Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS KELOMPOK

DI DESA BATUDINDINGKEC. GAPURA


KABUPATEN SUMENEP

Disusun untuk memenuhi tugas Praktik Kerja Lapangan Kebidanan Komunitas Pada
Akademi Kebidanan Universitas Wiraraja

Disusun oleh:

Mahasiswa Kebidanan

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WIRARAJA
SUMENEP
2012
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS KELOMPOK


DI DESA BATUDINDING KEC. GAPURA
KABUPATEN SUMENEP

Laporan Kelompok
Telah Memenuhi Syarat dan Disetujui
Tanggal .... .... .... ....

Menyetujui dan Mengesahkan


Pembimbing I Pembimbing II

( IVA GAMAR DIAN P., S.ST)(JOHARTATIK, AMD. KEB)


Mengetahui,
Ka. Puskesmas UPT Gapura Kepala Desa

(dr. H. R. AMAR MARUF WAJI, M.Si)( ABU YAMIN, BA)

Mengetahui
Ka. Prodi DIII Kebidanan

(Endang Susilowati, S.ST., MM)


PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS WIRARAJA
SUMENEP
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala
limpahan rahmat, karunia dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini.Laporan
ini penulis susun sebagai pertanggung jawaban selama melaksanakan PKL Kebidanan
Komunitas.Dalam pelaksanaan PKL Kebidanan Komunitas banyak pihak yang telah
membantu kelancaran dalam menyelesaikan tugas ini.
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih atas segala dukungan
dan bimbingannya kepada yang terhormat:
1. dr. H. R.Amar Maruf Waji. M.Si selaku Kepala Puskesmas Gapura.
2. BapakAbu Yamin, BA selaku kepala Desa Batudindingatas pemberian ijinnya kepada
kami untuk melaksanakan PKL di Desa Batudinding.
3. Ibu Sulistianingsih,S.ST selaku Bidan koordinator di Puskesmas Gapura
4. Ibu Johartatik,Amd.Keb selaku bidan pembimbing polindes Batudindingselaku Bidan
Desa/Pembina wilayah dan pembimbing lapangan PKL Desa Batudinding.
5. Masyarakat Desa Batudinding.
6. Keluarga yang sudah bersedia meluangkan waktu dan membantu melaksanakan PKL.
7. dr.Susiselaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Wiraraja Sumenep.
8. Ibu Endang Susilowati,S.ST., MM selaku Ka. Prodi DIII Kebidanan.
9. Ibu Iva amar D.P, S.STselaku pembimbing individu PKL Kebidanan Komunitas.
10. Kepadakedua Orang Tua yang telah memberi doa dan dukungan.
11. Teman-teman yang telah memberi dukungan dan membantu dalam melaksanakan PKL
Kebidanan Komunitas
12. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Penulis mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya
Mahasiswa Akademi Kebidanan Universitas Wiraraja. dan para pembaca.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari kesempurnaan dan
masih banyak kekurangan, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.

Sumenep, Juli 2012

Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR GRAFIK
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakan Masalah


