Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENGETAHUAN UMUM ASURANSI

1. PENGANTAR ASURANSI SYARIAH


Asuransi sebagai salah satu lembaga keuangan yang bergerak dalam bidang
pertangungan merupakan sebuah institusi modern hasil temuan dari dunia Barat yang lahir
bersamaan dengan adanya semangat pencerahan industri. Institusi ini bersama dengan
lembaga keuangan bank menjadi motor penggerak ekonomi pada era modern dan berlanjut
pada masa sekarang. Dasar yang menjadi semangat operasional asuransi modern adalah
berorientasikan pada sistem kapitalis yang intinya hanya bermain dalam pengumpulan
modal untuk keperluan pribadi atau golongan tertentu, dan kurang atau tidak mempunyai
akar untuk pengembangan ekonomi pada tataran yang lebih komprehensif.

Lain halnya dengan asuransi syariah. Asuransi dalam literatur keislaman meskipun
pada dasarnya asuransi tidak dikenal dalam Islam, lebih banyak bernuansa sosial daripada
bernuansa ekonomi atau keuntungan bisnis (profit oriented). Hal ini dikarenakan oleh aspek
tolong menolong yang menjadi dasar utama dalam menegakkan praktik asuransi dalam
islam. Hal ini tersirat dalam wujud pensyariatan zakat dalam rukun islam, yang secara tidak
langsung merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari konsep
pertanggungan dalam islam. Institusi zakat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim,
di sampaing bernuansa ibadah juga merupakan aspek yang berdimensi sosial. Maka, tatkala
konsep asuransi tersebut dikemas dalam sebuah organisasi perusahaan yang berorientasi
kepada profit, akan berakibat pada penggabungan dua visi yang berbeda, yaitu visi sosial
(social vision) yang menjadi landasan utama, dan visi ekonomi (economic vison) yang
merupakan landasan periferal.

Akan terlihat lain, jika kita menyamakan dengan konsep asuransi yang berkembang
di dunia barat. Asuransi sebagai perusahaan modern merupakan hasil temuan dunia barat
yang diadopsi ke dunia islam dengan landasan utamanya adalah nilai-nilai ekonomi dan
kapitalis. Tak heran, jika dalam dunia asuransi barat nilai utama yang dikedepankan adalah
nilai ekonomi. Seorang yang masuk sebagai nasabah sebuah perusahaan asuransi, akan
mempunyai pemikiran bagaimana dia mendapatkan keuntungan dari perusahaan asuransi
tersebut. Logika ini didasarkan pada semangat revolusi industri yang berkembang di dunia
barat.

Tatkala barat memasuki fase pencerahan, tulang punggung penggerak aspek ekonomi
mereka adalah lembaga keuangan yang berbasis pada dunia perbankan dan perasuransian.
Kedua lembaga keuangan tersebut merupakan mesin ekonomi dunia barat yang berfungsi
sebagai alat dalam pemenuhan kebutuhan ekonominya. Setelah keadaan tersebut mapan di

1| Pengetahuan Umum Asuransi


dunia barat, terjadilah transformasi teknoligi ke dunia islam dengan mambawa kedua
lembaga tersebut dalam suasana kehidupan ekonomi.
Dunia Islam memandang kedua lembaga tersebut sebagai sesuatu yang baru, yang
sebelumnya tidak ditemukan dalam praktek kehidupan umat islam. Dari sini, diperlukan
adanya proses verifikasi dan sentuhan nilai-nilai keilsaman terhadap kedua lembaga
keuangan tersebut (perbankan dan perasuransian). Logika yang mudah dipahami dalam
posisi seperti ini adalah keharusan dalam melakukan proses islamisasi terhadap segala
sesuatu yang berasal dari dunia Barat.

Tinjauan di atas didasarkan pada satu pemikiran bahwa dalam islam belum dikenal
adanya praktek perbankan dan perasuransian, dalam artian sebagai sebuah perusahaan
ekonomi modern. Lain halnya jika dalam literatur keislaman ditemukan adanya konsep
yang betul-betul menjelaskan secara mendetail tentang praktek perbankan dan
perasuransian dalam islam.

Islam memiliki sebuah sistem yang mampu memberikan jaminan atas kecelakaan atau
musibah lainnya melalui sistem zakat. Bahkan sistem ini jauh lebih unggul dari asuransi
konvensional karena sejak awal didirikan memang untuk kepentingan sosial dan bantuan
kemanusiaan. Sehingga seseorang tidak harus mendaftarkan diri menjadi anggota dan juga
tidak diwajibkan untuk membayar premi secara rutin. Bahkan jumlah bantuan yang
diterimanya tidak berkaitan dengan level seseorang dalam daftar peserta tetapi berdasarkan
tingkat kerugian yang menimpanya dalam musibah tersebut.

Dana yang diberikan kepada setiap orang yang tertimpa musibah ini bersumber dari
harta orang-orang kaya dan membayarkan kewajiban zakatnya sebagai salah satu rukun
Islam. Di masyarakat luar Islam yang tidak mengenal sistem zakat, orang-orang berusaha
untuk membuat sistem jaminan sosial, tetapi tidak pernah berhasil karena tidak mampu
menggerakkan orang kaya membayar sejumlah uang tertentu kepada baitul mal
sebagaimana di dalam Islam. Yang tercipta justru sistem asuransi yang sebenarnya tidak
bernafaskan bantuan sosial tetapi usaha bisnis skala besar dengan tujuan untuk mendapatkan
keuntungan yang sebesar-besarnya. Sisi bantuan sosial lebih menjadi lips service (penghias)
belaka sementara hakikatnya tidak lain merupakan pemerasan dan kerja rentenir.

Mekanisme asuransi konvensional yang mereka buat ini adalah sebuah akad yang
mengharuskan perusahaan asuransi untuk memberikan kepada pesertanya sejumlah harta
ketika terjadi bencana maupun kecelakaan atau terbuktinya sebuah bahaya sebagaimana
tertera dalam akad (transaksi), sebagai konsekuensi/imbalan uang (premi) yang dibayarkan
secara rutin dari peserta. Jadi asuransi merupakan salah satu cara pembayaran ganti rugi
kepada pihak yang mengalami musibah, yang dananya diambil dari iuran premi seluruh
peserta asuransi.

2| Pengetahuan Umum Asuransi


Dari segi bentuk transaksi dan praktek ekonomi syariat Islam, asuransi konvensional
hasil produk non Islam ini mengandung sekian banyak cacat syar`i, antara lain :
Akad asuransi adalah akad gharar karena masing-masing dari kedua belah pihak penanggung
dan tertanggung pada waktu melangsungkan akad tidak mengetahui jumlah yang ia berikan
dan jumlah yang dia ambil. Akad asuransi ini adalah akad idz'an (penundukan) pihak yang
kuat adalah perusahan asuransi karena dialah yang menentukan syarat-syarat yang tidak
dimiliki tertanggung.

Mengandung unsur pemerasan,


pemerasan karena pemegang polis, apabila tidak bisa melanjutkan
pembayaran preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau di kurangi. Pada
perusahaan asuransi konvensional, uang masuk dari premi para peserta yang sudah dibayar
akan diputar dalam usaha dan bisnis dengan praktek ribawi.

3| Pengetahuan Umum Asuransi


2. SEJARAH ASURANSI
Asuransi dilihat dari perspektif sejarah, pada tulisan ini, hanya ingin melihat sekelumit
cikal bakal dan awal mula munculnya asuransi dengan tinjauan tiga versi sudut pandang.
Sejarah asuransi yang dimaksud adalah asumsi konsep kemunculan pertama kali yang
banyak dikaji dalam berbagai literatur. Versi yang dimaksud adalah versi Barat, versi Islam
dan versi Indonesia, dan digunakan sebagai sebagai model pemetaan pembahasan, sehingga
memudahkan untuk melacak perkembangan selanjutnya.

Versi Barat
Versi Barat yang dimaksud adalah perkembangan asuransi kali pertama dipraktekkan
di dunia Barat. Menurut Abdulkadir, asuransi mengalami perkembangan dalam tiga periode
sebelum abad modern, yaitu (1) sebelum masehi, (2) awal masehi, dan (3) abad
pertengahan.

asehi Pada zaman kebesaran Yunani di bawah kekuasaan Alexander


Abad sebelum masehi
masehi.
The Great (356-323 SM), seorang pembantunya yang bernama Antimenes memerlukan
sangat banyak uang guna membiayai pemerintahannya pada waktu itu. Untuk
mendapatkan uang tersebut Antimenes mengumumkan kepada para pemilik budak belian
supaya mendaftarkan budak-budaknya dan membayar uang tiap tahun kepada Antimenes.
Sebagai imbalannya, Antimenes menjanjikan kepada mereka jika ada budak yang melarikan
diri, maka dia akan memerintahkan supaya budak itu ditangkap, atau jika tidak dapat
ditangkap dibayar dengan jumlah uang sebagai ganti rugi.

Apabila ditelaah dengan teliti, uang yang diterima oleh Antimenes dari pemilik budak
itu adalah semacam premi yang diterima dari tertanggung. Sedangkan kesanggupan
Antimenes untuk menangkap budak yang melarikan diri, atau membayar ganti kerugian
karena budak yang hilang adalah semacam risiko yang dipikul oleh penanggung. Perjanjian
ini mirip asuransi kerugian. Demikianlah kesimpulan yang dapat diambil dari uraian
Scheltema dalam bukunya yang berjudul Verzkeringsrecht.
Selanjutnya Scheltema menjelaskan bahwa pada zaman Yunani banyak juga orang
yang meminjamkan sejumlah uang kepada Pemerintah Kotapraja dengan janji bahwa
pemilik uang tersebut diberi bunga setiap bulan sampai wafatnya dan bahkan setelah wakaf
diberi bantuan biaya penguburan. Jadi, perjanjian ini mirip dengan asuransi jiwa.

Perjanjian ini terus berkembang pada zaman Romawi sampai tahun ke-10 sesudah
Masehi. Pada waktu itu dibentuk semacam perkumpulan (collegium). Setiap anggota
perkumpulan harus membayar uang pangkal dan uang iuran bulanan. Apabila ada anggota
perkumpulan yang meninggal dunia, perkumpulan memberikan bantuan biaya penguburan
yang disampaikan kepada ahli warisnya. Apabila ada anggota perkumpulan yang pindah ke
tempat lain, perkumpulan yang mengadakan upacara tertentu, perkumpulan memberikan

4| Pengetahuan Umum Asuransi


bantuan biaya upacara. Bila ditelaah maka dapat dipahami sebagai peristiwa hukum
permulaan dari perkembangan asuransi kerugian dan asuransi jiwa.

Awal Masehi
Masehi.
asehi Peristiwa yang telah diuraikan sebelumnya berkembang pada abad
pertengahan. Di Inggris sekelompok orang yang mempunyai profesi sejenis membentuk satu
perkumpulan yang disebut gilde. Perkumpulan ini mengurus kepentingan anggota-
anggotanya dengan janji apabila ada anggota yang kebakaran rumah, gilde akan
memberikan sejumlah uang yang diambil dari dana gilde yang terkumpul dari anggota-
anggota. Perjanjian ini banyak terjadi pada abad ke-9 dan mirip dengan asuransi kebakaran.

Bentuk perjanjian seperti ini berlanjut perkembangannya di Denmark, Jerman dan


negara-negara Eropa lainnya sampai abad ke-12. pada abad ke-13 dan 14 perdagangan
melalui laut mulai berkembang pesat. Tetapi tidak sedikit bahaya yang mengancam dalam
perjalanan perdagangan melalui laut. Keadaan ini mulai terpikir oleh para pedagang waktu
itu untuk mencari upaya yang dapat mengatasi kemungkinan kerugian yang timbul melalui
laut. Inilah titik awal perkembangan asuransi laut.

Untuk kepentingan perjalanan melalui laut, pemilik kapal meminjam sejumlah uang
dari pemilik uang dengan bunga tertentu. Sedangkan kapal dan barang muatannya dijadikan
barang. Dengan ketentuan, apabila kapal dan barang muatannya rusak atau tenggelam,
uang dan bunganya tidak usah dibayar kembali. Tetapi apabila kapal dan barang muatannya
tiba dengan selamat di tempat tujuan, uang yang dipinjam itu dikembalikan ditambah
dengan bunganya. Ini disebut bodemerij. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa bunga
yang dibayar itu seolah-olah berfungsi sebagai premi, sedangkan pemilik uang berfungsi
sebagai pihak yang menanggung risiko kehilangan uang dalam hal terjadi bahaya yang
menimbulkan kerugian. Jadi, urang hilang itu dianggap seolah-olah sebagai ganti kerugian
kepada pemilik kapal dan barang muatannya.

Karena ada larangan menarik bunga oleh Agama Nasrani yang dianggap sebagai riba,
maka pola perjanjian diubah. Dalam peminjaman uang itu pemberi pinjaman tidak perlu
memberikan sejumlah uang lebih dahulu kepada pemilik kapal dan barang muatannya,
melainkan setelah benar-benar terjadi bahaya yang menimpa kapal dan barang muatannya,
barulah dapat diberikan sejumlah uang. Tetapi pada permulaan berlayar pemilik kapal dan
barang muatannya perlu menyetor sejumlah uang kepada pemberi pinjaman sebagai pihak
yang menanggung. Dengan ketentuan apabila tidak terjadi peristiwa yang merugikan, maka
uang yang sudah disetor itu menjadi hak pemberi pinjaman. Jadi, fungsi uang setoran
tersebut mirip dengan premi asuransi.

5| Pengetahuan Umum Asuransi


Model seperti penjelasan di atas merupakan permulaan perkembangan asuransi
kerugian pada pengangkutan laut. Asuransi ini berkembang pesat terutama di negara-negara
pantai (coastal countries) seperti Inggris, Perancis, Belanja, Jerman, Denmark, dan lain-lain.

