Anda di halaman 1dari 19

PORTOFOLIO

HERPES ZOSTER OFTALMIKUS DEXTRA

Disusun oleh :
dr. Vashti Resti Putri Firdaus

Pendamping :
dr. Suriyati, MKKK

PUSKESMAS SEI PANCUR


KOTA BATAM
2017

0
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal ........................................................... telah dipresentasikan oleh:

Nama Peserta : dr. Vashti Resti Putri Firdaus

Dengan Judul/Topik : Herpes Zoster Oftalmikus Dextra

Nama Pendamping : dr. Suriyati, MKKK

Lokasi Wahana : Puskesmas Sei Pancur - Batam

No. Nama Peserta Presentasi Tanda Tangan

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

(dr. Suriyati, MKKK)

1
PORTOFOLIO

Nama Peserta : dr. Vashti Resti Putri Firdaus


Nama Wahana : Puskesmas Sei Pancur
Topik : Herpes Zoster Oftalmikus Dextra
Tanggal (kasus) : 22 Desember 2016
Nama Pasien : Muh. Anwar No RM : 6583
Tanggal Presentasi : Nama Pendamping : dr. Suriyati, MKKK
Tempat Presentasi : Puskesmas Sei Pancur
Objektif Presentasi : Diagnosis dan tatalaksana Herpes Zoster
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonates Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi Tn. Muh. Anwar usia 40 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan
muncul bercak kemerahan dengan bintil berair di dahi kanannya sejak 1
hari yang lalu
Tujuan Mengetahui penegakan diagnosis yang tepat
Mengetahui penatalaksanaan Herpes Zoster secara tepat
Bahan bahasan Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas Diskusi Presentasi dan Email Pos
diskusi

Data pasien Nama : Tn. Muh. Anwar No registrasi :


Nama klinik : Polikinik Umum Puskesmas Telp : - Terdaftar sejak : -
Sei Pancur
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis :Herpes Zoster Oftalmikus Dextra
2. Gambaran Klinis:
Keluhan Utama : Muncul bercak kemerahan dengan bintil berair di dahi kanan sejak 1
hari sebelum masuk PKM.
Keluhan Tambahan : Awalnya di bagian dahi kanan terasa panas dan nyeri sejak 2 hari
yang lalu, kemudian kulit di dahi kanan mulai tampak merah dan muncul bintil-bintil
berair diatasnya sejak 1 hari yang lalu. Pasien tidak ada mengeluhkan demam, hanya saja

2
mengalami sakit kepala sejak 2 hari yang lalu dan merasa kurang enak badan sejak 2 hari
yang lalu. Pasien tidak ada mengeluhkan penurunan penglihatan. Keluhan ini baru
diderita pasien pertama kali dan pasien mengaku pernah mengalami sakit cacar air
sewaktu kecil.
3. Riwayat pengobatan : Keluhan pasien ini belum diobati
4. Riwayat kesehatan/penyakit : Cacar air sewaktu kecil.
Pemeriksaan fisik :
TD : 120/80 mmHg N: 88 x/menit RR: 20 x/menit S: 37,8 C
5. Riwayat keluarga : Tidak ada yang menderita penyakit seperti pasien
6. Riwayat pekerjaan: Swasta PT
7. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (rumah, lingkungan, pekerjaan) : Cukup baik

Hasil Pembelajaran
1. Diagnosis Herpes Zoster Oftalmikus Dextra
2. Memilih terapi yang tepat sesuai panduan dalam menangani Herpes Zoster
3. Mengedukasi pasien untuk perubahan cara hidup dan hal-hal yang dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya Herpes Zoster

1. Subyektif
Seorang laki-laki berusia 40 tahun datang dengan keluhan utama muncul bercak
kemerahan dengan bintil berair di dahi kanan sejak 1 hari sebelum masuk PKM.
Awalnya di bagian dahi kanan terasa panas dan nyeri sejak 2 hari yang lalu, kemudian
kulit di dahi kanan mulai tampak merah dan muncul bintil-bintil berair diatasnya sejak 1
hari yang lalu. Pasien tidak ada mengeluhkan demam, hanya saja mengalami sakit kepala
sejak 2 hari yang lalu dan merasa kurang enak badan sejak 2 hari yang lalu. Pasien tidak
ada mengeluhkan penurunan penglihatan. Keluhan ini baru diderita pasien pertama kali
dan pasien mengaku pernah mengalami sakit cacar air sewaktu kecil.
2. Obyektif
Pemeriksaan fisik
KU/Kes : tampak sakit sedang/Compos mentis
Vital sign
- TD : 120/80 mmHg
- Nafas : 20 x/menit
- Suhu : 37,8 C (per axiler)

