengolahan, analisis dan pemanfaatan data atau informasi.

Laporan Tahunan dilaporkan tiap akhir tahun yang mencakup :

a) Data dasar puskesmas (LT-1)

b) Data Kepegawaian (LT-2)

c) Data Peralatan (LT-3)

o Alur Pelaporan Pelayanan Medis

Data 1 bulan direkap secara manual (BP, gigi, KIA, UGD, Rawat inap) meliputi
nama, umur, jenis kelamin, alamat, Ax, Dx, tindakan pertolongan, Pembiayaan
(umum, jamkesda, subsidi, BPJS),jumlah hari perawatan.
Dikumpulkan di loket bagian SP2TP yang mengumpulkan PJ (kepala ruangan,
petugas yang ditunjuk) setiap bulan tanggal 25

Bagian SP2TP merekap dan menganalisa


1. Data Dasar Puskesmas
2. Pelayanan Kesehatan
3. Laporan Kesehatan Keluarga
4. Laporan tentang Gizi
5. Laporan KLB/Wabah (Bila ada)
6. Laporan P2
7. Laporan Kesehatan Lingkungan
8. Laporan Promosi Kesehatan
Setelah itu diserahkan kepada kepala puskesmas setiap tanggal
30, kemudian disetujui dan ditandatangani

Sebelum tanggal 5 diserahkan ke dinas kesehatan tingkat II


3.4 Manajemen Ketenagaan

Mengingat keberhasilan suatu unit kerja sangat dipengaruhi sumber daya

manusianya, maka manajemen ketenagaan memegang peranan yang cukup penting.

Sistem pelaporan ketenagaan dilaporkan minimal setiap 1 bulan sekali atau

menyesuaikan permintaan dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Permasalahan

ketenagaan yang mungkin terjadi, diselesaikan bersama dahulu di tingkat Puskesmas,

lalu dikonsultasikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten jika masih belum ditemukan

penyelesaiannya. Jenis ketenagaan yang terdapat di Puskesmas Ngletih terdiri dari 2

macam, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Non PNS.

Tabel 3.4 Penempatan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Perawatan Ngletih Kediri


Tahun 2016
Jenis
No Ketenagaan
PNS Non PNS Jumlah
1 Medis
a. Dokter Umum 3 2 5
b.Dokter Gigi 3 0 3
c. Dokter Spesialis - - -
2 Perawat 13 9 22
Perawat gigi - 1 1
Bidan 9 11 20
3 Kefarmasian
a.Asisten Apoteker 2 - 2
b. Apoteker 2 - 2
4 Kesehatan Masyarakat
a. Entomolog 1 - 1
b. Epidemiolog 2 1 3
c. Sanitarin 1 - 1
5 Gizi 2 - 2
Teknisi Medis
a. Analis Kesehatan 3 1 4
b. Radiografer - - 0
c. Perekam medis 0 0 0
Tenaga Non Kesehatan
1 Adminitrasi - 4 4
2 Supir - 2 2
3 Cleaning Service - 2 2
4 Penjaga malam 1 - 1
Jumlah 42 33 75
(Sumber:Rekapitulisasi Tenaga Puskesmas Perawatan Ngletih Kediri Tahun 2016)

3.5 Manajemen Keuangan

Menurut SKN 2009, sub sistem pembiayaan terdiri dari tiga unsur utama, yakni

pengendalian dana, alokasi dana, dan pembelanjaan. Penggalian dana adalah kegiatan

menghimpun dana yang diperlukan untuk penyelenggaraan upaya kesehatan dan atau

pemeliharaan kesehatan. Alokasi dana adalah penetapan peruntukan pemakaian dana

yang telah berhasil dihimpun, baik yang bersumber dari pemerintah, masyarakat,

maupun swasta Pembelanjaan adalah pemakaian dana yang telah dialokasikan dalam

anggaran pendapatan dan belanja sesuai dengan peruntukannya dan atau dilakukan

melalui jaminan pemeliharaan kesehatan wajib atau sukarela. Pengelolaan dana yang

optimal dan efisien mutlak diperlukan untuk mencapai tujuan peningkatan derajat

kesehatan (SKN, 2009).

