Anda di halaman 1dari 10

ORLI Vol. 45 No.

2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

Laporan Penelitian

Perubahan kualitas hidup, eosinofil mukosa hidung, dan interleukin-5


serum pasien rinitis alergi pasca terapi

Arinda Putri Pitarini*, Nina Irawati*, Niken Lestari Poerbonegoro*, Dewi


Wulandari**, Saptawati Badarsono***
*Departemen Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher
**Departemen Patologi Klinik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo
***Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta

ABSTRAK
Latar belakang: Rinitis alergi adalah suatu penyakit inflamasi pada hidung yang dimediasi oleh
imunoglobulin-E, yang terjadi setelah mukosa hidung terpajan alergen. Sel dan mediator inflamasi
yang berperan penting adalah eosinofil, histamin, dan sitokin produk Th2. Penyakit ini ditandai
dengan gejala rinorea, bersin berulang, hidung tersumbat dan/atau hidung gatal. Selain dari gejala
yang mengganggu, rinitis alergi berdampak buruk terhadap kualitas hidup penderita. Tatalaksana
komprehensif, meliputi penghindaran alergen, farmakoterapi, imunoterapi dan edukasi, ditujukan
untuk menghilangkan gejala dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Tujuan: Mengetahui perubahan
kualitas hidup, jumlah eosinofil mukosa hidung, dan kadar IL-5 serum pada pasien rinitis alergi setelah
mendapat terapi farmaka sesuai panduan. Metode: Penelitian ini merupakan studi pre-eksperimental
analitik dengan pengambilan data sebelum dan sesudah pemberian farmakoterapi. Hasil: Sebanyak 31
dari 33 subjek mengalami perubahan kualitas hidup yang bermakna (MID>0,7). Seluruh pasien, 33
subjek memperlihatkan perubahan yang responsif dari jumlah eosinofil mukosa hidung. Sebanyak 30
subjek dinyatakan responsif dan terdapat penurunan kadar IL-5. Tidak ada hubungan yang bermakna
antara perubahan kualitas hidup dan kadar IL-5. Kesimpulan: Perubahan kualitas hidup, jumlah
eosinofil mukosa hidung, dan kadar IL-5 serum dapat digunakan sebagai penanda objektif keberhasilan
terapi rinitis alergi yang dapat dipakai dalam praktik klinis sehari-hari maupun kepentingan riset.
Kata kunci: rinitis alergi, kualitas hidup, eosinofil, interleukin-5

ABSTRACT
Background: Allergic rhinitis defined as an inflammatory disease of the nose mediated by
immunoglobulin-E, induced after nasal mucosa exposure to allergen. Important inflammatory cells and
mediators are eosinophils, histamine, and Th2-related cytokines. Symptoms include rhinorrhea, repeated
sneezing, nasal congestion and/or nasal itching. Aside from its bothersome symptoms, allergic rhinitis
decreases patients quality of life (QOL). Comprehensive management consist of allergen avoidance,
medication, immunotherapy, and education, aimed to diminish symptoms and improve the patients
quality of life. Purpose: To evaluate changes in quality of life, nasal mucosal eosinophil count, and
level of interleukin-5 in allergic rhinitis after medicamentous treatment. Methods: This was an analytic
pre-experimental study with data taken before and after medicamentous treatment. Results: Thirty-one
of 33 subjects showed significant changes of QOL (MID>0,7). All samples, 33 subjects, experienced
responsive changes in nasal mucosal eosinophil count. Thirty subjects were responsive, which showed
decrease of IL-5 level. There was no significant relation between changes of QOL and changes of IL-5
level. Conclusion: Changes in quality of life, nasal mucosal eosinophil count, and IL-5 level are objective
markers of treatment efficacy in Allergic Rhinitis, which can be used in clinical practices and researches.

Keywords: allergic rhinitis, quality of life, eosinophil, interleukin-5, intranasal steroid, antihistamine

121
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

Korespondensi: Niken Lestari Poerbonegoro: Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia/RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jl. Diponegoro No. 71, Jakarta. Email: niken_lp@yahoo.com

