Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beton bertulang merupakan bahan bangunan yang memadukan antara dua


material yaitu beton dan baja tulangan. Beton yang mempunyai kuat tekan yang
tinggi tetapi kuat tarik yang rendah dipadukan dengan baja tulangan yang
mempunyai kuat tarik yang tinggi akan menghasilkan suatu kekuatan yang saling
melengkapi untuk menopang bagian struktural bangunan. Banyak bangunan yang
menggunakan bahan beton bertulang seperti gedung bertingkat, jembatan,
bendungan, dan lain sebagainya.

Salah satu elemen struktural pada bangunan gedung yang banyak menggunakan
bahan beton bertulang adalah balok. Balok merupakan elemen struktur yang
berfungsi menyalurkan beban dari pelat lantai untuk diteruskan ke kolom dan
akhirnya ke fondasi. Selain itu, balok juga memikul beban gravitasi lainnya
misalnya berat dinding dan berat sendiri balok. Beban gravitasi yang arahnya ke
bawah akan mengakibatkan penampang di bagian tengah bentang mengalami
momen positif yang menimbulkan tegangan tekan pada bagian atas dan tegangan
tarik pada bagian bawah penampang.

Dalam perancangan dan analisis struktur beton terdapat ketentuan-ketentuan baku


yang telah distandardisasi dalam suatu peraturan. Peraturan yang ada di Indonesia
adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) yang memuat berbagai tata cara
perhitungan struktur beton sesuai kondisi di Indonesia. Ketentuan-ketentuan
dalam SNI beton banyak mengacu pada standar yang berlaku di Amerika Serikat
yang dikeluarkan oleh American Concrete Institute (ACI).

SNI telah mengalami beberapa kali revisi sejalan dengan ACI yang juga telah
mengalami beberapa kali perubahan. Untuk SNI beton terbaru adalah SNI
2847:2013 Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan Gedung yang mengacu
pada peraturan sebelumnya yaitu SNI 03-2847-2002 Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung yang telah direvisi dan disesuaikan
standar ACI 318-11. Oleh karena telah mengalami revisi, maka terdapat beberapa
perbedaan antara SNI 03-2847-2002 dan SNI 2847:2013. Salah satu perbedaan
tersebut antara lain dalam penentuan parameter-parameter yang digunakan dalam
perancangan lentur dan hal ini dapat mengakibatkan perbedaan tingkat
keekonomisan elemen struktur tersebut.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan tingkat efisiensi


penambahan luas tulangan dan penambahan tinggi balok yang dirancang
menggunakan SNI 03-2847-2002 dan SNI 2847:2013.

1.3 Batasan Masalah

Agar penelitian pada Tugas Akhir ini lebih terarah, diperlukan beberapa
pembatasan masalah sebagai berikut :

1. Struktur balok yang dianalisis adalah balok tampang persegi dan balok
tampang T terhadap lentur dengan tulangan tunggal.
2. Pembebanan yang dilakukan pada struktur balok beton bertulang ini hanya
berupa beban gravitasi saja yakni beban sendiri dan beban hidup.
3. Menganalisis balok beton bertulang terhadap kemampuannya menahan
momen positif.
4. Mutu beton fc= 25 MPa dan mutu tulangan baja fy bervariasi 240 MPa,
360 MPa, dan 420 MPa.
5. Analisis lentur balok beton bertulang untuk tampang persegi dan tampang
T dengan dimensi 200x450 mm, 300x600 mm, dan 400x800 mm.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui batas efisiensi penambahan luasan tulangan lentur


menggunakan SNI 03-2847-2002 dan SNI 2847:2013
2. Mengetahui batas efisiensi penambahan tinggi balok menggunakan SNI
03-2847-2002 dan SNI 2847:2013
3. Memberikan informasi perbandingan hasil analisis lentur balok
menggunakan SNI 03-2847-2002 dan SNI 2847:2013