Anda di halaman 1dari 150

PROSIDING SEMINAR ELINVO

Tema Evolution
Evolution of Electronics and ICT: New Challenges and Opportunities for All
All
ISSN: 2477-2402
Volume 1, Nopember 2015, hal. 1 143

Prosiding Seminar ELINVO terbit satu kali dalam setahun. Prosiding ini merupakan
media publikasi berisi tulisan yang telah dipresentasikan secara oral dan diangkat
dari hasil bidang penelitian atau telaah di bidang elektronika dan informatika ditinjau
baik dari perkembangan teknologi
teknologi maupun dari perkembangan pengajarannya serta
bidang pendidikan vokasi.

Ketua Penyunting (Editor in Chief)


Fatchul Arifin
Dewan Penyunting (Editorial Board)
Handaru Jati
Nurkhamid
Penyunting Pelaksana (Assistant Editor)
Pipit Utami
Satriyo Agung Dewanto
Bonita Destiana
Desain Cover
Ahmad Tahali
Daniel Julianto
ISSN: 2477-2402
2477

Penerbit: Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas Teknik Universitas


Negeri Yogyakarta. Alamat: Kompleks Fakultas Teknik Kampus Karangmalang,
Yogyakarta, 55281, (0274) 554686.
Homepage: http://pendidikan-teknik-elektronika.ft.uny.ac.id
http://pendidikan Email: elinvo@uny.ac.id
eli

Penyunting menerima sumbangan artikel yang belum pernah diterbitkan dalam


media lain. Naskah artikel yang masuk akan di-review
di review dan disunting untuk
kesesuaian gaya selingkung pada Prosiding Seminar Nasional ELINVO.

Dicetak di Percetakan UNY Press. Semua artikel dalam Prosiding ini menjadi hak
Prosiding Seminar Nasional ELINVO dalam hal publikasi (tidak bisa dipublikasikan
lagi di media lain), isi menjadi tanggungjawab penulis artikel.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402


ISSN:2477 II
Kata Pengantar
Pada dasa warsa terakhir, perkembangan teknologi dapat dikatakan sangat
pesat. Perkembagan ini tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan teknik
elektronika dan informatika, karena hampir semua bidang tidak dapat lepas dari
keduanya. Di era globalisasi ini, interaksi antar bangsa dari seluruh penjuru dunia
semakin intensif, sehingga berbagai macam dampak (baik positif maupun negatif)
pasti akan ada. Dalam menangkal pengaruh negatif globalisasi diperlukan sikap
mental yang kuat, hal itu tercermin dalam karakter suatu bangsa. Salah satu faktor
terpenting dalam pembangunan karakter adalah aspek kualitas pendidikan.
Untuk mengantisipasi berbagaai macam persoalan yang akan muncul
karena dampak teknologi, saat ini telah dikeluarkan Undang-Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik (UU ITE). Di dalam UU ITE dibagi menjadi dua bagian besar,
yaitu pengaturan mengenai informasi dan transaksi elektronik dan pengaturan
mengenai berbagai macam aktifitas IT yang dilarang. Hal ini dimaksudkan agar
pengguna dan juga pelaku bisnis internet dan mendapatkan kepastian hukum dalam
melakukan transaksi elektronik. Selanjutnya, pada tahun 2015 Masyarakat Ekonomi
ASEAN 2015 telah melakukan penguatan jalinan kerjasama ekonomi melalui
perdagangan bebas. Oleh karena itu, dipandang perlu melakukan penguatan secara
strategis penyiapan tenaga kerja terampil dan professional melalui pendidikan
kejuruan/vokasi.
Seminar yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Elektronika FT
UNY ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai ide inovatif dan solutif untuk
mengembangkan pendidikan elektronika dan informatika. Kontribusi positif tertuang
pada kumpulan hasil penelitian atau ide gagasan tentang elektronika dan
informatika oleh peserta seminar. Semoga proceedings ini bermanfaat bagi semua
kalangan, khususnya yang aktif dalam bidang elektronika dan informatika, serta
pendidikan vokasi. Selamat membaca, sukses selalu, semoga Allah selalu
memberikan kemudahan!

Yogyakarta, 20 November 2015

Tim Seminar Nasional ELINVO 2015

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 III


Sambutan Ketua Panitia
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga Seminar Nasional
Electronics, Informatics, And Vocational Education (ELINVO 2015) dapat
terselenggara dengan baik sesuai jadwal yang direncanakan. ELINVO 2015
merupakan sebuah forum ilmiah, komunikasi, sosialisasi, dan publikasi hasil
penelitian dari perkembangan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan penelitian
elektronika, informatika dan pendidikan vokasi. Acara ini dapat terselenggara
dengan baik atas bantuan dari berbagai pihak, oleh sebab itu melalui kesempatan
ini diucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Rektor Univrsitas Negeri Yogyakarkata yang telah memberikan ijin
sehingga acara dapat terselenggara dengan baik
2. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta yang telah
memberikan pengarahan dan dukungan
3. Panitia ELINVO 2015
4. Peserta dan pengirim makalah dalam prosiding ELINVO 2015
5. Semua pihak yang membantu terlaksananya seminar nasional ELINVO
2015
ELINVO 2015 diikuti oleh lebih dari 150 peserta yang terdiri dari praktisi,
mahasiswa, guru, kepala sekolah, dosen dan para pemerhati teknologi elektronika
dan informatika serta pendidikan vokasi. Selain itu juga dihadiri oleh pemakalah
pendamping yang akan mempresentasikan hasil penelitian dan pemikiran mereka.
Makalah ini akan dipublikasikan pada prosiding ELINVO 2015. Pengirim makalah
berasal dari berbagai kalangan, yaitu guru, dosen, peniliti, praktisi, pengajar diklat
dan pemerhati teknologi elektronika dan informatika serta pendidikan vokasi.
Harapan kami, semoga makalah yang tersaji dapat memenuhi tujuan dari seminar.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 20 November 2015

Dr. Fatchul Arifin, S.T., M.T.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 IV


PROSIDING SEMINAR ELINVO
Tema Evolution of Electronics and ICT: New Challenges and Opportunities for All
ISSN: 2477-2402
Volume 1, Nopember 2015, hal. 1 - 143
DAFTAR ISI

Halaman Sampul II

Kata Pengantar III

Sambutan Ketua Panitia IV

Daftar Isi V

Syariah Integrated System (SIS) 18


Koperasi Simpan Pinjam & Pembiayaan Syariah (KSPPS)/BMT (Studi
Kasus BMT Mandiri Jaya)
Abdul Aziz, & Christian Widominulyo

Pengembangan Aplikasi Skripsi (Tugas Akhir) Berbasis Web 9 18


Menggunakan Metode Scrum
Adi Umbas Primadharma, Afrizal Doewes, & Esti Suryani

Sewon Smart School: Rancang Bangun Internet Of Things dalam Upaya 19 25


Meningkatkan Mutu Sekolah
Arifah Suryaningsih, & Rusli Abdul Hamid
Electrolarynx On Off Dettection Berbasis Sinyal EMG Otot Leher 26 32
Fatchul Arifin

Penggunaan Web 2.0 Universitas di Indonesia dilihat dari Peringkat 33 36


Webometrics
Handaru Jati

Kebijakan Pendidikan Gratis dan Dilema Sekolah Swasta 37 43


Nursaptini

Studi Awal Analisis Penerimaan SIMDA versi 2.7 serta Dampaknya 44 54


Terhadap Pengguna
Tabiin Mubarokah, Paulus Insap Santosa, & Hanung Adi Nugroho

Analisis Clustering Dokumen Menggunakan Algoritma Self-Organizing 55 65


Map (SOM) (Studi Kasus : Dokumen Skripsi di Fakultas Pertanian UNS)
Vera Suryaningsih, Sari Widya Sihwi, & Meiyanto Eko Sulistyo

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 V


Meningkatkan Proses Dan Hasil Belajar Rangkaian Listrik Melalui 66 77
Pembelajaran Kooperatif Model STAD
Djoko Santoso & Umi Rochayati

Diterminan Penyelesaian Tugas Akhir Bagi Mahasiswa Vokasi 78 84


Masduki Zakaria

Kesadaran dan Implementasi Asesmen Gaya Belajar di Sekolah Kejuruan 85 92


Mashoedah

Tracer Study Prodi Pendidikan Teknik Elektronika FT UNY Sebagai 93 100


Kajian Pengembangan Kurikulum yang Memiliki Relevansi dengan
Kebutuhan Dunia Kerja
Muh. Munir, Satriyo Agung D, Ponco Wali P, Bekti Wulandari, & Pipit Utami

Usaha Penyiapan Lulusan LPTK Melalui Need Assessment Analysis Alat 101 113
Bantu Praktik Instrumentasi
Pipit Utami

Pemanfaatan Video Interaktif Pembelajaran 114 122


Ponco Wali Pranoto
Strategi Implementasi Program Induksi Guru Pendidikan Kejuruan 123 131
Pramudi Utomo

Teori Kognitif dalam Pengembangan Multimedia Pembelajaran 132 143


Sri Waluyanti

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 VI


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 1 8
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

SYARIAH INTEGRATED SYSTEM (SIS)


KOPERASI SIMPAN PINJAM & PEMBIAYAAN SYARI'AH (KSPPS) / BMT
(STUDI KASUS BMT MANDIRI JAYA)

Abdul Aziz, & Christian Widominulyo


Universitas Sebelas Maret
Email: aaziz@staff.uns.ac.id

ABSTRAK
BMT Mandiri Jaya merupakan salah satu jenis koperasi simpan pinjam dan pembiayaan
(KSPPS) yang melayani berbagai macam jasa keuangan kepada anggota atau masyarakat setempat,
antara lain simpanan sukarela (mudharabah), simpanan berjangka (wadiah) dengan prinsip bagi hasil.
Selain itu juga melayani pembiayaan, antara lain pembiayaan barang (murabahah) dan pembiayaan
modal usaha (musyarokah). Hasil dari analisis situasi terdapat permasalahan mendasar yang dihadapi
oleh BMT Mandiri Jaya yaitu belum adanya sistem secara terintegrasi untuk menangani operasional
usaha BMT, seperti pencatatan transaksi baik simpanan dan pembiayaan masih dilakukan secara
semi manual. Berdasarkan analisa tersebut, masalah utama yang diangkat untuk penelitian ini adalah
bagaimana menerapkan syariah integrated system (sis) untuk perbaikan manajemen usaha BMT
Mandiri Jaya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah requirement gathering, analisis
kebutuhan sistem yang akan dibangun, desain sistem, dan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan
syariah integrated system (SIS). Syariah integrated system yang dibangun dimodelkan dengan
menggunakan pendekatan objek oriented dengan UML (Unified Modelling Language) sebagai bahasa
pemodelan. Implementasi sistem dilakukan dengan menggunakan konsep MVC (Model View Control)
dengan bahasa PHP dan database MySQL.
Kata kunci: syariah integrated system, KSPPS, BMT, UML, MVC

ABSTRACT
BMT Mandiri Jaya is one of the credit unions and finance (KSPPS) that serve a wide range of
financial services to members or the local community, including voluntary savings (mudaraba), time
deposits (wadi'ah) with the principle of sharing. It also serves the financing, including financing items
(murabaha) and venture capital financing (musyarokah). Results of the analysis of the situation there is
the fundamental problem faced by BMT Mandiri Jaya, namely the lack of an integrated system to
handle business operations BMT, such as recording both savings and financing transactions are still
done semi-manually. Based on this analysis, the main issues raised in this research is how to
implement sharia integrated system (SIS) for the improvement of business management BMT Mandiri
Jaya.

Keywords: syariah integrated system, KSPPS, BMT, UML, MVC

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 1


PENDAHULUAN bergerak di bidang simpan pinjam sangat
BMT Mandiri Jaya merupakan salah dibutuhkan, menurut[2] semakin tinggi ting-
satu koperasi baru yang berjenis koperasi kat kepercayaan karyawan terhadap tek-
simpan pinjam dan pembiayaan syariah nologi sistem informasi yang disediakan
BMT dalam membantu menyelesaikan tu-
(KSPPS). Koperasi berbasis syariah me-
gas, maka kinerja individualnya akan se-
miliki karakteristik yang sedikit berbeda
dibandingkan dengan koperasi konven- makin meningkat[3]. Secara internal pe-
sional, yakni dimana semua aktifitas yang manfaatan teknologi informasi dan komu-
ada didalamnya berba-siskan syariah. nikasi dapat meningkatkan kinerja kope-
rasi dan secara eksternal dapat mening-
BMT Mandiri Jaya dalam perkem-
katkan efektifitas layanan serta keperca-
bangannya memiliki sekitar 135 anggota
yaan masyarakat atau nasabah[4].
dan omset sekitar 100 juta dengan unit
usaha tunggal yakni simpan pinjam METODE
syariah yang melayani simpanan serta
Metode yang digunakan dalam
pembiayaan kepada masyarakat dengan
penelitian ini meliputi tahapan dalam
berbasis syariah.
pembangunan sistem informasi. Analisa
Permasalahan yang dihadapi oleh
dan perancangan syariah integrated sys-
BMT Mandiri Jaya adalah masih minimnya
tem (SIS) dilakukan dengan menggunakan
modal usaha koperasi, daerah kerja yang
bahasa pemodelan berorientasi objek
kurang luas, sumber daya manusia yang
yakni UML (Unified Modelling Language)
terbatas dan manajemen usaha yang
mengikuti siklus hidup pada proses
masih menggunakan system manual. BMT
pembangunan perangkat lunak yang me-
Mandiri Jaya dalam operasional harian
liputi beberapa tahap, antara lain: (1)
masih menggunakan cara manual yakni Perencanaan, tahapan ini bertujuan untuk
dengan memanfaatkan system yang mengidentifikasi business rule dan studi
sederhana dan menggunakan aplikasi kelayakan terhadap pembangunan syariah
perkantoran seperti Microsoft Excell untuk integrated system; (2) Analisis, tahapan
pencatatan transaksinya. berikutnya adalah analisis kebutuhan sis-
Dari hasil analisis situasi di atas tem dan konsep syariah integrated sistem
bahwa masalah utama yang diangkat dan kemudian dituangkan ke dalam bentuk
untuk penelitian ini adalah Penerapan diagram use case, diagram aktivitas dan
Teknologi Informasi & Komunikasi dalam diagram sequence; (3) Desain, tahapan ini
hal ini Syariah Integrated System (SIS) bertujuan untuk membuat rancangan sya-
untuk perbaikan manajemen usaha kope- riah integrated system yang dituangkan ke
rasi sehingga dapat meningkatkan efek- dalam bentuk diagran class (boundary,
tifitas kegiatan operasional harian kope- control & entity), rancangan user interface
rasi, memberikan branding yang baik bagi dan ERD (Entity Relationship Diagram);
nasabah sehingga diharapkan dapat me- dan (4) Implementasi, tahapan ini bertu-
ningkatkan kepercayaan masyarakat ter- juan untuk mengkonstruksi syariah integra-
hadap koperasi serta dapat memberikan ted system dengan menggunakan bahasa
layanan prima kepada nasabahnya.[1] PHP dan MySQL sebagai database
Penggunaan teknologi informasi
engine.
bagi UKM khususnya koperasi yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 2


Gambar 1. ERD Syariah Integrated System

fungsional yang ada dalam syariah integ-


HASIL
rated system meliputi pengelolaan ang-
Syariah Integrated System yang gota, simpanan, pembiayaan, akuntansi
dibangun memiliki empat aktor yakni dan SMS gateway. Tabel 1 meru-pakan
accounting, CS, teller, dan marketing. Fitur daftar fungsional sistem beserta aktornya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 3


Tabel 1. Fungsional System
No Aktor Fungsi
1 Teller Mengelola Simpanan
Mutasi Simpanan Tunai
Mutasi Simpanan Non Tunai
Update Deposito
Mengelola Angsuran
Angsuran Tunai
Angsuran Non Tunai
2 Customer Service Mengelola Anggota
Pencarian Data Anggota
Cetak Data Anggota
Mengelola SMS Gateway
3 Marketing Mengelola Pembiayaan
Pembiayaan Baru
4 Accounting Mengelola Akuntansi

ERD syariah integrated system yang dapat dilihat pada diagram use case pada
dihasilakan dapat dilihat pada Gambar 1. gambar 2.
Adapun hubungan antara fungsi dan aktor

Gambar 2. Usecase diagram SIS

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 4


Syariah integrated system diimple- Sql. Sistem memiliki beberapa interface
mentasikan pada lingkungan berbasis baik untuk pelanggan, pengunjung dan
web, dimana teknologi yang digunakan administrator. Pengaturan koneksi dilaku-
adalah bahasa markup di sisi client yakni kan untuk menyesuaikan dengan seting
HTML, JavaScript, dan jQuery dan di sisi database yang digunakan. Gambar 3
server menggunakan PHP. Adapun data- merupakan halaman depan dari syariah
base engine yang digunakan adalah My- integrated system.

Gambar 3 Halaman Depan Syariah Integrated System

Gambar 3 menunjukkan implementa- anggota, funding, lending atau pembi-


si halaman utama dari system yang me- ayaan, angsuran dan utility.
miliki menu antara lain pengelolaan data

Gambar 4 Halaman Input Data Anggota

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 5


Implementasi dari pengelolaan data gota baru, mengupdate anggota lama, dan
anggota dapat dilihat pada Gambar 4. Pe- menghapus data anggota.
ngelolaan data anggota meliputi input ang-

Gambar 5 Halaman Menu Funding/Simpanan

Pengelolaan data simpanan/funding nan, cetak cover buku, cetak mutasi ke


dapat dilihat pada gambar 5. Pengelolaan buku, cetak sertifikat deposito, master data
funding meliputi form permohonan simpa- simpanan.

Gambar 6. Halaman Menu Mutasi Transaksi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 6


Tampilan pengelolaan transaksi mu- nan tunai, mutasi simpanan non tunai,
tasi dapat dilihat pada gambar 6. transfer antar rekening dan mutasi de-
Transaksi mutasi meliputi mutasi simpa- posito.

Gambar 7 Halaman Menu Lending/Pembiayaan

Tampilan pengelolaan transaksi pem- kening pembiayaan baru, tagihan reke-


biayaan dapat dilihat pada gambar 7. ning, mutasi angsuran, tunggakan pembi-
Transaksi lending meliputi pembukaan re- ayaan, cetak kartu nasabah.

Gambar 8 Halaman Menu Angsuran

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 7


Tampilan pengelolaan angsuran da- DAFTAR RUJUKAN
pat dilihat pada gambar 8. Angsuran me- [1] Rusydiana, A. S. Challenges In
liputi tunai, non tunai, koreksi debet ang-
Developing Baitul Maal Wat Tamwiil
suran dan koreksi kredit angsuran.
(BMT) In Indonesia Using Analytic
Network Process (ANP). Business
SIMPULAN and Management Quarterly Review
Syariah integrated system untuk ko- 2013, 51-62.
perasi simpan pinjam dan pembiayaan [2] Shidiq, A. Pengaruh Pemanfaatan,
syariah (KSPPS) BMT Mandiri Jaya Keahlian Pengguna, Efektivitas
memiliki beberapa fitur yang dapat Penggunaan, Dan Kepercayaan Pada
memudahkan dalam pengelolaan usaha Teknologi Sistem Informasi Terhadap
seperti modul pengelolaan anggota, modul Kinerja Individual. Skripsi FEB
pengelolaan simpanan, modul pengelolaan Universitas Muhammadiyah
pembiayaan, modul pengelolaan angsur- Surakarta. 2013
an, modul pengelolaan SMS gateway. [3] Milasari. Rancang Bangun Sistem
Sistem yang dihasilkan dibuat dengan Dashboard Pengawasan Kinerja
menggunakan teknologi berbasis web
Dengan Model Balanced Scorecard.
dengan pemrograman PHP dan menggu- Jurnal Sains, Teknologi & Industri,
nakan MySQL sebagai database engine-
2014 12 (1), 23-31.
nya.
[4] Irawan, D. Analisis Strategi
Pengembangan Lembaga Keuangan
Mikro Syariah (LKMS). JIIA 2013, 1-8.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 8


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 9-18
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

PENGEMBANGAN APLIKASI SKRIPSI (TUGAS AKHIR) BERBASIS WEB


MENGGUNAKAN METODE SCRUM

Adi Umbas Primadharma, Afrizal Doewes, & Esti Suryani


Universitas Sebelas Maret
Email: adhie.scythe@gmail.com

ABSTRAK
Skripsi/Tugas Akhir merupakan karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa berdasarkan hasil
penelitian laboratorium atau penelitian lapangan. Informasi mengenai Skripsi/Tugas Akhir di Jurusan
Informatika Universitas Sebelas Maret (UNS) tidak dapat diperoleh dengan mudah. Informasi tersebut
seperti ketersediaan dosen pembimbing, judul penelitian, jadwal ujian seminar, serta data informasi
lainnya yang berkaitan dengan Skripsi/Tugas Akhir. Sumber Informasi dapat diketahui dengan mudah
melalui berbagai media, salah satunya adalah media internet yang berbentuk sebuah situs atau
website. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah Aplikasi yang menangani permasalahan Skripsi/Tugas
Akhir yang ada di Jurusan Informatika UNS berbasis Website. Pengembangan Aplikasi Skripsi/Tugas
Akhir dalam penelitian ini menggunakan metode Agile yaitu dengan model Scrum. Hasil yang
diperoleh pada pengembangan Aplikasi Skripsi/Tugas Akhir dengan menggunakan metode Scrum
terbukti dapat dengan mudah mengatasi perubahan requirements, menghasilkan produk yang sesuai
dengan keinginan pengguna karena mendapatkan feedback secara kontinu. Kemudian dari hasil focus
factor kelima sprint didapat rata-rata focus factor nya yaitu 0.84 atau 84%, sehingga dapat dikatakan
tingkat presentase tim pengembang fokus mengerjakan pekerjaannya dalam membangun Aplikasi
Skripsi/Tugas Akhir berbasis web menggunakan metode scrum adalah 84%.
Kata kunci:Agile Methods, Scrum, Website
ABSTRACT
Thesis is a scientific paper prepared by the students based on the results of laboratory or field
research. Information on the thesis at the Department of Informatics University of March (UNS) can not
be obtained easily. The information such as the availability of lecturers, research title, exam schedules
seminars, as well as other information data related to the thesis. Resources can be found easily
through a variety of media, one of which is the Internet media in the form of a website or websites.
Therefore, it takes an application that handles the problems thesis project in the Department of
Informatics UNS-based Website. Application Development Thesis in this study using Scrum in Agile
development model. Results obtained on application development thesis project using the Scrum
method is proven to easily address changing requirements, produce products that comply with the
wishes of users for getting continuous feedback. Then the average of factor focus form the fifth sprint
is 0.84 or 84%, so it can be said the percentage rate development teams focus on doing his work in
building applications thesis project using the web-based Scrum method is 84%.
Keyword: Agile Methods, Scrum, Website

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 9


PENDAHULUAN waktu. Metode tradisional seperti waterfall
Skripsi/Tugas Akhir merupakan kar- dapat digunakan jika pada tahap pengem-
ya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa bangan tidak terdapat perubahan pada
user requirements[3]. Gagal beradaptasi
berdasarkan hasil penelitian laboratorium
atau penelitian lapangan dengan bimbing- dengan perubahan menjadi salah satu
penyebab kegagalan suatu proyek [4].
an pembimbing dosen, untuk dipertahan-
kan dihadapan penguji skripsi sebagai Metode incremental yang semakin ber-
kembang menjadi lebih ringan dan lebih
syarat untuk memperoleh gelar sarjana [1].
Informasi mengenai Skripsi/Tugas Akhir di menggunakan sudut pandang people-
Jurusan Informatika Universitas Sebelas centric ini disebut agile software develop-
Maret (UNS) yang dibutuhkan oleh maha- ment. Scrum merupakan metodologi yang
siswa maupun dosen tidak dapat diperoleh termasuk dalam agile software develop-
ment. Scrum dinilai dapat menghasilkan
dengan mudah. Informasi tersebut seperti
ketersediaan dosen pembimbing, judul kualitas perangkat lunak yang baik (sesuai
penelitian yang pernah dibuat, jadwal ujian dengan keinginan pengguna), dapat digu-
nakan dalam proyek besar maupun kecil,
seminar, serta data informasi lainnya yang
berkaitan dengan Skripsi/Tugas Akhir. dan mudah untuk mengadopsi perubahan
[5].
Sumber informasi dapat diketahui dengan
Berdasarkan latar belakang perma-
mudah melalui media internet yang ber-
salahan di atas, dibangun Aplikasi Skripsi/
bentuk sebuah situs atau website. Pene-
Tugas Akhir pada Jurusan Informatika
litian yang dilakukan oleh Artho yaitu
merancang sebuah website sebagai media UNS berbasis web dengan menggunakan
metode Scrum. Scrum memiliki tahapan
informasi kantor Hubungan Internasional
yang terstruktur dan bersifat perulangan,
Universitas Dian Nuswantoro[2]. Setiap
sehingga jika produk pada increment
mahasiswa ataupun dosen dapat dengan
mudah mengakses website asalkan terko- pertama belum cukup memenuhi kebutuh-
neksi dengan internet. Dengan adanya an, maka pada increment berikutnya dapat
dikembangkan sistem yang sesuai dengan
sebuah website maka setiap informasi
evaluasi pengguna di Jurusan Informatika
dapat diakses dengan mudah dan tidak
memerlukan aplikasi yang berat untuk UNS.
mengaksesnya. METODE
Pada tahap pengembangan apli- Metodologi yang digunakan dalam
kasi berbasis web, terdapat siklus fase penelitian ini diuraikan dengan jelas dan
dalam pengembangan perangkat lunak
sistematis mulai dari pengumpulan data &
atau Software Development Process.
analisis proses bisnis, membuat product
Terdapat beberapa metode tradisional da- backlog, merancang sprint backlog, desain
lam proses pengembangan perangkat sistem, eksekusi sprint, review dan demo
lunak seperti Waterfall, Spiral, V-model, produk, analisis scrum, dan delivery
incremental dan lain-lain. Seiring berja- produk. Berikut adalah tahapan penelitian
lannya waktu, keinginan pengguna atau dari tugas akhir ini.
user requirements dapat berubah sewaktu-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 10


Pengumpulan
data & Analisis
Proses Bisnis

Membuat Proses Merancang


Ya Backlog Sprint Backlog

Perubahan &
Requirement Tidak Eksekusi spirit Desain sistem
baru?

Tidak

Produk Review & Demo


selesai? Produk

Ya Analisisi Scrum

Delivery Produk

Gambar 1. Metodologi Penelitian

Pengumpulan data & Analisis Proses Bisnis dan dokumentasi, serta kebijakan internal
Pengumpulan data dilakukan dengan yang berlaku di Jurusan Informatika UNS.
komunikasi berupa wawancara langsung Hasil dari pengumpulan data dipe-
dengan divisi Tugas Akhir (TA) Jurusan lajari dan dievaluasi dari berbagai perma-
Informatika UNS yang berwenang dalam salahan yang ada dimulai dari proses awal
mengkoordinasikan penyusunan Skripsi/ sampai proses akhir dalam melaksanakan
Tugas Akhir dan juga sebagai product prosedur Skripsi/Tugas Akhir. Setelah itu
owner untuk mengidentifikasi masalah dibuat functional requirements dan non-
yang berhubungan dengan prosedur functional requirements dari hasil analisis
pelaksanaan Skripsi/Tugas Akhir, penge- dari data yang dikumpulkan. Kemudian
lolaan dan pengo-lahan data administrasi dibuat bagan alur proses pada sistem

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 11


yang akan dibuat nantinya berdasarkan nilai ideal man days yang terdapat dari
urutan pelaksanaan atau kejadian yang tabel setup disesuaikan dengan jumlah
terjadi selama proses mengerjakan Skrip- estimasi waktu yang diberikan tiap backlog
si/Tugas Akhir. item agar sprint dapat berjalan dengan
Membuat Product Backlog waktu baik.
Desain Sistem
Tahap selanjutnya yaitu membuat
product backlog. product backlog yang Perancangan desain sistem berupa
berisi backlog item dibuat berdasarkan pemetaan dari kebutuhan fungsional yang
requirements yang didapat dari konsultasi, telah teranalisa ke dalam suatu diagram.
wawancara, dan feedback dari berbagai Dalam proses perancangan desain sistem
sumber yaitu Divisi TA, Dosen, dan terdapat dua diagram yang digunakan
Mahasiswa yang ada di Jurusan Inform- yakni usecase diagram, dan entity rela-
atika UNS. Requirements pada product tionship diagram yang dibutuhkan dalam
backlog bersifat dinamis sehingga akan pembangunan Aplikasi Skripsi/Tugas Akhir
terus bertambah apabila mendapatkan di Jurusan Informatika UNS.
feedback dari pengguna yang didapatkan Eksekusi Sprint
pada saat masa review dan demo produk. Pada saat fase ini, tim pengembang
Setiap requirements tersebut dijadikan mengerjakan setiap backlog item yang
backlog item dan diberikan derajat kepen- sudah ditentukan pada sprint backlog dan
tingan oleh product owner sesuai dengan diimplementasikan ke dalam bahasa pem-
nilai bisnisnya. Selanjutnya backlog item rograman PHP menggunakan framework
tersebut ditambahkan ke dalam product Yes It Is (YII) berdasarkan desain sistem
backlog dan diberikan estimasi waktu oleh yang sudah dibentuk sebelumnya. Selama
tim pengembang (dalam satuan hari) yaitu sprint setiap backlog item yang sudah
berapa lama tim pengembang mampu selesai dikerjakan oleh tim pengembang
mengerjakan backlog item tersebut. didokumentasikan ke dalam tabel status
Merancang Sprint Backlog dan tabel perhitungan burndown chart.
Tabel status berisi task atau backlog item
Tahap selanjutnya yaitu merancang
yang terdapat pada sprint backlog dan
sprint backlog. Sprint backlog merupakan
diberi keterangan status (not complete,
product backlog yang sudah dibagi
ongoing, atau completed). Kemudian tabel
menjadi beberapa bagian untuk dikerjakan
perhitungan burndown chart digunakan
pada fase sprint nanti. Selanjutnya diten-
untuk merepresentasikan grafik burndown.
tukan waktu berlangsungnya sprint. Bia-
sanya berlangsung antara 1-4 minggu Review dan Demo Produk
tergantung kesepakatan bersama antar tim Selesai dari fase sprint, produk di
pengembang dengan stakeholder. Selan- demokan kepada pengguna untuk dila-
jutnya yaitu mengisi value ber-dasarkan kukan pengujian. Pengujian sistem ini
variableyang ada pada tabel setup. Berda- dilakukan dengan mencari kesalahan sis-
sarkan tabel setup tersebut dapat diten- tem yang ada pada aplikasi Skripsi/Tugas
tukan banyaknya backlog item yang akan Akhir Jurusan Informatika UNS dengan
dikerjakan dalam sebuah sprint dilihat dari menggunakan metode blackbox testing

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 12


yaitu metode pengujian perangkat lunak sarkan hasil proses scrum yang direpre-
yang meneliti fungsi dari aplikasi tanpa sentasikan dengan burndown chart, diana-
melihat ke dalam struktur internal aplikasi. lisa bentuk grafik dan nilai focus factor
Dilakukannya blackbox testing ini agar untuk menentukan kinerja tim pengem-
dapat dilakukan perbaikan dan pembenah- bang dalam mengerjakan aplikasi Skripsi/
an program melalui hasil yang didapat dari Tugas Akhir berbasis web.
pengujian. Selanjutnya dilakukan review Delivery Produk
apakah ada masukkan berupa feedback
Tahapan terakhir adalah delivery pro-
atas functional requirements yang didemo-
duk, yaitu menyerahkan atau merilis pro-
kan. Jika ada perubahan atas suatu fungsi,
duk berupa Aplikasi Skripsi/Tugas Akhir
maka akan dimasukkan ke dalam backlog
berbasis web yang sudah tidak terdapat
tambahan untuk dilakukan di sprint selan-
perbaikan dan perubahan kepada client
jutnya.
atau pengguna.
Analisis Scrum
HASIL
Pada tahap ini dilakukan analisis dari
Pengumpulan data & Analisis Proses Bisnis
proses scrum berdasarkan burndown chart
yang dibuat selama fase sprint berlang- Hasil wawancara menunjukkan bah-
sung. Selama fase sprint, tim pengembang wa sistem ini akan melibatkan beberapa
mengisi tabel burndown chart dimana pihak di antaranya mahasiswa, dosen,
setiap data pekerjaan atau task yang divisi TA, admin jurusan, dan admin
selesai didokumentasikan untuk perhitung- sistem. Setiap pihak memiliki perannya
an burndown chart. Pada akhir sprint masing-masing dalam jalannya sistem ini.
diambil data focus factor pada tabel untuk Gambar 1 merupakan bagan alur proses
kemudian digunakan pada tabel burndown bisnis dari prosedur Skripsi/Tugas Akhir
chart untuk sprint yang selanjutnya. Berda- Jurusan Informatika UNS.

Gambar 1. Alur Proses Bisnis

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 13


Membuat Product Backlog Tabel 2. Tabel setup untuk sprint 1
Berikut adalah product backlog Sprint 1 Nilai
aplikasi Skripsi/Tugas Akhir yang ditunjuk- Start Date 4/21/2015
kan pada Tabel 1 di bawah. End Date 5/12/2015
# of Developers 1
Focus Factor 0.7
Tabel 1. Product Backlog Aplikasi Work Days Total 15
Skripsi/Tugas Akhir Man Days Total 15
Backlog Item Priority Estimasi Ideal Man Days 10.5
Integrasi Aplikasi 20 2.5 m - Ideal Task Days Left -0.7
dengan Login b - Ideal Task Days Left 10.5
m - Man Days Used 1.0
SSO UNS
b - Man Days Used 0
Mahasiswa 18 1
(SSO) dapat Pada tabel setup diatas, kolom start
mendaftar di date diisi dengan tanggal mulai sprint 1
sistem Tugas yaitu 21 April 2015 dan kolom end date
Akhir diisi dengan tanggal berakhir sprint 1 yaitu
Divisi TA dapat 17 1 12 Mei 2015. Kemudian kolom # of
memvalidasi developers diisi dengan jumlah pengem-
akun mahasiswa bang yang ada dalam tim pengembang,
yang mendaftar dalam kondisi ini jumlah pengembangnya
di sistem adalah satu orang. Kemudian nilai focus
factor pada sprint pertama ini adalah 70%
MerancangSprint Backlog
atau 0.7 dikarenakan tidak adanya acuan
Scrum Master membagi product sebelumnya sehingga diberi nilai default
backlog dibagi menjadi beberapa sprint 0.7. Work days total adalah total hari kerja
backlog, dimana pada penelitian ini yang terdapat diantara tanggal 21 April
product backlog dibagi menjadi lima sprint. 2015 sampai 12 Mei 2015 yaitu 15 hari
Sprint pertama berdurasi 15 hari kerja (21 kerja. Man days total adalah total hari kerja
April 2015 12 Mei 2015). Sprint kedua dikalikan jumlah pengembang, karena tim
berdurasi sekitar 16 hari kerja (13 Mei pengembang hanya berjumlah 1 orang
2015 7 Juni 2015), lalu Sprint yang maka man days total bernilai 15. Ideal man
ketiga berdurasi sekitar 19 hari kerja (8 days adalah jumlah hari ideal tim
Juni 2015 2 Juli 2015), dilanjutkan pengembang mengerjakan sprint, dimana
dengan sprint keempat dengan durasi 19 nilai ini didapat dari focus factor dikalikan
hari kerja (27 Juli 2015 23 Agustus dengan man days total yaitu 10.5.
2015), Terakhir yaitu sprint yang kelima Sedangkan m - ideal task days left adalah
berdurasi sekitar 13 hari kerja (29 nilai koefisien m untuk kemiringan garis
ideal task. Karena ini merupakan burn-
September 16 Oktober 2015). Kemudian
down chart yaitu garis yang dibakar meng-
dibuat tabel setup untuk sprint 1. Tabel 2
arah ke bawah, sehingga nilai m disini
merupakan tabel setup untuk sprint 1.
adalah negatif. Besarnya koefisien didapat
dari ideal man days dibagi dengan work

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 14


days total yaitu -0.7. Selanjutnya b ideal karena itu, task yang dimasukkan ke da-
task days left merupakan tinggi dari garis lam sprint backlog 1 jumlah estimasi nya
dan merupakan titik awal dari ideal task harus mendekati 10.5. Pada product back-
dengan nilai sama dengan ideal man days log jumlah estimasi waktu setiap task yang
yaitu 10.5. Koefisien untuk man days used mendukung adalah sembilan task teratas
yaitu man days total dibagi dengan work dengan total estimasi task 11.5 sehingga
days total yaitu bernilai 1. Sedangkan titik sembilan task tersebutlah yang akan diker-
awal nya yaitu 0. Man days used disini jakan pada sprint 1 nanti. Sembilan task
adalah jumlah hari kerja seorang pengem- tersebut dapat dilihat di Tabel 3 dibawah
bang yang digunakan (tidak ditampilkan yang merupakan sprint backlog untuk
dalam grafik). Sprint 1 padaAplikasi Skripsi/Tugas Akhir.
Dilihat dari tabel setup tersebut, ter- Sprint 1 berlangsung dari tanggal 21 April
dapat ideal man days sebesar 10.5. Oleh 2015 sampai 12 Mei 2015.

Tabel 3. sprint backlog untuk Sprint 1


Task Estimate (days)
Integrasi Aplikasi dengan Login SSO UNS 2.5
Mahasiswa (SSO) dapat mendaftar di sistem Tugas Akhir 1
Divisi TA dapat memvalidasi akun mahasiswa yang mendaftar di sistem 1
Mahasiswa dapat mendaftar ujian Skripsi/Tugas Akhir 1
Admin Jurusan dapat mengkonfirmasi pengumpulan berkas 2
administrasi Skripsi/Tugas Akhir
Divisi TA dapat melihat data pendaftaran ujian Skripsi/Tugas Akhir 1
Divisi TA dapat menentukan Jadwal Ujian 2
Divisi TA dapat menentukan dosen pembimbing ke-2 0.5
Divisi TA dapat menentukan dosen penguji 0.5

Desain Sistem base sistem. Aktor mahasiswa disini ada-


Use case pada sistem ini mempunyai lah user berlevel mahasiswa dan sudah di
tujuh aktor. Aktor-aktor tersebut adalah enroll oleh divisi TA. Sedangkan aktor
unenrolled user level mahasiswa, unen- dosen disini adalah user berlevel staff
rolled user level staff, mahasiswa enrolled, yang datanya terdaftar pada database
dosen, divisi TA, admin jurusan, dan ad- sistem. Kemudian pada aplikasi ini terda-
min sistem. Semua aktor tersebut diasum- pat 12 (dua belas) tabel dalam Entity Rela-
sikan sudah login menggunakan akun tionship Diagram (ERD)
Single Sign On milik Universitas Sebelas Eksekusi Sprint
Maret (UNS). Aktor unenrolled user level
Selama masa sprint berlangsung,
mahasiswa adalah user yang berlevel setiap task yang ada pada sprint backlog
mahasiswa tetapi belum di enroll oleh dikerjakan oleh tim pengembang dan
divisi TA. Aktor Unenrolled user level kemudian di hitung dalam tabel perhitung-
dosen adalah user yang berlevel dosen
an burndown chart seperti pada tabel 4 di
tetapi datanya tidak terdaftar pada data- bawah ini.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 15


Tabel 4. Tabel perhitungan burndown chart sprint 1
Work Date Work Ideal Task Actual Completed Actual Man Calculated
Days Remaining Task Task Days velocity days Focus
Remaining used Factor
0 10.5 11.5 0 0
4/21/2015 1 9.8 11.5 0 0 1 0
4/22/2015 2 9.1 11.5 0 0 2 0
4/23/2015 3 8.4 9 2.5 2.5 3 0.83
4/24/2015 4 7.7 9 0 2.5 4 0.63
4/27/2015 5 7 9 0 2.5 5 0.5
4/28/2015 6 6.3 8 1 3.5 6 0.58
4/29/2015 7 5.6 7 1 4.5 7 0.64
4/30/2015 8 4.9 7 0 4.5 8 0.56
5/4/2015 9 4.2 4 3 7.5 9 0.83
5/5/2015 10 3.5 4 0 7.5 10 0.75
5/6/2015 11 2.8 4 0 7.5 11 0.68
5/7/2015 12 2.1 1 3 10.5 12 0.88
5/8/2015 13 1.4 0 1 11.5 13 0.88
5/11/2015 14 0.7
5/12/2015 15 0

Kolom work date berisi tanggal 21 digunakan untuk menyelesaikan sprint


April 2015 sampai dengan 12 Mei 2015 adalah 13 hari kerja dengan satu orang
yang sudah dikurangi dengan hari libur pengembang. Terakhir didapat nilai akhir
nasional sehingga kolom work days focus factor pada akhir sprint 1 yaitu 0.88
berjumlah 15 hari kerja. Baris paling atas atau 88%. Nilai ini kemudian digunakan
pada kolom ideal task remaining berisi sebagai nilai focus factor pada sprint 2
10.5, dimana setiap hari jumlahnya untuk menentukan ideal man days selan-
berkurang sesuai dengan nilai koefisien m- jutnya.
ideal task days left pada tabel setup yaitu - Review dan demo produk
0.7. Baris paling atas pada kolom actual
Setelah sprint berakhir, dilakukan de-
task remaining berisi total estimasi waktu
mo dan pengujian terhadap setiap fungsi-
(days) sebuah task pada sprint 1 yaitu
onal aplikasi Skripsi/Tugas Akhir Jurusan
11.5 dimana jumlah ini berkurang sesuai
Informatika UNS dengan menggunakan
dengan jumlah nilai estimasi waktu (days)
metode blackbox testing agar dilakukan
sebuah task yang sudah diselesaikan.
perbaikan dan pembenahan program. Ha-
Kolom actual velocity di akhir sprint me-
sil dari pengujian adalah sistem dapat
nunjukkan angka 11.5 ini berarti setiap
menjalankan semua fungsi-onal dengan
task pada sprint 1 sudah selesai dikerja-
baik. Kemudian dilakukan review apakah
kan. Kolom man days used pada akhir
ada masukkan berupa feedback atas
sprint bernilai 13, ini berarti waktu yang
functional requirements yang didemokan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 16


Jika ada perubahan atas suatu fungsi, Analisis Scrum
maka akan dimasukkan ke dalam backlog Data-data yang terdapat pada kolom
tambahan untuk dilakukan di sprint selan- ideal task remaining dan actual task re-
jutnya. Setiap tanggal, hal, dan masukkan maining yang ada pada tabel-tabel
yang didapat dari review dicatat dan dibuat perhitungan burndown chart direpresen-
tabel review Aplikasi Skripsi/Tugas Akhir. tasikan dalam bentuk grafik burndown
chart. Berikut adalah Gambar 3 yaitu gam-
bar burndown chart untuk sprint1............

