Anda di halaman 1dari 46

SMF/BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI CASE REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN Mei 2017


UNIVERSITAS NUSA CENDANA

CANCER OVARIUM DENGAN CKD STAGE V

Disusun Oleh :

Hidayat Bazeher, S.Ked


1208017047

Pembimbing Klinik :

dr. Laurens David Paulus, Sp.OG (K).Onk

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


SMF/ BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA
RSUD PROF. DR.W.Z. JOHANNES
KUPANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Case Referat ini diajukan oleh :


NAma : Hidayat Bazeher, S.ked
NIM : 1208017047
Bagian : Obstetri dan Ginekologi RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes -
Kupang
Laporan Case Referat ini disusun dan dilaporkan dalam rangka memenuhi salah
satu persyaratan yang diperlukan untuk mengikuti ujian OSCE di bagian Obstetri
dan Ginekologi RSUD. Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang

Pembimbing Klinik

1. dr. Laurens David Paulus, Sp.OG. (K). Onk 1. .


Pembimbing Klinik

Ditetapkan di : Kupang
Waktu : ....... Mei 2017

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 2


BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu keganasan ginekologi yang cukup sering ditemui dan


merupakan kanker ginekologi yang paling mematikan adalah kanker ovarium.
Penyebab paling umum kematian akibat kanker dari tumor ginekologi di Amerika
Serikat. Kanker Ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi dari kanker alat
genital perempuan. Di USA sekitar 22.220 kasus baru didiagnosis setiap tahun,
dan sekitar 16.210 kematian terjadi setiap tahun akibat penyakit ini. Kanker
ovarium 6% dari seluruh kanker pada perempuan dan penyakit ini timbul 1 orang
pada setiap 68 perempuan di Indonesia. (1) Lesi ganas ovarium berasal dari lesi
primer yang timbul dari struktur normal dalam lesi ovarium dan sekunder dari
kanker yang timbul di tempat lain di tubuh. Lesi primer meliputi karsinoma
ovarium epitel (70% dari semua keganasan ovarium). Penelitian saat ini
menunjukkan bahwa sebagian besar berasal dari tuba falopi. Metastasis ke
ovarium relatif sering terjadi, biasanya tumor dari endometrium, payudara, usus
besar, perut, dan leher rahim. (2)

Penyebab pasti kanker ovarium tidak diketahui. Namun, beberapa faktor


risiko dan kontribusi (termasuk faktor reproduksi dan genetik) telah diidentifikasi.
Gejala awal menyebabkan gejala minimal, nonspesifik, atau tidak ada gejala. Oleh
karena itu, kebanyakan kasus di diagnosis dalam stadium lanjut. Prognosis pada
kanker ovarium berhubungan erat dengan tahap diagnosis; Dengan demikian,
keseluruhan, prognosis untuk pasien ini tetap buruk. (1)

Pengobatan standar melibatkan operasi debulking agresif yang diikuti


kemoterapi. Penggabungan kemoterapi neoadjuvant baru-baru ini meningkat,
dengan beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa situasi, ini
menawarkan peningkatan morbiditas dan kemungkinan kelangsungan hidup. (1)

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 3


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Cancer ovarium

Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel yang tidak nomal yang
terbentuk di jaringan ovarium. Menurutt WHO untuk tumor ovarium yang
terbanyak ditemukan berdasarkan jaringan asal yang paling mungkin diantaranya
surface epithelial (65%), germ cell (15%), sex cord-stromal (10%), metastases
(5%).(3)
2.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kejadian kanker ovarium adalah 12,1 per 100.000
wanita pertahun, berdasarkan kasus 2008-2012. Kejadian kanker ovarium telah
perlahan menurun sejak pertengahan 1980an; Itu turun 1,9% per tahun dari tahun
2004 sampai 2013. Kanker ovarium lebih sering terjadi pada orang kulit putih di
Amerika Afrika (12,8 berbanding 9,8 kasus per 100.000 wanita per tahun. (2)
The American Cancer Society memperkirakan bahwa 22.440 kasus baru
kanker ovarium akan didiagnosis pada 2017 dan 14.080 wanita akan meninggal
akibat penyakit ini. Meskipun kanker ovarium adalah kanker yang paling umum
ke 17 pada wanita, ini adalah penyebab paling umum kelima kematian akibat
kanker pada wanita, terhitung 5% dari kematian akibat kanker - lebih banyak
daripada kanker ginekologis lainnya. Dari tahun 2004 sampai 2013, tingkat
kematian akibat kanker ovarium menurun sebesar 2,2% per tahun. (2)
Secara internasional, kejadian berkisar antara 3,1 kasus per 100.000 wanita
di Jepang menjadi 21 kasus per 100.000 wanita di Swedia. Di seluruh dunia, lebih
dari 200.000 wanita diperkirakan mengembangkan kanker ovarium setiap tahun
dan sekitar 100.000 meninggal karena penyakit ini. (2)
Germ cell tumors ovarium mayoritas terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda, 60% terjadi pada usia 10-20 tahun, dan pada kelompok ini sepertiga darinya
adalah bentuk ganas. Umumnya 90% adalah bentuk murni dan 10% adalah bentuk
campuran yaitu terdiri dari dua atau lebih subtipe dalam tumor yang sama. Germ cell
tumors ovarium terutama menyerang wanita muda, tetapi kadang-kadang dapat terjadi

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 4


pada bayi dan wanita usia lanjut, dan insidennya bervariasi di seluruh dunia.
Insidennya meningkat pada usia 8-9 tahun, dan mencapai puncak pada usia 18 tahun,
dengan rata-rata pada usia 19 tahun.

2.3 Faktor Risiko (1)

2.3.1 Faktor Lingkungan

Insidens kanker ovarium tinggi pada negara-negara industri. Penyakit ini


tidak ada hubungannya dengan obesitas, minum alkohol, merokok, maupun
minum kopi. Juga tidak ada kaitannya dengan penggunaan bedak talkum ataupun
intake lemak yang berlebihan.

2.3.2 Faktor Reproduksi

Makin meningkat siklus haid berovulasi ada hubungannya dengan


meningkatnya risiko timbulnya kanker ovarium. Hal ini dikaitkan dengan
pertumbuhan aktif permukaan ovarium setelah ovulasi. Induksi siklus ovulasi
mempergunakan klomifen sitrat menigkatkan risiko 2 sampai 3 kali. Kondisi yang
menyebabkan turunnya siklus ovulasi menurunkan risiko kanker seperti pada
pemakaian pil Keluarga Berencana menurunkan risiko sampai 50%, bila pil
dipergunakan 5 tahun atau lebih; Multiparitas, dan riwayat pemberian air susu ibu
termasuk menurunkan risiko kanker ovarium.

2.3.3 Faktor Genetik

Penyakit ini 5% - 10% karena faktor heriditer (ditemukan di keluarga


sekurang-kurangnya dua keturunan dengan kanker ovarium).

Ada 3 jenis kanker ovarium yang diturunkan yakni:

Kanker ovarium site spesific familial.


Sindrom kanker payudara-ovarium, yang disebabkan oleh mutasi dari gen
BRCA 1 dan berisiko sepanjang hidup (lifetime) sampai 85% timbul kanker
payudara dan risiko lifetime sampai 50% timbulnya kanker ovarium pada
kelompok tertentu. Walaupun mastektomi profilaksis kemungkinan

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 5


menurunkan risiko, tetapi persentase kepastian belum diketahui.
Ooforektomia profilaksis mengurangi risiko sampai 2%.
Sindroma kanker Lynch tipe II, di mana beberapa anggota keluarga dapat
timbul berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal nonpoliposis,
endrometrium, dan ovarium.

2.4 KLASIFIKASI KANKER OVARIUM (3)

2.4.1 SURFACE EPITHELIAL-STROMAL TUMORS

a. Serous tumors
Benign (cystadenoma)
Borderline tumors (serous borderline tumor)
Malignant (serous adenocarcinoma)
b. Mucinous tumors, endocervical-like and intestinal type
Benign (cystadenoma)
Borderline tumors (mucinous borderline tumor)
Malignant (mucinous adenocarcinoma)
c. Endometrioid tumors
Benign (cystadenoma)
Borderline tumors (endometrioid borderline tumor)
Malignant (endometrioid adenocarcinoma)
d. Clear cell tumors
Benign
Borderline tumors
Malignant (clear cell adenocarcinoma)
e. Transitional cell tumors
Brenner tumor
Brenner tumor of borderline malignancy
Malignant Brenner tumor
Transitional cell carcinoma (non-Brenner type)
f. Epithelial-stromal

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 6


Adenosarcoma
Malignant mixed mllerian tumor
2.4.2 SEX CORDSTROMAL TUMORS
a. Granulosa tumors
b. Fibromas
c. Fibrothecomas
d. Thecomas
e. Sertoli cell tumors
f. Leydig cell tumors
g. Sex cord tumor with annular tubules
h. Gynandroblastoma
i. Steroid (lipid) cell tumors
2.4.3 GERM CELL TUMORS
a. Teratoma
Immature
Mature
Solid
Cystic (dermoid cyst)
b. Monodermal (e.g., struma ovarii, carcinoid)
c. Dysgerminoma
d. Yolk sac tumor (endodermal sinus tumor)
e. Mixed germ cell tumors

