Anda di halaman 1dari 9

TUGAS FISKA

METODE ILMIAH FISIKA

NAMA : OLIVIA ADITYA

KELAS : X IPA 3

SMAN 1 Lingsar
Jl. Raya Gora II Lingsar Lombok Barat
Definisi Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah (bahasa Inggris: scientific method)
merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis
berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis
dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat
berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu
hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan,
pengesahan dan penjelasan tentang suatu kebenaran.
Unsur metode ilmiah
Metode berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Methodos yang artinya cara atau
jalan yang ditempuh. Sedangkan ilmiah mempunyai arti sesuatu yang berhubungan
dengan ilmu. Jadi, metode ilmiah adalah suatu cara untuk mencari ilmu
pengetahuan yang dimulai dari penentuan masalah, pengumpulan data yang
relevan, analisis data dan interpretasi temuan, diakhiri dengan penarikan
kesimpulan.
Menurut Almadk (1939), metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-
prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran
terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu iterelasi.
Para ilmuwan dan filsuf memberikan pula berbagai perumusan mengenai
pengertian metode ilmiah. George Kneller menegaskan bahwa metode ilmiah
merupakan struktur rasional dari penyelidikan ilmiah yang disitu pangkal-pangkal
duga disusun dan diuji. Harold Titus menyatakan pula bahwa metode ilmiah
merupakan proses atau langkah untuk memperoleh pengetahuan.
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan lima langkah berikut:
1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan
dan pengukuran)
3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
5. Evaluasi dan Pengulangan
Karakterisasi
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek
investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama
yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat
melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang
dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat.
Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol,
seperti laboratorium. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus
seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu
biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran
secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik,
atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan
regresi.
Prediksi dari hipotesis
Hipotesis yang berguna akan memungkinkan prediksi berdasarkan deduksi.
Prediksi tersebut mungkin meramalkan hasil suatu eksperimen dalam laboratorium
atau pengamatan suatu fenomena di alam. Prediksi tersebut dapat pula bersifat
statistik dan hanya berupa probabilitas. Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut
haruslah belum diketahui kebenarannya
Jika hasil yang diramalkan sudah diketahui, hal itu disebut konsekuensi dan
seharusnya sudah diperhitungkan saat membuat hipotesis. Jika prediksi tersebut
tidak dapat diamati, hipotesis yang mendasari prediksi tersebut belumlah berguna
bagi metode bersangkutan dan harus menunggu metode yang mungkin akan
datang. Sebagai contoh, teknologi atau teori baru boleh jadi memungkinkan
eksperimen untuk dapat dilakukan.
Eksperimen
Setelah prediksi dibuat, hasilnya dapat diuji dengan eksperimen. Jika hasil
eksperimen bertentangan dengan prediksi, maka hipotesis yang sedak diuji tidaklah
benar atau tidak lengkap dan membutuhkan perbaikan atau bahkan perlu
ditinggalkan. Jika hasil eksperimen sesuai dengan prediksi, maka hipotesis tersebut
boleh jadi benar namun masih mungkin salah dan perlu diuji lebih lanjut.
Eksperimen tersebut dapat berupa eksperimen klasik di dalam laboratorium atau
ekskavasi arkeologis.Pencatatan juga akan membantu dalam reproduksi eksperimen.
Evaluasi dan pengulangan
Proses ilmiah merupakan suatu proses yang iteratif, yaitu berulang. Pada
langkah yang manapun, seorang ilmuwan mungkin saja mengulangi langkah yang
lebih awal karena pertimbangan tertentu. Ketidakberhasilan untuk membentuk
hipotesis yang menarik dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan ulang subjek
yang sedang dipelajari. Ketidakberhasilan suatu hipotesis dalam menghasilkan
prediksi yang menarik dan teruji dapat membuat ilmuwan mempertimbangkan
kembali hipotesis tersebut atau definisi subjek penelitian. Ketidakberhasilan
eksperimen dalam menghasilkan sesuatu yang menarik dapat membuat ilmuwan
mempertimbangkan ulang metode eksperimen tersebut, hipotesis yang
mendasarinya, atau bahkan definisi subjek penelitian itu. Dapat pula ilmuwan lain
memulai penelitian mereka sendiri dan memasuki proses tersebut pada tahap yang
manapun. Mereka dapat mengadopsi karakterisasi yang telah dilakukan dan
membentuk hipotesis mereka sendiri, atau mengadopsi hipotesis yang telah dibuat
dan mendeduksikan prediksi mereka sendiri. Sering kali eksperimen dalam proses
ilmiah tidak dilakukan oleh orang yang membuat prediksi, dan karakterisasi
didasarkan pada eksperimen yang dilakukan oleh orang lain.
Kriteria Metode Ilmiah
1. Berdasarkan fakta
Keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian yang akan dianalisa harus
berdasarkan fakta-fakta yang nyata, tidak berdasarkan daya khayal, legenda,
atau sejenisnya.
2. Bebas dari prasangka
Harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan
subjektif.
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisis
Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan
menggunakan analisa yang logis. Semua kejadian harus dicari sebab-akibat
dengan menggunakan analisa yang tajam.
4. Perumusan masalah, antara lain dengan menyusun hipotesis
Hipotesa digunakan untuk memandu jalan pikiran kea rah tujuan yang ingin
dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran yang
tepat.
5. Menggunakan ukuran objektif
Ukuran yang digunakan tidak boleh dengan mengandalkan perasaan atau
menurut hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif
dengan pikiran yang waras.
6. Menggunakan teknik kuantitatif dan atau kualitatif
Data yang didapat menggunakan data ukuran kuantitatif, contoh ton, mm,
ohm, kilogram, dan sebagainya. Tidak menggunakan ukuran seperti sejauh
mata memandang, sehitam aspal, dan sebagainya.
Karakteristik metode ilmiah
Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang
tepat untuk mengidentifikasi masalah danmenentukan metode untuk
pemecahan masalah.
Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan
yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang
sama dengan kondisi yang sama pula. Bersifat konseptual, artinya proses
penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya
dapat dipertanggungjawabkan.
Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di
lapangan
Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan
pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat
dipertanggungjawabkan.

Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah:


1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas
2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik
3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang
sejenis;
5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan
emosional;
6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin
berguna;
7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi
dapat dilihat;
8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode
penelitiannya.
Langkah Langkah Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur (urutan langkah) yang harus
dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah (science project). Secara umum
metode ilmiah meliputi langkah-langkah berikut:
Observasi Awal
Mengidentifikasi Masalah
Merumuskan atau Menyatakan Hipotesis
Melakukan Eksperimen
Menyimpulkan Hasil Eksperimen
1. Observasi awal:
Setelah topik yang akan diteliti dalam proyek ilmiah ditentukan, langkah pertama
untuk melakukan proyek ilmiah adalah melakukan observasi awal untuk
mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut
melalui pengalaman, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli
yang sesuai.
Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview,
dll
Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll
Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.
2. Mengidentifikasi masalah:
Permasalahan merupakan pertanyaan ilmiah yang harus diselesaikan. Permasalahan
dinyatakan dalam pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa
suatu pernyataan, bukan jawaban ya atau tidak. Sebagai contoh: Bagaimana cara
menyimpan energi surya di rumah?
Batasi permasalahan seperlunya agar tidak terlalu luas.
Pilih permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti.
Pilih permasalahan yang dapat diselesaikan secara eksperimen.
3. Merumuskan atau menyatakan hipotesis:
Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian
masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Hipotesis dirumuskan atau dinyatakan
sebelum penelitian yang seksama atas topik proyek ilmiah dilakukan, karenanya
kebenaran hipotesis ini perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang seksama. Yang
perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan
berarti penelitian yang dilakukan salah.
Gunakan pengalaman atau pengamatan lalu sebagai dasar hipotesis
Rumuskan hipotesis sebelum memulai proyek eksperimen
4. Melakukan Eksperimen:
Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Ada
tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen: variabel bebas, variabel
terikat, dan variabel kontrol.
Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat
adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada variabel bebas.
Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.
Usahakan hanya satu variabel bebas selama eksperimen
Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang diasumsikan
konstan
Lakukan eksperimen berulang kali untuk memvariasi hasil.
Catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.
5. Menyimpulkan hasil eksperimen:
Kesimpulan proyek merupakan ringkasan hasil proyek eksperimen dan pernyataan
bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Alasan-alasan
untuk hasil eksperimen yang bertentangan dengan hipotesis termasuk di dalamnya.
Jika dapat dilakukan, kesimpulan dapat diakhiri dengan memberikan pemikiran
untuk penelitian lebih lanjut.
Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis:
Jangan ubah hipotesis
Jangan abaikan hasil eksperimen
Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai
Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan
penyebab ketidaksesuaian
Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang
eksperimen.
Tujuan Metode Ilmiah
Tujuan metode ilmiah adalah untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang
rasional dan teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Selain
itu metode ilmiah bertujuan untuk :
1. Mengorganisasikan suatu fakta
2. Dapat mengaitkan fakta-fakta yang menjadi kajian
3. Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh
pertimbangan-pertimbangan logis.
Manfaat Menulis Ilmiah
1. Melatih berpikir tertib dan teratur karena menulis ilmiah harus mengikuti tata
cara penulisan yang sudah ditentukan prosedur tertentu, metode dan teknik,
aturan / kaidah standar, disajikan teratur, runtun dan tertib.
2. Menulis ilmiah memerlukan literatur, buku-buku ilmiah, kamus, ensiklopedia
yang disusun tertib.
3. Oleh sebab pada hakikatnya sebuah karangan ilmiah ialah laporan tentang
kebenaran yang diperoleh dari hasil penelitian di lapangan.
4. Karena dalam karya ilmiah ada organ yang disebut bab pembahasan yang
berfungsi menganalisis, memecahkan dan menjawab setiap permasalahan
sampai tuntas hingga ditemukannya jawaban berupa karya ilmiah.
5. Karena dalam karya ilmiah ada orang yang disebut bab landasan teori atau
kerangka teoritis yang berfungsi memaparkan teori-teori para ahli seta
mengomentari atau mengkritiknya untuk mendukung dan memperkuat
argumen penulis.
6. Bahasa komunikatif ilmiah memiliki syarat :
a. harus jelas = harus bermakna tunggal tidak boleh ambigu
b. penempatan gatra (unsur fungsional dalam kalimat) harus lengkap dan
dan tepat
c. diksi atau pilihan kata harus tepat.