Anda di halaman 1dari 9

ugas ushul fiqh

1. 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah SEJARAH
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN USHUL FIQH ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai apa itu USHUL FIQH, Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
tugas ini terdapat kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
kemajuan ilmu pengetahuan ini.Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih
positif bagi kita semua. MUARA BUNGO, 20 Feb 2014

2. 2 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL . i KATA PENGANTAR


1 DAFTAR ISI .. 2 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar belakang ........................... 3 B. Rumusan masalah
.. 4 C. Tujuan 4 BAB II
PEMBAHASAN A. Pengertian ushul fiqh . 5 B. Sejarah pertumbuhan
ushul fiqh 6 C. Sejarah perkembangan ushul fiqh .. 9
BAB III PENUTUP KESIMPULAN .. 13 SARAN
. 13 BAB IV DAFTAR PUSTAKA . 14

3. 3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ushul fiqh adalah pengetahuan mengenai berbagai kaidah
dan bahasa yang menjadi sarana untuk mengambil hukum-hukum syara mengenai perbuatan manusia
mengenai dalil-dalilnya yang terinci. Ilmu ushul fiqh dan ilmu fiqh adalah dua hal yang tidak bisa
dipisahkan. Ilmu ushul fiqh dapat diumpamakan seperti sebuah pabrik yang mengolah data-data dan
menghasilkan sebuah produk yaitu ilmu fiqh. Tumbuhnya hukum-hukum fiqih itu bersama-sama
tumbuhnya agama Islam. Karena agama Islam pada hakikatnya adalah himpunan daripada aqidah,
akhlak dan hukum amaliyah. Hukum-hukum amaliyah ini pada masa Rasullullah SAW telah dibentuk dari
beberapa hukum yang telah ada didalam al-Quran termasuk pula hukum-hukum yang keluar dari
Rasulullah SAW dalam fatwanya terhadap sesuatu kejadian atau keputusan terhadap suatu perselisihan,
dan atau jawaban terhadap suatu soal. Jadi hukum-hukum fiqih itu dalam periode pertamanya terjadi
dari hukum Allah SWT dan Rasulnya. Sedangkan sumbernya adalah al-Quran dan al-Sunnah. Pada masa
sahabat, ditemukan kejadian-kejadian baru yang tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW, maka
berijtihadlah ahli ijtihad diantara mereka dan mereka pun menetapkan beberapa hukum syariat Islam
yang disandarkan kepada hukum-hukum dalam periode pertama, sesuai dengan hasil ijtihadnya. Maka
perwujudan hukum-hukum fiqih dalam periode keduanya adalah terjadi dari hukum Allah SWT dan
Rasulnya, serta fatwa sahabat dan keputusannya. Jadi sumbernya ialah al-Quran al-Sunnah dan Ijtihad
pada para sahabat. Tetapi pada dua periode ini, hukum-hukum itu belum dikodifikasikan dan belum pula
disyariatkan hukum-hukum mengenai kejadian-kejadian yang masih bersifat kemungkinan, kecuali
hanya mengenai kejadian yang sudah terjadi pada masa itu. Belum pula menjelma sebagai bentuk ilmu
pengetahuan, karena hanya merupakan bagian daripada kejadian yang bersifat perbuatan. Himpunan
ilmu ini juga belum disebut ilmu fiqih. Dan tokohnya dikalangan para sahabat nabi disebut fuqoha (ahli
hukum). Akan tetapi pada masa Tabiin dan Tabiit Tabiin serta imam-imam mujtahid yaitu sekitar

4. 4 dua abad hijriyah sudah makin berkembang dan sudah banyak pengikut-pengikut Islam dari selain
bangsa Arab, Maka makin luas pula lapangan pembentukan hukum-hukum syariat Islam (hukum fiqih)
dan beberapa hukum mengenai beberapa peristiwa dan kejadian yang masih bersifat kemungkinan.
Menurut sejarahnya, fiqh merupakan suatu produk ijtihad lebih dulu dikenal dan dibukukan dibanding
dengan ushul fiqh. Tetapi jika suatu produk telah ada maka tidak mungkin tidak ada pabriknya. Ilmu fiqh
tidak mungkin ada jika tidak ada ilmu ushul fiqh. Oleh karena itu, pembahasan pada makalah ini
mengenai sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu ushul fiqh. Sehingga kita bisa mengetahui
bagaimana dan kapan ushul fiqh itu ada. B. Rumusan masalah 1. Apa pengertian ushul fiqh? 2.
Bagaimana sejarah pertumbuhan ushul fiqh? 3. Bagaimana sejarah perkembangan ushul fiqh? C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian ushul fiqh 2. Untuk mengetahui sejarah pertumbuhan
ushul fiqh, serta 3. Untuk mengetahui Dn memahami perkembangan ushul fiqh