Masalah keluarga berencana bukan merupakan masalah baru, tapi dapat disoroti oleh
pengetahuan-pengetahuan baru dan data baru fisiologi alat reproduksi dari segala segi,
sehingga manusia dapat mempengaruhi jalannya reproduksi dengan teknik yang akseptabel
(Teknik KB : 14).
Lebih dari 3 dasawarsa program KB nasional dilaksanakan di Indonesia.Selama kurun
waktu tersebut telah banyak hasil yang dicapai. Salah satu bukti keberhasilan program
tersebut antara lain semakin tingginya angka pemakaian alat kontrasepsi (prevalensi). SDKI
tahun 1997 memperlihatkan proporsi peserta KB untuk semua cara tercatat sebesar 57,4 %.
Bila dirinci lebih lanjut proporsi peserta KB yang terbanyak adalah suntik (21,1 %), pil (15,4
%), IUD (8,1 %), susuk (16 %), mow (3 %), kondom (0,7 %), MDP (0,4 %) dan sisanya
merupakan peserta KB tradisional yang masing-masing menggunakan cara tradisional
pantang berkala maupun senggama terputus.
Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, dimana upaya
tersebut bisa bersifat sementara ataupun permanent. Dengan menggunakan alat kontrasepsi
diharapkan PUS bisa merencanakan kapan ibu akan mengalami kehamilan lagi dan ber
jumlah anak yang diinginkan. Dengan pembatasan kehamilan dan kelahiran tersebut
diharapkan dapat meningkatkan SDM yang berkualitas.( Dyah, 2009)
Sudah menjadi pandapat umum bahwa kondisi gizi yang optimal dari anak anak
sekarang, terutama pada bayi adalah sesuatu hal yang mutlak demi kesehatan dan
pertumbuhan yang baik pada masa mendatang. Disamping itu diakui pula bahwa untuk bayi,
air susu ibu (ASI) adalah satu satunya sumber zat makanan alamiah yang perlu dilindungi
serta si promosikan di seluruh negara (Resolusi WHA 34, 22)
Pengalaman telah menunjukkan bahwa terbentuknya cara pemberian makanan bagi yang
tepat serta lestarinya pemakaian ASI sangat tergantung kepada informasi yang diterima oleh
ibu ibu (WHO, 1979; Baer 1981).
Khusus mengenai kekurangan kalori dan protein pada bayi di pedesaan, disamping
penakaran susu yang kurang tepat juga sering disebabkan karena penyapihan yang terlalu dini.
Pada masyarakat yang buta gizi dimana air susu ibu diganti dengan air tajin/pisang.
Kekurangan kalori dan protein pada bayi ini sangat berbahaya karena jumlah sel otak dan juga
luas permukaan otak yang sebenarnya masih dalam taraf terganggu/terhenti sehingga
menyebabkan penurunan kapsitas mental, intelektual dan juga fisik dimasa mendatang.
Menurut Depkes RI (2002) dalam Program Perbaikan Gizi Makro menyatakan bahwa
Kurang Energi Kronis merupakan keadaan dimana ibu penderita kekurangan makanan yang
berlangsung menahun (kronis) yang mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu.
KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan pada ibu hamil (bumil). Pada ibu hamil
lingkar lengan atas digunakan untuk memprediksi kemungkinan bayi yang dilahirkan
memiliki berat badan lahir rendah. Ibu hamil diketahui menderita KEK dilihat dari
pengukuran LILA, adapun ambang batas LILA WUS (ibu hamil) dengan resiko KEK di
Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau di bagian merah
pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK dan diperkirakan akan melahirkan
berat bayi lebih rendah (BBLR).
BBLR mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan gangguan
perkembangan anak. Lingkar lengan atas merupakan indicator status gizi yang digunakan
terutama untuk mendeteksi kurang energi protein pada anak-anak dan merupakan alat yang
baik untuk mendeteksi wanita usia subur dan ibu hamil dengan resiko melahirkan bayi dengan
berat badan lahir rendah.
Hal ini sesuai dengan Depkes RI (1994) yang dikutip oleh Supariasa, bahwa
pengukuran LILA pada kelompok wanita usia subur (WUS) adalah salah satu cara deteksi
dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam, untuk mengetahui kelompok
beresiko kekurangan energi kronis (KEK). Pengukuran LILA tidak dapat digunakan untuk
memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek.Pengukuran LILA digunakan karena
pengukurannya sangat mudah dan cepat. Hasil Pengukuran LILA ada dua kemungkinan yaitu
kurang dari 23,5 cm dan diatas atau sama dengan 23,5 cm. Apabila hasil pengukuran <> 23,5
cm berarti tidak berisiko KEK.
Tingginya angka kematian ibu dan bayi menunjukan masih rendahnya kualitas pelayanaan
kesehatan.Delapan puluh persen persalinan di masyarakat masih di tolong oleh tenaga non-
kesehatan, seperti dukun.Dukun di masyarakat masih memegang peranan penting, dukun di
anggap sebagai tokoh masyarakat.Masyarakat masih memercayakan pertolongan persalinan
oleh dukun, karena pertolongan persalinan oleh dukun di anggap murah dan dukun tetap
memberikan pendampingan pada ibu setelah melahirkan, seperti merawat dan memandikan
bayi.
Untuk mengatasi permasalahan persalinan oleh dukun, pemeritah membuat suatu
terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan bidan.Salah satu bentuk kemitraan tersebut
adalah dengan melakukan pembinaan dukun yan merupakan salah satu tugas dan tanggung
jawab bidan. Maka dari itu tugas dan tanggung jawab bidan terhadap dukun bayi sangat
memberikan kontribusi yang cukup penting. Tenaga yang sejak dahulu kala sampai sekarang
memegang peranan penting dalam pelayanan kebidanan ialah dukun bayi atau nama lainnya
dukun beranak, dukun bersalin, dukun peraji.
Dalam lingkungan dukun bayi merupakan tenaga terpercaya dalam segala soal yang terkait
dengan reproduksi wanita.Dukun bayi biasanya seorang wanita sudah berumur 40 tahun ke
atas. Pekerjaan ini turun temurun dalam keluarga atau karena ia merasa mendapat panggilan
tugas ini. Pengetahuan tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan, persalinan, serta
nifas sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak mampu untuk
mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong hanya
berdasarkan pengalaman dan kurang professional.
Berbagai kasus sering menimpa seorang ibu atau bayinya seperti kecacatan bayi sampai
pada kematian ibu dan anak. Dalam usaha meningkatkan pelayanan kebidanan dan kesehatan
anak maka tenaga kesehatan seperti bidan mengajak dukun untuk melakukan pelatihan
dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan dalam menolong persalinan, selain itu dapat
juga mengenal tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan dan segera minta
pertolongan pada bidan.
Maka dari itu, Praktek Kerja Lapangan merupakan merupakan bentuk pembelajaran
klinik dengan menerapkan materi yang telah didapat di bangku kuliah terutama mata kuliah
kebidanan komunitas pada keluarga, dimana mahasiswa mendapat pengalaman nyata tentang
peran dan fungsi bidan di masyarakat dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
bekerja individu, keluarga dan kelompok di tatanan pelayanan kebidanan serta dapat
mengembangkan Asuhan Kebidanan Komunitas pada keluarga dengan menggunakan
pendekatan manajemen kebidanan dan pengorganisasian masyarakat.
Dari hasil survei lapangan Di Desa Batudinding dengan sasaran sebanyak 69 KK.
Banyaknya WUS yang hamil sebanyak 7orang (100%). Dari data berikut dapat ditemukan
bahwa yang menderita gizi kurang pada ibu hamil yaitu 3 orang (42,7%), yang cukup 1 orang
(14,2%) dan yang baik 3 orang (42,8%). Salah satu diantaranya di Dusun Laok Lorong pada
keluarga Tn. M bahwa istrinya Ny. I masih mengalami gizi kurang pada ibu hamil
dikarenakan faktor pendidikan yang kurang sehingga kurangnya pengetahuan pada ibu hamil.
Dari hasil survei lapangan Di Desa Batudinding dengan sasaran sebanyak 69
KK.Banyaknya PUS yang ber KB sebanyak 41orang (59,4%)dan yang tidak ikut KB
sebanyak 28 orang (40,5%). Dari data berikut dapat ditemukan bahwa yang ikut KB < 40 hari
sebanyak 0 orang (0%) dan yang ikut KB > 40 hari sebanyak 41 orang (100%) dan 28
diantaranya belum ingin ber KB. Salah satu diantaranya di Dusun Daja Lorong pada keluarga
Tn. S bahwa istrinya Ny. R masih bingung dan belum mengetahui ingin memakai jenis kb apa
dan kapan Ny. R memulai kb setelah melahirkan anaknya yang berumur 25 hari. Hal ini
dikarenakan tingkat pendidikan Ny. R SD yang menjadi faktor kurangnya pengetahuan
tentang KB kurang.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran nyata dalam memberikan asuhan kebidanan
setelah melakukan asuhan pada keluarga diharapkan penulis dapat mengerti dan
memahami proses asuhan kebidanan keluarga.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah diadakan konseling diharapkan agar:
1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data dasar pada keluarga
2. Mahasiswa mampu melakukananalisis data pada keluarga
3. Mahasiswa mampu menentukan perumusan masalah pada keluarga
4. Mahasiswa mampu menentukan prioritas masalah pada keluarga
5. Mahasiswa mampu menentukan rencana tindakan terhadap masalah pada
keluarga
6. Mahasiswa mampu melaksanakan rencana tindakan asuhan kebidanan pada
keluarga
7. Mahasiswa mampu melaksanakan Evaluasi pada keluarga

1.3 Metode
1. Survei
2. Penyuluhan
3. Tanya jawab
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Batasan Masyarakat


1. Pengertian Masyrakat
Masyarakat adalah sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan
yang berhubungan dengan tetap dan mempunyai kepentingan yang sama. Seperti :
sekolah, keluarga, perkumpulan, negara semua adalah masyarakat.
Dalam ilmu sosiologi kita mengenal ada 2 macam masyarakat yaitu :
1. Masyarakat paguyuban
Masyarakat paguyuban terdapat hubungan pribadi antara anggota anggota yang
menimbulkan suatu ikatan batin antara mereka.
2. Masyrakat patembayan
Masyarakat petembayan terdapat hubungan pamrih antara anggota anggotanya.
Unsur Unsur suatu masyrakat :
- Harus ada perkumpulan manusia dan harus banyak
- Bertempat tinggal dalam waktu lama disuatu daerah tertentu.
- Adanya aturan dan Undang Undang yang mengatur masyarakat untuk menuju
kepada kepentingan dan tujuan bersama.
Bila dipandang cara terbentuknya masyarakat:
1. Masyarakat paksaan misalnya negara, masyarakat tawanan.
2. Masyarakat merdeka
- Masyarakat natur yaitu masyrakat yang terjadi dengan sendirinya seperti
gerombolan, suku, yang bertalian dengan hubungan darah atau keturunan.
- Masyarakat kultur yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan dunia dan
kepercayaan.
Masyarakat dipandang dari sudut antropologi terdapat 2 tipe masyarakat:
1. Masyarakat kecil yang belum begitu kompleks, belum mengenal pembagian kerja,
belum mengenal tulisan dan tekhnologinya sederhana.
2. Masyarakat sudah kompleks, yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam
segala bidang, karena pengetahuan modern sudah maju, tekhnologipun
berkembang dan sudah mengenal tulisan.
2.2 Struktur Masyarakat
Menurut Douglas (1973), mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiologi
mempelajari struktur perilaku sosial.
Menurut Kornblum (1988) menyatakan struktur merupakan pola perilaku yang
berulang, yang menciptakan hubungan antar invidu dan antar kelompok dalam masyarakat.
Mengacu pada pengertian sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku
yang berulang maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku
individu atau kelompok. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan
lingkungannya yang di dalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi
Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep
yaitu status dan peran. Status merupakan perkumpulan suatu hak dan kewajiban, sedangkan
peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Linton (1967), seseorang
menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya.
Tipologi lain yang dikenal oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh
dan status yang diraih.
Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang
kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Sedangkan status yang
diraih adalah status yang memerlukan kualitas tertentu. Status seperti ini tidak diberikan pada
individu sejak ia lahir, melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi.
Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh 2 cirinya yang bersifat unik.
1. Horizontal
Ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku
bangsa, perbedaan agama, adat serta perbedaan perbedaan kedaerahan.
2. Vertikal
Struktur masyarakat Indonesia ditandai adanya perbedaan perbedaan vertikal antara
lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup dalam.
Perbedaanperbedaan suku bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat dan kedaerahan
sering kali disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk. Istilah
masyarakat majemuk diperkenalkan oleh J. S. Furnivall untuk menggambarkan masyarakat
Indonesia pada zaman Hindia Belanda. Masyarakat majemuk yaitu suatu masyarakat yang
terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendirisendiri tanpa ada pembauran satu sama
lain dalam kesatuan politik.
3. Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, dimana upaya
tersebut bisa bersifat sementara ataupun permanent. Dengan menggunakan alat
kontrasepsi diharapkan PUS bisa merencanakan kapan ibu akan mengalami kehamilan
lagi dan berjumlah anak yang diinginkan. Dengan pembatasan kehamilan dan kelahiran
tersebut diharapkan dapat meningkatkan SDM yang berkualitas. ( Dyah, 2009)
4. Banyaknya perempuan yang belum mengetahui ingin memakai jenis kb apa dan kapan
waktu yang tepat untuk mulai menggunakan alat kontrasepsi setelah dia melahirkan
sehingga terjadi kehamilan yang tidak diharapkan karena ketidaktahuan ibu tentang alat
kontrasepsi. Keberhasilnya program KB diantaranya dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan ibu dan faktor pendukung lainnya. Untuk mempunyai sikap yang positif
tentang KB diperlukan pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan
yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan kurang maka kepatuhan menjalani
program KB berkurang.