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 7


Gambar 2.1 Klasifikasi Tumor Ovarium menurut WHO

2.5 Patogenesis

Meskipun banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui patogenesis dari


kanker ovarium, sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab dari
kanker ovarium. Namun, para ahli memiliki beberapa teori tentang patogenesis
kanker ovarium, antara lain teori incessant ovulation, inflamasi dan
gonadotropin.(5)
Teori incessant ovulation menganggap kanker ovarium berasal dari epitel
permukaan ovarium sendiri. Saat terjadinya ovulasi, terjadi trauma pada epitel
permukaan ovarium yang perlu direparasi. Selama siklus reproduksi wanita,
proses tersebut terus terulang. Selama proses tersebut epitel permukaan ovarium
rentan mengalami kerusakan DNA dan transformasi. Selain itu, seiring dengan
bertambahnya usia, permukaan ovarium membentuk invaginasi pada stroma
kortikal. Invaginasi tersebut dapat menyebabkan epitel permukaan terperangkap
ke dalam stroma dan menjadi kista inklusi. Akibat paparan hormon-hormon
ovarium, kista inklusi tersebut dapat berproliferasi dan jika disertai kerusakan

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 8


DNA akan mengarah menjadi suatu keganasan. Hal ini berhubungan dengan
faktor risiko kanker ovarium, dimana semakin dini wanita mengalami menstruasi
dan semakin tua usia menopause serta tidak pernah hamil meningkatkan frekuensi
terjadinya kanker ovarium. Sebaliknya, berbagai kondisi yang menekan faktor
ovulasi seperti kehamilan dan menyusui menurunkan frekuensi terjadinya kanker
ovarium.(4)(5)
Teori kedua adalah teori inflamasi. Hal ini didasarkan pada penelitian
dimana angka kejadian kanker ovarium meningkat pada wanita yang mengalami
infeksi atau radang panggul. Menurut teori ini, berbagai karsinogen dapat
mencapai ovarium melalui saluran genitalia. (6)
Teori ketiga adalah teori gonadotropin. Adanya kadar gonadotropin yang
tinggi yang berkaitan dengan lonjakan yang terjadi selama ovulasi dan hilangnya
gonadal negative feedback pada menopause serta kegagalan ovarium prematur
memegang peranan penting dalam perkembangan kanker ovarium. Pada penelitian
yang dilakukan oleh Cramer dan Welch ditemukan hubungan antara kadar
gonadotropin dan estrogen. Adanya sekresi gonadotropin dalam jumlah yang
tinggi ternyata mengakibatkan stimulasi estrogen pada epitel permukaan ovarium.
Hal tersebut diduga berperan dalam proses terjadinya kanker ovarium. (6)
Faktor lain yang turut perperan dalam patogenesis kanker ovarium adalah
faktor genetik. Kanker ovarium terjadi akibat dari akumulasi perubahan genetik
yang mengarah ke transformasi keganasan yang berasal dari kista jinak kemudian
bermodifikasi menjadi tumor yang berpotensi keganasan rendah dan pada
akhirnya berkembang menjadi kanker ovarium invasif. Pada jenis tumor tersebut
ditemukan mutasi dari K-ras, H-ras dan N-Ras. Seorang wanita yang dilahirkan
dengan mutasi BRCA hanya memerlukan satu hit pada allel pasangannya yang
normal untuk menghentikan produk BRCA yang memiliki fungsi tumor
suppressor gene. Sehingga kanker yang berkaitan dengan BRCA biasanya akan
muncul sekitar 15 tahun lebih awal daripada kasus-kasus kanker yag bersifat
sporadik. Setelah itu, BRCA-related ovarian cancer nampaknya memiliki
patogenesis molekuler yang berbeda, memerlukan terjadinya inaktivasi p53 untuk
dapat berkembang. (4)

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 9


Germ cell tumors ovarium mayoritas terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda. Umumnya etiopatogenesis dari germ cell tumors ovarium belum diketahui
secara pasti, tetapi beberapa germ cell tumors ovarium ternyata mempunyai hubungan
dengan dysgenetic gonads.

2.5 Manifestasi Klinis

Sebagian besar pasien merasa tidak ada keluhan (95%) dan keluhan-
keluhan yang timbul tidak spesifik seperti perut membesar / ada perasaan tekanan,
dispareunia, berat badan meningkat karena ada asites atau massa, kembung; dan
ketidaknyamanan. Efek tekanan pada kandung kemih dan rektum, konstipasi,
pendarahan vagina, gangguan pencernaan dan acid reflux, sesak napas, kelelahan,
cepat kenyang. Sebagian besar kasus didiagnosis dalam stadium lanjut. Gejala lain
yang timbul dengan adanya kanker ovarium meliputi nyeri panggul dan perut,
bertambahnya ukuran perut dan kembung, dan sulit makan atau merasa kenyang.
Gejala yang terkait dengan penyakit stadium akhir meliputi gejala gastrointestinal
seperti mual dan muntah, konstipasi, dan diare. (1)

Diagnosis germ cell tumors ovarium kadang sulit ditegakkan secara dini,
karena sering pada stadium awal penyakit tidak memperlihatkan gejala
(asimtomatik). Biasanya ditemukan pada saat pemeriksaan ginekologik secara
teratur. Sebagian besar germ cell tumors ovarium adalah jinak dan unilateral.
Gejala yang paling sering adalah nyeri perut namun dapat juga asimtomatik. Germ
cell tumors ovarium dapat bertumbuh cepat dan sebagian besar berada ditemukan
pada stadium IA yang masih terbatas pada ovarium. Massa tumor dapat
menyebabkan nyeri akut disebabkan karena torsi, ruptur, atau perdarahan. Juga
penderita dapat mengalami distensi perut, perdarahan pervaginal. Gejala klinis
sering terjadi secara akut serta progresif dan separuh dari penderita mengeluh
gejala 1 minggu atau kurang. Tiga perempat penderita mengeluh nyeri perut dan
hampir semuanya mengeluh adanya pembesaran perut atau adanya tumor pada
daerah pelvis. Adanya ruptur, putaran dan perdarahan dari tumor menimbulkan
gejala mirip appendisitis.

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 10


2.5.1 Pembagian stadium menurut FIGO (1)

I. Tumor terbatas pada ovarium.

I A : umor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada tumor pada
permukaan luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau pada
bilasan peritoneum.
I B : Tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak ada tumor
pada permukaan luar, tidak terdapat sel kanker pada cairan asites atau
pada bilasan peritoneum.
I C : Tumor terbatas pada satu atau dua ovarium dengan satu dari tanda-
tanda sebagai berikut: kapsul pecah, tumor pada permukaan luar kapsul,
sel kanker positif pada cairan asites atau bilasan peritoneum.

II. Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan perluasan ke pelvis.

II A : Perluasan dan/implan ke uterus dan/atau tuba fallopii. Tidak ada


sel kanker di cairan asites asites atau bilasan peritoneum.
II B : Perluasan ke organ pelvis lainnya. Tidak ada sel kanker di cairan
asites atau bilasan peritoneum.
II C: Tumor pada stadium IIA/IIB dengan sel kanker positif pada cairan
asites atau bilasan peritoneum.
III. Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan metastasis ke peritoneum
yang dipastikan secara mikroskopik di luar pelvis dan/ atau metastasis ke
kelenjar getah bening regoinal.
III A : Metastasis peritoneum mikroskopik di luar pelvis.
III B : Metastasis peritoneum mikroskopik di luar pelvis dengan
diameter terbesar 2 cm atau kurang.
III C : Metastasis peritoneum di luar pelvis dengan diameter terbesar
lebih dari 2 cm dan/atau metastasis kelenjar getah bening regional
IV : Metastasis jauh di luar rongga peritoneum. Bila terdapat efusi pleura,
maka cairan pleura mengandung sel kanker positif. Termasuk metastasis pada
parenkim hati.

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 11


2.6 Diagnosis

Temuan fisik jarang terjadi pada pasien dengan penyakit dini. Pasien
dengan penyakit yang lebih lanjut dapat ditemukan massa ovarium, asites,
efusi pleura, atau massa abdomen atau obstruksi usus dan gangguan ginjal.
Kanker ovarium lanjut dicurigai berdasarkan gejala klinis yang muncul,
namun dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan patologis dengan
dikeluarkannya ovarium dan dilakukan pengambilan sampel jaringan atau
cairan asites. (2)
Pengujian laboratorium
Tidak ada penanda tumor (misalnya CA125, beta-human chorionic
gonadotropin, alpha-fetoprotein, lactate dehydrogenase) benar-benar spesifik;
Oleh karena itu, gunakan tes imunohistokimia diagnostik bersamaan dengan
temuan morfologis dan klinis. Juga, dapat dilakukan urinalisis untuk
menyingkirkan kemungkinan penyebab lain nyeri perut / pelvis lainnya,
seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal. (2)
Studi pencitraan
pencitraan tidak rutin diperlukan dalam semua pasien dengan kanker ovarium
sangat disarankan. Dalam kasus di mana diagnosis tidak pasti, pertimbangkan
studi pencitraan berikut:
1.Ultrasonografi pelvis
2. Pelvic dan abdominal computed tomography (CT)
3. Pelvic dan abdominal magnetic resonance imaging : Meningkatkan
spesifisitas pencitraan saat temuan sonografi tidak pasti.
4. Foto thorax :: Pencitraan rutin untuk menyingkirkan metastasis paru
5. Mamografi: Bagian dari pemeriksaan pra operasi untuk wanita berusia di
atas 40 tahun. Tumor penghasil estrogen dapat meningkatkan risiko keganasan
payudara, dan kanker payudara dapat bermetastasis ke ovarium dan seringkali
bilateral. (2)

