Anda di halaman 1dari 4

Analisis Kebijakan tentang Penggunaan API di Indonesia.

Awalnya pertimbangan kebijakan usaha perikanan tangkap pada Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor:
PER.17/MEN/2006 diarahkan pada pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan bagi kepentingan bangsa dan negara dengan tetap
memperhatikan prinsip kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya serta sesuai dengan persyaratan yang telah diatur dalam ketentuan
internasional yang berlaku, sekaligus sebagai pelaksanaan Pasal 32 UndangUndang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan. Setelah
mengalami revisi ke-9 melalui Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 57/Permen-KP/2014 pertimbangan
kebijakan berubah yaitu untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya perikanan yang bertanggung jawab dan menanggulangi Illegal,
Unreported and Unregulated (IUU) Fishing di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-
NRI), perlu menghentikan kegiatan alih muatan (transhipment) di laut. Kegiatan transhipment sulit untuk dikontrol oleh Negara.
Meskipun dunia internasional mengakui praktek transhipment dengan ketentuan pelaporan hasil tangkapan.
Peraturan Perundang-Undangan terkait Penggunaan Alat Penangkapan Ikan

Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan:

- Pasal 7 ayat (2): Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan pengelolaan perikanan wajib mematuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mengenai: a. jenis, jumlah, dan ukuran alat penangkapan ikan; b. jenis, jumlah, ukuran, dan penempatan alat bantu
penangkapan ikan; c. daerah, jalur, dan waktu atau musim penangkapan ikan; d. persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan
ikan; e. sistem pemantauan kapal perikanan; f. dst.

- Pasal 9 ayat (1): Setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan dan/atau alat bantu
penangkapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumber daya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan
perikanan Negara Republik Indonesia.

B. Kebijakan Pemerintah Pusat tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan di Indonesia

Kebijakan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan di Indonesia dituangkan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
PER.02/MEN/2011 jo. PER.08/MEN/2011 jo. PER.05/MEN/2012 jo. 18/PERMEN-KP/2013 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan
Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, antara lain dapat digambarkan sebagai berikut:

- Sebagai tindak lanjut dan pelaksanaan Pasal 7 ayat (1) huruf f, huruf g, dan huruf h Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, Menteri Kelautan dan Perikanan menetapkan
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 jo. PER.08/MEN/2011 jo. PER.05/MEN/2012 jo. 18/PERMEN-
KP/2013 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan
Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan suatu peraturan yang mengatur legalitas,
pengoperasian, dan daerah pengoperasian alat tangkap ikan di perairan Indonesia. Peraturan tersebut mencangkup ukuran armada
penangkapan ikan, jalur penangkapan, dan area wpp. Pengelompokan berdasar alat penangkapan ikan dibagi menjadi 10 (sepuluh)
kelompok besar, yaitu :
1. Jaring Lingkar (Surrounding Nets)
Klasifikasi surrounding nets dibagi menjadi armada purse seine dengan satu dan dua kapal, dimana masing-masing dikelaskan lagi menurut
hasil tangkapan ikan pelagis besar dan kecil.
2. Pukat Tarik (Seine Nets)
Klasifikasi pukat tarik dibagi menjadi pukat tarik berkapal dan pukat tarik pantai. Pukat tarik berkapal dikelompokan lagi menjadi dogol,
scottish seines, pair seines, payang, cantrang, dan lampara dasar.
3. Pukat Hela (Trawls)
Klasifikasi pukat hela (trawls) dibagi menjadi pukat hela dasar (bottom trawls), pukat hela pertengahan (mid water trawls), pukat hela
kembar berpapan (Otter Twins Trawls), dan pukat dorong.
4. Penggaruk (Dredge)
Penggaruk atau dredge dibagi menjadi dua kelas, yaitu penggaruk berkapal (boat dredge) atau penggaruk tanpa kapal (hand dredge).
5. Jaring Angkat (Lift Nets)
Diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu : Anco (Portable Lift Nets), Jaring Angkat berperahu (Boat-Operated Lift Nets), dan Bagan Tancap
(Shore-Operated stationary lift nets).
6. Alat yang dijatuhkan atau ditebarkan (Falling Gear)
Diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu jala jatuh berkapal dan jala tebar.
7. Jaring Insang (Gill Net)
Diklasifikasikan lagi menjadi : Jaring Insang Tetap (Set Gillnets Anchored), Jaring Insang Hanyut (Driftnets), Jaring Insang Lingkar
(Encircling gillnets), jaring insang berpancang (Fixed Gillnets), Jaring Insang berlapis (Trammelnets), dan combined gillnets-trammelnets.
8. Perangkap (Traps)
Perangkap (traps) diklasifikasikan lagi menjadi : stationary uncovered pound nets, bubu (pots), bubu bersayap (fyke nets), stownets, barriers,
fences,weirs, perangkap ikan peloncat (aerial traps), muro ami, dan seser.
9. Pancing (Hooks and Lines)
Pancing (hooks and lines) diklasifikasikan lagi menjadi : handlines and pole lines/ hand operated, handlines and pole lines/ mechanized,
rawai dasar ( set longlines), rawai hanyut (drift longlines), dan tonda (trolling lines).
10. Alat Penjepit yang melukai (grappling and wounding)
Dibagi kembali menjadi : tombak (harpoons) , ladung, dan panah.
C. Produk SNI terkait Alat Penangkapan Ikan

