Anda di halaman 1dari 104

Volume 1. No.

1 November 2015 ISSN 2477-1406

JURNAL
DARMAIS Ilmiah Sosial, Sains dan Teknologi

Hubungan Paritas Ibu Bersalin Dengan Kejadian Retensio


Plasenta di RSU Muhammadiyah Medan
Dewi Ansari Nasution ............................................................1

Pengaruh Pengetahuan Persepsi Dan Sikap PUS Terhadap


Penggunaan Kontrasepsi Tubektomi Di Wilayah Kerja
Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli Serdang
Henni Sagrida Sitompul.........................................................9

Otomatisasi Pengaturan Pengukuran Suhu Incubator Bayi


Rokhmat Hidayat..................................................................19

Gambaran Pengetahuan Siswa Kelas VIII Tentang Keber -


sihan Alat Kelamin Pada Saat Menstruasi Di SMP Negeri 2
Melfi Suryaningsih................................................................29

Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS) Tentang


Kanker Payudara Dikelurahan Palopat Maria Lingkungan II
Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbahu
Sri Itayani...............................................................................39

Pengaruh Promosi Kesehatan Melaui Media Elektronik Dan


Pamflet Terhadap Peningkatan Pengetahuan Penggunaan
Bumbu Penyedap Pada Ibu Rumah Tangga
Agus Muda Nasution ..........................................................49

Perancangan Sistem Informasi Kesehatan Dan Manajemen


PUSKESMAS(SIMKESMAS) Kecamatan Padangsidimpuan
Tenggara
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darmais Padangsidimpuan Dian Suci Rahmawati .........................................................57
Jl. Belibis No. 1 Perumahan Sopo Indah Sigulang Kec. Padangsidimpuan Tenggara
Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpuskesmas)
Telepon / Fax : 0634-28672 Email : lppmstikesdarmaispsp@gmail.com Berbasis Komputer
Martini Andiani......................................................................66

Pengaruh Keikutsertaan Suami Dalam Kangaroo Mother


Care (KMC) Terhadap Perubahan Berat Badan Bayi Lahir
Rendah Di Kabupaten Ciamis
Susi Febriani Yusuf................................................................73

ISSN 2477-1400 ISSN 2477-1400


Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darmais Padangsidimpuan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Darmais Padangsidimpuan
9 772477 140008
9 772477 140008
Penanggung Jawab
Ketua STIKes Darmais Padangsidimpuan

Ketua Dewan Redaksi


Rokhmat Hidayat.M.Cs

Redaksi Pelaksana
Susi Febriani Yusuf., S.SiT.,M.PH
Devi Yunani Nasution., SST., M.Kes
Henni Safrida Sitompul.,SST., SKM.,M.Kes

Dewan Editor
Dr.Ing.Mhd.I. Reza M.I. Pulungan., S.Si.,M.Sc.,Ph.D. (UGM-Yogyakarta)
Dr. Teguh Wahyono., M.Cs (UKSW-Salatiga)
Dr. Rudi Ariyanto., M.Cs (Politeknik Negeri Malang)
Rudianto.,ST.,M.Cs (Universitas Narotama-Surabaya)

Dewan Redaksi
Prof. Drs. Dian Armanto, M.Pd., M.A., M.Sc.,PhD (UNIMEDMedan)
Prof. Dr. Anton Satria Prabuwono ( Rabigh King Abdulaziz University Saudi Arabia)
Prof. Dr. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, MSc., PhD. (UI-Jakarta)
Dr Brahmaputra Marjadi, MPH, PhD (University of New South Wales-Australia)

Penerbit
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM)
STIKes Darmais Padangsidimpuan

Alamat Redaksi
Jl. Belibis No. 1 Perumahan Sopo Indah Sigulang Kec. Padangsidimpuan Tenggara
Telepon / Fax : 0634-28672 Email : lppmstikesdarmaispsp@gmail.com
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Kami ucapkan atas tersusunnya Jurnal
Darmais edisi perdana Jurnal Darmais Sosial, Sains dan Teknologi Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Darmais Padangsidimpuan. Penyusunan beberapa artikel karya ilmiah ini
dilandasai semangat dalam melakukan penelitian baik o;eh para dosen maupun para
mahasiswa yang merupakan bagiandari civitas akademika..
Dalam tersusunnya Jurnal Datmais edisi perdana ini, Semoga dapat memberikan
manfaat dan memperluas wawasan penelitian. Demi meningkatkan kualitas Jurnal
Darmais, kritik serta saran yang konstruktif sangat kami harapkan sebagai upaya
perbaikan dan pembaruan.
Ucapan terimakasih kami sampaikan pada Yayasan Pendidikan Bunda Langga
yang telah mendorong dan memotifasi dalam menerbitkan Jurnal Darmais ini, Ucapan
terimakasih juga kami sampaikan kepada segenap jajaran Jurnal Darmais atas dedikasi
dan kerjasamanya dalam upaya menerbitkan Jurnal Darmais edisi perdana ini.

Salam

Redaksi
DAFTAR ISI

Hubungan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian Retensio Plasenta di RSU Muhammadiyah
Medan
Oleh : Dewi Ansari Nasution.. 1

Pengaruh Pengetahuan, Persepsi Dan Sikap PUS Terhadap Penggunaan Kontrasepsi


Tubektomi Di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli Serdang.
Oleh : Henni Sagrida Sitompul 9

Otomatisasi Pengaturan Pengukuran Suhu Incubator Bayi


Oleh : Rokhmat Hidayat .. 19

Gambaran Pengetahuan Siswi Kelas VIII Tentang Kebersihan Alat Kelamin Pada Saat
Menstruasi Di Smp Negeri 2
Oleh : Melfi Suryaningsih 29

Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur (Wus) Tentang Kanker Payudara


Di Kelurahan Palopat Maria Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru
Oleh : Sri Itayanni 39

Pengaruh Promosi Kesehatan Melalui Media Elektronik Dan Pamflet Terhadap


Peningkatan Pengetahuan Penggunaan Bumbu Penyedap Pada Ibu Rumah Tangga
Oleh : Agus Muda Nasution . 49

Perancangan Sistem Informasi Kesehatan Dan Manajemen Puskesmas


(Simkesmas) Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara
Oleh : Dian Suci Rahmawati 57

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpuskesmas) Berbasis Komputer


Oleh : Martini Andriani . 66

Pengaruh Keikutsertaan Suami Dalam Kangaroo Mother Care (Kmc) Terhadap Perubahan
Berat Badan Bayi Lahir Rendah Di Kabupaten Ciamis
Oleh : Susi Febriani Yusuf 73
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Hubungan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian Retensio Plasenta


di RSU Muhammadiyah Medan
Dewi Ansari Nasution (1)

1Akademi Kebidanan, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Retensio plasenta adalah belum lepasnya plasenta dengan melebihi waktu setengah jam.
Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan 67 %, atonia uteri 23,88 %, sisa plasenta
19,40 %, retensio plasenta 40,30 % dan persalinan dengan laserasi jalan lahir 16,42 %, perdarahan
terjadi 10 kali leih sering pada saat persalinan. Tujuan penelitian untuk mengetahui Hubungan Paritas Ibu
Bersalin Dengan Kejadian Retensio Plasenta di RSU Muhammadiyah Medan Tahun 2012.
Desain penelitian ini bersifat Deskriptif Korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
ibu yang mengalami retensio plasenta di RSU Muhammadiyah Medan Tahun 2012 yang berjumlah 25
responden dengan tekhnik pengambilan sampel yaitu total sampling. Data yang digunakan adalah data
dokumentasi. Diolah dengan proses editing, coding, entry data dan dianalisis dengan regresi sederhana.
Hasil penelitian didapatkan jumlah yang mengalami retensio plasenta 25 kasus dalam satu
tahun, dengan mayoritas paritas 2 ( dua ), dan analisis regresi sederhana diperoleh hubungan sebanyak
21,8 ibu berparitas dua dengan kejadian retensio plasenta.
Hasil penelitian disimpulkan ada hubungan positif Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian Retensio
Plasenta di RSU Muhammadiyah Medan Tahun 2012. Diharapkan kepada tenaga kesehatan ( Bidan )
agar selalu memberikan penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada tentang retensio plasenta kepada
ibu-ibu dan hal- hal yang dapat menyebabkan retensio plasenta.

Kata Kunci : Paritas Ibu Bersalin, Retensio Plasenta

PENDAHULUAN sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau


Pembangunan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil
pembangunan yang berwawasan kesehatan. dan merata serta memiliki derajat kesehatan
Tujuan pembangunan kesehatan menuju yang optimal di seluruh wilayah Republik
Indonesia Sehat 2010 adalah meningkatkan Indonesia.
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup Data WHO menunjukkan sebanyak 99
sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat persen kematian ibu akibat masalah persalinan
kesehatan masyarakat yang optimal melalui atau kelahiran terjadi di negara-negara
terciptanya masyarakat, Bangsa dan Negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-
Indonesia, yang ditandai penduduknya siap negara berkembang merupakan yang tertinggi
hidup dalam lingkungan dan perilaku yang dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran

1
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio penyebabnya dapat mengancam jiwa dimana
kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 ibu dengan perdarahan yang hebat akan cepat
negara persemakmuran ( www. Berbagai faktor meninggal jika tidak mendapat perawatan medis
penyebab.com ). yang tepat (www.berbagaifaktorpenyebab.com).
Suatu hal yang penting lainnya adalah Penyebab utama kematian ibu di
perbedaan kualitas pelayanan kesehatan pada Indonesia adalah perdarahan 67% (atonia uteri
setiap tingkat pelayanan. Pelayanan kesehatan 23,88%, sisa plasenta 19,40%, retensio
primer diperkirakan dapat menurunkan AKI plasenta 40,30% dan persalinan dengan
sampai 20%, namun dengan sistim rujukan yang laserasi jalan lahir 16,42%). Perdarahan terjadi
efektif, angka kematian dapat ditekan sampai 10 kali lebih sering pada saat persalinan
80%. Menurut UNICEF, 80% kematian ibu dan (Assesment Safe Motherhood, 1990).
perinatal terjadi di Rumah Sakit rujukan. Penelitian yang menyatakan paritas
Walaupun kualitas pelayanan kesehatan, bermakna sebagai faktor risiko antara lain
khususnya pelayanan kesehatan maternal dan penelitian Herianto (2003) di Rumah Sakit
neonatal dipengaruhi oleh banyak faktor, namun Sardjito Yogyakarta selama kurun waktu 5
kemampuan tenaga kesehatan (bidan, dokter, Tahun ( 1998-2002 ) pada 55 kasus perdarahan
dokter spesialis) merupakan salah satu faktor post partum primer dari 3640 persalinan
utama (www.berbagaifaktorpenyebab.com). pervaginam, hasil penelitian ini membuktikan
Faktor-faktor yang mempengaruhi bahwa paritas lebih dari 3 (tiga) bermakna
tingginya Angka Kematian Ibu antara lain adalah sebagai faktor risiko yang mempengaruhi
Faktor Reproduksi, Komplikasi Obstetric, Faktor perdarahan post partum primer.
Pelayanan Kesehatan, Faktor Sarana dan Menurut Dinkes Provinsi Sumatera
Fasilitas, Faktor Sosial Budaya dan System Utara penyebab utama kematian ibu di
Rujukan. Faktor reproduksi terdiri dari usia dan sumatera utara belum ada survey khusus, tetapi
paritas, sedangkan komplikasi obstetric terdiri secara nasional disebabkan karena komplikasi
dari perdarahan post partum, infeksi nifas, persalinan ( 45% ), retensio plasenta ( 20% ),
retensio plasenta, dan eklamsia. robekan jalan lahir ( 19% ), partus lama ( 11% ).
Retensio plasenta dapat menyebabkan ( www.dinkes sumut.com )
perdarahan, perdarahan merupakan penyebab Dari hasil penelitian Pardosi Universitas
kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu Sumatera Utara (2005) menyatakan bahwa
melahirkan di Indonesia. Berdasarkan data faktor paritas ibu mempengaruhi perdarahan
kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan post partum dari 52 responden terdapat 32
pasca persalinan di Indonesia adalah sebesar responden dengan paritas > 3 mengalami
43%. Menurut WHO dilaporkan bahwa 15-20% perdarahan post partum.
kematian ibu karena retensio plasenta dan Berdasarkan survey pendahuluan yang
insidennya adalah 0,8-1,2% untuk setiap dilakukan peneliti di RSU Muhammadiyah
kelahiran. Dibandingkan dengan resiko-resiko Medan yang beralamat di Jl.Mandala By Pass
lain dari ibu bersalin, perdarahan post partum pada tanggal 10 Januari 2013 dengan
dimana retensio plasenta salah satu menggunakan takhnik dokumentasi terdapat 25

2
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

kasus retensio plasenta yang tercatat di Medical Untuk mengetahui hubungan paritas ibu bersalin
Record RSU Muhammadiyah Medan Tahun dengan kejadian Retensio Plasenta di RSU
2012, dari data tersebut didapatkan 20 Muhammadiyah Tahun 2012.
diantaranya adalah ibu berparitas lebih dari ( 1 ) 2 Tujuan Khusus
satu. 2.1 Untuk mengidentifikasi paritas ibu bersalin
di RSU Muhammadiyah Tahun 2012 .
Identifikasi Masalah 2.2 Untuk mengidentifikasi kejadian retensio
Dari latar belakang masalah di atas, plasenta di RSU Muhammadiyah Tahun 2012.
peneliti mengidentifikasi beberapa 2.3 Untuk mengetahui hubungan paritas ibu
permasalahan yang mempengaruhi hubungan bersalin dengan kejadian retensio plasenta di
paritas ibu bersalin dengan kejadian retensio RSU Muhammadiyah Tahun 2012 .
plasenta diantaranya yaitu :
1) apakah paritas mempengaruhi retensio METODE PENELITIAN
plasenta di rumah sakit ? Berdasarkan jenisnya penelitian ini
2) apakah jarak kelahiran mempengaruhi merupakan jenis penelitian Deskriptif
retensio plasenta di rumah sakit ? Korelasional yaitu untuk mengetahui hubungan
3) apakah riwayat persalinan mempengaruhi paritas ibu bersalin dengan kejadian retensio
retensio plasenta di rumah sakit ? plasenta di RSU Muhammadiyah Tahun 2012.
Adapun desain penelitian dapat
Pembatasan Masalah dirancang seperti gambar dibawah ini :
Pembatasan masalah akan Variabel (X) Variabel (Y)
memudahkan peneliti dalam pembahasannya, Independent Dependent
sehingga dapat menjadi sasaran dan tujuan
Paritas ibu Retensio
dengan tepat dan hasil yang diperoleh dapat bersalin Plasenta
dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini Gambar.1
maka peneliti membatasi permasalahan pada
hubungan paritas ibu bersalin dengan kejadian Lokasi Dan Waktu Penelitian
retensio plasenta di RSU Muhammadiyah Penelitian ini dilakukan di RSU
Medan Tahun 2012. Muhammadiyah Medan. Penentuan tempat
tersebut sebagai tempat penelitian adalah
Rumusan Masalah berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu :
Berdasarkan latar belakang maka terpenuhinya sampel, adanya kasus retensio
rumusan masalah penelitian ini adalah apakah plasenta, lokasi penelitian terjangkau dan belum
ada hubungan positif antara paritas ibu bersalin pernah dilakukan penelitian sebelumnya. Waktu
dengan kejadian retensio plasenta di RSU penelitian yang akan dilakukan mulai Januari
Muhammadiyah Tahun 2012 2013.

Tujuan Penelitian Populasi Dan Sampel


1 Tujuan Umum Populasi

3
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Populasi adalah wilayah generalisasi Kegiatan memasukkan data yang telah


yang terdiri atas objek yang mempunyai dikumpulkan ke dalam master tabel atau
kuantitas dan karakteristik tertentu yang database komputer, kemudian membuat
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan distribusi frekuensi sederhana atau
kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, dengan membuat tabel kontingensi.
2004). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh data pasien di bagian rekam medis Teknik Analisa Data
Rumah Sakit Umum Muhammadiyah yang Data yang diperoleh dalam penelitian terlebih
mengalami retensio plasenta Tahun 2012 yaitu dahulu dianalisis secara deskriptif, yaitu melalui
25 responden. tabel berdasarkan analisis deskriptif yang
bertujuan untuk menyajikan data sesuai dengan
Sampel keadaan yang sebenarnya kemudian
Sebagian yang diambil dari keseluruhan menginterprestasikannya untuk menjawab
obyek yang diteliti dan dianggap mewakili permasalahan penelitian. Dalam penelitian ini uji
seluruh populasi disebut sampel penelitian ( yang dilakukan untuk normalitas data adalah uji
Notoatmodjo, 2005 ). Dalam penelitian ini kolmogorov-smirnov.
peneliti menggunakan tekhnik total sampling Kemudian data dianalisis dengan
yaitu dengan mengambil semua anggota menggunakan persamaan regresi.
populasi menjadi sampel yaitu 25 responden 1. Menentukan model persamaan regresi
dengan rumus :
Pengolahan Data Y = a+Bx
Setelah data terkumpul maka dilakukan
pengolahan data. Menurut Hidayat ( 2007 ), Dimana : a. = ( )( ) ( )( )
Tehnik pengolahan data dilakukan dengan n( )(
langkah-langkah sebagai berikut :
a. Editing b. = n( )- )( )
Editing adalah upaya untuk memeriksa n )(
kembali kebenaran data yang diperoleh Keterangan:
atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan X = Paritas ibu bersalin
pada tahap pengumpulan data atau Y = Retensio plasenta
setelah data terkumpul.
b. Coding HASIL DAN PEMBAHASAN
Coding merupakan kegiatan pemberian kode Paritas Ibu
numerik ( angka ) terhadap data yang Berdasarkan hasil penelitian tentang
terdiri beberapa kategori. Pemberian kode paritas ibu bersalin yang mengalami retensio
ini sangat penting bila pengolahan dan plasenta maka diperoleh hasil sebagai berikut :
analisis data menggunakan komputer. Tabel1. Distribusi Frekuensi Paritas Ibu Bersalin
c. Data entry di RSU Muhammadiyah Tahun 2012

4
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Jumlah Hal ini sejalan dengan penelitian Dian


No Paritas F %
Miralawati yang meneliti tentang hubungsan
Ibu
antara paritas dengan kejadian perdarahan
1. 1 9 36,0
2. 2 10 40,0 postpartum primer di kamar bersalin RSUD
3. 3 4 16,0 Gambiran Kota Kediri periode 1 januari 31
4. 4 1 4,0
desember 2007 mendapat hasil bahwa paritas
5. 5 1 4,0
memiliki hubungan dengan kejadian perdarahan
Jumlah 25 100,0
postpartum primer.
Dari tabel di atas mayoritas paritas ibu bersalin
Paritas adalah jumlah kehamilan
yaitu paritas 2 sebanyak 10 responden (40,0%).
terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas
dan telah dilahirkan, tanpa mengingat jumlah
Temuan Penelitian
anaknya (Harry dkk, 2010, hal : 58), sedangkan
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari
pada kamus Dorland (2002), Paritas merupakan
analisis kolmogorov smirnov maka didapatkan
keadaan seorang wanita sehubungan dengan
hasil 0,00 dimana jika P < 0,05 maka hipotesis
kelahiran anak yang dapat hidup.
nol ditolak, dan Ha diterima. Dari persamaan
Paritas sangat mempengaruhi keadaan
regresi linier sederhana diperoleh = 2 + 0,79 X
ibu, semakin tinggi paritas ibu bersalin maka
koefisien b dinamakan koefisien arah regresi
resiko untuk mengalami retensio plasenta
linier dan menyatakan perubahan rata rata
semakin tinggi pula. Paritas telah menarik
variabel Y untuk setiap variabel X, perubahan ini
perhatian para peneliti dalam hubungan ibu dan
menunjukkan pertambahan apabila b bertanda
anak, terdapat kecenderungan kesehatan ibu
positif dan penurunan atau pengurangan jika
yang berparitas rendah lebih baik dari yang
bertanda negatif, demikian diatas b = 0,79
berparitas tinggi. Terdapat asosiasi antara
bertanda positif sehingga kita dapat menyatakan
paritas ibu bersalin dengan kejadian retensio
bahwa meningkatnya paritas (X) maka kejadian
plasenta.
retensio plasenta (Y) bertambah dengan 0,79
Tingkat paritas tinggi yang termasuk
orang.
didalamnya adalah merupakan tingkat paritas
Jika X = 25, maka selanjutnya
yang paling sering mengalami retensio plasenta,
memasukkan harga tersebut ke persamaan
retensio plasenta lebih banyak terjadi pada
regresi di atas = 2 + 0,79 (25) = 21,8 dengan
tingkat paritas tinggi karena pada paritas tinggi
demikian diperkirakan rata rata 21,8 ibu
fungsi reproduksi mengalami penurunan, otot
berparitas lebih dari 1 ( satu ) untuk setiap 25
uterus terlalu teregang dan kurang dapat
responden yang mengalami retensio plasenta.
berkontraksi dengan normal sehingga
kemungkinan terjadi retensio plasenta menjadi
Pembahasan Penelitian
lebih besar.
Paritas Ibu Bersalin
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
Berdasarkan hasil penelitian mayoritas
tingginya paritas yang dihasilkan oleh kehamilan
responden yang mengalami retensio plasenta
viable dapat menyebabkan peningkatan resiko
adalah paritas 2 ( dua ) di RSU Muhammadiyah
terjadinya retensio plasenta, hal ini bukan saja
Medan.

5
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

berhubungan dengan fungsi reproduksinya yang faktor paritas, hal tersebut bisa dilihat pada
telah menurun, tetapi juga dilihat dari usia, jarak seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai
kehamilan dan riwayat persalinan dan akan resiko mengalami berkurangnya kontraksi uterus
menambah resiko bila disertai pula tingginya karena penurunan fungsi reproduksi yang
paritas. menurun, kontraksi uterus yang lemah akan
menyebabkan tertahannya plasenta di dalam
Hubungan Paritas Ibu Bersalin dengan Kejadian uterus, sehingga menyebabkan retensio
Retensio Plasenta plasenta. Retensio plasenta jika tidak
Berdasarkan temuan hasil penelitian ini mendapatkan penanganan akan berakibat pada
menunjukkan ada hubungan yang positif antara postpartum haemorraghia yang berujung pada
paritas ibu bersalin dengan kejadian retensio kematian ibu.
plasenta di RSU Muhammadiyah Medan. Hal lain pada paritas tinggi mempunyai
Hubungan tersebut dinyatakan dengan resiko mengalami anemia jika tidak
persamaan regresi sederhana = 2 + 0,79 X. memperhatikan kebutuhan nutrisi karena
Hal ini berarti semakin tinggi paritas ibu bersalin selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu
maka akan semakin rentan mengalami retensio dan janin yang dikandungnya sehingga dengan
plasenta. adanya riwayat anemia selama kehamilan akan
Hasil penelitian ini sejalan dengan meningkatkan resiko terjadinya perdarahan
penelitian Owolabi yang meneliti hubungan karena wanita dengan anemia tidak dapat
antara usia, paritas dengan retensio plasenta di mentoleransi terjadinya kehilangan darah saat
jawa barat mendapat hasil bahwa usia ibu 35 persalinan seperti pada wanita yang sehat,
tahun atau lebih dan paritas tinggi memiliki sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin
hubungan dengan kejadian retensio plasenta. banyak jumlah kelahiran atau paritas, maka
Retensio plasenta adalah belum akan meningkatkan resiko ibu untuk
lepasnya plasenta dengan melebihi waktu mendapatkan masalah kesehatan seperti
setengah jam ( Manuaba dkk, 2008, hal : 178 ). retensio plasenta.
Faktor faktor yang mempengaruhi
terjadinya retensio plasenta salah satunya KESIMPULAN DAN SARAN
adalah faktor maternal yaitu merupakan faktor Kesimpulan
yang didapat dari ibu seperti gravida berusia Setelah dilakukan penelitian dengan
lanjut dan multiparitas. judul Hubungan Paritas Ibu Bersalin dengan
Menurut peneliti jika dilihat dari hasil Kejadian Retensio Plasenta di RSU
penelitian ini jelas terlihat hubungan paritas ibu Muhammadiyah Tahun 2012 dapat disimpulkan
bersalin dengan kejadian retensio plasenta. Dari sebagai berikut :
data terlihat bahwa yang mengalami retensio 1. Mayoritas yang mengalami retensio
plasenta adalah mayoritas ibu berparitas lebih plasenta yaitu responden berparitas 2 (
dari satu. Hal ini membuktikan bahwa hasil dua ).
penelitian sesuai dengan hipotesis alternatif . 2. Jumlah retensio plasenta yaitu 25 kasus
retensio plasenta sangat berhubungan dengan dalam 1 Tahun.

6
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

3. Terdapat hubungan yang positif antara retensio plasenta dengan menjaga jumlah
Paritas ibu bersalin dengan kejadian kehamilan dan persalinan, kejadian retensio
retensio plasenta di RSU plasenta dapat menyebabkan perdarahan
Muhammadiyah Medan 2012. postpartum yang dapat menyebabkan kematian
Berdasarkan persamaan regresi linier pada ibu.
sederhana diperoleh = 2 + 0,79 X Dengan demikian bidan atau petugas
koefisien b dinamakan koefisien arah kesehatan lainnya perlu memberikan pendidikan
regresi linier dan menyatakan kesehatan terhadap ibu bahwa melahirkan lebih
perubahan rata rata variabel Y untuk dari 3 sampai 4 kali menyebabkan banyak
setiap variabel X, perubahan ini resiko bagi ibu. Salah satunya adalah retensio
menunjukkan pertambahan apabila b plasenta. Masih ada faktor faktor lain yang
bertanda positif dan penurunan atau menyebabkan retensio plasenta misalnya, faktor
pengurangan jika bertanda negative, faktor uterus seperti bekas section caesarea,
demikian diatas b = 0,79 bertanda positif bekas pembedahan uterus, bekas curettage
sehingga kita dapat menyatakan bahwa uterus, bekas endometritis dan juga faktor
meningkatnya paritas (X) maka kejadian faktor plasenta meliputi plasenta previa dan
retensio plasenta (Y) bertambah dengan implantasi corneal.
0,79 orang. Beberapa faktor yang mempengaruhi
Jika X = 25, maka selanjutnya retensio plasenta antara lain adalah usia,
memasukkan harga tersebut ke riwayat kuretase dan riwayat persalinan yang
persamaan regresi di atas = 2 + 0,79 lalu. Riwayat tindakan pada uterus yaitu
(25) = 21,8 dengan demikian kuretase bisa menyebabkan implantasi plasenta
diperkirakan rata rata 21,8 ibu abnormal, kuretase menyebabkan kerusakan
berparitas lebih dari 1 ( satu ) untuk pada jaringan endometrium akibatnya jaringan
setiap 25 responden yang mengalami endometrium diganti dengan fibrosis, sehingga
retensio plasenta. vaskularisasi menjadi berkurang. Untuk
Implikasi memenuhi kebutuhan nutrisi janin plasenta akan
Berdasarkan hasil penelitian ini maka mengadakan perluasan implantasi dan vili
implikasinya adalah dengan diterimanya korialis akan menembus dinding uterus lebih
hipotesis penelitian ini maka paritas ibu bersalin dalam lagi sehingga akan terjadi plasenta
akan berhubungan dengan kejadian retensio adhesive sampai perkreta.
plasenta. Selanjutnya dari hasil penelitian perlu Riwayat kesehatan yang lalu merupakan
semua pihak yang berkaitan dengan kesehatan suatu kejadian yang sudah pernah di derita ibu
ibu dan bayi seperti bidan, ibu bersalin dan sebelumnya dapat mempengaruhi retensio
petugas kesehatan lainnya agar menjaga jumlah plasenta.
persalinan dengan membatasi kehamilan dan
diharapkan keluarga memberikan respon yang
positif agar tercapainya derajat kesehatan ibu Saran
yang baik dengan meminimalisasi kejadian

7
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Berdasarkan dengan hasil penelitian ini Oxorn, Harry, dkk (2010). Ilmu Kebidanan
maka disarankan kepada beberapa pihak Patologi dan Fisiologi Persalinan.
sebagai berikut : Yayasan Esensia Medica.
1. Kepada ibu bersalin Slamet,Soemirat (2004). Kesehatan
Untuk ibu bersalin dengan retensio plasenta Lingkungan. Yogyakarta. UGM.
agar bertanya dan mencari informasi kepada (2002). Kamus Kedokteran
tenaga kesehatan tentang hal hal yang Dorland.
menyebabkan retensio plasenta dan supaya Sudjana , (2002). Metoda
menjaga jarak dan jumlah kelahiran karena statistika.Bandung.Tarsito
paritas berhubungan dengan retensio plasenta. Sumarah, dkk (2009). Perawatan Ibu Bersalin.
2. Kepada Tenaga Kesehatan ( Bidan ) Yogyakarta. Fitramaya.
Agar selalu memberikan penyuluhan dan http :// www.ui.edu,2005.com Angka kenatian
pendidikan kesehatan tentang retensio plasenta ibu dengan retensio plasenta.25 Nopember
kepada ibu ibu dan hal hal yang dapat 2012.
menyebabkan retensio plasenta agar www.Path.org.com. 27 Nopember 2012.
terminimalisasi kejadian retensio plasenta. Wikipedia,2010. Ibu,//org//.cow.id.[akses, 23
3. Peneliti selanjutnya maret 2012].
Diharapkan melakukan penelitian lanjutan untuk
melengkapi hasil penelitian yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, dkk ( ). Obstetric Williams.
Jakarta. EGC.
Dahlan, S (2004). Statistik untuk kedokteran dan
kesehatan. Jakarta. Arkans.
Hidayat,AAA (2011). Metode penelitian
kebidanan dan Tekhnik Analisis Data.
Jakarta. Salemba Medica.
Kartini (2007). Psikologi Wanita. Bandung.
Bandar Maju.
Manuaba (2008). Obstetric Ginekologi. Jakarta.
EGC.
Notoatmodjo,S (2007). Kesehatan Masyarakat
Ilmu dan Seni. Jakarta. Rineka
Cipta.
Notoatmodjo,S (2005). Metode Penelitian
Kesehatan. Jakarta.Rineka Cipta.
Nugroho,T (2012). Obstetri dan
ginekologi.Yogyakarta. Nuha Medika.

8
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Pengaruh Pengetahuan, Persepsi Dan Sikap PUS Terhadap


Penggunaan Kontrasepsi Tubektomi Di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar
Khalipah Kabupaten Deli Serdang.

Henni Sagrida Sitompul(1)


1Akademi Kebidanan, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Salah satu program untuk menekan angka pertumbuhan penduduk yakni melalui program KB.
Program KB memiliki peranan dalam menurunkan resiko kematian ibu melalui pencegahan kehamilan,
penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran utama adalah pasangan usia
subur (PUS). Program pemerintah dalam upaya mengendalikan jumlah kelahiran dan mewujudkan
keluarga kecil yang sehat dan sejahtera yaitu melalui konsep pengaturan jarak kelahiran dengan program
KB.
Studi analitik dengan disain studi case control.Penelitian case control adalahsuatu penelitian
survei analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan
retrospektif. Pada case control dilakukan identifikasi subyek (kasus) yang telah terkena penyakit (efek),
kemudian ditelusuri secara retrospektif ada atau tidak adanya faktor resiko yang diduga berperan.Kasus
adalah ibu yang menggunakan kontrasepsi tubektomi dan kontrol adalah ibu akseptor KB yang tidak
memakai kontrasepsi tubektomi.
Berdasarkan hasil penelitian seluruh akseptor KB dengan bersikap positif sebesar 19,3% dan
dari akseptor KB yang bersifat negatif yang menggunakan kontrasepsi tubektomi sebesar 80,7%.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ibu menggunakan kontrasepsi tubektomi tidak didasarkan bagaimana
akseptor KB menyikapi kontrasepsi tubektomi. Keadaan ini tidak dipengaruhi oleh sikap, namun ada
faktor lain misalnya pengetahuan dan persepsi yang lebih memengaruhi akseptor KB sehingga memilih
jenis kontrasepsi tubektomi yang dipakai
Terdapat pengaruh pengetahuan terhadap penggunaan kontrasepsi tubektomi di wilayah kerja
Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli Serdang, artinya apabila pengetahuan akseptor KB baik
maka akan meningkatkan penggunaan tubektomi.Pengetahuan akseptor KB yang baik tentang hakekat
program KB akan memengaruhi mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang akan digunakan
termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan, kecocokan, pilihan efektif tidaknya, kenyamanan dan
keamanan, juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai dan lengkap karena wawasan sudah
lebih baik, sehingga demikian kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan pelayanan.