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 12


Tabel.2.1 Petanda Tumor Ganas sel germinal ovarium

2.7 Tatalaksana

Pendekatan pengobatan umum


Tindakan pembedahan ada dua tujuan yakni pengobatan dan penentuan
stadium surgikal. Terapi pembedahan termasuk histerektomi, salpingo-
oofrektomi, omentektomi, pemeriksaan asites, bilasan peritonium, dan
mengupayakan debulking optimal (kurang dari 1 cm tumor residu),
limfadenektomi (pengmbilan sampel untuk pemeriksaan histopatologi) pada
stadium awal, stadium I A sampai stadium I B derajat 1 dan 2, atau semua
stadium pada jenis tumor potensial rendah pada ovarium. Kemudian dilakukan
observasi dan pengamatan lanjut dengan pemeriksaan CA-125.(1) Pembedahan
adalah modalitas awal pengobatan untuk kanker ovarium epitel stadium I-IVA.
Namun, hanya sebagian kecil wanita dengan kanker ovarium epitel yang bisa
diobati dengan operasi saja. Persentase kecil ini mencakup pasien dengan tumor
stadium IA atau IB (grade 1) serosa, mukin, endometrioid, dan Brenner.
Pengobatan tumor kelas 2 tetap kontroversial. (2)

Pasien dengan Stadium I A derajat 1 dan 2 jenis epitel mempunyai


kesintasan hidup 5 tahun 95% dengan atau pemberian kemoterapi. Beberapa
klinikus akan memberikan kemoterapi pada kanker ovarium pada derajat 2
stadium I A dan I B derajat 3, stadium II sampai IV: Kemoterapi: paclitaxel
(taxol) dengan carboplatin atau cisplatin. (1)

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 13


Resiko tinggi seperti stadium 1 C, grade lebih tinggi , atau histologi
clear-cell harus segera mempertimbangkan kemoterapi ajuvan. Karsinoma sel
darah jelas dikaitkan dengan prognosis yang secara signifikan lebih buruk pada
stadium I; Semua pasien dengan subtipe histologis ini harus dipertimbangkan
untuk kemoterapi.

Wanita dengan stadium kanker ovarium epitel harus dipertimbangkan


untuk uji klinis jika tersedia.

Rekomendasi kemoterapi berdasarkan stadium (2)

Stage I

Pertimbangkan kemoterapi untuk stage 1A dan 1B kelas 2 dan 3, dan stage 1C.
Kemoterapi biasanya diberikan setelah operasi. Regimen adalah sebagai berikut:

Paclitaxel 175 mg / m2 IV selama 3 jam ditambah daerah karboplatin di


bawah kurva (AUC) 6 IV selama 30 menit pada hari ke 1, setiap 21 hari
untuk tiga sampai enam siklus atau
Docetaxel 75 mg / m2 IV selama 1 jam ditambah carboplatin AUC 5 IV
selama 1 jam pada hari ke 1; setiap 21 hari untuk tiga sampai enam siklus
atau
Carboplatin AUC 5 IV 1 jam pada hari ke 1; setiap 21-28 hari untuk enam
siklus atau
Carboplatin 350 mg / m2 IV selama 1 jam pada hari ke 1; sampai hari ke
21-28 d untuk empat atau lebih siklus

Stage IIA dan IIB

Semua pasien kanker ovarium dengan stadium II atau lebih tinggi perlu
dipertimbangkan untuk lini depan kemoterapi.

Paclitaxel 175 mg / m2 IV selama 3 jam ditamba carboplatin AUC 7.5 IV


selama 30 menit pada hari ke 1; Setiap 21 hari untuk tiga sampai enam
siklus atau

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 14


Docetaxel 75 mg / m2 1 h Infus IV ditambah carboplatin AUC 5 IV di atas
1 jam pada hari ke 1; Setiap 21 hari untuk tiga sampai enam siklus atau
Carboplatin AUC 5 IV di atas 1 jam pada hari pertama; Setiap 21-28 hari
untuk enam atau
Carboplatin 350 mg / m2 IV selama 1 jam pada hari ke 1; Setiap 21-28 hari
untuk empat atau lebih siklus.

Stage IIC

Semua pasien dengan kanker stadium IIC harus dipertimbangkan untuk


pengobatan seperti pada kanker stadium III (lihat di bawah).

Stage III

Kemoterapi Intraperitoneal (IP) tetap menjadi pengobatan pilihan untuk


kanker ovarium stadium lanjut yang maksimal (<1 cm) setelah operasi. Uji coba
Gynecological Oncology Group (GOG 172) yang membandingkan cisplatin IV
dan paclitaxel IV dengan IP cisplatin dan paclitaxel IV / IP menjelaskan bahwa
terapi IP memperbaiki kelangsungan hidup dan menghasilkan penurunan 25%
risiko kematian. Namun, uji coba juga menunjukkan peningkatan toksisitas
dengan kemoterapi IP versus kemoterapi IV. (2)

Meskipun hasil awal GOG 252 yang baru-baru ini dilaporkan agak
kontradiktif, tanpa perbedaan yang signifikan dalam kelangsungan hidup bebas
perkembangan (progression free survival / PFS) antara pasien yang menerima
carboplatin IV / minggu paclitaxel IV; IP carboplatin / minggu paclitaxel IV; Atau
paclitaxel sekuensial, IP cisplatin (dosis 75 mg / m2), dan IP paclitaxel. Namun,
tingkat crossover 28% dari pengobatan IP ke kelompok hanya-IV mungkin telah
mengurangi perbedaan signifikan pada PFS. Selanjutnya, penambahan
bevacizumab dapat berkontribusi pada hasil yang tidak diharapkan. (2)

Pada saat ini, tidak ada regimen standar terapi IP; Namun, regimen dosis berikut
dapat digunakan:

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 15


Paclitaxel 135 mg / m2 IV selama 24 jam pada hari ke 1 ditambah
cisplatin 100 mg / m2 IP pada hari ke 2 (dapat mengurangi dosis menjadi
75 mg / m2) ditambah paclitaxel 60 mg / m2 pada hari ke 8 selama enam
atau lebih Siklus, asalkan penyakitnya responsif.
Dosis cisplatin dapat dikurangi menjadi 75 mg / m2 IP pada hari ke
2; Beberapa klinisi memberi paclitaxel 135 mg / m2 IV selama 3 jam
diikuti dengan cisplatin 75 mg / m2 IP, baik pada hari ke 1.
Rentang normal carboplatin AUC untuk pengobatan karsinoma ovarium
adalah 5 sampai 7,5; Pasien yang telah menerima kemoterapi sebelumnya
atau radiasi harus dimulai dengan AUC <5
Jika pasien tidak dapat mentolerir secara IP, kembalikan ke salah
satu dari dua regimen obat berikut ini:
Paclitaxel 175 mg / m2 IV selama 3 jam ditambah carboplatin AUC 7.5 IV
selama 1 jam pada hari ke 1; Setiap 21 hari untuk enam siklus atau
Docetaxel 75 mg / m2 IV selama 1 jam ditambah carboplatin AUC 5 IV
selama 1 jam pada hari ke 1; Setiap 21 hari untuk enam siklus .

Stage IVA:

Rekomendasi pengobatan serupa dengan stage III.

Stage IVB:

Pasien harus dipertimbangkan untuk kemoterapi lini depan. Regimen yang


mungkin adalah sebagai berikut:

Paclitaxel 175 mg / m2 IV selama 3 jam ditambah carboplatin AUC 7.5 IV


selama 1 jam pada hari ke 1; Setiap 21 hari untuk enam siklus atau
Docetaxel 75 mg / m2 IV selama 1 jam ditambah carboplatin AUC 5 IV
selama 1 jam pada hari ke 1; Setiap 21 hari untuk enam siklus. (2)

Pada germ cell tumors sebagai patokan, pasien-pasien yang telah dilakukan
surgical staging lengkap dan menunjukkan stadium IA derajat 1, stadium yang

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 16


lebih tinggi harus diberikan kemoterapi adjuvan. Pengobatan dapat dimulai
segera setelah pembedahan 3-4 siklus (7-10 hari pasca pembedahan)
Tabel 2.2 regimen kombinasi pada germ cell tumors

Penggunaan kombinasi kemoterapi sesudah pembedahan sangat


memperbaiki prognosis penderita. Studi-studi yang lain menemukan
bahwa ukuran dan histologi tumor adalah faktor-faktor utama untuk
menentukan prognosis penderita malignant germ cell tumors ovarium.

2.9 Prognosis

Faktor-faktor yang memperbaiki prognosis termasuk derajat diferensiasi


rendah, stadium awal, tumor ganas potensi rendah, debulking optimal, dan usia
muda. Sementara itu faktor yang memperburuk prognosis termasuk karsinoma sel
jernih, jernih serosum, stadium lanjut, adanya asites, debulking yang tidak
optimal, derajat diferensiasi tinggi/ buruk, dan usia tua.(1)

Meskipun tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker ovarium telah


meningkat secara signifikan dalam 30 tahun terakhir, prognosis kanker ovarium
tetap buruk secara keseluruhan, dengan tingkat kelangsungan hidup 46% 5 tahun.
Prognosis kanker ovarium berhubungan erat dengan stadium pada diagnosis,
yang ditentukan sesuai dengan sistem stadium yang dikembangkan oleh Federasi
Internasional Ginekologi dan Obstetri. Sekitar 20%, 5%, 58%, dan 17% wanita
hadir dengan stadium I, II, III, dan IV. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk
karsinoma ovarium epitel oleh stage FIGO adalah sebagai berikut:
Stage IA - 87%
Stage IB - 71%
Stage IC - 79%

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 17


Stage IIA - 67%
Stage IIB - 55%
Stage IIC - 57%
Stage IIIA - 41%
Stage IIIB - 25%
Stage IIIC - 23%
Stage IV - 11%
Overall survival rate 46%