Abad pertengahan,
pertengahan bidang asuransi laut dan asuransi kebakaran mengalami
perkembangan yang sangat pesat terutama di negara-negara Eropa Barat, seperti Inggris
pada abad ke-17, kemudian di Perancis pada abad ke-18, dan terus ke Belanda.
Perkembangan pesat asuransi laut di negara-negara tersebut dapat dimaklumi karena
negara-negara tersebut banyak berlayar melalui laut dari dan ke negara-negara seberang
laut (overseas countries) terutama wilayah-wilayah jajahannya.

Pada waktu pembentukan Code de Commerce Perancis awal abad ke-19, asuransi
laut dimasukkan dalam kodifikasi. Pada waktu pembentukan Wetboek van Koophandel
Nederland, di sampai asuransi laut dimasukkan juga asuransi kebakaran, asuransi hasil
panen, dan asuransi jiwa. Sedangkan di Inggris, asuransi diatur secara khusus dalam Undang-
undang Asuransi Laut (Marine Insurance Act) yang dibentuk pada tahun 1906. Berdasarkan
asas konkordansi, Wetboek van Koophandel Nederland diberlakukan pula di Hindia
Belanda melalui Staatblad No. 23 tahun 1847.

Asal usul asuransi konvensional di Barat adalah dari kebiasaan masyarakat Babilonia
4000-3000 SM yang dikenal dengan perjanjian Hammurabi, dikumpulkan oleh Raja
Babilonia dalam 282 ketentuan (Code of Hammurabi) pada tahun 2250 SM. Kemudian
berkembang menjadi praktik perjanjian Bottomry (Bottomry Contract) sekitar 1600-1000
SM yang dipraktekkan di masyarakat Yunani.

Praktik perjanjian ini selanjutnya berkembang di Roma, India, Italia, Eropa dan
Amerika. Sejalan dengan perkembangan perdagangan dan industri di Inggris pada tahun
1668 M di Coffe House London berdirilah Lloyd of London yang menjadi cikal bakal
asuransi konvensional di Barat yang tersebar ke berbagai penjuru dunia yang seperti saat
sekarang.

Versi Indonesia
Perusahaan asuransi jiwa yang pertama di Indonesia adalah Nederlandsch Indische
Lifjrente Levensverzekerings Maatschappij (NILIMIJ), didirikan pada tahun 1859. Pada
tahun 1912, para guru pribumi mendirikan Onderlinge Levensvezekerings Maatschappij (OL-
Mij) mengembangkan pola operasi NILIMIJ. Pada masa berikutnya, perusahaan asuransi
jiwa ini berubah menjadi PT. Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera 1912.

Pada awal mulanya asuransi jiwa di Indonesia berbentuk sangat tradisional. Ia adalah
perkumpulan saling menanggung, yang secara gotong royong mengumpulkan iuran dari

6| Pengetahuan Umum Asuransi


anggotanya secara teratur setiap bulan. Dengan iuran yang terkumpul, masyarakat tertentu
membentuk dana khusus untuk mengurus pemakaman salah satu warga yang meninggal
dunia.

Tradisi lain yang biasa dilakukan adalah gotong royong keluarga untuk menanggung
kelangsungan hidup, pendidikan dan kesejahteraan keluarga yang ditinggalkan, terutama
anak yatim. Lambat laun tradisi tersebut diangkat menjadi kontrak formal oleh perusahaan
asuransi yang kebetulan beroperasi di lingkungan bangsa Belanda yang berada di Indonesial.

Sementara sejarah berdirinya asuransi syariah di Indonesia baru muncul pada tahun
1994 bersamaan dengan diresmikannya PT Asuransi Takaful Keluarga dan PT Asuransi
Takaful Umum pada tahun 1995 di bawah holding company PT Asuransi Takaful Indonesia.
Saham kedua perusahaan tersebut dimiliki oleh PT Asuransi Takaful Indonesia yang sebagai
holding company, sahamnya dimiliki oleh PT Abdi Bangsa, PT Bank Muamalat Indonesia,
ormas-ormas Islam, dan pengusaha muslim. Meskipun tidak sepesat counterpart-nya -bank
syariah-, tidak dipungkiri bahwa hingga sekarang asuransi syariah -Takaful- cukup punya
andil dalam mengembangkan usaha perasuransian di Indonesia.

Versi Islam
Asuransi mulai dikenal di kalangan umat Islam hanya pada zaman modern dan tidak
mempunyai bentuk serupa di antara jenis kontrak klasik. Asuransi telah menimbulkan
banyak kontroversi di kalangan ahli hukum Islam, salah satunya karena mencakup tingkat
gharar yang sangat tinggi, tetapi meskipun kontroversi, kini asuransi banyak digunakan pada
perbankan dan keuangan Islam. Terlepas dari hal tersebut, dari sudut sejarah ada yang
menunjukkan bahwa asuransi yang muncul pada masa modern mempunyai persamaan
dengan aqilah yang muncul pada masa pra Islam. Aqilah berarti pihak yang membayar
ganti kerugian atau uang darah. Praktek aqilah (clan of the murderers) membayar 1/3 atau
lebih uang darah (blood-money atau diyat) dalam kasus pembunuhan.

Institusi aqilah, menurut Susan Reyner, memberikan pedoman terhadap bisnis


asuransi di dunia modern sekarang. Pertama, asuransi pada dasarnya adalah usaha
kooperatif untuk saling menolong dan saling memberi rasa aman. Ia seharusnya didesain
ketika tujuan pembayaran ganti kerugian yang dilakukan bersama dapat memenuhi derita
yang dilakukan oleh individu anggota perkumpulan. Praktek ini tidak berhubungan dengan
asuransi sebagai industri yang dibangun berdasarkan profit oriented dan bergerak di sekotr
bisnis dan komersial.

Kedua, usaha kooperatif atas dasar mutual seharusnya tidak digunakan sebagai alat
penciptaan modal untuk tujuan industrialisme. Modal yang terkumpul hendaknya
diinvestasikan pada jalur yang diperbolehkan. Ketiga, kasus ganti kerugian dan kewajiban

7| Pengetahuan Umum Asuransi


keuangan secara hukum dibedakan dari kerugian yang diderita oleh individu, yang tidak
melibatkan orang lain.

Model lain tentang kajian sejarah asuransi dalam pemikiran Islam dimulai sejak Ibn
Abidin (1784-1836), seorang ulama beraliran Hanafiyah, dalam bukunya Hasyiyah Ibn
Abidin, bab al-jihad, pasal istiman al-kafir, yang menulis :

Bahwa telah menjadi kebiasaan bilamana para pedagang menyewa kapal dari seorang
harbiy, mereka membayar upah pengangkutannya. Ia juga membayar sejumlah uang untuk
seorang harbiy yang berada di negeri asal penyewa kapal, yang disebut sebagai sukarah
(premi asuransi), dengan ketentuan bahwa barang-barang pemakai kapal yang berada di
kapal yang disewakannya itu, bilamana musnah karena kebakaran, atau kapal tenggelam,
atau dibajak dan sebagainya, maka penerima premi asuransi itu menjadi penanggung,
sebagai imbalan dari uang yang diambil dari pedagang itu. Penanggung itu mempunyai
wakil yang mendapat perlindungan (mustaman) yang dinegeri kita berdiam di kota-kota
pelabuhan negara Islam atas seizin penguasa. Si wakil tersebut menerima uang premi
asuransi dari para pedagang itu, dan bilamana barang-barang mereka tertimpa peristiwa
yang disebutkan di atas, dia (si wakil)-lah yang membayar kepada para pedagang itu sebagai
uang pengganti sebesar jumlah yang pernah diterimanya.

Kemudian Ibn Abidin juga menyatakan yang jelas tidak boleh bagi si pedagang
menggambil uang pengganti dari barang-barangnya yang telah musnah itu, karena yang
demikian itu iltizamu ma lam yalzam. Dengan ungkapan tersebut, Ibn Abidin dianggap
orang pertama di kalangan fuqaha yang membicarakan masalah asuransi.

8| Pengetahuan Umum Asuransi


3. TINJAUAN
TINJAUAN UMUM ASURANSI
3.1 Pengertian Asuransi
Dalam undang-undang tentang perasuransi terakhir yaitu nomor 40 tahun 2014 telah
mencantumkan pengertian asuransi dan asuransi syariah, seperti dimuat dalam BAB I pasal
1, yang dimaksud dengan :
Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang
polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan
untuk:
a. memberikan penggantian kepada tertanggung ataupemegang polis karena kerugian,
kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggungjawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkindiderita tertanggung atau pemegang polis karena
terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau
b. memberikan pembayaran yang didasarkan padameninggalnya tertanggung atau
pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang
besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Sedangkan Asuransi Syariah adalah kumpulan perjanjian, yang terdiri atas perjanjian
antara perusahaan asuransi syariah dan pemegang polis dan perjanjian di antara para
pemegang polis, dalam rangka pengelolaan kontribusi berdasarkan prinsip syariah guna
saling menolong dan melindungi dengan cara:
a. memberikan penggantian kepada peserta ataupemegang polis karena kerugian,
kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggungjawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkindiderita peserta atau pemegang polis karena
terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau
b. memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya peserta atau
pembayaran yang didasarkan pada hidupnya peserta dengan manfaatyang besarnya
telah ditetapkan dan/atau didasarkanpada hasil pengelolaan dana

Sedangkan Menurut KUHD pasal 246 disebutkan bahwa:


asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung
mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk
penggantian kepadanya karena suatu kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak tentu.
Usaha perasuransian merupakan kegiatan usaha yang bergerak di bidang:
a. Usaha asuransi, yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana
masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada
anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya
kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau
meninggalnya seseorang.

9| Pengetahuan Umum Asuransi


b. Usaha penunjang usaha asuransi, yang menyelenggarakan jasa keperantaraan,
penilaian kerugian asuransi, dan jasa akturia.

Banyak sekali literatur yang selalu memulai pembahasannya dengan definisi asuransi
dan cenderung berbeda redaksi dengan muatan substansi yang hampir sama persis. Model
definisi tentunya didasari oleh sudut pandang yang berbeda, dari sudut hukum, ekonomi,
bisnis, dan hukum Islam.

Herman Darmawi mendefinisikan asuransi dari berbagai sudut pandang, yaitu


ekonomi, hukum, bisnis, sosial dan matematika. Dari sudut pandang ekonomi, asuransi
merupakan metode untuk mengurangi risiko dengan jalan memindahkan dan
mengombinasikan ketidakpastian akan adanya kerugian keuangan (finansial). Dari sudut
pandang hukum, asuransi merupakan suatu kontrak (perjanjian) pertanggungan risiko
antara tertanggung dengan penanggung. Penanggung berjanji akan membayar kerugian
yang disebabkan risiko yang dipertanggungkan kepada tertanggung. Sedangkan tertanggung
membayar premi secara periodik kepada penanggung. Dari sudut pandang bisnis, asuransi
adalah sebuah perusahaan yang usaha utamanya menerima atau menjual jasa, pemindahan
risiko dari pihak lain, dan memperoleh keuntungan dengan berbagi risiko (sharing of risk)
di antara sejumlah nasabahnya. Dari sudut pandang sosial, asuransi adalah organisasi sosial
yang menerima pemindahan risiko dan pengumpulan dana dari anggota-anggotanya guna
membayar kerugian yang mungkin terjadi pada masing-masing anggota tersebut. Dari sudut
pandang matematika, asuransi merupakan aplikasi matematika dalam memperhitungkan
biaya dan faedah pertanggungan risiko. Hukum probabilitas dan teknik statistik
dipergunakan untuk mencapai hasil yang dapat diramalkan.

Sudut pandang Objek Teknik mencapainya


Ekonomi Pengurangan risiko Dengan transfer dan kombinasi
Hukum Perjanjian pemindahan Melalui pembayaran premi oleh
risiko tertanggung kepada penanggung
dalam suatu kontrak
Bisnis Berbagi risiko Dengan memindahkan risiko dari
individu ke lembaga penanggung
risiko
Sosial Memikul kerugian secara Semua anggota membayar iuran
kolektif kerugian yang kebetulan diderita
oleh salah satu anggota
Matematika Memperhitungkan dan Dengan perkiraan aktuarial yang
mendistribusikan didasarkan atas prinsip
probabilitas

10 | Pengetahuan Umum Asuransi


Semakna dengan definisi Herman Darmawi dari sudut sosial, A. Hasyim Ali
mengkategorikan bahwa asuransi sebagai alat sosial. Ia didefinisikan sebagai alat sosial untuk
mengurangi risiko dengan menggabungkan sejumlah yang memadai unit-unit yang terbuka
terhadap risiko sehingga kerugian-kerugian individual mereka secara kolektif dapat
diramalkan. Kemudian kerugian yang dapat diramalkan itu dipikul merata oleh semua
mereka yang bergabung.

Menurut J. Tinggi Sianipar (1990 :5), definisi asuransi dapat dilihat dari sudut
ekonomi adalah suatu cara / alat pemindahan resiko dari seseorang kepada orang lain.
Dengan adanya pemindahan resiko yang dilakukan melalui lembaga asuransi, maka apabila
dimasa yang akan datang ada kerugian-kerugian yang diderita seseorang akibat resiko yang
dihadapinya, maka kerugian termaksud dapat dialihkannya kepada orang lain, yaitu kepada
siapa ia telah memindahkan resiko tersebut, Jadi secara lengkap definisi asuransi adalah
suatu perjanjian kontrak antara penanggung dengan tertanggung dalam perjanjian mana
penanggung berjanji akan mengganti setiap kerugian yang diderita oleh penanggung akibat
dari suatu resiko yang disebutkan dalam perjanjian, resiko mana belum diketahui atau belum
terjadi pada saat perjanjian diadakan (belum pasti). Atas kesediaan penanggung
memberikan penggantian seperti tersebut diatas, ia menerima sejumlah uang yang relatif
kecil yang disebut premi.