Pembiayaan operasional Puskesmas Perawatan Ngletih tahun 2016 berasal dari

berbagai sumber yaitu Subsidi, Non Subsidi, Jaminan Kesehatan Daerah (JKD), dan

BPJS. Rekapitulasi belanja diterima dari dinas untuk dana Subsidi, Non Subsidi dan

JKD. Berdasarkan laporan keuangan Puskesmas Perawatan Ngletih Tahun 2016,

sumber biaya berasal dari Jamkesda, Subsidi, Non Subsidi, Kapitasi dan Non

Kapitasi. Pendapatan berasal dari 60% jasa pelayanan, 20 % obat dan 20%

operasional PKM (Laporan Keuangan Puskesmas Perawatan Ngletih Tahun 2016).


Tabel 3.5.Kunjungan Pasien berdasarkan Status Pembayaran

Kunjungan pasien Jumlah Prosentase (%)

Umum 1.561 20,65

Jamkesda 1,057 13,98

BPJS 4.942 65,37

Total 7.560 100

(Sumber: Puskesmas Perawatan Ngletih, 2017)

Data di atas menunjukkan bahwa kunjungan pasien terbanyak bulan Januari-Mei

2017 adalah dengan cara pembayaran BPJS, yaitu sebanyak 65,37%, 20,65%

membayar dengan memakai umum, dan 13,98 % adalah Jamkesda.

3.6 Manajemen Sarana dan Prasarana

Untuk menunjang kegiatan Puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan

kepada masyarakat tentunya diperlukan fasilitas-fasilitas, baik tenaga medis maupun

paramedis. Ketersediaan sarana fisik sebagai bagian dari puskesmas juga memegang

peranan yang penting. Adapun sarana yang merupakan bagian dari puskesmas yaitu:

Puskesmas Pembantu (Pustu)

Adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang

serta membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam

ruang lingkup wilayah yang lebih kecil. Puskesmas Pembantu mempunyai tugas,

yaitu :

a. membantu melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan UPTD dalam ruang

lingkup wilayah yang lebih kecil


b. melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui pelayanan

kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, imunisasi dan

pengobatan sederhana

c. melaksanakan penyuluhan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam

wilayah kerja tertentu yang ditetapkan Kepala UPTD

d. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala UPTD sesuai

dengan tugas dan fungsinya

Posyandu

Adalah merupakan salah satu bentuk upaya keehatan Bersumberdaya

Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, guna

memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam

memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

Pos kesehatan kelurahan (Poskeskel)

Adalah upaya kesehatan bersumberdaya kesehatan bersumberdaya masyarakat

yang dibentuk di kelurahan dalam rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan

kesehatan dasar bagi masyarakat .

Tabel 3.6. Data Sarana Kesehatan di Puskesmas Perawatan Ngletih 2016

No Uraian Jumlah

1 Puskesmas 1

2 Puskesmas Pembantu 3

3 Puskesmas Keliling -

4 Kendaraan operasional (sepeda motor) 10


5 Pondok Bersalin Desa (Polindes) -

6 Pos Kesehatan Kelurahan (Poskeskel) 2

7 BP / RB Swasta 1

8 RS Swasta -

9 Posyandu

Lansia 19

Balita 23

10 Praktek dokter

a. Umum 5

b. Gigi 3

11 Bidan wilayah 3

Jumlah 60

(Sumber: Penilaian Kinerja Puskesmas Perawatan Ngletih Kediri 2016)

Laporan mengenai keadaan sarana fisik maupun sarana medik dilakukan

setiap bulan. Terdapat 3 macam laporan, antara lain laporan pengadaan barang

(inventaris puskesmas), laporan perbaikan/perawatan barang, dan laporan mutasi

barang. Laporan tersebut akan ditujukan ke sekretaris daerah bagian umum

dengan tembusan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Daerah Tingkat II. Laporan ini

memuat keadaan dari sarana fisik dan medik secara lengkap yang terdapat di

wilayah kerja Puskesmas yang diketahui oleh Kepala Puskesmas. Untuk sarana

habis pakai yang tidak mendapatkan sarana dan prasarana yang baru, maka

Puskesmas mengajukan permohonan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Daerah


Tingkat II untuk mendapatkan penggantinya. Adapun daftar sarana medis dan non

medis di Puskesmas Perawatan Ngletih terdapat pada lampiran 7.