Gambar 3.Sprint 1 burndownchart

Terlihat pada Gambar 3 awal iterasi SIMPULAN


sprint menunjukkan garis actual task
Hasil dari penelitian ini adalah
remaining berada di atas garis ideal task
terbangunnya Aplikasi Skripsi/Tugas Akhir
remaining, namun kinerja tim pengembang
berbasis web di Jurusan Informatika
berjalan cukup baik dan dapat menye-
Universitas Sebelas Maret. Pengem-
lesaikan task sebelum waktu sprint ber-
bangan aplikasi ini menggunakan konsep
akhir. Nilai focus factor pada akhir sprint 1
Agile Process Development yaitu dengan
menunjukkan angka 0.88 ini berarti bahwa
menggunakan metode Scrum. Metode
tim pengembang memiliki tingkat presen-
Scrum yang digunakan dalam
tase fokus dalam mengerjakan pekerjaan-
pengembangan Aplikasi Skripsi/Tugas
nya yaitu 88%.
Akhir ini terbukti dapat dengan mudah
mengatasi perubahan requirements,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 17


menghasilkan produk yang sesuai dengan [2] Y. F. Artho. Perancangan Website
keinginan pengguna karena mendapatkan Sebagai Media Informasi Kantor
feedback secara kontinu, dapat digunakan Hubungan Internasional Universitas
untuk tim developer yang sedikit bahkan Dian Nuswantoro, Semarang:
hanya satu orang. Dari hasil burndown Universitas Dian Nuswantoro, 2013.
chart terdapat satu sprint yang melewati [3] M. Mahalakshmi & M. Sundararajan,
batas waktu pengerjaan. Kemudian dari Traditional SDLC Vs Scrum
hasil focus factor kelima sprint didapat Methodology - A Comparative Study,
rata-rata focus factor nya yaitu 0.84 atau International Journal of Emerging
84%, sehingga dapat dikatakan tingkat Technology and Advanced
presentase tim pengembang fokus Engineering, 2013 3
mengerjakan pekerjaannya dalam
[4] J. L. Whitten & L. D. Bentley,
membangun Aplikasi Skripsi/Tugas Akhir
Introduction to System and Analysis
berbasis web menggunakan metode
Design, New York: McGraw - Hill, 2008.
scrum adalah 84%.
[5] M. Sundararajan & M. Mahalakshmi.
DAFTAR RUJUKAN An Analysis on Scrum Methodology
[1] Peraturan Rektor Universitas Sebelas Used For the IT Project for Effective
Maret, Peraturan Rektor Universitas Software Deliverable, International
Sebelas Maret Tentang Pedoman Journal of Scientific Engineering and
Skripsi/Tugas Akhir Program Sarjana Technology, 2014, 121-123.
Universitas Sebelas Maret Tahun 2005,
Surakarta: Universitas Sebelas Maret,
2005.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 18


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 19-25
Artikel Ilmiah (Hasil Pemikiran)

SEWON SMART SCHOOL: RANCANG BANGUN INTERNET of THINGS


SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI MUTU PEMBELAJARAN
DI SMKN 2 SEWON
Arifah Suryaningsih & Rusli Abdul Hamid
SMK Negeri 2 Sewon
Email: fafaguru@gmail.com

ABSTRAK
Pengembangan dan pemanfaatan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) sudah lazim diterapkan pada berbagai jenjang pendidikan. Namun kebanyakan,
pemanfaatan teknologi ini masih sebatas pada pemanfaatan media pembelajaran, belum secara
menyeluruh membantu meringankan tugas guru, menyenangkan murid, dan mendongkrak indeks
integritas sekolah. Rancang bangun Internet of Things (IoT) ini bertujuan untuk meningkatkan mutu
sekolah, khususnya pada layanan bidang akademik. Sekolah bukan saja akan menjadi sebuah Smart
School, namun juga akan menghasilkan peserta didik yang berkarakter, karena pembelajaran
berkualitas yang dihasilkan melalui konsep Sewon Smart Shcool (SSS) ini memberikan ruang yang
lebih luas kepada guru untuk menjalin kedekatan dengan siswa. Interaksi yang terjadi antara guru dan
murid menjadi sebuah kunci pembinaan karakter siswa. Metode yang digunakan adalah
menghubungkan seluruh kelas dan juga infrastruktur pembelajaran dengan jaringan komputer dan
internet. Sehingga dihasilkan sebuah sistem akademik yang terintegrasi. Pembelajaran dikelas akan
optimal dengan dukungan kesiapan sumberdata yang diperlukan, bagi guru maupun siswa. Guru
terbantu secara administrasi dan materi ajar juga dapat hadir secara fisik maupun online sesuai
dengan aturan yang ditetapkan. IoT ini akan menjadikan SMK 2 Sewon sebuah smart School yang
berbasis pendidikan karakter. Lebih lanjut IoT kedepan dapat dikembangkan bukan hanya pada
sistem akademik, tapi menyeluruh pada layanan pendidikan di sekolah.
Kata Kunci: Internet of Things, Smart School, Integrasi, pendidikan karakter

ABSTRACT
Learning development and utilization based of Information and Communication Technology
(ICT), had commonly applied to the various levels of education. But mostly, the utilization of this
technology is still limited to the utilization of instructional media, has not been thoroughly help ease the
task of teachers,fun for pupils , and boost school integrity index. Design of the Internet of Things
(IOT) aims to improve the quality of schools, especially in the academic field service. School is not just
going to be a Smart School, but also will produce learners that have a good character, because the
quality of learning generated through the concept of Smart Shcool Sewon (SSS) provides a wider
space for teachers to establish closeness with students. Interaction between teachers and students
into a key character building for students. The method used is to connect the entire class and also
infrastructure of learning with computer networks and the Internet. Thus produced an integrated
academic system. Learning in class will be optimal with support readiness data source necessary, for
teachers and students. Teachers administration will be helped and teaching materials may also be
present physically or online in accordance with the rules set. The IOT will make SMK 2 Sewon be a
smart school with based character education. Further IOT future can be developed not only in the
academic system, but a thorough education services in school.
Keywords: Internet of Things, Smart School, Integration, character building

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 19


PENDAHULUAN si, adaptasi ini penting bagi guru meng-
Pemanfaatan TIK pada pembela- ingat kita sudah memasuki pembelajaran
jaran sudah merupakan hal lazim yang era digital.
dilakukan para guru. Namun pemanfaatan Menurut data statistik Biro Tenaga
ini masih sebatas pada penggunaan Kerja Amerika Serikat, lima tahun menda-
media-media pembelajaran, seperti peng- tang di seluruh dunia, akan terbuka 6,2
gunaan beberapa macam software pre- juta lowongan kerja di bidang komputasi
sentasi yang kemudian ditayangkan mela- awan berbasis teknologi. Dari jumlah
lui proyektor untuk metode pembelajaran lowongan pekerjaan tersebut, sekitar 51
diskusi ataupun ceramah. persen di antaranya pekerjaan di bidang
Seperti yang dikatakan Bitter & komputer, 27 persen di bidang teknik, dan
Legacy, 2008; Lever-Duffy & McDonald, 18 persen di bidang lain yang terkait
2008; Thorsen, 2006[1], bahwa ada tiga komputasi awan berbasis teknologi.
jenis umum penerapan teknologi di bidang Keadaan tersebut menuntut sebuah
pendidikan. Pertama guru menggunakan pendidikan yang berbasis teknologi dan
teknologi ke dalam pengajaran mereka di informasi. Karena banyak penelitian me-
ruang kelas untuk merencanakan penga- nunjukkan bahwa siswa sekarang belajar
jaran dan menyajikan isi pelajaran kepada dengan cara terlibat secara aktif dalam
siswa mereka. Kedua, guru menggunakan kegiatan-kegiatan teknologi yang relevan
teknologi untuk menjajaki, melatih dan dan otentik dengan kesehariannya. Siswa
menyiapkan bahan makalah dan presen- juga lebih mahir menggunakan jaringan
tasi. Ketiga, guru menggunakan teknologi sosial seperti YouTube dan Facebook
untuk mengerjakan tugas administrasi untuk pesan teks; posting video, blog, dan
yang terkait dengan profesi mereka, seper- gambar; dan berkolaborasi dan bersosi-
ti penilaian, pembuatan catatan, pelapor- alisasi, terlepas dari keterbatasan ruang
an, dan tugas pengelolaan. dan waktu, bisa dimana saja dan kapan
Ketiga macam penerapan teknologi saja. Kesiapan siswa seperti itu perlu
tersebut, pada sebagian besar guru masih didukung dengan kesiapan guru sebagai
dilakukan secara terpisah-pisah. Hanya fasilitator mereka di kelas. Hal tersebut
menggunakan teknologi ketika di kelas hanya bisa dilakukan jika pemanfaatan
saja, atau hanya menggunakannya ketika Internet dan TIK diupayakan didesain dan
melakukan penilaian, atau bahkan hanya dibangun secara optimal. Sehingga bukan
menggunakan teknologi ketika membuat hanya siswa yang akan di manja oleh
administrasi saja. Sehingga integrasi ke- kemudahan teknologi informasi ini, namun
tiganya perlu dirancang dan dipersiapkan juga sekaligus akan menjadi tantangan
dengan baik, sehingga adopsi teknologi bagi semua guru untuk benar-benar mam-
khususnya teknologi informasi bagi guru pu menguasai TIK. Hal inilah yang menda-
akan memberikan manfaat secara total sari pemikiran untuk dilakukan optimalisasi
pada ketugasannya dalam mengajar. pendayagunaan TIK di sekolah.
Dengan kenyamanan tersebut minimal Selinger et al.[2] dalam penelitiannya
guru dalam satu sekolah akan secara me- yang berjudul Education and The Internet
nyeluruh menggunakan teknologi informa- of Everything, menyatakan bahwa ada

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 20


empat pilar penyangga, yaitu people, data, baik. Selain itu untuk IOE untuk diterima,
proses dan Things. Hasil dari penelitian ini baik pembuat kebijakan dan pendidik
menyimpulkan bahwa ada banyak manfaat harus disiapkan tidak hanya untuk meng-
besar yang diperoleh dengan menghu- eksploitasi, tetapi juga untuk memahami
bungkan yang segala sesuatu dengan potensi risiko.
jaringan cerdas di seluruh pendidikan.
METODE
Tulisan ini menunjukkan potensi dampak
IOE untuk membuat pendidikan lebih Dalam tulisan ini kami ingin meng-
relevan, menarik dan memotivasi peserta usulkan sebuah konsep integrasi sebuah
didik, dan memungkinkan waktu yang lebih sistem persekolahan dengan mengopti-
cepat untuk penguasaan. Namun, untuk malkan perangkat TIK dan akses internet
mewujudkan manfaat dari penggabungan yang ada. meliputi: sistem akademik,
empat pilar (orang, proses, data, dan presensi siswa, administrasi guru, dan
things), konektivitas yang handal dan manajemen data.
akses berkelanjutan harus dijamin dengan

Tabel 1. Konsep integrasi sebuah sistem persekolahan dengan mengoptimalkan


perangkat TIK dan akses internet
Sistem Lama Baru
Pembelajaran Menggunakan software presentasi buatan Menjalankan Aplikasi Sewon
guru Smart School yang meliputi
Pembelajaran online (streaming video, Tidak harus dikelas
download, sosial media, LMS) (Pembelajaran jarak Jauh )
Selalu dikelas
Presensi Manual oleh guru kelas dan guru piket Sistem check in melalui
Siswa aplikasi pada setiap
pembelajaran
Administrasi Guru menyiapkan secara individual sesuai Sudah ada template, guru
guru dengan template yang disepakati di tinggal mengisi sesuai mapel
sekolah dan aktivitasnya
Manajemen Personal di masing-masing pendidik dan Cloud Data termanajemen
Data tenaga kependidikan

Berikut ini rancangan sistem Sewon nyaman bagi guru dan siswa, sehingga
Smart School yang mengintegrasikan selu- diperoleh peningkatan mutu pembelajaran
ruh fungsi-fungsi sekolah untuk mencipta- yang diharapkan akan meningkatkan mutu
kan sebuah sistem pembelajaran yang dan kompetensi lulusan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 21


Gambar 1. Sistem Sewon Smart School

Siswa kat ini ke jaringan sekolah, pengelola


Sewon Smart School, akan meng- sekolah memiliki jangkauan yang lebih
gunakan kamera khusus dan sensor yang baik sejak dari semua pintu masuk, pintu
ditempatkan di beberapa tempat di sudut keluar, tempat umum, tempat parkir, jalan
sekolah sehingga kepala sekolah, petugas raya, perpustakaan hingga lapangan
keamanan, dan para guru petugas piket olahraga. Keadaan ini dihrapkan dapat
dapat denganmudah dan leluasa mengon- lebih menyamankan siswadari hal-hal
trol keamanan sekolah untuk meningkat- yang membahayakan diri mereka ataupun
kan akurasi dan ketepatan waktu tanggap mencegah terjadinya tindak-tindak keja-
darurat. Dengan menghubungkan perang- hatan yang tidak diinginkan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 22


Gambar 2. Siswa dalam Sistem

Guru printer yang semuanya terkoneksi dengan


Pada rancang bangun Sewon Smart server data aplikasi Sewon Smart School.
School ini, setiap kelas yang ada di Pada saat mengajar, guru tinggal mema-
sukkan resume proses pembelajaran yang
sekolah didesain untuk terkoneksi dengan
internet. Demikian juga dengan siswa dan telah dilaluinya, kemudian guru dapat
gurunya. Kenyamanan guru dalam meng- mencetak resume tersebut, atau meng-
ajar di kelas didukung dengan perleng- unggahknya ke dalam aplikasi yang telah
didesain untuk komputasi awan. Ilustrasi
kapan teknologi informasi yang meliputi:
Laptop/PC, LCD, Audio Speaker dan untuk sisi guru, sebagai berikut:

Gambar 3. Guru dalam Sistem

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 23


Data jaran. Semuanya dikemas dalam know-
ledge manajemen. Semua data dirancang
Pengelolaan data yang dirancang
secara terintegrasi sehingga bisa diakses
dalam Sewon Smart School, meliputi data-
dari mana saja oleh siapa saja, dengan
data kepegawaian, data akademik, data
administrasi masing-masing guru hingga batasan masing-masing, sebagai kepala
sekolah, tim manajemen, guru, siswa atau
data seluruh materi pembelajaran yang
karyawan.
nantinya akan digunakan sebagai basis
data dalam perancangan sistem pembela-

Gambar 4. Data dalam Sistem

SIMPULAN
Segala macam infrastruktur tekno- Internet of Things (IoT) dalam pendidikan
logi informasi yang dimiliki oleh sekolah sebenarnya bukan merupakan hal yang
yang bersanding dengan internet berband- baru, namun integrasi dari seluruh kompo-
witdth besar merupakan sebuah peluang nen persekolahan dalam mendayaguna-
sekolah untuk membangun sebuah tata- kan IoT ini merupakan hal baru yang
nan sekolah yang berbasis teknologi infor- diharapkan dapat meningkatkan mutu pen-
masi secara menyeluruh. Konsep smart didikan, khususnya mutu pembelajaran
city yang sudah banyak dilakukan dengan yang akan berdampak pada peningkatan
optimalisasi internet dapat diadobsi ke hasil pendidikan.
dalam sebuah sekolah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 24


DAFTAR PUSTAKA [2] Selinger Michelle, Sepulveda Ana,
Buchan Jim. Education And The
[1] Ardiani Mustikasari. Pemanfaatan
Internet Of Everything. Sisco: 2013
Teknologi Informasi Dan Komunikasi
[3] Loschi, H. Et al., Sustainable
(Tik) Dalam Pembelajaran Kurikulum
2013, . Lpmp Jawatengah . Computing And Communications
Internet Broadband Network Of
Http://Lpmpjateng.Go.Id/Web/Index.P
Things Applied To Intelligent
hp/Arsip/Karya-Tulis-Ilmiah/904-
Education. Researchgate: 2015.
Pemanfaatan-Teknologi-Informasi-
Dan-Komunikasi-Tik-Dalam-
Pembelajaran-Kurikulum-2013

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 25


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 26-32
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

ELECTROLARYNX ON OFF DETECTION


BERBASIS SINYAL EMG OTOT LEHER

Fatchul Arifin
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: fatchul@uny.ac.id

ABSTRAK

Ada beberapa cara untuk membuat pasien laryngectomies bisa berbicara kembali. Cara
termudah adalah dengan menggunakan elektrolaring. Alat ini dipergunakan dengan cara ditempelkan
pada leher bagian atas (di bawah dagu). Getaran yang muncul dari alat ini akan diteruskan oleh leher
yang pada akhirnya akan menggetarkan udara yang ada di dalam mulut. Getaran ini sebagai sumber
bunyi pengganti pita suara. Elektrolaring selama ini dioperasikan secara manual. Paper ini
memaparkan model rancangan otomatisi on-off elektro-laring berdasarkan sinyal EMG otot leher.
Sepasang elektroda ditempatkan di otot leher sternocleidomastic, sementara itu sebuah elektroda
ground ditempatkan pada tulang dada. Beberapa orang relawan diminta mengucapkan kata kata
tertentu, sambil direkam sinyal EMG nya. Sinyal EMG yang telah direkam selanjutnya diolah melalui
beberapa tahapan: DC offset cancellation, rectification, moving average area processing, dan
detection of EMG rising signal (by thresholding method) untuk dikenali kapan sinyal EMG mulai
muncul, dan kapan sinyal EMG mulai menghilang. Hasil penelitian menunjukkan 92% kemunculan
EMG dapat dideteksi dengan benar. Hasil deteksi ini nantinya akan dapat dipergunakan untuk
mengendalikan on-off elektrolaring secara otomatis..
Kata kunci: Electrolarynx, EMG, Otot leher, Moving average

ABSTRACT

There are some ways to make laryngectomies able to talk again. The easiest way is using
electro-larynx. This tool is placed on the lower chin. Vibrationof the neckwhilespeakingis used
toproducesound. Until now electro-larynx was still operated manually. This paper presents how to
design automatic on off electro-larynx based on EMG signal from neck muscle. A pair of electrode was
placed at sternocleidomastic muscle. A ground electrode was located at sternum. When some
volunteer (which normal voice) say helo word, the EMG signal was recorded. The recorded EMG
signal was processed by DC offset cancellation, rectification, moving average area processing, and
detection of EMG rising signal (by thresholding method). The result of research show 92% recognition
of EMG rising signal is true. Output of the threshold will be used for Automatic on-off controlling of
electrolarynx device
Keyword: Electrolarynx, EMG, Neck muscle, Moving average

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 26


PENDAHULUAN tisasi on-off elektrolaring berdasarkan
Di Amerika Serikat Lebih dari 8900 sinyal EMG dari otot leher.
Electrolaring
orang didiagnosis menderita kanker laring
Electrolaring adalah perangkat me-
baru setiap tahunnya[1]. Di RSCM (Rumah
kanis yang digunakan untuk membantu
Sakit Cipto Mangun kusomo) dua puluh
seseorang yang tidak mempunyai pita
lima orang didiagnosis dengan kanker
suara untuk dapat berbicara kembali. Alat
laring per tahun [2]. Penyebab pasti kanker
ini merupakan alat elektronik kecil (perang-
laring sampai saat ini belum diketahui,
kat genggam) yang mempunyai diafragma
akan tetapi para ahli menduga beberapa
plastik yang dapat bergetar. Alat ini
hal yang menjadi penyebab kanker laring
digunakan dengan cara ditempatkan pada
ganas antara lain: rokok, alkohol, dan sinar
leher bagian atas (bawah dagu). Ketika
radioaktif.
tombol on ditekan maka diafragma akan
Suara manusia dihasilkan oleh kom-
bergetar dan menghasilkan getaran di
binasi dari udara yang keluar dari paru-
dalam mulut yang akan digunakan sebagai
paru, gerakan pita suara, serta artikulasi
sumber bunyi pengganti pita suara yang
udara oleh rongga mulut dan rongga
telah hilang. Contoh perangkat elektro-
hidung[3]. Pengangkatan laring, otomatis
laring ditampilkan pada Gambar. 1 (bagian
akan mengangkat pula pita suara manu-
kiri). Sedangkan pada gambar 1 (bagian
sia, sehingga hal ini akan menyebabkan
kanan) digambarkan bagaimana penggu-
pasien tidak mampu berbicara lagi seba-
naan electrolarynx. Beberapa orang mem-
gaimana sebelumnya.
butuhkan latihan dalam menempatkan
Ada beberapa cara untuk memban-
electrolarynx di tempat yang tepat pada
tu para penderita tunalaring agar dapat
leher untuk menghasilkan wicara yang
berbicara kembali. Cara yang paling
baik.
mudah adalah dengan wicara electro-
laring. Wicara elektrolaring adalah cara
untuk berbicara menggunakan bantuan
perangkat electrolarynx (alat ditempatkan
pada leher bagian atas - bawah dagu).
Getaran elektrolaring ini akan menggetar-
kan udara yang ada di dalam mulut
sehingga akan menghasilkan sumber bu-
nyi. Sumber bunyi ini menggantikan
peranan pita suara yang sudah diangkat[3].
Sampai saat ini elektrolaring masih diope-
rasikan secara manual. Makalah ini me- Gambar 1. Electrolaring dan cara
maparkan bagaimana merancang otoma- bagaimana menggunakanya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 27


Gambar 2. Anatomi otot leher [5]

Anatomi Otot Leher alat yang disebut electromyograph, untuk


Leher adalah bagian tubuh menghasilkan rekaman sinyal. Electromyo-
manusia yang menghubungkan antara graph akan mendeteksi potensi listrik yang
bagian kepala dan bagian tubuh. Leher dihasilkan oleh sel-sel otot. Sinyal EMG ini
dapat dianalisis untuk mendeteksi kelainan
terdiri dari banyak otot. Fungsi utama otot
leher adalah untuk memungkinkan gerak- medis pada otot, tingkat aktivasi otot, dan
an pada leher serta memberikan pengu- menganalisis biomekanik gerakan.
atan dalam menyangga kepala[4]. Otot otot Ada dua macam elektroda yang
leher ini saling mendukung bekerja sama dapat digunakan dalam merekam sinyal
untuk dapat melakukan berbagai macam otot, yakni elektroda invasif dan elektroda
non-invasif. Elektroda invasiv dipasang
gerakan-gerakan baik mulai gerakan yang
sederhana (misal gerakan geleng kepala) langsung pada permukaan kulit. Pada
maupun gerakan yang rumit (gerakan elektroda jenis ini sinyal EMG yang
dalam pita suara). Gerakan-gerakan ini terekam adalah gabungan dari semua
semua diperlukan dalam aktifitas manusia potensial aksi serat otot yang terjadi
dalam kehidupan sehari-hari. Detail dari dibawah permukaan kulit. Potensial aksi ini
otot leher dapat dilihat di Gambar. 2. terjadi pada interval waktu yang acak. Jadi
Sinyal EMG setiap saat, sinyal EMG dapat berupa
Elektromiogram adalah teknik un- tegangan positif atau negatif. Sedangkan
tuk mengevaluasi dan merekam aktivitas Elektroda invasif dipasang dengan cara
menusukkan kawat atau jarum elektroda
listrik yang dihasilkan oleh otot. Elektro-
miogram dilakukan dengan menggunakan langsung ke otot tertentu yang diinginkan,
sehingga hasil rekaman pun lebih spesifik.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 28


METODE kukan perekaman sinyal EMG. Dengan
Material demikian didapatkan 75 buah sample
Pada penelitian ini akan dilakukan sinyal EMG.
perekaman sinyal EMG dari otot leher. Pemrosesan Sinyal EMG
Sepasang surface elektrode (positif dan Ada beberapa cara pengolahan
negatif) ditempatkan pada leher tepatnya sinyal EMG, baik yang berdasarkan mag-
di atas otot sternocleidomastic. Sementara nitude sinyal maupun berdasarkan fre-
itu sebuah elektrode ground ditempatkan kuensi sinyal. Dalam pengolahan sinyal
pada tulang dada. Penempatan elektrode EMG berdasarkan magnitudenya, sering
ini dapat dilihat pada gambar 3. kali digunakan model rata rata sinyal. Se-
mentara itu dalam pengolahan EMG ber-
basis frekuensi, algortitma FFT merupakan
salah satu pilihan untuk dipergunakan.
Seperti disebutkan di atas tujuan
penelitian ini adalah otomatisi on-off Elec-
trolaring berbasis sinyal EMG, oleh karena
itu pendekatan magnitude merupakan pi-
lihan terbaik. Langkah pertama dalam pen-
dekatan magnitude adalah DC offset can-
cellation. DC (Direct Current) offset meru-
pakan kondisi dimana seluruh sinyal terge-
Gambar 3. Sepasang electrode ditempat- ser ke atas atau ke bawah dari titik pusat
kan pada otot leher sternoclei- (sumbu nol). DC offset cancellation dila-
domastic, dan sebuah electro- kukan dengan cara mengurangkan sinyal
de ground ditempatkan pada tersebut dengan nilai rata ratanya. Contoh
tulang dada.
Sinyal asli EMG dan sinyal keluaran dari
Sinyal ditangkap melalui elektrode lalu DC offset cancellation dapat dilihat pada
dikuatkan. Sebuah differential amplifier gambar 4.
digunakan sebagai penguat tahap satu. Langkah selanjutnya, sinyal EMG
Penguatan tambahan mengikuti penguat akan disearahkan (signal rectifying). Pro-
ses ini akan menjadikan sinyal EMG mem-
tahap satu ini. Selanjutnya pada sinyal
punyai single polarity (positif semua). Ada
dilakukan pemfilteran, dengan tujuan untuk
menghilangkan sinyal pada frekuensi ren- dua macam cara signal rectifying, yakni
dah dan pada frekuensi tinggi yang men- full wave rectification (mengubah seluruh
sinyal EMG yang negatif / dibawah sumbu
jadi noise bagi sinyal utama. Sebagaimana
nol menjadi sinyal EMG yang positif di
telah diketahui bahwa sinyal EMG berada
atas sumbu nol), dan half wave rectifi-
pada rentang frekuensi 20 Hz 500 Hz.
cation (menghapus sinyal EMG yang
Pada penelitian ini terdapat 3 orang
relawan diminta mengucapkan kata kata dibawah sumbu nol). Pada penelitian ini
Helo masing masing 25 kali. Pada saat dipilih model full wave rectification dengan
harapan tidak banyak kehilangan informasi
relawan mengucapkan kata tersebut, dila-
penting dari sinyal.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 29


Sinyal EMG yang telah disearahkan rata sinyal dari himpunan yang berbeda
akan masuk tahapan moving average (anggota himpunan berubah terus maju
process. Moving average area ini merupa- kedepan). Sinyal EMG mentah, sinyal
kan finite impulse response filter yang EMG yang telah disearahkan dan output
digunakan untuk menganalisa deretan sinyal EMG dari moving average process
data-data dengan mencari deretan rata- dapat dilihat pada gambar 5.
Raw Signal
0.1

-0.1
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
Rectified EMG Signal
0.1

0.05

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
Moving averag area of EMG Signal
0.02

0.01

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400

Gambar 5, Rectified EMG Signal dan Hasil Moving averageprocess.

berbasis Threshold. Akan tetapi sebagai


Deteksi time onset dan time offset catatan disini, bahwa threshold harus lebih
dari sinyal EMG besar dari noise yang masih ada.
Dari gambar 5 dapat dilihat bahwa
Sebagaimana disinggung pada bagian
disana ada sinyal periodik yang muncul
sebelumnya bahwa tujuan riset ini adalah
memfaatkan keberadaan sinyal EMG yang menyertai sinyal EMG. Sinyal ter-
sebut muncul dengan periode 0.77 detik
untuk mengontrol on-off elektrolaring seca-
(frekuensi 1.33 Hz) dengan nilai maximum
ra otomatis. Oleh karena itu pendeteksian
time onset dan time offset sinyal EMG magnitude nya 0,008 mV. Ternyata sinyal
ini adalah noise yang diakibatkan oleh
menjadi kata kunci dalam riset ini. Ada
sinyal detak jantung/pompa darah. Hal ini
beberapa metode untuk deteksi time onset
dan time offset sinyal EMG, dan cara yang disebabkan di dekat otot leher, tempat
paling mudah adalah metode yang dimana electrode EMG ditempelkan,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 30


disana juga terdapat jalur pembuluh darah. Sebagaimana telah disebutkan pada
Karena noise sinyal EMG yang dikarena- bagian sebelumnya ada 75 data sinyal
kan pompa darah nilai maksimum magni- EMG yang direkam. Hasil pengujian
tudenya adalah 0.008 mV, maka batasan menunjukkan bahwa pendeteksian time
threshold dalam deteksi time onset dan onset dan time offset sinyal EMG 92%
time offset harus lebih besar dari 0.008 adalah benar. Output hasil deteksi ini
mV. Pada penelitian ini diambil batasan selanjutnya akan digunakan untuk
threshold 0,009 mV. pengendalian on-off elektrolaring secara
Input sinyal EMG, dan Output otomatis.
threshold nya dapat dilihat pada gambar 6.

Moving Average Signal


0.02

0.01

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500
Threshold
1

0.5

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500
Output of Threshold signal
0.02

0.01

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500

Gambar. 6, Pendeteksian Time onset dan time offset

SIMPULAN cess, threshold detection. Hasil pengujian


menunjukkan bahwa sistem telah berjalan
Dalam riset ini sepasang elektroda
(positif dan negatif) ditempatkan pada otot dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan
leher sternocleidomastic. Sebuah elektro- dikenalinya saat muncul dan saat meng-
hilangnya EMG dengan baik. Dengan
da ground ditempatkan pada tulang dada.
Ada beberapa langkah pengolahan otot validitas adalah 92%. Sinyal output ini
akan digunakan untuk mengendalikan dari
leher sinyal EMG untuk otomatisi "on-off"
"otomatis di - off" elektrolaring.
elektrolaring: DC offset cancellation, Full
wave rectification, moving average pro-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 31


DAFTAR RUJUKAN [4] S'pore Neuro and Pain Doc
http://genericlook.com/anatomy/Neck-
[1] an Cancer Society. Cancer facts and Muscles/ (July 2012)
figures-2002 [5] Anatomy: muscles of neck,
[2] Nury Nusdwinuringtyas. Tanpa pita http://www.britannica.com/EBchecked/
suara berbicara. Blog spot. 2010 media/119400/Muscles-of-the-neck
[3] Fatchul A, Tri Arief S, Mauridhy Hery, (July, 2012)
ElectroLarynx, Esopahgus, and Normal [6] M.B.I. Raez, M.S. Hussain, and F.
Speech Classification using Gradient Mohd-Yasin, Techniques of EMG signal
Discent, Gradient discent with analysis: detection, processing,
momentum and learning rate, and classification and applications, Biol
Levenberg-Marquardt Algorithm, ICGC Proced Online. 2006; 8: 1135,
2010 Published online 2006 March 23

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 32


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal.33-36
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

PENGGUNAAN WEB 2.0 PADA


WEBSITE PERGURUAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA

Handaru Jati
Universitas Negeri Yogyakarta
Email:handaru@uny.ac.id

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki penggunaan dan kesadaran Web 2.0 alat
seperti Facebook, Twitter, YouTube, RSS feed, Flickr, LinkedIn, Tumblr dan Google+ pada Perguruan
Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Penelitian ini hanya berfokus pada penggunaan alat Web 2.0 oleh
PTN ranking atas webometrics dan PTN Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Studi ini hanya
menghitung alat Web 2.0 yang terhubung pada situs-situs universitas. Penelitian ini mengungkapkan
bahwa perguruan tinggi Negeri rangking atas webometrics di Indonesia memiliki lebih banyak
konsistensi, dengan jumlah link dan alat web 2.0 yang disediakan di website Universitas lebih banyak
daripada Universitas Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Facebook dan Twitter
adalah dua yang paling sering digunakan sebagai alat Web2.0. Jumlah media yang disediakan di PTN
ranking atas webometrics juga lebih banyak dibandingkan dengan PTN LPTK
Kata kunci: Web 2.0, Facebook, Twitter, PTN, PTN LPTK.

ABSTRACT

The purpose of the study is to investigate the use and awareness of Web 2.0 tools such as
Facebook, Twitter, YouTube, RSS feed, Flickr, LinkedIn, Tumblr and Google+ within Indonesian
universities. The present study only focuses on usage of Web 2.0 tools by Public Universities. The
study only considers those Web 2.0 tools which are linked on websites of universities. The study
reveals that the Webometrics Top Rank public Universities have more consistency, with the number of
web 2.0 tools availability and links are bigger than Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)
Universities. Facebook and Twitter are the two most familiar Web 2.0 tools. The amount of media
available in webometrics top ranking Universities also more than theLPTK universities.
Keyword:Web 2.0, Facebook, Twitter,Public Universities, LPTK Universities.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 33


PENDAHULUAN umpan balik yang konstruktif bagi peneliti
lain. Menurut Kes-Erkul, Web 2.0 seperti
Saat ini, terdapat gejala bahwa
media sosial memiliki kapasitas untuk
seluruh website Universitas di dunia meng-
mengubah hubungan antara penggunanya
gunakan aplikasi Web 2.0 untuk berbagi
informasi dan membangun kehadirannya dan Internet, dan dapat mengubah struktur
kekuasaan dan meningkatkan kesempatan
agar lebih eksis di Internet. Universitas di
bagi user untuk berpartisipasi dalam
Indonesia juga mengikuti trend yang sama.
komuinitas yang lebih besar [4].
Penggunaan Web 2.0 adalah media yang
relatif baru untuk perguruan tinggi negeri di METODE
Indonesia. Dalam lingkungan Web 2.0, Website universitas negeri yang
mahasiswa dapat menjadi produsen kon- menawarkan web 2.0 didapatkan melalui
ten yang berarti tidak hanya mengakses
http://www.webometrics.info/en/Asia/Indon
dan membaca informasi online tetapi juga
esia edisi bukan Juli 2015 dan telah terpilih
menciptakan, menerbitkan serta berbagi 12 Universitas negeri umum terbaik dan 12
konten, membaca dan merespon tulisan
Universitas Lembaga Pendidikan Tenaga
rekan-rekan mereka dan berkolaborasi Kependidikan (LPTK) sebagai sampel.
dalam produksi teks akademis dan ilmiah. Situs yang dipilih dianalisis selama periode
Istilah "Web 2.0" diciptakan pada bulan November 2015 menggunakan ana-
tahun 1999 oleh Darcy DiNucci, dan lisis web. Konten pada situs-situs serta link
popularitas media tersebut melonjak pada hypertext seperti pada website resmi
tahun 2004 ketika O'Reilly Media dan Universitas diakses untuk memeriksa
Media Live menyelenggarakan konferensi ketersediaan aplikasi Web 2.0. Situs uni-
Web 2.0 pertama. Dalam pidato pembu- versitas ditandai sebagai "ya" jika aplikasi
kaan, John Battelle dan Tim O'Reilly Web 2.0 muncul, sementara mereka
menjelaskan definisi "Web sebagai plat- ditandai sebagai "tidak" jika tidak tersedia
form" sebagai sebuah konsep bahwa pada situs Universitas. Berbagai alat Web
perangkat lunak aplikasi diintegrasikan ke 2.0 diklasifikasikan ke dalam aplikasi
web, bukan ditempatkan pada desktop[1], tertentu seperti: jaringan sosial (Facebook/
Sedangkan Abrams berpendapat bahwa Twitter/Google+), konten sindikasi (RSS),
Web 2.0 memberikan tingkat interaktivitas media streaming (YouTube), blog (Tum-
yang lebih tinggi serba pengalaman yang blr), komunitas foto (Flikr/Instagram). Ini
lebih banyak bagi pengguna[2]. Bhatt dan adalah pendekatan interpretatif berdasar-
rekan-rekannya menjelaskan bahwa apli- kan analisis data kuantitatif. Penelitian ini
kasi Web 2.0 memungkinkan terjadinya terdiri dari empat tahap: 1) Melihat website
kolaborasi sosial yaitu terjadinya kolabora- dan terkait alat Web 2.0 pada semua
si ilmiah saat bertemu dalam jejaring universitas di website pada bulan Novem-
sosial[3]. Dengan menggunakan media ber 2015; 2) Menghitung kejadian; 3)
jejaring sosial maka para ilmuwan dapat Menganalisis hasil; 4) Kesimpulan.
bertukar ide-ide mereka dan memberikan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 34


HASIL Tabel 1. Perbandingan Penggunaan alat
Web 2.0 di PTN Indonesia
Penelitian ini dilakukan untuk
memahami kesadaran penggunaan alat No. Tool web 12 PTN 12 PTN
Web 2.0 seperti Twitter, Facebook, 2.0 Umum LPTK
YouTube, Google+, LinkedIn, Instagram, 1 twitter 11 5
Flickr, RSS feed, Tumblr pada Perguruan 2 facebook 11 6
Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Data 3 Youtube 7 4
yang dikumpulkan dari seluruh link alat 4 Google+ 1 4
web 2.0 yang tertampil pada website 5 Linkedin 3 0
universitas ditampilkan pada table 1. Untuk 6 Instagram 1 3
analisis lebih lanjut, dilakukan kunjungan 7 Flickr 1 1
ke halaman Facebook dan Youtube 8 RSS 3 1
universitas, data yang terorganisir dalam 9 tumblr 1 0
program excel kemudian ditabulasi dan Jumlah 39 24
menunjukkan bahwa 12 PTN ranking
teratas webometrics menggunakan 39 alat Hasil penelitian menunjukkan
web 2.0 dibandingkan dengan 24 alat bahwa Twitter dan Facebook (web 2.0
untuk 12 PTN LPTK. tools) yang paling populer pada kedua
group Universitas, diikuti dengan Youtube
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 2. Perbandingan Penggunaan Youtube di PTN Indonesia


No. Universitas Official link ke website Jumlah Video
1 www.ugm.ac.id Ya 1286
2 www.itb.ac.id Tidak ada link 4707
3 www.ui.ac.id ya 163
4 www.ipb.ac.id ya 76
Jumlah 6232
1 www.upi.edu ya 10
2 www.unimed.ac.id ya 121
3 www.uny.ac.id Tidak ada link 69
4 www.unesa.ac.id Link tidak jalan 0
Jumlah 200

Dari empat Universitas Negeri sebanyak 200 video, di dalam penggunaan


papan atas webometrics memiliki jumlah layanan alat web 2.0 terdapat 1 universitas
yang diupload secara resmi sebanyak yang link tidak terhubung ke layanan
6232 video, sedangkan Universitas LPTK youtube (www.unesa.ac.id)
memiliki jumlah video tayang resmi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 35


SIMPULAN [2] Abram, S., Social libraries. Library
Resources & Technical Services. 52(2):
Studi ini menunjukkan bahwa
p. 19-22.
perguruan tinggi Negeri Umum peringkat
atas webometrics lebih konsisten dari [3] Bhatt, J., S. Chandra, and D. Denick.
pada universitas negeri LPTK dalam hal Using Web 2.0 applications as
penggunaan fasilitas web 2.0 yang ada di information awareness tools for science
website resmi Universitas. Facebook dan and engineering faculty and students in
Twitter adalah dua media yang paling academic institutions. in Proceedings of
popular dalam penggunaan Web 2.0, International Conference of Asian
diikuti oleh Youtube. Terdapat PTN negeri Special Libraries on Shaping the Future
yang menempatkan link alat web 2.0 akan of Special Libraries: Beyond
tetapi setelah ditelusuri ternyata putus, dan Boundaries. 2008.
ada PTN yang sama sekali tidak memiliki [4] Kes-Erkul, A. and R.E. Erkul, Web 2.0
link web 2.0 di situs resmi Universitas. in the Process of e-participation: The
Case of Organizing for America and the
DAFTAR RUJUKAN Obama Administration. 2009.
1] Aqil, M., P. Ahmad, and M.A. Siddique,
Web 2.0 and libraries: Facts or myths.
DESIDOC Journal of Library &
Information Technology. 31(5).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 36


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 37-43

Artikel Ilmiah (Hasil Telaah Pustaka)

KEBIJAKAN PENDIDIKAN GRATIS


DAN DILEMA SEKOLAH SWASTA
Nursaptini
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: nsaptini@gmail.com

ABSTRAK
Pendidikan untuk semua (education for all) merupakan salah satu hak warga negara yang
harus dipenuhi, oleh karena itu dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat 1 dan 2 mengakomodir hak warga
negara tersebut yang menjamin setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya. Salah satu bentuk realisasi education for all, Pemerintah
mencanangkan pendidikan gratis bagi pendidikan dasar (SD dan SMP). Melalui adanya kebijakan
pendidikan gratis telah memberikan manfaat seperti peningkatan partisipasi, mengurangi tingkat
putus sekolah. Namun, di sisi lain dengan adanya kebijakan pendidikan gratis menjadi dilema bagi
sekolah swasta terutama yang berada di daerah rural. Dengan adanya kebijakan pendidikan gratis
sekolah swasta mendapatkan bantuan operasional sekolah dari pemerintah, bantuan ini dijadikan
sumber pembiayaan operasional yang utama. Disebabkan sekolah tidak memiliki daya dalam mencari
sumber pembiayaan yang lain terutama kepada orangtua siswa. Orangtua siswa enggan
mengeluarkan biaya pendidikan, kalaupun sekolah akan melakukan pungutan sebagai tambahan
pembiayaan operasional sekolah karena bantuan operasional sekolah yang diberikan pemerintah
kurang mencukupi, maka konsekuensinya banyak sekolah swasta yang ditinggalkan oleh peminatnya.
Oleh karena itu, sekolah swasta membiayai operasional sekolah seadanya, dan ini tentunya
berdampak terhadap kualitas sekolah tersebut.
Kata kunci: Kebijakan, Pendidikan gratis, Sekolah swasta

ABSTRACT
Education for all is one of the rights of citizens that have to be met, therefore in the Constitution
article 31 paragraph 1 and 2 accommodate these citizens that guarantees every citizen is obligated to
follow the elementary education and the government must pay it. One form of realization of education
for all, the Government established the "free" education for elementary education (elementary and
junior high school). Through the existence of a "free" education policy has provided benefits such as
increased participation, reduce the dropout rate. On the other hand the existence of "free" education
policy into a dilemma for private schools are primarily located in rural areas. With the "free" education
policy of private school operational assistance from the government, the assistance was the main
source of financing of the operations. The school's due to not having power in the search for other
financing sources especially to parents of students. The student's parents are reluctant to pay for
education, even if the school will conduct operationalfinancing as an additional levy school because
school operational assistance given the government less sufficient, then the consequences of many
private schools left by devotees. Therefore, operational finance private school school potluck, and it
certainlymade an impact to the quality of the school
Keyword:education for all, "free" education, private school

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 37


PENDAHULUAN wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya; dan (3)
Suatu kebijakan biasanya dilator-
ayat 4: Negara memprioritaskan anggaran
belakangi oleh adanya masalah. Masalah
pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh
biasanya muncul ketika ada deskripansi
antara das sollen dengan das sein. Kebi- persen dari anggaran pendapatan dan
belanja negara serta dari anggaran
jakan pendidikan hadir untuk mengurangi
kesenjangan atau mendekatkan antara pendapatan dan belanja daerah untuk
dunia cita-cita (das sollen) dengan dunia memenuhi kebutuhan penyelenggaraan
nyata (das sein). Dalam suatu formulasi pendidikan nasional. Spirit UUD 1945 di
atas kemudian dijabarkan lebih konkret
sebuah kebijakan pendidikan hendaknya
memenuhi kriteria yang harus dipenuhi, dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun
diantaranya: (1) rumusan kebijakan pendi- 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Sisdiknas), yang menyatakan bahwa
dikan tidak mendiktekan keputusan spesi-
setiap orang berhak atas pendidikan seka-
fik atau hanya menciptakan lingkungan
ligus memberikan tekanan kuat bagi para
tertentu; dan (2) rumusan kebijakan pendi-
pengambil kebijakan untuk memberikan
dikan dapat dipergunakan menghadapi
prioritas terselenggaranya pendidikan un-
masalah atau situasi yang timbul secara
tuk semua warga negara[5].
berulang[1].
Berdasarkan definisi dari Salah satu bentuk realisasi kebi-
[2] jakan pendidikan untuk semua (education
UNESCO kebijakan pendidikan nasional
for all) dengan menyelenggarakan sekolah
merupakan A national education policy
establishes the main goals and priorities gratis. Sekolah gratis merupakan sekolah
pursued by the government in matters of yang diselenggarakan oleh sebuah lemba-
ga pendidikan yang di mana para siswa
education at the sector and sub-sector
yang belajar atau bersekolah di dalamnya
levels with regard to specific aspects such
as acces, quality and teachers, or to a tidak dipungut biaya. Adapun keuntungan
given issue or need. Kebijakan nasional sekolah gratis antara lain dapat dirasakan
sebagai hal yang sangat membantu ma-
pendidikan ber-dasarkan UNESCO ini
syararakat yang kurang mampu untuk
memandang bahwa kebijakan pendidikan
sebagai prioritas yang dikejar dalam sektor memperoleh pendidikan. Keberadaan se-
kolah gratis ternyata juga menimbulkan
pendidikan yang berkenaan seperti akses,
kualitas, guru dan kebutuhan tertentu. beberapa kerugian diantaranya: (1) seko-
lah gratis telah menurunkan partisipasi dan
Kebijakan sebagai suatu sistem utama
tanggungjawab masyarakat dalam pendi-
yang menyediakan kerangka kerja untuk
pemenuhan tujuan yang dimaksudkan[3]. dikan; (2) sekolah gratis telah ikut menu-
runkan gairah para pengelola satuan pen-
Salah satu kebijakan dalam pendi-
didikan, terutama para guru; dan (3) se-
dikan, pemerintah mencanangkan pendi-
kolah gratis telah menimbulkan dampak
dikan gratis untuk semua. Kebijakan ini
psikologis yang cukup berat bagi penge-
mengacu pada Undang-Undang Dasar
lola pendidikan non pemerintah (swasta)[6].
1945 Pasal 31[4] bahwa: (1) ayat 1: Setiap
Sekolah swasta yang mutunya biasa-biasa
warga negara berhak mendapat pendi-
saja merasakan beban yang cukup berat
dikan; (2) ayat 2: Setiap warga negara

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 38


untuk mendapatkan para siswa dalam poknya sendiri dalam struktur sistem
rangka menjaga kelangsungan hidupnya. pendidikan nasional[9]. Penyelenggaraan
Sekolah swasta merupakan sekolah sekolah swasta di Indonesia, dilakukan
yang pengelolaan dan penyelenggaraan- oleh beraneka ragam pihak yang memiliki
nya dilakukan oleh sekelompok orang. latar belakang keagamaan, kebudayaan/
Sekelompok orang tersebut berkumpul kedaerahan, sekolah yang diselenggara-
dan menyatukan persepsi terhadap proses kan oleh organisasi wanita dan sekolah
pendidikan, selanjutnya membuat sebuah yang merupakan bagian dari suatu orga-
kesepakatan untuk mendirikan institusi nisasi besar dengan beragam latar bela-
yang menyelenggarakan proses pendidi- kang, serta keragaman latar belakang ini
kan dan pembelajaran[7]. juga berkaitan dengan kemampuan finan-
Keberadaan sekolah swasta telah sial, kompetensi profesional, dan akunta-
diatur dalam Undang-undang Nomor 20 bilitas penyelenggara terhadap pemakai
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan jasa pendidikan[10]. Peran sekolah swasta
Nasional Bab VI Pasal 16[8] berbunyi: di tanah air tidak dapat diingkari. Hal ini
jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat ditunjukkan semenjak negara ini berdiri,
diwujudkan dalam bentuk satuan pendi- pendidikan swasta sudah hadir dan berpe-
dikan yang diselenggarakan oleh pemerin- ran. Bahkan, sudah ada yang berkiprah
tah, pemerintah daerah, dan/atau masya- sebelum Indonesia merdeka seperti Ta-
rakat. Peran serta masyarakat dalam man Siswa, Muhammadiyah, Maarif NU,
pendidikan juga di atur dalam Undang- Katolik, dan Kristen yang tumbuh dari
undang yang sama pasal 54, Ayat (1), (2), masyarakat.
dan (3) bahwa: (a) Peran serta masyarakat Kemudian, dengan diimplementasi-
dalam pendidikan meliputi peran serta kan kebijakan pendidikan gratis salah satu
perseorangan, kelompok, keluarga, organi- bentuknya yaitu pemberian Bantuan
sasi profesi, pengusaha, dan organisasi Operasional Sekolah (BOS) baik di seko-
kemasyarakatan dalam penyelenggaraan lah negeri maupun sekolah swasta, cende-
dan pengendalian mutu pelayanan pendi- rung meningkatkan jurang ketimpangan
dikan; (b) Masyarakat dapat berperan besaran satuan biaya pendidikan, karena
serta sebagai sumber, pelaksana, dan sekolah-sekolah yang miskin akan cen-
pengguna hasil pendidikan; dan (c) Keten- derung menggunakan dana BOS sebagai
tuan mengenai peran serta masyarakat suplemen terhadap kontribusi orang tua
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertahankan satuan biaya
dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan pendidikan sebelumnya, sementara bagi
Peraturan Pemerintah. sekolah yang kaya akan menggunakan
Pendidikan nasional mengakui pen- sebagai komplemen terhadap satuan bia-
didikan yang diselenggarakan oleh masya- ya pendidikan yang ada karena masih
rakat (lembaga-lembaga pendidikan swas- diperbolehkan memungut dari orang tua
ta) sebagai mitra pemerintah dalam men- dan orang tua cenderung mendukung
cerdaskan kehidupan bangsa, serta ma- dalam rangka peningkatan mutu dalam era
syarakat diberikan kesempatan untuk me- kompetisi global yang semakin tajam[11].
nyelenggarakan pendidikan bagi kelom-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 39


ANALISIS PEMECAHAN MASALAH HASIL
Sekolah swasta yang berangkat dari Keberadaan sekolah swasta yang
visi dan misi yang memang dicocoki oleh sudah memiliki payung hukum yang ter-
lingkungannya, bermodalkan guru yang cantum dalam Undang-undang Nomor 20
qualified, dikelola dengan penuh dedikasi Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
dan disiplin tinggi sehingga menghasilkan Nasional memperkuat posisi sekolah da-
lulusan yang kualitasnya juga tinggi akan lam rangka meningkatkan kualitas anak
mendapat simpati masyarakat. Sekolah bangsa melalui jalur pendidikan. Perkem-
tersebut akan kebanjiran pendaftar[12]. bangan sekolah swasta di Indonesia cukup
Oleh karena itu, dibutuhkan perbaikan pe- pesat sebagaimana yang tercantum dalam
ngelolaan sekolah. Kepala sekolah seba- pusat data dan statsitik pendidikan tahun
gai pemegang kebijakan sekolah tentunya 2012[16] bahwa: TK Swasta (68, 832), SLB
harus memperhatikan keperluan warga Swasta (1,428), SD Swasta (13,229), SMP
sekolah dan masyarakat luas. Untuk Swasta (13,074), SMA Swasta (6,084), PT
memenuhi tuntutan ini kepala sekolah Swasta (3,078). Berdasarkan data ini
membutuhkan kerjasama yang baik dari menunjukkan bahwa jumlah sekolah swas-
seluruh warga sekolah[13]. ta di seluruh tanah air sangat banyak ini
Kerjasama dan partisipasi juga sa- merupakan sebagai suatu kekayaan yang
bisa dimanfaatkan untuk membangun
ngat dibutuhkan dengan orang tua siswa
karena merekalah pengkonsumsi utama bangsa. Dengan adanya sekolah swasta
jasa pendidikan. Tidak hanya melalui par- beban pemerintah sedikit diringankan dari
segi biaya pembangunan gedung sekolah
tisipasi dalam pendanaan pendidikan.
dan lain-lain.
Agar dapat berpartisipasi aktif dalam men-
jaga kualitas penyelenggaraan pendidikan, Namun, realita yang terjadi di lapang-
pihak sekolah secara proaktif memfasilitasi an, kuantitas sekolah swasta tidak diiringi
dengan kualitas yang memadai sehingga
dengan memberi peran kepada orangtua
menyebabkan banyak sekolah yang cen-
untuk ikut terlibat dalam pengambilan
keputusan sekaligus tanggung jawab da- derung tidak bisa survive. Hal ini sering di
lam pelaksanaannya[14]. limpahkan kepada pemerintah yang diang-
gap tidak pro terhadap sekolah swasta
Sekolah swasta juga harus kembali
kepada ffitrah kelahirannya yang sangat sebagaimana yang dikemukakan Darma-
otonom terutama dalam pendanaan pendi- ningtyas[17] bahwa pemerintah cenderung
dikan. Kemandirian sekolah berarti kewe- memberikan bantuan kepada sekolah-
nangan untuk mengelola lembaganya agar sekolah negeri saja, termasuk sekolah ne-
geri yang sudah maju. Sementara sekolah-
berdaya guna dan berhasil guna mencapai
tujuan-tujuan yang ditetapkan[15]. Kemandi- sekolah swasta, terlebih sekolah swasta
kecil pinggiran kota atau pedesaan, malah
rian inilah yang harus dimiliki kembali teru-
tidak pernah tersentuh bantuan sama
tama sekolah swasta sehingga tetap bisa
sekali, serta sekolah swasta sepenuhnya
survive.
hidup dari uang sekolah murid yang nota-
bene kemampuan membayarnya amat
rendah dan sering terlambat.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 40


Melalui program pendidikan gratis menentukan keberlanjutan sekolah, selan-
yang diwujudkan dengan pemberian ban- jutnya komponen sekolah yang lain seperti
tuan operasional untuk sekolah swasta guru-guru, staf tenaga pendidik lainnya
maupun negeri menunjukkan memudarnya merupakan suatu hal yang menentukan
dikriminasi sekolah swasta dan negeri. keberlangsungan sekolah dan mutu
Namun, walaupun begitu ternyata hal ini sekolah.
menjadi masalah baru bagi sekolah Hal yang tidak kalah penting dalam
swasta, banyak sekolah swasta yang tidak memajukan sekolah terutama sekolah
beroperasional, disebabkan pangsa pasar- swasta ialah keterlibatan dari masyarakat.
nya banyak yang lebih memilih sekolah- Karena sekolah swasta pada dasarnya
sekolah yang berkualitas dan sama-sama merupakan sekolah yang lahir dari
gratis. masyarakat apabila yang melahirkan/
Bagi sekolah swasta yang mutunya membangun sekolah ini sudah tidak peduli
biasa-biasa saja, sangat sulit bersaing. lagi dengan keberadaan sekolah maka
Padahal saat ini persaingan antar sekolah tentunya sekolah sulit untuk berkembang.
semakin atraktif. Pemasaran lembaga Peran serta masyarakat khususnya orang
pendidikan menjamur dimana-mana, apa- tua siswa dalam penyelenggaraan pendi-
bila sekolah terutama sekolah swasta yang dikan sangat menentukan keberlangsung-
tidak bisa tanggap dan bersaing dengan an sebuah sekolah.
hal ini maka konsekuensinya kurang Sebagaimana hasil penelitian Dwi-
dimintai oleh masyarakat. Padahal seba- ningrum[19] bahwa eksistensi sekolah
gaimana yang dikemukakan Suyanto & ditentukan oleh pengakuan masyarakat
Abbas[18] bahwa sumber kekuatan sekolah secara obyektif dan subyektif. Secara
swasta sebagian besar terletak pada obyektif sekolah dinilai berdasarkan pada
sejauh mana orang tua dan masyarakat kondisi formal yang diakui keberadaannya,
memberikan dukungan pada keberadaan sedangkan secara subyektif bersumber
sekolah tersebut. pada pengalaman personal dan informasi
Salah satu solusi terhadap perma- tentang sekolah, selain itu pada umumnya
salahan ini ialah melalui pembenahan orang tua menilai sekolah dengan mene-
dalam diri sekolah swasta terutama dari kankan pada aspek: (1) kelengkapan sara-
segi pengelolaan, dalam pengelolaan na prasarana; (2) visi sekolah; (3) kedisi-
pendidikan yang pertama harus memper- plinan; (4) profesional kepala sekolah dan
hatikan visi, misi yang dikembangkan, visi, guru; dan (5) program sekolah.
misi ini merupakan tujuan ke mana
SIMPULAN
sekolah itu akan di bawa. Jika sebuah visi,
misi hanya sebagai pajangan maka tidak Kebijakan pendidikan gratis memiliki
ada artinya. Pencapaian visi, misi yang tujuan mulia untuk menuntaskan putus
baik harus didukung oleh semua pihak sekolah, meningkatkan partisipasi sekolah
terutama pimpinan sekolah yaitu kepala dan masih banyak tujuan-tujuan mulia
sekolah atau pengelola yayasan sebagai lainnya, ternyata di sisi lain membuat
top manager dalam sekolah tersebut. dilema lembaga pendidikan yang menye-
Keberadaan dari pimpinan sekolah sangat lenggarakan sekolah gratis terutama seko-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 41


lah swasta yang mutunya biasa-biasa saja. [3] Goel Aruna & Goel S.L. Educational
Di satu sisi sekolah swasta merasa Administration and Management An
diringankan dari segi pembiayaan opera- Integrated Approach. New Delhi:
sional sekolah dengan adanya kebijakan Deep & Deep Publications PVT.
pendidikan gratis, namun di sisi lain 2009
membuat sekolah swasta harus bekerja
[4] Undang-Undang Dasar Negara
keras agar bisa survive karena pangsa
Republik Indonesia Tahun 1945
pasarnya memiliki pilihan dalam memilih
sekolah, semua sekolah digratiskan. Hal [5] Suhardi, Didik & Hadiyanto. Perja-
ini juga menurunkan partisipasi masya- lanan Bantuan Operasional Sekolah
rakat terhadap sekolah swasta di mana (BOS) 2005-2012 Mencegah Drop
pada awalnya sekolah swasta lahir dan Out, meningkatkan Kualitas Pendi-
dibesarkan dari masyarakat kemudian dikan Dasar. Jakarta: Direktorat
dengan adanya kebijakan pendidikan gra- Jenderal Pendidikan Dasar Kemen-
tis, masyarakat seolah-olah tidak merasa dikbud. 2012
memiliki sekolah swasta. Permasalahan ini [6] Nata, Abuddin. Kapita Selekta Pendi-
tentunya bisa di atasi apabila sekolah dikan Islam Isu-isu Kontemporer
swasta memperbaiki pengelolaan sekolah, tentang Pendidikan. Jakarta: PT Raja
mulai dari pimpinan sekolah sampai de- Grafindo Persada. 2013
ngan staf tenaga kependidikan harus
[7] Saroni, Muhammad. Orang Miskin
bekerja sama dalam memajukan sekolah,
Harus Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz
dan tentunya masyarakat sebagai peng-
Media. 2010
konsumsi utama dari jasa pendidikan
harus dilibatkan karena mereka juga me- [8] Undang-Undang Republik Indonesia
nentukan keberlanjutan sebuah sekolah Nomor 20 Tahun 2003 tentang
dan mutu sekolah. Oleh karena itu, sangat Sistem Pendidikan Nasional.
dibutuhkan kesadaran oleh semua pihak [9] Anwar, Moch Idochi. Administrasi
bahwa kemajuan sebuah sekolah khusus- Pendidikan dan Manajemen Biaya
nya sekolah swasta sangat ditentukan Pendidikan (Teori dan Konsep).
dengan kerjasama semua pihak. Bandung: Alfabeta. 2003

DAFTAR RUJUKAN [10] Tilaar, H.A.R. Kekuasaan dan


Pendidikan Manajemen Pendidikan
[1] Hasbullah. Otonomi pendidikan nasional dalam Pusaran kekuasaan.
kebijakan Otonomi daerah dan Jakarta: PT Rineka Cipta. 2009
Implikasinya terhadap Penyelengga- [11] Nurhadi, Muljani A. Dilema Kebijakan
raan Pendidikan. Jakarta: PT Raja Pendanaan Pendidikan. Yogyakarta:
Grafindo Persada. 2006 Nurhadi Center. 2011
[2] UNESCO. UNESCO Handbook on [12] Suyanto & Abbas. Wajah dan
Education Policy Analysis and Dinamika Pendidikan Anak Bangsa.
Programming Volume 1. Bangkok. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
2013 2004

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 42


[13] Syafaruddin. Efektivitas kebijakan [17] Darmaningtyas. Pendidikan Rusak-
Pendidikan Konsep, Strategi, dan Rusakan. Yogyakarta: LKIS. 2007
Aplikasi Kebijakan Menuju Organisasi
[18] Suyanto & Abbas, Op.cit.
Sekolah Efektif. Jakarta: Rineka
Cipta. 2008 [19] Dwiningrum, Siti Irene Astuti.
Desentralisasi dan Partisipasi
[14] Suparno et al. Reformasi Pendidikan
Masyarakat dalam Pendidikan.
Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta:
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011
Kanisius. 2002
[15] Suyanto & Abbas, Op.cit.
[16] Pusat data dan Statistik Pendidikan
Tahun 2012. Diakses pada tanggal
7 November 2015 dari http: //
kemdikbud. go. id/ kemdikbud/
dokumen/BukuRingkasan DataPen-
didikan/Final-Buku-saku-1112.pdf

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 43


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 44-54
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

Studi Awal Analisis Penerimaan SIMDA versi 2.7 serta


Dampaknya Terhadap Pengguna
(Studi: Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah)
Tabiin Mubarokah, Paulus Insap Santosa, & Hanung Adi Nugroho
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Email: iin.cio14@mail.ugm.ac.id

ABSTRAK
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggunakan SIMDA sebagai Sistem Akuntansi
Keuangan Daerah sejak tahun 2004. Sejak awal diimplementasikan SIMDA telah empat kali
mengalami pengembangan sistem, baik karena untuk memperbaiki ketidakstabilan sistem yang lama
maupun karena adanya perubahan kebijakan dan aturan perudang-undangan. Hingga sejak akhir
tahun 2014 BPKP telah meluncurkan pengembangan aplikasi SIMDA keuangan versi 2.7 berbasis
akrual untuk menyesuaikan dengan PP 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Perubahan sistem yang sering terjadi berdampak langsung pada sikap mental penggunanya.
Pengguna dituntut agar bisa dengan cepat beradaptasi dengan sistem yang baru. Terlebih untuk
sistem yang bersifat mandatory karena pengguna tidak mempunyai pilihan untuk menerima atau
menolak adopsi sistem baru tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang
mempengaruhi penerimaan SIMDA versi 2.7 berbasis akrual serta dampaknya terhadap pengguna
sistem. Penelitian akan menggunakan teori dasar TAM yang dimodifikasi dengan melibatkan tiga
elemen penting yang terkait dengan penerimaan sebuah sistem yaitu karakteristik individu,
karakteristik organisasi dan karakteristik teknologi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif.
Populasi melibatkan seluruh pengguna aplikasi SIMDA di Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Sampel dengan menggunakan metode purposive random sampling. Kuesioner digunakan untuk
mengumpulkan data dengan menggunakan Skala Likert. Data akan dianalisis menggunakan metode
analisis berbasis SEM-PLS.
Kata kunci: good governance, informasi, mandatory, sistem, TAM.