Persinggungan Islam dengan praktik bisnis modern juga menuntut batasan


pendefinisian istilah, termasuk asuransi. Wahbah Zuhaili1 memaknai kosa kata asuransi
dengan kata at-tamin dalam menjelaskan arti pertanggungan. Selanjutnya ia membagi at-
tamin menjadi dua macam, yaitu at-tamin at-taawun, yaitu bentuk asuransi tolong
menolong dan hukumnya boleh, dan at-tamin bi qisth tsabit yaitu asuransi dengan
pembagian tetap yang hukumnya masih diperdebatkan (kontroversial). At-tamin jenis
kedua yang cenderung bersifat komersial yang mendeskripsikan bahwa hubungan asuransi
adalah hubungan antara nasabah dengan perusahaan asuransi, tidak adanya hubungan
saling memikul antarnasabah.

Husein Hamid Hasan juga menggunakan kata at-tamin sebagai padanan kata
asuransi. Ia mendefinisikan sebagai akad di mana orang yang menjamin harus memberikan
rasa aman kepada orang yang dijaminnya, atau kepada orang yang meminta jaminan
keamanan atas benda yang dimilikinya baik harta atau kehormatan, atau dengan memberi
barang pengganti yang lain ketika terjadinya suatu peristiwa atau terjadinya kehawatiran
yang jelas dalam akadnya, atas dasar pembagian tetap atau penyerahan harta oleh orang
yang minta jaminan kepada si penjamin.

11 | Pengetahuan Umum Asuransi


Isa Abduhpun menggunakan kata at-tamin dalam konteks sebagai asuransi, tetapi
kata at-tamin sering digunakan, menurutnya, dalam struktur bahasa sebuah perundang-
undangan. Dilihat secara harfiyah, asal-usul kata at-tamin berasal dari kata a-mi-na yang
mempunyai arti ketenangan jiwa dan hilangnya rasa takut.

Mohd. Masum Billah mengartikan pertanggungan dengan penggunaan kata al-


takaful yang bermakna share responsibilitesi, shared guarantee, responsibilities, assurance or
surety (saling bertanggung jawab, saling menjamin, saling menanggung). Kata tersebut
(takaful) mengandung arti musyarakat (saling atau resiprokal). Secara definitif ia memaknai
takaful dengan mutual guarantee provided by a group of people living in the same society
againts a defined risk or catastrophe befalling ones life, property or any form of valuable
things (jaminan bersama yang disediakan oleh sekelompok masyarakat yang hidup dalam
satu lingkungan yang sama terhada risiko atau bencana yang menimpa jiwa seseorang, harta
benda, atau segala sesuatu yang berharga).
Berbeda lagi dengan Muhammad Syauqi al-Fanjari Ia menggunakan kata al-
tadhamun untuk mengungkap makna tanggung jawab sosial bersama. Tetapi ia juga
memaknai kata pertanggungan dengan at-tamin, dan membaginya menjadi tiga macam
yaitu : at-tamin at-taawuniy (pertanggungan saling menolong), at-tamin at-tijariy
(pertanggungan komersial), dan at-tamin al-hukumiy (pertanggungan pemerintah -wajib-).

Dari beberapa uraian batasan di atas, ternyata ditemukan beberapa istilah sebagai
pemaknaan harfiah tentang asuransi. Kata tersebut adalah asuransi (Indonesia), insurance
dan assurance (Inggris), Verzeekering (Belanda), dan kemudian dalam istilah Arab muncul
at-tamin, at-takaful, at-tadhamun. Makna harfiah cenderung sama yaitu pertanggungan
dengan muatan memberi rasa aman atas risiko yang dihadapi. Hal yang membedakan
adalah jika jenis asuransi yang pertama hubungan antarnasabah saling memikul beban risiko
dan perusahaan asuransi sebagai fasilitator (pemegang amanah) untuk mengelola secara
manajerial dan belakangan disebut at-taawuniy, maka jenis asuransi yang kedua adalah
hubungan nasabah dengan perusahaan asuransi, yang kemudian disebut at-tijariy
(komersial).

Dari definisi di atas juga pengelompokan definisi menjadi tiga kategori, yaitu (1)
definisi dari segi teknis, (2) definisi dari segi hukum, dan (3) definisi dari segi fungsi. Masing-
masing definisi mempunyai karakteristik masing-masing. Definisi teknis lebih menekankan
asuransi sebagai lembaga bisnis terlepas dari model asuransi perdagangan atau asuransi
kooperatif (taawuni), definisi hukum lebih menekankan pada aspek kontrak yang
melibatkan beberapa pihak sehingga membentuk ikatan hukum (legally bound) yang
biasanya dituangkan dalam polis, dan definisi fungsi menekankan bahwa asuransi sebagai
alat sosial yang dapat menciptakan saling menanggung, berbagai beban dan menciptakan
pertumbuhan ekonomi masyarakat.

12 | Pengetahuan Umum Asuransi


Usaha perasuransian dilaksanakan oleh:
1. Perusahaan Asuransi:
a. Perusahaan Asuransi Kerugian, adalah perusahaan yang memberikan jasa
dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat, dan
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang
tidak pasti.
b. Perusahaan Asuransi Jiwa, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya
seseorang yang dipertanggungkan.
c. Perusahaan Reasuransi, adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh Perusahaan Asuransi
Kerugian dan atau Perusahaan Asuransi Jiwa.

2. Penunjang Usaha Asuransi:


a. Perusahaan Pialang Asuransi, adalah perusahaan yang memberikan jasa
keperantaraan dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti
rugi asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.
b. Perusahaan Pialang Reasuransi, adalah perusahaan yang memberikan jasa
keperantaraan dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian
ganti rugi reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan
asuransi.
c. Agen Asuransi, adalah seseorang atau badan hukum yang kegiatannya
memberikan jasa dalam memasarkan jasa asuransi untuk dan atas nama
penanggung.
d. Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi, adalah perusahaan yang memberikan
jasa penilaian terhadap kerugian pada obyek asuransi yang dipertanggungkan.
e. Perusahaan Konsultan Akturia, adalah perusahaan yang memberikan jasa
akturia kepada perusahaan asuransi dan dana pensiun dalam rangka
pembentukan dan pengelolaan suatu program asuransi dan atau program
pensiun.

3.2 Unsur-
Unsur-unsur Asuransi
Berdasarkan pengertian asuransi menurut Undang Undang diatas, maka dalam
asuransi terdapat 9 unsur, yaitu :
Tertanggung (insured) atau peserta yaitu seseorang / badan yang berjanji untuk
membayar uang premi kepada pihak penanggung, sekaligus atau secara berangsur-
angsur. Hak dari tertanggung adalah mendapatkan klaim asuransi, kewajiban
tertanggung adalah membayar premi kepada pihak asuransi.

13 | Pengetahuan Umum Asuransi


Penanggung (insure) atau operator/pengelola yaitu suatu badan yang berjanji akan
membayar sejumlah uang (santunan) kepada pihak tertanggung, sekaligus atau secara
berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tak tertentu. Hak
dari penanggung adalah mendapatkan premi, Kewajiban penanggung adalah
memberikan klaim sejumlah uang kepada pihak tertanggung apabila terjadi suatu hal
yang sudah diperjanjikan.
Peril yaitu suatu peristiwa yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya) yang jika
terjadi akan mengalami kerugian.
Objek yaitu Kepentingan yang mungkin akan mengalami kerugian karena peristiwa
yang tak tertentu
Perantara penjualan asuansi yang sering disebut dengan agen asuransi atau pialang
asuransi atau broker asuransi
Re Asuransi / Re Takaful yaitu perusahaan yang menanggung risiko yang ditanggung
oleh perusahaan asuransi
Perantara penjualan reasuransi yang sering disebut pialang atau broker reasuransi
Konsultan aktuaria yaitu jasa konsultan dalam melakukan perhitungan dan analisa
atas risiko tertentu yang menjadi rekomendasi dan rujukan underwriting dalam
menentukaan akseptasi risiko.
Penilai kerugian atau yang sering disebut dengan loss adjuster yaitu pihak
independent yang melakukan analisa dan penentuan nilai suatu kerugian yang salah
satu aktivitasnya melakukan survey dan ivestigasi risiko kepada tertanggung yang
kemudian membuat laporan klaim kepada penanggung sebagai rekomendasi dan
rujukan dalam menyelesaikan klaim.

14 | Pengetahuan Umum Asuransi


3.3 Jenis dan Ruang Lingkup Asuransi

Sekarang ini amat banyak sekali jenis asuransi seiring dengan perkembangan zaman
dan persaingan pasar, karena atas dasar persaingan pasar asuransi masing-masing
perusahaan menciptakan diferensiasi produk untuk membidik segmen pasar yang belum
tersentuh oleh perusahaan asuransi pesaing.

Namun demikian, pembagian jenis asuransi secara garis besar yang dilihat dari
beberapa tinjauan, seperti dari segi badan penyelenggara asuransi, segi tujuan asuransi, segi
objek asuransi.

Dari segi badan penyelenggara, asuransi terbagi menjadi 2, yaitu (1) asuransi
pemerintah (governmental insurance) dan (2) asuransi swasta (private insurance). Asuransi
pemerintah diselenggarakan oleh negara melalui salah satu badan eksekutifnya sebagai
layanan terhadap masyarakat. Beberapa kemungkinan alasan mengapa pemerintah
menyelenggarakan asuransi, (1) sebagai layanan sosial demi kesejahteraan masyarakat, (2)
stabilitasasi harga jasa asuransi, (3) ambil alih risiko yang secara teknis tidak dapat dilakukan
oleh swasta. Sebaliknya asuransi swasta diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan swasta
yang meliputi bermacam aneka peruasuransian.

Dari segi tujuan, asuransi terbagi menjadi 2, yaitu (1) asuransi sosial (social insurance)
dan asuransi khusus (special insurance). Asuransi sosial bertujuan memberi pelayanan kepada
masyarakat umum sebagai keseluruhan. Intinya adalah kemanfaatan dari jasa asuransi sosial
adalah untuk umum. Asuransi sosial sering diidentikan dengan asuransi pemerintah, pada
hal tidak selamanya demikian. Pemerintah memang sering menyelenggarakan asuransi sosial
sebut saja TASPEN, ASABRI, JAMSOSTEK, Jasa Raharja, Husada Bhakti.

Adapun asuransi khusus bertujuan melindungi kepentingan-kepentingan khusus bagi


orang-orang yang menyelenggarakan asuransi itu saja. Asuransi khusus ini dapat berbentuk
mutual (bersama) atau bersifat kepemilikan. Asuransi bersama (mutual) memunyai ciri-ciri
antara lain dimiliki dan dikontrol oleh pemegang polisnya. Perusahaan asuransi ini tidak
mempunyai pemegang saham dan tidak ada saham yang dikeluarkan. Pemegang polis
sekaligus sebagai penanggung dan tertanggung. Pejabat yang menjalankan polis diangkat
oleh para pemegang polis, tujuan organisasi ini bukan mengejar laba semata tetapi
menyediakan asuransi dalam harga pokok. Sedangkan asuransi kepemilikan dimiliki oleh
satu atau sekelompok orang dengan tujuan mengejar laba dengan memberikan jasa pada
orang lain.

Perbedaan tujuan asuransi ini mempengaruhi asas dan metode pelaksanaan


pertanggungan. Asuransi sosial berlandaskan pada solidaritas sosial dan kesetiakawanan

15 | Pengetahuan Umum Asuransi


serta mendahulukan prinsip sosial atas kepentingan pribadi yang melandasi asuransi khusus.
Selain itu asuransi sosial bersifat wajib, sementara asuransi khusus bersifat sukarela.

Dari segi objek, asuransi dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu (1) asuransi orang
(personal insurance), (2) asuransi harta kekayaan (property insurance), dan (3) asuransi
tanggung jawab (liability insurance). Asuransi jenis pertama berkaitan dengan risiko-risiko
orang, seperti kematian, cacat, hari tua, sakit dan sebagainya. Asuransi jenis kedua berkaitan
dengan risiko-risiko yang menyangkut harta kekayaan, yaitu kerugian yang terjadi pada
harta kekayaan seseorang karena misalnya kebakaran, bencana alam, dan sebagainya.
Asuransi jenis terakhir meliputi pertanggungan yang menjamin kerugian-kerugian yang
menimpa tanggung jawab keuangan tertanggung yang memungkikannya melakukan
pembayaran ganti rugi kepada pihak ketiga yang menjadi tanggung jawabnya menurut
hukum, seperti asuransi kecelakaan kerja, asuransi kecelakaan mobil, dan sebagainya.

Dengen berkembangnya jenis asuransi, maka pemerintah Indonesia membagi


asuransi menjadi 3 Ruang lingkup asuransi. Ruang lingkup asuransi ini tercantum dalam UU
No.40/2014, yaitu :

1. Asuransi Jiwa
Asuransi Jiwa pada prinsipnya merupakan suatu bentuk kerjasama antara orang-
orang yang ingin menghindarkan atau minimal mengurangi resiko yang diakibatkan oleh
Resiko Kematian, Resiko hari tua dan Resiko kecelakaan.
Asuransi jiwa dapat digabungkan dengan program-program investasi atau program-
program keuangan lainnya termasuk usaha anuitas yang melahirkan berbagai macam
produk-produk asuransi jiwa.

Asuransi Jiwa selain bertujuan untuk menjamin suafu estate dari mana para ahli waris
dapat memperoleh penghasilan jika kepala keluarga meninggal dunia juga bertujuan untuk
menabung uang sebagai bagian dari estate hidup seseorang yang diadakan untuk
penghasilan di masa depan. Tujuan yang pertama disebut proteksi atau perlindungan
sedangkan yang kedua disebut dengan kebutuhan tabungan.