3
- Nadi : 88x/menit, regular
Pemeriksaan Fisik:
Status Generalisata :
- Kepala : tampak vesikel di atas dasar eritem di dahi kanan hingga kelopak mata
kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
- Dada : Suara pernafasan vesikuler, simetris. Suara jantung reguler, murmur -.
- Abdomen : Datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal.
- Ekstremitas : tidak dijumpai oedem, tidak dijumpai sianosis, CRT<2
Status Dermatologikus : Terdapat vesikel berkelompok diatas kulit yang eritem pada
regio frontalis kanan hingga palbera atas kanan.

4
3. Assessment

Diagnosis: Herpes Zoster Oftalmikus Dextra

Tinjauan pustaka
Definisi
Herpes zoster merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh Virus Varisela Zoster,
virus yang sama menyebabkan varisela (chicken pox). Virus ini termasuk dalam famili Herpes
viridae, seperti Herpes Simplex, Epstein Barr Virus, dan Cytomegalovirus.1
Herpes Zoster Oftalmikus (HZO) merupakan hasil reaktivasi dari Varisela Zoster Virus
(VZV) pada Nervus Trigeminal (N.V). Semua cabang dari nervus tersebut bisa terpengaruh, dan
cabang frontal divisi pertama N.V merupakan yang paling umum terlibat. Cabang ini
menginervasi hampir semua struktur okular dan periokular.1
Blefarokonjungtivitis pada HZO ditandai dengan hiperemis dan konjungtivitis infiltratif
disertai dengan erupsi vesikuler yang khas sepanjang penyebaran dermatom N.V cabang
5
oftalmikus. Konjungtivitis biasanya papiler, tetapi pernah ditemukan folikel, pseudomembran,
dan vesikel temporer, yang kemudian berulserasi. Lesi palpebra mirip lesi kulit di tempat lain,
bisa timbul di tepi palpebra ataupun palpebra secara keseluruhan, dan sering menimbulkan
parut.2
Lesi kornea pada HZO sering disertai keratouveitis yang bervariasi beratnya, sesuai
dengan status kekebalan pasien. Keratouveitis pada anak umumnya tergolong jinak, pada orang
dewasa tergolong penyakit berat, dan kadang-kadang berakibat kebutaan.2

Gambar Herpes Zoster Oftalmika

Etiologi
Herpes zoster disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster yang laten di dalam
ganglion posterior atau ganglion intrakranial. Virus dibawa melalui saraf sensori ke tepi ganglia
spinal atau ganglia trigeminal kemudian menjadi laten. Varicella zoster, yaitu suatu virus rantai
ganda DNA anggota famili virus herpes yang tergolong virus neuropatik atau
neurodermatotropik. Reaktivasi virus varicella zoster dipicu oleh berbagai macam rangsangan
seperti pembedahan, penyinaran, penderita lanjut usia, dan keadaan tubuh yang lemah meliputi
malnutrisi, seorang yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka panjang, atau
menderita penyakit sistemik. Apabila terdapat rangsangan tersebut, virus varicella zoster aktif
kembali dan terjadi ganglionitis. Virus tersebut bergerak melewati saraf sensorik menuju ujung-
ujung saraf pada kulit atau mukosa mulut dan mata, dan mengadakan replikasi setempat dengan
membentuk sekumpulan vesikel.2,3,4

Morfologi
Menurut Morfologi Herpes Zoster, dapat berbiak dalam bahan jaringan embrional
manusia. Virus yang infektif mudah dipindahkan oleh sel-sel yang sakit. Virus ini tidak berbiak
dalam binatang laboratorium. Pada cairan dalam vesikel penderita, virus ini juga dapat
ditemukan. Antibodi yang dibentuk tubuh terhadap virus ini dapat diukur dengan tes ikatan

6
komplemen, presipitasi gel, netralisasi atau imunofluoresensi tidak langsung terhadap antigen
selaput yang disebabkan oleh virus.5