2.3 Konsep Dasar Masalah


2.3.1 Konsep Dasar KB (Keluarga Berencana)
Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, dimana
upaya tersebut bisa bersifat sementara ataupun permanent. Dengan menggunakan alat
kontrasepsi diharapkan PUS bisa merencanakan kapan ibu akan mengalami kehamilan
lagi dan ber jumlah anak yang diinginkan. Dengan pembatasan kehamilan dan kelahiran
tersebut diharapkan dapat meningkatkan SDM yang berkualitas. ( Dyah, 2009)
Banyaknya perempuan yang belum mengetahui ingin memakai jenis kb apa dan
kapan waktu yang tepat untuk mulai menggunakan alat kontrasepsi setelah dia
melahirkan sehingga terjadi kehamilan yang tidak diharapkan karena ketidaktahuan ibu
tentang alat kontrasepsi. Keberhasilnya program KB diantaranya dipengaruhi oleh
tingkat pengetahuan ibu dan faktor pendukung lainnya. Untuk mempunyai sikap yang
positif tentang KB diperlukan pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila
pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan kurang maka kepatuhan
menjalani program KB berkurang.
Menurut WHO Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu
atau pasangan suami istri untuk :
1) Menghindari kelahiran-kelahiran yang tidak diinginkan.
2) Mengatur Interval diantara kehamilan
3) Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri.
4) Menentukan jumlah anak dalam keluarga.
(Hanafi, 2004)
a. Manfaat
1) Untuk merencanakan kehamilan dan kelahiran
2) Untuk mencegah penyakit kelamin
3) Menurunkan kematian karena kehamilan penuh resiko atau aborsi yang tidak
aman.
4) Menurunkan angka kematian anak balita jarak kelahiran membuat mereka
lebih sehat dari terawat.
5) KB membantu bapak untuk lebih punya peluang membangun keluarga
sejahtera.(Hanafi, 2004)
b. Jenis-jenis Alat Kontrasepsi
1) Kondom
a) Pengertian
Adalah selaput karet/latex yang dipasang pada penis selama berhubungan
seksual sehingga mencegah sperma bertemu dengan sel telur.
b) Cara Kerja
Mencegah masuknya sel mani ke dalam vagina karena seluruh sperma
tertampung di kondom.
c) Efek Samping
Kondom rusak, alergi terhadap karet, iritasi vagina karena alergi bahan
kondom, mengurangi kenikmatan bersenggama.
2) Pil
a) Pengertian
Adalah tablet yang mengandung hormon estrogen dan progesteron
sintetik.
b) Cara Kerja
Mengentalkan cairan lendir di mulut rahim, menekan pemasakan sel
telur, menjadikan endometrium tidak siap implantasi
c) Efek samping
Mual muntah, pertambahan Berat Badan, perdarahan tidak teratur, sakit
kepala, timbul jerawat, depresi, perubahan nafsu sex

3) Suntik KB
a) Pengertian
Adalah hormon yang diberikan secara suntikan atau injeksi untuk
mencegah terjadinya kehamilan. (BKKBN, 2003)
b) Cara Kerja
Mencegah pelapasan telur, memperkental lendir leher rahim, menipiskan
dinding rahim.
c) Efek samping
Gangguan siklus haid, perdarahan ringan, kenaikan berat badan.
4) Implan/ Susuk
a) Pengertian
Adalah salah satu jenis alat kontrasepsi yang berupa susuk, yang terbuat
dari sejenis karet silastik yang berisi hormon, dipasang pada lengan atas
melalui tindakan operasi kecil.
b) Cara kerja
Mencegah pelepasan telur, memperkental lendir rahim
c) Efek samping
Perubahan pola haid , sakit kepala, mual muntah, jerawat., berat badan
meningkat, perdarahan, bercak.
5) IUD/Spiral
a) Pengertian
Adalah alat kontrasepsi yang berupa rangka plastik kecil yang dipasang
ke dalam rahim melalui vagina
b) Cara kerja
Mencegah pertemuan sperma dengan telur, mencegah telur yang dibuahi
menempel di dinding rahim
c) Efek samping
perubahan haid, bisa keluar tanpa diketahui , terasa sakit atau nyeri
6) MOW/ steril/ operasi
a) Pengertian
Adalah suatu operasi kecil dilakukan dengan cara memotong atau
mengikat saluran indung telur sehingga sperma dan sel telur tidak bisa
bertemu. (BKKBN, 2003).
b) Biasanya yang dipakai yaitu :
Pemotongan jalan antara indung telur dengan rahim, pengikatan jalan
antara indung telur dengan rahim sehingga sel telur yang sudah masak tidak
dapat bertemu dengan sperma.
c) Waktu Penggunaan
Waktu yang tepat dianjurkan untuk memenuhi menggunakan alat
kontrasepsi pada waktu ibu menyusui atau tidak menyusui.
1) Waktu yang tepat/dianjurkan untuk memulai menggunakanalat
kontrasepsi pada ibu menyusui/tidak menyusui :
a) Persalinan 6 minggu
Amenore laktasi, AKDR tembaga, kondom dan spermisida
b) 6 minggu 6 bulan
Amenore laktasi, AKDR tembaga, tubektomi, kontrasepsi progestin
(mini pil, susuk), pantang berkala
c) 6 bulan ke atas
Kontrasepsi progestin (mini pil, susuk), Pantang berkala, Pil kombinasi
2) Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu
hamil kembali. Setiap pasangan harus menentukan sendiri kapan dan
bagaimana mereka ingin merencanakan keluarganya.
3) Biasanya wanita tidak akan menghasilkan sel telur sebelum ibu mendapatkan
haidnya lagi selama menyusui, maka ibu bisa tidak memakai alat kontrasepsi
selama ibu belum haid lagi.(Hanafi, 2004)