Kata kunci : Pasangan Usia Subur, Case Control,Keluarga Berencana, Kontrasepsi Tubektomi
,

9
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PENDAHULUAN (PUS). Realisasi peserta KB aktif yang


Tingginya angka kelahiran di Indonesia menggunakan kontrasepsi AKDR/IUD 153.627
masih menjadi masalah utama dalam peserta (10,22%), MOW 114.944 peserta
kependudukan. Sejak 2004, program keluarga (7,64%), MOP 5.029 peserta (0.33%), kondom
berencana (KB) dinilai berjalan lamban, hingga 91.691 peserta (6,10%), implant 133.741
angka kelahiran mencapai 4,5 juta per tahun peserta (8,89%), suntik 503.370 peserta (3,48%)
dan pada tahun 2010 berdasarkan sensus dan pil 501.262 peserta (33,34%) (BKKBN
penduduk mencapai 237,6 juta Sumut, 2011).
jiwa.(BKKBN,2011) Akseptor KB dengan jenis MOW
Salah satu program untuk menekan (tubektomi) semuanya mendapat pelayanan
angka pertumbuhan penduduk yakni melalui secara gratis di RSUD Lubuk Pakam. Alasan
program KB. Program KB memiliki peranan akseptor KB tersebut untuk menggunakan
dalam menurunkan resiko kematian ibu melalui tubektomi dengan mempertimbangkan umur dan
pencegahan kehamilan, penundaan usia jumlah anak yang dimiliki akseptor KB.
kehamilan serta menjarangkan kehamilan Melihat data tersebut bahwa non
dengan sasaran utama adalah pasangan usia metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP)
subur (PUS). Program pemerintah dalam upaya merupakan metode yang lebih disukai oleh
mengendalikan jumlah kelahiran dan peserta KB aktif di Kecamatan Percut Sei Tuan.
mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan Sama halnya dengan alasan peserta KB baru,
sejahtera yaitu melalui konsep pengaturan jarak metode non MKJP juga dipandang masyarakat
kelahiran dengan program KB (Manuaba, 2010). lebih aman dan lebih mudah untuk
Dari survei demografi dan kesehatan menggunakan atau tidak menggunakannya lagi
Indonesia tahun 2007 diketahui yang sesuai dengan keinginan peserta KB untuk
menggunakan alat kontrasepsi 61,4% yaitu kembali memiliki anak. Akseptor KB di Wilayah
sebanyak 31,6% menggunakan suntik, pil 13,2 Puskesmas Bandar Khalipah memakai
%, AKDR/IUD 4,8%, implant 2,8%, kondom kontrasepsi yang bertujuan untuk menunda
1,3%, vasektomi dan tubektomi 7,7 %.. Pada kehamilan, menjarangkan kehamilan dan
tahun 2009 tercatat 51,21% akseptor KB mengakhiri kehamilan atau kesuburan.
memilih suntikan sebagai alat kontrasepsi, Permasalahan
40,02% memilih Pil, 4,93% memilih Implant, Yang menjadi permasalahan adalah
2,72% memilih AKDR/IUD dan lainnya 1,11%. bagaimana pengetahuan, persepsi dan sikap
Pada umumnya masyarakat memilih non akseptor KB terhadap penggunaan tubektomi
metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). pada PUS di wilayah kerja Puskesmas Bandar
Sehingga metode KB MKJP seperti AKDR/IUD, Khalipah Kabupaten Deli Serdang.
implant, kontap pria (MOP) dan kontap wanita Tujuan Penelitian
(MOW) kurang diminati (Arum, 2009). Tujuan penelitian ini adalah untuk
Peserta KB aktif di Sumatera Utara yang menganalisis pengaruh pengetahuan, persepsi
berhasil dibina sebanyak 2.326.172 pasangan dan sikap PUS terhadap penggunaan
(64,64%) dari seluruh pasangan usia subur kontrasepsi tubektomi di wilayah kerja

10
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli kerja Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten
Serdang. Deli Serdang lebih rendah jika dibandingkan
Hipotesis dengan kontasepsi lain yaitu pil sebanyak 2024
Pengetahuan, persepsi dan sikap PUS akseptor (29.90%), suntik sebanyak 1871
berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi akseptor (29.64%), kondom sebanyak 1560
tubektomi di wilayah kerja Puskesmas Bandar akseptor (23,04%), penggunaaan implant
Khalipah Kabupaten Deli Serdang. sebanyak 696 akseptor (10.28%), IUD sebanyak
510 akseptor (7,53%), MOP sebanyak 86
Manfaat Penelitian akseptor (1,27%) dan paling sedikit MOW
Bagi Dinas Kesehatan Pemerintah sebanyak 83 akseptor (1,23%) dan memiliki
Kabupaten Deli Serdang dan khususnya pengetahuan, persepsi dan sikap akseptor KB
Puskesmas Bandar Khalipah agar yang berbeda-beda.
meningkatkan informasi tentang Penelitian ini dimulai dari Januari 2012-
kontrasepsi tubektomi dalam upaya Januari 2013 yaitu mulai melakukan
meningkatkan cakupan pelayanan penelusuran kepustakaan, penyusunan
kontrasepsi. proposal, seminar proposal, penelitian, analisis
data dan penyusunan laporan akhir diperkirakan
METODE PENELITIAN Januari 2013.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Populasi dan Sampel
studi analitik dengan disain studi case Populasi
control.Penelitian case control adalahsuatu a. Populasi kasus
penelitian survei analitik yang menyangkut Populasi kasus adalahseluruhakseptor
bagaimana faktor risiko dipelajari dengan tubektomidi wilayah kerja Puskesmas Bandar
menggunakan pendekatan retrospektif. Pada Khalipah Kabupaten Deli Serdang berjumlah 83
case control dilakukan identifikasi subyek orang.
(kasus) yang telah terkena penyakit (efek), b. Populasi kontrol
kemudian ditelusuri secara retrospektif ada atau Pada kontrol adalahakseptor KB yang
tidak adanya faktor resiko yang diduga tidak menggunakan kontrasepsi tubektomi di
berperan.Kasus adalah ibu yang menggunakan wilayah kerja Puskesmas Bandar Khalipah
kontrasepsi tubektomi dan kontrol adalah ibu Kabupaten Deli Serdang sebanyak 6687
akseptor KB yang tidak memakai kontrasepsi orang.Besar sampel kontrol yang diambil
tubektomi. berjumlah 83 orang.
Tabel 1. Peserta KB Tubektomi dan Peserta KB
Lokasi dan Waktu Penelitian Non Tubektomi di Wilayah Kerja
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Puskesmas Bandar Khalipah
kerja Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten
Deli Serdang. Alasan memilih lokasi ini karena Peserta KB Peserta KB
pemakaian kontrasepsi tubektomi di wilayah No Desa Tubektomi Non

11
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Tubektomi
C ase Pr ocessing Su mmary

N %
C as es Valid 30 100,0

Bandar
Ex c ludeda 0 ,0
Total 30 100,0
a. Lis twis e deletion bas ed on all

1 Khalipah 2 1253
v ariables in the proc edure.

R eliabi lity Statisti cs


2 Bandar Klippa 3 1207 C ronbach' s
Alpha N of Items
3 Bandar Setia 1 418 ,966 8

Sambirejo Item Statist ics

Mean St d. Dev iation N


4 Timur 62 1654 p1
p2
,60
,60
,498
,498
30
30
p3
5 Laut Dendang - 508
,67 ,479 30
p4 ,60 ,498 30
p5 ,60 ,498 30

6 Sei Rotan 15 1210 p6


p7
,63
,57
,490
,504
30
30
p8 ,63 ,490 30
7 Kolam - 437
Item-To tal Statistics
Jumlah 83 6687 Scale Corrected Cronbach's
Scale Mean if Variance if Item-Tot al Alpha if Item
Item Deleted Item Deleted Correlation Delet ed
p1 4,30 9,597 ,907 ,959
p2 4,30 9,528 ,933 ,957

Sampel p3
p4
4,23
4,30
9,771
9,528
,882
,933
,960
,957
p5 4,30 9,597 ,907 ,959
Kelompok sampel dalam penelitian ini p6
p7
4,27
4,33
9,513
10,230
,957
,670
,956
,972

terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok case dan


p8 4,27 10,064 ,753 ,968

Scale Statistics

kelompok control. Untuk kriteria pada case yaitu Mean Variance Std. Dev iat ion N of Items
4,90 12,645 3,556 8

pada wanita pasangan usia subur (PUS).


Bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas
Reliability
Bandar Khalifah sudah dilakukan tubektomi dan
Scale: ALL VARIABLES
bersedia menjadi responden pada penelitian ini. Case Pr ocessing Su mmary

a. Sampel kasusadalahseluruh populasi kasus


N %
Cases Valid 30 100,0
Excludeda 0 ,0
dijadikan sampel. Total
a. Listwise deletion based on all
30 100,0

b. Sampel kontrol adalahakseptor KB yang


v ariables in the procedure.

R eliabi lity Statisti cs


tidak menggunakan tubektomi yang C ronbach' s
Alpha N of Items

rumahnya berdekatan dengan rumah ,952 6

sampel kasus(matching tempat tinggal,


Item Statistics

Mean St d. Dev iation N


pe1 ,63 ,490 30
umur dan jumlah anak). Besar sampel pe2 ,67 ,479 30
pe3 ,63 ,490 30

kontrol diambil berdasarkan perbandingan pe4


pe5
,63
,67
,490
,479
30
30
pe6 ,63 ,490 30
kasus dan kontrol yaitu dengan cara peserta
Item-To tal Statistics

tubektomi merupakan kasus yang Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Tot al Alpha if Item

berdekatan dengan rumah peserta


Item Deleted Item Deleted Correlation Delet ed
pe1 3,23 4,875 ,815 ,947
pe2 3,20 4,924 ,810 ,948

tubektomi tetapi tidak menggunakan pe3


pe4
3,23
3,23
4,875
4,737
,815
,891
,947
,938
pe5
tubektomi dijadikan sebagai kontrol
3,20 4,786 ,888 ,939
pe6 3,23 4,737 ,891 ,938

demikian seterusnya sampai sejumlah Scale Statistics

Mean Variance Std. Dev iat ion N of Items


sampel yang diinginkan sebanyak 83 orang. 3,87 6,878 2,623 6

HASIL PENELITIAN
Reliability
Hasil Olah Data Validitas dan Reliabilitas
Scale: ALL VARIABLES

Reliability
Scale: ALL VARIABLES

12
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Hasil penelitian tentang variabel


Case Pr ocessing Su mmary

N %
Cases Valid 30 100,0
Excludeda
Total
0
30
,0
100,0
pengetahuan yang menggunakan kontrasepsi
a. Listwise deletion based on all
v ariables in the procedure.
tubektomi dengan persentase tertinggi berada
R eliabi lity Statisti cs

C ronbac h' s
Alpha N of Items
pada pengetahuan baik yaitu sebesar 81,5%,
,872 10

Item Statistics sedangkan yang tidak menggunakan


kontrasepsi tubektomi dengan persentase
Mean St d. Dev iation N
s1 2,40 1,037 30
s2 2,47 1,074 30

tertinggi berada pada pengetahuan buruk


s3 2,37 1,159 30
s4 2,33 ,922 30
s5 2,47 1,306 30

sebesar 80,0%. Uji statistik menunjukkan


s6 2,30 1,208 30
s7 2,53 ,900 30
s8 2,60 1,037 30

variabel pengetahuanberpengaruh terhadap


s9 2,23 1,040 30
s10 2,30 1,055 30

penggunaan kontrasepsi tubektomi.


Item-To tal Statistics

Scale Corrected Cronbach's


Scale Mean if Variance if Item-Tot al Alpha if Item

Mengacu pada hasil uji tersebut dapat


Item Deleted Item Deleted Correlation Delet ed
s1 21,60 45,972 ,514 ,866
s2 21,53 43,913 ,647 ,856

dijelaskan bahwa tingkat pengetahuan


s3 21,63 42,171 ,715 ,850
s4 21,67 46,575 ,544 ,864
s5 21,53 41,775 ,639 ,857

berbanding lurus dengan pemakaian alat


s6 21,70 44,769 ,498 ,868
s7 21,47 45,982 ,614 ,859
s8 21,40 44,524 ,627 ,857

kontrasepsi, artinya semakin rendah


s9 21,77 46,737 ,454 ,870
s10 21,70 43,459 ,697 ,852

pengetahuan responden maka pemakaian


Scale Statistics

Mean Variance Std. Dev iat ion N of Items


24,00 54,276 7,367 10

kontrasepsi tubektomi juga rendah. Demikian


juga sebaliknya jika pengetahuan responden
UJi Hubungan Pengetahuan dan Sikap
tinggi maka pemakaian kontrasepsi tubektomi
Crosstabs
juga akan meningkat.
Pengetahuan akseptor KB yang baik
Pengetahuan * sikap Crosstabulation

sikap tentang hakekat program KB akan memengaruhi


Positif Negatif Total
Pengetahuan Baik Count 18 63 81 mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi
% within Pengetahuan 22,2% 77,8% 100,0%
Buruk Count 3 82 85 yang akan digunakan termasuk keleluasaan
% within Pengetahuan 3,5% 96,5% 100,0%
Total Count 21 145 166 atau kebebasan pilihan, kecocokan, pilihan
% within Pengetahuan 12,7% 87,3% 100,0%
efektif tidaknya, kenyamanan dan keamanan,
juga dalam memilih tempat pelayanan yang
Chi-Square Tests

Asy mp. Sig. Exact Sig. Exact Sig. lebih sesuai dan lengkap karena wawasan
Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)
Pearson Chi-Square 13,115b 1 ,000 sudah lebih baik, sehingga demikian kesadaran
Continuity Correctiona 11,478 1 ,001
Likelihood Ratio 14,288 1 ,000 mereka tinggi untuk terus memanfaatkan
Fisher's Exact Test ,000 ,000
Linear-by-Linear
13,036 1 ,000
pelayanan.
Association
N of Valid Cases 166 Hal ini sesuai dengan pendapat Blum
a. Computed only for a 2x2 table
b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is yang dikutip oleh Notatmodjo (2010) yang
10,25.
menyatakan bahwa tindakan seseorang individu
termasuk kemandirian dan tanggung jawabnya
PEMBAHASAN
dalam berperilaku sangat dipengaruhi oleh
Pengaruh Pengetahuan terhadap Penggunaan
domain kognitif atau pengetahuan.
Kontrasepsi Tubektomi di Wilayah Kerja
Hasil penelitian ini sejalan dengan
Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli
penelitian Pardosi (2005) yang menyatakan
Serdang
bahwa secara statistik diperoleh hubungan yang

13
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

bermakna antara pengetahuan dengan tingkat tubektomi dengan persentase tertinggi berada
kemandirian akseptor KB aktif dalam pada persepsi baik yaitu sebesar 82,7%,
pemanfaatan program KB mandiri (sig=0,001). sedangkan yang tidak menggunakan
Pernyataan tersebut sama dengan kontrasepsi tubektomi dengan persentase
penelitian Purwoko (2000) pengetahuan tertinggi berada pada persepsi buruk sebesar
menyumbangkan peran dalam menentukan 76,9%. Uji statistik menunjukkan variabel
pengambilan keputusan untuk memilih alat persepsiberpengaruh terhadap penggunaan
kontrasepsi tertentu. Semakin tinggi tingkat kontrasepsi tubektomi.
pengetahuan tentang alat kontrasepsi, maka Mengacu pada hasil uji tersebut dapat
makin meningkat pula perannya sebagai dijelaskan bahwa persepsi berbanding lurus
pengambil keputusan. Hasil penelitian yang dengan pemakaian alat kontrasepsi, artinya
sama oleh Wijayanti (2004) melalui wawancara semakin buruk persepsi responden maka
mendalam dan observasi dapat diketahui bahwa pemakaian kontrasepsi tubektomi juga menurun.
ketidaktahuan atau kurangnya pengetahuan Demikian juga sebaliknya jika persepsi
masyarakat tentang tubektomiinilah yang responden baik maka pemakaian kontrasepsi
merupakan faktor utama penyebab mereka tidak tubektomi juga akan meningkat.
memilih tubektomi ini sebagai kontrasepsi Persepsi akseptor KB tentang
pilihan. penggunaan kontrasepsi tubektomi beraneka
Berdasarkan penelitian Imbarwati ragam misalnya banyak ibu merasa bahwa
(2009), beberapa faktor yang berkaitan dengan tubektomi merupakan kontrasepsi yang paling
penggunaan tubektomi pada peserta KB di praktis, merasa bahwa tubektomi memerlukan
Kecamatan Pedurangan Kota Semarang adalah biaya yang cukup mahal, merasa takut memakai
pengetahuan yang kurang baik tentang KB kontrasepsi tubektomi karena menimbulkan rasa
tubektomi semakin menjauhkan tubektomi sakit, merasa malu dengan cara tubektomi yang
sebagai salah satu pilihan bagi akseptor KB, harus memperlihatkan aurat (vagina, pemakaian
Alasan yang mayoritas klien yang lebih memilih tubektomi tidak sesuai dengan nilai dari agama
menggunakan KB non tubektomi salah satunya yang ibu anut, ibu merasa takut menggunakan
dipengaruhi oleh pengetahuan yang kurang tubektomi karena mendengar pengalaman
akan informasi yang benar tentang tubektomi teman/keluarga yang mengalami efek samping
sehingga menyebabkan mereka memiliki keluhan karena menggunakan tubektomi.
perasaan takut untuk memilih alat kontrasepsi Selain itu tidak kalah pentingnya bahwa
tersebut. persepsi akseptok KB tentang kontrasepsi
tubektomi masih banyak yang berpersepsi
Pengaruh Persepsi terhadap Penggunaan bahwa pelaksanaan tubektomi maupun kontrol
Kontrasepsi Tubektomi di Wilayah Kerja ulang memerlukan biaya yang mahal sehingga
Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli tidak menggunakan kontrasepsi tubektomi.
Serdang Persepsi yang dimiliki setiap akseptor
Hasil penelitian tentang variabel KB inilah yang memengaruhi ibu untuk jenis
persepsi yang menggunakan kontrasepsi pemilihan alat kontrasepsi yang akan

14
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

dipergunakan dan ditambah dengan sudah tubektomi karena kontrasepsi ini tidak
mempertimbangkan jumlah anak yang sudah bergantung pada faktor senggama, tubektomi
dimiliki. Karena tubektomi merupakan tidak mempengaruhi produksi ASI bagi yang
kontrasepsi permanen.Hal ini sesuai menurut menyusui, tidak akan menyesal dikemudian hari
Hanafi (2004) bahwa pertimbangan seorang ibu bila menggunakan tubektomi karena kontrasepsi
atau akseptor KB untuk mempergunakan ini tidak mempunyai efek samping, pemakaian
kontrasepsi tubektomi harus dipertimbangkan tubektomi adalah pilihan bagi pasangan yang
sifat permanan metode kontrasepsi tersebut, ingin mempunyai anak lagi, merasa kurang
karena ibu/akseptor KB dapat menyesal percaya diri bila harus menggunakan tubektomi
kemudian hari. sebagai alat kontrasepsi, tidak ada perbedaan
Menurut Mulyana (2000), persepsi antara kontrasepsi tubektomi dengan
adalah proses internal yang memungkinkan kita kontrasepsi yang lain yang penting aman
memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan digunakan.
rangsangan dari lingkungan kita, dan proses Hal ini tidak sesuai menurutpenelitian
tersebut mempengaruhi perilaku kita. Rizma Pazriyanti (2012), bahwa sikap
Persepsi yang dimiliki oleh akseptor KB mempengaruhi pemilihan alat kontrasepsi.
merupakan suatu proses atau suatu stimulus Umumnya masyarakat lebih memilih
yang diterima oleh individu melalui alat reseptor kontrasepsi-kontrasepsi yang telah dijelaskan
yaitu indera yaitu apa yang ada dalam diri oleh petugas kesehatan.
individu, pikiran, perasaan, pengalaman- Penelitian lain yaitu Junita (2008),
pengalaman individu akan ikut aktif berpengaruh bahwa faktor-faktor yang memengaruhi
dalam proses persepsi. pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS KB di
Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan
Pengaruh Sikap terhadap Penggunaan Hulu Tahun 2008 adalah pengetahuan dan
Kontrasepsi Tubektomi di Wilayah Kerja sikap ibuberpengaruh terhadap pemakaian alat
Puskesmas Bandar Khalipah Kabupaten Deli kontrasepsi.
Serdang Berdasarkan hasil penelitian seluruh
Hasil penelitian tentang variabel sikap akseptor KB dengan bersikap positif sebesar
yang menggunakan kontrasepsi tubektomi 19,3% dan dari akseptor KB yang bersifat
dengan persentase tertinggi berada pada sikap negatif yang menggunakan kontrasepsi
positif yaitu sebesar 76,2%, sedangkan yang tubektomi sebesar 80,7%. Penelitian ini
tidak menggunakan kontrasepsi tubektomi menunjukkan bahwa ibu menggunakan
dengan persentase tertinggi berada pada sikap kontrasepsi tubektomi tidak didasarkan
negatif sebesar 53,8%. Uji statistik menunjukkan bagaimana akseptor KB menyikapi kontrasepsi
variabel sikaptidak berpengaruh terhadap tubektomi. Keadaan ini tidak dipengaruhi oleh
penggunaan kontrasepsi tubektomi. sikap, namun ada faktor lain misalnya
Sikap akseptor KB tentang penggunaan pengetahuan dan persepsi yang lebih
kontrasepsi tubektomi beraneka ragam misalnya memengaruhi akseptor KB sehingga memilih
tidak perlu khawatir bila menggunakan jenis kontrasepsi tubektomi yang dipakai.

15
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

bagaimana akseptor KB menyikapi


KESIMPULAN DAN SARAN kontrasepsi tubektomi. Keadaan ini tidak
Kesimpulan dipengaruhi oleh sikap, namun ada faktor
1. Terdapat pengaruh pengetahuan terhadap lain misalnya pengetahuan dan persepsi
penggunaan kontrasepsi tubektomi di yang lebih memengaruhi akseptor KB
wilayah kerja Puskesmas Bandar Khalipah sehingga memilih jenis kontrasepsi
Kabupaten Deli Serdang, artinya apabila tubektomi yang dipakai.
pengetahuan akseptor KB baik maka akan
meningkatkan penggunaan Saran
tubektomi.Pengetahuan akseptor KB yang 1. Kepada Dinas Kesehatan Deli Serdang
baik tentang hakekat program KB akan perlu merencanakan kegiatan penyuluhan
memengaruhi mereka dalam memilih tentang kontrasepsi tubektomi bahwa
metode/alat kontrasepsi yang akan tubektomi adalah salah satu kontrasepsi
digunakan termasuk keleluasaan atau jangka panjang dan untuk meningkatkan
kebebasan pilihan, kecocokan, pilihan efektif persepsi tentang kontrasepsi tubektomi
tidaknya, kenyamanan dan keamanan, juga perlu dijelaskan bahwa tubektomi aman
dalam memilih tempat pelayanan yang lebih bagi ibu dan dapat diperoleh secara gratis
sesuai dan lengkap karena wawasan sudah dari pemerintah.
lebih baik, sehingga demikian kesadaran 2. Kepada BKKBN,untuk meningkatkan
mereka tinggi untuk terus memanfaatkan penggunaan tubektomi pada akseptor KB
pelayanan. hendaknya jangan hanya tindakan operasi
2. Terdapat pengaruh persepsi terhadap tubektomi dilakukan secara gratis namun
penggunaan kontrasepsi tubektomi di kontrol ulang juga dilakukan secara gratis.
wilayah kerja Puskesmas Bandar Khalipah
Kabupaten Deli Serdang, artinya persepsi
baik yang dimiliki setiap akseptor KB akan DAFTAR PUSTAKA
meningkatkan penggunaan kontrasepsi Arum Setya N.D, 2009, Panduan Lengkap
tubektomi.Persepsi yang dimiliki setiap Pelayanan KB Terkini, Mitra
akseptor KB inilah yang memengaruhi ibu Cendikia, Jogjakarta.
untuk jenis pemilihan alat kontrasepsi yang Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan Deli
akan dipergunakan dan ditambah dengan Serdang, 2011.
sudah mempertimbangkan jumlah anak Bappenas, 2006, Informasi Keadilan dan
yang sudah dimilikikarena ibu/akseptor KB Kesertaan Gender Dalam KB dan
dapat menyesal kemudian hari. Kesehatan Reproduksi, Jakarta.
3. Tidak terdapat pengaruh sikap terhadap BKKBN, 2006, Kumpulan Data Program
penggunaan kontrasepsi tubektomi di Keluarga Berencana Nasional.
wilayah kerja Puskesmas Bandar Khalipah Jakarta
Kabupaten Deli Serdang. Ibu menggunakan _______, 2009, Journal of Akseptor KB di
kontrasepsi tubektomi tidak didasarkan Indonesia (Internet). Available from :

16
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

(http://www.bkkbn.com) (Accessed Meilani N., 2010, Pelayanan Keluarga


March 15, 2010). Berencana (dilengkapi dengan
_______, 2011, penuntun belajar), Fitramaya,
http://www.bkkbn.go.id/siaranpers/Pa Ygyakarta.
ges/Pemerintah-Beri-Insentif- Mochtar Rustam, 1998, Sinopsi obstetric, EGC,
Pemasangan-IUD.aspx : tanggal Jakarta.
diakses 31 Oktober 2011. Mulyana D., 2000, Pengantar Ilmu Komunikasi,
_______ Sumut, 2011, RemajaRosadakarya, Bandung.
http://www.medanbisnisdaily.com/ne Notoatmodjo Soekidjo, 2003, Pendidikan dan
ws/read/2011/10/30/ Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta,
63562/pentingnya_kb_tren_positif_wa Jakarta.
rga_sumut/#.TyglfPlAHUg : tanggal ___________________, 2010, Pendidikan
diakses 01 Pebruari 2012. Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka
Dinkes Deli Serdang, 2011, Propil Kesehatan Cipta, Jakarta.
Puskesmas Bandar Khalipah. Noviawati S.A.D, 2009, Panduan Lengkap
Hanafi Hartanto, 2004, Keluarga Berencana dan Pelyanan KB Terkini, Mitra Cendikia,
Kontrasepsi, Pusaka Sinar Harapan, Yokjakarta.
Jakarta. Nursalam, 2011, Konsep dan Penerapan
Hidayat A.A, 2010, Metode Penelitian Metodologi Penelitian Ilmu
Kebidanan & Teknik Analisis Data, Keperawatan, Pedoman Skrpsi,
Salemba Medika, Jakarta. Tesis dan Instrumen Penelitian
Imbarwati, 2009, Beberapa Faktor Yang Keperawatan, Salemba Medika,
Berkaitan Dengan Penggunaan KB Jakarta.
IUD Pada Peserta KB Non IUD di Pardosi, T.I., 2005, Analis Faktor-faktor yang
Kecamatan Pedurungan Kota Berhubungan dengan Tingkat
Semarang, Tesis Undip, Semarang. Kemandirian Akseptor KB Aktif
Junita T.P, 2008, Faktor-faktor yang dalam Pemanfaatan Program KB
Memengaruhi Pemakaian Alat Mandiri di Wilayah Kerja Puskesmas
Kontrasepsi Pada Istri PUS KB di Padang Bulan Kec. Medan Baru
Kecamatan Rambah Samo Kodya Medan Tahun 2005, Skripsi,
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008, Fakultas Kesehatan Masyarakat,
Tesis, Pasca Sarjana USU. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Klobinsky 2004, Faktor-faktor yang Purwoko, 2000, Penerimaan Vasektomi dan
berhubungan dengan PUS memilih Sterilisasi Tuba, Tesis, Fakultas
kontrasepsi tubektomi. Jakarta. Kedokteran Undip, Semarang.
Manuaba, 2010, Ilmu Kebidanan, Penyakit Rizma F., 2012, Budaya yang Berpengaruh
Kandungan, dan Keluarga Terhadap Pemilihan Alat
Berencana untuk Pendidikan Bidan, Kontrasepsi, Fakultas Kedokteran
EGC, Jakarta. Padjadjaran, Bandung.

17
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Riyanto Agus, 2009, Pengolahan dan Analisis


Data Kesehatan, Mitra Cendika
Press, Yogyakarta.
Siswosudarmo HR, 2007, Teknologi
Kontrasepsi, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Suratun, 2008, Pelayanan Keluarga Berencana
& Pelayanan Kontrasepsi, Trans Info
Media, Jakarta.
Wijayanti, T., 2004, Studi Kualitatif Alasan
Akseptor Laki-Laki Tidak Memilih
MOP sebagai Kontrasepsi Pilihan di
Desa Timpik kecamatan Susukan
kabupaten Semarang, Program Studi
D IV Kebidanan Stikes Ngudi
Waluyo, Unggran.
Wiknjosastro, 2005, Ilmu Kandungan, YBP-SP,
Jakarta.

18
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Otomatisasi Pengaturan Pengukuran Suhu Incubator Bayi

Rokhmat Hidayat (1)

1Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Perkembangan teknologi saat ini telah memberikan dampak yang beragam ke berbagai macam
ranah kehidupan termasuk dalam ranah kesehatan. Perubahan yang revolusioner dalam dunia
kesehatan ini disebabkan dari penggabungan teknologi dalam bidang kesehatan yang bisa menimbulkan
berbagai macam inovasi dalam teknik pengobatan dan belum pernah kita lihat sebelumnya. Mungkin
selama ini kita tidak pernah menyangka bahwa kita akan bisa mendeteksi penyakit seperti stroke dan
kanker hanya dari sebuah smart phone, namun ternyata itu semua bisa dilakukan sendiri oleh kita saat ini
dengan mudah, murah, dan cepat.
Kemajuan teknologi di bidang kesehatan memang dapat memberikan banyak manfaat terutama
dalam pemerataan akses dan informasi terhadap kesehatan, namun banyak juga pihak yang khawatir
terhadap dampak buruk yang akan dapat ditimbulkan dari hal ini. Bagaimanapun teknologi tetaplah
sebuah alat untuk kehidupan manusia, jika tidak bijak menggunakannya tetap akan membawa keburukan
untuk kehidupan manusia, missal pada rumah sakit atau klinik persalinan yang memiliki fasilitas
persalinan lengkap pasti dengan biaya yang mahal akan sulit untuk dijangkau oleh masyarakat
menengah dan kecil. Berdasakan akan kebutuhan a inkubator yang tinggi dan biaya yang sangat mahal
maka dibuatlah inkubator sederhana dengan biaya minimum dan fungsi yang maksimal untuk dapat
menjaga keadaan suhu bayi premature.
Suhu dan kelembaban inkubator dipantau oleh sensor yang dirangkai dengan Arduino. Kemudian
data output dari Arduino diolah oleh visual basic kemudian outputnya akan muncul di komputer yang
digunakan perawat. Dalam program Arduino ditentukan nilai set point untuk suhu yaitu antara 35 C - 36
C dan nilai kelembaban antara 55% - 70%. Data output dari Arduino merupakan suatu perintah untuk
perangkat keras yang disediakan untuk mengatur kestabilan suhu dan kelembaban didalam inkubator
yaitu bohlam dan fan. Jika suhu kurang dari nilai set point maka bohlam akan menyala, jika melebihi nilai
set point bohlam otomatis mati. Begitu juga dengan kelembaban, jika kelembaban kurang dari nilai set
point maka fan akan menyala dan jika melebihi nilai set point otomatis fan akan mati.
Setelah melalui proses pengujian sistem monitoring dan kontrol otomatis inkubator bayi telah
berjalan sesuai dengan parameter yang ditetapkan yaitu suhu normal berkisar antara 35 C - 36 C

19
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

dengan kelembaban antara 55% - 70%. Alat ini mampu melakukan proses pemanasan sampai stabil
pada suhu 36 C dan menjaga kelembaban udara pada kondisi 52%. Diketahui bahwa adanya linearitas
nilai suhu dan kelembaban dari sensor, dimana presentasi kesalahan rata-rata dari perhitungan suhu
adalah 1,5% dan kelembaban adalah 2,5%.

Kata kunci : Teknologi, Informasi Kesehatan, Monitoring, Suhu Dan Kelembaban, Inkubator Bayi, Arduino

PENDAHULUAN yaitu incubator bayi. Untuk mempermudah


Kelahiran bayi prematur adalah bayi memonitor keadaan inkubator, diperlukan
yang belum cukup bulan untuk lahir tapi sebuah system yang dapat memonitor inkubator
diharuskan lahir karena adanya masalah dalam tersebut dari jarak jauh.
kandungan. PERALATAN
Ketuban yang peceh lebih cepat bisa 1. Arduino Uno
membuat air ketuban terinfeksi kuman, jika Arduino Uno adalah board
terlalu lama dibiarkan lebih dari 18 jam, mikrokontroler berbasis ATmega328. Uno
akibatnya bayi bisa sesak nafas. Penyebab memiliki 14 pin digital input / output (dimana 6
pecahnya ketuban karena stres yang dialami dapat digunakan sebagai output PWM), 6 input
bayi dalam kandungan. Stresnya dapat analog, resonator keramik 16 MHz, koneksi
disebabkan oleh infeksi. USB, jack listrik, header ICSP, dan tombol reset.
Selain itu lahir prematur bisa jadi karena Uno dibangun berdasarkan apa yang diperlukan
kontraksi sang ibu. Jika kontraksi terjadi untuk mendukung mikrokontroler, sumber daya
sebelum waktunya, bukan tak mungkin bayi bisa menggunakan power USB (jika terhubung
akan lahir prematur. Karena bayi stres, katup ke komputer dengan kabel USB) dan juga
mulut janin pun jadi terbuka dan air ketuban bisa dengan adaptor atau baterai.
terminum oleh bayi, sehingga bayi akan Arduino Uno berbeda dari semua papan
mengalami sesak nafas. sebelumnya dalam hal tidak menggunakan FTDI
Penggunaan inkubator bayi sangat vital chip driver USB-to-serial. Sebaliknya, fitur
digunakan bagi bayi yang baru lahir prematur, Atmega16U2 (Atmega8U2 sampai versi R2)
penjagaan suhu yang pas sangat diperlukan diprogram sebagai konverter USB-to-serial.
bayi dikarenakan perubahan suhu luar yang Revisi 2 dari Uno memiliki resistor pulling 8U2
tidak stabil dan selalu berubah-ubah. Umumnya, HWB yang terhubung ke tanah, sehingga lebih
setiap perawat harus terus memantau mudah untuk menggunakan mode DFU.
perubahan suhu inkubator, apakah suhu yang
diterima sudah pas dengan suhu yang Daya (Power)
dibutuhkan. Arduino UNO dapat disuplai melalui
Oleh karena itu diciptakanlah sebuah koneksi USB atau dengan sebuah power suplai
alat yang dapat menstabilkan suhu panas bayi eksternal. Sumber daya dipilih secara otomatis.

20
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Suplai eksternal (non-USB) dapat diperoleh dari 3V3. Sebuah suplai 3,3 Volt dihasilkan
sebuah adaptor AC ke DC atau battery. Adaptor oleh regulator pada board. Arus
dapat dihubungkan dengan mencolokkan maksimum yang dapat dilalui adalah 50
sebuah center-positive plug yang panjangnya mA.
2,1 mm ke power jack dari board. Kabel lead GND. Pin ground.
dari sebuah battery dapat dimasukkan dalam
header/kepala pin Ground (Gnd) dan pin Vin
dari konektor POWER.
Board Arduino UNO dapat beroperasi Memori
pada sebuah suplai eksternal 6 sampai 20 Volt. ATmega328 mempunyai 32 KB (dengan
Jika disuplai dengan yang lebih kecil dari 7 V, 0,5 KB digunakan untuk bootloader). ATmega
kiranya pin 5 Volt mungkin mensuplai kecil dari 328 juga mempunyai 2 KB SRAM dan 1 KB
5 Volt dan board Arduino UNO bisa menjadi EEPROM (yang dapat dibaca dan ditulis
tidak stabil. Jika menggunakan suplai yang lebih (RW/read and written) dengan EEPROM
dari besar 12 Volt, voltage regulator bisa library).
kelebihan panas dan membahayakan board
Arduino UNO. Range yang direkomendasikan Input dan Output
adalah 7 sampai 12 Volt. Pin-pin dayanya Setiap 14 pin digital pada Arduino Uno
adalah sebagai berikut: dapat digunakan sebagai input dan output,
VIN. Tegangan input ke Arduino board menggunakan fungsi pinMode(),digitalWrite(),
ketika board sedang menggunakan dan digitalRead(). Fungsi-fungsi tersebut
sumber suplai eksternal (seperti 5 Volt beroperasi di tegangan 5 Volt. Setiap pin dapat
dari koneksi USB atau sumber tenaga memberikan atau menerima suatu arus
lainnya yang diatur). Kita dapat maksimum 40 mA dan mempunyai sebuah
menyuplai tegangan melalui pin ini, atau resistor pull-up (terputus secara default) 20-50
jika penyuplaian tegangan melalui kOhm. Selain itu, beberapa pin mempunyai
power jack, aksesnya melalui pin ini. fungsi-fungsi spesial:
5V. Pin output ini merupakan tegangan
5 Volt yang diatur dari regulator pada Serial: 0 (RX) dan 1 (TX). Digunakan
board. Board dapat disuplai dengan untuk menerima (RX) dan
salah satu suplai dari DC power jack (7- memancarkan (TX) serial data TTL
12V), USB connector (5V), atau pin VIN (Transistor-Transistor Logic). Kedua pin
dari board (7-12). Penyuplaian tegangan ini dihubungkan ke pin-pin yang sesuai
melalui pin 5V atau 3,3V membypass dari chip Serial Atmega8U2 USB-ke-
regulator, dan dapat membahayakan TTL.
board. Hal itu tidak dianjurkan. External Interrupts: 2 dan 3. Pin-pin ini
dapat dikonfigurasikan untuk dipicu

21
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

sebuah interrupt (gangguan) pada digunakan untuk menambahkan sebuah


sebuah nilai rendah, suatu kenaikan tombol reset untuk melindungi yang
atau penurunan yang besar, atau suatu memblock sesuatu pada board.
perubahan nilai. Lihat
fungsi attachInterrupt() untuk lebih Komunikasi
jelasnya. Arduino UNO mempunyai sejumlah
PWM: 3, 5, 6, 9, 10, dan 11. fasilitas untuk komunikasi dengan sebuah
Memberikan 8-bit PWM output dengan komputer, Arduino lainnya atau mikrokontroler
fungsi analogWrite(). lainnya. Atmega 328 menyediakan serial
SPI: 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO), 13 komunikasi UART TTL (5V), yang tersedia pada
(SCK). Pin-pin ini mensupport pin digital 0 (RX) dan 1 (TX). Sebuah Atmega
komunikasi SPI menggunakan SPI 16U2 pada channel board serial komunikasinya
library. melalui USB dan muncul sebagai sebuah port
LED: 13. Ada sebuah LED yang virtual ke software pada komputer. Firmware
terpasang, terhubung ke pin digital 13. 16U2 menggunakan driver USB COM standar,
Ketika pin bernilai HIGH LED menyala, dan tidak ada driver eksternal yang dibutuhkan.
ketika pin bernilai LOW LED mati. Bagaimanapun, pada Windows, sebuah file inf
Arduino UNO mempunyai 6 input pasti dibutuhkan. Software Arduino mencakup
analog, diberi label A0 sampai A5, setiapnya sebuah serial monitor yang memungkinkan data
memberikan 10 bit resolusi (contohnya 1024 tekstual terkirim ke dan dari board Arduino. LED
nilai yang berbeda). Secara default, 6 input RX dan TX pada board akan menyala ketika
analog tersebut mengukur dari ground sampai data sedang ditransmit melalui chip USB-to-
tegangan 5 Volt, dengan itu mungkin untuk serial dan koneksi USB pada komputer (tapi
mengganti batas atas dari rangenya dengan tidak untuk komunikasi serial pada pin 0 dan
menggunakan pin AREF dan 1). Sebuah SoftwareSerial
fungsi analogReference(). Di sisi lain, beberapa library memungkinkan untuk komunikasi serial
pin mempunyai fungsi spesial: pada beberapa pin digital UNO.
Atmega328 juga mensupport
TWI: pin A4 atau SDA dan pin A5 atau komunikasi I2C (TWI) dan SPI. Software
SCL. Mensupport komunikasi TWI dengan Arduino mencakup sebuah Wire library untuk
menggunakan Wire library Ada sepasang memudahkan menggunakan bus I2C,
pin lainnya pada board: lihat dokumentasi untuk lebih jelas. Untuk
AREF. Referensi tegangan untuk input komunikasi SPI, gunakanSPI library.
analog. Digunakan
dengan analogReference(). Programming
Reset. Membawa saluran ini LOW untuk Arduino UNO dapat diprogram dengan
mereset mikrokontroler. Secara khusus, software Arduino (download). Pilih Arduino Uno

22
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

dari menu Tools > Board (termasuk sebuah penguploadan, Arduino Uno didesain
mikrokontroler pada board). ATmega328 pada pada sebuah cara yang memungkinkannya
Arduino Uno hadir dengan sebuah bootloader untuk direset dengan software yang sedang
yang memungkinkan kita untuk mengupload berjalan pada pada komputer yang sedang
kode baru ke ATmega328 tanpa menggunakan terhubung. Salah satu garis kontrol aliran
pemrogram hardware eksternal. ATmega328 hardware (DTR) dari ATmega8U2/16U2
berkomunikasi menggunakan protokol STK500 sihubungkan ke garis reset dari ATmega328
asli (referensi, file C header). Kita juga dapat melalui sebuah kapasitor 100 nanofarad. Ketika
membypass bootloader dan program saluran ini dipaksakan (diambil rendah), garis
mikrokontroler melalui kepala/header ICSP (In- reset jatuh cukup panjang untuk mereset chip.
Circuit Serial Programming). Software Arduino menggunakan kemampuan ini
Sumber kode firmware ATmega16U2 untuk memungkinkan kita untuk mengupload
(atau 8U2 pada board revisi 1 dan revisi 2) kode dengan mudah menekan tombol upload di
tersedia. ATmega16U2/8U2 diload dengan software Arduino. Ini berarti bahwa bootloader
sebuah bootloader DFU, yang dapat diaktifkan dapat mempunyai sebuah batas waktu yang
dengan: lebih singkat, sebagai penurunan dari DTR yang
Pada board Revisi 1: Dengan dapat menjadi koordinasi yang baik dengan
menghubungkan jumper solder pada memulai penguploadan.
belakang board (dekat peta Italy) dan Pengaturan ini mempunyai implikasi.
kemudian mereset 8U2 Ketika Arduino Uno dihubungkan ke sebuah
Pada board Revisi 2 atau setelahnya: Ada komputer lain yang sedang running
sebuah resistor yang menarik garis HWB menggunakan OS Mac X atau Linux, Arduino
8U2/16U2 ke ground, dengan itu dapat lebih Uno mereset setiap kali sebuah koneksi dibuat
mudah untuk meletakkan ke dalam mode dari software (melalui USB). Untuk berikutnya,
DFU. Kita dapat menggunakan software setengah-detik atau lebih, bootloader sedang
Atmels FLIP (Windows) atau pemrogram berjalan pada Arduino UNO. Ketika Arduino
DFU (Mac OS X dan Linux) untuk meload UNO diprogram untuk mengabaikan data yang
sebuah firmware baru. Atau kita dapat cacat/salah (contohnya apa saja selain sebuah
menggunakan header ISP dengan sebuah penguploadan kode baru) untuk menahan
pemrogram eksternal (mengoverwrite beberapa bit pertama dari data yang dikirim ke
bootloader DFU). Lihat tutorial user- board setelah sebuah koneksi dibuka. Jika
contributed ini untuk informasi sebuah sketch sedang berjalan pada board
selengkapnya. menerima satu kali konfigurasi atau data lain
ketika sketch pertama mulai, memastikan bahwa
Reset Otomatis (Software) software yang berkomunikasi menunggu satu
Dari pada mengharuskan sebuah detik setelah membuka koneksi dan sebelum
penekanan fisik dari tombol reset sebelum mengirim data ini.