Epidemiologi
Penyebarannya sama seperti varisela. Penyakit ini, seperti yang diterangkan dalam
definisi, merupakan reaktivasi virus yang terjadi setelah penderita mendapat varisela. Kadang-
kadang varisela ini berlangsung subklinis. Tetapi ada pendapat yang menyatakan kemungkinan
transmisi virus secara aerogen dari pasien yang sedang menderita varisela atau herpes zoster.5

Insidensi
Insidensi herpers zoster terjadi pada 20 % populasi dunia dan 10 % diantaranya adalah
herpes zoster oftalmikus.2

Faktor predisposisi
Faktor predisposisi timbulnya herpes zoster oftalmikus ini terbagi dua yaitu faktor kondisi
penurunan dan faktor reaktivasi. Pada kondisi penurunan imun, diantaranya adalah usia tua,
HIV, kanker dengan penggunaan kemoterapi, penggunaan steroid lama. Sedangkan pada faktor
reaktivasi adalah trauma lokal, demam, sinar UV, udara dingin, penyakit sistemik, stres dan
emosi. Faktor predisposisi tidak selalu memunculkan gejala kembali, namun hanya
meningkatkan peluang terjadinya herpes zoster oftalmika ini.6

Patogenesis
Virus ini berdiam di ganglion posterior susunan saraf tepi dan ganglion kraniali. Kelainan
kulit yang timbul memberikan lokasi yang setingkat dengan daerah persarafan dang ganglion
tersebut. Kadang-kadang virus ini juga menyerang ganglion anterior, bagian motorik kranialis
sehingga memberikan gejala-gejala gangguan motorik.5,6
Seperti herpes virus lainnya, VZV (varicella zoster virus) menyebabkan infeksi primer
(varisela/cacar air) dan sebagian lagi bersifat laten, dan ada kalanya diikuti dengan penyakit
yang rekuren di kemudian hari (zoster/shingles). Infeksi primer VZV menular ketika kontak
langsung dengan lesi kulit VZV atau sekresi pernapasan melalui droplet udara. Infeksi VZV
biasanya merupakan infeksi yang self-limited pada anak-anak, dan jarang terjadi dalam waktu
yang lama, sedangkan pada orang dewasa atau imunosupresif bisa berakibat fatal. 5,6
Pada anak-anak, infeksi VZV ini ditandai dengan adanya demam, malaise, dermatitis
vesikuler selama 7-10 hari, kecuali pada infeksi primer yang mengenai mata (berupa vesikel
7
kelopak mata dan konjungtivitis vesikuler). VZV laten mengenai ganglion saraf dan rata-rata 20
% terinfeksi dan bereaktivasi di kemudian hari. HZO timbul akibat infeksi N.V1. Kondisi ini
akibat reaktivasi VZV yang diperoleh selama masa anak-anak.5,6
Varisela zoster adalah virus DNA yang termasuk dalam famili Herpes viridae. Selama
infeksi, virus varisela berreplikasi secara efisien dalam sel ganglion. Bagaimanapun, jumlah
VZV yang laten per sel terlalu sedikit untuk menentukan tipe sel apa yang terkena. Imunitas
spesifik sel mediated VZV bertindak untuk membatasi penyebaran virus dalam ganglion dan ke
kulit.5

Gambar : Patogenesis virus dalam sel target penderita.


Kerusakan jaringan yang terlihat pada wajah disebabkan oleh infeksi yang menghasilkan
inflamasi kronik dan iskemik pembuluh darah pada cabang N. V. Hal ini terjadi sebagai respon
langsung terhadap invasi virus pada berbagai jaringan. Walaupun sulit dimengerti, penyebaran
dermatom pada N. V dan daerah torak paling banyak terkena.6,7
Tanda-tanda dan gejala HZO terjadi ketika N.V1 diserang virus, dan akhirnya akan
mengakibatkan ruam, vesikel pada ujung hidung (dikenal sebagai tanda Hutchinson), yang
merupakan indikasi untuk resiko lebih tinggi terkena gannguan penglihatan. Dalam suatu studi,
76% pasien dengan tanda Hutchinson mempunyai gangguan penglihatan.