2.3.2 Konsep Dasar Gizi Ibu Hamil


Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.Penilaian
secara tidak langsung ada dua yaitu survey konsumsi makanan dan statistic
vital.Penilaian status gizi secara langsung ada empat yaitu antropometri, klinis, biokimia
dan biofisik. Untuk mengetahui status gizi ibu hamil digunakan pengukuran secara
langsung dengan menggunakan penilaian antropometri yaitu :
Lingkar Lengan Atas Pengukuran lingkar lengan atas adalah suatu cara untuk
mengetahui risiko KEK wanita usia subur (Supariasa, 2002 : 48). Wanita usia subur
adalah wanita dengan usia 15 sampai dengan 45 tahun yang meliputi remaja, ibu hamil,
ibu menyusui dan pasangan usia subur (PUS). Ambang batas lingkar Lengan Atas
(LILA) pada WUS dengan risiko KEK adalah 23,5 cm, yang diukur dengan
menggunakan pita ukur. Apabila LILA kurang dari 23,5 cm artinya wanita tersebut
mempunyai risiko KEK dan sebaliknya apabila LILA lebih dari 23,5 cm berarti wanita
itu tidak berisiko dan dianjurkan untuk tetap mempertahankan keadaan tersebut.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keadaan KEK Pada Ibu Hamil
Makanan pada ibu hamil sangat penting, karena makanan merupakan sumber gizi
yang dibutuhkan ibu hamil untuk perkembangan janin dan tubuhnya sendiri.Namun
makanan yang dimakan oleh seorang ibu bukan satu-satinya factor yang mempengaruhi
status gizi ibu hamil.Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status gizi ibu
hamil diantaranya adalah faktor sosial ekonomi, faktor Biologis, faktor pola Konsumsi
dan Faktor perilaku ibu. (Notoatmodjo, 2008)
- Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi ini terdiri dari:
a.Pendapatan Keluarga
b.Pendidikan Ibu
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan, proses, pembuatan cara mendidik. Kemahiran menyerap pengetahuan akan
meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan seseorang dan kemampuan ini
berhubungan erat dengan sikap seseorang terhadap pengetahuan yang diserapnya.
Pendidikan ibu adalah pendidikan formal ibu yang terakhir yang ditamatkan dan
mempunyai ijazah dengan klasifikasi tamat SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi
dengan diukur dengan cara dikelompokkan dan dipresentasikan dalam masing-masing
klasifikasi (Depdikbud, 1997).
c.Status Perkawinan
Status Perkawinan ibu dibedakan menjadi: Kawin adalah status dari mereka yang
terikat dalam perkawinan pada saat pencacahan, baik tinggal bersama maupun terpisah.
Dalam hal ini tidak saja mereka yang kawin sah, secara hukum (adat, agama, negara dan
sebagainya) tetapi juga mereka yang hidup bersama dan oleh masyarakat sekelilingnya
dianggap sebagai suami istri.Cerai hidup adalah status dari mereka yang hidup berpisah
sebagai suami istri karena bercerai dan belum kawin lagi.Cerai mati adalah status dari
mereka yang suami/istrinya telah meninggal dunia dan belum kawin lagi.
- Faktor Biologis
Faktor biologis ini diantaranya terdiri dari :
a. Usia Ibu Hamil
Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas
janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. (Baliwati, 2004
:Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi
makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan
adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan (Soetjiningsih, 1995 : 96).
Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun,
sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik.
b. Jarak Kehamilan
Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran
anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan
kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun.
(Aguswilopo, 2004 : 5). Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas
janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh
kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup
untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali
maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung.
(Baliwati, 2004 : 3).
c. Paritas
Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup
(viable).(Mochtar, 1998). Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin
yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada
waktu lahir.
b) Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua atau lebih kehamilan
yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.
c) Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih
kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.
- Faktor Pola Konsumsi
Upaya mencapai status gizi masyarakat yang baik atau optimal dimulai dengan
penyediaan pangan yang cukup. Penyediaan pangan yang cukup diperoleh melalui
produksi pangan dalam negeri yaitu upaya pertanian dalam menghasilkan bahan
makanan pokok, lauk-pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan (Almatsier, 2003: 13),
Pola konsumsi ini juga dapat mempengaruhi status kesehatan ibu, dimana pola
konsumsi yang kurang baik dapat menimbulkan suatu gangguan kesehatanatau penyakit
pada ibu. Penyakit infeksi dapat bertindak sebagai pemula terjadinya kurang gizi
sebagai akibat menurunya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan dalam saluran
pencernaan atau peningkatan kebutuhan zat gizi oleh adanya penyakit.Kaitan penyakit
infeksi dengan keadaan gizi kurang merupakan hubungan timbal balik, yaitu hubungan
sebab akibat.Penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang
jelek dapat mempermudah infeksi. (Supariasa, 2002: 187)
- Faktor Prilaku
Faktor perilaku ini terdiri dari kebiasaan yang sering dilakukan ibu diantaranya
yaitu kebiasaan merokok dan mengkonsumsi cafein, Kafein adalah zat kimia yang
berasal dari tanaman yang dapat menstimulasi otak dan system syaraf.Kafein bukan
merupakan salah satu zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh, karena efek yang
ditimbulakan kafein lebih banyak yang negative dari pada positifnya salah satunya
adalah gangguan pencernaan. Dengan adanya gangguan pencernaan makanan maka
akan menghambat penyerapan zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dan janin.

2.3.3 Konsep Dasar MP ASI


MP ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) yaitu makanan atau minuman yang
mengandung gizi yang diberikan kepada bayi atau balita untuk memenuhi kebutuhan
gizinya, disamping ASI, MP ASI diberikan mulai umur 6 bulan sampai 24 bulan.
Semakin meningkat usia bayi , kebutuhan akan zat gizi bertambah karena tumbuh
kembang, sedangkan ASI yang di keluarkan kurang memenuhi kebutuhan gizi. MP ASI
merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan MP ASI harus
dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengankemampuan
pencernaan bayi/anak.
PersaratanMP ASI.
Kriteria yang harus dimiliki oleh MP ASI adalah sebagai berikut:
- Nilai gizi dan kandungan proteinnya tinggi
- Memiliki nilai suplementasi yang baik, mengandung vitamin
dan mineraldalam jumlah yang cukup
- Dapat diterima dengan baik
- Sebaiknya dapat di produksi dari bahan bahan yang tersedia
secara lokal
Cara Pemberian MP ASI
- Berikan secara hati hati sedikit demi sedikit dari bentuk encer
kemudian yang lebih kental secara berangsur-angsur.
- Makanan diperkenalkan satu persatu sampai bayi benar-benar
dapat menerimanya.
- Makanan yang dapat menimbulkan alergi diberikan paling
terakhir dan harus dicoba sedikt demi sedikt misalnya telur,
cara pemberiannya kuningnya dahulu setelah tidak ada reaksi
alergi, maka hari berikutnya putihnya.
- Padapemberian makan sebaiknya jangan dipaksa,sebaiknya
diberi pada waktu hamil
a. Menjelaskan dampak MP ASI yang diberikan pada bayi usia kurang
dari 6 bulan
b. Menjelaskan jenis MP ASI yang perlu di konsumsi oleh bayi.
c. Menjelaskan pola pemberian MP ASI pada bayi