3.7 Efisiensi dan Tingkat Kepuasan Puskesmas

Puskesmas Ngletih merupakan puskesmas dengan fasilitas rawat inap. Dalam

memantau dan menilai tingkat efisiensi pelayanan kesehatan pada puskesmas

rawat inap, maka digunakan efisiensi penggunaan tempat tidur (TT) dengan empat

parameter yaitu Bed Occupancy Ratio (BOR), Average Length of Stay (AvLOS),

Turn Over Internal (TOI) dan Bed Turn Over (BTO). Sumber data yang dapat

digunakan untuk menghitung parameter tersebut dengan Survei Harian Rawat Inap

(SHRI) . (Dwianto, dan Tri, Lestari, 2013).

Tabel Evaluasi Mutu Pelayanan Ruang Rawat Inap Puskesmas Perawatan Ngletih
Kota Kediri Tahun 2016

No. Bulan Jumlah Jumlah BOR Avlos BTO TOI


Hari (%) (Hari) (Kali) (Hari)
Perawatan
(Hari )
1 Jan 65 195 63 3 7 2
2 Feb 73 207 67 3 7 1
3 Mar 74 243 78 3 7 1
4 Apr 68 217 70 3 7 1
5 Mei 59 207 67 4 6 2
6 Juni 43 120 39 3 4 4
7 Juli 49 142 46 3 5 3
8 Agt 56 185 60 3 6 2
9 Sep 62 197 64 3 6 2
10 Okt 81 256 83 3 8 1
11 Nov 80 264 85 3 8 1
12 Des 78 279 87 3 8 1
Jumlah 788 2503 807,4 37,91 78,8 20,86
Gambar Grafik BOR, AvlOS, BTO, TOI Kunjungan Pasien Rawat Inap Puskesmas
Perawatan Ngletih Kota Kediri Tahun 2016
(Sumber: Laporan BOR Puskesmas Perawatan Ngletih, 2016)

Berdasarkan tabel diatas Bed Occupancy Ratio (BOR) dalam satu tahun ini

menunjukkan berbagai perubahan persentase dimana pada bulan januari-mei

memenuhi standar penggunaan tempat tidur masih dalam rentang 60-85%, kemudian

dibulan juni-agustus berada dibawah standar <60%, dan di tiga bulan terakhir

oktober-desember berada melebihi standar >85% yang berarti hal ini meningkatkan

terjadinya infeksi nosokomial dan mengurangi cadangantempat tidur jika terjadi KLB

(Depkes RI, 2010). Average Length of Stay (AvLOS) dalam satu tahun ini

menunjukkan rata-rata lama perawatan pasien hampir sama yaitu 3-4 hari yang berarti

kualitas perawatan masih baik atau efisien. Turn Over Internal (TOI) dalam satu

tahun ini menunjukkan waktu rata-rata tempat tidur kosong atau waktu antara satu

tempat tidur ditinggalkan oleh pasien sampai ditempati masih efisien yaitu 1-2 hari
(<5 hari) dan Bed Turn Over (BTO) dalam satu tahun ini menunjukkan 78 kali

pergantian, angka ini melebihi nilai efisiensi BTO yaitu 30 (tiga puluh) pasien.

Kepuasan pasien atau masyarakat akan pelayanan yang diberikan oleh

puskesmas sangat dipengaruhi oleh kecepatan dan ketepatan dari para petugas dalam

menangani pasien. Dimulai dari pasien mendaftar hingga pasien tersebut diperiksa

oleh tenaga medis sampai dengan mendapatkan obat untuk penyakit yang

dikeluhkannya (Setyorahayu, 2013). Adapun tingkat kepuasan pasien terhadap

pelayanan Puskesmas Perawatan Ngletih disajikan pada grafik di bawah ini.

