Anda di halaman 1dari 6

A. APA ITU KONSEP?

Konsep adalah kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu dan


merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berfikir dan memecahkan
masalah. Jika kita menemukan sejumlah informasi misalnya ada sebuah benda
padat yang besar, benda itu terbuat dari besi atau kayu, digerakkan oleh mesin atau
layar, berjalan diatas air, digunakan untuk mengangkut barang atau orang, maka
kemudian dengan kemampuan mental informasi atau fakta itu dapat
disederhanakan dengan memberi label atau nama "Kapal Laut".
Konsep merupakan sejumlah fakta yang memiliki keterkaitan dengan
makna atau defenisi yang ditentukan. Konsep juga dinyatakan dalam sejumlah
bentuk:
a. Kongkrit atau abstrak, Luas atau sempit, suku kata atau frase.
b. Beberapa konsep adalah konsep kongkrit,
misalnya berkaitan dengan tempat, objek, lembaga, atau kejadian seperti:
manusia, gunung, pulau, daratan, rumah, negara, partai politik, barang
konsumsi, produsen, pabrik, gempa bumi, kemarau dan sebagainya.

Sementara itu konsep lainnya yang bersifat abstrak yakni demokrasi, toleransi,
adaptasi, kejujuran, kesetiaan, kebudayaan, kemerdekaan, keadilan, kebebasan, saling
ketergantungan, hak, sistem hukum dan sebagainya. Konsep dikatakan penting karena
konsep membantu seseorang untuk mengorganisasikan informasi atau data yang
dihadapi. Selanjutnya cara memperoleh konsep yakni sebelumnya harus mengenal
kemudian memahami dan merumuskan data fakta yang menjadi ciri/atribut dari suatu
konsep.
Konsep dibedakan menjadi dua jenis, yaitu konsep konkret dan konsep yang
harus didefinisikan. Konsep Konkret adalah pengertian yang menunjuk pada objek-
objek dalam lingkungan fisik, dalam IPA hal ini dapat dinyatakan dengan konsep
Hewan Mamalia adalah hewan yang berkembang biak dengan cara melahirkan,
berkaki empat, dan memiliki bulu-bulu pada kulitnya.

Para ahli juga memiliki pandanagan yang berbeda. Berikut ini adalah definisi konsep
menurut para ahli:

1. Woodruf mendefinisikan konsep sebagai suatu gagasan/ide yang relatif


sempurna dan bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang
berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-
benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
Pada tingkat konkrit, konsep merupakan suatu gambaran mental dari beberapa objek
atau kejadian yang sesungguhnya. Pada tingkat abstrak dan komplek, konsep
merupakan sintesis sejumlah kesimpulan yang telah ditarik dari pengalaman dengan
objek atau kejadian tertentu.

2. Dari wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Konsep merupakan abstrak,


entitas mental yang universal yang menunjuk pada kategori atau kelas dari suatu
entitas, kejadian atau hubungan. Konsep juag dapat diartikan pembawa arti.

4. Soedjadi mendefinisikan bahwa konsep adalah ide abstrak yang digunakan


untuk menagadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan
dengan suatu istilah atau rangakaian kata.

5. Bahri menjelaskan bahwa konsep adalah satuan ahli yang mewakili sejumlah
objek yang mempunyai ciri yang sama.
Contoh konsep jarak :
adalah ukuran satuan meter/km/cm dsb 2 titik dipermukaan, contoh jarak
Surabaya - Malang 90 km.
Contoh Konsep tentang perpindahan:
Nama dari konsep adalah perpindahan, definisinya adalah sebuah vektor yang
arahnya dari benda pada kedudukan awal menuju kedudukan akhir dan mempunyai
besar yang sama dengan jarak terpendek antara dua kedudukan.

