Anda di halaman 1dari 3

Mengapa pria tersebut mual dan muntah?

Mario, windy,imam

mengapa pria tersebut mengalami takikardi? Elok, imam

berapa lama suatu infeksi dapat mengakibatkan perforasi? Imam, dina

Bagaimana patogenesis apendisitis akut?

APENDISITIS AKUT

Survei menunjukkan bahwa sekitar 10% orang di Amerika Serikat dan negara Barat
menderita apendisitis dalam suatu saat. Semua usia dapat terkena, tetapi insidensi puncak adalah
pada dekade kedua dan ketiga, walaupun puncak kedua yang lebih kecil ditemukan pada orang
berusia lanjut. Laki-laki lebih sering terkena daripada perempuan, dengan rasio 1,5:1.

Patogenesis. Peradangan apendiks menyebabkan obstruksi pada 50% hingga 80% kasus,
biasanya dalam bentuk fekalit dan, yang lebih jarang, batu empedu, tumor, atau gumpalan cacing
(Oxyuris vermicularis). Dengan berlanjutnya sekresi cairan musinosa, terjadi peningkatan
tekanan intralumen yang menyebabkan kolapsnya vena drainase. Obstruksi dan cedera iskemik
memudahkan terjadinya proliferasi bakteri dengan peningkatan edema dan eksudasi sehingga
aliran darah semakin terganggu. Namun, sebagian kecil apendiks tidak memperlihatkan obstruksi
lumen yang jelas, dan patogenesis peradangan tetap tidak diketahui.

MORFOLOGI

Pada stadium paling dini, hanya sedikit eksudat neutrofil ditemukan di seluruh mukosa,
submukosa, dan muskularis propria. Pembuluh subserosa mengalami bendungan, dan sering
terdapat infiltrat neutrofilik perivaskular ringan. Reaksi peradangan mengubah serosa yang
normalnya berkilap menjadi membran yang merah, granular, dan suram; perubahan ini
menandakan apendisitis akut dini bagi dokter bedah. Pada stadium selanjutnya, eksudat
neutrofilik yang hebat menghasilkan reaksi fibrinopurulen di atas serosa. Dengan memburuknya
proses peradangan, terjadi pembentukan abses di dinding usus, disertai ulserasi dan fokus
nekrosis di mukosa. Keadaan ini mencerminkan apendisitis supuratif akut. Perburukan
keadaan apendiks ini menyebabkan timbulnya daerah ulkus hijau hemoragik di mukosa, dan
nekrosis gangrenosa hijau tua di seluruh ketebalan dinding hingga ke serosa dan menghasilkan
apendisitis gangrenosa akut yang cepat diikuti oleh rupture dan peritonitis supurativa.

Kriteria histologik untuk diagnosis apendisitis akut adalah infiltrasi neutrofilik


muskularis propria. Biasanya neutrofil dan ulserasi juga terdapat di dalam mukosa.

Gambaran Klinis. Apendisitis akut merupakan diagnosis abdomen yang paling mudah
atau paling sulit. Kasus klasik ditandai dengan (1) rasa tidak nyaman ringan di daerah
periumbilikus, diikuti oleh (2) anoreksia, mual, dan muntah, yang segera disertai oleh (3) nyeri
tekan kuadran kanan bawah, yang dalam beberapa jam berubah menjadi (4) rasa pegal dalam
atau nyeri di kuadran kanan bawah. Demam dan leukositosis terjadi pada awal perjalanan
penyakit. Yang disayangkan, sejumlah besar kasus tidak memberikan gambaran klasik.
Penyaking mungkin silent, terutama pada usia lanjut, atau tidak memperlihatkan tanda lokal di
kuadran kanan bawah, seperti bila apendiks terletak retrosekum atau terdapat malrotasi kolon.

~Robbins

Apa diagnosa banding apendisitis akut dan jelaskan?

Penyakit berikut dapat memperlihatkan gambaran klinis mirip apendisitis akut: (1) limfadenitis
mesentrium setelah infeksi virus sistemik, (2) gastroenteritis dengan adenitis mesenterium, (3)
penyakit radang panggul dengan keterlibatan tubo-ovarium, (4) rupture folikel ovarium saat
ovulasi, (5) kehamilan ektopik, (6) divertikulitis Meckel, serta penyakit lain. Oleh karena itu,
dengan teknik diagnostik konvensional (diawali dengan pemeriksaan fisik), diagnosis apendisitis
akut yang akurat hanya dapat ditegakkan pada sekitar 80% kasus. Modalitas pencitraan yang
lebih baru meningkatkan keakuratan diagnosis menjadi 95%. Bagaimanapun, secara umum
diakui bahwa lebih baik sekali-sekali dilakukan reseksi apendiks normal daripada membiarkan
risiko morbiditas dan mortalitas sekitar 20% perforasi apendiks.

~Robbins

Apa etiologi peritonitis?

Peritonitis

ETIOLOGI

Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous Bacterial Peritonitis (SBP) dan
peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen, tetapi biasanya terjadi pada
pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi
bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfemesenterium, kadang terjadi penyebaran
hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar
protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena
ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan
infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan
gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain
15%, dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur
bakteri.
Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis
(infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama
disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas.

DEFINISI PERITONITIS

Peritonitis diartikan sebagai proses inflamasi atau proses peradangan peritoneum


termasuk sebagian atau seluruh organ di dalam rongga peritoneum.