8
Gambar : Tanda Hutchinson

Manifestasi klinik
Biasanya penderita herpes zoster oftalmik pernah mengalami penyakit varisela beberapa
waktu sebelumnya. Dapat terjadi demam atau malaise dan rasa nyeri yang biasanya berkurang
setelah timbulnya erupsi kulit, tetapi rasa nyeri ini kadang-kadang dapt berlangung berbulan-
bulan bahkan bertahun-tahun.Lesi Herpes zoster dapat mengenai seluruh kulit tubuh maupun
membran mukosa. Herpes zoster biasanya diawali dengan gejala-gejala prodromal selama 2-4
hari, yaitu rasa gatal, sakit yang menusuk, parastesi dan gejala-gejala terbakar serta sensitivitas
muncul di sepanjang lintasan syaraf yang terkena. 7,8
Pada awal terjadinya infeksi, seseorang akan mengalami fase prodromal dengan gejala-
gejala seperti nyeri lateral sampai mengenai mata, demam, malaise, sakit kepala, serta kaku
kuduk. Gejala-gejala di atas terjadi pada 5 % penderita, terutama pada anak-anak, dan timbul 1 -
2 hari sebelum terjadi erupsi. Kemudian disusul gejala yang timbul yaitu masa erupsi. Akan
timbul gejala dermatitis, nyeri pada mata, lakrimasi, perubahan visus, mata merah unilateral, dan
bisa terjadi defek pada seluruh bagian mata tergantung beratnya infeksi. Gejala tersebut muncul
secara spesifik. Berikut akan dijabarkan organ-organ yang spesifik timbul fase erupsi karena
infeksi Herpes zoster. 5,6
1. Kulit
Herpes zoster dikarakteristik oleh sakit dan sensasi lokal kulit lain (seperti terbakar,
geli, dan gatal), sakit kepala, tidak enak badan dan (paling sering) demam, biasanya muncul
ruam zoster (23 hari). Ruam menyebar ke seluruh kulit yang terkena, berkembang menjadi
papula, vesikel (3-5 hari) dan tahap krusta (7-10 hari), memerlukan 2-4 minggu untuk
sembuh. Lesi baru berlanjut muncul untuk beberapa hari. Kelainan kulit hanya setempat dan
hanya mengenai sebelah bagian tubuh saja, yaitu terbatas hanya pada daerah kulit yang
9
dipersyarafi oleh satu syaraf sensorik. Syaraf yang paling sering terkena adalah C3, T5, L1,
dan L2, dan syaraf trigeminal.1,4

Gambar : Ruam Kulit pada Herpes Zoster Ophtalmicus


2. Rongga Mulut
Sebelum lesi di rongga mulut muncul, pasien akan mengeluhkan rasa nyeri yang
hebat, kadang-kadang rasa sakitnya seperti rasa sakit pulpitis sehingga sering salah diagnosa.
Lesi diawali oleh vesikel unilateral yang kemudian dengan cepat pecah membentuk erosi
atau ulserasi dengan bentuk yang tidak teratur. Pada mukosa rongga mulut, vesikel hanya
terdapat pada satu dari divisi nervus trigeminus. Vesikel unilateral tersebut dikelompokkan
dengan area sekitar eritema, akhiran yang kasar pada midline. Vesikel bernanah dan bentuk
pustula selama 3 sampai 4 hari. Apabila cabang kedua dan ketiga nervus trigeminal terlibat,
maka akan muncul lesi-lesi di rongga mulut secara unilateral. Jika cabang kedua (nervus
maksilaris) terlibat maka lokasi yang dikenai adalah palatum, bibir dan mukosa bibir atas.
Jika cabang ketiga (nervus mandibula) terlibat, lokasi yang dikenai adalah lidah, mukosa
pipi, bibir dan mukosa bibir bawah. Lesi-lesi intraoral adalah vesikuler dan ulseratif dengan
tepi meradang dan merah sekali. Perdarahan adalah biasa. Bibir, lidah, dan mukosa pipi
dapat terkena lesi ulseratif unilateral jika mengenai cabang mandibuler dari saraf trigeminus.
Keterlibatan divisi kedua dari saraf trigeminus secara khas akan mengakibatkan ulserasi
palatum unilateral yang meluas ke atas, tetapi tidak keluar dari raphe palatum.1,4,8

10
Gambar Ruam Herpes Zoster di Rongga Mulut
Kelainan mata berupa bercak-bercak atau bintik-bintik putih kecil yang tersebar di
epitel kornea yang dengan cepat sekali melibatkan stroma. Bila infeksi mengenai jaringan
mata yang lebih dalam dapt menimbulkan iridosiklitis disertai sinekia iris serta menimbulkan
glaucoma sekunder. Komplikasi lain adalah paresis otot penggerak mata serta neurirtis
optic. 2,4,5
3. Mata
a. Palpebra
HZO sering mengenai kelopak mata. Hal ini ditandai dengan adanya
pembengkakan kelopak mata, dan akhirnya timbul radang kelopak, yang disebut
blefaritis, dan bisa timbul ptosis. Kebanyakan pasien akan memiliki lesi vesikuler
pada kelopak mata, ptosis, disertai edema dan inflamasi. Lesi pada palpebra mirip
lesi kulit di tempat lain.8