B. Menggunakan pola sebagai dugaan dalam penyelesaian masalah matematika

Pola adalah cara terbaik untuk mengajak siswa mengeksplor ide-ide penting
dalam pembelajaran aljabar sebagai sebuah dugaan dan generalisasi. Pola matematika
sederhana dapat dipelajari siswa pada tingkat prasekolah dengan menggunakan blok,
kancing, serta benda-benda lain yang menarik. Sedangkan siswa pada level yang
lebih tinggi dapat mengeksplorasi pola bilangan yang lebih luas dari hanya sekedar
mengulang pola. Pembelajaran tentang pola di Indonesia sudah dimulai dari tingkat
kanak-kanak hingga tingkat sekolah menengah. Pada tingkat kanak-kanak
pembelajaran tentang pola masih menggunakan media-media tertentu seperti balok,
bola, kertas, dan bermacam benda lainnya. Sedangkan pembelajaran pola yang lebih
tinggi dimulai sejak tingkat SMP, siswa sudah diajak untuk mengenal pola dengan
cara yang lebih tinggi.
Dalam Early Childhood Mathematics (2010) Pembelajaran tentang pola
adalah sentral dari seluruh pembelajaran matematika, jika siswa dapat
mengembangkan apresiasianya terhadap pola dan dapat mengenalinya pada konteks
yang berbeda maka transfer pembelajaran akan berjalan lebih mudah. Dengan
mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menggeneralisasikan pola, guru dapat
menggunakannya sebagai pedoman untuk mempersiapkan bahan pembelajaran dan
mempersiapkan tugas yang mendukung pembelajaran. Dengan demikian pelevelan
proses siswa dalam menggeneralisasikan pola menjadi sangat penting. Pola yang
berkembang dalam matematika digunakan untuk membantu siswa untuk menganalisis
perubahan matematika. Hal ini penting bagi anak-anak karena membantu mereka
menemukan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah matematika. Untuk
beberapa siswa, mungkin sangat mudah melihat perubahan pola dari satu bagian ke
bagian lain.
Contoh :
Dua suku berikutnya dari barisan bilangan 50,45,39,32,adalah
a. 24, 15
b. 24, 16
c. 25, 17
d. 25, 18
Jawaban : a. 24, 15

C. Apa maksud menggunakan penalaran pada sifat?

Melalui kegiatan bernalar dalam matematika, diharapkan siswa dapat melihat bahwa
matematika merupakan kajian yang masuk akal atau logis. Dengan demikian siswa
merasa yakin bahwa matematika dapat dipahami, dipikirkan, dibuktikan, dan
dievaluasi. Seperti dinyatakan oleh Silver et al. (1990) bahwa dalam doing
mathematics melibatkan kegiatan bernalar.
Contoh :
Semua orang tua menyayangi anaknya. Sebagian guru menyayangi anaknya. Jadi . . .
a. Sebagian orang tua menyayangi anaknya
b. Sebagian guru adalah orang tua
c. Semua guru menyayangi anaknya
d. Semua orang tua adalah guru
e. Semua guru adalah orang tua
Jawaban : b. sebagian guru adalah orang tua
D. Apa itu Pemecahan Masalah?
Pemecahan masalah pada dasarnya adalah proses yang ditempuh oleh
seseorang untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sampai masalah itu tidak
lagi menjadi masalah baginya (Hudojo, 1988). Dalam pemecahan masalah prosesnya
terutama terletak dalam diri pelajar. Menurut Polya (1981) belajar pemecahan
masalah matematika memerlukan strategi dengan empat tahapan yaitu : (1)
memahami masalah, (2) menyusun rencana, (3) menjalankan rencana pemecahan, dan
(4) menguji kembali penyelesaian yang diperoleh. Dalam penelitian yang dilakukan
Hardiman dan Mestre (1989) menunjukkan bahwa pembelajaran pemecahan masalah
matematika, dapat dilakukan dalam konteks pemahaman konseptual yang dimiliki
siswa.
Memecahkan masalah merupakan suatu bentuk belajar. Nasution (1982)
mengemukakan bahwa ada cara-cara di dalam membantu siswa memecahkan masalah
yang lebih baik ialah : (1) memberikan instruksi kepada siswa secara verbal untuk
membantu memecahkan masalah, (2) memecahkan masalah itu langkah demi langkah
dengan menggunakan contoh, gambar-gambar, (3) belajar siswa dibantu dan
dibimbing untuk menemukan sendiri pemecahan masalah dengan aturan yang
diperlukan. Pemecahan masalah dapat disimpulkan bahwa suatu daya atau kekuatan
untuk melakukan tindakan penerapan pengetahuan dan keterampilan terjadi
pengalaman-pengalaman sebagai pengetahuan awal yang dapat disintesiskan dengan
memahami masalah, menyusun pemecahan masalah, menjalankan rencana
pemecahan, dan menguji kembali penyelesaian yang
diperoleh.

E. Apa itu Konteks Matematika?


Penggunaan konteks dalam pembelajaran matematika menjadikan konsep
konsep abstrak dapat dipahami berdasarkan pemikiran yang dibangun dari situasi
realistik tertentu yang sudah dikenal dengan baik oleh siswa. Konteks adalah situasi
yang menarik perhatian anak dan yang mereka dapat kenali dengan baik. Situasi ini
mungkin salah satu dari bentuk yang bersifat khayalan atau nyata, dan menyebabkan
anak membangkitkan pengetahuan yang mereka telah peroleh melalui pengalaman,
misalnya dalam bentuk metode kerja mereka sendiri secara informal, sehingga
membuat belajar sebagai suatu aktifitas yang bermakna bagi diri mereka sendiri.
Pemilihan konteks yang baik akan menyebabkan suatu proses berpikir aktif pada anak
(Nelissen,1997).