23
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Arduino Uno berisikan sebuah jejak


yang dapat dihapus untuk mencegah reset
otomatis. Pad pada salah satu sisi dari jejak
dapat disolder bersama untuk mengaktifkan
kembali. Pad itu diberi label RESET-RN Kita
juga dapat menonaktifkan reset otomatis
dengan menghubungkan sebuah resistor 110
ohm dari tegangan 5V ke garis reset. Gambar 1. Arduino Uno

Proteksi Arus lebih USB


2. Sensor Suhu DHT11
Arduino UNO mempunyai sebuah DHT11 adalah sensor digital yang dapat
sebuah sekring reset yang memproteksi port mengukur suhu dan kelembaban udara di
USB komputer dari hubungan pendek dan arus sekitarnya. Sensor ini sangat mudah digunakan
lebih. Walaupun sebagian besar komputer bersama dengan Arduino. Memiliki tingkat
menyediakan proteksi internal sendiri, sekring stabilitas yang sangat baik serta fitur kalibrasi
menyediakan sebuah proteksi tambahan. Jika yang sangat akurat. Koefisien kalibrasi disimpan
lebih dari 500 mA diterima port USB, sekring dalam OTP program memory, sehingga ketika
secara otomatis akan memutuskan koneksi internal sensor mendeteksi sesuatu, maka
sampai hubungan pendek atau kelebihan beban module ini menyertakan koefisien tersebut
hilang. dalam kalkulasinya.
DHT11 termasuk sensor yang memiliki
kualitas terbaik, dinilai dari respon, pembacaan
Karakteristik Fisik data yang cepat, dan kemampuan anti-
Panjang dan lebar maksimum dari PCB interference. Ukurannya yang kecil, dan dengan
Arduino UNO masing-masingnya adalah 2.7 dan transmisi sinyal hingga 20 meter, membuat
2.1 inci, dengan konektor USB dan power jack produk ini cocok digunakan untuk banyak
yang memperluas dimensinya. Empat lubang aplikasi-aplikasi pengukuran suhu dan
sekrup memungkinkan board untuk dipasangkan kelembaban. Dengan spesifikasi Supply
ke sebuah permukaan atau kotak. Sebagai Voltage: +5 V, Temperature range : 0-50 C
catatan, bahwa jarak antara pin digital 7 dan 8 error of 2 C, Humidity : 20-90% RH 5% RH
adalah 160 mil. (0.16"), bukan sebuah kelipatan error, Interface : Digital.
genap dari jarak 100 mil dari pin lainnya. Sensor DHT11 merupakan sensor
dengan kalibrasi sinyal digital yang mampu
memberikan informasi suhu dan
kelembaban. Sensor ini tergolong komponen
yang memiliki tingkat stabilitas yang sangat baik,

24
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Produk dengan kualitas terbaik, respon Bola lampu digunakan sebagai


pembacaan yang cepat, dan kemampan anti- pemanasan pada ruang. Perhitungan
interference, dengan harga yang terjangkau. penggunaan energi pada pemanasan ruangnya
DHT11 memiliki fitur kalibrasi yang dan besarnya daya pada boklam lampu adalah
sangat akurat. Koefisien kalibrasi ini disimpan sebagai berikut:
dalam OTP program memory, sehingga ketika Energi kalor yg dibutuhkan ruangan:
internal sensor mendeteksi sesuatu suhu atau W=P.t P=V.I.t V=I.R W=
kelembaban, maka module ini membaca I2. R . t 1 joule = 0,24
koefisien sensor tersebut. Ukurannya yang kecil, kalori
dengan transmisi sinyal hingga 20 meter, Q = 0,24 I2. R . t (Joule)
membuat produk ini cocok digunakan untuk Q = m . cudara . (t2 - t1) (kalori)
banyak aplikasi-aplikasi pengukuran suhu dan Nilai daya boklam lampu adalah :
kelembaban P = V2/R

Gambar 2. Sensor Suhu DHT11


Gambar 3. Bola lampu pijar
3. Bola Lampu Pijar sebagai Pemanas
Lampu pijar adalah 4. Fan atau kipas

sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui Fan adalah semua kipas yang terdapat

penyaluran arus listrik melalui filamen yang di dalam incubator. Saat incubator dinyalakan,

kemudian memanas dan menghasilkan cahaya. maka incubator tersebut menggunakannya

Kaca yang menyelubungi filamen panas untuk beberapa waktu lamanya, maka incubator

tersebut menghalangi udara untuk berhubungan tersebut akan menimbulkan panas pada ruang

dengannya sehingga filamen tidak akan incubator tersebut. Untuk mendinginkan ruang

langsung rusak akibat teroksidasi. tersebut serta untuk menghindari panas yang

Lampu pijar dipasarkan dalam berbagai berlebih maka digunakan kipas dalam incubator.

macam bentuk dan tersedia untuk tegangan Fan digunakan untuk mendistribusikan panas

(voltase) kerja yang bervariasi dari mulai 1,25 serta mendinginkan jika suhu diatas nilai set

volt hingga 300 volt. Di samping memanfaatkan point dan kelembaban di bawah nilai set point
.
cahaya yang dihasilkan, beberapa penggunaan
lampu pijar lebih memanfaatkan panas yang
dihasilkan.

25
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM


Persiapan Perangkat Keras dan Perangkat
Lunak.
Sebelum membuat rangkaian yang akan
digunakan sebagai pendataan bahan ilmiah,
terlebih dahulu mempersiapkan alat yang
Gambar 4 Fan atau kipas diperlukan sebagai penunjang pada saat
melakukan pengujian pada rangkaian. Adapun
5. LCD (Liquid Crystal Display) alat dan bahan yang diperlukan adalah sebagai
LCD (Liquid Crystal Display) adalah suatu jenis berikut :
media tampil yang menggunakan kristal cair 1. Satu buah sensor suhu dan kelembaban DHT
sebagai penampil utama. LCD sudah digunakan 11
diberbagai bidang misalnya alal - alat elektronik 2. Kabel USB (Universal Serial Bus)
seperti televisi, kalkulator, atau pun layar 3. Arduino Uno
komputer. Pada penelitian ini aplikasi LCD yang 4. Aplikasi program
digunakan ialah LCD dot matrik dengan jumlah 5. Rangkaian Power Supply yang terhubung
karakter 2x16. LCD sangat berfungsi sebagai dengan bola lampu dan fan
penampil yang nantinya akan digunakan untuk 6. Digital Thermo-Hygrometer yang digunakan
menampilkan suhu dan kelembaban sensor sebagai pembanding suhu dan kelembaban
DHT11

Gambar 5 LCD

Gambar 7 Grafik Perbandingan suhu dengan


kondisi bola lampu

Gambar 6 Arduino uno terhubung ke sensor


suhu DHT11

26
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

3. Dari hasil pengujian diketahui bahwa adanya


linearitas nilai suhu dan kelembaban dari sensor
DHT11, dimana presentasi kesalahan rata-rata
dari perhitungan suhu adalah 1,5% dan
kelembaban adalah 2,5%.

DAFTAR PUSTAKA
A. Murat. New Features For Application
Development, Packt Publising Ltd,
Gambar 8 Grafik Perbandingan Kelembaban 2012.
DHT11 dengan Kondisi Fan A. Zaenal. Mengenal Wireless LAN, Penerbit
Andi, Yogyakarta, 2005.
Agfianto, P, 2010, Tips dan Trik Mikrokontroler
AT89 dan AVR, Gava Media,
KESIMPULAN Yogyakarta.
Setelah melakukan perancangan,pengamatan B. Heriyanto Esensi esensi Bahasa
dan pengujian alat, berikutkesimpulan yang Pemrograman Java, Penerbit
dapat diambil : Informatika, Bandung, 2011.
1. Sistem monitoring dan control otomatis Bejo, Agus, C & AVR Rahasia Kemudahan
inkubator bayi telah berjalan sesuai dengan Bahasa C dalam Mikrokontroler
parameter yang ditetapkan yaitu suhu normal ATmega8535, Edisi Pertama,
berkisar antara 35 C - 36 C dengan Yogyakarta: Penerbit Gava Media,
kelembaban antara 55% - 70%. Jika suhu tidak 2005.
kurang dari yang ditetapkan, maka Bohlam yang Budiharto, Widodo, Panduan Lengkap Belajar
merupakan penghangat akan menyala agar Mikrokontroler Perancangan Sistem dan
suhu mencapai nilai set point. Ketika Aplikasi Mikrokontroler, Jakarta: PT Elex
kelembaban kurang dari nilai set point maka Fan media Komputindo, 2005.
akan menyala. Eko, Agfianto Putra, 2002, Belajar
Fungsi dari Fan tersebut selain untuk Mikrokontroler AT89C51/52/55, Penerbit
menurunkan suhu juga meratakan panas dan Gava Media.
mengatur kelembaban. Franco, Sergio, 1988, Design With Operational
2. Alat ini mampu melakukan proses Amplifiers And Analog Integrated
pemanasan sampai stabil pada suhu 36 C dan Circuits, McGraw-Hill.
menjaga kelembaban udara pada kondisi 52% H. Wowiling. Aplikasi Pengendali Robot
sesuai dengan batasan nilai yang dibutuhkan Menggunakan Jaringan Wireless Pada
dalam inkubator bayi. Ponsel Pintar Android, Skripsi,
Universitas Sam Ratulangi Fakultas

27
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Teknik, Jurusan Teknik Elektro, N. Safaat. Pemrograman Aplikasi Mobile


Manado, 2012. Smartphone dan Tablet PC Berbasis
Hermawan, Fajar, 2011. Penggunaan Teknologi Android, Penerbit Informatika,
Java Pada Sistem Pengendali Peralatan Bandung, 2011.
Elektronik Melalui Bluetooth. Nalwan, Paulus Andi, 2003, Teknik Antarmuka
http://eprints.undip.ac.id/25485/ di akses dan pemrograman AT89C51, PT. Elex
pada tanggal 01 Nopember 2012. Media Komputindo, Jakarta.
I Made Joni & Budi Raharjo, Pemrograman C Oxer, Jonathan & Blemings, Hugh. 2009. Cool
dan Implementasinya, Bandung: Projects for Open Source Hardware.
Informatika, 2008. New York : Springer-Verlag.
Intel , 1994, MCS 51 Microcontroller Family Putra, Indra. 2005. Membuat Program Aplikasi
Users Manual. Nyata Dengan Visual Basic 6.0. Andi
Johnson , Curtis D., 2000, Process Control Publisher.
Instrumentation Technology, Prentice- Siregar, 2011, Membongkar Source Code
Hall International, Inc. berbagai Aplikasi Android, Gava Media,
Kuat, dkk, 2008. Sistem Pengendalian Lampu Yogyakarta. [6] Winoto, A, 2010,
Pada Penyewaan Lapangan Mikrokontroler AVR
Bulutangkis Indoor. ATmega8/32/16/8535 dan
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/162 Pemrogramannya dengan Bahasa C
0 813114_0853-6732.pdf di akses pada pada WinAVR, Informatika, Bandung.
tanggal 01 Nopember 2012.
Lingga, W, Belajar sendiri Pemrograman AVR Siregar, ST, MT. Membongkar Source Code
ATmega8535, Yogyakarta: Andi Offset, Berbagai Aplikasi Android, Penerbit
2006. Gava Media, Yogyakarta, 2012.
Malik, Moh. Ibnu & Anistardi, 1997, Tocci, R., J., 1998, Digital Systems Principles
Bereksperimen dengan Mikrokontroler and Applications Englewood Cliffs,
8031, PT. Elex Media Komputindo, N.J.:Prentice Hall.
Jakarta. Wardhana, Lingga, Belajar Sendiri
Master Trainer JNPK-KR. 2005. Pelatihan Mikrokontroler AVR Seri ATmega8535,
Pelayanan Kegawatdaruratan Obstetri Yogyakarta: C.V Andi Offset, 2006.
Neonatal Esensial Dasar - Buku Acuan Widodo. B, 2010, Robotika teori dan
(INOCAH 002 SE-04-226074). Jakarta: Implementasi, Andi, Yogyakarta.
Departemen Kesehatan Republik Winoto, Ardi, Mikrokontroler AVR
Indonesia. ATmega8/16/32/8535 dan
Mike, McRoberts. 2010. Arduino Starters Kit Pemrogramannya dengan Bahasa C
Manual. Earthshine Electronics. pada WinAVR, Bandung : Informatika,
2008.

28
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

GAMBARAN PENGETAHUAN SISWI KELAS VIII


TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT
MENSTRUASI DI SMP NEGERI 2

Melfi Suryaningsih (1)

1Akademi Kebidanan, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Menstruasi adalah peristiwa penting dalam hidup seorang wanita, dimana menstruasi pertama
terjadi pada usia remaja yaitu 10-16 tahun. Menjaga kebersihan saat menstruasi menjadi hal spenting
karena akibat tidak menjaga kebersihan selama menstruasi mengakibatkan infeksi pada organ
reproduksi. Khususnya Indonesia yang beriklim lembab dibandingkan Eropa yang hawanya kering, akan
mempermudah timbulnya penyakit pada alat kelamin wanita.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi kelas VIII tentang
kebersihan alat kelamin pada saat menstruasi di SMP Negeri 2 Padangsidimpuan 2011.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui
kuesioner, dimana sampel sebanyak 43 responden, yang diteliti adalah pengetahuan siswi tentang
kebersihan alat kelamin saat menstruasi berdasarkan pendidikan orang tua dan sumber informasi.
Hasil penelitian diperoleh mayoritas responden berpengetahuan cukup sebanyak 28 responden
(65,1%), mayoritas responden berpengetahuan cukup dengan pendidikan orang tua tingkat menengah
sebanyak 15 responden (34,9 %), dan mayoritas responden berpengetahuan cukup mendapat sumber
informasi dari keluarga dan teman sebanyak 18 responden (41,9 %).

Kata Kunci : Pengetahuan Siswi Kelas VIII, Kebersihan Alat Kelamin, Menstruasi

PENDAHULUAN Dalam masa remaja peristiwa terpenting


Kuantitas penduduk remaja jumlahnya pada remaja putri adalah datang haid yang
tidak dapat diremehkan. Berdasarkan data Profil pertama kali, biasanya sekitar umur 10-16
Kesehatan Indonesia golongan usia 10-24 tahun tahun. Saat haid yang pertama ini datang
(definisi WHO untuk young people) adalah 64 disebut menarche. Di desa kecil menarche
juta atau sekitar 31% dari total seluruh populasi, dianggap sebagai tanda kedewasaan dan
sedangkan khusus untuk remaja usia 10-19 remaja yang mengalami menarche dianggap
tahun (definisi WHO untuk adolescence), sudah masanya melakukan tugas-tugas seorang
berjumlah 44 juta atau 21 % (Almawaliy, 2010). wanita. Sikap semacam itu hingga kini masih
dipertahankan di beberapa daerah. Oleh sebab-

29
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

sebab tertentu yang dikaitkan dengan keadaan menstruasi seperti berapa kali sebaiknya
gizi yang lebih baik. Haid pertama menjadi lebih perempuan mengganti pembalut dan bagaimana
awal. Di Inggris, rata-rata haid pertama datang cara membersihkan alat kelamin yang baik.
pada usia 13 tahun. Dibandingkan dengan
keadaan di abad yang lalu, dimana haid Rumusan Masalah
pertama pada umumnya datang pada usia 15 Berdasarkan latar belakang di atas maka
tahun. Nampaknya anak-anak remaja putri yang rumusan masalah pada karya tulis ilmiah ini
dari orang tua kurang berada. Tetapi rata-rata adalah Bagaimana Gambaran Pengetahuan
perbedaan itu tidak lebih dari 6 sampai 9 bulan. Siswi Kelas VIII Tentang Kebersihan Alat
Pada jaman dulu, wanita yang mengalami haid Kelamin Pada Saat Menstruasi Di SMP Negeri 2
dianggap berbahaya atau kurang bersih. Bagi Padangsidimpuan Tahun 2011.
masyarakat hilangnya darah berarti hilangnya
kehidupan (Jones, 2005). Tujuan Penelitian
Dikurung adalah salah satu tradisi kuno 1 Tujuan Umum
yang diberlakukan pada perempuan yang Untuk mengetahui gambaran
tengah menstruasi. Pada jaman itu, anak gadis pengetahuan siswi kelas VIII tentang kebersihan
yang sedang haid tidak diperbolehkan keluar alat kelamin pada saat menstruasi di SMP
dari kamar. Mereka mengalami pemasungan Negeri 2 Padangsidimpuan tahun 2011.
hingga haid usai. Menurut mitos sat itu, darah 2 Tujuan Khusus
yang menetes disembarang tempat akan 1. Untuk mengetahui gambaran
membawa malapetaka (Pribakti, 2010). pengetahuan siswi kelas VIII tentang
Ada beberapa permasalahan yang kebersihan alat kelamin pada saat
dihadapi remaja pada area kesehatan menstruasi di SMP Negeri 2
reproduksi. Masalah rendahnya pengetahuan Padangsidimpuan tahun 2011
mengenai reproduksi menjadi urutan yang berdasarkan pendidikan orang tua.
pertama. Diperoleh informasi bahwa 34,22% 2. Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan rendah, 37,8% pengetahuan pengetahuan siswi kelas VIII tentang
cukup, sedangkan 19,50% pengetahuan kebersihan alat kelamin pada saat
memadai. Makin banyaknya persoalan menstruasi di SMP Negeri 2
kesehatan reproduksi remaja, maka pemberian Padangsidimpuan tahun 2011
informasi, layanan dan pendidikan kesehatan berdasarkan sumber informasi .
reproduksi sangat dibutuhkan (Kustriyani, 2009).
Setelah survei pendahuluan yang telah Manfaat Penelitian
dilakukan sebelumnya pada tanggal 16 Maret 1. Bagi Remaja Putri, untuk memberikan
2011, dengan cara mewawancarai langsung informasi tentang menstruasi khususnya
remaja putri kelas VIII SMP Negeri 2 bagaimana menjaga kebersihan alat
Padangsidimpuan diperoleh dari 10 responden, kelamin pada saat menstruasi kepada
7 orang mengatakan belum mengerti bagaimana siswi kelas VIII SMP Negeri 2
menjaga kebersihan alat kelamin pada saat Padangsidimpuan tahun 2011.

30
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

2. Bagi Orang Tua Responden, sebagai Lokasi Dan Waktu Penelitian


sumber bacaan untuk memahami Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2
pentingnya menjaga kesehatan reproduksi Padangsidimpuan, Penelitian dilakukan dari
remaja putri khususnya dalam masa bulan Maret Juli tahun 2011. Pengumpulan
menstruasi yang kiranya dapat diterapkan data dilakukan pada hari Jumat tanggal 20 Mei
pada anak-anak perempuannya. 2011.
3. Bagi tempat penelitian, sebagai bahan
masukan kepada pihak SMP Negeri 2 Populasi Dan Sampel
Padangsidimpuan untuk memberikan Populasi
informasi kepada siswa tentang Populasi adalah wilayah generalisasi
pentingnya kesehatan reproduksi remaja. yang terdiri atas objek / subjek yang mempunyai
4. Bagi Pihak Institusi Pendidikan, sebagai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
sumber bacaan di perpustakaan Akbid ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
Darmais Padangsidimpuan.. ditarik kesimpulan.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya, sebagai salah Adapun populasi dalam penelitian ini
satu sumber bacaan dan menjadi bahan adalah siswi kelas VIII SMP Negeri 2
perbandingan dengan karya tulis ilmiah Padangsidimpuan berjumlah 174 orang.
lain agar peneliti selanjutnya mampu Sampel
menciptakan karya tulis ilmiah yang lebih Sampel adalah bagian populasi yang akan
baik. diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik
6. Bagi Peneliti, sebagai penerapan mata yang dimiliki oleh populasi.
kuliah metodologi penelitian dan Menurut Arikunto (2006) jika jumlah
menambah pengalaman dalam penulisan popuasi kurang dari 100 orang maka
karya tulis ilmiah, serta sebagai masukan keseluruhan populasi dijadikan sampel, dan jika
pengetahuan tentang kebersihan alat jumlah populasi lebih dari 100 pengambilan
kelamin pada saat menstruasi. sampel menjadi 10% -15% atau 20% - 25 % dari
jumlah populasi. Maka peneliti mengambil
METODE PENELITIAN sampel sebanyak 25 % dari populasi yang
Berdasarkan uraian teori dan perumusan berjumlah 174 orang. Maka jumlah sampel
masalah diatas, maka penulis mengembangkan dalam penelitian ini adalah 43 orang siswi dan
kerangka konsep sebagai berikut : menggunakan teknik pengambilan sampel
Gambar 1 Kerangka Konsep secara acak sistematik. Hal ini dilakukan
Variablel Independent Variabel Dependent mengingat keterbatasan waktu dalam
penyusunan dan pelaksanaan penelitian.
Pendidikan Orang Tua Pengetahuan Siswi Kelas II
Tentang kebersihan
Alat Kelamin Pengolahan Data
Sumber Informasi Pada Saat Menstruasi Data yang telah dikumpulkan selanjutnya
diolah melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Proses Editing

31
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Melakukan pencegahan kesalahan dan Tabel 1


kekeliruan dalam mengumpulkan data Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswi Kelas
melalui kesioner yang telah VIII Tentang Kebersihan
dikumpulkan. Alat Kelamin Pada Saat Menstruasi Di SMP
2. Proses Coding Negeri 2
Merubah data yang telah diedit ke Padangsidimpuan 2011
bentuk angka-angka. No. Pengetahuan Frekuensi Persentase
1 Baik 7 16,3 %
3. Proses Tabulating
2 Cukup 28 65,1 %
Untuk mempermudah analisis data dan
3 Kurang 8 18,6 %
pengolahan data serta pengambilan Jumlah 43 100 %
kesimpulan, maka data ini selanjutnya Dari tabel 1 dapat diketahui bahwa dari 43
dimasukkan ke dalam tabel distribusi responden mayoritas berpengetahuan cukup
frekuensi. sebanyak 28 responden (65,1 %),
berpengetahuan kurang sebanyak 8 responden
p= x100% (18,6%) dan minoritas berpengetahuan baik
Keterangan: sebanyak 7 responden (16,3 %).
p : persentase responden yang dijawab
F : frekwensi jawaban yang benar Tingkat Pengetauan Responden Berdasarkan
N : jumlah soal Pendidikan Orang Tua
Dari penelitian yang telah dilakukan,
Analisa Data maka diperoleh data sebagai berikut:
Analisis data dilakukan secara deskriptif Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan
dengan melihat perentase data yang terkumpul Siswi Kelas VIII Tentang Kebersihan Alat
dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan Kelamin Pada Saat Menstruasi Berdasarkan
dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian Pendidikan Orang Tua Di SMP Negeri 2
dengan menggunakan teori dari perpustakaan Padangsidimpuan 2011
yang ada.
Pengetahuan dinilai dengan: Pengetahuan
N Jumlah
Pendidika
a. Skor jawaban yang salah adalah 0 (skor o
n
Baik Cukup Kurang
Orang
maksimal dari setiap aspek jawaban Tua
F % F % F % F %

dikalikan skor) yaitu 0 x 20 = 0 1 Dasar


20,9 13,9 1 34,9
b. Skor jawaban yang benar adalah 5 (skor (SD,
SMP)
- - 9
%
6
% 5 %

maksimal dari setiap aspek dikalikan skor) 2 Menenga


h
13, 34,9 2 53,5
yaitu 5 x 20 = 100 (SMA, 6
9%
15
%
2 4,7%
3 %
SMK)
3 Tinggi
(Pergurua 2,3 11,6
1 4 9,3% - - 5
HASIL DAN PEMBAHASAN n Tinggi, % %
Akademi)

Tingkat Pengetahuan Responden Jumlah 7 16, 28 65,1 8 18,6 4 100%


2% % % 3

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan Tabel diatas menunjukkan bahwa berdasarkan pendidikan
diperoleh, maka diperoleh data sebagai berikut: orang tua dari 15 responden dengan orang tua

32
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

berpendidikan dasar mayoritas berpengetahuan %) dan minoritas berpengetahuan kurang dan


cukup yaitu 9 responden (20,9 %) dan minoritas baik yaitu masing-masing 1 responden (2,3 %).
berpengetahuan kurang yaitu 6 responden (13,9 Dari 28 responden yang memperoleh informasi
%). Dari 23 responden dengan orang tua dari keluarga dan teman mayoritas
berpendidikan menengah mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 18 responden (41,9
berpengetahuan cukup yaitu 15 responden (34,9 %) dan minoritas berpengetahuan baik dan
%) dan minoritas berpengetahuan kurang yaitu kurang yaitu masing-masing 5 responden (11,6
2 responden (4,7 %). Dari 5 responden dengan %).
orang tua berpendidikan tinggi mayoritas
berpengetahuan cukup yaitu 4 responden (9,3 PEMBAHASAN
%) dan minoritas berpengetahuan baik yaitu 1 Pengetahuan
responden (2,3 %). Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui bahwa dari 43 responden memiliki
Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan pengetahuan cukup sebanyak 28 responden
Sumber Informasi (65,1 %), berpengetahuan kurang sebanyak 8
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, responden (18,6%) dan berpengetahuan baik
maka diperoleh data sebagai berikut: sebanyak 7 responden (16,3 %).
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Perbedaan jumlah responden yang
Pengetahuan Siswi Kelas VIII Tentang memiliki pengetahuan baik, cukup, dan
Kebersihan Alat Kelamin Pada Saat Menstruasi pengetahuan kurang diperoleh dari hasil
Berdasarkan Sumber Informasi Di SMP Negeri 2 pengisian kuesioner penelitian dimana
Padangsidimpuan 2011 kuesioner yang diisi oleh responden
berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.
Pengetahuan
No
Menurut asumsi peneliti pengetahuan yang
Sumber Jumlah

Informasi
Baik Cukup Kurang dimiliki oleh responden diperoleh dari jenjang
F % F % F % F % pendidikan responden, dari pengalaman pribadi
1
Media
Massa
1 2,3% 1 2,3% 2 4,7% 4 9,3% atau berasal dari media massa yang mereka

2
Tenaga
Kesehat 1 2,3% 9
20,9
1 2,3%
1 25,6 temui. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan
% 1 %
an
Keluarga
bahwa pengetahuan siswi kelas VIII adalah
11,6 41,9 11,6 2
3 dan
Teman
5
%
18
%
5
% 8
5,1%
pada kategori cukup dengan pendidikan orang
Jumlah
7
16,2
28
65,1
8
18,6 4 100
tua pada tingkat menengah (SMA/SMK), dan
% % % 3 %

Tabel diatas menunjukkan bahwa dari 4 pengetahuan yang mereka miliki diperoleh dari

responden melalui media massa mayoritas keluarga dan teman.

berpengetahuan kurang yaitu 2 responden (4,7


%) dan minoritas berpengetahuan baik dan Gambaran Pengetahuan Berdasarkan

cukup yaitu masing-masing 1 responden (2,3 Pendidikan Orang Tua

%). Dari 11 responden yamg medapatkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa

informasi dari tenaga kesehatan mayoritas berdasarkan pendidikan orang tua dari 15

berpengetahuan cukup yaitu 9 responden (20,9 responden dengan orang tua berpendidikan

33
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

dasar mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 9 dampak yang berbeda terhadap pengetahuan
responden (20,9 %) dan minoritas anak, orang tua yang mempunyai waktu luang
berpengetahuan kurang yaitu 6 responden (13,9 lebih banyak akan memiliki waktu lebih banyak
%). Dari 23 responden dengan orang tua pula dalam memberikan pemahaman dan
berpendidikan menengah mayoritas pengetahuan pada anaknya.
berpengetahuan cukup yaitu 15 responden (34,9 Hasil penelitian tidak selamanya sejalan
%) dan minoritas berpengetahuan kurang yaitu dengan teori yang disampaikan oleh Gunarsa
2 responden (4,7 %). Dari 5 responden dengan (2011) bahwa lingkungan keluarga sering
orang tua berpendidikan tinggi mayoritas disebut sebagai lingkungan pendidikan informal
berpengetahuan cukup yaitu 4 responden (9,3 yang mempengaruhi berbagai aspek
%) dan minoritas berpengetahuan baik yaitu 1 perkembangan anak. Dimana semakin tinggi
responden (2,3 %). pendidikan orang tua maka akan semakin tinggi
Menurut asumsi penulis keluarga pula pengetahuan dan pemahaman anak.
terutama orang tua memiliki tanggung jawab Karena dari hasil penelitian sebagian aspek
dan peran yang besar dalam memberikan sejalan dengan teori sementara sebagian aspek
pengajaran kepada anak. Orang tua yang yang lain tidak.
memiliki pendidikan dan pengetahuan yang
lebih luas akan bersifat lebih terbuka dalam Gambaran Pengetahuan Berdasarkan Sumber
menyampaikan informasi kepada anak-anaknya. Informasi
Hal ini terlihat jelas dalam pemberian informasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari
tentang kesehatan reproduksi, karena untuk 4 responden melalui media massa mayoritas
membicarakan hal yang berhubungan dengan berpengetahuan kurang yaitu 2 responden (4,7
alat kelamin masih dianggap tabu oleh orang %) dan minoritas berpengetahuan baik dan
tua. Selain itu tidak seluruh jenjang pendidikan cukup yaitu masing-masing 1 responden (2,3
memberikan informasi yang berhubungan %). Dari 11 responden yang medapatkan
dengan kesehatan reproduksi. Hanya informasi dari tenaga kesehatan mayoritas
pendidikan khusus yang mendalami berpengetahuan cukup yaitu 9 responden (20,9
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi %) dan minoritas berpengetahuan kurang dan
contohnya orang tua yang memiliki pendidikan baik yaitu masing-masing 1 responden (2,3 %).
diploma III dengan jurusan kebidanan, Dari 28 responden yang memperoleh informasi
keperawatan atau jurusan kesehatan yang lain. dari keluarga dan teman mayoritas
Pada akhirnya orang tua yang memiliki berpengetahuan cukup yaitu 18 responden (41,9
pendidikan kesehatan akan menerapkan ilmu %) dan minoritas berpengetahuan baik dan
yang mereka miliki kepada anak-anak mereka. kurang yaitu masing-masing 5 responden (11,6
Tentunya tingkat pengetahuan responden atau %).
siswi dari orang tua yang berpendidikan dasar, Dari hasil penelitian diperoleh bahwa
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi mayoritas pengetahuan responden adalah
akan berbeda. Tidak hanya itu tingkat kesibukan cukup dengan sumber informasi yang digunakan
orang tua dalam bekerja juga dapat memberikan adalah berasal dari keluarga dan teman.