70.00 66.18 62.79 64.00


60.71
60.00 52.54
47.46
50.00
39.29
40.00 36.00
32.35 32.56
30.00
20.00
10.00 1.47 4.65
0.00 0.00 0.00
0.00
APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS

TIDAK PUAS PUAS SANGAT PUAS

Gambar 3.10 Grafik Prosentase Kepuasan Pasien Puskesmas Perawatan

Ngletih Kota Kediri Tahun 2016

(Sumber: Laporan Kepuasan Pasien Puskesmas Perawatan Ngletih, 2016)

Salah satu fungsi Puskesmas dalam rangka meningkatkan kesehatan

masyarakat adalah menyediakan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan

terpadu. Fungsi tersebut dapat diwujudkan melalui 14 Upaya Pokok

Kesehatan (UPK). Puskesmas Ngletih berkliblat pada Keputusan Menpan


KEP/25/M.PAN/2/2004 yang memuat 14 unsur pelayanan yang harus diukur,

yaitu :

1. Prosedur Pelayanan

2. Persyaratan Pelayanan

3. Kejelasan Petugas Pelayanan

4. Kedisiplinan Petugas Pelayanan

5. Tanggung jawab Petugas Pelayanan

6. Kemampuan Petugas Pelayanan

7. Kecepatan Pelayanan

8. Keadilan Mendapatkan Pelayanan

9. Kesopanan dan Keramahan Petugas

10. Kewajaran Biaya Pelayanan

11. Kepastian Biaya Pelayanan

12. Kepastian Jadwal Pelayanan

13. Kenyamanan Lingkungan

14. Keamanan Pelayanan

Berdasarkan pengukuran terhadap kualitas 14 unsur pelayanan tersebut

diperoleh hasil skor Indeks KepuasanMasyarakat(IKM) : 78,01 dengan angka

Indeks sebesar 78,02 maka kinerja unit pelayanan ini berada dalam mutu pelayanan

B dengan kategori BAIK, karena berada dalam nilai interval konversi Indeks

Kepuasan Masyarakat 62.51 81.25.


Kategorisasi mutu pelayanan berdasarkan indeks adalah sebagai berikut :

Tabel Kategorisasi Mutu Pelayanan

Nilai Interval Nilai Interval Mutu Kinerja Unit


IKM Konversi IKM Pelayanan Pelayanan

1,00 1,75 25,00 43,75 D TIDAK BAIK

1,76 2,50 43,76 62,50 C KURANG BAIK

2,51 3,25 62,51 81,25 B BAIK

3,26 4,00 81,26 100,00 A SANGAT BAIK

Tabel Nilai Rata-rata (NRR) dan Indeks Kepuasaan Masyarakat (IKM) 14 Unsur

Pelayanan

No. Unsur Pelayanan NRR IKM

1. Prosedur Pelayanan 3,060 76,50

2. Kesesuaian Persyaratan dengan pelayanan 3,115 77,88

3. Kejelasan dan Kepastian Petugas 3,115 77,88


Pelayanan

4. Kedisiplinan Petugas Pelayanan 3,100 77,50

5. Tanggung Jawab Petugas Pelayanan 3,170 78,75

6. Kemampuan Petugas Pelayanan 3,150 78,75

7. Kecepatan Pelayanan 3,085 77,13

8. Keadilan Mendapatkan Pelayanan 3,165 79,13

9. Kesopanan dan Keramahan Petugas 3,165 78,38

10. Kewajaran Biaya Pelayanan 3,155 78,88

11. Kesesuaian Biaya Pelayanan 3,175 79,38

712. Ketepatan Jadwal Pelayanan 3,230 80,75


13. Kenyamanan Lingkungan 3,180 79,50

14. Keamanan Pelayanan 3,115 77,88

(Sumber: Indeks Kepuasan Masyarakat, 2016)

Rata-rata nilai dari suatu unsur pelayanan menunjukkan penilaian

masyarakat terhadap unsur pelayanan tersebut. Unsur-unsur pelayanan dengan

nilai rata-rata atau nilai interval IKM 3,14 atau BAIK merupakan unsur-unsur

pelayanan yang perlu ditingkatkan (Indeks Kepuasan Masyarakat, 2016) .