PENDAHULUAN untuk IgA dan IgG, menstimulasi sekresi


Rinitis alergi (RA) merupakan suatu mediator lipid (leukotrien C4 dan PAF), dan
kelainan hidung yang disebabkan oleh menginduksi pelepasan granul. IL-5 juga
proses inflamasi akibat pajanan alergen pada memengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi
mukosa hidung, yang dimediasi oleh antibodi eosinofil. Hingga saat ini IL-5 sudah lama
Imunoglobulin E (IgE) spesifik. Penyakit dikaitkan dengan penyebab alergi termasuk
ini ditandai dengan gejala rinorea, bersin RA dan asma.
berulang, hidung tersumbat dan/atau hidung Penyakit dikategorikan RA intermiten
gatal.1 bila gejala muncul kurang dari 4 hari per
Prevalensi rinitis alergi cukup bervariasi minggu atau kurang dari 4 minggu, dan
di setiap belahan dunia. Menurut Stewart et persisten bila gejala timbul lebih dari 4 hari
al,2 prevalensi RA di seluruh dunia sekitar per minggu dan lebih dari 4 minggu. Derajat
10-40%. Bauchau dan Durham3 melaporkan penyakit dinilai berdasarkan ada atau tidaknya
bahwa prevalensi RA pada populasi dewasa di hambatan aktivitas yang memengaruhi
Eropa berdasarkan The European Community kualitas hidup. Derajat dikategorikan
Respiratory Health Survey (ECRHS) sebesar ringan apabila tidak terdapat hambatan
21% dan pada beberapa negara di Eropa aktivitas, atau dikategorikan sedang-berat
seperti di Belgia sebesar 28,5%, Perancis bila terdapat satu atau lebih hambatan.1, 10, 11
24,5%, Italia 16,9%, Inggris 26%, dan Rhinoconjunctivitis Quality of Life
Spanyol 21,5%. Berdasarkan penelitian Questionnaire (RQLQ), yang dirancang oleh
Suprihati,4 data prevalensi RA di Indonesia Juniper et al,12 menunjukkan bahwa gejala
yang berasal dari beberapa sentra pendidikan hidung bukanlah satu-satunya masalah yang
spesialis THT-KL di sekitar Jakarta pada usia mengganggu pasien RA. Kuesioner ini lebih
di bawah 14 tahun sebesar 10,2%. Prevalensi akurat menggambarkan keseluruhan aspek
RA di Bandung dan sekitarnya pada usia di kesehatan (fisik, mental, dan kesejahteraan
atas 10 tahun sebesar 5,8% dan di Semarang, sosial) yang terkait dengan RA.13-15
dengan kuesioner ISAAC fase III pada siswa
Kuesioner mini kualitas hidup
SMP usia 12-15 tahun didapatkan prevalensi
rinokonjungtivitis (Mini-RQLQ)
gejala RA sebesar 18,6%.2-5
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan
Dalam patofisiologi rinitis alergi, versi pendek dan cepat dari RQLQ dalam
interleukin-5 (IL-5) adalah sitokin yang rangka uji klinis yang besar dan evaluasi
penting dan sangat spesifik untuk maturasi, penatalaksanaan, serta memiliki spesifisitas
perkembangan, aktivasi, dan kelangsungan yang baik, uji validitas potong lintang,
hidup eosinofil. Sedangkan eosinofil sendiri, responsif, dan validitas longitudinal.12
memiliki peran penting dalam mengatur Dimensi yang diukur dalam mini RQLQ
mekanisme yang berhubungan dengan alergi meliputi activities (3 butir), practical
dan berperan dalam patogenesis inflamasi problems (3 butir), nasal symptoms (3
alergi.6-9 IL-5 berperan pada beberapa fungsi butir), ocular symptoms (2 butir), dan
dari eosinofil, di antaranya ialah menurunkan non nasal/ocular symsptoms (3 butir).
modulasi Mac-1, regulasi dari reseptor

122
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

Check for asthma


especially in patients
Diagnosis of allergic rhinitis with moderate-severe
and/or persistent
Intermittent symptoms Persistent symptoms rhinitis

mild moderate-mild severe moderate severe

Not in preferred order Not in preferred order Not in preferred order


Oral H1-antihistamine or Oral H1-antihistamine or Intranasal CS
intranasal intranasal H1-antihistamine or LTRA*
H1-antihistamine and/or H1-antihistamine and/or
decongestant or LTRA* decongestant or LTRA*
(or cromone) review the patient after 2-4 weeks

In persistent rhinitis
review the patient improved failure
after 2-4 weeks
step-down and
continue treatment review diagnosis
If failure: step-up for 1 month review compliance
If improved: continue for query infections
1 month or other causes

increase itch/sneeze rhinorrhea


intranasal add H1 add
CS dose antihistami ipratropium
ne
blockage
add
decongestant or
oral CS (short -
term)

failure

surgical
referral

*In particular, in patients with asthma

Alergen and irritant avoidance may be appropriate

If conjunctivitis add:
Oral H1-antihistamine
Or intraocular H1-antihistamine
Or intraocular cromone
(or saline)