34
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Menurut asumsi penulis informasi tentang KESIMPULAN DAN SARAN


kebersihan alat kelamin pada saat menstruasi Kesimpulan
dapat diperoleh dari keluarga dan teman Dari hasil penelitian Gambaran
walaupun pada hakikatnya informasi yang Pengetahuan Siswi Kelas II Tentang Kebersihan
diperoleh dari tenaga kesehatan lebih akurat. Alat Kelamin Pada Saat Menstruasi Di SMP
Lingkungan keluarga berperan besar terhadap Negeri 2 Padangsidimpuan 2011 maka dapat
anak karena keluarga yang langsung atau tidak diambil kesimpulan sebagai berikut:
langsung terus-menerus berhubungan dengan 1. Tingkat Pengetahuan Responden
anak, memberikan rangsangan (stimulasi) Dari keseluruhan responden yang
melalui berbagai corak komunikasi antara orang berjumlah 43 responden diperoleh bahwa
tua dengan anak. Teman memiliki andil dalam responden yang berpengetahuan cukup yaitu 28
menentukan tingkat pengetahuan remaja putri responden (65,1 %) dan yang berpengetahuan
melalui diskusi-diskusi kecil. Dengan merasakan kurang adalah 8 responden (18,6%) dan 7
manfaat dari suatu ide bagi dirinya, maka responden (16,3 %) yang berpengetahuan baik.
seseorang akan menyebarkan ide tersebut pada 3. Tingkat Pengetauan Responden
orang lain. Kurangnya minat siswi untuk mencari Berdasarkan Pendidikan Orang Tua
informasi tentang kesehatan reproduksi akan Berdasarkan pendidikan orang tua,
membuat pengetahuan siswi menjadi rendah responden dengan pendidikan orang tuanya
pula tentang kesehatan reproduksi. adalah pendidikan dasar mayoritas
Teori yang dikemukakan juga oleh berpengetahuan cukup yaitu 9 responden (20,9
Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa %), pendidikan menengah mayoritas
informasi kesehatan dapat diperoleh dari berpengetahuan cukup yaitu 15 responden (34,9
berbagai aspek yang dipakai dalam masyarakat. %) dan pendidikan tinggi mayoritas
Dimana informasi yang diperoleh siswi berpengetahuan cukup yaitu 4 responden (9,3
sehubungan dengan informasi tentang %).
kebersihan alat kelamin pada saat menstruasi Beberapa hal yang dapat mempengaruhi
yang berasal dari tenaga kesehatan, keluarga tingkat pengetahuan siswi yang menjadi
dan teman atau media massa. Informasi yang penyebab timbulnya ketidaksesuaian antara
diperoleh dari tenaga kesehatan dapat berupa teori dengan kenyataan (rendah/tingginya
penyuluhan-penyuluhan kesehatan tentang jumlah frekuensi tiap variabel) selain pendidikan
kebersihan alat kelamin pada saat menstruasi , orang tua adalah lingkungan pergaulan atau
informasi yang diperoleh dari keluarga dapat sosial anak dengan teman-teman
berupa nasehat-nasehat, sedangkan informasi sepermainannya dan lingkungan rumah. Bahkan
yang diperoleh dari media massa berupa pada beberapa anak tingkat pengetahuan yang
majalah, surat kabar, radio, televisi, radio dan rendah dipengaruhi oleh tekanan yang terlalu
internet. tinggi dari orang tuanya, misalnya orang tua
yang sangat disiplin dan menuntut prestasi-
prestasi yang terbaik atau sangat memaksa
anaknya untuk mengikuti banyak kegiatan

35
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

ekstrakurikuler tanpa menghiraukan penolakan dari tenaga kesehatan diharapkan remaja


yang diajukan anaknya. lebih mandiri dan tidak hanya menerima
4. Tingkat Pengetahuan Responden informasi kesehatan reproduksi dari orang
Berdasarkan Sumber Informasi tua saja.
Berdasarkan sumber informasi, responden 2. Bagi Orang Tua, diharapkan agar lebih
yang mendapatkan informasi dari media massa terbuka kepada remaja putrinya dalam
mayoritas berpengetahuan kurang yaitu 2 memberikan informasi tentang kesehatan
responden (4,7 %), responden yang reproduksi khususnya tentang menstruasi
mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan dengan mengenyampingkan istilah tabu
mayoritas berpengetahuan cukup yaitu 9 demi kesehatan reproduksi remaja putri.
responden (20,9 %) dan responden yang 3. Bagi SMP Negeri 2 Padangsidimpuan agar
mendapatkan informasi dari keluarga dan teman lebih banyak bekerjasama dengan petugas
mayoritas berpengetahuan cukup yaitu18 kesehatan dalam memberikan informasi
responden (41,9 %). tentang dampak kehamilan remaja dan
Sumber informasi melalui media massa memasukkan pembahasan atau penyuluhan
dan petugas kesehatan dalam penelitian ini tentang menstruasi ke dalam kegiatan UKS
mempengaruhi pengetahuan siswi dalam jumlah (Usaha Kesehatan Sekolah).
yang tidak banyak. Hal ini dapat terjadi karena 4. Bagi Institusi Pendidikan Akbid Darmais
pada seorang anak dalam pendidikan dasar Padangsidimpuan, agar mengupas lebih
masih banyak membutuhkan bimbingan orang detail tentang pembahasan kebersihan
tua, dan belum sepenuhnya mampu berbuat organ reproduksi pada saat menstruasi di
mandiri. Selain itu pada pendidikan tingkat SMP dalam perkuliahan, karena berhubungan
kelas VIII, mata pelajaran tentang kesehatan dengan individu setiap mahasiswi.
reproduksi belum dipelajari sehingga Bagi Peneliti Selanjutnya yang ingin meneliti
pengetahuan siswi juga masih terbatas tentang tentang kesehatan reproduksi khususnya
kesehatan reproduksi khususnya kebersihan menstruasi agar membahasnya lebih detail dan
saat menstruasi. lengkap ditambah dengan mengajukan variabel-
variabel lain
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka DAFTAR PUSTAKA
saran yang diberikan sehubungan dengan Arikunto, Suharsini, 2006. Prosedur Penelitian,
penelitian ini adalah: Pendekatan Praktek.Edisi Revisi VI.
1. Bagi Remaja Putri SMP Negeri 2 Rineka Cipta. Jakarta
Padangsidimpuan, diharapkan dapat Hidayat, A Aziz Alimul, 2010. Metode Penelitian
meningkatkan pengetahuan tentang Kebidanan & Teknik Analisis Data,
kebersihan alat kelamin pada saat Salemba Medika, Jakarta.
menstruasi. Dengan mudahnya akses untuk Jones, Derek Llewellyn, 2005. Setiap Wanita,
mencari informasi tentang kesehatan Dellapratasa Publishing. Jakarta
reproduksi baik dari media massa maupun

36
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Gunarsa, Singgih, 2011. Psikologi Praktis: Anak, http://eprints.undip.ac.id. [akses: 25 Maret


Remaja Dan Keluarga. Gunung Mulia. 2011]
Jakarta. Kustriyani, Menik, 2009. Perbedaan
Manuaba, Ida Ayu Chandranita, 2010. Ilmu Pengetahuan Dan Sikap Siswi Sebelum
Kebidanan, Penyakit Kandungan, Dan KB Dan Sesudah Pemberian Pendidikan
Untuk Pendidikan Bidan Edisi 2, EGC. Kesehatan Tentang Keputihan Di SMU
Jakarta Negeri 4 Semarang, Skripsi, Fakultas
Notoatmodjo, Soekidjo, 2007. Kesehatan Kedokteran, Universitas Diponegoro,
Masyarakat Ilmu Dan Seni, Rineka Cipta. Semarang. Dipublikasikan.
Jakarta. http://eprints.undip.ac.id. [akses 25 Maret
Notoatmodjo, Soekidjo, 2005. Metodologi 2011]
Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Almawaliy, Hafidzoh, 2010. Kesehatan
Jakarta. Reproduksi Remaja (KRR) : Perhatian
Pribakti, 2010. Tips Dan Trik Merawat Organ Besar Bagi Islam, http://www.rahima.or.id.
Intim, Sagung Seto. Jakarta. [akses :15 Maret 2011]
Rachimhadi, Trijatmo, 2008. Ilmu Kebidanan, Elistiawati, 2006. 75% Wanita RI Alami
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Keputihan. http://www.detiknews.com
Jakarta . [akses: 4 April 2011]
Sarwono, Sarlito Wirawan, 2008. Psikologi Fatihah, Melani, 2010. Tips Menjaga Kebersihan
Remaja, Raja Grafindo Persada. Jakarta Organ Intim Ketika Menstruasi,
Schust, Danny J. Dan Linda J. Heffner, 2006. At http://kesehatan.kompasiana.com [akses
a Glance System Reproduksi Edisi :15 Maret 2011]
Kedua, Erlangga. Jakarta. Multiply, 2010. Situs Pembalut Wanita.
Tim Penulis Poltekkes Depkes Jakarta I, 2010. http://situspembalutwanita [akses :15
Kesehatan Remaja Problem Dan Maret 2010]
Solusinya, Erlangga. Jakarta Nilna, 2009, Higiene Menstruasi.
Widyastuti, Yani, 2009. Kesehatan Reproduksi, http://higienemenstruasi.com [akses:15
Fitramaya. Yogyakarta Maret 2011]
Winaris, Imam Wahyu, 2010. 100 Tanya Jawab Rumakom,2007, Sumber Informasi.
Kesehatan Untuk Remaja, Tunas http://rumakom.wordpress.com.[akses:24
Publishing. Yogyakarta Maret 2011]
Egong, Yosedina Lidia Wati, 2005.: Hubungan Romeltea Magazine, 2011, Media Massa:
Pengetahuan, Sikap Dan Sumber Makna, Karakter, Jenis, dan Fungsi.
Informasi Tentang Menstruasi Dengan http://www.romeltea.com/ [akses 24 Maret
Praktik Hygiene Menstruasi Pada Remaja 2011]
Putri (Studi Pada Siswi Kelas II SLTP N Samani, 2011.Pengertian, Penyebab Dan Ciri
12 Semarang), Skripsi. Fakultas Pubertas. http://www.cindycomputer.com
Kedokteran, Universitas Diponegoro, [akses: 4 April 2011]
Semarang. Dipublikasikan.

37
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Sumber Ilmu, 2008, Perkembangan Seks Wikipedia, 2011, Pendidikan.


Remaja Putri. http://sumberilmu.info http://www.wikipedia.org. [akses:18 Maret
[akses: 2 April 2011] 2011]
Wikipedia, 2011, Kebersihan. Wikipedia, 2010. Umur,
http://www.wikipedia.org [akses: 18 Maret http://www.wikipedia.org. [akses: 18 Maret
2011] 2011]

38
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR (WUS)


TENTANG KANKER PAYUDARA DI KELURAHAN PALOPAT MARIA
LINGKUNGAN II KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN HUTAIMBARU

Sri Itayanni(1)

1Akademi Kebidanan, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Jumlah penderita kanker payudara yang dapat menyebabkan tingginya angka kesakitan dan
kematian yang disebabkan karena kurangnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan terhadap
payudara sehingga penanganannya akan terlambat.
Penelitian bersifat deskriptif menggunakan data primer dan data sekunder, sampel sebanyak 30
responden, dengan tujuan untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS)
Tentang Kanker Payudara di Kelurahan Malopat maria Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan
Hutaimbaru Tahun 2012, berdasarkan umur, pendidikan, dan sumber informasi. Data di olah dengan
editing, coding, tabulating, kemudian dianalisa dan di kumpul dalam tabel yang dilanjutkan dengan
membahas hasil penelitian dengan teori kepustakaan yang ada.
Hasil penelitian diketahui dari 30 responden mayoritas berpengetahuan kurang sebanyak 15
responden (50%). Berdasarkan umur mayoritas berpengetahuan kurang sebanyak 6 responden (20%).
Berdasarkan pendidikan mayoritas berpengetahuan kurang sebanyak 13 responden (43,3%).
Berdasarkan sumber informasi mayoritas berpengetahuan kurang sebanyak 13 responden (43,3%).
Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan sehingga meningkatkan
kesadaran masyarakat khususnya wanita usia subur untuk melaksanakan periksa dini kanker payudara
sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian.

Kata kunci : Pengetahuan, wanita usia subur, kanker payudara


PENDAHULUAN Kanker payudara adalah jenis kanker
Menurut organisasi kesehatan dunia yang paling banyak ditemui di negara negara
(World Health Organization: WHO), jumlah yang sedang berkembang, WHO menyebutkan
kematian akibat kanker payudara pada tahun 8 9% wanita akan mengalami kanker payudara
2000, di perkirakan 1,2 juta wanita terdiagnosis dalam hidupnya (Cyntia, 2009).
menderita kanker payudara dan lebih dari Kanker payudara adalah suatu penyakit
700.000 meninggal karena kanker payudara neoplasma yang ganas yang berasal dari
(Cyntia, 2009). parenchyma dimana sel telah kehilangan
pengendalian mekanisme normalnya, sehingga

39
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

mengalami pertumbuhan yang tidak normal, Berdasarkan sistem informasi Rumah


cepat dan tidak terkendali ( Jones, 2001 ). sakit tahun 2007 kanker payudara menempati
Masalah kanker payudara juga ditandai urutan pertama pada pasien rawat inap
dengan tingginya mortalitas, untuk itu tingginya diseluruh rumah sakit di Indonesia (16,5%)
kematian kanker payudara berhubungan dengan kanker tertinggi yang diderita wanita Indonesia
keterlambatan diagnosis, beberapa data adalah kanker payudara dengan angka kejadian
menunjukkan bahwa lebih dari 50% pasien 26 per 100.000 perempuan (Sudarianto, 2010).
datang dalam stadium lanjut (stage III dan Di Sumatera Utara, menurut prevalensi
IV).Bila seorang wanita yang terkena kanker data dari Departemen Kesehatan RI tahun
payudara dan pada awalnya wanita tersebut 2007 kejadian kanker payudara sebanyak 8.227
tidak mengacuhkannya sehingga keadaannya kasus atau 16,5% dan kanker leher rahim 5.786
semakin parah bahkan sampai pada stadium kasus atau11,78% .Berdasarkan laporan Rumah
lanjut dan pada akhirnya deteksi dini dan Sakit Haji Medan tentang kasus wanita dengan
penanganan kanker payudara menjadi kanker payudara periode 2008 2009 yaitu 40
terlambat. Tingginya mortalitas ini tidak hanya jumlah kasus (Media Sumatera Utara.com,
disebabkan oleh keterlambatan kemampuan 2011).
pengobatan dirumah sakit tetapi lebih Dan untuk Daerah Kota
disebabkan oleh faktor faktor pasien itu sendiri Padangsidimpuan, menurut data dari Rumah
seperti : keterlambatan pengobatan, Sakit Umum Kota Padangsidimpuan, wanita
keterlambatan ekonomi (kebanyakan masalah yang menderita penyakit kanker payudara
sosial ekonomi rendah) serta rendahnya sebanyak 0,6 % dari keseluruhan kasus
pengetahuan tentang kanker payudara dan penyakit yang ada di Rumah Sakit Umum
kematian biasanya tidak langsung disebabkan Daerah Kota Padangsidimpuan (www.profil
oleh kanker payudara itu sendiri tetapi karena tapanuli selatan, 2010).
kanker payudara mempunyai metastasis yang Berdasarkan survey pendahuluan yang
cepat dan jauh (Quik Metastasis) misalnya, dilakukan di Kelurahan Palopat Maria
paru-paru dan tulang (Dr. MN. Bustan. 2007). Lingkungan II Tahun 2012 di temukan 1 wanita
Di Indonesia masalah kanker payudara usia subur yang menderita kanker payudara.
menjadi lebih besar lagi karena lebih dari 70% Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis,
penderita datang ke dokter pada stadium yang terdapat 7 dari 8 wanita usia subur yang tidak
sudah lanjut, maka dari itu permasalahan mengetahui tentang kanker payudara.
mengenai kanker payudara memang Berdasarkan uraian di atas penulis
membutuhkan perhatian khusus (Saryono, 2009 tertarik untuk mengadakan penelitian tentang
). Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur
Faktor resiko timbulnya kanker payudara pada Tentang Kanker Payudara di Kelurahan Palopat
wanita adalah:umur, sejarah keluarga, kanker Maria Lingkungan II Kecamatan
payudara sebelumnya, kondisi-kondisi payudara Padangsidimpuan Hutaimbaru Tahun 2012.
lainnya, terapi radiasi, faktor-faktor hormon, Perumusan Masalah
faktor-faktor gaya hidup (Saryono, 2009).

40
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Berdasarkan latar belakang diatas maka Variabel Independen Variabel


penulis merumuskan permasalahan yaitu Dependen
Bagaimana Gambaran Pengetahuan Wanita -Umur
Usia Subur Tentang Kanker Payudara di Pengetahuan Wanita
Kelurahan Palopat Maria Lingkungan II -Pendidikan Usia Subur Tentang
Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru -Sumber Informasi Kanker Payudara
Tahun 2012?.
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum Lokasi Dan Waktu Penelitian
Untuk mengetahui Gambaran Lokasi Penelitian
Pengetahuan Wanita Usia Subur Tentang Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan
Kanker Payudara di Kelurahan Palopat Maria Palopat Maria Lingkungan II Kecamatan
Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan Padangsidimpuan Hutaimbaru Tahun 2012.
Hutaimbaru Tahun 2012. Proses penelitian dilakukan pada bulan februari
Tujuan Khusus sampai bulan agustus 2012.
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan
wanita usia subur tentang kanker payudara Populasi Dan Sampel
berdasarkan umur. Populasi
2. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Populasi adalah keseluruhan subjek
wanita usia subur tentang kanker payudara penelitian (Arikunto , 2006).Populasi dalam
berdasarkan pendidikan. penelitian ini adalah wanita usia subur di
3. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Kelurahan Palopat Maria Lingkungan II
wanita usia subur tentang kanker payudara Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru yaitu
berdasarkan sumber informasi. sebanyak 150 orang.

. sampel
METODE PENELITIAN Menurut Arikunto (2006), sampel
Kerangka Konsep adalah sebagian atau wakil populasi yang
Kerangka konsep adalah suatu diteliti. Apabila subjeknya < 100 maka subjeknya
hubungan atau kaitan antara satu konsep Total Sampling , tapi jika jumlah populasi > 100
terhadap konsep lainnya, atau antara variabel dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % dari
yang satu dengan variabel lainnya dari masalah populasi sehingga didapatkan sampel 20 % dari
yang akan diteliti (Hidayat, 2010). populasi yaitu sebanyak 30 orang.
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan Dalam penelitian ini cara pengambilan
penelitian, dan landasan teoritis, maka penulis sampel secara random sampling yaitu Sistem
dapat mengembangkan konsep sebagai berikut: Acak Sistematis, dan mengacu pada pendapat
Arikunto, peneliti mengambil 20 % sampel dari
total populasi.

41
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

distribusi frekuensi, kemudian dicari besar


presentase jawaban masing-masing responden
Pengolahan Dan Analisa Data dan selanjutnya dilakukan pembahasan dengan
Pengolahan Data menggunakan teori kepustakaan yang ada
Adapun metode pengolahan data yang sehingga dapat diambil kesimpulan dengan
digunakan adalah : memberikan skor pada setiap jawaban yang
1.Editing diberikan , dimana:
Pada tahap ini, penulis melakukan 1.Untuk jawaban yang salah adalah 0 (skor
penelitian terhadap data yang diperoleh maksimal dari setiap aspek jawaban dikalikan
kemudian diteliti apakah terdapat skor ) yaitu 0
kekeliruan atau tidak dalam penulisan x 20=0.
(Hidayat, 2010). 2.Untuk jawaban yang benar adalah 5 (skor
2. Coding maksimal dari setiap aspek jawaban dikalikan
Merupakan kegiatan pemberian kode skor ) yaitu 5 x
setiap jawaban responden untuk 20=100.
mempermudah pengolahan data.
(Hidayat, 2010).
3.Tabulating HASIL DAN PEMBAHASAN
Memasukkan data yang telah lengkap Hasil
dihitung dengan variabel yang Dari penelitian yang dilakukan tentang
dibutuhkan lalu dimasukkan kedalam Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Subur
tabel frekuensi (Hidayat, 2010). (WUS) Tentang Kanker Payudara di Kelurahan
Menurut Machfoedz (2009) yang diambil Palopat Maria Lingkungsan II Kecamatan
dari buku Arikuto. Rumus yang digunakan Padangsidimpuan Hutaimbaru Tahun 2012
adalah: peneliti mendapat hasil terhadap 30 responden
sebagai berikut:
Berdasarkan Pengetahuan
Rumus : P = F X 100 % Berdasarkan hasil pengumpulan data di
N temukan tingkat pengetahuan responden
Keterangan : Tentang Kanker Payudara di Kelurahan Palopat
P :Presentase Maria Lingkungsan II Kecamatan
F :Jumlah yang benar Padangsidimpuan Hutaimbaru Tahun 2012 pada
N :Jumlah sampel tabel berikut:
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Wanita Usia
Analisa Data Subur (WUS) Tentang Kanker Payudara di
Analisa data yang dilakukan dengan cara Kelurahan Palopat Maria Lingkungan II
deskriptif dengan melihat presentase data yang Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru
terkumpul dan disajikan dalam bentuk tabel Tahun 2012

42
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

berada pada umur 15-24 tahun sebanyak 11


No Pengetahuan Frekuensi % orang (36,7%) dengan berpengetahuan kurang
1 Baik 11 36,7
sebanyak 6 orang (20%) dan minoritas
2 Cukup 4 13,3
responden berada pada umur 25-34 tahun
3 Kurang 15 50
Jumlah 30 100 sebanyak 6 orang (20%), dengan

Sumber : Hasil Kuesioner berpengetahuan kurang sebanyak 1 orang


(3,3%).

Analisa Data : Berdasarkan Pendidikan

Berdasarkan tabel1 di atas mayoritas Berdasarkan hasil pengumpulan data di

responden berpengetahuan kurang yaitu temukan tingkat pengetahuan responden

sebanyak 15 orang (50%) dan minoritas Tentang Kanker Payudara berdasarkan

berpengetahuan cukup 4 orang (13,3%). pendidikan di Kelurahan Palopat Maria


Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan

Berdasarkan Umur Hutaimbaru Tahun 2012 pada tabel berikut:

Berdasarkan hasil pengumpulan data di Tabel 3 Distribusi Frekuensi Pengetahuan

temukan tingkat pengetahuan responden Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Kanker

Tentang Kanker Payudara berdasarkan umur di Payudara di Kelurahan Palopat Maria

Kelurahan Palopat Maria Lingkungan II Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan

Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru Berdasarkan

Hutaimbaru Tahun 2012 pada tabel berikut: Pendidikan Tahun 2012

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pengetahuan


Pengetahuan
Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Kanker N Tingkat Pendidikan Baik Cukup Kuran F %

Payudara di Kelurahan Palopat Maria o g


F % F % F %
Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan 1 Dasar (SD dan SMP) - - - - 1 4 1 4
3 3, 3 3,
Hutaimbaru Berdasar kan Umur Tahun 2012 3 3
2 Menengah (SMA 6 2 3 1 2 6, 1 3
sederajat) 0 0 7 1 6,
Pengetahuan
7
N Umur Baik Cukup Kurang F %
3 P.T (Akademik dan 5 1 1 3, - - 6 2
o F % F % F %
Perguruan Tinggi) 6, 3 0
7
1 15-24 3 10 2 6,7 6 2 1 36,
Jumlah 1 3 4 1 1 5 3 1
tahun 0 1 7
1 6, 3, 5 0 0 0
2 25-34 3 10 2 6,7 1 3, 6 20
7 3 0
tahun 3
3 35-44 3 10 - - 3 1 6 20 Sumber : Hasil Kuesioner
tahun 0
4 49 2 6,7 - - 5 1 7 23,
Analisa Data :
tahun 6, 3
Berdasarkan tabel 3 diatas dari 30
7
Jumlah 1 36, 4 13, 1 5 3 10 responden mayoritas responden berpendidikan
1 7 3 5 0 0 0
Dasar (SD dan SMP) sebanyak 13 orang
Sumber : Hasil Kuesioner
(43,3%) dengan berpengetahuan kurang
Analisa Data:
sebanyak 13 responden (43,3%) dan minoritas
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat
responden berpendidikan P.T (Akademik dan
dilihat dari 30 responden mayoritas responden

43
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Perguruan Tinggi) sebanyak 6 orang (20%) orang (3,3%), dengan berpengetahuan cukup
dengan berpengetahuan cukup sebanyak 1 dan kurang.
orang (3,3%).
Pembahasan
Berdasarkan Sumber Informasi Dari hasil penelitian tentang Gambaran
Berdasarkan hasil pengumpulan data di Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS)
temukan tingkat pengetahuan responden Tentang Kanker Payudara di Kelurahan Palopat
Tentang Kanker Payudara berdasarkan Maria Lingkungan II Kecamatan
pendidikan di Kelurahan Palopat Maria Padangsidimpuan Hutaimbaru Tahun 2012.
Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan Dapat dibahas sebagai berikut :
Hutaimbaru Tahun 2012 pada tabel berikut: 1. Gambaran Pengetahuan Responden
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Berdasarkan Pengetahuan
Wanita Usia Subur (WUS) Tentang Kanker Berdasarkan tingkat pengetahuan dapat
Payudara di Kelurahan Palopat Maria dilihat bahwa dari 30 responden mayoritas
Lingkungan II Kecamatan Padangsidimpuan berpengetahuan kurang yaitu sebanyak 15
Hutaimbaru Berdasarkan responden (50%) , dan minoritas
Sumber Informasi Tahun 2012 berpengetahuan cukup yaitu 4 responden
Pengetahuan
(13,3%).
N Sumber Baik Cukup Kuran F %
o Informasi g Menurut Notoatmodjo (2007)
F % F % F %
1 Tenaga 2 6, 1 3, 1 3 4 13,
mengatakan bahwa pengetahuan merupakan
Kesehatan 7 3 , 3 hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
3
2 Media Massa 9 3 10 1 4 2 83, melakukan penginderaan terhadap objek
Dan Elektronik 30 3 3 5 4
,
tertentu, penginderaan terjadi melalui
4 pendengaran, penciuman, rasa dan raba
3 Keluarga - - - - 1 3 1 3,3
, sebagian besar dari pengetahuan manusia yang
3
diperoleh melalui mata dan pendengaran.
Jumlah 1 36 4 13 1 5 3 100
1 ,7 ,3 5 0 0 Menurut Sarwono (2000) pengetahuan di
Sumber : Hasil Kuesioner dapatkan melalui proses belajar, proses belajar
Analisa Data : adalah serangkaian kegiatan menyangkut
Berdasarkan tabel 4 diatas dapat dilihat kegiatan otak untuk berfikir dan mengingat
dari 30 responden mayoritas responden sesuatu. Mengingat adalah perbuatan
mendapat informasi dari media massa dan menyimpan hal-hal yang sudah pernah diketahui
elektronik sebanyak 25 responden (83,4%) untuk pada suatu saat lain dikeluarkan dan di
dengan berpengetahuan kurang sebanyak 13 gunakan kembali.
orang (43,4%) dan minoritas mendapat Pengetahuan baik,cukup, dan kurang
informasi dari keluarga sebanyak 1 orang (3,3%) bisa dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya
dengan berpengetahuan kurang sebanyak 1 seseorang tersebut melakukan penginderaan
orang (3,3%), serta mendapat informasi dari terhadap objek tertentu seperti membaca,
tenaga kesehatan masing-masing sebanyak 1 melihat, mendengar, baik secara langsung

44
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

mendapatkan pengetahuan dari sumber maka semakin berkembang pula daya tangkap
informasi seperti keluarga, tenaga kesehatan, dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
teman dan secara tidak langsung mendapatkan diperolehnya semakin membaik.Berdasarkan
sumber informasi seperti media cetak , media hasil penelitian teori diatas sejalan dengan hasil
elektronik dan media apapun. penelitian dimana mayoritas responden
Berdasarkan hasil penelitian yang telah berpengetahuan kurang, sesuai dengan teori
dilakukan bahwa pengetahuan wanita usia mengatakan semakin bertambah usia maka
subur tentang kanker payudara di Kelurahan semakin berkembang pula daya tangkap dan
Palopat maria Lingkungan II adalah kurang.Hasil pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
penelitian ini sejalan dengan teori dan ini bisa diperolehnya semakin membaik.
terjadi karena tingkat pendidikan responden 3 Gambaran Pengetahuan Responden
mayoritas berpendidikan dasar dan masih perlu Berdasarkan Pendidikan
mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan. Dari hasil penelitian menunjukkan
2. Gambaran Pengetahuan Responden bahwa dari 30 responden berdasarkan tingkat
Berdasarkan Umur pendidikan dasar berjumlah 13 responden,
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dimana berpengetahuan kurang berjumlah 13
dari 30 responden berdasarkan umur 15-24 responden (43,3%). Responden yang
tahun berjumlah 11 responden (36,7%), dimana berpendidikan tingkat menengah berjumlah 11
responden yang berpengetahuan baik berjumlah responden (36,7%), dimana yang
3 responden berpengetahuan baik 6 responden (20%)
(10%), dan berpengetahuan cukup berjumlah 2 berpengetahuan cukup 3 responden (10%) dan
responden (6,7%) serta yang berpengetahuan berpengetahuan kurang 2 responden (6,7%).
kurang berjumlah 6 responden (20%). Responden yang berpendidikan tingkat tinggi
Responden yang berusia 25-34 tahun berjumlah berjumlah 6 responden (20%), dimana yang
6 responden, dimana yang berpengetahuan baik berpengetahuan baik 5 responden (16,7%),
3 responden (10%), dan yang berpengetahuan berpengetahuan cukup 1 responden (3,3%).
cukup berjumlah 2 responden (6,7%) serta yang Menurut Widyastuti (2009), pendidikan itu
berpengetahuan cukup berjumlah 1 responden sangatlah perlu bagi siapa saja, karena tingkat
(3,3%). Responden yang berusia 35-44 tahun pendidikan itu bisa meningkatkan taraf hidup,
berjumlah 6 responden, dimana yang membuat keputusan yang menyangkut masalah
berpengetahuan baik 3 responden (10%), dan kesehatan seseorang. Semakin tinggi
berpengetahuan kurang 3 responden (10%). pendidikan seseorang akan mudah menerima
Respoden yang berusia 49 tahun berjumlah 7 hal-hal yang baru dan mudah menyesuaikan diri
responden, dimana yang berpengetahuan baik dengan masalah-masalah baru. Meningkatkan
berjumlah 2 responden (6,7%) dan yang pendidikan berdampak pada pengalaman dan
berpengetahuan kurang 5 responden (16,7%). wawancara yang semakin luas dan kemampuan
Menurut PRO-HEALTH (2009), umur untuk mengambil keputusan yang baik
sangat berpengaruh terhadap daya tangkap dan khususnya berhubungan dengan kesehatan.
pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia

45
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Berdasarkan hasil penelitian, teori di dari media massa dan elektronik, dibandingkan
atas sejalan dengan hasil penelitian, dimana dengan yang memeperoleh informasi dari
mayoritas responden berpengetahuan kurang tenaga kesehatan.
dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan
responden, karena pengetahuan orang sangat KESIMPULAN DAN SARAN
berpengaruh pada tingkat pendidikannya, Kesimpulan
pendidikan yang tinggi menjamin pengetahuan Dari hasil penelitian Gambaran
seseorang akan lebih baik dan bukan hanya dari Pengetahuan Wanita Usia Subur (WUS)
segi pendidikannya saja namun bisa juga dari Tentang Kanker Payudara Di Kelurahan Palopat
pengalaman seseorang dan penerimaan Maria Lingkungan II kecamatan
terhadap informasi yang didapatnya. Padangsidimpuan Hutaimbaru Tahun 2012 ,
4 Gambaran Pengetahuan Responden maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut
Berdasarkan Sumber Informasi :
Dari hasil penelitian menunjukkan dari 1. Dari keseluruhan responden yang berjumlah
30 responden berdasarkan sumber informasi 30 responden didapat bahwa mayoritas
dari tenaga kesehatan berjumlah 4 reponden, bepengetahuan kurang dan minoritas
dimana yang berpengetahuan baik 2 responden berpengetahuan cukup .
(6,7%), berpengetahuan cukup berjumlah 1 2. Berdasarkan umur, mayoritas responden
responden (3,3%) dan berpengetahuan kurang berpengetahuan kurang pada umur 15-24
berjumlah 1 responden (3,3%). Responden yang tahun sebanyak 6 responden (20%) dan
mendapat sumber informasi dari media massa minoritas berpengetahuan kurang pada usia
dan elektronik berjumlah 25 responden dimana 25-34 tahun sebanyak 1 responden (3,3%).
yang berpengetahuan baik 9 responden (30%), 3. Berdasarkan pendidikan , mayoritas
berpengetahuan cukup sberjumlah 3 responden responden berpengetahuan kurang
(10%),dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 13 responden (43%) pada tingkat
berjumlah 13 responden (43,3%). Responden pendidikan dasar dan minoritas responden
yang mendapatkan informasi dari keluarga berpengetahuan cukup pada tingkat
berjumlah 1 responden dimana berpengetahuan pendidikan perguruan tinggi sebanyak 1
kurang 1 responden (3,3%). responden (3,3%).
Menurut PRO-HEALTH (2009), semakin 4. Berdasarkan sumber informasi mayoritas
banyak informasi yang masuk semakin banyak responden berpengetahuan kurang pada
pula pengetahuan yang di dapat. Semakin sumber informasi media massa dan
banyak informasi yang diperoleh dari tenaga elektronik sebanyak 13 responden (43%)
kesehatan semakin banyak pula pengetahuan dan minoritas berpengetahuan kurang pada
yang di dapat tentang kesehatan. sumber informasi dari keluarga sebanyak 1
Berdasarkan hasil penelitian, teori di atas responden (3,3%) serta mendapat informasi
sejalan dengan hasil penelitian, dimana di dari tenaga kesehatan masing-masing
temukan mayoritas responden berpengetahuan sebanyak 1 orang (3,3%), dengan
kurang dengan memeperoleh sumber informasi berpengetahuan cukup dan kurang.

46
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Saran Corwin, Elizabeth J . 2000 . Buku Saku


Berdasarkan kesimpulan di atas, maka Patofisiologi. EGC,Jakarta.
saran yang diberikan sehubungan dengan Hawari , 2004.Hubungan Pengetahuan,
penelitian ini adalah : Internet:http//www.libraryupnusu.googl
1. Bagi tenaga kesehatan yang bertugas di e.co.id/ [akses 15 April 2012].
Kelurahan Palopat Maria agar lebih Hidayat , A . 2010. Metode Penelitian Kebidanan
mempromosikan kepada Wanita Usia Subur Dan Teknik Analisa Data. Salemba
bahwa kanker payudara adalah penyakit Medika. Jakarta.
yang sangat berbahaya dan dapat Hurlock , 2002. Library Pengetahuan
menyebabkan kematian jika sudah dalam ,Internet:http //www.dinkeskaltim.go.id
stadium yang lanjut.. .[akses 15 April 2012].
2. Bagi responden, diharapkan agar ikut serta Jones,Derek Llewellyn .2001. Dasar-dasar
dalam program sadari untuk pencegahan Obstetri dan Ginekologi ,Hipokrates.
kanker payudara. Jakarta.
3. Bagi peneliti selanjutnya, agar membahas Jones,Derek Llewellyn , 2005. Setiap Wanita .
masalah kanker payudara lebih jelas lagi Delapratasa Publishing. Jakarta.
serta mencari sumber informasi baru Kasdu , 2005 . kanker payudara .
tentang kanker payudara. http//www.beritakapanlagi.com [akses:
4. Bagi Institusi Akademi Kebidanan Darmais , 20 Maret 2012].
diharapkan semoga Karya Tulis ini dapat Machfoedz,2009.Metodologi
menjadi tambahan bahan bacaan di Penelitian.Fitramaya.Jakarta.
Perpustakaan Akademi Kebidanan Darmais Mansjoer, Arif, 2000 . Kapita Selekta
Papangsidimpuan. Kedokteran . Media Aesculapius.
5. Dengan adanya penelitian ini diharapkan Jakarta.
kepada pembaca agar lebih memahami M.D.Lee, John R, 2008. Kanker Payudara
serta mencari informasi yang lebih banyak .Daras Books . Jakarta.
tentang kanker payudara. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003 .Ilmu Kesehatan
Masyarakat . Rineka Cipta. Jakarta.
Notoatmodjo,Soekidjo, 2010 . Metodologi
DAFTAR PUSTAKA Penelitian Kesehatan .Rineka Cipta
Alhadrami ,S.2000. Kanker Payudara .Internet ,Jakarta.
:http//www.depkes.go.id [akses :15 Podes , 2008. Wanita Usia Subur,
Maret 2012]. http//www.wikipediaorg.com [akses:16
Arikunto , S. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu maret 2012]
Pendekatan Praktek).Rineka Cipta . Pro-health, 2009.Pengetahuan Dan Faktor-
Jakarta. Faktor Yang Mempengaruhi
Cyntia , 2009 . Prevalensi Kanker payudara .http:/forbetterhealth.wordpress.com/20
menurut .Internet: http //www.wiki.com 09/04/19/pengetahuan-dan-faktor-
[akses : 15 Maret 2012]. faktor-yang-mempengaruhi/.

47
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Putri, Naura, 2009.Deteksi Dini Kanker


Payudara , Aura Media , Yogyakarta.
Sarwono, 2000. Pengantar Umum Psikologi,
Bulan Bintang, Jakarta.
Saryono, 2009, Perawatan Payudara . Nuha
Medika. Jakarta.
Sudarianto, 2010, Kasus Kanker Payudara
Masih Tertinggi.
http//www.beritakapanlagi.com [akses:
16 Maret 2012].
Verralls, Sylvia, 2003. Anatomi dan Fisiologi
Terapan Dalam Kebidanan. EGC .
Jakarta.
Widyastuti, Yani, 2009.Kesehatan
Reproduksi,Fitramaya,Jakarta.
Wikipedia,
2011.Pendidikan.http://id.wikipedia.org/
wiki/pendidikan [akses: 6 mei 2012]
www.profil tapanuli selatan tentang kanker
payudara ,2010 [akses: 18 Februari
2012].
www.Media Sumatera Utara.com, 2011.[akses :
15 Februari 2012].
www.Library.upnvj.ac.id/PDF(2S1Keperawatan/
205312044/pdf [akses:15 April
2012].