11
Gambar : Ruam pada infeksi Herpes Zoster
b. Konjungtiva
Konjungtivitis adalah salah satu komplikasi terbanyak pada HZO. Pada
konjungtiva sering terdapat injeksi konjungtiva dan edema, dan kadang disertai
timbulnya petechie. Ini biasanya terjadi 1 minggu. Infeksi sekunder akibat S.
aureus bisa berkembang di kemudian hari. 8
c. Sklera
Skleritis atau episkleritis mungkin berupa nodul atau difus yang biasa menetap
selama beberapa bulan. 8
d. Kornea
Komplikasi kornea kira-kira 65 % dari kasus HZO. Lesi pada kornea
sering disertai dengan keratouveitis yang bervariasi beratnya sesuai dengan
kekebalan tubuh pasien. Komplikasi pada kornea bisa berakibat kehilangan
penglihatan secara signifikan. Gejalanya adalah nyeri, fotosensitif, dan gangguan
visus. Hal ini terjadi jika terdapat erupsi kulit di daerah yang disarafi cabang-
cabang N. nasosiliaris.7
Berbeda dengan keratitis pada HSV yang bersifat rekuren dan biasanya
hanya mengenai epitel, keratitis HZV mengenai stroma dan uvea anterior pada
awalnya, lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang-kadang ada

12
pseudodendrit linear yang mirip dendrit pada HSV. Kehilangan sensasi pada
kornea selalu merupakan ciri mencolok dan sering berlangsung berbulan-bulan
setelah lesi kornea tampak sudah sembuh.7
Keratitis epithelial : gejala awal, berupa punctat epitel. Multipel, lesi vocal
dengan fluoresen atau rose Bengal. Lesi ini mengandung virus. Ini merupakan
reaksi imun selama serangan akut dan memungkinkan perpindahan virus dari
ganglion. Keratitis stroma kronik bisa menyerang vaskularisasi, keratopati,
penipisan kornea dan astigmatisme.7

Gambar : Ulkus kornea dengan pemberian fluorescein.

Gambar : Defek epitel dan infeksi sekunder varicella-zoster virus


e. Traktus uvea
Sering juga terjadi uveitis sebagai komplikasi, akibatnya, sering menyebabkan
peningkatan TIO. Tanpa perawatan yang baik penyakit ini bisa menyebabkan
glaukoma dan katarak.8
f. Retina
Retinitis pada HZO digambarkan sebagai retinitis nekrotik dengan perdarahan

13
dan eksudat, oklusi pembuluh darah posterior, dan neuritis optik. Lesi ini dimulai
dari bagian retina perifer.8

Diagnosis banding
Tidak sulit mendiagnosis herpes zoster oftalmikus, karena bentuk khas yaitu perjalanan
pada nervus trigeminus. Namun bisa juga dibandingkan dengan beberapa penyakit. Diagnosis
banding herpes zoster oftalmikus antara lain bells palsy, luka bakar, episkliritis, erosi kornea
persisten pada herpes simpleks.2

Penegakan diagnosis
Penegakan diagnosis sebagian besar dilihat dari adanya riwayat menderita cacar air,
manifestasi nyeri dan gambaran ruam kulit seperti vesikel dengan karakteristik distribusi sesuai
dermatom. Jika gambaran lesi kulit tidak begitu jelas maka dibutuhkan pemeriksaan penunjang
laboratorium. Tekhnik polymerase chain reaction (PCR) adalah tekhnik pemeriksaan yang paling
sensitif dan spesifik karena dapat mendeteksi varicella-zoster virus DNA yang terdapat dalam
cairan vesikel. Kultur virus juga dapat dilakukan namun sensitifitasnya rendah. Pemeriksaan lain
yaitu direct immunofluorescence assay.7