Consider specific immunotherapy

Gambar 1. Algoritma diagnosis dan tatalaksana RA1

Penatalaksanaan RA merupakan Di Indonesia, sedikitnya data mengenai


kombinasi dari 4 (empat) kategori yaitu 1. kualitas hidup pada pasien RA mendasari
Menghindari kontak dengan alergen penyebab penelitian ini untuk mengidentifikasi
dan kontrol lingkungan. 2. Farmakoterapi. 3. perubahan kualitas hidup, jumlah eosinofil
Imunoterapi. 4. Edukasi kepada pasien dan mukosa hidung, dan kadar IL-5 serum setelah
keluarga. Saat ini kortikosteroid intranasal terapi, dengan melakukan pemeriksaan secara
dan antihistamin oral merupakan terapi kualitatif menggunakan kuesioner mini
pilihan karena efektivitasnya yang tinggi RQLQ dan secara kuantitatif menggunakan
namun dengan efek samping yang rendah. hitung jumlah eosinofil dan kadar IL-5 serum,
Tindakan operasi umumnya dilakukan sehingga diperoleh data yang lebih lengkap.
untuk mengoreksi kelainan anatomi yang
dapat memperberat gejala alergi dan METODE
menghambat aliran udara hidung atau
penghantaran obat ke mukosa hidung.1 Penelitian ini telah mendapat persetujuan
Panitia Tetap Etik Penelitian Kedokteran

123
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

FKUI/RSCM. Penelitian ini menggunakan pengambilan darah untuk kadar IL-5 serum.
metode pre-eksperimental yang bersifat Cara menghitung skor Mini RQLQ yaitu
analitik, yang dilakukan di Departemen dengan menghitung rerata skor tiap domain,
THT-FKUI/RSCM dan di Departemen kemudian rerata skor kelima domain tersebut,
Patologi Klinik FKUI/RSCM pada bulan dijumlahkan, dan dibagi lima. Selisih skor
Maret-Desember 2014. Pengambilan sampel sebelum dan setelah terapi dihitung. Apabila
dilakukan secara consecutive sampling. nilai selisih lebih besar atau sama dengan
nilai minimal important difference (MID),
Subjek penelitian adalah seluruh pasien
maka kualitas hidup dianggap mengalami
RA persisten kategori sedang-berat, berusia
perbaikan (Nilai MID untuk Mini RQLQ yaitu
18-60 tahun yang datang berobat ke bagian
0,7).12,16,17 Hitung eosinofil mukosa hidung
THT FKUI/RSCM, dan bersedia mengisi
berupa: 0 (tidak ditemukan eosinofil); +
surat persetujuan (informed consent). Kriteria
(0,1-1,0 sel/10 lpb); 1+ (1,1-5,0 sel/10 lpb);
penolakan adalah pasien yang disertai
2+ (6,0-15,00 sel/10 lpb); 3+ (16,0-20,0 sel/10
rinosinusitis akut, rinosinusitis kronis, polip
lpb) dan 4+ (>20,0 sel/10 lpb).18 Pasca terapi
nasi, massa kavum nasi, dan septum deviasi
dinyatakan responsif bila jumlah eosinofil
dengan contact point. Pasien yang sedang
setelah terapi sama dengan nol dan dinyatakan
dalam pemakaian steroid intranasal dan
tidak responsif bila jumlah eosinofil
antihistamin tidak diikut-sertakan. Subjek
setelah terapi lebih besar dari nol. Kadar
penelitian dikeluarkan dari penelitian apabila
interleukin-5 serum ditentukan dari hasil
berhenti menggunakan obat yang diberikan
pemeriksaan darah menggunakan ELISA.
peneliti sebelum masa penilaian selesai.
Alur penelitian diawali dengan subjek
penelitian mengisi kuesioner Mini RQLQ HASIL
disertai penjelasan dari peneliti. Instrumen Penelitian ini melibatkan 33 subjek
tersebut memiliki 14 pertanyaan dalam lima RA persisten kategori sedang-berat dengan
domain (keterbatasan aktivitas, masalah- jumlah subjek penelitian laki-laki sebanyak
masalah praktis, gejala hidung, gejala 14 orang dan perempuan sebanyak 19
mata, dan gejala non-hidung/mata). Subjek orang. Pada penelitian ini, rerata usia
penelitian kemudian menjalani pemeriksaan subjek yaitu 32,55 tahun. Mayoritas subjek
fisik THT, dilanjutkan dengan menggunakan memiliki pekerjaan pada lingkungan
alat nasoendoskop 0 untuk menyingkirkan tertutup (indoor) yaitu sebanyak 32
adanya kelainan anatomi atau penyakit subjek dan 1 subjek memiliki pekerjaan
lain. Kerokan mukosa hidung dilakukan pada lingkungan terbuka (outdoor).
menggunakan rhinoprobe pada konka
inferior, selanjutnya dioleskan di atas kaca Perubahan kualitas hidup pasien RA
objek dan dicelupkan ke dalam alkohol 70% persisten kategori sedang-berat sebelum
untuk fiksasi dan diperiksa hitung eosinofil. dan dua minggu setelah terapi dievaluasi
Pengambilan darah subjek penelitian untuk menggunakan nilai minimal important
pemeriksaan kadar IL-5. Setelah menjalani difference (MID). Apabila nilai MID>0,7
pemeriksaan, subjek penelitian diberikan maka subjek mengalami perubahan
terapi steroid topikal hidung (fluticasone bermakna pada kualitas hidupnya dan
furoate 110 g/hari) dan antihistamin bila nilai MID <0,7 maka perubahan
(cetirizine 10 mg/hari) selama 2 minggu. kualitas hidup subjek dianggap tidak
Pada akhir terapi, subjek penelitian mengisi bermakna. Sebagian besar subjek penelitian
kembali kuesioner Mini RQLQ, dan menjalani mengalami perubahan kualitas hidup, yaitu
lagi pemeriksaan kerokan mukosa hidung dan sebanyak 31 subjek mengalami perubahan