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 18


2.10 Definisi CKD

Penyakit Ginjal kronik adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi


yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada
umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu
keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel,
pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa
dialisis atau transplantasi ginjal. Uremia adalah suatu sindrom klinik dan
laboratorik yang
terjadi pada semua organ, akibat penurunan fungsi ginjal pada penyakit ginjal
kronik.4
2.11 Epidemiologi
Peningkatan prevalens penderita CKD dari 13,8% menjadi 15,8%
padapopulasi dewasa dilaporkan oleh US Renal Data System tahun 2007,
sedangkanpada populasi anak kejadian CKD < 2% dari populasi dewasa.
Prevalens CKDpada anak adalah 18 per 1 juta populasi anak. Jumlah penderita
CKD yangdilakukan dialisis dan transplantasi ginjal diproyeksikan meningkat dari
340.000 padatahun 1999 menjadi 651.000 pada tahun 2010. Mortalitas penderita
dengan CKDmeningkat 10-20 kali dibandingkan populasi umum.Sedangkan
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2000 mencatat penyebab gagal
ginjal yang menjalani hemodialisis di Indonesia diantaranya,nefritis
lupus,nefropati urat,intoksikasi obat, penyakit ginjal bawaan, tumor ginjal, dan
penyebab yang tidak diketahui. 4
3.3 Etiologi

Gambar 3.1 Penyakit gagal ginjal di Indonesia tahun 2011

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 19


Penyebab PGK pada pasien hemodialisis baru dari data tahun 2011
didapatkan sebagai berikut, E1 (Glomerulopati Primer/GNC) 14%, E2 (Nefropati
Diabetika) 27%, E3 (Nefropati Lupus/SLE) 1%, E4 (Penyakit Ginjal Hipertensi)
34%, E5 (Ginjal Polikistik) 1%, E6 (Nefropati Asam Urat) 2%, E7 (Nefropati
obstruksi) 8%, E8 (Pielonefritis kronik/PNC) 6%, dan E9 (Lain-lain) 6%, E10
(Tidak Diketahui) 1%. 8

3.4 Klasifikasi
Klasifikasi penyakit ginjal kronik didasarkan atas dua hal yaitu, atas dasar
derajat (stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologi. Klasifikasi atas dasar
derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG, yang dihitung dengan mempergunakan
rumus Kockkcroft-Gault sebagai berikut:4
(140umur)X berat badan
LFG (ml/mnt/1.73m2 = 72 X kreatinin plasma (mg/dl)*

*) pada perempuan dikalikan 0.85


Tabel 3.1 KlasifikasiPenyakit ginjal Kronik5
Stage eGFR Derajat Fungsi Keterangan
(ml/menit/1,73m2) Ginjal
1 90 Normal Harus disertai proteinuria,
hematuria mikroskopik atau
struktur ginjal yang abnormal
2 60-89 Gangguan fungsi Harus disertai proteinuria,
ginjal ringan hematuria mikroskopik atau
struktur ginjal yang abnormal
3 30-59 Gangguan fungsi -
ginjal sedang
4 15-29 Gangguan fungsi Membutuhkan perencanaan
ginjal berat yang aktif untuk mencegah
gagal ginjal tahap akhir
5 <15 Gagal ginjal tahap Membutuhkan hemodialisis
akhir (End stage atau transplantasi ginjal
renal failure)

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 20


Tabel 3.2 Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Diagnosis Etiologi
Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Diagnosis Etiologi

Penyakit Tipe mayor (contoh)

Penyakit ginjal Diabetes tipe 1 dan 2


diabetes
Penyakit ginjal Penyakit glomerular
non diabetes (penyakit otoimun,infeksi sistemik,obat,neoplasia)
(penyakit pembuluh darah besar,hipertensi,
mikroangiopati)
Penyakit tubulointerstitial
(pielonefritis kronik, batu,obstuksi,keracunan obat)
Penyakit kistik
(ginjal polikstik)
Penyakit pada Rejeksi kronik
transplantasi Keracunan obat (siklosporin/takrolimus)
Penyakit recurrent (glomerular)
Transplant glomerulopathy

2.12 Patofisiologi
Patofisiologi penyakit ginjal kronik pada awalnya tergantung pada
penyakit yang mendasarinya, tapi perkembangan selanjutnya proses yang terjadi
kurang lebih sama. Pengurangan massa ginjal mengakibatkan hipertrofi structural
dan fungsional nefron yang masih tersisa (surviving nephorns) sebagai upaya
kompensasi yang diperantarai oleh molekul vasoaktif seperti sitokin dan growth
factors. Hal ini mengakibatkan terjadi hiperfiltrasi, yang diikuti oleh peningkatan
tekanan kapiler dan aliran darah glomerulus. Proses adaptasi ini berlangsung
singkat, akhirnya diikuti oleh proses maladaptasi berupa sklerosis nefron yang
masih tersisa. Proses ini akhirnya diikuti dengan penurunan fungsi nefron yang
progresif, walaupun penyakit dasarnya sudah tidak aktif lagi. Adanya peningkatan
aktivitas aksis renin- angiotensin-aldosteron intrarenal, ikut memberikan

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 21


kontribusi terhadap terjadinya hiperfiltrasi, skelorosis dan progresifitas tersebut.
Aktivitas jangka panjang aksi renin angiotansin-aldosteron, sebagian dipelantarai
oleh growth factor (TGF-). Beberapa hal yang juga dianggap berperan
terhadap terjadinya progresifitas Penyakit Ginjal Kronik adalah albuminuria,
hipertensi, hiperglikemia, disiplidemia. Terdapat variabilitas invidual untuk
terjadinya sklerosis dan fibrosis glomerulus maupun tubulointerstitial.4
Pada stadium paling dini penyakit ginjal kronik, terjadinya kehilangan
daya cadang ginjal (renal reserve), pada keadaan basal LFG masih normal atau
malah meningkat. Kemudian secara perlahan tapi pasti, akan terjadi penurunan
fungsi nefron yang progresif yang di tandai dengan peningkatan kadar urea dan
kreatinin serum. Sampai pada LFG sebesar 60%, pasien masih belum merasakan
keluhan (asimtomatik), tapi sudah terjadi peningkatan kadar urea dan kreatinin
serum sampai pada LFG sebesar 30%, mulai terjadi keluhan pada pasien seperti,
nokturia, badan lemah, mual, nafsu makan kurang, dan penurunan berat badan.
Sampai pada LFG dibawah 30% pasien memperlihatkan gejala uremia yang nyata
seperti anemia, peningkatan tekanan darah, gangguan metabolisme, fosfor dan
kalsium, pruritus, mual, muntah dan lain sebagainya. Pasien juga mudah terkena
infeksi seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran nafas, maupun infeksi saluran
cerna. Juga akan terjadi gangguan keseimbangan air seperti hipo atau
hipervolemia, gangguan keseimbangan elektrolit antara lain natrium dan kalium.
Pada LFG dibawah 15%, akan terjadi komplikasi yang lebih serius dan pasien
sudah memerlukan terapi pengganti ginjalantara lain dialisis atau tranplantasi
ginjal. Pada keadaan ini pasien dikatakan sampai pada stadiumgagal ginjal.4
2.13 Pendekatan Diagnostik
2.13.1 Gambaran Klinis
Gambaran Klinis Pasien penyakit ginjal kronik meliputi4 ;
Seperti dengan penyakit yang mendasari seperti diabetes melitus, infeksi
traktus urinarius, batu traktus urinarius, hipertensi, hiperurikemia, Lupus
Eritomatosus Sistemik (SLE), dan lain sebagainya.

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 22


Syndrom uremia yang terdiri dari lemah, letargi, anoreksia, mual muntah,
nokturia, kelebihan volume cairan, (Volume Overload) neuropati perifer,
pruritus, uremicfrost, perikarditis, kejang-kejang sampai koma.
Gejala komplikasinya antara lain hipertensi, anemia, osteodistrofi renal,
payah jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit
(sodium, kalium, klorida).
2.13.2 Gambaran Laboratorium
Gambaran Laboratorium penyakit ginjal kronik meliputi4
a. Sesuai dengan penyakit yang mendasarinya
b. Penurunan fungsi ginjal berupa peningkatan kadar ureum dan kreatinin
serum dan penurunan LFG yang dihitung mempergunakan rumus
Kockcroft-Gault. Kadar kreatinin serum saja tidak bisa dipergunakan
untuk memperkirakan fungsi ginjal.
c. Kelainan biokimiawi darah meliputi penurunan kadar hemoglobin
peningkatan kadar asam urat, hiper atau hipokalemia, hiponatremia, hiper
atau hipokloremia, hiperfosfatemia, hipokalsemia, asidosis metabolik.
d. Kelainan urinalisis meliputi, proteinuria, hematuria, leukosuria, cast.
2.14.3 Gambaran Radiologis
Pemeriksaan Radiologis Penyakit Ginjal Kronik meliputi 4
a. Foto polos abdomen, bisa tampak batu radio opak.
b. Pielografi intravena jarang dikerjakan karena kontras sering tidak bisa
melewati filter glomerulus, disamping kehawatiran terjadinya pengaruh
toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah mengalami kerusakan.
c. Pielografi antergrad atau retrograd dilakukan sesuai dengan indikasi
d. Ultrasonografi ginjal bisa memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil,
korteks yang menipis adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa,
klasifikasi
e. Pemeriksaan renografi bila ada indikasi.
2.14.4 Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi Ginjal
Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi Ginjal dilakukan pada pasien
dengan ukuran ginjal yang masih mendekati normal, dimana diagnosis secara