2.3.4 Konsep Dasar Persalinan Dukun


Dukun bayi adalah orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk
menolong persalinan dan perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.
Persalinan dukun adalah proses persalinan yang dibantu oleh tenaga non kesehatan atau
tenaga yang kurang profesional atau yang dikenal dengan istilah dukun bayi.
Penyebab persalinan dukun
a. Kebiasaan atau perilaku adat istiadat yang tidak menunjang.
1. Keluaga yaitu adanya kebiasaan keluarga yang memutuskan atau memaksa calon
orang tua mengenai siapa yang akan menolong persalinan.
2. Masyarakat yaitu adanya kebiasaan masyarakat yang lebih mempercayai penolong
persalinan pada tenaga non medis atau dukun.
b. Sarana kesehatan
c. Keadaan sosial ekonomi yang belum memadai
d. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat
e. Status dalam masyarakat
f. Tingkat kepercayaan penyuluhan terhadap masyarakat dan petugas kesehatan
yang masih rendah.
Dukun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Pada umumnya adalah seorang anggota masyarakat yang cukup dikenal di desa.
2. Pendidikan tidak melebihi pendidikan orang biasa, umumnya buta huruf
3. Pekerjaan sebagai dukun umumnya bukan untuk tujuan mencari uang tetapi
karena panggilan atau melalui mimpi-mimpi, dengan tujuan untuk menolong
sesama
4. Disamping menjadi dukun, mereka mempunyai pekerjaan lainnya yang
tetap.Misalnya petani, atau buruh kecil sehingga dapat dikatakan bahwa pekerjaan
dukun hanyalah pekerjaan sambilan.
5. Ongkos yang harus dibayar tidak ditentukan, tetapi menurut kemampuan dari
masing-masing orang yang ditolong sehingga besar kecil uang yang diterima tidak
sama setiap waktunya.
6. Umumnya dihormati dalam masyarakat atau umumnya merupakan tokoh yang
berpengaruh, misalnya kedudukan dukun bayi dalam masyarakat .
Kesalahan yang sering dilakukan oleh dukun sehingga dapat mengakibatkan kematian
ibu dan bayi, antara lain :
1. Terjadinya robekan rahim karena tindakan mendorong bayi didalam rahim dari
luar sewaktu melakukan pertolongan pada ibu bersalin
2. Terjadinya perdarahan pasca bersalin yang disebabkan oleh tindakan mengurut-
ngurut rahim pada waktu kala III.
3. Terjadinya partus tidak maju, karena tidak mengenal tanda kelainan partus dan
tidak mau merujuk ke puskesmas atau RS. Untuk mencegah kesalahan tindakan
dukun tersebut di perlukan suatu bimbingan bagi dukun.
- Persalinan Nakes
Persalinan nakes merupakan persalinan yang di tolong oleh seseorang yang telah
berpengalaman dan melalui pendidikan yang telah dtentukan. Apabila persalinan tidak di
tolong oleh tenaga kesehatan yang kurang ahli/berpengalaman maka akan banyak resiko yang
di dapat. Setelah dilakukan penelitian ternya persalinan masih ada yang di tolong oleh dukun,
oleh sebab itu pemerintah membuat suatu terobosan dengan melakukan kemitraan dukun dan
bidan. Salah satu bentuk kemitraan tersebut adalah dengan melakukan pembinaan dukun yan
merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab bidan. Maka dari itu tugas dan tanggung
jawab bidan terhadap dukun bayi sangat memberikan kontribusi yang cukup
penting. Pengetahuan dukun bayi tentang fisiologis dan patologis dalam kehamilan,
persalinan, serta nifas sangat terbatas oleh karena itu apabila timbul komplikasi ia tidak
mampu untuk mengatasinya, bahkan tidak menyadari akibatnya, dukun tersebut menolong
hanya berdasarkan pengalaman dan kurang professional. Oleh karena itu alangkah baiknya
persalinan sebaiknya dibantu oleh persalinan nakes

2.4 Manajemen / Asuhan Kebidanan Komunitas


Konsep Dasar Kebidanan Komunitas
1. Pengertian
Adalah seorang bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat di wilayah
komunitas. (Dr. J.H. Syahlan, SKM)
Adalah para praktisi bidan yang berbasis komuniti harus dapat memberikan
supervisi, yaitu dibutuhkan oleh wanita selama masa kehamilan, persalinan, nifas dan
bayi baru lahir secara komprehensif. (United Kingdom Central Council For Nursing,
Midwifery and health)
Adalah seorang yang telah mengikuti pendidikan kebidanan yang telah diakui
oleh pemerintah setempat yang telah menyelesaikan pendidikan dan lulus, serta
terdaftar/ mendapat izin melakukan praktek kebidanan yang melayani keluarga atau
masyarakat di wilayah tertentu. (WHO)
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu.
Kebidanan berasal dari kata Bidan yang artinya adalah seseorang yang telah
mengikuti pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat ijin melakukan
praktek kebidanan.
Sedangkan kebidanan sendiri mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan
kegiatan pelayanan yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan
(J.H. Syahlan, 1996).
Komunitas adalah kelompok orang yang berada di suatu lokasi tertentu.Sarana
kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada dalam keluarga dan
masyarakat.Pelayanan kebidanan komunitas dilakukan diluar rumah sakit.Kebidanan
komunitas dapat juga merupakan bagian atau kelanjutan pelayanan kebidanan yang
diberikan di rumah sakit.Pelayanan kesehatan ibu dan anak di lingkungan keluarga
merupakan kegiatan kebidanan komunitas.
Kelompok komunitas terkecil adalah keluarga individu yang dilayani adalah
bagian dari keluarga atau komunitas.Oleh karena itu, bidan tidak memandang pasiennya
dari sudut biologis.Akan tetapi juga sebagai unsur sosial yang memiliki budaya tertentu
dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan disekelilingnya.
Dapat ditemukan disini bahwa unsur-unsur yang tercakup didalam kebidanan
komunitas adalah bidan, pelayanan kebidanan, sasaran pelayanan, lingkungan dan
pengetahuan serta teknologi.
Asuhan kebidanan komunitas adalah merupakan bagian integral dari system
pelayanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu, anak dan Keluarga
Berencana.
2. Sasaran pelayanan kebidanan komunitas
Sasaran pelayanan kebidanan komunitas adalah komuniti, di dalam komuniti
terdapat kumpulan individu yang membentuk keluarga atau kelompok dalam suatu
masyarakat.Sasaran utama pelayanan kebidanan komunitas adalah ibu dan anak dalam
keluarga.
Ibu :Calon ibu/ masa pranikah ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu
meneteki, ibu masa interval, menopouse
Anak : Bayi, balita, masa sekolah
Keluarga Berencana : Nuclear family (suami, istri, anak), extended family (keluarga
besar, kakek, nenek, dll)
Masyarakat : Masyarakat desa, kelurahan dalam batas wewenang kerja
3. Kegiatan pelayanan kebidanan komunitas yang dilakukan oleh Bidan
Kegiatan pelayanan kebidanan komunitas yang dilakukan oleh bidan meliputi :
a. Penyuluhan kesehatan
b. Pemeliharaan kesehatan ibu dan balita
c. Konsep keluarga berencana
d. Imunisasi, gizi, keluarga berencana
e. Memberikan pelayanan kesehatan ibu di rumah
f. Membina dan membimbing kader dan dukun bayi
g. Menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan
h. Membina kerja sama lintas program dan lintas sektoral
i. Melakukan rujukan medik
j. Mendeteksi secara dini adanya efek samping dan komplikasi pemakai
kontrasepsi.
4. Dalam memecahkan masalah pasiennya, bidan menggunakan pendekatan
manajemen kebidanan.
Manajemen kebidananan adalah metode yang digunakan oleh bidan dalam
menentukan dan mencari langkah-langkah pemecahan masalah serta melakukan
tindakan untuk menyelematkan pasiennya dari gangguan kesehatan.
Penerapan manajemen kebidanan melalui proses yang secara berurutan yaitu
identifikasi masalah, analisis dan perumusan masalah, rencana dan tindakan
pelaksanaan serta evaluasi hasil tindakan. Manajemen kebidanan juga digunakan
oleh bidan dalam menangani kesehatan ibu, anak dan KB di komuniti, penerapan
manajemen kebidanan komuniti (J.H. Syahlan, 1996).