5. 5 BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN USHUL FIQH Ushul fiqh asal artinya sumber atau dasar.
Dasar dari fiqh adalah ushul fiqh, berarti ushul fiqh itu asas atau dalil fiqh yang di ambil dari al-Quran
dan sunnah. Ushul fiqh ini sebenarnya sudah ada semenjak Rasulullah. Ilmu Ushul Fiqh adalah kaidah-
kaidah yang digunakan dalam usaha untuk memperoleh hukum-hukum syara' tentang perbuatan dari
dalil-dalilnya yang terperinci. Dan usaha untuk memperoleh hukum-hukum tersebut, antara lain
dilakukan dengan jalan ijtihad. Sumber hukum pada masa Rasulullah SAW hanyalah Al-Qur'an dan As-
Sunnah (Al- Hadits). Dalam pada itu kita temui diantara sunnah-sunnahnya ada yang memberi kesan
bahwa beliau melakukan ijtihad. Ushul fiqh merupakan pengetahuan mengenai berbagai kaidah dan
bahasa yang menjadi sarana untuk mengambil hukum-hukum syara mengenai perbuatan manusia
mengenai dalil-dalilnya yang terinci. Ilmu ushul fiqh dan ilmu fiqh adalah dua hal yang tidak bisa
dipisahkan. Ilmu ushul fiqh dapat diumpamakan seperti sebuah pabrik yang mengolah data-data dan
menghasilkan sebuah produk yaitu ilmu fiqh. Tumbuhnya hukum-hukum fiqih itu bersama-sama
tumbuhnya agama Islam. Karena agama Islam pada hakikatnya adalah himpunan daripada aqidah,
akhlak dan hukum amaliyah. Hukum-hukum amaliyah ini pada masa Rasullullah SAW telah dibentuk dari
beberapa hukum yang telah ada didalam al-Quran termasuk pula hukum-hukum yang keluar dari
Rasulullah SAW dalam fatwanya terhadap sesuatu kejadian atau keputusan terhadap suatu perselisihan,
dan atau jawaban terhadap suatu soal. Jadi hukum-hukum fiqih itu dalam periode pertamanya terjadi
dari hukum Allah SWT dan Rasulnya. Sedangkan sumbernya adalah al-Quran dan al-Sunnah. Pada masa
sahabat, ditemukan kejadian-kejadian baru yang tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW, maka
berijtihadlah ahli ijtihad diantara mereka dan mereka pun menetapkan beberapa hukum syariat Islam
yang disandarkan kepada hukum-hukum dalam periode pertama, sesuai dengan hasil ijtihadnya. Maka
perwujudan hukum-hukum fiqih dalam periode keduanya adalah terjadi dari hukum Allah SWT dan
Rasulnya, serta fatwa sahabat dan keputusannya.
6. 6 B. Sejarah pertumbuhan ushul fiqh Para Ahli membagi sejarah pertumbuhan ilmu fiqh kepada
beberapa periode. Pertama, periode pertumbuhan, dimulai sejak kebangkitan (Bitsah) Nabi Muhammad
sampai beliau wafat (12 rabiul awal 11H/8 Juni 632). Pada periode ini, permasalahan fiqih diserahkan
sepenuhnya kepada Nabi Muhammad saw. Sumber hukum Islam saat itu adalah al-Qur'an dan Sunnah.
Periode Risalah ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu periode Makkah dan periode Madinah.
Periode Makkah lebih tertuju pada permasalah akidah, karena disinilah agama Islam pertama kali
disebarkan. Ayat-ayat yang diwahyukan lebih banyak pada masalah ketauhidan dan keimanan. Setelah
hijrah, barulah ayat-ayat yang mewahyukan perintah untuk melakukan puasa, zakat dan haji diturunkan
secara bertahap. Ayat-ayat ini diwahyukan ketika muncul sebuah permasalahan, seperti kasus seorang
wanita yang diceraikan secara sepihak oleh suaminya, dan kemudian turun wahyu dalam surat Al-
Mujadilah. Pada periode Madinah ini, ijtihad mulai diterapkan, walaupun pada akhirnya akan kembali
pada wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw. Kedua, periode sahabat dan tabiin mulai dari khalifah
pertama (Khulafaur Rasyidin) sampai dinasti Amawiyyin (11H-101H/632-720). Sumber fiqih pada periode
ini didasari pada Al-Qur'an dan Sunnah juga ijtihad para sahabat Nabi Muhammad yang masih hidup.
Ijtihad dilakukan pada saat sebuah masalah tidak diketemukan dalilnya dalam nash Al- Qur'an maupun
Hadis. Permasalahan yang muncul semakin kompleks setelah banyaknya ragam budaya dan etnis yang
masuk ke dalam agama Islam. Pada periode ini, para faqih mulai berbenturan dengan adat, budaya dan
tradisiyang terdapat pada masyarakat Islam kala itu. Ketika menemukan sebuah masalah, para faqih
berusaha mencari jawabannya dari Al-Qur'an. Jika di Al-Qur'an tidak diketemukan dalil yang jelas, maka
hadis menjadi sumber kedua . Dan jika tidak ada landasan yang jelas juga di Hadis maka para faqih ini
melakukan ijtihad Menurut penelitian Ibnu Qayyim, tidak kurang dari 130 orang faqih dari pria dan
wanita memberikan fatwa, yang merupakan pendapat faqih tentang hukum. Ketiga, periode
kesempurnaan, yakni periode imam-imam mujtahid besar dirasah islamiyah pada masa keemasan Bani
Abbasiyah yang berlangsung selama 250 tahun (101H-