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 23


noninvasive tidak bisa ditegakkan. Pemeriksaan histopatologi ini bertujuan
untuk mengetahui etiologi, menetapkan terapi, prognosis, dan mengevaluasi
hasil terapi yang telah diberikan. Biopsi ginjal indikasi kontra dilakukan pada
keadaan dimana ukuranginjal yang sudah mengecil (contracted kidney), ginjal
polikistik, hipertensi yang tidak terkendali, infeksi perinefrik, gangguan
pembekuan darah, gagal nafas, dan obesitas.4
2.15 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik meliputi 4:
a. Terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya
b. Pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid (comorbid condition)
c. Memperlambat perburukan (progression) fungsi ginjal
d. Pencegahan dan terapi terhadap penyakit kardiovaskular
e. Pencegahan dan terapi terhadap komplikasi
f. Terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantansi ginjal.
Perencanaan tatalaksana (action plan) Penyakit ginjal kronik sesuai
derajatnya, dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 3.3 Rencana Tatalaksana penyakit Ginjal Kronik Sesuai dengan
Derajatnya
Stage eGFR Rencana Tatalaksanaan
(ml/menit/1,73m2)
1 90 Terapi penyakit dasar, kondisi
komorbid, evaluasi perburukan
(progression) fungsi ginjal,
memperkecil risiko kardiovaskuler
2 60-89 Menghambat perburukan (progression)
fungsi ginjal
3 30-59 Evaluasi dan terapi komplikasi
4 15-29 Persiapan untuk terapi penggantian
ginjal
5 <15 Terapi penggantian ginjal

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 24


2.15.1 Terapi Spesifik Terhadap Penyakit Dasarnya
Waktu yang paling tepat untuk terapi penyakit dasarnya adalah sebelum
terjadinya penurunan LFG, sehingga perburukan fungsi ginjal tidak terjadi.
Pada ukuran ginjal yang masih normal secara USG, biopsi dan pemeriksaan
histopatologi ginjal dapat menentukan indikasi yang tepat terhadap terapi
spesifik. Sebaliknya, bila LFG sudah menurun sampai 20-30% dari normal,
terapi terhadap penyakit dasar sudah tidak banyak bermanfaat.4
2.15.2 Pencegahan dan Terapi Terhadap Kondisi Komorbid
Penting sekali untuk mengikuti dan mencatat kecepatan penurunan LFG
pada pasien Penyakit Ginjal Kronik. Hal ini untuk mengetahui kondisi
komorbid (superimposed factors) yang dapat memperburuk keadaan pasien.
Faktor-faktor komorbid ini antara lain, gangguan keseimbangan cairan,
hipertensi yang tidak terkontrol, infeksi traktus urinarius, obstruksi traktus
urinarius, obat-obat nefrotoksik, bahan radiokontras, atau peningkatan aktivitas
penyakit dasarnya.4
A. Anemia
Anemia terjadi pada 80-90% pasien penyakit ginjal kronik. Anemia pada
penyakit ginjal kronik terutama disebabkan oleh defisiensi eritopoitin. Hal hal
yang ikut berperan dalam terjadinya anemia adalah defisiensi besi kehilangan
darah (misalnya : pendarahan saluran cerna, hematuri) masa hidup eritrosit yang
pendek akibat terjadinya hemolisis, defisiensi asam folat, penekanan
sumsumtulang oleh subtansi uremik, proses inflamasi akut maupun kronik.
Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar hemoglobin < 10 g % atau
hematokrit < 30% meliputi evaluasi terhadap status besi (kadar besis
serum/serum iron, kapasitas ikat besi total/ Total Iron Binding Capacity, feritin
serum), mencari sumber pendarahan, morfologi eritrosit, kemungkinan adanya
hemolisis dan lain sebagainya. Penatalaksanaan terutama ditujukan pada
penyebab utamanya, disamping penyebab lain bila ditemukan. Pemberian
eritropoipin (EPO) merupakan hal yang dianjurkan. Dalam pemberian EPO ini
status besi harus selalu mendapat perhatian karena EPO memerlukan besi dalam
mekanisme kerjanya. Pemberian tansfusi pada penyakit ginjal kronik harus

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 25


dilakukan secara hati-hati, berdasarkan indikasi yang tepat danpemantauan yang
cermat. Transfusi darah yang dilakukan secra tidak cermat dapat mengakibatkan
kelebihan cairan tubuh, hiperkalemia dan perburukan fungsi ginjal sasaran
hemoglobin menurut berbagai studi klinik adalah 11-12 g/dl.4

B. Pembatasan Cairan dan Elektrolit


Pembatasan asupan air pada pasien penyakit ginjal kronik, sangat perlu
dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mencegahterjadinya edema dan komplikasi
kardiovaskular. Air yang masuk kedalam tubuh dibuat seimbang dengan air
yang keluar baik melalui urine maupun insensible water loss. Dengan
berasumsi bahwa air yang keluar melalui insensible water lossantara 500-800
ml/hari (sesuai dengan luas permukaan tubu), maka air yang masuk dianjurka
500-800 ml ditambah jumlah urine. Elektrolit yang harus diawasi asupannya
adalah kalium dan natrium. Pembatasan kalium dilakukan, karena hiperkalemia
dapat mengakibatkan aritmia jantung yang fatal. Oleh karena itu, pemberian
obat-obat yang mengandung kalium danmakanan yang tinggi kalium (seperti
buah dan sayuran) harus dibatasi kadar kalium darah dianjurkan 3,5-5,5 mEq/lt.
Pembatasan natrium dimaksudkan untuk mengendalikan hipertensi dan edema.
Jumlah garam natrium yang diberikan, disesuaikan dengan tingginya tekanan
darah derajat edema yang terjadi.4

C. Terapi Pengganti Ginjal (Renal Replacement Therapy)


Terapi pengganti ginjal pada Penyakit Ginjal Kronik stadium 5, yaitu pada
LFG kurang dari 15 ml/mnt. Terapi pengganti tersebut dapat berupa
hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal. Di Indonesia
hemodialisis dilakukan 2 kali seminggu dengan setiap hemodialisis dilakukan
selama 5 jam, tetapi disenter dialisis lain ada juga yang dilakukan 3 kali
seminggu dengan lama dialisis 4 jam setiap kalinya. 4

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 26


BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Identitas Pasien
Nama : Ny. Delinda Ceunfin
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 26 tahun
BB : 44 kg
Pekerjaan : IRT
Alamat : Alak
Agama : Kristen Protestan
Status : Menikah
No MR : 457596
MRS : 12 April 2017 Pukul WITA

3.2 Anamnesis dan Pemeriksaan


Anamnesis dan Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 14 april 2017.

Anamnesis

Keluhan Utama : Darah keluar dari jalan lahir

Riwayat Perjalanan penyakit :

Pasien datang sendiri, MRS pada tanggal 12 april dengan keluhan keluar
darah dari jalan lahir sejak 2 minggu SMRS. Darah yang keluar bergumpal-
gumpal, namun tidak disertai jaringan. Biasanya pasien sampai mengganti
pembalut bisa sampai 6 kali dalam sehari. Akhir-akir ini darah keluar semakin
banyak hingga MRS. Sebelumnya pasien juga pernah masuk dengan keluan yang
sama tanggal 20 januari 2017 dan telah dilakukan operasi tanggal 25 januari 2017.
Saat operasi didapatkan adanya massa padat dari ovarium kiri yang
mengakibatkan perlengketan dengan usus. Setelah dilakukan operasi perdarahan
sempat berhenti. Setelah itu pasien disarankan untuk mengikuti kemoterapi,
namun pasien sendiri tidak mau mengikuti kemoterapi. Pasien sendiri lebih

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 27


memilih saran dari keluarga untuk memakai pengobatan tradisional dengan
rebusan ramuan akar, daun dan obat cina yang diberikan oleh keluarga. Namun
gejala muncul lagi. Selain itu, pasien juga mengeluhkan nyeri perut bagian bawah
yang bersifat menetap dan terasa seperti tertikam. Nyeri dirasakan semakin
memberat dari hari ke hari. Pasien juga mengeluh perut yang semakin membesar
dan rasa sesak bila melakukan aktivitas. Sebelum muncul gejala tidak pernah
mengalami perdarahan saat berhubungan dengan suami. Pasien mengatakan
bahwa belum BAB 3 minggu SMRS dan BAK masih bisa. Pasien juga
mengatakan bahwa berat badannya menurun karena makan sedikit.
Riwayat Penyakit dahulu :
Pasien sempat mengalami penyakit yang sama dan di rawat di RS tanggal
20 januari 2017.

Riwayat keluarga : nenek pasien pernah menalami kangker ovarium.

Riwayat pemberian air susu : 2 anak pasien sewaktu bayi diberi asi hinga umur 2
tahun.

Riwayat Obstetri :
Haid terakhir tanggal 11 januari 2017, namun haid pasien tidak teratur.
Pasien menarke pada umur 12 tahun. Pasien pernah hamil 2 kali.
Riwayat kontrasepsi : pasien tidak pernah menggunakan kontrasepsi apapun.