ABSTRACT
Central Kalimantan Government has used SIMDA as Financial Accounting System since 2004.
Since the beginning implemented SIMDA has four times through the development of the system, both
as to fix the old system instability or because of changes in policies and regulations. Up since the end
of 2014 BPKP has launched an application development SIMDA accrual based version 2.7 to
customize with Government Regulation Number 71/2010 concerning Government Accounting
Standards. Frequent system changes have a direct impact on the mental attitude of users. Users are
required to be able to quickly adapt to the new system. Especially for systems that are mandatory
because the user does not have the option to accept or reject the adoption of the new system. This
study aimed to analyze the factors that affect the acceptance SIMDA accrual-based version 2.7 and its
impact on system users. The research will use a modified TAM basic theory involves three important
elements related to the acceptance of a system that individual characteristics, organizational
characteristics and the technological characteristics. Research using quantitative methods. Involves
the entire user population SIMDA application in Central Kalimantan Government. Samples using
purposive random sampling method. A questionnaire was used to collect data using Likert Scale. Data
will be analyzed using analytical methods based SEM-PLS.
Keyword: good governance, information, mandatory, system, TAM

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 44


PENDAHULUAN 2005[4] dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 64 Tahun 2013[5] tentang
Otonomi daerah yang diatur dalam Penerapan Standar Akuntansi Pemerin-
UU Nomor 32 Tahun 2004[1] memberi tahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah
kewenangan pemerintah daerah dalam Daerah. Implementasi akuntansi berbasis
mengatur urusan rumah tangga daerah, akrual harus dilaksanakan oleh pemerintah
menetapkan kebijakan, serta melakukan daerah selambatlambatnya tahun 2015.
pembiayaan dan pertanggungjawaban ke- Sering terjadinya perubahan kebi-
uangan sendiri. Oleh karena itu, diperlukan jakan mengakibatkan perubahan pada pro-
sistem pengelolaa keuangan yang baik ses bisnis pemerintahan. Adanya perubah-
dalam rangka mengelola keuangan daerah an proses bisnis menyebabkan perlu dila-
secara akurat, tepat waktu, transparan dan kukannya pengembangan maupun peru-
akuntabel. Berdasarkan PP No.56 Tahun bahan sistem. Perubahan sistem yang
2005[2] pemerintah daerah berkewajiban sering terjadi berdampak langsung pada
mengembangkan dan memanfaatkan ke- sikap mental penggunanya. Pengguna
majuan teknologi informasi untuk mening- dituntut agar bisa dengan cepat beradap-
katkan kemampuan mengelola keuangan tasi dengan sistem yang baru. Terutama
daerah, dan menyalurkan informasi keu- untuk sistem yang bersifat mandatory
angan daerah kepada publik. Salah satu karena pengguna tidak mempunyai pilihan
bentuk pemanfaatan teknologi informasi untuk menerima atau menolak adopsi
adalah dengan penggunaan perangkat lu- sistem baru tersebut.
nak sebagai alat bantu dalam sistem akun- Sejak diimplementasikannya SIMDA
tansi dan keuangan daerah. berbasis akrual awal tahun 2015 untuk
Pemerintah Provinsi Kalimantan mendukung kinerja pegawai, belum mem-
Tengah telah mengembangkan aplikasi buat semua pegawai merasa memperoleh
Sistem Akuntansi Keuangan Daerah sejak manfaat dan keuntungan dari sistem ini.
tahun 2004 dengan menggunakan Sistem Malah membuat mereka merasa terbebani
Informasi Manajemen Daerah (SIMDA) untuk menggunakan sistem tersebut. Ke-
yang dikembangkan oleh Badan Penga- engganan atau penolakan user untuk
was Keuangan dan Pembangunan (BP- mengadopsi atau menggunakan sistem
KP). Sejak awal diimplementasikan BPKP, tersebut adalah salah satu alasan kega-
SIMDA juga telah mengalami empat kali galan implementasi yang harus diperhati-
pengembangan sistem baik karena keti- kan organisasi[6].
dakstabilan sistem yang lama maupun ka- Kurangnya penerimaan user terse-
rena adanya perubahan kebijakan dan but dapat menyebabkan user hanya seke-
aturan perundang-undangan. dar terpaksa menggunakan dan tanpa
Hingga saat ini BPKP telah melun- diimbangi dengan penggunaan yang han-
curkan modifikasi aplikasi SIMDA keu- dal pada sistem tersebut. Selain itu juga
angan versi 2.7 untuk menyesuaikan de- dapat menyebabkan masalah ketidakpuas-
ngan PP 71 Tahun 2010[3] tentang Stan- an bagi user terhadap sistem tersebut.
dar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang Keengganan dan penolakan dari user ini
merupakan pengganti PP No.24 Tahun menyebabkan tidak diperolehnya manfaat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 45


dan keuntungan dari sistem tersebut yang traits). Variabel yang termasuk dalam
secara tidak langsung menyebabkan kega- konteks sistem adalah system quality,
galan implementasi sistem[7]. Penggunaan information quality, dan service quality.
sistem informasi menjadi aspek yang Sedangkan variabel yang termasuk dalam
seharusnya mendapatkan perhatian utama konteks individual adalah social influence,
dalam implementasi sistem informasi, facilitating condition, self-efficacy dan
karena kuatnya penerimaan atau penolak- personal innovativeness in IT. Penelitian ini
an terhadap suatu sistem menentukan dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor
keberhasilan implementasi sistem terse- yang mempengaruhi kesediaan warga
but. Implementasi sistem informasi me- negara Thailand untuk mau menggunakan
merlukan banyak waktu dan perhatian pelayanan e-government.
yang lebih, tidak hanya menyangkut masa- Penelitian yang dilakukan oleh
lah pengembangan dan membuat sistem Govindaraju et. al.[12] mengadopsi model
informasi bekerja pada kondisi yang benar, penelitian yang dikembangkan dari
namun yang penting adalah membuat penerimaan user Nah et. al.,[6]. Model
pengguna mau bekerja dengan sistem in- penerimaan user yang dikembangkan oleh
formasi yang ada[8], sehingga dalam pene- Nah et. al.[6] adalah perluasan dari Tech-
rapannya sangat ditentukan pula oleh nology Acceptance Model (TAM) dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi peneri- menambahkan variabel perceived fit dan
maan pengguna atas teknologi informasi[9]. perceived compatibility. Kemudian meng-
Penerimaan user terhadap sistem ganti variabel behavioral intention pada
juga menjadi pengukuran dalam menilai TAM dengan variabel symbolic adoption.
keberhasilan sistem informasi. Hal ini Kekurangan dari model yang dikembang-
sesuai dengan apa yang dikatakan oleh kan oleh Nah et. al.[6] adalah tidak melihat
Goodhue & Thomson[10] bahwa keberhasil- sudut pandang dari konteks individu dan
an sistem informasi tergantung pada ba- organisasi. Sehingga untuk mendapatkan
gaimana sistem itu dijalankan, kemudahan pemahaman yang lebih baik terhadap pe-
sistem bagi pemakai dan pemanfaatan nerimaan user pada implementasi sistem
teknologi informasi yang digunakan. ERP maka dalam model penelitian ini
Penelitian ini bukanlah penelitian ditambahkan variabel-variabel yang ber-
yang pertama tentang penerimaan sistem kaitan dengan konteks individu dan orga-
informasi, penelitian tentang penerimaan nisasi. Model tersebut menjelaskan pe-
sistem informasi telah banyak dilakukan ngaruh variabel independen yang meliputi
baik di Indonesia maupun di negara lain. personal innovativeness of IT, computer
Penelitian yang dilakukan Chomchalao & self-efficacy, argument for change, shared
Naenna[11] mengadaptasi model Techno- belief in the benefit of ERP system, faci-
logy Acceptance Model (TAM) yang sudah litating condition, ERP ease of use, ERP
dimodifikasi dengan adanya penambahan usefulness, ERP business fit, ERP compa-
variabel eksternal. Variabel eksternal ini tibility terhadap variabel dependen ERP
dikelompokkan dalam kelompok yang ber- symbolic adoption melalui variabel attitude
kaitan dengan konteks sistem (system toward ERP system use sebagai variabel
traits) dan konteks individual (personal intervening. Variabel yang berkaitan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 46


dengan konteks individu seperti personal paknya terhadap pengguna akhir. Pene-
innovativeness of IT, computer self-efficacy litian dilakukan dengan menyebarkan kui-
telah diuji dalam lingkup penggunaan sioner pada pengguna ERP di beberapa
sistem yang bersifat voluntary, dan variabel organisasi di India yang telah meng-
argument for change telah di uji dalam gunakan sistem ERP selama lebih dari lima
lingkup penggunaan sistem yang bersifat tahun. Responden sebanyak 154 yang ber-
mandatory. Kemudian variabel-variabel asal dari sektor banking, manufaktur,
yang berkaitan dengan konteks organisasi automobile dan IT. Data dianalisis dengan
seperti facilitating condition telah di uji menggunakan PLS. Variabel eksternal
dalam lingkup voluntary dan shared belief yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
in the benefit of ERP system telah di uji self-efficacy, organization support, training,
dalam konteks mandatory. compatibility dan complexity. Sedangkan
Seymour et.al.[13] melakukan peneli- variabel dependen merupakan relasi antar
tian penerimaan sistem ERP, dengan variabel TAM yaitu perceived usefulness of
tujuan ingin mengetahui faktor-faktor yang ERP, perceived ease of use of ERP,
mempengaruhi penerimaan pengguna intention to Use ERP, Usage of ERP yang
akhir dari sistem ERP (Enterprise Re- akhirnya berdampak pada individual impact
sources Planning). Model yang digunakan yaitu panoptic empowerment dan individual
pada penelitian ini adalah model Unified performance.
Theory of Acceptance and Use of Tech- Pada penelitian ini penulis akan
nology (UTAUT) yang sudah dimodifikasi. menggunakan teori dasar TAM yang dimo-
Dalam penelitiannya variabel behavioral difikasi dengan membagi variabel eks-
intention dan use behavior diganti dengan ternal penerimaan sebuah sistem dilihat
symbolic adoption. Dengan alasan variabel dari tiga sudut pandang yang terlibat
symbolic adoption dianggap lebih cocok dalam keberhasilan implementasi sebuah
digunakan dalam mengukur penerimaan sistem informasi yaitu karakteristik indi-
ERP. Variabel symbolic adoption yang vidu, karakteristik organisasi dan karak-
digunakan diadopsi dari penelitian Nah et. teristin teknologi. Pada penelitian ini pene-
al. [6]. Variabel moderator voluntariness of liti mengadopsi model yang dibuat oleh
use dihilangkan karena dianggap bersifat Rajan & Baral[14] yang dimodifikasi sesuai
redudansi jika dimasukkan ke dalam dengan latar belakang permasalahan. Va-
pengukuran mandatory. Variabel riabel individu self-efficacy diganti dengan
moderator experience dihilangkan karena personal innovativeness of IT sesuai pene-
penelitian hanya dilakukan pada satu litian yang dikembangkan oleh Govindara-
waktu dan tidak dilakukan secara ju et. al.[12] mengingat sering terjadinya
longitudinal, sedangkan konstruk facilitating perubahan aturan dan kebijakan membuat
and conditions dijabarkan menjadi konstruk SIMDA sering berinovasi dalam rangka
training, shared belief, dan project commu- perbaikan dan pengembangan sistem.
nication. Mengganti konstruk training yang ada
Rajan & Baral[14] melakukan pene- pada variabel eksternal karakteristik orga-
litian yang bertujuan untuk mengetahui nisasi menjadi facilitating conditions sesuai
faktor-faktor penerimaan ERP dan dam- dengan pendapat Seymour et.al.[13]. Selan-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 47


jutnya mengganti dependen variabel inten- Populasi penelitian ini adalah
tion to use dan useage behavior menjadi pegawai di seluruh SKPD Pemerintah
symbolic adoption sesuai penelitian Nah Provinsi Kalimantan Tengah yang
et. al.[6] mengingat SIMDA bersifat manda- menggunakan SIMDA. Sampel yang
tory. Tujuan dari penelitian ini adalah un- diambil sebanyak 100 responden. Dalam
tuk menganalisis dan menguji faktor-faktor memilih sampel, peneliti menggunakan
apa saja yang berpengaruh terhadap teknik random sampling.
penerimaan SIMDA berbasis aktual di Pe- Metode Analisis Data
merintah Provinsi Kalimantan Tengah ser- Metode penelitian yang dilakukan
ta dampaknya bagi pengguna. meliputi materi serta alat yang digunakan,
dan tahapan penelitian secara ringkas.
METODE Data akan dianalisis menggunakan
Structural Equation Modeling (SEM)
Penelitian dilakukan dengan berbasis varian yang biasa disebut
menggunakan metode kuantitatif. Tahapan sebagai PLS dengan bantuan software
penelitian yaitu studi literatur, identifikasi smart PLS versi 2.0. SEM merupakan
variabel penelitian, merancang kuisioner, suatu teknik statistik yang mampu
selanjutnya menentukan populasi dan menganalisis variabel laten, variabel
sampel. Setelah itu dilakukan uji coba indikator dan kesalahan pengukuran
kuisioner terhadap sample, uji validitas secara langsung [15]. SEM memiliki
dan reabilitas. Bila telah valid dilakukan fleksibilitas yang lebih tinggi bagi peneliti
penyebaran kuisioner, analisis data dan untuk menghubungkan antara teori dan
penarikan kesimpulan. data.
Metode Pengumpulan Data PLS merupakan metode analisis
Pada tahap awal, peneliti akan yang powerfull oleh karena tidak
melakukan studi literatur, menggali lebih didasarkan banyak asumsi World dalam
dalam lagi faktor-faktor apa yang dapat Ghozali [16]. Selain itu, data tidak harus
mempengaruhi penerimaan pengguna berdistribusi normal multivariative (indika-
sistem SIMDA. Kemudian mengidentifikasi tor dengan skala kategori, ordinal, interval
variabel penelitian. Setelah diperoleh sampai rasio dapat digunakan pada model
variabel pengukur maka diancang yang sama), sampel tidak harus besar.
kuisioner. Data yang dibutuhkan adalah
data primer dan sekunder. Data primer HASIL
dikumpulkan secara langsung oleh peneliti Pemodelan yang digunakan pada
melalui teknik survei, yaitu memberikan penelitian ini mengacu pada model TAM [2]
sejumlah pertanyaan kepada responden dan Nah et. al. [6] yang dimodifikasi.
melalui instrumen kuesioner. Sementara Variabel yang digunakan dalam penelitian
data sekunder diperoleh dari kajian literatur adalah sebagai berikut:
terhadap buku, jurnal ilmiah, laman web,
dan artikel yang relevan dengan topik
penelitian.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 48


Variabel Eksogen Variabel Compatibility
Karakteristik Teknologi: Variabel Complexity
Rogers[20] mendefinisikan compati-
Complexity didefinisikan sebagai bility sebagai sejauh mana suatu inovasi
tingkat inovasi yang dirasakan sukar dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang
secara relatif untuk memahami dan ada, sesuai kebutuhan, dan pekerjaan
menggunakan, Rogers dan Shoemaker, sebelumnya. Karahanna et. al.[21] menga-
1971 dalam Rahmi[17]. Thompson et. al. [18] jukan empat dimensi yang mencerminkan
mengembangkan empat pertanyaan untuk definisi compatibility: kompatibel dengan
mengetahui pengaruh antara complexity praktek kerja yang ada, kompatibel de-
dengan pemanfaatan teknologi informasi ngan gaya kerja yang disukai, kompatibel
yaitu: pemanfaatan teknologi informasi dengan pengalaman sebelumnya, dan
dalam pelaksanaan tugas harian/peker- kompatibel dengan nilai-nilai yang ada.
jaan menyita banyak waktu; bekerja de- Dalam hal ini, kompatibilitas teknologi
ngan teknologi informasi itu sangat rumit dianggap sebagai salah satu karakteristik
sehingga sulit untuk mengerti dan mema- teknologi yang mempengaruhi pengguna-
hami cara pemanfaatannya; menggunakan an sistem informasi. Hal ini mengacu pada
teknologi informasi khususnya teknologi kompatibilitas sistem baru dengan sistem
komputer untuk memasukkan data, ba- yang ada dalam organisasi. Dalam kom-
nyak menyita waktu; membutuhkan waktu patibilitas teknologi, pengetahuan yang di-
yang lama. Penelitian yang dilakukan oleh peroleh dari pengalaman masa lalu sesuai
Tornatzky & Klein[19] menemukan bahwa dengan teknologi yang sekarang[22].
semakin komplek inovasi yang dilakukan Menurut Soh et. al.[23], prosedural
pada suatu teknologi infomasi makan akan dan kompatibilitas data sangat penting un-
semakin rendah tingkat adopsi atau tuk penerimaan sistem oleh penggunanya.
penerimaannya. Jika pemanfaatan tekno- Ketidakcocokan teknologi akan berdampak
logi informasi dapat ditunjukkan dalam negatif dan akan mempengaruhi produkti-
konteks adopsi inovasi, maka hasil dari vitas sistem, efisiensi, kepuasan karya-
penelitian tersebut mengemukakan ada- wan, komitmen, dan motivasi[24]. Kompati-
nya hubungan antara complexity dengan bilitas yang besar dari inovasi teknologi
pemanfaatan. Thompson et. al.[18] juga dengan sistem teknis yang ada, prosedur
mengemukakan bahwa terdapat pengaruh operasional, serta nilai dan kepercayaan
yang signifikan dan negatif antara kom- sistem sangat menguntungkan dalam a-
pleksitas dan pemanfaatan teknologi infor- dopsi dan difusi teknologi[25]. Kompatibili-
masi. Rendahnya complexity akan me- tas yang tinggi akan meningkatkan per-
ningkatkan kemudahan dan kebergunaan sepsi kegunaan dan persepsi kemudahan
suatu sistem, sehingga hipotesis dinya- sebuah sistem dalam adopsi inovasi sis-
takan: tem informasi baru. Sehingga dapat dapat
H1 :perceived complexity berpengaruh dirumuskan hipotesis:
negatif terhadap perceived usefulness H3 :perceived compatibility berpengaruh
H2 :perceived complexity berpengaruh positif terhadap perceived usefulness
negatif terhadap perceived ease of H4 :perceived compatibility berpengaruh
use positif terhadap perceived ease of use

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 49


kan kemudahan dalam melakukan, ter-
Karakteristik Individu: Variabel Personal Inno-
vativeness of IT
masuk kepastian komputer pendukung.
Sehingga hipotesis yang diusulkan:
Personal Innovativeness of IT dide- H6 :Facilitating conditions berpengaruh
finisikan sebagai tingkat minat seseorang positif terhadap perceived ease of use
untuk cepat menerima dan melakukan
Variabel Endogen
percobaan dengan teknologi informasi Variabel Perceived Usefulness
baru, diadaptasi dari Agarwal dan Prasad
Perceived usefulness atau persepsi
(1998) dalam Hwang[26]. Sedangkan me-
kegunaan adalah tingkat kepercayaan
nurut Roger sebagaimana dinyatakan oleh
seseorang terhadap sistem informasi
Lewis et. al.[27] karakteristik seseorang
dapat meningkatkan kinerja. Persepsi
akan membentuk keyakinan mengenai
kegunaan sangat dipengaruhi oleh varia-
teknologi baru dengan menggabungkan
bel eksternal dan persepsi kemudahan
informasi dari sejumlah channel maupun
penggunaan. Pengujian terhadap variabel
media masa dan hubungan interpersonal.
perceived usefulness telah dilakukan dan
Orang-orang dengan keinovasian tinggi
dibuktikan oleh Davis[30].
diharapkan mengembangkan keyakinan
H8 :Perceived Usefulness berpengaruh
yang lebih positif mengenai teknologi.
positif terhadap symbolic adoption
Menurut Hernandez et. al. (2009) dalam
Chomchalao & Naenna[11] dalam modelnya Variabel Perceived Ease of Use

yang telah di uji secara empiris membukti- Perceived ease of use (persepsi
kan bahwa faktor penentu paling kuat kemudahan dalam penggunaan adalah
perceived ease of use adalah Personal suatu kepercayaan (belief) tentang proses
Innovativeness of IT. Sehingga diusulkan pengambilan keputusan untuk mengguna-
hipotesis: kan suatu sistem informasi. Kepercayaan
H5 :Personal Innovativeness of IT seseorang bahwa dengan menggunaka
berpengaruh positif terhadap teknologi akan membawa mereka terbe-
Perceived Ease of Use bas dari usaha secara fisik dan mental[31].
Menurut konsep TAM, attitude secara ber-
Karakteristik Organisasi: Variabel Facilitating
Conditions samaan dipengaruhi oleh perceived use-
fulness, perceived ease of use dan vari-
Facilitating conditions didefinisikan abel eksternal seperti commitment to
sebagai pendapat seseorang bahwa sis- system use dan self-efficacy. Warsaw et.
tem informasi dapat digunakan jika orga- al.,(1989). Perceived ease of use berpe-
nisasi memberikan kondisi yang dapat ngaruh terhadap usefulness, attitude, in-
memfasilitasi penggunaan /pengoperasian tention dan actual use[32]. Hasil penelitian
sistem informasi[28,29]. Facilitating conditi- Pedersen[33] secara empiris juga mendu-
ons merupakan tingkatan dimana user kung pernyataan Sun & Zhang[34] yang
percaya bahwa infrastruktur teknis dan menyatakan bahwa perceived usefulness
organisasi ada untuk mendukung penggu- secara signifikan dipengaruhi oleh percei-
naan sistem. Facilitating conditions yaitu ved ease of use. Sehingga hipotesis yang
faktor obyektif lingkungan yang menyebab- diusulkan:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 50


H7 :Perceived ease of use berpengaruh kinerja organisasi dan individu. Dampak TI
terhadap perceived usefulness pada pekerjaan pada tingkat individu
H9 :Perceived ease of use berpengaruh merupakan konsekuensi langsung dari
terhadap symbolic adoption penggunaan sistem, yang pada gilirannya
Variabel Symbolic Adoption menjadi faktor utama dalam menentukan
dampak organisasi[36]. Dampak pengguna-
Symbolic adoption merupakan
an teknologi pada organisasi yang kom-
mental acceptance seseorang terhadap
plek sangat berbeda dengan yang lain,
suatu inovasi[6]. Seseorang cenderung
pengguna tidak dapat mewujudkan pro-
mem-perlihatkan perbedaan pada symbo-
duktivitas atau kinerja yang signifikan jika
lic adoption. Identifikasi dan analisa per-
mereka tidak menggunakan IT secara
bedaan tersebut membantu dalam mema-
memadai dan tepat[37]. Pengguna akan
hami penerimaan (acceptance) teknologi
mengadopsi sistem informasi jika mereka
dalam lingkungan mandatory (Pozzebon,
menganggap sistem tersebut akan mem-
2003)[6]. Sikap mental yang positif dalam
bantu mereka untuk mencapai hasil kinerja
menerima inovasi teknologi akan mening-
yang diinginkan[38]. Goodhue &
katkan kinerja individu yang pada akhirnya [10]
Thompson berpendapat bahwa TI lebih
meningkatkan kinerja organisasi. Hipote-
bermanfaat untuk digunakan dalam peng-
sisnya sebagai berikut:
aturan organisasi dan akan berdampak
H10 :symbolic adoption berpengaruh
positif pada kinerja individu jika kemam-
positif terhadap individual performan-
puan IT cocok dengan tugas-tugas yang
ce
dilakukan pengguna. Beberapa studi telah
Variabel Individual Performance menggunakan kinerja individu dalam
Pesatnya pertumbuhan teknologi penelitiannya dan telah menunjukkan
komputasi membuat para akademisi dan adanya dampak positif antara penggunaan
praktisi mengakui bahwa kesuksesan IT IS dan kinerja individu[39].
dapat diukur melalui dampaknya pada Pemodelan yang digunakan pada
pekerjaan individu[35]. Organisasi yang penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 1
telah menghabiskan dana besar untuk berikut:
investasi IT prihatin tentang bagaimana
investasi tersebut akan mempengaruhi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 51


Gambar 1. Model Penelitian yang Diajukan

SIMPULAN [4] PP Nomor 24 tahun 2005 tentang


Penelitian ini membagi variabel eks- Standar Akuntansi Pemerintahan.
ternal penerimaan sebuah sistem dilihat [5] Peraturan Menteri Dalam Negeri
dari tiga sudut pandang yang terlibat Nomor 64 tahun 2013 tentang
dalam keberhasilan implementasi sebuah Penerapan Standar Akuntansi
sistem informasi yaitu karakteristik indi- Pemerintahan Berbasis Akrual
vidu, karakteristik organisasi dan karakte- Pada Pemerintah Daerah.
ristik teknologi. Model yang digunakan [6] F. F. Nah, X. Tan, & S. H. Teh, An
mengacu pada teori TAM yang telah empirical investigation on end-
dimodifikasi dengan model dari penelitian users acceptance of enterprise sys-
Nah et.al [6]. Dalam model ini terdiri dari 8 tems. Inf. Resour. Manag. Journal,
konstruk yaitu 4 konstruk eksogen dan 4 2004 17(3), 3253
konstruk endogen. [7] R. Amaranti. Faktor Kritis dalam
Proyek Implementasi ERP dan
DAFTAR RUJUKAN Pengaruhnya Terhadap Perubahan
dalam Organisasi (Studi Kasus: PT
[1] UU nomor 32 tahun 2004 tentang Telekomunikasi Indonesia Tbk).
Otonomi Daerah. Institut Teknologi Bandung, 2006.
[2] PP nomor 56 tahun 2005 tentang [8] B.F.D. Davis. Information Techno-
Sistem Informasi Keuangan Dae- logy Introduction, 2014 vol. 13 (3),
rah. 319340
[3] PP Nomor 71 tahun 2010 tentang [9] Sarana. Pengaruh Persepsi Kemu-
Standar Akuntansi Pemerintahan. dahan, Kemanfaatan, Kecemasan,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 52


Sikap dan Penggunaan Mikro Kom- terhadap pemanfaatan komputer.
puter Terhadap Hasil Kerja Akun- Unversitas Gadjah Mada, 1997.
tan Pendidik. Universitas Dipone- [18] R. Thompson, A. Chrstoper, & J.
goro Semarang, 2000. Howell, Personal Computing:
[10] D.I. Goodhue & R. L. Thompson, Toward a Conceptual Model of
Task Technology Fit and Individual Utilization, MIS Q., 1991.
Performance. MIS Q.,1995, 213 [19] Tornatzky & Klein. Innovation
236 characteristics and innovation
[11] S. Chomchalao & T. Naenna, adoption-implementation: a meta
Influence of System Traits and analysis of findings. IEEE Trans.
Personal Traits on the Acceptance Eng. Manag., 1982.
of e-Government Service. Inf. [20] E. M. Rogers, Diffusion of
Technol. J. 2013, 12 (5), 880893 innovations (3rd ed.). New York
[12] R. Govindaraja. Studi Mengenai Free Press, 1983.
Penerimaan Sistem ERP Enhan- [21] E. Karahanna, R. Agarwal, & C.
cement terhadap Model Angst. Reconceptualizing
Penerimaan Sistem ERP berbasis compatibility beliefs in technology
Technology Acceptance Model. in acceptance research. MIS Q. 2006
Konferensi Nasional Industrial 30(4), 781804.
Engineering ke IV, 2009. [22] B. Ortega, J. Martinez, & M. Hoyos,
[13] L. Seymour, W. Makanya, & S. The role of information technology
Berrange, End-Users Acceptance knowledge in B2B development.
of enterprise Resource planning Int. J. E-bus. Res. 2008 4(1), 40
Systems: An Investigation of Ante- 54,
cedents.Proceedings of the 6th [23] C. Soh, S. S. Kien, & J. Tay-Yap,
Annual ISO nEworld Conference. Cultural fits and misfits: is ERP a
Las Vegas. universal solution?. Commun.
[14] C. A. Rajan & R. Baral. Adoption of ACM, 2000 43(4), 4751.
ERP system: An empirical study of [24] Y. C. Erensal & Y. E. Albayrak,
factors influencing the usage of Transferring approriate of
ERP and its impact on end user. manufacturing technologies for
IIMB Manag. Rev., 2015 27 (2), development countries. J. Manuf.
105117 Technol. Manag., 2008 19(2), 158
[15] Sitinjak J.T. & Sugiarto., LISREL. 171.
Jogjakarta: Graha Ilmu. 2006. [25] R. B. Cooper & R. W. Zmud,
[16] I. Ghozali, Structural Equation Information technology
Modeling Metode Alternatif dengan implementation research: a
Partial Least Square. 2008. technology diffusion approach.
[17] Q. Rahmi, Pengaruh faktor sosial, Manage. Sci., 1990 36(2),123139
affect, konsekuensi yang dirasakan [26] A. Hwang. Integrating Technology
dan kondisi yang memfasilitasi Marketing and Management

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 53


Innovation. Res. Manag., 2004 study of Mobile Commerce Early
47(4), 2731. Adopters, 2003.
[27] W. Lewis, A. Ritu, & V. [34] H. Sun & P. Zhang, The Role
Sambamurthy, Source of Influence Moderating Factors in User Tech-
on Beliefs about Information nology Acceptance. Int. J. Hum.
Technology Use: An Empirical Comput. Stud., 2006 63, 5378
Study of Knowledge Worker, MIS [35] C. Law & E. Ngai. ERP system
Q., 2003 27 (4) adoption: an exploratory study of
[28] S. Taylor & P. A. Todd, assessing organizational factors and impacts
IT usage: the role of prior of ERP success. Inf. Manag., 2007
experience. MIS Q., 1995 19(4), 44(4), 418432
561570. [36] G. Torkzadeh & W. J. Doll, The
[29] V. Venkatesh, M. G. Morris, G. B. development of atool for measuring
Davis, & F. D. Davis, User the perceived impact of information
Acceptance of Information Techno- technology on work. Omega, 1999
logy: Toward a Unified View. MIS 27(3), 327339
Q., 2003 27 (3),425478 [37] Y. Sun, A. Bhattacherjee, & Q. Ma,
[30] F. D. Davis. Perceived Usefulness, Extending technology usage to
Perceived Ease of Use, and User work setting: the role of
Acceptance of Information Techno- perceivedwork compatibility in ERP
logy. MIS Q., 1989 13(3), 319340 implementation. Inf. Manag., 2009
[31] C. Gardner & D. L. Amoroso. 46, 351356
Development of an Instrument to [38] K. Amoako-gyampah & A. F.
Measure the Acceptance of Saam, An extension of the
Internet Technology by technology acceptance model in an
Consumers. Proceedings of the ERP implementation environment.
37th Hawaii International Conferen- Inf. Manag., 2004 41, 731745
ce on System Sciences, USA, [39] V. Venkatesh & F. D. Davis,
2004. Theoretical acceptance extention
[32] P. Y. K. Chau. An Empirical: model: field four studies of the
Assessment of a Modified Techno- technology longitudinal. Manage.
logy Acceptance Model. J. Manag. Sci., 2000 46(2), 186204
Inf. Syst., 1996 13(2), 185204
[33] P. Pedersen. Adoption of Mobile
Internet Service on Exploratory

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 54


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 55-65

Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

ANALISIS CLUSTERING DOKUMEN MENGGUNAKAN ALGORITMA SELF-


ORGANIZING MAP (SOM) (STUDI KASUS: DOKUMEN SKRIPSI DI
FAKULTAS PERTANIAN UNS)
Vera Suryaningsih, Sari Widya Sihwi, & Meiyanto Eko Sulistyo
Universitas Sebelas Maret
Email: veve.rava@gmail.com
ABSTRAK
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) telah menghasilkan banyak dokumen
penelitian berupa skripsi yang dilakukan oleh mahasiswa S1. Jika kumpulan dokumen skripsi tersebut
diolah, mungkin akan ditemukan pola atau tren yang bermanfaat bagi pihak fakultas. Oleh karena itu
perlu dilakukan text mining terhadap kumpulan dokumen skripsi tersebut dengan menggunakan
metode clustering. Penelitian ini akan melakukan clustering pada dokumen skripsi di fakultas
Pertanian UNS tahun 2008 sampai 2013 dengan menggunakan algoritma Self-Organizing Map (SOM).
Sebelum dilakukan proses clustering, abstrak terlebih dulu diolah melalui tahap text preprocessing dan
pembobotan TF-IDF. Pada penelitian ini menggunakan inputan cluster sebanyak 49, iterasi sebanyak
1000 dan lerarning rate sebesar 0,1. Setelah dilakukan clustering, kemudian dilakukan analisis
perkiraan tema dengan membaca satu persatu judul dokumen serta melihat 10 top keyword pada
masing-masing dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa cluster dimana tema
pada cluster tersebut berpotensi untuk dilakukan kolaborasi dengan semua maupun beberapa jurusan.
Ada juga cluster yang mungkin tema pada cluster tersebut memang tidak bisa dilakukan kolaborasi.
Hal ini dikarenakan hanya jurusan tertentu yang pernah melakukan penelitian pada cluster tersebut.
Namun bisa jadi tema tersebut justru dapat menjadi masukan bagi jurusan lain pada penelitian yang
akan datang. Jurusan Agribisnis memiliki penyebaran tren tema yang bervariasi ditiap tahunnya.
Sedangkan pada jurusan Agroteknologi, jurusan ITP, serta jurusan Peternakan tema yang banyak
diambil tiap tahunnya hanya di cluster itu-itu saja. Dimungkinkan tema pada cluster tersebut
ketinggalan jaman.
Kata kunci:Text Mining, Text Preprocessing, TF-IDF, Clustering, Self-Organizing Map.
ABSTRACT
Faculty of Agriculture, University of March (UNS) has produced numerous documents in the form
of thesis research conducted by students of S1. If the document is processed thesis, may be found
patterns or trends that are beneficial to the faculty. Therefore the text mining needs to be done to
document the thesis by using clustering methods. This study will perform clustering documents UNS
thesis at the Faculty of Agriculture in 2008 through 2013 by using algorithms Self-Organizing Map
(SOM). Before the clustering process, abstract first processed through text preprocessing stage and
TF-IDF weighting. In this study using cluster input as much as 49, iteration 1000 and lerarning rate of
0.1. After clustering, then analysis estimates theme by reading the title of the document one by one
and see the top 10 keywords in each document. The results showed that there are several clusters
where the theme of clusters have the potential to do a collaboration with all or some of the majors.
There is also a cluster may be a theme in the cluster can not be done collaborations. This is because
only certain majors who had conducted research on the cluster. But it could be the theme it can be
input for other departments in future research. Department of Agribusiness has spread trend themes
that vary in each year. While on Agroteknologi majors, majors ITP, as well as the Department of
Livestock theme that many are taken each year just in the cluster that's it. Possible themes in the
cluster outdated.
Keyword:Text Mining, Text Preprocessing, TF-IDF, Clustering, Self-Organizing Map

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 55


PENDAHULUAN karakteristik tertentu yang kemudian diberi
label sesuai keinginan pemiliknya[2]. Oleh
Selama ini fakultas Pertanian UNS
telah menghasilkan banyak penelitian, karena itu, clustering dokumen dapat dide-
finisikan sebagai suatu kegiatan penge-
khususnya penelitian berupa skripsi yang
dilakukan oleh mahasiswa S1. Selain lompokan dokumen menjadi beberapa
cluster. Ada beberapa algoritma dalam
tersimpan dalam bentuk buku, dokumen
skripsi tersebut juga tersimpan dalam clustering, salah satunya adalah algoritma
Self-Organizing Map (SOM). SOM meru-
bentuk dokumen pdf maupun html. Namun
kumpulan dokumen skripsi tersebut hanya pakan algoritma dengan teknik pelatihan
jaringan syaraf tiruan yang pertama kali
dibiarkan menumpuk begitu saja. Padahal
diperkenalkan oleh Kohonen. SOM meng-
jika diolah, mungkin akan ditemukan suatu
pola atau tren yang bermanfaat bagi pihak gunakan basis winner takes all, dimana
hanya neuron pemenang yang akan
fakultas.
Selama ini belum ada pihak yang diperbaharui bobotnya[2].
Penelitian terkait dengan clustering
melakukan penelitian terhadap dokumen-
dokumen maupun clustering dengan
dokumen skripsi yang ada di UNS
menggunakan algoritma SOM sudah
khususnya di fakultas Pertanian. Padahal
dimungkinkan pola penelitiannya sama banyak dilakukan. Salah satunya adalah
tiap tahunnya, atau mungkin ada beberapa penelitian oleh Yiheng Chen et al[3] yang
tema skripsi yang dapat dijadikan kola- membandingkan algoritma SOM dengan
borasi antar jurusan. Oleh karena itu perlu algoritma k-means dalam kasus clustering
dilakukan mining terhadap kumpulan doku- dokumen. Pada penelitian tersebut teri-
men skripsi tersebut. Text mining merupa- dentifikasi bahwa secara keseluruhan
kan variasi dari data mining dimana data kinerja algoritma SOM lebih bagus dari
yang diolah berupa teks. pada algoritma K-means untuk kasus
Text mining dapat didefinisikan clustering dokumen. SOM tidak sensitif
secara luas sebagai proses mengekstrak terhadap inisialisasi awal, ditunjukkan
informasi yang berguna dari sumber data dengan f-meansure yang stabil selama
teks melalui identifikasi dan eksplorasi dua puluh kali percobaan. Sedangkan K-
pola yang menarik[1]. Munculnya text Means tidak stabil terhadap inisialisasi
awal. Sealin itu jumlah iterasi pada K-
mining didasarkan pada kenyataan bahwa
Means juga berbeda setiap kali dilakukan
semakin banyak dokumen yang tersimpan
percobaan.
dalam bentuk teks dan kadang dokumen
Berdasarkan penelitian tersebut,
tersebut hanya dibiarkan begitu saja.
Padahal jika kumpulan dokumen tersebut penulis akan mencoba menerapkan me-
diolah lebih lanjut, akan didapatkan suatu tode text mining menggunakan algoritma
SOM untuk clustering dokumen skripsi
informasi yang mungkin berguna bagi
yang ada di fakultas Pertanian UNS.
instansi atau pemiliknya.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola
Salah satu bentuk dari text mining
skripsi yang ada di fakultas Pertanian UNS
adalah clustering. Clustering merupakan
yang sebelumnya telah dilakukan proses
kegiatan pemecahan data ke dalam
clustering. Diharapkan dengan dilakukan-
sejumlah kelompok atau cluster menurut

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 56


nya penelitian ini dapat memberi masukan trak dokumen dan menghasilkan keluaran
dan bahan evaluasi bagi pihak fakultas abstrak dengan huruf kecil semua dan
Pertanian UNS. hanya ada karakter a sampai z. Sedang-
kan pada tokenizing, output dari case
METODE
folding akan menjadi masukan dan meng-
Studi literatur dilakukan untuk hasilkan keluaran kata-kata yang telah
mengumpulkan bahan referensi melalui terurai. Kemudian pada filtering menggu-
pencarian di internet, jurnal-jurnal peneli- nakan inputan hasil tokenizing dan meng-
tian, serta buku pendukung yang relevan hasilkan keluaran kata-kata yang bukan
dan berhubungan dengan permasalahan, termasuk stoplist. Untuk stemming, ma-
analisis, dan implementasi sistem. sukan berupa hasil filtering dan meng-
Penelitian ini menggunakan data hasilkan keluaran berupa kata dasa. Pada
sekunder yaitu dokumen skripsi yang ada proses stemming menggunakan kamus
di fakultas Pertanian UNS dengan tahun kata dasar dan algoritma Nazief dan
pembuatan 2008 sampai 2013. Data Adriani. Pada filtering hasil stemming
diperoleh dengan meminta secara lang- proses mirip dengan proses filtering, ha-
sung kepada pihak perpustakaan UNS. nya masukkannya saja yang berbeda yaitu
Bagian dokumen yang akan digunakan menggunakan masukkan hasil stemming.
untuk input-an saat clustering adalah Tahap Pembobotan TF-IDF
bagian abstrak dokumen yang berbahasa Tahap pembobotan TF-IDF diawali
Indonesia saja. dengan menghitung TF dengan cara
Sebelum dilakukan proses clustering, menghitung frekuensi kemunculan term t
dokumen yang telah terkumpul akan dalam sebuah dokumen d pada hasil
dilakukan pemilahan. Dokumen dengan filtering hasil stemming. Kemudian dicari
abstrak yang tidak berbahasa Indonesia nilai DF yaitu banyaknya dokumen yang
atau memiliki keterangan kurang lengkap mengandung term t. Lalu dilakukan feature
(tidak ada tahun, jurusan, atau abstrak) selection pada term tersebut berdasarkan
akan dihapus. Selanjutnya, data akan threshold batas maksimal dan minimal
disimpan dalam database menggunakan yang diberikan. Selanjutnya dilakukan
MySQL database. perhitungan IDF dimana hasil DF akan
Pada tahap penerapan metode ini dijadikan sebagai input-an. Barulah dida-
akan dilakukan implementasi sistem agar patkan bobot TF-IDF dengan mengalikan
dapat memudahkan dalam tahap analisis hasil TF dengan IDF.
terhadap hasil clustering dokumen pene- Tahap Clustering
litian di UNS. Seluruh fungsi yang dibu- Setelah melakukan pembobotan
tuhkan diterjemahkan ke dalam rangkaian TF-IDF, lalu dilakukan tahap clustering
kode dengan menggunakan bahasa pem- dengan menggunakan algoritma SOM.
rograman PHP. Bobot yang di hasilkan pada tahap TF-IDF
Tahap Text Preprocessing digunakan sebagai input-an. Setelah itu,
Tahapan text preprocessing meliputi menginisialiasasi topologi SOM, jumlah
casse folding, tokenizing, filtering, stem- iterasi, laju pembelajaran, radius ketetang-
ming, serta filtering hasil stemming. Pada gan, width dan height-nya, serta random
case folding menggunakan masukan abs-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 57


bobot awal. Kemudian diolah mengguna- kukan proses casefolding dengan cara
kan algoritma SOM yang telah dijelaskan mengubah semua huruf menjadi huruf
pada dasar teori. kecil serta membuang karakter selain
Tahap Analisis huruf a sampai z. Setelah melalui proses
Pada tahap ini akan dilakukan case folding, jumlah kata sedikit berkurang
analisis terhadap hasil clustering dokumen dan tersisa 376 kata. Kemudian dilakukan
skripsi di fakultas Pertanian UNS. Analisis proses tokenizing. Pada proses ini tidak
pertama yaitu analisis mengenai tema pa- ada pengurangan kata, karena hanya
da setiap clusternya. Analisis kedua yaitu melakukan proses pemecahan kata saja.
analisis mengenai pola yang terbentuk dari Selanjutnya dilakukan proses filtering
hasil clustering. Pola pertama yaitu mere- dengan membuang kata-kata yang cocok
presentasikan hasil cluster antar jurusan. dengan kamus stopwords. Pada proses
Sedangkan pola kedua, merepresentasi- ini, terjadi pengurangan kata dari sebelum-
kan hasil clustering setiap jurusan per- nya 376 kata menjadi 168 kata. Hal ini
tahunnya. berarti pada abstrak dokumen tersebut
Tahap Validasi terdapat 208 kata yang tidak penting atau
Untuk mengevaluasi apakah hasil stopwords. Proses selanjutnya adalah
clustering yang diperoleh sudah sesuai stemming dengan menggunakan algoritma
atau tidak, maka perlu dilakukan validasi Nazief & Adriani. Tidak ada pengurangan
kepada pihak yang lebih mengerti ter- kata pada proses ini, karena hanya
hadap data tersebut. Validasi pada merubah bentuk kata menjadi kata dasar.
penelitian ini akan dilakukan dengan cara Meskipun sebelumnya sudah dilaku-
bertanya secara langsung kepada Pem- kan proses filtering, tapi terkadang ada
bantu Dekan 1 (PD 1) fakultas Pertanian kata yang setelah dicari kata dasarnya
UNS. Alasan memilih PD 1 sebagai pihak ternyata terdeteksi stopword. Hal ini dise-
validator adalah karena PD 1 merupakan babkan keterbatasan kamus pada stop-
penanggung jawab bagian akademik dan word. Sehingga perlu dilakukan proses
pendidikan fakultas. filtering lagi terhadap hasil stemming.
HASIL Setelah dilakukan filtering lagi terhadap
hasil stemming, terjadi pengurangan kata
Setelah dilakukan pemilahan terhadap dari sebelumnya 168 kata menjadi 139
1.385 dokumen skripsi yang ada di kata. Hal ini berarti masih ada 29 kata
fakultas Pertanian UNS, didapatkan 1.291 yang belum terdeteksi stopword pada
dokumen yang siap dilakukan proses text proses filtering sebelumnya.
preprocessing dan clustering. Pada kasus Hasil dari text preprocessing diubah ke
ini, akanmengambil salah satu dokumen dalam bentuk vektor m x n, dimana m
untuk dijadikan sebagai contoh yaitu doku- adalah jumlah term dan n adalah jumlah
men dengan judul Analisis pemetaan dan dokumen. Kemudian dilakukan pembobot-
strategi pengembangan agroindustri abon an terhadap term/kata tersebut dengan
sapi di Kota Surakarta. Abstrak dokumen perhitungan TF-IDF. Tabel 1 merupakan
tersebut mempunyai 380 keywords dan sampel dokumen yang telah melalui
beberapa karakter lain. Setelah itu dila- proses text preprocessing.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 58


