Anda di halaman 1dari 4

Kasus Matra Udara

RPS

Tiba-tiba datang pasien laki-laki berusia 22 tahun dengan keluhsn nyeri dada.

Analisis : menandakan adanya ggn pada jantung atau pun paru-paru.

Sebelumnya pasien telah melakukan pelatihan ruang udara bertekanan rendah (RUBR), ia
merupakan calon pilot yang sedang melakukan pelatihan di RUBR dalam rangka untuk
mensimulasikan hipoksia pada ketinggian.

Analisis

Sebelum melakukan RUBR semua calon pilot telah melakukan pemeriksaan kesehatan
terlebih dahulu, dan ia dinyatakan tidak ada masalah untuk melakukan pelatihan.

Analasis

Ia terpapar pada lingkungan hipobarik selama sekitar satu jam (total waktu turun dan naik)
dan ketinggian maks 35.000 feet tekanan atmosfer selama sekitar 15 menit.

Analisis : menandakan bahwa pasien terkena hipoksia yang dikarenakan lingkungan hipobarik.

Dua jam setelah pelatihan RUBR tsbt pasien mengeluh nyeri dada pada saat istirahat yag khs
spt infark miokard, kemudian dibawa ke UGD oleh rekan-rekannya.

Analisis : dikarenakan adanya tanda hipoksia dapat menyebabkan adanya oksigenasi


miokardium yang tidak adekuat iskemik miokardium.

RPD

Tidak ada riwayat hipertensi, DM (-), tidak merokok

Analisis : menandakan bahwa penyakit bukan dikarenakan hipertensi, DM, dan merokok. Dapat
melemahkan hipotesis tentang PJK

RPK

Tidak ada PJK

Analisis : menandakan bahwa tidak ada risiko penyakit genetic. Bisa melemahkan PJK
Hipotesis

Hipoksia

Infark Miokard

Asma

Penyakit Jantung Koroner

Hipertensi

Dyslipidemia

Pemeriksaan Fisik

Datang dengan cemas dan berkeringat banyak

Analisis : dikarenakan dari iskemik miokardium yang mengaktifkan saraf simpatis

TD 140/90 mmHg

Analisis : Tanda adanya hipertensi derajat I

Nadi 90x/menit

Kepala : tidak ada kelainan

THT : terdpt septum devisiasi, konka hyperemis

Analisis : Deviasi septum dapat menyebabkan obstruksi hidung jika deviasi yang terjadi berat.
Biasanya dikarenakan kecelakaan pada wajah.

Deviasi septum dibagi atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu:
1. Tipe I; benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara.
2. Tipe II; benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih belum
menunjukkan gejala klinis yang bermakna.
3. Tipe III; deviasi pada konka media (area osteomeatal dan turbinasi tengah).
4. Tipe IV, S septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya).
5. Tipe V; tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih normal.
6. Tipe VI; tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga menunjukkan
rongga yang asimetri.
7. Tipe VII; kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.

Thorax : jantung S1 dan S2 dalam batas normal, tidak terdengar murmur dan gallop
(menandakan bahwa tidak ada kelainan pada katup jantung).

Paru : vesikuler normal, ronkhi (-)

Abdomen : tak ada kelainan

Analasis : menandakan bahwa tidak ada bendungan pada hepar akibat dari kegagalan jantung.
Yang dikarenakan cairan intraseluler meningkat.

Ekstremitas : tidak ada kelainan

Analisis : menandakan bahwa tidak adanya komplikasi ke peny gagal jantung, yang biasanya ada
edem pitting (+)

Pemeriksaan Penunjang

EKG : segmen ST elevasi di II, III, AVF, V5, V6 dan segmen ST depresi pada I dana VL, dan
dianggap sbg kasus MI akut

Analisis : elevasi ST di II, III, AVF kemungkinan menandakan adanya infark di bagian inferior
(disebabkan oleh oklusi arteri koronaria kanan atau cabang dari descendensnya) dan elevasi ST
di V5 dan V6 menandakan adanya infark di bagian lateral ( disebabkan oleh oklusi arteri
koronaria kiri atau cabang dari descendensnya).
Foto thorax : normal

Analasis : menandakan bahwa penyakit bukan dikarenakan abnormalitas congenital (jantung,


vaskuler), bukan karena adanya trauma (pneumothorax, haemothorax) ataupun adanya infeksi
pada paru-paru.
Profil lipid : normal

Analisis : menandakan bahwa bukan dikarenakan penyakit dyslipidemia yang biasa terjadi
kenaikan kadar kolesterol total (>240mg/dl), kolesterol LDL(>160 mg/dl), kenaikan kadar
trigliserida (>200 mg/dl) serta penurunan kadar HDL (<40 mg/dl).

Enzim jantung : normal

Analisis : enzim jantung biasanya adalah troponin CK-MB(Creatine kinase). Troponin ini adalah
suatu protein sel otot yang mengontrol aktin dan myosin otot jantung. Biasanya meningkat pada
pasien gagal jantung, infark miokard. Mulai meningkat 3 - 4 jam setelah awal timbulnya gejala
atau discomfort, puncaknya antara 18 dan 36 jam dan kemudian menurun perlahan, yang dapat
terdeteksi hingga 10-14 hari pada infark miokard yang luas.CK-MB secara reversibel mentransfer
gugus fosfat dari creatine phosphate ke ADP utntuk memproduksi ATP. Kadar serum CK-
MB mulai naik 3-8 jam setelah infark, puncaknya pada 24 jam, dan kembali normal dalam waktu
48 sampai 72 jam. Jika nilainya normal pada pemeriksaan pertama (misalnya, di rumah sakit
gawat darurat) maka belum bisa menyingkirkan adanya infark miokard akut, dapat diulang 3-6
jam kemudian.

Tatalaksana

Analgesik. Digunakan untuk mengurangi rasa sakit.


Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung.
Pembedahan.
o Septoplasti.

Diagnosis : Infark Miokard et cause Hipoksia Hipobarik + Septum devisiasi