48
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN MELALUI MEDIA ELEKTRONIK


DAN PAMFLET TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN
PENGGUNAAN BUMBU PENYEDAP PADA IBU RUMAH TANGGA

Agus Muda Nasution (1)

1Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Bumbu penyedap banyak dipakai untuk keperluan rumah tangga maupun industri makanan dan
diperjualbelikan secara bebas. bumbu penyedap biasa digunakan sebagai penyedap makanan.
Mengkonsumsi bumbu penyedap secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit dan
juga dapat mempengaruhi kecerdasan. Salah satu cara untuk mengendalikan penggunaan bumbu
penyedap dalam olahan sesuai dengan batasan maksimum perharinya, agar penggunaan penyedap
tidak melebihi dosisnya dan aman dalam penggunaannya bagi masyarakat maka dilakukan promosi
kesehatan dengan tujuan untuk menyampaikan dan menyebarkan informasi kesehatan yang diharapkan
dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan bumbu penyedap.
Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan rancangan penelitian one-group
pretest-postest design. Subyek penelitian ini adalah ibu rumah tangga yang berjumlah 60 orang.
Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat pengaruh promosi kesehatan baik metode media
elektronik dengan p = 0,00, maupun pamflet dengan p = 0,00, terhadap peningkatan pengetahuan
penggunaan bumbu penyedap. Tidak terdapat perbedaan rerata antara kelompok perlakuan metode
media elektronik dan kelompok perlakuan pamflet dengan p = 0,817.
Ada pengaruh promosi kesehatan metode media elektronik dan promosi kesehatan melalui
pamflet terhadap peningkatan pengetahuan penggunaan bumbu penyedap. Tidak terdapat perbedaan
rerata antara kelompok promosi kesehatan media elektronikl dan kelompok promosi kesehatan metode
pamflet.

Kata Kunci : Promosi Kesehatan, quasi experimental , media elektronik, pamflet Pengetahuan
Penggunaan bumbu penyedap, one-group pretest-postest design.

PENDAHULUAN dikalangan ibu rumah tangga karena biasa


Bumbu penyedap banyak dipakai untuk digunakan sebagai penyedap makanan. Produk-
keperluan rumah tangga maupun industri produk makanan yang beredar dipasaran
makanan dan diperjualbelikan secara bebas. sekarang ini banyak mengandung macam-
Bahan penguat rasa sudah lama akrab

49
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

macam bahan aditif makanan, salah satu budaya setempat, agar masyarakat dapat
contohnya penguat cita rasa. menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan.
Bahan yang paling penting untuk Promosi kesehatan tidak lepas dari media
membuat bumbu penyedap rasa yaitu asam karena melalui media, pesan-pesan yang
glutamat yang berupa asam amino yang ada disampaikan dapat lebih menarik dan dipahami,
pada tumbuhan, hewan, minyak bumi dan pada sehingga sasaran dapat mempelajari pesan
tubuh mauusia. Pernah diberitakan bahwa asam tersebut dan sasaran dapat memutuskan untuk
glutamat itu dibuatnya dari otak babi. Hal ini mengadopsinya perilaku yang positif. Metode
sukar untuk dipercaya sebab tidak ekonomis, penyampaian pesan dan informasi dalam
susah untuk membuatnya dan lagi asam asam promkes diantaranya adalah metode media
glutamate yang ada di dalam otak babi itu hanya elektronik dan metode cetak pamflet yang
berkadar 0.01 %.. masing-masing metode memiliki kelebihan dan
Di sini pabrik bumbu penyedap kekurangan.
membuat asam glutamat itu dari Melase (gula Penggunaan bumbu penyedap di desa
tetes), sisa gula tebu yang sudah tidak bisa ini berdasarkan observasi yang telah dilakukan
menjadi kristal. Di negara yang tidak mempunyai oleh peneliti pada tanggal 03 juni 2012 dari 12
tebu, asam glutamat itu dibuatnya dari ibu rumah tangga yang diobservasi, 11 orang
ganggang, gulabit, gandum, kedelai, tapioka, diantaranya pernah dan masih menggunakan
minyak bumi atau sengaja membuatnya secara bumbu penyedap sebagai penyedap rasa
sintetis. masakannya. Sampel tidak mengetahui
Bumbu penyedap dalam jumlah tertentu dosis/takaran penggunaan bumbu penyedap
masih dianggap aman, namun demikian, untuk bahkan hanya dengan menggunakan perkiraan
kesehatan konsumen, sebagai antisipasi adanya saja, dan sebagian dari sampel berasumsi
efek buruk yang mungkin terjadi bila bahwa masakan yang tidak ditambahi bumbu
mengkonsumsi dalam jumlah besar, penyedap akan terasa kurang enak.
penggunaannya harus dibatasi. Beberapa Penelitian ini bertujuan untuk
negara industri dan maju menetapkan konsumsi mengetahui perbedaan pengaruh promosi
bumbu penyedap yang masih bisa ditoleransi kesehatan menggunakan media elektronik
sebesar 0,3-1 gram per hari.2 Selama puluhan danpamflet terhadap peningkatan pengetahuan
tahun bumbu penyedap masih dikaitkan dengan penggunaan bumbu penyedap pada ibu rumah
penyebab penyakit kanker, serangan jantung, tangga di Desa Hutapadang Kecamatan
obesitas, asma, serta penyakit lainnya, bahkan Padangsidimpuan Tenggara.
berpengaruh pada kecerdasan.
Promosi kesehatan mempunyai peranan METODE PENELITIAN
yang sangat penting dalam proses Penelitian ini merupakan penelitian
pemberdayaan masyarakat, yaitu memperoleh quasi experimental dengan rancangan penelitian
pembelajaran dari, oleh dan bersama one-group pretest-postest design. Subyek dalam
masyarakat sesuai dengan lingkungan sosial penelitian ini adalah ibu rumah tangga sebanyak
60 orang. Analisis data yang digunakan yaitu

50
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

analisis univariat (deskriptif) dan analisis responden (73,3%) memiliki penghasilan di


bivariat. bawah rata-rata UMR.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Data


Hasil Penelitian 1) Analisis Univariat
Deskripsi Lokasi Penelitian Tabel 2. Hasil analisis univariat
Desa Hutapadang Kecamatan
Padangsidimpuan Tenggara Kota Tingkat Pre-Test Pos Test
Pengetahuan Jmlah % Jmlah %
Padangsidimpuan Tapanuli Selatan-Sumatera
(Orang) (Orang)
Utara yang memiliki penduduk sebanyak 669
Elektronik
jiwa dan terdiri dari 172 Kepala Keluarga (KK).
Baik 23 76.6 % 29 96.6%
Karakteristik Responden Kurang Baik 7 23.3% 1 3.33%
Pamflet
Baik 23 76.6% 30 100%
Kurang Baik 7 23.3% 0 0%

2) Analisis Bivariat
Tabel 3. Hasil Analisis Uji Wilcoxon Promosi
Kesehatan Metode Media elektronik Terhadap
Peningkatan Pengetahuan Penggunaan bumbu
penyedap Pada Ibu Rumah Tangga Di Di Desa
Hutapadang Kecamatan Padangsidimpuan
Tenggara

Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian

Berdasarkan Tabel 1., hasil penelitian


terhadap 60 orang jumlah responden, dengan
umur minimal 15 tahun dan umur maksimal
adalah 49 tahun. Mayoritas rentang umur
responden adalah 26-49 tahun yaitu sebanyak Tabel 4. Hasil Analisis Uji Wilcoxon Promosi
55 orang responden (91,6%), tingkat pendidikan Kesehatan Pamflet Terhadap Peningkatan
diketahui bahwa responden mayoritas memiliki Pengetahuan Penggunaan bumbu penyedap
tingkat pendidikan SMA/SMK/MA yaitu Pada Ibu Rumah Tangga Di Desa Hutapadang
sebanyak 30 orang responden (50%), tingkat Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara
pekerjaan diketahui bahwa responden mayoritas
memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta yaitu
sebanyak 17 orang responden (28,3%) dan
tingkat penghasilan dapat diketahui bahwa 44

51
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PEMBAHASAN penggunaan bumbu penyedap pada ibu rumah


Perbedaan Tingkat Pengetahuan Responden tangga di Desa Hutapadang Kecamatan
Tentang Penggunaan bumbu penyedap Padangsidimpuan Tenggara disebabkan oleh
Sebelum dan Setelah Dilakukan Promosi kesiapan peneliti dalam mempersiapkan materi
Kesehatan Metode Media elektronik promosi kesehatan yaitu tentang penggunaan
Berdasarkan analisis bivariat bumbu penyedap, tenaga penyuluh yang
peningkatan pengetahuan ibu rumah tangga berkompeten dan alat-alat bantu yang
tentang penggunaan bumbu penyedap, terdapat digunakan yang menunjang dalam pelaksanaan
perbedaan nilai rerata antara sebelum dan promosi kesehatan. Disebut media pendidikan
setelah dilakukan promosi kesehatan metode karena alat-alat tersebut merupakan alat saluran
media elektronik. Pada saat pre-test (sebelum (channel) untuk menyampaikan kesehatan
dilakukan promosi kesehatan) nilai mean karena alat-alat tersebut digunakan untuk
82,267. Pada saat post-test (setelah dilakukan mempermudah penerimaan pesan-pesan
promosi kesehatan) nilai mean 94,2. Terdapat kesehatan bagi masyarakat atau klien.4, 8
perbedaan rerata pengetahuan responden Pelaksanaan penyuluhan gizi tentang makanan
antara sebelum dan setelah dilakukan promosi sehat dan gizi seimbang dapat meningkatkan
kesehatan metode media elektronik sebesar pengetahuan dan sikap ibu di Desa Hutapadang
11,93. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara .
pengetahuan responden tentang penggunaan Perubahan pengetahuan tersebut dapat
bumbu penyedap sebelum dan setelah dilihat dari hasil selisih antara sebelum
dilakukan promosi kesehatan metode media penyuluhan gizi tentang makanan sehat dan gizi
elektronik. seimbang adalah kategori cukup (57,4%),
Nilai probabilitas dari uji Wilcoxon setelah penyuluhan pengetahuan ibu menjadi
adalah 0,00 (0,00 < 0,05) maka Ha diterima dan baik (77,9%). Sikap ibu sebelum penyuluhan gizi
Ho ditolak. Hal ini menunjukan bahwa promosi adalah kategori cukup (76,5%), sesudah
kesehatan metode media elektronik tentang penyuluhan gizi sikap ibu menjadi baik (85,3%).
penggunaan bumbu penyedap pada ibu rumah Hasil uji menunjukkan ada perbedaan sesudah
tangga di Desa Hutapadang Kecamatan perlakuan, yaitu pengetahuan dengan nilai t= -
Padangsidimpuan Tenggara menyebabkan 17,960 dan p=0,000, sikap dengan nilai t= -
tingkat pengetahuan berbeda (meningkat) 24,587 dan p=0,000. Kesimpulan dari penelitian
dibandingkan sebelum diberikan promosi ini adalah bahwa ada pengaruh penyuluhan
kesehatan metode media elektronik. Ini berarti terhadap peningkatan pengetahuan ibu dan
promosi kesehatan metode media elektronik perubahan sikap ibu tentang makanan sehat
berpengaruh terhadap peningkatan dan gizi seimbang.
pengetahuan penggunaan bumbu penyedap
pada ibu rumah tangga di Desa Hutapadang Perbedaan Tingkat Pengetahuan Responden
Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara Tentang Penggunaan bumbu penyedap
Keberhasilan pelaksanaan promosi Sebelum dan Setelah Dilakukan Promosi
kesehatan metode media elektronik tentang Kesehatan Pamflet

52
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Berdasarkan analisis bivariat untuk membaca pesan yang terdapat


pengetahuan ibu rumah tangga tentang didalamnya.
penggunaan bumbu penyedap dalam promosi Pemberian pamflet mengenai jajanan
kesehatan pamflet, terdapat perbedaan nilai sehat dapat meningkatkan pengetahuan pada
rerata antara sebelum dan setelah dilakukan responden.10 Perubahan pengetahuan tersebut
promosi kesehatan pamflet. Pada saat pre-test dapat dilihat dari hasil selisih antara rerata
(sebelum dilakukan promosi kesehatan pamflet) pengetahuan awal dan pengetahuan akhir
nilai mean 81,37. Pada saat post-test (setelah responden. Pada kelompok intervensi nilai
dilakukan promosi kesehatan pamflet) nilai perubahan atau selisih rerata pengetahuan akhir
mean 92,53. dan awal sebesar 2,025. Ada pengaruh
Terdapat perbedaan rerata pengetahuan pemberian modul tentang gizi anak terhadap
responden antara sebelum dan setelah peningkatan pengetahuan responden.
dilakukan promosi kesehatan pamflet sebesar Pemberian media berupa modul meningkatkan
11,16. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan rerata pengetahuan responden dari 17,93
pengetahuan responden tentang penggunaan menjadi 20,13 dengan perbedaan skor 2,20.10
bumbu penyedap sebelum dan setelah
dilakukan promosi kesehatan pamflet. Perbedaan Rerata Tingkat Pengetahuan
Nilai probabilitas dari uji Wilcoxon Responden Tentang Penggunaan bumbu
adalah 0,00 (0,00 < 0,05) maka Ha diterima dan penyedap Setelah Dilakukan Promosi
Ho ditolak. Hal ini menunjukan bahwa promosi Kesehatan Metode Media elektronik dan Setelah
kesehatan pamflet tentang penggunaan bumbu Dilakukan Promosi Kesehatan Pamflet
penyedap pada ibu rumah tangga di Desa Berdasarkan hasil uji bivariat
Hutapadang Kecamatan Padangsidimpuan peningkatan pengetahuan responden tentang
Tenggara menyebabkan tingkat pengetahuan penggunaan bumbu penyedap, terdapat
berbeda (meningkat) dibandingkan sebelum perbedaan nilai rerata antara promosi kesehatan
diberikan promosi kesehatan pamflet. Ini berarti metode media elektronik dan promosi kesehatan
promosi kesehatan pamflet berpengaruh pamflet. Pada saat dilakukan promosi kesehatan
terhadap peningkatan pengetahuan metode media elektronik diperoleh nilai mean
penggunaan bumbu penyedap pada ibu rumah 11,94. Pada saat dilakukan promosi kesehatan
tangga di Desa Hutapadang Kecamatan pamflet diperoleh nilai mean 11,29. Hal ini
Padangsidimpuan Tenggara menunjukkan bahwa promosi kesehatan metode
Penggunaan media intervensi untuk media elektronik memiliki rerata nilai mean yang
melakukan promosi kesehatan diantaranya lebih besar dibandingkan dengan promosi
harus memenuhi beberapa aspek agar media kesehatan pamflet dengan selisih nilai mean nya
intervensi mudah diterima dan dipahami oleh yaitu 0,65.
kelompok sasaran. Media cetak sebagai media Nilai probabilitas dari uji Mann-Whitney
intervensi yang digunakan diantaranya harus adalah 0,817 (0,817 > 0,05) maka Ha ditolak
menimbulkan minat pada kelompok sasaran dan Ho diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
tidak terdapat perbedaan rerata antara

53
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

kelompok yang dilakukan promosi kesehatan masyarakat, ketersediaan waktu dari


metode media elektronik dan kelompok yang masyarakat.
dilakukan promosi kesehatan pamflet.
Promosi kesehatan metode media elektronik KESIMPULAN DAN SARAN
lebih merangsang dalam penyampaian pesan- Kesimpulan
pesan/informasi yang disampaikan karena 1. Terdapat pengaruh promosi kesehatan
responden dapat melihat dan responden juga metode media elektronik terhadap
dapat mendengarkan isi pesan tersebut. peningkatan pengetahuan penggunaan
Sehingga metode media elektronik memiliki nilai bumbu penyedap pada ibu rumah tangga di
rerata mean lebih tinggi dibandingkan dengan Desa Hutapadang Kecamatan
pamflet. Menurut Edgar Dale (1964) dalam Padangsidimpuan Tenggara
Nursalam dan Efendi (2009) yang digambarkan 2. Terdapat pengaruh promosi kesehatan
dalam kerucut Edgar Dale, membaca akan pamflet terhadap peningkatan pengetahuan
mengingat 10% dari materi yang dibaca, penggunaan bumbu penyedap pada ibu
mendengar akan mengingat 20% dari yang rumah tangga di Desa Hutapadang
didengar, melihat akan mengingat 30% dari apa Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara
yang dilihat, mendengar dan melihat akan 3. Tidak terdapat perbedaan rerata antara
mengingat 50% dari apa yang didengar dan kelompok yang telah diberi promosi
dilihat. kesehatan metode audiovisual dan kelompok
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan yang telah diberi promosi kesehatan pamflet
teori Edgar Dale (1964) dalam Nursalam dan terhadap peningkatan pengetahuan
Efendi (2009) yang digambarkan dalam kerucut penggunaan bumbu penyedap pada ibu
Edgar Dale, menyatakan bahwa membaca akan rumah tangga di Desa Hutapadang
mengingat 10% (media cetak) dari materi yang Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara .
dibaca, mendengar akan mengingat 20% dari
yang didengar, melihat akan mengingat 30% Saran
dari apa yang dilihat, mendengar dan melihat 1. Bagi Puskesmas Kecamatan Sanden
akan mengingat 50% (media elektronik) dari apa hendaknya melakukan pembinaan dalam
yang didengar dan dilihat. Hal ini dimungkinkan bentuk promosi kesehatan secara rutin
oleh karena keterbatasan waktu yang dimiliki hingga pada monitoring sikap dan perilaku
oleh responden dalam pelaksanaan promosi mengenai penggunaan Bahan Tambahan
kesehatan baik metode media elektronik Makanan (BTM).
maupun pamflet. 2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk
Faktor keberhasilan promosi kesehatan dapat meneliti sejauh mana pengaruh
banyak faktor yang perlu diperhatikan terhadap promosi kesehatan metode media elektronik
sasaran dalam keberhasilan promosi kesehatan, dan promosi kesehatan pamflet terhadap
diantaranya adalah : tingkat pendidikan, tingkat sikap dan perilaku ibu rumah tangga dalam
sosial ekonomi, adat istiadat, kepercayaan menggunakan bumbu penyedap dalam
makanan.

54
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Effendy, N., 1995, Perawatan


DAFTAR PUSTAKA KesehatanMasyarakat, Penerbit Buku
Achmadi, Umar Fahmi, 1998, Kebijakan Kedokteran, EGC, Jakarta
Penelitian Bidang Kesehatan, Jurnal Effendy, N., Dasar-Dasar Keperawatan
Kesehatan Kota, Unika Atmajaya, Masyarakat, Edisi 2, EGC, Jakarta.
Tahun V no 2, Juli 1998 Everly, JR., and Feldman, R., 1999, Health
Afendi, 2003, Sinergi Etnik dan Modern dalam Promotion, John Willey and Sons, New
Tataruang Bangunan Rumah, Jurnal York.
Penelitian Ilmu-Ilmu Teknik, Vol 13 No. Fitriani, S., Promosi Kesehatan, Edisi pertama
2 Tahun 2003 cetakan pertama, Penerbit Graha Ilmu,
Afrianti, L.H., Teknologi Pengawetan Pangan, Yogyakarta.
Cetakan Kesatu, Penerbit Alfabeta, Fitriani, S., Promosi Kesehatan, Edisi pertama
Bandung. . cetakan pertama, Penerbit Graha Ilmu,
Agoes Azwar, 2000, Pengobatan Tradisional di Yogyakarta..
Indonesia, dalam Antropologi Kesehatan Hermansyah, 1997, Hubungan antara Promosi
III, Grafiti Press, Jakarta di Tempat Kerja dengan Peningkatan
Aguskrisno, B, 2003, Perawatan Tubuh dan Status Kesehatan para Pekerja Industri
Tradisi yang Menyertai, Jurnal di Palembang, Thesis Pascasarjana,
Penelitian dan Pemikiran Biologi UGM Yogyakarta.
SYNAP, no I, tahun IV September Jefry, 2001, Ritual dan Perubahan Sosial, Jurnal
2003, Humaniora Universitas Taruma Negara,
Artiwi, T., Pengaruh Pemberian Buku Saku Vol. 3 no. 1 Juli 2001 (45-60)
Tentang Jajanan Sehat Terhadap Krippendorf, K, 1993, Analisis Isi, Pengantar
Tingkat Pengetahuan Jajanan Sehat Teori dan Metodologi, PT. Raja Grafindo
Pada Murid Kelas V di Sekolah Dasar Persada, Jakarta.
Negeri Glagah, Kelurahan Warungboto, Mahfudz, 1996, Dukun Bayi, Jurnal Penelitian
Kecamatan Umbulharjo, Kota Populasi, no I, tahun XIII September
Yogyakarta, skripsi, Fakultas Kesehatan 1996, (12-30). Pusat Penelitian
Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan, Kependudukan, Universitas Gadjah
Yogyakarta, 2011. Mada, Yogyakarta.
Baroto, Eko, 1996, Pendekatan Miles, M.B, Huberman, A.M, 1994, Qualitative
Penelitianetnobotani, Prosiding Seminar Data Analysis, second edition, Sage
Etno-Botani, Yayasan Kehati- LIPI, Publication, New Delhi.
Jakarta Moleong, L.J, 1996, Metodologi Penelitian
Dale, E., 1964 dalam Nursallam dan Efendy, F., Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya,
Pendidikan Dalam Keperawatan, Bandung.
Penerbit Salemba Medika, Jakarta. Notoatmodjo, S., Promosi Kesehatan Teori dan
Aplikasi, Edisi revisi, Penerbit Rineka
Cipta, Jakarta.

55
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Nurwidodo, 2003c, Etnofarmaka Ramuan Simons, Bruce., Greene, Walter, 2000,


Selekarang, Laporan Penelitian P2U, Introductionto Health Education and
Lembaga Penelitian Universitas Health Promotion, Waveland Press
Muhammadiyah Malang. Incorporation,Prospect Height, Illionis.
Poerwanti, Endang, dan Nurwidodo, 2003, Singarimbun, M., Efendi, S., 1989, Metode
PeranGender dalam Kesehatan Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta
Reproduksi Masyarakat Peralihan (Sub Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif
Urban), Kualitatif dan R & D, Cetakan
Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian kedelapan, Penerbit Alfabeta, Bandung..
Dasar, Dirjen Dikti, Departemen Syafei, Imam, 1996, Merger Penelitian Kualitatif
Pendidikan Nasional, Jakarta. dan Kuantitatif, Penerbit IKIP
Rifai, Mien A., 1999, Pemutahiran Yogyakarta.
Etnobotanidalam Etnosains, Prosiding Tutoko, 2003, Rumah Hunian dan Agenda 21,
Seminar Etno-Botani, Yayasan Kehati- Jurnal Penelitian Ilmu Ilmu Teknik, vol
LIPI, Jakarta XIII Nomor 2 (Waitzkin, Howard, 1993,
Saragih, F.S., Pengaruh Penyuluhan Terhadap Sosiologi Kesehatan, Penerbit Prima
Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Aksara, Jakarta
Makanan Sehat Dan Gizi Seimbang Di Yacob, 1995, Kesehatan Pada Manusia Purba,
Desa Merek Raya Kecamatan Raya dalam Antropologi Kesehatan, Buku
Kabupaten Simalungun, Skripsi, I,Grafiti Press, Jakarta
Fakultas Kesehatan Masyarakat Yahya, 1996, Peningkatan Kenyamanan Kerja
Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan Ergonomi Manusia-Alat pada
2010. Pembatik di Yogyakarta, Thesis
Selo Sumarjan, 1995, Tradisi Meramu Program Pascasarjana, Ilmu Kesehatan,
danMeminum Jamu, Antropologi UGM Yogyakarta.
KesehatanI, Grafiti Press, Jakarta Yuliarti, N., Awas Berbahaya Dibalik Lezatnya
Shodiq, Kuntoro, 1998, Perilaku Sakit Makanan, Penerbit ANDI, Edisi satu,
Masyarakat Pedesaan,: Studi Kasus di Yogyakarta..
desa Plered Bantul Yogyakarta, Jurnal
Penelitian Pasca Srjana, Program
Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

56
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAN MANAJEMEN


PUSKESMAS (SIMKESMAS)
KECAMATAN PADANGSIDIMPUAN TENGGARA
Dian Suci Rahmawati(1)

1Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Sistem informasi kesehatan merupakan suatu pengelolaan informasi diseluruh seluruh tingkat
pemerintah secara sistematis dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat. Sistem
informasi kesehatan adalah gabungan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus
informasi (mulai dari pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk mendukung
pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kinerja sistem
kesehatan.
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah integrasi antara perangkat, prosedur dan kebijakan
yang digunakan untuk mengelola siklus informasi secara sistematis untuk mendukung pelaksanaan
manajemen kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam kerangka pelayanan kesehatan kepada
masyarakat.
Dalam upaya mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Provinsi
mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Puskesmas yang berbasis Teknologi Informasi.
Prototipe SIK yang dikembangkan mengacu kepada kebutuhan informasi untuk pengelolaan klien dan
unit pelayanan di tingkat puskesmas, SP2TP, Indikator SPM dan Indikator Indonesia Sehat 2010.
Dengan dikembangkannya Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas yang dapat menyajikan
informasi secara cepat, tepat dan dapat dipercaya sehingga informasi yang disajikan puskesmas dapat
dipakai untuk pengambilan keputusan di berbagai tingkat sistem kesehatan dan berbagai jenis
manajemen kesehatan baik untuk manajemen pasien, unit dan sistem kesehatan sehingga dapat
meningkatkan mutu pelayanan Dinas Kesehatan kepada masyarakat. Dengan demikian maka pelayanan
kesehatan yang diberikan dapat lebih fokus dan spesifik untuk suatu daerah. Hal ini akan meningkatkan
efektifitas dan efisiensi dari kerja puskesmas. Untuk itu perlu ditingkatkan kevalidan data yang terdapat
pada masukan input dimana hasil yang diinginkan nantinya dapat terjamin kevalidannya sehingga
keputusan yang diambil oleh para pengambil keputusan dapat tepat pada sasaran.

Kata Kunci : Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas,Teknologi Informasi, Prototipe

57
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PENDAHULUAN dipercaya sehingga informasi yang disajikan


Informasi berperan penting dalam puskesmas dapat dipakai untuk pengambilan
pertimbangan pengambilan keputusan dan keputusan di berbagai tingkat sistem kesehatan
kebijakan. Era desentralisasi, dengan sistem dan berbagai jenis manajemen kesehatan baik
Informasi kesehatan yang baik maka akan untuk manajemen pasien, unit dan sistem
membuat masyarakat tidak buta dengan semua kesehatan sehingga dapat meningkatkan mutu
permasalahan kesehatan. Dan mau membawa pelayanan Dinas Kesehatan kepada
keluarga nya berobat dengan mudah bukan lagi masyarakat.
dengan birokrasi yang rumit yang membuat
masyarakat enggan membawa anggota Tujuan
keluarganya berobat di pelayanan kesehatan Tujuan Umum
yang disediakan oleh pemerintah. Dengan Teranalisanya sistem informasi kesehatan yang
maraknya perkembangan media dan technology terintegrasi.
seharusnya membuat masyarakat dan Tujuan Khusus
khususnya pada mahasiswa kesehatan Teranalisanya Kebijakan Sistem
masyarakat melek akan kemajuan berinovasi Informasi Kesehatan;
terhadap sistem informasi kesehatan Indonesia.. Teranalisanya Sistem Informasi
Kebijakan pemerintah sebagai dasar hukum Kesehatan yang dikembangkan
pelaksanaan sistem informasi telah menjadi Teranalisanya Sistem Informasi
acuan dalam pelaksanaan sistem informasi. Manajemen Puskesmas
Sistem informasi yang dikembangkan masih
mengalami hambatan seperti sistem yang belum Sistem Informasi Kesehatan dan Manajemen
optimal tidak terintegrasi, kemampuan daerah, Puskesmas
sumber daya yang terbatas, dan manfaat yang Kebijakan
dirasakan masih kurang. Pengembangan sistem informasi
Puskesmas adalah memberikan kesehatan sebenarnya telah dimulai pada
pelayanan kepada masyarakat melalui sistem PELITA I melalui sistem informasi kesehatan
informasi yang terintegrasi di semua unit nasional pada kantor wilayah kementerian
pelayanan Puskesmas sehingga dapat kesehatan (Kemenkes RI, 2007). Semenjak
meningkatkan kecepatan proses pada diterapkannya kebijakan desentralisasi
pelayanan, mempermudah akses data, kesehatan, berbagai kalangan menilai bahwa
pelaporan dan akurasi data sehingga menjadi sistem informasi kesehatan. Kementerian
lebih baik. kesehatan selalu mengeluh bahwa input data
Puskesmas adalah dapat meningkatkan dari provinsi, kabupaten/ kota sangat berkurang.
Pelayanan Kesehatan kepada Masyarakat Di sisi yang lain, beberapa daerah mengatakan
melalui penerapan Sistem informasi Kesehatan bahwa penerapan sistem informasi kesehatan
Puskesmas yang terintegrasi dari semua unit semenjak era desentralisasi memberi dampak
pelayanan. Demikian pula dapat menyajikan yang lebih baik baik. Hal ini ditunjukkan dengan
informasi secara cepat, tepat dan dapat semakin tingginya motivasi dinas kesehatan

58
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

untuk mengembangkan SIK, semakin banyak pada tahun 2007;


puskesmas yang memiliki komputer, tersedianya b. Terselenggaranya jaringan komunikasi data
jaringan LAN di dinas kesehatan maupun online terintegrasi antara 90% dinas
investasi teknologi informasi lainnya. kesehatan kabupaten/ kota, 100% dinas
Adanya desentralisasi ini pula, kesehatan provinsi, 100% rumah sakit pusat,
mengakibatkan pencatatan dan pelaporan 100% Unit Pelaksana teknis (UPT) Pusat
sebagai produk dari era sentralisasi menjadi dengan Kementerian Kesehatan pada tahun
overlaps, hal ini tentu saja menjadi beban 2009;
bagi kabupaten/ kota. Melalui c. Terselenggaranya jaringan komunikasi data
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 511 online terintegrasi antara seluruh dinas
tahun 2002 tentang Kebijakan dan Strategi kesehatan kabupaten/ kota, dinas kesehatan
Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan provinsi, rumah sakit pusat, dan UPT Pusat
Nasional (SIKNAS) dan Nomor 932 tahun 2002 dengan Kementerian Kesehatan pada tahun
tentang petunjuk pelaksanaan pengembangan 2010.
sistem informasi kesehatan daerah di Dari beberapa hal tersebutlah, maka
kabupaten/ kota dikembangkan berbagai pemerintah daerah pun berupaya
strategi, yaitu: mengembangkan sistem informasi yang sesuai
a. Integrasi dan simplifikasi pencatatan dan dengan keunikan dan karakteristiknya.
pelaporan yang ada; Pengembangan sistem informasi kesehatan
b. Penetapan dan pelaksanaan sustem daerah melalui software atau web. seperti
pencatatan dan pelaporan; SIMPUS, SIMRS, SIKDA dan sebagainya.
c. Fasilitasi pengembangan sistem-sistem
informasi kesehatan daerah; Sistem Informasi Kesehatan
d. Pengembangan teknologi dan sumber daya; Secara umum pengertian sistem
e. Pengembangan pelayanan data dan informasi kesehatan adalah gabungan
informasi untuk manajemen dan pengambilan perangkat dan prosedur yang digunakan untuk
keputusan; mengelola siklus informasi (mulai dari
f. Pengembangan pelayanan data dan pengumpulan data sampai pemberian umpan
informasi untuk masyarakat; balik informasi) untuk mendukung pelaksanaan
Selanjutnya, pada melalui Keputusan tindakan tepat dalam perencanaan,
Menteri Kesehatan RI Nomor 837 tahun 2007 pelaksanaan dan pemantauan kinerja sistem
tentang Pengembangan Jaringan Komputer kesehatan. Informasi kesehatan selalu
Online Sistem Informasi Kesehatan Nasional di diperlukan dalam pembuatan program
rencanakan beberapa indikator dalam setiap kesehatan mulai dari analisis situasi, penentuan
tahunnya, yaitu: prioritas, pembuatan alternatif solusi,
a. Terselenggaranya jaringan komunikasi data pengembangan program, pelaksanaan dan
terintegrasi antara 80% dinas kesehatan pemantauan hingga proses evaluasi.
kabupaten/ kota dan 100% dinas kesehatan Subsistem dalam sistem informasi
provinsi dengan Kementerian Kesehatan kesehatan secara umum meliputi:

59
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

a. Surveilans epidemiologis (untuk penyakit melakukan berbagai perbaikan kualitas


menular dan tidak menular, kondisi pelayanan kesehatan.
lingkungan dan faktor risiko); c. Penguatan evidence based dalam
b. Pelaporan rutin dari puskesmas, rumah mengambilan kebijakan yang efektif,
sakit, laboratorium kesehatan daerah, evaluasi, dan inovasi melalui penelitian.
gudang farmasi, praktek swasta; d. Perbaikan dalam tata kelola, memobilisasi
c. Pelaporan program khusus, seperti TB, sumber baru dan akuntabilitas cara yang
lepra, malaria, KIA, imunisasi, HIV/AIDS, digunakan.
yang biasanya bersifat vertikal;
d. Sistem administratif, meliputi sistem
pembiayaan, keuangan, sistem
kepegawaian, obat dan logistik, program
pelatihan, penelitian dan lain-lain;
e. Pencatatan vital, baik kelahiran, kematian
maupun migrasi. Gambar 1 Informasi Kesehatan rekomendasi
Jika dicermati, komponen tersebut tidak WHO (Sumber: WHO, 2005)
hanya tanggung jawab sektor kesehatan
semata, tetapi juga lintas sektor lainnya seperti
statistik vital kependudukan, data kelahiran, data
kematian. Sistem pelaporan informasi
kesehatan rutin dari fasilitas kesehatan pun
tidak berjalan dengan baik.
Teknologi informasi memberi berbagai
kemudahan dalam proses manajemen di segala
bidang. Dengan teknologi informasi, data dan
informasi dapat diolah dan didistribusikan
secara lebih mudah, cepat, akurat dan fleksibel.
Gambar 2. Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
Hal ini mendorong semakin dibutuhkannya
pemanfaatan teknologi informasi dalam
Data yang diperlukan dalam sistem
berbagai kegiatan.
informasi kesehatan yang komprehensif berkisar
World Health Organization (WHO)
dari data kelahiran, morbiditas dan mortalitas,
menilai bahwa investasi sistem informasi
untuk jenis dan lokasi tenaga kesehatan,
menuai beberapa keuntungan, antara lain:
dengan jenis dan kualitas pelayanan klinis yang
a. Membantu pengambil keputusan untuk
diberikan di tingkat nasional dan sub-nasional
mendeteksi dan mengendalikan masalah
dan akhirnya dengan indikator penduduk,
kesehatan, memantau perkembangan dan
seperti sebagai demografi dan status sosial
meningkatkannya.
ekonomi. Sebagaimana gambar di atas,
b. Pemberdayaan individu dan komunitas
informasi kesehatan dapat dibagi menjadi lima
dengan cepat dan mudah dipahami serta