124
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

kualitas hidup secara bermakna dan 2 seluruh subjek penelitian yang berjumlah 33.
subjek lainnya mengalami perubahan
Perubahan kadar IL-5 dikatakan
kualitas hidup yang tidak bermakna.
responsif bila setelah terapi 2 minggu
Perubahan hitung eosinofil mukosa didapatkan kadar IL-5 lebih rendah
hidung dikatakan responsif bila setelah terapi dibandingkan kadar sebelum terapi dan kadar
selama 2 minggu tidak ditemukan eosinofil IL-5 dikatakan tidak responsif bila setelah
pada pemeriksaan kerokan mukosa hidung terapi 2 minggu didapatkan kadar IL-5
dan perubahan dikatakan tidak responsif menjadi lebih tinggi dibandingkan kadar
bila masih ditemukan eosinofil pada sebelum terapi. Pada penelitian ini, dari 33
pemeriksaan kerokan mukosa hidung dari subjek penelitian, didapatkan sebanyak 30
setiap subjek penelitian. Pada penelitian ini, subjek yang responsif terhadap terapi yang
didapatkan perubahan yang responsif dari dilakukan selama 2 minggu dan yang tidak
jumlah eosinofil mukosa hidung terhadap responsif terhadap terapi sebanyak 3 subjek.

Tabel 1. Perubahan kualitas hidup pasien, jumlah eosinofil mukosa hidung dan kadar IL 5 pasien RA
persisten sedang berat sebelum dan setelah terapi
Variabel n
Perubahan skor Mini RQLQ
Bermakna 31
Tidak bermakna 2
Perubahan jumlah eosinofil
Responsif 33
Tidak responsif 0
Perubahan kadar IL 5
Responsif 30
Tidak responsif 3

Tabel 2. Hubungan perubahan kualitas hidup pasien RA persisten sedang berat dan perubahan kadar IL-5
serum (*uji chi square)

Kualitas hidup
Bermakna Tidak bermakna Total p*
IL 5 Responsif 28 2 30
Non responsif 3 0 3 0,645
Total 31 2 33

Tabel 2 menunjukkan hasil analisis Dua subjek dengan perubahan kualitas


bivariat untuk mencari hubungan kualitas hidup yg tidak bermakna memperlihatkan
hidup pasien RA persisten sedang-berat perubahan IL-5 serum yang responsif.
dengan kadar IL-5 serum. Dari 31 subjek Secara statistik tidak didapatkan hubungan
yang mengalami perubahan kualitas hidup yang bermakna antara perubahan kualitas
yang bermakna, sebanyak 28 subjek hidup dan perubahan kadar IL-5 (uji chi-
memperlihatkan perubahan kadar IL-5 square, p>0,05).
serum yang responsif dan 3 subjek dengan
kadar IL-5 non responsif.