Tabel 1. Contoh dokumen untuk perhitungan TF-IDF
Dok Key1 Key2 Key3 Key4 Key5 Key6
D1 tani basis Agraris Padi
D2 tani sayur Komoditas Sayur Kebun
D3 padi komoditas Pokok produksi Tanam padi
D4 tanam karet Komoditas Kebun Ekspor

Langkah pertama pada proses pem- telah ditentukan, maka term tersebut akan
bobotan TF-IDF adalah menghitung nilai dibuang. Pada contoh ini hanya diberikan
TF dengan cara menghitung kemunculan minthreshold yaitu 2, dalam arti bahwa
term pada dokumen tertentu. Langkah term dengan nilai DF dibawah 2 akan
kedua menghitung nilai Document Fre- dibuang. Lihat hasilnya pada Tabel 3
quency-nya (DF) yaitu jumlah dokumen kolom DF.
yang mengandung term tersebut. Hasil Berdasarkan hasil seleksi kata de-
dari perhitungan TF serta DF dapat dilihat ngan feature selection DF, terjadi pengu-
pada Tabel 2. rangan kata dari 12 kata menjadi 5. Untuk
kasus feature selection pada dokumen
Tabel 2. Hasil dari perhitungan TF serta skripsi fakultas Pertanian UNS meng-
DF yang belum mengalami gunakan min threshold 6 dan max thres-
proses feature selection hold 300. Oleh karena itu kata dengan DF
Term D1 D2 D3 D4 DF dibawah 6 dan kata dengan DF diatas 300
Tani 1 1 0 0 2 akan dihapus. Dari proses tersebut diha-
Basis 1 0 0 0 1 silkan pengurangan kata dari awalnya
Agraris 1 0 0 0 1 7.902 kata menjadi 1.413 kata. Pengu-
Sayur 2 0 0 0 1 rangan kata ini sangat berpengaruh pada
komoditas 0 1 1 1 3
waktu komputasi proses selanjutnya.
Kebun 0 1 0 1 2
Tanam 0 0 1 1 2 Langkah ketiga yaitu perhitungan IDF
Padi 1 0 2 0 2 menggunakan rumus: (log , dima-
( )
Pokok 0 0 1 0 1
Produksi 0 0 1 0 1 na N adalah jumlah keseluruhan dokumen
Karet 0 0 0 1 1 dan DF(d) adalah nilai DF yang sudah
Ekspor 0 0 0 1 1 dihitung pada proses sebelumnya. Lang-
kah terakhir dalam perhitungan pembo-
Lalu term yang sudah dicari nilai DF- botan adalah perhitungan TF-IDF dengan
nya diseleksi berdasarkan nilai threshold. cara mengalikan hasil TF dengan hasil
Jika nilai DF berada di bawah min- IDF. Lihat Tabel 3 untuk melihat semua
threshold atau di atas maxthreshold yang hasil dari proses TF, DF, IDF dan TF-IDF.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 59


Tabel 3 Hasil perhitungan TF, DF, IDF, dan TF-IDF
TF TF-IDF
Term DF IDF
D1 D2 D3 D4 D1 D2 D3 D4
Tani 1 1 0 0 2 0,301 0,301 0,301 0 0
Komoditas 0 1 1 1 3 0,125 0 0,125 0,125 0,125
Kebun 0 1 0 1 2 0,301 0 0,301 0 0
Tanam 0 0 1 1 2 0,301 0 0 0,301 0,301
Padi 1 0 2 0 2 0,301 0,301 0 0,602 0

Setelah dilakukan pembobotan TF- Dari hasil proses clustering, dida-


IDF terhadap term, tahap selanjutnya yaitu patkan beberapa pola. Pola pertama yaitu
melakukan proses clustering. Langkah merepresentasikan hasil clustering antar
pertama yaitu menentukan jumlah iterasi, jurusan. Tabel 4 merupakan representasi
learning rate, radius ketetanggan, width hasil cluster pada tiap jurusan. Pada baris
dan height (cluster =width x height). Pada pertama A adalah jurusan Agribisnis, B
penelitian ini ditetapkan jumlah iterasi adalah jurusan Agroteknologi, C adalah
sebesar 1000, learningrate 0.1, serta width jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP),
dan heigh 7x7. Pemilihan jumlah cluster, dan D adalah jurusan Peternakan.
learningrate serta width dan height sudah
melalui beberapa kali percobaan. Kemu- Tabel 4 Representasi Cluster per Jurusan
dian sistem secara otomatis akan mem- CLUSTER A B C D Jumlah
buat bobot secara random dengan nilai C1 17 17
antara 0.01 0.05. Setelah itu dilakukan C2 1 63 64
proses clustering SOM dengan cara se- C3 8 8 13 29
perti pada dasar teori. C4 1 55 56
Setelah dilakukan clustering, doku- C5 32 1 33
men yang memiliki banyak kemiripan key- C6 22 22
word akan mengelompok menjadi satu. C7 8 31 39
Selanjutnya dilakukan analisis perkiraan C8 3 19 2 24
tema dengan cara membaca satu persatu C9 6 7 12 1 26
judul dokumennya serta melihat 10 C10 18 18
C11 3 13 16
topkeyword pada masing-masing doku-
C12 17 2 19
mennya. Setelah membaca satu persatu
C13 7 7
judul serta 10 top keyword, terlihat bahwa
C14 31 31
pada cluster C1 kebanyakan dokumen
C15 6 9 15
membahas tentang analisis penawaran C16 1 36 37
maupun permintaan. Sehingga dapat C17 1 18 5 24
disimpulkan bahwa tema pada cluster C1 C18 1 38 4 43
berkisar tentang analisis penawaran mau- C19 1 9 10
pun permintaan. Sedangkan pada cluster C20 19 4 23
C2 kebanyakan dokumen membahas ten- C21 7 7
tang pemupukan. C22 6 7 13

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 60


CLUSTER A B C D Jumlah jurusan Agroteknolodi, ITP dan
C23 22 10 1 10 43 Peternakan.Contoh lain yaitu pada cluster
C24 1 14 15 C9 dengan tema ubi, dimana semua
C25 23 23 jurusan pernah melakukan penelitian
C26 8 8 skripsi dengan mengambil tema pada
C27 35 35 cluster tersebut. Dimungkinkan tema
C28 17 1 18 tersebut bisa dilakukan kolaborasi dengan
C29 55 55 semua jurusan. Ada juga cluster yang
C30 1 10 11 hanya pernah dilakukan penelitian oleh
C31 10 10 satu jurusan tertentu. Sebagai contoh
C32 33 1 34 pada cluster C1 dengan tema analisis
C33 1 5 12 1 19
penawaran/permintaan yang hanya
C34 33 33
dilakukan oleh mahasiswa pada jurursan
C35 17 17
Agribisnis. Mungkin tema pada cluster
C36 34 1 1 36
tersebut memang tidak bisa dilakukan
C37 17 17
kolaborasi antar jurusan. Namun bisa jadi
C38 29 29
C39 13 13 tema tersebut justru dapat menjadi
C40 3 23 26 masukan atau gambaran bagi jurusan lain
C41 30 30 pada penelitian yang akan datang.
C42 8 1 17 26
Tabel 5. Representasi Cluster Pertahun
C43 1 30 2 33
Pada Jurusan Agribisnis
C44 55 55
CLUS- 08 09 10 11 12 13 Jum-
C45 56 56
TER lah
C46 16 2 1 19
C1 1 1 2 5 6 2 17
C47 14 1 15
C2 1 1
C48 11 1 12
C3 0
C49 14 16 30 C4 1 1
Jumlah 507 397 160 227 1291 C5 4 1 8 11 4 4 32
C6 3 2 10 3 3 1 22
Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat C7 2 3 2 1 8
bahwa ada beberapa cluster yang pernah C8 1 2 3
dilakukan penelitian skripsi oleh beberapa C9 1 2 2 1 6
maupun semua jurusan. Hal ini C10 6 1 2 7 2 18
dimungkinkantema pada cluster C11 1 2 3
tersebutdapat dilakukan kolaborasi oleh C12 3 1 6 2 5 17
C13 0
beberapa maupun semua jurusan.
C14 0
Misalnya pada cluster C3 yang pernah
C15 0
dilakukan penelitian skripsi oleh delapan C16 1 1
mahasiswa Agroteknologi, delapan C17 0
mahasiswa ITP, dan 13 mahasiswa C18 1 1
Peternakan. Mungkin tema pada cluster C19 1 1
tersebut dapat dijadikan kolaborasi antara C20 0

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 61


CLUS- 08 09 10 11 12 13 Jum- CLUS- 08 09 10 11 12 13 Jum-
TER lah TER lah
C21 2 1 1 3 7 C8 5 4 4 4 2 19
C22 1 4 1 6 C9 3 3 1 7
C23 2 4 3 4 3 6 22 C10 0
C24 1 1 C11 1 1 1 3 5 2 13
C25 0 C12 0
C26 1 5 1 1 8 C13 1 3 3 7
C27 2 6 2 5 8 12 35 C14 5 4 10 3 7 2 31
C28 2 3 5 1 5 1 17 C15 2 2 2 6
C29 0 C16 3 6 6 7 10 4 36
C30 1 1 C17 1 1
C31 2 2 1 5 10 C18 0
C32 4 4 11 5 4 5 33 C19 3 3 3 9
C33 1 1 C20 2 1 4 6 6 19
C34 5 3 10 10 1 4 33 C21 0
C35 2 2 2 6 3 2 17 C22 4 2 1 7
C36 3 5 9 3 6 8 34 C23 1 5 4 10
C37 6 4 7 17 C24 2 7 1 4 14
C38 6 2 7 4 3 7 29 C25 0
C39 2 1 3 5 2 13 C26 0
C40 2 1 3 C27 0
C41 0 C28 1 1
C42 1 2 2 3 8 C29 0
C43 1 1 C30 4 2 3 1 10
C44 3 8 15 12 13 4 55 C31 0
C45 0 C32 0
C46 0 C33 2 2 1 5
C47 0 C34 0
C48 3 4 3 1 11 C35 0
C49 3 2 1 5 3 14 C36 1 1
Jumlah 52 62 107 106 85 95 507 C37 0
Rerata 3 3 5 4 4 4 C38 0
C39 0
C40 4 2 5 3 8 1 23
Tabel 6. Representasi Cluster Pertahun
C41 0
Pada Jurusan Agroteknologi
C42 0
CLUS- 08 09 10 11 12 13 Jum- C43 4 2 6 6 9 3 30
TER lah C44 0
C1 0 C45 0
C2 11 4 10 20 11 7 63 C46 2 1 3 1 8 1 16
C3 1 1 2 2 2 8 C47 5 2 5 2 14
C4 0 C48 0
C5 0 C49 2 2 3 9 16
C6 0 Jumlah 58 39 72 84 91 53 397
C7 5 2 3 9 7 5 31 Rerata 4 3 4 4 5 4

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 62


Tabel 7. Representasi Cluster Pertahun Tabel 8. Representasi Cluster Pertahun
Pada Jurusan ITP Pada Jurusan Peternakan
Clus- 08 09 10 11 12 13 Jum- Clus- 08 09 10 11 12 13 Jum-
ter lah ter lah
C1 0 C1 0
C2 0 C2 0
C3 1 1 1 1 4 8 C3 1 5 3 4 13
C4 0 C4 6 2 16 7 14 10 55
C5 0 C5 1 1
C6 0 C6 0
C7 0 C7 0
C8 2 2 C8 0
C9 3 1 5 3 12 C9 1 1
C10 0 C10 0
C11 0 C11 0
C12 0 C12 2 2
C13 0 C13 0
C14 0 C14 0
C15 2 1 3 3 9 C15 0
C16 0 C16 0
C17 4 1 6 2 1 4 18 C17 2 1 1 1 5
C18 3 3 14 8 3 7 38 C18 1 2 1 4
C19 0 C19 0
C20 0 C20 3 1 4
C21 0 C21 0
C22 0 C22 0
C23 1 1 C23 1 8 1 10
C24 0 C24 0
C25 1 6 5 3 3 5 23 C25 0
C26 0 C26 0
C27 0 C27 0
C28 0 C28 0
C29 0 C29 25 11 15 3 1 55
C30 0 C30 0
C31 0 C31 0
C32 0 C32 1 1
C33 2 2 5 1 2 12 C33 1 1
C34 0 C34 0
C35 0 C35 0
C36 0 C36 1 1
C37 0 C37 0
C38 0 C38 0
C39 0 C39 0
C40 0 C40 0
C41 1 14 10 4 1 30 C41 0
C42 1 1 C42 1 3 1 8 4 17
C43 2 2 C43 0
C44 0 C44 0
C45 0 C45 20 17 11 3 1 4 56
C46 1 1 2 C46 1 1
C47 1 1 C47 0
C48 1 1 C48 0
C49 0 C49 0
Jumlah 18 15 55 27 18 27 160 Jumlah 51 31 50 25 40 30 227
Rerata 2 2 6 4 2 3 Rerata 17 8 6 3 4 3

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 63


Pola kedua yaitu merepresentasikan memiliki tema yang sama mengenai pu-
hasil clustering dengan tahun pembuatan puk yaitu pada cluster C2 serta C7. Hal ini
skripsi perjurusan. Pada Tabel 4, 5, 6, 7, berarti tema yang banyak diambil oleh
dan 8, baris pertama terdapat tulisan 08 mahasiswa jurusan Agroteknologi di tiap
sampai 13 menunjukkan tahun 2008 tahunnya adalah mengenai pupuk.
sampai 2013. Bagian tabel yang ditandai Berdasarkan Tabel 7, cluster yang
dengan warna hijau, menunjukkan jumlah paling banyak yang memiliki jumlah doku-
dokumen yang berada diatas rata-rata. men diatas rata-rata pada jurusan ITP tiap
Artinya bahwa pada sel tersebut memiliki tahunnya adalah cluster C18 dengan tema
jumlah dokumen diatas rata-rata. Rata-rata tepung. Tema lain yang cukup diminati
pertahun pada setiap jurusan dapat dilihat yaitu pada cluster C25, dan C41 dimana
pada table 5, 6, 7, 8 baris terakhir. Hasil masing-masing cluster bertemakan Ka-
rata-rata berupa bilangan bulat karena rakter sensoris dan fisiko kimia dan akti-
menyatakan jumlah dokumen. Pada kasus vitas antioksidan.
ini rata-rata dihitung dengan rumus: Pada jurusan Peternakan (lihat tabel
8), cluster yang memiliki jumlah dokumen
diatas rata-rata di tiap tahunnya terletak
! " "
pada cluster C4, C29, dan C45. Selain itu
tema pada ketiga cluster tersebut memiliki
Pada tabel 5 terlihat bahwa sel yang
tema yang sama yaitu mengenai ransum.
memiliki jumlah dokumen diatas rata-rata
Dengan demikian dapat diambil kesim-
menyebar di beberapa cluster ditiap
pulan bahwa tema skripsi yang banyak
tahunnya. Artinya bahwa tema skripsi yang
diambil oleh mahasiswa di jurusan Peter-
banyak diambil di jurusan Agribisnis tiap
nakan hanya berkiras tentang ransum.
tahunnya memang tidak hanya itu-itu saja.
Oleh karena itu, dapat diambil kesim-
Tema yang lumayan diminati tiap tahunnya
pulan bahwa pada jurusan Agribisnis me-
yaitu pada cluster C27, C32, C34, C36,
miliki penyebaran tren tema yang bervari-
dan C44 dimana pada cluster tersebut
asi ditiap tahunnya. Sedangkan pada juru-
memiliki jumlah dokumen yang lebih tinggi
san Agroteknologi, jurusan ITP, serta juru-
dibandingkan cluster lain. Cluster C3
san Peternakan tema yang banyak diambil
memiliki tema Analisis usaha tani, cluster
tiap tahunnya hanya di cluster itu-itu saja.
C32 memiliki tema Analisis usaha in-
Dimungkinkan tema pada cluster tersebut
dustri, cluster C34 memiliki tema Penyu-
ketinggalan jaman.
luhan, cluster C36 memiliki tema Analisis
Untuk mengevaluasi apakah hasil
perilaku konsumen, dan cluster 44 memi-
clustering yang diperoleh sudah sesuai
liki tema Strategi pengembangan komoditi
atau tidak, maka dilakukan validasi kepada
industri.
pihak yang lebih mengerti terhadap data
Pada jurusan Agroteknologi (lihat
tersebut. Validasi pada penelitian ini dila-
Tabel 6), sel yang memiliki jumlah doku-
kukan dengan cara bertanya secara lang-
men diatas rata-rata berada pada cluster
sung kepada Prof. Dr Samanhudi, SP, Msi
C2, C7, C14, dan C16. Namun ada dua
selaku Pembantu Dekan 1 fakultas Perta-
cluster dengan total dokumen yang tinggi
nian UNS. Beliau menyatakan bahwa hasil

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 64


analisis penelitian ini sesuai dengan kon- DAFTAR RUJUKAN
disi sebenarnya di lapangan. Untuk tema [1] Feldman, R. & Sanger, J. The Text
pada jurusan Agribisnis memiliki penyeba-
Mining Handbook. New York:
ran tren tema yang bervariasi karena
Cambridge University Press. 2007
lingkup bidang kajiannya memang cukup [2] Prasetyo, E. DATA MINING : Konsep
luas. Sedangkan pada jurusan Agrotek-
dan Aplikasi menggunakan MATLAB.
nologi, jurusan ITP serta jurusan Peterna-
Yogyakarta : ANDI. 2012
kan kurang bervariasi karena lingkup bi-
[3] Chen, Y., Qin, B., Liu, T., & Liu, Y., Li,
dang kajiannya lebih sempit. Beliau juga S. The Comparison of SOM and K-
menyampaikan bahwa hasil penelitian ini means for Text Clustering. Computer
dapat dijadikan sebagai dasar pengem-
and Information Science. 2010 3 (2)
bangan penelitian di jurusan Agroteknolo- [4] Affandy, Supriyanto, C. Kombinasi
gi, ITP serta Peternakan agar kedepannya
Teknik Chi Square Dan Singular
dapat lebih bervariasi lagi.
Value Decomposition Untuk Reduksi
SIMPULAN Fitur Pada Pengelompokan
Berdasarkan hasil penelitian dapat Dokumen. Seminar Nasional
disimpulkan bahwa beberapa cluster dima- Teknologi Informasi & Komunikasi
na tema pada cluster tersebut berpotensi Terapan, 2011
untuk dilakukan kolaborasi dengan semua [5] Langgeni, D. P., Baizal, ZK. &
jurusan maupun beberapa jurusan saja. Firdaus, A.W. Clustering Artikel Berita
Ada juga cluster yang mungkin tema pada Berbahasa Indonesia Menggunakan
cluster tersebut tidak bisa dilakukan kola- Unsupervised Feature Selection.
borasi. Hal ini dikarenakan hanya jurusan Seminar Nasional Informatika 2010
tertentu yang pernah melakukan penelitian (semnasIF 2010). Yogyakarta. 2010
pada cluster tersebut. Namun bisa jadi [6] Han, J. & Kamber, M. Data Mining:
tema tersebut justru dapat menjadi masuk- Concepts and Techniques. San
an bagi jurusan lain pada penelitian yang Francisco: Morgan Kaufman. 2006
akan datang. [7] Guthikonda, S. M. Kohonen Self-
Jurusan Agribisnis memiliki penye- Organizing Maps. shyamguth
baran tren tema yang bervariasi ditiap ATgmail.com Wittenberg University.2005
tahunnya. Sedangkan pada jurusan Agro-
teknologi, jurusan ITP, serta jurusan Peter-
nakan tema yang banyak diambil tiap
tahunnya hanya di cluster itu-itu saja. De-
ngan demikian, dapat diduga bahwa tema
pada cluster tersebut ketinggalan jaman.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 65


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 66-77

Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR


RANGKAIAN LISTRIK MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
MODEL STAD

Djoko Santoso & Umi Rochayati


Universitas Negeri Yogyakarta
Email: djokosantoso@uny.ac.id

ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, hasil belajar serta tanggapan
mahasiswa terhadap implementasi pembelajaran kooperatif model STAD. Model penelitian tindakan
kelas dengan tiga siklus, dilaksanakan tiga bulan terhadap mahasiswa S1 reguler Jurusan Teknik
Elektronika yang mengambil mata kuliah rangkaian listrik. Pegumpulan data dengan dokumentasi,
observasi, dan tes, angket. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran kooperatif STAD dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran. Proses pembelajaran terkesan lebih menarik karena mahasiswa
bukan lagi sebagai obyek tetapi lebih sebagai subyek dalam pembelajaran. Kondisi pembelajaran
diwarnai dengan aktivitas diskusi kelompok, mahasiswa berperan aktif dan saling ketergantungan satu
sama lain dalam penguasaan konsep, sehingga terjadi interaksi belajar multi arah, peran dosen justru
sebagai fasilitator. Hasil belajar mahasiswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Tanggapan
mahasiswa terhadap implementasi pembelajaran kooperatif STAD 10,81 % menyatakan sangat setuju
dan 89,19 % menyatakan setuju.
Kata kunci : STAD, PTK, proses pembelajaran, hasil belajar

ABSTRACT

The study aims to improve the quality of learning, learning outcomes and students response to
the implementation of STAD cooperative learning model. The study was a classroom action research
in three cycles, conducted in three months for the students of Electronics Engineering Department who
took Electric Circuits course. The data collection techniques were documentation, observations, tests,
and questionnaires. The results showed that STAD cooperative learning could improve the quality of
the learning. The learning process was more attractive because the students were no longer as the
object but rather as the subject in the learning process. The learning condition was filled with group
discussions, the students performed active roles and were interdependence with one another in the
mastery of concepts, resulting in a multi-directions learning interaction, and the role of the lecturer was
only as a facilitator. The students learning outcomes increased in each cycle. The students response
to the implementation of STAD cooperative learning was 10.81% strongly agree and 89.19% agree.
Keywords: STAD, classroom action research, learning process, learning outcomes

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 66


PENDAHULUAN mencoba mengubah budaya perkuliahan
dari teacher centered learning ke student
Perkuliahan mata kuliah rangkaian
centered learning.
listrik di Jurusan Pendidikan Teknik Elek-
Penelitian ini akan memngungkap:
tronika Fakultas Teknik Universitas Negeri
(1) pembelajaran kooperatif model STAD
Yogyakarta merupakan bagian dari ke-
apakah dapat meningkatkan kualitas
rangka dasar proses pemahaman maha-
proses belajar rangkaian listrik pada ma-
siswa terhadap masalah kelistrikkan. Pe-
hasiswa Jurusan Teknik Elektronika FT
ngajaran rangkaian listrik pada mahasiswa
UNY, (2) pembelajaran kooperatif model
memberikan suatu tantangan yang besar
STAD apakah dapat meningkatkan hasil
bagi pengajarnya. Hal ini disebabkan dari
belajar rangkaian listrik pada mahasiswa
sejumlah besar materi rangkaian listrik
Jurusan Teknik Elektronika FT UNY, (3)
terdiri dari konsep-konsep yang abstrak.
tanggapan mahasiswa Jurusan Teknik
Fakta dan data menunjukkan bahwa
Elektronika FT UNY terhadap implemen-
penguasaan mahasiswa di bidang ilmu
tasi pembelajaran kooperatif model STAD
kelistrikkan terutama pada pemahaman
pada mata kuliah rangkaian listrik.
konsep masih rendah dan banyak meng-
Belajar dan mengajar sebagai suatu
alami berbagai macam kendala. Ini dapat
proses mengandung tiga unsur yang dapat
dipahami karena besaran listrik memang
dibedakan, yakni tujuan pengajaran, pe-
tidak bisa dilihat langsung tanpa bantuan
ngalaman (proses) belajar-mengajar, dan
alat ukur (seperti: arus, tegangan, daya,
hasil belajar[1]. Dalam pembelajaran koo-
hambatan dsb) tetapi semuanya dapat
dirancang, dihitung dan dapat dimanfaat- peratif mahasiswa belajar dan bekerja
kan. Ditambah lagi selama ini proses dalam kelompok-kelompok kecil terdiri dari
pembelajaran yang diterapkan pada per- tiga sampai empat orang. Sebagaimana
kuliahan rangkaian listrik masih meng- dikemukakan[2] pembelajaran kooperatif
gunakan metode teacher centered learning merupakan bentuk pengajaran yang
dimana peran dosen masih sangat domi- menekankan adanya kerja sama, yaitu
nan sehingga berdampak pada kurang kerja sama antar kelompoknya untuk
mandirinya mahasiswa. Gejala ini dapat mencapai tujuan belajar. Hal ini dimak-
diamati dari kurangnya interaksi antara sudkan agar interaksi mahasiswa menjadi
mahasiswa dengan dosen apabila ada maksimal dan efektif. Demikian pula[3]
permasalahan tentang konsep kelistrikan menyatakan mahasiswa yang bekerja
yang dilontarkan dosen ke mahasiswa, dalam situasi pembelajaran kooperatif
mahasiswa cenderung diam. Diam disini didorong dan atau dikehendaki untuk
dapat diartikan apakah mahasiswa terse- bekerjasama pada suatu tugas bersama,
but tidak mengerti atau tidak tahu apa dan mereka mengkoordinasikan usahanya
yang harus ditanyakan. untuk menyelesaikan tugasnya. Pembela-
Demikian pula umumnya mahasis- jaran kooperatif tidak semata-mata memin-
wa dalam mempelajarinya tidak terlalu ta mahasiswa bekerja secara kelompok
peduli pada hakekat konsep, tetapi yang dengan cara mereka sendiri tetapi mereka
diutamakan adalah menghitung hasil akhir. harus bekerja sama untuk mencapai
tujuan bersama. Model pembelajaran ini
Berangkat dari permasalahan ini peneliti

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 67


berpandangan bahwa mahasiswa akan mengetahui hasil belajar mahasiswa, se-
lebih mudah menemukan dan memahami mentara dosen memberikan penguatan
konsep-konsep yang sulit apabila mereka dalam dialog tersebut. Dalam pelaksanaan
saling mendiskusikan konsep-konsep ter- pembelajaran kooperatif ada tiga tahap
sebut dengan teman sebayanya[4]. Pada yang dilakukan oleh pengajar, yaitu persi-
dasarnya, pengelompokan bukanlah tuju- apan, proses belajar, dan evaluasi.
an utama belajar kooperatif. Paulina[5] METODE
menyatakan, belajar kooperatif menuntut
adanya modifikasi tujuan pembelajaran da- Penelitian tindakan kelas ini meng-
ri sekedar penyampaian informasi (transfer gunakan model rancangan penelitian
of information) menjadi konstruksi penge- tindakan kelas yang dikembangkan oleh
tahuan (construction of knowledge) oleh Kemmis & Mc Taggart[6]. Pelaksanaanya
individu mahasiswa melalui belajar berlangsung tiga siklus yang disesuaikan
kelompok. dengan alokasi waktu dan pokok bahasan
Lebih lanjut Slavin[4] menyatakan yang dipilih. Tiap siklus terdiri dari 4
beberapa bentuk pembelajaran kooperatif kegiatan, yaitu: 1) perencanaan berisi ren-
meliputi: Student Teams Achievement cana tindakan yang akan dilakukan untuk
Divisions (STAD), Jigsaw II, Teams memperbaiki, meningkatkan atau mengu-
Games-Tournaments (TGT). Paulina[5] me- bah perilaku dan sikap sebagai solusi; 2)
ngatakan STAD terdiri dari empat langkah, tindakan berisi kegiatan yang dilakukan
yaitu: sajian dosen, diskusi kelompok peneliti sebagai upaya perbaikan, pening-
mahasiswa, tes/kuis silang tanya antar katan atau perubahan yang diinginkan; 3)
kelompok, dan penguatan dari dosen. Saji- observasi, pengamatan atas hasil dari tin-
an dosen meliputi penyajian pokok perma- dakan yang dilakukan; dan 4) refleksi,
salahan, kaidah, dan prinsip-prinsip bidang peneliti mengkaji, melihat dan mempertim-
ilmu. Penyajian dosen dalam bentuk cera- bangkan atas hasil atau dampak dari
mah, tanya jawab. Diskusi kelompok dila- tindakan yang dilakukan.
kukan berdasarkan permasalahan yang Penelitian dilaksanakan di Jurusan
disam-paikan oleh dosen, oleh sekelom- Pendidikan Teknik Elektronika FT UNY.
pok mahasiswa yang cukup heterogen. Subyek penelitian mahasiswa S1 reguler
Peran dosen sangat diperlukan untuk me- Program Studi Pendidikan Teknik Elektro-
ngatasi konflik antar anggota kelompok. nika yang mengambil mata kuliah rang-
Diskusi kelompok merupakan komponen kaian listrik sebanyak 37 mahasiswa.
yang paling penting, karena sangat berpe- Pengumpulan data dilakukan dengan
ran dalam aktualisasi kelompok secara teknik dokumentasi, observasi, tes, dan
sinergis untuk mencapai hasil yang ter- angket. Instrumen yang digunakan dalam
baik, dan pembimbingan antar anggota ke- penelitian meliputi: lembar observasi, tes
lompok sehingga seluruh anggota kelom- tertulis, dan angket. Instrumen observasi
pok sebagai satu kesatuan dapat menca- disusun berdasarkan komponen dasar
pai yang terbaik. Setelah pendalaman pembelajaran kooperatif. Tes tertulis
mate-ri, dilakukan tes/kuis atau silang digunakan untuk mengetahui kualitas hasil
tanya antar kelompok mahasiswa untuk belajar. Soal tes tertulis dilakukan judg-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 68


ment terlebih dahulu pada ahlinya. Angket pok harus bersifat heterogen dilihat dari
untuk mengetahui tanggapan mahasiswa segi kemampuan akademiknya.
terhadap pembelajaran kooperatif, diguna- Siklus I dengan materi: (1) Penger-
kan angket tertutup dan angket terbuka, tian listrik DC, Resistansi, kapasitansi,
namun sebelum analisis lebih jauh terlebih Induktansi; dan (2) Hukum Ohm, Hukum
dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Kirchoff I dan II. Dilakukan sebanyak 2 kali
Teknik analisis data adalah kuali- pertemuan setiap pertemuan kegiatan
tatif, ini untuk menggambarkan keterlak- pembelajaran lebih diorientasikan pada
sanaan tindakan dalam pelaksanaan pem- peran mahasiswa aktif dalam belajar.
belajaran dan mendeskripsikan aktivitas Pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan
mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran. penyelenggaran PBM dan observasi de-
untuk analisis respon mahasiswa terhadap ngan mencatat apa saja yang diamati saat
pelaksanaan pembelajaran digunakan proses pembelajaran berlangsung sesuai
deskriptif persentase. poin-poin yang telah tersedia dalam
lembar observasi.
HASIL
Hasil pengamatan siklus I pertemu-
Sebelum melakukan tindakan, ter- an pertama, mahasiswa dalam mengerja-
lebih dahulu dilakukan diskusi sesama tim kan tugas kelompok belum kompak,
peneliti mengenai tata cara pelaksanaan, mereka dalam mengerjakan tugas masih
penetapan materi pembelajaran, waktu, didominasi secara individu, argumentasi-
dan menghasilkan kesepahaman menge- pun belum begitu nampak. Tetapi konsen-
nai rencana tindakan untuk meningkatkan trasi dalam mengikuti PBM tinggi, menger-
kualitas pembelajaran rangkaian listrik jakan tugas baik, dan menghargai penda-
melalui pembelajaran kooperatif model pat mahasiswa lain juga baik. Tetapi ber-
STAD. Selanjutnya menentukan pokok- tanya, merespon pertanyaan, dan mem-
pokok yang harus dilakukan dalam berikan pendapat untuk pemecahan masa-
menyusun rancangan pembelajaran koo- lah masih belum menggembirakan. Hasil
peratif STAD dan menentukan jumlah tabulasinya terlihat pada tabel 1.
kelompok, masing-masing anggota kelom-

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kegiatan Mahasiswa dalam PBM Siklus I


Pertemuan ke-
N
Aspek Pengamatan 1 2
o
Jml % Jml %
1 Perhatian/konsentrasi dalam mengikuti PBM 33 91,66 34 91,89
2 Mengajukan pertanyaan 5 13,51 7 18,92
3 Merespon pertanyaan 4 11,11 6 16,22
4 Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah 12 33,33 10 27,03
5. Menghargai pendapat mahasiswa lain 32 88,88 35 94,59
6. Mengerjakan tugas 36 100 37 100
7. Kerjasama 24 66,67 30 81,08
Jumlah mahasiswa yang hadir 36 97,30 37 100
Keterangan: Jumlah mahasiswa keseluruhan 37

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 69


Pertemuan kedua mahasiswa mulai jukkan pada tabel 2. Dari tabel tampak
terlihat antusias dan termotivasi dalam bahwa dari pertemuan ke pertemuan
mengerjakan tugas. Tetapi saat mulai terjadi peningkatan kualitas pelaksanaan
melaksanakan diskusi masih ada bebe- praktikum. Hal yang masih perlu diting-
rapa mahasiswa yang santai dan bekerja katkan terutama dalam mengenal nama
sendiri. Dari beberapa poin yang diamati alat ukur, membedakan skala, batas ukur,
semuanya terjadi peningkatan, argumen- kegunaan alat ukur, spesifikasi, membaca
tasi sudah mulai tampak, dominasi individu besaran harga bahan-bahan praktikum
mulai berkurang, mendorong anggota pada komponen kapasitor dalam setiap
kelompok untuk memberikan kontribusi percobaan dan kecermatan dalam pemba-
dalam memecahkan permasalahan mulai caan data percobaan. Ini dapat dimaklumi
berkembang dan pembelajaran tampak kenyataan melaksanakan praktikum labo-
hidup. ratorium bagi mereka yang dari SMA
Disamping perilaku yang diamati maupun MAN masih merupakan hal baru,
saat belajar teori, pengamatan juga di- maka banyak diperlukan penyesuaian baik
lakukan pada kegiatan praktikum, dari dua sikap maupun penggunaan peralatan
kali pertemuan kegiatan hasilnya ditun- praktikum.

Tabel 2. Rangkuman Penilaian Pelaksanaan Praktikum Kelompok


Rerata nilai
Skor
No Elemen yang dinilai pertemuan ke Rerata
maks
1 2
1 Kebenaran menyebut nama alat ukur 15 9.8 10.8 10.3
/peralatan/bahan praktikum
2 Kebenaran menyebut kegunaan alat ukur 10 6.4 6.6 6.5
/peralatan/bahan praktikum
3 Kecermatan dalam pembacaan batas ukur, 10 6.3 6.7 6.5
skala, spesifikasi / besaran bahan
4 Ketepatan waktu penyelesaian tugas 5 3.8 4 3.9
praktikum
5 Kerjasama 5 3.6 4 3.8
6 Melaksanakan praktikum dengan 10 6.6 6.8 6.7
mengindahkan keselamatan
7 Diskusi aktif penyelesaian tugas dan 10 6.5 6.8 6.65
pertanyaan dalam setiap percobaan
8 Tanggungjawab peminjaman dan 5 3.8 4 3.9
pengembalian peralatan praktikum
9 Kualitas interaksi aktif antar mahasiswa 10 6.6 6.7 6.65
dalam menyelesai-kan tugas praktikum
10 Kualitas interaksi mahasiswa dan dosen 10 6.6 6.8 6.7
dalam upaya pemecahan masalah
11 Laporan hasil kerja kelompok 10 6.6 6.8 6.7
Jumlah 100 66.6 70 68.3

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 70


Pembelajaran kooperatif model 70 dan dibawah nilai 66 sebanyak 30%.
STAD yang diterapkan pada siklus I ini Berdasarkan kriteria yang ditetapkan nilai
memang belum dapat dilaksanakan secara minimal 66, mahasiswa yang memperoleh
optimal, karena mahasiswa belum terbiasa nilai sama dengan atau lebih besar 66
sehingga aktivitas yang diharapkan belum 70,27 % sedangkan yang memperoleh nilai
muncul sesuai dengan harapan. Hasil tes lebih kecil dari 66 adalah 29,73 %; dengan
mahasiswa pada siklus I diperoleh rincian nilai rerata 67,17. Untuk melihat proporsi
sebagai berikut: 19 % memperoleh nilai 86- nilai mahasiswa secara grafis ditunjukkan
100; 5% memperoleh nilai 80-85; 3% pada gambar 1.
memperoleh nilai 75-79; 13% mempero-
.................................................
leh nilai 71-74, 30% memperoleh nilai 66-

Gambar 1. Proporsi nilai mahasiswa pada siklus I

Siklus II merupakan kelanjutan paralel, campuran, (2) Transformasi


siklus I, karena pelaksanaan pembelajaran segitiga-bintang dan bintang-segitiga.
siklus I belum sesuai dengan harapan. Dalam pelaksanaan perkuliahan
Siklus II pelakasanaanya juga dua kali dosen menyampaikan kompetensi pem-
pertemuan, setiap pertemuan kegiatan belajaran dilanjutkan dengan menjelaskan
pembelajaran lebih diorientasikan pada materi pelajaran dan diikuti tanya jawab.
peran aktif mahasiswa dalam belajar. Selanjutnya meminta mahasiswa untuk
Pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan memasuki kelompoknya masing-masing.
penyelenggaran PBM dan observasi Langkah berikutnya dosen memberikan
dengan mencatat apa saja yang diamati kasus/tugas kepada masing-masing maha-
saat proses pembelajaran berlangsung siswa dalam kelompok; tugas tersebut
sesuai poin-poin yang telah tersedia dalam dikerjakan secara diskusi oleh masing-
lembar observasi. Materi siklus II meliputi : masing kelompok dibawah bimbingan
(1) Rangkaian tahanan dihubung seri, dosen dengan waktu yang sudah diten-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 71


tukan. Dalam proses tersebut peneliti kompak, bertanya dan merespon perta-
bersama tim memgamati sekaligus mem- nyaan juga meningkat dibandingkan per-
bimbing kerjasama dalam kelompok. temuan sebelumnya, dominasi mahasiswa
Hasil pengamatan pembelajaran terhadap pemecahan masalah semakin
siklus II, secara keseluruhan mahasiswa berkurang, diskusi kelompok mulai meng-
sudah mulai menyesuaikan dengan model gembirakan.
pembelajaran yang dilakukan. Adanya Pertemuan kedua proses pembela-
beberapa perbaikan rencana pembela- jaran lebih santai, mahasiswa yang mau
jaran menampakkan hasil yang menggem- bertanya lebih banyak, diskusi sesama
birakan, yaitu dengan mempelajari materi teman maupun bertanya pada dosen
yang akan dibahas mahasiswa lebih siap semakin berani. Kondisi diskusi semakin
berdiskusi. Demikian pula dengan tugas hidup akibat mereka telah menyiapkan
yang kompleks membuat mahasiswa lebih materi lebih dahulu. Hasil pengamatan
serius dalam diskusi. Pertemuan pertama, yang dilakukan pada saat perkuliahan
dalam mengerjakan tugas kelompok mulai ditunjukkan tabel 3.

Tabel 3. Hasil Pengamatan Kegiatan Mahasiswa dalam PBM Siklus II


N Pertemuan ke-
Aspek Pengamatan 1 2
o Jml % Jml %
1 Perhatian/konsentrasi dalam mengikuti PBM 37 100 37 100
2 Mengajukan pertanyaan 7 18,92 8 21,62
3 Merespon pertanyaan 6 16,22 7 18,92
4 Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah 16 43,24 15 40,54
5. Menghargai pendapat mahasiswa lain 34 91,89 36 97,29
6. Mengerjakan tugas 37 100 37 100
7. Kerjasama 37 100 37 100
Jumlah mahasiswa yang hadir 37 100 37 100
Keterangan: jumlah mahasiswa keseluruhan 37

Pengamatan pada kegiatan Ini dapat dimengerti karena pada job yang
praktikum, dari kedua kali pertemuan ketiga dan keempat karakteristiknya
kegiatan hasilnya ditabulasikan pada tabel berbeda dengan job pertama dan kedua.
4. Dari tabel tampak bahwa dari Job pertama dan kedua sifatnya baru
pertemuan ke pertemuan terjadi pening- mengenal nama,jenis, batas ukur skala,
katan kualitas pelaksanaan praktikum. Hal kegunaan,dan spesifikasinya, sedangkan
yang masih perlu ditingkatkan adalah job tiga dan empat sudah mulai membuat
tentang kebenaran dan kerapian terutama rangkaian, memasang alat ukur, beban,
berkaitan dengan warna kabel/kawat membaca berbagai macam alat ukur. Oleh
penghubung yang membedakan antara karena itu mahasiswa masih perlu menye-
positip dan negatip atau phasa dan nol, suaikan dan mencermati dalam menggu-
mengoperasikan peralatan, dan kecer- nakan peralatan praktikum dalam merang-
matan dalam pembacaan data percobaan. kai rangkaian percobaan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 72


Tabel 4.Rangkuman Penilaian Pelaksanaan Praktikum Kelompok

No Elemen yang dinilai Skor Rerata


Pert.
nilai
ke Rerata
maks 1 2
1 Kebenaran dan kerapihan penyusunan rangkaian praktikum 15 9.8 10.6 10.2
2 Kesesuaian dalam mengoperasikan peralatan praktikum 10 6.6 6.8 6.7
dengan prosedur
3 Kecermatan dalam pembacaan data percobaan 10 6.5 6.8 6.65
4 Ketepatan waktu penyelesaian tugas praktikum 5 4.4 4.5 4.45
5 Kerjasama 5 4.3 4.4 4.35
6 Melaksanakan praktikum dengan mengindahkan 10 7 7.4 7.2
keselamatan
7 Diskusi aktif penyelesaian tugas dan pertanyaan dalam 10 7.4 7.6 7.5
setiap percobaan
8 Tanggungjawab peminjaman dan pengembalian peralatan 5 4.3 4.5 4.4
praktikum
9 Kualitas interaksi aktif antar mahasiswa dalam 10 7.2 7.5 7.35
menyelesaikan tugas praktikum
10 Kualitas interaksi mahasiswa dan dosen dalam upaya 10 7.4 7.5 7.45
pemecahan masalah
11 Laporan hasil kerja kelompok 10 7.4 7.6 7.5
Jumlah 100 72.3 75.2 73.75

Berdasarkan hasil refleksi terhadap 75-79, 16% memperoleh nilai 71-74, 19%
tindakan yang dilakukan pada siklus II memperoleh nilai 66-70, dan dibawah nilai
menunjukkan bahwa secara umum telah 66 sebanyak 24%. Berdasarkan kriteria
terjadi peningkatan kualitas pembelajaran yang ditetapkan nilai minimal adalah 66,
pada mata kuliah rangkaian listrik. Ke- mahasiswa yang mempunyai nilai sama
nyataan ini terlihat dari aktivitas maha- dengan atau lebih besar 66 sejumlah
siswa yang lebih aktif dalam mengikuti 75,68% sedangkan yang mempunyai nilai
pembelajaran. Hasil tes mahasiswa pada lebih kecil dari 66 adalah 24,32%, dengan
siklus II diperoleh rincian sebagai berikut: nilai rerata 72,28. Untuk melihat proporsi
22% memperoleh nilai 86-100, 16% mem- nilai mahasiswa secara grafis ditunjukkan
peroleh nilai 80-85, 3% memperoleh nilai pada gambar 2.