60
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

domain yang berbeda, yaitu: yang diolah adalah data pribadi, anak,
1. Penentu Kesehatan, yang meliputi faktor riwayat kepangkatan, riwayat jabatan,
risiko, perilaku, keturunan, lingkungan, riwayat pendidikan, riwayat penjenjangan,
sosial ekonomi dan demografi. riwayat latihan teknis/fungsional, data
2. Input sistem kesehatan, yang meliputi riwayat penghargaan serta data penugasan
kebijakan, pembiayaan, sumber daya, dan pegawai.
organisasi. Sub Sistem Sarana dan Prasarana, yang
3. Output sistem kesehatan, meliputi informasi, berfungsi mengelola data sarana dan
kemampuan pelayanan dan kualitas. prasarana, seperti peralatan medis,
4. Hasil sistem kesehatan, meliputi kendaraan, gedung, tanah dan peralatan
pemanfaatan pelayanan. lainnya.
5. Status kesehatan meliputi angka Sub Sistem keuangan, yang berfungsi untuk
kematian,kesakitan atau ketidakmampuan, mengelola data keuangan secara garis
dan kesejahteraan. besar saja yaitu mencakup besar
pembiayaan menurut kegiatan dan sumber
Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas biaya.
Penyelenggaraan layanan kesehatan Sub Sistem Pelayanan Kesehatan, yang
masyarakat melalui puskesmas merupakan berfungsi mengelola data pelayanan
kegiatan yang membutuhkan proses pencatatan kesehatan, terdiri dari pelayanan dalam
dan pengolahan data yang cukup kompleks. gedung yaitu sub sistem rawat jalan yang
Dibutuhkan suatu sistem informasi yang dapat meliputi pelayanan dasar (BP,GIGI,
menangani berbagai macam kegiatan KIA,Imunisasi, Laboratorium) dan pelayanan
operasional puskesmas mulai dari pengelolaan puskesmas keliling, rawat inap, rekam
registrasi pasien, data rekam medis pasien, medis dan manajemen obat. Pelayanan luar
farmasi, keuangan, hingga berbagai laporan gedung meliputi sub sistem KIA dan GIZI,
bulanan, tribulanan, dan tahunan. Berbagai Kesling dan TTU, Pemberantasan Penyakit
laporan eksekutif yang dihasilkan oleh Menular, PKM, PSM, dan PERKESMAS.
puskesmas dengan bantuan sistem informasi Sub Sistem Pelaporan, yang berfungsi untuk
sangat dibutuhkan dalam penentuan kebijakan menyediakan laporan-laporan, meliputi
untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan laporan SP2TP (LB1, LB2, LB3 dan LB4)
masyarakat. dan laporan program.
Prototipe sistem informasi kesehatan Sub Sistem Penunjang, yang menyediakan
meliputi ; layanan penunjang sistem seperti: membuat
Sub Sistem Kependudukan, yang berfungsi backup dan restore data, data recovery,
untuk mengelola data kependudukan terdiri user list and right assignment, user shortcut,
dari family folder, pencatatan mutasi lahir, short message over network.
mutasi wafat dan mutasi pindah.
Sub Sistem Ketenagaan, yang berfungsi
untuk mengelola data ketenagaan. Data

61
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Pengolahan data
pemeriksaan/tindakan
medis/penggunaan lab.
Pengolahan data obat (resep)
Pengolahan data Rujukan
Farmasi
Farmasi merupakan sub-sistem
yang menangani data yang terkait dengan
Gambar 3. Sistem Informasi Kesehatan
obat. Fungsionalitasnya meliputi:
Puskesmas
Pengolahan data data master obat
Pengolahan data stok obat baru
Dan secara umum sistem informasi
Pengolahan data persediaan obat
kesehatan Puskesmas adalah sebagai berikut ;
Pengolahan data pelayanan/pemberian
Registrasi Pasien
resep pasien.
Registrasi merupakan sub-sistem yang
Pemantauan Data Register
menangani data registrasi kunjungan pasien,
Pemantauan data register merupakan
baik kunjungan pemeriksaan umum/ gigi/ gizi
pemantauan data yang terjadi di puskesmas
/KIA/ imunisasi/ KB. Kegiatannya meliputi:
secara harian/bulanan ataupun periode tertentu.
1) Pengolahan data pasien.
Kegiatannya meliputi:
2) Pengolahan data registrasi kunjungan
Register pemeriksaan umum
pasien, terdapat beberapa macam
Register pemeriksaan gigi
klasifikasi registrasi, yaitu: pemeriksaan
Register pemeriksaan gizi
umum, pemeriksaan gigi, kunjungan gizi,
Register pemeriksaan imunisasi
kunjungan imunisasi, kegiatan KIA,
Register pemeriksaan KIA
kegiatan KB, pemeriksaan laboratorium.
Register pemeriksaan KB
Pemeriksaan/Pemberian Tindakan Medis
Laporan
Hal ini merupakan sub-sistem yang
Laporan merupakan sub-sistem untuk
menangani data yang terkait dengan kegiatan
membuat laporan/ rekapitulasi. Laporan ini
pemeriksaan/pemberian tindakan terhadap
meliputi:
pasien oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan
a. LB:
jenis pemeriksaannya, sub-sistem ini
LB1 - Kasus penyakit
diklasifikasikan menjadi pemeriksaan umum,
LB2 LPLPO
pemeriksaan gigi, kunjungan gizi, kunjungan
b. Laporan manajemen
imunisasi, kegiatan KIA, kegiatan KB,
Laporan kunjungan pasien
pemeriksaan laboratorium. Kegiatannya
Laporan 10 penyakit terbanyak
meliputi:
Laporan penggunaan obat
Pengolahan data kondisi pasien
Laporan tindakan medis terbanyak
Pengolahan data anamnesis
Laporan metode pembayaran oleh
Pengolahan data diagnosis
pasien
Pengolahan data terapi

62
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Lapora informasi yang diberikan tidaklah dalam


n billing hitungan hari, melainkan bulan. Suatu sistem
Pemetaan yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
Pemetaan wilayah meliputi kunjungan baik pusat atau daerah, pengambil keputusan
pasien, penyakit terbanyak, penggunaan obat, dapat mengakses informasi secara cepat dan
riwayat KLB, dan lain sebagainya. Akan tetapi tepat sehingga kebijakan dapat efektif dan
mapping data kesehatan sangat jarang efisien.
dilakukan. Kemampuan Daerah
Sebagai dampak dari desentralisasi,
daerah masih menganggap kebutuhan sistem
PEMBAHASAN
informasi berbasis web atau komputerisasi
Dari beberapa sistem informasi
bukanlah prioritas, akan tetapi daerah masih
kesehatan yang telah dikembangkan dapat
memenuhi kebutuhan infrastruktur dan sarana
dianalisa beberapa hal sebagai berikut:
fisik. Tidak semua daerah surplus, akan tetapi
Integrated System
tidak sedikit daerah yang minus. Memang pada
Kementerian kesehatan telah
awalnya pelaksanaan sistem informasi
mengembangkan siknas online, akan tetapi
membutuhkan banyak biaya, akan tetapi dalam
disamping itu berbagai program seperti
perjalannya juga memerlukan perawatan dan
kewaspadaan gizi, informasi obat, rumah sakit,
pemeliharaan yang tidak sedikit. Kondisi
dan puskesmas juga mengembangkan sistem
geografis juga sangan mempengaruhi, masih
informasi sendiri. Hal ini berdampak tumpang
banyak puskesmas di daerah yang sangat
tindihnya informasi dan berbagai kegiatan serta
terbatas akses informasinya.
menyita waktu dan biaya. Sejatinya suatu sistem
Pemanfaatan data dan informasi
informasi yang terintegrasi yang memenuhi
Pemanfaatan data dan informasi
kebutuhan berbagai lintas sektor dan lintas
terkesan hanya kebutuhan pusat, bukanlah
program yang dapat diakses sebagai informasi
kebutuhan daerah, sehingga munculah
yang dapat menjadi pertimbangan dalam
anggapan hanya proyek dan ego program
pengambilan berbagai keputusan dan kebijakan.
masing-masing. Hal ini karena pemanfaatan
Seperti aplikasi komunikasi data, dapat
data dan informasi secara signifikan tidak
dilihat bahwa data dan informasi kesehatan
dirasakan oleh kabupaten/ kota sebagai
yang disediakan tidak memenuhi dengan
pelaksana kebijakan pemerintah pusat.
kebutuhan baik provinsi atau kabupaten/kota,
Sumber Daya Manusia
sehingga kabupaten/ kota pun berupaya
Selama ini di daerah, pengelola data
mengembangkan sistem informasi sendiri.
dan informasi umumnya adalah tenaga yang
SP2TP pun yang sejatinya dapat
merangkap tugas atau jabatan lain. Di beberapa
digantikan dengan SIMPUS online ternyata di
tempat memang dijumpai adanya tenaga purna
lapangan puskesmas pun masih menyampaikan
waktu.
laporannya secara manual setiap bulannya. Hal
ini mengakibatkan beban kerja bagi petugas dan

63
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PENUTUP Congress Of The United States Congressional


Kesimpulan Budget Office. (2005). The Costs and
1. Data dan informasi merupakan kunci pokok Benefits of Health Information Technology
dalam pengambilan keputusan dan A PAPER CBO. JupiterImages
kebijakan yang efektif dan efisien. Corp.Evidence. USA
2. Kebijakan pemerintah dalam http://depkes.go.id
pengembangan sistem informasi telah ada, Inggarputri, Y. R. (2009). Evaluasi Penerapan
akan tetapi dalam pelaksanaannya masih Sistem Informasi Manajemen Puskesmas
banyak kendala-kendala dan hambatan (SIMPUS) Berbasis Komputer dengan
yang dihadapi; Metode PIECES di Puskesmas Wilayah
3. Pengembangan sistem informasi baik di Kabupaten Blora. Undergraduate Thesis,
pusat atau daerah belum dapat Diponegoro University.
dimanfaatkan sepenuhnya karena Jogiyanto HM, Analisi dan Desain Sistem
keterbatasan sistem yang dikembangkan, Informasi : Pendekatan Terstruktur Teori
kemampuan daerah, dan sumber daya dan Praktek Aplikasi Bisnis (edisi ketiga,
manusia; jogjakarta, Andi offset, 2005
Saran Kemenkes RI. (2002). Keputusan Menteri
1. Perlunya dilakukan kajian mengenai Kesehatan RI Nomor 511 tahun 2002
kendala-kendala yang dihadapi dalam tentang Kebijakan dan Strategi
pelaksanaan sistem informasi kesehatan; Pengembangan Sistem Informasi
2. Kebutuhan data dan informasi merupakan Kesehatan Nasional (SIKNAS)
kebutuhan daerah, maka sebaiknya sistem http://depkes.go.id
informasi yang dikembangkan disesuaikan Kemenkes RI. (2002). Rencana Strategis
dengan kebutuhan dan karakteristik daerah. Kementerian Kesehatan RI Tahun 2009-2014
Kemenkes RI. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 128 tahun 2004
DAFTAS PUSTAKA tentang Kebijakan Dasar Pusat kesehatan
Al-Gasseer et al. (2003). Achievements and Masyarakat. http://depkes.go.id
challenges of formulating a strategic plan Kemenkes RI. (2009). Keputusan Menteri
for nursing development at the national Kesehatan RI Nomor 837 tahun 2007
level in Bahrain. International Council of tentang Pengembangan Jaringan
Nurses. Komputer Online Sistem Informasi
Bahan kuliah Kapita Selekta (2006) D3 Rekam Kesehatan Nasional. http://depkes.go.id
Medis dan Informasi Kesehatan Kemenkes RI. (2009). Undang-Undang Nomor
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
Canadian Public Health Association. (2010). http://depkes.go.id
Public Health Community Health Nursing Ladjamudin, B., Al-Bahra B. (2004). Konsep
Practice in Canada Roles and Activities. Sistem Basis Data dan
Carling Avenue, Ottawa. Implementasinya, Graha Ilmu,

64
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Yogyakarta Informasi Puskesmas di Kabupaten


Nugroho. (2009). Membuat website sendiri Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan,
dengan PHP-MySQL, Mediakita, Jakarta Sulawesi Selatan
Selatan System, H. a. D. I. (2005). Health Management
Primita. (2011). Sistem Informasi Pasien Rawat Information Systems. DFID Health
Jalan Maospati berbasis Web, Maospati Resource Centre.
Purbo, O.W. (2007). Panduan Lengkap Desain Wulandari, R. (2009). Evaluasi Kinerja Sistem
Web Macromedia Dreamweaver 8, Informasi Manajemen Puskesmas
Gava Media, Yogyakarta Berbasis Komputer di Wilayah Kerja
Purwanto, E.B. (2008). Perancangan dan Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Analisis Algoritma, Graha Ilmu, Undergraduate thesis, Diponegoro
Yogyakarta University.
Sudarianto. (2010). Evaluasi Penerapan Sistem

65
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (Simpuskesmas)


Berbasis Komputer

Martini Andriani (1)

1Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Puskesmas-Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Selatan, bahwa Puskesmas-Puskesmas ini
tiap harinya melayani puluhan pasien yang datang. Saat ini sistem pengolahan data pasien tiap
bagian masih dikerjakan dengan cara sistem manual atau belum memanfaatkan sistem informasi
Puskesmas. Dengan masih digunakannya sistem manual dan beberapa puskesmas sudah
menggunakan Simpuskesmas, maka muncul berbagai permasalahan dalam pengolahan data
pasiennya. Masalah-masalah ini diantaranya adalah tingginya tingkat kesalahan dalam pengolahan
data pasien (data pendaftaran, data pemeriksaan, data rujukan, dan data laboratorium) dan
lambatnya proses pelayanan pasien misalnya pendataan dan pencarian data pasien. Masalah lain
lagi yaitu puskesmas-puskesmas yang sudah menggunakan Simpuskesmas tdak mempunyai
kseragaman system, karena tiap Puskesmas melakukan swadaya sendiri-sendiri untuk pengadaan
SIMPUS.
Penggunaan Simpuskesmas dengan teknologi komputer untuk pengolahan data pasien
sangat diperlukan, karena dapat memberikan beberapa keuntungan dan kemudahan dalam
pelayanan pasien antara lain: mempercepat pelayanan, informasi yang lebih akurat, pencarian data
lebih cepat, pembuatan laporan yang lebih cepat serta keseragaman Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Dengan adanya program Simpuskesmas
berbasis komputer kinerja Puskesmas dapat ditingkatkan, sehingga kualitas dan mutu pelayanan
menjadi meningkat.

Kata Kunci : Keseragaman Sistem, Simpuskesmas, Teknologi Komputer

PENDAHULUAN Ibu dan Anak (KIA) yang khusus menangani


Demak merupakan kabupaten yang bayi dan ibu hamil, bagian Gigi yang khusus
mempunyai banyak puskesmas. Pada menangani kesehatan gigi dan mulut, dan masih
puskesmas yang ada di Kabupaten Tapanuli banyak lagi bagian lainnnya. Berdasarkan
Selatan terdapat beberapa bagian, antara lain identifikasi analisis situasi yang dilakukan di
bagian Balai Pengobatan (BP) yang khusus Puskesmas-Puskesmas di Kabupaten Tapanuli
menangani orang sakit biasa, bagian Kesehatan Selatan, bahwa Puskesmas-Puskesmas ini tiap
66
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

harinya melayani puluhan pasien yang datang. tenaga medis dan perawat dalam mencapai
Saat ini sistem pengolahan data pasien tiap tujuan pelayanan kesehatan.
bagian masih dikerjakan dengan cara sistem b. Aspek Medis. Catatan tersebut
manual atau belum memanfaatkan sistem dipergunakan sebagai dasar untuk
informasi Puskesmas. Dengan masih merencanakan pengobatan/perawatan yang
digunakannya sistem manual, maka muncul harus diberikan kepada pasien.
berbagai permasalahandalam pengolahan data c. Aspek Hukum. Menyangkut masalah
pasiennya. Masalah-masalah ini diantaranya adanya jaminan kepastian hukum atas
adalah tingginya tingkat kesalahan dalam dasar keadilan, dalam rangka usaha
pengolahan data pasien (data pendaftaran, data menegakkan hukum serta penyediaan
pemeriksaan, data rujukan, dan data bahan tanda bukti untuk menegakkan
laboratorium) dan lambatnya proses pelayanan keadilan.
pasien misalnya pendataan dan pencarian data d. Aspek Keuangan. Isi Rekam Medis dapat
pasien. dijadikan sebagai bahan untuk menetapkan
Penggunaan komputer untuk biaya pembayaran pelayanan. Tanpa
pengolahan data pasien sangat diperlukan, adanya bukti catatan tindakan atau
karena dapat memberikan beberapa pelayanan, maka pembayaran tidak dapat
keuntungan dan kemudahan dalam pelayanan dipertanggungjawabkan.
pasien antara lain: mempercepat pelayanan, e. Aspek Pendidikan. Berkas Rekam Medis
informasi yang lebih akurat, dan pencarian data mempunyai nilai pendidikan, karena isinya
lebih cepat. Dengan adanya program berbasis menyangkut data/informasi tentang
komputer kinerja Puskesmas dapat kronologis dari pelayanan medik yang
ditingkatkan, sehingga kualitas dan mutu diberikan pada pasien.
pelayanan menjadi meningkat. f. Aspek Dokumentasi. Isi Rekam medis
Tuntutan pelayanana masyarakat dalam menjadi sumber ingatan yang harus
hal kesehatan saat ini begitu besar, dan penting didokumentasikan dan dipakai sebagai
untuk diperhatikan, apalagi menyangkut bahan pertanggungjawaban dan laporan
masalah kesehatan dan nyawa seseorang. sarana kesehatan.
Terutama pelayanan tentang kecepatan Sistem yang sedang berjalan di
penanganan yang berhubungan dengan puskesmas khususnya puskesmas dan sudah
tindakan kesehatan atau rekam medis. menggunakan Simpuskesmas, tapi dari
Peningkatan layanan diharapkan akan Simpuskesmas yang sudah digunakan ternyata
memberikan kepastian pelayanan pada setiap puskesmas mempunyai program yang
beberapa hal sebagai berikut : berbeda-beda. Sistem yang berbeda ternyata
a. Aspek Administrasi. Suatu berkas rekam mempersulit pihak DKK dalam permintaan
medis mempunyai nilai administrasi, karena laporan-laporan yang diinginkan. Dengan
isinya menyangkut tindakan berdasarkan adanya kendala-kendala tersebut maka
wewenang dan tanggung jawab sebagai dibuatlah penelitian lanjutan dari Simpuskesmas

67
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

yang sudah tersedia dengan aplikasi ANALISA DAN PERANCANGAN


Simpuskesmas yang bisa di akses lewat web Pada Sistem Informasi Manajemen
atau Simpuskesmas yang berbasis komputer. (Simpuskesmas) berbasis komputer yang
pertama kali dilakukan adalah Puskesmas yang
Simpuskesmas akan menggunakan Simpuskesmas harus
Simpus dulu dikenal dengan SP2TP merupakan masuk ke web Simpuskesmas, kemudian masuk
tool atau instrumen pencatatan dan pelaporan ke Simpuskesmas tersebut dengan menginput
yang ada di puskesmas. Sistem Informasi password Puskesmas masing-masing. Setelah
Manajemen Puskesmas (SIMPUS) adalah suatu masuk dapat masuk ke sistem, setiap
tatanan manusia dan/atau peralatan yang Puskesmas dapat melakukan kegiatan
menyediakan informasi untuk membantu proses administratif yang dilakukan puskesmas setiap
manajemen Puskesmas mencapai sasaran hari. Dari sistem Simpuskesmas dapat memilih
kegiatannya. bebrapa menu yang sudah disediakan. Apabila
memilih Master data, user dapat menginput data
Tujuan SIMPUS dokter, obat, penyakit dan petugas. Jika memilih
1. Tujuan Umum: meningkatkan kualitas Pendaftaran, petugas dapat memasukkan
manajemen puskesmas secara lebih semua data pendaftaran. Jika memilih Rekam
berhasil guna dan berdaya guna, melalui medis, maka dapat melakukan input data rekam
pemanfaatan secara optimal data sistem medis. Jika memilih rujukan user dapat
pencatatan dan pelaporan terpadu mengimput semua data tentang rujukan, dan
puskesmas (SP2TP) maupun informasi apabila memilih laboratorium, maka user dapat
lainnya yang menunjang kegiatan memasukkan data tentang laboratorium. Dalam
pelayanan. Simpuskesmas juga disediakan menu untuk
2. Tujuan Khusus: membuat laporan. Laporan yang dapat
a. Sebagai pedoman penyusunan ditampilkan adalah Laporan Pasien, Laporan
perencanaan tingkat puskesmas (PTP) Pemakaian Obat, Laporan Rujukan dan Laporan
dan pelaksanaan kegiatan pokok Rekam Medis.
puskesmas melalui mini lokakarya
(minlok). Data Flow Diagram Simpuskesmas
b. Sebagai dasar pemantauan dan
evaluasi pelaksanaan pelayanan Gambaran dari Sistem Informasi
puskesmas. Manajemen Puskesmas (Simpuskesmas)
c. Untuk mengatasi berbagai hambatan Berbasis komputer dapat dilihat digambar 1.
pelaksanaan program pokok
puskesmas.

68
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Puskesmas yang dalam hal ini sebagai user


wajib memasukkan username dan password.
Setelah masuk ke Sistem Puskesmas dapat
memilih menu yang ada di web SIMPUS.
Apabila memilih Master, maka user akan
memasukkan data Dokter, Obat, Penyakit.
Setelah Master diisi user dapat kembali ke
menu, dengan memilih menu yang lain. Apabila
memilih Pendaftaran, maka user akan
memasukkan data pendaftaran dan data pasien
dan kembali ke menu. Apabila pilih menu
Rekam Medis, user akan memasukkan data
Gambar 1. Diagram Konteks Simpuskesmas rekam medis dan mengisi detail dari rekam
medis dan kembali ke menu lagi. Selanjutnya
Entity Relationship Diagram Simpuskesmas apabila pilih menu Rujukan, maka user akan
Entity Relationship Diagram dari Sistem memasukkan data rujukan dan detail data
Informasi Manajemen Puskesmas rujukan dan kembali ke menu. Dan apabila
(Simpuskesmas) Berbasis Cloud Computing memilih menu Laboratorium maka user akan
seperti pada gambar 2 memasukkan data Laboratorium, detail
Laboratorium dan hasil laboratorium. Disamping
itu user juga disediakan fasilitas untuk
mengubah password. Gambaran dari Flowcahrt
Sistem Informasi Manajemen Puskesmas
(SIMPUSKESMAS) Berbasis komputer dapat
dilihat seperti pada gambar 3. Sedangkan
gambaran dari Sistem Informasi Manajemen
Puskesmas (SIMPUSKESMAS) Berbasis Cloud
Computing dapat dilihat digambar 1.
Gambar 2. Entity Relationship Diagram
Simpuskesmas

Flowchart Sistem Simpuskesmas


Flowchart pada Sistem Informasi
Manajemen Puskesmas (SIMPUSKESMAS)
Berbasis komputer adalah pertama kali yang
dilakukan masuk ke web SIMPUSKESMAS
yang alamatnya sudah di upload di internet.
Setelah masuk ke web SIMPUSKESMAS,

69
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Tabel 1. Tabel Pendaftaran

Perancangan Database dari Sistem


Informasi Manajemen untuk tabel yang lain:
Rekam Medis, Laboratorium, Hasil
Laboratorium, Detail Rekam Medis, Rujukan dan
Detail Rujukan. Salah satu contoh untuk tabel
transaksi adalah sebagai berikut:

Rekam Medis
File Medis mempunyai Primary Key :
no_rek_med dan File Medis mempunyai Foreign
Key : no_pasien
Tabel 2. Tabel Rekam Medis
Gambar 3. Flowchart Simpuskesmas

Perancangan File Database


Perancangan Database dari Sistem
Informasi Manajemen (Simpuskesmas) Berbasis
komputer adalah terdiri dari tabel Pasien,
Dokter, Penyakit, Obat, Petugas dan
Pendaftaran dengan salah satu contoh dari tabel
sebagai berikut :
Pendaftaran
File Pendaftaran mempunyai Primary
Key : no_pendaftaran dan File Pendaftaran
mempunyai Foreign Key : no_Pasien

70
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

IMPLEMENTASI sehari-hari.
3. Dari SIMPUS ini diharapkan akan
mempermudah pihak Puskesmas untuk
kegiatan administratif, dan bagi pihak DKK
akan lebih mudah mendapatkan semua
laporan dari setiap puskesmas di Kabupaten
Tapanuli Selatan tanpa harus menunggu
laporan dari pihak puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Gasseer et al. (2003). Achievements and
challenges of formulating a strategic
plan for nursing development at the
national level in Bahrain. International
Council of Nurses.
Gambar 4. Input Data Pendaftaran Canadian Public Health Association. (2010).
Public Health Community Health Nursing
KESIMPULAN Practice in Canada Roles and Activities.
1. Dari penelitian ini dapat diambil beberapa Carling Avenue, Ottawa.
kesimpulan, yaitu: Sistem Informasi Congress Of The United States Congressional
Manajemen (Simpuskesmas) Berbasis Budget Office. (2005). The Costs and
komputer merupakan Simpuskesmas yang Benefits of Health Information Technology
dulu dalam penerapannya menggunakan A PAPER CBO. JupiterImages
client server dirubah ke Simpuskesmas Corp.Evidence. USA
yang di upload di web sehingga puskesmas- Gondodiputro, Sharon, 2007. Rekam Medis dan
puskesmas di Kabupaten Demak dapat Sistem Informasi Kesehatan di
mengakses SIMPUS tersebut melalui Pelayanan Kesehatan
internet. Primer(PUSKESMAS).Bandung :Bagian
2. Setiap Puskesmas di Kabupaten Tapanuli Ilmu Kesehatan Masyarakat Falkutas
Selatan apabila ingin menggunakan Kedokteran Universitas Padjajaran.
SIMPUS wajib memasukkan username dan Hartono, Jogiyanto, 2001,Analisis Dan Disain
password masing-masing. Dalam Sistem Informasi: Pendekatan
Simpuskesmas yang berbasis komputer ini, Terstruktur Teori Dan Praktek Aplikasi
setiap puskesmas mempunyai Username Bisnis.ANDI,Yogyakarta
dan password sendiri-sendiri. Setelah http://depkes.go.id
masuk ke Simpuskesmas, setiap I Gusti Bagus Yoga Satria, 2011, Rancang
puskesmas dapat melakukan kegiatan Bangun Sistem Informasi Pelayanan
administratif dan pelayanan ke pasien

71
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Kesehatan Dan Pengelolaan Obat Graha Ilmu, Yogyakarta


Puskesmas, STIKOM, Surabaya. Marlinda, Linda, S.Kom, 2004, Sistem Basis
Inggarputri, Y. R. (2009). Evaluasi Penerapan Data, ANDI OFFSET, Yogyakarta.
Sistem Informasi Manajemen Puskesmas Perdana,
(SIMPUS) Berbasis Komputer dengan Nugroho. (2009). Membuat website sendiri
Metode PIECES di Puskesmas Wilayah dengan PHP-MySQL, Mediakita, Jakarta
Kabupaten Blora. Undergraduate Thesis, Selatan
Diponegoro University. Primita. (2011). Sistem Informasi Pasien Rawat
Kemenkes RI. (2002). Keputusan Menteri Jalan Maospati berbasis Web, Maospati
Kesehatan RI Nomor 511 tahun 2002 Purbo, O.W. (2007). Panduan Lengkap Desain
tentang Kebijakan dan Strategi Web Macromedia Dreamweaver 8, Gava
Pengembangan Sistem Informasi Media, Yogyakarta
Kesehatan Nasional (SIKNAS) Purwanto, E.B. (2008). Perancangan dan
http://depkes.go.id Analisis Algoritma, Graha Ilmu,
Kemenkes RI. (2002). Rencana Strategis Yogyakarta
Kementerian Kesehatan RI Tahun 2009-2014 Sjamsuhidajat, dkk, 2006,Manual Rekam
Kemenkes RI. (2004). Keputusan Menteri Medis.Yogyakarta: Konsil Kedokteran
Kesehatan RI Nomor 128 tahun 2004 Indonesia Romeo, 2003, Testing Dan
tentang Kebijakan Dasar Pusat kesehatan Implementasi Sistem, Edisi Pertama,
Masyarakat. http://depkes.go.id STIKOM, Surabaya
Kemenkes RI. (2009). Keputusan Menteri Sudarianto. (2010). Evaluasi Penerapan Sistem
Kesehatan RI Nomor 837 tahun 2007 Informasi Puskesmas di Kabupaten
tentang Pengembangan Jaringan Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan,
Komputer Online Sistem Informasi Sulawesi Selatan
Kesehatan Nasional. http://depkes.go.id System, H. a. D. I. (2005). Health Management
Kemenkes RI. (2009). Undang-Undang Nomor Information Systems. DFID Health
36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Resource Centre.
http://depkes.go.id Wulandari, R. (2009). Evaluasi Kinerja Sistem
Kendall, dan Kendall, 2003, Analisis dan Informasi Manajemen Puskesmas
Perancangan Sistem Jilid 1, Berbasis Komputer di Wilayah Kerja
Prenhallindo, Jakarta. Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Ladjamudin, B., Al-Bahra B. (2004). Konsep Undergraduate thesis, Dipo
Sistem Basis Data dan Implementasinya,
negoro University.

72
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

PENGARUH PERAN SUAMI DALAM KANGAROO MOTHER CARE


(KMC) TERHADAP PERUBAHAN BERAT BADAN BAYI
DI KABUPATEN CIAMIS

Susi Febriani Yusuf (1)

1Ilmu Kesehatan Masyarakat, STIKes Darmais Padangsidimpuan

Intisari
Kangaroo Mother Care (KMC) sangat perlu dilakukan pada bayi yang prematur atau berat bayi
lahir rendah ( BBLR) yaitu dengan melakukan kontak langsung antara kulit ibu dengan kulit bayi. Metode
ini sangat mendukung untuk kesehatan dan keselamatan bayi yang baru lahir sehingga suhu bayi bisa
dipertahankan, karena salah satu penyebab kematian BBLR atau prematur adalah pengaturan suhu.
Salah satunya manfaat KMC adalah meningkatkan hubungan antara bayi dengan ibu. KMC dapat
dilakukan oleh siapa saja oleh anggota keluarga karena tidak memerlukan peralatan yang sulit.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh keikutsertaan suami, dukungan suami
dan faktor lain dalam Kangaroo Mother Care (KMC) terhadap perubahan berat badan bayi lahir rendah.
Metode Penelitian dengan menggunakan Rancangan Penelitian adalah kuasi eksperimen
dengan non randomized pretest-posttest control group design. Jumlah sampel yang digunakan adalah 80
responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariabel, analisis bivariabel menggunakan
Chi-square, t-test dengan tingkat kemaknaan p<0,05 dan analisis multivariabel menggunakan regresi
linier.
Hasil Penelitianl analisis menunjukkan bahwa keikutsertaan suami dalam KMC lebih besar
perubahan berat badan bayinya dibandingkan dengan yang tidakmengikutsertakan suami dengan
p_value 0,001, dukungan suami tidak mempunyai hubungan yang bermakna p_value o,240, pendidikan
ibu mempunyai hubungan yang bermakna p_value 0,028, pekerjaan ibu tidak mempunyai hubungan yang
bermakna p_value 0,655, dukungan personil kesehatan mempunyai hubungan yang bermakna p_value
0,007 dan dukungan sosial mempunyai hubungan yang bermakna p_value 0,010. .Kesimpulan:
Keikutsertaan suami dalam KMC, pendidikan ibu, dukungan personil kesehatan dan dukungan sosial
mempunyai hubungan yang bermakna terhadap perubahan berat badan bayi lahir rendah, sedangkan
dukungan suami dan pekerjaan ibu tidak mempunyai hubungan yang bermakna terhadap perubahan
berat badan bayi lahir rendah.

Kata Kunci : Kangaroo Mother Care (KMC), Berat Badan Bayi Lahir Rendah, Kuasi Eksperimen, Non
Randomized Pretest-Posttest Control Group Design, Analisis Univariabel, Analisis

73
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Bivariabel.

