Anda di halaman 1dari 6

Faktor-faktor yang berhubungan dengan Indeks Massa Tubuh

Usia
Penelitian yang dilakukan oleh Kantachuvessiri, Sirivichayakul, Kaew Kungwal, Tungtrochitr
dan Lotrakul menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia yang lebih tua
dengan IMT kategori obesitas. Subjek penelitian pada kelompok usia 40-49 dan 50-59 tahun
memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas dibandingkan kelompok usia kurang dari 40
tahun. Keadaan ini dicurigai oleh karena lambatnya proses metabolisme, berkurangnya aktivitas
fisik, dan frekuensi konsumsi pangan yang lebih sering.
Kantachuvessiri A, Sirivichayakul C, KaewKungwal J, Tungtrongchitr
R, Lotrakul M. Factors associated with obesity among workers in a
metropolitan waterworks authority. Southeast Asian J Trop Med Public
Health. 2005;36:1057-65.

Jenis kelamin
IMT dengan kategori kelebihan berat badan lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Namun,
angka kejadian obesitas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Data dari
National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) periode 1999-2000 menunjukkan
tingkat obesitas pada laki-laki sebesar 27,3% dan pada perempuan sebesar 30,1% di Amerika.

Genetik
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lebih dari 40% variasi IMT dijelaskan oleh faktor
genetik. IMT sangat berhubungan erat dengan generasi pertama keluarga. Studi lain yang
berfokus pada pola keturunan dan gen spesifik telah menemukan bahwa 80% keturunan dari dua
orang tua yang obesitas juga mengalami obesitas dan kurang dari 10% memiliki berat badan
normal.
Hill JO. Obesity: Etiology in Modern Nutrition in Health and Disease.
Lippincot Wilkins. USA [internet]. 2006 [cited 2013 December 12].
Available from:
http://www.itd.unair.ac.id/files/ebook/htm
Pola makan
Pola makan adalah pengulangan susunan makanan yang terjadi saat makan. Pola makan
berkenaan dengan jenis, proporsi dan kombinasi makanan yang dimakan oleh seorang individu,
masyarakat atau sekelompok populasi. Makanan cepat saji berkontribusi terhadap peningkatan
indeks massa tubuh sehingga seseorang dapat menjadi obesitas. Hal ini terjadi karena kandungan
lemak dan gula yang tinggi pada makanan cepat saji. Selain itu peningkatanporsi dan frekuensi
makan juga berpengaruh terhadap peningkatan obesitas. Orang yang mengkonsumsi makanan
tinggi lemak lebih cepat mengalami peningkatan berat badan dibanding mereka yang
mongkonsumsi makanan tinggi karbohidrat dengan jumlah kalori yang sama.
Abramowitz, M. Diseases and Disorder:Obesity.Smith GS,
editor.Lucent Books.USA;2004. p. 44.

Aktifitas fisik
Aktifitas fisik menggambarkan gerakan tubuh yang disebabkan oleh kontraksi otot menghasilkan
energi ekspenditur. Menjaga kesehatan tubuh membutuhkan aktifitas fisik sedang atau bertenaga
serta dilakukan hingga kurang lebih 30 menit setiap harinya dalam seminggu. Penurunan berat
badan atau pencegahan peningkatan berat badan dapat dilakukan dengan beraktifitas fisik sekitar
60 menit dalam sehari.
Health and Development through PhysicalActivity and Sport.
[internet] World Health Organization.2003. [Cited 23 Januari 2013]
Available from:
http://whqlibdoc.who.int/hq/2003/WHO_NMH_NPH_PAH_03.2.pdf
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
1. Citra tubuh
Salah satu masalah yang dihadapi oleh remaja adalah mendapatkan bentuk tubuh
yang ideal menurut persepsi diri sendiri. Remaja pria lebih memperhatikan tinggi
badannya daripada remaja putri karena mulai adanya ketertarikan untuk membuat
kelompok-kelompok teman dan terhadap lawan jenis, dan adanya prestige jika memiliki
tinggi badan yang ideal.
Mcwilliams M. Nutrition for the growing years. USA: Plycon Press,Inc.1993.

Penelitian yang dilakukan di Jakarta Barat menunjukkan bahwa dari 130 remaja
putri 47,7% diantaranya mengalami distorsi terhadap citra tubuh mereka. Distorsi yang
dimaksud adalah anggapan keadaan tubuh remaja tidak sesuai dengan kondisi yang
sebenarnya.
Samosir IA. Hubungan antara citra tubuh, pola konsumsi, dan aktivitas fisik
dengan status gizi remaja putri SMP kristoforus 2 Jakarta Barat. 2008.

Studi longitudinal yang dilakukan pada remaja putri dan putra Norwegia
menyatakan bahwa remaja putra mempunyai gambaran citra tubuh yang lebih baik
dibandingkan dengan remaja putri. Penelitian ini juga menyatakan bahwa remaja yang
memiliki IMT yang tinggi cenderung untuk memiliki kepuasan terhadap tubuh yang
rendah.
Holsen, Inggrid, Diane CJ, Marianne SB. Body image satisfaction among
Norwegian adolescents and young adults: a longitudinal study of the influence of
interpersonal relationships and BMI. Elsevier: Body image. 2012.p.201-8.