125
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

DISKUSI oleh Juniper et al12 yang menyebutkan bahwa


Pada penelitian ini didapatkan rerata
kuesioner Mini RQLQ memiliki reliabilitas
usia seluruh subjek penelitian adalah 32,55 yang baik untuk menilai kualitas hidup pada
tahun. Subjek penelitian terdiri dari 14 100 pasien dengan RA, yang dilihat dari
orang laki-laki dan 19 orang perempuan. nilai MID >0,7, stabil pada 83 pasien selama
Berdasarkan penelitian dari Valero et al,19 kunjungan 5 minggu berturut-turut. Valero
mengenai kualitas hidup pada pasien RA et al19 pada penelitiannya menggunakan
menggunakan kuesioner Mini RQLQ, kuesioner Mini RQLQ, menyebutkan bahwa
menemukan bahwa sekitar 62% dari 400 dari 400 pasien RA yang diteliti, sebanyak
subjek penelitiannya adalah perempuan. 59% pasien juga memiliki MID >0,7.
Bachert20 dalam penelitiannya mengenai Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa
prevalensi RA pada populasi di Belgia yang kuesioner Mini RQLQ adalah kuesioner yang
sampelnya diambil secara repesentatif, juga baik untuk menilai kualitas hidup penderita
mendapatkan sebanyak 52,2% dari 4959 RA khususnya RA persisten sedang-berat.
subjek penelitiannya adalah perempuan. Dua subjek yang mengalami perubahan
Rerata usia pasien dengan RA persisten tidak bermakna pada saat kontrol ternyata
sedang-berat pada penelitian Valero et al19 diketahui memakai obat tidak teratur dan
adalah 32,3 tahun. Gejala rinitis akan menjadi melaksanakan kontol lingkungan sesuai
ringan seiring dengan bertambahnya usia.1 arahan. Hal ini menyebabkan keluhan masih
Nathan et al21 dalam penelitiannya juga dirasakan.
mengatakan bahwa prevalensi RA didapatkan
Rinitis alergi secara nyata memengaruhi
tertinggi pada usia 18 sampai 49 tahun dan
kualitas hidup, kinerja, belajar dan
menurun setelah usia 50 tahun. Hal ini dapat
produktivitas pasien. Derajat penyakit
menjadi salah satu penyebab RA persisten
ternyata memiliki efek yang lebih relevan
sedang-berat dalam penelitian ini ditemukan
pada kualitas hidup pasien dengan RA
pada usia muda. Pekerjaan subjek pada
dibandingkan durasi gejala klinis, yang
penelitian ini dikategorikan menjadi dua
berdampak terhadap kualitas tidur dan
yaitu indoor dan outdoor. Subjek penelitian
kinerja.23
hampir semuanya memiliki pekerjaan pada
lingkungan di dalam ruangan (indoor), Hasil dari banyak penelitian yang
yaitu dari 33 subjek penelitian, sebanyak mengkombinasikan steroid intranasal
32 bekerja pada lingkungan indoor dan 1 dengan antihistamin oral menunjukkan
subjek penelitian bekerja pada lingkungan keuntungan yang tidak signifikan
di luar ruangan (outdoor). Sebagian besar dibandingkan dengan terapi tunggal dengan
dari populasi penduduk di negara barat steroid intranasal topikal pada perbaikan
menghabiskan waktunya di dalam ruangan.1 total nasal symptom score (TNSS) dan
total symptom score (TSS). Sebagai contoh
Penelitian ini melihat perubahan kualitas
penelitian multisenter, secara acak, double-
hidup dengan menggunakan kuesioner Mini
blind, kontrol plasebo terhadap 702 pasien
RQLQ, yang dinilai dari skor MID, pada
selama 15 hari, dengan menambahkan
pasien RA persisten sedang-berat sebelum
loratadine ke semprot hidung mometasone
dan 2 minggu setelah diobati. Dari 33 subjek
furoate memberikan keuntungan yang tidak
penelitian, sebanyak 31 subjek mengalami
signifikan dibandingkan terapi tunggal
perubahan yang bermakna dan 2 subjek
semprot hidung mometasone furoate untuk
lainnya mengalami perubahan kualitas
gejala RA musiman. Bagaimanapun, pada
hidup yang tidak bermakna. Hasil penelitian
penelitian 95 pasien dengan RA, semprot
ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
hidung mometasone furoate ditambah