PENDAHULUAN merupakan salah satu faktor resiko yang


Pertumbuhan penduduk utamanya mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi
terjadi karena dua hal yaitu adanya kelahiran khususnya pada masa perinatal. Selain itu
dan kematian. Angka kelahiran di Indonesia BBLR dapat mengalami gangguan mental dan
telah mengalami penurunan secara nyata. Pada fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya
awal tahun delapan puluhan angka Total Fertility sehingga membutuhkan biaya perawatan yang
Rate (TFR) berkisar 5,6 per wanita, berdasarkan tinggi. Angka BBLR di Indonesia nampak
hasil survei Demografi Kesehatan Indonesia bervariasi. Dari beberapa studi kejadian BBLR
(SDKI) 2007 TFR berkisar 2,6 per wanita usia pada tahun 1984 sebesar 14,6% di daerah
subur. Angka kematian ibu juga telah pedesaan dan 17,5% di Rumah Sakit, hasil studi
mengalami penurunan, pada tahun 1986 adalah di 7 daerah diperoleh angka BBLR dengan
450 per 100.000 kelahiran hidup dan rentang 2,1% sampai 17,2 %, secara nasional
berdasarkan SDKI 2007 228 per 100.000 berdasarkan analisa lanjut SDKI 1991 angka
kelahiran hidup (BPS dkk, 2008). BBLR sekitar 7,5 % (Setyowati, 2004).
Laporan WHO tahun 2005 angka Perkumpulan Perinatologi Indonesia
kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah 20 (Perinasia) dalam seminar orientasi metode
per 1000 kelahiran hidup. Jika angka kelahiran kanguru yang diselenggarakan pada Forum
hidup di Indonesia sekitar 5 juta per tahun dan Promosi Kesehatan Indonesia, bayi prematur
angka kematian bayi 20 per 1000 kelahiran maupun BBLR terutama dibawah 2000 gr
hidup, berarti sama halnya dengan setiap hari terancam kematian yang diakibatkan hipotermi
246 bayi meninggal, setiap satu jam 10 bayi (suhu badan dibawah 36,5C), di
Indonesia meninggal, jadi setiap enam menit samping asfiksia (kesulitan bernafas) dan
satu bayi Indonesia meninggal. Menurut infeksi. Diperkirakan kejadian prematur dan
DEPKES RI angka kematian sepsis neonatorum BBLR di Indonesia memang makin menurun
cukup tinggi 13-50% dari angka kematian bayi tetapi masih cukup tinggi yaitu 52% per 100
baru lahir. Masalah yang sering timbul sebagai kelahiran hidup. Berdasarkan perkiraan
komplikasi sepsis neonatorum adalah organisasi kesehatan dunia World Health
meningitis, kejang, hipotermi, hiperbilirubinemia, Organization (WHO) pada tahun 2007, di negara
gangguan nafas, dan minum (Depkes, 2007). berkembang hampir 70% dari 5 juta kematian
Sekitar 57% kematian bayi tersebut terjadi pada neonatal dan 17 dari 25 juta persalinan per
bayi umur dibawah 1 bulan dan utamanya tahun melahirkan bayi dengan BBLR (kurang
disebabkan oleh gangguan perinatal dan bayi dari 2500 gr) (Imral, 2007).
berat lahir rendah (BBLR). Menurut perkiraan, BBLR dapat disebabkan oleh kelahiran
setiap tahunnya sekitar 400.000 bayi lahir prematur dan pertumbuhan janin yang
dengan berat rendah (Depkes RI, 2004). Bayi terhambat. Keduanya harus dicegah karena
lahir dengan berat badan lahir rendah menimbulkan dampak yang negatif, tidak hanya

74
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

meningkatkan morbiditas tetapi juga mortalitas sangat dianjurkan. Departemen Kesehatan dan
bayi (Jefferson, 2004). Bayi prematur adalah Sosial telah mengembangkan kebijakan
bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan pelayanan neonatal esensial dan metode
dibawah 37 minggu. Berdasarkan kurva kanguru sebagai salah satu cara dalam
pertumbuhan intrauterine, maka kebanyakan penerapan kebijakan tersebut yang bertujuan
bayi prematur akan dilahirkan dengan berat untuk pencegahan bayi hipotermi (suhu badan
badan yang rendah. Bayi premature maupun rendah).
bayi cukup bulan yang lahir dengan berat badan Faktor dukungan sosial ini sangat
rendah, terutama di bawah 2000 gram, menentukan metode KMC, tetapi pengaruhnya
terancam kematian akibat hipotermi yaitu tidak sama di sejumlah daerah, kota, desa,
penurunan suhu badan di bawah 36,50c bahkan keluarga. Faktor peran ayah memang
disamping asfiksia dan infeksi. sangat menentukan, tetapi kepatuhan dalam
Metode Kangguru (Kangaroo Mother metode KMC juga dipengaruhi oleh pandangan
Care/ KMC) atau perawatan bayi lekat orangtua, rekan, dan masyarakat secara umum.
ditemukan sejak tahun 1983, sangat bermanfaat Jika mereka mendukung metode KMC, metode
untuk merawat bayi yang lahir dengan berat KMC dengan cara ideal ini lebih bisa dilakukan,
badan rendah baik selama perawatan di rumah begitu pula sebaliknya. Dukungan sosial ini tidak
sakit ataupun di rumah, metode KMC mampu dapat dilepaskan dari pengaruh peran ayah,
memenuhi kebutuhan asasi bayi berat lahir pendidikan ibu dan pekerjaan ibu, serta
rendah dengan menyediakan situasi dan kondisi dukungan personil kesehatan (BPS & ORC
yang mirip dengan rahim ibu, sehinggga Marco, 2008).
memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik Dari hasil survei pendahuluan di
dengan dunia luar (Suriviana, 2005). Kabupaten Ciamis diperoleh angka kelahiran
Metode KMC adalah metode perawatan bayi prematur dan BBLR pada tahun 2009
dini dengan sentuhan kulit ke kulit antara ibu sebanyak 411 bayi (Dinkes Kabupaten Ciamis,
dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru. 2009) dan pada tahun 2010 (antara bulan Juni
Perawatan KMC telah terbukti dapat sampai Oktober) sebanyak 200 bayi (Rekmed
menghasilkan pengaturan suhu tubuh yang RSUD Ciamis, 2010). Fakta ini sangat menarik
efektif dan lama serta denyut jantung dan dan mendorong penulis untuk menelitinya di
pernafasan yang stabil pada bayi prematur. lapangan. Penelitian ini diharapkan dapat
Negara-negara maju seperti di Amerika Serikat memberi gambaran keterlibatan Suami dalam
dan Kanada sangat mendukung keefektifan dan mendukung Kangaroo Mother Care di
keamanan dari perawatan kulit per kulit (seperti Kabupaten Ciamis.
kangguru) untuk bayi prematur karena bayi
dapat merasakan kenikmatan kebahagiaan dan Perumusan Masalah
perasaan yang sangat luar biasa. Mengingat Di Indonesia, perawatan bayi prematur
terbatasnya fasilitas pelayanan kesehatan dan BBLR masih memprioritaskan pada
terutama di pedesaan, maka metode KMC penggunaan inkubator tetapi keberadaannya

75
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan berbaring/tidur. Bayi mengenakan penutup
morbiditas dan mortalitas BBLR menjadi sangat kepala, baju ibu berfungsi sebagai penutup
tinggi, bukan hanya akibat kondisi badan bayi. Keikut sertaan suami dalam
prematuritasnya, tetapi juga diperberat oleh melakukan KMC disarankan untuk ikut berperan
hipotermia dan infeksi nosokomial. Di sisi lain, (WHO, 2003).
penggunaan inkubator memiliki banyak Green dan Kreuter (2000) berpendapat
keterbatasan. Selain jumlahnya yang terbatas, bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh
inkubator membutuhkan biaya perawatan yang berbagai faktor antara lain: 1) faktor
tinggi, serta memerlukan tenaga terampil yang predisposing, yaitu yang menjadi dasar atau
mampu mengoperasikannya. Selain itu, dengan motivasi bagi perilaku. Faktor ini terdiri dari
menggunakan inkubator, bayi dipisahkan dari pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai dan
ibunya, hal ini akan menghalangi kontak kulit persepsi yang dapat menghambat atau
langsung antara ibu dan bayi yang sangat mempermudah motivasi dalam perubahan
diperlukan bagi tumbuh kembang bayi. perilaku; 2) faktor enabling, yaitu adanya
Metode KMC adalah sebuah metode sumber daya dan keahlian yang dapat
perawatan bayi baru lahir dengan cara membantu perubahan perilaku; dan 3) faktor
meletakkan bayi didada ibu (skin to skin) untuk reinforcing, yaitu sikap dan perilaku petugas
menyalurkan kehangatan pada si bayi. kesehatan.
Tujuannya kontak kulit ke kulit antara ibu dan Faktor-faktor yang mempengaruhi
bayi dapat menurunkan hilangnya panas melalui peran suami dalam keluarga secara garis besar
konduksi dan radiasi serta bertujuan untuk dibagi menjadi empat faktor utama yaitu faktor
mempertahankan neutral thermal sosial-ekonomi, faktor sosial-budaya, faktor
environment/NTE, yaitu kisaran suhu lingkungan psiko sosial dan faktor alokasi waktu ayah.
sehingga bayi dapat mempertahankan suhu Keempat faktor tersebut akan mempengaruhi di
tubuhnya tetap normal dengan metabolisme dalam menjalankan kedelapan fungsi keluarga
basal minimum dan kebutuhan oksigen terkecil. yaitu fungsi agama, fungsi budaya, fungsi kasih
Metoda ini dapat juga dilakukan untuk bayi sayang, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi,
sehat, sehingga dengan kontak langsung kulit fungsi sosialisasi dan pendidikan, serta fungsi
ibu dan bayi ini kebutuhan dasar dari bayi ekonomi dan lingkungan. Hal ini perlu upaya
berupa kehangatan, ASI, kasih sayang dan agar usaha untuk meningkatkan peran ayah,
perlindungan bisa dipenuhi. tidak menimbulkan kegoncangan dalam pranata
Dalam metode ini, kontak kulit antara sosial (keluarga). Diperlukan adanya terobosan-
ibu dan bayi yang berlangsung sejak dini secara terobosan jangka pendek untuk meningkatkan
terus menerus dan berkesinambungan kalau kesejahteraan keluarga, seperti dengan
mungkin selama 24 jam. Bayi diletakkan mengadakan penyuluhan atau latihan-latihan
diantara kedua payudara ibu dengan posisi singkat bagi para ayah agar lebih baik
tegak/vertikal saat ibu berdiri dan duduk atau menjalankan fungsinya dalam keluarga. Usaha
tengkurap/miring perawatan KMC saat ibu untuk membentuk kepribadian positif adalah

76
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

usaha yang integral sebagai upaya rendah serta terwujudnya rekomendasi


meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan pemerintah dalam menetapkan kebijakan
keluarga secara umum (BKKBN-IPB, 1994). program yang berkenaan dengan
Berdasarkan uraian diatas, maka kesehatan bayi khususnya tentang
dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai kangaroo mother care.
berikut : Apakah ada peran suami dalam b. Manfaat bagi Bidan
Kangaroo Mother Care (KMC) Terhadap Berat Sebagai upaya untuk meningkatkan
Badan Bayi ? pengetahuan dan keterampilan bidan
dalam melakukan deteksi dini perilaku ibu
Tujuan Penelitian melahirkan dalam perawatan bayi dengan
Tujuan Umum metode kangaroo mother care sehingga
Untuk mengetahui pengaruh peran mencegah kematian akibat komplikasi
suami dalam Kangaroo Mother Care (KMC) kelahiran premature dan berat bayi lahir
terhadap berat badan bayi. rendah.
Tujuan khusus c. Manfaat Bagi Peneliti
a. Mengetahui peran suami dalam Untuk menambah pengetahuan dan
Kangaroo Mother Care (KMC) terhadap pengalaman penelitian tentang penelitian,
perubahan berat badan bayi. prosedur dan teknik penelitian serta topik
b. Diketahuinya faktor-faktor lain yang yang diambil. Hasil penelitian ini akan
mempengaruhi perubahan berat badan menjadi pertimbangan bagi upaya
bayi. peningkatan pemanfaatan perawatan bayi .

Manfaat Penelitian
METODE PENELITIAN
1. Manfaat Teoritis
Jenis dan Rancangan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
Penelitian ini adalah penelitian
bermanfaat sebagai bahan masukan dalam
eksperimen semu (quasi eksperimental),
pengembangan ilmu pengetahuan bidang
dengan rancangan nonrandomized pretest-post
kesehatan yang berkaitan dengan upaya
test control group design (Murti, 2005).
peningkatan kesehatan bayi.
Rancangan ini dipilih dengan pertimbangan
2. Manfaat Praktis
penelitian murni dilapangan hampir tidak
a. Manfaat bagi program KIA/KB di
mungkin dan sulit untuk memenuhi kriteria
Puskesmas dan Dinas Kesehatan
alokasi perlakuan subjek secara random.
Untuk memberikan masukan dalam
Menurut Campbell & Stanley (1966) bahwa
pengambilan kebijakan operasional
sebagian besar penelitian yang tidak dilakukan
mendeteksi secara dini pertumbuhan dan
random untuk pengujian atas perbedaan
perkembangan bayi serta meningkatkan
perlakuan, dapat diwujudkan melalui desain
kemampuan bidan dalam mengkaji perilaku
penelitian quasi eksperimental, dengan model
ibu dalam perawatan bayi berat lahir
rancangan sebagai berikut:
77
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

tertentu yang telah ditetapkan berdasarkan


E O1 X O2 tujuan penelitian (Trochim, 2006), serta
C O1 O3 penentuan sampel diambil dengan
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2007).
Keterangan: Adapun kriteria inklusi penelitian ini adalah :
E: kelompok yang mendapat perlakuan a. Ibu melahirkan bayi Prematur atau
(ibu dan suami) BBLR di Kabupaten Ciamis.
C: kelompok pembanding (ibu saja) b. Bersedia jadi responden
O1: pengamatan pertama pengukuran c. Suami yang ikut berperan dalam KMC
berat badan pada saat lahir Kriteria eksklusi meliputi:
X: intervensi a. Bayi yang mengalami penyakit infeksi.
O2: pengamatan kedua setelah perlakuan b. Bayi dengan kelainan bawaan.
kmc ibu dan suami setelah 4 minggu
O3: pengamatan kedua tanpa intervensi Besar dan Cara Pengambilan Sampel
setelah bayi berusia 4 minggu Perkiraan jumlah sampel yang
diperlukan untuk masing-masing kelompok
Lokasi Penelitian ditentukan menurut rumus besaran sampel dari
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lemeshow et al. (1997) adalah sebagai berikut :
Ciamis provinsi Jawa Barat. Alasan memilih
lokasi ini adalah karena di kabupaten tersebut
masih banyak terdapat kasus BBLR serta para
tenaga medis di kabupaten tersebut sudah
melakukan KMC dan belum pernah dilakukan
Keterangan:
penelitian.
n : Besar sampel untuk setiap kelompok
: Standar deviasi
Populasi dan Sampel Penelitian
Z1- : Tingkat kemaknaan (signifikansi)
1. Populasi
Z1- : Kekuatan uji penelitian (power)
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang
1-2 : Perbedaan rata-rata yang diharapkan
melahirkan bayi prematur atau BBLR di
Kabupaten Ciamis.
Estimasi tingkat kepercayaan 95% (=
2. Sampel penelitian
0,05), power = 80%,diperoleh sampel minimal
Sampel pada penelitian ini ialah ibu yang
yang diperlukan untuk setiap kelompok adalah
melahirkan di Rumah Sakit di Kabupaten
35 orang. Untuk menghindari adanya sampel
Ciamis serta memenuhi kriteria yang
yang drop out maka jumlah sampel ditambah
ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian
10% maka besar sampel untuk setiap kelompok
yang ditetapkan . Sampel penelitian
adalah 40 orang.
ditentukan dengan purposive sampling, yaitu
hanya mengambil unit sampel sesuai kriteria Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

78
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara
Personi melakukan KMC. Personil kesehatan
1. Variabel Penelitian
l seperti; dokter umum atau

Variabel dalam penelitian ini adalah: kandungan,perawat, ataupun bidan.


kesehat Pengukuran dilakukan dengan
1. Variable bebas (independent variable) an kuesioner modifikasi (LPKGM,1996;
V(5)). Terdiri dari 10 pertanyaan
yaitu peran suami dalam KMC.
dengan rentang skor total 0-10.

2. variable terikat (dependent variable) Dikategorikan mendukung jika semua


jawaban no.1-10 adalah 1, tetapi jika
yaitu berat badan bayi. ada jawaban yang 0 berarti tidak
mendukung.
3. Variable luar adalah pendidikan ibu,
4. Dukung Dukungan yang diberikan oleh para Nominal

pekerjaan ibu, dukungan personil an anggota keluarga yang lain, teman,dan


sosial tetangga di lingkungan sosial ibu
kesehatan dan dukungan sosial. supaya melakukan KMC. Pengukuran
dilakukan dengan instrumen kuesioner
modifikasi (LPKGM, 1996; 6-7) dengan

2. Definisi Operasional 10 pertanyaan rentang skor


total 0-10. Dikategorikan mendukung
Tabel 1.Variabel penelitian dan definisi jika semua jawaban no.1-10 adalah 1,
tetapi jika ada jawaban yang 0 berarti

operasional tidak mendukung.

Variabel Definisi Operasional Skala

Variabel Keterlibatan suami selama proses Nominal Cara Intervensi dan Pengumpulan Data
Bebas Perawatan bayi dengan KMC. Diukur
Peran dengan 10 pertanyaan.
Intervensi dilakukan pada ibu dan suami
Suami Dengan rentang skor total 0-10.
dengan diberikan informasi mengenai cara
Dikatakan berperan jika dari semua
jawaban no. 1-10 adalah 1, dan perawatan metode kangguru dan seterusnya
dikatakan tidak berperan jika ada
jawaban yang 0.
akan dilakukan oleh ibu atau suami.Setiap ibu
Variabel Selisish berat badan pada minggu ke Kontinyu
atau suami yang melakukan KMC harus
Terikat empat kelahiran dan pada saat lahir
Berat Berat badan bayi diukur dalam keadaan mencatatnya di sebuah kalender khusus untuk
Badan Bayi tanpa pakaian dengan timbangan bayi
dalam satuan gram.
menilai kepatuhan dari intervensi tersebut.hal ini
Jenis data dan hasil pengukuran adalah
akan dinilai secara periodik oleh peneliti dan
skala rasio
Variabel Merupakan tingkat pendidikan ibu Ordinal sekaligus menilai pertumbuhan setiap
Luar terakhir.Tingkat pendidikan ibu tertinggi
1. Pendidi yang pernah dialami meliputi Sekolah
pekannya.
kan Dasar (SD),Sekaloah Lanjutan Tingkat
Pengumpulan data dilakukan dengan
Pertama (SLTP), Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA), dan Perguruan cara menyebarkan kuesioner pada semua
Tinggi (PT);dikategorikan tidak tamat
pendidikan dasar jika ibu tidak pernah
responden baik yang mendapat intervensi
atau tidak tamat SD,SLTP,atau
ataupun yang tidak mendapat intervensi.
sederajat dan dikategorikan pendidikan
dasar jika tamat SLTP atau sederajat Kuesioner diisi langsung oleh para responden
dan dikategorikan pendidikan
menengah jika ibu pernah tamat SLTA
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
atau sederajat dan dikatakan
pendidikan tinggi jika tamat perguruan
tinggi (SISDIKNAS,2003) Instrumen Penelitian
2. Pekerja Pekerjaan pokok atau tetap yang Nominal
an Ibu dilakukan oleh ibu untuk mendapatkan
Materi mengenai KMC diambil dari buku
penghasilan (BPS, 2003). Pekerjaan
Manfaat Perawatan Metode Kangguru dan
ibu dikatakan bekerja diberi kode angka
1 dan tidak bekerja diberi kode angka Penerapannya dalam Perawatan Bayi Berat
0.
3. Dukung Dukungan yang diberikan personil Nominal
Lahir Rendah dengan Metode Kangguru
an kesehatan setelah persalinan untuk

79
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

(Pratomo, 2010). Ibu dan suami diberikan berat badan sebelum dan sesudah
informasi tentang cara melakukan perawatan perlakuan, metode yang digunakan adalah
KMC. Metode yang digunakan ceramah, diskusi paired t-test
dan demostrasi. 3. Analisis Multivariabel
Instrumen yang digunakan dalam Analisis multivariabel dilakukan untuk
penelitian ini adalah berupa format kuesioner mengetahui hubungan antara variabel bebas,
yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang variabel terikat dan variabel luar.Variabel
berkaitan dengan penelitian, sehingga yang dianalisis adalah variabel bebas dan
didapatkan data yang berhubungan dengan variabel terikat secara bersama-sama
tujuan penelitian. dengan variabel luar. Analisis ini
menggunakan beberapa model dengan
Analisa Data menggunakan uji statistik regresi linier
Setelah data dikumpulkan lalu diberikan
kode yang bertujuan untuk memudahkan dalam Etika Penelitian
melakukan tabulasi data. Setelah pengkodean 1. Ethical Clereance
dilakukan editing data dengan tujuan untuk Penelitian ini dilaksanakan setelah
mengetahui kelengkapan data yang telah mendapatkan surat kelayakan etik penelitian
diberikan kode. Kemudian dilakukan tabulasi dari Komite Etik Penelitian Biomedis pada
data sesuai dengan variabel-variabel data manusia Fakultas Kedokteran Universitas
dengan tujuan untuk mengetahui kelengkapan Gadjah Mada.
data yang diberikan kode. Kemudian dilakukan 2. Informed Consent
tabulasi data sesuai dengan variabel-variabel Setiap responden yang ikut dalam penelitian ini
yang telah diteliti untuk mempermudah dalam diberi lembar persetujuan agar responden
melakukan analisa data. Data dalam penelitian dapat mengetahui maksud dan tujuan
ini dilakukan dalam 3 tahapan sebagai berikut: penelitian serta dampak yang diteliti selama
1. Analisis Univariabel proses penelitian ini berlangsung. Jika
Analisis Univariabel dilakukan untuk responden bersedia ikut dalam penelitian ini
menggambarkan karakteristik masing-masing maka harus menandatangani lembar
variabel penelitian melalui tabel distribusi persetujuan dan jika responden menolak untuk
frekuensi. Tabel distribusi frekuensi ini diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan
menggambarkan jumlah dan persentasi dari tetap menghormati haknya.
setiap variabel yang ada. 3. Confidentiality
2. Analisis Bivariabel Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh
Analisis bivariabel dilakukan untuk melihat responden dijamin oleh peneliti dan hanya
hubungan antara 2 variabel. Variabel yang kelompok data tertentu yang sesuai dengan
akan dilihat adalah variabel bebas, variabel kebutuhan penelitian yang akan diiaporkan
terikat dan variabel luar.Uji statistik yang oleh peneliti.
digunakan untuk mengetahui perbedaan 4. Benefit

80
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Dalam penelitian ini, peneliti berusaha c. Saat pelaksanaan penelitian, peneliti


memaksimalkan manfaat penelitian dan dibantu oleh tenaga kesehatan lainnya
meminimalkan kerugian yang timbul akibat yang berprofesi sebagai bidan. Peneliti
penelitian ini. dan tenaga bantu sebelumnya
5. Justice menyamakan persepsi terlebih
Semua responden yang ikut dalam penelitian dahulu.Peneliti menyampaikan pada
ini diperiakukan secara adil dan diberi hak tenaga bantu maksud dan tujuan
yang sama. penelitian ini serta cara melakukan
perawatan KMC dan cara memeriksa
Jalannya Penelitian berat badan bayi. Penelitian ini
Prosedur penelitian ini sebagai berikut: menggunakan 2 kelompok yaitu 1
1. Persiapan penelitian kelompok perlakuan yang melibatkan
a. Penelitian diawali dengan melakukan ibu beserta suami dan 1 kelompok
survey pendahuluan untuk kontrol dengan melibatkan ibu saja.
mendapatkan data yang diperlukan
dalam penelitian. Kelompok perlakuan.
b. Literatur review atau penelusuran yang 1) Melakukan identifikasi sesuai kriteria
digunakan dalam penyusunan proposal inklusi pemilihan sampel
penelitian. 2) Memberikan penjelasan, tujuan penelitian,
c. Konsultasi dengan pembimbing dalam prosedur penelitian pada ibu dan suami
penyempurnaan judul penelitian dan yang memenuhi kriteria inklusi, kemudian
pembuatan proposal. memberikan formulir informed consent
d. Melaksanakan seminar proposal untuk untuk jadi responden. Bagi responden
mendapatkan masukan lebih lanjut demi yang setuju langsung
terlaksananya penelitian ini. menandatanganinya.
e. Mendapatkan izin penelitian dari 3) Mencatat dan melengkapi data yang
program Studi S-2 IKM, Komisi Etik terdiri dari identitas bayi dan identitas ibu
Penelitian UGM. serta alamat lengkap. Bayi kemudian
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian. diperiksa untuk memastikan kondisi bayi
a. Pelaksanaan lapangan dengan sehat dan bisa dilakukan perawatan KMC.
menentukan dan membuat kerjasama 4) Bimbingan KMC dilakukan pada saat ibu
dengan tim fasilitator (Bidan) di berada di rumah sakit yaitu hari ke2
kabupaten Ciamis yang akan membantu setelah melahirkan. Tahap pertama yaitu
pelaksanaan KMC, Pengumpulan data menyampaikan informasi tentang
dan penilaian. perawatan KMC (pengertian, manfaat,
b. Mengidentifikasi subjek penelitian waktu yang tepat dan hal-hal yang perlu
sesuai dengan kriteria inklusi dan diperhatikan dalam KMC). Tahap kedua
ekslusi yang telah ditetapkan. dilakukan demonstrasi pada phantom

81
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

bayi. Tahap ketiga, ibu mempraktekkan diperiksa untuk memastikan kondisi bayi
kembali pada phantom dan dibimbing oleh sehat dan bisa dilakukan perawatan KMC.
peneliti atau asisten peneliti. Pada akhir 4) Bimbingan KMC dilakukan pada saat ibu
sesi diadakan tanya jawab tentang hal berada di Rumah sakit yaitu hari ke 2
yang belum dipahami ibu atau suami. setelah melahirkan. Tahap pertama yaitu
5) Peneliti atau asisten peneliti mengadakan menyampaikan informasi tentang
praktek langsung perawatan kangguru perawatan KMC (pengertian, manfaat,
pada bayi agar ibu atau suami dapat waktu yang tepat dan hal-hal yang perlu
melakukannya di rumah setelah diperhatikan dalam KMC). Tahap kedua
bimbingan ibu diberikan leaflet. dilakukan demonstrasi pada phantom.
6) Pada minggu pertama hari ke 7 atau Tahap ketiga, ibu mempraktekkan kembali
minggu ke 4 hari ke 7, peneliti atau pada phantom dan dibimbing oleh peneliti
asisten peneliti meminta ibu datang atau asisten peneliti. Pada akhir sesi
kembali ke rumah sakit untuk meriksakan diadakan tanya jawab tentang hal yang
pertumbuhan bayinya, tapi apabila ibu belum dipahami ibu.
tidak datang maka peneliti mengadakan 5) Peneliti atau asisten peneliti mengadakan
kunjungan rumah.Penimbangan berat praktek langsung perawatan kangguru
badan bayi dilakukan sebelum ibu diajari pada bayi agar ibu dapat melakukannya di
KMC dan kemudian ditimbang lagi setelah rumah setelah bimbingan ibu diberikan
minggu pertama atau minggu ke empat leaflet.
dimana ibu telah diajari KMC.Bayi 6) Pada minggu pertama hari ke 7 atau
ditimbang dengan memakai timbangan minggu ke 4 hari ke 7, peneliti atau
yang sama dan tanpa pakaian. asisten peneliti meminta ibu datang
kembali ke rumah sakit untuk meriksakan
Kelompok kontrol. pertumbuhan bayinya, tapi apabila ibu
1) Melakukan identifikasi sesuai kriteria tidak datang maka peneliti mengadakan
inklusi pemilihan sampel kunjungan rumah.Penimbangan berat
2) Memberikan penjelasan, tujuan penelitian, badan bayi dilakukan sebelum ibu diajari
prosedur penelitian pada ibu yang KMC dan kemudian ditimbang lagi setelah
memenuhi kriteria inklusi, kemudian minggu pertama atau minggu ke empat
memberikan formulir informed consent dimana ibu telah diajari KMC.Bayi
untuk jadi responden. Bagi responden ditimbang dengan memakai timbangan
yang setuju langsung yang sama dan tanpa pakaian.
menandatanganinya.
3) Mencatat dan melengkapi data yang 3. Tahap penyelesaian
terdiri dari identitas bayi dan identitas ibu Tahap akhir penelitian ini adalah
serta alamat lengkap. Bayi kemudian mengolah dan menganalisis data dengan
menggunakan Stata. Selanjutnya peneliti

82
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

melakukan penyelesaian dan menyusun Hasil analisis univariabel bertujuan


laporan hasil penelitian, revisi laporan sesuai untuk mendeskripsikan karakteristik dari subjek
saran dan koreksi pembimbing untuk penelitian sehingga kumpulan data tersebut
mempersiapkan hasil seminar. berubah menjadi informasi yang berguna.
Homogenitas dan karakteristik responden pada
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN penelitian ini disajikan dalam Tabel 2.
Hasil Penelitian Berdasarkan pendidikan ibu yang tergolong
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis tinggi yaitu S1 pada kelompok intervensi yaitu 0
Kelamin di Kabupaten Ciamis tahun 2010 . dibandingkan dengan kelompok kontrol
Jumlah Pria (jiwa) 757.729 , Jumlah Wanita sebanyak 1 orang (2,505).uji statistik pada
(jiwa) 773.630, Total (jiwa) 1.531.359, tingkat signifikansi o,16 (p>0.05) yang berarti
Kepadatan Penduduk (jiwa/Km) 558 (Jawa pendidikan ibu diantara kedua kelompok tidak
Barat Dalam Angka 2010, BPS Provinsi Jawa memiliki perbedaan bermakna atau homogen.
Barat, 2010 ). Sebagian besar responden tidak bekerja, baik

Sarana pelayanan kesehatan pemerintah pada kelompok intervensi (65,00%) maupun

yang ada di Kabupaten Ciamis pada tahun 2007 kelompok kontrol (65,00%). Uji statistik pada

meliputi 1 buah Rumah Sakit Umum Daerah, 10 tingkat signifikansi 1,00 (p.0,05) menunjukkan

Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP), bahwa kedua kelompok homogen.

35 buah Puskesmas Non DTP, 110 Puskesmas Dukungan personil kesehatan yang

Pembantu. Sarana pelayanan mendukung pada kelompok intervensi sebanyak

kesehatan swasta yang ada di Kabupaten 36 orang (90,00), sedangkan pada kelompok

Ciamis terdiri dari Rumah Sakit Swasta, kontrol sebanyak 34 orang (85,00%). Hal ini

Rumah Bersalin, Praktek Dokter, Praktek Bidan menunjukkan bahwa personil kesehatan lebih

dan Balai Pengobatan. (potensi kabupaten banyak mendukung melakukan KMC pada

Ciamis, 2011). kedua kelompok dibandingkan dengan yang

1. Analisis Hasil Penelitian tidak mendukung KMC. Uji statistik pada tingkat

Subjek penelitian adalah bayi baru lahir signifikansi 0,49 (p>0,05) mengindikasikan

dengan prematur atau bblr yang berjumlah 80 bahwa kedua kelompok homogen. Hasil analisis

orang. Bayi yang mendapatkan kmc dengan univariabel sacara keseluruhan dapat dilihat

melibatkan peran suami sebanyak 40 orang. pada Tabel 2.

Sedangkan kelompok pembandingnya yang Tabel 2. Karakteristik Subjek Penelitian

tidak melibatkan peran suami dalam kmc Dan Homogenitas

sebanyak 40 orang.Gambaran tentang


Kelompok
karakteristik subjek penelitian dijelaskan dalam Intervensi kontrol X2
Karakteristik (n=40) (n=40)
bentuk distribusi frekuensi berdasarkan variabel
dalam penelitian. (t) p
n % n %
(mean sd) (mean sd)

a. Analisis Univariabel
Pendidikan Ibu

83
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara
SD 1 2,50 2 5,00 5,16
karateristik responden lebih besar dari nilai 0,05
0,16
SLTP 20 50,00 27 67,50 (p>0,05). Hal ini berarti salah satu persyaratan
SLTA 19 47,50 10 25,00
S1 0 0,00 1 2,50 untuk melakukan penelitian eksperimen sudah
Pekerjaan ibu
terpenuhi, karena kondisi awal responden kedua
Bekerja 14 35,00 14 35,00 0,00 1,00
Tidak bekerja26 65,00 26 65,00 kelompok memiliki karateristik subjek yang
Dukungan personil kesehatan seimbang atau dengan kata lain kedua
Mendukung 36 90,00 34 85,00
kelompok homogen.
0,45 0,49
Tidak mendukung 4 10,00 6 15,00

Dukungan sosial
Mendukung 18 45,00 12 30,00
1,92 0,16
Tidak mendukung 22 55,00 28 70,00 b. Analisis bivariabel
Berat badan lahir (2238,75247,26) (2202,5160,90) 0,77 Analisis ini dilakukan untuk mengetahui
0,43
hubungan antara variabel bebas yaitu mengikut
sertakan peran suami dan tidak mengikut
Sumber : Analisis data preimer 2011
sertakan suami terhadap variabel terikat yaitu
Keterangan : n = jumlah sampel X2 = Chi
pertumbuhan bayi dengan melihat perubahan
square p= p value
berat badan bayi. Analisis bivariabel juga
Dukungan sosial yang tidak mendukung
dilakukan untuk melihat hubungan dari variabel
pada kelompok intervensi sebanyak 22 orang
luar yaitu pendidikan ibu, pekerjaan
(55,00%), sedangkan pada kelompok kontrol
ibu,dukungan personil kesehatan, dan dukungan
sebanyak 28 orang (70,00%). Hal ini
sosial terhadap pertumbuhan bayi dengan
menunjukkan bahwa dukungan sosial lebih
melihat perubahan berat badan bayi. Uji statistik
banyak tidak mendukung melakukan KMC pada
yang digunakan adalah paired t test untuk
kedua kelompok dibandingkan dengan yang
melihat perubahan berat badan saat lahir dan
mendukung KMC. Uji statistik pada tingkat
setelah empat minggu pada masing-masing
signifikansi 0,16 (p>0,05) mengindikasikan
kelompok. Uji independent t test digunakan
bahwa kedua kelompok homogen.
untuk melihat perbedaan perubahan berat
Berat badan lahir pada kelompok
badan pada kelompok intervensi dan
intervensi lebih besar daripada kelompok
kelompok.Tingkat kemaknaan menggunakan p
kontrol.Hal ini dilihat dengan nilai rerata berat
value <0,05 pada interval kepercayaan 95%.
badan lahir pada kelompok intervensi 2238,75
Tabel 3 menunjukkan terdapat
gram dengan standar deviasi 247,26.Uji statistik
peningkatan berat badan pada saat lahir dan
pada tingkat signifikansi 0,43 (p>0,05)
setelah minggu ke empat kelahiran pada
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan berat
kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok
badan lahir pada kedua kelompok.
intervensi menunjukkan rerata pengukuran berat
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa
badan saat lahir yaitu 2238,75 gram dengan
tidak ada perbedaan karateristik yang bermakna
standar deviasi 247,26 dan setelah minggu ke-4
antara kelompok intervensi dan kontrol. Hal ini
menjadi 2714,75 gram dengan standar deviasi
terlihat pada nilai signifikan (p) dari semua

84
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

208,27. Pada kelompok kontrol menunjukkan Perlakuan (SD) (CI) t-hit


p
rerata pengukuran berat badan saat lahir yaitu
2202,5 gram dengan standar deviasi 160,90 dan Berat Badan
setelah minggu ke-4 yaitu 2580 gram dengan Intervensi 476 98,5 4,26 0,001

standar deviasi 145,35. Nilai p value (115,82)

menunjukkan 0,00 (p<0,05) berarti terdapat


Kontrol 377,5
peningkatan yang bermakna atau signifikan (89,11)
antara berat badan saat lahir dan setelah
minggu ke-4. Nilai rerata berat badan bayi yang
Tabel 3. Analisis Paired T Test intervensi selama 4 minggu mengalami
Perubahan Berat Badan peningkatan yaitu 476 gram dengan standar
deviasi 115,82. Sedangkan pada kelompok
Pengukuran
Saat lahir minggu kontrol nilai reratanya 377,5 gram dengan
Kelompok Selisih rerata t-hit p

standar deviasi 89,11. Perbedaan selisih rerata


Perlakuan ke empat (CI)
Mean Mean
(SD) (SD)
antara kelompok intervensi dan kontrol adalah
Berat Badan (gram)

98,5 gram dengan t-hitung 4,26 dan nilai p value


Intervensi 2238,75 2714,75 476 25,99 0,001
(247,26) (208,27)

Kontrol 2202,5
(160,90)
2580 377,5
(145,35)
26,79 0,001 sebesar 0,001 (p<0,05). Hal ini menunjukkan
terdapat perbedaan yang bermakna pada selisih
Analisis ini menunjukkan ada perbedaan
rerata berat badan antara kelompok intervensi
bermakna secara statistik pada berat badan
dan kontrol dengan alpha < 0,05.
antara kelompok intervensi dan kontrol setelah 4
Analisis bivariabel selanjutnya untuk
minggu kelahiran. Peningkatan berat badan
melihat hubungan antara variabel luar yaitu
lebih besar pada kelompok intervensi.
pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dukungan
Uji independent t test dilakukan untuk
personil kesehatan dan dukungan sosial
melihat hubungan antara variabel perlakuan
terhadap perubahan berat badan bayi,seperti
(intervensi atau kontrol) terhadap perubahan
yang terlihat pada Tabel 5.
berat badan bayi, seperti terlihat pada Tabel 4.
Hasil uji independent t test menunjukkan bahwa
rerata nilai selisih antara pengukuran berat
Tabel 5. Pengaruh Variabel Luar Pendidikan
badan saat lahir dan pada minggu ke-4, lebih
Ibu Terhadap Perubahan Berat Badan
besar pada kelompok intervensi daripada yang
kontrol. Nama
Perubahan Berat
Badan F P value
Variabel
(Mean SD)
Tabel 4. Analisis Independen T Test Pada Pendidikan
ibu 44069,28
Waktu Lahir Dan Setelah Minggu Ke Empat SD 402,97116,44

Antara Kelompok SMP 464,82107,52 1,85 0,14


SLTA 4000
S1
Statistik
Perbedaan Selisih
Kelompok Selisih Rerata Rerata

85
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Rata-rata perubahan berat badan antara yang tidak dapat dukungan nakes. Analisis
kelompok pendidikan hampir sama. Rata-rata secara statistik mempunyai nilai CI 95% = 28,88
perubahan berat badan teredah pada 176,25. Hal ini dapat diartikan bahwa
pendidikan smp sedang yang tertinggi dukungan nakes terhadap ibu secara statistik
perubahan berat badan nya pada kelompok mempengaruhi perubahan berat badan bayi.
pendidikan sma. Didapatkan hasil statistic Perubahan berat badan lebih tinggi
dengan nilai pvalue 0,14. Hal itu berarti tidak pada bayi yang mendapat dukungan sosial
ada pengaruh pendidikan ibu terhadap sebesar 67,06 gram dibandingkan dengan bayi
perubahan berat badan. yang tidak mendapat dukungan sosial.
Pemberian dukungan sosial berpengaruh
Tabel 6. Pengaruh Variabel Luar Terhadap terhadap perubahan berat badan bayi, yang
Perubahan Berat Badan ditandai dengan nilai CI 95% = 16,52 117,60.
Hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan
Perubahan
Nama
Berat Badan
Beda
t CI 95% sosial secara statistik berpengaruh terhadap
Variabel perubahan
(Mean SD)
perubahan berat badan bayi.
Pekerjaan

Kerja 418,92 94,29 -12,03 -0.44 -65,51 c. Analisis multivariabel.


41,44
Tidak kerja 430,96
Analisis ini digunakan untuk melihat
124,06
hubungan antara variabel bebas yaitu perlakuan
Dukungan mengikutsertakan peran suami dan tidak
nakes 439,57110,94 102,57 2,77 28,88
Mendukung 33797,53 176,25 mengikutsertakan peran suami, variabel terikat
Tidak
yaitu pertumbuhan bayi yang dilihat berdasarkan
mendukung
perubahan berat badan bayi serta variabel luar
Dukungan
sosial 468,66 67,06 2,64 16,52 yang terdiri pendidikan ibu, pekerjaan ibu,
Mendukung 142,84 117,60
dukungan personil kesehatan,dukungan sosial.
Tidak 401,60 84,62
mendukung Uji statistik yang digunakan adalah regresi linier.
Regresi linier digunakan berdasarkan pada

Berdasarkan Tabel di atas diketahui skala variabel terikat yang berbentuk rasio

bahwa selisih perubahan berat badan pada ibu dengan tingkat kemaknaan 0,05. Analisis

yang bekerja dibandingkan dengan yang tidak multivariabel ini dalam pengolahannya

bekarja yaitu -12,03 gram. Didapatkan hasil menggunakan pemodelan, dimana variabel-

nilai CI 95%= -65,5141,44. Hal ini dapat variabel yang bermakna pada saat analisis

diartikan bahwa tidak ada pengaruh yang bivariabel, diduga memiliki pengaruh terhadap

bermakna antara pekerjaan terhadap perubahan perubahan berat badan dimasukkan dalam

berat badan bayi. pemodelan. Variabel-variabel yang dimasukkan

Ibu yang mendapat dukungan nakes, dalam pemodelan perubahan berat badan

perubahan berat badan bayinya lebih tinggi adalah perlakuan, dekungan nakes dan

sebesar 102,57 gram dibandingkan dengan ibu dukungan sosial.