7. 7 350H/720-961M). Periode ini juga disebut sebagai periode pembinaan dan pembukuan hokum
islam. Pada masa ini fiqih islam mengalami kemajuan pesat sekali. Penulisan dan pembukuan hukum
islam dilakukan secara intensif, baik berupa penulisan hadis-hadis nabi, fatwa-fatwa para sahabat dan
tabiin, tafsir Al-Quran, kumpulan pendapat-pendapat imam- imam fiqih, dan penyusunan ilmu ushul
fiqh. Pada masa ini lahirlah pemikir-pemikir besar dengan berbagai karya besarnya, seperti Imam Abu
Hanifiah dengan salah seorang muridnya yang terkenal Abu Yusuf(Penyusun kitab ilmu ushul fiqh yang
pertama), Imam Malik dengan kitab al-Muwatha, Imam SyafeI dengan kitabnya al-Umm atau al-Risalat,
Imam Ahmad dengan kitabnya Musnad, dan beberapa nama lainnya beserta karya tulis dan murid-
muridnya masing-masing. Diantara factor lain yang sangat menentukan pesatnya perkembangan ilmu
fiqh khususnya atau ilmu pengetahuan umumnya, pada periode ini adalah sebagai berikut: 1. Adanya
perhatian pemerintah (khalifah) yang besar tehadap ilmu fiqh khususnya. 2. Adanya kebebasan
berpendapat dan berkembangnya diskusi-diskusi ilmiah diantara para ulama. 3. Telah terkodifikasinya
referensi-referensi utama, seperti Al-Quran (pada masa khalifah rasyidin), hadist (pada masa Khalifah
Umar Ibn Abdul Aziz), Tafsir dan Ilmu tafsir pada abad pertama hijriah, yang dirintis Ibnu Abbas (w.68H)
dan muridnya Mujahid(w104H) dan kitab- kitab lainnya. Keempat, periode kemunduran-sebagai akibat
dari taqlid dan kebekuan karena hanya menyandarkan produk-produk ijtihad mujtahid-mujtahid
sebelumnya-yang dimulai pada pertengahan abad keempat Hijriah sampai akhir 13H, atau sampai
terbitnya buku al-Majallat al-Ahkam al-Adliyat tahun 1876M. Pada periode ini, pemerintah Bani
Abbasiyah-akibat berbagai konflik politik dan berbagai factor sosiologis lainnya dalam keadaan lemah.
Banyak daerah melepaskan diri dari kekuasaanya. Pada umumnya ulama pada masa itu sudah lemah
kemauannya untuk mencapai tingkat umjtahid mutlak sebagaimana dilakukan oleh para pendahulu
mereka pada periode kejayaan. Periode Negara yang berada dalam konflik, tegang dan lain sebagainya
itu ternyata sangat berpengaruh kepada kegairahan ulama yang mengakji ajaran Islam langsung dari
sumber aslinya;Al-Quran dan hadist. Mereka puas hanya dengan mengikuti pendapat- pendapat yang
telah ada, dan meningkatkan diri kepada pendapat tersebut ke dalam mazhab- mahzhab fiqhiyah. Sikap
seperti inilah kemudian mengantarakan umat islam terperangkap kea lam pkikiran yang jumud.