1 Identifikasi masalah

Bidan yang berada di desa memberikan pelayanan KIA dan KB di masyarakat melalui
identifikasi, ini untuk mengatasi keadaan dan masalah kesehatan di desanya terutama yang
ditujukan pada kesehatan ibu dan anak. Untuk itu bidan melakukan pengumpulan data
dilaksanakan sccara langsung ke masyarakat (data subyektif) dan data tidak langsung ke
masyarkaat (data obyektif)

a.Data Subyektif
Data subyektif diperoleh dari informasi langsung yang diterima dai masyarakat. Pengumpulan
data subyektif dilakukan melalui wawancara.Untuk mengetahui keadaan dan masalah
kesehatan masyarakat dilakukan wawancara terhadap individu atau kelompok yang mewakili
masyarakat.

b.Data Obyektif

Data obyektif adalah data yang diperoleh dari observasi pemeriksaan dan penelaahan catatan
keluarga, masyarakat dan lingkungan.Kegiatan dilakukan oleh bidan dalam pengumpulan data
obyektif ini ialah pengumpulan data atau catatan tentang keadaan kesehatan desa dan
pencatatan data keluarga sebagai sasaran pemeriksaan.

2.Analisa dan perumusan masalah

Setelah data dikumpulkan dan dicatat maka dilakukan analisis.Hasil analisis tersebut
dirumuskan sebagai syarat dapat ditetapkan masalah kesehatan ibu dan anak di komuniti.

Dari data yang dikumpulkan, dilakukan analisis yang dapat ditemukan jawaban tentang :

a.Hubungan antara penyakit atau status kesehatan dengan lingkungan keadaan sosial budaya
atau perilaku, pelayanan kesehatan yang ada serta faktor-faktor keturunan yang berpengaruh
terhadap kesehatan. (H.L. Blum).

b.Masalah-masalah kesehatan, termasuk penyakit ibu, anak dan balita

c.Masalah-masalah utama ibu dan anak serta penyebabnya

d.Faktor-faktor pendukung dan penghambat

Rumusan masalah dapat ditentukan berdasarkan hasil analisa yang mencakup masalah utama
dan penyebabnya serta masalah potensial.

3.Diagnosa potensial

Diagnosa yang mungkin terjadi

4.Antisipasi penanganan segera

Penanganan segera masalah yang timbul


5.Rencana (intervensi)

Rencana untuk pemecahan masalah dibagi menjadi tujuan, rencana pelaksanaan dan evaluasi.

6.Tindakan (implementasi)

Kegiatan yang dilakukan bidan di komunitas mencakup rencana pelaksanaan yang sesuai
dengan tujuan yang akan dicapai.

7.Evaluasi

Untuk mengetahui ketepatan atau kesempurnaan antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang
ditetapkan.
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS
A. Pengkajian
1. Data Demografi

0% Jumlah
0% 0% 0% 4%
PNS
Swasta
Petani
42%
54% Nelayan
Pedagang
Pensiunan

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk bermata pencaharian
sebagai Petani dengan presentasi yaitu 54%.

Jumlah
Islam Protestan Budha Hindu
0% 0%

100%

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk beragama islam presentasi
yaitu 100%.

Jumlah
, 69
%, 100

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk bersuku madura
presentasi yaitu 100%.
Jumlah
0%
0%

RS
PKM
100%
Lainnya

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk sumber informasi
kesehatannya adalah puskesmas presentasi yaitu 100%.

Jumlah
0% 4% 7% 0% 2%
Pusing
Sesak
0%
Batuk
87%
Demam
Diare

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk keluhan saat ini sebaian
besar tidak ada keluhan presentasi yaitu 87 %.

Jumlah
0%
3%
0%3%
0%
0% Pusing
Sesak
Batuk
94%
Demam
Diare

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk keluhan 1 tahun terakhir
saat ini sebaian besar keluhan 1 tahun terakhir tidak ada keluhan presentasi yaitu 94%.

Jumlah
0%
0% Asma
Hypertensi
DM
100%
Katarak
TBC

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk penyakit saat ini sebaian
besar tidak ada keluhan presentasi yaitu 100%.
Jumlah
0%
1%
0%
0
0%
% Asma
Hypertensi
DM
99%
Katarak
TBC

Pada Desa Batudinding di data demografi sebagian besar penduduk penyakit satu tahun
terakir sebaian besar tidak ada keluhan presentasi yaitu 100%.
- Perilaku kesehatan

Jumlah
7% 2%
<3x

91% 3x
>3x

I. PENGKAJIAN
1. Data umum
Data KB nifas
a. Data Subyektif
Kecamatan :Gapura Kepala Keluarga laki-laki / wanita :
Kelurahan :- Nama:Tn S
RT :- Agama: Islam
RW :- Pekerjaan : Petani
Penghasilan : Umur: 49 tahun
Keadaan Kesehatan :Baik Pendidikan : SD
Alamat :Dusun Daja Lorong
Susunan anggota keluarga
Nama Jenis Umur Hub. Dg Keadaan kes waktu No. KIA /
kelamin KK kunjungan. Pertama KB
/ imunisasi yang di
dapat
Surawi Laki-laki 49 th Suami sehat
Ruhaeni Perempuan 32 th Istri sehat
Suriyani Perempuan 22 th Anak Sehat
Jelita Dwi Perempuan 25 hari Anak Sehat
Istiqomah

Genogram keluarga dan keterangan :

2
1

3 4

Keterangan :

: laki laki

: perempuan
: tinggal dalam satu rumah
1 : Tn.S
2 : Ny. R
3 : Anak I dari Tn. R dan Ny. S
4 : Anak II dari Tn. R dan Ny. S

2. Data Khusus
1. Imunisasi : belum lengkap (Hb)
2. Bila keluarga data yang sakit berobat ke : Bidan
3. Jenis penyakit yang diderita oleh keluarga :-
4. Pemeriksaan kehamilan ke : Bidan
5. Pertolongan persalinan yang lalu : Dukun
6. Kebiasaan menyapih umur :-
7. Pemberian makanan tambahan sejak usia : sebelum 6 bulan
- Jenis makanan : pisang + lontong
8. tanggapan terhadap KB : baik
9. Pola hidup / ADL : baik
- Pola Makan : frekwensi 3x
Kualitas makan baik
- Pola Minum : 8 gelas/ hari
- Kebiasaan makan : Tinggi garam
- Penggunaan garam beryodium : Benar
- Pola BAK : Normal
- Tempat : Kamar mandi
- Pola BAB : Normal
- Tempat : WC
- Pola aktivitas (olah raga) : Cukup
- Kebersihan diri : Baik
- Tempat mandi : Pribadi
- Pola kebersihan lingkungan : Buang sampah dibakar
Pengurasan Bak mandi 1 minggu
Pengelolahan kaleng/botol bekas
ditimbun
- Pola penggunaan Air bersih : Sumur
- Pola Penggunaan Obat : Dengan resep dokter
- Pola Penggunaan Pelayanan kesehatan : Bidan
10. Adat kebiasaan,selamatan : molang areh
11. Penggunaan waktu senggang : mengasuh bayi
12. Situasi sosial budaya dan ekonomi : cukup
b. Data Obyektif
1. Rumah : Luas
Jenis Rumah : Tersendiri
Letak : dekat dengan sarang vector
Dinding : Tembok
Atap : Genteng
Cahaya : Terang
Jalan Angin : Cukup
Jendela : Ada
Jumlah ruang : 3 ruang
2. Air minum
Asal : PAM
Nilai air : cukup bersih
Konsumsi air :
3. Pembuangan sampah
Dibakar
4. Jamban dan kamar mandi
Jenis jamban : leher angsa
Jarak dengan sumber air : dekat
Kebersihan : Bersih
Kamar mandi : Ada / bersih
5. Pekarangan dan selokan
Pengaturan : Teratur
Kebersihan : Cukup Bersih
Air limbah : di manfaatkan
Peralatab pekarangaan : Ada
6. Kandang ternak
Bangun : Permanen
Letak : Tersendiri
Kebersihan : Bersih
7. Denah rumah dan keterangan