Pemeriksaan Fisik : (tanggal 12/04/2017)


Kesadaaran : Compos mentis GCS E4 V5 M6
Tanda Vital : TD 110/80 mmHg Nadi 86x/menit
Temperatur 36,8oC Pernapasan 20 x/menit
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Cor
Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan bunyi jantung 2 reguler, tunggal,
murmur (-), gallop (-)
Pulmo

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 28


Auskultasi : suara napas vesikular superior dan medial, rhonki -/-
wheezing -/-
Abdomen

Inspeksi : tampak cembung

Auskultasi : bising usus (+) 4-6x/menit kesan menurun

Palpasi : nyeri tekan (+), teraba massa yang padat


berukuran 15 x 12 cm perut kanan bawah,
immobile, batas tegas, permukaan rata
VT : Vulva dan vagina tidak tampak kelainan, portio
tetutp, licin, nyeri goyang negatif, adneksa
parametium dextra teraba massa solid, immobile
berukuran 3 cm, kavum Douglasi tidak menonjol.
Ekstremitas : Akral hangat, edema tungkai (+/+)

Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium Tanggal 12 april 2017
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI

Hemoglobin 6.3 L g/dL 12.0-16.0

Jumlah Eritosit 2.55 L 10^6/uL 4.20-5.40

Hematokrit 19.7 L % 37.0-47.0

MCV 77.3 L fL 81.0-96.0

MCH 24.7 L Pg 27.0-36.0

Jumlah Leukosit 61.00 H 10^3/uL 4.0-10.0

Jumlah Trombosit 305 10^3/uL 150-400

`Glukosa Sewaktu 81 mg/dL 70-150

Ureum Darah 227.10 H mg/dL < 48

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 29


Kreatinin Darah 4.0 H mg/dL 0.6-11

Natrium Darah 126 mmol/L 132-147

Kalium Darah 3.4 L mmol/L 3.5-4.5

Klorida Darah 97 mmol/L 96-111

KOAGULASI

PT 12.4 Detik 10.8-14.4

APTT 31.9 Detik 26.4-37.6

Pemeriksan Ultrasonografi Tanggal 12 april 2017


Hasil:
Tampak sebuah massa tampak massa solid besar pada abdomen bawah dan
terdapat nodul di hepar. Ginjal kiri dan kanan terdapat pelebaran

Kesimpulan : Ca uteri dengan metastasis ke hepar dd Ca ovarium

Terapi :

Consul interna :

- IVFD NaCL 20 tpm


- Injeksi Vit K 2x1 amp
- Injeksi kalnex 3x500g iv
- Injeksi Antrain 3x1 ampe iv
- Ranitidin 2x1 amp
- Injeksi Metilprednison 2x125 g iv
- Injeksi Levofloxacin 2x125 g iv

Terapi obgyn :

- Sesuai TS Interna
Oprasi terbaru tidak dilakukan
Hasil Operasi Tanggal 25 Januari 2017:

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 30


Hasil operasi didapatkan massa dengan bagian padat diameter 30cm x
20cm yang berasal dari ovarium sinistra melekat dengan usus. Ovarium dextra
dalam batas normal. Uterus dalam batas normal, dinding belakang melekat dengan
usus. Appendix melekat dengan massa tumor. Diputuskan untuk dilakukan
adheosiolisis, histerektomi totalis + BSD, lifadenektomy KGB parapelvis,
omentectomy, apendectomy, biopsi peritoneum. Cairan kista 10.000cc

Follow Up Pasien
Tanggal 13/04/2017
S : pasien mengeluhkan darah masih keluar dari pembalut agak banyak, merah
segar, nyeri perut (+), pusing (+), BAB (-) 3 minggu, BAK (+), Kentut (-)
O : kesadaran compos mentis
TD : 100/60 mmHg, Nadi : 108x//menit,
Suhu :37C Pernapasan : 22 x/menit
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Leher : tidak ada perbesaran kelenjar getah bening
Cor : S1 S2 reguler tunggal, murmur -, Gallop -
Pumo : vesikuler +/+
Abdomen : nyeri tekan (+), teraba massa yang padat berukuran 15 x 12
cm perut kanan bawah, immobile, batas tegas,
permukaan rata
Genitalia : Vulva dan vagina tidak tampak kelainan, portio tetutp, licin,
nyeri goyang negatif, adneksa parametium dextra teraba massa
solid, immobile berukuran 3 cm, kavum Douglasi tidak
menonjol.
Ekstremitas : akral hangat, edema tungkai (+/+)
Balance = (2.550 (1.150 + 522)
= + 878
LFG = ((140-umur)x BB) / (72 x kreatinin plasma) perempuan : dikalikan
0,85
= ((140-26)x 44) / (72 x 4) perempuan : dikalikan 0,85
= 14,8 (hasil kurang dari 15 masuk CKD stage V)

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 31


A : Ca Ovarium progresif + anemia + CKD Stage V
P : IVFD NaCL 20 tpm
- terapi lanjut
- Tranfusi PRC
- Pro HD ?
- Diet TKTP + Kanker
Tanggal 14/04/2017
S : pasien mengeluhkan darah masih keluar dari pembalut sedikit-sedikit, merah
segar, nyeri perut (+), pusing (+), BAB (-) 3 minggu, BAK (+), Kentut (-)
O : kesadaran compos mentis
TD : 90/60 mmHg, Nadi : 112x//menit,
Suhu :37C Pernapasan : 20 x/menit
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Leher : tidak ada perbesaran kelenjar getah bening
Cor : S1 S2 reguler tunggal, murmur -, Gallop -
Pumo : vesikuler +/+
Abdomen : nyeri tekan (+), teraba massa yang padat berukuran 15 x 12
cm perut kanan bawah, immobile, batas tegas,
permukaan rata
Genitalia : Vulva dan vagina tidak tampak kelainan, portio tetutp, licin,
nyeri goyang negatif, adneksa parametium dextra teraba massa
solid, immobile berukuran 3 cm, kavum Douglasi tidak
menonjol.
Ekstremitas : akral hangat, edema tungkai (+/+)
Balance = (650 (700 + 468)
= -568
A : Ca Ovarium progresif + anemia + CKD Stage V
P : IVFD NaCL 20 tpm
- Pasang 02 Nasal 3 Lpm
- terapi lanjut
- Tranfusi PRC darah tidak ada tunda

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 32


- Pro HD ?

Tanggal 15/1/2017
S : pasien mengeluhkan darah masih keluar dari pembalut tetap, nyeri perut (+)
tetap, pusing (+), BAB 1x warna kehitaman, BAK (+), Kentut (-)
O : kesadaran compos mentis
TD : 90/60 mmHg, Nadi : 126x//menit,
Suhu :372C Pernapasan : 26 x/menit
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Leher : tidak ada perbesaran kelenjar getah bening
Cor : S1 S2 reguler tunggal, murmur -, Gallop -
Pumo : vesikuler +/+
Abdomen : nyeri tekan (+) tetap, teraba massa yang padat berukuran 15 x
12 cm perut kanan bawah, immobile, batas tegas,
permukaan rata
Genitalia : darah masih keluar (+)
Ekstremitas : akral hangat, edema tungkai (+/+)
Balance = (2.120 (250+660)
= + 1210
A : Ca Ovarium progresif + anemia + CKD Stage V
P : IVFD NaCL 20 tpm
- Terapi lanjut
- Antrain ganti Coditam 3x1
- Tranfusi PRC masuk 1 bag
- Cek Hb

Tanggal 16/04/2017
S : pasien mengeluhkan masih masih keluar darah dari jalan lahir, 3 kali ganti
pembalut, nyeri perut (+) tetap, sesak (+) pusing (+), mual (+), Muntah (+) 1x,
hari ini BAB (-), BAK (+), Kentut (-), obat yang diresepkan tidak ada.
O : kesadaran compos mentis
TD : 80/50 mmHg, Nadi : 128x//menit,

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 33


Suhu :368C Pernapasan : 42 x/menit
Mata : konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Leher : tidak ada perbesaran kelenjar getah bening
Cor : S1 S2 reguler tunggal, murmur -, Gallop -
Pumo : vesikuler +/+, rhonki di basal (-/+)
Abdomen : nyeri tekan (+) tetap, teraba massa yang padat berukuran 15 x
12 cm perut kanan bawah, immobile, batas tegas,
permukaan rata
Genitalia : darah masih keluar (+)
Ekstremitas : akral hangat, edema tungkai (+/+)
Balance = (1.405 (250 + 660)
= + 455
A : Ca Ovarium progresif + anemia + CKD Stage V
P : IVFD NaCL 20 tpm
- Terapi lanjut
- Coditam tidak ada Antrain 3x1
- DL tidak dilakukan
- KIE keluarga

Pasien meninggal pukul 16.40

Hasil Pemeriksaan oprasi terbaru tidak dilakukan.


Hasil Pemeriksaan oprasi sebelumnya Patologi Anatomi tanggal 07/02/2017
Keterangan klinik : Suspect tumor Ganas Ovarium
Laporan pemeriksaan :
a. Makroskopik
Diterima 6 tempat sediaan berisi :
Uterus tanpa cervix dengan 2 adeneksa, ukuran uterus 7x5x3cm,
diameter SBR 2cm. Pada irisan tebal dinding uterus 1,5-1,8cm.
Adenexa I tuba panjang 8 cm, ovarium ukuran 3x2x1,5cm.
Adenexa II berupa kista dengan ukuran 30x28x12 melekat pada
tuba 16 cm. Permukaan luar halus. Pada irisan didapatkan kista

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 34


unilokuler dengan permukaan dalam halus sebagian kasar.
Didapatkan bagian-bagian yang memadat, warnah putih abu-abu,
konsistensi padat rapuh.
Biopsi peritoneum : potongan jaringan dengan bentuk yang tidak
teratur dengan ukuran 1x1x0,5cm 2x2x1cm. Didapatkan bagian-
bagian yang memadat.
KGB parapelvis kanan : potongan jaringan dengan bentuk yang
tidak teratur ukuran 0,4x0,3x0,3cm 1,5x1x0,5cm. Warnah putih
abu-abu dengan konsistensi padat kenyal
KGB parapelvis kirin: 2 potong jaringan dengan ukuran
1,2x1x0,5cm 1x1x0,8cm. Warnah putih abu-abu konsistensi
padat kenyal warna puth abu-abu konsistensi padat.
Appendix : 1 potong jaringan dengan panyang 6cm dan diameter
1cm. Terdapat fecalith
Omentum 1 potong jaringan lemak dengan ukuran 27x1cm. Tidak
terdapat nodul.
b. Mikroskopik
Menunjukkan potongan-potongan dengan gambaran :
Endometrium fase proliferasi
Tuba bilateral tidak menunjukan kelainan tertentu
Ovarium 1 menunjukan kista folikel dan corpus albicans diantara
jaringan ikat fibrous.
Potongan potongan dinding kista ovarium II menunjukan kista
epithel selapis silindirs, sitoplasma luas, vacuolated, inti berada
dibasa, membran basalis intak. Tidak didapatkan tandatanda invasi.
Pada bagian padat menunjukan potongan jaringan dengan
pertumbuhan tumor yang sebagian tersusun padat. Sehingga
tersusun reticular, sebagian tersusun papilary dengan fibrovascular
pada sentral dan dikelilingi sel tumor (shiller duval bodies). Tumor
tidak menembus capsul.
Biopsi tumor sesuai denganarea padat ovarium sinistra.