Gambar 2. Proporsi nilai mahasiswa pada siklus II

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 73


Siklus III merupakan kelanjutan dari Thevenin, Norton; dan (2) Pengisian dan
siklus I dan siklus II, dampak pelaksanaan Pengosongan Kapasitor dan Induktor.
pembelajaran pada siklus II hasilnya su- Pengamatan kegiatan pembelajaran
dah sesuai dengan harapan yaitu nilainya siklus III, mahasiswa semakin tampak
lebih besar/sama dengan 66 sudah men- mengikuti pembelajaran, mereka mulai
capai 75 %, tetapi masih perlu pening- terbiasa dengan pembelajaran yang dila-
katan terutama yang berkaitan pelak- kukan. Adanya beberapa perbaikan ren-
sanaan praktikum. Walaupun hasil refleksi cana pembelajaran mulai kelihatan ha-
pada siklus II mulai terlihat kemampuan silnya, yaitu dengan mempelajari job prak-
mahasiswa dari aktivitasnya yang lebih tikum sekaligus menghitung besaran yang
aktif dalam mengikuti pembelajaran. akan dipraktekan mereka jauh lebih siap.
Pelaksanaan siklus III dilakukan dua kali Demikian pula sebelum merangkai rang-
pertemuan, setiap pertemuan kegiatan kaian dengan menggunakan alat ukur, alat
pembelajaran lebih diorientasikan pada ukurnya harus diperhatikan batas ukurnya,
peran mahasiswa aktif dalam belajar. skalanya, kemampuannya, cara menyam-
Pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan bungnya mereka semakin teliti, sehingga
penyelenggaran PBM dan observasi de- jalannya percobaan semakin lancar dan
ngan mencatat apa saja yang diamati saat bila terjadi kesalahan hasil mahasiswa
proses pembelajaran berlangsung sesuai mengetahuinya. Hasil pengamatan yang
poin-poin yang telah tersedia dalam dilakukan pada saat perkuliahan oleh tim
lembar observasi. Materi siklus III secara peneliti ditunjukkan pada tabel 5.
rinci meliputi: (1) Teorema Superposisi,

Tabel 5. Hasil Pengamatan Kegiatan Mahasiswa dalam PBM Siklus III


N Pertemuan ke-
Aspek Pengamatan 1 2
o Jml % Jml %
1 Perhatian/konsentrasi dalam mengikuti PBM 37 100 37 100
2 Mengajukan pertanyaan 9 24,32 9 24,32
3 Merespon pertanyaan 7 18,92 8 21,62
4 Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah 20 54,05 22 59,46
5. Menghargai pendapat mahasiswa lain 37 100 37 100
6. Mengerjakan tugas 37 100 37 100
7. Kerjasama 37 100 37 100
Jumlah mahasiswa yang hadir 37 100 37 100
Keterangan: jumlah mahasiswa keseluruhan 37

Pengamatan pada kegiatan prak- pertemuan ke pertemuan berikutnya terjadi


tikum, dari dua kali pertemuan diperoleh peningkatan kualitas pelaksanaan prak-
hasil pengamatan ditabulasikan pada tabel tikum.
6. Dari tabel tampak bahwa dari

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 74


Tabel 6. Rangkuman Penilaian Pelaksanaan Praktikum Kelompok

No Elemen yang dinilai Skor Rerata


Pert.
nilai
Ke Rerata
maks 1 2
1 Kebenaran dan kerapihan penyusunan rangkaian praktikum 15 11.2 12 11.6
2 Kesesuaian dalam mengoperasikan peralatan praktikum 10 7.2 7.5 7.35
dengan prosedur
3 Kecermatan dalam pembacaan data percobaan 10 7.4 7.6 7.5
4 Ketepatan waktu penyelesaian tugas praktikum 5 4.5 4.6 4.55
5 Kerjasama 5 4.5 4.7 4.6
6 Melaksanakan praktikum dengan mengindahkan keselamatan 10 7.7 7.9 7.8
7 Diskusi aktif penyelesaian tugas dan pertanyaan dalam setiap 10 7.6 8 7.8
percobaan
8 Tanggungjawab peminjaman dan pengembalian peralatan 5 4.2 4.5 4.35
praktikum
9 Kualitas interaksi aktif antar mahasiswa dalam menyelesaikan 10 7.7 8 7.85
tugas praktikum
10 Kualitas interaksi mahasiswa dan dosen dalam upaya 10 7.6 7.8 7.7
pemecahan masalah
11 Laporan hasil kerja kelompok 10 7.8 8.1 7.95
Jumlah 100 77.4 80.7 79,05

Hasil tes mahasiswa pada siklus III mahasiswa yang mempunyai nilai sama
diperoleh
peroleh rincian sebagai berikut:
berikut 22% dengan atau lebih besar 66 sejumlah 81 %
memperoleh nilai 86-100,
00, 13%
13 mempero- sedangkan yang mempunyai nilai lebih
leh nilai 80-85,
85, 11% memperoleh nilai 75-
75 kecil dari 66 adalah 19 %, dengan nilai
79, 19% memperoleh nilai 71-74,
71 16% rerata 74,93. Untuk
tuk melihat proporsi nilai
memperoleh nilai 66-70, dan dibawah nilai mahasiswa secara grafis ditunjukkan pada
66 sebanyak 19%. %. Berdasarkan kriteria gambar 3.
yang ditetapkan nilai minimal adalah 66,

Hasil Tes Siklus 3

< 66 86 - 100
19% 22%
66 - 70 80 - 85
16% 13%

71 - 74 75 - 79
19% 11%

Gambar 3. Proporsi nilai mahasiswa pada siklus III

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402


ISSN:2477 75
Berdasarkan hasil observasi dan belajar multi arah. Peran dosen justru
data diperoleh siklus III sudah menunjuk- sebagai fasilitator. Hasil belajar diekspresi-
kan peningkatan kualitas pembelajaran kan dalam tes mahasiswa mengalami
dan hasil belajar dibandingkan dengan peningkatan, dari rerata 67,17 siklus I
siklus II, hasil tes nilainya sudah menadi 72,28 siklus II dan menjadi 74,93
memenuhi kriteria, yaitu lebih dari 75 % pada siklus III.
mahasiswa nilainya di atas 66. Oleh Tanggapan mahasiswa terhadap
karena itu sudah tidak diperlukan siklus implementasi pembelajaran kooperatif mo-
berikutnya. Tanggapan mahasiswa terha- del STAD berdasarkan angket tertutup
dap kegiatan pembelajaran yang dilaku- diperoleh hasil 10,81 % mahasiswa me-
kan, dari 37 angket hasilnya diperoleh: nyatakan sangat setuju dan 89,19 %
rentang skor antara 45 sampai dengan 64, menyatakan setuju, tidak ada satupun
mean 51,38, dan simpangan baku 3,90. yang menyatakan tidak setuju dan sangat
Hasil angket terbuka yang dirasakan tidak setuju. Angket terbuka 86,49 % yang
mahasiswa dengan pembelajaran koope- dirasakan positip dan 13,51% menyatakan
ratif model STAD adalah mayoritas maha- bahwa menyatakan bahwa metode ini
siswa (86,49%) menyambut positif, seba- inovatif, namun justru sering mengandal-
nyak 13,5 % menyatakan bahwa metode kan kemampuan orang lain dari pada diri
ini inovatif, namun justru sering mengan- sendiri, ada yang merasa biasa saja, ada
dalkan kemampuan orang lain dari pada yang merasa banyak beban yang berka-
diri sendiri, ada yang merasa biasa saja, itan dengan tugas
ada yang merasa banyak beban yang Pendekatan pembelajaran koopera-
berkaitan dengan tugas. Hasil perhitungan tif model STAD pada mata kuliah rang-
tanggapan mahasiswa terhadap imple- kaian listrik agar lebih menyenangkan dan
mentasi pembelajaran kooperatif STAD diterima oleh mahasiswa dengan senang,
10,81% sangat setuju dan 89,19% setuju. perlu ditingkatkan dalam hal: (1) peren-
caan pembelajaran yang lebih kontekstual
SIMPULAN
dimana urutan dan arah sajian materi lebih
Pendekatan pembelajaran koopera- mudah dipahami mahasiswa; dan (2)
tif model STAD dapat meningkatkan pengelolaan waktu diskusi arahan, pene-
kualitas pembelajaran rangkaian listrik. muan konsep yang lebih terencana. Pene-
Proses pembelajaran terkesan lebih mena- litian ini merupakan langkah awal dalam
rik karena mahasiswa bukan lagi sebagai upaya transisi budaya pembelajaran dari
obyek tetapi lebih sebagai subyek dalam teacher centered learning menuju student
pembelajaran. Kondisi pembelajaran di- centered learning, oleh karena itu perlu
warnai dengan aktivitas diskusi kelompok, ditindaklanjuti sesuai perkembangan dan
mahasiswa berperan aktif dan saling ke- karakteristik mahasiswa dan diterapkan
tergantungan satu sama lain dalam pengu- pada mata kuliah lain yang sesuai.
asaan konsep sehingga terjadi interaksi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 76


DAFTAR RUJUKAN [4] Slavin, R. Cooperative Learning:
Theory, research and practice.
[1] Nana Sudjana. Penilaian Hasil Belajar
Boston: Allyn & Bacon.
Mengajar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya Offset. 2002 [5] Paulina Pannen, Mustapa,D, &
Sekarwinahyu,M. Konstruktivisme
[2] Johnson, T. Roger & Johnson.
dalam Pembelajaran. Jakarta. Proyek
Learning Together and Alone,
Pengembangan Universitas Terbuka
Competitive, and Individualistic
Dirjen Dikti Depdiknas. 2001
Learning. New Jersey: Prentice Hall.
1987 [6] Sudarsono, FX. Apikasi Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta. Pusat Antar
[3] Ibrahim, Muslimin. Pembelajaran
Universitas Untuk Peningkatan dan
Kooperatif. Surabaya: Pusat Sains
Pengembangan Aktivitas Instruksional
dan Matematika Sekolah Program
Pasca Sarjana UNESA, University Dirjen Dikti Depdiknas. 2001
Press. 2000

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 77


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 78-84
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

DETERMINAN PENYELESAIAN TUGAS AKHIR


BAGI MAHASISWA VOKASIONAL
Masduki Zakaria, & Ratna Wardani
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: masduki_zakaria@uny.ac.id

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan penyelesaian tugas akhir bagi mahasiswa
vokasional. Pendekatan penelitian ini adalah positivistik-kuantitatif menggunakan analisis jalur,
Penggunaan diagram jalur bermanfaat untuk menampilkan pola hubungan kausal di antara
seperangkat variabel secara grafis. Terdapat 5 variabel dalam penelitian, yaitu: (A) kompetensi
mahasiswa dalam penyelesaian tugas akhir, sebagai variabel eksogenus; (B) dukungan teknologi
informasi dan komunikasi, (C) gaya belajar dalam menyelesaikan tugas akhir, dan (D) motivasi dalam
menyelesaikan tugas akhir, dan (E) penyelesaian tugas akhir. Keempat variabel terakhir sebagai
variabel endogenus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) kompetensi mahasiswa berhubungan
secara langsung dengan penyelesaian tugas akhir, koeffisien jalur untuk direct effectEA=0,545; (b)
kompetensi mahasiswa berhubungan secara langsung dengan dukungan teknologi informasi dan
komunikasi, koeffisien jalur untuk direct effectBA=0,684; (c) kompetensi mahasiswaberhubungan
secara langsung dengan motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir, koeffisien jalur untuk direct effect
pCA=0,208; (d) kompetensi mahasiswa berhubungan secara langsung dengan gaya belajar
mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir, koeffisien jalur untuk direct effectDA=0,504; (e)
dukungan teknologi informasi dan komunikasi berhubungan secara langsung dengan penyelesaian
tugas akhir, koeffisien jalur untuk direct effectEB=0,473, indirect effectEBBA=0,324; (f) gaya
belajar mahasiswa berhubungan secara langsung dengan penyelesaian tugas akhir, koeffisien jalur
untuk direct effectEB=0,473, indirect effectEDDA=0,324.
Kata kunci: Determinan, tugas akhir, vokasi.

ABSTRACT
The purpose of this study to determine the determinant of final project completion for vocational
students. This research approach is positivistic-quantitatively using path analysis, use of beneficial
path diagram to show the pattern of causal relationships between a set of variables graphically. There
are five variables in the study, (A) the competence of the students in the completion of the final project,
as exogenous variables; (B) support information and communication technology, (C) the learning
styles in completing the final task, and (D) motivation in completing the final task, and (E) the
completion of the final project. Last four variables as endogenous variables. The results showed that:
(a) the competence of students is directly related to the completion of the final project, the path
coefficients for the direct effect of EA = 0.545; (b) the competence of students is directly related to the
support of information and communication technology, to direct the path coefficient effect BA = 0.684;
(c) the competence of students is directly related to motivation to complete the final task, the path
coefficients for the direct effect of CA = 0.208; (d) the competence of students is directly related to the
learning styles of students in completing the final task, the path coefficients for the direct effect DA =
0.504; (e) support information and communication technology directly related to the completion of the
final project, the path coefficients for the direct effect of the EB = 0.473, indirect effect EBBA =
0.324; (f) the learning styles of students is directly related to the completion of the final project, the path
coefficients for the direct effect of the EB = 0.473, indirect effect EDDA = 0.324.
Keyword:. the determinant, final task, vocational.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 78


PENDAHULUAN daya termasuk teknologi informasi dan
Tuntutan kualitas sumberdaya manu- komunikasi, kepe-mimpinan yang inovatif,
sia yang mampu bersaing di dunia global, dan iklim organisasi berdampak penggu-
menghendaki adanya perubahan yang naan secara kontinyu dalam proses
menuju kearah perbaikan kualitas dan pembelajaran[5]. Gaya belajar dan kemam-
kemampuan daya saing. Salah satu hal puan berpikir tingkat tinggi merupakan
mendasar yang terus dilakukan oleh aspek penting dalam proses pembelajaran
lembaga pendidikan tinggi vokasional yaitu terutama pada pendidikan tinggi, fokus
upaya untuk pencapaian kompe-tensi bagi penelitian gaya belajar terletak pada aspek
maha-siswa melalui berbagai metode dan membandingkan penalaran induktif
strategi belajar. Sedangkan pencapaian dengan penalaran deduktif . [6]

kompetensi bagi mahasiswa sebagai hasil Karakteristik kompetensi dari tugas


dari proses pembelajaran, merupakan akhir merupakan integrasi dan keseim-
amanah dari kurikulum. Salah satu aspek bangan antara penguasaan keterampilan
yang ikut menentukan kecepatan maha- psikomotorik yang dilandasi oleh kete-
siswa dalam menye-lesaikan studi terletak rampilan kognitif dan afektif diimplemen-
pada aspek penyelesaian tugas akhir. tasi dalam kasus-kasus yang nyata di
Pendidikan vokasional merupakan lapangan, dengan demikian studi kasus
pendidikan yang mengarahkan peserta merupakan suatu pilihan dalam pembela-
didik untuk bekerja dengan berbagai jaran berbasis latihan yang diikuti dengan
latihan kerja secara berkelanjutan[1]. Ke- pembelajaran yang menekankan pada so-
enam belas teorema prosser yang mela- lusi masalah. Secara substansial, tugas
tarbelakangi arah dan pengembangan akhir dapat berisi studi kasus, mulai dari
pendidikan vokasional di Indonesia. Karak- kasus sederhana sampai dengan kasus
teristik pendidikan kejuruan, antara lain yang kompleks. Sedangkan faktor-faktor
mencakup aspek[2,3]: (a) mempersiapkan pendukung penyelesaian tugas akhir
sumber daya manusia yang memiliki ke- diilustrasikan pada gambar 1.
cerdasan, pengetahuan, kepribadian, akh- Terdapat 5 variabel yang menjadi
lak mulia, dan keterampilan, serta kemam- landasan dalam menentukan faktor-faktor
puan untuk memasuki dunia kerja; (b) yang ikut berkontribusi terhadap penye-
pendidikan kejuruan lebih ditekankan pada lesaian tugas akhir bagi mahasiswa pendi-
learning by doing dan hands on experi- dikan vokasi. Kelima variabel tersebut
ence; dan (c) membutuhkan fasilitas muta- adalah: kompetensi mahasiswa dalam
khir untuk kegiatan praktik. penyelesaian tugas akhir (A), dukungan
Empat hal penting dalam pendidikan teknologi informasi dan komunikasi (B),
vokasional: (a) identifikasi pengetahuan motivasi menyelesaikan tugas akhir (C),
yang efektif sebagai bekal untuk bekerja, gaya belajar dalam menyelesaikan tugas
(b) mengembangkan potensi diri untuk akhir (D), dan penyelesaian tugas akhir
terus berlatih, (c) menemukan cara yang (E). Usulan model yang berkaitan dengan
efektif dalam bekerja, (d) diperlukan pe- kelima variabel dalam determinan penye-
ngalaman yang efektif dalam hal transisi lesaian tugas akhir, ditunjukkan gambar 1.
pekerjaan[4]. Sedangkan dukungan sumber

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 79


Gambar 1. Struktur usulan model

METODE sejumlah 30. Definisi operasional masing-


masing variabel ditunjukkan tabel 1. Pen-
Populasi penelitian ini yaitu maha-
dekatan penelitian ini menggunakan
siswa yang sudah menyelesaikan tugas
pendekatan positivistik-kuantitatif menggu-
akhir Fakultas Teknik Universitas Negeri
nakan analisis jalur, Penggunaan diagram
Yogyakarta. Sedangkan sampel yang
jalur bermanfaat untuk menam-pilkan pola
digunakan adalah mahasiswa S1 yang
hubungan kausal di antara seperangkat
sudah selesai mengerjakan tugas akhir
variabel secara grafis.
dalam rentang waktu Mei-Oktober 2015

Gambar 2. Rasional obyektif penyelesaian tugas akhir

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 80


Tabel 1. Kisi-kisi instrumen penelitian
Label Variabel Definisi Indikator
Operasional
A Kompetensi kemampuan Meletakkan persoalan sesuai dengan
mahasiswa profesional yang proporsinya, dan membiasakan diri
dalam disertai mentaati peraturan
penyelesaian kemampuan Mempunyai komitmen yang tinggi,
tugas akhir personal dalam mengerjakan secara mandiiri, dan
proses mengembangkan etos kerja terhadap
penyelesaian penyelesaian tugas akhir.
tugas akhir. Membiasakan diri menerima kritik dan
saran
berfikir reflektif untuk melakukan
penilaian kinerja sendiri.
Mampu menjelaskan secara
menyeluruh makna yang terkandung
dalam substansi tugas akhir
Mampu menguasai substansi yang
berkaitan dengan permasalahan
penelitian
Mampu memahami metodologi
penelitian
B Dukungan Mampu Menggunakan komputer desktop, atau
teknologi mengeoperasikan laptop atau notebook dan sejenisnya
informasi dan dan menguasai yang terkoneksi dengan internet.
komunikasi perangkat teknologi Memiliki (menguasai) dan menggunakan
informasi dan smart phone sebagai media komunikasi.
komunikasi yang Kampus memfasilitasi koneksi internet
terkoneksi dengan dalam jaringan kabel atau nirkabel (wifi).
jaringan internet. Berlangganan koneksi internet secara
individual.
C Motivasi dalam Dorongan internal Dorongan dari diri sendiri untuk fokus
menyelesaikan dan eksternal yang pada penyelesaian tugas akhir.
tugas akhir dapat Dorongan dari luar diri sendiri yang ikut
menumbuhkan berkontribusi terhadap penyelesaian
kemauan untuk tugas akhir.
menyelesaikan
tugas akhir
D Gaya belajar Gaya belajar Independen:
dalam adalah cara yang mengerjakan sendiri proyek tugas akhir.
menyelesaikan lebih disukai dalam Kompetitif:
tugas akhir melakukan mempunyai daya saing yang tinggi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 81


Label Variabel Definisi Indikator
Operasional
. kombinasi Kolaboratif:
kegiatan berpikir, bekerjasama dengan teman dalam
memproses, mengerjakan tugas akhir
memahami suatu Ketergantungan:
informasi, ketergantungan dengan pendukung
mahasiswa tugas akhir, misal: lab., bengkel, dan
vokasional studio,
kecenderungannya Avoidance (penghindaran) dalam
ke gaya belajar menghadapi kesulitan dalam
kinestetik. tetapi mengerjakan tugas akhir
tidak menutup
kemungkinan juga
beradaptasi
dengan gaya
belajar auditory dan
visual
E Penyelesaian Upaya individual Disiplin (kehadiran, etika, penyelesaian
tugas akhir secara sadar dan pekerjaan)
bertanggung jawab Mengerjakan tugas akhir Sesuai dengan
untuk mengerjakan SOP.
tugas akhir secara Efektivitas (tepat waktu, dukungan
prosedural dibawah sarana prasarana, pencapaian
bimbingan dosen pekerjaan yang optimal)
pembimbing.

HASIL variabel (E). Persamaan estimasi antar


Analisis data pada penelitian ini variabel [7]:
menggunakan perangkat lunak SPSS Y = 15,450 + 0,367A + 0,437B + 0,035C
16.0. Didapatkan koefisen korelasi + 0,238D
R=0.939 (R2=0,882). Hal ini menunjukkan
sedangkan Varian explain by masing-
tingkat hubungan antar variabel (A, B, C, masing variabel (A, B, C, dan D) terhadap
D, dan E) pada tingkat yang sangat kuat
variabel (E) ditunjukkan dalam persamaan
(0.939) untuk skala (0-1). Hasil uji F yang
ZY , yaitu [7]:
menunjukan bahwa variabel (A, B, C, dan
ZY = 0,496A + 0,513B + 0,026C + 0,087D
D) secara bersama-sama berhubungan
secara signifikan dengan variabel (E) nilai VIF berada di antara (0.1 - 10) hal ini
dengan taraf signifikansi 0,05. Dengan berarti tidak terjadi multikolinieritas antar
menggunakan uji t pada taraf signifikansi variabel (A, B, C, D). Hasil estimasi
0,05, variabel (A, B, C, dan D) secara koeffisien jalur ditunjukkan gambar 3.
parsial mempunyai hubungan dengan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 82


Gambar 3. Hasil estimasi koeffisien jalur

Oleh karena terdapat 3 jalur yang maka estimasi usulan model menjadi
mempunyai koeefisien negatif, yaitu: gambar 4.
EC = -0,051, CB = -0,274, DB = -0,375,

Gambar 4. Struktur baru usulan model

Hasil estimasi koefisien jalur seba- motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir,
gaimana ditampilkan dalam gambar 4 dan (d) kompetensi mahasiswa berhubungan
tabel 2, yaitu: (a) kompetensi mahasiswa secara langsung dengan gaya belajar ma-
berhubungan secara langsung dengan hasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir,
penyelesaian tugas akhir, (b) kompetensi (e) dukungan teknologi informasi dan ko-
mahasiswa berhubungan secara langsung munikasi berhubungan secara langsung
dengan dukungan teknologi informasi dan dengan penyelesaian tugas akhir, (f) gaya
komunikasi, (c) kompetensi mahasiswa belajar mahasiswa berhubungan langsung
berhubungan secara langsung dengan dengan penyelesaian tugas akhir.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 83


Tabel 2. Hasil Analisis
Variabel Koefisien Dampak
Korelasi Direct Indirect Effect Total Effect
Effect
AE 0,868 0,545 - 0,545
AB 0,864 0,684 - 0,684
A- C 0,020 0,208 - 0,208
AD 0,247 0,504 - 0,247
B- E 0,846 0,473 (0,473) * (0,684) = 0,324 0,797
D- E 0,199 0,207 (0,207) * (0,504) = 0,104 0, 311

SIMPULAN Vocational Education and Training


(WoCTVET), Procedia-Social and
Faktor-faktor yang berkontribusi
Behavioral Sciences 204, 2014, 218
terhadap penyelesaian tugas akhir bagi
230.
mahasiswa vokasi, adalah: (a) kompetensi
mahasiswa dalam penyelesaian tugas a- [4] Billett, Stephen. Vocational education,
khir; (b) dukungan teknologi informasi dan purposes, tradition, and prospect.
komunikasi; (c) motivasi menyelesaikan London: Springer Science+Business
tugas akhir; (d) gaya belajar dalam me- Media B.V. 2011, 22.
nyelesaikan tugas akhir; dan (e) penye- [5] CHOU, Chun-Mei. HSIAO, His-Chi.
lesaian tugas akhir. Implikasi dari pene- SHEN, Chien-Hua. CHEN, Su-Chang.
litian ini antara lain diperlukan adanya Analysis of factors intechnological
perhatian utama para pembimbing dalam and vocational school teachers
proses pembimbingan dalam rangka mem- perceived organizational innovative
percepat penyelesaian tugas akhir bagi climate and continuous use of e-
mahasiswa vokasional. teaching: using computer self-efficacy
DAFTAR RUJUKAN as an intervening variable. The
Turkish Online Journal of Educational
[1] Prosser, C. A. & Quigley, T. H.
Technology, 2010, 9 (4), 43-44.
Vocational education in a democracy.
Chicago: American Technical Society, [6] Yee M. H. Yunos, J. Md. Othman, W.
revised edition. 1950 Hassan, R. Tee, T. K. Mohamad,
M.M. Disparity of Learning Styles and
[2] Djojonegoro, Wardiman.
Higher Order Thinking Skills among
Pengembang-an sumberdaya
Technical Students. 4th World
manusia. Jakarta: PT. Jayakarta
Congress on Technical and
Agung Offset. 1988
Vocational Education and Training
[3] Munastiwi, Erni. The management (WoCTVET), 2014, 143-152
model of vocational education quality
assurance using holistic skills [7] Pedhazur, Elazar J., Multiple regression
education (holsked). 4th World in behavioral research, explanation
and prediction, 3rd edition, United
Congress on Technical and
State: Thomson Learning. 1997

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 84


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 85-92
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

KESADARAN DAN IMPLEMENTASI ASESMEN GAYA BELAJAR


DI SEKOLAH KEJURUAN
Mashoedah
Universitas Negeri Yogykarta
Email: mashoedah@uny.ac.id

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk (1) melihat seberapa besar kesadaran guru SMK terhadap gaya
belajar siswa dalam proses mengajar, dan (2) mengetahui apakah guru SMK menggunakan
instrument tertentu dalam melakukan asesmen gaya belajar. Subyek penelitian adalah sejumlah 18
orang guru sekolah menengah kejuruan dari Program studi Teknik elektronika dan Teknik Listrik di
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian menggunakan metode dan analisis deskriptif dengan
mengumpulkan data melalui angket yang dibagikan kepada responden. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar guru SMK (61,1%) mengetahui istilah gaya belajar, Namun belum
mengimplementasikan asesmen gaya belajar (83,3%). Meskipun tidak mengimplementasikan
asesmen gaya belajar, namun guru menyadari akan pentingya mengetahui gaya belajar siswa
sebelum pembelajaran.
Kata Kunci : Gaya Belajar, Asesmen, Keasadaran Guru

ABSTRACT
The research is aimed at (1) revealing how much vocational school teachers are aware of
students learning styles in the teaching process, and (2) finding out whether vocational school
teachers employ certain instruments in assessing the learning styles. The research subjects were 18
teachers of Electronics and Electrical Engineering Study Programs of vocational schools in the
Province of Yogyakarta Special Region. The research employed a descriptive method and analysis by
collecting data through questionnaires distributed to the respondents. The results show that most of
the vocational teachers (61,1%) knew the term of learning styles. However, they did not implement the
assessment of learning styles (83,3%). Though not implementing the assessment yet, they were aware
of the importance of identifying the students learning styles before teaching.
Keyword: Learning Style, Assesment, Teachers Awareness

PENDAHULUAN Kesadaran guru akan gaya belajar


Kesadaran didefinisikan sebagai siswa adalah kesadaran akan aktifitas-
suatu keadaan dimana seseorang me- aktifitas apa yang dilakukan guru sebelum
ngerti dan paham tentang suatu kondisi. proses pembelajaran terkait dengan pre-
Dalam dictionary online kesadaran dide- ferensi siswa dalam proses belajar. Gaya
finisikan sebagai The state or conditi-on belajar sebagai sifat individual siswa bisa
of being aware, having knowledge, cons- diketahui melalui sebuah asesmen ter-
ciousness, knowing that something exists, hadap prilaku siswa dalam belajar. Seba-
or having knowledge or experience of a gai bentuk kesadaran terhadap gaya be-
particular thing. lajar siswa, pertama kali guru harus me-
mahami bagaimana preferensi siswa da-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 85


lam pembelajaran sehingga guru dapat masi dalam situasi belajar. Dimana Inti
memilih metode apa yang disenangi siswa dari konsep gaya belajar adalah bahwa
secara individu atau kelompok saat proses setiap individu mempunyai cara yang
pembelajaran. Untuk melihat preferensi berbeda dalam belajar[2]. Sedangkan
siswa dalam proses pembelajaran, secara Pritchard (2009) mendefinisikan gaya
sederhana guru dapat melakukan penga- belajar sebagai suatu cara tertentu di
matan terhadap prilaku siswa dalam bela- mana seorang individu belajar, yaitu cara
jar diawal proses pembelajaran. belajar yang paling disukai atau terbaik
Pemahaman konsep gaya belajar secara individu, di mana individu berpikir,
menjadi penting bagi guru ketika guru memproses informasi dan menunjukkan
ingin pengamatan terhadap gaya belajar pembelajaran[3].
siswa menjadi lebih detil, efektif dan Banyak pembelajar belum menya-
efisien. Dengan pemahaman yang lebih dari apa gaya belajar yang dimiliki dan
tentang konsep gaya belajar siswa maka ketertarikannya pada saat proses pembe-
guru akan dapat menggunakan instrumen- lajaran, apakah dia tertarik pembelajaran
instrumen gaya belajar yang ada untuk dalam bentuk-bentuk visual skematik,
melakukan asesmen gaya belajar. Setelah peta, video, audio musik, tulisan atau
mengetahui preferensi siswa dalam pem- pembelajaran yang menggunakan gerak
belajaran maka guru diharapakan dapat fisik secara langsung. Seseorang yang
menggunakan data preferensi siswa untuk mempunyai tipe pembelajar visual maka
memilih metode dan media yang sesuai apabila dia belajar dengan cara mende-
agar pembelajaran mencapai goal yang ngarkan ceramah dari guru, maka dia
diinginkan. akan menjadi cepat bosan dan menga-
Gaya Belajar kibatkan proses pembelajaran menjadi
Setiap individu sebagai pembelajar tidak efektif. Keunikan gaya belajar ini be-
mempunyai cara yang unik dalam belajar. lum terakomodasi dan dimanfaatkan seca-
Namun, keunikan masing-masing individu ra penuh oleh individu sebagai pembe-
belum menjadi fokus perhatian bagi guru lajar. Untuk mengetahui medium apa yang
pada saat proses belajar mengajar. Guru disukai siswa dalam proses pembelajaran,
terbiasa mengajar sesuai kesiapan dia guru dapat membantu siswa dengan
saja dan menggunakan media pembela- melakukan pengamatan dan memberi sa-
jaran yang sudah tersedia tanpa mempe- ran peserta didik, dan member tantangan
dulikan bagaimana keunikan masing siswa kepada siswa untuk berpikir tentang apa
dalam belajar. Keunikan masing-masing yang disukai dan tidak disukai dalam
siswa dalam belajar sering disebut seba- belajar [4].
gai gaya belajar siswa. Seperti yang ung- Meskipun telah banyak penelitian
kapkan oleh Rothwell dan Kazanas bahwa yang menyebutkan tentang tingkat efek-
Gaya belajar mengacu pada cara orang tifitas pembelajaran yang mengakomodasi
berperilaku dan merasa, saat mereka gaya belajar siswa, namun keunikan gaya
belajar[1]. Gaya belajar disebutkan juga belajar siswa juga belum menjadi perha-
sebagai pola bawaan individu atau kebi- tian penting bagi sebagian besar guru. Hal
asaan memperoleh dan memproses infor- ini diindikasikan dengan cara mengajar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 86


mereka dikelas saat ini. Secara umum instrumen gaya belajar masih belum
yang dilakukan guru ketika memulai pe- popular dikalangan guru .
ngajaran di kelas di awal semester adalah Instrumen gaya belajar untuk
memulai dengan perkenalan, membica- melakukan asesmen gaya belajar telah
rakan materi yang akan di pelajari dan banyak dikembangkan, sampai saat ini
kemudian langsung memulai materi pela- ada sekitar lebih dari 70 skema learning
jaran. style [7]. Instrumen gaya belajar yang
Instrumen Gaya Belajar. paling berpengaruh dan berpotensi
Keunikan gaya belajar siswa masih berpengaruh dalam pembelajaran menurut
hanya sekedar tataran pengetahuan bagi Frank Coffield dkk. (2004:8) dalam
pengajar namun belum pada implementasi Learning styles and pedagogy in post-16
strategi dalam mengajar. Tidak banyak learning A systematic and critical review
guru yang memulai pembelajaran dengan adalah sebagai berikut: (1) Allinson and
menggali informasi tentang gaya belajar Hayes Cognitive Styles Index (CSI); (2)
siswa. Seorang guru perlu mengetahui Apters Motivational Style Profile (MSP);
gaya belajar siswa ketika memulai proses (3) Dunn and Dunn model and instruments
pembelajaran, karena dengan mengetahui of learning styles; (4) Entwistles A-
gaya belajar siswa maka seorang guru pproaches and Study Skills Inventory for
dapat menentukan metode, proses dan Students (ASSIST); (5) Gregorcs Mind
media pembelajaran yang sesuai dalam Styles Model and Style Delineator (GSD);
pembelajaran. Felder and Spurlin (2005) (6) Herrmanns Brain Dominance Ins-
menyebutkan dalam kesimpulan peneliti- trument (HBDI); (7) Honey and Mumfords
annya bahwa Sebuah Indeks tentang gaya Learning Styles; (8) Questionnaire (LSQ);
belajar memiliki dua fungsi utama. Yaitu, (9) Jacksons Learning Styles Profiler
pertama adalah untuk memberikan bim- (LSP); (10) Kolbs Learning Style Inventory
bingan kepada instruktur atau guru ten- (LSI); (11) Myers-Briggs Type Indicator
tang keragaman gaya belajar siswa dalam (MBTI); (12) Ridings Cognitive Styles
kelas yang diajar, sehingga dapat mem- Analysis (CSA); (13) Sternbergs Thinking
bantu guru untuk merancang instruksi Styles Inventory (TSI); (14) Vermunts
pembelajaran yang sesuai dengan kebu- Inventory of Learning Styles (ILS) [7].
tuhan belajar semua siswa dan yang ke- Instrumen-instrumen tersebut me-
dua ialah untuk memberikan wawasan in- miliki kelebihan dan kekurangannya.
dividu terhadap siswa akan kekuatan dan Sebagian besar penggunaan instrumen
kelemahan siswa dalam pembelajaran [5]. gaya belajar dilakukan dengan membe-
Untuk mengetahui gaya belajar rikan quesioner dalam bentuk hardcopy
siswa diperlukan suatu instrumen gaya kepada siswa dan juga sebagian dila-
belajar, penggunaan satu atau lebih kukan secara online, atau bahkan hanya
instrumen gaya belajar akan memberikan berupa sebuah data pengamatan oleh
informasi tambahan kepada guru tentang guru terhadap setiap siswa tentang apa
siswa, sehingga guru dapat mengguna- yang di sukai dan tidak disukai dalam
kannya untuk merancang kegiatan bela- pembelajaran. Dengan melakukan ases-
jar[6]. Meskipun demikian penggunaaan men terhadap gaya belajar siswa, maka

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 87


akan dapat disusun kelompok-kelompok Penelitian ini bertujuan untuk: (1) melihat
belajar berdasar gaya belajar siswa. seberapa besar kesadaran guru SMK
Sehingga proses pembelajaran dapat terhadap gaya belajar siswa dalam proses
dilakukan lebih efektif. mengajar; dan (2) mengetahui apakah
Gaya Belajar dan Media Pembelajaran. guru SMK menggunakan instrument
Gaya belajar siswa dalam pem- tertentu dalam melakukan asesmen gaya
belajaran akan sangat berpengaruh terha- belajar.
dap media pembelajaran yang digunakan METODE
oleh guru, karena siswa belajar lebih
efektif bila konten pembelajaran mendu- Penelitian menggunakan metode dan
kung pilihan dari kesukaan siswa dalam analisis deskriptif. Data dikumpulkan
belajar [8]. Media pembelajaran misalnya dengan teknik survey melalui angket yang
papan tulis, slide proyektor, audio, video dibagikan kepada responden. Responden
dan prototype model perlu kreativitas terdiri dari 18 guru SMK program studi
dalam penggunaannya. Karena tidak Elektronika industri, dan listrik dari ber-
semua media tersebut bisa memenuhi bagai sekolah di daerah Istimewa Yog-
kriteria one size for all (satu media untuk yakarta. Angket dibagi menjadi dua bagian
semua gaya belajar yang dimiliki siswa), pertanyaan. Bagian pertama terdiri dari 11
karena media pembelajaran yang klasik pertanyaan tentang; (1) data responden,
bersifat One size doesnt fit for All karena (2) apakah guru SMK mengetahui istilah
sifatnya yang parsial, apalagi dalam gaya belajar, (3) apakah guru SMK meng-
penggunaan media tersebut, guru tidak implementasikan instrument gaya belajar
mempertimbangkan gaya belajar siswa, dikelas, (4) Model asesmes gaya belajar
sehingga terjadi ketidak selarasan antara apa yang digunakan, (4) kapan dilakukan
gaya belajar siswa dan media yang asesmen gaya belajar, (5) media pembe-
digunakan. Untuk itu perlu adanya lajaran apa yang sering digunakan oleh
keselerasan antara gaya belajar siswa dan guru SMK dikelas. Bagian kedua terdiri
media pembelajaran yang digunakan. dari 17 pertanyaan skala sikap untuk me-
Penyelarasan gaya belajar siswa dengan ngetahui kesadaran guru SMK tentang
media pembelajaran dilakukan dengan gaya belajar siswa dalam proses belajar
cara memberikan kuesioner instrumen mengajar. Berikut ini daftar pernyataan
gaya belajar terhadap siswa sebelum skala sikap dengan menggunakan skala
pelajaran diawal semester dimulai. Hasil likert untuk mengetahui kesadaran guru
questioner digunakan oleh guru sebagai terhadap gaya belajar siswa Opsi pilihan
landasan untuk menerapkan metode, skala likert 1 s/d 5. Pilihan 1 = tidak
strategi dan media pembelajaran yang pernah, 2 = jarang, 3 = kadang, 4 = sering,
sesuai dengan gaya belajar siswa. 5 = selalu.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 88


Tabel 1. Daftar Pernyataan Skala Sikap
No Daftar pernyataan
1. Saya menanyakan ke masing-masing siswa bagaimana cara mereka belajar.
2. Saya memulai pelajaran dengan pengantar dan langsung ke materi.
3. Saya menggunakan media dan peralatan yang sudah ada tersedia di dalam kelas.
4. Saya memilih media pembelajaran dengan menyesuaikan pada tujuan instruksional
pembelajaran.
5. Saya memilih media pembelajaran dengan menyesuaikan pada materi
pembelajaran.
6. Saya memilih media pembelajaran dengan menyesuaikan pada karakteristik siswa
atau gaya belajar siswa.
7. Saya menggunakan media pembelajaran yang bervariasi.
8. Saya mempertimbangkan tentang preferensi siswa sebelum memilih media
pembelajaran.
9. Saya menggunakan satu jenis media pembelajaran.
10. Saya menanyakan permasalahan kesulitan belajar setiap siswa.
11. Saya mengamati dan membuat catatan apa saja yang disukai setiap siswa ketika
proses pembelajaran.
12. Saya mempertimbangkan apa saja yang disukai masing-masing siswa dalam belajar
sebagai bahan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran.
13. Saya membuat kuesioner/pertanyaan untuk mengetahui preferensi siswa.
14. Saya mengijinkan siswa mendengarkan musik melalui headset pada saat pelajaran
praktikum.
15. Saya mengijinkan siswa memutar video instruksional terkait dengan materi
pembelajaran teori/praktikum pada waktu yang saya tentukan.
16. Saya melayani permintaan siswa untuk mengulang penjelasan sebuah materi
pelajaran.
17. Saya meminta semua siswa untuk selalu duduk manis pada saat proses belajar
mengajar tanpa terkecuali.

yang disurvei menyebutkan mengetahui


HASIL
istilah gaya belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
61,1% responden dari total 18 guru SMK
Tabel 2. Guru mengetahui istilah Gaya Belajar
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Ya 11 61.1 61.1 61.1
Tidak 7 38.9 38.9 100.0
Total 18 100.0 100.0

Meskipun sebagian besar guru (61,1 belajar yang sering digunakan. Hanya 18%
%) mengetahui istilah gaya belajar, namun dari responden yang mengungkapkan
75% dari mereka belum familiar dengan familiar dengan istilah VAK (Visual
istilah dalam model-model asesmen gaya Auditory Kinesthetic).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 89


Tabel 3. Model Asesmen Gaya Belajar yang diketahui Guru
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid VAK 3 16.7 18.8 18.8
CSA 1 5.6 6.3 25.0
Tidak kenal istilah-istilah 12 66.7 75.0 100.0
tersebut
Total 16 88.9 100.0
Missing System 2 11.1
Total 18 100.0

Hasil survey juga menunjukkan mentasikan asesmen gaya belajar dalam


bahwa 88,9% dari responden mengung- proses pembelajaran.
kapkan bahwa mereka tidak mengimple-

Tabel 4. Guru Mengimplementasikan Asesmen Gaya Belajar


Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Ya 2 11.1 11.1 11.1
Tidak 16 88.9 88.9 100.0
Total 18 100.0 100.0

Kesadaran guru SMK terhadap gaya oleh guru SMK menunjukkan bahwa sikap-
belajar siswa di tunjukkan dengan sikap sikap yang terkait dengan kesadaran guru
guru dalam proses belajar mengajar. Dari SMK akan gaya belajar siswa berada pada
hasil pernyataan skala likert yang dijawab pilihan kadang s/d sering (3-4) dilakukan.

Tabel 5. Skala Sikap Kesadaran Guru terhadap Gaya Belajar Siswa


No. Pernyataan N Min Max Sum Mean Std. Deviation
1 18 1 5 64 3.56 .984
2 18 1 5 68 3.78 1.114
3 18 2 5 61 3.39 .778
4 18 3 5 78 4.33 .594
5 18 4 5 84 4.67 .485
6 18 3 5 64 3.56 .616
7 18 3 5 67 3.72 .575
8 18 2 4 59 3.28 .752
9 18 1 5 51 2.83 .924
10 18 3 5 69 3.83 .707
11 18 1 5 58 3.22 1.060
12 18 1 5 58 3.22 1.060
13 18 1 5 48 2.67 1.138
14 18 1 3 36 2.00 .840
15 18 2 5 62 3.44 .784
16 18 3 5 74 4.11 .758
17 18 2 5 60 3.33 .840
Valid N (listwise) 18

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 90


Sebagian besar guru (77,8%) mene- maka diharapkan pembelajaran yang dila-
rapkan media pembelajaran gabungan da- kukan dapat mengakomodasi perbedaan
lam proses pembelajaran. Dengan peng- gaya belajar yang ada pada siswa.
gunaan kombinasi media pembelajaran

Tabel 6. Jenis Media Pembelajaran yang digunakan


Valid Cumulative
Frequency Percent
Percent Percent
Valid media pembelajaran
1 5.6 5.6 5.6
berbasis computer
Unit Praktikum dan modul
3 16.7 16.7 22.2
pembelajaran.
Gabungan. 14 77.8 77.8 100.0
Total 18 100.0 100.0

SIMPULAN [3] A. Pritchard. Ways of Learning:


Hasil penelitian ini menunjukkan Learning Theories and Learning
bahwa sebagian besar (61,1%) Guru SMK Sttyles in the Classroom, London and
mengetahui istilah gaya belajar, meskipun New York, Taylor and Francis, 2009.
sedikit (25%) dari mereka yang mengenal [4] P. Smith & J. Dalton, Getting to Grips
model-model asesmen gaya belajar. Mes- with Learning Styles. Adelaide,
kipun tidak mengimplementasikan ases- Australia, NCVER, 2005, 15.
men gaya belajar, namun guru SMK me- [5] R. M. Felder & J. Spurlin. Applica-
nyadari akan pentingya mengetahui gaya tions, reliability and validity of the
belajar siswa sebelum pembelajaran. index of learning styles. International
Journal of Engineering Education,
DAFTAR RUJUKAN 2005, 103-112
[1] W. J. Rothwell & H. C. Kazanas., [6] T. F. Hawk & A. J. Shah. Using
Mastering the Instructional Design Learning Style Instruments to
Process. Mastering the Instructional Enhance Student Learning. Decision
Design Process: A Systematic Sciences Journal of Innovative
Approach,, San Francisco, Jossey- Education, 2007, 16.
Bass, 1992, 87. [7] F. Coffield, D. Moseley, E. Hall & K.
[2] W. B. James & D. L. Gardner, Ecclestone. Learning styles and
Learning Styles: Implications for pedagogy in post-16 learning: A
Distance Learning. New Directions systematic and critical review,
For Adult And Continuing Education. London, Learning and Skills Research
1995, 19-30. Centre, 2004, 51-50.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 91


[8] E. Jolly T. Holden & P. Philip J.L.
Westfall. An Instructional Media
Selection Guide for Distance
Learning. United States Distance
Learning Association, 2010. [Online].
Available: http://www.usdla.org.
[Diakses 9 Mei 2013].
[9] G. King, Handbook for the Training of
Panel Members for External Quality
Assurance Procedures. European
Consortium for Accreditation in higher
education ECA, 2012, 32.
[10] J. M. Reid. The Learning Style
Preferences of ESL Students. TESOL
QUARTERLY, Vol. %1 dari %2Vol.
21, No. 1 , March 1987.
[11] D. A. Kolb, Learning Styles and
Disciplinary Difference, San Fransisco
california, Jossey-Bass Inc., 1981,
247.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 92


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 93-100
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

TRACER STUDY PRODI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA FT UNY


SEBAGAI KAJIAN PENGEMBANGAN KURIKULUM YANG MEMILIKI
RELEVANSI DENGAN KEBUTUHAN DUNIA KERJA
Muhammad munir, Bekti Wulandari, Satriyo Agung Dewanto, Ponco Wali Pranoto & Pipit Utami
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: muhmunir@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian tracer study ini bertujuan untuk memperoleh gambaran karir alumni Prodi Pendidikan
Teknik Elektronika FT UNY, mendeskripsikan penilaian alumni mengenai penyelnggaraan dan mutu
layanan Prodi Pendidikan Teknik Elektronika FT UNY dan mendeskripsikan relevansi kompetensi
bidang studi Prodi Pendidikan Teknik Elektronika FT UNY dengan dunia kerja. Penelitian ini termasuk
jenis penelitian deskriptif kualitatif (qualitative research). Metode yang digunakan adalah survei
menggunakan kuota sampling. Penelitian dilakukan bertempat di SMK kompetensi keahlian Audio
Video, Elektronika Industri, Mekatronika dan tempat industri yang relevan dengan Elektronika yang
mempekerjakan alumni Prodi Pendidikan Teknik Elektronika UNY. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa alumni PTE FT UNY yang berprofesi sebagai Guru/Dosen Swasta 26 %, Karyawan BUMN 5 %,
Karyawan Swasta Nasional 19.5 %, Karyawan Swasta Regional 11,9 %, PNS 3,2 %, PNS Guru/Dosen
8,69 %, Wiraswasta/Wirausaha 8,69 % dengan masa tunggu alumni untuk mendapatkan pekerjaan
bervariasi antara kurang dari 6 bulan 82,62 %, antara 6 sampai 18 bulan 2,17 % dan lebih dari 18
bulan 15,21 %. Posisi alumni PTE FT UNY dalam dunia kerja meliputi Tenaga Pengajar 30,43 %,
karyawan 38 %, dan wirausaha 6,5 % dengan yang berpendapatan kurang dari 1 juta 6.52 %, antara 1
juta sampai 3 juta 45,65 %, antara 3 juta sampai 5 juta 25 %, dan lebih dari 5 juta 16,3 %. Sedangkan
penilaian alumni mengenai penyelenggaraaan dan mutu layanan ini merupakan pendapat dari alumni
tentang sistem yang ada di prodi pendidikan teknik elektronika. Hubungan antara kompetensi bidang
studi/keahlian dengan dunia kerja meliputi: kurang, cukup, dan terpenuhi. Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa responden yang bekerja memiliki hubungan yang kurang 17,39 %, cukup 29,34
%, dan terpenuhi 48,9 %.
Kata Kunci : tracer study, relevansi, kurikulum, dunia kerja

ABSTRACT
Electronics Industry, Mechatronics and Electronics industries relevant to the hiring of alumni Prodi
UNY Electronics Engineering Education. The results showed that the FT UNY PTE graduates who
work as Teachers/Lecturers Private 26%, 5% SOE employees, 19.5% Private Employees National,
Regional Private Employees 11.9%, 3.2% PNS, PNS Teacher/Lecturer 8.69 %, Self Employed/
Entrepreneur 8.69% with the alumni waiting period to obtain a job varies between less than 6 months
82.62%, between 6 to 18 months 2.17% over 18 months and 15.21%. PTE alumni of FT UNY position
in the world of work includes Lecturer 30.43%, employees 38%, and entrepreneurs 6.5% with income
of less than 1 million 6:52%, between 1 million and 3 million 45.65%, between 3 million up to 5 million
25%, and more than 5 million 16.3%. While the alumni assessment of the quality of services and this is
the opinion of the alumni of the existing system in the education department of electronic engineering.
The relationship between the competence fields of study / expertise with the world of work include:
less, quite, and fulfilled. Based on the results of the study showed that respondents working
relationships less 17.39%, 29.34% enough, and fulfilled 48.9%.
Keyword:tracer study, relevance, curriculum, workforce

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 93


PENDAHULUAN tracer study (studi penelusuran) terhadap
para alumninya secara berkala oleh pihak
Perguruan tinggi adalah suatu ko-
perguruan tinggi.
munitas untuk pembentukan persekutuan
Alumni merupakan unsur yang tak
ilmiah tingkat tinggi, yang disebut uni-
dapat dipisahkan dari perguruan tinggi,
versitas. Hakikat dan dasar eksistensi
karena alumni adalah representasi dari
yang hakiki bagi berdirinya sebuah pergu-
perguruan tinggi. Menurut Schomberg[2],
ruan tinggi dan terbentuknya persekutuan
alumni juga membawa manfaat tersendiri
ilmiah didasarkan pada gairah untuk
bagi perguruan tinggi, baik dalam akade-
menggeluti, mengembangkan, dan menga-
mik maupun bidang pragmatis, seperti: 1)
malkan ilmu pengetahuan bagi kemajuan
pemutakhiran kurikulum berbasis relevansi
peradaban masyarakat[1]. Badan Akre-
ditasi Nasional Perguruan Tinggi, meng- dengan kebutuhan pasar/dunia kerja; 2)
continuing education: universitas dapat
artikan perguruan tinggi sebagai institusi
dikembangkan menjadi media belajar
yang didedikasikan untuk: 1) menguasai,
sepanjang hayat bagi alumni; 3) me-
memanfaatkan, mentransformasikan, dan
ngembangkan costumer satisfaction index;
mengembangkan ilmu pengetahuan, tek-
dan 4) pemanfaatan alumni sebagai dosen
nologi dan seni; 2) mempelajari, mengkla-
rifikasi dan melestarikan budaya; dan 3) tamu, dosen professional, seminar, trai-
meningkatkan mutu kehidupan masya- ning dan lain-lain.
Berdasarkan pemikiran yang sama,
rakat. Perguruan tinggi sebagai pihak pe-
profil alumni setelah lulus belum dapat
nyelenggara pendidikan tinggi mempunyai
peran serta yang sangat penting dalam ditelusuri dengan baik, maka Program Stu-
mencerdaskan bangsa, khususnya di- di Pendidikan Teknik Elektronika, Jurusan
Pendidikan Teknik Elektronika, Fakultas
harapkan dapat menghasilkan lulusan-
Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta
lulusan berkualitas yang siap kerja mau-
menyelenggarakan tracer study pada
pun siap menciptakan lapangan kerja di
tahun 2015 terhadap para alumninya.
masyarakat. Perguruan tinggi diharapkan
Dengan tracer study ini diharapkan bisa
menghasilkan para lulusan yang berku-
menjadi bahan masukan atau kajian untuk
alitas sehngga mampu berkarya dengan
pengembangan kurikulum yang memiliki
baik dalam dunia praktis.
relevansi dengan kebutuhan dunia kerja.
Dalam menghadapi persaingan du-
Lebih lanjut lagi, dengan hasil tersebut,
nia kerja saat ini, pihak perguruan tinggi
maka lulusan Prodi Pendidikan Teknik
perlu merancang sistem pendidikan yang
Elektronika akan cepat terserap di dunia
sesuai dengan perubahan tuntutan ling-
kerja. Sebagai tambahan dengan lulusan
kungan eksternal dan juga kebutuhan
yang cepat terserap di dunia kerja akan
dunia usaha. Untuk itu, pihak perguruan
membantu prodi Pendidikan Teknik
tinggi perlu secara rutin mengikuti per-
Elektronika dalam mengisi salah satu butir
kembangan dan perubahan kebutuhan du-
evaluasi diri dan isian borang akreditasi,
nia praktis, agar terjalin link & match anta-
khususnya mengenai keberadaan lulusan
ra penyelenggara kegiatan perguruan ting-
setelah meninggalkan bangku kuliah.
gi dengan kebutuhan dunia praktis. Untuk
maksud tersebut, maka perlu dilakukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 94