8. 8 Kelima, periode pembangunan kembali, mulai dari terbitnya buku itu sampai sekarang. Pada
periode ini umat islam menyadari kemunduran dan kelemahan mereka sudah berlangsung semakin
lama itu. Ahli sejarah mencatat bahwa kesadaran itu terutama sekali muncul ketika Napoleon Bonaparte
menduduki Mesir pada tahun 1789 M. Kejatuhan mesir ini menginsafkan umat Islam betapa lemahnya
mereka dan betapa di Dunia Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan
ancaman bagi Dunia Islam. Para raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir bagaimana
meningkatakan mutu dan kekuatan umat islam kembali. Dari sinilah kemudian muncul gagasan dan
gerakan pembaharuan dalam islam, baik dibidang pendidikan, ekonomi, militer, social, dan gerakan
intelektual lainnya. Gerakan pembaharuan ini cukup berpengaruh pula terhadap perkembangan fiqih.
Banyak di antara pembaharuan itu juga adalah ulama-ulama yang berperan dalam perkembangan fiqih
itu sendiri. Mereka berseru agar umat islam meninggalkan taklid dan kembali kepada Al- Quran dan
hadist-mengikuti jejak para ulamadi masa sahabat dan tabiin terdahulu. Mereka inilah disebut golongan
salaf seperti Muhammad Abdul Wahab di Saudi Arabia, Muhammad Al-Sanusi di Libya dan Maroko,
Jamal Al-Din Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad asyid Rida, dimesir, dan lain sebagainya.

9. 9 C. Sejarah perkembangan ushul fiqh Sejarah Perkembagan Ilmu Ushul Fiqh Ushul fiqh ada sejak
fiqh ada. Di mana ada fiqh, maka di sana wajib ada ushul fiqh, ketentuan dan kaidahnya. Karena fiqh
adalah hakikat yang dicari ilmu ushul fiqh. Sekalipun keberadaannya bersamaan, fiqh lebih dulu
dibukukan dari ushul fiqh. Dalam arti problematika, kaidah dan bab-bab di dalamnya lebih dulu
dibukukan, dipisah dan dibeda- bedakan. Hal ini tidak berarti bahwa ushul fiqh tidak ada sebelum
adanya fiqh atau sebelum dibukukan, atau bahwa ulama fiqh tidak menggunakan kaidah dan metode
yang tetap dalam mencetuskan hukum. Karena faktanya, kaidah dan metode ushul fiqh sudah menyatu
dalam jiwa para mujtahid. Mereka telah bergumul dengannya sekalipun tidak terang-terangan. Maka
saat sahabat sekaligus ulama fiqh, Abdullah Ibnu Masud mengatakan bahwa, masa tunggu (iddah)
wanita hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sampai dia melahirkan, maka beliau mendasarkan
pendapatnya pada firman Allah, dan (bagi) wanita-wanita hamil, (maka) waktu tunggunya adalah
sampai dia melahirkan (At-Thalaq: 4). Beliau mengambil dalil surat At-Thalaq karena ayat ini turun
setelah turunnya surat Al-Baqarah: 234, Orang- orang yang mati dan meninggalkan isteri, maka mereka
(isteri) harus menahan diri mereka selama empat bulan sepuluh hari. Dengan apa yang dilakukan itu,
berarti Abdullah bin Masud telah mengamalkan kaidah ushul fiqh, Nash yang datang terakhir
menggugurkan nash yang datang sebelumnya, sekalipun beliau tidak menjelaskannya. Pada umumnya,
sesuatu itu ada baru kemudian dibukukan. Pembukuan menerangkan keberadaanya, bukan munculnya,
seperti halnya dalam ilmu Nahwu (ilmu alat) dan Ilmu Manthiq (ilmu logika). Orang arab selalu me-rafa-
kan fail dan me-nashab-kan maful dalam setiap percakapannya, maka berlakulah kaidah itu sebagai
bagian dari kaidah ilmu nahwu, sekalipun ilmu nahwu belum dibukukan. Orang berakal akan berdiskusi
berdasarkan hal-hal yang pasti kebenarannya (aksioma/al-badihi), sebelum ilmu mantiq dan kaidah-
kaidahnya dibukukan. Dengan demikian, ushul fiqh adalah ilmu yang menyertai fiqh sejak munculnya,
bahkan ada sebelum fiqh. Sebab ushul fiqh adalah aturan pencetusan hukum dan ukuran pendapat,
tetapi saat itu belum dianggap perlu untuk membukukannya. Pada masa Nabi Muhammad SAW, tidak
perlu membahas kaidah ushul fiqh apalagi membukukannya, karena Nabi sendiri adalah tempat rujukan
fatwa dan hukum. Pada waktu itu tidak ada satu faktor apapun yang