126
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

desloratadine atau montelukast menunjukkan hidup eosinofil. Hal tersebut sesuai dengan
perbaikan yang signifikan pada skor TNSS hasil penelitian ini yang seluruh subjek
dibandingkan terapi tunggal semprot hidung penelitiannya mengalami perubahan jumlah
mometasone furoate.24 eosinofil yang responsif terhadap terapi RA
selama 2 minggu.
Seluruh subjek pada penelitian ini
mengalami perubahan jumlah eosinofil yang WHO-ARIA merekomendasi anti-
responsif. Dari literatur yang ada, belum histamin terbaru yang bersifat non-sedatif
terdapat penelitian yang menilai perubahan dan memiliki efek anti inflamasi untuk
jumlah eosinofil mukosa hidung sebelum dan tata laksana RA.1 Efek Cetirizine terhadap
dua minggu setelah terapi dengan metode eosinofil pasien RA diteliti secara in vitro
kerokan menggunakan rhinoprobe pada oleh Sedgwick dan Busse.27 Penelitian
pasien RA persisten sedang-berat. Beberapa tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi
literatur yang ada, di antaranya penelitian cetirizine 100 mol/l secara signifikan
yang dilakukan oleh Ahmadiashfar et al8 menghambat masa hidup eosinofil pada 48
menyebutkan pada 50 pasien RA, terdapat jam (p=0,0201) dan 72 jam (p=0,0025).
37 pasien yang hasil usap hidungnya Efek ini tidak terjadi pada konsentrasi
diidentifikasi positif terdapat eosinofil. cetirizine<100 mol/l, yang lebih besar dari
Penelitian tersebut mengatakan bahwa kadar di jaringan yang dicapai dengan dosis
eosinofil adalah sel efektor utama yang klinis.
terlibat dalam inflamasi akibat alergi.
Sebanyak 30 dari 33 subjek pada
Satu penelitian menemukan bahwa penelitian ini didapati kadar IL-5 responsif
masa hidup eosinofil dipengaruhi kondisi terhadap terapi yang diberikan selama 2
media seperti epitel mukosa hidung. Semprot minggu dan 3 subjek penelitian mengalami
hidung mometasone furoate dikombinasikan perubahan yang tidak responsif. Penelitian
dengan desloratadine menghambat masa oleh Liu et al25 mengemukakan bahwa kadar
hidup eosinofil lebih signifikan dibanding IL-5 serum pada kelompok pasien dengan RA
dengan terapi tunggal (p<0,01).24 persisten berat meningkat secara signifikan
bila dibandingkan dengan kelompok
Penelitian lain oleh Liu et al25
kontrol. Menurut penelitian yang dilakukan
mengemukakan bahwa hitung eosinofil
oleh Mostafa et al,28 fluticasone furoate
pada kelompok pasien dengan RA
efektif untuk menurunkan jumlah eosinofil
persisten berat meningkat secara signifikan
dan kadar IL-5 yang diperiksa dari biopsi
bila dibandingkan dengan kelompok
mukosa konka inferior pasien RA, sebelum
kontrol. DCosta et al18 mengatakan pada
dan setelah pengobatan selama 1, 6, dan 12
penelitiannya bahwa jumlah eosinofil dari
bulan. IL-5 meningkat pada bilasan hidung
kerokan mukosa hidung lebih tinggi pada
pasien dengan alergi terhadap tungau debu
kelompok anak dengan RA persisten sedang-
rumah, dan jumlah dari sitokin ini menurun
berat bila dibandingkan dengan kelompok
setelah pemberian glukokortikosteroid
kontrol. Pada penelitian yang dilakukan oleh
intranasal.1 Sebanyak 3 subjek penelitian
Mullol et al26 yang menggunakan model in
yang mengalami perubahan tidak responsif
vitro berupa spesimen mukosa hidung pasien
setelah 2 minggu terapi dapat diakibatkan
yang menjalani koreksi septum, hipertrofi
oleh berbagai faktor seperti memakai obat
konka atau keduanya, menyebutkan bahwa
tidak teratur, tidak melaksanakan kontol
efek anti inflamasi dari fluticasone furoate
lingkungan sesuai arahan, serta waktu follow
dapat menurunkan sekresi sitokin pro
up dari penelitian ini yang hanya 2 minggu.
inflamasi dari sel epitel mukosa hidung
manusia dan menurunkan kelangsungan