Profil alumni yang memiliki nilai Dalam proses ini peneliti melakukan
penting pada Prodi Pendidikan Teknik observasi awal terhadap subjek penelitian
Elektronika perlu ditelusuri baik mengenai dan menyusun rancangan penelitian; (b)
keterserapan di dunia kerja, relevansi Tahap pekerjaan lapangan, pada tahap ini
kurikulum dan kesesuaian kompetensi baik peneliti memasuki dan memahami setting
menurut BAN-PT Dikti maupun dunia penelitian untuk melakukan pengumpulan
kerja. Adapun alumni dalam penelitian ini data. Langkah-langkah yang dilakukan
menjadi subjek penelitian yang akan dikaji adalah sebagai berikut: (1) menentukan
mencakup: 1) gambaran karirnya meliputi: rute penelusuran berdasarkan sebaran
(a) profil masa tunggu kerja pertama; (b) daerah asal alumni; (2) melaksanakan
posisi pekerjaan; (c) kepuasan stakeholder penelusuran terhadap alumni yang ter-
atas kinerja alumni; (d) pengembangan pilih secara acak dan lulus sampling; (3)
wawasan kependidikan alumni; 2) peni- wawacara dan pengisian angket (alumni
laian dan masukan alumni mengenai pe- dan stakeholder); (4) menyusun data
nyelenggaraan dan mutu layanan prodi lapangan sebagai bahan laporan; dan (5)
meliputi: (a) pembelajaran; (b) dosen; (c) evaluasi dan refleksi. (s) Tahap analisis
administrasi; (d) kegiatan pengembangan data, pada tahap ini peneliti melakukan
diri sebagai mahasiswa; dan 3) kese- serangkaian proses analisa data kuantitatif
suaian kompetensi bidang studi dengan berupa angket. Selanjutnya hasil diinter-
bidang kerja dilihat dari sudut pandang (a) pretasikan. Peneliti dalam tahan analisis
alumni; (b) BAN-PT Dikti; dan (c) tuntutan data ini melakukan proses triangulasi data;
dunia kerja. (d) Tahap evaluasi dan pelaporam, pada
METODE tahap ini merupakan tahap akhir dan
dilakukan setelah data hasil penelitian
Penelitian ini termasuk jenis telah dianalisis dan teruji.
penelitian deskriptif kualitatif (qualitative Subyek penelitian adalah alumni
research). Metode yang digunakan adalah Prodi Pendidikan Teknik Elektronika
survei menggunakan kuota sampling. angkatan di atas tahun 2000 yang sudah
Penelitian dilakukan bertempat di SMK bekerja. Dengan demikian, mengacu pada
kompetensi keahlian Audio Video, Elek- masa studi normal 4 tahun, maka alumni
tronika Industri, Mekatronika dan tempat yang menjadi target responden pada saat
industri yang relevan dengan Elektronika penelitian ini diselenggarakan pada tahun
yang mempekerjakan alumni Prodi Pen- 2001-2011 yang telah bekerja. Jenis data
didikan Teknik Elektronika UNY. Secara yg dikumpulkan dalam penelitian ini adalah
umum, pelaksanaan tracer study ini data primer yang diperoleh langsung dari
mencakup tiga langkah berikut: (1) pe- alumni melalui kuesioner yang terstruktur.
ngembangan konsep dan instrument; (2) Penyebaran kuisioner dilakukan kepada
pengumpulan data; dan (3) analisa data alumni secara online melalui email, face-
dan pelaporan. Dalam proses penelitian, book, mailing list, google doc dan juga
selanjutnya terdapat tiga tahap, yaitu: (a) disebarkan secara langsung kepada alum-
Tahap pra lapangan, pada tahap ini ni yang diketahui dengan jelas kebe-
peneliti melakukan survei pendahuluan. radaannya. Pengumpulan data lapangan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 95


dimulai pada Mei 2015 sampai dengan Pengumpulan data melalui instrumen yang
Agustus 2015. Berkaitan dengan sumber diunggah pada website diawali dengan
data penelitian, peneliti mengunakan menghubungi alumni melalui telepon,
beberapa teknik pengumpulan data, yaitu: SMS, email, maupun media sosial. Teknik
angket, wawancara dan dokumentasi. analisis data menggunakan analisis
Peneliti berperan sebagai perencana, deskriptif dengan persentase kemudian
pelaksana, pengumpul data, penafsir data diberikan penilaian yang bersifat kualitatif.
dan pelapor hasil penelitian. Instrumen Penelitian ini direspon oleh alumni
yang digunakan adalah lembar angket, sebanyak 92 orang.
pedoman wawancara, kamera untuk Pekerjaan alumni UNY dalam dunia
dokumentasi dan alat tulis. kerja meliputi beberapa bidang antara lain:
Teknik analisis data yang diiperlukan instansi pemerintahan (BUMN), sekolah
dalam penelitian ini adalah sebagai negeri, sekolah swasta, perusahaan
berikut: (a) Reduksi data (data reduction), swasta, dan wiraswasta. Berdasarkan
proses ini dilakukan dengan melakukan hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemilahan data dari catatan tertulis dari profesi yang paling banyak dijalani oleh
lapangan (observasi) dan hasil doku- alumni PTE FT UNY adalah sebagai
mentasi (rekaman video). Pemilhan data Guru/Dosen Swasta 26 %, Karyawan
dilakukan antara data yang masuk sebagai BUMN 5 %, Karyawan Swasta Nasional
data penelitian dan data yang yang tidak 19.5 %, Karyawan Swasta Regional 11,9
masuk data penelitian; (b) penyajian data %, PNS 3,2 %, PNS Guru/Dosen 8,69 %,
(display data). Data yang telah direduksi Wiraswasta/Wirausaha 8,69 %. Data
pada tahap sebelumnya disajikan dalam pekerjaan alumni ini dalam dunia kerja ini
laporan sistematis yang mudah dibaca dan disajikan dalam Tabel 1 sebagai berikut.
dipahami.; (c) pengambilan kesimpulan
(verification). Data yang telah diproses Tabel 1. Jenis Kegiatan Alumni PTE UNY
selanjtnya perlu disimpulkan dengan No Pekerjaan %
metode induktif yaitu penyimpulan dari hal- 1 Guru/Dosen Swasta 26 %
hal yang sifatnya khusus ke hal-hal yang 2 Karyawan BUMN 5%
sifatnya umum agar diperoleh kesimpulan 3 Karyawan Swasta Nasional 19.5 %
yang objektif. 4 Karyawan Swasta Regional 11,9 %
5 PNS 3,2 %
HASIL
6 PNS Guru/Dosen 8,69 %
Penelitian ini merupakan jenis pene- 7 Wiraswasta/Wirausaha 8,69 %
litian penelusuran (tracer study) dengan 8 Tidak Mengisi Kuosioner 17 %
pendekatan deskriptif. Subjek penelitian
adalah alumni Pendidikan Teknik Elek- Dari data di atas, terlihat bahwa
tronika FT Universitas Negeri Yogykarta alumni pendidikan teknik elektronika paling
lulusan tahun 2000 sampai dengan 2014 banyak bekerja sebagai guru/dosen
Teknik pengumpulan data dilakukan dimana didalamnya juga sebagai PNS dan
melalui website http://pendidikan-teknik- dilanjutkan bekerja sebagai karyawan
elektronika.ft.uny.ac.id/tracerstudy. swasta nasional.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 96


Hubungan antara bidang studi/keah- yang telah disebutkan di atas, sebagian
lian dengan dunia kerja meliputi: kurang, besar alumni dalam mencari pekerjaan
cukup, dan terpenuhi. Berdasarkan hasil adalah kurang dari 6 bulan. Bagian dari
penelitian menunjukkan bahwa responden masa tunggu kerja ini termasuk hitungan
yang bekerja memiliki hubungan yang bagi mereka yang melanjutkan study. Hal
kurang 17,39 %, cukup 29,34 %, dan ini mengindikasikan bahwa alumni tidak
terpenuhi 48,9 %. Data hubung anantara perlu menunggu lama untuk mendapatkan
bidang studi dengan dunia kerja dalam pekerjaan sesuai dengan latar belakang
Tabel 2 sebagai berikut. pendidikan yang dimiliki.
Selama proses mendapatkan peker-
Tabel 2. hubungan Antara Bidang Studi jaan, responden mendapatkan pekerjaan
Dengan Dunia Kerja melalui berbagai macam cara antara lain
No Jenis Kegiatan % melalui Almamater/Fakultas 9,7 %, Media
1 Kurang 17,39 % Cetak 3,2 %, Media Elektronik 19,56 %,
2 Cukup 29,34 % Orang tua/Saudara 4,34 %, Teman 23,91
3 Terpenuhi 48,9 % %. Posisi alumni PTE FT UNY dalam
4 Tidak Mengisi Kuosioner 4,37 % dunia kerja meliputi Tenaga Pengajar
30,43 %, karyawan 38 %, dan wirausaha
Masa tunggu kerja adalah masa atau 6,5 % dengan yang berpendapatan kurang
waktu tentang dari lulusnya alumni hingga dari 1 juta 6.52 %, antara 1 juta sampai 3
mendapatkan kerja. Berdasarkan hasil juta 45,65 %, antara 3 juta sampai 5 juta
penelitian, masa tunggu alumni untuk 25 %, dan lebih dari 5 juta 16,3 %. Data
mendapatkan pekerjaan bervariasi antara proses alumni dalam dunia kerja ini
kurang dari 6 bulan 82,62 %, antara 6 termuat dalam tabel 4 sebagai berikut.
sampai 18 bulan 2,17 % dan lebih dari 18
Tabel 4. Proses Mendapatkan Pekerjaan
bulan 15,21 %. Data penyerapan alumni
No Proses %
dalam dunia kerja ini termuat dalam tabel
1 Almamater/Fakultas 9,7 %
3 sebagai berikut.
2 Media Cetak 3,2 %
Tabel 3. Masa Tunggu 3 Media Elektronik 19,56 %
No Masa Tunggu % 4 Orang tua/Saudara 4,34 %
1 Kurang dari 6 bulan 82,62 % 5 Teman 23,91 %
2 Antara 6 sampai 18 bulan 2,17 % 6 Tidak Mengisi Kuosioner 39,29 %
3 Lebih dari 18 bulan 15,21 %
Posisi alumni PTE FT UNY dalam
4 Tidak Mengisi Kuosioner 0%
dunia kerja meliputi Tenaga Pengajar
30,43 %, karyawan 38 %, dan wirausaha
Berdasarkan tabel di atas, dapat
6,5 % dengan yang berpendapatan kurang
diketahui bahwa masa tunggu kerja
dari 1 juta 6.52 %, antara 1 juta sampai 3
responden berdasarkan periode kelulusan
juta 45,65 %, antara 3 juta sampai 5 juta
bervariasi satu dengan yang lain, tetapu
25 %, dan lebih dari 5 juta 16,3 %. Data
jika masa tunggu kerja tersebut digenera-
posisi alumni dalam dunia kerja ini termuat
lisasikan berdasarkan empat klasifikasi
dalam tabel 5 sebagai berikut.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 97


Tabel 5. Posisi Dalam Pekerjaan haan (industri) sehingga mampu bersaing
No Posisi pekerjaan % dengan mahasiswa lain di bidang industri;
1 Tenaga Pengajar 30,43 % (c) dalam hal komunikasi baik komunikasi
2 Karyawan 38 % dosen dengan mahasiswa maupun karya-
3 Wirausaha 6,5 % wan dengan mahasiswa dikatakan baik.
4 Tidak Mengisi Kuosioner 25,07 % Komunikasi ini berlangsung pada saat
berada di dalam kelas maupun di luar
Tabel 6. Pendapatan kelas saat melakukan bimbingan.
Jumlah Berdasarkan data hasil penelitian
No %
Pendapatan/Bulan diperoleh pemetaan kegiatan alumni seba-
1 Kurang dari 1 juta 6,52 % gai berikut. Alumni PTE FT UNY yang ber-
2 Antara 1 juta sampai 3 profesi sebagai Guru/Dosen Swasta 26 %,
45,65 %
juta Karyawan BUMN 5 %, Karyawan Swasta
3 Antara 3 juta sampai 5 Nasional 19.5 %, Karyawan Swasta
25 %
juta Regional 11,9 %, PNS 3,2 %, PNS
4 Lebih dari 5 juta 16,3 % Guru/Dosen 8,69%, Wiraswasta/Wirausa-
5 Tidak Mengisi Kuosioner 6,53 % ha 8,69%. Sedangkan pemetaan penye-
rapan, proses, dan posisi lulusan pada
Penilaian alumni mengenai penye- dunia kerja sebagai berikut. Masa tunggu
lenggaraaan dan mutu layanan ini meru- alumni untuk mendapatkan pekerjaan
pakan pendapat dari alumni tentang sis- bervariasi antara kurang dari 6 bulan 82,62
tem yang ada di prodi pendidikan teknik %, antara 6 sampai 18 bulan 2,17 % dan
elektronika. Berdasarkan data yang dipe- lebih dari 18 bulan 15,21 %. Selama
roleh sistem yang sudah dilakukan ada proses mendapatkan pekerjaan, respon-
penilaian baik dan kuarang baik. Penilaian den mendapatkan pekerjaan melalui ber-
tersebut dikategorikan dalam beberapa bagai macam cara antara lain melalui
aspek sebagai berikut: (1) dari sisi Almamter/Fakultas 9,7 %, Media Cetak 3,2
pembelajaran, prodi pendidikan teknik %, Media Elektronik 19,56 %, Orang
elektronika menekankan pada pembela- tua/Saudara 4,34 %, Teman 23,91 %.
jaran praktik sudah baik akan tetapi pada Posisi alumni PTE FT UNY dalam dunia
proses pembelajaran praktikum masih ada kerja meliputi Tenaga Pengajar 30,43 %,
beberapa peralatan yang digunakan masih karyawan 38 %, dan wirausaha 6,5 %
model lama; (b) apabila Prodi Pend. dengan yang berpendapatan kurang dari 1
Teknik elektronika akan melahirkan bakat juta 6.52 %, antara 1 juta sampai 3 juta
bakat pengajar yang profesional, seba- 45,65 %, antara 3 juta sampai 5 juta 25 %,
iknya tetap fokus dalam membentuk dan lebih dari 5 juta 16,3 %. Masa tunggu
karakter karakter pendidik yang handal. kerja alumni paling banyak adalah kurang
Akan tetapi jika sistem ini dipakai untuk dari 6 bulan. Masa tunggu kerja yang
mencetak pekerja (industri) yang memiliki sebentar ini adalah wujud keaktifan alumni
skill, maka tambahkan sebuah mata kuliah dalam mencari informasi lowongan kerja
yang benar benar mampu menjadikan baik melalui media cetak, media elektronik,
mereka handal di dalam sebuah perusa- teman, maupun melalui almamater/fakul-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 98


tas. Melalui almamater/fakultas adalah nyerap lulusan. Hubungan antara kompe-
melalui BKK FT UNY maupun BKK UNY. tensi bidang studi/keahlian dengan dunia
Selain itu PTE FT UNY dapat menjalin kerja meliputi: kurang, cukup, dan terpe-
lebih banyak lagi hubungan kemitraan nuhi. Berdasarkan hasil penelitian menun-
dengan perusahaan/industri untuk memu- jukkan bahwa responden yang bekerja
dahkan mahasiswa dan lulusan dalam memiliki hubungan yang kurang 17,39 %,
praktik kerja industri ataupun mencari cukup 29,34 %, dan terpenuhi 48,9 %.
kerja. Dari hasil survey terlihat bahwa 38% Masih kurangnya kompetemsi bid-
alumni bekerja sebagai karyawan peru- ang studi dengan dunia kerja ini karena
sahan baik nasional maupun lokal. ada beberapa kompetensi yang tidak dia-
Penilaian alumni mengenai penye- jarkan di prodi akan tetapi dituntut di dunia
lenggaraaan dan mutu layanan ini me- kerja. Mata kuliah yang diharapkan oleh
rupakan pendapat dari alumni tentang alumni yang selama ini belum mereka
sistem yang ada di prodi pendidikan teknik dapatkan adalah sensor, robotika, tele-
elektronika. Berdasarkan data yang dipe- metri, adaptive control, pengolahan citra
roleh sistem yang sudah dilakukan ada digital, fiber optik, kewirausahaan, mana-
penilaian baik dan kurang baik. Dari sisi jemen industri, electromedic, psikologi
pembelajaran, prodi pendidikan teknik pendidikan dan technopreneur. Akan tetapi
elektronika menekankan pada pembela- dalam kurikulum terbaru yaitu kurikulum
jaran praktik sudah baik akan tetapi pada 2014, beberapa mata kuliah yang diha-
proses pembelajaran praktikum masih ada rapkan alumni sudah dicantumkan sehing-
beberapa peralatan yang digunakan masih ga diharapkan ke depannya kompetensi
model lama. Dengan penilaian tersebut bidang study dengan dunia kerja sudah
diharapkan akan adanya perbaikan, pere- terpenuhi. Selain itu kurikulum PTE FT
majaan, modernisasi & peningkatan labo- UNY juga sesuai dengan kebutuhan
ratorium. Beberapa mata kuliah yang perlu tenaga pengajar yang dibutuhkan SMK.
ditambahkan agar mampu bersaing de-
ngan mahasiswa lainnya khususnya di SIMPULAN
bidang industri. Komunikasi yang baik an- Berdasarkan hasil penelitian dan
tara dosen dengan mahasiswa maupun pembahasan yang telah dikemukakan
karyawan dengan mahasiswa pada saat pada bab sebelumnya, maka diperoleh
berada di dalam kelas maupun di luar kesimpulan sebagai berikut: (1) Alumni
kelas saat melakukan bimbingan meru- PTE FT UNY yang berprofesi sebagai
pakan salah satu wujud pelayanan yang Guru/Dosen Swasta 26 %, Karyawan
dilakukan prodi PTE FT UNY. BUMN 5 %, Karyawan Swasta Nasional
Kecocokan antara kompetensi yang 19.5 %, Karyawan Swasta Regional 11,9
dimiliki oleh alumni dengan dunia kerja %, PNS 3,2 %, PNS Guru/Dosen 8,69 %,
merupakan isu sentral yang harus diatasi Wiraswasta/Wirausaha 8,69 % dengan
oleh prodi. Pengidentifikasian ini dapat masa tunggu alumni untuk mendapatkan
digunakan untuk kegiatan revisi kurikulum. pekerjaan bervariasi antara kurang dari 6
Selain itu dapat digunakan dalam mengi- bulan 82,62 %, antara 6 sampai 18 bulan
dentifikasi sektor kerja yang mampu me- 2,17 % dan lebih dari 18 bulan 15,21 %.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 99


Posisi alumni PTE FT UNY dalam dunia DAFTAR RUJUKAN
kerja meliputi Tenaga Pengajar 30,43 %, [1] Marwata.Eksistensi Perguruan Tinggi
karyawan 38 %, dan wirausaha 6,5 % Swasta. Diunduh dari http://cetak.
dengan yang berpendapatan kurang dari 1 kompas.com/read/2009/10/14/110119
juta 6.52 %, antara 1 juta sampai 3 juta 32/eksistensi.perguruan.tinggi.swast.
45,65 %, antara 3 juta sampai 5 juta 25 %, [2] Schomburg, Harald. Handbook for
dan lebih dari 5 juta 16,3 %. (2) Penilaian Graduate Tracer Studies: Centre for
alumni mengenai penyelenggaraaan dan Research on Higher Education and
mutu layanan ini merupakan pendapat dari Work, University of Kassel, Germany.
alumni tentang sistem yang ada di prodi 2003. Diunduh dari http://www.
pendidikan teknik elektronika. Berdasarkan qtafi.de/handbook_v2.pdf.
data yang diperoleh sistem yang sudah
dilakukan ada penilaian baik dan kurang [3] Departemen Pendidikan Nasional.
baik. Yang perlu ditingaktkan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. PT.
perbaikan, peremajaan, modernisasi dan Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
peningkatan laboratorium dan penambah- 2002
an mata kuliah yang perlu ditambahkan [4] Dhyah Setyotini,dkk. Kajian relevansi
agar mampu bersaing dengan mahasiswa kemampuan penguasaan bahasa
lainnya khususnya di bidang industri. (3) asing dan teknologi informasi lulusan
Hubungan antara kompetensi bidang prodi akuntasi FE UNY. Yogyakarta.
studi/keahlian dengan dunia kerja meliputi: 2012
kurang, cukup, dan terpenuhi. Berdasar-
[5] John M. Echols dan Hasan Shadily.
kan hasil penelitian menunjukkan bahwa
Kamus Inggris-Indonesia. PT.
responden yang bekerja memiliki hubung-
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
an yang kurang 17,39 %, cukup 29,34 %,
2014
dan terpenuhi 48,9 %.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 100


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 101-113
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

USAHA PENYIAPAN LULUSAN LPTK MELALUI


NEED ASSESSMENT ANALYSIS ALAT BANTU PRAKTIK INSTRUMENTASI

Pipit Utami
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: pipitutami@uny.ac.id

ABSTRAK
Saat ini LPTK mengalami tantangan yang semakin berat terkait kesempatan lulusan
mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut dikarenakan adanya perubahan-perubahan terkait kebutuhan
kompetensi lulusan LPTK dan dihadapkan pada pelaksanaan UU yang berimplikasi pada pendidikan
profesi yang harus ditempuh lulusan LPTK baik sebagai guru maupun sebagai insinyur. Dosen
berperan serta dalam penyiapan lulusan LPTK yang berkompeten dan berdaya saing dengan
mengembangkan alat bantu praktik yang memiliki relevansi dengan dunia kerja. Need assessment
analysis (NAA) merupakan salah satu tahapan pengembangan yang penting. Analisis diperoleh dari
studi pustaka, observasi di laboratorium praktik instrumentasi dan wawancara dengan mahasiswa,
teknisi dan dosen pengampu. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa adanya ketimpangan antara
alat bantu praktik intrumentasi yang ada dengan alat bantu praktik instrumentasi yang ideal.
Rekomendasi dalam pengembangan alat bantu praktik intrumentasi adalah alat bantu praktik yang
dikembangkan berwujud trainer terintegrasi, kumpulan labsheet, modul materi yang saling bersesuaian
untuk mendukung pemahaman konsep dan problem solving.
Kata Kunci: penyiapan lulusan LPTK, need assessment analysis, pengembangan alat bantu praktik
instrumentasi
ABSTRACT
LPTK (Teacher Education Institution) is currently experiencing increasing challenges associated
with the chance of its graduates to get jobs. It is due to the changes related to the required
competencies of LPTK graduates and LPTK is now faced with the implementation of the law regulating
that profession education has to be pursued by LPTK graduates both as teachers or engineers.
Lecturers participate in the preparation of competent and competitive LPTK graduates by developing
practical tools that are relevant to the world of work. Need assessment analysis (NAA) is one of the
important stages in the development. The analysis is obtained from literature studies, observations in
instrumentation practice laboratories, and interviews with students, technicians and lecturers.The facts
in the field suggests that there is imbalance between the existing instrumentation practice tools with
the ideal instrumentation practice tools. The recommendations for the problem is to developed
integrated trainer, labsheets, and modules that fit together to support the understanding of concepts
and problem solving.
Keywords: the preparation of LPTK graduates, need assessment analysis, the development of
instrumentation practice tools

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 101


PENDAHULUAN telah memperoleh sertifikat pendidik me-
miliki kesempatan yang sama untuk di-
Terdapat beberapa permasalahan di
pendidikan kejuruan, diantaranya terkait angkat menjadi guru pada satuan pendi-
tantangan perubahan yang begitu cepat, dikan tertentu; (2) bagian ketiga UU No.
kesempatan lulusan mendapatkan peker- 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi[5]
mengenai salah satu jenis pendidikan ting-
jaan, dan pembelajaran[1]. Teknologi yang
gi adalah pendidikan profesi yaitu pendi-
digunakan di Industri mengalami perkem-
dikan tinggi setelah program sarjana yang
bangan (perubahan) yang signifikan ber-
dampak pada perkembangan instrumenta- menyiapkan mahasiswa dalam pekerjaan
yang memerlukan persyaratan keahlian
si dan kontrol. Instrumentasi merupakan
khusus; dan (3) surat edaran dirjen dikti
salah satu mata kuliah yang dipelajari di
Pendidikan Teknik Elektronika[2]. Mata ku- No.127/E.E4/MI/2014 tanggal 10 Februari
2014[6] menjelaskan secara tegas bahwa
liah tersebut mempelajari konsep dan ka-
rakteristik dari transduser dan pengkondisi syarat perekrutan calon guru wajib me-
miliki sertifikat pendidik dan bukan akta
sinyal. Implikasi perubahan teknologi ber-
mengajar. Penerapan aturan-aturan terse-
akibat pada perubahan kecenderungan
pemilihan transduser dan pengkondisi si- but berimplikasi pada lulusan LPTK yang
nyal yang lebih efektif dan efisien (ekono- tidak serta merta secara langung dapat
mis). Saat ini telah ada alternatif pengukur menjadi guru atau tenaga pendidik di
lembaga pendidikan kejuruan. Dilain pihak
denyut jantung yang lebih ekonomis meng-
gunakan sensor optik yang dipasang pada dalam UU No 12 tahun 2012 tersebut
ujung jari[3], sedangkan pengukur denyut secara implisit memberikan peluang kepa-
jantung yang biasa digunakan cenderung da sarjana lulusan non-LPTK menempuh
pendidikan profesi untuk memperoleh hak
mahal dan dengan teknologi sensor yang
berbeda. Perkembangan teknologi ins- sebagai guru. Profesi guru sekarang me-
trumentasi tersebut harus dapat diikuti rupakan profesi terbuka dimana orang-
oleh LPTK sebagai lembaga pendidikan orang yang bekerja sebagai guru, meru-
vokasional (penghasil calon guru dan pakan lulusan yang tidak harus berasal
dari LPTK. Lulusan LPTK ketika melamar
calon praktisi di Industri-insinyur), bahkan
pekerjaan sebagai guru saat ini tidak
kedepannya harapannya pendidikan voka-
hanya bersaing dengan sesama lulusan
sional khususnya Pendidikan Teknik Elek-
LPTK, tetapi juga dengan lulusan non-
tronika tidak hanya jadi follower tetapi jadi
LPTK yang telah sama-sama lulus pendi-
innovator perkembangan teknologi.
dikan profesi guru. Lembaga pendidikan
Kesempatan lulusan LPTK menda-
menengah kejuruan akan dapat mempe-
patkan pekerjaan saat ini mendapatkan
kerjakan lulusan non-LPTK yang telah
tantangan yang berat. Dua learning out-
mengikuti pendidikan profesi guru.
came lulusan LPTK adalah menjadi calon
Peluang bekerja menjadi praktisi di
guru pendidikan kejuruan dan praktisi di
dunia industri pun menjadi berat. Hal ter-
dunia industri. Berdasarkan payung hukum
sebut terkait temuan bahwa tidak sedikit
yang terdiri dari: (1) UU No. 14 tahun 2005
institusi di dunia industri yang secara tegas
pasal 12 tentang Guru dan Dosen[4]
menolak pelamar pekerjaan yang lulus dari
menyatakan bahwa Setiap orang yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 102


LPTK[7]. Selain itu terdapat payung hukum Secara nyata hal tersebut dapat mem-
yang mendasari bahwa insinyur merupa- pengaruhi keberlanjutan LPTK sebagai
kan seseorang yang mempunyai gelar di pendidikan tinggi program sarjana yang
bidang Keinsinyuran yang diperoleh mela- mencetak guru kejuruan. Untuk menyikapi
lui Program Profesi Insinyur, sesuai UU hal tersebut LPTK sebagai lembaga pen-
No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran cetak guru senantiasa terus berupaya
[8]. Dengan demikian dapat dinyatakan meningkatkan perannya agar dapat terus
bahwa peran strategis LPTK dalam me- menghasilkan guru-guru profesional dibi-
nyiapkan lulusannya yang dapat diserap di dangnya[9] dan praktisi dunia industri. Se-
lembaga pendidikan menengah kejuruan mua stakeholder di LPTK harus berperan
(guru) dan di Industri (praktisi) saat ini dalam upaya penyiapan lulusan LPTK
mendapatkan tantangan berat. yang bermutu. Dosen dalam hal ini adalah
Pada dua sektor dunia kerja ter- dosen di Jurusan Pendidikan Teknik
sebut lulusan LPTK bersaing dengan lulus- Elektronika dapat berperan dalam usaha
an non-LPTK yang dinilai dunia kerja le- penyiapan lulusan LPTK yang berkom-
bih berkompeten. Hal tersebut dikarena- peten sesuai kebutuhan perubahan tekno-
kan porsi mata kuliah terkait bidang ke- logi Instrumentasi.
ilmuan yang diajarkan di LPTK lebih kecil Persaingan dengan lulusan LPTK
dari porsi yang diajarkan di non-LPTK. Be- lainnya dan lulusan non-LPTK menem-
ban minimal sebanyak 144 SKS yang patkan lulusan LPTK pada posisi yang sulit
harus ditempuh mahasiswa sarjana di apabila tidak dibekali penguasaan kompe-
LPTK tidak hanya berisi mata kuliah tensi untuk bersaing mendapatkan kesem-
bidang keilmuan, tetapi juga berisi mata patan kerja. Pembelajaran merupakan pro-
kuliah kependidikan. Perbedaan porsi be- ses tepat yang dapat digunakan dalam
ban SKS mata kuliah bidang keilmuan me- upaya penyiapan lulusan bermutu. Pembe-
nyebabkan dugaan dunia industri, bahwa lajaran tersebut perlu dikelola dengan baik
pencapaian kompetensi lulusan non-LPTK oleh Dosen. Dosen LPTK harus sadar
lebih tinggi dari pencapaian kompetensi bahwa dengan adanya perbedaan porsi
lulusan LPTK. Oleh karena itu, dunia in- beban SKS mata kuliah bidang keilmuan di
dustri lebih memilih untuk mempekerjakan LPTK dan di non-LPTK, lulusan LPTK
lulusan non-LPTK. harus tetap menguasai kompetensi bidang
Lulusan LPTK harus berkompeten keilmuan. Kompetensi tersebut disesuai-
dan berdaya saing agar dapat mempe- kan kebutuhan perkembangan teknologi
roleh pekerjaan sesuai harapan. Selain saat ini, misalnya perubahan teknologi
bersaing dengan sesama lulusan LPTK, instrumentasi untuk lulusan sarjana Pendi-
lulusan LPTK dengan penguasaan kompe- dikan Teknik Elektronika. Dengan meng-
tensinya harus siap dengan adanya pe- ikuti perkembangan teknologi saat ini dan
saing tambahan dari lulusan non-LPTK. kecenderungan perkembangannya, maka
Hal tersebut memiliki arti bahwa kesem- lulusan LPTK dapat bersaing dengan lu-
patan lulusan LPTK mendapatkan pekerja- lusan lainnya dan beradaptasi dengan ling-
an menjadi berkurang, baik sebagai guru kungan tenologi di dunia kerja.
maupun sebagai praktisi di dunia industri.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 103


Dosen sebagai tenaga pengajar di gai pendidik profesional, dosen tidak ha-
LPTK memiliki peran yang penting dalam nya terbatas sebagai pengajar tetapi juga
mewujudkan lulusan LPTK yang mampu sebagai inovator pembelajaran. Salah satu
bersaing di dunia kerja dengan lulusan inovasi pembelajaran yang bisa dilakukan
non-LPTK baik di lembaga pendidikan adalah melakukan pengembangan alat
menengah kejuruan maupun di bidang bantu praktik. Dalam artikel ini akan dipa-
industri. Peran Dosen LPTK perlu bersi- parkan mengenai alternatif penyelesaian
nergi dengan peran LPTK, yaitu peran masalah terkait usaha penyiapan lulusan
strategis dalam penyiapan SDM berkua- LPTK yang dapat dilakukan dosen berupa
litas yang dapat bekerja di Industri dan pengembangan alat bantu praktik dan
bekerja di lembaga pendidikan kejuruan rekomendasi dari need asseessment
atau dalam istilah lain menyiapkan lulusan analysis alat bantu praktik instrumentasi.
terserap di dunia kerja. Keterserapan lu- METODE
lusan tersebut berkaitan erat dengan pe-
nguasaan kompetensi lulusan yang diper- Kompetensi Praktik Instrumentasi
lukan di dunia kerja. memiliki urgensi tinggi dikarenakan meng-
Kualitas lulusan LPTK diawali dari alami perubahan yang cukup signifikan.
pembelajaran serta pembentukan maha- Hampir semua peralatan di dunia industri
siswa di LPTK[10]. Pembelajaran yang menggunakan sistem Instrumentasi. Kom-
dikelola dosen hendaknya berpijak pada petensi tersebut penting dikuasai bagi
kompetensi te-naga pendidik sesuai lulusan LPTK khususnya lulusan Pendi-
amanat UU No. 14 tahun 2005 pasal 69 dikan Teknik Elektronika. Walaupun akan
tentang Guru dan Dosen[4], yang me- menjadi guru, kompetensi instrumentasi
nyebutkan bahwa terdapat empat kompe- penting dikarenakan guru kejuruan perlu
tensi dosen yang perlu dikembangkan, di- memberikan bekal pada siswa tentang
antaranya kompetensi pedagogik, kompe- penerapan instrumentasi di dunia industri.
tensi kepribadian, kompetensi sosial, dan Pengembangan alat bantu praktik
kompetensi profesional. Peracangan pem- Instrumentasi yang dilakukan dosen
belajaran merupakan salah satu kegiatan sebagai salah satu usaha penyiapan
yang bisa dilakukan dalam pengembangan lulusan LPTK perlu mengacu pada
kompetensi dosen tersebut. Dimana pem- pendekatan pembelajaran yang tepat. Hal
belajaran yang dirancang memiliki relevan- tersebut diperoleh melalui studi pustaka
si dengan perubahan-perubahan kebutuh- dari karya pakar pendidikan vokasional
an teknologi. dan wawancara menggunakan pedoman
Dosen memiliki tugas utama tidak wawancara kepada dosen pengampu Ma-
lagi terbatas hanya mengajar, tetapi harus ta Kuliah Praktik Instrumentasi.
mengembangkan dan menyiapkan ling- Dalam pengembangan alat bantu
kungan belajar, menempatkan kebutuhan praktik pada mata kuliah Praktik Instru-
dunia kerja sebagai sasaran dan tanggap mentasi diperlukan tahapan pengembang-
terhadap berbagai perubahan yang terjadi an. Salah satu langkah penelitian pe-
dan dapat mempengaruhi upaya penyiap- ngembangan adalah studi pendahuluan
an lulusan LPTK. Dengan demikian, seba- (mengkaji teori dan mengamati produk

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 104


atau kegiatan yang ada) dengan menggu- tepat untuk semua materi evaluasi[13].
nakan metode deskriptif digunakan dalam Menurut Mc Cawley[14], terdapat 7 kom-
penelitian awal untuk menghimpun data ponen dalam melakukan need assess-
tentang kondisi yang ada[11]. Studi penda- ment, diantaranya adalah: write objectives,
huluan yang dimaksud dalam hal ini ada- select audience, collect data, select au-
lah need assessment analysis (NAA). Me- dience sample, pick an instrument, analy-
tode assessmen yang digunakan menggu- ze data dan follow up. Sedangkan Alessi &
nakan teknik deskriptif, dikarenakan teknik Trollip[15] menyatakan bahwa dalam ana-
pengambilan data yang dilakukan salah lisis kebutuhan terdapat dua tahap analisis
satunya adalah wawancara [12]. Asesmen yaitu: (1) need assessment yang terdiri
merupakan komponen penting dan terin- dari analisis kondisi lapangan, kondisi
tegrasi yang diperoleh dari desain peneli- ideal, prioritas dan tujuan; (2) front end
tian dan proses pendidikan. Tujuan NAA analysis yang terdiri dari analisis audience,
adalah mengetahui apa yang sudah dike- technology, situational, task, critical
tahui (kondisi saat ini) dan yang diharap- incident, objective, media, extant data,
kan (kondisi ideal) oleh pengguna sehing- cost. Hannafin & Peck[16] menyatakan
ga dapat mendeskripsikan produk pendi- bahwa dalam fase need assesment
dikan dalam hal ini alat bantu praktik yang analysis yang diperlukan adalah analisa
tepat. Tujuan lainnya adalah untuk me- tujuan, pengetahuan dan keterampilan
nentukan langkah-langkah yang bisa dila- yang diperlukan penguna, peralatan dalam
kukan dalam pengembangan alat bantu pembuatan produk yang dikembangkan.
praktik yang mudah diakses, dapat dite- Definisi NAA pengembangan alat
rima dan berguna bagi pengguna. Dengan bantu praktik adalah diperolehnya reko-
melakukan NAA, dapat menggambarkan
mendasi sebagai solusi terjadinya gap,
gap antara kondisi yang sebenarnya dalam hal ini kebutuhan alat bantu praktik
dengan kondisi ideal yang dibutuhkan. Se- Instrumentasi. Dari definisi tersebut, taha-
lanjutnya dengan menganalisa hasil temu- pan analisis yang diambil dari desain ins-
an, maka dapat diperoleh rekomendasi truksional menurut Schiffman[17] meliputi
sebagai solusi permasalahan yang dapat
establish overall goal, conduct task ana-
menggambarkan kebutuhan yang diperlu- lysis, specify objectives, develop assess-
kan dalam pengembangan alat bantu ment strategies and select media. Dengan
praktik. Pada intinya NAA berupaya untuk
mempertimbangkan dan mengadopsi taha-
meningkatkan pembelajaran mahasiswa.
pan NAA dari para pakar dan kebutuhan
Dari berbagai paparan tersebut, maka
pengembangan alat bantu praktik instru-
NAA merupakan pendekatan sistematis
mentasi, tahapan NAA yang dilakukan ter-
untuk mengetahui seberapa besar gap an-
diri dari: (1) penemuan permasalahan ber-
tara kondisi yang ada dengan kondisi
tujuan menemukan permasalahan yang
ideal, sehingga dapat diberikan rekomen-
dihadapi dalam pembelajaran; (2) penen-
dasi sebagai solusi terjadinya gap.
tuan tujuan bertujuan merumuskan tujuan
Dalam melakukan NAA dibutuhkan pengembangan alat bantu praktik; (3) pe-
metode yang tepat terkait materi yang di nentuan aspek pengumpulan data bertuju-
evaluasi, dimana tidak ada metode yang an menentukan data-data terkait pembela-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 105


jaran, kebutuhan materi dan kebutuhan HASIL
alat bantu praktik; (4) pemilihan responden
Dalam tahapan penemuan perma-
bertujuan memilih responden-responden
salahan dilakukan untuk menemukan ber-
yang selama ini terlibat secara langsung
bagai permasalahan pembelajaran saat
dalam mata kuliah praktik intrumentasi; (5)
ini. Permasalahan tersebut salah satunya
penentuan teknik pengumpulan data ber-
adalah aspek alat bantu praktik diketahui
tujuan untuk menentukan teknik yang tepat
bahwa kurang update teknologi instru-
dan efektif untuk mengumpulkan data; (6)
mentasi terkini/bekerja kurang baik/tidak
pengembangan instrumen bertujuan untuk
berfungsi sebagaimana mestinya/tidak
membuat instrumen berdasarkan aspek
sesuai teori/rusak sama sekali tidak bisa
pengumpulan data dan memvalidasi ins-
digunakan/sulit dilakukan maintenance
trumen; (7) penganalisaan data bertujuan
karena keterbatasan sparepart (tidak
untuk mendapatkan hasil temuan data;
diproduksi lagi)/kurang dapat diimplemen-
dan (8) pemberian rekomendasi sebagai
tasikan/membingungkan jika dihubungkan
simpulan temuan data yaitu memberikan
dengan penerapan di kehidupan sehari-
deskripsi kebutuhan pengembangan alat
hari/dunia kerja, alat ukur terbatas, bahan
bantu praktik instrumentasi. Berikut ini
praktikum kurang memadai (rusak, jumlah
adalah gambaran tahapan NAA yang
yang tersedia kurang) dan K3 alat praktik
dilakukan dalam pe-nelitian ini.
belum dioptimalkan. Dengan menerapkan
pendekatan konstruktif maka mahasiswa
perlu mendapatkan tugas yang otentik dan
Penemuan Permasalahan
bermakna dalam hal ini update dan match
dengan dunia kerja[18]. Hal tersebut sejalan
Penentuan Tujuan
dengan 16 Prinsip Pendidikan Vokasional
dari Prosser[19], dimana beberapa dianta-
Penentuan Aspek
ranya menyebutkan bahwa pendidikan vo-
Pengumpulan Data
kasional akan efisien jika pembelajar dila-
tih menggunakan peralatan yang sama a-
Pemilihan Responden
tau replika dari pelatan yang digunakan di
dunia kerja. Dosen LPTK harus memak-
Penentuan Teknik
simalkan pencapaian kompetensi maha-
Pengumpulan Data
siswa dengan beban SKS yang ada untuk
menghasilkan lulusan yang dapat bersaing
Pengembangan Instrumen
dengan lulusan non-LPTK melalui kegiatan
pembelajaran. Dengan kata lain dosen
Penganalisaan Data
LPTK sebagai inovator pembelajaran perlu
mengembangkan media pembelajaran
Pemberian Rekomendasi bisa dalam bentuk alat bantu praktik yang
mirip dengan yang ada di dunia kerja
Gambar 1. Tahapan NAA menerapkan pendekatan konstruktif.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 106


Permasalahan lain yang ditemukan Tujuan yang ditetapkan dalam
adalah aspek praktikum kurang mendu- pengembangan alat bantu praktik ini ada-
kung pengembangan pemahaman yang lah untuk mengetahui kebutuhan pengem-
mendalam, problem solving, pemberian bangan alat bantu praktik Instrumentasi
contoh aplikasi dunia nyata dan belum yang sesuai dengan berbagai perubahan
memberikan gambaran jelas hasil praktik teknologi instrumentasi yang terjadi dan
(tujuan pembelajaran). Berdasarkan memiliki relevansi dengan dunia kerja. Hal
pandangankonstruktif, mampu bertanya tersebut sebagai upaya penyiapan lulusan
dengan pertanyaan yang tepat pada waktu LPTK yang berkompeten dan berdaya
yang tepat, mengantisipasi kerancuan saing. Dengaan melihat permasalahan dan
konsep, dan memiliki kesiapan tugas- tujuan yang telah dirumuskan maka,
tugas akan membantu mahasiswa aspek-aspek pengumpulan data secara
mendapat pemahaman yang lebih men- umum terdiri dari aspek pembelajaran,
dalam terhadap materi[20]. Upaya penca- materi dan alat bantu praktik. Aspek-aspek
paian kemampuan problem solving oleh tersebut diperinci lagi kepada subaspek-
mahasiswa bisa dilakukan dengan pem- subaspek yang lebih spesifik, diantaranya
berian tugas berbasis masalah baik well- adalah: (1) kondisi saat ini; (2) kondisi
structured problems maupun ill-structured ideal; (3) tingkat urgensi materi praktik
problems terkait penerapan sensor dan instrumentasi; (4) jenis media yang paling
pengkondisi sinyal. Cara penyelesaian ma- tepat; (5) alat bantu praktik ideal yang
salah dari well-structured problems melalui dibutuhkan; (6) prioritas manfaat alat bantu
pemrosesan informasi dalam pembelajar- praktik yang akan dikembangkan; (7)
an, sedangkan penyelesaian masalah ill- prinsip mengajar dosen yang digunakan
structured problems bergantung pada dalam penggunaan alat bantu praktik
pendekatan konstruktif dan kognitif instrumentasi; (8) model pembelajaran
pembelajaran[21]. Dengan demikian dosen praktik instrumentasi yang tepat; dan (9)
perlu merancang penugasan-penugasan komentar.
berbasis masalah dengan pendekatan
Responden sebagai sumber data terdiri
konstruktif dan kognitif.
dari tiga dosen pengampu mata kuliah
Perlunya penambahan keterangan praktik Instrumentasi, satu orang teknisi
datasheet komponen-komponen yang laboratorium tempat praktik Instrumentasi
digunakan pada labsheet ditambah belum berlangsung dan 20 maha-siswa yang
adanya modul materi dan manual sudah melaksanakan mata kuliah Praktik
penggunaan alat bantu praktik menjadi Instrumentasi. Pemilihan responden
permasalahan lain dalam mata kuliah tersebut dikarenakan ketiga karakteristik
Praktik Instrumentasi. Kelengkapan materi responden tersebut merupa-kan
mendukung aktivitas belajar mahasiswa, responden yang secara spesifik ber-kaitan
sehingga fokus mahasiswa pada praktik erat dengan mata kuliah praktik
dapat terjaga. Dengan demikian dosen Instrumentasi[17], dan diperlukan dukungan
perlu mengembangkan materi dalam ben- sesama peneliti di pendidikan teknik
tuk labsheet dan modul secara lengkap. (dosen-dosen)[12]. Terdapat tiga teknik dan
instrumen pengumpulan data dalam NAA

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 107


ini, yaitu: (1) Studi pustaka yang diguna- trumen memenuhi validasi konstruk, dima-
kan untuk pengkajian buku teks dan jurnal na pedoman wawancara dan observasi
terkait penggunaan teknologi instrumentasi dikembangkan dari subaspek-subaspek
terkini; (2) Wawancara menggunakan pe- pengumpulan data yang telah dirumuskan
doman wawancara; dan (3) Observasi sebelumnya dan divalidasi oleh expert
menggunakan pedoman observasi. Ketiga judgement[22,23]. Berikut ini adalah aspek-
instrumen digunakan untuk mendapatkan aspek pengumpulan data pada tiap teknik
hasil yang mendalam. Pengembangan ins- pengumpulan data.

Tabel1. Aspek pengumpulan data pada tiap responden


No. Teknik Subaspek
1. Studi pustaka Mater-materi instrumentasi terkini
2. Wawancara a. Kondisi saat ini
b. Kondisi ideal
c. Tingkat urgensi materi praktik instrumentasi
d. Jenis media yang paling tepat
e. Alat bantu praktik ideal yang dibutuhkan
f. Prioritas manfaat alat bantu praktik yang akan dikembangkan
g. Prinsip mengajar dosen yang digunakan dalam penggunaan
alat bantu praktik instrumentasi
h. Model pembelajaran praktik instrumentasi yang tepat
i. Komentar
3. Observasi Kondisi alat bantu praktik saat ini

Analisa data yang dilakukan adalah liki kesesuaian dengan jawaban yang dibe-
reduksi data, triangulasi data, display data rikan responden lain serta memilah solusi/
dan penarikan simpulan[24]. Data diperoleh rekomendasi yang tepat dibutuhkan[17].
dengan mereduksi data yang tidak relevan Berikut ini adalah data-data hasil temuan
dengan pertanyaan dan yang tidak memi- yang diperoleh.