10. 10 mengharuskan ijtihad atau fiqh. Tidak ada ijtihad berarti tidak perlu metode dan kaidah
pencetusan hukum. Setelah Nabi SAW wafat, muncul banyak permasalahan baru yang hanya bisa
diselesaikan dengan ijtihad dan dicetuskan hukumnya dari Kitab (Al Quran) danSunnah. Akan tetapi
ulama fiqh dari kalangan sahabat belum merasa perlu untuk berbicara kaidah atau metode dalam
pengambilan dalil dan pencetusan hukum, karena mereka memahami bahasa arab dan seluk-beluknya
serta segi penunjukan kata dan kalimat pada makna yang dikandungnya. Mereka mengetahui rahasia
dan hikmah pensyariatan, sebab turunnya Al Quran dan datangnya sunnah. Cara sahabat dalam
mencetuskan hukum: ketika muncul sebuah permasalahan baru, mereka mencari hikmahnya dalam
Kitab, jika belum menemukan mereka mencarinya ke sunnah, jika belum menemukan juga, mereka
berijtihad dengan cahaya pengetahuan mereka tentang maqashid as-syariah (tujuan pensyariatan) dan
apa yang diisyaratkan oleh nash. Mereka tidak menemui kesulitan dalam berijtihad dan tidak perlu
membukukan kaidah-kaidahnya. Mereka benar-benar dibantu oleh jiwa ke-faqihan yang mereka
dapatkan setelah menemani dan menyertai Nabi SAW sekian lama. Para sahabat memiliki keistimewaan
berupa ingatan yang tajam,jiwa yang bersih dan daya tangkap yang cepat. Sampai masa sahabat lewat,
kaidah ushul fiqh belum dibukukan, demikian pula pada masa tabiin, mereka mengikuti cara sahabat
dalam mencetuskan hukum. Tabiin tidak merasa perlu membukukan kaidah pencetusan hukum, karena
mereka hidup dekat dengan masa Nabi dan telah belajar banyak dari sahabat. Setelah lewat masa
tabiin, kekuasaan Islam semakin meluas, permasalahan dan hal-hal baru muncul, orang arab dan non
arab bercampur sehingga bahasa arab tidak murni lagi, muncul banyak ijtihad, mujtahid dan cara
mereka dalam mencetuskan hukum, diskusi dan perdebatan meluas, keraguan dan kebimbangan
menjamur. Karena itulah ulama fiqh kemudian menganggap perlu untuk meletakkan kaidah dan metode
berijtihad, agar para mujtahid dapat menjadikannya rujukan dan ukuran kebenaran saat terjadi
perselisihan. Kaidah-kaidah yang mereka letakkan adalah berlandaskan pada tata bahasa arab, tujuan
dan rahasia pensyariatan, maslahat (kebaikan), dan cara sahabat dalam pengambilan dalil. Dari semua
kaidah dan pembahasan itulah ilmu Ushul Fiqh muncul.