Remaja yang beresiko untuk terkena obesitas atau overweight menunjukkan hasil
yang tinggi untuk ketidakpuasan terhadap citra tubuh mereka. Sebanyak 90% remaja
putra dan 91,7% remaja putri yang overweight di Porto merasa tidak puas dengan citra
tubuh mereka. Selain itu, 18,8% remaja putra dan 44,8% remaja putri yang termasuk
normal mempunyai keinginan untuk lebih kurus lagi.
Gaspar MJ, Mointeiro TF, Amaral B, Oliveira NB. Protective effect of physical
activity on dissatisfaction with body image in children a crossectional study.
Psychology of sport and exercise. 2011.p.563-9.

2. Kebiasaan makan
Remaja saat ini suka untuk melewatkan makan dan memakan apa saja yang ada di
hadapan mereka ketika mereka lapar. Penelitian yang dilakukan di Hongkong pada
remaja berusia 9-18 tahun menunjukkan 22% anak merupakan breakfast skipper (sarapan
0-2 kali/minggu). Breakfast skipper lebih banyak terjadi pada anak sekolah menengah.
IMT pada anak yang suka melewatkan sarapan lebih besar daripada yang tidak
melewatkan sarapan. IMT pada anak laki-laki yang melewatkan sarapan lebih tinggi 0,9
kg/m2 daripada teman seumurannya yang sarapan, sedangkan pada perempuan lebih
tinggi 1,2 kg/m2. Hubungan antara melewatkan sarapan dan IMT merupakan hubungan
yang negatif, artinya semakin jarang orang sarapan semakin tinggi IMT-nya. Hubungan
yang negatif ini dapat diartikan bahwa sarapan merefleksikan gaya hidup yang sehat.
Remaja biasanya mendapatkan seperempat sampai sepertiga energi mereka dari
cemilan. Cemilan yang biasa dikonsumsi oleh remaja adalah kentang, chips, cookies,
permen, dan es krim. Remaja menyukai menyemil karena ini dapat dijadikan sarana
untuk dapat keluar rumah dan bersosialisasi dengan teman, menahan lapar, dan
merayakan hari spesial tertentu. Terkadang makanan cepat saji juga dipilih sebagai
makanan cemilan.
So HK, et al. breakfast frequency inversely associated with BMI and body fatness in
Hong Kong Chinese children aged 9-18 years. British Journal of Nutrition.
2011.p.742-51.

3. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik yang rutin akan membuat oksidasi lemak meningkat dan nafsu
makan dapat terkontrol. Aktivitas fisik juga perlu memperhatikan intensitas, frekuensi,
dan lama saat melakukan satu aktivitas. Untuk individu yang mulai memperlihatkan
tanda-tanda obesitas, latihan rutin selama 30 menit kurang mampu untuk mencegah
kenaikan berat badan dan obesitas. Diperlukan aktivitas yang rutin selama 45-60 menit.
Worthington-roberts, Bennie S, Sue RW. Nutrition throughout the life cycle. Ed 4 th.
Singapura: Mcgraw Hill Book Co. 2000.

Rendahnya aktivitas fisik mempunyai peranan yang penting terhadap


perkembangan obesitas pada remaja, aktivitas fisik juga berfungsi untuk meningkatkan
kelenturan tubuh, keseimbangan, kegesitan, koordinasi yang baik, dan menguatkan
tulang.
Individu yang menganggap bahwa dirinya memiliki banyak lemak biasanya
adalah individu yang aktivitas fisiknya rendah daripada mereka yang menganggap
tubuhnya kurus.
De Sousa, Pedro ML. Body image and obesity in adolescence: a comparative study
of social demographic, phychological, and behavioral aspects. The Spanish Journal
of Psychology. 2008.p.551-63.

4. Asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak


Kebutuhan energi saat remaja dipengaruhi ileh level aktivtas, basal metabolic rate
(BMR), dan bertambahnya kebutuhan untuk mendukung perkembangan dan
pertumbuhan saat pubertas. Basal metabolic rate berkaitan dengan banyaknya ilean body
mass. Remaja pria lebih tinggi kebutuhan kalori daripada remaja putri karena tingginya
pertambahan, berat, tinggi badan, dan lean body mass pada remaja laki-laki.
Kebutuhan energi untuk remaja pria menurut AKG 2004 adalah 2600 kkal sedangkan
untuk remaja putri adalah 2200 kkal.
Karbohidrat merupakan sumber energi utama pada tubuh. Beberapa macam
karbohidrat seperti buah, sayuran, gandum merupakan sumber serat utama.
Menurut Depkes tahun 2002, kebutuhan karbohidrat dalam sehari adalah 60-70% dari
jumlah energi.
Kebutuhan protein pada remaja dipengaruhi oleh banyaknya protein yang
dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah lean body mass dan untuk membuat cadangan
lean body mass yang dibutuhkan saat grow spurt.
Brown JE. Nutrition through the life cycle. Ed 2nd. Wadsworth: USA. 2005.
Menurut AKG protein yang dibutuhkan oleh remaja pria berusia 16-18 tahun
sebanyak 65 gram sedangkan untuk remaja wanita 50 gram per hari. Jika asupan protein
tidak mencukupi, dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan serta berkurangnya
cadangan lean body mass. metabolisme protein sensitif terhadap pengurangan kalori pada
remaja.
Worthington-roberts, Bennie S, Sue RW. Nutrition throughout the life cycle. Ed 4 th.
Singapura: Mcgraw Hill Book Co. 2000.