2 4

Keterangan :
1 : Ruang tamu
2 : Tempat tidur dan dapur
3 : Kamar tidur I
4 : Kamar mandi
Data Gizi Pada Ibu Hamil
a. Data Subyektif
Kecamatan :Gapura Kepala Keluarga laki-laki / wanita :
Kelurahan :- Nama:Tn U
RT :- Agama: Islam
RW :- Pekerjaan : Wiraswasta
Penghasilan : Umur: 28 tahun
Keadaan Kesehatan :Kurang baik Pendidikan :SMA
Alamat :Dusun Laok Lorong

Susunan anggota keluarga


Nama Jenis Umur Hub. Dg Keadaan kes waktu No. KIA /
kelamin KK kunjungan. Pertama KB
/ imunisasi yang di
dapat
Upid Riyadi Laki-laki 28 th Suami sehat
Ika Noviyanti Perempuan 23 th Istri Kurang baik
Genogram keluarga dan keterangan :

2
1

3 4

Keterangan :

: laki laki

: perempuan
: tinggal dalam satu rumah
5 : Tn.U
6 : Ny. I
2. Data Khusus
1. Imunisasi : belum lengkap (TT1)
2. Bila keluarga data yang sakit berobat ke : Bidan
3. Jenis penyakit yang diderita oleh keluarga :-
4. Pemeriksaan kehamilan ke : Bidan
5. Pertolongan persalinan yang lalu :
6. Kebiasaan menyapih umur :-
7. Pemberian makanan tambahan sejak usia :-
- Jenis makanan :-
8. tanggapan terhadap KB : baik
9. Pola hidup / ADL : baik
- Pola Makan : frekwensi 3x
Kualitas makan baik
- Pola Minum : 8 gelas/ hari
- Kebiasaan makan : Tinggi garam
- Penggunaan garam beryodium : Benar
- Pola BAK : Normal
- Tempat : Kamar mandi
- Pola BAB : Normal
- Tempat : WC
- Pola aktivitas (olah raga) : Cukup
- Kebersihan diri : Baik
- Tempat mandi : Pribadi
- Pola kebersihan lingkungan : Buang sampah dibakar
Pengurasan Bak mandi 1 minggu
Pengelolahan kaleng/botol bekas
ditimbun
- Pola penggunaan Air bersih : Sumur
- Pola Penggunaan Obat : Dengan resep dokter
- Pola Penggunaan Pelayanan kesehatan : Bidan
10. Adat kebiasaan,selamatan : 7 bulanan
11. Penggunaan waktu senggang :
12. Situasi sosial budaya dan ekonomi : cukup
b. Data Obyektif
1. Rumah : Luas
Jenis Rumah : Tersendiri
Letak : dekat dengan sarang vector
Dinding : Tembok
Atap : Genteng
Cahaya : Terang
Jalan Angin : Cukup
Jendela : Ada
Jumlah ruang :
2. Air minum
Asal : PAM
Nilai air : cukup bersih
Konsumsi air :
3. Pembuangan sampah
Dibakar
4. Jamban dan kamar mandi
Jenis jamban : leher angsa
Jarak dengan sumber air : dekat
Kebersihan : Bersih
Kamar mandi : Ada / bersih
5. Pekarangan dan selokan
Pengaturan : Teratur
Kebersihan : Cukup Bersih
Air limbah : di manfaatkan
Peralatab pekarangaan : Ada
6. Kandang ternak
Bangun : Permanen
Letak : Tersendiri
Kebersihan : Bersih
7. Denah rumah dan keterangan

5 6
7

3 4

1
Keterangan :
1 : Ruang tamu
2 : Kamar tidur I
3 : Ruang tengah
4 : Kamar tidur II
5 : Dapur
6 : Kamar mandi
7 : Kandang
Data MP ASI dini dan Peralinan Dukun di Dusun Tembing
a. Data Subyektif
Kecamatan :Gapura Kepala Keluarga laki-laki / wanita :
Kelurahan :- Nama:Tn A
RT :- Agama: Islam
RW :- Pekerjaan : Petani
Penghasilan : Umur: 30 tahun
Keadaan Kesehatan :Baik Pendidikan : SD
Alamat :Dusun Tembing
Susunan anggota keluarga
Nama Jenis Umur Hub. Dg Keadaan kes waktu No. KIA /
kelamin KK kunjungan. Pertama KB
/ imunisasi yang di
dapat
Abu Bakar Laki-laki 30 th Suami sehat
Fazana Perempuan 28 th Istri sehat
Andi Laki- laki 12 th Anak Sehat
Darmawan
Kanzah Perempuan 4 bl Anak Sehat
Zahira Akila

Genogram keluarga dan keterangan :

2
1

3 4

Keterangan :

: laki laki

: perempuan
: tinggal dalam satu rumah
1 : Tn. A
2 : Ny. F
3 : Anak I dari Tn. A dan Ny. F
4 : Anak II dari Tn. A dan Ny. F
2. Data Khusus
1. Imunisasi : belum lengkap ( DPT II)
2. Bila keluarga data yang sakit berobat ke : perawat
3. Jenis penyakit yang diderita oleh keluarga :-
4. Pemeriksaan kehamilan ke : Bidan
5. Pertolongan persalinan : Dukun
6. Kebiasaan menyapih umur : sejak lahir
7. Pemberian makanan tambahan sejak usia : sebelum 6 bulan
- Jenis makanan : pisang + lontong
8. tanggapan terhadap KB : tidak baik
9. Pola hidup / ADL : baik
- Pola Makan : frekwensi 3x
Kualitas makan baik
- Pola Minum : 8 gelas/ hari
- Kebiasaan makan : Tinggi garam
- Penggunaan garam beryodium : Benar
- Pola BAK : Normal
- Tempat : Kamar mandi
- Pola BAB : Normal
- Tempat : WC
- Pola aktivitas (olah raga) : Cukup
- Kebersihan diri : Baik
- Tempat mandi : Pribadi
- Pola kebersihan lingkungan : Buang sampah dibakar
Pengurasan Bak mandi 1 minggu
Pengelolahan kaleng/botol bekas
ditimbun
- Pola penggunaan Air bersih : Sumur
- Pola Penggunaan Obat : Dengan resep dokter
- Pola Penggunaan Pelayanan kesehatan : Bidan
10. Adat kebiasaan,selamatan : molang areh
11. Penggunaan waktu senggang : mengasuh bayi
12. Situasi sosial budaya dan ekonomi : cukup
b. Data Obyektif
1. Rumah : Luas
Jenis Rumah : Tersendiri
Letak : dekat dengan sarang vector
Dinding : Tembok
Atap : Genteng
Cahaya : Terang
Jalan Angin : Cukup
Jendela : Ada
Jumlah ruang :
2. Air minum
Asal : PAM
Nilai air : cukup bersih
Konsumsi air :
3. Pembuangan sampah
Dibakar
4. Jamban dan kamar mandi
Jenis jamban : leher angsa
Jarak dengan sumber air : dekat
Kebersihan : Bersih
Kamar mandi : Ada / bersih
5. Pekarangan dan selokan
Pengaturan : Teratur
Kebersihan : Cukup Bersih
Air limbah : di manfaatkan
Peralatab pekarangaan : Ada
6. Kandang ternak
Bangun : Permanen
Letak : Tersendiri
Kebersihan : Bersih
7. Denah rumah dan keterangan