11. 11 Pada penghujung abad kedua dan awal abad ketiga Imam Muhammad Idris al-Syafii(150 H-
204 H) tampil berperan dalam meramu, mensistematisasi dan membukukan Ushul Fiqh. Upaya
pembukuan Ushul Fiqh ini, seperti disimpulkan Abd al-Wahhab Abu Sulaiman, sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan keislaman di masa itu. Perkembangaan pesat ilmu-ilmu keislaman
dimulai dari masa Harun Al-Rasyid` (145 H-193 H), khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang memerintah
selama 23 tahun (170 H-193 H) dan dilanjukan dalam perkembangan yang lebih pesat lagi pada masa
putranya bernama Al-Mamun (170 H-218 H) khalifah ketujuh yang memerintah selama 20 tahun (198
H-218 H). Pada masa ini ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan keislaman, bahkan
dikenal sebagai masa keemasan Islam. Dengan didirikannya Baitul-Hikmah, yaitu sebuah
perpustakaan terbesar di masanya, kota Baghdad menjadi menara ilmu yang didatangi dari berbagai
penjuru wilayah Islam. Lembaga ini, di samping sebagai perpustakaan juga berfungsi sebagai balai
penerjemah buku-buku yang berasal dari Yunani ke dalam bahasa Arab. Perkembangan pesat ilmu-ilmu
keislaman ini, secara disiplin ilmu menghendaki adanya pemisahan antara satu bidang ilmu dengan
bidang yang lain. Ushul Fiqh dirumuskannya di samping untuk mewujudkan metode istinbat yang jelas
dan dapat dipedomani oleh peminathukum Islam, juga dengan itu ia membangun mazhab fikihnya serta
ia ukur kebenaran hasil ijtihad di masa ssebelumnya. Maka oleh Imam Syafii disusunlah sebuah buku
yang diberi judul Al-Kitabdan kemudian dikenal dengan sebutan Al-Risalah yang berarti sepucuk surat.
Muncunya buku Al-Risalah merupakan fase awal dari perkembangan Ushul Fiqh sebagai satu`disiplin
ilmu. Setelah kitab al-Risalah oleh Imam Syafii, masih dalam abad ketiga bermunculan karya- karya
ilmiah dalam bidang ini. Antara lain, buku khabar al-wahid karya Iasa inbu Aban ibn Shadaqah (w. 220
H) dari kalangan hanafiyah, buku al-Nasikh wa al-Mansukh oleh Ahmad bin Hambal (164H-241H) pendiri
mashap Hambali, dan buku ibtal al-Qiyas oleh Daud al- Zahiri (200 H 270 H) pendiri mashab Zahiri.
Selanjutnya, pertengahan abad keempet, menurut abd al-Wahhab Khallaf, ahli ushul fiqh berkebangsan
mesir, dalam bukunya khulasat tarikh al-tasry al-islam, ditandai, dengan kemunduran dalam kegiatan
ijtihat di bidang fikih, dalam pengertian tidak lagi ada orang yang mengkhususkan diri dari membentuk
mazhab baru, namun seperti dicatat Abd al- Wahhab Abu Sulaiman, pada saat yang sama kegiatan ijtihat
di bidang Ushul Fiqh berkembang pesat karena ternyata Ushul Fiqh tidak kehilangan fungsinya. Ushul
Fiqh

12. 12 berperan sebagai alat pengukur kebesaran pendapat-pendapat yang telah terbentuk
sebelumnya, dan dijadikan alat untuk berdebat dalam diskusi-diskusi ilmiah. Pertemuan- pertemuan
ilmiah diadakan dalam rangka mengkaji hasil-hasil ijtihat dari mashab yang mereka anut. Di antar buku
Ushul Fiqh yang disusun pada periode ini adalah istbat al-Qiyas oleh Abu al- Hasan al-Asyaari (w.324 H)
pendiri aliran teologi al-Asyariah, dan buku al-Jadalfi Ushul al- Fiqh oleh Abu Mansur al-Maturidi (w. 334
H) pendiri aliran teologi Maturidiyah.