Tabel 2. Gap Kondisi Pelaksanaan Pembelajaran Mata Kuliah Praktik Instrumentasi


Saat ini Ideal
Belum secara intens melakukan Melakukan aktivitas pembuktian teori dan materi sesuai
hubungan aktivitas dan materi kecenderungan perkembangan teknologi saat ini.
praktik sesuai kebutuhan dunia Pengelompokkan didesain oleh dosen dengan
kerja dan materi lain. mempertimbangkan gaya belajar, gender dan
Dilaksanakan secara kemampuan akademik.
berkelompok (maksimal terdiri Model pembelajaran yang bisa digunakan adalah
atas 4 anggota kelompok). tanyajawab, diskusi, drill, demonstrasi, pemberian
tugas, pemecahan masalah yang tetap sesuai alur
Sebelum praktik dijelaskan
terlebih dahulu tentang materi pembelajaran (pembuka, proses dan penutup).
Menerapkan prinsip-prinsip mengajar seperti:
yang akan dipraktikkan dan
prosedur praktik. penggunaan media, memancing aktivitas mahasiswa
dalam berpikir dan berbuat, menghubungkan pelajaran
Diakhir perkuliahan terdapat dengan pengetahuan/pengalaman mahasiswa, tujuan
pemberian kesimpulan. jelas, melatih kerjasama dalam kelompok dan
Menggunakan pendekatan membangkitkan perhatian mahasiswa dalam pelajaran.
teacher-centered. Menggunakan pendekatan student-centered.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 108


Dengan menggunakan pendekatan bantu praktik[26]. Pembelajaran kooperatif
konstruktif maka pembelajaran ideal yang merupakan salah satu model pembela-
diharapkan dapat tercapai. Dalam jaran yang sesuai dengan teori konstruk-
perkuliahan praktik yang menerapkan tivisme[27]. Pembelajaran kooperatif bisa
konstruktvisme, mahasiswa membangun dijadikan salah satu alternatif dalam upaya
pemahamannya sendiri berdasarkan pe- untuk mendukung pembelajaran dengan
ngetahuan awal dan pengalaman maha- pendekatan student-centered, meningkat-
siswa[25]. Dengan demikian dosen tidak kan kemampuan akademik, melatih
lagi sekedar memindahkan informasi kerjasama dan mengembangkan higher
kepada mahasiswa. Dilain pihak dosen order thinking[28,29,30,31]. Pemahaman
harus membangun perkulahan praktik konsep dan pemecahan masalah
yang membantu mahasiswa mengem- merupakan bagian dari higher order
bangkan kemampuannya melalui aktivitas thinking.
perkuliahan praktik menggunakan alat

Tabel 3. Gap Kondisi Materi Mata Kuliah Praktik Instrumentasi


Saat ini Ideal
Materi yang dipelajari terdiri dari: Materi-materi yang dipelajari terdiri dari: pengukuran
konsep-konsep dan karakteristik dan konsep instrumentasi, konsep dasar sensor dan
transduser, konsep dan karakteristik transduser, konsep dan karakteristik berbagai
rangkaian pengolah sinyal sensor dan transduser, konsep dan karakteristik
(rangkaian jembatan wheatstone, rangkaian pengkondisi sinyal (rangkaian jembatan
rangkaian penguat beda, rangkaian wheatstone, rangkaian pembagi tegangan,
penguat jembatan, rangkaian rangkaian komparator, rangkaian penguat beda,
penguat instrumentasi, rangkaian rangkaian penguat jembatan, rangkaian penguat
konverter zero-span, konverter V/I- instrumentasi, rangkaian konverter, filter), dan
I/V, konverter V/F-F/V) aplikasi sensor dan pengkondisi sinyal.

Pada lingkungan pendidikan vokasi- mulai dari pengalaman langsung (kong-


onal, pembelajaran dilakukan berdasarkan krit), kenyataan yang ada di lingkungan
kompetensi. Dalam pembelajaran tersebut kehidupan seseorang kemudian melalui
pencapaian kompetensi praktik yang dimi- benda tiruan, sampai pada lambang verbal
liki mahasiswa berhubungan dengan ber- (abstrak)[33]. Benda objek memberikan
bagai tugas yang dibutuhkan dalam dunia pengalaman yang logis dan kongkrit, se-
kerja[32]. Dengan demikian materi-materi hingga dapat memberikan pengaruh yang
praktik yang dipelajari harus memilki kese- besar. Alat bantu yang dikembangkan
suaian dengan kecenderungan perkem- perlu memiliki relevansi, mutu teknis,
bangan (perubahan) teknologi instrumen- kemudahan, kemenarikan, dan keman-
tasi saat ini. faatan[34,35]. Hal tersebut perlu diperhatikan
Alat bantu praktik Instrumentasi dalam pengembangan alat bantu praktik
sebagai media pembelajaran yang paling instrumentasi yang mendukung kemampu-
tepat adalah benda objek dan bahan an pemahaman konsep dan problem
cetak. Pengaruh media dalam pembe- solving melalui praktik dan tugas individu
lajaran dapat dilihat dari jenjang penga- yang disediakan dalam labsheet.
laman belajar yang diterima mahasiswa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 109


Tabel 5. Gap Kondisi Alat Bantu Praktik Mata Kuliah Praktik Instrumentasi
Saat ini Ideal
Terdiri dari: kumpulan Media yang paling sesuai: benda objek fisik, bahan cetak,
labsheet, project board tidak komputer dan audio-video.
terkoneksi sumber daya, Diperlukan: (1) trainer terintegrasi, berisi trainer berupa
alat dan bahan yang rangkaian sebenarnya yang terdapat titik-titik pengukuran,
terpisah (bon alat dan project board terkoneksi sumber tegangan, area praktek
bahan sesuai kebutuhan trainer, area penyimpanan bahan beserta isinya dan area
praktik kepada teknisi), dan penyimpanan alat ukur beserta isinya. Trainer dibangun
alat ukur. aplikatif sesuai penerapan yang ada, terdiri dari: (a) sensor:
Sensor yang digunakan: ultrasonik, sensor gas, IR, optical encoder, PIR, humidity
potensiometer, LVDT, RTD, sensor, Phmeter, suhu, rotary sensor; dan (b) pengkondisi
Thermistor, LM35/LM335, sinyal berupa rangkaian jembatan wheatstone, rangkaian
Sensor level. pembagi tegangan, rangkaian komparator, rangkaian
Pengkondisi sinyal yang penguat beda, rangkaian penguat jembatan, rangkaian
sudah ada trainer praktik penguat instrumentasi, rangkaian konverter, filter; dengan
yaitu jembatan wheatstone unjuk kerja dan bahan berkualitas. Trainer memenuhi aspek
yang sudah ada trainer-nya, materi, kemanfaatan, keberfungsian (unjuk kerja) dan
sedangkan yang lain belum tampilan yang sederhana dan rapi-konsisten; (2) media
ada trainer. cetak berupa modul materi berisi materi ideal Praktik
Belum ada contoh Instrumentasi, dibahas dengan pendekatan deduktif secara
penerapan sensor dan komprehensif dan memuat konsep-konsep; (3) media cetak
pengkondisi sinyal. berupa kumpulan Labsheet berisi langkah-langkah praktik
sesuai materi ideal dan berisi latihan praktik untuk
Beberapa sensor sudah out mengembangkan problem solving; (4) media cetak berupa
of date, sehingga warnanya manual penggunaan trainer berisi petunjuk penggunaan
memudar, tidak berfungsi trainer termasuk K3. Dimana media cetak dikembangkan
sebagaimana memenuhi aspek materi, kemanfaatan, dan tampilan yang
mestinya/rusak, sulit sederhana dan rapi-konsisten.
digunakan dan kurang
menarik. Prioritas manfaat yang alat bantu praktik yang diunggulkan:
(1) menghadirkan aplikasi penerapan dunia nyata; (2)
Materi praktik belum match memperjelas penyajian informasi; (3) membantu pencapaian
dengan penggunaan sensor kemampuan problem solving; (4) memudahkan pemahaman
dan pengkondisi sinyal konsep dan tidak menyulitkan saat digunakan; (5)
terkini. memotivasi dan mengarahkan perhatian mahasiswa.

SIMPULAN tif agar mahasiswa mendapatkan tugas


Dosen perlu berperan dalam upaya yang otentik dan bermakna dalam hal ini
update dan match dengan dunia kerja.
penyiapan lulusan LPTK yang berkompe-
Dosen perlu merancang berbagai penu-
ten dan berdaya saing dengan menjadi
inovator pembelajaran. Salah satu inovasi gasan berbasis masalah yang didukung a-
danya materi sesuai kecenderungan peru-
yang bias dilakukan dengan mengem-
bahan teknologi instrumentasi saat ini. Di-
bangkan alat bantu praktik pembelajaran
yang mirip dengan yang ada di dunia kerja mana hal-hal tersebut dapat dikembang-
kan dalam bentuk alat bantu praktik (hard-
dengan menerapkan pendekatan konstruk-
ware), labsheet dan modul materi, dimana

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 110


hal-hal tersebut dikembang-kan dengan karakteristik rangkaian pengolah signal
pendekatan konstruktif dan kognitif untuk (rangkaian jembatan wheatstone, rangkai-
mengembangkan kemampuan pemaha- an pembagi tegangan, rangkaian kompa-
man konsep dan pemecahan masalah. rator, rangkaian penguat beda, rangkaian
penguat jembatan, rangkaian penguat
Temuan di lapangan menunjukkan
instrumentasi, rangkaian konverter, filter),
bahwa adanya ketimpangan antara alat
aplikasi sensor dan pengolah signal.
bantu praktik intrumentasi di kelas dengan
Pendekatan materi yang dibahas adalah
kebutuhan perubahan teknologi instrumen-
deduktif, modul memiliki bahasan yang
tasi yang ada. Rekomendasi dalam
lebih komprehensif dan memuat konsep-
pengem-bangan alat bantu praktik
konsep, memenuhi aspek materi, keman-
intrumentasi adalah alat bantu praktik yang
faatan, dan tampilan yang sederhana dan
dikembangkan berwujud: (1) trainer
rapi-konsisten); dimana kesemuanya sa-
terintegrasi (berisi trainer berupa
ling bersesuaian untuk mendukung pema-
rangkaian sebenarnya yang terdapat titik-
haman konsep dan problem solving.
titik pengukuran, project board terkoneksi
sumber tegangan, area praktek trainer, DAFTAR RUJUKAN
area penyimpanan bahan beserta isinya [1] Wagiran. Peran LPTK dalam
dan area penyimpanan alat ukur beserta Mengembangkan Pendidikan
isinya. Trainer dibangun aplikatif sesuai Kejuruan secara Holistik dan
penerapan yang ada, terdiri dari: (a) Implikasinya bagi Penyiapan Guru
sensor: ultrasonik, sensor gas, IR, optical Kejuruan Profesional. Seminar
encoder, PIR, humidity sensor, Phmeter, Nasional Revitalisasi Peran UNY
suhu, rotary sensor; dan (b) pengkondisi dalam Mewujudkan Tenaga
sinyal berupa rangkaian jem-batan
Kependidikan Profesional. Hal: 27-40.
wheatstone, rangkaian pembagi te-
gangan, rangkaian komparator, rangkaian [2] Kurikulum Jurusan Pendidikan Teknik
penguat beda, rangkaian penguat jemba- Elektronika Tahun 2014. FT UNY
tan, rangkaian penguat instrumentasi, (tidak diterbitkan)
rangkaian konverter, filter; dengan unjuk [3] Comert, Bahadir., Istanbullu, Ayhan.,
kerja dan bahan berkualitas. Trainer me- & Turhal, Ugur. Low cost and portable
menuhi aspek materi, kemanfaatan, keber- heartbeat rate measurement from the
fungsian (unjuk kerja) dan tampilan yang finger. Proceedings The 5th
sederhana dan rapi-konsisten); (2) kum- International Symposium on
pulan labsheet (berisi langkah-langkah Sustainable Development. 2014 hal:
praktik menggunakan trainer dan berisi 197-204
latihan praktik untuk mengembangkan [4] UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru
problem solving, memenuhi aspek materi, dan Dosen. Diambil dari
kemanfaatan, dan tampilan yang seder- aturan.dikti.go.id/upload/uu_14_2005.
hana dan rapi-konsisten); (3) modul materi pdf
(berisi inti materi: pengukuran dan konsep
[5] UU No. 12 tahun 2012 tentang
instrumentasi, konsep dasar dan karak-
Pendidikan Tinggi. diambil dari
teristik berbagai sensor dan transduser,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 111


http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/176 (APTEKINDO) ke 7 FPTK Universitas
24/UU0122012_Full.pdf Pendidikan Indonesia. Hal: 861-868.
[6] Surat edaran dirjen dikti [11] Sukmadinata, N. S. Metode Penelitian
No.127/E.E4/MI/2014 tanggal 10 Pendidikan. Bandung: PT Remaja
Februari 2014. Diambil dari Rosdakarya. 2006
http://www.unsam.ac.id/wp- [12] Olds, BarbaraM., Moskal,Barbara M.,
content/uploads/2014/08/sertifikat- & Miller Ronald L. Assessment in
pendidik.pdf Engineering Education: Evolution,
[7] Tasma Sucita. Kajian Alternatif Approaches and Future
Peranan Program Studi Kependidikan Collaborations. Journal of
pada Suatu Lembaga Pendidikan Engineering Education 2005 hal
Tenaga Kependidikan Sebagai 13:25
Penghasil Guru Profesional. Prosiding [13] Messner, Angelina. Needs Assessent
Konvensi Nasional Asosiasi and Analysis Methods. Partial
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Fullfillment of the requirement for the
(APTEKINDO) ke 7 FPTK Universitas Master of Science Degree in Training
Pendidikan Indonesia. Hal: 1120 and Development. The Graduate
1126. School University of Wisconsin-Stout.
[8] UU No. 11 Tahun 2014 tentang 2009
Keinsinyuran. Diambil dari [14] McCawley, Paul F. Methods for
http:??sindiker.dikti.go.id/dok/UU/UU1 Conducting an Educational Needs
1-2014Keinsinyuran.pdf Assessment: Guidelines for
[9] Erzeddin Alwi, M. Nasir. Tantangan Cooperative Extension System
Peranan LPTK dalam Mewujudkan Professionals. Idaho: University of
Guru Pendidikan Vokasi yang Idaho Extension, 2009
Profesional. Prosiding Konvensi [15] Alessi, S. M. & Trollip, S. R.
Nasional Asosiasi Pendidikan Multimedia for learning: Methods and
Teknologi dan Kejuruan development 3rd ed. Massachusetts:
(APTEKINDO) ke 7 FPTK Universitas Allyn and Bacon. 2011
Pendidikan Indonesia. Hal: 312 317.
[16] Hannafin, M. J. & Peck, K. L. The
[9] Budihardjo AH. Peran LPTK dalam design, development, and evaluation
Membentuk Guru Vokasional yang of instruction software. New York:
Profesional. Seminar Internasional MacMiillan Publishing Company.
Peran LPTK dalam Pegembangan 1988
Pendidikan Vokasi di Indonesia. Hal:
[17] Schiffman, Shirl S. Instructional
299-302
Technology: Past, Present and Future
[10] Paulina Thomas. Peran LPTK dalam 2nd Edition. Englewood, CO:
Membentuk Guru Vokasional yang Libraries Unlimited Inc
Profesional. Prosiding Konvensi
[18] Tam, Maureen. Constructivism,
Nasional Asosiasi Pendidikan
Instructional Design and Technology:
Teknologi dan Kejuruan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 112


Implication for Transforming Distance [27] Trianto. Mendesain model
Learning. Journal of Educational pembelajaran inovatif-progresif.
Technology & Society 3 (2) 2000. Hal Jakarta: Kencana. 2010
50:60 [28] Stockdale, S. L., & Williams, R.L.
[19] Prosser, Charles A. Prossers Sixteen Cooperative learning groups at the
Theorems on Vocational Education A college level: differential effects on
Basis for Vocational Philosophy. high, average, and low exam
Diambil dari performers. Journal of Behavioral
http://www.morgancc.edu/docs/io/Glo Education, 2004 Vol.13, No. 1, 37-50
ssary/Content/PROSSER.PDF [29] Arends, R.I. Learning to teach: belajar
[20] Shepard, Lorrie A. The Role of untuk mengajar edisi ketujuh/buku
Assessment in a Learning Culture. dua. (Terjemahan Helly Prajitno
Educational Researcher 29 (7) 2000 Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto).
hal 4 -14. Boston: McGrawHill. 2008
[21] Jonassen, David H. "Instructional [30] Slavin, E. R. Cooperative learning:
design models for well-structured and teori, riset dan praktek (Terjemahan
III-structured problem-solving learning Lita dan Zubaedi). London: Allyn &
outcomes." Educational Technology Bacon. 2009
Research and Development 45, no. 1 [31] Gillies, R.M. Cooperative learning.
(1997): 65-94. Los Angeles: Sage Publications. 2007
[22] Kuthy, Jim. Developing, Validating [32] Torrance, Harry. Assessment as
and Analyzing Structured Interviews. learning? How the use of explicit
Advers Impact and test Validation: A learning objectives, assessment
Practitioners Handbook: Chapter 4. criteria and feedback in post-
Biddle Consulting Group, Inc. 2012 secondary education and training can
[23] Prescot, Francis J. Validating a long come to dominate learning.
Qualitative Interview Schedule. Assessment in Education 14 (3), 2007
WoPalP, Vol 5. 2011. Hal:16-38 hal 281-294
[24] Miles. M & Huberman M, Analisis data [33] Azhar Arsyad. Media Pembelajaran.
Kualitatif, (terjemahan Tjetjep Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Rohendi rohidi), Universitas indonesia 2007
(UI Press). Jakarta. 1992 [34] Nana Sudjana & Ahmad Rivai. Media
[25] DellOlio, J.M., & Donk, T. Models of Pengajaran. Bandung: C.V. Sinar
teaching. Thousand Oaks: Sage Baru Bandung. 1990
Publications. 2007 [35] St. Mulyanta & M Leong. Tutorial
[26] Lebow, David. "Constructivist values Membangun Multimedia Interaktif -
for instructional systems design: Five Media Pembelajaran. Yogyakarta:
principles toward a new mindset." Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Educational technology research and 2009.
development 41, no. 3 (1993): 4-16

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 113


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 114-122
Artikel Ilmiah (Hasil Penelitian)

PEMANFAATAN VIDEO TUTORIAL PEMBELAJARAN SEBAGAI UPAYA


PENINGKATAN KEMAMPUAN APLIKASI KOMPUTER
Ponco Wali Pranoto
Universitas Negeri Yogyakarta
Email:poncowali@uny.ac.id

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi aplikasi komputer siswa SMKN 1
Pajangan Bantul. Peningkatan difokuskan pada aspek penerapan kemampuan dalam mengatur layout
dasar, membuat garis, variasi, modifikasi objek dan produk. Penelitian dilakukan dengan penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan berdasar perencanaan, tindakan dan refleksi sesuai siklusnya.
Subjek penelitian adalah siswa kelas XI kompetensi keahlian rekayasa perangkat lunak berjumlah 72
siswa. Kolaborator dalam penelitian ini adalah guru mata diklat KKPI yang telah mengajar mata diklat
dan ketua kompetensi keahlian. Tindakan pembelajaran dilakukan dengan mengklasifikasi nilai-nilai
yang disesuaikan dengan materi yang disesuaikan dengan materi mata diklat. Dengan menerapkan
proses belajar mandiri dari video tutorial interaktif, tugas dan kuis. Pelaksanaan pembelajaran dengan
video tutorial memberikan dampak peningkatan kemampuan mengoperasikan perangkat lunak aplikasi
komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan video tutorial berhasil dilaksanakan pada
tahun ajaran 2014/2015. Perolehan hasil siklus I = 72 % kemudian mengalami peningkatan pada siklus
II = 85%. Siswa nampak semangat dan ingin mencari sumber bahan bacaan terbaru, suasana aktivitas
belajar lebih bervariasi, inovatif serta menarik. Peningkatan hasil belajar ditunjukkan siswa pada
kesungguhan dan tanggung jawab dalam mengerjakan serta menyelesaikan tugas. Pengetahuan
tersebut berjalan seiring dengan pemahaman dan persepsi materi yang disampaikan guru dapat
dipahami secara mendalam tentang arti penting mata diklat dalam dunia kerja.
Kata kunci:aplikasi komputer, penelitian tindakan kelas, video tutorial

ABSTRACT

This study aims to improve the students competence of computer applicationin SMK 1
PajanganBantul. The study was conducted by following the cycles of an action research consisting of
planning, action and reflection in each cycle. The subjects of the study were 72studentsof class XI
Software Engineering department. The collaborators in this study were Computer Skills and
Management Information teacher and the head of vocation competence. The learning process was
done by classifying the values that were adjusted with the materials. The implementation of learning
with video tutorials improved the students ability to operate computer software. The results of the
study showed that the use of video tutorials was successfully implemented in the academic year of
2014/2015. The results of the first cycle= 72%, then improved in the second cycle = 85%. The students
were highly motivated to find the source of the latest reading materials;the learning activities were
more varied, innovative and attractive. The Improvement of the students learning outcome was
indicated by the students responsibility in doing and completing the tasks. The students understood
the material presented by the teacher about the importance of the subject in the world of work.
Keywords: computer applications, action research, video tutorials

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 114


ngah Kejuruan. Banyak lulusan Sekolah
PENDAHULUAN
Menengah Kejuruan yang dirasa belum
Perkembangan teknologi informasi kompeten pada bidangnya dan memilih
dan komunikasi semakin pesat dan pekerjaan yang tidak atau kurang sesuai
munculnya berbagai rekayasa bidang dengan bidang keahliannya. Ketrampilan
perangkat lunak (software) untuk bidang dari siswa Sekolah Menengah Kejuruan
komputer. Perkembangan ini berpengaruh yang menjadi daya saing daripada lulusan
besar terhadap pola kehidupan manusia Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah
sehari-hari, mulai dari perilaku sosial belum memberikan dampak yang signifi-
sampai dengan interaksi antar manusia kan terhadap berkurangnya pengang-
serta linkungan yang mulai bergantung guran. Adanya penyampaian atau dengan
pada teknologi informasi dan komunikasi. cara mengadopsi teknologi informasi dan
Hubungan tersebut ditandai de- komunikasi secara arif dan bijaksana
ngan adanya aplikasi komputer dalam diharapkan mampu mendorong ide-ide
bentuk perangkat lunak yang mendukung baru yang positif bagi lulusan SMK.
untuk bisa dilangsungkan secara terbuka. Kebutuhan dunia kerja yang dituntut
Untuk mewujudkan sesuatu yang nyata dengan persaingan dan kemajuan
dan dapat dinikmati oleh khalayak ramai teknologi masih banyak membutuhkan
membutuhkan keahlian khusus dan ko- tenaga dari lulusan SMK. Berkaitan
mitmen yang jelas. Dalam menghadapinya dengan itu kemampuan siswa dalam
juga diperlukan kemampuan dan kemauan aplikasi komputer belum terlihat mulai dari
untuk belajar sepanjang hayat dengan sekolah. Pengalaman yang masih kurang
cepat dan cerdas. juga menghambat mereka mendapatkan
Berbagai macam hasil dari per- pekerjaan. Situasi seperti siswa kurang
wujudan teknologi informasi banyak mem- memahami terhadap aplikasi komputer
buat manusia dapat belajar secara cepat yang telah diajarkan membuat pola belajar
dan praktis. Upaya penerapan teknologi kurang semangat.
informasi dan komunikasi bidang pendi- Berdasarkan dokumen nilai siswa
dikan salah satunya ditandai dengan ha- pada aplikasi grafis masih dibawah rata-
dirnya multimedia pembelajaran sebagai rata 70 belum dapat menujukkan hasil
sarana belajar dan mengajar. Diharapkan yang memuaskan. Siswa belum termo-
merupakan solusi alternatif untuk mening- tivasi dengan baik untuk mendapatkan
katkan mutu pendidikan Indonesia. hasil yang maksimal. Setelah siswa diberi
Pendidikan di sekolah menengah tugas belum mampu menyelesaikan
khususnya, Sekolah Menengah Kejuruan dengan baik. Padahal tugas tersebut
mengarah pada pengetahuan praktis dan merupakan salah satu contoh standar
berorientasi kepada dunia usaha/dunia kerja yang akhirnya menjadi kebutuhan
industri. Penerapan hal tersebut dengan setiap hari setelah lulus.
menambahkan mata diklat sesuai dengan Peran siswa dalam penggunaan
situasi perkembangan dunia industri selain komputer tidak secara maksimal meman-
mata diklat produktif yang menjadi faatkan media belajar. Sebenarnya siswa
kompetensi dasar siswa Sekolah Mene- dapat mencari informasi tentang dunia

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 115


kerja dan perkembangan dunia, pendi- Peneparan pembelajaran melalui
dikan yang lebih tinggi melalui internet. jejaring sosial video (youtube.com)
Peran sekolah sebagai lembaga pendi- merupakan satu penggunaan teknologi
dikan memberikan peranan yang banyak internet dalam penyampaian pembelajaran
supaya dapat memberikan pelayanan dalam jangkauan luas. Pengiriman infor-
terbaik ke siswa. masi sampai ke end user dengan demikian
Pemilihan media menjadi penting urgensi teknologi informasi dapat diopti-
karena kedudukan yang strategis untuk malkan untuk pendidikan.
keberhasilan pembelajaran. Alasannya Menumbuhkan kebiasaan belajar
karena didasarkan atas konsep pem- bagi siswa membutuhkan suatu kreativitas
belajaran sebagai sebuah sistem yang dan kemampuan untuk mendapatkan hasil
didalamnya terdapat suatu totalitas yang yang optimal. Proses pembelajaran se-
terdiri atas sejumlah komponen yang ringkali dihadapkan pada materi yang
saling berkaitan untuk mencapai tujuan. disampaikan secara secara singkat dari
Jika dilihat prosedur pengembangan proses belajar mengajar di kelas, sehingga
desain instruksional maka diawali dengan materi disampaikan guru belum sepe-
perumusan tujuan instruksional khusus nuhnya terserap oleh siswa. Faktor waktu
sebagai pengembangan dari tujuan yang membatasi juga dapat menyebabkan
instruksional umum, kemudian dilanjutkan tidak teralokasinya kompetensi yang
dengan menentukan materi pembelajaran diharapkan dan mampu mengakomodasi
yang menunjang ketercapaian tujuan kreatifitas siswa.
pembelajaran serta menentukan strategi Proses pembelajaran masih terba-
pembelajaran yang tepat. Upaya untuk tas pada penggunaan handout, proyektor
mewujudkan tujuan pembelajaran dan ceramah langsung. Laboratorium
ditunjang oleh media yang sesuai dengan komputer yang sudah memadai belum
materi, strategi yang digunakan, dan dipergunakan secara optimal. Belum
karakteristik siswa. diberikan keleluasaan untuk mengeks-
Menurut Geriach & Elly[1] mengemu- plorasi dan konfirmasi untuk menunjang
kakan bahwa komponen media sebagai kompetensi program keahlian dan men-
bagian integral dalam keseluruhan sistem dapatkan informasi pekerjaan yang akan
pembelajaran. Dalam melakukan pemilih- dijalaninya esok.
an media agar memiliki kesesuaian de- Di sekolah belum terdapat multi-
ngan tujuan (specification of objective), media pembelajaran interaktif atau media
kesesuaian dengan isi (specification of lain. Bahkan penggunaan video tutorial
content), strategi pembelajaran (determi- pembelajaran terbatas sebagai masukan
nation of strategi), dan waktu yang semata, bukan sebagai acuan utama
tersedia (allocation of time). Menurut Arif mengelola pola belajar. Media di sekolah
Sadiman[2] mengemukakan bahwa tugas belum mengakomodasikan siswa yang
pengguna adalah memilih media yang cepat dan siswa yang lambat dalam
tepat dengan kebutuhan pembelajaran memahami materi mata diklat. Dengan
sesuai dengan karakteristik siswa dan video tidak perlu menunggu handout atau
karakteristik materi pembelajaran. ceramah yang disampaikan. Siswa dapat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 116


mengulang materi yang belum dipahami kognitif siswa. Pertama ialah menemukan
sesuai dengan kecepatan pemahaman (Inquiry) merupakan siklus proses dalam
masing-masing. membangun pengetahuan atau konsep
Pembelajaran dalam bidang yang bermula dari melakukan observasi,
teknologi informasi dan komunikasi bertanya, investigasi, analisis, dan
dibentuk dari siswa mengetahui secara kemudian membangun teori. Kedua ialah
nyata tentang penggunaan TIK, membuat bertanya (Questioning) merupakan salah
program sendiri atau merekayasa ulang satu kegiatan dalam mengawali,
program. Proses pelaksanaan memer- menguatkan, dan menyimpulkan sebuah
lukan pendampingan dari guru yang telah konsep. Ketiga ialah masyarakat belajar
mendapatkan pengalaman lebih dulu. (Learning Community) merupakan
Siswa dapat mempelajari materi mata pengetahuan dan pemahaman anak
diklat melalui internet secara mandiri dan ditopang banyak oleh komunikasi dengan
mengerjakan tugasnya. Bahkan siswa orang lain. Suatu permasalahan tidak
mampu berkomunikasi dengan siswa lain mungkin dapat di pecahkan sendiri, tetapi
tanpa dipandu oleh guru. Hambatan dalam membutuhkan bantuan orang lain.
pembelajaran dapat dikonsultasikan seca- Keempat ialah pemodelan (Modeling)
ra mandiri oleh siswa masing-masing. merupakan fasilitasi suatu model tentang
Wina Sanjaya[3] esensi dari teori kons- cara belajar, baik dilakukan oleh peserta
truktivisme adalah bahwa peserta didik didik maupun oleh guru sendiri. Kelima
harus menemukan dan mentransformasi- ialah refleksi merupakan cara berpikir atau
kan suatu informasi kompleks ke situasi respon peserta didik tentang materi yang
lain dan dapat dijadikan milik mereka baru dipelajari maupun berpikir
sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran kebelakang mengenai materi yang sudah
harus dikemas menjadi proses mengkons- dipelajari. Keenam ialah penilaian autentik
truksi bukan menerima pengetahuan. (Authentic Assessment) merupakan peni-
Dalam proses pembelajaran, peserta didik laian memandang bahwa kemajuan belajar
membangun sendiri pengetahuan mereka diniliai dari proses, tidak semata-mata
melalui keterlibatan aktif dalam proses hasilnya.
pembelajaran. Teori pemrosesan informasi adalah
Kegiatan belajar menurut Paul teori kognitif tentang belajar yang
Suparno[4] adalah kegiatan yang aktif menjelaskan pemrosesan, penyimpanan,
dimana siswa membangun sendiri penge- dan pemanggilan kembali pengetahuan
tahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari dari otak, menurut Slavin[5]. Komponen
materi yang mereka pelajari. Ini meru- pertama dari sistem memori dijumpai oleh
pakan proses menyesuaikan konsep dan informasi yang masuk adalah registrasi
ide-ide baru dengan kerangka pikir yang penginderaan. Jenis pemanfaatan media
telah ada dalam pikiran mereka. Proses melalui video tutorial dibuat sedemikian
pembelajaran menurut Wina Sanjaya[3] rupa sehingga mampu menggabungkan
dilakukan berdasarkan pada beberapa kinerja penglihatan dan pendegaran sin-
tahapan yang merupakan suatu siklus kron yang akhirnya tersimpan di memori
dalam upaya meningkatkan kemampuan secara parsial atau utuh. Informasi melalui

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 117


multimedia diharapkan mampu menam- onal Indonesia (SKKNI); dan 4) mampu
pung ketertarikan siswa belajar komputer mencari dan mengelola informasi bagi
dengan teratur serta terukur. kebutuhan hidupnya dan peningkatan
Penelitian dilakukan supaya dapat dirinya. Hakekatnya mata diklat KKPI
berperan aktif dalam pengembangan adalah kompetensi mengoperasikan pe-
media pembelajaran video. Upaya dila- rangkat komputer menggunakan software,
kukan sekolah sebagai penunjang kegi- untuk kebutuhan kerja maupun untuk
atan pembelajaran yang positif. Penyiapan keperluan kehidupan sehari-hari (computer
siswa SMK sebagai pionir mengurangi literacy). Pengelolaan informasi adalah
pengangguran dengan dibekali contoh proses mencari informasi, mengelolanya
pembelajaran kreatif dan inovatif. Video sebagai data di dalam komputer, dan pada
tutorial berisi tentang kompentensi dan sub saatnya mengolah menjadi sebuah
kompetensi mata pelajaran grafis yaitu informasi baru, yang dikemas dalam
Coreldraw yang akan dipelajari siswa pada bentuk laporan atau tampilan siap saji.
satuan pembelajaran. Kompetensi tersebut Guru mesti mampu menyajikan media
sangat penting bagi siswa dengan pembelajaran yang kreatif dan inovaif agar
kompetensi keahlian Rekayasa Perangkat dapat diakses siswa secara langsung serta
Lunak karena digunakan sebagai pendu- mendapatkan hasil nyata.
kung dalam pengolahan sistem informasi METODE
secara terpadu. Berkembangnya web,
desain dan e-comerce memberikan dam- Metode yang digunakan adalah
pak luar biasa bagi lulusan. Persaingan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini
daya saing menuntut lulusan dapat meng- dilaksanakan SMK N 1 Pajangan Bantul
operasikan dan menghasilkan kreatifitas tahun pelajaran 2014/2015. Kompetensi
dengan software pengolahan gambar. dasar yang diberikan adalah mengatur
Mata diklat KKPI adalah salah layout dasar, membuat garis, modifikasi
satu mata pelajaran adaptif yang diberikan dan variasi objek. Pembelajaran dimulai
kepada semua bidang keahlian di Sekolah setelah semua instrumen dan media siap
Menengah Kejuruan. Mata pelajaran ini untuk digunakan pada proses pengam-
sebagai dasar pengetahuan teknologi bilan data penelitian. Selanjutnya dila-
informasi, dengan demikian generasi masa kukan dalam siklus-siklus sesuai dengan
depan dapat mengikuti derap perkem- rencana tindakan penelitian.
bangan global. Mata diklat ini sebagai Penelitian ini menitikberatkan upaya
upaya agar setiap insan anak bangsa peningkatan kualitas subyek penelitian dan
"melek teknologi dan melek informasi". dapat membantu menyelesaikan permasa-
Tujuan adalah agar siswa mampu: 1) lahan pembelajaran KKPI untuk siswa
menggunakan teknologi informasi dan SMK yaitu: (1) kurangnya pemahaman
komunikasi dalam kehidupan sehari-hari; aplikasi komputer khususnya dasar-dasar
2) mengaplikasikan komputer sesuai de- dalam bidang grafis; (2) kurangnya pema-
ngan standar kompetensi kerja; 3) memiliki haman tentang tool-tool dalam software
kemampuan aplikasi komputer sesuai grafis CorelDRAW; (3) kurang ada keter-
dengan Standar Kompetensi Kerja Nasi- tarikan siswa terhadap mata diklat; (4)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 118


pada saat mengikuti pelajaran siswa planning (perencanaan), action
nampak acuh, kurang suka dan menger- (pelaksnaan), observasi, dan reflection
jakan tugas apa adanya. Desain penelitian (refleksi). Berikut ini adalah model yang
diadopsi dari model Kemmis&McTaggart[6] digunakan dalam penelitian tindakan
menggunakan empat komponen yaitu kelas.

Rencana tindakan Pelaksanaan tindakan


Melakukan persiapan yang berhubungan Dilaksanakan pembelajaran KKPI dengan
dengan persiapan awal tindakan, yaitu : menerapkan pembelajaran video tutorial
identifikasi masalah, penyusunan rencana yaitu siswa mengakses materi, tugas
pembelajaran, membuat instrumen penelitian Pembelajaran ini ditujukan kepada siswa
dan mempersiapkan alat-alat untuk proses kelas XI RPL SMKN 1 Pajangan Bantul
pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran
terencana.

Refleksi I Observasi
1. Mengumpulkan semua data yang diperoleh Mengamati dan mencatat segala peristiwa
kemudian dievaluasi. selama tindakan dengan menggunakan
2. Menganalisis semua data yang diperoleh lembar observasi
untuk mengetahui perubahan yang terjadi
selama tindakan
3. Hasil refleksi dari siklus I digunakan sebagai
dasar untuk perbaikan dan merencanakan
tindakan pada siklus berikutnya.
tidak

ya Terselesaikan

Belum terselesaikan

Siklus II, dan seterusnya

Gambar 1. Langkah PTK pada Pengembangan Video Tutorial Pembelajaran

Data dalam penelitian tindakan Materi yang diberikan sifatnya esensial


berfungsi sebagai landasan refleksi. Data saja dan merupakan hal yang mereka
diambil dimulai saat peneliti memberikan butuhkan nantinya setelah lulus. Hake-
penjelasan tentang konsep aplikasi grafis. katnya siswa lebih mudah belajar dan
Data berbentuk catatan lapangan, komen- memiliki rasa tanggung jawab penuh
tator, nilai tugas dan catatan lain. Subyek terhadap hasil pekerjaannya, antar siswa
penelitian adalah siswa program keahlian menjadi lebih termotivasi.
rekayasa perangkat lunak SMKN 1 Paja- Sumber data diperoleh dari: 1)
ngan Bantul sebanyak 72 siswa yang telah bertanya langsung kepada siswa; 2)
memiliki dasar mampu menggunakan ap- bertanya kepada guru yang mengajar
likasi office dan multimedia dengan tepat. bidang sama; 3) mencermati daftar nilai

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 119


siswa. Data diperoleh, kemudian dikumpul- pengalaman baru. Dengan dilaksanakan-
kan untuk diolah secara sistematis. nya praktik secara langsung situasi belajar
Dimulai dari wawancara, observasi, meng- siswa menjadi lebih aktif dan benar-benar
edit, mengklasifikasi, mereduksi, selanjut- mampu menguasai bidang teknologi in-
nya aktivitas penyajian data serta menyim- formasi sehingga proses pembelajaran
pulkan data. tidak memberikan kesan membosankan.
Berikut adalah gambar hasil pengolahan
HASIL
dengan software Coreldraw mata diklat
Pembelajaran komputer membuat ketrampilan komputer dan pengelolaan
siswa beranggapan bahwa siswa dapat informasi.
menuangkan ide, mengutak-atik program, Proses pembelajaran dilaksanakan
bermain games, atau sekadar membuka secara langsung di laboratorium komputer
internet. Penelitian dan tindakan yang dengan memanfaatkan fasilitas seperti
membuat siswa lebih aktif, terarah, dan internet dan standar multimedia, sehingga
menunjang pembelajaran serta kemampu- memungkinkan siswa mencari sumber
an daya pikir. Pembelajaran komputer bacaan, mengetahui berita terkini, dan
tidak hanya mempelajari konsep dan interaksi baik antarsiswa atau dengan
tuntutan kurikulum. Pembelajaran tersebut guru. Berikut adalah hasil pengolahan
juga dapat menambah keterampilan dan objek dengan software Coreldraw.

Gambar 2. Hasil pengolahan layout dasar, membuat garis, variasi, modifikasi objek dan produk

Implementasi tindakan yang tidak terduga ke dalam lembar


Tahapan selanjutnya adalah penga- pengamatan. Hal-hal tersebut berkaitan
matan yang dilakukan guru dengan dengan apa yang terjadi pada saat proses
dibantu kolaborator. Saat pelaksanaan tindakan, pengaruh tindakan yang
pembelajaran berlangsung, kolaborator disengaja, keadaan dan kendala tindakan.
mencatat hal yang diamati, selain itu Implementasi dilaksanakan dengan dua
observer harus bersifat fleksibel dan siklus, yaitu siklus pertama sebelum
terbuka dengan cara mencatat hal-hal menggunakan video tutorial, berikutnya

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 120


siklus kedua menggunakan video tutorial. aplikasi komputer. Gambar 3 menampilkan
Setiap siklus dilaksanakan dua kali hasil pengamatan terhadap kemampuan
pertemua guna melihat seberapa besar aplikasi komputer siklus 1 dan gambar 4
pemanfaatan video tutorial yang telah menampilkan hasil pengamatan terhadap
dibuat untuk meningkatkan kemampuan kemampuan aplikasi komputer siklus 2.

Siklus I
70 65%
60%
60
50 45%
40 35%
30
20
10
0
Pertemuan I Pertemuan II
1 Kemampuan aplikasi komputer sebelum menggunakan video tutorial

2 Kemampuan aplikasi komputer setelah menggunakan video tutorial

Gambar 3. Pengamatan aktivitas siswa siklus 1

60 55 % Siklus II
53%
50 45 % 47 %

40
30
20
10
0
Pertemuan I Pertemuan II
1. Kemampuan aplikasi komputer sebelum menggunakan video tutorial
2. Kemampuan aplikasi komputer setelah menggunakan video tutorial

Gambar 4. Pengamatan aktivitas siswa siklus 2

Pembelajaran yang diterapkan membantu dan membuat tidak membo-


adalah dengan cara siswa terlibat aktif sankan. Siswa merasa lebih senang
mengikuti seluruh kegiatan. Pembelajaran sekaligus tertarik terhadap penyampaian
terlihat meningkat dengan ditandai siswa dengan video tutorial yang interaktif.
mampu menguasai kompetensi dasar, Peningkatan kemampuan aplikasi terlihat
keseriusan siswa dalam belajar meningkat saat siswa diberi tugas membuat logo
dan mampu mengoperasikan toolbox seperti Kementrian, Universitas dan logo
dengan baik. Berdasarkan informasi dari perusahaan.
siswa pembelajaran tersebut sangat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 121


Intensitas pemanfaatan media layout dasar 39%, mampu membuat garis
pembelajaran berhubungan dengan sara- dan variasi 45%, mampu modifikasi objek
na dan prasarana sekolah menyediakan 16%. (3) Siswa dapat menerima penggu-
fasilitas belajar. Contoh yang diperoleh naan video tutorial pembelajaran dengan
adalah video tutorial. Kemasan dalam baik dengan hasil persentase siklus I =
media tersebut juga bervariasi, ada yang 72% dan siklus II = 85% sehingga terdapat
model sederhana dan ada yang bernuansa peningkatan sebesar 13%. Hasil temuan
seni. Hasil yang diperoleh tidak selamanya dari tanggapan dapat meningkatkan ke-
utuh, terkadang siswa merasa kesulitan. mampuan aplikasi komputer siswa tidak
Namun dengan jenis media ini siswa lain cepat bosan, bervariasi dan membuat
mampu mengisi dan memberikan penge- semangat belajar
tahuan kepada temannya. DAFTAR RUJUKAN
Kemampuan siswa dalam aplikasi [1] Geriach Vernon, S. dan Ely Donald,
komputer dapat meningkat dengan dipe- P. Teaching & Media (A
rolehnya variasi hasil pekerjaan siswa. Systematic Approach) Second
Siswa banyak bereksplorasi dari media Edition. Prentice-Hall. inc.
video tutorial tersebut. Pemanfaatan media NewJersey: Englewood Cliff, 1980.
ini mampu meningkatkan kemampuan
aplikasi komputer siswa 11%. Kesadaran [2] Sadiman, Arief. Media Pendidikan,
siswa memanfaatkan video tutorial tumbuh Aplikasi dan Penerapannya.
sesuai dengan tingkat pemahaman. Purtekom Diknas: Jakarta, 2012.