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 35


Didapatkan metastasis pada 2 dari 7 KGB parapelvis dextra yang
ditemukan. Tidak ditemukan pada KGB parapelvis sinistra.
Potongan appendix tidak ditemukan tanda keganasan.
Potongan omentum tidak ditemukan tanda keganasan.
Kesimpulan : uterus tanpa cervix, adeneksa D/S, peritoneum, KGB parapelvis
D/S, appendix, omentum :
Yolk sack tumor co-existensi dengan mucinous borderline tumor
ovari
Metastasis pada perioneum (terbesar 2cm), metastasis KGB
parapelvis dextra.
Uterus appendix dan omentum bebas tumor.
Stadium IIIB

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 36


BAB IV

PEMBAHASAN

Kanker ovarium merupakan terjadinya pertumbuhan sel yang tidak nomal


yang terbentuk di jaringan ovarium. The American Cancer Society
memperkirakan bahwa 22.440 kasus baru kanker ovarium akan didiagnosis pada
2017 dan 14.080 wanita akan meninggal akibat penyakit ini. Meskipun kanker
ovarium adalah kanker yang paling umum ke 17 pada wanita, ini adalah penyebab
paling umum kelima kematian akibat kanker pada wanita, terhitung 5% dari
kematian akibat kanker - lebih banyak daripada kanker ginekologis lainnya. Dari
tahun 2004 sampai 2013, tingkat kematian akibat kanker ovarium menurun
sebesar 2,2% per tahun.(2)

Germ cell tumors ovarium mayoritas terjadi pada anak-anak dan dewasa
muda (0-25+tahun) Insidennya meningkat pada usia 8-9 tahun, dan mencapai puncak
pada usia 18 tahun, dengan rata-rata pada usia 19 tahun. Pada kasus, umur pasien
26 tahun sesuai dengan insidensi dari kasus germ cell tumor.

Menurut WHO untuk tumor ovarium yang terbanyak ditemukan


berdasarkan jaringan asal yang paling mungkin diantaranya surface epithelial
(65%), germ cell (15%), sex cord-stromal (10%), metastases (5%). Pada kasus
ditemukan bahwa terdapat Yolk sack tumor pada sediaan PA dari pasien yang di
mana Yolk sack tumor merupakan jenis dari germ cell tumor.

Kondisi yang menyebabkan turunnya siklus ovulasi menurunkan risiko


kanker seperti pada pemakaian pil Keluarga Berencana menurunkan risiko sampai
50%, bila pil dipergunakan 5 tahun atau lebih; Multiparitas, dan riwayat
pemberian air susu ibu termasuk menurunkan risiko kanker ovarium. Pasien tidak
menggunakan pil KB; pernah melahirkan 2 kali; 2 orang anak pasien mendapat
ASI teratur selama bayi hingga umur 2 tahun

Sebagian besar pasien merasa tidak ada keluhan (95%) dan keluhan-
keluhan yang timbul tidak spesifik seperti perut membesar / ada perasaan tekanan,
dispareunia, kembung; dan ketidaknyamanan. Efek tekanan pada kandung kemih

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 37


dan rektum, konstipasi, pendarahan vagina, gangguan pencernaan dan acid reflux,
sesak napas, kelelahan, cepat kenyang. Sebagian besar kasus didiagnosis dalam
stadium lanjut. Gejala lain yang timbul dengan adanya kanker ovarium meliputi
nyeri panggul dan perut, bertambahnya ukuran perut dan kembung, dan sulit
makan atau merasa kenyang. Gejala yang terkait dengan penyakit stadium akhir
meliputi gejala gastrointestinal seperti mual dan muntah, konstipasi, dan diare.
Germ cell tumors ovarium dapat bertumbuh cepat dan sebagian besar berada
ditemukan pada stadium IA yang masih terbatas pada ovarium. Massa tumor
dapat menyebabkan nyeri akut disebabkan karena torsi, ruptur, atau perdarahan.
Juga penderita dapat mengalami distensi perut, perdarahan pervaginal. Gejala
klinis sering terjadi secara akut serta progresif dan separuh dari penderita
mengeluh gejala 1 minggu atau kurang. Tiga perempat penderita mengeluh nyeri
perut dan hampir semuanya mengeluh adanya pembesaran perut atau adanya
tumor pada daerah pelvis. Pada kasus ditemukan gejala seperti pasien keluar darah
dari jalan lahir, merah segar, nyeri perut (+), pusing (+), BAB (-) 3 minggu. teraba
massa yang padat berukuran 15 x 12 cm perut kanan bawah, immobile, batas
tegas, permukaan rata.

Faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah, faktor genetik. Penyakit


ini 5% - 10% karena faktor heriditer (ditemukan di keluarga sekurang-kurangnya
dua keturunan dengan kanker ovarium).Pasien memiliki riwayat keluarga dengan
kanker ovarium, yaitu neneknya

Pasien dengan penyakit yang lebih lanjut dapat ditemukan massa ovarium, asites,
efusi pleura, atau massa abdomen atau obstruksi usus dan gangguan ginjal.

Dari hasil VT ditemukan massa pada parametrium (D), asites (-), efusi
pleura tidak ditemuka, massa abdomen (+) pada perut kanan bawah, obstruksi
usus (+) pasien tidak BAB selama 3 minggu, gangguan ginjal (+)

Terapi kanker ovarium dapat dilakukan tindakan pembedahan. Tindakan


pembedahan memiliki dua tujuan yakni pengobatan dan penentuan stadium
surgikal. Terapi pembedahan diantaranya adalah histerektomi, salfingo-

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 38


ooforektomi, omentektomi, pemeriksaan ascites/bilasan peritoneum, dan
limfadenektomi. Selanjutnya dilakukan observasi dan pengamatan lanjut dengan
pemeriksaan kadar serum tumor marker.
Stelah pembedahan sehrusnya dilanjutkan dengan kemoterapi, pada kasus
ini, pasien sudah dilakukan tidakan yang tepat. Pada tanggal 25 januari 2017 telah
dilkukan operasi didapatkan massa dengan bagian padat diameter 30cm x 20cm
yang berasal dari ovarium sinistra melekat dengan usus. Ovarium dextra dalam
batas normal. Uterus dalam batas normal, dinding belakang melekat dengan usus.
Appendix melekat dengan massa tumor. Diputuskan untuk dilakukan
adheosiolisis, histerektomi totalis + BSO, lifadenektomy KGB parapelvis,
omentectomy, apendectomy, biopsi peritoneum. Pada kasus ini, tidak dilakukan
operasi yang keduakalinya.

Untuk mendiagnosis cancer ovarium dapat dugunakan

1.Ultrasonografi pelvis
2. Pelvic dan abdominal computed tomography (CT)
3. Pelvic dan abdominal magnetic resonance imaging : bila sonografi tidak
pasti.
4. Foto thorax : Pencitraan rutin untuk menyingkirkan metastasis paru
5. Mamografi.

Pasien hanya mejalani USG : tampak massa solid pada abdomen bawah
dengan kesan tumor uterus dd tumor ovarium, foto thorax dilakukan pre operasi
namun pasien tidak membawanya hasil fotonya.

Pemeriksaan patologi anatomi tanggal 07 februari 2017 sampel yang


digunakan diantaranya uterus tanpa cervix, adeneksa D/S, peritoneum, KGB
parapelvis D/S, appendix, omentum. Hasilnya didapatkan Yolk sack tumor co-
existensi dengan mucinous borderline tumor ovary, Metastasis pada perioneum
(terbesar 2cm), metastasis KGB parapelvis dextra, Uterus appendix dan omentum
bebas tumor dan ditetapkan sebagai stadium IIIB. Stadium IIIB terdapat

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 39


metastasis peritoneum mikroskopik di luar pelvis dengan diameter terbesar 2 cm
atau kurang. Untuk pemeriksaan patologi anatomi yang terbaru tidak dilakukan.
Pada germ cell tumors sebagai patokan, pasien-pasien yang telah
dilakukan surgical staging lengkap dan menunjukkan stadium IA derajat 1,
stadium yang lebih tinggi harus diberikan kemoterapi adjuvan.

Penggunaan kombinasi kemoterapi sesudah pembedahan sangat


memperbaiki prognosis penderita. Studi-studi yang lain menemukan bahwa
ukuran dan histologi tumor adalah faktor-faktor utama untuk menentukan
prognosis penderita malignant germ cell tumors ovarium.

Setelah pembedahan selesai, Pasien disarankan untuk mengikuti


kemoterapi. Namun, pasien tidak mau melanjutkan terapi. Pasien sendiri lebih
memilih pengobatan tradisinal daripada pengobatan modern dikarenakan pasien
merasa oprasi sudah menghilangkan penyakitnya.

Pada kasus ini, ge jala yang dialami pasien kembali seperti awal masuk
rumah sakit. Kemudian diperiksa dengan USG tanggal 12 april 2017 didapatkan
Tampak sebuah massa solid besar pada abdomen bawah dan terdapat nodul-nodul
di hepar. Ginjal kiri dan kanan terdapat pelebaran. Dari hasil pemeriksaan tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa kanker sudah masuk ke stadium IV, Metastasis
jauh di luar rongga peritoneum. Bila terdapat efusi pleura, maka cairan pleura
mengandung sel kanker positif. Termasuk metastasis pada parenkim hati.