Berikut beberapa Asuransi Jiwa yang ada di Indonesia :


1. ACE Life Assurance, PT 9. BNI Life Insurance, PT
2. Adisarana Wanaartha, PT Asuransi Jiwa 10. Beringin Life, PT Asuransi Jiwa
3. AIA Financial, PT 11. Bumiputera 1912, PT. Asuransi Jiwa
4. Asuransi Allianz Life Indonesia, PT 12. Bumi Asih Jaya, PT
5. Avrist Assurance, PT 13. Bakrie, PT. Asuransi Jiwa
6. AXA Life Indonesia, PT 14. Equity Life Indonesia, PT
7. AXA Financial Indonesia, PT 15. Central Asia Raya, PT, Asuransi Jiwa
8. AXA Mandiri Financial Services, PT 16. Cigna, PT. Asuransi

16 | Pengetahuan Umum Asuransi


17. Commonwealth Life, PT 31. Pasaraya Life Insurance, PT
18. Generali Indonesia, PT. Asuransi 32. Panin Life, PT. Asuransi Jiwa
19. Great Eastern Life Indonesia, PT 33. Prudential Life Assurance, PT
20. Heksa Eka Life Insurance, PT 34. Recapita, PT. Asuransi Jiwa
21. Indolife Pesniontama, PT 35. Sequis Life, PT. Asuransi Jiwa
22. Jiwasraya, PT. Asuransi (Persero) 36. Sinar Mas, PT. Asuransi Jiwa
23. Inhealth Indonesia, PT 37. Sun Life Financial Indonesia, PT
24. Kresna Life (d/h Miralife), PT 38. Syariah Mubarakah, PT. Asuransi
25. MAA Life Assurance, PT 39. MNC Life Assurance, PT
26. Mayapada Life, PT 40. UOB Life Sun Assurance, PT
27. Manulife Indonesia, PT Asuransi Jiwa 41. Asuransi Aviva Indonesia, PT
28. Mega Life, PT. Asuransi Jiwa 42. AIOI Indonesia, PT. Asuransi
29. Multicor Life, PT 43. Takaful Keluarga, PT
30. Nusantara, PT. Asuransi Jiwa 44. Tugu Mandiri, PT. Asuransi JIwa

2. Asuransi Umum
Dikenal juga dengan Asuransi Kerugian merupakan penanggulangan risiko atas
kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul
dari peristiwa yang tidak pasti. Penjaminan ini bersifat jangka pendek (short term)- biasanya
satu tahun.

Asuransi kerugian akan memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang menderita
kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi karena bencana atau bahaya
terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu berupa kehilangan nilai pakai,
nilainya dan kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung. Penanggung tidak
harus membayar ganti rugi kepada tertanggung kalau selama jangka waktu perjanjian obyek
pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang dipertanggungkan.

Berikut Beberapa Asuransi Umum di Indonesia :


1. ACE INA Insurance, PT 15. Bess Central Insurance (d/h AIOI)
2. Adira Dinamika, PT Asuransi 16. Bintang Tbk, PT Asuransi
3. Artarindo, PT Asuransi 17. Bhakti Bhayangkara, PT
4. Allianz Utama Indonesia, PT 18. Bina Dana Arta, PT Asuransi
5. Arthagraha General Insurance, PT 19. Binagriya Upakara, PT Asuransi
6. Asia Reliance General Insurance, PT 20. Buana Independent, PT Asuransi
7. Askrindo (Persero), PT 21. Bosowa Periskop, PT
8. Asoka Mas, PT. Asuransi 22. Bumiputeramuda 1967, PT Asuransi
9. Astra, PT. Asuransi 23. Bringin Sejahtera Artamakmur, PT
10. Avrist general Ins Asuransi
11. AXA Indonesia, PT. Asuransi 24. Central Asia, PT Asuransi
12. Bangun Askrida, PT. Asuransi 25. Central Sejahtera Insurance, PT
13. Batavia Mitratama Insurance, PT 26. Chartis Insurance Indonesia, PT
14. Berdikari Insurance, PT 27. China Insurance, PT

17 | Pengetahuan Umum Asuransi


28. China Taiping Insurance 60. Pasaraya General Insurance, PT
29. Citra International Underwriters, PT 61. Pasific International Indonesia
30. Dayin Mitra Tbk, PT Asuransi Insurance, PT
31. Dharma Bangsa, PT Asuransi 62. Permata Nipponkoa Indonesia, PT
32. Ekspor Indonesia (Persero), PT 63. Panin Insurance Tbk. PT
Asuransi 64. Pan Pacific Insurance (d/h Jaya Inti)
33. Eka Lloyd Jaya, PT Asuransi 65. Prisma Indonesia, PT Asuransi
34. Hanjin Korindo, PT Asuransi 66. Puri Asih, PT Asuransi
35. Harta Aman Pratama, PT Asuransi 67. QBE Pool Indonesia, PT Asuransi
36. Himalaya Pelindung, PT Asuransi 68. Rama Satria Wibawa, PT Asuransi
37. Intra Asia, PT Asuransi 69. Ramayana Tbk, PT Asuransi
38. Indrapura, PT Asuransi 70. Raksa Pratikara, PT Asuransi
39. Jasa Indonesia, PT Asuransi 71. Raya, PT Asuransi
40. Jasa Tania, PT Asuransi 72. Reliance Indonesia, PT Asuransi
41. Jasa Raharja Putera, PT Asuransi 73. Purna Artanugraha, PT. Asuransi
42. Jaya Proteksi, PT Asuransi 74. Samsung Tugu, PT Asuransi
43. Jamindo General Insurance, PT 75. Sarana Lindung Upaya, PT Asuransi
Asuransi 76. Sinar Mas, PT Asuransi
44. Jaya Inti, PT Asuransi 77. Sompo Japan Insurance Indonesia, PT
45. Kurnia Indonesia Insurance 78. Sumit Oto Insurance
46. Maskapai Asuransi Sonwelis, PT 79. Recapital, PT Asuransi
47. LIG Insurance Indonesia, PT 80. Staco Mandiri, PT Asuransi
48. Lippo General Insurance 81. Sarijaya, PT Asuransi
49. MAA General Assurance 82. Takaful Umum, PT Asuransi
50. Mandiri Axa General Insurance (d/h 83. Tokio Marine Indonesia, PT Asuransi
Dharma Bangsa) 84. Tripakarta, PT Asuransi
51. MaiPark Indonesia 85. Tugu Kresna Pratama, PT
52. Malacca Trust Wuwungan Ins (d/h 86. Tugu Pratama Indonesia General
Wuwungan) Insurance, PT
53. MNC Insurance (d/h Jamindo Pusaka) 87. Umum Mega, PT Asuransi
54. Mega Pratama, PT Asuransi 88. Victoria Insurance, PT
55. Mitra Maparya, PT Asuransi 89. Videi, PT Asuransi Umum
56. Multi Artha Guna Tbk, PT Asuransi 90. Wahana Tata, PT Asuransi
57. Parolamas, PT Asuransi 91. Wanamekar Handayani, PT Asuransi
58. MSIG Indonesia, PT Asuransi 92. Wuwungan, PT Asuransi
59. Pan Pacific Insurance, PT 93. Zurich Insurance Indonesia, PT

3. Re Asuransi
Reasuransi adalah asuransi yang diasuransikan ulang kepada pihak ketiga yang
memberikan jasa dalam asuransi ulang terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan
asuransi kerugian atau perusahaan asuransi jiwa.

18 | Pengetahuan Umum Asuransi


Usaha reasuransi dijalankan oleh perusahaan reasuransi. Dalam hal ini, perusahaan
reasuransi dapat menjalankan usaha di bidang asuransi jiwa atau asuransi kerugian. Kegiatan
usaha asuransi dan reasuransi merupakan kegiatan usaha yang bersambungan. Pada
perusahaan asuransi, penanggung menerima pengalihan risiko dari tertanggung. Pada
perusahaan reasuransi pihak penanggung ulang menerima pengalihan risiko dari
penanggung, maka kedudukan penanggung adalah sebagai tertanggung dalam reasuransi
(asuransi ulang). Hubungan hukum yang terjadi antara penanggung dan penanggung ulang
didasarkan pada perjanjian.

Perjanjian Reasuransi adalah perjanjian antara penanggung (insurer) dan


penanggung ulang (reinsurer), berdasarkan perjanjian tersebut penanggung ulang menerima
premi dari penanggung yang jumlahnya ditetapkan lebih dulu dan penanggung ulang
bersedia untuk membayar ganti kerugian kepada penanggung. Jika dia membayar ganti
kerugian kepada tertanggung sebagai akibat asuransi yang dibuat reasuransi, penanggung
mengasuransikan lagi risiko yang menjadi tanggungannya itu kepada penanggung ulang.
Dalam hal ini berlangsung asuransi yang berurutan dan bertingkat.

Reasuransi bertujuan untuk memungkinkan penanggung membayar klaim kepada


tertanggung dalam hal terjadi sesuatu yang menimbulkan kerugian, sedangkan pihak
penanggung khawatir jika nanti dia tidak mampu membayar klaim tersebut. Oleh karena
itulah, penanggung mengasuransikan ulang apa yang telah menjadi tanggungannya. Akan
tetapi reasuransi tersebut hanya dapat dilakukan satu kali saja, sehingga asuransi tesebut
tidak bertentangan dengan asas keseimbangan. Reasuransi pada dasarnya dilakukan untuk
meringankan beban penanggung.

Dalam reasuransi, pihak penanggung dapat mengasuransikan kepentingan (tanggung


jawabnya) itu untuk sebagian atau seluruhnya. Dengan mengadakan reasuransi tersebut,
kedudukan penanggung bertambah kuat karena ada pihak lain, yaitu penanggung ulang
(reinsurer) yang mendukung penanggung bahwa kerugian tertanggung pasti dapat dibayar
jika terjadi sesuatu yang menimbulkan kerugian. Kedudukan penanggung pertama adalah
sebagai penyebar beban risiko kepada penanggung ulang terhadap asuransi yang
diperjanjikan tersebut.

Berikut beberapa perusahaan reasuransi di Indonesia :


1. Reasuransi Internasional Indonesia, PT
2. Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk, PT
3. Reasuransi Nasional Indonesia
4. Tugu Reasuransi Indonesia, PT

19 | Pengetahuan Umum Asuransi


3.4 Manfaat Asuransi
Pada dasarnya asuransi memberikan manfaat bagi pihak tertanggung, antara lain:
1. Rasa aman dan perlindungan
Polis asuransi yang dimiliki oleh tertanggung akan memberikan rasa aman dari risiko
atau kerugian yang mungkin timbul. Kalau risiko atau kerugian tersebut benar-benar
terjadi, pihak tertanggung (insured) berhak atas nilai kerugian sebesar nilai polis atau
ditentukan berdasarkan perjanjian antara tertanggung dan penanggung.
2. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil
Prinsip keadilan diperhitungkan dengan matang untuk menentukannilai
pertanggungan dan premi yang harus ditanggung oleh pemegang polis secara
periodik dengan memperhatikan secara cermat faktor-faktor yang berpengaruh besar
dalam asuransi tersebut. Untuk mendapatkan nilai pertanggungan, pihak
penanggung sudah membuat kalkulasi yang tidak merugikan kedua belah pihak.
Semakin besar nilai pertangguangan, semakin besar pula premi periodik yang harus
dibayar oleh tertanggung.
3. Polis asuransi dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh kredit.
4. Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan
Premi yang dibayarkan setiap periode memiliki substansi yang sama dengan
tabungan. Pihak penanggung juga memperhitungkan bunga atas premi yang
dibayarkan dan juga bonus (sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak).
5. Alat penyebaran risiko
Risiko yang seharusnya ditanggung oleh tertanggung ikut dibebankan juga pada
penanggung dengan imbalan sejumlah premi tertentu yang didasarkan atas nilai
pertanggungan.
6. Membantu meningkatkan kegiatan usaha

Secara khusus asuransi akan memberikan manfaat sesuai dengan kebutuhan dan ruang
lingkup atau jenis asuransi tersebut, antara lain :

Manfaat dan Keuntungan Asuransi Jiwa


Dengan menjadi pemegang polis asuransi jiwa, tertanggung merasa nyaman jika
sewaktu-waktu dalam perjalanan hidup kita mengalami musibah fatal yang semua orang
tidak inginkan, misalnya saja kecelakaan dijalan yang bisa berakibat kematian, cacat tetap /
cacat permanen, yang dimana semua itu akan membutuhkan biaya besar untuk berobat,
disinilah letak manfaat asuransi jiwa yang kita miliki, dengan begitu fokus keluarga adalah
pada perawatan / pengobatan bukan kebingungan mencari biaya rumah sakit.

Manfaat dan Keuntungan Asuransi Kerugian


Asuransi ini juga tak kalah penting, harta benda yang berhubungan langsung dengan
sumber penghasilan kehidupan kita haruslah diamankan seperti toko, ruko, rumah, mobil

20 | Pengetahuan Umum Asuransi


serta harta benda yang lain, kita memang tak mengharapkan musibah terjadi dalam
kehidupan kita namun siapapun tak tahu apa yang akan terjadi dikemuadian hari, bisa saja
terjadi kecelakaan dijalan, kebakaran, bencana alam, dsb. Dengan memiliki asuransi ini kita
akan mendapatkan biaya pertanggungan sesuai dengan aturan perusahaan penyedia
asuransi.

Pada akhirnya dengan memiliki asuransi akan membantu memberikan rasa aman dan
nyaman bila suatu saat terjadi sesuatu diluar batas kemampuan kita

3.5 Prinsip-
Prinsip-prinsip Asuransi
Prinsip berarti dasar, dimana jika ada suatu permasalahan maka prinsip ini akan
menjadi rujukan. Asuransi memiliki prinsip-prinsip yang perlu diketahui baik dari sisi
perusahaan asuransi maupun tertanggung. Prinsip-prinsip ini tertulis dalam polis dalam
pasal-pasal tertentu. Beberapa prinsip tidak berlaku dalam cabang asuransi jiwa, dan berikut
adalah prinsip-prinsip asuransi.