Penatalaksanaan
Strategi pengobatan pada infeksi akut herpes zoster oftalmikus yaitu antivirus,
kortikosteroid sistemik, antidepresan, dan analgesic yang adekuat. Jika tidak diobati dengan
adekuat dapat terjadi kerusakan permanen pada mata termasuk inflamasi yang kronik, nyeri yang
mengganggu (neuralgia pasca herpes) dan hilangnya tajam pengelihatan.7,8
1. Obat antivirus diindikasikan dalam pengobatan herpes zoster yang akut. Yang termasuk
antivirus adalah famsiklovir, acyclovir. Obat ini signifikan untuk menurunkan nyeri akut,
menghentikan progresi virus dan pembentukan vesikel, mengurangi insiden episkleritis
rekuren, keratitis, iritis dan mengurangi neuralgia pasca herpetic jika dimulai dalam 72
jam onset ruam. Yang sering digunakan adalah asiklovir 5x800 mg perhari selama 7 hari
diikuti 2-3 minggu kemudian.6,7,8 Jika kondisi pasien berat dianjurkan dirawat dan
diberikan terapi asiklovir 5-10 mg/kgBB IV 8 jam selama 8-10 hari.
2. Lesi kulit dapat diobati dengan kompres hangat dan salep antibiotic. Terapi local untuk
lesi pada mata seperti keratitis, iridosiklitis, dan skleritis dapat digunakan steroid topical
dan siklopegik. Untuk mencegah infeksi sekunder dapat digunakan antibiotic tetes atau
salep.
14
3. Pemberian kortikosteroid diberikan sebagai pencegahan komplikasi-komplikasi di mata.
Pada semua jenis herpes zoster diberikan kortikosteroid sistemik untuk mengurangi
neuralgia, juga neuralgia post herpetikum. Obat yang sering digunakan adalah prednisone
dengan dosis 20-60 mg per hari dalam dosis tebagi 2-4 selama 2-3 minggu dan dilakukan
tapering off bila gejala berkurang terutama pada pasien dengan umur lebih dari 60 tahun.
4. Analgesik seperti asetaminopen, asam menefenamat, aspirin dan NSAID untuk
mengontrol rasa nyeri. Untuk neuralgia pasca herpetik obat yang direkomendasikan di
antaranya Gabapentin dosisnya 1,800 mg - 2,400 mg sehari. Hari pertama dosisnya 300
mg sehari diberikan sebelum tidur, setiap 3 hari dosis dinaikkan 300 mg sehari sehingga
mencapai 1,800 mg sehari.
5. Artificial tears untuk lubrikasi kornea dan konjungtiva terutama pada neurotrodik
keratopati dan defek epithelial persisten. Pada pasien dengan sikatrik kornea yang luas
mungkin diperlukan tindakan keratoplasti.