Dari Tabel dapat dilihat bahwa unsur yang memiliki Nilai

(NRR) tertinggi adalah unsur kenyamanan lingkungan (rata-rata 3,180),

sedangkan unsur dengan Nilai Rata-Rata (NRR) terendah adalah unsur

prosedur pelayanan (rata-rata 3,060). Angka ini menunjukkan bahwa tingkat

kepuasan pelayanan paling tinggi diperoleh dari kenyamanan lingkungan,

sedangkan pada prosedur pelayanan memberikan tingkat kepuasaan paling

rendah. Nilai Rata-Rata semua unsur 3,14 hal ini menggambarkan bahwa

penilaian masyarakat terhadap unsur pelayanan di Puskesmas Perawatan

Ngletih pada umumnya baik dan sudah merasa puas dengan unsur-unsur

pelayanan tersebut. Akan tetapi semua unsur perlu ditingkatkan karena NRR

kurang dari 3,26 (Indeks Kepuasan Masyarakat, 2016).

Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan, maka yang perlu

diprioritaskan adalah pada unsur yang mempunyai nilai paling rendah sampai

unsur yang tertinggi. Proses menciptakan pelayanan publik yang berkualitas,

maka ke14 unsur pelayanan di atas harus ditingkatkan kembali khususnya


unsur Kecepatan Pelayanan dan Kepastian Jadwal Pelayanan (Indeks

Kepuasan Masyarakat, 2016)

3.7 Sistem Rujukan Puskesmas

Sistem rujukan merupakan sistem penyelenggaraan kesehatan dengan

pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit secara

vertikal dan horisontal. Vertikal dalam arti dirujuk ke unit kesehatan yang

lebih mampu, sedang secara horisontal dirujuk ke unit yang setingkat

kemampuannya (Kepmenkes, 2014).

Tujuan sistem rujukan puskesmas adalah sebagai acuan dalam

penatalaksanaan rujukan di Puskesmas Perawatan Ngletih. Rujukan dapat

diberikan yaitu :

- Antar unit dalam puskesmas

- Dari puskesmas ke faskes lanjutan

- Dari Pustu/Ponkesdes ke Puskesmas Induk

1. Prosedur standar merujuk ke unit lain meliputi :

a. Pasien datang, kemudian dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang medik untuk menentukan diagnosa utama dan

diagnosa banding.

b. Jika berdasarkan anamnesa atau pemeriksaan fisik (disertai atau tanpa

pemeriksaan penunjang) ditemukan kelainan lain, maka perlu diberikan

edukasi tambahan di bidang gizi, sanitasi dan lain-lain, maka diperlukan

rujukan antar unit.

2. Prosedur Rujukan dari pustu ke Puskesmas induk


Pada prinsipnya sama dengan merujukan antar unit, hanya saja kemungkinan

dilakukan rujukan adalah karena ketidaktersediaan alat, permohonan surat-

surat, indikasi penyakit yang perlu penanganan lebih lanjut, dan lain-lain.

3. Prosedur standar merujuk ke faskes lanjutan pasien meliputi :

a. Pasien datang, kemudian dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang medic untuk menentukan diagnose utama dan

diagnosa banding.

b. Jika berdasarkan anamnesa atau pemeriksaan fisik (disertai atau tanpa

pemeriksaan penunjang) ditemukan hal-hal yang memenuhi Kriteria

Rujukan sebagai berikut:

1) Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu di atasi.

2) Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata

tidak mampu diatasi.

3) Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi

pemeriksaan harus disertai pasien yang bersangkutan.


4) Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan,

pengobatan dan perawatan di sarana kesehatan yang lebih mampu,

maka pasien direncanakan untuk dirujuk (Permenkes, 2012)

Gambar 3.11 Sistem Rujukan Pasien

(Sumber: SOP Rawat Inap Puskesmas Perawatan Ngletih, 2016)