1. Insurable interest (kepentingan yang dipertanggungkan)


Pada prinsipnya merupakan hak berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan
suatu risiko yang berkaitan dengan keuangan, yang diakui sah secara hukum antara
tertanggung dengan sesuatu yang dipertanggungkan. Syarat yang perlu dipenuhi agar
memenuhi kriteria insurable interest:
a. Kerugiaan tidak dapat diperkirakan. Risiko yang bisa diasuransikan berkaitan
dengan kemungkinan terjadinya kerugian. Kemungkian tersebut tidak dapat
diperkirakan terjadinya.
b. Kewajaran. Risiko yang dipertanggungkan dalam asuransi adalah benda atau harta
yang memiliki nilai material baik bagi tertanggung maupun bagi penanggung.
c. Catastrophic. Risiko yang mungkin terjadi haruslah tidak akan menimbulkan
suaatu kemungkinan rugi yang sangat besar, yaitu jika sebagian besar
pertanggungan kemungkinan akan mengalami kerugian pada waktu yang
bersamaan.
d. Homogen. Untuk memenuhi syarat dapat diasuransikan, barang atau harta yang
akan dipertanggungkan harus homogen, yang berarti banyak barang yang serupa
atau sejenis.

2. Utmost Good Faith (itikad baik)


Dalam melakukan kontrak asuransi, kedua belah pihak dilandasi oleh itikad baik.
Antar pihak tertanggung dan penanggung harus saling mengungkapkan keterbukaan.
Kewajiban dari kedua belah pihak untuk mengungkapkan fakta disebut duty of
disclosure.

21 | Pengetahuan Umum Asuransi


3. Indemnity
Konsep indemnity adalah mekanisme penanggung untuk mengompensasi risiko yang
menimpa tertanggung dengan ganti rugi finansial. Konsep ini tidak dapat mengganti
nyawa yang hilang atau anggota tubuh yang rusak atau cacat karena indemnity
berkaitan dengan ganti rugi finansial.

4. Proximate Cause
Adalah suatu sebab aktif, efisien yang mengakibatkan terjadinya suatu persitiwa
secara berantai atau berurutan tanpa intervensi suatu ketentuan lain, diawali dan
bekerja dengan aktif dari suatu sumber baru dan independent.

5. Subrogation
Pada prinsipnya merupakan hak penanggung yang telah memberikan ganti rugi
kepada tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan
asuransinya mengalami suatu peristiwa kerugian.

6. Contribution
Bahwa penanggung berhak mengajak penanggung-penanggung yang lain yang
memiliki kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada
seorang tertanggung meskipun jumlah tanggungan masing-masing belum tentu sama
besar.

22 | Pengetahuan Umum Asuransi


4. KONSEP DAN PRINSIP ASURANSI SYARIAH
4.1 Ihktilaf Ulama Tentang Asuransi
Dikalangan Muslim terdapat kesalahpahaman, bahwa asuransi itu tidak islami.
Mereka berpendapat bahwa asuransi sama dengan mengingkari rahmat ilahi. Hanya Allah
yang bertanggung jawab untuk memberikan rezeki yang layak kepada kita. Dasar hukum
Asuransi dalam A-Quran, antara lain :

1. Surah al-Maidah ayat 2

Artinya: tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan


jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu
kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya. (Q.S, al-Maidah 5:2)

2. Surah al-Baqarah ayat 185

Artinya: .Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran


bagimu. Q.S, al-Baqarah 2:185

3. Surah al-Taghaabun ayat 11

5
Artinya: tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin
Allah. (Q.S, al- Taghaabun 64:11)

.4. Surah al Hasyr ayat 18

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

23 | Pengetahuan Umum Asuransi


5. Surat An Nisa ayat 9

Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)
mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.

6. Surah luqman ayat 34

Artinya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari
kiamat dan dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.
Dan tidak seorangpun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok; dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui dibumi mana ia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha mengenal. (Q.S, Luqman 31:34)

Hadits Rasulullah SAW juga dapat menjadi rujukan sebagai dasar hukum, yaitu

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad bersabda: Barangsiapa yang
menghilangkan kesulitan duniawinya seorang mukmin, maka Allah SWT. Akan
menghilangkan kesulitangnya pada hari kiamat, barang siapa yang mempermudah kesulitan
seseorang, maka Allah SWT. Akan mempermudah urusan dunia dan akhirat. (HR. Muslim)

Dari Sa'd bin Abi Waqas ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "... Sesungguhnya
engkau jika meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya (berkecukupan) adalah lebih
baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam kondisi miskin meminta-minta pada
manusia. Dan sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah kepada keluargamu
dengan tujuan mengharap keridhaan Allah SWT, melainkan akan Allah berikan pahala
atasnya, bahkan suapan yang engkau suapkan ke mulut istrimu..." (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang
membantu menghilangkan kesulitan dunia seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan
kesulitannya pada hari kiamat. Dan barang siapa yang memudahkan urusan seorang muslim,
maka Allah akan memudahkan urusannya pada hari kiamat. (HR. Muslim)

24 | Pengetahuan Umum Asuransi


Dari Amru bin Auf Al-Nuzani ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Kaum muslimin itu
terikat dengan syarat yang mereka sepakati, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal
atau menghalalkan yang haram." (HR. Turmudzi)

Dari Nu'man bin Basyir ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan orang-
orang yang beriman dalam cinta, kasih sayang dan kelemah lembutan diantara mereka
adalah seumpama satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh ada yang sakit, maka anggota
tubuh lainnya juga turut merasakannya, (seperti) ketika tidak bisa tidur dan demam." (HR.
Muslim)

Namun demikian, konsep asuransi adalah hal baru dalam dunia islam, dan tidak
kenal prakteknya seperti praktek asuransi di dunia barat. Hal ini memunculkan pandangan
yang berbeda di para ulama khusunya ulama fiqih dan muamalat, Ada beberapa pandangan
atau pendapat mengenai asuransi ditinjau dari fiqh Islam. Yang paling mengemuka
perbedaan tersebut terbagi tiga, yaitu:

a. Pendapat pertama: Mengharamkan


Asuransi itu haram dalam segala macam bentuknya, temasuk asuransi jiwa. Pendapat
ni dikemukakan oleh Sayyid Sabiq, Abdullah al-Qalqii (mufti Yordania), Yusuf Qardhawi
dan Muhammad Bakhil al-Muth'i (mufti Mesir).
Alasan-alasan yang mereka kemukakan ialah:
- Asuransi sama dengan judi
- Asuransi mengandung ungur-unsur tidak pasti.
- Asuransi mengandung unsur riba/renten.
- Asuransi mengandung unsur pemerasan, karena pemegang polis, apabila tidak bisa
melanjutkan pembayaran preminya, akan hilang premi yang sudah dibayar atau di
kurangi.
- Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam praktek-praktek riba.
- Asuransi termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang tidak tunai.
- Hidup dan mati manusia dijadikan objek bisnis, dan sama halnya dengan mendahului
takdir Allah.

b. Pendapat Kedua: Membolehkan


Pendapat kedau ini dikemukakan oleh Abd. Wahab Khalaf, Mustafa Akhmad Zarqa
(guru besar Hukum Islam pada fakultas Syari'ah Universitas Syria), Muhammad Yusuf Musa
(guru besar Hukum Isalm pada Universitas Cairo Mesir), dan Abd. Rakhman Isa (pengarang
kitab al-Muamallha al-Haditsah wa Ahkamuha). Mereka beralasan:
- Tidak ada nash (al-Qur'an dan Sunnah) yang melarang asuransi.
- Ada kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak

25 | Pengetahuan Umum Asuransi


- Saling menguntungkan kedua belah pihak
- Asuransi dapat menanggulangi kepentingan umum, sebab premi-premi yang
terkumpul dapat di investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan
pembangunan.
- Asuransi termasuk akad mudhrabah (bagi hasil)
- Asuransi termasuk koperasi (Syirkah Ta'awuniyah).
- Asuransi di analogikan (qiyaskan) dengan sistem pensiun seperti taspen.

c. Pendapat Ketiga : Asuransi sosial boleh dan komersial haram


Pendapat ketiga ini dianut antara lain oleh Muhammad Abdu Zahrah (guru besar
Hukum Islam pada Universitas Cairo). Alasan kelompok ketiga ini sama dengan kelompok
pertama dalam asuransi yang bersifat komersial (haram) dan sama pula dengan alasan
kelompok kedua, dalam asuransi yang bersifat sosial (boleh).
Alasan golongan yang mengatakan asuransi syubhat adalah karena tidak ada dalil yang tegas
haram atau tidak haramnya asuransi itu.

4.2. Konsep Dasar Asuransi Syariah


Karena konsep asuransi adalah hal baru dalam dunia islam, sehingga mendorong para
ulama dan pakar ekonomi syariah membuat konsep yang sejalan dengan konsep asuransi
yang sudah dipahami secara umum sebelumnya.

4.2.1
4.2.1 Prinsip Asuransi Syariah
Suatu asuransi diperbolehkan secara syar'i, jika tidak menyimpang dari prinsip-prinsip
dan aturan-aturan syariat Islam. Untuk itu dalam muamalah tersebut harus memenuhi
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a. Asuransi syariah harus dibangun atas dasar taawun ( kerja sama ), tolong
menolong, saling menjamin, tidak berorentasi bisnis atau keuntungan materi
semata. Allah SWT berfirman," Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan
dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan
permusuhan."
b. Asuransi syariat tidak bersifat mu'awadhoh, tetapi tabarru' atau mudhorobah
mudhorobah.
Sumbangan (tabarru') sama dengan hibah (pemberian), oleh karena itu haram
hukumnya ditarik kembali. Kalau terjadi peristiwa, maka diselesaikan menurut
syariat.

Setiap anggota yang menyetor uangnya menurut jumlah yang telah ditentukan, harus
disertai dengan niat membantu demi menegakan prinsip ukhuwah. Kemudian dari uang
yang terkumpul itu diambilah sejumlah uang guna membantu orang yang sangat
memerlukan.

26 | Pengetahuan Umum Asuransi


Tidak dibenarkan seseorang menyetorkan sejumlah kecil uangnya dengan tujuan
supaya ia mendapat imbalan yang berlipat bila terkena suatu musibah. Akan tetepi ia diberi
uang jamaah sebagai ganti atas kerugian itu menurut izin yang diberikan oleh jamaah.

4.2.2
4.2.2 Ciri-
Ciri-ciri Asuransi syari'ah
Asuransi syariah memiliki beberapa ciri utama :
a. Akad asuransi syari'ah adalah bersifat tabarru', sumbangan yang diberikan tidak
boleh ditarik kembali. Atau jika tidak tabarru', maka andil yang dibayarkan akan
berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika
akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih.
Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah kentungan hasil mudhorobah bukan
riba.
b. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi
kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak
bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya
imbalan ersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jama'ah (seluruh peserta
asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).
c. Dalam asuransi syari'ah tidak ada pihak yang lebih kuat karena semua keputusan
dan aturan-aturan diambil menurut izin jama'ah seperti dalam asuransi takaful.
d. Akad asuransi syari'ah bersih dari gharar dan riba.
e. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.

Atas dasar prinsip dan ciri asuransi syariah tersebut diatas, maka Dewan Syariah
Nasional Majelis Ulama Indonesia DSN-MUI menetapkan pengertian asuransi syariah yang
tercantum dalam Fatwa DSN-MUI No 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum
Asuransi Syariah yaitu sebagai berikut :
Asuransi syariah disebut pula dengan Tamin (rasa aman) atau Tadhamun (kepedulian
sosial) atau Takaful (saling menanggung) adalah usaha saling melindungi dan tolong
menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui dana investasi dalam bentuk aset atau
tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui
akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah

Yang dimaksud dengan akad sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung
gharar (ketidakjelasan), maisir (perjudian), riba (bunga), zhulum (penganiayaan), risywah
(suap), barang yang diharamkan dan perbuatan maksiat.

Atas dasar tersebut maka asuransi dalam islam memiliki perbedaan prinsip dan
konsep dasar yang berbeda dengan asuransi secara umum (konvensional), sehingga kurang

27 | Pengetahuan Umum Asuransi


tepat jika disebut asuransi meskipun dalam produk dan manajemen risiko memiliki
kesamaan. Karena praktek manajemen risiko yang terjadi adalah penyebaran terhadap
semua peserta, hal ini bisa dikatakan sebagai saling menanggung risiko atas peserta atau
Takaful.

Dengan konsep Takaful terjadi sharing risk dimana antara sesama peserta bertabarru
untuk saling memikul resiko bila salah satu atau lebih tertimpa musibah, dengan demikian
bahwa peserta bertabarru kepada sesama peserta, dan bukan bertabarru kepada
perusahaan asuransi syariah, disini terjadilah Akad Tabarru.
Tabarru

Tabarru adalah secara bahasa berarti bersedekah atau berderma dengan pengertian
secara istilah adalah mengerahkan segala upaya untuk memberikan harta atau manfaat
kepada orang lain, baik secara langsung maupun masa yang akan datang tanpa adanya
kompensasi, dengan tujuan kebaikan dan perbuatan ihsan, sehingga Dana Tabarru bisa
dikatakan sebagai dana hibah.

Dalam Al quran dijelaskan Surat Al Baqarah ayat 177

Artinya : Bukanlah kebaikan itu engkau mengerahkan wajahmu menghadap timur dan
barat. Akan tetapi, kebaikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, para
malaikat, para nabi, memberikan harta yang disukainya kepada kerabat dekatnya, anak-

28 | Pengetahuan Umum Asuransi


anak yatim, orang-orang miskin, orang yang meminta-minta dan untuk membebaskan
budak....