Pemberlakuan SNI terhadap semua bentuk dan dan bahan API dimaksudkan untuk melindungi kepentingan umum, keamanan
negara, perkembangan ekonomi nasional dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Beberapa SNI yang telah diberlakukan terkait alat
penangkapan ikan, diantaranya adalah:

1 SNI 01-7088-2005 Bentuk konstruksi pukat tarik dasar kecil tipe 2 (dua) seam atau panel

2 SNI 01-7089-2005 Bentuk baku konstruksi pukat tarik dasar kecil tipe 4 (empat) seam dengan sayap atas

3 SNI 01-7090-2005 Bentuk baku konstruksi pukat kantong payang berbadan jaring panjang

4 SNI 01-7091-2005 Bentuk konstruksi pukat tarik dasar kecil (small bottom trawl net) tipe 4 (empat) seam tanpa
sayap atas

5 SNI 01-7092-2005 Bentuk baku konstruksi pukat kantong payang berbadan jaring pendek

6 SNI 01-7093-2005 Bentuk baku konstruksi pukat kantong dogol

7 SNI 01-7214-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang dasar monofilamen

8 SNI 01-7215-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang pertengahan multifilamen tanpa saran

9 SNI 01-7216-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang pertengahan multifilamen lemuru

10 SNI 01-7217-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang pertengahan multifilamen dengan saran

11 SNI 01-7218-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang permukaan multifilamen lemuru

12 SNI 01-7219-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang permukaan monofilamen lemuru

13 SNI 01-7220-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang dasar monofilamen bawal putih

14 SNI 01-7221-2006 Bentuk baku konstruksi jaring insang banyar

15 SNI 01-7232-2006 Bentuk baku konstruksi pukat hela ikan

16 SNI 01-7233-2006 Bentuk baku konstruksi pukat hela arad

17 SNI 01-7234-2006 Bentuk baku konstruksi pukat tarik lampara dasar

18 SNI 01-7235-2006 Bentuk baku konstruksi pukat hela ganda udang (double rigger shrimp trawl)

19 SNI 01-7236-2006 Bentuk baku konstruksi pukat tarik cantrang


20 SNI 01-7237-2006 Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net)

21 SNI 01-7238-2006 Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net) induk udang

22 SNI 01-7239-2006 Bentuk baku konstruksi kapal pukat cincin (purse seiners) 75 150 GT

23 SNI 01-7240-2006 Bentuk baku konstruksi kapal rawai tuna (tuna long liners) 75 150 GT

24 SNI 7277.1:2008 Istilah dan definisi bagian 1: Sarana penangkapan ikan

25 SNI 7277.2:2008 Istilah dan definisi bagian 2: Kapal perikanan

26 SNI 7277.3:2008 Istilah dan definisi bagian 3: Jaring lingkar

27 SNI 7277.4:2008 Istilah dan definisi bagian 4: Pancing

28 SNI 7277.5:2008 Istilah dan definisi bagian 5: Pukat Hela (trawl)

29 SNI 7277.6:2008 Istilah dan definisi bagian 6: Pukat tarik

30 SNI 7277.7:2008 Istilah dan definisi bagian 7: Penggaruk

31 SNI 7277.8:2008 Istilah dan definisi bagian 8: Jaring insang

32 SNI 7277.9:2008 Istilah dan definisi bagian 9: Jaring angkat

33 SNI 7277.10:2008 Istilah dan definisi bagian 10: Alat perangkap ikan

34 SNI 7277.11:2008 Istilah dan definisi bagian 11: Alat penangkap ikan pengait/penjepit dan melukai

35 SNI 7277.12:2008 Istilah dan definisi bagian 12: Alat penangkap ikan yang dijatuhkan/ditebarkan

36 SNI 7277.13:2008 Istilah dan definisi bagian 13: Alat bantu penangkapan ikan

37 SNI 7277.14:2008 Istilah dan definisi bagian 14: Keselamatan kapal perikanan

43 SNI ISO 3660:2010 Alat penangkap ikan berbahan jaring Pemasangan dan penyambungan jaring Istilah dan
ilustrasi

Selain pengklasifikasian alat, diatur juga penempatan alat penangkapan ikan. Penempatan API dan ABPI pada jalur penangkapan
ikan dan WPP-NRI
disesuaikan dengan:
a. sifat API yang terbagi menjadi API statis, pasif, dan aktif.
b. tingkat selektifitas dan kapasitas API berdasar : mesh size, nomor mata pancing, tali ris atas, bukaan mulut, luasan, penaju, dan jumlah
mata pancing.
c. jenis dan ukuran ABPI terdiri dari jumlah rumpon dan daya lampu;
d. ukuran kapal perikanan masing-masing kapal tanpa motor, kapal berukuran 5GT, kapal motor berukuran 5-10GT, 10-30 GT, dan diatas
30 GT.
e. wilayah penangkapan.
- Sifat API dibedakan menjadi: a. Statis, merupakan API yang dipasang menetap dan tidak dipindahkan untuk jangka waktu lama; b. Pasif,
merupakan API yang dipasang menetap dalam waktu singkat; c. Aktif, merupakan API yang dioperasionalkan secara aktif dan bergerak.

- Tingkat selektifitas dan kapasitas API ditentukan berdasarkan ukuran: a. mesh size; b. nomor mata pancing; c. tali ris atas; d. bukaan mulut;
e. luasan; f. penaju; dan g. jumlah mata pancing.

PUSTAKA:

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 jo. PER.08/MEN/2011 jo. PER.05/MEN/2012 jo. 18/PERMEN-KP/2013
tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan
Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.