Komplikasi
1. Myelitis. Merupakan komplikasi di luar mata yang pernah dilaporkan oleh Gordon dan
Tucker, demikian juga encephalitis dan hemiplegi walaupun jarang ditemukan tetapi
pernah dilaporkan. Hal ini diperkirakan karena penjalaran virus ke otak.
2. Konjungtiva. Pada mata komplikasi yang dapat timbul adalah kemosis yang ada
hubungannya dengan pembengkakan palpebra. Pada saat ini biasanya disertai dengan
penurunan sensibilitas kornea dan kadang-kadang oedema kornea yang ringan. Dapat
juga timbul vesikel-vesikel di conjunctiva tetapi jarang terjadi ulserasi. Pernah dilaporkan
adanya kanaliculitis yang ada hubungannya dengan zoster.
3. Kornea. Bila comea terkena maka akan timbul infiltrat yang berbentuk tidak khas dengan
batas yang tidak tegas , tetapi kadang-kadang infiltratnya dapat menyerupai herpes
simplex. Proses yang terjadi pada dasamya berupa keratitis profunda yang bersifat
khronis dan dapat bertahan beberapa minggu setelah kelainan kulit sembuh. Akibat
kekeruhan comea yang terjadi maka visus akan menurun.
4. Iris. Adanya laesi diujung hidung sangat penting untuk diperhatikan karena kemungkinan
besar iris akan ikut terkena mengingat n. nasociliaris merupakan cabang dari
n.ophthalmicus yang juga menginervasi daerah iris, corpus ciliaze dan cornea.
Iritis/iridocyclitis dapat merupakan penjalaran dari keratitis ataupun berdiri sendiri. Iritis
biasanya ringan,jarang menimbulkan eksudat, pada yang berat kadang-kadang disertai
dengan hypopion atau secundair glaucoma. Akibat dari iritis ini sering timbul sequele
15
berupa iris atropi yang biasanya sektoral. Pada beberapa kasus dapat disertai massive iris
atropi dengan kerusakan sphincter pupillae.
5. Sklera. Skleritis merupakan komplikasi yang jarang ditemukan, biasanya merupakan
lanjutan dari iridocyclitis. Pada sclera akan terlihat nodulus dengan injeksi lokal yang
dapat timbul beberapa bulan sesudah sembuhnya laesi di kulit. Nodulusnya bersifat
khronis, dapat bertahan beberapa bulan, bila sembuh akan meninggalkan sikatrik dengan
hyperpigmentasi. Skleritis ini dapat kambuh lagi.
6. Ocular palsy. Dapat timbul bila mengenai N III, N IV, N V1, N III dan N IV dapat
sekaligus terkena. Pernah pula dilaporkan timbulnya ophthalmoplegi totalis dua bulan
setelah menderita herpes zoster ophthalmicus. Paralyse dari otot-otot extra-oculer ini
mungkin karena perluasan peradangan dari N Trigeminus di daerah sinus cavemosus.
Timbulnya paralyse biasanya dua sampai tiga minggu setelah gejala permulaan dari
zoster dirasakan, walaupun ada juga yang timbul sebelumnya. Prognosa otot-otot yang
pazalyse pada umumnya baik dan akan kembali normal kira-kira dua bulan kemudian.
7. Retina. Kelainan retina yang ada hubungannya dengan zoster jarang ditemukan. Kelainan
tersebut berupa choroiditis dan perdazahan retina, yang umumnya disebabkan adanya
retinal vasculitis.
8. Neuritis optik. Neuritis optik juga jarang ditemukan; tetapi bila ada dapat menyebabkan
kebutaan karena timbulnya atropi n. opticus. Gejalanya berupa skotoma sentral yang
dalam beberapa minggu akan terjadi penurunan visus sampai menjadi buta.

Prognosis
Umumnya baik, pada herpes zoster oftalmikus prognosis bergantung pada tindakan
perawatan secara dini. Kesembuhan penyakit ini umunya baik pada dewasa dan anak-anak
dengan perawatan secara dini. Prognosis ke arah fungsi vital diperkirakan ke arah baik dengan
pencegahan paralisis motorik dan menghindari komplikasi ke mata sampai kehilangan
penglihatan. Jika tidak diberikan terapi secara tepat, maka dapat terjadi komplikasi yang bisa
mengganggu penglihatan yang bersifat irreversibel. Prognosis kosmetikum pada mata penderita
tersebut baik karena bengkak dan merah pada mata dapat hilang. Pada kulit dapat menimbulkan
makula hiperpigmentasi atau sikatrik. Gejala sisa yang mungkin masih ada biasanya berupa post-
herpetik neuralgia, dapat diatasi dengan analgesik.7,8

16
4. Plan
Pengobatan
Pengobatan pada pasien ini diberikan:
r/ Paracetamol tab 3 x 500 mg
r/ Acyclovir 5 x 800mg selama 7 hari
r/ Bedak salicil talk
r/ Vitamin C 3x1tab
Edukasi:
- Jaga kebersihan
- Tidak menggaruk lesi dan menghindari gesekan
- Makan-makanan yang bergizi serta cukup istirahat
- Mencegah kontak dengan orang lain

17
DAFTAR PUSTAKA

1.Voughan D, Tailor A. Penyakit virus : ophtalmologi umum. Edisi 14. Widya

Medika. 1995 : 112, 336.

2.Gurwood AS. Herpes zoster ophthalmicus. Diakses dari www.optometry.co.uk.

3.Suwarji H. Infeksi viral dan strategi pengobatan anti viral pada penyakit mata.

Diakses dari http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/08InfeksiViral087.pdf.

4.Moses S. Herpes zoster ophtalmicus. Diakses dari www.fpnotebook.com.

5.Maria M Diaz. Herpes zoster ophthalmicus. Diakses dari

http://emedicine.medscape.com/article.

6.Web MD. Herpes of the eye. Diakses dari

http://www.medicinenet.com/herpeseye/.

7.Shaikh S. Evaluation and management of herpes zoster. Diakses dari:

www.aafp.org.

8.American Academy of Ophtalmology. External cornea and disease. Section 8.

2005-2006.

18