Dan juga Surat Al Baqarah ayat 261

Artinya: perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan


hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir
benih, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang
dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-nya) lagi maha mengetahui.

Akad tabarru dapat dijelaskan bahwa dana tabarru yang merupakan dana untuk
saling menolong antara sesama nasabah, tidak boleh diubah menjadi dana tijari. Misalanya
untuk biaya operasional perusahaan atau diklaim sebagai keuntungan atau pendapatan
perusahaan, seperti halnya yang terjadi di konsep asuransi pada umumnya (konvensional).
Dana tabarru hanya boleh digunakan untuk segala hal yang langsung berkaitan dengan
kepentingan nasabah seperti pembayaran santunan atas risiko yang terjadi pada peserta dan
biaya-biaya yang timbul atas hal tersebut, seperti biaya re-takaful, pajak, dsb.

Dana Tabarru yang terkumpul melalui kontribusi yang diserahkan oleh peserta atas
kepersertaan melalui nilai risiko yang dimilikinya, dikelola oleh Perusahaan asuransi syariah
sebagai operator yang mengelola dana tabarru tersebut, mengelola dalam arti
mengembangkan tabarru dengan cara investasi, mengendalikan tingkat risiko peserta atas
tabarru dan membayarkan tabarru kepada peserta yang mengalami risiko sebagai wakil
dari peserta, maka untuk itu perusahaan asuransi syariah diberikan ujroh (uang jasa
pengelolaan) dari peserta, disini terjadi Akad Tijari.

29 | Pengetahuan Umum Asuransi


Dengan Akad Tijari tersebut hubungan antara peserta dengan perusahaan asuransi
adalah hubungan antara pemilik tabarru dengan pengelola tabarru dimana pemilik
tabarru menyerahkan amanah kepada pengelola tabarru untuk mengelola tabarru
tersebut.

Dalam hal Perusahaan asuransi sebagai pemegang amanah pengelolaan Tabarru dari
peserta, maka perusahaan asuransi haruslah amanah dalam mengelolanya. Maksud amanah
disini diartikan menjadi :
a. Amanah dalam melakukan Pengembangan Tabarru dalam bentuk investasi
b. Amanah dalam melakukan pembayaran Tabarru kepada peserta yang mengalami
risiko (klaim) sebagai wakil dari seluruh peserta
c. Amanah dalam melakukan pengendalian Dana Tabarru, dalam arti tidak mengalami
defisit disebabkan banyaknya peserta yang mengalami risiko.

Dalam hal amanah perusahaan asuransi syariah melakukan pengembangan tabarru


dalam bentuk investasi, harus disepakati sejak awal bahwa hasil pengembangan tabarru
tersebut dibagi diantara pemilik dana dengan pengelola, disini terjadi Akad Mudharabah
atau bagi hasil.

30 | Pengetahuan Umum Asuransi


Dari penjelasan diatas, ada yang menjadi perbincangan mengenai adanya 3 Akad
dalam konsep Asuransi Syariah, yaitu Akad Tabarru, Akad Tijari, dan Akad Mudharabah.
Perbincangan dan perdebatan mengenai keabsahan multi akad ini muncul bukan tanpa
sebab. Sejumlah hadis Nabi sekurangnya tiga buah hadissecara lahiriah (mana zhahir)
menunjukkan larangan penggunaan multi akad. Misalnya, hadis tentang larangan untuk
melakukan bai dan shaf, larangan baiataini fi baiatin, dan shafqataini fi shafqatin. Dengan
adanya hadis-hadis tersebut kiranya sangat wajar jika timbul pertanyaan, apakah konsep
asuransi syariah yang menggunakan multi akad dapat dipandang memenuhi prinsip syariah
atau sebaliknya.

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw. melarang penjualan dengan dua
transaksi pada satu barang (HR Ahmad, Nasai dan At-tirmizy)

Dalam kesempatan ini tidak akan membahas secara detail tentang multi akad, namun
akan disampaikan secara singkat mengenai status hukum multi akad. Hukum multi akad
belum tentu sama dengan status hukum dari akad-akad yang membangunnya. Seperti
contoh akad bai dan salaf yang secara jelas dinyatakan keharamannya oleh Nabi s.a.w..
Akan tetapi jika kedua akad itu berdiri sendiri-sendiri, maka baik akad bai maupun salaf
diperbolehkan. Begitu juga dengan menikahi dua wanita yang bersaudara sekaligus haram
hukumnya, tetapi jika dinikahi satu-satu (tidak dimadu) hukumnya boleh. Artinya, hukum
multi akad tidak bisa semata dilihat dari hukum akad-akad yang membangunnya. Bisa jadi

31 | Pengetahuan Umum Asuransi


akad-akad yang membangunnya adalah boleh ketika berdiri sendiri, namun menjadi haram
ketika akad-akad itu terhimpun dalam satu transaksi. Dapat disimpulkan bahwa hukum dari
multi akad belum tentu sama dengan hukum dari akad-akad yang membangunnya. Dengan
kata lain, hukum akad-akad yang membangun tidak secara otomatis menjadi hukum dari
multi akad.

Meski demikian, sebagian ulama Malikiyah dan mayoritas ulama non-Malikiyah


membolehkan multi akad jenis ini. Mereka beralasan perbedaan hukum dua akad tidak
menyebabkan hilangnya keabsahan akad. Dari dua pendapat ini, pendapat yang
membolehkan multi akad jenis ini adalah pendapat yang unggul. Larangan multi akad ini
karena penghimpunan dua akad yang berbeda dalam syarat dan hukum menyebabkan tidak
sinkronnya kewajiban dan hasil. Hal ini terjadi karena dua akad untuk satu objek dan satu
waktu, sementara hukumnya berbeda. Sebagai contoh tergabungnya antara akad
menghibahkan sesuatu dan menjualnya. Akad-akad yang berlawanan (mutadhdah) inilah
yang dilarang dihimpun dalam satu transaksi.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa keharaman multi akad pada dasarnya
disebabkan oleh tiga hal: dilarang agama atau hlah karena dapat menimbulkan
ketidakpastian (gharar) dan ketidakjelasan (jahlah), menjerumuskan ke praktik riba, dan
multi akad yang menimbulkan akibat hukum yang bertentangan pada objek yang sama.
Dengan kata lain, multi akad yang memenuhi prinsip syariah adalah multi akad yang
memenuhi standar atau dhawbith sebagaimana telah dikemukakan.

Adanya akad Tabarru, Akad Tijari dan Akad Mudharabah dalam asuransi syariah
dimaksudkan untuk menghindari adanya ketidakjelasan akad, yang bisa membingungkan
dan merugikan salah satu pihak. Sebagai contoh: jika saya menyerahkan uang kepada
seseorang, harus jelas apakah uang itu pinjaman ataukah pemberian. Dikatakan akad ganda
jika suatu saat saya berkata uang itu pemberian, pada saat lain saya berkata uang itu
pinjaman.

Jika objeknya berbeda, meskipun dalam lingkup produk yang sama, hal itu tidak bisa
disebut akad ganda. Bagaimana pun tiap objek memerlukan akadnya sendiri-sendiri, begitu
pula objek yang sama tetapi pihak-pihaknya berbeda akan memerlukan akad tersendiri.
Seperti Akad Tabarru adalah akad diantara peserta, Akad Tijari adalah akad antara peserta
dengan perusahaan asuransi syariah yang dalam prakteknya menggunakan wakalah bil ujrah
(perwakilan, penyerahan wewenang dengan upah) atau akad mudharabah atau
mudharabah musytarakah (saving product), dan Akad Mudharabah adalah akad pembagian
hasil investasi atau surplus tabarru antara pemilik dana (peserta) dengan pengelola
(Perusahaan asuransi syariah). Akad-akad dalam asuransi syariah tidak bisa disebut akad
ganda, karena tiap akad berlaku untuk objek yang berbeda dan atau para pihak yang

32 | Pengetahuan Umum Asuransi


berbeda. Penggabungan akad-akad ini dalam suatu produk keuangan tidak bisa serta-merta
disamakan dengan akad ganda yang dilarang oleh Nabi.

Dalam hal amanah perusahaan asuransi syariah untuk membayarkan klaim risiko
peserta sebagai wakil dari seluruh peserta, perusahaan asuransi syariah wajib memastikan
bahwa peserta benar-benar mengalami klaim, oleh sebab itu diperlukan adanya survey
klaim risiko yang dilakukan oleh perusahaan asuransi syariah. Hal ini dilakukan dalam
rangka menjaga amanah dari peserta dimana perusahaan asuransi harus membayarkan klaim
hanya kepada peserta yang benar-benar mengalami musibah. Menjadi tidak amanah jika
perusahaan asuransi syariah membayarkan klaim kepada peserta yang tidak benar-benar
mengalami musibah sesuai dengan kesepakatan jaminan risikonya, padahal dana untuk
membayarkan klaim tersebut adalah milik seluruh peserta bukan milik perusahaan asuransi
syariah.

Sedangkan dalam hal amanah perusahaan asuransi syariah melakukan pengendalian


dana tabarru agar tidak mengalami defisit sehingga tidak mampu membayarkan tabarru
kepada peserta yang mengalami musibah klaim, maka perusahaan asuransi syariah
melakukan 2 hal yaitu :

a. Pengendalian Penerimaan Risiko


Pengendalian penerimaan risiko yang harus dilakukan oleh perusahaan asuransi
syariah adalah dengan tidak menerima risiko-risiko tinggi, yang besar kemungkinanna
terjadi risiko atas kepentingan peserta hasil dari analisa underwriting, dan atau

33 | Pengetahuan Umum Asuransi


dengan penerapan tarip perhitungan risiko atas kepentingan peserta yang lebih besar,
hasil dari analisa perhitungan aktuaria.
b. Pengendalian Back Up Dana Tabarru
Pengendalian dengan back up reasuransi syariah atau re takaful dimana dibentuk
kesepakatan antara perusahaan asuransi syariah dengan perusahaan reasuransi
syariah (treaty) untuk menanggung secara otomatis setiap risiko yang diterima oleh
perusahaan asuransi syariah dari peserta, dengan cara membagi dana tabarru nya.
Selain itu menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan retakaful diseluruh
dunia (facultatif) untuk bersama-sama menanggung beban risiko yang akan dihadapi
oleh peserta.

Dari penjelasan diatas, dapat digambarkan secara umum konsep asuransi syariah yaitu
sebagai berikut :

Peserta menyerahkan kontribusi sebagai Tabarru atau dana Hibah (Akad Tabrru)
kepada perusahaan asuransi syariah untuk dikelola sekaligus sebagai wakil dari peserta (Akad
Tijari). Sebagai salah bentuk pengeloalaan, perusahaan asuransi syariah akan
mengembangkan dana tabarru yang terkumpul dengan cara investasi yang sesuai dengan
syariah yang telah ditetapkan oleh Dewan Pengawas Syariah. Hasil dari investasi akan
dibagikan kepada peserta sebagai pemilik dana tabarru dan perusahaan asuransi syariah
sebagai pengelola dengan nisbah yang telah disepakati bersama (Akad Mudharabah). Jika
terjadi musibah yang dialami oleh peserta, maka perusahaan asuransi syariah sebagai wakil
dan pengemban amanah dari seluruh peserta harus menyampaikan dana tabarru sebesar
haknya yang telah disepakati sejak awal dalam kepersertaan (Takaful).
Dengan penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa konsep Asuransi Syariah atau
konsep Takaful sangatlah berbeda dengan Asuransi pada umumnya (konvensional). Takaful
adalah sebagai konsep pengelolaan dana yang akan dijadikan sebagai dana tolong
menolong diantara sesama peserta, sedangkan asuransi adalah konsep pertanggungan atas
34 | Pengetahuan Umum Asuransi
risiko musibah yang terjadi dari tertanggung melalui penjualan produk-produk
pertanggungan yang menjadi komidi untuk mendapatkan penghasilan dan keuntungan,
sedangkan posisi produk dalam Takaful bukanlah komidi yang dijual tetapi sebagai cara
bagaimana masyarakat menjadi peserta, karena untuk menilai berapa besar santunan atau
bantuan peserta diukur dari berapa besar kerugian atas risiko yang terjadi, maka cara
kepersertaan masyarakat tersebut diukur pula dari tingkat risiko atas kepentingan
kepersertaan peserta tersebut.

4.3.
4.3. Filosofi Asuransi Syariah
Memperhatikan konsep yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa
Filosofi berasuransi syariah sangat kental bernuansa ibadah, terutama dalam praktik
muamalah sekaligus juga bernuansa sosial dengan mengutamakan akidah dan akhlak islami.
Islam meletekkan dasar-dasar persaudaraan ini lebih tinggi seperti juga yang tersirat maupun
tersurat di dalam al quran dan al hadits.

Sebagai analogi Filosofi tersebut seperti hal nya sebuah komunitas yang terjalin dalam
suasana kekeluargaan dan melakukan aktivitas bersama. Suatu ketika salah satu anggota
mengalami kecelakaan yang mengakibatkan harus di rawat di Rumah Sakit. Dengan spontan
anggota komunitas lainnya mengumpulkan dana infak yang dikomandoi oleh salahsatu
peserta anggota sebagai ketuanya. Pada saat dana sudah terkumpul dan akan diserahkan
kepada peserta yang mengalami kecelakaan tadi, sangat dimungkinkan seluruh anggota
komunitas tersebut tidak bisa hadir bersama untuk mengantarkannya dengan alasan
berbagai kesibukan, yang pada akhirnya sang ketua yang mengantarkannya sebagai wakil
dari seluruh anggota komunitas. Sang ketua karena sebagai wakil dari seluruh peserta
dibenarkan untuk mengambil sebagian dana yang terkumpul untuk ongkos menuju rumah
sakit, yang besarannya haruslah disepakati dan diketahui oleh seluruh peserta. Kemudian
sang ketua menyerahkan dana tersebut kepada peserta yang mengalami kecelakaan dengan
mengatakan, saya serahkan sumbangan dari seluruh anggota komunitas kepadamu,
semoga bermanfaat dan lekas sembuh.

