Anda di halaman 1dari 3

Jenderal Besar Soedirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional

Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, Ketika Presiden
Sukarno, wakil Presiden Moh. Hatta dan beberapa menteri ditangkap Belanda, Panglima Besar
Sudirman justru memimpin perang gerilya. Ia dan rombongan melakukan perjalanan dan
pergerakan dari Yogyakarta menuju Gunungkidul.

Dalam gerakan gerilya dengan satu paru-paru Sudirman kadang harus ditandu oleh pengawal
masuk hutan, naik gunung, turun jurang harus memimpin pasukan, memberikan motivasi dan
komando kepada TNI dan para pejuang untuk terus mempertahankan tegaknya panji-panji NKRI.

Dari Kediri lalu memutar kembali melewati Trenggalek, terus melakukan perjalanan sampai
akhirnya di Sobo. Di tempat ini telah dijadikan markas gerilya sampai saat Presiden dan wakil
Presiden dengan beberapa menteri kembali ke Yogyakarta.

Sungguh heroik perjalanan Jenderal Sudirman. Ia telah menempuh perjalanan kurang lebih 1000
km. Waktu gerilya mencapai enam bulan dengan penuh derita, lapar dan dahaga. Sudirman tidak
lagi memimikirkan harta, jiwa dan raganya semua dikorbankan demi tegaknya kedaulatan bangsa
dan Negara.

Di lain pihak Belanda ternyata tidak mau segera menerima resolusi DK PBB, tanggal 28 Januari
1949. Isi dari resolusi itu ialah sebagai berikut.
1. Belanda harus menghentikan semua operasi militer dan pihak Republik Indonesia diminta untuk
menghentikan aktivitas gerilya. Kedua pihak harus bekerja sama untuk mengadakan perdamaian
kembali.
2. Pembebasan dengan segera dan tidak bersyarat semua tahanan politik dalam daerah RI oleh
Belanda sejak 19 Desember 1948.
3. Belanda harus memberikan kesempatan kepada pemimpin RI untuk kembali ke Yogyakarta
dengan segera. Kekuasaan RI di daerah-daerah RI menurut batas-batas Persetujuan Renville
dikembalikan kepada RI.
4. Perundingan-perundingan akan dilakukan dalam waktu yang secepat-cepatnya dengan dasar
Persetujuan Linggarjati, Persetujuan Renville, dan berdasarkan pembentukan suatu Pemerintah
Interim Federal paling lambat tanggal 15 Maret 1949. Pemilihan Dewan Pembuat Undang-
Undang Dasar Negara Indonesia Serikat selambat-lambatnya pada tanggal 1 Juli 1949.
5. Komisi Jasa-jasa Baik (KTN) berganti nama menjadi Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk
Indonesia (United Nation for Indonesia atau UNCI).

Belanda masih mengakui bahwa RI sebenarnya tinggal nama. RI sudah tidak ada, yang ada
hanyalah para pengacau. Sementara itu, Sri Sultan Hamengkubuwana IX lewat radio menangkap
berita luar negeri tentang rencana DK PBB yang akan mengadakan sidang lagi pada bulan Maret
1949, untuk membahas perkembangan di Indonesia.

A. Serangan Umum 1 Maret 1949


Sri Sultan berkirim surat kepada Jenderal Sudirman tentang perlunya tindakan penyerangan
terhadap Belanda. Sudirman minta agar Sri Sultan membahasnya dengan komandan TNI
setempat.

Sejak September 1948 dr. Wiliater Hutagalung diangkat menjadi Perwira Teritorial dan
membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III bertemu dengan Panglima Besar
Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB dan penolakan Belanda
terhadap resolusi. Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-
langkah yang harus diambil.

Segera penyerangan terhadap Belanda di Yogyakarta dijadwalkan tanggal 1 Maret 1949 dini hari.
Tiga alasan penting untuk memilih Yogyakarta sebagai sasaran utama adalah:
1. Yogyakarta adalah Ibukota RI, sehingga bila dapat direbut walau hanya untuk beberapa jam,
akan berpengaruh besar terhadap perjuangan Indonesia melawan Belanda.
2. Keberadaan banyak wartawan asing di Hotel Merdeka Yogyakarta, serta masih adanya anggota
delegasi UNCI [KTN] serta pengamat militer dari PBB.
3. Yogyakarta berada di bawah wilayah Divisi III/GM III sehingga tak perlu persetujuan
Panglima/GM lain & semua pasukan memahami & menguasai situasi/daerah operasi.

B. Tujuan Serangan Umum 1 Maret


Tujuan utama dari serangan ini adalah untuk menunjukkan eksistensi TNI & dengan demikian
juga menunjukkan eksistensi Republik Indonesia kepada dunia internasional. Untuk
menunjukkan eksistensi TNI, maka anggota UNCI, wartawan-wartawan asing serta para
pengamat militer harus melihat perwira-perwira yg berseragam TNI.

Tanggal 1 Maret 1949 dini hari sekitar pukul 06.00 sewaktu sirine berbunyi sebagai tanda
berakhirnya jam malam, serangan umum dilancarkan dari segala penjuru. Letkol Soeharto
langsung memegang komando menyerang ke pusat kota. Serangan umum ini ternyata sukses.
Selama enam jam (dari jam 06.00 - jam 12 siang) Yogyakarta dapat diduduki oleh TNI. Baru
setelah Belanda mendatangkan bala bantuan dari Gombong dan Magelang, dapat memukul
mundur para pejuang kita.