13. 13 BAB III PENUTUP KESIMPULAN Unshul fiqh asal artinya sumber atau dasar. Dasar dari fiqh
adalah ushul fiqh, berarti ushul fiqh itu asas atau dalil fiqh yang di ambil dari al-Quran dan sunnah. Ushul
fiqh ini sebenarnya sudah ada semenjak Rasulullah. Ilmu Ushul Fiqh adalah kaidah-kaidah yang
digunakan dalam usaha untuk memperoleh hukum-hukum syara' tentang perbuatan dari dalil-dalilnya
yang terperinci.Sumber hukum pada masa Rasulullah SAW hanyalah Al-Qur'an dan As-Sunnah (Al-
Hadits). Orang yang mula-mula menciptakan ilmu ushul fiqh adalah Imam Syafii yang meninggal di
mesir pada tahun 204 H. Beliau menulis sebuah risalah yang dijadikannya sebagai Mukaddima bukunya
yang bernama kitab al-Um. Pada masa tabiin, penggunaan ushul al-fiqh ini lebih luas. Periode awal
pertumbuhan fiqh. Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 H. Periode
ketiga ini merupakan titik awal pertumbuhan fiqh sebagai salah satu disiplin ilmu dalam Islam. Periode
keemasan. Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai pada pertengahan abad ke- 4 H. Dalam
periode sejarah peradaban Islam, periode ini termasuk dalam periode Kemajuan. Tujuan yang ingin
dicapai dari sejarah ushul fiqh yaitu untuk dapat menerapkan kaidah- kaidah terhadap dalil-dalil syara
yang terperinci agar sampai pada hukum-hukum syara yang bersifat amali. Selain itu dapat juga
dijadikan sebagai pertimbangan tentang sebab terjadinya perbedaan madzhab diantara para Imam
mujathid. SARAN Semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua untuk mengetahui dan memahami
sejarah pertumbuhan dan perkembangan ushul fiqh, adapun kekurangan dalam penyampaian makalah
ini kami mohon kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini.

14. 14 DAFTAR PUSTAKA Djuzi dkk. Ushul Fiqh: Metodologi Hukum Islam. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2000. Nazar Bakry. Fiqh dan Ushul Fiqh. Cetakan IV. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Satria Efendu, M. Zein. Ushul Fiqh. Jakarta, Prenada Media Group, 2005

Recommended

More from this author

Contoh tugasan dpi

Contoh tugasan dpi

matmin_clever

1,395

Tugasan al fiqh al islami 1 assignment pertama tajuk pilihan konsep ujrah-

Tugasan al fiqh al islami 1 assignment pertama tajuk pilihan konsep ujrah-

Norafsah Awang Kati

2,991

Penghargaan usul fiqh

Penghargaan usul fiqh

Ibnu Ja'far Al-Jawharey

962

26866747 soalan-pengenalan-ilmu-usul-fiqh-soalan-objektif

26866747 soalan-pengenalan-ilmu-usul-fiqh-soalan-objektif

Norlaily Kakly
2,223

Usul fiqh, hukum taklifi & hukum wadh'ie.

Usul fiqh, hukum taklifi & hukum wadh'ie.

jimoh370

16,441

Daftar Pertanyaan Ushul Fiqh

Daftar Pertanyaan Ushul Fiqh

Suya Yahya

21,444

Usul Fiqh dan Kaedah Fiqh

Usul Fiqh dan Kaedah Fiqh

Muhammad Syahir

7,965

Tugasan pendidikan islam hbis1103 ustazah siti eshah salleh

Tugasan pendidikan islam hbis1103 ustazah siti eshah salleh

Norafsah Awang Kati

2,175

sumber-sumber hukum islam, hukum Takfili, dan Hukum Wadi

sumber-sumber hukum islam, hukum Takfili, dan Hukum Wadi

Oppi Ulandari

4,776

OTHER RELATED MAXIMS ARISE FROM AL UMUR BI MAQASIDIHA

OTHER RELATED MAXIMS ARISE FROM AL UMUR BI MAQASIDIHA

an nur

182
Usul Al Fiqh Al-Islami

Usul Al Fiqh Al-Islami

abuqasim

257

Usul fiqih 1

Usul fiqih 1

Ahmad Muslimin

4,578

Qawaid Fiqhiyyah

Qawaid Fiqhiyyah

Mahyuddin Khalid

18,483

Kaedah fiqh

Kaedah fiqh

cikmelly

13,607

PENDIDIKAN SYARIAH TINGKATAN 4 (AKIDAH)

PENDIDIKAN SYARIAH TINGKATAN 4 (AKIDAH)

Unizzati

12,127