Kejadian diatas sangatlah lazim terjadi dilingkungan masyarakat kita, bahkan ada
yang memang sudah dikelola dengan baik, dengan dibentuknya uang kas yang dikumpulkan
dari seluruh anggota komunitas setiap bulan, sehingga pada saat dibutuhkan karena ada
salah satu anggota yang mengalami musibah, tidak perlu mengumpulkan dana dari seluruh
anggota, tetapi tinggal mengambil dari kas dengan nilainya yang sudah disepakati
sebelumnya.

35 | Pengetahuan Umum Asuransi


Inilah salah satu konsep tolong menolong yang lazim dilakukan oleh kaum muslimin
bahkan seluruh umat manusia, bentuk solidaritas kepada sesama, salang membantu dalam
kesulitan dan gotong royong. Inilah bentuk filosofi yang dipakai oleh asuransi syariah.

Rasulullah SAW bersabda:


Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara
mereka adalam seumpama satu tubuh. Bilamana salah satu bagian tubuh merasakan sakit,
akan dirasakan oleh bagian tubuh yang lainnya, seperti ketika tidak bisa tidur atau ketika
demam. (HR, Muslim)

Atas dasar tersebut, maka Filosofi berasuransi syariah adalah : Berniat semata-
semata-mata
menolong sesama atas dasar persaudaraan dan sekaligus membangun tanggungjawab
bersama, saling berkerjasama dan saling melindungi dari berbagai kesusahan.
kesusahan.

4. 4. Perbedaan Takaful dan Asuransi


Setelah memahami penjelasan tentang Asuransi Syariah atau selanjutnya akan disebut
dengan Takaful, maka dapat dibandingkan perbedaanya dengan asuransi konvensional atau
selanjutnya akan disebut asuransi saja, baik dari segi konsep dan hukumnya.

Prinsip Asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Dimana nasabah yang


satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad
Asuransi bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan Takaful (premi) diinvestasikan


berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada Asuransi,
investasi dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.

Pada konsep Takaful, kontribusi (premi) yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai
dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya.
Sedangkan pada Asuransi, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang
memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.
Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan
dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan
tolong-menolong. Sedangkan dalam Asuransi, dana pembayaran klaim diambil dari
rekening milik perusahaan.

36 | Pengetahuan Umum Asuransi


Dengan konsep asuransi premi yang dibayarkan oleh tertanggung adalah menjadi
milik perusahaan asuransi sepenuhnya, hal ini bisa dikatakan perusahaan asuransi sebagai
bandar pengumpul dana uang pertanggungan.

Premi yang dibayarkan kepada penanggung adalah sebagai uang pertanggungan


dari risiko yang mungkin dialami oleh Tertanggung, dalam hal ini terjadi akad tanggung
menanggung risiko, atau jual beli risiko dan pertanggungan. Dalam konsep islam hal ini
dapat dikatakan sebagai gharar atau akad yang tidak jelas, karena mengalihkan risiko satu
pihak ke pihak lain adalah sesuatu yang abstrak yang bukan berupa barang atau jasa dalam
konsep jual beli. Selain itu Tertanggung tidak mengetahui seberapa besar dan seberapa lama
harus membayar premi kecuali pada akhir masa jatuh nanti. Adakalanya seorang
tertanggung membayar premi satu kali, kemudian ia mendapatkan klaim karena adanya
musibah yang menimpanya. Namun, adakalanya seorang tertanggung telah membayar
premi hingga belasan kali, tidak mendapat klaim, lantaran tidak ada musibah yang
menimpanya.

37 | Pengetahuan Umum Asuransi


Gharar dalam islam adalah dilarang, seperti dalam firman Allah dalam Al quran :

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan
berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (Qs. al- Baqarah : 188)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di
antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu (Qs. an-Nisa : 29)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban


untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan
setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Qs.
al- Maidah: 90)

Dalam Hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah (dengan melempar
batu ) dan jual beli gharar. (HR Muslim)

38 | Pengetahuan Umum Asuransi


Bentuk larangan melakukan gharar terdiri dari tiga macam sebagaimana disebutkan Ibnu
Taimiyah di dalam al-Fatawa al-Kubra :

Adapun al-Gharar, dibagi menjadi tiga: (pertama) jual beli yang tidak ada barangnya,
seperti menjual anak binatang yang masih dalam kandungan, dan susunya, (kedua): jual beli
barang yang tidak bisa diserahterimakan, seperti budak yang lari dari tuannya, (ketiga): jual
beli barang yang tidak diketahui hakikatnya sama sekali atau bisa diketahui tapi tidak jelas
jenisnya atau kadarnya (Adil al-Azzazi di dalam Tamam al-Minnah (3/305) juga
menyebutkan hal yang sama)

Berikut ini rincian dari tiga macam jual beli gharar yang dilarang:

Pertama Gharar karena barangnya belum ada (al-ma'dum).


Pertama:

Contoh dari jual beli al-madum adalah apa yang terdapat dalam hadist Ibnu Umar
radhiyallahu anhuma bahwasanya beliau berkata :

Nabi shollallahu alaihi wa sallam melarang menjual anak dari anak yang berada dalam
perut unta. (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua Gharar karena barangnya tidak bisa diserahterimakan ( al-majuz an taslimihi


Kedua:
) Seperti menjual budak yang kabur, burung di udara, ikan di laut, mobil yang dicuri, barang
yang masih dalam pengiriman,

Ketiga Gharar karena ketidakjelasan (al-jahalah) pada barang, harga dan akad jual belinya.
Ketiga:

Contoh ketidakjelasan pada barang yang akan dibeli, adalah apa yang diriwayatkan Abu
Hurairah radhiyallahu anhuma bahwasanya ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah (dengan melempar
batu) dan jual beli gharar. (HR Muslim)

Contoh jual beli al-hashah adalah ketika seseorang ingin membeli tanah, maka penjual
mengatakan: Lemparlah kerikil ini, sejauh engkau melempar, maka itu adalah tanah
milikmu dengan harga sekian.

Termasuk dalam katagori ini adalah apa yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri radhiyallahu
anhu, bahwa ia berkata :

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wa ala alihi wa sallam melarang dari Al-
Munabadzah dan Al-Mulamasah. (HR Bukhari dan Muslim)

39 | Pengetahuan Umum Asuransi


Al-Munabadzah adalah seorang penjual berkata kepada pembeli: Kalau saya lempar
barang ini kepadamu maka wajib untuk dibeli

Al-Mulamasah adalah seorang penjual berkata kepada pembeli: Apa saja yang kamu sentuh
maka harus dibeli

Termasuk dalam katagori ini juga adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Umar radhiyallahu
anhuma:

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam melarang jual beli buah pohon
sampai nampak baiknya (HR Bukhari dan Muslim)

Termasuk dalam katagori ini adalah Asuransi, karena di dalamnya ada ketidakjelasan
tentang keuntungan yang akan diterima keduabelah pihak, baik perusahaan asuransi
maupun konsumen. Sebagi contoh, jika seseorang membayar premi asuransi kecelakaan
ketika mau naik pesawat terbang. Akad seperti ini mengandung gharar atau spekulatif atau
ketidakjelasan, apakah penumpang tersebut akan selamat atau tidak, jika dia selamat maka
uang premi yang ia bayarkan ke perusahaan asuransi akan hangus, sebaliknya jika dia celaka,
maka pihak perusahaan asuransi akan menanggung kerugian dengan membayar sejumlah
uang dalam jumlah yang besar kepada korban atau keluarganya.

Selanjutnya, premi yang terkumpul dan menjadi milik perusahaan asuransi, bebas
untuk dipergunakan apapun oleh perusahaan asuransi, baik untuk operasional perusahaan,
pengembangan perusahaan atau dikembangkan dalam bentuk investasi. Bentuk investasinya
pun bebas apakah itu halal ataupun haram karena tidak ada yang mengatur dan mengawasi
seperti halal Takaful yang diawasi dan ditentukan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karene
bebas seperti ini, sangat dimungkinkan terjadi praktek Ribawi dalam investasinya.tasi

Hasil dari investasi yang telah mengandung riba tersebut kembali akan menjadi milik
perusahaan asuransi, karena sejak awal premi yang terkumpul dari tertanggung tersebut
adalah sepenuhnya milik perusahaan asuransi sehingga hasil investasinyapun akan menjadi
milik perusahaan asuransi.

Dana perusahaan tersebut akan dijadikan untuk membayar klaim tertanggung jika
mengalami musibah, pertukaran antara premi yang dibayar oleh tertanggung dengan klaim
yang akan diterima tertanggung atas musibah risiko yang terjadi adalah pertukaran yang
masuk dalam kategori riba fadhl, yaitu riba pertukaran barang sejenis dengan jumlah yang
tidak sama atau riba nasiah, yaitu riba karena penundaan pembayaran. Bila perusahaan
asuransi membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim yang disepakati, dalam
jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima, maka itu adalah riba fadhl. Adapun
bila perusahaan membayar klaim sebesar premi yang ia terima namun ada penundaan,

40 | Pengetahuan Umum Asuransi


maka itu adalah riba nasiah (penundaan). Dalam hal ini nasabah seolah-olah memberi
pinjaman pada pihak asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil
dan ijma (kesepakatan ulama).

Jumlah klaim yang dibayarkan jika tertanggung mengalami musibah, pasti akan lebih
besar nilainya dibandingkan dengan premi, dalam hal asuransi premi sepenuhnya menjadi
milik perusahaan asuransi, sehingga hal ini menjadikan posisi perusahaan asuransi seolah
menjadi bandar yang harus membayar sejumlah uang yang lebih besar dibandingkan dengan
yang diterimanya, yang demikian tidak ada bedanya dengan praktek perjudian (maisir),
sedangkan maisir adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Selain itu dalam konsep Asuransi , sebagai contoh seandainya satu program premi,
biasanya tertanggung itu ada kemungkinan berhenti karena alasan tertentu. Apabila ia
berhenti di tengah periode pertanggungan dan belum mencapai masa refersing Periode,
dimana dia bisa menerima uangnya kembali (biasanya 2 s.d. 3 tahun) dan jumlah + 20%,
uang itu akan hangus. Manakala underwriter atau akturia asuransi menghitung risiko
dengan tepat, menentukan jumlah polis tepat, maka perusahaan akan untung. Tetapi jika
salah dalam menghitungnya maka perusahaan akan rugi. Jadi jelas disini mengandung unsur
maisir atau judi.

Dalam Takaful berbeda, si penerima polis sebelum ia mencapai refresing periode


sekalipun, apabila karena suatu hal ia ingin mengambil dananya, maka hal itu dibolehkan.

41 | Pengetahuan Umum Asuransi


Karena Takaful dalam hal ini hanya sebagai pemegang amanah. Selain itu jika perusahaan
mencapai kelebihan daripada pembayaran klaim, tidak akan diterima begitu saja sebagai
keuntungan perusahaan, tetapi diberikan kembali kepada pemegang premi/nasabah.

Asuransi merupakan transfer of risk yaitu pemindahan risiko dari peserta/tertanggung


ke perusahaan/ penanggung sehingga terjadi pula transfer of fund yaitu pemindahan dana
dari tertanggung kepada penanggung. Sebagai konsekuensi maka kepemilikan dana pun
berpindah, dana peserta menjadi milik perusahaan ausransi.

Berikut beberapa perbedaan Takaful dengan Asuransi, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Akad (Perjanjian)
(Perjanjian)
Setiap perjanjian transaksi bisnis di antara pihak-pihak yang melakukannya
harus jelas secara hukum ataupun non-hukum untuk mempermudah jalannya
kegiatan bisnis tersebut saat ini dan masa mendatang. Akad dalam praktek muamalah
menjadi dasar yang menentukan sah atau tidaknya suatu kegiatan transaksi secara
syariah. Hal tersebut menjadi sangat menentukan di dalam praktek Takaful. Akad
antara perusahaan dengan peserta harus jelas, menggunakan akad jual beli (tadabuli)
atau tolong menolong (takaful).

Akad pada Asuransi didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual beli.
Syarat sahnya suatu perjanjian jual beli didasarkan atas adanya penjual, pembeli,
harga, dan barang yang diperjual-belikan. Sementara itu di dalam perjanjian yang
diterapkan dalam Asuransi hanya memenuhi persyaratan adanya penjual, pembeli
dan barang yang diperjual-belikan. Sedangkan untuk harga tidak dapat dijelaskan
secara kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh peserta asuransi
utnuk mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Karena hanya Allah yang tahu
kapan kita meninggal. Perusahaan akan membayarkan uang pertanggunggan sesuai
dengan perjanjian, akan tetapi jumlah premi yang akan disetorkan oleh peserta tidak
jelas tergantung usia. Jika peserta dipanjangkan usia maka perusahaan akan untung
namun apabila peserta baru sekali membayar ditakdirkan meninggal maka
perusahaan akan rugi. Dengan demikian menurut pandangan syariah terjadi cacat
karena ketidakjelasan (gharar) dalam hal berapa besar yang akan dibayarkan oleh
pemegang polis (pada produk saving) atau berapa besar yang akan diterima
pemegang polis (pada produk non-saving).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seorang ulama salaf ternama dalam kitabnya
"Majmu Fatwa" menyatakan bahwa akad dalam Islam dibangun atas dasar
mewujudkan keadilan dan menjauhkan penganiayaan. Harta seorang muslim yang
lain tidak halal, kecuali dipindahkan haknya kepada yang disukainya. Keadilan dapat

42 | Pengetahuan Umum Asuransi


diketahui dengan akalnya, seperti pembeli wajib menyatakan harganya dan penjual
menyerahkan barang jualannya kepada pembeli. Dilarang menipu, berkhianat, dan
jika berhutang harus dilunasi. Jika kita mengadakan suatu perjanjian dalam suatu
transaksi bisnis secara tidak tunai maka kita wajib melakukan hal-hal berikut: I%
Menuliskan bentuk perjanjian (seperti adanya SP dan polis). I% Bentuk perjanjian
harus jelas dimengerti oleh pihak-pihak yang bertransaksi (akad tadabuli atau akad
takafuli). I% Adanya saksi dari kedua belah pihak. I% Para saksi harus cakap dan
bersedia secara hukum jika suatu saat diminta kewajibannya. (Penulis simpulkan dari
firman Allah SWT, surat al-Baqarah ayat 282).