5 4

3 2

1
Keterangan :
1 : Ruang tamu
2 : Kamar tidur I
3 : Kamar tidur II
4 : Kamar mandi
5 : Dapur

II. INTERPRETASI DATA DASAR


No. Diagnosa Data dasar
Urut
1. Ny. R usia 32 th dengan -Rendahnya penggunaan KB pada masa
penggunaan KB pada masa nifas nifas

2. Ny. I usia 23 th dengan gizi pada - Gizi pada Ibu hamil rendah
Ibu hamil rendah

3. Ny. F usia 28 tahun dengan MP - MP Asi dini pada Bayi K kurang dari 6
Asi dini pada bayi K dan bulan dan persalinan pada Dukun
persalinan dukun

III. Perumusan masalah


Berdasarkan data dan analisis yang telah dilakukan,maka didapatkan kesimpulan
bahwa permasalahan yang muncul sebagian besar disebabkan karena kurangnya pengetahuan
dan keterbatasan sarana terutama dana.Adapun permasalahan yang ada pada Tn.S adalah
sebagai berikut ;
1. Rendahnya penggunaan KB pada masa nifas
2. Gizi pada Ibu hamil rendah
3. MP Asi dini pada bayi K
4. Persalinan Dukun di dusun Tembing
IV. Susunan prioritas masalah
- Skoring
- Urutan prioritas masalah
No Masalah Sifat Kemungkinan Potensi Menonjolnya Total
masalah masalah masalah masalah skor
untuk di ubah untuk di
cegah
1. Rendahnya 4 3 3 4 14
penggunaan
KB pada masa
nifas

2. Gizi pada Ibu 4 3 3 3 13


hamil rendah
3. MP Asi dini 4 3 2 3 12
pada bayi K
4. Persalinan 4 3 2 3 12
Dukun di
dusun
Tembing

Keterangan :
Skor 1 : Agak ringan
2 : Ringan
3 : Sedang
4 : Agak berat
5 : Berat
V. Proses manajemen Kebidanan
No Diagnosa Tujuan / Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi
kriteria
1. Ny. S Untuk Lakukan Untuk Mengadakan Ibu dan
dengan menurunkan penyuluhan menurunkan penyuluhan masyarakat
rendahnya angka kepada angka tentang mengerti
penggunaan kematian masyarakat kematian pentingnya dengan
KB pada Ibu dan tentang Ibu dan menggunakan penjelasan
masa nifas janin, agar pentingnya janin, agar KB pada yang
program ikut KB program masa nifas, diberikan
pemerintah pada masa pemerintah menjelaskan oleh bidan
dapat nifas dapat tentang dan Ibu
terlaksana Lakukan terlaksana macam menyetujui
dengan baik kunjungan dengan baik macam KB untuk
rumah Melakukan disuntik
untuk kunjungan KB pada
mengadakan rumah masa nifas
suntik KB dengan
pada ibu melakukan
nifas sntik gratis
pada Ibu
nifas

VI. Catatan Perkembangan


Tgl / jam Diagnosa Catatan perkembangan
14/07/2012 Ny. R usia 32 tahun S : Keluarga mengatakan sudah tidak
dengan rendahnya merasa cemas lagi
penggunaan KB pada masa O : Penggunaan KB pada masa nifas
nifas A : Ny. S dengan penggunaan KB pada
masa nifas
P : - Menjelaskan pada keluarga bahwa
penggunaanKB nifas selanjutnya di
bidan sesuai dengan tanggal yang telah
ditentukan
5.
Sumenep, 2012

Mengetahui Yang mengkaji


Pembimbing

( ) ( )
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengkajian diketahui bahwa tingkat pengetahuan keluarga mengenai


KB pada masa nifas pada keluarga di Desa Batudinding, Kecamatan Gapura, Kabupaten
Sumenep rendah.Keluarga diberi penyuluhan tentang KB pada masa nifas.Setelah diberi
penyuluhan tentang KB pada masa nifas keluargadapat mengerti dan memahami mengenai
KB pada masa nifas.
Lebih dari 3 dasawarsa program KB nasional dilaksanakan di Indonesia.Selama kurun
waktu tersebut telah banyak hasil yang dicapai. Salah satu bukti keberhasilan program
tersebut antara lain semakin tingginya angka pemakaian alat kontrasepsi (prevalensi). SDKI
tahun 1997 memperlihatkan proporsi peserta KB untuk semua cara tercatat sebesar 57,4 %.
Bila dirinci lebih lanjut proporsi peserta KB yang terbanyak adalah suntik (21,1 %), pil (15,4
%), IUD (8,1 %), susuk (16 %), mow (3 %), kondom (0,7 %), MDP (0,4 %) dan sisanya
merupakan peserta KB tradisional yang masing-masing menggunakan cara tradisional
pantang berkala maupun senggama terputus.
Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, dimana upaya
tersebut bisa bersifat sementara ataupun permanent. Dengan menggunakan alat kontrasepsi
diharapkan PUS bisa merencanakan kapan ibu akan mengalami kehamilan lagi dan ber
jumlah anak yang diinginkan. Dengan pembatasan kehamilan dan kelahiran tersebut
diharapkan dapat meningkatkan SDM yang berkualitas.( Dyah, 2009).
Banyaknya perempuan yang belum mengetahui ingin memakai jenis kb apa dan kapan
waktu yang tepat untuk mulai menggunakan alat kontrasepsi setelah dia melahirkan sehingga
terjadi kehamilan yang tidak diharapkan karena ketidaktahuan ibu tentang alat kontrasepsi.
Keberhasilnya program KB diantaranya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu dan faktor
pendukung lainnya. Untuk mempunyai sikap yang positif tentang KB diperlukan pengetahuan
yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila
pengetahuan kurang maka kepatuhan menjalani program KB berkurang.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dari hasil pengkajian yang dilakukan pada keluarga maka didapatkan data
subyektif bahwa ibu mengatakan kurang pengetahuan tentang KB pada masa nifas,
sedangakan data obyektif yaitu rendahnya penggunaan KB pada masa nifas. Maka
dari hasil diatas dapat disimpulakan masalah keluargayakni kurangnya pengetahuan
tentang KB pada masa nifas.
2. Berdasarkandari masalah yang ditemukan tersebut, maka dilakukan kegiatan
penyuluhan tentang KB pada masa nifas.
3. Setelah dilakukan penyuluhan keluarga sekarang lebih mengerti tentang KB pada
masa nifas. Diharapkan keluarga akan menerapakan perilaku tersebut dalam
kehidupan sehari - hari.

B. Saran
1. Bagi keluarga
a. Sebaiknya keluarga terus melanjutkan program yang telah dianjurkan oleh
tenaga kesehatan.
b. Sebaiknya keluarga memberikan saran bagi keluarga lain untuk mengikuti KB
pada masa nifas
c. Sebaiknya keluarga lebih meningkatkan perilaku hidup bersih.
2. Bagi tenaga kesehatan
a. Sebaiknya tenaga kesehatan lebih meningkatkan dalam memberikan pelayanan
kesehatan yang menyeluruh sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat maupun perorangan.
b. Sebaiknya tenaga kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan tentang
kesehatan gizi pada ibu hamil.
c. Sebaiknya tenaga kesehatan lebih memantau perilaku dan perkembangan
pengetahuan masyarakat sehingga tenaga kesehatan tahu tentang apa yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Dep Kes RI.1994.Pedoman Supervisi Dukun Bayi


Syafrudin, SKM, M. Kes, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC
Yulifah, Rita. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika

Sumber: :http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/06/pembinaan-dukun-bayi-di-
komunitas.html#ixzz20P1aePVw

Effendy Nasrul. 1998. Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.

Depkes RI. 2000. Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta.


Soekidjo, Notoatmodjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.