C. Arti Penting Serangan Umum 1 Maret 1949


Keberhasilan serangan umum ini, kemudian disebarluaskan melalui RRI gerilya yang ada di
Gunung Kidul. Berita ini dapat ditangkap oleh RRI di Sumatra, kemudian diteruskan ke luar
negeri. Serangan Umum 1 Maret tahun 1949 memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia, yaitu
sebagai berikut :
1. Meningkatkan rasa percaya diri dan semangat juang rakyat Indonesia serta Tentara Nasional
Indonesia yang sedang bergerilya.
2. Meningkatkan kepercayaan masyarakat Indonesia kepada Tentara Nasional Indonesia.
3. Mendukung perjuangan diplomasi.
4. Mematahkan moral Belanda.
5. Menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI masih mampu melakukan perlawanan,
dan serangan Umum 1 Maret merupakan buktinya.

Walaupun hanya sekitar enam jam pasukan Indonesia berhasil menduduki kota Yogyakarta,
namun serangan ini sangat berarti bagi bangsa Indonesia. Selain mengobarkan semangat rakyat
kembali juga menunjukkan kepada dunia bahwa negara Indonesia masih mempunyai kekuatan.
Pada waktu itu di Yogyakarta ada beberapa wartawan asing yang peranannya sangat besar dalam
menginformasikan keadaan Indonesia kepada dunia.

Kerugian Di Kedua Belah Pihak Serangan Umum 1 Maret


Pihak Belanda 6 orang tewas dan 14 orang luka-luka, sementara di pihak Indonesia tercatat 300
prajurit gugur, 53 polisi gugur, dan jumlah rakyat yang ikut gugur tidak bisa dihitung secara pasti.
Sementara itu, menurut media Belanda, korban dari pihak mereka selama bulan maret adalah 200
orang tewas dan luka-luka.
Belanda semakin terjepit dalam Persetujuan Roem-Royen
Serangan Umum 1Maret 1949 yang dilancarkan oleh para pejuang Indonesia, telah membuka mata
dunia bahwa propaganda Belanda itu tidak benar. RI dan TNI masih tetap ada. Namun Belanda tetap
membandel dan tidak mau melaksanakan resolusi DK PBB 28 Januari. Perundingan pun menjadi
macet.

Melihat kenyataan itu, Amerika Serikat bersikap tegas dan terus mendesak agar Belanda mau
melaksanakan resolusi tanggal 28 Januari. Amerika Serikat berhasil mendesak Belanda, untuk
mengadakan perundingan dengan Indonesia.

Ketika terlihat titik terang bahwa RI dan Belanda bersedia maju ke meja perundingan, maka atas inisiatif
Komisi PBB untuk Indonesia pada tanggal 14 April 1949 diselenggarakan perundingan di Jakarta di
bawah pimpinan Merle Cochran, anggota Komisi dari AS.

Merle Cochran, wakil dari AS di UNCI mendesak agar Indonesia mau melanjutkan perundingan. Waktu
itu Amerika Serikat menekan Indonesia, kalau Indonesia menolak, Amerika tidak akan memberikan
bantuan dalam bentuk apa pun. Perundingan segera dilanjutkan pada tanggal 1 Mei 1949. Kemudian
pada tanggal 7 Mei 1949 tercapai Persetujuan Roem-Royen. Isi Persetujuan Roem-Royen antara lain
sebagai berikut.

1. Pihak Indonesia bersedia mengeluarkan perintah kepada pengikut RI yang bersenjata


untuk menghentikan perang gerilya. RI juga akan Ikut serta dalam Konferensi Meja Bundar
(KMB) di Den Haag, guna mempercepat penyerahan kedaulatan kepada Negara Indonesia
Serikat (NIS), tanpa syarat.
2. Pihak Belanda menyetujui kembalinya RI ke Yogyakarta dan menjamin penghentian
gerakan-gerakan militer dan membebaskan semua tahanan politik. Belanda juga berjanji tidak
akan mendirikan dan mengakui negara-negara yang ada di wilayah kekuasaan RI sebelum
Desember 1948, serta menyetujui RI sebagai bagian dari NIS.
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Sumatera memerintahkan Sri Sultan Hamengkubowono
IX untuk mengambil alih pemerintahan Yogyakarta dari pihak Belanda. Pihak tentara dengan penuh
kecurigaan menyambut hasil persetujuan itu, namun Panglima Jenderal Sudirman memperingatkan
seluruh komando kesatuan agar tidak memikirkan masalah-masalah perundingan.
Setelah pemerintah RI kembali ke Yogyakarta, pada tanggal 13 Juli 1949 diselenggarakan sidang
Kabinet RI yang pertama. Pada kesempatan itu, Syafruddin Prawiranegara mengembalikan mandatnya
kepada wakil presiden Moh. Hatta. Dalam sidang kabinet juga diputuskan untuk mengangkat Sri Sultan
Hamengkobuwono IX menjadi Menteri Pertahanan merangkap Ketua Koordinator Keamanan.