127
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

Penelitian ini menemukan tidak ada hari. Selain itu, perubahan hitung eosinofil
hubungan bermakna antara kualitas hidup mukosa hidung dan kadar IL-5 serum juga
pasien RA persisten sedang-berat dengan merupakan penanda objektif keberhasilan
kadar IL-5 (p=0,645). Penelitian yang terapi yang terutama digunakan untuk
dilakukan oleh Segundo et al29 melaporkan kepentingan riset.
bahwa didapatkan perbaikan keluhan pada
seluruh subjek penelitian, yaitu sebanyak
24 subjek RA, yang dibagi ke dalam 3 DAFTAR PUSTAKA
kelompok pengobatan (montelukast 5 1. Bousquet J, Khaltaev N, Cruz A, Denburg
mg, oral, satu hari sekali; mometasone J, Fokkens W, Togias A, et al. Allergic
furoat intranasal, 50 g, satu hari sekali; Rhinitis and its impact on asthma (ARIA)
atau desloratadine, 5 mg, satu hari sekali). 2008 update (in collaboration with the
Dilakukan pemeriksaan IL-5 dari bilasan World Health Organization, GA(2)LEN and
hidung dan didapatkan penurunan kadar IL-5 AllerGen). Allergy. 2008; 8-160 p.
pada kelompok yang diberikan mometasone
2. Stewart M, Ferguson B, Fromer L.
dibandingkan sebelum terapi, namun tidak
Epidemiology and burden of nasal congestion.
didapatkan perubahan kadar IL-5 pada International Journal of General Medicine.
kelompok montelukast atau desloratadine 2010;3:37-45.
sebelum dan setelah terapi. Pada penelitian
yang dilakukan oleh Segundo et al,29 seluruh 3. Bachau V, Durham SR. Prevalence and rate
subjek mengalami perbaikan keluhan namun of diagnosis of allergic rhinitis in Europe.
terdapat perbedaan dari perubahan kadar The European respiratory journal: official
IL-5 ketiga kelompok dan tidak dilakukan journal of the European Society for Clinical
penilaian secara statistik mengenai hubungan Respiratory Physiology. 2004;24(5):758-64.
perubahan kualitas hidup berdasarkan
4. Suprihati. Manajemen Pilek Alergi
keluhan dengan kadar IL-5.
Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Hidup.
Penggunaan mometasone furoat dan Semarang: Universitas Diponegoro; 2011.
fluticasone propionat selama 12 bulan
menunjukkan tidak ada bukti atrofi atau 5. Greiner AN, Hellings PW, Rotiroti G,
metaplasia. Scadding GK. Allergic rhinitis. Lancet. 2011;
378(9809):2112-22
Keterbatasan penelitian ini antara lain
alat untuk melakukan kerokan mukosa 6. Adamko DJ, Wu Y, Ajamian F, Ilarraza R,
hidung yaitu rhinoprobe sulit didapatkan Moqbel R, Gleich GJ. The effect of cationic
karena hanya bisa dibeli langsung di charge on release of eosinophil mediators. The
Amerika dan digunakan untuk kebutuhan Journal of allergy and clinical immunology.
penelitian. Diharapkan dilakukan penelitian 2008;122(2):383-90.
dengan waktu follow up yang lebih panjang
7. Egan R, Umland S, Cuss F, Chapman W.
agar didapatkan perubahan jumlah eosinofil
Biology of interkeukin-5 and its relevance to
mukosa hidung dan kadar IL-5 yang lebih
allergic disease. Allergy. 1996;51:71-81.
representatif.
Sebagai kesimpulan, perubahan 8. Ahmadiafshar A, Taghiloo D, Esmailzadeh
kualitas hidup penderita rinitis alergi setelah A, Falakaflaki B. Nasal eosinophilia as a
terapi, dengan menggunakan kuesioner marker for allergic rhinitis: A controlled study
of 50 patients. Ear, Nose & Throat Journal.
Mini RQLQ, dapat dipakai sebagai penanda
2012;91(3):122-4.
objektif keberhasilan farmakoterapi yang
dapat dipakai dalam praktik klinis sehari-