2. Gharar (Ketidakjelasan)
Definisi gharar menurut Madzhab Syafii adalah apa-apa yang akibatnya
tersembunyi dalam pandangan kita dan akibat yang paling kita takuti.

Gharar/ketidakjelasan itu terjadi pada Asuransi, dikarenakan tidak adanya


batas waktu pembayaran premi yang didasarkan atas usia tertanggung, sementara
kita sepakat bahwa usia seseorang berada di tangan Yang Mahakuasa. Jika baru sekali
seorang tertanggung membayar premi ditakdirkan meninggal, perusahaan akan rugi
sementara pihak tertanggung merasa untung secara materi. Jika tertanggung
dipanjangkan usianya, perusahaan akan untung dan tertanggung merasa rugi secara
financial. Dengan kata lain kedua belah pihak tidak mengetahui seberapa lama
masing-masing pihak menjalankan transaksi tersebut. Ketidakjelasan jangka waktu
pembayaran dan jumlah pembayaran mengakibatkan ketidaklengkapan suatu rukun
akad, yang kita kenal sebagai gharar. Para ulama berpendapat bahwa perjanjian jual
beli/akad tadabuli tersebut cacat secara hukum.

Pada Takaful akad tadabuli diganti dengan akad takafuli, yaitu suatu niat
tolong-menolong sesama peserta apabila ada yang ditakdirkan mendapat musibah.
Mekanisme ini oleh para ulama dianggap paling selamat, karena kita menghindari
larangan Allah dalam praktik muamalah yang gharar.

Pada akad Asuransi dana peserta menjadi milik perusahaan asuransi (transfer
of fund). Sedangkan dalam Takaful, dana yang terkumpul adalah milik peserta
(shahibul mal) dan perusahaan Takaful (mudharib) tidak bisa mengklaim menjadi
milik perusahaan.

3. Tabarru
Tabarru dan Tabungan
Tabarru berasal dari kata tabarraa-yatabarra-tabarrawan, yang artinya
sumbangan atau derma. Orang yang menyumbang disebut mutabarri (dermawan).
Niat bertabbaru bermaksud memberikan dana kebajikan secara ikhlas untuk tujuan

43 | Pengetahuan Umum Asuransi


saling membantu satu sama lain sesama peserta Takaful, ketika di antaranya ada yang
mendapat musibah. Oleh karena itu dana tabarru disimpan dalam rekening khusus.
Apabila ada yang tertimpa musibah, dana klaim yang diberikan adalah dari rekening
tabarru yang sudah diniatkan oleh sesama peserta untuk saling menolong.

Menyisihkan harta untuk tujuan membantu orang yang terkena musibah


sangat dianjurkan dalam agama Islam, dan akan mendapat balasan yang sangat besar
di hadapan Allah, sebagaimana digambarkan dalam hadist Nabi SAW,"Barang siapa
memenuhi hajat saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya."(HR Bukhari
Muslim dan Abu Daud).

Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka
dana yang dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru
terdapat pula unsur dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh
perusahaan. Sementara investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana
tabarru karena tidak ada unsur saving. Hasil dari investasi akan dibagikan kepada
peserta sesuai dengan akad awal. Jika peserta mengundurkan diri maka dana
tabungan beserta hasilnya akan dikembalikan kepada peserta secara penuh.

4. Maisir (Judi)
Allah SWT berfirman dalam surat al-Maidah ayat 90,"Hai orang-orang yang
beriman sesungguhnya khamar, maisir, berhala, mengundi nasib dengan panah,
adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan."

Prof. Mustafa Ahmad Zarqa berkata bahwa dalam Asuransi terdapat unsur
gharar yang pada gilirannya menimbulkan qimar. Sedangkan al qimar sama dengan
al maisir. Muhammad Fadli Yusuf menjelaskan unsur maisir dalam Asuransi karena
adanya unsur gharar, terutama dalam kasus asuransi jiwa. Apabila pemegang polis
asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir polis asuransinya dan telah
membayar preminya sebagian, maka ahliwaris akan menerima sejumlah uang
tertentu. Pemegang polistidak mengetahui dari mana dan bagaimana cara
perusahaan Asuransi membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang
karena keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil risiko oleh
perusahaan yang bersangkutan. Muhammad Fadli Yusuf mengatakan, tetapi apabila
pemegang polis mengambil asuransi itu tidak dapat disebut judi. Yang boleh disebut
judi jika perusahaan asuransi mengandalkan banyak/sedikitnya klaim yang dibayar.
Sebab keuntungan perusahaan asuransi sangat dipengaruhi oleh banyak /sedikitnya
klaim yang dibayarkannya.

44 | Pengetahuan Umum Asuransi


5. Riba
Dalam hal riba, semua Asuransi menginvestasikan dananya dengan bunga,
yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan saat
perhitungan kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan di depan.
Investasi Asuransi mengacu pada peraturan pemerintah yaitu investasi wajib
dilakukan pada jenis investasi yang aman dan menguntungkan serta memiliki
likuiditas yang sesuai dengan kewajiban yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.6/2003 Tentang Kesehatan Keuangan
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi. Semua jenis investasi yang diatur
dalam peraturan pemerintah dan KMK dilakukan berdasarkan sistem bunga.

Takaful menyimpan dananya di bnak yang berdasarkan syariat Islam dengan


sistem mudharabah. Untuk berbagai bentuk investasi lainnya didasarkan atas
petunjuk Dewan Pengawas Syariah. Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imron ayat
130,"Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba yang memang
riba itu bersifat berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu
mendapatkan keberuntungan." Hadist, "Rasulullah mengutuk pemakaian riba,
pemberi makan riba, penulisnya dan saksinya seraya bersabda kepada mereka semua
sama."(HR Muslim)

6. Dana Hangus
Ketidakadilan yang terjadi pada Asuransi ketika seorang peserta karena suatu
sebab tertentu terpaksa mengundurkan diri sebelum masa reversing period.
Sementara ia telah beberapa kali membayar premi atau telah membayar sejumlah
uang premi. Karena kondisi tersebut maka dana yang telah dibayarkan tersebut
menjadi hangus. Demikian juga pada asuransi non-saving atau asuransi kerugian jika
habis masa kontrak dan tidak terjadi klaim, maka premi yang dibayarkan akan hangus
dan menjadi milik perusahaan.

Kebijakan dana hangus yang diterapkan oleh Asuransi akan menimbulkan


ketidakadilan dan merugikan peserta asuransi terutama bagi mereka yang tidak
mampu melanjutkan karena suatu hal. Di satu sisi peserta tidak punya dana untuk
melanjutkan, sedangkan jika ia tidak melanjutkan dana yang sudah masuk akan
hangus. Kondisi ini mengakibatkan posisi yang dizalimi. Prinsip muamalah melarang
kita saling menzalimi, laa dharaa wala dhirara ( tidak ada yang merugikan dan
dirugikan).

Takaful dalam mekanismenya tidak mengenal dana hangus, karena nilai tunai
telah diberlakukan sejak awal peserta masuk asuransi. Bagi peserta yang baru masuk
karena satu dan lain hal mengundurkan diri maka dana/premi yang sebelumnya

45 | Pengetahuan Umum Asuransi


dimasukkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil dana yang dniatkan sebagai
dana tabarru (dana kebajikan). Hal yang sama berlaku pula pada asuransi kerugian.
Jika selama dan selesai masa kontrak tidak terjadi klaim, maka Takaful akan
membagikan sebagian dana/premi tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau 70:30
sesuai kesepakatan si awal perjanjian (akad). Jadi premi yang dibayarkan pada awal
tahun masih dapat dikembalikan sebagian ke peserta (tidak hangus). Jumlahnya
sangat tergantung dari hasil investasinya.

7. Konsep Taawun Dalam Takaful


Sebagian para ahli syariah meyamakan sistem Takaful dengan sistem aqilah
pada zaman Rasulullah SAW. Dr. Satria Effendi M.Zein dalam makalahnya
mendefinisikan takaful dengan at takmin, at taawun atau at takaful (asuransi bersifat
tolong menolong), yang dikelola oleh suatu badan, dan terjadi kesepakatan dari
anggota untuk bersama -sama memikul suatu kerugian atau penderitaan yang
mungkin terjadi pada anggotanya. Untuk kepentingan itu masing-masing anggota
membayar iuran berkala (premi). Dana yang terkumpul akan terus dikembangkan,
sehingga hasilnya dapat dipergunakan untuk kepentingan di atas, bukan untuk
kepentingan badan pengelola (Takaful). Dengan demikian badan tersebut tidak
dengan sengaja mengeruk keuntungan untuk dirinya sendiri. Disini sifat yang paling
menonjol adalah tolong-menolong seperti yang diajarkan Islam.

8. Dewan Pengawas Syariah


Pada Takaful seluruh aktivitas kegiatannya diawasi oleh Dewan Pengawas
Syariah (DPS) yang merupakan bagian dari Dewan Syariah Nasional (DSN), baik dari
segi operasional perusahaan, investasi maupun SDM. Kedudukan DPS dalam struktur
organisasi perusahaan setara dengan dewan komisaris.

46 | Pengetahuan Umum Asuransi


4.5 Perusahaan Asuransi Syariah di Indonesia
Semenjak pemerintah mendirikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga
Negara yang mengawasi perusahaan perusahaan keuangan, telah melakukan
pendataan ulang dan pengeluaran izin usaha atas semua perusahaan atau lembaga
keuangan yang telah ada.

Menurut data yang dikeularkan OJK tahun 2016, perusahaan asuransi syariah yang
telah mendapatkan izin usaha adalah sebanyak :

a. Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah 5 Perusahaan


b. Perusahaan Asuransi Umum Syariah 4 Perusahaan
c. Unit Syariah Perusahaan Asuransui Jiwa 19 Perusahaan
d. Unit Syariah Perusahaan Asuransi Umum 24 Perusahaan
e. Perusahaan Re Asuransi Syariah 3 Perusahaan

Berikut daftar perusahaan asuransi yang telah menerapkan konsep syariah :


5 Perusahaan Asuransi Jiwa Syariah
1. Asuransi Takaful Keluarga, PT
2. Asuransi Jiwa Syariah Al Amin, PT
3. Asuransi Jiwa Syariah Amanah Giri Artha, PT
4. Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi, PT
5. Asuransi Syariah Keluarga Indonesia, PT

19 Perusahaan Asuransi Jiwa Unit Usaha Syariah


6. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912
7. Avrist Assurance, PT
8. Asuransi Allianz Life Indonesia, PT
9. Asuransi Jiwa Bringin Sejahtera, PT
10. Asuransi Jiwa Central Asia Raya, PT
11. Asuransi Jiwa Mega Life, PT
12. Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG, PT
13. BNI Life Insurance, PT
14. Great Eastern Life Indonesia, PT
15. Tokio Marine Life Insurance Indonesia, PT
16. Prudential Life Assurance, PT
17. AXA Mandiri Financial Services, PT
18. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, PT
19. Panin Dai Ichi Life, PT
20. AIA Financial, PT
21. AXA Financial Indonesia, PT

47 | Pengetahuan Umum Asuransi


22. Sun Life Financial Indonesia, PT
23. ACE Life Assurance, PT
24. Financial Wiramitra Danadyaksa, PT

4 Perusahaan Asuransi Umum Syariah :


1. Asuransi Takaful Umum, PT
2. Jaya Proteksi Takaful, PT
3. Asuransi Sonwelis Takaful, PT
4. Asuransi Jasindo Takaful, PT

24 Perusahaan Asuransi Umum Unit Syariah :


5. Asuransi Adira Dinamika, PT
4. Asuransi Allianz Utama Indonesia, PT
5. Asuransi Astra Buana, PT
6. Asuransi Bangun Askrida, PT
7. Asuransi Bintang Tbk, PT
8. Asuransi Bringin Sejahtera Artamakmur, PT
9. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967, PT
10. Asuransi Central Asia, PT
11. Asuransi Parolamas, PT
12. Asuransi Ramayana, PT
13. Asuransi Sinar Mas, PT
14. Asuransi Tri Pakarta, PT
15. Asuransi Umum Mega, PT
16. Asuransi Staco Mandiri, PT
17. Tugu Pratama Indonesia, PT
18. AIG Insurance Indonesia, PT
19. Asuransi Ekspor Indonesia, PT
20. Asuransi Bina Dana Artha Tbk, PT
21. Asuransi Pan Pasific, PT
22. Asuransi Wahana Tata Takaful, PT
23. Asuransi Mitra Maparya Tbk, PT
24. Asuransi Jasa Raharja Putera, PT
25. Mandiri AXA General Insurance, PT
26. Asuransi Reliance Indonesia, PT

3 Perusahaan ReAsuransi Syariah :


1. Reasuransi Internasional Indonesia, PT

48 | Pengetahuan Umum Asuransi


2. Reasuransi Nasional Indonesia, PT
3. Maskapai Reasuransi Indonesia, PT

49 | Pengetahuan Umum Asuransi