Penyebab CKD pada pasien hemodialisis baru dari data tahun 2011
didapatkan sebagai berikut, E1 (Glomerulopati Primer/GNC) 14%, E2 (Nefropati

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 40


Diabetika) 27%, E3 (Nefropati Lupus/SLE) 1%, E4 (Penyakit Ginjal Hipertensi)
34%, E5 (Ginjal Polikistik) 1%, E6 (Nefropati Asam Urat) 2%, E7 (Nefropati
obstruksi) 8%, E8 (Pielonefritis kronik/PNC) 6%, dan E9 (Lain-lain) 6%, E10
(Tidak Diketahui) 1%. Pasien mengalami CKD oleh karena obstruksi yang
disebabkan massa tumor abdomen bawah.

Pembagian stage CKD :

Stage eGFR Derajat Fungsi Keterangan


(ml/menit/1,73m2) Ginjal
1 90 Normal Harus disertai proteinuria,
hematuria mikroskopik atau
struktur ginjal yang abnormal
2 60-89 Gangguan fungsi Harus disertai proteinuria,
ginjal ringan hematuria mikroskopik atau
struktur ginjal yang abnormal
3 30-59 Gangguan fungsi -
ginjal sedang
4 15-29 Gangguan fungsi Membutuhkan perencanaan
ginjal berat yang aktif untuk mencegah
gagal ginjal tahap akhir
5 <15 Gagal ginjal tahap Membutuhkan hemodialisis
akhir (End stage atau transplantasi ginjal
renal failure)
LFG pada pasien adalah 14,8 , sehingga pasien termasuk dalam derajat
fungsi ginjal : Gagal Ginjak Tahap Akhir, dan pasien belum menjalani
hemodialisa selama perawatan. Gagal ginjal kronik dapat ditntukan dari :

LFG = ((140-umur)x BB) / (72 x kreatinin plasma) perempuan : dikalikan 0,85

= ((140-26)x 44) / (72 x 4) perempuan : dikalikan 0,85

= 14,8 (hasil kurang dari 15 masuk CKD stage V)

Komplikasi CKD antara lain hipertensi, anemia, osteodistrofi renal, payah


jantung, asidosis metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium,

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 41


klorida). Pada pasien tidak mengalami hipertensi, anemia (+) Hb , tidak terjadi
gangguan keseimbangan elektrolit.

Keadaan umum pasien harus diperhatikan atau diperbaiki. Kadar ureum


dan creatinin mendekati normal darah diusahakan agar selalu senormal mungkin,
untuk memperbaiki berbagai faktor terkait yang dapat memperberat kondisi
pasien. HD merupakan hal yang harus dilakukan seumur hidup untuk
memperanjang usia pasien.(7) Tetapi pada kasus tidak dilakukan HD dikarenakan
hemodinamik pasien yang kurang baik,TD : 100/60mmHg, Nadi : 108x//menit,
Suhu :37C RR: 22 x/menit ditambah Hb :6,3 g/dL.

Penatalaksaan CKD terapi spesifik terhadap penyakit dasarnya,


pencegahan dan terapi terhadap kondisi komorbid (comorbid condition), terapi
pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantansi ginjal. Tapi pada kasus ini
tidak dilakukan apa-apa untuk penyebab utamanya yaitu obstruksi oleh karena
pasien tidak dilakukan kemoterapi sebelumnya., kondiri komorbidnya adalah
anemia, anemia ditangani dengan tranfusi PRC, pasien tidak menjalani
hemodialisis oleh karena kondisi pasien tidak begitu stabil untuk dilakukan
hemodialisis.

Pada kasus ini terjadi juga gangguan pada ginjal. Dari hasil USG juga
terlihat adanya pelebaran dari kedua ginjal. Pada beberapa kasus kanker ovarium
lanjutan, kanker bisa menekan ureter. Ini menyebabkan terhalangnya aliran urine
untuk keluar dari ginjal. Terkumpulnya urine di ginjal lebih dikenal dengan istilah
hidronefrosis. Kondisi ini bisa menyebabkan ginjal membengkak dan meregang.
Hidronefrosis bisa merusak ginjal sehingga kehilangan seluruh fungsinya. Kondisi
inilah yang disebut sebagai gagal ginjal.
Pada kasus ditemukan adanya bunyi napas rhonki pada basal paru dan
ditemukan pitting edema pada kedua kaki. Hal ini menunjukan kemungkinan
adanya kelebihan volume air didalam tubuh. Pembatasan asupan air pada pasien
penyakit ginjal kronik, sangat perlu dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya edema dan komplikasi kardiovaskular. Air yang masuk kedalam tubuh
dibuat seimbang dengan air yang keluar baik melalui urine maupun insensible

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 42


water loss. Dengan berasumsi bahwa air yang keluar melalui insensible water loss
antara 500-800 ml/hari (sesuai dengan luas permukaan tubu), maka air yang
masuk dianjurka 500-800 ml ditambah jumlah urine.
Pada kasus didapatkan jumlah elektrolit masih dalam rentang normal.
Elektrolit yang harus diawasi asupannya adalah kalium dan natrium. Pembatasan
kalium dilakukan, karena hiperkalemia dapat mengakibatkan aritmia jantung yang
fatal. Oleh karena itu, pemberian obat-obat yang mengandung kalium dan
makanan yang tinggi kalium (seperti buah dan sayuran) harus dibatasi kadar
kalium darah dianjurkan 3,5-5,5 mEq/lt. Pembatasan natrium dimaksudkan untuk
mengendalikan hipertensi dan edema. Jumlah garam natrium yang diberikan,
disesuaikan dengan tingginya tekanan darah derajat edema yang terjadi.(7)

Pasien juga mengalami conjungtiva anemis dan hemoglobin yang rendah,


dapat disimpulkan anemia. Anemia dikarenakan terjadi perdarahan yang aktif
akibat penyakitnya ditambah dengan adanya kerusakan ginjal. Anemia terjadi
pada 80-90% pasien penyakit ginjal kronik. Anemia pada penyakit ginjal kronik
terutama disebabkan oleh defisiensi eritopoitin. Hal hal yang ikut berperan
dalam terjadinya anemia adalah defisiensi besi kehilangan darah masa hidup
eritrosit yang pendek akibat terjadinya hemolisis, defisiensi asam folat, penekanan
sumsum tulang oleh subtansi uremik, proses inflamasi akut maupun kronik.
Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar hemoglobin < 10 g % atau
hematokrit < 30% meliputi evaluasi terhadap status besi (kadar besis serum/serum
iron, kapasitas ikat besi total/ Total Iron Binding Capacity, feritin serum), mencari
sumber pendarahan, morfologi eritrosit, kemungkinan adanya hemolisis dan lain
sebagainya. Pemberian tansfusi pada penyakit ginjal kronik harus dilakukan
secara hati-hati, berdasarkan indikasi yang tepat dan pemantauan yang cermat.
Transfusi darah yang dilakukan secra tidak cermat dapat mengakibatkan kelebihan
cairan tubuh, hiperkalemia dan perburukan fungsi ginjal.(7)

Faktor yang memperbaiki prognosis termasuk derajat diferensiasi rendah,


stadium awal, tumor ganas potensi rendah, debulking optimal, dan usia muda.
Prognosis kanker ovarium tetap buruk secara keseluruhan, dengan tingkat

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 43


kelangsungan hidup 46% 5 tahun. Pada kasus, walaupun usia pasien masih muda
dengan stadium cancer IIIB, dan sudah diangkat massa sebelumnya hal ini masih
belum menghasilkan hasil yang maksimal untuk meningkatkan kelangsungan
hidup pasien.

Perkembangan kanker ovarium yang tidak ditangani lebih lanjut dan di


tambah gangguan ginjal stadium V yang tidak dilakukan HD dan keluarnya darah
terus menerus dari jalan lahir ini yang memperparah kondisi pasien yang akhirnya
membuat pasien meninggal.

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 44


BAB V
PENUTUP

Telah dilaporkan pasien Ny. Elinda ceunfin 26 tahun masuk rumah sakit
yang kedua kalinya tanggal 12 april dengan diagnosa akhir Ca Ovarium progresif
+ anemia + CKD Stage V. Pasien menjalani perawatan selama 4 hari hari di
bangsal dengan kondisi terakhir meninggal pada tanggal 16 Januari 2017.

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 45


DAFTAR PUSTAKA

1. Anwar, Mochammad. 2011. Ilmu Kandungan Edisi ke-3. Jakarta:Bina


Pustaka.Sarwono Prawiroharjo
2. Medscape, 2017. Ovarian Cancer. http://emedicine. medscape.com/article
/255771-overview. Accessed May 14nd, 2017.
3. Ehdaivand, Shahrzad. WHO classification of ovarian neoplasms. Avaible
from : http://www.pathologyoutlines.com/topic/ovarytumorwhoclassif.html
Accessed May 18nd, 2017.
4. Schorge, J.O. et al. Williams Gynecology. Mc Graw Hill, 2008: p716
5. Karst, A.M. and Drapkin, R. Ovarian cancer pathogenesis : a model in
evolution. Journal of Oncology, 2010: Article ID 932371.
6. Kumar, V., Abbas, A., Fausto, N., Aster, J. Robbins and Cotran Pathologic
Basis of Disease. 8th ed, Saunders Elsevier, Philadelphia, 2010.
7. Sudoyo, Aru W. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III Edisi V.
Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
8. Report Of Indonesian Renal Registry 4th avaible from :
http://www.indonesianrenalregistry.org/data/4th%20Annual%20Report%2
0Of%20IRR%202011.pdf

Laporan Kasus Cancer Ovarium dengan CKD Stage V Halaman 46