128
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

9. Wikipedia. Allergic rhinitis. [cited 2013 9]; 19. Valero A, Alonso J, Antepara I, Baro E, Cols
Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/ C, Cuvillo Ad, et al. Health-related quality
Allergic_rhinitis. of life in allergic rhinitis: comparing the
short form ESPRINT-15 and Mini RQLQ
10. Tripathi A, Patterson R. Impact of allergic questionnaires. Allergy. 2007;62(12):1372-8.
rhinitis treatment on quality of life.
Pharmacoeconomics. 2001;19(9):891-9. 20. Bachert C, Cauwenberge P, Olbrecht J, Schoor
J. Prevalence, classification and perception of
11. Skoner DP. Allergic rhinitis: definition, allergic and nonallergic rhinitis in Belgium.
epidemiology, patophysiology, detection, and Allergy. 2006;61(6):693-8.
diagnosis. The Journal of allergy and clinical
immunology. 2001;108(1):S2-8. 21. Nathan RA, Meltzer EO, Seiner JC, Storms
W. Prevalence of allergic rhinitis in the United
12. Juniper EF, Thompson AK, Ferrie PJ, States. The Journal of Allergy and Clinical
Roberts JN. Development and validation Immunology. 1997;99(6):S808-S814.
of the Mini Rhinoconjunctivitis Quality
of Life Questionnaire. Clinical allergy. 22. Nathan R. The pathophysiology, clinical
2000;30(1):132-40. impact, and management of nasal congestion
in allergic Rhinitis. Clinical Therapeutics.
13. Djauzi S, Karjadi T. Perbaikan kualitas hidup 2008;30(4):573-86.
pada karyawan penderita alergi. Cermin
Dunia Kedokteran. 2004;142:15-8. 23. Mabry R. Allergic Rhinosinusitis. In:
Bailey B, editor. Head and Neck Surgery-
14. Hilger P. Hidung: Anatomi dan fisiologi Otolaryngology. 3 rd ed. Philadelphia:
terapan. In: Adams G, Boeis L, Higler P, Lippincott-Raven; 2001. p. 281-91.
editors. Buku ajar penyakit THT. Jakarta:
Penerbit buku kedokteran EGC, 1997. p.173- 24. Meltzer E. Pharmacotherapeutic strategies
89. for allergic rhinitis: Matching treatment
to symptoms, disease progression, and
15. Krouse J. Allergic and Nonallergic Rhinitis. associated conditions. Allergy and asthma
In: BJ BB, Johnson J, Newlands S, editors. proceedings: the official journal of regional
Head & Neck Surgery Otolaryngology. and state allergy societies. 2013;34(4):301-
Fourth ed. Philadelphia 2006. p. 351-63. 11.

16. Juniper EF, Guyatt GH, Griffith LE, Ferrie PJ. 25. Liu F, Zhang J, Liu Y, Zhang N, Holtappels
Interpretation of rhinoconjunctivitis quality of G, Lin P, et al. Inflammatory profiles in
life questionnaire data. The Journal of allergy nasal mucosa of patients with persistent
and clinical immunology. 1996;98(4):843-5. vs intermittent allergic rhinitis. Allergy.
2010;65(9):1149-57.
17. Juniper EF, Thompson AK, Ferrie PJ, Roberts
JN. Validation of the standardized version 26. Mullol J, Pujols L, Alobid I, Perez-Gonzalez
of the Rhinoconjunctivitis Quality of Life M, Fuentes M,de Borje Callejas F, et
Questionnaire. The Journal of allergy and al. Fluticasone furoate inhibits cytokine
clinical immunology. 1999;104(2):364-9. secretion from nasal epithelial cells and
reduces eosinophil survival in an in vitro
18. Dcosta G, Candes A, Shedge R. Quantitative model of eosinophilic inflammation.
cytology of nasal secretion and scrapings International archives of allergy and immunol.
in children with perennial allergic rhinitis. 2014;163(3):225-33.
Bombay Hospital Journal. 2009;51(4):422-6.

129
ORLI Vol. 45 No. 2 Tahun 2015 Kualitas hidup, eosinofil, IL-5 serum pada rinitis alergi

27. Sedgwick JB, Busse WW. Inhibitory effect 29. Segundo GR, Gomes FA, Fernandes KP,
of cetirizine on cytokine-enhanced in vitro Alves R, Silva DA, Taketomi EA. Local
eosinophil survival. Annals of allergy. cytokines and clinical symptoms in children
1997;78(6):581-5. with allergic rhinitis after different treatments.
Biologics. 2009;3:469-74.
28. Mostafa HS, Fawzy TO, Ayad E, Soliman
A A . E ff e c t o f a p r o l o n g e d t o p i c a l
glucocorticosteroid on interleukin-5
production and eosinophilic recruitment in the
nasal submucosal compartment. The Egyptian
Journal of Otolaryngology. 2013;29:151-155.

130