SIMPULAN [3] Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran


Berorientasi Standar Proses
Dari hasil penelitian yang dilakukan Pendidikan. Jakarta: Kencana,
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pernada Media Group, 2006.
(1) Inovasi pembelajaran dengan video
tutorial juga mampu meningkatkan ke- [4] Suparno, Paul. Filsafat
mampuan aplikasi komputer siswa yaitu Konstruktivisme Dalam Pendidikan.
ditandai siswa dapat menggunakan fungsi Yogyakarta: Kanisius, 2008.
aplikasi toolbox dan aplikasi dalam bentuk [5] Slavin, R.E. Cooperative Learning:
bervariasi (logo, ID-card atau brosur) Teori, Riset dan Praktik. Bandung:
terhadap pokok bahasan mata diklat KKPI Nusa Media, 2009.
serta memiliki rasa ingin tahu tinggi (2)
[6] Kemmis, S&Taggart, R Mc.The Action
Hasil dari proses belajar mengajar melalui
Research Planner. Geelong: Deakin
perantara media video tutorial pembe-
University, 1990.
lajaran mampu meningkatkan pengolahan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 122


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal.123-131
Artikel Ilmiah (Hasil Telaah Pustaka)

STRATEGI IMPLEMENTASI PROGRAM INDUKSI GURU


PENDIDIKAN KEJURUAN

Pramudi Utomo
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: pramudi_ut@uny.ac.id

ABSTRAK
Makalah ini menyajikan pembahasan tentang strategi implementasi program induksi yang
diorientasikan bagi guru pada pendidikan kejuruan. Guru kejuruan pada masa-masa mendatang
menghadapi adanya tantangan dan tuntutan melek informasi (information literacy) dan mampu
mengembangkan pengetahuannya (knowledge building), memahami media yang cukup dominan pada
proses pembelajaran dan mempunyai insting multi-kultural. Program induksi bagi guru kejuruan
pemula menjadi pintu pertama yang efektif untuk mempersiapkan guru tersebut. Strategi implementasi
yang tepat akan membuka kunci-kunci pengembangan siswa yang ditandai dengan learning and
innovation skill, knowledge, information, media and technology literacy skill, life skill, citizenship skill.
Oleh karena itu guru harus bisa mengantarkan siswa mempelajari sesuatu yang relevan dengan
konteks dunia nyata. Untuk itu diperlukan pendekatan kurikulum dan pembelajaran yang memfasilitasi
penyediaan kesempatan bagi peserta didik untuk dapat menerapkan keterampilannya. Kesempatan
pengajaran dan pembelajaran yang mendukung kompetensi pedagogi menjadi tujuan penting,
sehingga upaya tersebut bisa terintegrasi dengan penggunaan teknologi, inkuiri dan pendekatan
pemecahan masalah serta kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Kata Kunci: strategi, implementasi, program induksi, kejuruan

ABSTRACT
This paper presents a discussion about the strategy of induction program implementation
oriented to teachers in vocational education. Vocational teachers in the future will be faced with the
challenges and demands ininformation literacy, developing knowledge, understanding the media which
is dominant in the learning process and having a multi-cultural instinct. Induction program for the
novice vocationalteachers is the first door that is effective to prepare the teachers. The appropriate
implementation strategy will unlock the key to the development of the students characterized by
learning and innovation skills, knowledge, information, media and technology literacy skills, life skills,
and citizenship skills. Therefore, teachers must be able to teach the student something relevant to the
real-world contexts. It requires curriculum and learning approaches that facilitate the opportunities of
thestudents to be able to apply their skills. Teaching and learning opportunities that support the
pedagogy competence become an important goal, so that these efforts can be integrated with the use
of technology, inquiry, the problem-solving approach and high level thinking skills.
Keywords: strategy, implementation, induction programs, vocational

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 123


PENDAHULUAN menuhi kebutuhan industri. Untuk itulah
Pendidikan kejuruan dan atau diterapkan kebijakan link and match
vokasi merupakan salah satu jenis dengan mendorong industri untuk terlibat
pendidikan yang diarahkan pada pengu- dalam menetapkan berbagai standar
asaan keahlian terapan tertentu. Pendi- keahlian, pengembangan kurikulum, dan
dikan ini meng-arahkan peserta didik untuk kebijaksanaan pengelolaan sistem pendi-
mengembangkan keahlian terapan, bera- dikan tersebut. Sayangnya, dewasa ini
daptasi pada bidang pekerjaan tertentu upaya yang sebenarnya cukup membe-
dan dapat menciptakan peluang kerja. rikan harapan agar pendidikan kejuruan
Pendidikan kejuruan memasuki era glo- bisa memberi andil dalam memajukan
balisasi di beberapa negara telah meng- sektor industri dan ekonomi tidak berlanjut
alami banyak perubahan dan penye- seiring dengan setiap perubahan politik
suaian. Tidak hanya di Amerika, Eropa, dan kepemimpinan.
Asia, Australia termasuk di Indonesia Dalam mempersiapkan guru keju-
sendiri. Pada awal 1900-an pendidikan ruan yang mampu beradaptasi pada bi-
kejuruan muncul dalam menanggapi era dang pekerjaannya, upaya yang dapat
perkembangan industri saat itu. Program dilakukan adalah melakukan program in-
dirancang untuk melatih individu dengan duksi guru. Hal ini mengingat bahwa pen-
keterampilan kerja khusus. Pendidikan didikan kejuruan menghadapi dua tan-
kejuruan mampu mendorong mesin eko- tangan utama. Pertama, adanya dua dunia
nomi bangsa (drive nation's economic yakni institusi pendidikan dan tempat kerja
engine) sepanjang abad ke-20, karena yang mempersyaratkan dua keahlian, guru
memang pendidikan kejuruan berkaitan dengan pengalaman terkini dari tempat
dengan SDM yang bisa menggerakkan kerja dan pekerja yang dapat mengajar.
ekonomi bangsa. Kedua, adanya kebutuhan dari peserta
Pendidikan kejuruan untuk masa didik yang beragam dan mengingat pe-
depan Indonesia juga telah dirumuskan ngalaman yang dimilikinya serta motivasi
sejak tahun 1997 dalam suatu laporan belum memenuhi kepuasan[2]. Oleh karena
yang dibukukan sebagai Keterampilan itulah program induksi guru kejuruan perlu
menjelang 2020 untuk era global. Upaya mengakomodasi kesiapan guru melaksa-
yang dilakukan adalah peningkatan nilai nakan tugas pengajarannya dan mampu
tambah pada SDM dengan cara menularkan keahlian sesuai bidang pemi-
meningkatkan keterampilan dan keahlian natan kejuruannya. Permasalahannya me-
generasi muda Indonesia yang akan nyangkut pertanyaan bagaimana strategi
memasuki dunia kerja dan melatih ulang implementasi program induksi dapat dila-
serta meningkatkan keterampilan dan kukan dengan memeperhatikan kepenting-
keahlian bagi mereka yang sudah bekerja, an peran pendidikan kejuruan.
agar tetap selaras dengan perkembangan Program Induksi Guru
teknologi dan perubahan pasar[1]. Pe- Program induksi merupakan suatu
ngembangan yang diusulkan adalah me- upaya untuk melatih dan menyesuaikan
nyangkut rancangan sistem pendidikan diri guru baru dalam standar akademik dan
dan pelatihan kejuruan yang dapat me- visi pemerintah daerah yang dirancang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 124


secara komprehensif dan proses ber- dikan internasional (The International
langsung multi-tahun[3]. Semua program Standard Classification of Education/
induksi yang efektif memiliki tiga bagian ISCED), bahwa pendidikan kejuruan
dasar, yaitu: (1) komprehensif, (2) kohe- merupakan program pendidikan yang
ren, dan (3) berkelanjutan. Program induk- dirancang untuk peserta didik agar
si harus komprehensif karena harus ada memperoleh pengetahuan, keterampilan
sebuah organisasi atau struktur untuk dan kompetensi khusus untuk pekerjaan
melaksanakan program yang terdiri dari tertentu atau pekerjaan dan kelas peker-
banyak ke-giatan dan banyak orang yang jaan yang membutuhkan kemahiran. Men-
terlibat. Di samping itu ada kelompok yang jelang tahun 2020, pendidikan kejuruan
mengawasi program secara ketat dan dan latihan (VET) harus lebih menarik,
memonitor untuk memastikan bahwa kegi- relevan, berorientasi pada karir, inovatif,
atan tersebut mengarah kepada pembela- dapat diakses dan fleksibel, dan harus
jaran siswa. Koheren dimaknai sebagai memberikan kontribusi untuk keunggulan
bergayutnya berbagai kegiatan dan orang- dan keadilan dalam belajar sepanjang
orang yang secara logis terhubung satu hayat. Oleh karena itu penyiapan awal
sama lain. Sementara makna berkelan- (initial VET) harus berkualitas tinggi,
jutan menghendaki program yang kompre- inklusif dan mudah diakses serta
hensif dan koheren itu dapat terus ber- berorientasi pada karier VET
langsung selama beberapa tahun. Disam- berkelanjutan, sistem fleksibel, layanan
ping itu, induksi juga merupakan proses bimbingan dan konseling, dan
pengembangan profesional multi-tahun meningkatnya peluang untuk mobilitas
transnasional[5].
yang terdiri dari larikan kegiatan dan
Penyiapan tenaga pendidik atau
orang-orangnya yang secara seksama
guru bidang vokasi/kejuruan bermutu
dibuat untuk melatih dan menyesuaikan
merupakan suatu keniscayaan. Makna
diri guru baru terhadap tujuan dan visi
bermutu akan melahirkan kinerja atau
sekolah atau lingkup sekolah. Tujuan dari
performa guru yang mengarah pada
induksi adalah untuk mengajar seorang
prinsip professionalism. Membangun pro-
guru baru tentang teknik dan strategi
fesionalisme guru dibutuhkan proses pan-
pengajaran yang efektif yang akan
jang dalam perjalanan karir seorang guru
meningkatkan belajar siswa, pertumbuhan,
hingga sampai pada masa pensiun.
dan prestasi[4].
Langkah ini biasa disebut dengan fase
Program induksi bagi guru keju-ruan
induksi yang bisa menentukan kematang-
bermakna kompleks. Kompleksitas
an karir berikutnya hingga pada bagian
program induksi pada pendidikan kejuruan
pengembangan profesionalitas berkelan-
ini memerlukan perencanaan yang jauh
jutan, dan diharapkan kompetensi guru
lebih komprehensif, mengingat guru yang
akan selalu terjaga. Dengan demikian,
melaksanakan pembelajaran pada ranah
penyiapan guru kejuruan bermutu dapat
ini dihadapkan minimal pada dua keadaan,
kokoh bila fase induksi dapat dilaksanakan
yaitu pengetahuan dan keterampilan kerja.
dengan baik; sekaligus program ini tidak
Hal ini sesuai dengan batasan yang
tumpang tindih[6] dengan pelatihan pasca
digariskan oleh klasifikasi standar pendi-
studi (the post-study pre-service training).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 125


ANALISIS PEMECAHAN MASALAH Sesungguhnya antara induksi guru
Program induksi bagi guru pemula dan kualitas pendidikan ada keterkait-
yang berkualitas tinggi merupakan bagian annya. Banyak publikasi hasil penelitian
penting dalam mempersiapkan guru menunjukkan bahwa guru diidentifikasi
pemula tersebut agar mampu melaksa- sebagai faktor paling penting yang
mempengruhi kualitas pendidikan. Untuk
nakan pekerjaannya di sekolah di mana
dia bekerja. Memang pelaksanaan induksi itu perlu adanya upaya yang dilakukan
memperbaiki mutu guru, dan salah
guru semestinya menjadi tugas bersama
pada lingkungan kependidikan, termasuk satunya yaitu dengan mengembangkan
profesionalisme keguruaannya. Pengem-
yang ada di pemerintah daerah. Collins et
bangan profesionalisme guru merupakan
al.[7] mensinyalir hingga kini belum ada
proses yang berlangsung sepanjang hayat
standar nasional tentang komponen-
(lifelong), yang dimulai dari semenjak
komponen yang harus dimasukkan dalam
menjadi guru dan berakhir pada masa
program induksi yang berkualitas tinggi
pensiun.
tersebut. Salah satu alasan dari sekian
Menurut European Commission
banyak pentingnya program induksi yang
[9]
Staff , proses panjang pembentukan pro-
berkualitas adalah untuk memberikan
dukungan kepada guru pemula. Tentu saja fesionlism tersebut dibagi menjadi tiga
yang menjadi materi penting daya dukung tahap. Pertama, berkenaan dengan penyi-
apan pendidikan guru di mana seseorang
itu berkaitan dengan isi dan proses
pemahaman berilmu pengetahuan. Pada menempuh pendidikan sebagai jalan hidup
akhirnya, perolehan program induksi akan di bidang itu. Kelak ketika seseorang lulus
membuahkan hasil yang akan dirasakan pendidikan akan mengabdikan diri sebagai
guru. Kedua, berkaitan dengan masa-
oleh peserta didik. Peningkatan prestasi
peserta didik dipandang sebagai cita-cita masa seorang yang telah dinyatakan lulus
pencapaian seorang guru dan para dari pendidikan guru dan kemudian
penyelenggara pendidikan, baik di sekolah memasuki tahun pertama sebagai guru
pemula. Di sini seseorang akan dihadap-
mapun pemerintah daerah. Alasan lain
kan pada realita antara masa-masa ketika
dengan adanya penyelenggaraan program
induksi yang bagus akan memberikan masih menjadi mahasiwa keguruan dan
dukungan kepada guru pemula saat-saat menyandang sebagai guru. Fase
[7]
meningkatkan efikasi . Makna efikasi ini pada umumnya disebut sebagai fase
induksi guru. Ketiga, berhubungan dengan
adalah kemampuan, untuk mendapatkan
fase pengembangan profesi berkelanjutan
hasil yang diinginkan; atau efektivitas[8],
sehingga merreka dapat meneruskan karir di mana sebelumnya guru telah mema-
hami berbagai tantangan. Fase ini
keguruannya pada tahun-tahun berikutnya.
dirasakan guru untuk kemudian dicari
penyelessaiaannya melalui pengembang-
an profesi berkelanjutan tersebut.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 126


Fase 1: Fase 2: Fase 3:
Persiapan pada Program induksi Pengembangan profe-
pendidikan guru guru sional berkelanjutan

Gambar 1. Fase menuju pengembangan guru professional


(Diadaptasi dari European Commission Staff[9])

Setiap fase menuju pengembangan harus datang dari dalam, pengembangan


guru profesional, khususnya proses harus terjadi seiring dengan proses belajar
penyelenggaraan program induksi tentulah mengajar[10].
lembaga penyelenggara harus mencoba Guru pemula yang bekerja pada
untuk membangun keahlian staf. Hal ini bidang kejuruan semestinya mendapatkan
dipahami bahwa setiap lembaga meng- kegiatan yang cukup intensif dalam rangka
hadapi tantangan yang signifikan dalam mempersiapkan diri menuju pada
memulai dan sosialisasi anggota staf baru keprofesionalan bekerja. Apabila hal ini
ke dalam lingkungan mereka. Perbedaan dapat dilakukan secara sistematis, maka
individu dalam latar belakang dan guru akan dapat secara efektif
pengalaman sosial-politik, budaya, pendi- menjalankan profesinya. Gambar 2
dikan dan linguistik memaksa lembaga menunjukkan kategori perbedaan aktivitas
untuk mengeksplorasi cara untuk mem- yang diberikan pada guru pemula dan
buat penyesuaian di tempat kerja baru hasil yang didapatkan sesudah aktivitas
sehalus mungkin. Transformasi tersebut dijalankan.

Gambar 2. Kategori aktivitas dalam induksi guru pemula[11]

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 127


HASIL induksi. Dampak dari upaya memadukan
Suatu bangunan untuk membentuk beberapa komponen induksi, kemudian
guru baru yang berhasil pada masa-masa akan dirasakan adanya percepatan
mendatang bisa ditentukan oleh sistem efektivitas guru baru, meningkatnya retensi
induksi guru yang fokus pada pembe- guru dan penguatan kepemimpinan guru.
lajaran peserta didik dan efektivitas guru. Evaluasi program tentang dampak dan
Ada beberapa komponen yang terlibat implementasi induksi dapat dijadikan
dalam suatu sistem dalam peningkatan sebagai bahan perbaikan. Pada gilirannya
pembelajaran peserta didik. Pada awalnya setelah melalui proses perencanaan yang
harus diperhatikan kondisi-kondisi yang matang, maka akan dicapai peningkatan
mempengruhi keberhasilan tersebut, yaitu: pembelajaran peserta didik. Inilah yang
(1) pemilihan mentor secara cermat, (2) kemudian disebut sebagai teori aksi
pendekatan sistem, (3) kepemimpinan program pengembangan guru baru[12].
kuat, (4) keterlibatan pemangku kepen- Sistem induksi guru yang sukses
tingan, dan (5) daya dukung pengajaran adalah dengan memfokuskan pada belajar
dan pembelajaran. Dengan memperha- siswa dan efektivitas guru. Program yang
tikan kondisi-kondisi semacam itu, maka berdaya meliputi pemilihan dengan cermat
disusunlah sebuah program pengembang- instruksional mentoring, persiapan dengan
an dan asesmen serta komunitas latihan baik, pemilihan mentor; komunitas belajar
yang meliputi mentor dan guru baru. profesional untuk mentor dan guru baru;
Sementara itu dibangun pula kapasitas keterlibatan kepala sekolah; dan dukungan
kepala sekolah dan kepemimpinan lingkungan sekolah serta kebijakan
program serta pengembangan sistem daerah[12].

Gambar 3. Pengembangan sistem program induksi guru baru[12]

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 128


Pada gilirannya bila kondisi-kondisi menunjukkan teori pengembangan guru
yang mendukung keberhasilan guru dan letak kedudukkan program induksi
terpenuhi, maka dampak program yang sebagaimana terlihat pada Gambar 4.
dirasakan adalah percepatan guru pemula Mencermati kedudukan program induksi
menemukan efektivitas pembelajaran dan pada gambar diagram di atas, menunjuk-
memperkuat kepemimpinan guru. Kondisi kan bahwa keberhasilan siswa merupakan
yang demikian inilah yang selanjutnya dampak dari meningkatnya kinerja guru.
dapat meningkatkan capaian belajar Sementara kinerja guru dalam lingkup
siswa. Ingersoll & Strong[13] menggam- pembelajaran dan pengajaran dibentuk
barkan dalam sebuah diagram yang melalui program induksi.

Improved Classrom
Preservice Improved Student
Induction Teaching Practices and
Preparation Learning and Growth
Teacher Retention

Gambar 4. Pengembangan guru dan letak kedudukkan program induksi[13]

Memasuki implementasi program Around the Pacific Rim yang mencatat


induksi gelombang kelima, Moore & bahwa program induksi guru yang berhasil
Swan[11] dengan mengutip dari Sprinthall, itu memiliki enam karakteristik umum,
Reiman, dan Thies-Sprinthall (1996) yaitu: (1) guru baru dipandang sebagai
mengidentifikasi empat tujuan dari pro- profesional dalam sebuah kontinum,
gram induksi guru, yakni: (1) untuk dengan meningkatnya tingkat pengalaman
meningkatkan pembelajaran dan pengajar- dan tanggung jawab dan guru pemula
an bagi siswa; (2) untuk mempertahankan tidak diharapkan untuk melakukan pe-
dan membina guru pemula; (3) untuk kerjaan yang sama sebagaimana guru
menghargai dan merevitalisasi guru ber- berpengalaman tanpa dukungan yang sig-
pengalaman pada peran mentor; dan (4) nifikan; (2) guru baru/pemula dibina, ter-
meningkatkan efikasi profesional. Program masuk interaksi maksimal dengan guru
induksi yang berhasil tentu akan berujung lain; (3) induksi guru sengaja dilakukan
pada prestasi peserta didik dalam setiap karena kegiatannya bernilai; (4) sekolah
aspek pembelajaran, baik itu menyangkut memiliki budaya tanggung jawab bersama
sisi akademik, keterampilan maupun sisi dan mendukung sebagian besar anggota
nonakademik seperti moral dan perilaku. staf berkontribusi pada pengembangan
Strategi implementasi keberhasil- guru baru; (5) asesmen; dan (6) politik,
an program induksi bagi guru kejuruan keuangan, dan komitmen waktu. Bagi guru
dapat ditempuh melalui pendekatan yang dalam konteks kejuruan, kini dihadapkan
sistematis terpadu. Hal ini setidaknya pada peran baru dan persyaratan kompe-
beberapa dekade silam diindikasikan oleh tensi sebagaimana digambarkan Volmari
Moskowitz & Stephens[14] dalam sebuah et al. [15]. Strategi implementasi yang tepat
bukunya From Students of Teaching to akan membuka kunci-kunci pengembang-
Teachers of Students: Teacher Induction an belajar siswa dengan kerangka pembe-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 129


lajaran lebih fokus pada learning and Thousand Oaks, CA: Corwin Press.
innovation skill, knowledge, information, 2005
media and technology literacy skill, life [4] Wong, H. K., & Wong, R. T.
skill, citizenship skill. Significant Research and Readings
SIMPULAN on Comprehensive Induction. Diambil
dari http://www.newteacher.com/pdf/
Berdasarkan uraian di atas dapat
Significant_Research_on_Induction.p
ditarik beberapa kesimpulan sebagai
df. 2013
berikut: (1) Program induksi bagi guru
kejuruan memerlukan perencanaan yang [5] CEDEFOP. Attractiveness of initial
jauh lebih komprehensif, mengingat guru vocational education and training:
yang melaksanakan pembelajaran pada identifying what matters (Vol.
ranah ini dihadapkan minimal pada dua Research Paper No 39).
keadaan, yaitu pengetahuan dan keteram- Luxembourg: Publications Office of
pilan kerja. Hal ini mengingat kompleksitas the European Union. 2014
pada pendidikan kejuruan dan tantangan [6] Kurnia, D., & Ilhamdaniah. Post study
yang dihadapinya; dan (2) Strategi imple- pre-service practical training
mentasi program induksi yang tepat, sis- programme for TVET teacher
tematis dan terpadu akan mendorong students [In: TVET@Asia, issue 1, 1-
keberhasilan guru kejuruan menemukan 17]. Diambil pada 25 Desember 2014,
keprofesionalannya dalam peran baru dan dari http://www.tvet-online.asia/issue/
persyaratan kompetensi untuk menjawab 1/kurnia_ilhamdaniah_tvet1
tantangan masa depan.
[7] Collins, J., Deist, B. A., & Reithmeier,
DAFTAR RUJUKAN J. G. The Development of A
[1] Satgas Pengembangan Pendidikan Standards-Based Guide for High
dan Pelatihan Kejuruan. Keterampilan Quality Teacher Induction Programs
menjelang 2020 untuk era global. (Project). Saint Louis University. 2008
Jakarta: Departemen Pendidikan dan [8] Fakultas Ilmu Komputer Universitas
Kebudayaan. 1997 Indonesia dan Pusat Pengembangan
[2] Lucas, B., Spencer, E., & Claxton, G. Bahasa. Kamus Besar Bahasa
How to teach vocational education: A Indonesia. Jakarta. Diambil dari
theory of vocational pedagogy. http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/index.
London: City & Guilds Centre for Skill php. 2008
Development. Diambil dari skilldeve- [9] European Commission Staff.
lopment.org. 2012 Developing coherent and system-
[3] Wong, H. K. New Teacher Induction: wide induction programmes for
The Foundation for Comprehensive, beginning teachers: a handbook for
Coherent, and Sustained Professional policymakers. Brussel: European
Development. In Teacher Mentoring Commission Directorate-General for
and Induction: The State of the Art Education and Culture. 2010
and Beyond, By Hal Portner, 4158.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 130


[10] Scheckle, L. A. How Can the [14] Moskowitz, J., & Stephens, M. From
Induction Programme be Influenced Students of Teaching to Teachers of
and Improved? Mediterranean Students: Teacher Induction around
Journal of Social Sciences, 2014 the Pacific Rim. (Vol. APEC
5(11), 7788. http://doi.org/10.5901/ Education Forum Human Resources
mjss.2014.v5n11p77 Development Working Group).
Washington DC: U.S. Department of
[11] Moore, L. L., & Swan, B. G.
Education. Diambil dari
Developing Best Practices of Teacher
http://eric.ed.gov/?id=ED415194.
Induction. Journal of Agricultural
1997
Education, 2008 49(4), 6071.
http://doi.org/doi.org/10.5032/jae.2008 [15] Volmari, K., Helakorpi, S., & Frimodt,
.04060 R. (Eds). Competence framework for
VET professions: handbook for
[12] Gist, D. A., & Steele, D. Teacher
practitioners. Sastamala, Finland:
Induction Programs. Diambil dari
Cedefop. 2009
http://www.newteachercenter.org/indu
ction-programs. 2014
[13] Ingersoll, R. M., & Strong, M. The
Impact of Induction and Mentoring
Programs for Beginning Teachers: A
Critical Review of the Research.
Review of Educational Research,
2011 81(2), 201233. http://doi.org/
10.3102/0034654311403323

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 131


PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO (Tema: Evolution of Electronics and ICT:
New Challenge and Opportunities for All), 20 November 2015, hal. 132-143
Artikel Ilmiah (Hasil Telaah Pustaka)

TEORI KOGNITIF PENGEMBANGAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN

Sri Waluyanti
Universitas Negeri Yogyakarta
Email: waluyanti@uny.ac.id

ABSTRAK
Perkembangan Teknologi Informatika dan Komputer telah memudahkan bagi desainer
multimedia pembelajaran dalam mengkombinasikan suara, gambar, grafik dengan tata letak, bentuk
tulisan, komposisi warna yang menarik. Namun tidak semua desainer multimedia pembelajaran
mengetahui tentang cara peserta didik belajar dari representasi verbal, sedikit wawasan mengenai
pengolahan informasi visual, verbal, teks dan kombinasinya. Seiring dengan luasnya penggunaan
multimedia pembelajaran telah melahirkan arsitektur-arsitektur kognitif baru. Arsitektur kognitif meliputi
deskripsi memori penyimpan, kode memori, dan operasi kognitif. Arsitektur yang relevan dengan
pembelajaran multimedia meliputi teori pengkodean ganda Paivio, model memori kerja Baddeley, teori
multimodal Engelkamp, teori beban kognitif Sweller, teori multimedia pembelajaran Mayer, dan teori
ANIMATE Nathan. Makalah ini membahas masalah cara mempersiapkan multimedia pembelajaran
yang produktif dengan menerapkan strategi kognitif yang efektif.
Kata kunci: pembelajaran multimedia, teori kognitif, strategi

ABSTRACT
The development of Information and Computer Technology has made it easier for multimedia
learning designers in combining sounds, images, graphics, withattractive layouts
andcolourscomposition. However, not all learning multimedia designers know about how students
learn from verbal representations, a little knowledgeaboutthe visual information processing, verbal,
texts and the combination. The increasing use of learning multimediahas creatednew cognitive
architectures. Cognitive architectures include a storage memorydescription, memorycode, and
cognitive operations. Architectures relevant to multimedia learning include dual coding theoryof Paivio,
working memory model of Baddeley, Engelkamp multimodal theory, cognitive theory ofSweller,
multimedia learning theory of Mayer and Nathan Animate theory. This paper discusses the issues of
preparingproductive learning multimedia by implementing an effective cognitive strategy.
Keywords: multimedia learning, cognitive theory, strategy

PENDAHULUAN ukuran huruf, komposisi warna dan ba-


Pertama kali hal yang orang pikirkan nyaknya kata-kata yang disajikan dalam
dalam membuat presentasi multimedia satu bingkai tampilan. Pemikiran kemena-
adalah ketuntasan dan kemenarikan sajian rikan tampilan sering membuat desainer
informasi. Pemikiran ketuntasan informasi multimedia lupa seberapa banyak kata,
membawa desainer presentasi multimedia suara atupun gambar yang tidak relevan,
lupa keterbacaan tulisan dilihat dari faktor warna yang tidak kontras ditampilkan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 132


sehingga mengganggu keterbacaan infor- media pembelajaran. Berdasarkan papa-
masi. Desainer multimedia entah karena ran di atas, untuk membuat multimedia
lupa atau tidak tahu seringkali juga pembelajaran yang dapat berfungsi
mengabaikan kepentingan kebutuhan mul- dengan baik terdapat beberapa permasa-
timedia dari sisi peserta didik. Transfer lahan, diantaranya adalah 2 pertanyaan
informasi dari sumber informasi hingga yaitu: (1) Bagaimakah proses pengolahan
menjadi pengetahuan bagi penerima infor- informasi presentasi menjadi pengetahuan
masi membutuhkan proses yang cukup bagi peserta didik ?; dan (2) Prinsip-prinsip
rumit. Presentasi yang diduga menarik, apa yang harus dipenuhi oleh seorang
lengkap, tidak jarang menimbulkan keru- desainer multimedia pembelajaran agar
mitan proses pengolahan informasi dalam presentasi dapat dipelajari secara menye-
diri peserta didik sehingga cepat menum- nangkan?
buhkan kejenuhan kognitif. Untuk mem- ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
buat tampilan presentasi multimedia yang
menarik, dapat berfungsi sebagaimana Untuk menjawab permasalahan di
tujuannya, seorang desainer multimedia atas perlu dipahami terlebih dahulu
pembelajaran perlu memahami teori kog- sejarah tumbuhnya teori kognitif multime-
nitif media pembelajaran. dia pembelajaran. Meyer[1] mengartikan
Teori kognitif merupakan bidang multimedia pembelajaran adalah pesan
interdisipliner yang relatif baru dari ilmu yang dikomunikasikan dalam bentuk kata-
kognitif. Istilah kognitif mengacu meng- kata dan gambar tang dimaksudkan untuk
amati dan mengetahui, dan ilmuwan mendorong terjadinya pembelajaran. Multi-
kognitif berusaha memahami proses jiwa media dalam makalah ini diartikan seba-
seperti mengamati, berpikir, mengingat, gai perpaduan beberapa media berupa
memahami bahasa, dan belajar. Ilmu kata-kata, animasi, grafik, teks, simulasi,
kognitif dapat memberikan wawasan kuat gambar, grafik, suara yang dipadukan
dalam sifat manusia, meningkatkan poten- secara harmonis sehingga menyenangkan
si sehingga dapat mengembangkan tekno- untuk belajar. Multimedia dapat digunakan
logi. Berkembangnya teknologi informasi secara langsung dapat pula dalam bentuk
dan komputer terutama yang berkaitan rekaman, juga dapat digunakan secara
dengan multimedia telah menghadirkan luas melalui publikasi (broadcast). Proses
arsitektur-arsitektur kognitif baru yang pembuatan multimedia dapat diilustrasikan
melahirkan landasan teoritis untuk multi- dalam gambar 1 di bawah ini.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 133


Gambar 1. Proses Pembuatan Multimedia Pembelajaran

pengkodean ganda (dual coding)


Teori Kognitif Multimedia
Teori kognitif multimedia[1] pembe- mengidentifikasi ada tiga jenis pengolahan
lajaran merupakan upaya untuk membantu meliputi: (a) representasional, merupakan
mencapai tujuan dengan menjelaskan aktivasi langsung dari representasi verbal
cara orang belajar dari kata-kata dan maupun noverbal, (b) refensial, aktivasi
gambar, berdasarkan bukti penelitian sistem lisan oleh sistem nonverbal atau
empiris yang konsisten[1,2,3] dan prinsip sebaliknya, dan (c) pengolahan asosiatif,
konsensus dalam ilmu kognitif (Bransford, aktivasi representasi dalam sistem verbal
Brown, & Cocking 1999; Lambert & ataupun nonverbal.
McCombs, 1998; Mayer 2003b). Perkem-
bangan teori kognitif multimedia pem-
belajaran dapat dijelaskan berikut ini.
Teori Pengkodean Ganda Paivio
Sebuah premis dasar teori
pengkodean ganda Paivio adalah
representasi mental dalam mempertahan-
kan kualitas pengalamanan nyata dari luar
terkait dengan peristiwa linguistik dan non
linguistik (Clark and Paivio, 1986:1).
Representasi merupakan modalitas spe-
sifik, sehingga dapat memiliki logogens
dan Imagens sesuai dengan visual,
auditori, rasa, dan motorik bahasa. Teori
pengkodean ganda menampung dua
domain dalam sistem verbal dan non
verbal yang bekerja secara terpisah dan Gambar 2. Proses Pengkodean Ganda
diolah secara berbeda (Gambar 2). Teori Paivio (Clark and Paivio, 1986)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 134


Model Memory Kerja Baddeley melakukan. Contoh mengamati langkah-
Dalam upaya menggambarkan langkah instruktur tari, kemudian diingat
model yang akurat tentang memori jangka kembali yang hasilnya dapat dipengaruhi
pendek, Alan Baddeley dan Graham Hitch oleh kedua memori visual dari observasi
pada tahun 1974[4] mengusulkan Model instruktur dan memori cara melakukan
Memory Kerja. Memori kerja mempunyai gerakan. Komponen teori multimodal
fungsi utama; (a) eksekutif pusat bertindak Engelkamp tdiilustrasikan dalam gambar 3
sebagai sistem pengawasan dan mengon- terdiri dari masukan visual dan sistem
trol arus informasi dari dan ke sistem keluaran (enactment) dan masukan verbal
budaknya, (2) loop fonologi dan sketsa (pendengaran, bacaan) dan sistem
visuospatial. Sistem budak adalah sistem keluaran (pembicaraan, penulisan).
penyimpanan jangka pendek yang dide- Keempat komponen modalitas spesifik
dikasikan untuk domain konten (verbal dan dihubungkan ke sistem konseptual.
visuospasial). Kinerja dua tugas simultan Teori Beban Kognitif Sweller
membutuhkan penggunaan dua domain Teori-teori yang diusulkan oleh
persepsi terpisah (visual dan verbal) Paivio, Baddeley, dan Engelkamp memiliki
hampir seefisien kinerja tugas individual. implikasi untuk instruksi. Implikasi
Sebaliknya, ketika seseorang mencoba pembelajaran kapasitas memori kerja
untuk melaksanakan dua tugas secara terbatas telah dikembangkan oleh Sweller
bersamaan dengan menggunakan domain sebagai teori beban kognitif. Asumsi
persepsi yang sama, kinerja kurang efisien kapasitas terbatas menyatakan bahwa
dibandingkan saat melakukan tugas jumlah informasi yang dapat diproses
secara individual. memori kerja dalam satu waktu terbatas.
Teori Multimodal Engelkamp Dengan kata lain, belajar terhalang ketika
Engelkamp mengusulkan bahwa terjadi kelebihan beban kognitif dan
mengkodekan informasi visual pengamat- kapasitas memori kerja terlampaui (De
an tentang gerakan secara tidak langsung Jong, 2010). Menurut According to
telah mengkodekan informasi kinerja Sweller, Van Merrienboer, and Paas tahun
gerakan. Salah satu aplikasi dari gagasan 1998[5] ada tiga jenis beban kognitif yaitu
ini pada pembelajaran mengamati gerak- intrinsik, asing, dan berkaitan erat.
an yang dapat mengarahkan untuk

Sistem Konseptual: Konsep-konsep

Nonverbal (visual) Nonverbal (motor) Sistem Masukan Sistem Keluaran


System masukan System keluaran Verbal Verbal
Picture Nodes Program Motor System masukan Bicara/menulis
(PN) (PM) Word Nodes (WN) Program-program (SP)

Mendengar Berbicara
Persepsi Enactment Membaca
Gambar 3. Diagram Alir Teori Memori Multimodal Engelkamp (Zheng[6])

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 135


Teori Kognitif Multimedia Pembelajaran membangun representasi mental yang
Meyer koheren dari pengalaman. Proses kognitif
Teori-teori kognitif pembelajaran aktif ini termasuk memperhatikan, meng-
multimedia di atas dapat dijelaskan lebih organisir informasi yang masuk, dan
rinci pada teori kognitif Meyer. Meyer mengintegrasikan informasi yang masuk
mengembangkan teori kognitif pembelajar- dengan pengetahuan lainnya. Proses
an multimedia dengan tiga asumsi yaitu: pembelajaran aktif ini lebih mungkin terjadi
asumsi saluran ganda terpisah, kapasitas ketika representasi verbal dan visual
terbatas dan pengolahan aktif. Asumsi sesuai dan berada di memori kerja dalam
saluran ganda adalah bahwa manusia waktu yang bersamaan. Selengkapnya di-
memiliki saluran pengolahan informasi ilustrasikan dalam gambar 3 di bawah ini.
terpisah untuk bahan visual dan verbal. Pembelajaran melalui multimedia
Ketika informasi disajikan pada mata terjadi ketika pelajar berhasil membangun
(seperti ilustrasi, animasi, video atau teks representasi mental dari kata-kata dan
pada layar), manusia mulai dengan gambar[2]. Pada umumnya, teori kognitif
memproses informasi dalam saluran visu- multimedia pembelajaran berupaya meng-
al, ketika informasi disajikan ke telinga atasi masalah tentang struktur praktek
(seperti narasi atau suara nonverbal), pembelajaran multimedia dan penggunaan
manusia mulai dengan pengolahan infor- strategi kognitif yang lebih efektif dalam
masi dalam saluran pendengaran. Konsep membantu pelajar belajar secara efisien.
saluran pengolahan informasi yang terpi- Oleh karena itu dalam merancang pesan
sah memiliki sejarah panjang dalam psi- pembelajaran multimedia harus peka
kologi kognitif dan erat terkait dengan teori terhadap apa yang diketahui tentang
pengkodean ganda Paivio (Clark & Paivio, bagaimana orang memproses informasi.
1991, Paivio, 1986) dan Baddeley, 1986, Menurut Mayer[2] pembelajaran bermakna
1999). Asumsi kedua adalah bahwa dari kata-kata dan gambar terjadi ketika
kemampuan manusia dalam megolah pelajar terlibat dalam lima proses kognitif:
jumlah informasi dalam setiap saluran (1) memilih kata-kata yang relevan untuk
dalam kapasitas terbatas. Kesadaran kon- diproses dalam memori kerja suara, (2)
sepsi kapasitas terbatas memiliki sejarah memilih gambar yang relevan untuk
panjang dalam psikologi dan beberapa diproses dalam memori kerja visual, (3)
contoh modern Baddeley (1986, 1999 pengorganisasian kata-kata yang dipilih
(teori memori kerja dan Chandler dan menjadi model verbal, (4) pengorganisa-
Sweller (1991, Sweller 1999). sian gambar yang dipilih menjadi model
Asumsi ketiga adalah pengolah- piktorial, dan (5) mengintegrasikan repre-
an aktif atau pembelajaran bermakna sentasi verbal dan gambar satu sama lain
terjadi ketika peserta didik terlibat secara dengan pengetahuan sebelumnya.
aktif dalam proses kognitif untuk

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 136


Memori jangka
Presentasi Memori sensorik Memori kerja panjang
multimedia
Seleksi Pengorganisasian
Kata-kata kata kata
suara Model
verbal integrasi
telinga
Pengetahuan
Seleksi Pengorganisasian sebelumnya
gambar gambar
Gambar-gambar Model
gambar
piktorial
mata

Gambar 4. Teori Kognitif Pembelajaran Multimedia (Mayer[2])

Dalam mengintegrasikan represent- tahuan baru yang kemudian disimpan


tasi verbal dan gambar terjadi pemang- dalam memori jangka panjang. Memori
gilan informasi relevan yang tersimpan jangka panjang mempunyai karakteristik
dalam memori jangka panjang. Masing- yang berbeda dengan memori kerja.
masing peserta didik mempunyai ragam Memori kerja mempunyai kapasitas dan
pengalaman masa lampau yang berbeda, lama waktu penyimpanan terbatas.
karena perbedaan inilah informasi pre- Sedangkan pada memori jangka panjang
sentasi yang sama mendapat respon kapasitas tidak terbatas dan penyimpanan
peserta didik yang beragam dipengaruhi pengetahuan dan keterampilan tersusun
oleh pengetahuan sebelumnya. Hasil secara permanen dalam bentuk jaringan
pengintegrasian informasi baru dan penge- hirarkis (gambar 5).
tahuan sebelumnya menumbuhkan penge-

Informasi visual Memeori jangka


Prosesor visual Menyimpan pengetahuan dan
keterampilan secara permanen
dalam bentuk jaringan hirarkis
kapasitas tidak terbatas
Informasi Auditif
Prosesor auditif

Memori kerja
Kapasitas terbatas (<9 elemen)
Waktu penyimpanan terbatas

Gambar 5. Model arsitektur memori manusia (Hari Wibawanto[7])

Agar informasi kata atau gambar memiliki struktur yang koheren dan (2)
dapat diorganisir secara mudah dalam pesan harus memberikan bimbingan cara
memori kerja, ada dua implikasi penting peserta didik membangun struktur. Jika
yang harus dipenuhi dalam desaineran bahan tidak memiliki struktur yang
multimedia: (1) materi yang disajikan harus koheren, maka menjadi kumpulan fakta

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 137


terisolasi, upaya peserta didik dalam narasi yang mengisyaratkan daripada tidak
membangun model akan sia-sia. Jika mengisyaratkan.
pesan tidak memiliki pedoman cara Untuk melihat seberapa efektif ke
menyusun struktur materi yang disajikan, delapan prinsip di atas Meyer telah
pelajar mungkin kewalahan dalam menguji pada sejumlah mahasiswa di
membangun model. Desain multimedia Universitas Santa Barbara. Meyer dan
dapat dikonseptualisasikan sebagai upaya Moreno pada tahun 1999 dalam pene-
untuk membantu peserta didik dalam litiannya berjudul Cognitive Principles of
membangun model. Multimedia Learning:The Role of Modality
Menurut Meyer untuk membuat and Contiguity melakukan 2 kali perco-
presentasi multimedia yang menarik ada 8 baan. Percobaan pertama melibatkan 127
(delapan) prinsip yang harus diindahkan. dan percobaan kedua melibatkan 123
Kedelapan prinsip tersebut diuraikan mahasiswa kelompok subyek psikologi
seperti berikut: (1) Prinsip Multimedia, dari Universitas California Santa Barbara,
menyatakan bahwa peserta didik belajar selanjutnya dikelompokkan ke dalam 6
lebih dalam dari kata-kata dan gambar dari kelompok masing-masing diberi perlakuan
pada kata-kata saja. Namun menambah- berbeda. Hasil pembelajaran diukur de-
kan kata-kata pada gambar bukanlah cara ngan tes retensi, transfer, dan penco-
yang efektif; (2) Prinsip kedekatan: peserta cokan. Data dianalisis dengan mengguna-
didik belajar lebih dalam dari sajian kata- kan ANOVA. Meyer tahun 2003 dalam
kata dan gambar secara bersamaan dari penelitannya berjudul Cognitive Theory
pada agak berturut-turut; (3) Prinsip kohe- and the Design of Multimedia Instruction:
rensi: peserta didik belajar lebih dalam An Example of the Two-Way Street
ketika kata, suara, atau gambar asing Between Cognition and Instruction telah
dikeluarkan dari presentasi; (4) Prinsip menguji animasi pembentukan hujan dan
modalitas: peserta didik belajar lebih petir diuji cobakan dalam enam variasi
dalam ketika kata-kata disajikan sebagai kombinasi gambar, teks dan suara. Secara
narasi bukan sebagai teks di layar; (5) garis besar hasilnya penelitian tersebut
Prinsip redundansi: peserta didik belajar dipaparkan berikut ini.
lebih dalam ketika kata disajikan sebagai Hasil kajian empiris Meyer adalah
narasi bukan sebagai narasi dan teks sebagai berikut: (1) Awal penelitian Mayer
pada layar; (6) Prinsip personalisasi: (Park & Hannafin 1994) menemukan
peserta didik belajar lebih dalam ketika bahwa sebagian besar desain pembela-
kata-kata yang disajikan dalam gaya jaran multimedia masih lebih didasarkan
percakapan lebih dari pada gaya yang pada keyakinan intuitif desainer dari pada
formal; (7) Prinsip interaktivitas: peserta bukti empiris; (2) Terdapat tiga hubungan
didik belajar lebih dalam ketikapeserta antara kognisi dan instruksi yaitu sejalan,
didik diperbolehkan untuk mengontrol jalan buntu dan jalan dua arah. Ketika
tingkat presentasi daripada ketika mereka hubungan kognisi dan instruksi jalan dua
tidak mengontrol; dan (8) Prinsip Sig- arah, psikolog dan pendidik berkomunikasi
naling: peserta didik belajar lebih dalam dalam cara yang saling menguntungkan
ketika tombol langkah-langkah dalam kedua teori psikologis dan praktik

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 138


pendidikan. Terdapat hubungan timbal akibat antara langkah-langkah, seperti
balik: psikolog berusaha untuk mengem- "karena itu dibuat melengkung; (d) kata
bangkan teori pembelajaran berbasis diucapkan disorot dengan suara keras,
penelitian yang relevan dengan masalah pada kata atas, dan bawah dalam kalimat
pendidikan praktis, dan pendidik mena- Permukaan sayap bagian atas lebih
warkan tempat yang realistis untuk panjang dari pada bagian bawah (Meyer,
menguji teori-teori kognitif pembelajaran[1]. 2003).
Pada prinsip Interaktivitas, peserta Pada prinsip kohenrensi, teori
didik belajar lebih dalam ketika mereka pembelajaran menyatakan bahwa peserta
dapat mengontrol tingkat penjelasan didik belajar lebih tertarik pada presentasi
presentasi multimedia daripada ketika multimedia yang banyak versi, diperluas
mereka tidak bisa mengontrol[1]. Pada (satu berisi tambahan menarik) daripada
prinsip signaling, Mautone dan Mayer, dari versi dasar (satu berisi idak ada
2001, dalam percobaan 3 menguji tambahan yang menarik). Menurut teori
masalah prinsip signaling, menunjukkan kognitif multimedia pembelajaran, dengan
peserta didik yang menerima presentasi menambahkan bahan menarik tetapi tidak
mengisyaratkan, hasil tesnya lebih baik relevan untuk presentasi multimedia dapat
dari pada tes dengan prinsip perpecahan membebani salah satu saluran dan
perhatian versi nonsignaled (Meyer, 2003). sehingga mengganggu proses penjelas-
Temuan ini diperkuat hasil penelitian an. Pada prinsip modalitas, peserta didik
Meyer (2003) bahwa peserta didik belajar belajar lebih mendalam dari animasi dan
lebih dalam ketika penjelasan multimedia narasi daripada dari animasi dan teks di
mengisyaratkan (signaling) daripada non- layar teks. Namun, menurut teori kognitif
signaling. Selain itu, hasil kajian berbasis pembelajaran multimedia, saluran visual
teori telah merekomendasikan prinsip dapat menjadi kelebihan ketika peserta
signaling melalui meningkatkan narasi didik harus menggunakan sumber daya
animasi dengan menggabungkan isyarat kognitif visual mereka baik untuk mem-
ke narasi, untuk membantu pelajar mene- baca teks pada layar dan menonton
mukan ide-ide penting dan cara meng- animasi. Menurut prinsip modalitas, ketika
organisir informasi. Pemberian isyarat memberikan penjelasan multimedia, kata
dapat dibuat dengan versi: (a) garis besar harus disajikan sebagai narasi pendengar-
pengantar dari langkah-langkah suatu an bukan sebagai visual teks pada layar
prosedur digunakan frase yang dimulai dengan kata lain kata-kata lebih baik
dengan pertama, kedua, dan ketiga, (b) disajikan secara auditori daripada visual.
judul diucapkan dengan suara yang lebih Hasil penelitian Mousavi, Low, &
dalam dan langkah-langkah kunci seperti Sweller tahun 1995[2] menunjukkan bahwa
bentuk sayap pesawat permukaan atas modalitas presentasi ganda dapat mening-
melengkung panjang, atau aliran udara: katkan kerja sumber daya memori dengan
Udara bergerak lebih cepat di atas sayap mengaktifkan kedua pendengaran dan
atau tekanan udara: tekanan di atas memori kerja visual lebih dari satu. Hasil
kurang; (c) digunakan kata penunjuk ini adalah demonstrasi pertama dari efek
bertujuan menunjukkan hubungan sebab modalitas dalam konteks multimedia pem-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 139


belajaran dengan animasi, di mana mengakomodasi gaya belajar individu
peserta didik belajar lebih efektif ketika lebih baik. Namun perlu dilakukan secara
animasi disertai dengan penjelasan lisan cermat karena menurut teori kognitif
disajikan dalam pendengaran modus pembelajaran multimedia, menambahkan
seperti pidato daripada modus visual teks pada layar akan bersaing dengan
sebagai teks pada layar. animasi sebagai sumber daya kognitif
Prinsip modalitas kedekatan tempat, pada saluran gambar visual, dengan
dalam studi Mayer dan Moreno tahun animasi untuk sumber daya kognitif pada
1998 (Meyer, 2003) membuktikan bahwa saluran gambar visual, menciptakan apa
peserta didik yang belajar dengan narasi yang Sweller sebut efek pemecah
bersamaan dan animasi mengungguli perhatian (Meyer, 2003).
peserta didik yang belajar dengan animasi Prinsip Personalisasi
bersamaan teks pada layar. Hasil ini bisa Peserta didik belajar lebih dalam
ditafsirkan sebagai dua efek yang ketika kata-kata disajikan dalam gaya
berbeda: efek kedekatan tempat dan efek percakapan dari pada dengan gaya
modalitas. Bahkan, keunggulan animasi ekspositori dan konsisten dengan temuan
bersamaan dengan narasi lebih baik dari terkait dilaporkan oleh Reeves dan Nass
pada animasi bersamaan dengan teks di 1996[2]. Reeves dan Nass pada tahun
layar, mungkin disebabkan karena peserta 1996 (Meyer, 2003) minat dan motivasi
didik kehilangan sebagian dari informasi belajar peserta didik untuk memahami
visual sementara mereka membaca teks materi dalam pesan berbasis komputer
pada layar (atau sebaliknya), dengan meningkat ketika peserta didik terlibat
proses yang lebih efisien dari dua dalam interaksi sosial. Dengan demikian,
pendengaran dan penglihatan terpisah rekomendasi potensi berguna untuk
(Penney, 1989), atau dengan penyebab menambah gaya percakapan ke narasi
kombinasi keduanya. dalam penjelasan multimedia, seperti
HASIL menambahkan komentar pribadi dan
menggunakan orang pertama dan orang
Prinsip Redundansi kedua, ketiga.
Alasan untuk menyajikan kata-kata Prinsip Interaktivitas
yang sama dalam dua format memberi Rekomendasi lain berbasis teori
kesempatan peserta didik memilih format untuk mengembangkan narasi animasi
yang lebih sesuai dengan gaya adalah prinsip interaktivitas sehingga
pembelajaran mereka. Jika peserta didik memungkinkan peserta didik memiliki
belajar lebih baik dari kata-kata yang kontrol atas tingkat presentasi. Menurut
diucapkan, mereka dapat memperhatikan teori kognitif pembelajaran multimedia,
narasi. Jika peserta didik belajar lebih baik menambahkan interaktivitas sederhana
dari kata-kata yang dicetak, mereka dapat pada pengguna dapat meningkatkan pem-
memperhatikan teks pada layar. Dalam belajaran karena mengurangi kemung-
kata lain, menambahkan teks pada layar kinan beban lebih kognitif dan mendorong
untuk animasi dan narasi dapat peserta didik untuk terlibat dalam setiap
dibenarkan dengan alasan akal sehat yang proses kognitif. Hasil penelitian Meyer

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 140


(2003) memperkuat pendapat di atas daripada dipisahkan secara fisik. Hasil
bahwa prinsip interaktivitas membuat penelitian menunjukkan, peserta didik
peserta didik belajar lebih dalam ketika mampu menghasilkan rata-rata solusi 50%
mereka dapat mengontrol tingkat lebih kreatif dalam mentransfer masalah
penjelasan presentasi multimedia daripada ketika penjelasan verbal dan visual
ketika tidak bisa. terintegrasi daripada ketika penjelasan
Efek Kedekatan Tempat verbal dan visual dipisahkan. Sebagai
contoh prinsip efek kedekatan tempat
Efek kedekatan tempat mengacu
dalam presentasi dua dimensi ditunjukkan
peningkatan pembelajaran terjadi ketika
dalam gambar 6.
teks dan gambar tercetak terintegrasi
secara fisik atau dekat satu sama lain

Gambar 6. Contoh Prinsip Efek Kedekatan Tempat (Hari Wibawanto, 2011:71)

Efek Kedekatan Waktu dijelaskan di bawah nama efek pemecah


Efek kedekatan waktu mengacu perhatian dalam literatur beban kognitif
peningkatan pembelajaran terjadi ketika oleh Chandler & Sweller, 1992;. Sweller et
bahan visual dan lisan disinkronkan, yaitu al, 1990; Tarmizi & Sweller, 1988 (Meyer,
disajikan secara bersamaan bukan 2003). Berdasarkan penelitian tentang
berturut-turut. Prinsip kedekatan juga telah contoh bekerja, Sweller dan rekan-rekan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 141


dalam mendefinisikan efek pemecah pembelajaran diberikan terutama ditujukan
perhatian sebagai gangguan dalam belajar untuk dapat dimengerti. Sebagai contoh
yang timbul dari kebutuhan mental dalam prinsip efek kedekatan waktu dalam
mengintegrasikan sumber informasi yang presentasi dua dimensi ditunjukkan dalam
berbeda. Dianggap sebagai hal yang gambar 7.
cukup serius karena sebelumnya materi

Gambar 6. Contoh Prinsip Efek Kedekatan Waktu[7]


SIMPULAN permanen. Memori jangka panjang mem-
Proses pengolahan informasi dari punyai kapasitas dan waktu penyimpanan
presentasi melibatkan memori sensori yang tidak terbatas, informasi disimpan
tempat masuknya informasi berupa dua dalam susunan hirarkis. Desainer mul-
kanal terpisah mata dan pendengaran. timedia pembelajaran untuk menghasilkan
Dari memori sensori informasi diteruskan presentasi yang menarik dan memberikan
ke memori kerja untuk diseleksi, dior- efek pembelajaran bermakna harus
ganisir dan diintegrasikan dengan penge- memperhatikan 8 prinsip penyusunan
tahuan yang relevan dari memori jangka multimedia. Kedelapan prinsip tersebut
panjang. Memori kerja mempunyai kappa- meliputi: (a) prinsip multimedia, (2) prinsip
sitas dan waktu penyimpanann terbatas. kedekatan, (3) prinsip koherensi, (4)
Hasil pengolahan informasi dalam memori prinsip modalitas, (5) prinsip redudansi,
kerja berupa pengetahuan baru yang (6) prinsip personalisasi, (7) prinsip
selanjutnya diteruskan ke dalam memori interaktivitas dan (8) prinsip signaling.
jangka panjang untuk disimpan secara

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 142


DAFTAR RUJUKAN [4] IIicheva, S. Cognitive Function of
[1] Meyer, R.E. Cognitive Theory and the Multimedia Learning. National
Design of Multimedia Instruction: An Research University of Information
Example of the Two-Way Street Technologies, Mechanics and Optics
Between Cognition and Instruction. (Russia).
New Direction For Teaching And [5] Sorden, S.D. A Cognitive Approach to
LearningNo. 89, Spring 2002 Wiley Instructional Design for Multimedia
Periodicals, Inc. Learning. Informing Science Journal,
[2] Meyer Richard E. Chapter 3 Cognitive 2005 8.
Theory of Multimedia Learning. Santa [6] Zheng, RZ. Cognitive Effect of
Barbara: Universitu of California. Multimedia Learning. Information
2010 Science Reference. USA. 2009
[3] Morena, R. And Mayer, R.E. [7] Hari Wibawanto. Prinsip Desainer
Cognitive Principles of Multimedia Bahan Ajar Multimedia Berdasarkan
Learning: The Role of Modality and Teori Beban Kognitif. Kurikulum DP.
Contiguity. Journal of Educational Jilid 11, Bil 1/2011.
Psychology 1999, Vol. 91, No. 2,358- [8] Gatot Pramono. Pemanfaatan
368 Copyright 1999 by the American Multimedia Pembelajaran. Pusat
Psychological Association, Inc. Teknologi Informasi dan Komunikasi
Depdiknas. 2008

PROSIDING SEMINAR NASIONAL ELINVO 2015. ISSN:2477-2402 143