86
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Tabel 7. Analisis Regresi Linier : Pengaruh dapat mempengaruhi perubahan berat badan
Perlakuan Peran Suami Dalam KMC terhadap bayi sebesar 18%.
Perubahan Berat Badan Dengan Mengontrol Model 2 dibangun dengan memasukkan
Variabel Luar seberapa besar pengaruh variabel bebas
perlakuan intervensi bayi terhadap perubahan
Model.1 Model.2 Model.3 Model.4
Koefisien Koefisien Koefisien Koefisien berat badan bayi, setelah dikontrol dengan
Variabel
CI CI CI CI
p value p value p value p value
dukungan nakes. Koefisien regresi perlakuan
Perlakuan
intervensi bayi sebesar 93,90. Hal ini
Intervensi 98,5 93,90 90,61 85,58
52,49- 49,55 45,18 42,03 menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan
Kontrol 144,50 138,25 136,04 129,14
0,001* 0,001* 0,001* 0,001*
intervensi bayi selama 4 minggu dapat
meningkatkan berat badan bayi sebesar 93,90
Dukungan
Nakes 91,83 94,35 gram, setelah dikontrol dengan variabel
Mendukung 49,55 29,28
Tidak 138,25 159,41
dukungan nakes. Nilai koefisien ini terjadi
mendukung 0,008* 0,005*
penurunan bila dibandingkan dengan koefisien
perlakuan sebelum dikontrol dengan dukungan
Dukungan
Sosial 52,56 54,63
nakes, namun variabel perlakuan tetap
Mendukung 5,64 9,76 99,49
signifikan berpengaruh terhadap perubahan
Tidak 99,48 0,018*
mendukung 0,029* berat badan bayi ditandai dengan nilai p value
<0,05. Model ini memiliki nilai adjusted R
Adjusted R2 0,18 0,24 0,22 0,29 sebesar 0,24.Hal itu berarti bahwa perlakuan
Constanta 377,580 299,43 361,72 280,91
N 80 80 80 80 intervensi bayi yang dikontrol dengan dukungan
nakes, dapat mempengaruhi perubahan berat

Model 1 dibangun dengan memasukkan badan bayi sebesar 24%. Pengaruh ini menjadi

variabel perlakuan intervensi dan tidak lebih besar bila dibanding dengan Model 1, yang

diintervensi dengan tujuan untuk mengetahui belum dikontrol dengan variabel dukungan

seberapa besar pengaruh perlakuan intervensi nakes.

bayi terhadap perubahan berat badan bayi. Model 3 dibangun dengan memasukkan

Hasil analisis menunjukkan perlakuan intervensi seberapa besar pengaruh variabel bebas

bayi memiliki koefisien regresi sebesar 98,5 perlakuan intervensi bayi terhadap perubahan

dengan nilai p value <0,05 yang berarti ada berat badan bayi, setelah dikontrol dengan

hubungan yang bermakna antara perlakuan dukungan sosial. Koefisien regresi perlakuan

intervensi bayi terhadap perubahan berat badan. intervensi bayi sebesar 90,61. Hal ini

Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan

perlakuan intervensi bayi selama 4 minggu intervensi bayi selama 4 minggu dapat

dapat meningkatkan berat badan bayi sebesar meningkatkan berat badan bayi sebesar 90,61

98,5 gram. Model ini memilliki nilai adjusted R gram, setelah dikontrol dengan variabel

sebesar 0,18, berarti perlakuan intervensi bayi dukungan sosial. Nilai koefisien ini menjadi
berkurang bila dibandingkan dengan koefisien

87
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

perlakuan sebelum dikontrol dengan dukungan PEMBAHASAN


sosial, namun variabel perlakuan tetap signifikan Penelitian ini mencoba untuk melihat
berpengaruh terhadap perubahan berat badan pengaruh perlakuan peran suami terhadap KMC
bayi ditandai dengan nilai p value <0,05. Model dan yang tidak mengikutsertakan peran suami
ini memiliki nilai adjusted R sebesar 0,22 berarti terhadap pertumbuhan bayi yang dilihat dari
perlakuan intervensi bayi yang dikontrol dengan perubahan berat badan bayi. Pengukuran yang
dukungan sosial dapat mempengaruhi dilakukan adalah pengukuran berat badan bayi
perubahan berat badan bayi sebesar 22%. saat lahir dan setelah empat minggu kelahiran.
Pengaruh ini menjadi lebih besar bila dibanding Bayi yang mendapatkan kmc dengan melibatkan
dengan Model 1, yang belum dikontrol dengan peran suami. Sedangkan kelompok
variabel dukungan sosial. pembandingnya yang tidak melibatkan peran
Model 4 dibangun dengan memasukkan suami dalam kmc. Peneliti kemudian melakukan
seberapa besar pengaruh variabel bebas kunjungan rumah untuk mengetahui perubahan
perlakuan intervensi bayi terhadap perubahan berat badan pada setiap minggunya sampai
berat badan bayi, setelah dikontrol dengan minggu ke-4.
variabel dukungan nakes dan dukungan sosial. Berdasarkan hasil analisis bivariabel
Koefisien regresi perlakuan intervensi bayi menunjukkan bahwa perlakuan menunjukkan
sebesar 85,58. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan berat badan pada saat
pada kelompok perlakuan intervensi bayi lahir dan setelah minggu ke empat kelahiran
selama 4 minggu dapat meningkatkan berat pada kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok
badan bayi sebesar 85,58 gram, setelah intervensi menunjukkan rerata pengukuran berat
dikontrol dengan variabel dukungan nakes dan badan saat lahir yaitu 2238,75 gram dengan
dukungan sosial. Nilai koefisien ini menjadi standar deviasi 247,26 dan setelah minggu ke-4
berkurang bila dibandingkan dengan koefisien menjadi 2714,75 gram dengan standar deviasi
perlakuan sebelum dikontrol dengan dukungan 208,27. Pada kelompok kontrol menunjukkan
nakes dan dukungan sosial, namun variabel rerata pengukuran berat badan saat lahir yaitu
perlakuan tetap signifikan berpengaruh terhadap 2202,5 gram dengan standar deviasi 160,90 dan
perubahan berat badan bayi ditandai dengan setelah minggu ke-4 yaitu 2580 gram dengan
nilai p value <0,05. Model ini memiliki nilai standar deviasi 145,35. Nilai p value
adjusted R sebesar 0,29 berarti perlakuan menunjukkan 0,00 (p<0,05) berarti terdapat
intervensi bayi yang dikontrol dengan variabel peningkatan yang bermakna atau signifikan
dukungan nakes dan dukungan sosial, dapat antara berat badan saat lahir dan setelah
mempengaruhi perubahan berat badan bayi minggu ke-4. Peningkatan berat badan juga
sebesar 29%. Pengaruh ini menjadi lebih besar dipengaruhi oleh pemberian asi.
bila dibanding dengan Model 1, yang belum Hasil penelitian ini berbeda
dikontrol dengan variabel dukungan nakes dan dibandingkan dengan hasil penelitian yang
dukungan sosial. dilakukan oleh Lusmilasari et al. (2005), Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata z skor

88
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

berat badan / Usia cenderung lebih tinggi pada morbiditas serius untuk bayi <2000 g (RR
dengan kelompok perlakuan - 1193 0,600 dan 0,34, 95% CI 0,17-0,65).
kelompok kontrol -1.308 0.586 (rata-rata Dikemukakan Usman et al. (2000),
perbedaan: 0,1159, 95% CI = -0123 untuk faktor yang paling dominan dalam
0,355), uji t satistical tidak menunjukkan mempengaruhi pertumbuhan dan
perbedaan antara kedua kelompok (p = 0, 339). perkembangan anak tidak lain adalah hubungan
Rata-rata skor z berat badan/usia dengan ibu (pengasuh) dengan anak. Hubungan
kelompok perlakuan cenderung lebih tinggi - tersebut merupakan kebutuhan dasar anak yaitu
2,20 1, 158 dan kelompok kontrol - 2,52 0, berupa hubungan emosi dan kasih sayang
956 (rata-rata 0,325 perbedaan, 95% CI = - (Asih). Ini dapat diwujudkan dengan kontak
0,103 untuk 0,753), uji statistik t tidak ditandai fisik (kulit/mata) dan psikis sedini mungkin
dengan perbedaan antara kedua kelompok (p = misalnya dengan menyusui segera setelah
0, 136). Lingkar kepala rata-rata cenderung melahirkan atau melakukan perawatan bayi
lebih tinggi pada kelompok perlakuan 39,19 3, KMC sedini mungkin pada bayi prematur dan
04 dan kontrol gruop 38,54 1, 95 (selisih skor BBLR.
0,65, CI 95% = - 1,381 untuk + 1 , 1685), uji t Manfaat lain yang didapatkan pada
statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang KMC dikaitkan dengan peningkatan pencapaian
signifikan dalam kinerja pertumbuhan antara berat badan bayi adalah manfaat fisiologis
kedua kelompok (P = 0,213). Disimpulkan dengan KMC bayi memperlihatkan pernafasan
bahwa dampak dari KMC terhadap dan saturasi oksigen yang lebih teratur, stabil
pertumbuhan berat badan lahir bayi didasarkan dan berkembang sesuai dengan irama nadi.
pada indeks berat badan / umur dan tinggi Selain pernafasan, tanda vital lainnya seperti
badan, usia dan lingkar kepala dalam kelompok nadi dan suhu dengan KMC pada BBLR
memperoleh perlakuan rata-rata skor tertinggi, memperlihatkan kecenderungan dalam batas
meskipun tidak ada perbedaan statistik yang yang normal, begitu pula halnya dengan
signifikan antara kedua kelompok. pemenuhan kebutuhan ASI, tidur dan aktivitas.
Penelitian Joy (2010) Meta-analisis dari Analisis bivariabel dalam penelitian
tiga percobaan terkontrol acak KMC dimulai menunjukkan bahwa untuk melihat hubungan
pada minggu pertama kehidupan menunjukkan antara variabel luar yaitu pendidikan ibu,
penurunan yang signifikan dalam kematian pekerjaan ibu, dukungan personil kesehatan dan
neonatal [risiko relatif (RR) 0,49, interval dukungan sosial terhadap perubahan berat
kepercayaan 95% (CI) 0,29-0,82] dibandingkan badan bayi.
dengan perawatan standar. Sebuah meta- Rata-rata perubahan berat badan antara
analisa dari tiga studi observasional juga kelompok pendidikan hampir sama. Rata-rata
menyarankan manfaat yang signifikan (RR 0,68, perubahan berat badan terendah pada
95% CI 0,58-0,79). Lima percobaan terkontrol pendidikan smp sedang yang tertinggi
acak menyarankan penurunan yang signifikan perubahan berat badan nya pada kelompok
pendidikan sma. Didapatkan hasil statistik

89
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

dengan nilai pvalue 0,14. Hal itu berarti tidak perlakuan bayi KMC yang dikontrol dengan
ada pengaruh pendidikan ibu terhadap variabel dukungan nakes dan dukungan sosial,
perubahan berat badan. dapat mempengaruhi perubahan berat badan
Selisih perubahan berat badan pada ibu bayi sebesar 29%. Sedangkan 71% lainnya
yang bekerja dibandingkan dengan yang tidak dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti
bekarja yaitu -12,03 gram. Didapatkan hasil yang disampaikan oleh Soetjiningsih (1995),
nilai CI 95%= -65,5141,44. Hal ini dapat yaitu faktor genetik, lingkungan pranatal (gizi ibu
diartikan bahwa tidak ada pengaruh yang saat hamil, mekanis, zat kimia, endokrin,
bermakna antara pekerjaan terhadap perubahan penyakit, radiasi dan imunitas), faktor perinatal
berat badan bayi. dan lingkungan post-natal (lingkungan biologis,
Ibu yang mendapat dukungan nakes, faktor fisik, psikososial, keluarga dan adat
perubahan berat badan bayinya lebih tinggi istiadat).
sebesar 102,57 gram dibandingkan dengan ibu Walaupun sudah umum dipercaya
yang tidak dapat dukungan nakes. Analisis bahwa ayah sangat penting bagi anak dalam
secara statistik mempunyai nilai CI 95% = 28,88 menyediakan kebutuhan ekonomi dan penegak
176,25. Hal ini dapat diartikan bahwa disiplin, ayah makin diakui sebagai kontributor
dukungan nakes terhadap ibu secara statistik penting dalam pertumbuhan anak secara
mempengaruhi perubahan berat badan bayi. keseluruhan. Sedangkan berkaitan dengan
Perubahan berat badan lebih tinggi pertumbuhan bayi baru lahir, keterlibatan ayah
pada bayi yang mendapat dukungan sosial dapat dihubungkan dengan perolehan bobot
sebesar 67,06 gram dibandingkan dengan bayi bayi yang lebih tinggi pada bayi prematur
yang tidak mendapat dukungan sosial. (Moore, 2004).
Pemberian dukungan sosial berpengaruh Tanggung jawab ayah dalam keluarga
terhadap perubahan berat badan bayi, yang yang melahirkan, perlu mengetahui apa yang
ditandai dengan nilai CI 95% = 16,52 117,60. dimaksud dengan KMC, tujuan KMC, manfaat
Hal ini menunjukkan bahwa variabel dukungan KMC bagi bayi prematur dan BBLR, serta
sosial secara statistik berpengaruh terhadap langkah apa yang perlu dilakukan jika ibu dan
perubahan berat badan bayi. bayi menderita sakit. Suami diharapkan menjadi
Analisis multivariabel dengan ayah yang bertanggung jawab, hal ini karena; 1)
pemodelan pada hubungan antara perlakuan secara sosial dan ekonomi untuk memenuhi
bayi KMC dengan perubahan berat badan kebutuhan ekonomi keluarga, termasuk
menunjukkan hasil yang bermakna secara pengasuhan anak-anaknya; dan 2) perlu
konsisten. Baik pada Model 1 sampai Model 4 dukungan ayah: pada saat dan sedang hamil
setelah dikontrol dengan variabel luar, terlihat serta setelah melahirkan, dan selama
dari nilai p value < 0,05. Secara statistik, apabila menyusui.Mempertahankan dan meningkatkan
dibandingkan dengan model lainnya, maka kesehatan ibu hamil, melalui perencanaan
model 4 merupakan model yang terbaik karena persalinan yang aman dan menghindari
nilai adjusted R paling besar yaitu 0,29 berarti

90
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

keterlambatan dalam mencari pertolongan Februhartanty (2008) menjelaskan


medis. peran ayah yaitu tindakan ayah selama proses
Patisipasi suami/ayah dapat dilihat kehamilan, persalinan dan pasca persalinan
melalui perlakuannya dalam upaya perwujudan yang berhubungan dengan inisiasi menyusui
Suami Siaga meliputi: *SIAP: suami hendaknya segera dan praktek pemberian ASI eksklusif.
waspada dan bertindak atau mengantisipasi jika Ransom (2000), ayah dapat merencanakan dan
melihat tanda bahaya kehamilan; *ANTAR: mendukung serta memberikan dorongan kepada
suami hendaknya merencanakan sistem ibu untuk patuh dalam pemberian ASI eksklusif
angkutan dan menyediakan donor darah jika sesuai asuhan antenatal (ANC), juga
diperlukan; *JAGA: suami hendaknya merencanakan persalinan pada tenaga
mendampingi istri selama proses dan pasca kesehatan di fasilitas yang lengkap dan
persalinan. Dengan menghindari 3 (tiga menerima pelayanan masa nifas yang aman.
terlambat): Beberapa peneliti menekankan
1) terlambat mengambil keputusan; sejumlah kesamaan antara perilaku ibu bayi
2) terlambat merujuk ke tempat pelayanan; dan ayah bayi dalam proses pelekatan
dan (attachment process)dengan orang tua (Riordan
3) terlambat mendapat pertolongan. dan Aurbach, 1999). Ayah yang mau terlibat
Peran ayah dalam membantu perawatan ibu dalam kelahiran anak dengan memberi
dan bayi setelah persalinan; dukungan pada ibu biasanya lebih mungkin
1) memberitahu/mengingatkan ibu agar untuk merasa terlekat dengan bayinya dari pada
memberikan ASI yang pertama (kolostrum); jika ia tidak hadir pada saat kelahiran itu. Ketika
2) mendorong dan memotivasi agar bayi mulai berinteraksi dengan ayah secara
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, langsung, peran ayah menjadi lebih jelas, baik
dilanjutkan dengan ASI partial sampai 2 dalam pikirannya maupun dalam kesadaran
tahun; orang-orang sekitarnya (Jordan, dalam Riordan
3) memotivasi agar memperhatikan dan Aurbach, 1999).
makanan dan gizi nyang dibutuhkan; Dalam pandangan Moore (2004),
4) memotivasi untuk memeriksakan definisi keterlibatan ayah dalam perkembangan
kesehatan ibu dan bayi secara rutin ke dan pertumbuhan berkisar dari partisipasi dalam
fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, tugas-tugas perawatan anak sampai
misalnya Puskesmas, Posyandu, memperlihatkan model pengasuhan anak yang
bidan/dokter praktek swasta dan lain-lain, baik. Dalam konteks pemberian ASI, peran ayah
untuk imunisasi dan pemeriksaan kesehatan dalam mendukung ibu dapat dilihat dari
lainnya; dan keterlibatan aktifnya selama proses kehamilan,
5) mengajak agar aktif dalam kegiatan bina masa persalinan, dan proses menyusui. Ayah
keluarga Balita dilingkungannya (BKKBN, bisa memainkan peranan penting terutama bila
2006). ia memiliki pola pikir positif sehubungan dengan
menyusui. Kalau pola pikirnya itu sudah positif,

91
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

memberitahu bagaimana ia bisa membantu rumah sakit, puskesmas, klinik, dokter praktek,
istrinya menyusui secara eksklusif tanpa bidan praktek, bidan desa, dan polindes.
memberi makanan pendamping apa pun Umumnya, di daerah perkotaan yang sudah
dipandang sangat bermanfaat (Voss et al., cukup maju, personil kesehatan memiliki
dalam Riordan dan Aurbach, 1999). wawasan luas dan idealnya lebih mungkin
Selain itu, peran ayah bisa dilihat dari memberikan penyuluhan mengenai KMC secara
pencarian layanan kesehatan yang dilakukan lebih baik. Akan tetapi, personil kesehatan
oleh ayah dalam pemeriksaan kehamilan, seperti itu seringkali sulit diakses oleh para ibu
persalinan, dan pemeriksaan pasca persalinan. dari kalangan ekonomi menengah ke bawah,
Kehadiran ayah sewaktu persalinan untuk khususnya bila personil itu berada di fasilitas
mendampingi istri saat bersalin dan memberikan kesehatan umum berbiaya mahal. Ini otomatis
kesediaan dilakukannya tindakan medis tertentu membuat ibu dari kalangan itu sulit mengakses
pada istri, apabila diperlukan juga menjadi peran informasi, penyuluhan dan dorongan yang
enting seorang ayah. Apabila bayinya baru lahir, mereka berikan. Situasi dan kondisi ini
peran ayah yang paling enentukan adalah cenderung membuat ibu sulit untuk patuh dalam
mempengaruhi ibu dalam membuat keputusan pemberian KMC sebagaimana telah ditetapkan
untuk menyusui atau tidak (Giugliani et al., Arora oleh WHO.
et al., 2000), dan mendorong istrinya untuk Bantuan dan dukungan dari tenaga
segera mengawali menyusui bayi yang baru kesehatan penting. Tenaga kesehatan (Nakes)
lahir tersebut (Schmidt & Sigman-Grant, 1999). berada dalam posisi kunci di kamar bersalin,
Secara emosional, ayah juga dapat puskesmas, dan balai pengobatan. Mereka
berperan melalui pemberian ukungan emosional harus ajek, memberikan nasihat mutakhir,
bagi istrinya selama proses menyusui ramah, simpatik, dan harus meyakinkan setiap
(Vehvilainen- Julkunen dan Liukkonen, 1998). ibu bahwa ibu pasti dapat menyusui. Nakes
Dukungan ini bisa berupa membantu ibu dalam yang tidak melakukan hal ini memberikan
menangani aktivitas perawatan anak yang dampak negatif bagi praktek KMC dan akibatnya
cenderung melelahkan (Pruett, 1998), akan terjadi banyak kegagalan KMC. Dukungan
mengurangi beban ibu dalam urusan tugas nakes akan sangat menentukan suksesnya
rumah tangga (Sullivan et al., 2004), kampanye KMC. Penelitian baru menyatakan
memberikan kecukupan ekonomi untuk bahwa menyusui merupakan faktor yang sangat
kebutuhan rumah tangga yang membuat hati penting bagi masa depan setiap pribadi serta
istri tenang dan tidak mengalami stres (Nystrom bagi bangsa dan negara. Agar dapat
& Ohrling, 2004), dan membina hubungan memberikan penyuluhan dan dorongan
perkawinan (Falceto et al., 2004). mengenai KMC secara lebih baik, personil
Personil kesehatan/provider seperti kesehatan tentu membutuhkan pelatihan, baik
dokter, bidan, atau petugas esehatan bisa melalui pendidikan lanjutan atau pelatihan yang
ditemui antara lain di tempat persalinan dan diberikan sambil bekerja oleh lembaga
mendapatkan penyuluhan tentang KMC, baik di kesehatan tempat personil itu bekerja.

92
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Disamping itu, peran personil kesehatan mendorong personil bersikap netral, tidak peduli
dalam memberikan penyuluhan dan dorongan pentingnya KMC.
tentang KMC juga sangat dipengaruhi oleh
kecenderungan mereka pada sejumlah gaya KESIMPULAN DAN SARAN
praktek klinik yang mengakomodasi dan Kesimpulan
mendukung peran ayah yang meluas dalam Berdasarkan hasil penelitian dapat
mendampingi istrinya menjelang, selama, dan dibuat kesimpulan sebagai berikut :
pasca persalinan. Akhirnya, personil kesehatan 1. KMC yang dilakukan selama 4 minggu dapat
juga bisa mengawasi ibu yang bersangkutan meningkatkan pertumbuhan bayi. Kelompok
agar selalu memeriksakan di tempat yang sama bayi yang di KMC dengan melibatkan peran
dan secara berkala menganjurkan serta suami perubahan berat badannya lebih tinggi
mengontrol praktek KMC.Untuk meningkatkan dibandingkan dengan kelompok kmc yang tidak
peran ayah dalam mendukung ibu melakukan melibatkan peran suami. Hasil analisis
KMC, personil kesehatan dalam memberi menunjukkan perlakuan intervensi bayi memiliki
dukungan yaitu; 1) memahami kondisi sosial- koefisien regresi sebesar 98,5 dengan nilai p
ekonomi pasangan ayah-ibu yang ditangani; 2) value <0,05 yang berarti ada hubungan yang
memberikan nasihat kepada mereka tentang bermakna antara perlakuan intervensi bayi
perlunya keterlibatan ayah;3) memberikan terhadap perubahan berat badan. Hal ini
informasi tentang pengaruh spesial ayah menunjukkan bahwa pada kelompok perlakuan
terhadap perkembangan anak; 4) mendorong intervensi bayi selama 4 minggu dapat
ayah menjadi pembelajar yang baik dalam meningkatkan berat badan bayi sebesar 98,5
mengasuh anak; 5) menganjurkan ayah untuk gram. Model ini memilliki nilai adjusted R
membantu ibu menangani urusan rumah tangga sebesar 0,18, berarti perlakuan intervensi bayi
yang dapat meringankan ibu yang sedang dapat mempengaruhi perubahan berat badan
menyusui; dan 6) memberikan model peran bayi sebesar 18%.
dalam praktek KMC yang baik. Dengan cara 2. Rata-rata perubahan berat badan antara
seperti itu peran ayah dalam perkembangan kelompok pendidikan hampir sama. Rata-rata
anak dapat ditingkatkan dan diharapkan ibu perubahan berat badan terendah pada
akan menjadi lebih baik untuk KMC sesuai pendidikan smp sedang yang tertinggi
kaidah standar menurut WHO. Informasi yang perubahan berat badan pada kelompok
berkaitan dengan penyuluhan yang dilakukan pendidikan sma, didapatkan hasil statistik nilai p
oleh petugas kesehatan dalam menyampaikan value 0,14 hal itu berarti tidak ada pengaruh
pesan kesehatan harus melihat nilai dan pendidikan ibu terhadap perubahan berat
kepercayaan setempat, serta hambatan budaya badan.
yang ada agar pelaksanaan program berjalan 3. Selisih perubahan berat badan pada ibu yang
dengan baik. Dengan demikian peran personil bekerja dibandingkan dengan yang tidak bekerja
kesehatan sangat penting, karena tidak adanya yaitu -12,03 gram. Didapatkan hasil nilai CI 95%
pendidikan lanjut atau pelatihan memadai akan = -65,51 41,44 hal ini dapat diartikan bahwa

93
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

tidak ada pengaruh yang bermakna antara sehingga perawatan bayi prematur dan BBLR
pekerjaan terhadap perubahan berat badan dapat dilakukan dirumah setelah pulang dari
bayi. Rumah Sakit,juga dapat menghemat biaya.
4. Ibu yang mendapat dukungan nakes,
perubahan berat badan bayinya lebih tinggi DAFTAR PUSTAKA

sebesar 102,57 gram dibandingkan dengan ibu Azwar, S. (2005) Sikap Manusia: Teori dan

yang tidak dapat dukungan nakes. Analisis Pengukurannya. Yogyakarta.

secara statistik mempunyai nilai CI 95% = 28,88 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional

176,25. Hal ini dapat diartikan bahwa (2006) Partisipasi pria KB dan

dukungan nakes terhadap ibu secara statistik kesehatan reproduksi. BKKBN. Jakarta.

mempengaruhi perubahan berat badan bayi. Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) and ORC

5. Perubahan berat badan lebih tinggi pada bayi Macro (2008) Indonesia demographic

yang mendapat dukungan sosial sebesar 67,06 and health survey 2002-2003.

gram dibandingkan dengan bayi yang tidak Calverton, Maryland, USA: BPS and

mendapat dukungan sosial. Pemberian ORC Macro.

dukungan sosial berpengaruh terhadap Campbell and Stanley (1966), External Validity:

perubahan berat badan bayi, yang ditandai A Survey-Experiment Approach,

dengan nilai CI 95% = 16,52 117,60. Hal ini University of Michigan.

menunjukkan bahwa variabel dukungan sosial Charpak N, Ruiz-Pelaez J.G., Charpak Y.

secara statistik berpengaruh terhadap (1994) Kangaroo-mother programme:

perubahan berat badan bayi. an alternative way of caring for low birth

6. Selain KMC faktor lain yang mempengaruhi weight infants? One year mortality in a

pertumbuhan bayi adalah dari pemberian ASI. two-cohort study. Pediatrics, 94:804-

Saran 810.

Berdasarkan hasil, pembahasan dan Charpak N, Ruiz-Pelaez J.G., Charpak Y. Rey-

kesimpulan penelitian tentang pengaruh peran Martinez (1994) Kangaroo Mother

suami dalam KMC terhadap perubahan berat Program: An Alternative Way of Caring

badan bayi, beberapa saran yang diajukan for Low Birth Weight Infants? One year

sebagai bahan pertimbangan adalah : Mortality in a Two Cohort Study.

1. Bagi petugas kesehatan sebagai pengambil Pediatrics. 94 (6).

kebijakan dan pemberi penyuluhan sangat perlu Charpak N, Ruiz-Pelaez J.G., Figuerora Z,

untuk mensosialisasikan kepada para suami Charpak Y. (2001) A Randomized

agar tidak merasa malu, canggung bila ikut Controlled Trial of Kangaroo Mother

merawat bayinya, hal ini dapat membantu dalam Care : Results of Follow Up at 1 Year of

pelaksanaan KMC guna meningkatkan berat Corrected Age. Alternative Way of

badan bayi. Caring for Low Birth Weight Infants?

2. Bagi masyarakat dan keluarga agar mau One year Mortality in a Two Cohort

berpartisipasi dalam melaksanakan KMC Study. Pediatrics. 108(5).

94
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Charpak, N., Ruiz-Pelaz, J., & Figueroa, Z. environmental approach. USA: Mayfield
Influence of feeding patterns and other Publishing Company.
factors on early somatic growth of Imral Chair. (2007), Metode Kanguru Untuk Bayi
healthy, preterm infants in home-based Prematur, http://www.halalguide,com, di
kangaroo mother care: A cohort study. peroleh tanggal 11 juli 2007.
Journal of Pediatric Gastroenterol Jefferson, R, (2004). Pengelolaan Persalinan
Nutrition. 2005; 41 (4), 430-437 Prematur. Bagian SMF Obstetri dan
Conde-Aguedelo A. Diaz-Rosello JL, Belizan JM Ginekologi Fakultas Kedokteran
(2003). Kangaroo mother care toreduce Universitas Sam ratulangi / Rumah Sakit
morbidity and mortality in low birth Umum Pusat Manado. Cermin Dunia
weight infant. Cochrane Library. Kedokteran No.145, 2004.
Departemen Kesehatan RI. (2001). Yang perlu Joy E Lawn, Judith Mwansa-Kambafwile,
diketahui petugas kesehatan tentang: Bernardo L Horta, Fernando C Barros
Kesehatan Reproduksi, Jakarta: 3-9, 25- and Simon Cousens, Kangaroo mother
48. care to prevent neonatal deaths due to
Department of Reproductive Health and preterm birth complications,
Research, World Health Organization International Journal of Epidemiology
(2003) Kangaroo mother care.A 2010;39:i144i154.
practical guide. 1st ed. Geneva : WHO. Johnston CC, Filion F, Yeo MC, Goulet C.
Depkes RI, (2004). Hak hak Anak Indonesia Kangaroo mother care diminishes pain
ala Kangguru, http://www.depkes.com, from heel lance in very preterm
diperoleh tanggal 04 Oktober 2008. neonates: A crossover trial. BMC
Depkes RI, (2007). Profil Kesehatan Indonesia Pediatrics. 2008.
Tahun 2007, Jakarta. Lemeshow, S., Hosmer, D.W., Klar, J., &
http://www.i.lib.ugm.ac.id Lwanga, S.K.(1997) Besar sampel
Department of Reproductive Health and dalam penelitian kesehatan. Alih
Research, World Health Organization. Bahasa: Pramono, D. Yogyakarta:
Kangaroo mother care.A practical guide. Gadjah Mada University Press.
1st ed. Geneva : WHO; 2003. London, M., Ladewig, P., Ball, J., & Bindler, R.
Desnita (2009), peran ayah pada kepatuhan ibu Maternal and child nursing care (2nd
dalam pemberian asi eksklusif di ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson
wilayah kerja puskesmas tegalrejo kota Prentice Hall.; 2006: p. 573, 791 - 793).
yogyakarta. Program Pascasarjana Ludington-Hoe S.M., Johnson M.W., Morgan K,
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Lewis T. (2006) Neurophysiologic
Mada .Yogyakarta Assessment of Neonatal Sleep
Green, L.W. & Kreuter, W. (2000) Health Organization: Preliminary Results of a
promotion planning an educational and Randomized, Controlled Trial of Skin

95
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

Contact With Preterm Infants. Sarwono (2001) Pelayanan keshatan antenatal


Pediatrics;117;909-923 dan neonatal 2,NPPKN,Rogi,Jakarta.
Lusmilasari L., (2005), Pengaruh perawatan bayi Setyowati, Titiek. (2004). Faktor factor yang
lekat terhadap pencapaian pertumbuhan Mempengaruhi Bayi Lahir dengan Berat
bayi berat lahir rendah di RS DR. Sarjito Badan Rendah, http://www.litbang.com,
Yogyakarta. Yogyakarta : Universitas diperoleh tanggal 04 Oktober 2008.
Gadjah Mada. Singh, G.K., Kogan, M.D. & Dee, D.L. (2007)
Moore, T. & Milton, K. (2004) Predictors of urban Nativity/immigrant status, Sloan N,
fathers involvement in their childs Ahmed S, Mitra SN, ET al. Community-
health care. Pediatrics, 113, 574-580. based kangaroo mother care to prevent
Nursalam (2003) Konsepdan penerapan neonatal and infant mortality: a
metodologi penelitian ilmu randomized, controlled cluster trial.
keperawatan,Jakarta Pediatrics 2008;121:e1047-59.
Murti (2005) Efektifitas Promosi Kesehatan Sloan N.L. (1994) Kangaroo mother method:
Dengan Peer Education Pada Kelompok randomised controlled trial of an
Dasawisma Dalam Upaya Penemuan alternative method of care for stabilised
Tersangka Penderita TB Paru, Berita low-birthweight infants. The Lancet,
Kedokteran Masyarakat , Vol 22, No 3, 344:782-785.
September 2006. Soetjiningsih.(1995). Tumbuh Kembang Anak.
Pratomo H (2010) Manfaat Perawatan Metode Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran
Kanguru (PMK) dan Penerapannya EGC.
dalam Perawatan Bayi Berat Lahir Sugiyono (2006) Metode penelitian pendidikan:
Rendah dengan Metode Kanguru. pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan
PERINASIA, Jakarta. R&D. Bandung: Penerbit Alvabeta.
Pruett, K.D. (1998) Role of the father. Pediatrics, Sugiyono (2007) Statistika untuk penelitian.
102, 1253-1261. Bandung:Alfabeta.
Pusat Data Kesehatan (1996). Modul Metode Sullivan, M.L., Leathers, S.J. & Kelley, M.A.
Survei Cepat untuk Dinas Kesehatan (2004) Family characteristics associated
Kabupaten/kota edisi pertama, Depkes with duration of breastfeeding during
RI, Jakarta: 1-9. early infancy among primiparas. J Hum
Renstra Depkes (2004-2009) Pengembangan Lact, 20(2): 196-205.
Program PMK , Jakarta. Suriviana. (2005). Metode Kangguru untuk
Rekmed RSUD Ciamis, 2010. Merawat Bayi Prematur,
Riordan, J. & Aurbach, K. (1999) Breastfeeding http://www.infoibu.com, diperoleh
and human lactation. Canada: Jones tanggal 19 Oktober 2008.
and Bartlett Publishers. SUSENAS 2005.
Roesli, Utami. (2008). Inisiasi Menyusui Dini. Trochim, W.M.K (2006) Research methods
Jakarta : Pustaka Bunda. knowledge base. Available:

96
Jurnal Darmais, Sosial, Sains dan Teknologi, STIKes Darmais Padangsidimpuan
Vol 1 No 1 November 2015, Padangsidimpuan Tapanuli Selatan- Sumatera Utara

http:www.socialresearchmethods.net/kb/
quasiexp.php<accessed:14-06-2010>.
Usman A, Irawaty S, Triyanti A, Alisjahbana A
(1996) Pencegahan Hipotermia pada
Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR) di Rumah dengan Metoda
Kanguru. Unit Penelitian FK
Unpad/RSHS. Bandung.
Usman A., Purnama D., and Susanah S.,
(2000), Some Clinical Aspect of
Kangaroo Mother Care on Low Birth
Weight Infants at Home. Proceeding of
the 3rd Workshop on Kangaroo Mother
Care;November 22-25; Yogyakarta.
Yogyakarta : Center for Maternal
Perinatal Health Gadjah Mada
Univercsty.
WHO (1993) Thermal control of the newborn: A
practical guide. Maternal Health and
Safe Motherhood Programme. Geneva,
(WHO/FHE/MSM/93.2).
WHO (1996) Perinatal mortality. Report No.:
WHO/FRH/MSM/967. Geneva: WHO.
Worku B, Kassie A. Kangaroo Mother Care: A
Randomized Controlled Trial on
Effectiveness of Early Kangaroo Mother
Care for the Low Birthweight Infants in
Addis Ababa, Ethiopia. Journal of
Tropical Pediatrics. 2005;51:2.

97